The Succubus and The Vampire [Chapter 5]

The Succubus and The Vampire Poster

The Succubus and The Vampire
(Sequel of The Killer)

Presented by : echaminswag~
Characters : Kai, Hyemin, Sehun, Jaerin, Kris, Ellie, Emma and Others | Genre : AU, Bit Action, Fantasy, Mystery, Romance, Bit Supranatural | Lenght : Chaptered | Rating : PG-17+

Disclaimer : Cast belong to God and their agency. OC is mine. Story and poster are mine too. Don’t claim as yours and don’t be plagiator!

Special Chapter ; Full of Kai Hyemin Moment

 

THE SUCCUBUS AND THE VAMPIRE © 2014

[Teaser][Prolog][1][2][3][4] – [5]

Backsong :

 

.

.

 .

 

 

            Tak ada hari yang lebih lebih membahagiakan bagi Kai selain hari pernikahannya bersama Hyemin―gadis yang dicintainya selama ia hidup. Ini adalah hasil akhir dari penantian dan pengorbanannya selama ini. Namun, Kai tak tahu. Akankah akan banyak hari bahagia setelah ini atau malah banyak halang rintang yang mereka temui setelah ini? Ia hanya berharap satu hal, berapapun besarnya rintangan itu, ia tak ingin berpisah dengan Hyemin lagi. Tidak sampai kapanpun.

Senyum di bibir Kai tak pernah pudar sembari tangannya bersalaman dengan rekan kerja dan staffnya yang hadir dalam pernikahannya. Setelah upacara pemberkatan yang akan di laksanakan tiga puluh menit lagi, resepsi pernikahan mereka akan di langsungkan di hall sebuah hotel berbintang yang letaknya berhadapan dengan gereja.

Kai ingin sekali mengangkat konsep garden party di resepsinya nanti, tapi mengingat ini masih musim dingin, ia tak ingin rekan dan staffnya mati beku dengan konsep pesta yang ia ambil. Apalagi suhu udara saat ini sedang minus, Kai tak mau ambil resiko.

Kai terdiam beberapa saat sembari meremas tangannya dengan gusar. Beginikah rasanya Sehun menikah kemarin? Ada rasa bahagia, cemas, gugup, dan entahlah apa lagi. Kai sulit untuk mendiskripsikannya. Yang pasti, ia merasa sangat bahagia saat ini.

Tepukan sebuah tangan di bahu Kai membuat pria berperawakan tinggi itu menoleh dan mendapati ayah Hyemin tengah berdiri di sampingnya.

“Masuklah, tunggu pengantin wanitamu di dalam.” sebuah senyum tersungging di bibir kedua pria itu. Kai mengangguk lalu masuk ke dalam. Ia lantas duduk di samping Sehun dengan masih meremas kedua tangannya bergantian.

“Kau kenapa? Gugup?” tawa kecil keluar begitu saja dari bibir Sehun saat melihat saudaranya ini nyata-nyata terlihat gugup dengan wajah gusar terpatri di wajahnya. Kai ingin mengelak ucapan Sehun, tapi di lihat sekilas saja sudah jelas jika ia tengah gugup. Lebih tepatnya sih, Kai tak sabar bertemu dengan Hyemin dan mengakhiri hari ini dengan kebahagiaan penuh.

“Tak apa. Pergilah.” titah Kai yang di akhiri dengan tepukan tangan Sehun pada bahunya. Kai mendesah pelan. Ia harus melalui hari ini dengan lancar, dan semoga tak ada gangguan suatu apapun.

Limousine putih dengan hiasan bunga mawar merah di bumper itu akhirnya menepi di parking area. Kai mendadak mundur dari tempatnya berdiri beberapa menit yang lalu dan menuju ke depan altar. Kai bahkan tak sadar, jika sang pendeta tua dengan kitab di tangannya itu terus memperhatikan dirinya. Pendeta bernama Lee Hyukjae itu tersenyum kala Kai membungkuk ke arahnya.

“Kau gugup anak muda?”

“Oh?”

“Tenanglah, semua akan berjalan sesuai dengan yang kau inginkan.” ucap pendeta tersebut dan kembali tersenyum. Ada perasaan nyaman di hati Kai yang kemudian menjalar ke seluruh persendiannya setelah mendengar penuturan sang pendeta.

Kai mengangguk lalu berbalik menghadap ke pintu masuk gereja. Nampak sosok Hyemin dengan balutan wedding dress berjalan menaiki anak tangga terakhir di gereja sembari mengamit lengan sang ayah. Sangat cantik, apalagi make up tipis yang sangat menonjolkan kualitas wajahnya yang mulus. Sungguh, ini tak bisa di diskripsikan dengan kata-kata.

Hyemin tersenyum malu-malu saat merasa ia menjadi pusat perhatian seluruh undangan yang hadir. Terutama ia harus menahan rona merah di wajahnya saat mengetahui jika Kai menatapnya dengan intens. Tak bisakah pria itu mengedipkan matanya saat ini?

“Kai, jaga putriku baik-baik. Arrachi?” ucap ayah Hyemin sembari menempatkan tangan Hyemin pada telapak tangan Kai. Kai mengangguk dan tersenyum tulus.

“Ya, ayah.” jawab Kai kemudian menatap Hyemin. Gadisnya itu hanya menunduk menghindari kontak langsung dengan Kai. Ia tahu ia akan sangat kesulitan bernafas jika ia sudah menatap Kai. “Yeppuda.” bisik Kai pelan sebelum akhirnya membawa Hyemin menuju altar. Benarkan, hanya suara pria itu saja mampu menggetarkan hati Hyemin. Kai memang luar biasa, sungguh.

“Baiklah apa kalian sudah siap?” tanya pendeta Lee. Sekali lagi Kai menatap Hyemin, dan kali ini Hyemin memberanikan dirinya membalas tatapan Kai. Mereka berdua lantas tersenyum bersamaan dan mengangguk.

“Siap.” gumam keduanya bersamaan. Pendeta Lee akhirnya tersenyum dan membuka Al-kitabnya.

Namun beberapa detik kemudian ia menutup kembali Al-kitabnya dan mendongakkan kepala menatap seluruh undangan yang hadir. “Oh ya, apa ada yang keberatan dengan pernikahan putraku Kim Kai dengan putriku Park Hyemin. Jika ada, segera katakan sebelum saya memulai upacara pemberkatan.”

Semua orang menjadi saling pandang dan memperhatikan ke seluruh penjuru gereja. Merasa tak ada yang keberatan dengan ini, pendeta Lee akhirnya kembali membuka Al-kitabnya dan memulai upacara pemberkatan.

“Baiklah, Kim Kai. Dengarkan aku baik-baik.” Kai lantas mengangguk mendengar penuturan sang pendeta. “Putraku Kim Kai, bersediakah engkau menjadi pendamping putriku Park Hyemin, menemaninya dalam suka maupun duka, sehat maupun sakit, dan mencintainya seumur hidupmu?”

Kai terdiam sejenak, lantas memandang Hyemin sekilas lalu kembali menatap sang pendeta lekat-lekat. Ada suatu keteguhan dalam hatinya saat ini yang tak akan hancur di binasakan oleh apapun.

“Saya bersedia.” seru Kai yang di sambut senyuman tulus Hyemin. Gadis itu, ini adalah kebahagiaan seumur hidupnya.

“Dan kau putriku Park Hyemin, bersediakah engkau menjadi pendamping putraku Kim Kai, menemaninya dalam suka maupun duka, sehat maupun sakit, dan mencintainya seumur hidupmu?”

Hyemin membuang napasnya pelan kemudian menatap Kai sekilas. Kai tersenyum yang membuat hati Hyemin sangat nyaman. Ia lantas kembali menatap sang pendeta dan melempar senyum terbaiknya.

“Saya bersedia.” ucap Hyemin tanpa ragu. Entah apa yang mendorongnya mengucapkan kalimat itu dengan sangat lancar, padahal beberapa menit yang lalu di perjalanan ia terlihat kacau dengan keringat dingin mengembun di telapak tangannya.

“Dengan nama Tuhan, mulai saat ini kalian resmi menjadi sepasang suami istri. Bertukarlah cincin dan cium pengantin wanitamu Kim Kai. Di berkatilah kalian berdua.” titah sang pendeta sembari menempelkan kedua tangannya pada bahu Kai dan Hyemin.

“Terimakasih.” ucap Kai tulus. Ia benar-benar bahagia saat ini. Bahkan Hyemin sudah menitikkan air matanya karena terlalu bahagia. Tak ada yang lebih membahagiakan selain bersanding dengan pasanganmu dalam ikatan yang sakral, bukan?

Acara berlanjut dengan Kai menyematkan cincin berlian di tangan Hyemin, bergantian dengan Hyemin yang menyematkan cincin di jari manis Kai. Mereka berdua saling pandang setelah itu. Lalu tangan Kai terulur untuk mengusap pipi Hyemin yang basah.

“Kau istriku?” lirih Kai menyapa lembut pendengaran Hyemin. Hyemin lantas tertawa kecil mendengar pertanyaan konyol Kai. Dan Kai juga membalasnya dengan tawa. Ia lalu menarik pinggang Hyemin dan memangkas jarak antara mereka berdua.

“Kau yakin akan menciumku di depan umum?”

“Kenapa tidak?” belum sempat Hyemin menyanggah ucapan Kai, pria itu sudah lebih dulu mendaratkan ciuman lembut dan seduktif di bibir Hyemin. Hyemin sendiri walau sempat terkejut, sekarang ia justru menikmatinya dan menganggap jika hanya ada mereka berdua di ruangan ini.

Riuh tepuk tangan menggema, menghentikan aktivitas Kai dan Hyemin. Mereka lantas menunduk malu karena terlalu hanyut dalam suasana. Tangan Kai terulur merengkuh pinggang Hyemin. Mereka akhirnya saling pandang dan melempar tawa kecil yang membahagiakan.

***

            Suhu udara sedang rendah, bahkan sampai minus dan Emma justru tengah berada di luar rumah hingga mengundang atensi seorang Mark Tuan. Mark menghampirinya dan menyerahkan kopi hangat untuk Emma.

“Sedang apa?” tanya Mark mengalihkan arah pandang Emma. Emma mendesah pelan lantas menyesap kopinya.

“Hanya sedang berpikir.”

“Tentang?”

“Bagaimana mungkin Kris memiliki kekuatan semacam itu? Sedangkan yang kami tahu, ia hanya seorang Incubus.”

Mark terkekeh mendengar itu, ia melesakkan sebelah tangannya ke dalam saku celana lalu mendekat ke pinggiran kolam. “Banyak yang belum kau ketahui Emma.”

Emma mengeryit, apa yang di maksud Mark dengan ia belum mengetahui beberapa hal? “Apa yang kau maksud, Mark?”

Mark berbalik, menatap Emma lalu menyunggingkan senyumnya. “‘bout me, I’m not a pure Incubus. And Kris, he’s not a pure Incubus too.

Emma terbelalak mendengar penuturan Mark. Mana mungkin? Kris saat ini tengah menjadi Raja dari seluruh Incubus di muka bumi. Mana mugkin dia bukan pure Incubus. Jika ayah Emma tahu Kris bukan Incubus murni, sang ayah pasti tidak menempatkan posisi Raja untuk Kris. Ya, walaupun ayahnya sendiri adalah seorang Vamcubus―yang terlahir dari ayah seorang Vampire.

“Kurasa kau salah, Mark. Kris sudah hidup bertahun-tahun dengan kami. Kau baru mengenal Kris beberapa minggu terakhir bukan, bagaimana bisa kau berkata seperti itu?”

“Bukan maksudku seperti itu Emma, hanya saja kau lihat sendiri bukan, aku memiliki kekuatan supranatural sama seperti Kris. Hanya bedanya, kekuatan yang kami miliki berbeda. Kris memiliki api abadi di dalam tubuhnya, ia juga memiliki kekuatan telekinesis dan pengendalian bumi. Sedangkan aku, kau tahu sendiri ‘kan aku adalah seorang vitakinesis. Kami biasa disebut dengan Elecubus. Penggabungan antara seorang elemental dan Incubus. Kami tak benar-benar murni, Emma. Jika kau meragukan ucapanku, kau bisa lihat suatu saat nanti. Saat Kris benar-benar menunjukkan kekuatannya.”

Emma menatap Mark tak mengerti. Bagaimana mungkin ada yang seperti itu? Lalu jika Kris adalah seorang Elecubus, maka Ellie dan dirinya disebut apa?

“Lalu bagaimana dengan Ellie? Dan― aku?”

Mark lagi-lagi tersenyum. Entah apa yang mendorongnya untuk menyunggingkan senyum di tengah kebingungan mendera seorang Emma Wu. “Hanya satu diantara kalian yang murni.”

Emma kembali mengeryit. “Who’s that?

Lagi dan lagi, Mark hanya tersenyum, membuat kerutan di dahi Emma semakin terlihat. Mark melangkah, mendekat ke arah Emma. “Nanti kau juga tahu.” ia kemudian berjalan menjauh dari tempat Emma berdiri. Namun, belum benar-benar jauh, suara Emma menggema menghentikan langkah Mark.

“Mark, who are you? Why are you know so much about my family?”

You’ll know when the time comes too, Emma Wu.”

Dan setelah mengucapkan kalimat itu, Mark benar-benar menghilang dari hadapan Emma. Emma lagi-lagi mendesah, masih banyak rahasia yang belum ia ketahui di muka bumi ini. Tentang siapa Kris, Mark, dan bahkan tentang dirinya sendiri. Baiklah, kita ikuti kata Mark, biarlah waktu yang menjawab semuanya.

***

            Dengan balutan dress berwarna putih tulang panjang dan lengan masih mengamit lengan Kai, Hyemin berjalan berdampingan dengan Kai, berjabat tangan dan menyapa undangan yang hadir. Ia melempar senyum terbaiknya yang membuat semua orang terpukau akan kecantikannya yang tiada banding. Memang, itu salah satu alasan mengapa Kai begitu tergila-gila pada sosok Hyemin. Gadis itu amat menawan walau ia hanya tersenyum tipis dan tanpa make up sedikit pun.

“Kau lelah?” ucap Kai tepat di telinga Hyemin.

Hyemin menggeleng, memastikan pada suaminya jika ia baik-baik saja. “Tidak, Kai. Entahlah, mungkin ini karena faktor terlalu bahagia, aku tak merasa lelah sedikitpun.”

Kai tertawa kecil sembari mendaratkan cubitan pelan di pipi istrinya. Hyemin hanya bisa mengaduh dan kembali bersalaman dengan seorang tamu yang menghampiri mereka.

Aigoo~ kalian pasangan yang sangat serasi.” komentarnya. Hyemin dan Kai tersenyum dan membungkuk bersamaan.

“Terimakasih, tuan Lee.” dan dia adalah tuan Lee Jongsuk, yang memberi Kai bantuan dana terbesar pada fashion show di perusahaannya beberapa bulan yang lalu. Dia pula yang mengenalkan Kai pada gadis yang ia bunuh dengan taringnya sendiri malam itu, Jung Harin.

“Oya, setelah hari itu, aku tak bertemu lagi dengan Harin. Kudengar dia terbang ke Jepang, apa itu benar?”

Kai hampir saja tertawa mendengar penuturan tuan Lee. Jika ia katakan Harin mati terbunuh oleh Vampire―yang tak lain adalah dirinya―apa tuan Lee akan percaya? Kai rasa tidak. Ia segera menormalkan ekspresi wajahnya dan membalas ucapan tuan Lee.

“Saya juga kurang tahu, tuan. Mungkin iya, mungkin juga tidak.”

Hyemin yang mengerti mengapa Kai menjawab seperti itu hanya diam. Ia tak ingin mengingat bagaimana Kai menancapkan taringnya pada leher model cantik itu. Terlalu mengerikan untuk diingat memang.

“Aiih~ benar juga. Mana mungkin kau tahu. Yasudah, aku harus menemui ayahmu juga. Semoga Tuhan memberkatimu, nak.”

Sekali lagi Kai dan Hyemin membungkuk bersamaan diiringi kepergian tuan Lee Jongsuk ke arah barat―bertemu dengan ayah Kai.

Selang berapa detik setelahnya, Hyemin memicingkan matanya seakan mengintimidasi Kai. Kai yang sadar dengan tatapan Hyemin buru-buru berkelakar. Ia tahu apa maksud tatapan Hyemin.

“Jangan memandangku seperti itu. You know Mint, you’re more creepy than vampire if you like that.”

Hyemin yang tak terima langsung mendaratkan pukulannya pada bahu Kai. “Seenaknya. Gadis yang di bicarakan oleh tuan Lee tadi, dia yang mendapat ciuman pertamamu ‘kan?”

Kai tertawa geli, apa gadisnya tengah cemburu? Jika iya, itu sangat manis di mata Kai.

“Kau kenapa? Jealous, huh?” ucap Kai sembari mencubit pipi Hyemin.

“Tidak.” elak Hyemin. Mau ia cemburu pun, ia tak akan mengatakannya pada Kai.

Kai yang gemas lalu menghadapkan Hyemin padanya. “Dengar, Mint. Kau sendiri bahkan sudah berciuman dengan Luhan sebelum kau berciuman denganku. Tapi malam itu, aku sudah menghapus ciuman Luhan dari bibirmu dengan ciumanku. Apa kau masih ingin mempermasalahkan hal itu? Ciuman pertamamu bukan denganku, begitupun aku juga bukan denganmu. Tapi kau tahu, cinta pertamaku― sudah jelas itu adalah dirimu.”

Hyemin tertegun mendengar penuturan Kai. Benar yang dikatakan pria ini, sebelum Kai sempat menciumnya, Luhan sudah lebih dulu merebut ciuman pertama Hyemin.

Hyemin menunduk menyadari kebodohannya. Namun, selama sepersekian detik, rasa nyaman langsung menghampiri dirinya kala sepasang tangan dingin merengkuh tubuhnya. Itu adalah tangan Kai.

“Maaf, Kai.”

Kai tertawa kecil dan mengusap surai mocca Hyemin. “Tak apa, kau tahu aku sangat senang melihatmu cemburu.”

Hyemin tak menjawab, ia tengah memposisikan dirinya senyaman mungkin pada pelukan Kai. Tak ada sesuatu yang lebih nyaman dari pelukan seorang Kim Kai. Apapun itu.

“Hey kalian! Bisakah kalian melanjutkannya nanti malam?”

Sebuah suara tak asing terdengar saat Hyemin sudah menemukan posisi nyamannya di dada bidang Kai. Kai merenggangkan pelukannya pada Hyemin dan keduanya menoleh ke sumber suara. Pria itu, tengah berdiri radius dua meter dengan Kai dan Hyemin sembari menggandeng tangan seorang gadis cantik.

Xi Luhan.

Luhan menarik tangan gadis itu dan berjalan mendekat ke arah pasangan Kai Hyemin. “Selamat atas pernikahan kalian.” ia menyunggingkan senyum sembari mengulurkan tangannya.

Hyemin masih tertegun menatap Luhan dan gadis di sampingnya bergantian. Otaknya bekerja sangat lamban saat ini. Ia ingat betul, jika ia tak mengundang Luhan. Tapi, kenapa ia bisa datang kemari?

“Terimakasih.” ucap Kai lalu meraih uluran tangan Luhan.

“Maaf aku tak bisa datang di upacara pemberkatan kalian tadi pagi, ada pasien yang harus kutangani.”

“Tak apa, kau sudah datang kemari saja, kami sangat senang.” balas Kai. Hyemin― gadis itu tengah mengejapkan matanya bingung, jelas karena ia tak mengerti apa-apa.

“Oya, dia dokter Irene. Dan dia― calon istriku.”

Gadis berbalut dress merah selutut itu akhirnya membungkuk memberi salam sembari menyunggingkan senyum tipis.

“Kami bahkan baru menjadi sepasang kekasih, kurasa Luhan terlalu berlebihan.”

Luhan dan Kai tertawa bersamaan. Entah mengapa kepala Hyemin mendadak pening. Bagaimana bisa Kai dan Luhan tertawa? Bersamaan pula? Ada apa sebenarnya ini?

“Dia juga seorang dokter? Wah~ selamat ya, Lu.” seru Kai lalu menepuk-nepuk pundak Luhan. Kini giliran Irene dan Luhan yang tertawa bersamaan. Sepertinya memang, Luhan tengah berbahagia sekarang.

Menyadari ada yang aneh dengan istrinya, Kai menyenggol lengan Hyemin pelan. Ia jadi pendiam semenjak Luhan datang.

Hyemin sedikit membungkuk meminta maaf karena ia hanya diam sejak tadi. “Maaf, dan terimakasih sudah hadir, Lu.”

Luhan mengangguk pelan. “Maaf, tentang kejadian waktu itu. Aku sudah berbuat lancang padamu.”

Semuanya diam sesaat setelah Luhan mengutarakan kalimatnya. Irene juga, ia menatap Luhan dengan heran. Ia butuh penjelasan mungkin tentang apa yang Luhan sampaikan barusan.

Beberapa sekon setelahnya, Hyemin mengangguk pelan diiringi senyuman di bibir Kai. “Aku sudah memaafkanmu.” ucapnya.

Luhan terlihat sedikit lebih lega. Ia ingin menyampaikan maaf pada Hyemin sudah dari jauh-jauh hari dan baru bisa ia utarakan sekarang. Dan yang harus Luhan lakukan setelah ini adalah, memberi penjelasan pada Irene dengan tidak menyakiti hatinya.

“Baiklah kalau begitu kami pergi dulu.” Luhan menatap Irene dan menggenggam kembali jemarinya. “Sekali lagi selamat.” ucapnya sebelum akhirnya meninggalkan pasangan pengantin baru tersebut.

Hyemin menghela napas berat sesaat setelah kepergian Luhan. “Kau berhutang penjelasan padaku, Kai.”

Kai tertawa kecil sembari mengusap puncak kepala Hyemin. “Aku yang mengundangnya. Kami sudah bicara banyak tentang alasan mengapa Luhan melakukan itu padamu. Dia juga meminta maaf padaku. Dan aku juga sudah meminta maaf karena memukulnya waktu itu.”

Hyemin lagi-lagi menghela napas, hanya bedanya kali ini, helaan napas itu terdengar lebih melegakan. Kai dan Luhan sudah menjadi teman, Luhan juga sudah memiliki kekasih, Kai pun berjanji tak akan meminum darah manusia sebagai asupan energinya, jadi tak akan ada faktor yang membuatnya harus berpisah dengan Kai lagi bukan?

“Hei kau tahu, Luhan juga sempat bertanya, sebenarnya makhluk apa aku ini. Dia heran karena aku sangat kuat.”

“Dan kau menjawab apa?” sela Hyemin.

Kai terkekeh mengingat saat ia menyerahkan undangan pernikahan pada Luhan dan mereka sempat mengobrol banyak. Luhan menyenangkan rupanya, tak seperti apa yang ia bayangkan sebelumnya.

“Kujawab, aku adalah manusia super. Dan dia tertawa begitu keras setelah mendengar itu.”

Hyemin tertawa pelan. “Jelas saja, kalau aku jadi Luhan aku juga akan tertawa.”

“Tapi kenapa waktu itu kau ketakutan setengah mati melihatku?”

Dan BANG! Hyemin terpojok kali ini. Ia menghela napas berat sembari menelisik pandang ke arah Kai. “Sebuah kenyataan membawaku pada perasaan yang aneh, Kai. Aku sendiri tak tahu mengapa setiap saat aku teringat akan dirimu. Dan kenapa waktu itu aku ketakutan, itu karena aku tak menyangka ternyata kita berbeda. Tapi seiring berjalannya waktu, aku sadar perasaan itu juga membutuhkan suatu pengorbanan. Kau sudah banyak berkorban untukku, jadi sekarang adalah giliranku berkorban nyawa untuk bisa bersamamu.”

Kai tersenyum dan mengulurkan tangannya meraih pinggang Hyemin. “Kau tak perlu melakukan itu, Mint.”

“Tapi Kai, aku memutuskan kembali bersamamu bukankah untuk ini? Aku ingin hidup bersamamu seribu tahun, atau bahkan seratus ribu tahun lagi. Aku ingin selalu berada di sampingmu.”

“Tak semudah itu, Mint. Kau tahu, rasanya begitu sakit. Dan aku takut melihatmu kesakitan.”

Hyemin menggeleng pelan. Ia sudah bertekad, dan kenapa Kai harus menghancurkan tekadnya? “Dan kau tahu, aku tak peduli akan hal itu―”

“Hyemin―”

“Kai―” terlihat Kai menundukkan kepalanya. Ia tahu ia tak akan menang jika berdebat dengan Hyemin.

Hyemin menggerakkan telapak tangannya menggenggam jemari Kai. Walau ia bisa merasa suhu begitu dingin dari telapak tangan itu, tapi Hyemin merasa sangat hangat dan nyaman. “Kumohon, biarkan aku hidup bersamamu.”

Alih-alih menjawab, Kai justru menarik tangan Hyemin keluar dari ruangan menuju kamar mereka di lantai 20. Ayah dan ibu Kai yang sudah mempersiapkan semua ini. Dari mulai gereja tempat pemberkatan, hotel berbintang dengan aula besar yang cukup menampung seribu orang tempat resepsi mereka, dan kamar hotel kelas VIP yang sudah di desain sedemikian rupa untuk malam pertama mereka. Kai benar-benar berhutang pada ayah dan ibunya.

Setelah memasukkan password ruangan, Kai membawa Hyemin masuk. Ia tak mungkin membicarakan hal macam tadi di ruangan dengan beratus-ratus undangan. Toh, setengah jam lagi acara akan usai, jadi mereka bisa bermalam pertama bukan? Tapi entahlah, Kai akan melakukannya atau tidak.

“Bergantilah pakaian, kau pasti lelah.” bukannya bergegas pergi mengganti pakaian, Hyemin justru terdiam di tempat― memandang Kai yang tengah melepaskan satu-persatu kain yang membalut tubuhnya. Merasa diperhatikan, Kai segera menoleh dan mendapati Hyemin dengan mata berkaca-kaca.

Kai paling tak bisa melihat Hyemin menangis, mengenai apapun itu. Ia lekas berjalan menghampiri Hyemin dan merengkuh tubuh Hyemin dengan begitu erat. Tepat saat itu, butiran bening dari pelupuk mata Hyemin benar-benar jatuh dengan sempurna.

“Kai, kumohon.” ucap Hyemin ditengah isakannya.

Kai menggeleng, ia tak mungkin menyakiti Hyemin dengan cara seperti itu. Walaupun saat itu dirinya bisa hidup kembali menjadi seorang Vampire saat ia sudah meninggal, tapi dengan manusia yang terpaksa harus ia bunuh demi memenuhi hasratnya, Kai dapat merasakan bagaimana kesakitan mereka. Saat mereka berteriak meminta tolong agar Kai tak membunuhnya, dan saat melihat tubuh mereka mengering lalu melebur menjadi abu. Itu semua memilukan.

Apalagi selama ini, Kai harus berusaha mati-matian menahan hasratnya saat berada di dekat Hyemin. Kai takut ia akan lupa diri dan menyakiti Hyemin― walau itu sujung kuku sekalipun. Bukankah ia sudah berjanji tak akan menyakiti Hyemin? Dan ia harus memegang teguh janjinya.

“Kai―”

Kai memejamkan matanya saat mendengar suara Hyemin semakin bergetar― membuat hatinya benar-benar sakit. “Hyemin, kumohon hentikan.” gumamnya seraya merapatkan pelukannya pada Hyemin. Kai tak ingin mendengar Hyemin berbicara saat ia tengah menangis. Itu sangat-sangat menyakiti hatinya.

Hyemin semakin terisak, dan Kai serasa kehilangan kendali jika gadisnya sudah seperti itu. Kai mengangkat tubuh Hyemin dan dengan sekali gerakan, ia menghempaskannya di atas ranjang king size dengan posisi dirinya berada di atas tubuh Hyemin.

Tangannya yang sedingin butiran salju musim dingin, bergerak menghapus air mata Hyemin. Kala itu, Hyemin tak ingin melepaskan pandangannya dari sosok Kim Kai yang berjarak kurang dari duapuluh centi darinya barang sedikit pun. Ia begitu mencintai sosok itu, Kim Kai yang seorang pembunuh.

“Kau tak tahu betapa beratnya bebanku harus melakukan ini. Aku akan gila jika kehilanganmu, tapi aku juga akan sangat menyesal saat kau bersamaku. Aku bisa menyakitimu kapan saja, Mint.”

Hyemin menghapus linang air matanya dengan kasar. “Kalau begitu sakiti aku, Kai. Jika itu bisa membuatku bersamamu.”

“Mint, itu tidak mungkin.” seru Kai. Ia mengusap pipi Hyemin pelan. Kai tak mungkin bisa menyakiti Hyemin. Tak akan pernah bisa.

Hyemin meraih tangan Kai yang mengusap pipinya sembari memejamkan mata. Merasakan tiap inchi kehangatan yang diberikan oleh tangan dingin itu. Kai tak tahan lagi, ia harus pergi sebelum ia benar-benar menyakiti Hyemin.

Dengan sekali sentakan, Kai mementalkan tubuhnya dan berdiri di depan ranjang. Menatap Hyemin dengan rasa bersalah menggerogoti relungnya. Kai tak bisa menjamah tubuh Hyemin lebih dalam. Mungkin jika hanya berciuman, Kai masih bisa tahan. Tapi jika sudah melakukan hubungan ‘itu’ Kai tak yakin bisa mengendalikannya. Hyemin bisa terbunuh jika ia sudah lupa diri. Ia bukan Oh Sehun yang begitu pandai mengendalikan instingnya. Kai hanya monster dengan insting yang amat buruk.

Kai berbalik dan melangkahkan kakinya. Sampai tiga langkah, tubuh Kai menghilang dan menyisakan kabut hitam. Hyemin meringkuk, memeluk tubuhnya sendiri dengan isakan kecil keluar dari bibirnya. Beginikah rasanya dikecewakan? Sekarang Hyemin benar-benar bisa merasakan, bagaimana pedihnya Kai saat ia meninggalkan Kai dulu.

Namun belum sampai lima menit sepeninggal Kai, sebuah tangan nan dingin memeluk tubuhnya dari belakang. Hyemin sempat tercekat, hingga sesaat kemudian ia merasa begitu nyaman kala sebuah kecupan mendarat di lehernya.

“Maaf telah meninggalkanmu sendiri. Dan maaf telah meragukan keinginanmu, Mint.”

Mendengar itu Hyemin berbalik dan melihat sosok Kai tengah berbaring di sampingnya. Sesaat keduanya terdiam dan saling pandang. Mencoba memahami isi hati masing-masing. Tangan Hyemin terulur menangkup wajah Kai dan mendekatkan ke wajahnya hingga hidung mereka bersentuhan. Kai bahkan sudah mulai hilang kendali saat merasakan deru napas Hyemin di wajahnya.

“Hanya satu yang kuinginkan, Kai. Setelah ini, aku berjanji tak akan meminta apapun lagi darimu. Aku berjanji.”

Kai benar-benar dibuat bingung dengan keinginan Hyemin. Ia harus memilih dua pilihan tersulit dalam hidupnya. Membiarkan Hyemin hidup sebagai manusia dengan menyakiti perasaannya, atau membuat Hyemin seperti dirinya dan akan menyakiti seluruh organ-organ tubuhnya. Kai harus menentukan pilihan yang benar, karena jika tidak, ia yakin ia akan kehilangan Hyemin selamanya.

Hening beberapa saat. Hanya terdengar denting jam bergerak tiap detiknya. Dan Kai, ia masih menunduk tak berani beradu pandang dengan Hyemin saat ini.

Hyemin terlihat menghela napasnya dengan sabar. Ia menunggu bagaimana keputusan Kai pada dirinya. Dan beberapa saat kemudian, Hyemin merasakan tangan Kai sudah berada di punggungnya. Menarik resleting dress yang dikenakan Hyemin dengan pelan. Hyemin menatap Kai diiringi senyum kecil di bibirnya. Kai― ia memilih opsi kedua. Menjadikan Hyemin sepertinya melalui sebuah hubungan intim.

Bukan, hubungan itu hanya sebuah perantara saja. Namun yang paling menyakitkan disini adalah prosesnya. Saat dimana Hyemin harus mengandung buah cinta mereka, disitulah saat-saat sulit yang harus Hyemin lalui. Jika ia bisa bertahan, maka Hyemin akan menjadi seorang Vampire dan hidup selamanya bersama Kai. Tapi jika tidak, Hyemin bisa dipastikan binasa dari muka bumi untuk selamanya.

Hyemin terdiam menatap Kai dengan bulir air mata kembali membasahi wajahnya. Kai yang melihat itu kemudian menghapus air mata Hyemin menggunakan ibu jarinya dengan lembut.

“Aku sudah memenuhi apa maumu, jadi kumohon jangan menangis lagi.”

Hyemin menggigit bibir bawahnya untuk menahan air mata yang hendak keluar dari pelupuk matanya. Ia kemudian mengangguk dan mengusap kasar air matanya.

“Terimakasih, Kai.”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

―tbc

Hihi, entah kenapa aku greget sendiri nulis chapter yang ini.
Sebenernya mau aku bikin adegan ranjang yang romantis, tapi jadinya kek begini 😀
Maafkan ya kalau chapter ini kurang memuaskan 😦
Aku sudah berusaha yang terbaik.

Oya, ada yang pengen liat gak sosok Kim Sooyeon yang jadi karakter Hyemin disini?
Kalau ada, lihat video ini ya — CLICK THIS
Kim Sooyeon ini gak cuman ulzzang loh ternyata, tapi dia juga seorang aktris.
Meskipun masih jadi cameo, tapi aku yakin suatu saat kakak ini akan sukses 🙂
Yang pengen baca profilnya bisa buka ini — CLICK THIS

Okey, sekian dan terimakasih banyak untuk teman-teman EXO-L yang masih
nungguin FF ini. Sampai ketemu dua minggu lagi ya 🙂 Annyeong ‘-‘)/

BONUS PIC : KIM SOOYEON as PARK HYEMIN

tumblr_n9xz9mNhfb1tj0nujo6_1280-horz

Iklan

176 respons untuk ‘The Succubus and The Vampire [Chapter 5]

  1. OMG…… SO SWEET BGT……..
    iya jadi inget film…
    hm…. aku jadi baper nih…
    ini semua karena author nih, bikin ffnya bisa bgt buat orang ngefly.gtu….
    next ah….
    kepo akut….
    good lagi buat thor… sip^^

  2. uughhh aku suka kaihye moment disini, dan smga aja si hyemin bisa bertahan.

    Aku masih penasaran ama keluarga wu, trus apa hubngannya ama kehdupan kai, sehun dan istri2(?) mereka., atau cma secuil(-_-) cerita di ff ini?? Oke langsung ke chap 5 ajah

  3. woa ~ jinjja chap ini mngharukan bngt

    luhan jg trnyata uda baikan sm kai dn uda pny pcar.

    aku ykin jdi kai itu slit bngt

    jdi sbnrny siapa succubus asli antara emma dan ellie?

  4. Penasaran siapa sosok Mark sebenarnya…..
    Penasaran apakah Emma atau Ellie yg keturunan Succubus asli.. Sepertinya Ellie yang keturunan Succubus asli…
    Kai dan Hyemin chukkae ^^
    Keren…..

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s