Everything Has Changed (Chapter 14)

Everything Has Changed 4

Everything Has Changed

[ Chapter 14 | Romance, School life | General ]
with Kim Jongin,
Oh Sehun,
and OC Jung Yunhee as the main cast

by

Eunike

[ I own only the story. A big thanks to Tazkia (SpringSabila) from Cafe Poster for the awesome poster! Love yaa 😀 ]

Series : Prolog + Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 |  Chapter 5 |  Chapter 6 | Chapter 7 | Chapter 8 | Chapter 9 | Chapter 10 | Chapter 11 | Chapter 12 | Chapter 13 | Chapter 14

***

Previous chapter

“Yunhee menghilang dari kamar, kami tidak bisa menemukannya di mana-mana. Kau bisa datang membantu?”

Jongin memejamkan matanya sejemang mencoba menahan rasa pening yang tiba-tiba menyergap benaknya. Sepertinya ini benar-benar bukan masalah sepele. Pasti ada yang salah di sini. Demi Tuhan, Yunhee tidak sedang bercanda ‘kan? Kelakar macam apa lagi ini?

***

CHAPTER 14

Terbangun dengan mata terbelalak, Jongin merasakan pening yang luar biasa. Peluhnya menetes dari pelipis serta tangannya yang gemetar menggenggam erat selimut tipisnya. Dapat dirasakannya degup jantung yang tak keruan, berdebar di dadanya seakan mau copot.

Ketika tiba-tiba pintu kamarnya terbuka perlahan, disusul dengan Ibu yang datang dengan wajah khawatir.

“Jongin?  Ada apa?”

“Oh, Eomma..,” Jongin berusaha menetralkan deru napasnya yang memburu sambil memejamkan mata agar peningnya pudar. “Hanya.. mimpi buruk.”

“Mimpi buruk?”

“Hm.”

Ibu memosisikan dirinya di samping Jongin sambil menyodorkan segelas air putih. Tangannya terjulur, mencoba mengecek suhu badan lelaki itu dengan punggung tangan. “Tubuhmu sedikit panas, Jong. Pusing?”

“…sedikit.”

“Mau kubuatkan bubur?”

“Tidak, terimakasih.”

Ibu menghela napas panjang. “Kau sakit?”

“Tidak, Eomma. Aku tidak apa-apa,” jawab Jongin dengan nada sedikit ketus, lalu beralih menatap keluar jendela. Sebelah tangannya terjulur untuk menyibak tirai, membiarkan sinar matahari merengsek masuk melalui celah-celah. “Aku mau menjenguk Yunhee.”

Ibu sedikit terperanjat, “Sepagi ini, Jong?”

“Apanya yang pagi, Eomma?” Jongin menunjuk jam wekker di samping, “Sudah jam 8 pagi.”

Sejemang ibu terdiam, lalu menghela napas panjang. “Baiklah,” ia menyetujui sebelum kembali bicara, “Tapi eomma ada janji dengan teman lama, kau pergi sendiri tidak apa-apa?”

“Aku bukan anak kecil lagi, eomma tak perlu khawatir.”

“Baiklah kalau begitu, titipkan salamku untuk Ibu Yunhee.”

Jongin mengangguk singkat sebelum akhirnya bangkit berdiri dan berjalan terseok menuju kamar mandi. Matanya masih setengah terpejam, mungkin karena menahan kantuk. Ibu hanya menggeleng tak mengerti lalu berdesis pelan.

“Dasar anak muda.”

***

Bau desinfektan yang menusuk indera penciumannya sedikit banyak membuat Yunhee benci dengan suasana di rumah sakit. Ia hanya bisa terbaring, memerhatikan bagaimana anak-anak seusianya berangkat sekolah dengan badan segar bugar dari balik jendela kamar inapnya.

Semuanya memang sudah terbalik. Dunia tak lagi ada di pihaknya. Mungkin jarum jam pun sudah berbalik arah, Yunhee tak mengerti.

Ia kembali menghela napas sambil memejamkan mata, ketika tiba-tiba ibu masuk sambil membawa sepotong kue stroberi dengan keju parut di atasnya.

“Sudah bangun, Yun?” Ibu tersenyum tipis, “Bagaimana jantungmu?”

Yunhee tersenyum kecut, “Sedikit lebih baik.”

Bunyi kardiograf di ujung ruangan mengambil alih suara, seiring dengan suara ting samar yang terdengar ketika ibu meletakkan sendok kecil di samping kuenya.

“Eomma menginap di mana?” Yunhee mencoba berbasa-basi, tak tahan dengan kecanggungan di antara mereka.

Ibu kembali tersenyum sambil memberikan kuenya kepada Yunhee, lalu menjawab dengan santai, “Eomma menyewa kamar hotel. Sepertinya kita harus mencari apartemen baru lagi, benar?”

Yunhee mengangguk singkat sambil menyuap kuenya dalam diam.

“Kau mau apartemen di mana, Yun? Di daerah Gangnam? Atau di—”

“Terserah eomma,” tiba-tiba Yunhee menyela. Tidak ketus, namun tegas. Sorot matanya seolah menunjukkan bahwa dirinya tak lagi berminat untuk berkonversasi lebih lanjut. Sebelah tangannya yang menggenggam piring kue lantas meletakkannya kembali ke atas meja.

“Y-Yun?” Ibu tersenyum canggung, “Kau tidak apa-apa?”

Yunhee tidak menjawab.

“Ada yang sakit?”

Lagi-lagi Yunhee tidak menjawab.

“Yun, jawab aku.”

Yunhee menoleh datar, “Kenapa? Tumben sekali eomma menanyakan pendapatku,” tiba-tiba ia berujar sambil tersenyum ganjil. “Biasanya eomma memutuskan segalanya sendiri.”

“A-Apa?”

“Aku tidak peduli kita mau tinggal dimana, asal aku bisa keluar dari sini secepatnya,” kali ini Yunhee berusaha santai, tidak mau membuat suasana menjadi tegang. “Omong-omong, kapan aku bisa pulang?”

Ibu menghela napas panjang, “Kemarin Dokter Xi bicara padaku.” Terjadi jeda sejenak. Ibu menatap Yunhee dalam-dalam sebelum akhirnya melanjutkan, “Apa yang dikatakannya benar, Yun?”

“Soal… apa?”

Ibu menarik kedua sudut bibirnya sedikit, “Soal obat tidur itu dan.. alkohol.”

Seperti disengat sengatan listrik, Yunhee membatu dengan bibir terkatup rapat. Matanya menatap ibu dengan pandangan datar, tidak tahu harus bicara apa. Otaknya kehilangan kemampuan berpikir.

“Yun?” Lengan ibu menyentuh punggung tangannya, “Aku tahu Dokter Xi tidak mungkin membual tapi…, kau serius? Kau meminum semua itu?”

Yunhee tak lekas menjawab.

Ibu menghela napas lagi.

“Seharusnya kau cerita padaku, mungkin aku bisa membantu. Aku tidak tahu seburuk apa mimpimu sampai-sampai kau nekat meminum obat tidur dan alkohol sekaligus, bahkan dalam jangka waktu panjang. Tapi setidaknya bicarakan dulu denganku, apa kau tidak tahu semuanya berisiko untuk jantungmu?”

“Aku—” Yunhee kehabisan kata-kata. Matanya tak berani menatap ibu. “Aku hanya… aku tidak tahu harus apa. Aku sama sekali tidak berniat mengonsumsi semuanya dalam jangka waktu panjang tapi—”

“Aku tahu. Lama-lama itu menjadi candu, ‘kan?” Ibu menatap Yunhee miris, lalu menunduk menatap jemarinya yang bertautan di atas pangkuan. “Sekali orang meminum obat tidur, maka ia sulit untuk berhenti. Lama-lama akan menjadi kebiasaan buruk sebab semakin lama dosis yang dibutuhkan pun semakin banyak. Benar begitu?”

Yunhee menatap ibu sekilas, tidak mengangguk pun menjawab ‘ya’, tapi ibu tahu bahwa ..

“Aku tidak mengerti dari mana kau dapatkan semua itu, terlebih lagi alkohol,” ibu terdiam sebentar, “Tapi satu hal yang ingin kutanyakan, Yun.”

Yunhee mengangkat wajahnya, membiarkan iris cokelat ibu bersirobok dengannya.

“Kau.. sebenarnya sudah tahu risikonya, ‘kan?”

Bibirnya tersenyum tipis tanpa esensi. “Hm.”

“Lalu kenapa kau lakukan itu semua?”

Yunhee sempat enggan menjawab, namun tiba-tiba gagasan lain melintas di otaknya. “Kenapa eomma menanyakan hal itu? Kenapa eomma sendiri tak sadar dengan kelakuanku?”

“Yunhee—”

“Setiap malam aku tidak bisa tidur. Bayang-bayang mengenai mimpi itu terus menghantui, membuatku hanya terfokus dengan rasa takutku yang terasa begitu nyata. Aku teringat bagaimana tubuhku bergetar ketakutan, ketika dadaku sesak menahan gejolak emosi, dan aku terjebak dalam frustasi. Rasanya tertekan membayangkan bagaimana besok aku bisa melakukan aktifitas bila berisitrahat saja rasanya susah. Eomma mengerti itu?”

Ibu terdiam, tak mampu menjawab.

“Aku tahu eomma pasti tidak akan setuju dengan tindakanku. Karena itu aku berniat merahasiakan hal ini, entah sampai kapan.”

“Apapun alasanmu eomma tetap tidak setuju, Yun.”

“Aku tahu.”

“Kalau saja kau memberitahuku lebih awal pasti tidak akan jadi seperti ini, Yun. Sekarang keadaan jantungmu benar-benar parah, kau tahu?”

“Aku tahu.”

Ibu menghela napas sambil memejamkan mata, “Lantas—”

Tiba-tiba suara derit pintu menggema, disusul dengan suara familiar yang sudah sangat Yunhee hapal.

“Permisi? Yun?”

“Ah, Jongin!” Yunhee mengulas senyum lebar melihat lelaki itu yang berjalan masuk dengan kemejanya yang digelung sebatas siku. “Kau datang?”

“Hm,” Jongin mengangguk tegas, “Ah, selamat pagi Nyonya Jung.”

Ibu Yunhee tersenyum tipis dan membalas sapa Jongin, “Pagi, Jongin.”

”Apa aku mengganggu?” Jongin bertanya sekilas sambil merogoh saku ketika dering ponselnya tiba-tiba berbunyi nyaring. “Ah, sebentar.”

“Kau ingin mengobrol dengan Jongin?” Ibu Yunhee bertanya sedang Jongin berjalan keluar untuk menjawab panggilannya.

“Hm. Eomma pulang saja duluan.”

“Aku belum mau pulang, mungkin nanti akan menginap di sini.”

Dahi Yunhee mengernyit kaget. Setahunya, ibu paling benci dengan bau obat-obatan. “Untuk apa?”

“Tidak apa-apa. Kupikir setidaknya ada yang menemanimu pada malam hari, takut-takut mimpi buruk itu datang lagi, benar begitu?”

Yunhee menghela napas. Benar juga, akhir-akhir ini mimpi buruk itu jadi sering datang kembali setelah lama menghilang dari lelapnya. Sialan. Ia mengangguk setuju dan membiarkan ibunya melangkah keluar. Disusul oleh Jongin yang kebetulan sudah selesai menerima telepon.

“Hei,” Jongin menyapa untuk kedua kalinya.

“Hei.”

Lelaki itu menarik kursi yang sempat diduduki ibu Yunhee dan tersenyum lebar melihat Yunhee, “Kau sudah lebih baik?”

“Tentu.”

“Wajahmu sudah tidak sepucat kemarin.”

“Hm.”

Jongin menghela napas lega. Untung saja mimpinya semalam tidak jadi kenyataan. Yunhee masih ada di kamar inapnya; duduk di sana dengan seulas senyum khasnya; bukannya pergi dan menghilang seperti delusinya dalam alam mimpi.

“Omong-omong… kau makan kue untuk sarapan?” Jongin bertanya dengan sebelah alis terangkat. Heran ketika retinanya menangkap kue stroberi itu yang diletakkan di atas meja.

“Hahaha, entah, itu eomma-ku yang membeli. Aku sudah sarapan bubur tadi.”

“Ahh, begitu rupanya..,” Jongin mengangguk-angguk mengerti. Ketika tiba-tiba pertanyaan lain kembali melintas, “Oh ya, Yun..”

“Hm?”

Jongin ragu sejenak, “Ini soal…—jantungmu.”

Yunhee terbelalak kaget ketika tiba-tiba Jongin berujar dengan gamblang. Terkejut, sejak kapan Jongin tahu masalah jantungnya? Ia pasti salah dengar. Telinganya mungkin sudah rusak. Tidak mungkin ‘kan, Jongin—

“Maaf, tapi aku sudah mengetahui soal lemah jantungmu sebelum kau memberitahuku secara resmi.”

—mengetahui hal itu?

“D-Dari mana kau tahu?!” Yunhee nyaris menjerit kalau saja akal sehatnya tidak cepat-cepat berseru untuk menjaga sikap tenangnya. Ia menatap Jongin tak percaya, lantas menggigit bibir bawahnya takut-takut ia kembali berseru.

“Maaf, Yun…,” Iris cokelat itu menatapnya menyesal; mencoba tersenyum tipis namun gagal. “Sehun yang mengatakannya.”

“A-Apa?” Yunhee tak tahu harus berkata apa lagi. Rahasia yang selama ini ia jaga mati-matian akhirnya malah terbongkar dengan mudahnya hanya karena mulut sialan si lelaki semampai itu. Sialan.

Yunhee menahan emosinya dengan memejamkan mata, lalu berdesis pelan; “Di mana lelaki itu?”

“A-Aku tidak tahu…, Yun.”

Namun sedetik kemudian raut wajahnya kembali berubah. Kernyit gusar di dahinya perlahan memudar, tergantikan dengan cemas yang tiba-tiba terlihat begitu jelas.

Gadis itu khawatir. Khawatir karena Sehun tidak kunjung menjenguknya. Dan semua terlihat begitu nyata di mata Jongin.

Satu lagi luka tertoreh; ia hanya mampu mengulas senyum.

“Kau tidak apa-apa, Yun?”

Yunhee menghela napas panjang dan kembali menatap datar. Iris cokelatnya bersirobok dengan milik Jongin sejemang, “Maaf… aku tidak memberitahumu lebih dulu.”

***

“Hyung? Sudah mau berangkat?”

“Hm,” Luhan menjawab singkat sambil meraih jas putihnya yang tersampir si sofa biru. Sekilas ia menatap Sehun, dan langsung berkata, “Wajahmu buruk. Sangat buruk.”

Sehun berdecih acuh tak acuh. “Persetan denganku,” ia berujar asal. Kakinya melangkah gontai menuju dapur, mengambil sekotak susu dari atas konter lalu berbalik menatap Luhan dengan sebelah alis terangkat, “Kau hendak mengecek keadaan Yunhee, ‘kan?”

Luhan yang sedang mengenakan sepatunya lantas menoleh. “Hm. Kenapa?”

“Haish kau ini—aish. Kau benar-benar tidak mau memberitahuku soal dia?” Sehun berjalan mendekat sambil masih memegang kotak susunya, membiarkan jejak putih yang tertinggal di sekitar bibirnya membekas seperti bocah yang baru belajar minum. “Setidaknya beritahu aku separah apa keadaannya, Hyung!”

“Aku tidak bisa. Ini soal hak privasi, kau tahu.”

“Aku tahu tapi—”

Luhan bangkit berdiri setelah selesai mengikat tali sepatunya dan berkacak pinggang di depan lelaki semampai itu. “Berkacalah sana. Minum susu saja tidak becus sudah berniat mengancamku, hm? Dasar bocah.”

“A-Apa—”

“Aku pergi duluan, sampai nanti!” Luhan memutus ucapan Sehun, tidak mau ambil pusing dengan caci maki sahabatnya itu sambil berjalan keluar apartemen. “Jangan lupa kunci pintu kalau mau berpergian!”

Sehun mengumpat kesal setelah mengusap bibirnya dan malah menendang pintu rumah pemuda berdarah cina itu dengan emosi. “Kurang ajar! Siapa yang kausebut bocah—sialan.”

“Jangan merusak barang-barangku!” Tiba-tiba teriakan Luhan terdengar lantang dari luar.

Sehun hanya memutar bola matanya jenuh dan kembali menendang pintu, “Pergi sana! Berisik!”

***

“Hanna? Ada apa?”

“Oh, Yerim-ah. Sudah datang?”

Yerim menarik kursi di depannya lantas duduk bertopang dagu di depan gadis bersurai emas itu. “Kau tidak apa-apa? Melamun terus.”

Hanna memutar bola mata dengan jenuh, “Kau saja baru datang bagaimana tahu kalau aku melamun terus.”

Bahunya berjengit tak peduli, lantas ia mengganti topik pembicaraan. “Kau benar-benar membeli tiket itu, Han?”

“Hm. Tentu.”

“Untuk Jongin?”

“Yah, siapa lagi.”

Yerim tiba-tiba menggeleng tak mengerti, “Kau benar-benar menyukainya ya.”

Hanna menghela napas panjang. “Sudah kukatakan dari dulu, kau ini lemot sekali sih?”

“Aku hanya—yah, tidak percaya saja. Maksudku, dia ‘kan sudah sama Yunhee. dan—”

“Mereka tidak punya hubungan apa-apa!” Hanna menggeretak, sedikit kesal. Entah untuk apa. Tangannya yang sedang menggenggam secangkir teh yang baru dipesannya perlahan bergerak merogoh tas selempang, menunjukkan dua tiket konser yang susah payah didapatnya melalui pembelian online.

“Lihat? Aku serius, Yerim.”

Gadis itu tak berkata-kata lagi, melainkan hanya menatap Hanna—masih dengan pandangan tak mengerti.

“Yunhee dan Jongin hanya sahabat, aku tahu jelas soal itu. Jadi aku tidak perlu khawatir, ‘kan? Mereka juga sudah mengakuinya. Mereka hanya bersahabat. Karena itu, bukannya tidak mungkin untukku mendapatkan Jongin.”

“Tapi Hanna…, kau ini tidak tahu atau berpura-pura tidak tahu?” Yerim mencondongkan sedikit tubuhnya ke depan, lalu berujar pelan, “Jongin itu… menyukai Yunhee, ‘kan?”

Terjadi jeda selama beberapa saat sebelum akhirnya Hanna menghela napas panjang dan melempar karcisnya ke atas meja dengan tampang bosan. “Kau sudah mengatakan itu berkali-kali, demi Tuhan.”

“Kali ini aku serius, Han. Aku tidak sedang bercanda.”

“Aku juga sedang tidak bercanda.”

Seorang pelayan datang sambil mengecek pesanan, dan kembali dengan membawa satu order-an lagi dari Yerim. Hanna yang sudah berdiam diri di kafe ini sejak tadi tidak berniat memesan apa-apa lagi, yang ia mau hanya keputusan pasti soal Jongin dan—

“Menurutku…

…kau terlalu berlebihan, Han.”

Hanna menangkat wajahnya dan mengerutkan kening tak mengerti, “Apanya yang berlebihan?”

“Soal Jongin… kau terlalu berlebihan. Jangan terlalu memaksa, atau semuanya hanya akan percuma.”

***

Emosinya benar-benar labil. Sialan. Oh Sehun, Demi Tuhan! Bisa-bisanya kau berjalan ke sini tanpa berpikir dua kali. Keparat.

Ia mengacak rambutnya frustasi, tak tahu harus berkata apa lagi ketika jelas-jelas ia melihat Jongin sedang berjalan keluar kamar inap Yunhee sambil merangkul gadis itu.

Astaga, sekali lagi tegaskan; me-rang-kul. Haruskah diletakkan tanda seru juga?

Baiklah, mungkin ini memang terlalu berlebihan. Tapi ia tidak sedang bercanda, sialan. Seperti ada sesuatu yang.. —entahlah. Bahkan ia sendiri tak bisa mendeskripsikan dengan benar. Oh Sehun, sepertinya kau sudah gila.

“Hyung!”

Pemuda bersuarai cokelat yang sedang menyebrangi koridor itu perlahan menoleh; membiarkan matanya menatap Sehun dengan seulas senyum ramahnya yang menjadi ciri khas. “Oh, Sehun? Sedang apa?” Luhan berjalan mendekat dengan kedua tangan di saku.

Sehun mendesis kesal, “Kau masih bertanya ‘sedang apa’?”

Luhan baru sadar atas kebodohannya, lantas ia terkekeh pelan. “Haha, maaf. Kau berniat menjenguk gadis itu lagi, ‘kan?”

Sehun memutar bola mata dengan jenuh, lalu mendudukkan diri di kursi tunggu. “Apanya yang ‘lagi’? Aku belum menjenguknya sekalipun.”

“Kalau begitu jenguklah sekarang.”

Bukannya menurut, Sehun malah melemparkan tatapan tajamnya dengan dingin. “Kau menyuruhku menjenguknya ‘sekarang’?”

Luhan mengernyit tak mengerti. “Tentu saja sekarang. Apanya yang salah?”

“Kau menyuruhku menjenguknya sekarang?! Setelah melihatnya berangkulan dengan si bodoh itu, hah?!”

“A-Apa..—pfftt!” Bukan simpatik, bukan permintaan maaf, melainkan suara tawa yang tertahanlah yang meluncur dari bibir sobatnya itu, membuat Sehun semakin naik darah.

“APANYA YANG LUCU?” Sehun membentak kesal, tak tahan dengan suasana yang membuatnya semakin frustasi. Lekas-lekas ia bangkit berdiri, berjalan cepat meninggalkan Luhan yang masih berusaha keras menahan agar tawanya tak meledak seperti orang gila.

“Ya! Oh Sehun tunggu—”

Persetan dengan teriakannya. Persetan dengan kejarannya. Sehun terus berjalan menyusuri koridor, menuruni tangga menuju lantai bawah, berjalan keluar rumah sakit, dan berusaha bersikap seolah-olah tak terjadi apa-apa.

Tapi entah kesialan apa yang membuatnya hari ini kejatuhan dua kali; Sehun malah mendapati mereka yang tengah berjalan menuju taman belakang.

What the hell is going on, shit!

Sehun mengumpat keras, tak peduli lirikan yang dihujani untuknya. Ia mengabaikan panggilan masuk ke ponselnya dan memilih untuk berjalan cepat ketika—BRUK!

“Kyaa!”

Sehun merasakan dadanya sakit, seperti dipukul sesuatu yang keras dan—

“M-Maaf!”

Seorang gadis semampai dengan rambut hitam legamnya, berdiri dengan balutan gaun putih tulang yang begitu elegan dan jatuh dengan pas di tubuhnya yang langsing. Nyaris terbilang perfect, kalau saja gadis yang tengah menunduk meminta maaf itu tidak menunjukkan wajahnya ke arah Sehun.

Muak. Itulah yang dirasakannya.

“O-Oh Sehun?”

Keparat. Dasar jalang.

Sehun hanya menatapnya datar, tak mau bereaksi apa-apa dan memutuskan untuk angkat kaki secepatnya sebelum keadaan menjadi rusuh. Namun sebuah tangan yang menahan lengannya membuat Sehun mau tak mau berhenti dan berbalik menatap wanita itu dengan dingin, seakan berniat membunuhnya dengan sebuah sorot mata.

“A-Aku hanya—”

“Urusan kita sudah selesai, ‘kan?”

“A-Aku bilang maaf!—”

“Kau tuli? Kubilang sudah selesai.”

Sehun menepis tangan itu dengan kasar dan kembali berbalik, takut kata-kata kasarnya keluar begitu saja tanpa bisa ditahan.

Namun sialan tetaplah sialan, bukannya membiarkan ia pergi, gadis itu malah justru melingkarkan tangannya di pinggang Sehun dengan erat dan menahan lelaki itu untuk pergi seperti bocah yang takut kehilangan boneka beruangnya.

“Urusan kita belum selesai!”

Lucu sekali.

Emosinya benar-benar sudah di ambang batas. Pita suaranya seperti nyaris tercekik karena terlalu lama menahan gejolak untuk tidak berteriak di depan wajah gadis itu.

“Bisakah kau pergi saja dari hidupku?” Sehun bertanya dengan rendah, terdengar dingin dan tajam sekaligus. Tangannya melepas pelukan Jiae di sekeliling pinggangnya dan berbalik dengan tatapan malas.

“Apa sih yang kau mau?” Pertanyaan kedua terlontar; lantas ia terkekeh sarkastis, “Kau benar-benar jalang, ya? Apa otakmu itu sudah rusak?”

“Sehun-a, aku hanya ingin—”

Omongannya terputus. Kalimatnya mengambang di udara. Dan semuanya menjadi semu.

Lelaki itu memejamkan matanya erat-erat, membiarkan bibirnya bertemu dengan milik Jiae tanpa berpikir dua kali. Mengabaikan jeritan tertahan dari gadis itu, ia melakukkannya dengan kasar tanpa peduli apa-apa.

“Puas?” Sehun berdesis, matanya masih menatap tajam. “Itu ‘kan yang kau mau?”

Jiae terbelalak kaget, air matanya seketika tumpah begitu saja; mengalir membasahi pipinya yang memerah menahan emosi. “K-Kau benar-benar—”

Sehun segera menahan lengan gadis itu yang hendak menampar dengan cekatan, lalu tersenyum sarkastis. “Mulai saat ini pergilah. Anggap kita tidak pernah berkenalan. Kalau kau tidak mampu, mati saja sana.”

Setelah berkata dengan sebegitu kasarnya, Sehun berbalik meninggalkan Jiae.

Seakan dirinya adalah angin yang menerbangkan dedaunan musim gugur, Sehun pergi tanpa peduli dengan apa yang dilakukannya.

Dan semuanya berlalu begitu saja.

***

Yunhee senang bukan main ketika Jongin menawarkan dirinya untuk menemani Yunhee berjalan-jalan sebentar di luar. Akhirnya ia bisa kembali menghirup udara segar, bukannya bau obat-obatan yang menohok indera penciumannya.

“Dokter Xi mengijinkan?” tanya Yunhee ketika Jongin kembali ke kamar inapnya.

“Tentu saja,” jawab lelaki itu sambil tersenyum lebar, “Ayo.”

Yunhee menghela napas lega dan bangkit berdiri, berusaha bertumpu dengan kedua tungkainya yang sedikit goyah ketika ia mencoba melangkah.

“Yun!” Jongin lekas menahan pundaknya yang sedikit linglung, lantas menatap khawatir, “Kau tidak apa-apa?”

“Tentu saja, haha. Jongin, kau terlalu khawatir.”

“Tapi—”

“Ayo, aku sudah tidak sabar. Pasti lega sekali bernapas di luar sana,” Yunhee berujar sambil mengulas senyum riang, lalu membiarkan Jongin menuntun langkahnya keluar kamar inap.

Mengambil jalan melalui lift memang jauh lebih baik ketimbang harus menuruni tangga, jadi Jongin membiarkan Yunhee memencet tombol menuju lantai bawah dan menunggu dengan sabar sampai bunyi ting samar yang menandakan mereka sudah sampai berbunyi.

Sesekali Yunhee tersenyum ketika seseorang menoleh menatapnya, dan Jongin akan bertanya, “Kau kenal dia?”

Yunhee hanya menggeleng ringkas dan terkekeh pelan, “Aku hanya ingin menyemangatinya.”

Benar-benar tak habis pikir, Jongin menggeleng tak mengerti. Di kondisinya yang seperti ini, bisa-bisa ia tersenyum?

Jongin mengeratkan rangkulannya di pundak Yunhee sambil mendorong pintu ganda menuju luar gedung rumah sakit.

“Aku bukan anak kecil yang akan pergi jika tidak kau rangkul seerat ini, Jong.”

Jongin terkekeh pelan, “Memangnya salah? Aku hanya ingin merangkulmu.”

“Kau berlebihan,” Yunhee ikut terkekeh sambil menyikut pelan perut Jongin.

“Baiklah, tapi kau suka ‘kan?” Lelaki itu tiba-tiba bertanya tidak jelas.

“A-Apa?”

“Hahaha, tidak, tidak.”

“Apa katamu tadi?” Yunhee menuntut Jongin untuk mengulang, tapi ia tak mau. “Cepat katakan apa katamu tadiiii.”

“Rahasia, bwekk,” Jongin menjulurkan lidahnya dan tertawa jahil.

“Cepat kat—” Tiba-tiba omongannya terputus. Matanya beralih menatap sesuatu jauh di depan sana; membuat Jongin ikut menoleh.

Speechless. Yunhee kehilangan kata-katanya. Sesuatu yang pilu melejit di hatinya; membuatnya tak lagi fokus dengan pembicaraan Jongin. Pikiran dan otaknya hanya terfokus pada lelaki itu; lelaki semampai yang tengah… mencium seorang gadis? Oh Sehun dengan seorang gadis?

Yunhee menggigit bibirnya dengan perasaan tak keruan.

“Yun? Yunhee?”

Jongin mengibaskan tangannya di depan Yunhee dan tersenyum tipis, “Kau tidak apa-apa?”

“A-Ah, ya…, ayo.”

Jongin terlihat ragu sejenak, tak yakin Yunhee benar-benar baik-baik saja melihat perubahan emosi yang begitu drastis di wajahnya dengan begitu gamblang.

“Ayo, Jong. Kau lama.”

“A-Ah, ayo ayo,” Jongin menurunkan rangkulannya pada lengan Yunhee dan mengenggam tangan gadis itu erat.

***

Sehun memilih untuk berjalan menyusuri jalan kota untuk menghabisi harinya. Menatap toko-toko di samping tanpa minat, menatap penampilan seorang pemuda Thailand yang tengah memainkan gitarnya, sampai membiarkan seorang gadis melukis wajahnya untuk tugas sekolah, katanya.

Sesampainya di ujung jalan, Sehun menghentikkan langkahnya. Matanya beralih menatap bangunan di sampingnya yang sudah lama tak dikunjungi. Ia terdiam sejemang sebelum akhirnya memutuskan untuk melangkah masuk.

“Oh Sehun!”

Seorang pemuda langsung menyapanya dengan antusias. “Hey, bro! Long time no see, huh?”

Sehun menatapnya datar. “Kau masih bernapas, rupanya.”

Pemuda itu terkekeh mendengar perkataan Sehun dan menepuk bahunya akrab, “Kupikir kau sudah mati beku dengan sikap dinginmu itu, huh?”

Sehun melenggang menuju konter tanpa menaruh atensi sepenuhnya.

“Di mana Luhan?”

“Rumah sakit.”

“Ah ya, si dokter muda itu, ckckck. Bagaimana kabarnya? Baik?”

“Jauh lebih darimu.”

Pemuda itu terkekeh lagi lalu merangkul pundak Sehun dan segera ditepis. “Ckck, Sehun. Tak seharusnya kau bersikap kasar dengan seniormu.”

“Donghae, tutup mulutmu.”

“A-Apa?” Donghae menatap Sehun tak percaya dan terkekeh tak percaya. “Astaga, bahkan dia memanggilku tanpa ‘Hyung‘!” ujarnya pada seorang wanita tak dikenal yang tengah membeli minuman kaleng di mesin otomatis.

Sehun hanya memutar bola matanya dengan jenuh, sibuk memperhatikan setiap sudut bangunan yang baru saja dicat ulang. Warna krem muda kini terlihat cocok dengan ornamen modern yang ada.

“Kau mau berlatih lagi?” Agak-agaknya Donghae belum menyerah untuk menjalin konversasi dengan Sehun. Pemuda itu masih mengikuti langkah Sehun menuju ruang latihan, memperhatikan bagaimana ia menyetel lagu dan mulai menggerakan tubuhnya dengan enerjik di depan cermin.

Perlahan Donghae tersenyum tipis, sedikit bangga melihat junior-nya sudah mampu menguasai bakat terpendamnya.

Lagu diputar selama lima menit, dan berakhir teriakan frustasi dari Sehun. Rambutnya berantakan, peluh memenuhi dahinya.

Donghae terkekeh pelan, berjalan mendekati Sehun yang berbaring telentang di tengah ruangan. “Kemampuanmu sudah meningkat, rupanya.” Donghae menyelonjorkan diri di cermin datar dan tersenyum tipis, “Sedang ada masalah?”

“Kau menertawaiku?”

Donghae terkekeh pelan, “Tidak. Hanya bertanya.”

Sehun berdecih. “Kau tertawa.”

“Yah, whatever,” Donghae berjengit acuh tak acuh. “Tarianmu penuh emosi sekali tadi, you know right?

“Menurutmu begitu?”

“Euhm,” Donghae mengiyakan. “Ada masalah apa?”

“Tidak apa-apa.”

“Pembohong.”

Sehun mendengus tak peduli. “Maaf, tapi aku bukan tipe yang suka curhat dengan orang-orang sepertimu.”

“A-Apa?” Donghae langsung menegakkan tubuhnya lantaran merasa tersindir. Namun melihat ekspresi Sehun yang begitu datar, sepertinya semangat berargumen miliknya langsung menguap.

“Apapun itu, jangan gegabah mengambil keputusan,” tiba-tiba Donghae menyerocos, “Jangan sampai kejadian saat lalu terjadi lagi, mengerti?”

Sehun bangun dari rebahnya lantas menatap Donghae datar. “Siapa kau berani-beraninya memberikanku nasihat?”

Donghae hanya terkekeh pelan lalu melempar handuk ke wajah lelaki itu. Sambil mengusap peluh, Sehun membiarkan Donghae mengoceh ini-itu soal jadwal pekerjaannya yang padat. Yah, siapa peduli? Daripada otaknya terfokus terus ke kejadian tadi, lebih baik seperti ini.

“Oh ya, Sehun omong-omong…

…kau sudah menerima tawaran itu lagi?”

“Apa?” Sehun beralih menatap Donghae sambil berjalan ke samping pemuda itu, ikut berselonjor di cermin.

“Tawaran bergabung dengan agensi Star Entertainment. Mereka memintamu kembali ‘kan?”

Sehun terdiam sejenak. “Bagaimana kau tahu?”

“Mereka menghubungiku beberapa kali dan kubilang kau sudah lama tak ikut latihan di sini, jadi yah, tentu saja aku tahu.”

“Oh.”

“Jadi.., kau menerima tawarannya?” Donghae bertanya pelan.

Sehun hanya terdiam lalu menghela napas panjang. “Aku tidak punya pilihan lain.”

***

Nada sambung konstan yang berdenging terus menerus di telinganya benar-benar membuatnya muak. Hanna mentap layar ponselnya sejenak dan kembali melekapkan ke telinga.

“Lelaki ini benar-benar—”

“Menghubungi Jongin lagi?”

Hanna menghela napas panjang. “Hm.”

“Dia masih tidak menjawab teleponmu?” Yerim bertanya sambil berguling di ranjang kamarnya, menatap Hanna yang sibuk mengutak atik ponsel di depan meja rias.

“Tidak ada jawaban sama sekali.”

Yerim tersenyum tipis. “Mungkin sedang sibuk?”

“Entahlah. Teleponnya saja tidak dijawab bagaimana aku tahu.”

Gadis itu bangkit berdiri dari duduknya dan ikut merebahkan tubuh di atas ranjang kamar di Hanna. Matanya terpaku menatap plafon, membiarkan bayangannya berkelana kemana-mana.

“Mungkin dia menjenguk Yunhee?”

Hanna menoleh tajam, “Yunhee lagi, Yunhee lagi. Tidak bosan apa?”

Yerim hanya terkekeh pelan, “Bercanda. Aku hanya menduga-duga, Na-ya. Tidak perlu seemosi itu.”

“Bagaimana tidak emosi, kau menyebutnya lebih dari seratus kali hari ini.”

Kini Yerim tergelak kencang, tak mampu menahan tawanya melihat kecemburuan yang jelas di wajah Hanna. “Aku hanya bercanda, ok? Tidak usah dibawa serius seperti itu, haha.”

“Terserah.”

“Tapi omong-omong,” Yerim menarik jeda sebentar, “Bukankah Yunhee memang masuk rumah sakit?”

“Hm.”

“Kita tidak menjenguknya?”

Pandangan Hanna bergulir ke luar jendela, perlahan mengerjap dalam diam. “Tidak tahu,” jawabanya berbisik.

Yerim hanya menghela napas panjang lalu berguling lagi, membiarkan tubuhnya dalam posisi tengkurap sambil mengutak atik ponsel. “Kenapa? Bukankah kita teman?”

“Kita? Dengan Yunhee?”

“Hm. Tentu.”

“Yah, kita memang teman. Lalu kenapa?”

“Masa tidak berniat menjenguk?”

“Aku tidak bilang tidak akan menjenguknya, ‘kan? Aku hanya.. sedang mencari waktu yang tepat.”

Yerim memutar bola matanya. “Dasar tukang alasan, hari ini kau ‘kan akan pergi, jadi aku saja yang menjenguknya ya?”

“Baiklah.”

Keadaan menjadi hening lagi; ketika tiba-tiba ponsel Hanna berdering nyaring menandakan telepon masuk.

“Dari Jongin?” Yerim menebak sambil tersenyum geli melihat ekspresi Hanna yang langsung berubah.

“Halo? Jongin? … Ah ya, tidak apa-apa… Haha, sungguh, tidak apa-apa … Ah—soal itu..—hm, aku mau mengajakmu pergi..”

***

Yunhee menyelesaikan suapan terakhirnya dari kue stroberi dari ibu, lalu menoleh dengan dua alis terangkat. “Kenapa?”

“Si Hanna mengajakku pergi,” jawab Jongin sambil menatap layar ponsel. Sebelah tangannya menarik kursi di samping ranjang lalu duduk di sana tanpa sempat menoleh ke arah Yunhee.

“Pergi? Ke mana?”

“Entahlah, katanya rahasia.” Kali ini Jongin mengangkat ponselnya dan kembali melesakkan ke saku. “Tidak apa-apa ‘kan, aku pergi sebentar?”

Yunhee mendengus pelan, “Tentu saja, memangnya aku anak kecil.”

Jongin terkekeh pelan lalu mengacak rambut Yunhee. “Aku hanya bertanya, ck. Sensitif sekali, hm?”

“Aku tidak sensitif.”

“Yah, kau sensitif. Yang di taman tadi juga.”

“A-Apa?”

Dan Jongin sadar ia sudah salah bicara. Sialan.

“Soal apa?”

“Soal…,” Jongin menggaruk tengkuknya salah tingkah, “Hhh, soal itu. Kau tahu.”

Yunhee terdiam sebentar lalu tersenyum tipis. “Soal Sehun?”

“E-Eh?” Lelaki itu menatap iris cokelat Yunhee sebentar lalu menunduk. “Yah, soal itu. Kau melihatnya, ‘kan?”

“Hm.”

“Kau tidak apa-apa?”

“Apa?” Yunhee menarik kedua alisnya tak mengerti.

“Kau tidak apa-apa… soal itu?”

Yunhee tersenyum tipis lalu menggeleng pelan, “Tentu, memangnya kenapa? Toh tidak ada hubungannya denganku ‘kan?”

Jongin menghela napas singkat, lalu ikut tersenyum. “Hm. Benar.”

Sebelah tangannya meraih gelas mineral di atas meja dan diteguknya perlahan. “Aku juga tidak perlu memikirkan hal itu. Sama sekali tidak penting.”

Baru saja Jongin hendak menyahut ketika tiba-tiba ponselnya kembali berdering nyaring. “Halo? Oh, Hanna.”

Yunhee melirik sekilas lalu menghela napas panjang. “Pergilah, sepertinya dia sudah menunggumu.”

Jongin menoleh menatap Yunhee lalu tersenyum meminta maaf. “Y-Ya, sebentar Han—hm, Yun, aku duluan ya?”

“Hm. Hati-hati di jalan,” Yunhee melambaikan tangannya sejemang ketika Jongin melangkah keluar dari kamarnya dan menghilang di balik pintu.

Keadaan menjadi hening. Sendiri lagi, sendiri lagi. Ibu belum datang kembali sejak tadi pagi. Yunhee menyenderkan punggungnya ke tumpukan bantal di belakang sambil melirik keluar jendela.

Langit sudah menampilkan semburat oranye kemerahan, membiarkan sinar mentari menyelusup diam-diam dari balik gedung pencakar langit.

“Sudah sore, ya…,” gumam Yunhee samar, sambil mengulas senyum tipis. “Cepat sekali waktu berlalu.”

***

“Hyung.”

“Kau bicara denganku?” Luhan menaikkan sebelah alisnya ketika Sehun tiba-tiba datang menghampirinya di tengah koridor rumah sakit. Masih mengenakan baju yang sama dengan tadi siang.

“Memangnya ada orang lain?” gumam Sehun, sedangkan Luhan diam, sibuk mengetik sesuatu di ponselnya.

“Hyung.”

“Hm.”

“Hyung.”

“Apaan sih?”

“Yunhee ada di kamarnya?”

Luhan akhirnya melepas pandang dari layar ponsel lalu menatap Sehun sepenuhnya. “Hun-ah.”

“Hm?”

“Kau pikir aku ini babysitter kerjaannya memantau gadismu terus?” tanya Luhan sedikit gusar lalu kembali menatap layar ponselnya.

“Siapa gadisnya siapa?” Kali ini Sehun balik bertanya dengan sebelah alis terangkat, “Cepat jawab, Yunhee di kamarnya atau tidak?”

“Kau memaksa sekali sih? Mana kutahu, coba saja cek sendiri.”

Ya!”

Luhan mendengus kesal. “Hei, berani-beraninya membentak hyung-mu.”

“Persetan.” Sehun lantas bangkit berdiri, hendak meninggalkan Luhan dan ponselnya sendiri.

“Kau sudah mau pulang?”

“Belum. Aku masih mau—yah, kau tahu.”

“Kau pantang menyerah ya?”

Ya! Tiga hari aku tidak melihatnya kau pikir nyaman, hah?”

Luhan menghela napas panjang lalu menyenderkan punggungnya ke dinding, “Aku belum bertemu Liyin dua bulan. Tapi yah, itulah bedanya kau dan aku. Dasar manja. Sudah sana, nanti terlalu malam Yunhee terlanjur tidur.”

Sehun mendengus, lantas mendecih kesal. “Ini masih sore.”

“Sudah jam 7.”

“Terserahlah,” Sehun mengibaskan tangannya tak peduli sambil berjalan menjauh, mengabaikan omongan Luhan selanjutnya.

“Semoga beruntung!”

.

.

.

***

Tarik napas, buang napas.

Hitung maju; satu, dua tiga. Hitung mundur; tiga, dua satu.

Sehun memejamkan matanya, mencoba menahan gejolak emosi yang lagi-lagi menguasai hatinya.

Sialan.

Kenapa bisa jadi segugup ini?

Sebelah tangannya sudah menggenggam gagang pintu ruang inap gadis itu dengan mantap, namun tiba-tiba pikiran lain datang secara tiba-tiba.

Bagaimana ia harus menyapa Yunhee?

Bagaimana ia harus menatap gadis itu? Tersenyum? Dengan pandangan datar?

Apa ia harus berpura-pura tidak terjadi apa-apa? Atau langsung meminta permintaan maaf?

Tapi untuk apa? Kenapa pula ia harus meminta maaf?

Sehun mengacak rambutnya frustasi dan melepas genggamannya.

Ia sudah memikirkan hal ini sejak pagi dan—baiklah. Sehun mengambil napas dalam-dalam seraya memantapkan hati dan membisikkan kalimat-kalimat untuk mendukung keputusannya sendiri.

Sekarang, atau tidak sama sekali. Lantas ia mengayunkan tangannya ke atas, menekan kenopnya ke bawah seraya menahan napas.

Ceklek.

“Yun?”

.

.

.

TBC

(I have something to say on author’s note below. Please give your time awhile before close the tab. Thankyou so much!)

.

[A/N]: Ekhm, ekhm, mic test one, two, three. Hello Eunike’s speaking here! Sebelumnya saya mau minta maaf yang sebesar-besarnya atas keterlambatan chapter ini yang sampe berbulan-bulan. Sekali lagi, saya minta maaf. Mungkin kalian sudah mencak-mencak :”D Maaf_part2.

Mungkin sebagian dari kalian nanya, ‘ini author-nya kok gak bertanggung jawab banget sih fic-nya dibiarin delay berbulan-bulan’ atau ‘sesibuk apa sih anak SMP sampe-sampe telat publish kayak gini’. Nah. Bukanya mau ngeles, tapi tbh jadwalku bener-bener padet T_T Pulang udah sore, jam 3-an, masih ada PR/tugas yang gak cuman satu, belum lagi ulangan dan segala macam remidial (Karena sekarang sistemnya perindikator, ada yang tahu? Atau mungkin kita seperjuangan? :”) ) Karena itu aku bener-bener minta maaf lagi atas kesibukanku dan lantaran aku juga gabisa janji bakal bisa update cepet.

Awalnya aku bingung, harus dialnjutin atau gak ff ini karena yah, udah telat lama banget dan mungkin reader juga udah pada lupa sama alurnya. Tapi kalau dipikir-pikir, masa aku mau lepas tanggung jawab? Haha, walau ini masalah kecil tapi menurutku gak seharusnya aku ninggalin ff setengah jalan, apalagi udah ada reader yang bersedia baca. Alhasil, aku berusaha lanjutin. Lagi-lagi, aku mau nyelipin maaf juga di sini karena mungkin feel-nya gak sebaik di chapter-chapter sebelumnya. I’m so sorry.

Nah, mungkin segini aja cuap-cuapnya? Maaf lagi kalo aku cerewet T_T Dibanding A/N mungkin lebih mirip surat permintaan maaf ya? Hahaha. Jujur, aku merasa bersalah banget. Karena itu, sekali lagi aku minta maaf TT_____TT Jangan bosen-bosen baca kata ‘maaf’ dariku ya, haha.

See you next chapter! 😀

XOXO with so much luv,

eunike.

(Psst, ada yang mau bonus chapter tentang hubungan Sehun-Jiae sebelumnya?)

119 tanggapan untuk “Everything Has Changed (Chapter 14)”

  1. ish maksud sehun apa cium-cium ji ae? Mau ada apa lagi si ji ae? Dan Yunhee cemburu liat sehun.? Sepertinya sehun bakalan susah deketin yunhee ya? Huhuhu. Penasaraaaan

  2. Astagaaaa aku kirain kamu gak akan ngelanjutin cerita ini lagi sampe sampe aku pasrah gak pernah ngecek lagi dan aku terlanjur sibuk sama urusan kampus terus pas buka tarrraaaaa udah chapter 16 haha aku kaget wkwkwk. Tapi kesialan apa sih yang menimpa Sehun sampe Yunhee ngeliat dia nyium Jiae dirumah sakit tadi. Aku yakin Yunhee akan berpikir macem-macem soal itu dan yah aku ngerasa ada perubahan dari cerita ini gaya bahasa kamu berubah sedikit dan Sehun sekarang jadi agak kasar dibanding sebelum-sebelumnya hmm

  3. ya ampun.. ditunggu2 ternyata udah di post ketinggalan banyak–“.. btw itu yunhee kapan ngonsumsi alkohol sama obat tidur? kok kyknya belum pernah diceritain ya .. oh ya ijin baca chapter selanjutnya ya.

  4. Hai thor ninggalin jejak dulu.. hehe
    Btw, aku telat bnget baca nih ff.. chapter selanjutnya aja udh diupdate.. sebenarnya mls komen.. tpi demi menghargai kerja keras author maka aku ksih jejak (?) hehe .. jgn putus asa thor!

  5. Eon, gaksuka banget Hanna jadi antagonis -,- aishh jinjja, knapa yunhee ngeliat sehun nyium si cewek itu ? Oh iya, eomma yunhee pas pergi ninggalin yunhee itu knapa? Nggak sabar eonn, hmm, daebak 🙂

  6. Wah..semakin pnasaran sama kelanjutannya.. Semangat yah ngelanjutin ff nya!! Semangat juga buat sekolahmu ^^ boleh dong itu bonius chapnya 😀 tetep nungguin chap15_dst

  7. eonni eonni… aku baru baca chap ini.. hehe iya sih aku agak sedikit lupa sama alur nya, tapi udh inget lagi kok..
    eh sumpah deh ini chap ending nya bikin dag dig dug… ayo lah sehun… beraniin dong buat ketemu yunhee. eiitss.. kenapa kisah nya hanna sama kaya aku ya eon /gak nanya, abaikan/. boleh dong eon, bonus chapter nya… semangat terus eon buat lanjutin FF ini.. Hwaiting..!! 😀

    ok deh saat nya ngesot dlu ke chap selanjut nya.. 🙂

  8. Ini chapster tergalau diantara semua chapster yang ada!!
    Dan boleh koreksi dikit ya saengie..soal penulisan “keks” awalnya aku bingung apa itu maksudnya, tapi setelah dipahami ooo itu kue to..???
    Ada baiknya kalau mau menulis dengan artian bahasa indonesia tulislah dengan kue bukankah itu maksudnya? Kalau mau memakai bahasa asingnya tulislah dengan cake seperti aslinya. Bukannya sok tau tapi akan lebih baik kalau menggunakan tata bahasa yang benar kan? Itu saja, dan sebetulnya ada beberapa kosakata yang aku tidak tau atau mungkin karna tidak sering aku dengar saja. Seperti kata sejamang…jujur awalnya aku tidak tau apa itu sejamang..

    Untuk keseluruhan isi ceritanya bagus.

    1. huaa aku nulisnya juga pas lagi galauu 😦 /eh/
      wahh iya soal itu duh maafkan u___u terimakasih juga buat sarannyaa kakk:) aku aja baru mulai masuk dunia tulis menulis mungkin gasampe setahun ini hehe :”) ohh itu sejemang, kak, artinya sebentar. hehehe makasih yaa udah bersedia bacaa 😀 akan segera direvisi:)

  9. Akhirnya aku baca chapter 14 juga☺ tapi aku pengen yunhee nya sama jong in bukan sama sehun 😍aku pendukung jonghee eonni bikin yunhee jatuh cinta sama jong in dong eonn😍

  10. sehun sama yunhee donk….aku dukung mereka….

    jongin sama hanna aja…..

    oh aku sih nggak terlalu pengen tau tentang hubungan jiae sama sehun sebelumnya…tpi nggak masalah kok klo emg di buat…..

    sehun ni bahay asal cium aja…nggak sadar tempat apa…itukan masih daerah rs aduh sehun sehun

    gimana reaksi yunhee pas sehun dateng ya??? kira” ada apa di kamar inap yunhee apa ada sesuatu ato apa gitu??
    sumpah penasaran

  11. hei thor! aku ngebut bacanya hari ini dari chap awal-yg ini kecuali yg diprotect haha. bingung mau cari passnya. aku ngefeel bgt sama hun-yun. serasa real pas mereka manggil nama pendek*-* tpi ah sehun kok jiae lagi uh-_- tpi pas jong cium yun itu serasa jatuh guanya/? hhho tkt ntar yun diambil jong bukan sehun. mlh setuju klo jong sama hanna!!
    keep writing thor! mau dong bonus chapternya*-*
    semangat yo thor uyeuye

    1. yampun ngebut :”) hehehe pw-nya udah dapet belum? kalo buat pw hubungi kontakku ajaa:)
      hehehe sipsippp semangat jugaa yaa buat kamu! :* makasihh banyak udah bersedia bacaaa

  12. Akhirnya ni ff comeback ._.
    Makin seru,tapi konflik dan permasalahannya malah makin ribet -_- yaa tapi seru kokkk.
    Oh iya itu hana kok gitu banget ya? Jahat gitu._. Jangan ampe dia ama kkamjong yaa 😀 jongin sama yunhee aja ^D^
    Daebak deh yaa ni ff moga comebacknya ngga lama lagi hehe ^^

  13. Aduh…eunike sibuk banget ya..semangat ya buat skolahnya

    Gak tau knapa di chapter ini aq gregetan sm hanna, dia terlihat jd pemaksa gt

    Trus sebenernya yunhee suka sm siapa? Sama jongin aja ya? #maksa

    Aku jg penasaran sehun diapain sm jiae sampe segitu bencinya sm tu perempuan…makanya jangan trlalu cinta dong hun..

    Bang donghae nongol..suka ih sm ahjussi manis itu..chapter depan nongol lagi gak?

    LUHAN SAMA LIYIN?????? ANDWAEEEEE!!!!!!!

  14. Akhirnya Ya Tuhan.. Nongol juga ni ff :3
    Hanna tuh mah bukan cinta tpi ‘obsesi’ sma Kai -_- velis deh ya, mw seseorang sampai gitu amat -_-
    Aduhh.. Klo jdi sehuna nyeseknya pas liat kai ngerangkul Yunhee, klo jdi Yunhee nyeseknya pas liat sehun nyium Jiae.. Tpi lebih nyesek jdi Yunhee T.T
    Lanjut ya eonnn.. Fighting!! 😀

  15. iihhh kesw banget sama Hanna..
    kenapa gak nyerah aj ak kan suka couple nya KaiHee tapi ak juga kesel sama Sehun kenapa dia malah ngecium Jiea…
    aaaa bikin kesel..
    yang terakhir itu mimpi nya Kai kaua nya akan jadi kenyataan cuman firasat akan ceritanya aj…
    sama kaya kata2 dalam mimpi Kai…
    aaaa jujur kalau prediksi ak bener itu Yunhee nya pergi kemana…
    maaf kalau komrn ak gaje..
    hehehehhehe
    ak cuman ngungkapin yang ada didalam kepala ak aj…
    nextt chinguuu jangan lama2…
    penasaran pake banget…

  16. Sehun emosi atau nekat tuh…?! Sehun bener” kayak es batu… 😀 gak nyangka juga klo Yunhee mengkonsumsi kayak gituan,, tpi makin seru thor..

  17. ohh,, author msh SMP y? kls brp? wahhhh,,, kerenn,, haha,, lanjut terus,, ak kira ini ff gk akan lanjut–“…. haha,, ahh, abaikan.. ak lebih dukung sehun-yunhee…. haha.. jgn lama lama,,
    nest!next!

  18. syukurlah..akhirny update jg..^^
    Dpart ini aku agak kesel sama hana..katany temen yunhee, tp knp blm nengok yunhee..maksa jongin lg..aku cuma berharap jongin ttp cinta sama yunhee..coz jongin yg paling ngerti dia..ttg sehun..agak kejam jg cara dia ngusir jiae..tp penasaran knp sehun semarah itu sama jiae..
    author fighting..^-^p

    1. sebab cinta itu bisa merusak segalanya :”) /eaaaa/ /apaansih/ /authormintaditimpuk/
      hahaha soal itu bisa diliat di next chapter 🙂 makasih yaa buat koemnnyaaa

  19. kyaaa… akhirnya ff ini comeback juga, sampe2 aku udah lupa sama part yang sebelumnya… T.T

    okedeh next chapter di tunggu banget ya thorr… jangan lama2 nanti akunya keburu lumutan hehe 😀

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s