The Princess & The Knights (Chapter 9)

TPTK 3

Title        : The Princess & The Knights
Author         : Kim Na Na
Length         : Series
Main Cast     : All EXO Member
Song Min Young (OC)
Other Cast     : Find it 🙂
Genre         : Historical Romance, Fantasy, School Life
Rating         : PG-15

Ch 1 | Ch 2 | Ch 3 | Ch 4 |Ch 5

Ch 6 | Ch 7 | Ch 8

Mian kalo chap ini pendek, soalnya chap ini cuma prolog untuk chap selanjutnya. Dan ff ini mungkin akan berakhir di chap 11. Tentu saja masih ada extra chap untuk chap ini. Tapi akan aku post besok siang. Ok langsung aja happy reading dan jangan lupa komen untuk lanjut ke chap berikutnya ^^

Min Young berjalan menyusuri jalan setapak. Sesekali menoleh kebelakang. Sejak tadi perasaannya tidak enak. Seakan-akan ada orang yang mengamatinya. “Apa ini labirin di Lotte World? Kenapa di sini kabutnya tebal sekali?” batin Min Young.

Kabut tebal menyelimuti jalanan labirin. Membuat Min Young tidak bisa melihat jelas apa yang ada di depannya. Suasana begitu hening dan mencekam. Tidak ada suara orang satu pun. Hanya ada suara hembusan angin. Padahal Min Young melihat jelas banyak orang yang masuk ke labirin sebelumnya.

Pagar tanaman setinggi 5 meter bergemisik setiap kali angin angin bertiup. Pagar-pagar tanaman itulah yang membentuk labirin. Setiap daun dan sulur saling membelit rapat membuat Min Young tidak bisa melihat apa yang di balik pagar itu.

Min Young berbelok di tikungan terdekat. Setelah berjalan beberapa langkah dia menemukan jalan buntu. “Sial, dimana jalan keluarnya?” kata Min Young.

Dia berbalik untuk menemukan jalan yang baru saja di lalui. “Bukannya tadi di sini ada jalan? Kenapa sekarang tertutup pagar tanaman?” kata Min Young. Dia hendak menyentuh pagar tanaman ketika dia menyadari bahwa tanaman di labirin ini selalu bergerak.

“Mwo? Tanaman ini bergerak? Berarti labirin ini pun terus berubah-ubah?” pikir Min Young. Dia mengamati sekelilingnya. Dan dia melihat sebuah pagar tanaman bergerak dan menutup jalan disampingnya. Menunjukkan jalan baru.

Angin yang berhembus semakin dingin. Bahkan uap pun muncul dari mulut Min Young. Labirin yang terus berubah. Min Young mengacak rambutnya frustasi. “Aku harus segera keluar dari sini. Tapi bagaimana keadaan oppa-deul dan Kyu Hyun?”

Di saat yang sama, Kyu Hyun dan Se Hun berlari menyusuri jalan setapak. Membelok jika ada tikungan yang mereka anggap menuju jalan keluar. Tapi hanya berujung pada jalan buntu.

“Sial! Kenapa bisa begini?!’ seru Se Hun. Dia menendang tanah dengan kesal. “Kabut ini semakin membuat keadaan menjadi buruk.” komentar Kyu Hyun. “Kyu Hyun-a, apa kau tidak merasa, labirin ini seperti bergerak?” tanya Se Hun.

Mereka mengamati sekeliling mereka. Tiba-tiba sebuah sulur membelit pergelangan kaki Kyu Hyun. Membuat Kyu Hyun terjatuh ke tanah. “Ige Mwoya?!” serunya. Sulur itu berusaha menarik Kyu Hyun untuk masuk ke tanaman pembatas yang rimbun.

Se Hun berniat mengeluarkan cakarnya untuk memotong sulur itu. Tapi tidak ada yang terjadi. “Se Hun-a, apa yang kau lakukan?! Cepat tolong aku!” teriak Kyu Hyun. Kyu Hyun berusaha melepaskan diri dari sulur itu. Tangannya berusaha meraih apa pun yang bisa dijadikan penahan.

“Aku tidak bisa berubah! Sepertinya labirin ini meredam kekuatanku!” balas Se Hun. Se Hun segera meraih Kyu Hyun. Dia berusaha menarik kembali Kyu Hyun sedangkan tangan satunya berusaha melepaskan sulur itu. “Sial kenapa sulur ini kuat sekali?” batin Se Hun.

“Kyu Hyun-a, coba kau keluarkan pedangmu! Aku tidak bisa melepas sulur gila ini!” seru Se Hun. Kyu Hyun mencoba mengeluarkan pedangnya, dan kali ini dia berhasil. Tanpa membuang waktu, Kyu Hyun langsung memotong sulur itu.

Sulur itu terpotong dan Kyu Hyun terlepas. Se Hun segera membantu Kyu Hyun berdiri. “Sebenarnya siapa yang membuat labirin ini?! Dan kenapa kau tidak pernah memberitahu tentang pembunuh Se Young?!” bentak Se Hun.

Kyu Hyun hanya terdiam. Dia tidak bisa memberitahukan alasannya pada Se Hun. Dia menangkap suatu gerakan dari ujung matanya. “Akan aku ceritakan nanti. Sulur itu muncul lagi.” kata Kyu Hyun. Se Hun melihat ke bawah dan selusin sulur mulai mengarah pada mereka.

“Sial, kita harus segera menemukan Min Young!” kata Se Hun dan mereka kembali berlari. “Min Young-a semoga kau selamat.” pinta mereka berdua.

Min Young berjalan menyusuri labirin. Suasana berubah semakin gelap dan udara semakin dingin. “Apa aku akan terjebak di sini selamanya?” gumam Min Young. “Ani, kau tidak boleh seperti itu. Kau harus kuat Song Min Young!” seru Min Young menyemangati dirinya sendiri.

Tiba-tiba sebuah sulur berujung setajam pedang menembus pagar tanaman. Sulur itu langsung mengincar leher Min Young. Untung saja Min Young sempat menghindar sehingga sulur itu hanya menggores pipinya.

“Sekarang sulur tajam! Sebenarnya labirin apa ini?” batin Min Young. Dia tidak mempedulikan darah yang mulai mengalir di pipinya karena luka gores tadi.

Angin berhembus kencang. Min Young menoleh ke belekang dan melihat sulur-sulur pisau seperti tadi keluardari pagar tanaman dan mendekat ke arahnya. “Gawat aku harus lari!” batin Min Young.

Min Young berlari sekuat tenaga. Di belakangnya sulur-sulur itu berusaha menusuknya. Min Young berlari tanpa arah yang pasti. Dia hanya berusaha agar terlepas dari sulur-sulur tajam. Napasnya mulai tak beraturan. Kakinya sudah tidak kuat untuk berlari lagi.

“Aww!’. Min Young jatuh tersandung sebuah batu. “Appo..” rintihnya. Lututnya berdarah. Sedangkan kakinya sendiri sudah tidak bisa digerakan. Sulur -sulur semakin mendekat ke arahnya.

Min Young tidak bisa berpikir apa-apa lagi. Hanya sebuah nama yang terlintas dipikirannya. “SE HUN!!”

****

Se Hun terus berlari menyusuri jalanan yang semakin berkabut. Perasaan khawatir akan keselamatan Min Young terus menghantui pikirannya. Tidak henti-hentinya dia berdoa agar Min Young selamat.

“SE HUN!!”. Se Hun langsung menghentikan langkahnya. Itu suara Min Young, batin Se Hun. “Kyu Hyun-a, kamu dengar suara Min Young?” tanya Se Hun. “Ani, aku tidak mendengar suara apa pun.” jawab Kyu Hyun heran.

“Tidak, aku tidak mungkin salah dengar. Min Young ada di dekat sini. Darawa.” kata Se Hun. Dia kembali berlari diikuti Kyu Hyun.

Se Hun tidak tahu asal suara itu. Tapi kakinya seakan-akan tahu dia harus mengambil jalan yang mana. Dan sekarang Se Hun berharap agar instingnya tidak salah.

****

Min Young belum menutup mulut ketika seberkas cahaya muncul di ujung jalan setapak. “Itu jalan keluarnya!” pekik Min Young gembira. Dengan semangat baru, dia berusaha bangkit dan berlari ke arah cahaya itu. Min Young berlari hingga dia masuk ke sebuah lapangan kosong. Dia masuk ke pusat labirin.

Sulur-sulur itu tidak lagi mengejarnya. Mereka terhenti karena lapangan kosong itu dikelilingi tembok batu, bukan pagar tanaman lagi.. Min Young jatuh terduduk. Dia belum keluar, tapi untuk sementara dia selamat karena sulur tadi tidak mengejarnya.

Min Young hanya bisa terduduk dengan napas tersengal-sengal. Nyaris saja dia mati karena sulur-sulur itu. “Min Young! Min Young! Kau di mana?!” seru seseorang di belakang Min Young.

Min Young segera menoleh ke asal suara itu. “Se Hun! Kyu Hyun!” seru Min Young. Dia berusaha berdiri agar Se Hun tidak melihat kakinya yang terluka. Agar Se Hun tidak bertmbah khawatir.

“Min Young!” seru Se Hun dan Kyu Hyun serempak dan segera berlari ke arahnya. “Min Young-a! Gwenchana?” tanya Se Hun. Dia langsung memeluk tubuh mungil yeoja di depannya. “Gwenchana.” kata Min Young sambil tersenyum. Tapi keadaannya tidak bisa membohongi Se Hun.

Bajunya kotor dan berdebu. Wajah Min Young yang biasanya ceria tampak menyedihkan tertutup debu dan pucat. Beberapa daun kering tersangkut dirambut panjangnya. Darah kering tampak menutupi luka gores di pipinya. Dan Se Hun bisa melihat lebih banyak lagi luka di tangan dan kaki Min Young.

Se Hun mempererat pelukannya sambil mencium puncak kepala Min Young. Dia tidak ingin kehilangan Min Young lagi. Pikiran-pikiran mengerikan melintas di kepalanya saat dia berlarian di labirin, berusaha menemukan Min Young. Dan dia nyaris gila saat belum menemukan

“Mianhae. Neomu mianhae.” kata Se Hun. Kalau saja dia lebih cepat menyadari bahwa ini perangkap, dia tidak akan membiarkan Min Young masuk.

“Sudahlah, ini juga bukan salahmu.” bisik Min Young. Dia berusaha agar tidak menangis. Segala ketakutan dan kekhawatirannya yang ditahannya langsung keluar tak terbendung ketika Se Hun memeluknya.

Padahal tadi dia bisa menekan perasaan itu. Dia menguatkan dan meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua akan baik-baik saja. Tapi begitu Se Hun memeluknya, dia kembali merasa lemah.

Sedangkan Kyu Hyun hanya bisa tersenyum pahit. Ini lebih menyakitkan dibanding saat Se Hun menyatakan perasaannya pada Min Young. Se Hun bisa mendengar suara Min Young, padahal dia tidak mendengar apa pun.

Seakan-akan mengatakan bahwa perasaan Se Hun pada Min Young jauh lebih besar daripada perasaannya. Kyu Hyun menghela napas. Kesempatannya benar-benar berakhir sekarang. Ikatan mereka terlalu kuat untuk di putus.

“Ternyata kalian bisa sampai sini. Hebat.” kata seseorang. Suaranya bergema di lapangan itu. Terdengar halus dan manis tapi berbahaya. Mereka tidak bisa melihat jelas sosoknya karena kabut yang tebal.

Tapi Kyu Hyun tahu, sangat tahu, bahwa orang itulah yang ada di balik pembunuhan Se Young. Dia langsung berdiri di depan Min Young sambil mengacungkan pedangnya. “Kau pembunuh Se Young, bukan?” tanya Kyu Hyun lantang.

“Gurae.” jawab orang itu. “Sial, akan kubunuh kau sekarang!!!” seru Kyu Hyun. Amarahnya sudah tidak bisa ditahan lagi. Dia berlari maju, bersiap menebas sosok itu.

Sosok itu hanya tertawa lalu mengibaskan sebelah tangnnya. Sebuah energi memukul tepat dada Kyu Hyun, membuatnya terhempas ke belakang. Kyu Hyun jatuh dengan suara berdebam keras.

“Kyu Hyun!” seru Min Young. Min Young langsung berlari mendekati Kyu Hyun. “Genchanayeo?” tanya Min Young. Kyu Hyun hanya mengangguk. Di berusaha berdiri dibantu Min Young. Kyu Hyun mengernyit kesakitan setelah berhasil berdiri.

“Pangeran Go Jang, lebih baik anda diam saja. Jangan lupa, sebagian penyebab kematian Putri karena kau.” ujar sosok itu. Se Hun sudah siap bertanya pada Kyu Hyun maksud perkataan tadi. Tapi melihat ekspresi kebingungan Kyu Hyun, Se Hun mengurungkan niatnya.

“Kenapa kau membunuh Putri Se Young?!” seru Se Hun. “Kenapa? Bukannya kau seharusnya bertanya pada Putri terlebih dahulu. Dia membunuhku lebih dulu, lalu kenapa aku tidak boleh membunuhnya?” balas sosok itu.

“Mwo? Putri tidak mungkin berbuat seperti itu!” bentak Se Hun. “Jangan terlalu percaya pada Putri. Dia berkedok seorang putri yang baik dan manis sehingga semua orang percaya padanya.

Tapi apa yang dia lakukan padaku bukanlah gambaran dari seorang Putri yang manis. Pelan tapi pasti dia merebut semua milikku.”

“Aku tidak peduli kenapa kau membenuhku 1900 tahun yang lalu. Tapi kenapa sampai sekarang kau juga berniat membunuhku?” tanya Min Young.

“Jangan berlagak tidak tahu apa-apa. Di kehidupan ini pun kau sama menyebalkannya dengan 1900 tahun yang lalu. Tanya saja pada kedua orang tuamu yang aku bunuh itu.” jawab sosok itu. Nadanya tidak lagi lembut dan manis. Suaranya terdengar sinis dan muak.

Min Young terhenyak. “Jadi orang ini yang membunuh eomma dan appa.” batin Min Young. Min Young merasa tidak bisa berpikir apa-apa lagi. Dia tidak mengerti tentang ini semua. Kenapa eomma dan appanya harus ikut menjadi korban.

Perlahan Min Young mengambil pedang Kyu Hyun yang tergeletak di dekatnya. Dia maju selangkah demi selangkah. Wajahnya tertunduk. Jantungnya berdetak cepat. Air mata saja tdak bisa menggambarkan betapa sedih dan marahnya Min Young sekarang

Dia membayangkan bagaimana orang ini membunuh orang tuanya. Apa yang dilakukan orang tuanya terakhir kali. Kenapa semua ini bisa terjadi.

Setiap dia memikirkan hal-hal itu, langkahnya semakin mantap. Min Young mengangkat wajahnya. Mata coklatnya menatap sosok itu dengan penuh amarah dan keinginan untuk membunuh.

Sosok itu pun sempat mundur melihat tatapn Min Young. Tubuhnya serasa tidak bisa digerakan karena pandangan itu. “Kenapa aku selalu takut dengan tatapan itu?” runtuk sosok itu dalam hati.

“Aku akan membunuhnu.” bisik Min Young. Dia melemparkan pedang Kyu Hyun ke arah sosok itu. Pedang Kyu Hyun nyaris saja menancap di jantung sosok itu, kalau saja dia tidak sempat menghindar. Tapi pedang itu menembus bahu sosok itu.

Sosok di depan Min Young meraung kesakitan. “Beraninya kau…” desisnya. Dia mengeluarkan bola api yang sangat besar. “MATI KAU!!!” raungnya lalu melempar bola api ke arah Min Young.

Se Hun segera berlari untuk melindungi Min Young. Tiba-tiba sebuah suara terdengar. “Min Young.” hanya itu yang suara itu ucapkan. Se Hun, Min Young dan Kyu Hyun diselimuti cahaya kemudian menghilang dari hadapan sosok yang ingin membunuh Min Young.

“Sial. Kenapa Hwan Eung membantunya.” geram sosok itu. “KAU CEPAT KEMARI!” perintah sosok itu. Sesosok yeoja muncul dari balik tembok labirin. “Cepat katakan pada Mundeok untuk menyiapkan seluruh pasukan kita. Kita akan bersiap melawan pasukan Putri itu. Kau tidak usah ikut. Tugasmu sudah selesai.” bentak sosok itu.

“Andwe, aku masih ingin membunuh Putri itu.” balas yeoja itu. “Jangan kau pikir aku tidak tahu bahwa kaulah yang membuka segel pengunci kekuatan Pangeran Go Jang. Kau tidak ingin melihat Pangeran itu terluka, kan? Tapi lihat perbuatanmu. Putri itu sekarang bisa melukaiku dengan pedang Pangeran Go Jang.

Sekarang segera beritahu Mundeok. Kau tidak usah ikut. Berani melawan akan kubunuh kau.” ancam sosk itu. Yeoja itu hanya bisa mengepalkan tangannya. “Algaesseumnida.”. “Awas saja, akan kubunuh kau Putri.” desis sosok itu sebelum menghilang.

****

Min Young mengerjap-ngerjapkan matanya. Cahaya putih silau menerobos matanya. Setelah mengerjap-ngerjap beberapa kali, dia baru terbiasa dengan cahaya itu. “Eodisseo?” gumamnya sambil berusaha berdiri.

Min Young mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Dia berdiri di sebuah ruangan putih tanpa batas. Di depannya sebuah gerbang besar berdiri kokoh. Gerbang itu dipenuhi ukiran yang sama dengan ukiran di pelat segel yang Kris bawa.

Dia berjalan mendekati gerbang itu. Tapi beberapa langkah sebelum mencapai gerbang dia melihat seseorang terbaring. Min Young memincingkan matanya dan baru menyadari itu adalah Kyu Hyun.

“Kyu Hyun! Ireonna!” seru Min Young. Dia mengoyang-goyangkan bahu Kyu Hyun. Kyu Hyun mengerjap-ngerjapkan mata. “Min Young? Ini dimana?” gumam Kyu Hyun. Min Young menggelengkan kepalanya.

“Sepertinya kalian berdua sudah sadar.” kata seseorang. Min Young ingat itu suara yang ia dengar sebelum tertutup dengan cahaya. “Nuguya?” tanya Kyu Hyun. Orang itu tersenyum dan mendekati mereka berdua.

“Joneun Jung Yun Ho. Aku Hwan Eung. Akulah yang membawa kalian ke sini.” jawabnya. “Di mana oppa-deul? Kenapa hanya kita berdua?” tanya Min Young.

“Mereka sudah aku bawa ke tempat aman. Ini adalah gerbang dimensi. Hanya pemilik darah kerajaan yang bisa masuk. Tapi yang sekarang di sini bukanlah kalian seutuhnya. Hanya jiwa kalian yang aku bawa. Tubuh kalian aku serahkan pada ke dua belas pengawalmu.” jelasnya.

Akirnya mereka berdua paham kenapa mereka di sini. “Musuh mulai bergerak. Mereka mengerahkan kekuatan siluman yang cukup besar. Aku takut hal ini dapat merusak hubungan antara langit dan bumi.” lanjut Yun Ho.

“Berarti kau sudah tahu siapa musuh-musuh kita?” tanya Kyu Hyun. “Ne, tapi kalian harus mencari jawabannya sendiri di balik pintu ini. Sekarang bukanlah perang antara kalian dan musuh kalian itu saja. Tapi juga antara langit dan bangsa siluman. Kalian harus segera nengukapnya dan mengalahkan musuh kalian.” ujar Yun Ho.

“Aku akan memberikan bola segel terakhir dan membuka gerbang dimensi. Aku hanya ingin mengatakan satu hal. Maafkan musuhmu. Jangan membuat dendam lagi.” lanjut Yun Ho.

“Mwo? Jangan bercanda! Dia yang membunuh kedua orang tuaku! Dia juga berniat membunuhku! Untuk apa aku memaafkannya!” seru Min Young. Air mata mulai mengalir ketika mengingat apa saja yang telah dilakukan musuhnya.

“Aku tahu itu memang sulit. Memaafkan adalah hal tersulit di dunia. Tapi dendam hari ini adalah akibat dendam di 1900 tahun yang lalu. Dendam itu tidak akan pernah berakhir. Harus ada salah satu yang mengakhirinya.” ujar Yun Ho.

“ANDWE! Aku harus membunuhnya!” teriak Min Young histeris. Air mata mengalir dipipinya. Min Young terduduk di lantai. Kedua tangannya mengepal kuat.

Kyu Hyun tidak tega dengan Min Young. “Kenapa di saat seperti ini tidak ada Se Hun?” batinnya kesal. Tapi melihat keadaan Min Young, dia merasa harus melakukan sesuatu. Kyu Hyun bukanlah pangeran Min Young, tapi dia ingin Min Young bisa bersandar kepadanya.

Perlahan Kyu Hyun memeluk bahu Min Young. “Min Young-a, aku pikir aku sudah tahu siapa musuh kita sebenarnya.” kata Kyu Hyun. Min Young tidak menjawab. Dia masih menangis. Kyu Hyun menghela napas.

Dia membalikkan badan Min Young agar dia dapat melihat mata Min Young. “Aku berpikir musuh kita adalah dendam itu sendiri. Bukan orang yang membunuh kedua orang tuamu. Dan cara mengalahkan dendam adalah dengan memaafkannya.” ujar Kyu Hyun.

Min Young terdiam dan membalas menatap Kyu Hyun. “Orang tuamu tidak ingin kamu seperti ini. Orang tuamu hanya ingin kau hidup. Hanya itu saja. Mereka tidak ingin kau membalas dendam atau pun membunuh orang lain.” lanjut Kyu Hyun.

Min Young kembali menangis. Kepalanya penuh hingga tidak bisa berpikir lagi. Kyu Hyun memperrat pelukannya. “Min Young yang kukenal adalah yeoja yang kuat. Dia tetap tersenyum apa pun yang terjadi. Uljimma.” hibur Kyu Hyun. Dia membelai punggung Min Young agar Min Young tenang.

“Kyu Hyun-a, aku lelah. Aku ingin semua segera berakhir.” isak Min Young. “Geurae. Kita akan segera menyelesaikan ini semua dan kembali ke kehidupan kita yang damai. ” ujar Kyu Hyun.

Tidak lama Min Young tangisan Min Young berhenti. Kyu Hyun membantunya berdiri. “Aku akan memaafkannya. Aku akan berusaha.” ujar Min Young. Suaranya bergetar karena menahan tangis. “Bagus. Sekarang aku akan mebukakan gerbangnya.” kata Yun Ho.

Dia berjalan ke arah gerbang. Yun Ho meletakan tangannya diatas sebuh pelat yang sama dengan pelat segel yang dibawa Kris. “Atas perintah Hwan Eung, Putra Kaisar Langit, terbukalah gerbang.” bisik Yun Ho.

Sebuah batu berwarna emas melengkapi lubang terakhir yang ada di pelat itu. Daun pintu bergetar dan bergerak membuka. Min Young tidak bisa melihat apa yang dibalik pintu. Dia hanya bisa melihat cahay yang menyilaukan.

“Masuklah. Kalian akan menemukan semua jawabannya di sana.” kata Yun Ho. Kyu Hyun mengangguk lalu menggandeng Min Young melewati gerbang. “Kamsahamnida.” ucap Min Young pada Yun Ho sebelum melewati gerbang.

“Kalian harus kembali, sebelum perang dimulai.” batin Yun Ho saat melihat kedua sosok itu semakin menjauh.

Kyu Hyun dan Min Young melewati gerbang dengan berdebar. Memikirkan apa yang akan mereka temui. Setelah berjalan beberapa langkah, mereka bisa melihat kerajaan Silla terhampar di bawah mereka. Mereka kembali ke Silla 1900 tahun yang lalu, tempat semuanya berawal.

Eotte? Sebentar lagi semua akan jelas. Di chap selanjutnya akan lebih banyak mengambil setting zaman dulu. Ok stay tune and thx for reading

107 tanggapan untuk “The Princess & The Knights (Chapter 9)”

  1. Chap ini banyak cerita action nya ya…
    Daebak baru keluar nih semua tvxq nya…hahahaha….
    Ceritanys tambah bikin penasaran. aja…
    Lanjut dlu ya 🙂

  2. Siapa sih pembunuh sebenarnya.. Makin bikin penasaran… Tpi ternyata dewa yang terakhir gak punya banyak syarat… Makin seru deh pokoknya…

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s