Missing You

08

 

Missing You

| Tittle : Missing You |

| Author : Shimmerlight |

| Cast : Kim Soojin/YOU and One of EXO members |

| Length : ONESHOOT |

| Rating : PG-15 |

| Genre : Romance and find by yourself |

| Declaimer : Cerita ini murni dari hasil imajinasi dan ungkapan perasaan saya sendiri. Dan juga cerita ini saya persembahkan khusus untuk seseorang yang sekarang berada jauh disana. Selamat membaca |

 

© Shimmerlight’s 2014

___

“Aku punya alasan lain,” ujarnya lembut. “Kau mau tahu?”

“Karenamu,” ucapnya lembut di sela-sela ciuman kalian. “Karena aku mencintaimu…”

***

Hati ini…masih milikmu. Selalu milikmu.

___

 

YOU…

Kau membuka kedua kelopak matamu perlahan, ketika kau merasa ada seberkas cahaya yang menerobos masuk lewat celah-celah tirai kamarmu. Membuatmu mau tak mau harus memaksa kedua matamu untuk terbuka seutuhnya, karena kini cahaya itu mulai mengusik tidurmu. Seakan tidak membiarkanmu terlelap lebih lama lagi

Tanganmu bergerak mengambil sesuatu di atas nakas yang terletak di samping tempat tidurmu yang nyaman. Kau menyentuh layar benda itu, menyalakannya. Dan layar tersebut menampilkan wajah seseorang yang tersenyum manis disana. Seorang lelaki.

Kau tersenyum melihatnya. Lalu kau mulai mengusap-usap layar ponselmu itu dengan sayang. Seakan yang kau usap adalah wajah tampan lelaki itu, bukan lagi layar mu.

Sejurus kemudian, bibir manismu mendarat di layar .

Ya, kau menciumnya.

“Selamat ulang tahun, Sayang.” ucapmu dengan tulus dan manis.

 

 

“Soojin.”

Kau tersentak ketika seseorang memanggil namamu, juga sebuah tangan yang tiba-tiba menepuk pundakmu pelan. Dengan segera kau menolehkan kepalamu ke arah orang itu, dan langsung menghembuskan napas dengan lega begitu kau mengetahui bahwa orang itu adalah Ibumu.

“Ibu, kau mengagetkanku.” kau menggerutu dengan nada yang kau buat seolah-olah kesal dengan tindakan ibumu barusan. Namun kau tidak terlalu ambil pusing, dan kau kembali melanjutkan kegiatanmu yang sempat tertunda. Memasak.

Kini jemarimu yang terampil mulai menata chocochips di atas cookies yang sebentar lagi siap kau panggang. Kau meletakkan tujuh buah chocochips di setiap cookies-nya. Karena kau menyukai angka tujuh.

“Kau sedang membuat ini untuk kekasihmu. Benar bukan?” tebak Ibumu tepat. Kau menoleh sekilas padanya dan tersenyum lebar, seraya menganggukkan kepalamu dua kali.

“Iya, hari ini dia berulang tahun.” jawabmu tanpa melunturkan senyuman manis itu. “Dia suka sekali cookies, jadi aku membuat ini, khusus untuknya.”

Mendengar penjelasan singkat darimu, Ibumu ikut tersenyum. Beliau kemudian mengelus kepalamu dengan lembut. “Ibu tahu.”

Tatapan matanya tetap tidak beralih darimu yang masih saja sibuk pada kegiatan yang sedang kau lakukan. Kau selalu mengerjakan sesuatu dengan sungguh-sungguh. Dan Ibumu suka itu.

“Baiklah. Nanti saat kau bertemu dengannya, jangan lupa sampaikan salam Ibu untuknya.” ujar Ibumu tiba-tiba. “Katakan, Ibu sudah sangat merindukannya.”

Kau mengangguk dua kali, menyanggupi permintaan Ibumu. “Tentu saja. Dia akan senang sekali mendapat salam dari Ibu.” kau berujar, sebelum Ibumu akhirnya beranjak dari dapur dan masuk ke dalam kamarnya. Meninggalkanmu yang kini siap memasukkan cookies-cookies itu ke dalam oven.

 

 

Pagi ini, kau berjalan sendiri, di tengah bulan April yang mulai menghangat.

Menikmati angin musim semi yang sesekali berhembus, walau tidak terlalu kencang. Angin yang menyapu wajahmu dengan lembut, juga menerbangkan beberapa helai rambutmu yang sudah kau tata rapi di rumah. Namun kau tidak keberatan. Kau justru menikmatinya.

Bila bulan lalu pohon-pohon sakura yang berdiri kokoh di sepanjang jalur Yunjungno baru menampakkan tunas-tunasnya, maka kini kau dapat menyaksikan bagaimana tunas-tunas itu telah menjelma menjadi ribuan, bahkan jutaan bunga yang luar biasa cantik.

Ada sekitar seribu empat ratus pohon sakura yang ditata berjajar, di sepanjang jalur Yunjungno. Penataan yang tepat membuat jajaran pohon sakura itu seakan membentuk terowongan salju berwarna putih, dan merah muda. Dan itu merupakan tanda bahwa sekarang ini adalah waktu yang tepat untuk menyelenggarakan Festival Bunga Musim Semi Yeouido.

Kau menolehkan kepalamu ke kanan dan ke kiri, menatap bunga-bunga itu dengan tatapan takjub. Kau pun tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum sepanjang jalan. Kau menyukai suasana seperti ini. Musim semi. Bunga sakura. Dan satu lagi,

Seketika itu juga, pikiranmu seakan berlari kembali menuju masa lalu. Membuka sebuah pintu berlabel kenangan lama.

Masih terekam jelas di otakmu, memori tiga tahun lalu. Saat pertama kalinya kau pergi dengan kekasihmu ke tempat ini, hanya berdua. Hanya kau, dan dia.

Tahun itu, musim semi yang indah menyapa kalian berdua. Kalian menelusuri jalanan yang bermandikan bunga sakura. Menikamati keindahan pemandangan di kanan dan kiri jalan yang kalian lalui. Sesekali, sepatu yang kalian kenakan menginjak rerontokan bunga-bunga yang berserakan di sepanjang jalan.

Ia menggenggam erat tanganmu, menyalurkan kehangatan tubuhnya lewat sela-sela jari kalian yang kini bertaut.

Angin musim semi kala itu terasa sedikit lebih dingin memang, mengingat musim dingin tahun sebelumnya berakhir lebih lama dari yang diperkirakan. Namun kau justru merasakan kehangatan luar biasa, saat tubuh lelaki yang lebih besar darimu itu mendekap hangat tubuhmu yang tergolong mungil.

Kala itu mungkin kau memang belum resmi menjadi kekasihnya, tetapi saat itulah kau mulai mencintainya. Mencintai sosok tampan lelaki yang tampak layaknya seorang malaikat di matamu, yang selalu memperlakukanmu dengan sayang.

Lelaki itu, sosok yang mampu membuatmu melupakan kesedihanmu setiap kali kau bersamanya. Sosok yang selalu menggenggam lembut jemarimu, meyakinkanmu, bahwa kau tidak sendirian. Sosok yang selalu mendekap hangat tubuhmu, kala kau membutuhkan kekuatan. Juga sosok yang mampu membuatmu seakan tersihir saat melihatnya tersenyum.

Senyum yang selalu kau sukai, manis.

Ia, lelaki yang pertama kali membuatmu jatuh cinta.

 

 

Langkah kakimu berhenti di depan sebuah toko bunga bernuansa cokelat yang sewarna dengan kayu manis. Toko itu tidak terlalu besar, namun bersih dan rapi. Terlihat jelas dari etalasenya yang mengilap tanpa sebutir debu pun, juga bunga-bunga yang dikumpulkan berdasarkan jenis dan warnanya, yang kemudian ditata dengan rapi agar terlihat semakin apik dan menarik hati pelanggannya.

“Paman, aku datang.” sapamu pada seorang pria berusia hampir setengah abad yang bertubuh agak tambun. Ia terlihat sedang sibuk membuat rangkaian bunga lily merah muda yang sangat cantik. Kau biasa memanggilnya Paman Hong.

Merasa dirinya disapa, laki-laki yang sudah sejak lama berprofesi sebagai penjual bunga itu mengangkat kepalanya. Senyumnya merekah kala manik matanya menangkap sosokmu, mendapati dirimu yang tengah berdiri anggun di depan pintu tokonya.

“Selamat pagi, Soojin-ku yang cantik. Lama tidak kesini. Bagaimana, kabarmu?” tanya pria itu ramah, sambil meneruskan kegiatannya kembali.

Kau melangkahkan kakimu memasuki toko, mendekat ke arah Paman Hong. “Kabar baik, Paman. Paman sendiri bagaimana?”

Paman Hong tersenyum ramah padamu. “Selalu baik. Apalagi melihatmu datang kemari hari ini.” Paman Hong kemudian terkekeh pelan, membuatmu melakukan hal yang sama. “Ada yang bisa kubantu?”

“Ah…” kau bergumam pelan, seraya mengedarkan pandanganmu ke seluruh penjuru toko bunga itu. Kau memberi isyarat pada Paman Hong untuk menunggu.

Kau sendiri mulai berkeliling toko, membiarkan kakimu melangakah kesana kemari sesuja hati. Matamu dengan seksama memperhatikan setiap bunga yang ada di rak, mencari bunga yang cocok dari puluhan bunga cantik yang tertata rapi disana. “Aku ingin membeli bunga untuk kekasihku. Dia berulang tahun hari ini.”

Paman Hong bangkit dari duduknya kemudian menghampirimu yang tengah berdiri di dekat tulip-tulip kuning. “Oh? Kekasihmu yang itu? Hari ini ulang tahunnya?”

Kau menjawab pertanyaan Paman Hong hanya dengan anggukan dan seulas senyum.

Paman Hong tampak berpikir sejenak, sebelum akhirnya berjalan menuju rak dimana bunga-bunga carnation tersusun dengan rapi. Ia kemudian mengambil salah satu rangkaian bunga carnation putih, lalu berjalan kembali menghampirimu. “Kurasa white carnation ini sangat cocok untuknya. Bukankah dia menyukai warna putih?”

Kau mengambil buket bunga itu dari tangan Paman Hong. “Cantiknya…” kau bergumam pelan. Matamu sibuk memperthatikan bunga-bunga cantik di tanganmu seraya mengulas senyum. Kau mengerti betul makna bunga ini, dan alasan mengapa Paman Hong memilihkannya untukmu.

“Paman benar. Dia pasti menyukainya.”

Tanganmu bergerak membuka tas coklat yang tersampir di bahumu, lalu mulai mengacak isi dalam tasmu. Mencari sebuah dompet yang selalu kau bawa kemana-mana. “Berapa aku harus membayarnya, Paman?”

Pria itu menahan tanganmu yang hendak mengeluarkan beberapa lembar won dari dalam dompet. “Tidak usah.” ujarnya. Membuatmu mengerutkan dahi, bingung.

“Bawa saja bunga-bunga itu dan berikan padanya.” lanjut Paman Hong. Tangan besarnya kemudian mengelus pundakmu dengan lembut, seraya tersenyum simpul. “Sampaikan ucapan selamat ulang tahun dariku untuknya, ya.”

Tatapan bingung yang kau berikan pada pria itu kini berganti dengan sebuah tawa kecil yang lolos begitu saja dari bibirmu. Lalu kau menyentuh tangan pria itu, dan tersenyum. “Pasti akan kusampaikan.”

“Terima kasih, Paman.”

 

 

Menempuh perjalanan hampir tiga puluh lima menit lamanya menggunakan kereta api bawah tanah, sama sekali tidak membuatmu merasa bosan.  Meskipun kegiatan yang kau lakukan sejak tadi selalu sama, tidak pernah berubah. Memandangi layar ponselmu.

Bukan, kali ini yang kau pandangi bukan foto wajah kekasihmu yang kau jadikan wallpaper. Melainkan sebuah pesan singkat darinya.

 

From: My Love

To: Me

Sayang, besok aku akan kembali ke Korea.

Asal kau tahu, aku sudah sangat merindukanmu. Wajahmu, suaramu, senyummu, aku merindukan semuanya. Kau juga pasti merindukanku, benar kan?

Oh, jangan lupakan kalau dua hari lagi ulang tahunku. Apa kau sudah menyiapkan kado spesial? Kuharap begitu. Karena aku akan menghukummu kalau tidak memberiku kado. Hahaha.

Sampai jumpa besok.

Aku selalu mencintaimu.

 

Setidaknya begitulah isi pesan darinya, yang membuatmu terus saja tersenyum seperti orang gila sepanjang perjalanan, meski kau sudah membaca pesan itu berulang-ulang. Hampir tiga puluh kali mungkin. Entahlah.

Sebuah panggilan masuk dari kontak yang kau beri nama ‘Hyeri’ menginterpusi kegiatanmu sejak setengah jam belakangan itu. Dengan segera, kau menyentuh layar ponselmu dengan ibu jari, dan menggesernya ke kanan.

“Ya, Hyeri?” sapamu begitu kau menempelkan  itu di telingamu.

Soojin-ah. Kau dimana sekarang?

“Ah, aku sedang di dalam kereta. Hari ini aku akan menemuinya. Kau tidak lupa kan, kalau hari ini ulang tahunnya?”

Tentu saja tidak. Aku hanya menelpon untuk meminta maaf karena tidak bisa menemanimu.

Kau tersenyum. “Tidak usah meminta maaf begitu, aku bisa kesana sendiri.” jawabmu menenangkan. Kau tahu betul kalau temanmu itu belakangan ini sibuk dengan pekerjaannya, sehingga kau tidak memintanya untuk menemanimu.

“Lagipula aku ingin menghabiskan waktu berdua dengannya hari ini. Dan tentu saja aku sudah menyiapkan hadiah untuknya.” tambahmu.

Benarkah? Wah, kalau begitu aku tidak akan mengganggu kalian.” guraunya, membuat kau juga ikut tertawa bersamanya. “Baiklah, aku titip salam saja untuknya. Katakan bahwa aku dan Jongin akan menemuinya besok.

Kau mengangguk. “Baiklah.”

“Sampai jumpa.”

 

 

Kau melangkahkan kakimu di sebuah jalan setapak. Di kanan dan kirimu hamparan rumput hijau nan luas membentang, dengan beberapa bagian yang membentuk undakan-undakan kecil yang menyerupai bukit. Terlihat pepohonan oak yang masih berdiri kokoh walaupun dapat kau tebak usianya sudah puluhan, atau bahkan ratusan tahun.

Kedua kakimu menanjak di salah satu bukit kecil di sana. Kau sudah sangat merindukan tempat ini, tentu saja.

Bibirmu melengkung keatas, membentuk sebuah senyuman manis kala kau melihat kekasihmu disana. Ya, ia berada disana.

“Hai, Luhan. Maaf aku sedikit terlambat.” sapamu ceria.

Perlahan kau berjalan mendekati salah satu dari beberapa batu putih yang berbaris rapi di sana. Tiba-tiba kau merasakan langkahmu semakin berat. Sesak itu datang lagi. Sesak yang luar biasa kala kau melihat nama kekasihmu—Luhan—terukir jelas di salah satu batu putih itu.

Orang biasa menyebutnya sebagai nisan, penanda bagi tubuh yang terkubur di bawahnya.

Di bawah tanah yang kau pijaki kini, terbaring dengan damai sosok yang dahulu selalu mengisi hari-harimu. Sosok lelaki yang begitu kau cintai. Yang telah menutup mata untuk selamanya, dua tahun silam.

Kekasihmu. Satu-satunya lelaki yang kau cintai, setelah Ayahmu, yang juga telah meninggalkanmu.

Kau belum benar-benar berada di samping batu nisan milik Luhan. Kau masih menatap batu itu dari kejauhan, dengan tatapan sendu.

 

XI LUHAN

20/04/1990 – 19/04/2012

 

Setidaknya itulah yang terukir di atas batu putih itu.

Kau mendekat, kemudian bersimpuh di samping makam Luhan. Kau meletakkan buket bunga yang kau bawa di atasnya makamnya, tepat di samping nisannya.

“Bagaimana kabarmu sekarang?” kau bertanya sambil terus menatap ukiran nama Luhan di atas batu putih di depanmu. “Kalau aku, kabarku baik-baik saja. Yah, setidaknya kini lebih baik dibandingkan dua tahun lalu, saat kau baru saja pergi meninggalkanku, Lu.”

Kau lalu mengulas senyum di wajahmu. “Ibu menitipkan salam untukmu, Lu. Katanya ibu sudah sangat merindukanmu.” jeda sejenak sebelum kau melanjutkan kalimatmu, “Dan Hyeri juga titip salam padamu. Ia bilang akan datang bersama Jongin besok. Ah dan satu lagi, kau juga mendapat ucapan selamat ulang tahun dari Paman Hong. Kau ingat dia kan? Paman di toko bunga yang aku kenalkan padamu dulu. Dia juga yang memilihkan bunga cantik ini untukmu, Lu.”

Suasana hening menyelimuti beberapa saat. Dan hanya diisi oleh suara rerumputan yang sesekali tertiup angin walau tidak terlalu kencang.

“Oiya, apa kau tahu makna bunga ini, Lu?” tanyamu memecah keheningan, seraya menyentuh buket bunga carnation putih yang tadi kau letakkan di samping nisan Luhan. “Paman Hong pernah berkata bahwa carnation putih memiliki makna yang paling mendalam di antara carnation warna lain. Katanya, makna bunga ini adalah cinta yang murni. Yah, seperti cintaku padamu, Lu.”

Kemudian kau tertawa singkat. Kau merutuki dirimu sendiri yang mungkin terlihat bagai orang tolol, berbicara panjang lebar pada sebuah batu nisan—dan tertawa bersamanya.

Namun kau tidak peduli. Memang ini yang selalu kau lakukan setiap kali kemari. Kau akan menghabiskan waktumu untuk berbicara, bahkan bercerita pada Luhan—lebih tepatnya pada batu nisan Luhan.

“Aku merindukanmu, kau tahu?” tanyamu, sembari menatap hampa makam di hadapanmu. “Apa jauh disana kau juga merindukanku, Luhan?”

Hening kembali.

Keheningan tercipta, akibat tidak ada satu pun—baik kau atau Luhan yang berbicara. Luhan jelas tidak mungkin berbicara lagi, dan entah mengapa kini kau mulai merasa canggung dan kehabisan kata-kata.

Jika detik demi detik yang bergulir biasanya dihabiskan para peziarah untuk mendoakan sanak saudara mereka yang dimakamkan disini, maka berbeda denganmu yang menghabiskan detik-detik hening itu untuk diam. Hanya memandangi nisan Luhan yang juga tidak bergeming.

“Ah, hampir saja aku lupa,” seakan baru teringat sesuatu, kau merogoh tasmu dan mengeluarkan sebuah bingkisan berwarna biru dengan pita perak yang tidak terlalu besar.

“Selamat ulang tahun, Xi Luhan.” ujarmu dengan nada yang kau buat ceria, dan kau menyertakan sebuah senyuman dalam ucapan selamat ulangtahun darimu, untuknya.

Kau meletakkan bungkusan itu dengan hati-hati di atas makam Luhan.

“Selain putih, biru adalah warna kesukaanmu, bukan?” ujarmu dengan lembut. Tanganmu mulai membuka bungkusan itu. “Dan kau juga menyukai warna perak. Kau bilang warna emas terlalu menyolok, jadi kau memilih perak—karena menurutmu warnanya tidak jauh dari putih, warna kesukaanmu nomor satu.”

Bungkusan biru itu terbuka sempurna, menampilkan tujuh buah cookies yang masing-masing bertabur tujuh buak chocochips di atasnya.

“Aku berusaha membuat ini untukmu, Lu. Aku membuatnya tujuh buah, karena kau begitu menyukai angka tujuh, begitu pula aku.”

Kau tersenyum tipis kala mengingat percakapan singkatmu dengannya, beberapa tahun silam.

.

.

.

“Hei, kau juga suka angka tujuh, Lu?” kau bertanya seraya memandangnya dengan kedua alis yang terangkat sempurnya. Kau dan Luhan sedang mengerjakan tugas kuliah kalian di salah satu café yang berada tidak jauh dari sekolah.

Kau memakai kemeja putih tanpa lengan dan rok sepanjang lutut, sedangkan Luhan memakai jersey merah Manchester United dengan nomor tujuh sebagai nomor punggungnya.

Pemuda itu mengangguk. “Yap, benar sekali. Alasannya karena…”

Kau menahan napasmu kala pemuda itu menggantungkan kalimatnya. Dalam hati, kau mengharapkan sesuatu. Kau mengharapkan jawaban yang memiliki unsur dirimu di dalamnya. Menyukai angka tersebut karena alasan yang sama denganmu, yaitu karena kau lahir tanggal tujuh, juga bulan tujuh.

Luhan tersenyum. “…karena aku begitu menyukai Christiano Ronaldo. Dia keren, kau tahu, kan? Tinggi, dan bermain bolanya hebat sekali—”

Kau menghembuskan napasmu kecewa. Tapi hanya sebatas itu, kau tidak menampilkan rasa kecewamu itu di wajah manismu. Tidak, karena kau takut Luhan akan menyadari perasaanmu padanya.

Dan kau tidak mau itu.

Kau mengalihkan tatapanmu dari wajah Luhan, dan kembali menatap lembaran kertas tugasmu dengan tanpa minat. Sedangkan Luhan, pemuda itu masih saja sibuk menceritakan Ronaldo, pemain sepak bola berdarah portugis yang begitu Luhan kagumi.

Kau berusaha menyibukkan dirimu dengan mencoret-coret kertas tugasmu dengan coretan asal, berusaha tidak mendengarkan ocehan Luhan yang entah mengapa membuatmu sebal.

Luhan selesai bercerita. Dan keheningan kini tercipta di antara kalian berdua.

Lambat memang, tapi tampaknya Luhan baru menyadari bahwa sikapmu padanya berubah.

Lelaki itu menyentuh tanganmu dengan lembut, membuatmu tersentak kaget karenanya. Kau berniat menarik tanganmu, namun Luhan menahannya.

“Hei, kau kenapa?” tanya Luhan dengan lembut. “Kau marah?”

Kau menatapnya sekilas, kemudian menggelengkan kepalamu. “Tidak,” jawabmu singkat. Kau berbohong.

Luhan yang sadar akan hal itu kemudian mulai menggenggam tanganmu. “Jangan berbohong, Soojin-a. Kalau kau marah, katakan saja. Tapi tolong jangan berbohong padaku, ya?” ujarnya lembut. “Aku tahu kau marah.”

Luhan sudah memintamu untuk tidak berbohong. Kau mengaku bahwa kau memang marah, tapi tentu saja kau tidak mengatakan alasannya.

Kau tidak ingin Luhan mentertawakanmu, karena kau tampak terlalu berharap padanya.

“Alasanmu suka angka tujuh, hanya karena Ronaldo?” kau bertanya, dengan nada yang tidak bisa dibilang baik. Kesal? Yah, mungkin seperti itulah.

Luhan mengubah ekspresinya begitu mendengar pertanyaanmu. Dari raut wajahnya, kau tahu bahwa ia tahu sesuatu.

Pemuda itu tersenyum, kemudian mencondongkan tubuhnya mendekatimu.

“Aku punya alasan lain,” ujarnya lembut. “Kau mau tahu?”

Deru nafas Luhan sangatlah terasa di wajahmu, dikarenakan jarak wajah kalian yang kini memang terlalu dekat.

Dengan ragu, kau menganggukkan kepalamu, sekali lagi kau mengharapkan jawaban yang memang ingin kau dengar dari mulutnya.

Luhan mempermanis senyumnya, kemudian menghapuskan jarak di antara kau dengannya.

Ia menciummu, dengan lembut.

“Karenamu,” ucapnya lembut di sela-sela ciuman kalian. “Karena aku mencintaimu…”

.

.

.

Kau rebah di tanah. Berbaring di samping makam Luhan. Selama beberpa jam belakangan kau berusaha kuat menahan tangismu agar tidak pecah. Luhan tidak suka kau yang sedang menangis. Dia akan dengan kejam mengataimu jelek.

Tapi sayang, usahamu sia-sia.

Kau memejamkan kedua matamu kuat-kuat, berusaha membendung cairan yang kini mulai memenuhi rongga matamu.

Kau tidak bisa. Air mata itu lolos dari kedua matamu, mengalir turun dan kemudian jatuh ke tanah. Tanah dimana Luhan dibaringkan, diistirahatkan dengan damai.

“Maafkan aku, Luhan. Aku tidak bisa menepati janjiku untuk tidak menangis. Maaf jika tangisanku membuatmu berat meninggalkanku. Tapi aku…”

Kau merasakan air matamu turun semakin deras, membasahi kedua matamu, juga pipimu. Rasa sakit akan kehilangannya benar-benar kembali, seutuhnya. Sama seperti saat kau pertama kali kehilangan lelaki yang kau cintai itu, sama seperti saat dua tahun yang lalu.

“Aku terlalu mencintaimu, Luhan…”

Dan tangismu pun pecah, tanpa sanggup ditahan lagi.

Kau terisak, keras dan makin keras. Di tengah-tengah isakanmu, kau terus-menerus menyebut namanya. Tanpa bisa berhenti.

Kau memanggil, menangis, berteriak memohon kepada Tuhan.

Memohon agar ia kembali. Agar ia ada di sini. Di sampingmu lagi.

“Tuhan, tolong kembalikan Luhan. Biarkan Luhan berada di sisiku lebih lama lagi. Kumohon…”

“…aku mencintainya. Aku sangat mencintainya.”

 

 

Air matamu mengering. Sebesar apapun kau ingin mengeluarkan air matamu, tidak akan bisa.

Mungkin karena Luhan tidak menginginkannya, mungkin.

Kau memejamkan matamu yang kini terasa perih dan panas. Dalam kegelapan itu, kau baru menyadari betapa singkatnya waktu yang kau habiskan bersama Luhan. Begitu sedikit…

Namun meski begitu, kau selalu mengingat saat-saat bersamanya, sebaik yang kau bisa. Berusaha menyimpan memori dan kenangan-kenangan itu dalam hati dan pikiranmu, selamanya.

Meskipun singkat, tapi kau tahu, bahwa masa lalumu dengan Luhan adalah yang terindah. Meskipun kisah cintamu tidak lepas dari isak tangis, tapi kau tidak keberatan, karena kau tahu satu hal yang pasti; bahwa Luhan selalu mencintaimu, sama seperti kau mencintainya.

Sebesar apapun kau berharap, tidak, kau tidak akan dapat melihatnya tersenyum lagi seperti dulu. Kau tidak akan merasakan jemari lembutnya lagi. Tidak akan merasakan hangat peluknya lagi. Tidak akan.

Sekeras apapun kau menangis dan berteriak, memohon kepada Tuhan, tetap tidak akan dapat mengembalikan Luhan ke dunia ini. Duniamu dan Luhan sudah berbeda.

Satu hal yang harus kau sadari,

Luhan sudah pergi. Untuk selamanya.

 

 

Langit mulai mengubah warnanya sedikit-demi sedikit, menjadi jingga. Warna langit yang Luhan sukai, begitu juga dirimu. Warnanya yang cantik dan menenangkan selalu sukses membuat kalian berdua terpana, takjub.

Kau tersenyum. “Luhan, lihat, langit senja. Kesukaan kita…” ujarmu sembari menunjuk langit jingga yang berada tepat di hadapanmu. “Warnanya cantik, ya. Indah, seperti senyumanmu.”

Kau merasakan angin yang berhembus di sekitarmu. Mengelus wajahmu lembut, dan menerbangkan anak-anak rambutmu yang memang sengaja kau gerai.

“Luhan,” panggilmu lagi. Tanganmu kini mengelus lembut nisan Luhan, seakan nisan itu adalah Luhan yang sesungguhnya, bukanlah batu.

“Aku tidak tahu ke mana orang akan pergi setelah ia meninggal,” lirihmu. “Tapi bila aku mengalaminya nanti, aku tidak akan keberatan. Dan lagi, aku akan meminta pada Tuhan untuk mengirimkanku ke tempatmu. Agar kita bisa bersama kembali, seperti dulu…”

Kau merasakan matamu kembali memanas. Bagaimanapun, lelaki yang sangat kau cintai tidak akan pernah kau lihat lagi…

Angin kembali berhembus, dan rasanya semakin dingin. Kau merapatkan jaket yang kau kenakan, menghangatkan tubuhmu yang kini mulai menggigil.

Kau menatap sekelilingmu. Hampir gelap, sunyi, dingin. Mungkin sudah saatnya kau menyudahi kunjunganmu hari ini, dan pulang.

Matamu menatap makam Luhan dalam, seakan berat untuk meninggalkan lelaki yang kau cintai disana, lagi, sendirian.

“Luhan, kau harus tahu, bahwa aku selalu mencintaimu. Sejak dulu…perasaan ini masih sama.” bisikmu lembut, selembut angin. Air matamu pun kembali meleleh.

Kau mengusap air matamu yang kembali tumpah, seraya bangkit dari posisimu.

“Selamat malam, Luhan.” katamu pelan, sebelum kau akhirnya membalikkan tubuhmu untuk pergi meninggalkan tanah yang kau duduki sedari tadi.  Sebelum benar-benar pergi, kau membalikkan tubuhmu dan berkata lagi,

“Luhan…” tanganmu bergerak naik, menyentuh dadamu. Tepat di hati. Tempat di mana kau selalu menyimpan sosok Luhan dalam-dalam selama beberapa tahun belakangan ini. Juga untuk selamanya.

“Hati ini…masih milikmu. Selalu milikmu.”

.

.

.

EPILOG

 

Malam sudah semakin tua, namun kau belum juga terlelap. Matamu masih enggan beralih dari layar ponsel dan berhenti membaca pesan singkat dari Luhan. Entah sudah berapa ratus kali kau membaca pesan itu hari ini.

Ya, pesan singkat yang dikirimkan Luhan dua tahun lalu, tepat dua hari sebelum ulang tahunnya, dan juga sehari sebelum dirinya mengalami kecelakaan pesawat itu. Pesawat yang membawanya kembali dari Paris menuju Seoul.

Kau bangkit dari posisi berbaringmu. Dengan langkah pasti, kau berjalan menuju rak kaca yang berada di pojok kamarmu.

Kau mengeluarkan sebuah kotak dari dalam sana, kemudian membawa kotak tersebut kembali ke atas ranjangmu.

Hal pertama yang kau lihat setelah membuka kotak tersebut adalah sebuah kartu pos bergambar menara Eiffel dengan latar langit senja yang sangat indah. Jemarimu bergerak meraih benda itu, memandangnya sejenak seraya tersenyum, lalu membaliknya.

Perlahan kau membaca tulisan tangan Luhan yang tercetak disana,

 

Paris, 2 February 2012

 

Untuk Kim Soojin, gadis yang selalu aku cinta.

Baru dua bulan tidak bertemu denganmu hampir membuatku gila.

Rasa rindu ini benar-benar menyiksaku, kau tahu?

Aku yakin, kau pasti senang dengan gambar kartu pos yang kukirimkan ini. Karena kau begitu menyukai Paris, menara Eiffel, juga senja. Benar bukan?

Setelah aku menyelesaikan studiku di sini, aku akan segera kembali ke Korea dan menemuimu. Aku akan melamarmu dan berjanji akan membawamu ke Paris. Kita akan menikah di sini

Apa kau bersedia menungguku?

Kau harus berjanji untuk menungguku kembali.

Tetapi seandainya nanti terjadi sesuatu dan aku tidak kembali…aku mohon padamu untuk selalu menyimpanku dalam hatimu. Selalu mencintaiku. Seperti aku yang tidak pernah lelah mencintaimu sampai kapan pun.

Kau juga harus berjanji, untuk jangan pernah menangis. Jangan buang air matamu itu dengan sia-sia. Apapun yang terjadi.

Aku merindukanmu. Aku menyayangimu. Aku mencintamu, Kim Soojin.

 

Dengan cinta,

Xi Luhan.

 

Untuk kesekian kalinya, kau menangis lagi setelah membaca tulisan ini. Di malam yang telah sunyi, di saat orang-orang sibuk menikmati waktu tidur mereka, kau mati-matian menahan rasa sakit dan perih yang kembali menghujan dadamu.

Rasa sakit akan kehilangan.

Kau tahu, Tuhan selalu memiliki rencana yang berbeda pada setiap umatnya.

Dan yang sudah lama direncanakan-Nya bagi kalian. Bagimu dan Luhan.

Meskipun menyakitkan, tapi yakinlah bahwa Tuhan selalu memberikan yang terbaik. Tuhan tidak akan memberikan cobaan di luar kemampuan hambanya.

Inilah takdirmu.

“Tuhan, aku memang sangat kehilangannya…”

“…tapi terima kasih karena telah membiarkannya hadir dalam kehidupanku.”

 

___ FIN ___

 

Waaaaa maaf, kok malah jadinya kayak gini T_T

Untuk sudut pandang, sengaja di sini aku pake sudut pandang yang menggunakan kata “kau”, supaya kalian/pembaca bisa memposisikan diri di posisi Soojin sehingga aku harap feelnya pun lebih dapet. Karena seakan-akan kalian yang mengalami semua itu

Ini FF aslinya aku buat buat ulang tahunnya Luhan 20 April lalu, dan udah pernah aku posting kok di tempat lain, tapi udah aku hapus hehe dan aku repost di sini. Jadi maaf kalo ada yang udah pernah baca XD

Oke,  aku tunggu comment serta like dari kalian. Inget ya, seperti yang aku bilang sebelumnya, hargailah usaha orang dan jangan ada yang menjadi silent readers. Oke?

Sampai ketemu di FF saya selanjutnya ❤

 

53 tanggapan untuk “Missing You”

  1. sumpah aq sampe nangis lo bacany… dpt bngt feelny!! trus aq nhebayangin klo luhan emang gk ada.. huwaa tmbh ngis aq… apalgi meninggalny tepat 1 hr sblum luhan ultah… wah kgk kebayang gimana prasaan pacarnya..

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s