The Succubus and The Vampire [Chapter 1]

The Succubus and The Vampire Poster

The Succubus and The Vampire
(Sequel of The Killer)

Own : echaminswag~
Characters : Kai, Hyemin, Sehun, Jaerin, Kris, Ellie, Emma and Others | Genre : AU, Bit Action, Fantasy, Mystery, Romance, Bit Supranatural | Lenght : Chaptered | Rating : PG-17+

Disclaimer : Kai, Sehun milik SM dan orang tua mereka. Kris, juga milik ortunya. OC adalah karangan hasil imajinasi saya. Saya hanya owner dari cerita ini dan poster diatas. Jadi jangan berusaha ngeklaim lagi cerita dan poster milik saya.

Summary : “Jangan berusaha mendekati kaum mereka, karena itu berarti perang.”

 

 

THE SUCCUBUS AND THE VAMPIRE © 2014

[ Teaser ][ Prolog ] – [ Chapter 1 ]

.

.

 

Sang fajar mulai merangkak ke ujung cakrawala. Sinarnya yang agung bahkan mulai menunjukkan eksistensinya. Mata hazelnya mengerjap pelan. Diiringi suara kicau burung gereja di dahan maple, gadis itu beranjak bangun dari tidur cantiknya. Menyibak selimutnya kemudian merenggangkan otot ditubuhnya yang terasa kaku. Rasanya, pagi ini lebih indah dari sebelumnya.

Park Hyemin. Gadis itu kini tinggal di sebuah apartemen super megah milik kekasihnya, Kim Kai. Setelah beberapa masalah terjadi dalam hidupnya, pada akhirnya ia memutuskan kembali bersama Kai dan menjalani hidup layaknya sepasang kekasih lainnya. Walau ia harus super was-was selama bersama Kai, tapi hingga sejauh ini Kai tak menyakitinya seujung rambut pun. Dan itu yang membuat Hyemin mulai mempercayai Kai.

Bibirnya mengulas senyum tipis sembari melirik seorang lelaki yang dicintainya tengah berbaring di sampingnya. Hyemin cukup tahu jika vampire tak pernah tidur dari film yang sering di tontonnya bersama Jaerin dulu, tapi bagaimana caranya vampire yang satu ini bisa berbaring dengan mata terpejam seperti itu? Kim Kai memang aneh.

“Setidaknya aku tak seaneh Xi Luhan yang ingin memperkosamu.” suara Kai tiba-tiba terdengar disaat Hyemin ingin turun dari ranjang. Dan ya, Kim Kai memang tak pernah tidur. Ia hanya memejamkan matanya menemani Hyemin tidur.

“Jangan sebut nama itu lagi, Kim Kai yang terhormat.” marah Hyemin. Dan fix, Hyemin membenci si pemilik nama itu sampai kapan pun.

Kekehan kecil terdengar dari mulut Kai. Andai waktu itu tak ada dirinya, mungkin gadis ini sudah berakhir di tangan Luhan yang berotak cabul itu. “Kau pergi ke kantor hari ini?” tanya Kai mengalihkan pembicaraan. Ya, dari pada Hyemin melemparnya dengan vas bunga karena terus membicarakan Luhan, lebih baik menanyakan hal yang wajar saja.

“Sepertinya tidak. Oh ya, apa aku belum memberitahumu?”

“Apa?”

Hyemin menghela nafas sembari merapikan bantal dan selimut yang masih digunakan oleh presdir pemalas ini berbaring.

“Presdir Kim Kai yang terhormat, hari ini aku dan Jaerin ijin tidak masuk kantor ya.” ujarnya menepuk kedua tangannya dan menunjukkan puppy eyesnya pada Kai. Kai mengeryit bingung. Sejak kapan Hyemin bisa melakukan itu? Dan, hei apa yang akan mereka lakukan berdua?

Kai beranjak bangun kemudian melemparkan death glare andalannya ke arah Hyemin. “Kemana? Kalian akan kemana? Mencari lelaki lain untuk dikencani? Ah, tidak tidak. Kalian harus masuk kantor hari ini.”

Sekarang ganti Hyemin yang mengeryit. Oh, apalah yang dibicarakan Kai. Mana mungkin dirinya dan Jaerin mencari lelaki lain untuk di kencani, sedangkan Jaerin akan segera menikah dengan Sehun. “Ku kira kau presdir yang pintar. Tapi kenapa pikiranmu masih kekanakan, Kai.” skak mat. Kai diam seribu bahasa mendengar pernyataan Hyemin. Okey, seharusnya ia hanya bertanya mereka akan kemana. Bukan langsung mengintimidasi dengan pernyataan yang belum jelas kebenarannya.

“Jadi, kalian akan kemana?” suara Kai lebih lirih dibanding dengan yang tadi, membuat Hyemin terkekeh pelan. Ia kemudian mendekat dan menangkup wajah Kai dengan kedua tangannya.

“Dengar, Kim Kai yang kekanakan…” Hyemin memberi jeda beberapa sekon sembari menatap manik kelabu yang membuatnya nyaman sekaligus merasa sedikit takut itu. “aku dan Jaerin akan pergi ke sebuah butik dan memesan gaun pernikahannya dengan Sehun.” sambungnya kemudian beranjak menuju almari pakaian. Memilah satu setel pakaian casual yang cocok untuk dipakainya saat musim dingin seperti ini. “sebenarnya Jaerin menyuruhku yang membuatnya, tapi sepertinya aku tak bisa membuatnya karena…” ucapannya terhenti sesaat setelah ia menarik sebuah jegging dari dalam almarinya. Hyemin tertunduk meratapi nasipnya yang mempunyai cita-cita tinggi, namun kendala biaya pula yang menghambat cita-citanya.

“Karena kau tak punya mesin jahit dan segala keperluannya?” sambung Kai. Hyemin hanya terdiam. Memang benar. Mungkin hanya dirinya satu-satunya designer yang tak punya butik sendiri.

Kai yang melihat tak ada respon dari gadisnya itu kemudian beranjak dan memeluk Hyemin dari belakang. Ya, setidaknya ia bisa menyalurkan sedikit semangat untuk gadis yang begitu dicintainya ini. “Kapan pernikahan Sehun dan Jaerin?” tanya Kai.

“Bulan depan.” jawab Hyemin lirih. Kai tersenyum kemudian melonggarkan pelukannya. Ia lalu memutar tubuh Hyemin agar menghadapnya dan mengusap surai mocca yang membuatnya begitu lapar itu. Bagaimana pun, Kai harus berjuang dengan begitu keras menahan hasrat vampire nya jika sudah bersama Hyemin.

“Hari ini tak usah pergi ke butik itu. Karena kau harus masuk kantor, begitupun Jaerin. Kau dengar?”

“Tapi Kai…”

Kai tersenyum kemudian menangkup wajah Hyemin menggunakan kedua tangannya. Sama seperti yang dilakukan Hyemin padanya beberapa sekon lalu. “Besok, ajak Jaerin ke butikmu.” ujar Kai.

Hyemin mengeryit bingung. Butiknya? Oh Kai, apa yang akan pria ini lakukan? “Butikku? Kai, jangan melakukan apapun.” sergah Hyemin. Ia tak ingin Kai bertindak jauh mengenai dirinya dan cita-citanya, ya walaupun dirinya adalah kekasih Kai.

“Wae? Hyemin, you’re my future wife. Apa aku tak boleh melakukan itu?”

Hyemin menggeleng keras. Ia melepaskan tangan Kai dari wajahnya perlahan. “Tidak, Kai. Itu cita-citaku, seharusnya aku yang berjuang agar bisa mempunyai butik sendiri. Bukan kau.”

Kai tersenyum mendengar ucapan Hyemin. Ya, begitulah gadisnya. Ia tak ingin di kasihani oleh siapapun, termasuk Kai sendiri. Kai lalu mengacak surai mocca Hyemin dan mencium puncak kepalanya sekilas. “Tapi, aku tak menerima penolakanmu, Park Hyemin.” tutur Kai kemudian melenggang masuk kedalam kamar mandi tanpa memperdulikan ocehan Hyemin yang semakin keras.

Hyemin mendesis sebal. Tapi beberapa sekon setelahnya, ia mengulum senyum. Kai memang lelaki ajaib yang pernah ditemuinya. Dan Hyemin, tak ingin kehilangan pria itu. Tidak sampai kapan pun.

***

Berbeda dengan suasana pagi yang hangat dan penuh cinta di apartemen Kai dan Hyemin, apartemen Jaerin justru terlihat lenggang dan hening. Memulai segala aktivitasnya sendirian, gadis itu kini tengah bersiap pergi ke kantor setelah menerima pesan singkat dari Hyemin beberapa menit lalu. Sehun tak datang lagi pagi ini? Entahlah, mungkin pria itu tengah sibuk dengan pekerjaannya. Mengingat sebentar lagi, dirinya akan dipanggil dengan sebutan Professor Oh Sehun dan menggantikan posisi sang ayah.

Jaerin menghela napas kemudian menggigit roti panggangnya yang baru matang sembari menuang segelas susu coklat. Menu paginya yang begitu sederhana setelah kemarin sehun menghabiskan persediaan dagingnya untuk membuat meal sandwich favoritnya. Dan untungnya itu adalah Oh Sehun, coba kalau Baekhyun yang mengobrak-abrik isi kulkasnya, Jaerin akan langsung memarahinya habis-habisan.

Suara dering ponsel membuat Jaerin menghentikan aktifitasnya. Selama beberapa sekon ia hanya melihat smartphone berwarna putihnya itu dengan malas. Terlihat nama ‘Park Hyemin’ yang melakukan panggilan. Jaerin menghela nafas pelan sebelum akhirnya menekan tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ditelinganya.

“Hmm, ada apa lagi?” seru Jaerin to the point.

“Jaerin yang ku kenal tidak seketus itu padaku selama ini.” omel Hyemin diseberang sana yang entah ada apa ia menelfon Jaerin seperti ini. Hyemin tipikal orang yang hanya ada keperluan begitu penting saja akan melakukan panggilan. Dan, kali ini. Entahlah.

“Ada apa Park Hyemin?” balas Jaerin malas. Terdengar suara kekehan Hyemin diseberang sana dan suara seorang lelaki yang bisa dipastikan itu adalah Kim Kai.

“Kau berangkat dengan siapa pagi ini?” Jaerin mendengus mendengar pertanyaan Hyemin. Hanya ingin menanyakan itu dan Hyemin repot-repot menelfonnya?

“Naik bus.” singkat Jaerin. Ia kemudian mendengar lagi Hyemin tertawa dan kali ini Kim Kai juga ikut menertawainya. Ada apa sebenarnya mereka?

“Ohh, jadi Oh Sehun sekarang menjadi supir bus?”

“Mwo?” apa yang dikatakan temannya ini? Sehun? Supir bus? Jaerin langsung memutuskan panggilan Hyemin dan mengambil tas kerjanya. Memakai sepatu dengan terburu-buru, menyambar mantelnya lalu turun ke lantai dasar apartemen. Dan ya, benar saja. Supir bus tampan itu tengah bersandar pada lamborghininya sembari melipat kedua tangannya di dada. Jaerin terdiam selama beberapa sekon melihat calon suaminya yang… ya sangat tampan, dan selalu tampan di mata Jaerin.

Menyadari kehadiran gadisnya, Sehun lantas melepas kaca mata hitamnya dan menatap Jaerin dengan ulasan senyum tipis dibibirnya. Oh demi apa, Jaerin seakan ingin melayang melihat senyuman itu. Dan itu, senyuman pertama Sehun yang membuatnya benar-benar mencintai sosok yang kini mulai mendekat ke arahnya itu.

“Selamat pagi Nyonya Oh. Apa tidurmu nyenyak semalam?” sapanya yang membuat bulu kuduk Jaerin meremang. Apa yang terjadi padanya? Biasanya Sehun juga menyapanya seperti itu. Tapi entahlah, ada yang berbeda hari ini.

Jaerin tersenyum tipis dan memukul bahu Sehun pelan. “Sudah sejak kapan kau berdiri di depan sana? Ini musim dingin Oh Sehun, kau tau?” ujar Jaerin yang justru membuat Sehun terkikik. Lupakah kekasihnya ini siapa sosok Sehun yang sesungguhnya?

“Dan kau juga harus tau kalau aku seorang vampire, Oh Jaerin.” Jaerin terdiam dan menatap Sehun dengan semburat kemerahan menguar di pipinya. Oh Tuhan, bagaimana mungkin dia bisa lupa dengan segala hal tentang siapa Sehun hanya karena pagi ini senyuman Sehun terlihat berbeda dari biasanya?

Jaerin lantas mem-pout kan bibir plum nya karena ia terlihat begitu bodoh sekarang. Namun beberapa sekon setelahnya justru Sehun mendaratkan sebuah ciuman singkat dibibir itu yang membuat mata Jaerin melebar sempurna. “Morning kiss, baby.” ucap Sehun yang berhasil membuat persendian Jaerin lumpuh total. Entahlah, ada apa pagi ini hingga Sehun terlihat begitu mempesona.

“Jangan menciumku sembarangan.” gumam Jaerin. Walau tak ada yang melihat, tapi ia merasa malu.

Sehun tersenyum kemudian mengusap surai mocca Jaerin lembut. “Ku antar ke kantor. Nanti kau bisa terlambat kalau naik bus, dan Kai akan memecatmu.”

Jaerin tertawa mendengar ucapan kekasihnya ini. Ia lalu mengangguk dan mengikuti Sehun ke arah mobilnya. Dan benar saja, dari jarak sepuluh meter, ferrari hitam milik Kai berhenti tepat diujung jalan dengan Hyemin yang melambai kemudian tertawa bersama Kai ke arah Jaerin. Hal itu membuat Jaerin mendesis sebal. Namun beberapa sekon setelahnya ia tersenyum―begitu tulus. Mungkin mereka adalah dua pasang kekasih yang paling bahagia pagi ini. Kai bersama Hyemin, dan dirinya bersama Sehun. Indah bukan?

***

Gadis itu tengah menikmati makan siangnya ketika kedua kakaknya tiba-tiba datang―entah dari mana. Kastil tua yang awalnya sepi itu pun mulai dipenuhi suara kasak kusuk dua orang yang saat ini mulai menyantap makanannya. Dan untuk beberapa sekon, kastil itu kembali hening. Hanya terdengar suara dentingan sendok yang beradu dengan piring. Sampai pada akhirnya, sang kakak laki-lakinya mulai mengambil suara.

Next week, kita terbang ke Seoul.” dan sederet kalimat itu langsung membuat gadis itu menghentikan aktifitasnya. Ia kemudian menatap sang kakak dengan kerutan halus di dahinya.

“Untuk apa kita kesana?” serunya. Bukannya jawaban yang ia terima, sang kakak justru terkekeh pelan.

Come on, Emma. Ku kira kau sudah tahu untuk apa kita kesana.” ini bukan suara kakak laki-lakinya, melainkan suara kakak nomor duanya, Ellie Wu.

Emma―gadis itu―hanya diam selama beberapa sekon sembari berfikir keras. Sepertinya memang kemarin atau entah kapan, kakak laki-lakinya―Kris Wu―itu merencanakan untuk terbang ke Seoul. Tapi ia tak tahu betul untuk apa mereka kesana karena setelah Kris mengungkapkan maksudnya untuk ke Seoul, Emma memilih pergi mencari pendeta tua untuk di kencani.

“Bolehkah aku tinggal?” tawar Emma. Ia malas pergi kemana pun. Dan belum tentu di Seoul bisa se-bebas di USA.

“Kau ingin disini sendirian? Tak apa kalau kau ingin menjaga kastil ini, sendiri.” ucap Kris menekankan pada kata terakhirnya.

“Maksudmu? Bukankah ada pelayan?”

Kris kembali terkekeh mendengar seruan adik paling kecilnya ini. “Ku bilang kita, kita semua, Emma.” ujar Kris.

“Apa?” kagetnya. “Kau akan membawa seluruh pelayan juga?” sambung Emma kemudian. Antara percaya dan tidak, mereka memiliki lebih dari seratus pelayan. Dan mungkinkah Kris akan membawa mereka semua?

Kris mengangguk mantab. Dengan seluruh kekayaan mendiang sang ayah, apa yang tak bisa dilakukannya? “Karena hanya mereka yang tahu tentang kita, Emma Wu.” ujar Kris kemudian meneguk segelas wine yang sudah tinggal separuh. “Aku sudah membeli sebuah rumah mewah di pusat kota Seoul. Rumah itu bahkan lebih besar dari kastil kita ini. Dan aku yakin, rumah itu mampu menampung semua pelayan kita.”

Emma hanya mendengus pelan mendengar penuturan sang kakak. Dan ya, ia tak mungkin tinggal disini sendirian bukan? Mau tidak mau ia harus ikut dengan kedua kakaknya yang entah akan melakukan apa di Seoul.

Emma beranjak―menimbulkan deritan pada kursinya yang bergesekan dengan lantai marmer. Kedua pasang manik mata itu memperhatikan kepergiannya dengan sedikit cibiran halus.

“Jadi, apa kau masih ingin tinggal?” suara Ellie menggema yang lansung menghentikan langkah Emma.

“Akan ku pikirkan nanti.” jawabnya seraya menyusun kembali langkahnya yang tertunda. Ellie lantas mendengus dan menatap Kris.

“Ku dengar, dia ada di California. Bersama seorang pria tua yang―entahlah aku juga tak tahu.” ujar Ellie kemudian memasukkan sesendok penuh nasi ke mulutnya.

Kris mengeryit sembari menuang wine ke gelasnya yang sudah kosong. “Dia, siapa?” tanyanya sarkastis. Ellie lagi-lagi hanya bisa mendengus. Sebodoh inikah semua saudaranya?

“Yang pernah di tahan oleh ayah. Ku kira kau masih ingin menangkap dan menyiksanya lagi.”

“Pria lemah sepertinya? Untuk apa?” Kris terkekeh pelan seraya memainkan ujung gelasnya. “Ada sesuatu lebih penting yang harus segera kita temukan di Seoul, Ellie.” sambungnya yang kali ini membuat Ellie menyunggingkan senyum miring. Oh, mungkin sekarang Ellie akan menarik kata-katanya yang mengatakan saudaranya ini bodoh atau apapun beberapa sekon lalu. Kris, jauh lebih pandai dari dugaannya.

“Hmm, ku rasa kali ini aku sependapat denganmu.” dengan ulasan senyum miring yang tak kunjung lepas dari bibirnya, Ellie lantas meletakkan sendoknya dan beranjak menuju kamarnya. Setidaknya sebelum ke Seoul, ia bisa berbenah dan mencari pendeta tua untuk dikencaninya malam nanti. Karena pasti keadaan Seoul tak akan sama dengan di US.

***

Pekik camar mengantarkan sang surya beristirahat ke peraduannya. Langit biru pun akan segera tertutupi mendung kelabu yang siap memberi tetesan air kehidupan di kota yang tak pernah lenggang dari hiruk pikuk rakyatnya. Seoul.

Sehun mendesah ringan. Menatap keluar jendela yang mulai berbembun. Titik-titik air hujan itu sudah mulai menghujam bumi. Dan dirinya masih berada di dalam ruangan sialan ini untuk menyelesaikan laporan―yang agaknya sudah tercecer di atas mejanya―itu hari ini juga. Sial memang, seharusnya ia menjemput gadisnya dan memastikan dia pulang dengan selamat, tapi hari ini tak bisa ia lakukan.

Sehun beranjak, mengambil sekaleng cola di dalam lemari es mininya yang kemudian di teguknya sembari kembali duduk di kursinya. Bagaimana pun, ini semua adalah tanggung jawabnya. Dan ia tak boleh mengeluh. Matanya lelah menelisik ke arah ponselnya yang tak bergeming sedikitpun. Dimana gadisnya itu? Ia lalu meraih ponselnya dan mengetik sederet kata lalu menekan tombol send setelah menemukan nomor yang dituju.

Cukup lama memang sampai ponselnya berdering dengan balasan pesan singkat dari Jaerin. Sehun lantas membuka pesan itu dan tersenyum lega.

‘aku sudah sampai di apartemen calon suamiku yang cerewet.’

Ya, walaupun diakhir kalimat kurang menyenangkan, tapi setidaknya Sehun sudah bisa berlega hati jika gadisnya itu sampai di apartemennya dengan selamat. Sehun lantas kembali berkutat dengan map dan laporannya yang kali ini mungkin lebih bersemangat dari yang tadi. Oh, pesan Jaerin benar-benar berimbas positif pada mood Sehun rupanya.

Sehun baru sampai rumahnya ketika dentang jam menunjukkan pukul 9 malam. Dan saat ia pulang tak ada siapapun di rumah. Kedua orang tuanya tak tahu pergi kemana. Mereka juga tak memberi kabar pada Sehun jika ingin pergi.

Sehun merogoh saku celananya―mengambil smartphone berwarna hitam lalu menekan sederet nomor disana. Ia lantas menempelkan ponselnya di telinga saat terdengar nada sambung ponsel diseberang berbunyi. Tak ada jawaban. Panggilannya bahkan dialihkan ke mailbox. Apa yang terjadi sebenarnya? Dimana kedua orang tuanya? Dengan kemampuan telepati yang ia miliki pun, ia tak bisa menjangkau keberadaan orang tuanya. Sehun hanya mengedikkan bahunya pelan lalu pergi ke kamarnya.

***

Wanita itu masih berada di tempat ini dengan dandanan yang lebih rapi dari beberapa waktu lalu. Tangannya mulai terbiasa memotong tiap tangkai aster dengan telaten. Raut wajahnya juga terlihat lebih cerah. Walau sampai saat ini ia belum bisa menemukan dimana keberadaan suaminya. Tapi ada sebuah keyakinan tersendiri dalam hatinya―jika suaminya itu masih hidup.

“Emily.” panggil wanita paruh baya di belakangnya. Emily―wanita itu menoleh dengan tatapan penuh harap.

“Ya, bi.” jawabnya seraya memperhatikan Ashley. Berharap wanita dengan kerutan tipis di sekitar matanya itu membawa yang dirinya inginkan. Dan benar saja, wanita itu menyerahkan secarik kertas dengan sebuah buku kecil pada Emily.

“Ini tiket dan paspormu.” ujar Ashley sembari menyunggingkan senyum. Tak dapat di pungkiri memang jika Emily bahagia betul mendapat tiket dan paspor itu. Sudah dua tahun lamanya Emily menumpang di rumah Ashley. Dan sekarang sudah waktunya Emily pergi dari sini. Mencari dimana keberadaan suaminya.

“Terimakasih bi.” ucap Emily yang langsung berhambur ke pelukan Ashley. Ashley sudah seperti ibunya sendiri menurut Emily. Dan Emily begitu beruntung ketika dua tahun lalu ia bertemu Ashley. Bibi yang satu ini begitu baik dan perhatian padanya.

“Kau harus segera menelfonku kalau sudah sampai di Tokyo.” ucap Ashley sembari melonggarkan pelukan mereka. Emily mengangguk. Pencarian pertama, ia akan hijrah ke negeri sakura itu. Entahlah, ia hanya mengingat jika suaminya itu ingin sekali pergi ke Tokyo bersamanya saat musim gugur. Karena saat itu banyak sakura berguguran disana dan itu sangat romantis.

Dan jika pencarian pertamanya gagal. Ia akan pergi ke Seoul. Tempat dimana suaminya itu dilahirkan. Emily sudah bertekad. Apapun yang terjadi nanti, ia harus bertemu suaminya. Dan jika anaknya masih ada di dunia ini. Ia juga berharap ia dapat bertemu anaknya suatu saat nanti.

***

Malam ini, sebuah kejutan besar sudah di siapkan oleh Kai kepada Hyemin. Dan saat ini mereka berdua tengah berada di perjalanan menuju ke daerah Itaewon. Sesuai dengan apa yang Kai ucapkan tadi pagi, Hyemin tak bisa menolaknya. Berargumen sedikit pun tak diperbolehkan oleh Kai. Egois memang, tapi itu semua dilakukan Kai juga demi gadisnya ini.

15 menit perjalanan, akhirnya mereka sampai. Kai menepikan mobilnya dan menempatkannya di parking area tepat di depan butik itu. Hyemin lantas keluar setelah Kai membukakan pintu untuknya. Demi apa~ sejak kapan Kai menyiapkan semua ini? Di dalam sana bahkan sudah ada beberapa gaun yang Hyemin ciptakan.

“Kai..” gumam Hyemin. Kai mendekat lalu menarik tangan Hyemin agar melihat bagian dalam butiknya.

“Kau suka?” tanya Kai. Hyemin berdecak kagum memperhatikan butik ini. Interior dan segala keperluannya benar-benar terlihat berkelas dan mahal. Ia bahkan tak pernah membayangkan memiliki butik semewah ini. Kai sudah berhasil membuatnya menjadi seorang gadis yang beruntung.

Hyemin lantas berbalik dan berlari memeluk Kai. Bagaimanapun, ia sangat berterimakasih pada pria ini. Kim Kai yang memperlakukannya bak putri raja. Dan baru kali ini, ia bisa berbahagia barang sedikit saja.

“Aku tak tahu bagaimana caranya aku bisa berterimakasih padamu, Kai.” ujar Hyemin dengan segala kerendahan hatinya. Kai tersenyum tipis kemudian mencium puncak kepala Hyemin sekilas.

“Dengan cara kau menikah denganku, apa kau bersedia?”

Hyemin diam. Ia memutuskan untuk kembali bersama Kai bukankah untuk itu? Tapi, entahlah. Jika mendengar kata menikah darah Hyemin berdesir hebat. Serasa ada guncangan aneh dalam dirinya yang memaksa agar ia belum bisa menerimanya. Ataukah memang ia belum siap dengan semua ini? Entahlah.

“Hyemin.” panggil Kai yang kemudian melonggarkan pelukan mereka. Ia lantas menatap Hyemin tajam bak mata elang. “Kenapa diam?” tanya Kai yang sarat akan kekecewaan. Ia berharap Hyemin langsung menerima lamarannya. Namun, keinginannya bertolak belakang dengan apa yang Hyemin lakukan saat ini.

Hyemin menunduk dalam, tak berani menatap Kai barang sejengkal. Inginnya ia menerima lamaran Kai, tapi kemudian disisi lain dirinya, ia ingin pergi dari hadapan Kai saat ini juga. Entahlah perasaan apa yang tengah menggerogoti relungnya ini.

Sampai pada sekon terakhir, Hyemin akhirnya menatap Kai tepat pada manik kelabunya. Ia menyunggingkan senyum tipis yang terlihat biasa saja. Namun Kai bukanlah bocah kemarin sore yang bisa dibodohi dengan senyuman itu. Hyemin jelas-jelas belum siap dengan semua ini.

Kai lantas mengusap surai mocca itu dengan lembut. Menyalurkan segala kasih sayangnya disana. Sekarang bukan saatnya untuk egois. Jika Hyemin belum siap, biarlah Kai akan menunggu.

“Tak apa kalau kau belum siap. Aku akan menunggu.” ujar Kai sembari menyunggingkan senyum.

“Kai, maaf.” Hyemin kembali menunduk. Ia merasa bersalah. Ingin sekali ia mengatakan : aku bersedia. Tapi saat itu, lidahnya akan terasa kelu tanpa sebab.

Kai kembali tersenyum, merasa seperti tak pernah ada apa-apa sebelumnya. “Jangan pikirkan. Lebih baik sekarang kita pulang. Kau harus segera tidur karena besok kau harus mulai kerja keras membuatkan gaun untuk Jaerin.”

Tubuh Hyemin lemas rasanya mendengar penuturan Kai. Ia kembali melukai hati vampire baik hati ini. Hyemin lantas mengikuti Kai keluar butik. Mereka terbelenggu kebisuan ketika dalam perjalanan pulang. Dan saat sampai di apartemen, Kai benar-benar menunjukkan sikap kecewanya dengan langsung berpamitan pulang. Biasanya Kai akan tinggal terlebih dahulu sampai Hyemin tidur atau bahkan menginap. Dan sekarang, oh Tuhan Hyemin lagi-lagi melukai hatinya.

 

 

 

 

 

 

 

 

– TBC –

(Budayakan membaca author note)

Chapter 1 published. Berharap kali ini ga mengecewakan kalian ya 🙂

Sebenernya prolog kemarin udah ada kaitannya loh sama teaser yang aku publish beberapa waktu lalu. Di prolog Emily punya 3 adik kan? Dan adiknya itu ya Kris, Ellie, sama Emma. Udah aku bocorin lagi 😀

Chapter ini masih ringan, tapi chapter depan bakal aku protect. Aku akan jelasin tentang succubus disana. Tapi belum tentu juga sih, cuman kalau jadi di protect, buka link [INI] dengan password suga. Di dalam halaman itu nanti bakal ada passwordnya Succubus and Vampire bagian 2.

Silahkan yang mau lemparin aku pake Suga(?) karena Kai-Hyemin ada konflik lagi. Hihi, seneng aja nyiksa mereka berdua 😀 /tawa setan/ tapi mereka juga bakal bersama kok pada akhirnya. Dan setelah bersama mereka bakal pisah lagi XD

Makasih ya buat readers setiaku yang udah nungguin FF ini publish. Chapter 2 abis lebaran ya ^^ Terus buat chapter-chapter selanjutnya aku bakal publish sebulan 2 kali.

Udah itu aja ~ selamat menjalankan ibadah puasa teman-teman EXOfans ~ Annyeong ^^

385 tanggapan untuk “The Succubus and The Vampire [Chapter 1]”

  1. sedikit bingung sih di sini… tapi tetep bikin penasaran aku sampai ke mbah gugel pengen tau succubus dan incubus… heehehe
    lanjut thor… figthing.>>> ^=^

  2. Bagus kok thor, btw ini tuh sequel ff sebelum ff ini kah(?) Maafkan otak saia yg lemot thor, soalnya ada beberapa bagian yg kenya belum di jelasin, ke luhan yang cabul (astaga ini wow bgt lol), terus sama cita2nya hyemin

  3. Jujur aku awaaannya masih agak bingung. Aku masih belum bisa nangkep alur ceritanya gimana, dan itu mbuat aku penasaran sama kelanjutannya. Ffnya kece abis, gokil gilaaa. Semangat nulisnya ya kak🙌🙌🙋

  4. jujur di part pertama jg agak bingung ini mau arahnya kemana alurnya tp well ceritanya menarik dan buat trs tertarik baca jd baca ts deh hehehhe

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s