Pursuit of Happiness-1

 

or-pursuit of happiness (1)

 

 

Pursuit of Happiness-1

CASTS:

Byun Baekhyun

Oh Minjoo

Oh Sehun

Yoon Bora

Xi Luhan

Genre: Angst, Teen, Friendship

Rating: PG-13 (sebenernya masih kurang paham rating hehe, tapi ini ga ada kasar dan mature content-nya kok)

Disclaimer:

Cover by Luwina

‘Sea of Strangers’ poem by Lang Leav (Love and Misadventure)

Author’s Note:

hai semua.. gimana puasa-nya? semoga berkah ya.. hehe. jadi aku sebenernya udah libur dari lama tapi lagi mager banget nerusin ff, akhirnya kemaren cuma diisi buat download ebook (mental gratesan hehe), nonton film,  main sama temen (bogor udah banyak tempat makan baru, yeay!), dan menyelesaikan beberapa urusan kuliah (karena ada satu modul yang nilainya c huhu) eh keterusan jadinya lupa deh ada janji bikin ff.. hehe. sebenernya inget sih cuma belum ada mood aja. kali ini ff-nya lebih mudah dicerna dan ceritanya kehidupan sehari-hari banget.. yang agak bikin kangen sma hehe. critics are welcome and.. enjoy!

 

Hujan turun cukup deras ketika semua pekerja kantor tergesa-gesa pulang ke rumah mereka masing-masing, entah disambut oleh keluarga mereka dengan senyum hangat dan masakan yang mengepul karena baru dipanaskan atau ruang apartemen mereka yang dingin dan sepi

Kecuali Oh Minjoo

Ia baru saja pulang dari tempat lesnya pukul enam, dengan satu jam ekstra karena ia akan ujian matematika esok hari. Kali ini ia sengaja menambah jam belajarnya lebih panjang dari biasanya . tidak, ia tidak punya waktu untuk bergaul dengan teman-teman sebayanya. Mereka pun tidak ada yang ingin bergaul dengan Minjoo

Meskipun Minjoo mempunyai otak yang cerdas, ada satu hal yang tidak ia punyai yaitu wajah yang rupawan. Ditambah lagi tingkahnya yang kikuk dibalik kacamata tebalnya dan juga rambutnya yang dikepang dua. Berani bertaruh teman2nya hanya mau berbicara dengannya karena ia ensiklopedia berjalan. Berani bertaruh tidak akan ada yang menyukainya atau menganggapnya gadis yang menarik

Minjoo suka hujan. Baginya, hujan adalah kejadian yang tidak merugikan sama sekali. Semua tanaman menjadi subur, udara menjadi lebih segar, dan juga suaranya yang menggelitik membuat hatinya ikut damai bersama turunnya hujan. Ia heran mengapa orang-orang mengeluh ketika hujan turun

Hujan menyelamatkannya sekali lagi, kali ini untuk airmatanya yang tersamarkan akibat rintik-rintik itu turun ke wajahnya. Why she feels so gloomy nowadays..

am i weird?
what should i do?
I hate to be that weird
But no one can helps..

Tiba-tiba ada seseorang menubruknya sampai terjatuh yang membuat kacamatanya terlepas. Minjoo berdecak sebal, betapa tidak hati-hatinya orang ini sampai menubruknya. Begitu ia menemukan kacamatanya yang agak retak sebelah dan hendak mengomelinya, ia tertegun

Seragam putih dengan celana kotak-kotak.. ia bertabrakan dengan teman satu sekolahnya

“Joseohamnida!”, anak lelaki itu cepat-cepat membantunya berdiri. Minjoo segera menarik lengannya sebelum ia berlari meninggalkannya

“chogiyo”, ujarnya kesal, “bagaimana dengan kacamataku?”

Ia menatap Minjoo bingung sebelum matanya membelalak dan menjerit

“Omo omo… joseohamnida! Aku akan menggantinya saat ini juga! “, ia membungkuk 90 derajat dan menarik Minjoo menuju tempat yang lebih teduh. Ia segera melihat kacamata Minjoo untuk melihat seberapa parah kerusakannya. Kemudian anak lelaki itu tertegun

“Kau.. Oh Minjoo kan? Kelas 10-7?”

Minjoo mengangguk, bagaimana ia bisa mengenalku?

“Aku Byun Baekhyun! Teman sekelasmu!”, ia menjabat tangan Minjoo erat, “senang sekali bertemu denganmu di sini! Ngomong2, habis darimana?”

“Les pelajaran”, jawab gadis itu pendek

“wah, sudah les pelajaran padahal kan kita masih kelas dua..”

“impianku adalah SNU”, Minjoo berbalik dan menatap Baekhyun serius, “jadi aku tidak ada waktu untuk bermain seperti kalian semua”

Baekhyun tersenyum simpul, “wah, kita sama dong”

“mwo?”

“aku juga jarang bermain. Aku ada 3 pekerjaan sambilan dan juga harus membantu kegiatan klub”, Baekhyun menggosokan jarinya, “biarpun begini aku lebih kaya dari kalian semua, kau tahu”

Omongan Minjoo yang ia rasa cukup tajam ternyata tidak mempan bagi Baekhyun. Ia tetap mengikuti Minjoo sampai ke depan apartemennya, tentu saja dengan mulutnya yang cerewet dan terus-terusan mengajak Minjoo mengobrol

“besok saja ganti kacamata-nya”, gadis itu menghentikan langkahnya, “sepulang sekolah nanti kau tidak boleh lari. Oke?”

“siap, nona!”, Baekhyun tersenyum, manis sekali

“oke, terimakasih sudah mengantarku”, Minjoo melambaikan tangan, “see you”

***

Aku menutup pintu dan mendapati adikku yang berdiri sambil bertolak pinggang, judging me so hard

“pulang sama siapa barusan?”

Eh? Aku mengerutkan kening, ia pasti berpikiran yang tidak-tidak karena aku pulang dengan keadaan basah kuyup dan seragam yang kotor karena habis terjatuh tadi

“bukan pacar”, jawabku pendek, “dia teman sekelasku, Baekhyun”

Aku segera berjalan melewatinya sebelum ia bertanya lebih lanjut

“eeeh?”, ia menarik tanganku yang basah kuyup, “kau bilang apa tadi?!”

“Byun Baekhyun”, jawabku enggan, “barusan ia menabrakku di jalan dan membuat kacamataku menjadi begini”

“dasar ceroboh”, gerutunya kesal. Ia melihatku sekali lagi dan segera mengambilkan handuk. Dasar menyebalkan

“kau jangan berteman dengan dia”, nasihatnya sambil menyodorkan secangkir cokelat panas untukku, “kau bisa direpotkan setengah mati olehnya”

Aku menjitaknya karena omongannya yang sangat tidak sopan, “ya, Oh Sehun!”

“mwo?!”, ia mengusap kepalanya, “dia itu orang yang paling menyebalkan di klub baseball. Kalau ia bukan manajer, sudah kuhajar wajahnya karena ia selalu menyuruh-nyuruhku membawakan air minum untuk para pemain!”

Oh iya, aku baru ingat adikku baru menjalani kegiatan pertama di klubnya hari ini. Sehun yang gila olahraga sudah pasti memilih klub baseball di sekolahku, sedangkan aku tidak mengikuti kegiatan klub apapun. Perlakuan orangtua kami yang berbeda membuat kami tumbuh secara berbeda pula. Aku diwajibkan untuk mengejar ranking sementara ia cukup dibebaskan dan menggiati bidang olahraga, cukup tidak adil

Namun Sehun amat menyayangiku dan menjadikanku panutan. Aku juga tidak mengerti tetapi ia tidak pernah malu menyapaku dan meminta bekal makananku saat istirahat meskipun banyak gadis kelas 1 bahkan kelas 2 yang melihatku dengan tatapan aneh

“noona!”

“eh, ya?”, aku menatapnya yang sedang mengerutkan kening

“kalau dijahili oleh Baekhyun, bilang padaku”, ujarnya serius, “aku tidak segan-segan menghajar wajahnya apabila ia mengganggu kakak kesayanganku”

How exaggerating, batinku geli. Sehun selalu mencari masalah di sekolah sejak kami masih sekolah dasar hanya karena kesal dengan orang-orang yang menggangguku. Memang ia tidak pernah dikeluarkan, tetapi ia diskors berkali-kali, gara-gara aku. Ia tidak pernah mengeluh, apalagi malu dan menyesal mempunyai kakak yang tidak becus seperti diriku

What happiness is?

Why I never feel it?

Aku memejamkan mata, menunggu amukan dari guruku karena aku tidak mengerjakan pr bahasa inggris karena semalam ketiduran membaca buku. Aku begitu takut karena belum dimarahi oleh guru sebelumnya. Terutama jung seosangnim yang terkenal galak

“Minjoo-ya!”

Aku menoleh, teman sebangku-ku menatapku khawatir karena wajahku yang amat pucat ditambah lagi aku berkeringat dingin karena sangat takut dimarahi oleh jung seosangnim

“jung seosangnim tidak masuk hari ini”, ia bersandar di bangkunya, “sudahlah tidak perlu tegang begitu”

“j-jinjjayeo?”, aku amat terkejut

“ne, kemarin ketua kelas mengatakannya di SNS. Masa kau tidak baca sih?”

“ah, ne!”, aku menyesali terlalu tenggelam dengan petualangan count Dracula yang kemarin aku baca sehingga tidak melihat SNS

“sepertinya tidak hanya kau yang tidak tahu”, ia mendekati wajahku untuk berbisik kemudian menunjuk kepada seseorang di bangku belakang

Seorang anak lelaki yang sedang kelimpungan mencari jawaban pr bahasa inggris itu kemudian menatap kami berdua. Senyumnya mengembang dan langsung menghampiri kami berdua

“nih”, ia mengangsurkan buku catatannya, “nyontek sekali-sekali”

Bora rolled up her eyes and showed her phone, “makanya, buat SNS”

Ia tertawa dan menepuk punggungku, “yah, setidaknya aku tidak sendirian kan”

Bora menyenggol lengan Baekhyun dan mengobrol dengannya tanpa berpindah lokasi, tidak seperti biasanya dimana Bora akan asik dengan teman-temannya dari klub dance dan Baekhyun akan menjahili orang dari bangku ke bangku. Aku juga ikut heran mereka tidak risih dengan keberadaanku yang hanya diam dan memerhatikan obrolan mereka

“Minjoo-ah, menurutmu proyek kelas kita sudah cukup bagus belum?”

“ya? I-itu..”, aku berdehem gugup, “bagus kok. Cuma ada beberapa yang aku kurang setuju”

“nah”, Baekhyun menjentikkan jari, “kira-kira apa?”

“menurutku konsep paduan suara kita terlalu membosankan..”, aku menunduk malu, “jadi sebaiknya sih diganti saja”

Aku menatap mereka sekali lagi, ternyata mereka memperhatikanku dengan serius

“m-mungkin tidak perlu diganti kalau sudah terlanjur. Tapi ditambahkan unsur yang lebih seru lagi, misalkan teater..”

“wah ide bagus!”, seru Bora senang, “nanti sepulang sekolah kau ikut rapat bersama kami yuk!”

Mwo? Jeritku dalam hati, aku kan harus ikut kursus! Belum lagi kacamataku yang belum diganti sehingga aku terpaksa memakai kacamata retak sebelah seperti ini

“sekali-sekali bolos kursus bisa kan?”, Baekhyun smirked dan kembali ke tempat duduknya saat bel berbunyi

***

“everyone!”, Baekhyun berdiri di depan kelas memimpin rapat, “hari ini kita memiliki anggota baru untuk berpartisipasi dalam penampilan kelas!”

Minjoo melangkah masuk ke dalam kelas dengan malu-malu, meskipun ia tidak sendirian saat itu karena ditemanioleh Bora, teman sebangkunya. Tentu saja semua yang ada di kelas itu tercengang, bagaimana mungkin Baekhyun bisa mengajak anak yang bahkan terlalu pemalu untuk sekedar membacakan puisi di depan kelas pada saat pelajaran sastra?!

“tentu saja aku memiliki alasan untuk mengajak Minjoo dan Bora ke dalam penampilan kelas kita”, Baekhyun berdehem, “kalian bisa menilainya dari puisi milik Minjoo yang mendapatkan nilai tertinggi kemarin”

Sea of Strangers

 

In a sea of strangers

You’ve longed to know me

Your life spent sailing

To my shores

 

The arms that yearn

To someday hold me

Will ache beneath

The heavy oars

 

Please take your time

And take it slowly

As all you do

Will run its course

 

And nothing else

Can take what only

Was always spent

As solely yours

 

Seluruh teman-temannya di kelas bertepuk tangan setelah Baekhyun membacakan puisi milik Minjoo. Ia terperangah karena mendengar alasan yang diutarakan oleh Baekhyun barusan. Sebenarnya Minjoo memiliki minat lebih di bidang sastra dan drama, namun ia tidak percaya diri dengan penampilan dan kemampuannya untuk berkomunikasi. Namun ia sangat senang karena untuk pertama kalinya diajak berkontribusi di bidang yang sangat ia sukai..

“m-mohon bantuannya”, Minjoo membungkukkan badannya. Keringat dingin mengucur deras namun Bora meyakinkannya untuk menyebutkan rencana-nya dengan menggenggam tangannya erat

“jadi aku memiliki ide dengan menampilkan drama musical, tidak hanya menampilkan pertunjukkan musik saja”, terangnya, “tujuanku di sini juga tidak hanya untuk menghibur, tetapi juga menampilkan sesuatu yang bermanfaat seperti tema summer festival kita tahun ini”

Minjoo mempresentasikan drama rancangannya di depan kelas dengan lancar dan semua orang mendengarkan pendapatnya. Ia mengusulkan mementaskan drama ‘gumiho’, yaitu urband legend korea yang menceritakan siluman rubah berekor sembilan. Setelah menyampaikan pendapatnya, ia menatap semua teman sekelasnya yang ‘tersihir’ dengan pendapatnya

“a-ada.. yang ingin menyanggah?”

Semuanya menggeleng, menurut mereka rancangan Minjoo sudah sangat bagus dan terencana. Tinggal mencari pemerannya saja diantara teman-teman sekelasnya

“menurutmu siapa yang pantas memainkan gumiho?”, Tanya Baekhyun pada semua orang di kelas, dan otomatis mereka memilih Bora

“bagaimana, miss director?”, Tanya Baekhyun pada Minjoo

“aku setuju”, ia tersenyum, “Bora pantas jadi gumiho”

Semua orang tertawa, termasuk Bora. Sifatnya yang ramah dan juga playful memang cocok sekali dengan sosok gumiho yang persis dengannya. Wajah Minjoo memucat dan langsung meminta maaf

“it’s okay, it’s okay”, Bora tertawa, “I take it as compliment”

Tanpa terasa sudah pukul empat. Sebuah rekor bagi Minjoo karena ia bisa tinggal di sekolah lebih lama dari biasanya. Kini tinggal ia dan Baekhyun yang ada di kelas. Baekhyun membersihkan kelas, sementara Minjoo terus menatap layar handphone-nya dengan wajah panik

“kenapa?”, Tanya Baekhyun, “kau dimarahi ibumu?”

Minjoo cepat-cepat memasukkan handphone-nya ke dalam saku dan menggeleng, “ayo kita ke optik sekarang. Aku butuh kacamata baru”

“itu apa?”, Baekhyun menunjuk pada kacamata dengan bingkai usang yang dipakai Minjoo

“ini kacamata lama-ku”, jawabnya ketus, “ayo, kau harus menggantinya”

Baekhyun menghela napas dan mengangguk, “iya deh iya, tapi tunggu sebentar di sini ya. Aku mau ke ruangan klub drama dulu”

Minjoo mengangguk namun ia tetap mengikuti Baekhyun, berjaga-jaga agar ia tidak lari dari tanggung jawabnya. Mengingat semalam adiknya memberitahu kalau Baekhyun orang yang iseng dan harus tetap diawasi apabila memiliki urusan dengannya

Di depan ruang klub drama, Baekhyun sedang berbincang-bincang dengan senior mereka yang juga seorang ketua klub drama, namanya Xi Luhan. Siswa keturunan cina-korea itu menjadi idola semua orang karena tidak hanya tampan, ia juga siswa berprestasi baik di bidang akademik dan non-akademik

Tanpa sadar jantung Minjoo pun ikut berdegup kencang karena baru pertama kali melihat Luhan sedekat ini. Harus diakui, seniornya jauh lebih tampan dibandingkan saat ia biasa melihatnya di lapangan saat memberikan pidato atau di auditorium saat ia sedang latihan drama bersama para anggota klub

“aish, dasar tidak sabaran!”, seru Baekhyun yang tiba-tiba mengetahui keberadaannya, “ya, Oh Minjoo, kemari kau!”

Minjoo melangkah enggan untuk menghampiri Baekhyun, yang menangkap basah dirinya sedang menguping pembicaraan mereka. Mau tidak mau ia harus menghampiri mereka berdua, terutama Luhan, dengan wajahnya yang buruk rupa seperti ini

“nah, sekarang aku bisa membelikanmu kacamata baru”, Baekhyun tersenyum setelah lembaran uang won berada di tangannya, “thank you bro”

“anytime”, Luhan tertawa dan melambaikan tangan pada Minjoo dan sukses membuatnya salah tingkah

“kau meminjam uang padanya?”, Tanya Minjoo dengan sedikit perasaan bersalah. Ia tidak tahu kalau Baekhyun tidak mempunyai uang, namun kalau kacamatanya tidak diganti..

“ah, bukan”, ia tertawa, “aku meminta setengah gajiku lebih awal untuk mengganti kacamatamu”

“memangnya kau bekerja apa lagi?”

“aku meminjamkan property untuk klub drama sekolah”, jawabnya santai, “dan gajinya juga lumayan”

“begitu”, Minjoo mengangguk, “lalu mengapa kau bekerja juga menjadi manajer klub baseball?”

Baekhyun menghentikan langkahnya lalu menatap gadis itu serius

“siapa yang mengatakannya padamu? Bora?”

“a-ani”, Minjoo menggelengkan kepalanya, “adikku yang mengatakannya”

“haish, siapa namanya?! Dasar mulut besar”

“namanya Oh Sehun”

“ah… bocah itu”, Baekhyun menelan ludah, “o-Oh Sehun?! itu adikmu?!”

“iya, Oh Sehun adalah adikku”, Minjoo tertawa, “kau pasti tidak percaya. Kami kan tidak mirip sama sekali”

“iya, kalian memang tidak mirip. Sehun kasar dan pemarah”, ujar Baekhyun, “t-tapi wajah kalian mirip kok, setelah dilihat berkali-kali”

“ya.. dia memang agak pemarah”, jawabnya pasrah, “tapi sebenarnya ia baik kok. Dan wajahnya juga sangat tampan, beda jauh denganku”

“ya, ya”, Baekhyun merangkul gadis itu, “sebenarnya kau bisa sama rupawan-nya dengan adikmu. Mungkin dua kali lebih keren karena kepintaranmu dan juga.. you’re not as bad tempered as him”

Minjoo tertawa, “kau bisa saja”

“serius!”, ujarnya sunguh-sungguh, “kalau perlu, mulai sekarang ayo kita rubah penampilanmu!”

“i-itu…”, Minjoo ragu. Sebenarnya ia sangat ingin menanggalkan kacamata dan juga gaya rambutnya yang amat kuno, namun ia tidak punya kepercayaan diri yang cukup. Padahal sudah berkali-kali dibujuk oleh Bora, namun tetap saja ia malu

“aish, kau itu terlalu banyak berpikir!”, Baekhyun menarik tangannya menuju optik dan langsung menyuruh Minjoo melepas kacamata-nya. Ia menyeringai sebelum menunjukkan Minjoo sesuatu

“l-lensa kontak?!”, Minjoo melotot, “aku tidak mau! Nanti mataku rusak!”

“haish, kalau betul membuat mata rusak, sampai saat ini mengapa masih banyak orang yang memakainya?”, ia menyodorkan box yang berisi sepasang lensa kontak, “ayo, dicoba”

Minjoo menghela napas dan mengikuti seluruh instruksi dari penjaga optik untuk menggunakan lensa kontak. Ternyata tidak menyakitkan, malah cukup membantu penglihatannya jauh lebih nyaman karena tidak terbebani lagi dengan frame kacamata-nya

“nah, jauh lebih baik kan?”, Baekhyun tersenyum, “sekarang lepas kepanganmu”

“mwoya?!”, seru Minjoo, “Tidak mau ah!”

“atau aku yang melepaskannya untukmu”

Minjoo menggerutu dan melepas kepang rambutnya. Selama ini hanya adiknya yang pernah melihatnya menggerai rambut, sehingga ia agak malu ketika Baekhyun melihatnya tanpa kepangan rambut

“kau lebih cantik dari yang aku kira”, Baekhyun tersenyum, “seandainya Luhan melihatmu dalam keadaan begini”

Minjoo terperangah, “L-Luhan?”

“aigoo, siapa sih yang tidak suka pada Luhan?”, ia tertawa puas, “sudah tampan, pintar, jago olahraga..”

Minjoo masih menunduk. Bagaimana ia bisa tahu kalau minjoo merasa begitu senang ketika melihat sunbae-nya dalam jarak sedekat itu tadi?

“and im sure 100% that you have a crush with him”, ia kembali menyeringai. Seharusnya ia percaya pada adiknya bahwa Baekhyun ini orang yang sangat, sangat, menyebalkan. Yang patut untuk dihindari

“w-well”, Minjoo menahan wajahnya yang merah padam, “aku hanya mengaguminya saja kok”

“well you better take a time and follow me into Bora’s house”, he smirked, “we will make senpai notices you”

 

ya emang masih garing kek krupux hehehet makanya, terus baca dan sampai berjumpa di chapter 2!

47 tanggapan untuk “Pursuit of Happiness-1”

  1. Yay!! Macanman update fanfic lagi,kali ini malah lebih mudah dicerna dan lebih sedikit ya englishnya yaa walaupun aku gak terlalu lihai berbahasa inggris tapi aku suka macanman pake beberapa bahasa inggris setidaknya karna bolak-balik kamus aku makin banyak belajar:) keep writing ditunggu next chapteryaa 😉

    1. Ku lihat lagi.. Wajahnya
      Ku lirik lagi.. Dia
      S’makin ku pandang.. Wajahnya
      S’makin rupawan.

      **
      Matanya.. Memancarkan cinta
      Senyumnya.. Manja nan menggoda
      Gayanya.. Wajar mempesona
      Siapa dia.. Hey.. Hey..

      Reff :
      Geregetan.. Jadinya geregetan
      Apa yang harus ku lakukan
      Geregetan.. Duh aku geregetan
      Mungkinkah aku jatuh cinta

      Ku coba.. Ku sapa dirinya
      Ku tanya.. Siapa namanya ( Hey sayang..)
      Ku dengar.. Desah suaranya
      Oh lengkaplah sudah

      Back to Reff

      Back to *, **, Reff

      Geregetan.. Duh aku geregetan
      Mungkinkah aku jatuh cinta

  2. Baekhyun iseng… >_<
    Hahaha ternyata baek kaget pas minjo ngasih tau klo sehun itu adiknya 😀
    next chap jngan lama ya thor nge-post nya 😉 di tunggu 🙂

  3. Wuhuuuu keren thor! Lanjut chap 2nya kalau bisa jangan lama2 ya. Aku suka jalan ceritanya sama Sehunnya (?) Lanjuuut! keep writing!

  4. Keren thorr..
    Coba liat photo Minjoo sebelum Di Gerai sama sesudahnya
    Dan Lihat perbedaannya -,-
    Pasti Ada konflik baru..
    Eh ini ga Garing kok thor, misal kalo garing aku Basahin Pake aer *seger
    -_-

    Thor jago inggris ya, tapi aku sedikit ga ngerti masa -,- *ngaku ga bisa
    Jadi suka di Lewat kalo ada inggrisnya
    Dan akhirnya ga tau.. Well, well, well -,- author hebat (y) *hebring
    Kurangi Bahasa Inggrisnya yeth.. Saya tidak mengerti -,-

    Next dan Keep Writing

    1. karena pake fotonya seolhyun AOA, bisa diliat aja ya doi kaya gimana hehehe

      sebenernya bahasa inggrisku masih jelek
      phrase sama grammarnya suka dikatain kaya anak bocah baru ngemeng engles sama para senpaiku di luar sana yang jauh lebih jago
      karena itu aku jadi pengen belajar lagi biar ga diledekin terus
      padahal ada fakta semakin tua semakin susah menyerap pelajaran
      kamu juga belajar yaa hehe

      thank you 🙂

  5. Gak garing kok Eon.
    Baekhyun itu ntar suka sama Minjoo ya??
    Tapi kalo Minjoo jadinya ga cuma sekedar kagum gimana?
    Next chap jangan lama lama ya Eoon

    1. baku maksudnya opo tho?
      more melodramatic phrases or just formal language?
      karena aku mengambil cerita dari kehidupan anak sekolah, jadi aku rasa ga harus baku
      menurutku aja looh
      hehe thanks for your advice 🙂

  6. wah….. aku suka aku suka ^.^ gimana ya hasil make overnya >_< aku gak sabar baca lanjutannya ^.^ di tunggu ya lanjutannya 🙂

  7. Kya,,,akhrnx cpt.1 dlncurkn..
    Ha(?)…
    Alurnx trllu cpet ‘kak’…
    Trus,tlong untk pmisah tmptnx,,kyk di prckpn aprtment sma skolh,,tu dbri tnda,biar g bingung,,,
    ttep smgt ‘kak’,dtunggu cpt.2-nx….
    >.<

    1. iya yah… hehehe maaf nih soalnya kemaren lagi mager jadinya lupa-lupa lagi (padahal udah ngedraft di evernote)

      hmm tp karena kamu udah ngerti (pada akhirnya ga usah dipisah lagi dong)
      maksudnya kaya *di apartemen* *di sekolah* gitu?
      menurutku sih nanti ga mengasah para pembaca
      moso disuapin terus hehe
      anw thanks for your support 🙂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s