The Princess & The Knights (Chapter 9 Extra Story)

TPTK 3Title        : The Princess & The Knights
Author         : Kim Na Na
Length         : Series
Main Cast     : All EXO Member
Song Min Young (OC)
Other Cast     : Find it 🙂
Genre         : Historical Romance, Fantasy, School Life
Rating         : PG-15

Mian ngepostnya agak telat #bow. Kali ini bercerita tentang ketemunya Se Young dengan Pangeran Go Jang. Untuk mengingatkan, Go Jang = Kyu Hyun. Jadi kalian bayangin Kyu Hyun pas drama musical the Moon That Embrace The Sun aja pas baca part ini. Jangan lupa bwt baca chap 9 nya. Oke langsung aja happy reading dan komennya ditunggu untuk chap selanjutnya.

Silla, tahun 363 M

Se Young berlari diantara pepohonan. Di punggungnya tergantung tabung anak panah, sedangkan tangannya menggenggam erat busur. Suara derap kuda mengikutinya. Tapi tidak terlihat sama sekali ketakutan di wajahnya. Di malah tersenyum.

Setelah merasa jaraknya cukup jauh untuk memanah, Se Young berhenti berlari. Dia mengambil sebatang anak panah dan memasangkan di busurnya. Dia membalikkan badan dengan busur yang terentang, siap untuk menembakan anak panah.

Dia melepaskan anak panah. Satu prajurit tumbang. Dengan sigap dia mengambil 2 anak panah lagi untuk ditembakan. Satu demi satu pengejarnya berkurang. Tapi para prajurit itu tidak mau kalah. Mereka mendesak agar Se Young mundur.

Se Young kembali berlari. Di depannya berdiri sebuah pohon kokoh. Se Young berlari dan mendepak pohon itu kuat-kuat sebelum bersalto dan menembakan anak panah. Dia berhasil menumbangkan prajurit terdepan.

Merasa cukup dengan panah, dia mengeluarkan belati dari balik tuniknya. Dengan cepat dia berlaridan melompat. Belatinya nyaris saja mengenai leher salah satu prajurit jika saja suara tepuk tangan terdengar.

“Hebat, kemampuan Putri berkembang pesat.” kata Se Hun dari atas kudanya. Satu persatu prajurit yang tadi ditumbangkannya bangkit. Ya ini adalah salah satu latihan Putri. Sekarang dia bukan lagi seorang anak kecil, dia sekarang sudah berumur 16 tahun.

Dia terus berlatih selama 3 tahun, ditemani oleh pengawal-pengawalnya. Dan pelatihan itu membawa dampak besar pada Putri. Dia tumbuh tidak hanya menjadi Putri yang cantik, tapi juga kuat dan pintar.

“Mama, langit sudah gelap. Sebaiknya anda cepat pulang.” ujar Yi Xing. “Arasseo. Se Hun.” kata Se Young. Dia mengulurkan tangannya. Se Hun segera meraih tangan itu dan dengan mudah mengangkat tubuh Se Young ke atas kudanya.

“Kajja, kita kembali ke istana.” ucap Se Hun. Dia mengarahkan kudanya untuk kembali ke istana. “Se Hun entah kenapa aku selalu kesal melihatmu.” ucap Se Young. “Wae?” tanya Se Hun malas. Dia sudah ingat betul apa yang akan diucapkan Se Young berikutnya.

Sekarang rombongan mereka sedang menyusuri jalan setapak hutan. Seluruh pengawal Se Young dan beberapa prajurit berkuda menuruni bukit untuk kembali ke istana. Karena Se Young tidak membawa kuda, dia naik di kuda yang sama dengan Se Hun.

“Aku selalu berlatih tiap hari, tapi kenapa panahku tidakk bisa mengenaimu? Aku bahkan sudah bisa mengenai Yi Fan. Hanya kamu yang belum pernah terkena belati atau panahku. Menyebalkan.” omel Se Young.

“Sudah kukatakan, kecepatanku seperti angin. Mustahil bisa mengenaiku. Apa Putri mau aku mengurangi kecepatanku” sahut Se Hun. “Ani, aku tidak suka hal seperti itu.” balas Se Young.

Se Hun tersenyum. Mana mungkin dia mau dikalahkan dengan yeoja yang dia sukai. 3 tahun berlalu dan Se Hun menyadari perasaannya. Hanya saja status mereka terlalu jauh. Seorang putri tidak akan dijodohkan dengan anak seorang ketua klan. Karena hal itu Se Hun hanya memendam perasaannya tanpa ingin Se Young tahu.

Mereka hampair mendekati gerbang kota ketika Yi Fan mengangkat pedang di udara, tanda agar seluruh rombongan berhenti. “Wae gurae?” tanya Min Young. Tidak perlu lama, Min Seok yang ada di samping Yi Fan menunggangi kudanya menghampiri Se Hun dan Se Young.

“Mama, ada pengemis yang pingsan di depan. Apa yang harus kami lakukan?” tanya Min Seok. “Jeongmalyeo? Akan aku lihat sendiri.” kata Se Young lalu segera turun dari kuda Se Hun. Begitu Se Young turun, pasukannya pun berniat turun. Tapi dia mengangkat tangannya agar pasukannya tidak perlu turun dari kuda.

Se Young melihat keadaan pengemis itu. Keadaan pengemis itu menyedihkan. Penuh bekas luka dan kotor. Bahkan Se Young bisa mencium bau busuk dari pengemis di depannya. Tapi ada sesuatu yang menarik prhatian Se Young.

“Bahwa dia ke istana.” perintah Se Young. “Dia hanya pengemis biasa, untuk apa kita membawanya ke istana?” tanya Lu Han. “Dia bukan pengemis biasa. Ada tanda kerajaan Geogeoryeo diikat kepalanya. Dia pasti salah seorang bangsawan Geogeoryeo. Kita harus membawanya ke istana.” jelas Se Young.

Lu Han pun menurut dan menyuruh salah satu prajuritnya untuk membawa pengemis itu. Se Hun menghampiri Se Young dan kembali menaikkannya ke atas kuda. “Bagaimana kalau dia berniat membunuh Putri?” tanya Se Hun. “Untuk apa aku memiliki 12 pengawal hebat jika tidak bisa melindungiku? Lagi pula aku harus menyelidiki pengemis itu dulu.” jawab Se Young.

Se Hun hanya bisa pasrah menerima keputusan Se Young. Tapi entah kenapa dia memiliki firasat tidak enak. Dia mengedikan bahu sebelum kembali melanjutkan perjalanan.

****

Go Jang mengerjap-ngerjapkan mata. Kepalanya masih terasa berdenyut. Sudah 5 hari dia tidak makan sejak kabur dari istananya. Bahkan terakhir dia dihajar oleh sekawanan perampok di dekat gerbang ibu kota Silla. Benar-benar sial.

“Kau sudah sadar?” tanya Se Young. Go Jang segera bangun. “Ini dimana?” tanyanya. Dia melihat sekelilingnya dan begidik ngeri saat melihat interior ruangan. Susunan ruangan ini mengingatkannya dengan istana Geogeoryeo. Dia takut kalau dia tertangkap dan dibawa kembali ke istana.

“Ini pavilliunku. Aku menemukanmu pingsan saat sedang dalam perjalanan pulang.” jawab Se Young. Go Jang mengamati Se Young. Sekali melihat pun Go Jang tahu bahwa yeoja di depannya adalah salah satu Putri.

“Kamsahamnida telah menolongku. Tapi aku harus segera pergi.” jawab Go Jang. Dia tidak ingin berurusan dengan istana lagi. “Tidak apa, kau bisa tinggal di sini dulu. Aku sudah menyiapkanmu baju bersih dan makanan.”

Go Jang menatap ke arah makanan yang sudah disiapkan Se Young di seberang ruangan. Dia memang lapar, tapi dia takut Se Young akan berbuat macam-macam dengan dirinya. Dia merasa curiga bahwa Se Young mengetahui siapa dia sebenarnya. “Kalau aku tinggal di sini, apa kau akan membunuhku?” tanya Go Jang.

Se Young terdiam lalu tertawa. “Mana mungkin aku membunuhmu. Untuk apa aku membunuh seorang pengemis. Aku hanya tidak ingin melihat seseorang yang pingsan babak belur di dekat gerbang ibu kota.” jawab Se Young.

Go Jang menghela napas lega. “Sepertinya putri ini tidak tahu siapa aku.” batinnya. “Aku permisi dulu. Kalau kau membutuhkan seseuatu, katakan saja pada pelayanku yang berjaga di depan.” kata Se Young lalu berjalan keluar.

Setelah pintu tertutup, Se Young menghampiri Chan Yeol dan Baek Hyun. “Awasi dia, jangan sampai dia kabur.” perintah Se Young. Chan Yeol dan Baek Hyun mengangguk mengerti.

****

Hari demi hari berlalu. Go Jang mulai terbiasa dengan ruangannya. Putri Se Young memberinya makan dan baju ganti. Lukanya pun berangsur hilang. Sekarang dia tidak tampak seperti pengemis lagi, tapi lebih seperti putra bangsawan terhormat.

Menurut Go Jang Putri Se Young hanyalah Putri baik hati yang tidak suka menolong. Dia sering melihat Putri itu memberi obat untuk pelayan yang sakit atau sekedar merawat burung yang teluka. Dan yang terpenting, Putri itu tidak tahu siapa dia.

Go Jang memanglah Putra Mahkota Geogeoryeo, tapi sebenanrnya dia tidak lebih dari pemuda bodoh dan lugu. Karena itu dia bisa dimanfaatkan oleh para mentri. Tertekan dengan itu semua, Go Jang pun melarikan diri dari istana. Tapi dia tidak menyangka diluar istana begitu kejam dan dia berakhir seperti ini.

Pada kenyataannya, Se Young menunggu agar Go Jang mengungkapkan siapa dia sebenanrnya. Se Young merasa Go Jang tidak berbahaya, tapi dia masih penasaran dengan identitas Go Jang dan mengapa Go Jang bisa sampai di ibu kota Silla.

Suatu hari Go Jang merasa ruangannya pengap. Dia pun membuka jendela untuk mencari udara segar. Dia menjulurkan badannya keluar dari jendela, menghirup udara musim panas. Tanpa sengaja dia melihat Putri Se Young sedang memanjat jendela dibantu oleh Se Hun.

“Annyeonghasimnika, anda mau kemana Putri?” tanya Go Jang ramah. Tapi dia membuat Se Hun dan Se Young terkejut. Mereka tidak menyangka ada orang yang melihat mereka. “Aissh diamlah. Ini bukan urusanmu.” kata Se Hun kesal.

Jika Se Hun marah, Se Young berpikiran lain. “Kami mau ke pasar, apa kau mau ikut?” ajak Se Young. Baik Go Jang maupun Se Hun terkejut. “Putri..” kata Se Hun mengingantkan. Tapi Se Young tidak peduli.

“Pasar? Anda seorang Putri, untuk apa anda ke pasar?” tanya Go Jang heran. “Aku hanya ingin berjalan-jalan. Apa sekarang aku terlihat seperti Putri?” balas Se Young.

Go Jang menyadari bahwa Se Young sekarang tidak memakai pakaian Putrinya, tapi mengenakan pakaian rakyat biasa. Go Jang berpikir sejenak. Sepertinya asyik juga melihat pasar. “Baiklah, aku akan ikut.” kata Go Jang lalu melompati jendela. “Kajja.” ajak Se Young.

Ini salah satu cara Se Young untuk mengetahui identitas Go Jang. Pasti ada beberapa reaksi yang akan bisa mengungkapkan identitas Go Jang.

****

Mereka bertiga melintasi pasar yang ramai. Beberapa orang menyapa Se Young dangan Soo Yoong. Go Jang sempat bingung tapi setelah dijelaskan, akhirnya dia paham. “Sepertinya anda sering sekali ke sini.” komentar Go Jang.

“Ya aku memang sering ke sini. Dengan begini aku bisa mengetahui apa saja masalah yang dihadapi oleh rakyat. Lagi pula aku bisa langsung membantu permasalhan mereka. Kalau aku datang sebagai putri, mereka pasti tidak mau meberitahukan maslah mereka, karena itu aku menyamar.”

Go Jang mengangguk. Dia merasa malu dengan dirinya sendiri. Dia Putra Mahkota, tapi tidak pernah berpikir seperti itu. Dia terlalu sibuk untuk takut dengan mentri-mentri jahat itu.

“Minggir! Minggir!” seru seorang pria. Dibelakangnya dia menggeret sebuah gerobak penuh air. Se Hun langsung menarik minggir Se Young, tapi Go Jang terlambat menghindar, sehingga jatuh terjembap. “Aigoo, bagaimana ini? Tuan Muda, anda tidak apa-apa?” tanya pria itu.

Dalam hati Se Young berpikir bahwa Go Jang pastilah bukan salah satu elite militer. Proporsi badan dan refleksnya tidak cocok untuk menjadi seorang elite militer. “Gokjongma ajushii, dia sepupuku.” kata Se Young.

“Oh sepupumu. Aigoo beda sekali. Benar dia tidak apa-apa?” tanya pria itu. “Ne, gwenchanayeo.” gumam Go Jang. “Baiklah kalau begitu aku permisi dulu. Aku harus segera membawa air-air ini ke kediaman Tuan Park.” kata pria tadi lalu pergi.

Bukan elite militer, penakut, dan terkesan bodoh. Se Young tersenyum. Sepertinya dia tahu siapa Go Jang sebenarnya.

****

Go Jang berjalan-berjalan di taman pavilliun Putri Se Young. Dia masih memikirkan ucapan Se Young saat di pasar. Dia benar-benar merasa sedih pada dirinya sendiri. Yang dilakukannya sekarang benar-benar berkebalikan dengan Min Young.

Tiba-tiba dia melihat rombongan Putri berjalan dengan baju berlatih lengkap. Termasuk Putri Se Young yang memakaii baju berlatih lengkap dengan busur dan anak panah di punggungnya. Go Jang sering melihat Putri keluar untuk berlatih dengan para pengawalnya. Tapi dia tidak pernah melihat seperti apa latihan putri sebenarnya.

Go Jang segera menghampiri Se Young. “Putri. apa anda hendak pergi berlatih?” tanyanya. “Ne, kau mau ikut? Aku kekurangan orang untuk berlatih karena hari ini Jong Dae sakit sehingga tidak bisa ikut berlatih.” jawab Se Young.

Ini kesempatan untuk melihat kemampuan Putri, batin Go Jang. Dia pun mengangguk. Se Young tersenyum lalu melanjutkan perjalannany menuju istal kuda. “Kau bisa menunggangi kuda?” tanya Se Young. “Sedikit.” jawab Go Jang.

“Baguslah” kata Se Young lalu menaiki kudanya. Diikuti oleh 11 pengawalnya yang lain. Go Jang menaikki kuda dengan sedikit canggung. “Kalian tahu kan? Seperti biasa.” ujar Se Young pada pengawalnya. Pengawalnya mengangguk lalu Se Young memacu kudanya terlebih dahulu memasuki hutan.

“Apa maksudnya?” tanya Go Jang kebingungan. “Ini seperti pemainan petak umpet. Kau harus menangkap Putri. Kau boleh menggunakan jebakan, pedang, atau pun panah. Apa pun asal bisa menangkap putri. Tapi hati-hati, Putri bisa membalasmu.” jelas Zi Tao.

Lalu mereka berdua belas memacu kuda mereka memasuki hutan. Jong In membagi kelompok menjadi 3 kelompok lebih kecil. Go Jang mendapat satu kelompok dengan Se Hun, Lu Han, dan Min Seok.

Mereka memacu kuda diantara pepohonan. Mencari sosok Putri Se Young. Lama tidak terdengar suara apa pun ketika tiba-tiab Go Jjang mendengar suara teriakan. “Teriakan apa itu?” tanya Go Jang panik.

“Hahaha hyung-deul sudah ada yang tertangkap. Kajja, sepertinya Putri di dekat sini.” seru Se Hun lalu memacu kudanya. Go Jang hanya bisa mengikuti dengan bingung. Apa benar Se Young seorang Putri? Bahkan dia saja tidak pernah latihan seperti ini.

Se Hun berhenti saat melihat Chan Yeol dan Baek Hyun jatuh ke lubang perangkap. Sebuah panah menancap di bahu masing-masing. “Berarti Putri ini serius memakai panahnya?” batin Go Jang ngeri.

“Hyung payah sekali. Latihan baru saja dimulai tapi sudah tertangkap.” ejek Se Hun. Dia membantu Chan Yeol dan Baek Hyun keluar dari lubang.

“Mana Yi Xing dan Zi Tao?” tanya Min Seok. “Kami di sini..” jawab Yi Xing. Saat Go Jang melihat, Yi Xing dan Tao sedang tergantung di pohon mengenaskan. “Aissh apa saja yang kalian lakukan.” kata Lu Han sambil memutus tali yang mengikat Yi Xing dan Zi Tao. Mereka berdua jatuh dengan suara berdebam keras.

“Di mana Putri?” tanya Se Hun. “Di sana.” kata Yi Xing sambil menunjuk sebuah arah. ‘Baiklah. Kajja, kita akan menangkap putri.” seru Se Hun sambil menaiki kembali kudanya.

“Chakaman, bagaiman kalau kita terkena panah?” tanya Go Jang. “Tenang saja, baju pelindung itu cukup kuat. Lagi pula Putri tidak akan melukai daerah vital. Panahnya pun tidak menancap dalam. Paling hanya luka kecil.” jelas Kyung Soo lalu kembali memacu kudanya.

Tidak lama kemudian mereka melihat Putri berkuda beberapa meter didepan mereka. Seprtinya Se Young sadar karena dia langsung membalikkan badan dan melepaskan anak panah. Se Hun, Lu Han dan Min Seok berhasil menghindar, tapi tidak dengan Go Jang.

Panah Se Young mengenai bahunya. Dia pun kehilangan keseimbangan dan terjatuh dari kuda. “Appo..” rintihnya. Se Hun tidak peduli dan terus memacu kudanya. Tidak lama kemudian Lu Han dan Min Seok juga terjatuh dengan anak panah menancap di pelindung dada mereka.

Se Hun terus mengejar Se Young. Akhirnya Se Hun bisa memacu kuda di samping Se Young. ‘Aiish lagi-lagi kau.” kata Se Young. Se Hun hanya tersenyum. Se Young memacu kudanya lebih cepat agar bisa menghindar dari Se Hun.

Tapi Se Hun lebih cepat. Dia segera melompat dari kudanya ke kuda Se Young. Dia segera memeluk Se Young untuk menghalangi Se Young memacu kuda lebih cepat. “Aisssh” geram Se Young. Dia menggoyangkan bahunya agar Se Hun jatuh, Tapi mereka berdua malah jatuh dari kuda.

Se Hun segera membalik posisi agar Se Young tidak menyentuh tanah terlebih dahulu. Mereka berdua jatuh dengan suara berdebam. Se Young masih pusing tapi Se Hun segera membalik posisi lagi dan menindih tubuh Se Young dengan tubuhnya.

“Lepas.” kata Se Young sambil memukuli punggung Se Hun dengan busurnya. Se Hun segera menangkap kedua pergelangan tangan Se Young dengan satu tangan lalu menguncinya di atas kepala Se Young.

“Apa musuh akan melepaskanmu jika dalam kondisi seperti ini?” tanya Se Hun sambil tersenyum. Se Young hanya menatap kesal Se Hun. Se Hun mendekatkan bibirnya ke daun telinga Se Young. “Putri tidak akan pernah bisa mengalahkanku.” bisiknya.

“Se Hun! Putri sudah tertangkap?” seru Lu Han. “Ne! Min Seok hyung beri tanda.” balas Se Hun. Min Seok segera mengeluarkan bola es dari tangannya dan melemparnya ke udara sebelum bola itu meledak. Itu tanda bahwa putri sudah tertangkap.

“Sayang sekali ya Putri.” goda Se Hun. Tapi dia bersyukur Lu Han segera memanggilnya tadi. Nyaris saja dia mencium Putri. Posisi Putri tadi sempat membuat pertahanannya lemah.

“Kajja, kita istarahat dulu.” kata Se Hun. Dia melepas pergelangan tangan Se Young. Se Young langsung mendorongnya menjauh dan berdiri. “Menyebalkan. Selalau saja kalah.” omelnya.

Gojang hanya bisa tertegun. Putri ini hebat. Dia bukan Putri biasa. Di Geogeoryeo pun Go Jang tidak pernah menemukan putri seperti Se Young. Bahkan beberapa putra pejabat ataupun pangeran di istana tidak ada yang mau berlatih seperti ini.

Tidak butuh waktu lama seluruh pengawal Putri berkumpul. “Wah-wah pemenangnya Se Hun lagi.” goda Kyung Soo. “Tadi aku hanya sedikit lengah kok.” elak Se Young. “Kita istirahat di dini dulu baru kita lanjutkan latihannya.” perintah Joon Myun.

“Putri kenapa anda harus latihan seperti ini? Ini bukan bagian untuk seorang Putri.” kata Go Jang. “Ini tidak ada hubungannya dengan status Putri. Setiap keluarga kerajaan harus kuat agar bisa melindungi negerinya. Abamama berkata seperti itu padaku. Bahkan Kaisar pun bukan seorang Kaisar jika tidak bisa melindungi rakyatnya, kan?” jawab Se Young sambil tersenyum.

Go Jang benar-benar kagum dengan Putri Se Young. Putri itu sangat berbeda darinya. Dia hanyalah seorang pangeran lemah dan bodoh. Sedangkan Putri Se Young begitu bersinar. Kuat, berani, baik hati, dan bijaksana. Go Jang tersenyum. Sepertinya tidak sia-sia dirinya ke Silla.

****

Go Jang sudah membulatkan tekad. Di aharus mengatakan yang sebenarnya kepada Se Young. Dia tidak ingin seperti ini terus. Go Jang melihat keluar dan melihat Se Young sedang berdiri di jembatan kecil di taman pavilliun. Sendiri. Ini kesempatan bagus, pikir Go Jang.

Dia segera berlari menghampiri Se Young. “Putri Se Young!” seunya sambil menghampiri Se Young. Se Young melihat ke arah Go Jang dengan wajah penuh tanah. “Ada sesuatu yang ingin kukatakan. Sebenarnya aku adalah Putra Mahkota Geogeryeo. Namaku Go Jang.”

Se Young sebenanrnya sudah bisa menebak, tapi dia memilih untuk bertanya. “Lalu kenapa Yang Mulia ada disini?”

“Aku melarikan diri dari istana. Aku baru saja ditunjuk menjadi Putra Mahkota menggantikan kakaku. Tapi itu hanyalah sekedar gelar. Para menteri memanfaatkanku untuk kepentingan mereka sendiri. Aku tidak bisa melawan, aku terlalu takut dan melarikan diri ke Silla.” jelas Go Jang.

“Kamu pasti akan menertertawakanku. Aku lemah, bodoh, penakut. Berbeda denganmu.” lanjut Go Jang. “Ani, Yang Mulia juga hebat. Lari dari istana sendirian. Itu bukan hal yang mudah untuk seorang Pangeran sepertimu. Yang Mulia pasti mengeluarkan segenap keberanian saat itu.” balas Se Young.

“Tapi sekarang Yang Mulia harus segera kembali. Yang Mulia harus bisa mengendalikan para menteri itu. Jika tidak rakyat akan sengsara.” lanjut Se Young.

“Percuma. Aku tidak bisa. Tidak ada yang membelaku.” gumam Go Jang. “Yang Mulia, abamama pernah berkata padaku. Saat seseorang duduk di atas tahta naga, itu berarti dia sendirian. Tidak akan ada yang bisa membantunya. Tapi sebagai wakil langit, dia berhak mengatur segala hal. Dialah kekuasaan tertinggi.

Sekarang Yang Mulia harus yakin dengan diri Yang Mulia sendiri. Yang Mulia bisa dengan mudah menyngkirkan para pejabat itu. Yang Mulia harus bisa melindungi rakyat. Yang Mulia ingat kan saat di pasar kita bertemu dengan banyak persoalan.

Para rakyat hanya bisa bergantung pada Yang Mulia. Hanya Yang Mulia yang bisa menyelamatkan mereka. Pikirkan bagaimana wajah mereka ketika Yang Mulia berhasil menyelesaikan masalah mereka, itu akan menjadi kekuatan Yang Mulia.”

Go Jang berpikir. Selama ini dia tidak pernah berpikir ke arah situ. “Baiklah aku akan kembali. Tapi maukah kau berjanji akan selalu membantuku? Aku yakin kau pasti bisa membantuku menyelesaikan masalah.” ucap Go Jang.

Se Young tersenyum. Dlam hati dia bersorak karena berhasil berteman dengan seorang Putra Mahkota Gegeogeryeo. Dengan membantu Go Jang sampai di tahta naga, berarti dia bisa mengendalikan Geogeoryeo.

“Tentu saja aku akan membantu anda Yang Mulia. Tapi apa Yang Mulia tidak apa? Saya dari negeri Silla sedangkan anda dari Geogeoryeo. Anda tahu kan maksud saya.” balas Se Young. “Tidak masalah. Hanya kau yang bisa aku percaya. Kau menolongku saat aku masih seperti pengemis. Tanpa memandang status kau membawaku ke istana dan merawatku. Aku yakin kau akan seperti itu.”

“Kalau itu keinginan Anda, saya akan membantu.” jawab Se Young. “Besok akan saya siapkan kuda. Anda harus kembali secepatnya. Saat subuh temui saya di hutan belakang.” lanjut Se Young. Go Jang mengangguk.

“Kenapa Putri berbuat seperti itu?” tanya Se Hun setelah Go Jang kembali ke kamarnya. “Ani, aku hanya ingin mebantunya.” jawab Se Young. Se Hun mendengar semuanya dari balik pintu gerbang di dekat jembatan.

Se Hum merasa kesal dengan Pangeran itu. “Sepertinya dia menyukaimu.” sindir Se Hun. “Aissh tidak mungkin. Kau ini. Setiap ada yang mendekatiku pasti kau pikir mereka menyukaiku.” balas Se Young. Wajah Se Hun langsung memerah.

“Se Hun ayo kita ke kamar. Kau harus menjadi bantalku lagi malam ini.” ajak Se Young. Se Hun menghela napas. Putri ini benar-benar tidak peka. Tapi Se Hun menyukai Putri yang seperti itu. Sisi Putri yang hanya dia ketahui.

Se Hun lalu berjalan di belakang Putri. Dia mengulurkan tangannya dan meraih ujung rambut Putri yang tergerai hingga menyentuh pinggang. Perlahan dia menempelkan rambut itu ke bibirnya. Se Hun menghirup aroma bunga yang menguar dari rambut Se Young.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Se Young. “Ani, hanya saja aku tadi mencium bau aneh. Ternyata dari rambut Putri.” goda Se Hun. “Hya! Tidak sopan! Aku memakai wewangian terbaik yang diberi oleh orabeoni.”” kata Se Young. Dia memukuli dada bidang Se Hun.

Se Hun tertawa lalu menggendong Se Young. “Turunkan aku.” perintah Se Young. ‘Ani, ini sudah gelap. Bisa-bisa Putri tersandung batu karena terlalu gelap. Nanti rambut Putri akan berbau tanah.” jawab Se Hun. Se Young hanya mendengus kesal.

“Seperti ini pun tidak buruk.” batin Se Hun.

****

“Kamsahamnida atas semuanya selama ini.” kata Go Jang. Dia belakangnya berdiri seekor kuda. Kantung perbekalan di pasang disisi pelana kuda itu. “Tidak perlu seperti itu. Aku tidak melakukan apa pun.” balas Se Young.

“Kuda ini akan membawa Yang Mulia sampai ke Geogeoryeo dalam waktu 2 hari. Perebkalan anda juga sudah aku siapkan.” jelas Se Young. Go Jang tersenyum.

“Putri Se Young, jika aku berhasil menjadi Kaisar, bolehkah aku kembali ke sini untuk melamarmu menjadi permaisuriku?” tanya Go Jang.

Se Young terkejut. Dia tidak menyangka Go Jang berkata seperti itu. Dia bahkan tidak bisa menjawab karena terlalu terkejut. Perkataan Se Hun kemarin menjadi kenyataan.

“Karena anda diam, berarti aku anggap anda setuju.” kata Go Jang sambil tersenyum lalu segera menaiki kuda. “Aku pergi dulu. Gomawo atas semuanya. Dan aku serius dengan perkataan terakhirku.” katanya. Dia lalu memacu kuda sebelum Se Young sempat menjawab.

****

Kyu Hyun membuka pintu kamar. Dia bisa melihat Min Young sedang tertidur pulas. Dia meletakan meja kecil berisi sarapan Min Young di meja samping tempat tidur. Kyu Hyun lalu duduk di tempat tidur.

Dia tersenyum lalu membelai pipi Min Young. Selama bersama Se Young di Silla adalah waktu yang paling menyenangkan dalam hidupnya. Dia tidak menyangka orang sepertinya akan bertemu seorang Putri seperti Se Young.

Dulu dia selalu membayangkan bagaimana jika Se Young selamanya ada di sisinya. Dan sekarang Min Young ada di sampingnya. Dia harus melindungi Min Young agar Min Young selalu disisnya.

“Min Young-a kajima. Karena kaulah matahariku.”

Eotte? Yang part terakhir itu saat Min Young ada di rumah Kyu Hyun. Ayo kasih saran lagi. Kalau bisa 2 karena tinggal 2 extra story lagi. Thx for reading and stay tune ^^

86 tanggapan untuk “The Princess & The Knights (Chapter 9 Extra Story)”

  1. Baca saja udh seperti membayang’kan dramkor ttp klw dijadikan dramkor para exofans girl pasti akan membully se young/min young. Seperti *eror*

  2. Trnyata pangeran kyuhyun masa lalu sama masa sekarang berbeda banget ya….
    Untungnya yg skrg kyuhyun nya pemberani….hehehe…
    Semangayyyy ^_^
    Gomawoyo…

  3. Annyeong thor, mian aku cuma komen di chap ini. Kalau saran dari aku, masih ada yang typo thor. Tapi keren kokkk. Ditunggu chap selanjutnya. Fighting!^^

  4. seruu bangeett extra storynya daebaaak:) yaah:( udah mau abis ya:( suka banget ceritanya ya ampun thor. good job!:)))

  5. Author aku bru nemu ff ini, tdi aku dah bca chap 1 – 9, tpi aku komennya lsg di extra chap ini aja ya ^^
    aku suka thor sama ide ceritanya 🙂 aku suka sama genre fantasy dan yg ada sejarahnya kyak ff ini 🙂 dan aku pengen Sehun dan Minyoung bisa bersatu kli ini ^^

  6. Ohh.. maksa juga ya si go jang.. lgsug minta se young jdi permaisurinya.. ckckck.. cpet di next ne… chap 10+extra storynya..

  7. Daebak! Daebak thor!!!
    Tpi aku tetap sehyoung sipper~
    Chap selanjutnya di tunggu thor!!! Keep writing!!! Fighting!!! ^_^)9

  8. DAEBAKKKK!! Lanjut Thor.. Min Young harus tetep sama Sehun aja yaa=D Keep Writing thor, Fightinggg ^^

  9. wah… Daebak! Aku gak bosen baca ff ini berkali2.. Menarik ^^ dilanjut ya thor.. Tentang gimana terbunuhnya Se Young, ditunggu sampai last chapter…

  10. kok aku lebih suka minyoung sama sehun ya… jebal thor mereka aja
    ooowww… itu ceritanya masa lalunya
    keren bgt thor idenya
    next chap and keep writing thor^^

  11. Kereenn thor, cumaa lebih suka kaloo min young sama sehun siih :” heheh…. Aku juga masih kepo thor, sehun suka min young yang sebagai min young atau sebagai se young hehe. Keep writiing ya thor!!

  12. O.o jadi begitu cerita jaman dahulunya.
    Nice nice apalagi seyoung moment..:)
    Mau kasih saran apaan thor, udah bagus banget ini.
    Yang pasti ditunggu next chapt.

  13. aduhhh… makin daebak… masa lalunya sehun sama seyoung dong thorrr. . . sama banyakin part sehun sama min young.. .

  14. oohhh jadi gitu toh ceritanya
    good job thor,,,makin kesini makin bagus cerita dan juga tulisanya
    lanjut authornim 🙂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s