Uncle #Sobekan Kedua bag.II

Movie_Uncle

|| Uncle #Sobekan Kedua bag. II

// Dalang Zulaipatnam // Leght TwoShoot [1 . 2A. 2B] // Gendre AU. Lolicon. Incest. Romance. Crime // Rated T semi M // Cast Xi LuHan. Lee Hayi // CoCast Nam Gyuri. Lee DongHae. Jung DaeHyun. Moon JongUp. Lee ChaeRin. Wu YiFan. Park Bom. Kim JoonMyeon {©NgalagaIngZulaipatnam}

|| Uncle #Sobekan Kedua bag. II

 

“Dan dengan polosnya kau percaya Xie MaBei itu ada?” DongHae tentu punya alasan kenapa seringai tak bersahabatnya muncul. “LuHan memang pembohong ulung.” Cicitan tawa lepas dari sudut bibir, Hayi membulatkan mata tak percaya, iris caramelnya menyapu wajah DongHae, berharap menemukan kebohongan barang seinci. Sayangnya, kebohongan itu tak ada sama sekali.

Tersenyum manis, disodorkan gelas berisi susu kocok pesanan Hayi dengan lembut. “Percayalah. LuHan mengarang semua cerita bodoh itu untuk dirimu, Hayi.” Entah sekarang siapa yang bisa ia percaya. Dua-duanya punya sisi untuk dinikmati. Antara kebenaran LuHan ikut E-Team karena sang cinta pertama atau kalimat DongHae yang membuatnya merasa menghangat.

“Setidaknya jujur itu lebih baik, uncle Hae.” Ralat Hayi dengan seteguk susu kocok.

DongHae menarik nafas disela senyum menawannya. Ia mengacak pinggang dengan satu lengan disampiri celemek. “Tapi tidak semua orang bisa menerima kejujuran. Itu pointnya, sayang.”

Rasa tidak terima tentu mendominasi pemikiran Hayi, ia mengusap sudut bibir dari bekas susu kocok saat DongHae mengalihkan pandang kepintu masuk dua arah ala bar di Texas.

“Apa pemuda dengan skeaters itu mencarimu?” Tanya DongHae tak melepas pandang sama sekali. Hayi mengikut arah pandang sang pemilik penginapan sekaligus bartender itu.

“Hayi!!” Tak salah lagi, pemuda yang dimaksud DongHae memang mencari keponakan kawannya.

 

|| Uncle #Sobekan Kedua bag. II

 

GyuRi mencuci tangannya, aroma ayam tepung masih merayap meski sabun cair yang ia gunakan melampaui batas. LuHan yang melihat hal itu merasa tak nyaman, ia bayar bill dan menarik kemeja GyuRi dari belakang secara lembut.

“Menjauh dariku DaeHyun!!” Kening LuHan mengerut, teriakan GyuRi sontak menarik perhatian pengunjung rumah makan cepat saji dimana mereka berada.

Tetap memunggungi LuHan, GyuRi masih menggosok tangan dan tak ada inisiatif untuk membasuhnya. LuHan tahu ada yang salah pada teman satu jawatnya ini.

“Aku LuHan, GyuRi.” Desis LuHan tepat disamping tubuh GyuRi, hal yang membuat GyuRi menarik pandang dari tangan untuk menemui bola mata jelaga sang kawan. “Bukan DaeHyun seperti yang kau teriakkan tadi.” Imbuhan LuHan benar-benar membuat GyuRi menggeram kesal.

Ia basuh busa ditangan, pergi ketempat pengeringan lalu melesat pergi. Meninggalkan LuHan dengan kebingungannya.

 

|| Uncle #Sobekan Kedua bag. II

 

Unclemu pasti orang baik.” Itulah pujian yang menyembulkan warna merah jambu pada pipi gembil Hayi, rambut pirang gelapnya menutupi sebagian pipi dan itu terlihat amat manis dimata JongUp.

“Dia yang mau menampungku, tentu uncle adalah orang baik, dia tak mau ambil pusing saat kubilang Ibu tak mau aku jadi putrinya lagi.” Pada akhir kalimat, Hayi merasa bukan porsi yang pas untuk menceritakan aib hidupnya pada orang awam macam JongUp.

“Kenapa?” Wajah JongUp terlihat amat serius.

Hayi mengutuk mulutnya. “Kenapa apa?”

“Ibumu.”

Memasang tampang mengerti, Hayi menggeleng kecil. “Itu bukan hal yang baik untuk dibicarakan.” Sergahnya menutup pembicaraan.

JongUp merasa tak enak, dengan cara memberikan daging bulgoki keatas mangkuk nasi Hayi sebagai tanda permintaan maaf. “Makanlah!” Pintanya dan menyantap hidangan dimangkuk sendiri.

“Terimakasih, JongUp.”

 

|| Uncle #Sobekan Kedua bag. II

 

“Ada urusan apa?” DaeHyun berada diambang pintu, tangannya belum lepas dari knop dan itu berarti LuHan belum dipersilahkan untuk menerobos masuk.

“GyuRi.” Nama yang keluar dari mulut LuHan dan sontak memecahkan semua praduga yang lama ingin ia ketahui. Ekspresi DaeHyun yang biasa datar berubah drastis. Sungguh mengejutkan tahu sang ketua E-Team punya ekspresi terkejut seperti yang disaksikan LuHan.

“Apa dia membuat masalah dan tertangkap polisi?” Beruntung DaeHyun dapat mengatasi keterkejutannya dan segera memasang poker face yang amat LuHan benci.

“Kau tidur dengan GyuRi. Itu permasalahannya.” Bogem mentah imajiner menghantam wajah DaeHyun. “Setelah bertahun-tahun dan aku baru tahu permasalahan ini, kau licik DaeHyun.” Geram LuHan amat ingin meninju wajah mulus pria berkulit tan itu.

Tanpa sadar, jemari DaeHyun memegang knop amat erat, memaksa emosinya melarut pada kuningan yang jadi alat membuka pintu.

“Berapa usimu sampai kau mempermasalahkan hal seperti itu, Lu?” Mencoba mencari celah, meski ia tak bisa menyingkirkan degub jantung yang berpacu diluar batas.

“Usia tidak jadi permasalahan untuk hal ini, Dae. Masalahnya ada pada kelicikanmu, kau buat seolah-olah dia menyeleweng dari DongHae dan menghancurkan hubungan mereka dengan kejam. Kau menyedihkan, Dae!”

Ditarik nafas dalam, menyetabilkan segala pemikiran jika LuHan tak mungkin bisa memojokkan dirinya. Harga diri jadi taruhan saat ini. “Fikirkan Hayi saat kau coba bicara seperti itu padaku, Lu!”

“Ini gertakan?” Tanya LuHan cepat, ia tahu kuasa DaeHyun amat kuat, tak ada cela baginya untuk lari jika pria tan itu sudah memutuskan.

“Bukan. Karena esok kau sudah menemukan Hayi dibelakang sel penjara.” Menahan emosi, jemarinya mengepal tanpa komando. “Lengkap dengan memar hasil introgasi mengenai dirimu.” Oh, LuHan tak kuasa menahan sebuah pukulan.

“Aku tidak takut pada ancamanmu, bedebah!” Tubuh DaeHyun sudah tersungkur, meninggalkan harga diri yang coba DaeHyun kais dengan menyeringai sambil mengusap likuid anyir disudut bibir.

 

|| Uncle #Sobekan Kedua bag. II

 

Bukan hal asing jika Hayi mendengar nama E-Team, hanya saja yang baru diucapkan pria bertopeng dengan P3 itu adalah A-Team. Ia gemetaran tidak jelas, pergelangan tangan dicengkram sampai membiru kekurangan darah.

“Jangan coba kabur!” Geram pria bertopeng hitam disampingnya, perempuan berambut pirang didekat kasir sibuk memasukkan Won kedalam kantung hitam dengan satu tangan memegang Glok yang diarahkan tepat dikepala sang kasir. Hal yang pernah Hayi lakukan bersama unclenya.

“CL, cepatlah!” Teriak pria disamping Hayi tak sabaran, JongUp tiarap didekat freezer. Mereka baru akan membeli coke saat dua pasangan bandit ini masuk, memborbardir mini market dan menembaki 4 CCTV disudut ruangan.

Yang bernama CL, perempuan pirang bertubuh sintal dibelakang mesin kasir itu mengangkat kepala, menatap kesal pada pria disamping Hayi yang meneriakinya.

“Hal itu tidak penting, kita sudah mendapatkannya.” Kemana arah pembicaraan sang pria? Hayi tak mengerti. Ia merasa terjebak dan firasat akan hal buruk menggerayai tubuhnya.

“Lepaskan aku, tuan!” Rengeknya sambil memutar pergelangan tangan, berharap terlepas lalu ia bisa kabur keluar mini market. Tentu jika pria itu tidak keburu menembak kepalanya sampai bocor.

“Sudah kubilang diam!” Geraman bernada tertahan itu tak sampai ditelinga Hayi, sirine mobil patroli Polisi keburu menggema lengkap dengan warna biru dan merah menyala yang menyilaukan mata.

 

|| Uncle #Sobekan Kedua bag. II

 

GyuRi memaksa DongHae mengeluarkan mobil dari garasi, romannya terlihat pucat saat tahu DaeHyun membisikkan nama Hayi dan A-Team.

“ChaeRin dan Kris tidak mungkin tertangkap polisi, GyuRi.” Hibur DongHae menarik pintu garasi keatas.

GyuRi menggeleng. “DaeHyun yang bilang padaku, tadi malam mereka tertangkap saat menjarah sebuah mini market, beserta Hayi yang ikut ditangkap Polisi. ChaeRin dan Kris bilang jika gadis itu anggota A-Team.”

DongHae menoleh sekilas, keningnya berkerut mengetahui informan itu adalah DaeHyun. Jika pria itu yang mengatakan lelucon seperti ini, maka itu bukan lelucon yang lucu.

“Bagaimana bisa? Chae dan Kris tak tahu menahu tentang keberadaan Hayi selama ini.” Tak jadi DongHae membuka pintu garasi, ia pergi kedalam penginapan lewat pintu belakang, langsung menuju tangga berderit untuk kelantai 3. Tempat kantor E-Team berada, yang sekaligus jadi kamar khusus bagi DaeHyun selama disana.

“Dia tidak ada dikamarnya.” Terang GyuRi diakhir, menghentikan langkah DongHae yang baru setengah pada tangga terakhir.

“Kemana DaeHyun dipagi hari seperti ini?” Telisik DongHae tak puas pada informasi ambigu yang diberikan GyuRi. Ia merangsek mendekati rak kecil berisikan map-map tidak penting, mencari sesuatu yang bisa jadi kunci dari keikut sertaan Hayi kedalam kantor polisi.

GyuRi mengikuti dari belakang, ia menjauhi DongHae yang terlihat kesetanan, sebuah kertas bertuliskan beberapa nomor telpon tanpa nama. GyuRi menyakukan kertas tadi dan bergabung bersama DongHae mencari sesuatu yang entah itu apa.

 

|| Uncle #Sobekan Kedua bag. II

 

“ChaeRin dan Kris baru merekrut anggota baru.” GyuRi memulai.

“Jumlah mereka tak lagi dua?” Sergah DongHae tak percaya. Ia mengusap wajah frustasi memikirkan jumlah A-Team yang selama ini jadi saingan terbesar mereka menambah kader.

“Kudengar seorang bocah dari Seoul yang mereka rekrut. Bagaimana tampang bocah itu dan apa kemahirannya aku masih tak tahu.” Informasi yang GyuRi peroleh memang amat ambigu. Tentu ambigu, karena ia hanya mencuri dengar dari DaeHyun kemarin malam.

“Cari informasi mengenai anggota baru A-Team! Aku akan menjemput Bom terlebih dahulu sebelum menjenguk Hayi dikantor Polisi.” Untuk pertama kali LuHan berucap, sebuah kalimat yang mengagetkan GyuRi serta DongHae.

“Kau mau membawa Ibu Hayi kesini, kekantor Polisi tempat anaknya ditahan? Kau gila, Lu!” Jengit DongHae tak percaya, ia telengkan kepala untuk menatap gurat kepastian dari LuHan.

“Cari saja informasi mengenai anggota A-Team dan aktifitas terakhir mereka. Aku pergi!” Berdiri dari meja dapur, LuHan mengenakan jaket levis sebelum menutup pintu dan menghilang.

“Dia benar-benar gila. Bom pasti mencincang LuHan sampai lumat.” Komentar DongHae merasa ide kawannya benar-benar tak masuk akal.

“Bukannya Bom yang mengusir Hayi pergi, untuk apa ia marah saat LuHan datang?”

“Bom mengusir Hayi karena tahu mereka tengah bercinta.”

“Kau serius? Gadis mungil itu bercinta dengan LuHan?”

“Argh. Sudahlah GyuRi, cari nomor ponsel orang dekat ChaeRin atau Kris saja!”

 

|| Uncle #Sobekan Kedua bag. II

 

LuHan menarik nafas, menghadapi kakaknya bukanlah ide terbaik. Tapi Hayi akan merasa lebih baik jika Ibunya datang menjenguk, memberikan motifasi dan menghibur sang buah hati. Mengesampingkan tindakan buruknya sampai membuat Hayi diusir dan masuk kedalam dunia kriminal seperti sekarang, LuHan benar-benar harus mengubur dalam-dalam harga dirinya saat ini.

“Kesempatanmu sudah habis Xi LuHan.” Desis Bom tak terima, jemarinya mengenggam erat-erat gelas berisi teh stevia. Berkat kerja bagus LuHan ia harus mengkonsumsi teh penurun kadar gula itu. “Putriku bukan boneka yang bisa kau hancurkan dan ditata ulang seperti semula. Setelah kebaikan yang kuberikan selama ini, ternyata balasan yang kau berikan amat luar biasa. Tak kusangka hidupmu sunguh menyedihkan seperti ini, Lu!” Jengit Bom teramat kesal, ia lempar gelas tehnya, menggelinding entah kemana, namun airnya menyiprati muka LuHan.

“Kumohon jie-jie. Hayi butuh kehadiranmu saat ini.” Tetap menjaga nada santun, LuHan tak perduli cercahan macam apa lagi yang akan dilontarkan kakaknya itu.

Beranjak dari kursi, Bom mendongakkan kepala, mengangkat dagu untuk melirik LuHan secara hina. “Tentu, tanpa kau minta pun aku akan pergi kesana, menebus putriku dan membawanya pulang.” Ucap Bom penuh ketegasan sembari melangkah menuju pintu utama rumahnya, membuka benda itu sampai cahaya matahari menerobos masuk. “Pergilah, Lu! Aku tak butuh dirimu disini.”

 

|| Uncle #Sobekan Kedua bag. II

 

“Namanya Moon JongUp. Dia tak terdaftar sebagai mahasiswa di universitas manapun, aku tak bisa menemukan datanya kecuali nama dan tanggal lahir yang membuatku berinisiatif mencari datanya di universitas se-Seoul.” GyuRi memulai. Sungguh ia terlihat amat kecewa kala membeberkan informasi yang baru ia dapatkan.

“JongUp kau bilang?” Tanya LuHan akan nama yang menurutnya tak asing. Sudut matanya berkilat dan ia telah ingat. “Dua hari lalu Hayi pamit untuk pergi dengan temannya yang bernama JongUp.”

“Apa JongUp yang kau maksud bertubuh agak pendek dengan dagu panjang, mata sipit, dan gaya anak hip-hop?” Sergah DongHae seolah menemukan titik cahaya.

“Aku tak pernah bertemu dengan si JongUp ini, Hae.” Putus LuHan kecewea.

“Kau bukan paman yang baik, Lu!” Sontak GyuRi ikut berkomentar. Bagaimana bisa seorang paman tak tahu tampang teman bermain keponakan yang sekaligus jadi pacar.

“Mereka baru berkenalan beberapa hari yang lalu, GyuRi. Jangan mempojokkanku seperti ini!” Protes LuHan memicu rasa geram DongHae.

“Diamlah! Sekarang kita fokus saja pada orang bernama JongUp ini.” DongHae mengutak-atik ponselnya, mencari nomor Masaki –orang dekat ChaeRin. “Berdo’a saja Masaki tahu seperti apa JongUp itu.” Dengus DongHae kesal.

“Fotonya aku bawa. Kemarin baru kucetak, kau tanyakan saja dimana bocah itu sekarang tinggal. Aneh mengetahui ChaeRin dan Kris tertangkap tapi dia tidak.” Tangan LuHan meminta lembaran foto yang GyuRi janjikan. Keningnya berkerut saat memindai wajah JongUp yang ada di foto close up 3X4. “Pernah melihat?” Kejar GyuRi penuh harap.

“Tampangnya seperti kasir yang ada dimini market.” Keluh LuHan mencoba mengingat.

“Kasir?” Ulang GyuRi tak mengerti.

“Terakhir kali aku dan Hayi sedang merampok mini market. Dan esoknya DaeHyun bilang polisi mencari kami, makannya aku pergi ke sini bersama Hayi hari itu juga.”

“Simpulkan saja DaeHyun ada dibalik permasalahan ini.” Gumaman tak jelas DongHae sontak mengalihkan fokus GyuRi dan LuHan. “Sial! Nomor ponsel Masaki tidak aktif.”

“Jelaskan kenapa tersangkanya tertuju pada DaeHyun?” Tuntut LuHan penasaran pada pola fikir DongHae.

“Ia tiba-tiba menghubungi kita untuk kumpul dipenginapan, tak merencanakan pencurian besar sama sekali dan hanya mengulur waktu sampai Hayi ikut tertangkap bersama A-Team. Juga identitas si JongUp yang misterius ini. Dae amat tak menyukai Hayi, ia menilai performamu belakangan ini menurun, yang membawa imbas pada pemasukan E-Team. Lagian, 3 hari yang lalu kau coba melabrak DaeHyun kan, Lu? Dan JongUp yang kau kenal sebagai kasir mini market itu secara tak sengaja menjadi teman Hayi. Memang belum cukup untuk mengarahkan semuanya pada Dae, tapi tak butuh waktu lama semua ini akan beres.”

“Apa yang kau bicarakan, Hae! Jangan menfitnah DaeHyun terlalu jauh!” GyuRi terlihat tak terima saat DaeHyun diposisikan sebagai tersangka utama.

LuHan terlihat mencerna semua kejadian menjadi satu.

“Oh, kau baik hati sekali, GyuRi. Lupa dengan apa yang pernah ia lakukan pada kita?!”

“Jangan mengusik hal itu, Hae!”

“Bukannya mengusik. Tapi aku cuma mengingatkan jika itu berarti, Dae bisa melakukan hal buruk pada Lulu dan Hayi!!” teriak DongHae geram, tak bisakah GyuRi berhenti membela DaeHyun didepannya. “Dia bukan orang baik, GyuRi.” Imbuh DongHae berharap GyuRi menerima teorinya meski masih praduga tak bersalah.

“Boleh kulihat foto JongUp sialan itu?” Kini DongHae menurunkan nada bicaranya, LuHan menyerahkan foto 3×4 ditangan. “Terimakasih.” Ucapnya pada LuHan.

“Bagaimana dengan Bom? Dia sudah datang menemui Hayi?” Tanya GyuRi ingin tahu. LuHan menggeleng, tak ia cari tahu apa kakaknya itu sudah datang keBusan dan menjenguk putrinya atau belum.

“Bocah ini yang bertemu Hayi 3 hari lalu di penginapan.” Celetukan DongHae menarik perhatian dua temannya.

“3 hari lalu? Itu berarti saat Hayi ikut tertangkap.” Putus GyuRi cepat. LuHan mengangguk, roman wajahnya masih tenang.

“Sebaiknya kau pergi ke kantor polisi untuk bicara pada Kris atau Chae! Mereka pasti akan mengatakan sesuatu.” Ide yang tak bisa LuHan terima, dia enggan pergi kekantor polisi karena jejak kriminalnya. Ia pernah ditahan dipenjara selama 3 tahun lebih beberapa bulan, dan data ditiap penjara bisa saja membuatnya dicurigai.

“Itu ide buruk.” Cicit LuHan pasrah, ia amat tak berdaya menghadapi permasalahan ini.

“GyuRi saja yang pergi kesana!” Melotot tak terima. GyuRi memukul pundak DongHae kuat-kuat. “Sakit, sayang.” Ronta DongHae diakhiri cekikikan tawa renyah.

 

|| Uncle #Sobekan Kedua bag. II

 

Mobil LuHan terparkir dihalaman kantor polisi, ia menarik nafas untuk kesekian kali, degub jantungnya bukan main, terlebih kala mengeliminasi anak tangga menuju pintu otomatis dihadapan. LuHan ingin berlari pergi dan melepaskan tanggung jawabnya pada Hayi.

Baru pintu kaca dihadapannya terbuka saat sosok perempuan bertubuh jenjang dengan setelan bahan velvet merah didampingi pria bertubuh kurus berjas silver setelan, melangkah mantap menuju pintu keluar bersama gadis berjaket panda yang mengenakan masker hitam. Mereka terlihat tergesa, LuHan mundur teratur, ia tahu siapa mereka. Terlebih kala matanya secara tak sengaja beradu pandang dengan sang perempuan bersetelan velvet merah.

Uncle…!!” Seru gadis diantara perempuan dan pria itu.

LuHan tertegun. Baru kali ini ia mendengar panggilan keponakannya amat merdu. Nada ceria mendominasi cara gadis 17 tahun itu menyuarakan panggilannya.

Terlihat hendak mendekati LuHan, perempuan bersetelan velvet merah keburu menarik lengan Hayi mundur, mengeliminasi jarak yang coba gadis itu buat. “Sedang apa kau disini, bedebah?” Tanya Bom bernada sinis, tak ada raut seorang kakak yang selama ini coba Bom tampilkan dihadapan LuHan.

“Sudahlah, sayang! Yang penting Hayi sudah bebas.” SuHo menahan amarah sang istri dengan cara mengelus pundak menantang Bom.

“Seharusnya yang masuk penjara itu kau, bukan putriku!” Tunjuk Bom penuh emosi, tak terima jika putrinya yang masih amat muda harus merasakan penjara.

Eomma! Aku yang salah.” Pinta Hayi tak mau pamannya disudutkan. Hal yang membuat Bom menunduk menatap wajah putrinya dengan tampang tak percaya. “Jangan salahkan Uncle lagi, Eomma!”

“Diam! Dia bukan unclemu, Hayi. Mana ada uncle seperti makhluk ini, dia hanya sampah!” Dengan itu, Bom menarik paksa Hayi menuju mobil mereka terparkir.

SuHo mendekati LuHan, berdiri tegap dihadapan pria Cina itu dan menepuk pundak sang adik ipar. “Ini permintaanku yang terakhir, jika kau benar-benar mencintai putriku maka jauhi dia, Lu. Kalian tidak sepantasnya bersama. Aku pergi.”

 

|| Uncle #Sobekan Kedua bag. II

 

GyuRi tersenyum kikuk saat istri DongHae menyodorkan minuman padanya, ia duduk dikamar DongHae, membawa kertas berisi nomor telepone tanpa nama.

“Terimakasih, Isabele.” Sambutnya dengan menerima cangkir berisi ocha. Isabele, perempuan cantik itu tersenyum ramah dan mengangguk. Ia adalah istri pertama DongHae.

“Sama-sama. Hae sedang mandi, kau tunggu saja.” Itulah alasan kenapa kamar mandi dikamar ini mengeluarkan suara shower.

 

|| Uncle #Sobekan Kedua bag. II

 

“DaeHyun menjanjikan kami tebusan dan bayaran 3 kali lipat dari mencuri berlian milik istri mentri.” Ceplas-ceplos Kris adalah boomerang, LuHan tahu pria setanah air dengannya ini bukan tipe pria rumit. Ia membeberkan semua yang menurutnya tak masalah. Toh, LuHan satu team dengan DaeHyun.

“Itu mengejutkan.” Komentar LuHan mencoba biasa.

Mengangguk setuju, “Aku juga menganggap hal itu mengejutkan, tidak biasanya DaeHyun menghubungiku.” Melipat tangan didada, Kris mendesah dalam. “Dia minta kami mempolisikan gadis bernama Lee Hayi.”

LuHan mulai tertarik, ia sungguh menahan amarah agar tak pergi membunuh DaeHyun hari ini juga. “Dan kau menyetujuinya?”

Anggukan Kris sudah cukup menjawab semuanya. “Sudah hampir 1 bulan kami mengintai gadis itu.” Seringai kecil tertangkap disudut bibir Kris. “Tak kusangka ia pacarmu, Lu.” Sebuah tawa kecil menghiasi penutupan kalimat.

“Apa kau mau kuberi 4 kali lipat dari total bayaran yang DaeHyun berikan?” Penawaran dadakan tanpa syarat itu mengusik tawa Kris. Alisnya menaik tanpa tengah mencerna situasi.

“Sebutkan motifmu datang kemari, Lu!”

Kali ini, gilirah LuHan yang menyeringai. Kedua tangan yang sedari tadi berada diatas meja kini merogoh saku celana, menyodorkan sebuah foto close up 3×4. “Kupastikan kau bebas tapi bunuh DaeHyun saat itu juga.” Yang ada diantara Kris dan LuHan saat ini adalah foto milik DaeHyun.

“Bukannya kita sama-sama tahu jika profesi yang kita geluti bukanlah pembunuh bayaran, Lu?”

“Karena itu aku berani bayar mahal. Kemahiranmu memegang P3 sudah tak diragukan, Kris.”

 

|| Uncle #Sobekan Kedua bag. II

 

Butuh 2 jam bagi GyuRi dan DongHae untuk mendapatkan alamat sesuai data yang mereka terima. Pintu apartemen mewah bernomor 324 menjadi incaran DongHae serta GyuRi.

“Tuan Moon?” Panggil GyuRi setelah menekan bell rumah. Mesin intercomp berbunyi bip, sebuah wajah yang lumayan familiar terlihat tengah menguap dan menyapa mereka.

“Kalian siapa?” Tanyanya menggosok punggung. GyuRi mengernyit jijik sembari menatap wajah DongHae.

“Benar ini apartemen Moon JongUp?” Kini DongHae yang menunjukkan wajahnya didepan intercomp. JongUp terlihat mengangguk malas. DongHae tersenyum senang. “Ada hal yang perlu kami bicarakan mengenai kontrak apartemen yang anda buat, tuan Moon.”

“Oh, kalian orang dari agen apartemen itu ya? Masuklah!” Beserta dengan itu, bunyi bip kembali terdengar, suara kunci pintu menandakan akses kedua pembohong itu semakin terbuka lebar.

 

|| Uncle #Sobekan Kedua bag. II

 

Rencana yang coba LuHan susun terdengar tak bersahabat bagi GyuRi. Ia masih tak terima jika DaeHyun harus dikorbankan sedemikian rupa. Terlalu kejam. Itu komentar perempuan cantik ini.

“Supir yang mengantar DaeHyun sudah kami sabotase, JongUp hanya bocah bau kencur yang ngompol saat disodori moncong glok milikku.” Sombong DongHae memamerkan rencananya menyadap nomor telepone JongUp yang tak lain ada dikertas tanpa nama yang GyuRi sakukan.

“Bagus. Rencananya Kris akan membunuh DaeHyun saat perjalanan menuju markas A-Team. ChaeRin ada disana sebagai informan, dia tidak bisa dipegangi senjata, caranya menembak terlalu brutal.” Umum LuHan menjelaskan rencana awal.

Poinnya sekarang adalah apa kau yakin DaeHyun dengan mudahnya dapat dilumpuhkan?” Pertimbangan yang GyuRi berikan tak menggoyahkan kemantapan LuHan merekrut Kris sebagai tukang jagal.

“Kita lihat esok!”

 

|| Uncle #Sobekan Kedua bag. II

 

“Aku ikut denganmu.” Tawar GyuRi menggandeng lengan DaeHyun, pria itu baru kembali ke penginapan DongHae jam 3 subuh tadi.

“Tumben?” Selidik DaeHyun curiga akan gelagat GyuRi yang tiba-tiba mendekatinya. Biasanya perempuan itu agak sensitive jika berdekatan dengan DaeHyun.

“Firasatku tidak enak, Dae.” Keluh GyuRi mengeratkan gandengan pada lengan sang pria.

Dilepaskan lengan GyuRi yang melingkar pada lengannya secara perlahan, DaeHyun tersenyum mantap sambil memandang wajah GyuRi senang. “Sudahlah! Kau berlebihan, GyuRi.”

Menggeleng cepat. GyuRi tak berlebihan. “Jangan pergi!” Pintanya spontan. DaeHyun tertohok, tak biasanya, yah, tak biasanya GyuRi bersikap seperti ini padanya.

 

|| Uncle #Sobekan Kedua bag. II

 

Mobil Van hitam. Kris dan ChaeRin sudah duduk dikursi penumpang, mengecek peralatan dengan seksama sebelum DaeHyun masuk kedalam.

“Untuk apa kau keluarkan P3mu?” Selidik ChaeRin memandangi benda mengkilap yang Kris pegang amat mantap.

“Mencari uang, apalagi?” Jawab Kris enteng. ChaeRin memutar bola mata kucingnya, kesal akan jawaban sang rekan.

“Simpan barang itu, Kris! Aku ingin rehat sebentar, tidur dilantai penjara membuatku ingin menikmati servise hotel bintang 5.” Keluhan ChaeRin terasa lucu bagi Kris.

Pintu van terbuka, DaeHyun masuk kedalam setelah mengurus tetek bengek bersama para Polisi. Ia duduk sanding supir, menoleh sekilas kebelakang pada dua anggota A-Team.

Happy?” Tanya DaeHyun entah untuk apa. Kris mengedikkan bahu, sementara ChaeRin melempar pandang keluar jendela mobil. “Uangnya sudah kutransver. Kalian bisa bulan madu setelah ini…”

“Itu juga yang sudah kurencanakan, Dae.” Potong ChaeRin tanpa nada. Kris mengeluarkan P3nya.

“Waow, benarkah?”

“Ya.”

Door!!

 

|| Uncle #Sobekan Kedua bag. II

 

“Ada post untukmu, sayang.” Bom memberikan amplop coklat pada putrinya yang sudah berseragam sekolah. Tahun lalu Hayi tak melanjutkan kelas 3 SMA karena permasalahan yang ia alami. Dan sekarang, dengan uang yang SuHo miliki, Hayi punya kesempatan melanjutkan pendidikan.

Dibuka gulungan bola untuk membuka amplop. Sebuah buku tabungan Bank of Swiss terdapat didalamnya. Bom mendekat karena penasaran, dengan spatula ia menunjuka benda yang ada ditangan sang putri kini. “Itu apa?”

“Entahlah, eomma.” Dicari alamat pengirimnya, yang jelas-jelas adalah alamat bank. “Ini dikirim dari Bank.”

“Boleh appa lihat?” Tawar SuHo meminta barang tadi, Hayi memberikannya dan menungu respon. “Atas nama Lee Hayi.” SuHo membaca nama pemilik buku tabungan yang jelas-jelas mencantumkan nama putrinya. Dibuka lembar perlembar halaman dari buku tabungan tadi. Mata SuHo melotot kaget.

“Kenapa?” Tanya Bom penasaran dan merebut buku tabungan dari tangan suaminya. “Omo!!” Jerit Bom tak percaya.

“Kenapa memangnya?” Kini Hayi ikut-ikutan penasaran.

“Saldo akhirnya hampir 1 milyar Dolar.” Jerit Bom tak kuasa menahan kegembiraan. “Siapa yang sudah mengirim barang ini?” Kalapnya tak tahu harus berbuat apa kecuali mencari gelas dan menenggak air mineral darinya.

Diraih buku tabungan yang diletakkan Ibunya diatas meja makan. “Uncle.” Gumam Hayi dengan senyum kecil. Sekarang, ia tahu kemana uang-uang itu lari.

 

|| Uncle #Sobekan Kedua bag. II

 

“Cinta ada banyak macamnya, sobat.” Ucap DongHae tanpa diminta. LuHan mengenakan kaca mata yang sedari tadi menggantung disela kemeja. “Ada yang tak harus memiliki. Seperti kisah cinta kita ini.” Cekikikan DongHae menyadari ia sedang memberikan nasehat tentang cinta pada LuHan didalam mobil sedan tua.

“Hentikan bualan menjijikkanmu, Hae! Cepat nyalakan mesinnya, ada mangsa di blok 3B.” Tuntut GyuRi kesal.

“Bukannya itu toko perhiasan Pixie?” LuHan menimpali.

“Ya. Dan kemarin mereka baru memamerkan berlian merah yang mahal itu.”

Mobil sedan DongHae melaju. Meninggalkan seorang gadis yang menatap sambil melambaikan tangan dengan senyum lebar.

 

|| Uncle #Sobekan Kedua bag. II #SudahDisobek

 

Assalamu’alaikum. Sobekan kepanjangan? Bikin bosen? Alur kecepetan? Absurd? Wkwkwkwkwkwk. Aku sedang nafsu nulis dan pingin FF ini cepat kelar, sempet mogok gegara kehilangan plot dan baca buku perampokan yang membuat saya kembali nafsu menulis, meski waktu itu komputer sedang sakit dan harus dibawa kerumah sakit.

Walhasil, inilah FF Uncle yang berakhir happy ending tanpa ada Incest berkepanjangan. #ItuDosa.

Wassalamu’alaikum.

 

 

56 tanggapan untuk “Uncle #Sobekan Kedua bag.II”

  1. aaa aku serius suka sama genre action sadis kayak begini wkwkwkw..kasian Hayinya aja dikirimin saldo ckck.. mood nulisku semakin bertambah #wakaw makasih lah buat ide ceritanya yang agak muter ini #? ditunggu chapt selanjutnya 😉

    1. banyak, say
      dari novel lolita, film stoker, dan buku novel translet thn 90 an yang judulnya standoff.

      wkwkwkwkwk

  2. Mending luhan dan hayi kawin lari aje.udah terlanjur berhubungan kan udah jauh banget lage.lagian gak papa kan toh mereka belum tentu beragama.gw ndukung hubungan terlarang nya luhanhayi.jarang2 fanfic yang bergenre kayak gini apalagi cast nya luhan bahkan cuma ini.gw agak kecewa luhan and hayi gak jadi bersama.tp daebak deh buat author udah ngobatin penasaran gw thanks yeah
    salam readers 🙂

    1. meski mereka gag beragama. tapi saya beragama 🙂 takut sendirilah bikin cerita kayak gini, nanti berasa ngasih tahu jika incest seolah-olah halal (buat muslim dan non muslim).

      saya juga maunya mereka barengan dan tetep awet sampai akhir. sayang waktu ngetik jemari dan otak tidaklah sinkron. beginilah ending uncle milik saya

      makasih udah mau baca annisa Kwon. muach

  3. hufh, setelah sekian lama, akhirnya ini cerita dilanjut juga *salto bareng luhan* x)
    bahasanya agak sulit dimengerti sih sebenernya (karena umur aku masih kecil._.) *digetok* tapi inti ceritanya aku paham. btw, iya tuh, incest kan dosa._. untung hayi sama luhan ga jadi bersatu, hehe.
    keep writing author! ^^

  4. wawks bgt. keren dah. jadi hayi gakan sama luhan lagi nih? orang si bom. kaga ngasih gitu. teruss itu si jongup yaaa diam diam ternyataaaa

    ditunggu ya lanjutannya. eh tunggu. itu daehyun beneran mati? atau sebalknyaaa? aah penasaraaan

    1. penasara?
      tunggu aja yang lainnya kalau aku update. wkwkwkwkwk
      Ia, Bom udah gag ridho kalau anaknya ama Lu. wkwkwkwk

  5. AAAAAAAAK mau dongs dikirimin uang 1 milyar dolar :((((((
    waaah ternyata DaeHyun disini jadi antagonisnya.
    dih, malesin bgt Lulu pake boong segala =,,=
    itu donghae udah poligami juga masih aja ngecengin Gyuri. haha
    ngomong-ngomong aku masih bingung sama karekternya Gyuri. ceritanya dia itu ada rasa ga sih mbak sama DaeHyun?
    aaaahhhh, aku pikir endingnya bakalan Sad, hihi
    incest emang serem sih, 😀
    nice fic mbak!!!!!!!!!

    1. aku juga mau keles kalau 1 milyar. bisa buat beli dirimu. wkwkwkwkw
      Ea, Dae jadi antagonis gitu, say. DongHae ama GyuRi mereka dulu kencan soalnya.
      aku gag begitu bisa bikin ending sad sad gitu.
      makasih udah baca, say

  6. Awalny ak blm ngerti ama jalan ceritany, tp sedikit dikit udah mulai ngerti lah
    aaa luhan kok macarin keponakanny sndri..malah udah brcinta lg
    uncle apaan kamu lu haha
    okelah d tunggu next chapny chingu 😀

  7. Yuhuu kereeenn!! 😀
    Tuh kan ternyata beneran dugaanku kalo uangnya di tabungin haha tp bukan buat kabur berdua sh :p haha
    Tp sweet banget ya lulu aku (?) #plaak hha
    Ah mereka gajadi bersama ya?
    Hmm..baiklah, ini akhir yg seharusnya haha gabaik jg hubungan kayak git kn :p
    Good joooobbb!!!

  8. Ini udah end kan? Meski agak nggantung gak papa. Tetep bagus kok. Lagian Hayi udah dapet uangnya juga dan Luhan kembali dengan aksinya :->

    1. akhirnya adalah. Luhan memberikan uang hasil ngerampok dia ke Hayi dan gag milih buat kencan ama keponakannya sendiri. wkwkwkwkw

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s