The Princess & The Knights (Chapter 11-END + Epilog)

are-u-our-princess

Title        : The Princess & The Knights
Author         : Kim Na Na
Length         : Series
Main Cast     : All EXO Member
Song Min Young (OC)
Other Cast     : Find it 🙂
Genre         : Historical Romance, Fantasy, School Life
Rating         : PG-15

Ch 1 | Ch 2 | Ch 3 | Ch 4 |Ch 5

Ch 6 | Ch 7 | Ch 8 | Ch 9 | Ch 10

Mian lama update. Karena berbagai hal dan ide stuck jadi lama update. Semoga chapter akhir ini kalian suka. Tetep kasih komen ya soalnya ada kemungkinan sequel dan jangan lupa author masih  ada utang 2 extrastory.  Happy reading dan jangan lupa komen untuk sequel dan extra storynya

“…Young-a, Min Young-a, Song Min Young…”. Min Young mengerjapkan matanya. Matanya dapat menagkap sosok samar Se Hun. Setelah beberapa saat akhirnya pandangannya bisa kembali fokus. “Se Hun.. bisiknya.

Se Hun langsung memeluk lebih erat yeoja yang sejak tadi tidak sadarkan diri di pelukannya. “Tahaengijwo. Aku dari tadi sangat takut melihatmu yang sepeti orang mati.” kata Se Hun. Min Young hanya tersenyum. “Gwenchana, aku hanya pergi ke masa lalu.”

Se Hun langsung melepaskan pelukannya. “Berarti kau sudah tahu siapa pembunuhmu?” tanya Su Ho. Min Young baru menyadari bahwa anggota OSIS lain ada di sekelilingnya. “Ne. Tapi aku tidak menyalahkannya karena kejadian 1900 tahun yang lalu. Itu sudah berlalu. Dan sekarang dia kembali ingin membuhku hanya karena kesalah pahaman saja.” jelas Min Young.

Hyung, Kyu Hyun sudah sadar!” seru Kai. Seluruh mata tertuju pada Kyu Hyun yang berusaha mengumpulkan kesadarannya. “Ini..dimana?” adalah pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Kyu Hyun. Min Young melihat sekelilingnya.

Mereka berkumpul di tengah sebuah gudang kosong. Dinding gudang dipenuhi coretan dan retakan-retakan yang menjalar. Beberapa barang digeletakan begitu saja. Dan penerangan yang minim menambah kesan suram gudang ini.

“Ketika kami bangun, kami sudah ada di sini. Yun Ho sunbae mengatakan kami harus di sini hingga kalian sadar. Dia juga mengatakan kami tidak usah khawatir tentang kalian.Kalian akan bangun setelah urusan kalian selesai. Tapi kami tidak menyangka kalian ke masa lalu.” jelas Kyung Soo.

Min Young dan Kyu Hyun mengangguk mengerti. “Tapi siapa yang kau maksud? Apa kami kenal dengan orang itu?” tanya Kris. Dia masih penasaran dengan pembunuh Min Young. Min Young dan Kyu Hyunsaling bertukar pandang. Mereka tidak tahu bagaimana menjelaskan masalah ini.

Sebelum Min Young berbicara, sebuah ledakan keras terdengar dari arah pintu gudang. “Lindungi Min Young!” perintah Kris. Asap mengepul di pintu masuk. Para anggota OSIS bertanya-tanya siapa yang akan muncul dari balik kepulan asap itu. Tapi Min Young dan Kyu Hyun tidak lagi bertanya-tanya. Mereka sudah tahu siapa yang akan muncul.

“Dialah orang yang kumaksud.” kata Min Young. Para anggota OSIS semakin meningkatkan kewaspadaan mereka. Siapa pun yang keluar dari asap itu berarti adalah pembunuh Se Young dan sekarang mengincar nyawa Min Young.

Mata mereka langsung melebar begitu menyadari sosok itu. Mereka tidak mempercayai apa yang mereka lihat. Tidak mungkin orang yang mereka tahu sangat menyayangi adiknya, tega membunuh adik kesayangannya. “Ternyata kau di sini, Song Min Young.” kata Dong Hae.

Dong Hae segera melangkah kedepan selangkah demi selangkah. Dibelakangnya diikuti Eun Hae dan Mundeok. Pasukan siluman menerobos masuk dan mengelilingi para anggota OSIS. Membuat para anggota OSIS, Min Young dan Kyu Hyun terkepung.

“Jangan ada yang menyerang. Aku ingin menyelesaikan masalah ini sendiri.” kata Min Young. Dia kemudian berjalan memecah pertahanan anggota OSIS. “Min Young!” seru mereka serempak. Para anggota OSIS berniat menarik kembali Min Young, tapi Kyu Hyun menghalangi mereka.

“Biarkan Min Young yang menyelesaikan masalah ini. Dia sudah berjanji pada Hwan Eung untuk menyelesaikan masalah ini dengan caranya. Kita harus percaya kepadanya. Apa kalian lupa perkataan Yoo Chun sunbae?”

Para anggota OSIS tidak bisa setuju sepenuhnya dengan Kyu Hyun. Tapi Kyu Hyun lebih tahu tentang permasalahan ini. Jadi mereka lebih memilih untuk menuruti perkataan Kyu Hyun dan bersiap di tempat mereka masing-masing.

Dong Hae tersenyum saat melihat adiknya maju selangkah demi selangkah ke arahnya. “Melihat dari sikapmu, sepertinya kau sudah tahu semua yang terjadi. Bagaimana menurutmu? Apa kau sudah tahu kenapa aku begitu ingin melenyapkanmu sekarang juga?”

Ne, aku sudah mengetahui semuanya.” balas Min Young. “Tapi aku tidak ingin bertarung melawan oppa. Aku hanya ingin mengatakan, aku tidak akan menyalahkan oppa atas kematian orang tuaku. Aku hanya ingin kita kembali seperti dulu.”

Semua orang di ruangan itu ternganga, kecuali Dong Hae dan Kyu Hyun. Jika Kyu Hyun tersenyum, Dong Hae sebaliknya. Wajahnya penuh dengan kemarahan dan kekesalan. “Min Young-a, apa kau menyadari perkataanmu? Dia yang membunuh orang tuamu. Bahkan sekarang dia juga berniat membunuhmu. Kenapa kau berkata seperti itu?!” bentak Se Hun tidak sabar.

Arasseo. Tapi hal ini tidak akan pernah selesai jika aku kembali membalasanya. Hal yang bisa kulakukan hanyalah memaafkannya dan membiarkan masalah ini selesai tanpa ada perselisihan lagi.”

“Hahahaha. Munafik sekali perkataanmu. Kau pikir aku akan setuju dengan rencanamu. Tidak akan. Setelah semua yang kau lakukan kepadaku, mana mungkin aku memaafkanmu. Aku juga tidak ingin menerima pengampunanmu.”

Dong Hae segera mengambil sebuah langkah panjang dan menyabetkan pedangnya. Untungnya Min Young dapat menghindar. Melihat hal itu para anggota OSIS tidak tinggal diam. Mereka berubah menjadi wujud binatang mereka dan menyerang ke arah Dong Hae. Pasukan Dong Hae pun tidak mau kalah, mereka menghadang para anggota OSIS.

“Habisi meerka! Tapi jangan ada yang menyentuh yeoja ini. Dia bagianku!” perintah Dong Hae. Para siluman mengerang dan menyerang balik para anggota OSIS dan Kyu Hyun

Gudang yg tadinya hening dan suram langsung berubah menjadi area pertarungan yang ganas. Api dari phoniex Chan Yeol, membakar para siluman. Raungan naga Kris memenuhi gudang kosong itu. Lolongan panjang dari serigala Kai mampu membuat bulu kuduk berdiri.

Suara petir Chen menggelegar di dalam gudang. Menyambar setiap musuh yang ada didepannya. Tidak jauh darinya ular air Suho bergerak diantara musuh dan menenggelamkan mereka. Dengan satu henatakan kaki kudanya, Kyung Soo mampu membuat lantai gudang itu retak dan menjatuhkan Musuh ke dalam lubang tak berdasar.

Lay bergerak indah diatas musuh. Tapi musuh dibawahnya berubah menjadi mahkluk menjijikan yang dipenuhi luka dan nanah sebelum menghilang dalam cahaya Baek Hyun. Beruang Tao menghantam semua musuh yang menghadangnya. Mencabik musuh tanpa ampun.

Xiu Min berlarian dengan lincah di tengah-tengah musuh. Satu per satu musuh diubahnya menjadi es. Lu Han memukul mundur beberapa siluman sekaligus dengan tanduk rusanya yang tajam.

Mundeok yang melihat hal itu tidak tinggal diam dan berubah menjadi naga hitam yang besar. Naga itu hanya berupa tengkorak dengan lapisan kulit tipis menyelimutinya. Matanya semerah batu bara dangan napas api keluar dari mulutnya. Naga Mundeok berdiri dengan kedua kaki belakangnya. Tingginya hampir menghancurkan atap gudang yang sebenarnya sangat tinggi.

Se Hun dan Kyu Hyun berlari, bersiap menerkam naga Mun Deok. Mereka dengan gesit melompat diantara lekukan tubuh Mun Deok. Mun Deok mengibas-ngibaskan tubuhnya tapi mereka tidak terpengaruh sedikit pun. Akhirnya Se Hun sampai terlebih dahulu ke kepala

Dengan segera Se Hun mencabik salah satu mata naga itu. Kyu Hyun menusukkan mata pedangnya ke bahu naga. Mun Deok meraung kesakitan. Mengibaskan tubuhnya lebih ganas. Kyu Hyun dan Se Hun melompat turun dari naga Mun Deok. Diikuti perubahan Mun Deok kembali menjadi manusia dengan darah mengalir di mata kirinya dan luka menganga di bahu kanannya.

“Kyu Hyun-a, gwenchanayeo?” tanya Se Hun saat menyadari bahu kiri luka Kyu Hyun terkena cakaran Mundeok. “Gwenchan ini hanya luka kecil.” kata Kyu Hyun dengan senyum menakutkan.

Min Young tidak pernah melihat para anggota OSIS dan Kyu Hyun seperti ini. Kali ini mereka benar-benar serius menghadapi musuh. Dan jujur saja, itu sedikit menakutkan. Mereka benar-benar kuat. Tapi jumlah musuh tidak sedikit pun berkurang. Mereka malah bertambah ganas dan bertambah banyak.

Min Young menangkap gerakan Dong Hae dari sudut matanya. Dia langsung mengambil sebuah pipa besi yaang tergeletak di de depannya. Min Young memutar badan untuk menahan serangan pedang Dong Hae. Suara dentingan logam beradu terdengar saat pipa besi itu bertemu dengan pedang Dong Hae.

“Oppa hajimma, aku tidak ingin seperti ini!” seru Min Young. Dong Hae tidak memedulikan dan terus menyerang Min Young tanpa henti dengan pedangnya. “Apa kau tidak tahu penderitaanku selama ini? Kau selalu mengambil milikku. Baik 1900 tahun yang lalu maupun sekarang!” teriak Dong Hae.

Dong Hae mengayunkan pedangnya kuat-kuat dan berhasil memotong pipa besi Min Young menjadi dua. Potongan besi jatuh ke tanah dengan suara dentingan yang cukup keras. Sekarang Min Young tidak memiliki senjata apa pun. Dong Hae tersenyum sinis dan mengacungkan pedangnya tepat ke jantung Min Young.

“Apa lagi yang akan kau lakukan sekarang, hah?!” ejek Dong Hae. “Tidak, aku tidak akan melakukan apa-apa. Oppa boleh membunuhku, jika itu memang yang oppa inginkan.”. Dong Hae terdiam. “Oppa aku menyayangi oppa. Oppalah yang selalu menemaniku sejak aku kecil. Oppa adalah orang yang kusayangi melebihi orang tuaku sendiri. ”

“Ya kita memang selalu bersama sejak kau kecil. Tapi kau tidak akan pernah memahami keadaanku. Bahkan aku sendiri muak dengan keadaanku sekarang. Aku ingin semua ini selesai.” kata Dong Hae.

Dia berhenti sejenak lalu melanjutkan perkataannya. “Apa kau pernah seumur hidup selalu dibandingkan dengan adikmu dan ketika kau mengira ada yang peduli denganmu, itu hanyalah orang yang ingin memanfaatkanmu untuk menyingkirkan adikmu?

Atau setiap malam mendengar eommamu menangis, meruntuki kematian ayahmu, ingin membalas orang yang membunuh suaminya, tetapi tidak bisa karena pengaruh kekuasaan dan uang? Aku rasa kau tidak akan pernah mengetahui itu semua, Tuan Putri manja.”

Air mata mengalir di pipi Min Young. Bukan karena perkataan Dong Hae yang menyesakan. Atau karena dia merasa kasihan mendengar cerita Dong Hae. Meskipun memang sebagian dari dirinnya merasa sedikit kasihan. Tapi karena dia menyadari suatu hal. Sesuatu yang membuatnya yakin bahwa kakak yang paling disayanginya, tidak ada niatan untuk membunuhnya.

Dia berpikir hingga tidak sadar saat Eun Hae mengendap-endap dibelakangnya dengan membawa sebuah belati. Dong Hae yang melihat hal itu segera melempar pedangnya dan menghambur ke arah Min Young.

“MATIII KAUU!!” seru Eun Hae. Dan semua terjadi begitu cepat. Dong Hae memeluk Min Young untuk melindunginya. Eun Hae menghujamkan belatinya ke arah Min Young tetapi malah menembus perut Dong Hae.

“Min Young-a mianhae.” bisik Dong Hae sebelum jatuh ke tanah. Min Young begitu terkejut. Seakan-akan dia baru saja dihantan oleh sesuatu yang besar dan berat. “AAANDDDWEEE!!!”

Semua pertarungan berhenti ketika terdengar teriakan Min Young. Semua orang melihat ke arah asal teriakan itu. Dan para anggota OSIS semakin terkejut saat melihat Eun Hae memegang belati yang berlumuran darah, tetapi yang tergeletak bukanlah Min Young melainkan Dong Hae.

Eun Hae yang ketakutan langsung menjatuhkan belatinya dan berlari menuju pintu keluar. Ini di luar rencana. Dia tidak boleh sampai membunuh Dong Hae. Ini akan menjadi sangat buruk. Eun Hae hampir sampai ke pintu keluar ketika ada seseorang yang menghadangnya.

“Kau mau membunuh Min Young dan sekarang lari begitu saja setelah membunuh ketuamu? Benar- benar rendah.” kata Kyu Hyun. Ekspresi jijik dan marah terlihat jelas dari wajahnya. “Ani, aku tidak bermaksud seperti itu.” lalu Eun Hae sadar bahwa Kyu Hyun bermaksud membunuhnya. Karena tangan Kyu Hyun sudah menggenggam erat pedangnya dan bersiap menebaskannya.

“Andwe, Kyu Hyun-a. Aku melakukan ini karena mencintaimu.” kata Eun Hae berusaha mencari alasan. Matanya memancarkan ketakutan. Dia berusaha mundur untuk mengambil jarak dari Kyu Hyun. Tapi kakinya terasa beratt karena ketakutan.

“Aku tidak ingin bersama dengan orang seperti dirimu.” desis Kyu Hyun. Tanpa berkata apa-apa lagi, Kyu Hyun mengangkat pedangnya dan menusukkan ke jantung Eun Hae. Terdengar lengkingan kesakitan yang menakutkan sebelum Eun Hae terjatuh ke tanah.

Kyu Hyun mencabut pedangnya. Dia menatap marah ke arah Eun Hae sebelum berlari menghampiri Min Young. Dia melihat Min Young berlutut sambil memeluk Dong Hae. Dong Hae masih hidup meskpiun napasnya sudah tersengal-sengal dan darah terus mengalir dari perutnya.

“Akan kupanggilkan Lay. Dia pasti masih bisa diselamatkan.” kata Kyu Hyun. Dia berniat mencari Lay sebelum Dong Hae berkata “Ani, jangan panggil dia.”. Kyu Hyun dan Min Young terkejut.

“Bunuhlah aku. Dengan begitu para penjaga langit bisa menangkap siluman itu. Selama ini aku yang memasang perlindungan untuk mereka agar tidak terlihat oleh penjaga langit. Satu-satunya cara untuk membuka perlindungan itu hanyalah membunuhku” kata Dong Hae dengan terbata-bata. Lalu dia kembali memuntahkan darah dari mulutnya.

“Andwe, aku tidak ingin oppa mati. Oppa pasti selamat. Berhentilah bicara yang tidak-tidak.” isak Min Young. Dong Hae tersenyum. Dia tahu seberapa kemampuan dirinya. Dia tidak mungkin selamat karena belati Eun Hae menancap terlalu dalam.

“Min Young-a mianhae. Aku orang lemah yang mudah ditekan oleh sekelilingku. 1900 tahun yang lalu, aku tidak berniat membunuhmu. Aku hanya ingin mengancammu dan membiarkanmu pergi jauh dari istana. Tapi ternyata aku dengan bodohnya malah membunuh dirimu. Hingga kematianku aku terus menyesal dan meruntuki diriku sendiri.

Setelah kita sampai di kehidupan ini, aku berjanji akan selalu menjagamu dan menyayangimu untuk menebus rasa bersalahku. Tetapi kejadian yang sama terulang kembali, dan nyaris saja berakahir sama. Aku senang ternyata takdir berkata lain. Aku sudah lelah dengan semua ini. Aku tidak ingin melumuri tanganku dengan darahmu lagi.” sengal Dong Hae.

“Pabbo, apanya yang senang. Aku sama sekali tidak senang jika oppa pergi.” kata Min Young. Air mata mengalir deras membanjiri pipnya. “Uljimma, kau pasti akan lebih bahagia sekarang. Nyawamu tidak akan terancam lagi.” kata Dong Hae.

Min Young tidak menjawab dan menggelengkan kepala. Kajimma, kajimma, dan kajimma. Hanya itu yang ada di pikiran Min Young meskipun dia sendiri tidak yakin apakah Dong Hae bisa bertahan atau tidak karena napas Dong Hae semakin putus-putus.

“Min Young-a saranghae. Tto mianhae.” sengal Dong Hae lalu matanya tertutup perlahan. Tangannya jatuh terkulai lemas. Isakan Min Young semakin keras. Dia memeluk lebih erat tubuh Dong Hae yang sudah tidak bernyawa. “Oppa mianhae.” isaknya.

Kyu Hyun hanya tertunduk iba melihat Min Young. Dia tahu apa pun yang dia katakan tidak akan membantu Min Young. Min Young butuh waktu untuk bersedih. Semua anggota OSIS yang dari tadi melihat dari jauh sambil tetap melawan para siluman langsung terdiam. Mereka tidak menyangkan akan berakhir seperti ini.

Para siluman yang mengetahui bahwa pemimpin mereka meninggal langsung berhenti bertarung dan berniat melarikan diri. Bahkan Mundeok dan Eun Hae yang sekarat juga berusaha berdiri dan melarikan diri dengan susah payah. Mereka tahu bahwa perlindungan mereka sudah hancur sekarang

Tiba-tiba terdengar suara gendrang dan teompet perang. Disusul masuknya pasukan berbaju besi seperti jendral Korea di zaman dahulu. Semua bersenjata lengkap, siap menangkap para siluman. Tanpa perlu diperintahkan, mereka langsung mengalahkan para siluman dan mengirimnya ke penjara langit.

“Pasukan langit.” gumam Kyu Hyun. Perlawanan paling sengit datang dari Mundeok. Dibutuhkan sepuluh penjaga langit untuk membawanya ke penjara. Sedangkan Eun Hae hanya bisa pasrah ketika seorang penjaga langit menyegelnya.

“Tangkap mereka semua! Jangan sisakan satu pun!” perintah Yun Ho yang masuk diikuti keempat pengawalnya. Merekalah yang membawa pasukan langit ke tempat ini. Yun Ho tahu jika perlindungan itu akan terbuka cepat atau lambat.

Para anggota OSIS langsung berlari ke arah Min Young begitu pasukan langit datang. “Min Young-a, gwenchana?” tanya Se Hun. Min Young tidak menjawab. Air mata mengalir diam. Min Young terlalu sedih untuk menangis.

Se Hun berniat menarik Min Young dari tubuh Dong Hae, tapi tangan Kyu Hyun mencegahnya. Saat Se Hun melihatnya, Kyu Hyun menggelengkan kepala. Se Hun mengerti maksud Kyu Hyun dan mengurungkan niatnya.

“Hyung, jika Dong Hae hyung meninggal, ‘mereka’ pasti akan datang dan membawa kita. Eottokhe?” tanya Kai pada Kris dengan tatapan bingung. “Tapi kita tidak bisa meninggalkan Min Young sendirian di saat seperti ini.” balas Lay. “Akan kucoba untuk berbicara pada ‘mereka’.” kata Kris tapi terlihat tidak yakin.

“Siapa yang kalian maksud?” tanya Kyu Hyun. “Juhseung Chasa.” jawab Su Ho. “Mwo? Kenapa kalian berurusan dengan…”. Ucapan Kyu Hyun terputus saat dia merasakan hawa dingin menyergapnya. “Mereka datang.” gumam Kris.

Detik berikutnya Kyu Hyun melihat 3 orang dengan hanbok berwarna hitam. Wajah mereka begitu pucat. Kyu Hyun tidak bisa merasakan hawa kehidupan dari mereka. Ketiga orang itu berjalan lurus ke arah Dong Hae.

“Nuguya? Apa yang mau kalian lakukan?” tanya Min Young dengan suara tercekat. Salah satu dari tiga orang itu mengarahkan tongkatnya ke dada Dong Hae dan membacakan mantra. Perlahan tubuh Dong Hae terburai menjadi serpihan cahaya.

“Andweee!!! Apa yang kalian lakukan pada oppa!!” seru Min Young. Tangannya berusaha menggapai Dong Hae tapi dia ditahan oleh 2 orang yang lain. “Kami harus membawanya ke dunia bawah. Rohnya harus disucikan sebelum dia dikirim ke langit. Terlalu banyak pengaruh siluman dalam dirinya. Dia hebat masih bisa hidup sampai saat ini. Manusia biasa pasti mati dalam hitungan hari dengan pengaruh siluman seperti ini.” jelas salah satu dari 2 orang yang menahan Min Young.

Min Young tidak menyangka bahwa Dong Hae tersiksa selama ini. Dia tidak bisa merasakan penderitraan yang harus ditanggung oppanya. Ditekan oleh satu-satunya orang tua hingga harus menjual jiwanya. Dan sekarang dia harus meninggal karena menyelamatkan dirinya.

“Mianhe. Jeongmal mianhae” isak Min Young. Tubuh Dong Hae hilang menjadi serpihan cahaya. “Lebih baik seperti ini. Dia pasti lebih memilih meninggal untuk menyelamatkan adiknya daripada harus mati dibawah pengaruh siluman.” kata salah satu Juhseung Chasa.

“Geundae, kenapa disini ada juga arwah-arwah yang melarikan diri?” tanya Juhseung Chasa tadi sambil melihat ke arah para anggota OSIS. “Tidak kami tidak berniat untuk lari lagi. Kau boleh membawa kami. Tapi biarkan kami tinggal satu hari lagi. Kami ingin mengucapkan perpisahan.” kata Kris.

“Museusoriyeyo?” tanya Min Young kebingungan. “Tidak bisa. Kami harus membawa kalian sekarang juga.” kat aJuhseung Chasa itu. “ Aku yang akan menjaminnya.” kata Yun Ho tiba-tiba. Dia menyeruak masuk ke lingkaran itu.

“Mereka tidak pernah berbuat kejahatan selama di dunia ini. Mereka juga membantuku menangkap para siluman yang kabur dari penjara langit. Jadi ijinkan mereka mengucapkan selamat tinggal pada keluarga mereka. Aku jamin mereka tidak akan kabur.”

Juhseung Chasa itu terlihat menimbang-nimbang. “Baiklah. Aku beri kesempatan 1 hari. Besok malam kalian berkumpul di sini. Aku akan membawa kalian. Dan jangan pernah berpikir untuk kabur.” kata Juhseung Chasa itu lalu menghilang.

Suasana gudang kembali menjadi hening. Para siluman sudah ditangkap semuanya. Para pasukan langit sudah kembali. Hanya menyisakan Yun Ho dan para pengawalnya serta Min Young dan anggota OSIS juga Kyu Hyun.

“Lebih baik kalian segera kembali. Pergunakan waktu sebaik-baiknya. Min Young juga perlu istirahat. Aku harap kalian tidak perlu susah-susah melarikan diri. Min Young, kami akan menagih janjimu. Aku berterimakasih karena kamu mau memenuhi janjimu padaku. Kami pergi dulu.” kata Yun Ho lalu menghilang diikuti keempat pengawalnya.

“Kalian bisa jelaskan padaku?” tanya Min Young. Dia tidak tahu apa yang terjadi tapi dia tahu apa pun itu pastilah tidak baik. “Akan kami jelaskan nanti. Ayo kita kembali ke aprtemen Se Hun.” kata Su Ho. Kai mengangguk lalu memindahkan mereka ke apartemen Se Hun dalam satu kedipan mata.

****

Udara apartemen Se Hun menusuk indra penciuman Min Young. Dia merasa sudah satu abad sejak dia merasakan tempat ini terakhir kalinya. Dia bisa saja langsung jatuh tertidur tapi ada hala yang mengganjal. “Sekarang ceritakan padaku apa yang tadi terjadi.” ujarnya.

Kris menghela napas. “Sebenanrnya kami adalah arwah-arwah yang kabur dari dunia kematian. Kami menipu raja neraka Yeom Ra beserta pengawalnya, para Juhseung Chasa, juga Meng halbeonim agar kami bisa terlahir ke dunia ini.

Kami melakukan itu karena kami tahu kau juga terlahir kembali. Tapi tidak hanya kau, Kyu Hyun, yang saat itu kami pikir dialah pembunuhmu di masa lalu, juga ikut terlahir. Kami harus melindungimu.

Selama ini kami berusaha bersembunyi dari Juhseung Chasa, tapi sepertinya sekarang tidak bisa lagi. Kami harus kembali ke dunia bawah. Kami tidak boleh ada di dunia ini lagi karena kami sudah melanggar peraturan dunia kematian.”

“Uljimma. Kami senang sekarang kau sudah selamat. Berarti tugas kami juga sudah selesai. Kami tidak ada alasan untuk tinggal lebih lama di dunia ini.” timpal Su Ho saat melihat air mata Min Young kembali mengalir.

“Pabbo! Kalau kalian sudah tahu akan seperti ini lebih baik kalian tidak pernah muncul di hadapanku! Oppa pergi dan sekarang kalian juga berniat pergi? Sudahlah aku tidak mau tahu lagi!” seru Min Young lalu masuk begitu saja ke kamarnya. Dia menutup pintu keras-keras melampiaskan kemarahan.

“Ini pasti membuat Min Young tepukul. Biarkan Min Young menenangkan diri dulu. Lebih baik kita pulang saja. Kalian pasti ingin mengucapkan selamat tinggal.” ajak Kyu Hyun. Dia seharusnya bahagia karena Se Hun akan pergi, dengan begitu dia bisa bersama Min Young. Tapi entah kenapa dia tidak bisa bahagia.

“Baiklah. Se Hun tolong jaga Min Young. Kami akan pulang dulu.” kata Kris. Se Hun mengangguk kemudian satu persatu anggota OSIS keluar dari apartemennya. Kyu Hyun yang terakhir keluar dari apartemen Se Hun.

“Kyu Hyun-a, jagalah Min Young setelah aku pergi. Kau satu-satunya orang yang bisa kupercaya.” kata Se Hun. “Ne, aku akan menjaganya. Aku tidak akan membuatnya sedih seperti dirimu.” balas Kyu Hyun sinis.

Se Hun hanya menghela napas kesal lalu menutup pintu. Se Hun berjalan ke kamar Min Young. “Min Youg-a, aku boleh masuk?” tanya Se Hun di depan pintu kamar. Tidak ada jawaban tapi Se Hun tahu Min Young tidak tidur. Se Hun kembali menghela napas lalu duduk di lantai bersandarkan pintu kamar Min Young.

“Min Young-a mianhae tidak pernah memberitahumu sebelumnya. Sebenarnya ini juga salah satu alasanku tidak pernah mengukapkan perasaan padamu. Aku takut aku tidak bisa di sisimu selamanya.

Tapi aku egois. Aku ingin bisa merasakan sedikit saja kebahagiaan sebelum aku pergi. Ternyata ‘sedikit kebahagiaan’ itu malah membuat rasa sakit yang lebih besar.”. Se Hun lalu tertawa pahit dan berdiri. Dia kembali menatap pintu. Sekarang air mata juga sudah mengalir di pipinya

“Min Young-a, setelah aku pergi jangan lagi pernah menangis atau bersedih. Aku tidak ingin melihatmu seperti itu. Kau tidak perlu lagi mengingatku, aku hanyalah namja bodoh yang hanya bisa membuatmu sedih dan kecewa. Cukup aku saja yang mengingatmu. Aku akan selalu mengingatmu sebagai orang yang paling kusayangi dan kucintai. Bahkan hingga aku terlahir kembali.” ucap Se Hun dengan suara tercekat.

Pintu mengayun terbuka. Min Young segera berlari memeluk Se Hun. “Aku tidak mungkin melupakanmu. Aku tidak akan pernah melupakanmu. Aku akan selalu mencintaimu.” isak Min Young. Se Hun ingin mengatakan agar Min Young tidak pelu melakukan hal itu karena hanya akan membuatnya sedih. Tapi dia mengurungkan niatnya dan membalas mendekap Min Young.

“Saranghae, jeongmal saranghae.” bisiknya sambil mengecup puncak kepala Min Young. Keduanya berpelukan dengan air mata terus mengalir dari pelupuk mata mereka. Perlahan Se Hun melepas pelukannya. Dia mengecup pelan bibir Min Young.

“Kau tidurlah. Kau pasti lelah sekali hari ini.” kata Se Hun. “Ani, aku ingin tidur bersamamu saja. Jangan berpikir yang tidak-tidak.” tambah Min Young cepat saat Se Hun mengangkat satu alisnya. Se Hun tersenyum. “Arasseo. Kajja.” kata Se Hun sambil menggandeng Min Young ke kamarnya.

Min Young tidur di lengan Se Hun. Mencoba mengingat detak jantung yang ia rasakan. “Se Hun-a, apa kau tidak berniat bertemu dengan orang tuamu?” tnyanya. Se Hun yang sedang memainkan rambut Min Young terdiam. “Ani. Mereka akan lebih senang jika aku tidak ada.” kata Se Hun.

“Setelah aku kabur dari dunia bawah, aku segera masuk ke rahim seorang wanita. Aku terlalu terburu-terburu karena semua hyung-deul sudah terlahir ke duni sedangkan aku belum hingga tidak sadar bahwa suami wanita itu sedang pergi jauh.

Wanita itu ibuku. Ayahku mengira bahwa istrinya selingkuh di saat dia bekerja di luar negeri. Ibuku menjadi membeciku karena hal itu. Karena itulah mereka berdua tidak ada yang mau melihatku.” cerita Se Hun.

Min Young merasa kasihan pada Se Hun. Sejak kecil dia selalu sendiri. Tidak pernah ada yang menyayanginya. Seakan tahu pikiran Min Young, Se Hun menambahkan “Sejak dulu hanya dengan memikirkan akan bertemu dengan dirimu saja sudah membuatku bahagia. Apa lagi sejak aku masuk sekolah aku bertemu dengan hyung-deul satu persatu. Aku tidak terlalu kesepian.”

Min Young tahu Se Hun berkata seperti itu agar dia tidak khawatir. “Se Hun-a besok kita jalan-jalan. Masih banyak waktu sebelum kau pergi kan?” “Geurae. Besok kita akan habiskan waktu bersam-sama. Sekarang kau tidurlah.” kata Se Hun. Dia mengecup kening Min Young. “Jalja.”

****

Kyu Hyun duduk termenung di kamarnya. “Apa ini yang dimaksud oleh Yoo Chun sunbae?” batinnya. Dia kembali mengingat pemandangan yang sempat dilihatnya saat kembali dari masa lalu. Sekilas ia melihat masa depannya dan Min Young. Dan juga Se Hun.

Dia tidak ingin melihat Min Young sedih. Dan dia tahu dengan pasti apa yang harus dia lakukan.

Min Young bangun keesokan paginya karena sinar matahri yang menusuk matanya. Dia membuka mata dan melihat Se Hun masih tertidur di sampingnya. Wajah Se Hun begitu damai seperti anak kecil. Dia pasti lelah setelah kejadian kemarin, pikir Min Young.Min Young tersenyum lalu berdiri perlahan. Takut jika membangunkan Se Hun.

Dia berjalan ke kamar mandi untuk mencuci muka dan gosok gigi lalu segera ke dapur. Dia akan memasak makanan yang Se Hun sukai. 1 jam lebih dia memasak sarapan untuk Se Hun dan dengan segera meja makan dipenuhi makanan kesukkan Se Hun.

Setelah puas melihat hasil kerjanya, Min Young membuka celemek dan kembali ke kamar Se Hun. Dia bisa melihat Se Hun masih tertidur lelap. “Oppa! Ireonna! Aku sudah memasak banyak makanan untukmu.” kata Min Young sambil mengguncang pelan tubuh Se Hun.

Se Hun membuka matanya perlahan. Min Young berkacak pinggang lalu menarik selimut Se Hun. “Ppali ireona. Nanti masakanku dingin” kata Min Young. Se Hun akhirnya bangun sambil mengusap-usap matanya yang masih mengantuk.

Min Young menarik begitu saja tangan Se Hun dan menggiringnya ke ruang makan. Se Hun hanya mengikuti Min Young dengan pasrah sambil menguap malas. Tapi matanya langsung melebar saat melihat makanan yang tersaji.

“Apa kita akan pesta?” tanyanya kagum. “Ini semua masakan kesukaanmu yang bisa aku masak. Aku pikir ini hari terakhir aku bisa membuatkanmu jadi…” ucapan Min Young berhenti karena Se Hun sudah menempelkan bibirnya ke bibir Min Young.

“Hari ini tidak boleh ada kata-kata seperti itu, arachi? Aku tidak ingin mendengarnya.” kata Se Hun. Min Young tersenyum dan mengangguk. Kemudia mereka menikmati sarapan pagi dengan kebahagian yang dipaksakan. Masing-masing berusaha menahan tangis karena waktu perpisahan yang semakin dekat.

****

Waktu menunjukkan pukul 5 lewat saat matahari semakin terbenam di barat. Mereka menghabiskan hari itu dengan membuat sebanyak mungkin kenangan. Berusaha mengingat keberadaan satu sama lain. Berusaha mengabaikan waktu semakin berjalan mendekati waktu perpisahan.

Handphone Se Hun berbunyi. Nama Su Ho tertera di layarnya. “Yeobseoyeo. Ne. Aku akan segera ke sana.” kta Se Hun lalu menutup panggilan. “Hyung-deul sudah menunggu di apartemenku. Sepertinya kita harus pulang.” kata Se Hun.

Min Young mengangguk. “Kenapa waktu berlalu begitu cepat?” batin Min Young. Se Hun memanggil taksi yang lewat di jalanan dan menuju ke aparemenya. Mereka hanya diam selama perjalanan. Sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Sudah sampai.” kata sopir taksi setelah mereka sampai di depan gedung aprtemen Se Hun. Se Hun menyerahkan beberapa lembar uang ke sopir lalu turun diikuti dengan Min Young. Mereka menuju ke lift dan naik hingga lantai 12.

Para anggota OSIS dan Kyu Hyun sudah berdiri di depan apartemen Se Hun. “Kajja kita berangkat. Kita berteleport saja.” kata Su Ho saat mereka semua sudah di persilkan masuk ke apartemen Se Hun. “Chakaman, aku ingin mengatakan sesuatu.” kata Min Young

“Oppa-deul, gomawo. Aku benar-benar berterima kasih pada kalian. Bukan hanya karena kalian menjagaku tapi karena kalianlah aku bisa melupakan kesedihanku. Waktu itu aku benar-benar terpuruk karena kematian orang tuaku.

Dan kalian datang. Kesedihanku perlahan hilang. Aku benar-benar bersyukur karena hal itu. Aku menyayangi kalian. Aku berharap kita bisa bertemu lagi.” ucap Min Young. Air mata mengalir di pipinya.

Para anggota OSIS tersenyum. “Kami juga menyayangimu. Kami tidak akan pernah melupakanmu. Seperti janji kami. Kami akan selalu disampingmu dan menjagamu.” kata Kris. “Kajja, aku bisa menangis jika seperti ini terus.” kata Kai.

Mereka lalu berteleport menuju gudang kemarin. Saat mereka tiba di sana, Yun Ho dan keempat pengawalnya sudah ada di sana. Juga ke tiga juhseung chasa. “Kalian sudah mengucapkan selamat tinggal?” tanya Yun Ho. Para nggota OSIS mengangguk. “Baiklah kalau begitu buka gerbangnya.” perintah Yun Ho

Salah seorang Juhseung Chasa membaca mantra. Perlahan sebuah sayatan terlihat di udara. Sayatan itu melebar hingga membentuk sebuah lubang tak berdasar di udara. Angin di dalam bergejolak dan bertiup keras.

“Min Young-a saatnya kita berpisah. Kami akan berusaha untuk segera terlahir kembali. Kita akan bersama lagi saat itu.” kata Su Ho. Min Young menangguk. Dia memasakkan diri tersenyum saat atir mata menaglir deras.

“Kyu Hyun-a, jagalah Min Young. Kami tidak akan tinggal diam jika kau menyakitinya.” pesan Kris. “Tidak akan.” kata Kyu Hyun. Lalu anggota OSIS masuk ke lubang itu satu per satu. Mereka mengucapkan salam perpisahan pada Min Young setiap melewatinya. Membuat air mata Min Young mengalir semakin deras.

“Aku pergi dulu. Makananmu sangat enak. Kau harus membuatnya lagi saat nanti kita bertemu.” kata Tao lalu berjalan ke arah lubang. “Se Hun-a, biarkan aku mennggantikanmu nanti.” kata Kyu Hyun. “Mwo?” tanya Se Hun dan Min Young bersamaan.

“Mereka tidak akan peduli siapa yang memasuki gerbang. Asal para juhseung chasa itu bisa menyerahkan 12 roh ke hadapan Yeom Ra, mereka tidak akan protes. Lagi pula umur roh kita juga sama. Kita sama-sama berasal dari 1900 tahun yang lalu.”

“ Sudah kukatakan aku tidak akan membuat Min Young bersedih. Hanya kau yang bisa membuatnya bahagia, bukan aku. Tetaplah bersama Min Young. Buatlah dia bahagia.” tambahnya saat melihat wajah terkejut Se Hun.

“Min Young-a, saranghae. Aku akan selalu mencintaimu. Selamanya. Uljimma, kita pasti akan segera bertemu. Aku sudah melihat masa depan yang menarik saat kita kembali dari masa lalu. Tunggulah sebentar, aku dan juga anggota OSIS yang lain akan segera terlahir kembali.” kata Kyu Hyun sambil memeluk Min Young.

“Kyu Hyun-a. Gomawo. Mianhae, aku selalu saja menyakitimu.” isak Min Young, membalas pelukan Kyu Hyun. Se Hun tidak memisah mereka. Dia sangat berterima kasih kepada Kyu Hyun. Kyu Hyun lalu melepaskan pelukannya.

“Gomawo. Aku akan menjaganya dan membuatnya bahagia.” kata Se Hun. Dia menepuk pundak Kyu Hyun. Kyu Hyun tersenyum dan memeluk singkat Se Hun.

Kai baru saja memasuki gerbang dan disusul oleh Kyu Hyun. Jun Su, Chang Min, dan Jae Joong membelalakan mata saat melihat bukan Se Hun yang selanjutnya akan masuk. “Ternyata dia memilih seperti itu.” gumam Yoo Chun.

“Apa kau tidak masalah menggantikan orang itu untuk menuju dunia bawah? Kau bisa hidup bahagia bersama orang yang kau cintai.” kata Juhseung Chasa. “Jika aku bahagia berarti orang yang kucintai tidak akan bahagia. Lagi pula sebentar lagi aku akan mendaptkan kebahagianku.” jawab Kyu Hyun.

Kyu Hyun melihat ke arah Min Young. Dia melambaikan tangan sambil tersenyum sebelum menghilang ke balik lubang. Para Juhseung Chasa ikut masuk ke dalam lubang lalu gerbang itu tertutup. Angin kembali tenang dan suasana kembali hening.

“Kami juga harus kembali ke kerajaan langit. Tugas kami sudah selesai. Min Young-a terima kasih atas bantuanmu. Dan Se Hun, kuharap kau tidak menggunakan kekuatanmu untuk hal-hal yang tidak baik. Aku harap kalian bisa hidup bahagia setelah ini.” kata Yun Ho.

Min Young mengangguk. “Kamsahmnida. Aku tidak akan melupakan sunbae-deul.” kata Min Young. Mereka tersenyum lalu menghilang. Meninggalkan Se Hun dan Min Young sendirian di gudang yang suram itu. Tercabik antara perasaan bahagia dan sedih.

****

EPILOG

Seoul, 2024

10 tahun berlalu sejak hari itu. Kehidupan berjalan damai dan bahagia. Tidak ada yang mengingat para anggota OSIS juga Kyu Hyun. Seakan-akan mereka tidak pernah ada di dunia ini sebelumnya.Bahkan keluarga mereka juga tidak ingat.

Se Hun dan Min Young melanjutkan kehidupan mereka. Belajar, lulus dari SMA, melanjutkan studi di perguruan tinggi, kemudian wisuda. Mereka hidup sebagai manusia biasa. Tapi mereka tidak pernah melupakan anggota OSIS dan juga Kyu Hyun. Hanya mereka yang mengingat keberadaan anggota OSIS dan Kyu Hyun di dunia ini.

“Ji Hun! Kau belum memakai seragam! Kembali! Hya Se Hun tangkap anak itu!” seru Min Young. Hanya dengan satu tangan, Se Hun bisa menggendong Ji Hun. “Aiggo, kau membuat marah eommamu lagi. Nanti kau tidak dibuatkan bekal.” kata Se Hun.

3 tahun yang lalu Se Hun dan Min Young menikah. Tidak lama kemudian Oh Ji Hun lahir. Wajah dan perwakannya mirip dengan Se Hun. Hanya matanya yang mirip dengan Min Young. Sekarang dia sudah berumur 3 tahun dan bersiap masuk ke taman kanak-kanak.

“Anak itu nakal sekali. Mirip denganmu. Kau saja yang memakaikan seragam. Aku akan menyiapkan sarapan.” kata Min Young. Se Hun hanya tersenyum lalu mengecup singkat bibir Min Young. Wajah Min Young kembali memerah. Dia pergi sambil menggumam “Ayah anak sama saja.”

Se Hun lalu berjalan ke kamar Ji Hun. Dia menurunkan Ji Hun. “Kenapa kau suka sekali membuat eommamu marah? Padahal dulu kau begitu mencintainya.” gumam Se Hun. Dia melihat tanda lahir di bahu kiri Ji Hun. Tempat yang sama persis dengan luka Kyu Hyun saat bertarung melawan Mundeok.

Saat pertama kali melihat Ji Hun, Se Hun langsung tahu bahwa itu adalah Kyu Hyun. Seuatu dalam dirinya mengatakan itu adalah Kyu Hyun. Ditambah dengan tanda lahir mirip cakaran yang adai di bahu kiri Ji Hun, Se Hun semakin yakin bahwa Ji Hun adalah Kyu Hyun.

“Se Hun, ppaliwa. Makanan sudah siap.” seru Min Young dari arah dapur. “Ne, chakamanyeo.” balas Se Hun. Se Hun segera memakaikan seragam ke Ji Hun. “Jja, anak appa sudah tampan. Kau ke eomma dulu. Nanti appa menyusul.” kata Se Hun.

Ji Hun mengangguk lalu segera berlari ke Min Young. Se Hun tersenyum melihat Min Young menggendong Ji Hun dan mengecup pipi Ji Hun. Min Young tidak tahu bahhwa Ji Hun adalah Kyu Hyun. Se Hun tidak menceritaknnya. Biarlah ini menjadi rahasianya saja.

Takdir. Sebuah kata yang unik. Bagaimana takdir berjalan tidak bisa ditebak. Orang yang dulu paling dibencinya berubah menjadi temannya lalu menjadi anaknya. Putri yang dulu ia selalu lindungi dan tidak pernah terlintas untuk memilikinya sekarang menjadi istrinya.

Se Hun melangkah mendekati Min Young yang sedang menggendong Ji Hun. Dia tidak meyesal dengan semua yang terjadi. Se Hun bahagia dengan kehidupannya sekarang.

Se Hun menarik Min Young dan Ji Hun ke dalam pelukannya. “Saranghae. Yeongweonhi..”

END

Kyaaa akhirnya end juga. Sumpah author bingung untuk akhirnya. Hope u like it. Menurt kalian bagian mana yang harus ditambah atau dihilangkan? Author tunggu pesan dan kesannya tentang ff ini. Thx for reading. Palagi yang udah komen dan baca hingga akhir ^^

113 tanggapan untuk “The Princess & The Knights (Chapter 11-END + Epilog)”

  1. Author gak bakal bikin sequel tentang member EXO lainnya..?? 😥 Padahal aku pengen tau kehidupan mereka yang selanjutnya..
    Sebenernya udah lama aku baca ff ini (tahun 2015) tapi sampe sekarang masih keinget adegannya.. Paling gak bisa hilang itu ya adegan perpisahannya.. 😭 Sedih banget..

  2. Wah fanficnya daebak ….Kerennnnnnnnn banget. Tapi sayang bngt udah happy ending aja padahal pengen benget Lihat kehidupan member lain gimana yng katanya terlahir kembali…..

    JJang deh Ffny… 🙂

  3. ceritanya bgs lucu, romantis, sedih mengharukan. harusnya anak sehun n min young iyu yeoja aj biar bkn kyuhyun jdi biar anak mreka bs pcran ma kyuhyun yg trlhir kmbali, hehehe… ditnggu crita2 yg lain thor usul main castnya Kris wu please . xie2

  4. Kyaaa! Aku new reader loh.. Endingnya nggak ketebak oleh ku.. Feelnya juga ngena banget sampe aku bener-bener netesin air mata loh.. SUGOI AND DAEBAK

  5. Huaaa thorr keren daebaakk(y)
    Ngena banget feelnya dapet, fantasnya? Bener2 fantasy bangett…..
    Tapi ada yg kurang thorr, ke 11 anggota osisnya jugaa di adain jugaa biar happy endingnya berasa hehe
    Ditunggu extra story + sequelnya secepatnyaa!:D yaa thor semoga ke 11 pangen gantengnya(osis) di adain…
    tetep semangaat thor bikin ff fantasy yg lain lagi hehe keep wraiting and hwaaitinggg (ง’̀⌣’́)ง

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s