Everything Has Changed (Chapter 13)

Everything Has Changed 4

Everything Has Changed

[ Chapter 13 | Romance, School life | General ]
with Kim Jongin,
Oh Sehun,
and OC Jung Yunhee as the main cast

by

Eunike

[ I own only the story. A big thanks to Tazkia (SpringSabila) from Cafe Poster for the awesome poster! Love yaa 😀 ]

Series : Prolog + Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 |  Chapter 5 |  Chapter 6 | Chapter 7 | Chapter 8 | Chapter 9 | Chapter 10 | Chapter 11 | Chapter 12 | Chapter 13

***

“Aku ingin menjadi bintang. Walau cahayaku meredup di balik awan, tapi aku akan tetap ada di sana; menemani setiap langkahnya dan memastikan tidak ada cela yang menyusup.”

***

CHAPTER 13

Jarum jam yang berotasi agak-agaknya sudah berbalik arah. Semuanya terasa salah bagi Yunhee. Napasnya begitu sesak, melimitasi setiap tarikan napas yang berusaha dihelanya.

Mungkin akibat tidak mengonsumsi obat, pikir Yunhee. Seharusnya hari ini ia harus kembali ke rumah sakit untuk mengambil obat sebelum jantungnya kembali berulah seperti kala itu. Yah, memang ini satu-satunya cara untuk membuatnya terus bertahan hidup. Yunhee tidak bisa menolak, atau hidupnya akan benar-benar di ambang batas.

Tapi tunggu, bukan ini yang menjadi masalah besar bagi Yunhee. Sesuatu yang mengganjal hatinya terasa begitu nyata. Sesuatu yang—entahlah. Bahkan dirinya tidak mengerti perasaan apa yang menguasainya saat ini.

Setelah beberapa detik terdiam di atas ranjang, akhirnya Yunhee memutuskan untuk bangkit berdiri. Merenggangkan tubuhnya sejenak sambil kembali mencoba menarik napas panjang, yang akhirnya malah membuat dada kirinya semakin sesak.

Yunhee memejamkan mata sejenak berusaha melipur rasa pilunya. Tungkai kakinya perlahan terayun dengan sedikit tertatih, keluar dari kamar Jongin, lanjut menuruni tangga penghubung menuju lantai bawah.

Iris coklatnya langsung bersirobok dengan milik Jongin yang ternyata tengah menatapnya dengan senyum simpul yang terlihat sedikit canggung, mengiringi langkah Yunhee menuju ruang makan tempatnya berdiri.

“Selamat pagi,” Jongin menyapa lebih dulu.

“…pagi, Jong…. Maaf aku bangun terlambat.”

“Tidak masalah, ehm—Ada apa denganmu?”

Gadis itu menangkat sebelah tangannya dan mengibaskan di depan wajah, seolah menandakan bahwa dirinya tidak apa-apa. “Hanya kelelahan,” ujarnya singkat.

Jongin merengut tidak percaya.

“Wajahmu sedikit pucat, Yun. Yakin hanya kelelahan?”

Sekali lagi, Yunhee kembali menyangkal. “Aku tidak apa-apa…, sungguh.”

Mereka terdiam cukup lama; memandang satu sama lain; mencoba meyakinkan hati masing-masing. Mungkin kondisi Yunhee memang sedang tidak dalam kondisi baik, tapi setidaknya ia masih bisa memaksakan seulas senyum dan mencoba melipur perasaan khawatir yang terpancar jelas dari mata Jongin.

Tak ayal, suara denting porselen yang terdengar samar dari dapur sedikit banyak mengalihkan perhatian mereka. Yunhee kembali tersenyum tipis dan menatap Jongin sekilas sebelum akhirnya melangkah menuju dapur sambil berujar pelan, “Mungkin ibumu butuh bantuan, Jong.”

Yunhee segera menghampiri Nyonya Kim yang tengah menyusun mangkuk dan sendok di atas meja makan; membantu menuangkan air mineral ke gelas-gelas yang sebelumnya sudah diletakkan rapi di samping garpu oleh Nyonya Kim.

“Kau benar tidak apa-apa, Yun?” Suara Nyonya Kim memecah kecanggungan. Lontaran pertanyaannya yang konstan membuat Yunhee sedikit jenuh. Tapi ia tidak punya pilihan lain selain mengangguk meyakinkan dan bertingkah seolah dada kirinya yang berdenyut semakin pilu bisa disebut ‘baik-baik saja’.

“Aku tidak apa-apa. Memang selalu begini setiap kelelahan, tidak perlu khawatir.”

“Kau tahu, tangan kami akan selalu terulur setiap kau butuh bantuan. Tidak usah sungkan-sungkan.” Nyonya Kim menghentikkan pergerakannya sebentar dan beralih menatap Yunhee. “Kau tidak bisa seperti ini terus, ‘kan? Sesekali kau harus keluarkan semua unek-unekmu.”

Yunhee terdiam sejenak. Lamat-lamat matanya beralih menatap sendok di samping jemarinya, mengamati bayangan dirinya yang terpantul di atas garis cembung. “Aku mengerti. Terimakasih—akh!”

“Yunhee?!”

Tubuhnya tiba-tiba limbung seiring jantungnya yang semakin berulah. Yunhee mencoba menopang tubuhnya dengan sebelah tangan di atas meja, tapi seluruh ototnya serasa lemas dan keseimbangannya menguap entah ke mana.

“Jongin! Kemari cepat!”

Pintu dapur tersentak kasar disusul dengan wajah Jongin yang khawatir bukan main. Buru-buru ia menahan pundak Yunhee. “Apanya yang tidak apa-apa, hah?!” serunya langsung.

“Jongin, bukan saatnya untuk marah.”

“Kau bilang ‘baik-baik saja’, sampai kapan kau mau terus—”

“Jongin!” Mata Nyonya Kim memicing cemas, bercampur heran melihat anaknya yang malah menggerutu. “Kau ini benar-benar. Aku akan menyiapkan mobil dan—”

“H-Hei!” Atensi Jongin kembali terarah ke gadis di dekapannya yang kini sudah kehilangan kesadaran. Keringan dingin membanjiri tubuhnya tak tanggung-tanggung, tangannya yang gemetar serta pikiran-pikiran buruk yang mulai menggelentam di benaknya berhasil mendestabilisasi kerja otaknya.

“—aku akan bergerak cepat,” lanjut Nyonya Kim sekenanya dan langsung berlari ke luar dapur seraya melepas celemek; melemparnya asal ke atas meja makan; dan menghilang di balik pintu.

“Sialan.”

***

Jongin tidak bisa berhenti membiarkan tungkai kakinya terus berbolak-balik di koridor rumah sakit. Kesepuluh jemarinya saling meremas, mencoba mengabaikan rasa khawatir yang mendominasi alam pikirnya. Mungkin ini memang tidak waras, tapi ia benar-benar takut kehilangaan. Ia takut kehilangan orang yang—

“Kim Jongin!”

Panggilan lantang dari ujung lorong berhasil mengalihkan perhatiannya. Jongin melepas tautan tangannya dan mencoba menetralkan wajahnya yang kelewat tegang. “Oh, kau datang.”

Keadaan Sehun tidak jauh beda dengannya; sama-sama tegang; sama-sama cemas, tanpa berusaha menyangkal. Jongin menyilangkan kedua lengannya di depan dada dan melirik pintu berwarna putih tulang di sampingnya. “Ia masih di sana,” ujarnya rendah.

“Apa kata dokter?”

“Tidak tahu.”

Terdengar hela napas dari Sehun, entah itu kecewa atau gusar Jongin tidak terlalu ambil pusing. Mulutnya sudah tidak sabar untuk terus memendam pertanyaan yang sedari tadi ingin di utarakannya cepat-cepat. “Kau tahu dari mana gadis itu memiliki—ehm—lemah jantung?”

Sehun melirik Jongin sekilas. “Aku memergokinya tengah mendapat serangan,” jawabnya sambil menjatuhkan diri di atas kursi ruang tunggu. “Awalnya hanya sebuah ketidaksengajaan. Kau ingat hari ketika aku mendatangimu ke rooftop?”

Jongin terdiam.

“Sebenarnya sejak saat itu aku sudah mulai merasakan keganjilan darinya. Ia tiba-tiba saja jatuh, memegangi dada kirinya dengan napas tersenggal. Saat itu aku panik dan satu-satunya pikiran yang melintas di benakku adalah bagaimana aku bisa membantunya.” Ia terdiam sejenak dengan irisnya yang masih terpaku di antara sususanan lantai. Perlahan-lahan tatapannya bergulir ke arah Jongin, melempar seulas senyum ganjil yang tidak dimengertinya. “Awalnya aku mengira semuanya terjadi hanya karena rasa tanggung jawab; aku satu-satunya yang berada di sana, maka akulah yang harus menolong. Bukankah begitu?”

Sehun terkekeh sumbang, menertawakan dirinya yang terlihat begitu bodoh.

“Tapi belakangan kusadari, kalau ini bukan sekedar rasa tanggung jawab…

…tapi aku mencintainya. Lebih dari aku mencintai diriku sendiri, Jong.”

Lagi-lagi jantungnya terasa seperti berhenti berdetak. Jongin menatap Sehun tidak percaya, tangannya mengepal erat dengan rahangnya yang mengeras kuat. Ia ingin menyahut, tapi lidahnya kelu. Semua rangkaian kalimat yang terangkum menggantung di atas langit-langit, menyekap mulutnya dengan kebisuan.

“Aku pasti sudah gila,” bisik Sehun nyaris tidak terdengar.

***

Saat itu ibu Jongin sudah kembali, duduk di samping Jongin yang selama beberapa waktu terakhir terus mencuri pandang ke arah Sehun yang kerasan bergeming. Atmosfir menjadi canggung tatkala tidak ada satu pun di antara mereka yang sedia mengambil suara. Sehun menghela napas panjang, menyenderkan punggungnya ke dinding putih pucat di belakang.

Baru saja ia hendak bergumam menggerutu ketika tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan seorang dokter berperawakan lumayan tinggi muncul dari balik pintu. Sehun tersentak, lantas berdiri dengan sigap dan tersenyum tipis.

Hyung?”

Jogin ikut berdiri, disusul ibunya yang bereaksi paling akhir.

“Ternyata itu kau,” Sehun berjalan mendekati Luhan dan menatap pemuda itu sungguh-sungguh. “Bagaimana keadaannya? Dia baik-baik saja?”

***

“Dengar, Sehun. Aku tidak bisa memberitahu kondisi pasien selain kepada walinya.”

“Tapi bagaimana—aish. Hyung, ibunya sedang di Busan dan ayahnya sudah cerai!” Sehun meninggikan suaranya. “Apa yang mau kauharapkan dari mereka? Percuma saja, Hyung. Ayolah.”

“Aku tetap tidak bisa, Sehun.”

Hyung!”

Luhan memejamkan matanya mencoba melepas emosi yang terkumpul setelah mendengar rujukan Sehun selama beberapa menit terakhir. Pelipisnya terasa berdenyut. Untung saja ia masih bisa mengendalikan amarah sehingga tinju belum melayang ke wajah lelaki di hadapannya.

“Sudah kubilang aku tidak bisa, Sehun. Kau berniat memecahkan kepalaku, hah?”

“Tapi Hyung, dia—”

“Berhenti mengulang informasi yang sama, aku mengerti, sangat mengerti malah. Orangtuanya cerai, ibunya pergi ke Busan dan ayahnya entah ke mana, oke. Aku tahu itu, tapi aku tetap tidak bisa. Aku—tidak, tidak, Sehun. Jangan bicara dulu, aku belum selesai. Aku mengerti perasaanmu tapi kumohon tahan emosimu yang berlebihan. Mau kaumaki berapa orang, hm? Tarik napas, hembuskan. Kau seperti banteng yang hendak menyeruduk setiap manusia, tahu?”

Sejemang angin berhembus. Kicau burung yang singgah di taman belakang rumah sakit sayup-sayup terdengar ketika keduanya sama-sama terdiam setelah beradu mulut.

Sehun menggigit bibir bawahnya.

Hyung..., please.”

Sepertinya nasihat Luhan tidak berpengaruh banyak bagi Sehun. Lelaki itu tetap bersikeras untuk memberitahu keadaan Yunhee yang kebetulan merupakan pasiennya. Lagi, ia mengoceh ini dan itu yang sebenarnya tidak perlu Luhan ketahui, sebab sebagian besar merupakan hal yang sama dengan yang Sehun ucapkan beberapa saat lalu.

Muak? Tentu. Tapi Luhan tidak tahu harus menjawab dengan model apa lagi jika Sehun sudah seperti ini. Ternyata selain love is blind, people can blinded by love too. Damn. Luhan nyaris lupa fakta memuakkan tersebut.

“Bisakah kau berhenti merajuk? Masih ada pasien yang harus kutangani. Aku tidak mau dipecat bahkan sebelum resmi menjadi dokter.”

Sehun mendengus pelan. Sepertinya hanya akan percuma. Ia menatap Luhan sekilas dan beralih menatap rerumputan di bawah sepatunya. “Lemah jantung…, separah itukah?”

“A-Apa?” Luhan yang sudah hendak beranjak dari taman terhenti langkahnya.

“Separah itukah… lemah jantung yang dideritanya?”

Sebagai dokter, Luhan tidak tahu harus menjawab apa. Ia terdiam sejenak lalu tersenyum tipis mendapati tatapan Sehun yang begitu sayu. Perasaan lelaki itu begitu dalam, jauh berbeda dengan saat-saat ketika lelaki itu masih mengharapkan Jiae.

Kali ini Luhan sadar, Sehun tidak mau kehilangan lagi.

“Semua akan baik-baik saja, Sehun. Jangan berpikir yang buruk-buruk. Jangan sakiti dirimu lagi…,” Luhan menepuk pundak Sehun, mengangkat tatapannya yang sedari tadi terus menyorot rendah. “Pasti ada jalan keluar, dan semuanya akan baik-baik saja. Percayalah.”

Tangan Sehun yang semula terkepal perlahan melemah seiring dengan iris kelamnya yang bersirobok dengan iris cokelat Luhan. “Kau yakin?”

“Tentu.”

Sehun menarik salah satu sudut bibirnya ke atas. “Kuharap benar begitu…

…kuharap bahkan setelah orangtua kami sama-sama bertunangan, semuanya akan tetap baik-baik saja.”

Suaranya begitu lirih, tapi Luhan bisa mendengar. Ia terpaku barang sejenak.

Luhan terkejut bukan main, sebab untaian kata yang terlontar dari bibir Sehun menyirat pukulan telak yang begitu menusuk. Meninggalkan seribu tanya di benaknya, yang bahkan tidak satu pun bisa terjawab. Sampai akhirnya Sehun lebih dulu bernajak dari taman, meninggalkannya yang masih terdiam.

***

Bau disinfektan begitu menusuk indera penciuamannya begitu Yunhee berangsur membuka mata. Pupilnya menyipit barang sejenak lantaran sinar lampu yang berlomba-lomba masuk ke retina. Putih polos menjadi hal pertama yang terlihat, membuatnya tersadar bahwa ia tengah berada di rumah sakit.

“Jongin?” Suara parau Yunhee langsung menyambut begitu derit pintu tertutup terdengar; disambut dengan gemeletap langkah kaki yang berangsur menjelas. Ia menoleh, mendapati Jongin yang tengah berdiri di sampingnya dengan tangan menyentuh sisi ranjang.

“Kau membawaku ke sini?”

“Hm.”

“Sudah kubilang aku baik-baik saja, kenapa—”

“Ssst, tubuhmu masih lemah.”

Yunhee merengut pelan dan mencoba bangun, tapi Jongin buru-buru menahan pundaknya dan menggeleng tidak setuju. “Kau mau ke mana?”

“Ibuku sudah datang?”

Jongin terdiam sejenak lalu menghela napas panjang. Tangannya yang semula bertumpu pada sisi ranjang sedikit-sedikit tertarik kembali. “Sudah, beberapa menit yang lalu.”

“Benarkah?” Tak ayal mata Yunhee membulat, antara senang dan tidak percaya, ia menghela napas lega. “Aku ingin bertemu dengannya”

Saat itu juga pintu terbuka, disusul dengan ibu Jongin yang tersenyum ramah ke arah Yunhee. “Wah, Yunhee. Kau sudah baikan?”

“Hm, ya. Terimakasih, Nyonya Kim.”

“Tidak masalah, Yunhee. Ehm itu, ibumu sudah datang, baru saja tiba.”

Gadis itu tersenyum tipis sambil mengalihkan pandangannya ke arah seorang wanita yang berdiri di dekat pintu. Rasa rindu yang membuncah hatinya mendorong Yunhee untuk tersenyum lebih lebar, melupakan rasa nyeri yang sesungguhnya masih tersisa. “Eomma…, apa kabar?”

Entah berapa lama mereka saling bersitatap, menyelami retina masing-masing dalam diam hingga akhirnya tinggal mereka berdua di sini. Ibu menghampiri Yunhee dan berbisik pelan, “Kau baik-baik saja?”

“Tentu, Eomma.”

Yunhee menggenggam tangan ibunya erat, mengusap punggungnya lembut sambil tetap melepas senyum. “Eomma ke mana saja? Kenapa tidak ada kabar?”

Eomma tidak ke mana-mana, Yun.”

Gadis itu menunduk menatap seprai polos di atas tubuhnya sebentar sebelum akhirnya kembali menatap ibu dengan sayu. “Eomma tidak ingat ulang tahunku?”

“A-Apa?”

“Hahaha, tidak apa-apa, Eomma. Tidak usah seterkejut itu,” Yunhee memaksakan kekehan paraunya di antara sesak yang kembali hadir di dada kirinya. “Aku tahu Eomma pasti sibuk, ‘kan?

“A-Aku tidak…,” omongan ibu terputus, ia kehabisan kata-kata. Iris cokelat Yunhee yang balas menatapnya terasa begitu polos, membuatnya semakin tertekan. “Maafkan aku.”

Yunhee mengedikkan bahunya ringan, seolah bukan masalah besar. “Tidak apa-apa. Aku mengerti.”

Lagi-lagi keheningan kembali mengudara. Ibu bungkam di samping Yunhee, melirik putrinya diam-diam tanpa berani mengutarakan apa yang hendak disampaikan. Detik jam berirama konstan yang mengiringi deru napasnya sedikit banyak membuat jenuh, hingga akhirnya ibu menghela napas panjang dan berujar pelan di antara gugup, “K-Kau.. sudah tau, Yun?”

Alis Yunhee melejit tidak mengerti, “Tahu apa, Eomma?”

“Tentang ayahmu.”

Seketika bibirnya kembali menjadi kelu. Yunhee terpaku sejenak dengan iris yang masih bersirobok dengan milik ibunya dalam geming. Bahkan bernapas saja terasa sulit tatkala ekspresi ibu yang terbaca nyatanya begitu pilu dan menyakitkan.

“Tidak perlu ditutupi lagi, Yun. Ayahmu sudah cerita padaku.”

Kepalanya menunduk dalam, meremas ujung seprai kuat-kuat sambil berusaha menahan emosinya. Ketika kejadian semalam kembali terlintas, lagi-lagi air mata di ekor matanya mengancam turun.

Eomma sudah tahu?” tatapannya berubah tanya, tapi detik berikutnya Yunhee kembali menunduk dan tersenyum tipis. Ekspresi ibu sudah menjawab semuanya. “Sejak kapan?”

“Sejak—” sedikit berat bagi ibu untuk melanjutkan. Bibirnya bergetar begitu ia mencoba melanjutkan dengan suara rendah, “Sejak kakakmu pergi.”

Dan semuanya terasa lebih sesak dibanding sebelumnya. Yunhee memejamkan mata lalu mengendurkan kepalan. Tentang ibu yang sudah menahan semuanya sejak lama; pun bertingkah seolah tidak ada apa-apa di antara mereka; membuat Yunhee semakin sakit.

Menyalahkan diri sendiri mungkin memang bukan hal yang seharunya ia lakukan, tapi kali ini ia benar-benar membenci dirinya sendiri.

Kenapa ia tidak pernah sadar akan hal ini?

Kenapa tidak pernah sekalipun ia bertanya alasan ibu menangis tempo hari?

Atau menyadari kepalsuan yang ada di balik senyum ibu?

Yunhee merasa bodoh.

Bodoh karena tidak pernah peka dengan orang-orang yang disayanginya.

Hidupnya memang tidak berarti, bukan begitu?

Ia kembali tersenyum miris, membiarkan air mata di sudut matanya perlahan-lahan jatuh tanpa bisa ditahan. Semuanya terasa percuma. Hidupnya, pun kehadirannya di dunia.

***

Sehun tidak berniat untuk datang ke ruangan di mana Yunhee dirawat. Tungkainya tidak sanggup kalau harus melangkah masuk, membiarkan irisnya bertemu dengan milik Yunhee, dan bertingkah sebagaimana tidak terjadi apa-apa di antara mereka. Setidaknya sampai besok; atau beberapa saat lagi; ketika masing-masing sudah bisa menerima keadaan dan meyakinkan diri bahwasanya semua akan baik-baik saja.

Termasuk ketika kelak mereka menjadi saudara.

Sehun mendesah pelan dan menyenderkan punggungnya di sandaran kursi tunggu rumah sakit. Sebagian dari dirinya merasa tidak rela jika ia harus bersaudara dengan orang yang dicintainya. Tapi sebagian dari dirinya yang lain merasa harus menerima semua apa adanya, kendati kenyataan yang selama ini bersembunyi baru saja terungkap, tapi Sehun belum sanggup meyakinkan dirinya sendiri.

Gadis itu menyukai Jongin, benar begitu? Gadis itu mencintai sahabat kecilnya yang sudah merawat ia sejak kecil. Dan Sehun hanya orang lain; yang datang secara tiba-tiba; lalu menghancurkan rajutan kisah di antara keduanya. Bukankah begitu kenyataan yang sebenarnya tengah bertaut kini?

“Oh Sehun?”

Tidak berniat menoleh sama sekali, Sehun hanya mengangkat wajahnya sedikit dan berdeham pelan. “Kau sudah menemuinya?”

“Hm.”

“Bagaimana keadaannya?”

Jongin merengut pelan sambil mengacak rambutnya frustasi. “Kenapa sih kau tidak mendatanginya sendiri? Bukankah kau mencintainya?”

Sehun terkekeh pelan lalu menegakkan tubuhnya. “Yunhee pasti akan senang jika orang yang dicintainya yang datang, ‘kan?”

“Apa?” Kali ini Jongin yang semula hanya menatap lurus langsung menoleh ke arah Sehun. Sebelah alisnya terangkat tidak mengerti. “Maksudmu?”

“Dia pasti kesal jika orang yang dibencinya yang datang. Karena itu aku—”

“Kau gila, ya?”

Sehun kembali terkekeh. “Aku hanya sedang membicarakan fakta, Jongin.”

“Kalau begitu kau benar-benar gila.”

“Apanya?”

Jongin mendecih tidak percaya lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Sehun yang duduk di samping dengan kilat emosi. “Kau ini bodoh atau berpura-pura bodoh? Jangan dungu, Sehun. Jelas-jelas dia menyukaimu, goblok sekali sih kau ini? Ada apa dengan otakmu itu, hah?” Jongin tidak tahan lagi untuk tidak menyemburkan semua amarahnya saat ini juga. Jelas-jelas lelaki di hadapannya ini butuh pukulan telak.

“Selama ini kau yang terus di nomor satukan, tahu? Kau tidak tahu berapa kali ia mengecek ponsel ketika kami makan malam bersama hanya untuk mengecek pesan darimu?! Kau tidak tahu berapa kali ia menyebut namamu bahkan di alam bawah sadar?! Kau yang terus berada di benaknya, Hun. Bahkan ketika aku menci—shit.”

Damn you, Jongin. Bisa-bisanya salah omong.

Sehun langsung menoleh dan menatap Jongin sangsi. “Kau gila?” ia berbisik lantaran seorang perawat tengah menyebrangi koridor. Mereka terdiam selama beberapa saat sampai lorong kembali kosong, dan Sehun langsung menyergap Jongin dengan berbagai pertanyaan. “Kau menciumnya? Benar-benar menciumnya? Kau sedang bercanda ‘kan? Kenapa kau melakukannya?”

Kepala Jongin seketika terasa pening dan pelipisnya berdenyut tak keruan. “Tenangkan emosimu, duh. Kenapa sih kau ini selalu berapi-api?”

“Gila. Justru sedari tadi kau yang berapi-api, ‘kan? Bodoh,” umpat Sehun sambil membuang pandang dan memutar bola matanya jenuh. “Cepat katakan padaku kalau kau barusan bercanda.”

“Aku tidak sedang bercanda, astaga Sehun. Kenapa pula kau lebih mementingkan yang terakhir? Kau tidak dengar ucapanku yang sebelumnya?”

Sehun terdiam, sibuk mengingat-ingat apa yang sebelumnya diujarkan Jongin.

“Kau tidak bisa menarik kesimpulannya? Dia menyukaimu. Maaf, tapi aku lebih suka kata ‘menyukai’ dibanding ‘mencintai’ jadi ehm—

—bukan berarti aku menyerah, Hun.” Jongin membiarkan Sehun memandangya lama-lama sebelum akhirnya bangkit berdiri dan melesakkan tangannya ke dalam saku ketika sebuah panggilan masuk ke ponselnya. “Halo?”

Sehun menghela napas panjang dan menggulirkan bola matanya ke salah satu pintu di dekat persimpangan koridor.

“Oh, Hanna. Maaf tadi aku ada urusan mendadak dan—ehehe, tidak apa-apa. Tidak usah khawatir…. Hm, aku tahu. Baiklah. Aku? Sedang di rumah sakit—bukan, bukan. Bukan aku yang sakit. Ya, Yunhee. Apa? Dia sudah membaik kok, tenang saja. Kau ingin berkunjung? … Ahh baiklah kalau begitu, nanti kujempat ya? Baiklah. Pulang sekolah ‘kan?”

“Oi, Jongin,” Sehun menyela percakapan Jongin di ponsel, menarik perhatian lelaki itu yang langsung bergumam sebentar dan menatapnya dengan kedua alis terangkat.

“Aku pergi.”

“Kau tidak mau ber—”

“Lain kali saja. Sampai jumpa, Jong.”

“Eh?” Jongin mengerutkan keningnya tidak mengerti. “Kenapa juga kau harus pamit denganku?”

“Hanya sebagai sopan-santun,” sahut Sehun yang sudah sampai di ujung lorong.

Jongin mendengus tidak mengerti lalu kembali melanjutkan koversasinya dengan Hanna. “Ya? Maaf tadi Sehun cari gara-gara, haha. Apa katamu tadi?”

***

Suara deru mesin mobil terdengar bising sekali. Percakapan dua orang yang tengah beradu mulut di kursi depan membuat telinganya jenuh. Suasana ini… bukankah ia pernah mengalaminya sebelumnya?

Yunhee memejamkan matanya lalu membuka lagi. Keadaan masih tampak sama. Seorang wanita dengan rambut lusuhnya yang digerai sebahu; duduk di kursi penumpang sebelah kanan, sedangkan seorang pria sipit yang tengah menyetir duduk di sebelah kiri. Mulutnya terus mengoceh, menyalahkan sang istri yang menurutnya salah dalam segala hal.

Tak ayal jeritan dan seruan terdengar, begitu memilukan sampai-sampai Yunhee harus menutup kedua telinganya. Air mata yang menyeruak keluar menyekap mulutnya yang hendak menyela, membuyarkan pikirannya yang geragap.

“Semua sudah terjadi, apa yang bisa kaulakukan? Tutup mulutmu saja mulutmu, Hyema! Kau tidak berhak mengatur suamimu!” suara berat si pria meninggi, menghardik wanita di sampingnya yang menatap balik dengan emosi meluap-luap.

“Hyungwan! Bagaimanapun dia anak kita, tidak seharusnya kita mengabaikan tanggung jawab!”

Kali ini tatapannya lepas dari jalanan lantas menatap sang istri dalam-dalam dengan matanya yang menyalang tajam. Gemeletuk gigi terdengar samar dari balik katup bibirnya, menandakan emosi yang sudah memuncak hingga ke ubun-ubun. “Ini tidak akan terjadi kalau kau mau menuruti kata-kataku, wanita brengsek! Kau ini benar-benar—”

“H-Hyungwan!”

“—dasar jalang. Maumu apa sih, hah? Sudah kubilang aborsi ‘kan, lihat akibatnya!”

“Hyungwan, perhatikan jalanan!” jerit si wanita; panik. Matanya melirik ke depan, mendapati sebuah truk besar yang melaju ke arah berlawanan. Sinar lampunya yang menyala begitu terang membuat ia harus memicingkan mata dengan tangan terkepal mencengkram seatbelt. Pikirannya tidak lagi terfokus dengan umpatan-umpatan yang dilontarkan untuknya ketika keringat dingin mulai mengucur deras.

“Dia hanya menjadi sumber masalah dan—”

“HYUNGWAN CEPAT PERHATIKAN JALANAN!” suaranya nyaris habis ketika teriakan entah keberapa melengos dari bibirnya yang bergetar.

“DIAM KAU DASAR JALANG TUTUP MULUTMU!”

“Hyungwan! aku tidak sedang berc—”

brakk!!

“Yunhee!!”

Dan semuanya menjadi gelap.

.

.

.

.

“…Yunhee…”

“Yunhee kau tidak apa-apa?”

“Yun-ah? Tubuhmu berkeringat.”

Suara lembut yang melantun pelan di telinganya berhasil menyentak Yunhee kembali ke realita. Matanya mengerjap lamat-lamat sebelum akhirnya menoleh dan mendapat Jongin tengah berdiri di sana; menatapnya dengan cemas. Belakangan Yunhee sadari bahwa tubuhnya berpeluh begitu banyak, dan napasnya tidak beraturan.

“Kau kenapa, hm? Mimpi buruk?” Jongin mengambil segelas air mineral dari atas nakas dan mengangkat punggung Yunhee untuk bangun dari rebahnya. “Ini, tenangkan dulu dirimu.” Sebelah tangannya terangkat untuk membantu Yunhee meneguk pelan-pelan.

“Aku mimpi buruk lagi, Jong. Mimpi itu datang lagi,” ujar Yunhee dengan suara gemetar samar. Tangannya masih menggegar ketika ia menyodorkan kembali gelasnya ke arah Jongin dan menunduk dalam. “Aku benar-benar tidak mengerti.”

Sinar rembulan yang diam-diam menelisik dari balik tirai sutra sedikit banyak menyinari wajah Yunhee. Gurat wajahnya terlihat begitu sulit dideskripsikan. Jongin berdeham pelan lalu bangkit berdiri, menyalakan lampu di sampingnya dan kembali duduk. “Ada apa? Ceriakan saja, Yun.”

“Kau tahu, masih sama seperti yang waktu dulu. Aku terjebak di dalam mobil, menjadi saksi pertengkaran suami-istri dan berakhir kecelakaan.”

“Mungkin kau sedang banyak pikiran. Bukankah begitu?” Jongin tersenyum tipis sambil mengusap puncak kepala Yunhee. Surai cokelat gadis itu menyapa lembut jemarinya yang menelisik halus, merapikan anak rambutnya yang berantakan. “Tidurlah lagi, aku masih di sini kok.”

Sebelah tangan Yunhee terangkat dan meraih milik Jongin yang masih mengusap kepalanya. Ia menggenggam tangan Jongin sebentar, lalu meletakkannya di sisi ranjang sambil tersenyum simpul. “Kau tidak pulang?” Yunhee melirik jam dinding di atas ranjangnya sekilas. “Sudah pukul sembilan malam, loh.”

“Aku menunggumu tidur.”

“Ah, begitu.”

“Hm. Makanya cepat tidur, biar aku bisa cepat pulang,” canda Jongin sambil terkekeh pelan dan kembali mengacak rambut Yunhee gemas.

Detik berikutnya keduanya kembali terdiam, entah untuk apa. Yunhee yang semula menahan lengan Jongin yang mengacak-acak rambutnya sedikit sedikit melepas dengan canggung, lalu tersenyum tipis. Tubuhnya kembali merebah lantas menatap plafon putih polos dalam geming. Tidak ada pergerakan, lagi-lagi hanya suara detik jam yang mengisi keheningan.

“Hm, selamat malam, Jong.”

Jongin menoleh dan menarik kedua sudut bibirnya ke atas, membentuk seulas senyum hangat. “Ya, selamat malam.”

***

Sehun masih kerasan berdiri di balkon bahkan ketika dinginnya malam mulai menggigit ujung jarinya. Ia perlahan-lahan menengadah menatap sinar rembulan yang menyorot ayu di antara terangnya cahaya kota. Bersinar lembut menyejukan hati, Sehun tersenyum tipis dan menunduk kegegapan malam di bawah sana.

“Sehun, kau belum mau tidur?” Suara Luhan terdengar dari balik pintu.

Ia membalikkan tubuhnya dan menatap Luhan yang tengah membawa dua cangkir coklat panas. Sehun patut bersyukur bisa menginap di tempat sobatnya dan mendapat tumpangan gratis, apalagi Luhan senantiasa menemaninya dan mendengar setiap keluh kesah yang kadang menyerempet menjadi makian tanpa destinasi jelas. Yah, setidaknya ia tidak harus menghadapi calon ayahnya yang brengsek, juga paman dan ibunya yang entah sudah berapa kali mencoba menghubunginya melalui panggilan ponsel.

“Kau masih kepikiran tentang itu?” Luhan ikut bersandar di susuran pagar pembatas, menyesap cokelatnya sejemang sambil menatap ke bawah dengan seulas lengkung di bibirnya.

“Tidak.”

“Lalu?”

Sayup-sayup angin akhir dari musim panas merengsek ke balik piyamanya, menyapa kulitnya yang seketika meremang bersama helaan napas. “Entahlah,” Sehun melejitkan bahunya, membiarkan kepulan uap dari secangkir cokelatnya mebubung melipur hawa dingin. “Aku ingin semuanya cepat-cepat berakhir.”

“A-Apa?” Luhan mengernyit tidak mengerti. “Apanya yang berakhir? Hidupmu?”

“Tentu saja bukan, bodoh,” gumam Sehun samar tanpa membalas tatapan Luhan yang mendelik tajam. “Maksudku, aku ingin semua permasalahan ini cepat-cepat berakhir. Terkadang rasanya mau mati saja.”

“Hei, kau tidak boleh seperti itu.”

“Itu karena kau tidak pernah berada di posisiku, tahu!” sergah Sehun kesal. Lama-lama berbicara dengan Luhan malah memubuat emosinya semkain meluap menjadi-jadi, dasar keparat. Ia mendengus kesal lalu menyenderkan tubuhnya di susuran pagar. Matanya menelisik langit kelam yang menaunginya dalam diam, lalu berujar pelan layaknya orang melantur. “Aku ingin menjadi salah satu di antara mereka, Hyung.”

“Apa yang kau maksud dengan mereka?”

Sehun tiba-tiba tersenyum tipis. “Aku ingin menjadi bintang. Walau cahayaku meredup di balik awan, tapi aku akan tetap ada di sana; menemani setiap langkahnya dan memastikan tidak ada cela yang menyusup.”

Entah harus tertawa atau terpingkal, tapi Luhan tidak bisa menahan geli ketika mendengar Sehun berujar laksamana seorang puitis yang sedang jatuh cinta. Ia menggigit bibir bawahnya dan menahan ledakan tawa dengan mati-matian, takut merusak suasana hati sobatnya yang kini beralih menatap cangkir di tangannya lamat-lamat.

“Jangan tertawa, Hyung.” Luhan tertangkap basah. “Kau hanya belum pernah berada di situasi sepertiku.” Ia mencibir kesal lalu menyesap cokelatnya sedikit-sedikit sambil berbalik menatap keramaian kota.

“Aku tahu, aku tahu. Oke, kuakui kau memang orang yang tegar, Hun.”

“Aku tahu.”

Baru saja Luhan hendak menyeruput minumannya ketika Sehun berkata seperti itu dan nyaris membuatnya mati tersedak. Maksudnya, hei, orang ini percaya diri sekali sih? “Demi Tuhan kau benar-benar harus mengatur kadar kepercayaandirimu, Sehun.”

“Yah, terserah apa katamu.” Sehun menggerutu sebentar lalu berjalan menuju pintu balkon sambil berujar, “Kau juga harus mengatur mulutmu itu untuk tidak terus-menerus ber-yo yo yo man dan menjadikannya kalimat sapa, tahu? Terkadang aku muak.”

“Ya! Oh Sehun!” Luhan berseru kesal ketika Sehun ternyata sudah sampai di dalam apartemennya dan menutup pintu rapat-rapat. “Dasar bocah itu benar-benar—aish. Apanya sih yang salah denan yo yo yo man? Kurang ajar.”

***

Kali ini ia datang lagi, untuk menjemput seseorang yang akhir-akhir ini rutin berlatih di salah satu gedung dekat rumahnya. Hanya berjarak beberapa blok, jadi tentu ia tidak merasa keberatan. Apalagi Jongin bisa sekalian berlatih untuk audisinya beberapa minggu ke depan.

“Kim Jongin.”

Namanya dipanggil di antara rentetan melodi yang bersenandung memenuhi ruangan. Jongin menoleh sedikit, lalu tersenyum kecil menatap Hanna yang menyudahi permainan bioalanya.

“Kenapa?”

“Sepertinya aku sudah selesai.”

“Baiklah, ayo.” Ia lekas bangkit berdiri tatkala Hanna masih kerasan bergeming dengan biola di sebelah tangannya. Jongin tidak terlalu menanggapi, ia langsung berjalan menuju pintu dengan tangan dilesakkan ke dalam saku, menunggu Hanna selesai membereskan bioalanya dan melangkah menyusul.

Tapi yang ditunggu tidak kunjung datang. Jongin menghela napas pendek lalu berbalik; dan malah mendapati Hanna yang menatapnya dalam diam.

“Hei, katanya sudah selesai?”

“Aku bilang sepertinya.”

Jongin terdiam menatap Hanna tidak mengerti. “Kau masih mau latihan?” lantas mengecek arlojinya sekilas. “Ini sudah hampir jam setengah sebelas, Na-ya.”

“Lalu?”

“Kau belum mau pulang?”

Hanna terdiam lalu menunduk menatap pantofel hitamnya. Matanya tidak bergerak selama beberapa saat dan terus terpaku, sampai akhirnya Jongin terpaksa menghampiri gadis itu dan menepuk pundaknya lembut.

“Ada apa denganmu Han—

—kenapa kau menangis?”

Hanna cepat-cepat mengangkat wajahnya lalu memicing kaget. “Aku tidak menangis.”

“Lantas?” Jongin bertanya dengan sebelah alis terangkat. Ia yakin bahwa barusan retinanya menangkap Hanna yang tengah mengusap air mata dengan ibu jari, tidak mungkin dia salah lihat ‘kan?

“Hanya sudah mengantuk, hehe.” Gadis itu segera membereskan biolanya serta kertas partitur yang berserakan di atas piano; memasukannya ke dalam tas lalu tersenyum tipis. “Ayo.”

“Kau benar sudah selesai?”

“Hm. Sudah. Ayo, aku sudah ngantuk berat, Jong.”

“Baiklah, baiklah, kalau itu maumu. Ayo.” Jongin berbalik lantas merajut langkah. Sebelah tangannya terulur memutar kenop pintu dan mempersilahkan Hanna keluar lebih dulu. Memastikan tidak ada yang tertinggal, Jongin berjalan menjauhi ruangan dengan Hanna yang berjalan dengan diam di sampingnya.

“Kau sudah makan?”

“Hm.”

“Mau langsung pulang saja nih?” Jongin memastikan, kali-kali ada tempat lain yang mau dikunjungi Hanna sebelum ke rumah. Tapi Hanna menggeleng pelan dan meyakinkan kalau kini tujuannya hanya rumah, berdalih kalau dia sudah mengantuk.

Tapi entahlah, Jongin merasa ada sesuatu yang disembunyikan Hanna. Sesuatu yang tidak Jongin mengerti.

***

“Nah, sudah sampai.” Jongin menghentikan laju mobilnya perlahan-lahan. Mereka sampai di depan pagar bercat krem kusam, dengan kotak pos yang berdiri di dekat gerbangnya. Rumah Hanna cukup minimalis dengan teras yang lumayan luas. Terkadang ketika fajar menyingsing atau ketika lembayung sore menggelayut di kaki langit, burung-burung gereja akan mampir di sana dan berkicau riang. Sesuatu yang jarang terlihat di perkotaan, bukan?

Jongin tersenyum kecil lalu menoleh menatap Hanna. “Kau tidak mau keluar?”

Gadis itu mencibir lalu menggulirkan pandangnya keluar jendela. “Terimakasih untuk tumpangannya hari ini, Jong.”

“Sama-sama.”

Hanna mengambil biolanya lalu membuka pintu mobil, tapi langkahnya terhenti begitu tungkainya memijak di atas tanah. Keningnya berkerut samar, menimbang-nimbang sesuatu dengan bibir mengerucut.

“Ada apa?” Jongin mencondongkan tubuhnya ke samping. “Ada yang tertinggal?”

“A-Ah, bukan.”

“Lalu?”

“Hm….”

“Ada apa, Hanna-ya?”

Hanna terdiam sejemang, lagi-lagi menunduk menatap pantofelnya. Sebelah tangannya yang bebas terangkat ke udara seolah ingin mengucapkan sesuatu, tapi jatuh kembali tanpa berhasil mengutarakan apa-apa. Lidahnya kelu, sialan. Percuma saja rangkaian katanya tadi jika pada akhirnya semua hanya akan buyar dan melebur dengan geragap.

“Na-ya?”

“Ah, ya?”

“Ck, kau ini kenapa? Ada yang ingin kau sampaikan?”

Hanna menggigit bibirnya lalu menggeleng pelan. Bibirnya tersenyum tipis sambil beranjak dari tempatnya semula. “Tidak apa-apa, hehe. Hanya sedang memikirkan sesuatu, Jong.”

Jongin mendengus pelan lalu menggeleng tidak mengerti. “Baiklah kalau begitu, aku duluan ya.”

“Hm. Hati-hati di jalan.”

“Ya, sampai jumpa.”

Perlahan-lahan setelah ia menutup pintu, deru mobil kembali terdengar. Angin malam yang berembus memainkan surainya diam-diam menemani Hanna yang masih kerasan bergeming, membiarkan retinanya mengekori mobil Jongin hingga menghilang di tikungan jalan.

Mungkin semuanya memang sudah ditakdirkan seperti ini; Hanna hanya akan terus mengagumi Jongin dari belakang. Membodohi dirinya dengan terus menghabiskan waktu dengan lelaki itu kendati sesungguhnya ia tahu; semuanya hanya akan sia-sia; jika namanya bahkan tidak pernah terselip di antara ribuan hal yang melintas di benak Jongin. Benar begitu?

***

Esoknya Jongin terbangun dengan tubuh pegal-pegal. Entah, mungkin karena terlalu banyak aktifitas kemarin. Sekonyong-konyong tubuhnya bangkit dari rebah, lantas mematikan temaram lampu kecil di atas nakas.

Dingin belum sepenuhnya melipur tatkala Jongin membuka jendela. Tapi hangatnya sinar mentari menyapa begitu ramah, seakan menyambut Jongin untuk menjalani hari baru dengan riang.

Baru saja ia hendak kembali merebahkan tubuh berhubung hari ini hari libur. Ketika tiba-tiba saja suara ibu memanggil dengan panik, mengetuk pintunya dengan rentetan gedor tidak sabaran.

“Iya, iya… ada apa Eomma?”

Jongin membuka pintu beberapa detik setelahnya, masih dengan rambut acak-acakan dan mata sayu. Ia sama sekali tidak habis pikir kenapa ibu harus mengusik hari liburnya yang begitu berharga. Tapi raut panik yang tergambar di wajah ibu dan perkataan selanjutnya yang terlontar jelas bukan masalah sepele.

Maksudnya, hei, bagaimana bisa Yunhee menghilang dari kamarnya? Jelas-jelas kemarin Jongin pergi dari kamar gadis itu setelah ibunya datang. Bahkan Jongin masih ingat jelas perkataan Nyonya Jung bahwa ia akan menginap di sana dan—

“Yunhee hilang dari kamarnya, Jong. Ia tidak ditemukan bahkan di taman belakang rumah sakit.”

“Bukankah kata Nyonya Jung dia akan pulang nanti sore?”

“Justru itu yang sedang di—” ponsel Jongin berdering nyaring, menandakan panggilan masuk. “Angkat teleponmu, Jong.”

Jongin cepat-cepat menghampiri nakas di samping tempat tidur, menatap sekilas layar ponselnya yang menampilkan nama Oh Sehun sebelum melekapkannya ke telinga.

“Halo?”

“Jongin? Kau di rumah?”

“Y-Ya, kau—”

“Yunhee menghilang dari kamar, kami tidak bisa menemukannya di mana-mana. Kau bisa datang membantu?”

Jongin memejamkan matanya sejemang mencoba menahan rasa pening yang tiba-tiba menyergap benaknya. Sepertinya ini benar-benar bukan masalah sepele. Pasti ada yang salah di sini. Demi Tuhan, Yunhee tidak sedang bercanda ‘kan? Kelakar macam apa lagi ini?

.

.

.

— TBC —

.

.

[A/N]: Oke aku tau kok betapa ngaretnya ini. Aduh. Yasudahlahya. Yang nge-pm aku pasti tau kok kenapa :”) Dan kali ini aku juga gak bisa berpanjang-panjang ria layaknya beberapa chapter lalu uhu ;-; Jadi maaf jika kurang memuaskan :”D Segala kritik dan saran silahkan tuangkan di kolom komentar di bawah 🙂 Kali ini A/N-nya juga singkat aja ya ehe pegel nulis panjang-panjang uou. Yang jelas terimakasih untuk dukunganyaaaa 😀 Thanks a lot buat yang udah bersedia baca baik yang sider maupun enggak 😛 Dan untuk komen di chapter 12 aku juga belum bisa balesin satu persatu uhuhu mohon bersabar yaaa :”

Hmm dan sekalian aku minta kesediaan hatinya untuk mengisi polling di bawah 😀 Gampang kok, tinggal klik ehehehe.

Sekian dan terimakasih!

—————————— t e a r  h e r e —————————

Contact me:
Twitter | Facebook | WordPress
LINE ID euntheana

———————————————————————————

163 tanggapan untuk “Everything Has Changed (Chapter 13)”

  1. aku bingung sama percintaan jongin sebnarnya gimana? Suka ama yunhee trus sehun jelas pasti sukanya yunhee, jongin suka hanna ga? Tapi hanna sepertinya cinta jongin. Bingung relain mereka gimana ahahahah

  2. Jadi cinta segitiga ya. Satu satunya jalan menggagalkan pertunangan para ortu sehun harus menikah dengan yunhee. Dan pasti ada yang sakit hati disini selain yunhee sendiri.
    Lebih suka jongin sama yunhee sih sebenernya. Trus itu yunhee kabur kemana dengan segala masalah dan sakit hatinya itu?

  3. Ngapain ngilang yunhee duh-_- mian aku baru bisa comment sekarang abis kalo comment tuh malah suka error._.
    Daebak min aku suka banget deh! Berharap yg jadi couple tuh Jonghee yaaaaa hehehe

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s