[FF Request] GOD FATHER

Kim-Jongin-kai-exo-k-33943479-500-660

// Nama Perequest : Knaraxo // Dalang : Zulaipatnam // Judul : Good Father // Cast : Kim JongIn. Han HyeMi. Oh SeHun // CoCast : Kim YoonSeok. Lee HyukJae. Shim ChangMin // Genre : Romance. Sad. Angst. AU. Criminal // Length : OneShoot [2K] // Rating : T > M (Untuk crimenya) // Good Father itu sebutan untuk pemimpin gangster.

|| Good Father

 

Semuanya akan baik-baik saja jika JongIn tak datang ke mansion rumah mereka di pinggiran kota Mokpo, tak datang dengan mobil Ford merahnya dan menentang permintaan sang ayah. Oh, JongIn masih sangat muda waktu itu, ia baru lulus dari SHS dan sedang getol-getolnya belajar untuk masuk perguruan tinggi bersama SeHun dan HyeMi.

“Jatuhkan benda itu Appa!” Sentaknya menunjuk pada revolver tua yang ada diantara jemari kurus sang ayah.

“Kita adu duel, nak. Siapa yang kalah, dia harus mematuhi semua perintah pemenangnya.”

“Jangan konyol!” Kedua kalinya JongIn meneriaki Ayahnya. Adu duel? Oh, pemuda Kim dengan kulit tan itu bukan pemegang pistol yang handal. Bahkan kakinya gemetar tidak karuan saat merasakan bobot benda itu ditangan.

Ayahnya –Kim YoonSeok. Tentu tahu kelemahan putranya luar dalam, tawaran menjadi bos bagi beberapa puluh orang didaerah Mokpo baru saja ditolak oleh JongIn, penolakan yang mencontreng muka YoonSeok dihadapan petinggi-petinggi kelompok Gangster yang ia pimpim. Bagaimana bisa putra tunggal pemimpin Gangster takut memegang pistol dan punya hati lembut untuk sekedar menjambak rambut orang? YoonSeok benar-benar dipermalukan.

“Aku tidak mau!” Tolak JongIn menjatuhkan revolver miliknya, tubuhnya limbruk kelantai, YoonSeok menembak tepat didekat kaki JongIn. Menghantarkan bunyi berisik yang sontak menumpahkan air mata JongIn.

“Kau memalukan, Kai!” Penuh jijik, YoonSeok pergi dari ruang pertemuan yang sudah kosong itu. Meninggalkan putranya dengan tangis terisak.

 

|| Good Father

 

“Cari SeHun dan HyeMi, aku punya rencana untuk bocah bodoh itu!” YoonSeok masuk kedalam jaguar hitamnya, melesat pergi meninggalkan HyukJae didepan pagar mansion. Ia menoleh kebelakang, menelitik salah satu jendela yang jadi tempat JongIn berada, ditariknya nafas lelah lalu ikut pergi keluar pagar –memasuki mobil audi miliknya yang terparkir nyaman.

 

|| Good Father

 

“Apa karena kita thudah jadi teman thejak kecil?” Tuntut SeHun tak terima, HyeMi menggeleng, dia melepaskan jemari SeHun yang coba bertaut dengannya, memberontak dan menelengkan kepala. “Aku sangat mencintaimu, HyeMi.” Kembali SeHun memastikan perasaannya, sayang HyeMi telah memiliki pendirian kuat.

“Fikirkan JongIn jika tiba-tiba kita pacaran, SeHun! Kita sudah jadi teman sejak kecil, punya hubungan lebih dari itu denganmu akan terasa aneh. Lagipula, aku tidak mungkin mengencani orang dengan hobi dan kebiasaan yang sama persis denganku. Aku tidak bisa, Oh SeHun!” Penjelasan panjang lebar itu tak akan memuaskan seorang Oh SeHun, pria cadel dengan gaya bicara aneh yang punya kulit pucat.

“Kenapa tidak bitha? Bukannya orang yang pacaran biathanya mencari pathangan dengan kebiathaan hampir thama perthith?” See? Oh SeHun tak akan menyerah.

Menggeleng, HyeMi beranjak dari duduknya, ia lelah ditodong pertanyaan dan tuntutan dari SeHun. “Itu menurutmu. Tapi aku tidak bisa hidup dengan seorang yang seperti clon bagiku, aku butuh sesuatu yang berbeda untuk diajak hidup bersama. Dan tentu, orang itu bukan dirimu, SeHun. Maaf.” Pergi, HyeMi beranjak.

Hanya saja sebelum jarak itu semakin jauh, SeHun bangkit untuk menarik lengan, HyeMi, memaksa gadis beranbut ombre hijau toska itu untuk duduk kembali. Berlutut dihadapan HyeMi, SeHun mencengkram tangan sang gadis amat erat.

“Lepaskan aku Oh Se-

 

|| Good Father

 

Sudah hampir 2 minggu insiden di mansion. JongIn coba berfikir jernih dengan menenggelamkan diri bersama buku-buku filsafat, berkutat meski ia kadang merasa bosan. Hanya saja untuk hari ini, HyeMi mengirim pesan singkat, meminta JongIn datang ke alun-alun –tepatnya cafe langganan mereka. HyeMi bilang SeHun punya kejutan.

Ia pergi, berdandan dan berusaha tampil rapi dengan aroma maskulin. Melenggang ke tengah kota tanpa memikirkan cemoohan sang Ayah beberapa waktu lalu. JongIn ingin menghabiskan waktu luang bersama SeHun dan HyeMi. Itu saja.

“Lepaskan aku Oh Se-

Baru ia membuka pintu cafe, bahkan denting lonceng dipintu masih bergerincing.

“Sial. Bocah-bocah jaman sekarang sudah termakan budaya barat.” Gerutu bapak tua bercerutu yang segera membuang muka keluar jendela cafe. Sementara JongIn? Ia tertegun tak percaya akan apa yang ada didepan mata.

SeHun baru saja mencium HyeMi dengan deep kiss. What the…

Tanpa sadar, jemarinya meraih knop pintu, mundur beberapa langkah dan pergi dari sana. Harinya bertambah buruk melihat dua sahabatnya ternyata sudah punya status lebih dari sahabat. Merasa dihianati, JongIn mengepalkan jemari, berjalan tergesa dengan rahang kaku.

Bruk..!!

Matanya menyipit, sosok yang menunduk minta maaf karena sudah mengadu bahu barusan terlihat familiar.

“Hati-hati, sir!” Tekan JongIn sebelum berlalu dengan pemikiran semrawut.

 

|| Good Father

 

HyukJae tadi pagi mendatangi kondominum JongIn, membicarakan mengenai kekurangan JongIn yang membuat Ayahnya murka beberapa hari lalu. Bersama beberapa botol brandy, HyukJae mulai menyodorkan revolver yang sedari bergelung didalam mantel tebal miliknya.

“Aku tidak bisa, hyung!” Tekan JongIn tak mau menerima sodoran revolver, wajahnya pucat pasi kala itu juga, menjadikan HyukJae menyeringai jijik.

Geleng-geleng tak percaya, dia tarik kembali revolver ditengah mereka, JongIn menghela nafas legah, keringat sebiji jagung diusap dengan punggung tangan saat itu juga. Mereka duduk bersila dilantai –depan televise yang baru menyiarkan berita penyelundupan senjata ilegal. Itu ulah anak buah YoonSeok, JongIn dan HyukJae tahu itu.

“Ini masih tak masuk akal, Kai. Kau putra tunggal tuan Kim, tidak bisa memegang senjata cukup mencoreng namanya yang sudah berkibar disebagian KorSel. Hal ini bisa jadi titik lemah Appamu, Kai.”

“Aku tahu itu.” Keluh JongIn sedih, dia menyayangi Ayahnya –tentu, satu-satunya keluarga JongIn yang ia kenal adalah Ayahnya. Tak ada lagi. “Tapi cukup mengenai profesinya, pekerjaan Appa membuatku tak punya teman dan dibenci oleh beberapa orang. Nyawaku acap kali terancam saat para body guard itu lengah, hyung.” Protes JongIn yang cukup masuk akal menjadikan HyukJae mengangguk faham, ia sakukan revolver kebalik mantel, menyelonjorkan kaki dengan punggung bersender pada sofa.

“Tapi sekali saja fikirkan keadaan Appamu, Kai. Beliau tak punya keluarga untuk diwarisi semua kekayaan dan kekuatan yang susa payah beliau bangun. Hargai usahanya meski sedikit saja, Kai!”

“Entahlah, hyung. Semua ini rumit untukku.” Ikut menyenderkan tubuh disamping HyukJae, JongIn memejamkan mata, ia lelah terus bermain kejar-kejaran seperti ini. Takdirnya bukan untuk jadi Good Father seperti sang Ayah, JongIn tahu itu.

“Setidaknya belajar saja memegang senjata. Revolver yang kubawa khusus diminta beliau untuk kau miliki, jangan kecewakan Appamu, Kai!”

Malam itu, HyukJae pulang dengan revolver masih dibalik mantel, JongIn terang-terangan menolak menyimpan pistol tersebut. Ia melambai kala mobil audi HyukJae melesat menjauh. Baru ia berbalik dan bersiap masuk ke kondominium, seorang melambai dengan senyum lebar pada JongIn. Kantung plastik beraroma bakpao menguar dari sana.

“Malam ini aku menginap ditempatmu, Kai.” Ucap SeHun merangkul pundak JongIn yang memasang tampang tak percaya. “Hariku thekarang buruk thekali, aku butuh teman curhat.”

 

|| Good Father

 

“Kalian tidak saling bicara?” Oh, ini situasi yang dibenci JongIn. Mereka tengah sibuk memandangi kembang api didekat sungai Hanggang, menikmati malam minggu bersama –itu kebiasaan mereka dalam beberapa tahun terakhir.

SeHun berdiri disamping kanan JongIn, menyeruput buble tea dengan mata berbinar saat menyaksikan kembang api menyiprati langit. Sementara HyeMi memilih berkutat dengan ponsel, chart bersama ID Max yang siapa itu tak diketahui oleh JongIn. Pacar HyeMi? Gebetan? Oh, JongIn ikut mendidih memikirkan kemungkinan itu. Sedari tadi HyeMi atau SeHun hanya mengajak bicara JongIn seorang, tanpa adanya komunikasi antara dua makhluk itu sama sekali.

“HyeMi saja yang tak mau bicara, aku sih oke-oke saja.” Ungkap SeHun santai, sontak pernyataannya menarik perhatian HyeMi lewat telik mata yang amat menganggu aura keceriaan disana.

Mengantisipasi, JongIn mencengkram pergelangan HyeMi dan menggeleng kala HyeMi mulai mengepalkan jemari.

“Ayolah! Katakan ada apa? Aku tak suka atmosfir ini, seolah kita sedang berada ditempat berbeda saja.” Keluhan JongIn membuat SeHun dan HyeMi saling melirik. “Kalian bertengkar untuk apa sih, kalau aku boleh tahu?”

“TIDAK BOLEH…!!” Jerit keduanya serempat.

JongIn mendesah dalam dan membuang muka pada langit. “Selesaikan sendiri masalah tak penting itu! Aku mau melihat kembang api saja.” Menyakukan kedua tangan, JongIn menyingkir dari tepi sungai Hanggang, mencari tempat duduk untuk mengistirahatkan kaki.

Baru ia berbalik saat seorang menarik perhatiannya, orang yang beberapa hari lalu beradu pundak dengannya didepan cafe.

 

|| Good Father

 

“Siapa kalian!!” Telinganya berdenyit tak nyaman, suara diseberang sana mengganggu tidur malamnya yang nyaman. Baru ia mengangkat telpone dengan muka masam saat ponselnya terus berbunyi tanpa mau berhenti.

“Hey, siapa kau berani-bernainya berte-

Jauhi aku! ARGGGGGGGHH…..”

Kantuk JongIn musnah sudah, dia jauhkan ponsel karena teriakan tadi, membaca ID name pada layar ponsel. “Hallo… HyeMi? Kau kah itu?” JongIn kalap, ia tak tahu harus berbuat apa. Mendengar temannya berteriak seperti itu, sudah pasti ada yang tidak beres.

Hallo, nak.” Sapaan bersuara berat yang amat JongIn kenal, dia mengerutkan alis, nafasnya tercekat barang sedetik. “Surprise, my son. Tak kusangka HyeMi dan Oh SeHun tetap mau berteman denganmu.”

“Apa yang Appa lakukan pada mereka?!” Sentaknya penuh amarah, mengesampingkan rasa hormat untuk tak membentak orang tuamu. JongIn melupakan hal itu.

“Ssssttt…, tenang anakku. Mereka tetap baik-baik saja dan akan tetap seperti itu jika kau mau menuruti permintaanku.”

“TIDAK!” Penolakan tanpa pikir panjang dari JongIn membuat suara geram kesakitan terdengar siup-siup. Suara berat tak jelas yang ia yakini milik SeHun. “Apa kau menculik SeHun dan HyeMi?” Telik JongIn tak percaya, ia bersumpah akan menonjok muka Ayahnya hari itu.

“Appa Cuma ingin lebih mengenal dua temanmu ini, Kai.”

“Hentikan semua kegiatan konyolmu, Appa!”

“Jika kau menuruti permintaanku! Tentu aku akan menghentikannya.”

Tut… tut.. tut…

“Hallo….!! Hallo…!! Sial!” Dibanting ponselnya kesembarang arah, mengusap wajah frustasi, JongIn lelah jadi orang lemah. Dia harus menghubungi HyukJae.

 

|| Good Father

 

HyukJae datang, tepat di waktu yang diinginkan JongIn. Sebuah bar kecil dipinggiran kota Seol. Mereka duduk mengelilingi meja bundar dengan asbak kotor ditengah. Rokok mild milik HyukJae sudah habis, ia jatuhkan kedalam asbak lalu mendorong revolver yang sedari tadi berada dibawah tangannya pada.

“Tuan Kim sendiri yang memintanya, Kai.” Terang HyukJae menyudahi pertemuan mereka, beranjak dari kursi kayu dan meletakkan beberapa Won untuk membayar brandy yang ia pesan.

“Berhenti, hyung!” Titah JongIn bernada tegas. HyukJae menyeringai kecil, menunggu sampai derap langkah JongIn mendekat. “Aku butuh bantuanmu.”

Menyeringai puas, HyukJae berbalik, mendapati JongIn sudah berdiri tegap dihadapan. “Seperti apa?”

“Memegang revolver.”

“Itu saja tidak cukup untuk situasi ini, Kai.”

 

|| Good Father

 

Alamat yang HyukJae berikan tidak jauh dari bar yang baru ia kunjungi, membutuhkan waktu 20 menit lebih untuk sampai digudang tua yang JongIn kenal. Tempat para penyelundup obat-obatan terlarang bekerja, ia pernah sekali datang ketempat ini bersama Ayahnya, ikut serta dalam transaksi uang keamanan dengan anggota kepolisian setempat.

Ditarik pintu gerbang yang amat tinggi, berat, dan berkarat itu. Ia melangkah masuk, menemukan ruang besar dengan bertumpuk-tumpuk kardus dan sebuah meja persegi panjang dari bahan besi yang ada diujung ruangan.

“Anakmu datang Appa! Tak mau menyambutnya dengan pelukan?” Nyaring suara JongIn, memantul dari setiap sudut. Mata tajamnya mengintai kemana-mana, takut semua informasi yang HyukJae berikan padanya adalah bohong semata.

Terdengar derit pintu dibuka dari balik tumpukan kardus -JongIn taksir semua isinya adalah obat-obatan. YoonSeok datang dengan pakaian formal, jas yang tidak dikancingkan, dan sepatu fantovel. Derap langkahnya menjadikan tensi darah JongIn menaik drastis.

“Mana revolvermu, nak?” Tanya YoonSeok menghina.

Jengah diperlakukan seperti itu, JongIn menarik pistol dari balik tubuh, menunjukkan tepat didepan mata sang Ayah yang berjarak hampir 10 meter.

Tersenyum puas, YoonSeok memberi komando dengan tangan untuk mendekat, 2 anak buahnya menarik tali tampar dengan bertenaga. Rintihan minta tolong terdengar menyayat hati.

JongIn bersiap akan segala kemungkinan.

“Tembak aku tepat disini!” Titah YoonSeok menunjuk paha kananya sendiri. Dua orang tadi semakin mendekat, kini terlihat kaki yang tengah diikat amat erat, “Maka dia akan kulepaskan.” dan SeHun menggapai-gapai pergelangan kakinya, berusaha melepaskan diri namun nihil.

“Jangan sentuh temanku, Appa!” Peringat JongIn tak kuasa, ia mendekat dengan mantap. Namun pergerakan YoonSeok terlalu cepat, moncong revolver sang Ayah sudah tepat diatas perut SeHun. Siap ditarik pelatuknya kapan saja.

“Tembak aku dulu disini! Baru dia kulepaskan, Kai.” Kembali menunjuk pada paha kanannya, YoonSeok terlihat amat percaya diri.

Menggeleng. “Jangan Kai! Jangan…!!” SeHun tak akan membiarkan JongIn menembak Ayahnya sendiri. Ia tahu, sejahat apa YoonSeok, JongIn tetap menyayangi Ayahnya.

“Untuk apa Appa melakukan semua ini? Aku tetap tak akan sudi jadi Good Father seperti Appa!” Penolakan yang dramatis, YoonSeok menyeringai. Jemarinya bermain cepat.

DOOR…!!

SeHun muntah darah, diperutnya kini menganga bekas tembakan yang menjijikkan. JongIn menutup telinga, tubuhnya gemetar mendengar suara tembakan. Ia benar-benar tak bisa melakukan semua ini, bahkan khursus kilatnya bersama HyukJae tak akan membantu.

“Jangan jadi pengecut, nak!”

DOOR…!!

Lagi. YoonSeok memaksa SeHun merenggang nyawa dengan mengenaskan. Dua tembakan diperut, disarangkan pada organ vital, sudah pasti SeHun tak akan selamat.

“Ini kesempatan terakhir, Kai. Atau temanmu akan mati.” YoonSeok sudah mengarahkan moncong revolver pada kening SeHun, bersiap menarik pelatuk kala tangan JongIn secara gemetar terangkat. SeHun terbatuk-batuk, tubuhnya gemetaran bukan main, darah segar menggenang disekitar tubuhnya berada.

Mata JongIn berkunang, ketakutannya bukan main.

“Satu- Dua-” YoonSeok mulai berhitung, JongIn semakin bingung, telunjuknya menyentuh pemicu revolver dengan halus. Diangkat tangan keatas, mengarahkan tepat pada paha kanan sang Ayah yang menunggu respon putranya.

DOOR…!!

“Meleset.” Terkikih geli, tembakan JongIn mengarah pada atap gudang, menimbulkan bunyi logam beradu. YoonSeok masih tegap berdiri dengan kekehan menghina. “Kesempatanmu cuma satu kali, nak.”

DOOR…!! DOOR…!! DOOR…!!

Terpental beberapa kali, SeHun tak ada kesempatan merasakan sakitnya sakaratul maut. Ia terbujur lemah, bersimbah darah, tubuh terkoyak peluru, kepalanya bocor dan dia mati.

“Ups. Temanmu sudah mati, nak. Mati sia-sia karena kebodohanmu memegang pistol.”

DOOR…!!

Peluru mencuat dari moncong revolver JongIn, melesat dengan kecepatan cahaya. Amat kilat, sampai dua orang YoonSeok terperangah melihat bos mereka terjatuh dilantai dengan kepala bocor, keadaan yang hampir sama dengan Oh SeHun.

“T-tu-tuan…” Panggil salah satu orang YoonSeok gemetaran, mengalihkan pandang dari mayat bosnya, mereka dapati JongIn yang ambruk kelantai, menunduk dengan sesenggukan.

|| Good Father Play Back

 

“Tuan Kim tak memakai pelindung dikepala. Tentu saja! Tidak mungkin beliau mengenakan helm saat mengkonvrontasimu untuk menembaknya. Tembak dia tepat disana, maka sekali kau mencoba, Appamu akan tumbang.”

“Maksudmu. Aku harus membunuhnya?” Gelagapan JongIn mencerna maksud yang dijabarkan HyukJae.

“Tidak ada pilihan lain. Kau juga tak mau jadi seorang Good Father, jika tidak sekarang, maka hidupmu akan tetap terkukung.”

“Kurasa, sekarang kau yang mengkonvrontasiku, hyung.” Tuduh JongIn bernada sisnisme.

HyukJae tertawa kecut. “Sebutkan alasanku untuk mengkonvrontasimu?”

“Jika bukan aku yang jadi Good Father, maka kau satu-satunya orang yang akan dipilih oleh para pertinggi. Bukan begitu?”

“Tepat sekali, JongIn!”

Reflek keduanya sama-sama cepat, bangkit dari kursi kayu, mereka menodongkan senjata masing-masing. JongIn dengan revolver dan HyukJae dengan kaliber-36nya.

Ceklek

Ceklek

HyukJae mengumpat, JongIn menyeringai senang. “Tak punya peluru, heum?”

“Bedebah kau Jong-

 

|| Good Father 7 Tahun kemudian.

 

JongIn mengangkat tudung kepala HyeMi, ia tersenyum kecil saat wanita dihadapannya meraih lengannya dengan lembut.

“Tenanglah!” Pinta JongIn bernada rendah, meyakinkan HyeMi untuk tetap bertingkah normal dalam beberapa menit kedepan.

“Aku sangat gugup, Kai. Oh, sial. Kenapa harus ada acara seperti ini? Kenapa kita tidak langsung kekantor catatan sipil untuk melegalkan pernikahan?” Cerocos HyeMi menunjukkan kegugupan yang tak dapat disembunyikan. Terlebih romannya yang membuat JongIn terkekeh geli sebelum mencium pipi HyeMi cepat.

“Pergilah. ChangMin sudah menunggu terlalu lama, sayang!” Menutup kembali tudung kepala HyeMi, JongIn mundur beberapa langkah dan menawarkan lengannya sebagai pegangan.

“Andai SeHun ada di sini.” Sesal HyeMi mengenang masa lalu. JongIn tersenyum lembut, menyembunyikan perasaan tak nyaman yang dengan cepat menyapu perasaannya.

“Maafkan aku.” Pinta JongIn tiba-tiba.

HyeMi menggeleng. “Itu bukan salah siapa-siapa, Kai!”

“Tapi kalian tidak akan berpisah jika aku bukan anak seorang Good Father.” Elaknya ngotot.

“Apa maksudmu dengan kalian? SeHun teman kita Kai.”

Tercengang. “Tapi kejadian di cafe beberapa tahun lalu? Kalian tidak berkencan?”

“Mau ku kemanakan ChangMin jika aku berkencan dengan SeHun? Tunggu! Kau melihat SeHun melakukan hal itu?”

“Ayolah, HyeMi! Pernikahanmu akan gagal jika kita membicakan hal ini.” Menarik HyeMi keluar dari kamar rias, JongIn merasa legah, setidaknya satu rasa bersalahnya sudah sedikit terobati. Mengesampingkan rasa kecewa karena tidak bisa merebut HyeMi dari ChangMin. Well, JongIn bisa mencari wanita lain tentunya. Seperti seorang perempuan berambut sepundak yang dari tadi memandangi layar ponsel itu.

JongIn duduk disalah satu kursi, menikmati prosesi pernikahan HyeMi, temannya yang selamat dari sekapan mendiang sang Ayah beberapa tahun lalu. Jika saja JongIn tak keburu menembak kepala Ayahnya sampai bocor, HyeMi mungkin akan ikut dibunuh seperti SeHun.

Semua ada hikmanya, itu yang coba JongIn ambil saat ini. Usai membunuh HyukJae, yang secara tak masuk akal telah membelot dari kelompok Ayahnya dan memilih untuk jadi informan bagi kelompok Gangster lain. JongIn membangun tempat usaha dari beberapa uang direkening Ayahnya dan mempekerjakan beberapa anak buah sang Ayah yang dapat dipercaya, masuk universitas dan mengambil jurusan filsafat. Ia mulai mengambil jam mengajar di salah satu universitas swasta di Seol usai lulus beberapa tahun lalu.

 

|| Good Father [Sudah di Sobek]

 

Untuk Knaraxo. Yang dengan Pedenya saya Tag requestan kamu di foam Request fanfic, saya minta maaf karena amat lemot untuk menyelesaikan fic ini. Well, saya merasa sangat tertarik dengan ide cerita kamu, tapi sekali lagi saya minta maaf karena dah rombak beberapa plot dan seting yang kamu minta. Penambahan cast gag papakan?

Unsur romance atara cinta segitiga mereka juga aku kurangin. Karena maunya nonjolin sisi criminal gagal yang ada di fic ini. Wkwkwkwkwk

Maaf seribu maaf, sayang

44 tanggapan untuk “[FF Request] GOD FATHER”

  1. Halo Author, Gamsahamnida karena sudah bersedia membuatkan request-an saya. Maaf karena komentarnya lama, soalnya agak sibuk juga sekarang, sudah kelas 9 SMP 😀
    Author bikin FF ini benar-benar total kerennya!! Sempet syok waktu Sehun dibunuh dan… ya begitulah. *lewatkan
    Sekali lagi Gamsahamnida, Author Zulaipatnam XD Salut!!

    1. makasih sayang
      alkhamdulillah kau gag kecewa, soalnya ini jauh bwanget dari keinginan dirimu. hehehehehe

  2. hmmm…..kai disini awalnya rada2 nerd gtu ya thor? wkwkw,
    tp ternyta malah…haha, unpredictable 😀
    mnrutku nih thor, sbenernya ceritanya bgus, cm mgkin pas adegan gun fightingnya kurang dpt feelnya ya, kalo lebih dipoles lg penggunaan kata2nya bakalan daebak bgt tu thoor~

    cuma pengen kasih saran aja sih thor, biar tambah bagus lagi besok2 bikin ff nya :))

  3. Huhuuu keren thor 😀
    Suka sama bahasanya, ringan tapi berbobot 🙂
    Suka juga sama jalan ceritanya 😉
    Nie thor. Keep writting thor 😉

  4. keren thor…
    sehun matinya sadis banget thor sungguh sungguh mengerikan.. ternyata jongin ngebunuh hyukjae tooh dan dia ngebunuh ayahnya sendirii isisisiss mengerikan thor bikin squel hehheee

  5. Ya ampun thor, sungguh daebak 🙂

    Aku kirain si ayah jongin nnti itu berubah malah jauh dr bayangan aku endingnya. Si ayah jongin mati, apalagi sehun yg ditembak kyak gtu, sungguh woow keren nembaknya diperut dua kali psti suakit banget n ditembak pula dikepala, wah lgsung mati si sehunny..
    Si hyemi kukira dgn jongin trnyata sm changmin..

    keren kok thor ,, 🙂

  6. Kirain Hyemi dan Kai T.T
    Btw aku baru baca ff yang karakternya Kai begini. Tak kirain juga Kai yang ketua gangsternya, eh tarnyata dia good boy 🙂 Yah, mungkin Kai sama aku aja 😀

  7. ooowww ngenak banget kriminalnya….hebat jongin berani bunuh ayahnya,,,ya ayahnya juga mengerikan gitu…temen anaknya sendiri dibunuh…gelap gelap gelap….

  8. Iya ini -_-
    Setauku juga GodFather
    Makanya rada bingung
    Kok ini kisah pembunuhan, mana segi good fathernya
    Kirain ntar endingnya papanya bakal ngerti sama kai
    Makanya dibilang good father
    Eh ternyata salah kaprah, GodFather ternyata :/
    Kece kok tapi, ngakak juga sama thehun
    Awalnya udah bagus ada cadelnya
    Tapi pas diakhir2 dia malah gak cadel -_- jadi agak gimana gitu deh
    Keep writing yaaaa
    Maaf cerewet banget jadinya

    1. waaah… aku salah kah? tak Googling dulu wkwkwkwkwkwkw
      akan saya ganti dan minta maaf sebesar-besarnya, sayang
      makasih udah mau ngoreksi. i love you, babe

  9. halo, kayaknya yg kamu maksud itu godfather ya, bukan good father?
    kalo good father artinya jadi ‘ayah yg baik’ dong?
    jadi gak nyambung aja..

  10. OEMJIHHH… 😮
    ini epep tragis banget, apalagi ama my baby Hunnie(?) 😥 ya ampun ngeri thor bacanya sungguh sangat kriminal ni epep…
    disini Sehun nya jadi cadel ya?? epep nya keren thor tpi syangnya tragis banget, dan epep nya lebih nonjolin kriminal dripada romance nya….
    klo bisa dibuat sequel thor biar asik gitu…
    daebakk buat author bisa bkin epep yang luar biasa 🙂

    1. ini FF request, say
      aku kalau mau bikin sequel atau pun side story dari masing-masing cast gag bisa. soalnya belum dapat ijin dari si perequest. gittttuuuuuu

  11. Keren nih thor, tragis bgt, Sehun~ 😦
    Tp ada typo deh thor, bukannya yg bener itu ‘Seoul’ bkn ‘Seol’ *cm gitu aja sih mnurutku hehe
    Tp keren kok, jjang!^^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s