Rainy Monday and a Box of Chocolate Milk

under the rain(2)

 

 a fiction by sleepingpanda (@cheeksoo on twitter)

.

Park Chanyeol-OC | Vignette | Romance | General

.

don’t take out both of the picture and the story without permission, they’re all mine, okay sweetie ? 🙂

.

.

“Some people feel the rain, other just get wet.”

 

Tidak ada hari paling sial selain hari senin bagi tipikal gadis sekolah berumur delapan belas tahun seperti Bi. Ia membenci hari senin sebanyak ia membenci jamur kancing pada sepiring carbonara nya tadi siang, ew jamur kancing tentu tidak masuk dalam daftar makanan kesukaannya. Entah kenapa menurutnya hari senin bisa membunuhnya kapan saja karena hanya pada hari itu pelajaran matematika, kimia dan fisika ada pada waktu yang berurutan. Duduk selama empat setengah jam dan mendengar hal hal yang bahkan otakmu tidak mengerti bukan hal yang menyenangkan, pecayalah.

Gadis itu masih memainkan ujung sepatu sneakers nya pada lantai yang basah, tali sepatu yang bahkan tak ia ikat sudah lebih dahulu basah terkena genangan air di bawah kakinya. Rambut cokelatnya yang ia ikat asal sedikit basah terkena tetes-tetes air.

Hujan memaksanya untuk tinggal lebih lama di sekolah. Bilang saja nasibnya sedang buruk, ia sama sekali tak mengira bahwa hujan akan turun sore ini dan ia mulai menyesali perintah ibunya untuk sekedar membawa payung.

Ia berdiri sendirian seperti orang bodoh, yeah kecuali rintik hujan yang masih menemani gadis itu. Ujung sepatunya ia hentak-hentakkan ke lantai untuk sedikit mengusir bosan yang sedari tadi menyerangnya. Sekolah sudah cukup sepi pada pukul empat sore, siapa yang masih mau tinggal di sini berlama-lama ? (Ups gadis ini pengecualian)

Ia bertekad untuk sampai rumah dalam keadaan kering walaupun itu berarti ia harus menunggu dan berdiri lebih lama. Ia benar benar tak akan membiarkan satu tetes hujan pun mengenai seragamnya, sungguh. Ia menghela napas kasar, hujan turun dengan deras dan sepertinya butuh waktu lama untuk mereda melihat pekatnya gumpalan awan kelabu di atas kepalanya.

 

“Sedang menunggu hujan reda ?”

 

Itu suara yang tak Bi kenal mencoba menginterupsi segala lamunan sore harinya. Ia menoleh kaget menyadari bahwa ada seorang murid lelaki yang kini tengah berdiri tepat disebelahnya, sudut-sudut bibirnya terangkat membentuk senyum. Seragamnya berantakan dengan dasi yang bahkan sudah tidak terikat rapi di leher. Ia punya surai hitam yang lembut, mata besar yang lucu dan hei, tubuhnya tinggi, mungkin ia  tim basket sekolah.

Yah, hujan sungguh menyebalkan,” Butuh waktu sekitar empat puluh lima detik penuh bagi Bi untuk merespon pertanyaan lelaki itu. Hujan dan rentetan pelajaran eksak yang barusaja ia terima sepertinya membuat otaknya tak bekerja dengan baik. “Kau sendiri ?”

“Sama sepertimu. Latihan basket membuatku harus jadi yang pulang paling terakhir, menyebalkan.”

Gadis itu mengangguk kikuk. Ia tak pernah mengenal lelaki ini sebelumnya, mungkin ia salah satu murid lelaki yang setiap hari berlarian di koridor saat bel istirahat berbunyi, tapi toh ia tak akan perduli. Ia tak mau repot-repot menghapal wajah semua murid di sekolahnya. Ia bukan tipikal gadis ramah yang mau mengingat semua nama murid. Tetapi kenyataan bahwa ada seseorang disampingnya membuat ia sedikit lega karena ia tahu ia tak sedang menunggu seorang diri.

“Namamu Bi ?”

“Bagaimana kau tahu ?”

“Gampang,” Ia terkikik. “Tertulis jelas di nametag mu, nona.”

Dalam hitungan detik ia merasa menjadi gadis paling bodoh sedunia. Seharusnya ia tak terlalu penasaran akan kemampuan pria ini dalam menebak, bahkan Bi sudah berpikiran terlalu jauh menyangka pria ini merupakan seorang stalker.

 

“Jadi aku boleh memanggilmu Bi ? Oh, namaku Chanyeol omong-omong.”

 

Alis-aslis Bi bertaut, ia cukup cerewet untuk ukuran seorang pria. Seingatnya ia baru mengeluarkan beberapa kalimat dari mulutnya tapi pria bernama Chanyeol ini sudah mengucapkan tigal kali lipatnya. Ia mengedikkan bahunya santai. “Terserah kau.”

 

“Baiklah Bi, mau susu cokelat ?”

 

Masih dengan senyum yang mengembang di bibirnya pria yang baru Bi ketahui bernama Chanyeol itu menyodorkan sekotak susu padanya. Kedengarannya aneh melihat orang yang bahkan baru mengenalmu tidak lebih dari sepuluh menit lalu kini tengah menyodorkan sekotak susu cokelat. Chanyeol yang pertama bagi Bi. Ia tak pernah melihat manusia macam Chanyeol sebelumnya. Ia sedikit ragu tapi berakhir dengan ia menerima sekotak susu cokelat itu dari tangan Chanyeol. “Thanks, biasanya aku tak gampang menerima pemberian orang asing.”

 

“Hei, aku bukan orang asing. Kita sudah berkenalan barusan.”

 

Pria ini sungguh lucu, Bi akui. Kalimatnya barusan bahkan bisa membuat gadis itu terkikik geli, sesuatu yang bahkan tak pernah seorang Bi lakukan pada orang asing. Ia rasa dirinya bertingkah begitu aneh hari ini. Bi bukan tipe gadis yang mudah dekat dengan orang baru, bukan keinginannya untuk tidak bersikap ramah terhadap orang yang baru pertama kali ia temui, ia hanya terlalu takut semua ucapannya bisa begitu saja melukai. Kadang ia begitu membencinya, pribadinya membuatnya tak mempunyai banyak teman.

Ia menyedot minumannya dalam diam, hanya bunyi rintik hujan yang bisa gadis itu dengar. Bi dengan seenaknya menarik kesimpulan bahwa pria ini benar-benar tukang senyum melihat sudut bibirnya yang terangkat sedari tadi.

“Kau suka hujan ?” Chanyeol bergumam ditengah hening yang menelusup diantara mereka.

Hem, tidak begitu.”

Dahi pria itu sedikit mengerut. “Kenapa ?”

Gadis itu masih menerawang di antara hujan, enggan untuk sekedar menoleh ke arah lawan bicaranya. “Entah, banyak alasan kenapa aku tidak begitu menyukai hujan. Hujan selalu datang disaat yang tak tepat, aku benci itu. Hujan membuatku tak bisa mengajak anjing peliharaanku jalan-jalan dan ia terus saja menggonggong, hujan membuat rambutku terlihat jelek, dan―” Ia memutus kalimatnya sendiri, membiarkan sedikit hening masuk diantara percakapan mereka. Ia mengeratkan pegangan pada tas ransel di pundaknya.

 

“―I’m used to being alone, but the rain itself makes the loneliness grow bigger. I hate that.”

 

Bunyi hujan masih menggelitik telinga saat Bi mengucapkan kalimat terakhir. Sementara Chanyeol di sebelahnya sedikit terkikik karena mendengar cerita Bi tentang anjing atau rambutnya yang jelek.“Berbeda denganmu, aku menyukai hujan.”

Sontak gadis itu menoleh ke arah Chanyeol, alisnya berkerut. “Hujan membuat Pak Kim si guru fisika membatalkan kelasnya, hujan membuat ibuku batal menyuruhku pergi belanja dan hujan bisa menjadi alasan untukku tidak mengikuti les bahasa inggris hari ini.”

“Tapi itu alasan sepele.” Bi mendengus.

“Tidak kalah sepele dengan alasan mu membenci hujan, bukan ?”

Ia akui perkataan pria ini benar. Pria ini sangat pintar dalam memutar balikkan fakta. Ia membenci hujan hanya karena takut rambutnya akan jelek atau karena anjingnya menggonggong seharian. Tetapi alasan terakhirnya masih membuatnya kukuh untuk begitu membenci bulir-bulir air itu.

“Kalau begitu aku akan menjadi temanmu, Bi.” Sejenak Bi merasakan sentuhan di puncak kepalanya, itu tangan Chanyeol tengah mengusap puncak kepalanya lembut. “Kita bisa menunggu hujan bersama, bermain hujan atau mungkin kita bisa berdansa di bawah hujan dengan begitu aku bisa membuatmu menyukai hujan atau kau tak akan merasa sendirian saat hujan.”

Tatapan mata Bi masih tertuju kearah Chanyeol. Tanpa ia sadari dari tadi otaknya terus saja membuat beberapa kesimpulan tentang Chanyeol. Seperti pria ini cerewet, pria ini aneh, pria ini suka tersenyum, ia ramah dan pria ini tam― Oh tidak apakah barusan ia berkata tampan ? sungguh ada yang salah dengan otaknya hari ini. Hei bahkan ia barusaja mengenal Chanyeol dan ia sudah mengatakan pria ini tampan ? dia sudah gila. Tiba-tiba jantungnya terdengar seperti gemuruh petir.

Bi tak mengerti apakah semua pria mempunyai sifat seperti Chanyeol, yang dengan sesuka hati menepuk pundak seseorang yang bahkan tidak kau kenal, lalu memberikan sekotak susu dan tiba-tiba bilang ingin berteman atau mengajakmu berdansa di bawah hujan. Kalau iya berarti ia mungkin harus sedikit menjauhi setiap pria karena mungkin mereka sama cerewetnya seperti Chanyeol dan mungkin saja perutnya akan terus terasa seperti tersengat listrik.

“Sebenarnya sih aku ingin mengajakmu berdansa di bawah hujan, tapi mungkin tidak sekarang. Besok kau ada ujian matematika kan ?” Chanyeol merogoh isi tas ransel kuning cerahnya, tangannya mencari-cari sesuatu dalam tumpukan buku-buku dan handuk penuh keringat yang ia simpan dalam tasnya.

“Ayo kuantar pulang, rumah kita kan searah.” Ia membuka payung biru yang barusaja ia keluarkan dari tas. Kakinya berjalan menuju aspal yang tergenang air, membiarkan sedikit permukaan sepatunya basah oleh air hujan. Tangannya masih ia ulurkan pada Bi, berharap gadis itu setidaknya mau pulang dengannya. Chanyeol sadar sih kelakuannya tadi sangat tidak sopan mengingat Bi baru pertama kali mengenalnya.

“Hei, kau punya payung, kenapa tidak pulang dari tadi ? Lalu darimana kau tahu aku punya jadwal ujian matematika besok, lalu bahkan aku barusaja mengenalmu dan kau tahu arah rumahku ?” Tuduh Bi. Alis-alisnya kembali berkerut. Pria ini sedikit aneh, sungguh.

“Huh, sedikit koreksi. Bukan hanya arah, aku tahu di mana rumahmu.” Protes Chanyol.

“Sudah kubilang bagaimana bisa ?”

“Dasar cerewet,” Chanyeol menarik pergelangan tangan gadis itu, membuat tubuhnya sedikit terjerembab ke dada Chanyeol. Dan di saat itu perutnya bagai tersengat listrik.

“Sudah kubilang kan aku menyukai hujan. Aku menyukai hujan sejak pertama kali bertemu dengannya saat upacara masuk sekolah.”

Sontak Bi sedikit menjauhkan tubuhnya dari Chanyol, otaknya berusaha mencerna semua kalimat-kalimat yang baru saja diucapkan Chanyeol. Gadis itu masih diam berusaha menormalkan detak jantungnya yang berkerja lebih cepat, mengedarkan semua kelebihan darah pada wajahnya. Dan ketika ia tersadar maniknya menangkap manik kecokelatan teduh milik pria itu, deretan gigi terlihat di balik sudut-sudut bibirnya yang tertarik membentuk senyum. Chanyeol mengeratkan bahunya pada bahu gadis itu.

 

 

“I love you, Bi.”

 

end―

 

 

 

A/N : (Busrt into laughter) nggak nyangka ini bakal jadi habis udah lama banget di draft huhuu oiya aku mau sedikit jelasin kalo bahasa korea nya hujan itu Bi (비) (yang juga jadi nama cast nya disini) in case ada yang nggak paham 🙂 Enjoy !

 

 

 

 

28 tanggapan untuk “Rainy Monday and a Box of Chocolate Milk”

  1. ohhh begitu maksudnya😉 pantesan kok tiba2 chanyeol bisa begitu wkwkwk daebakkk thor, sequelnya plisss😃

  2. Tadinya cuma satuuu hal yg buat aku ga ngerti antara hubungan Bi sama hujan. Ternyataa, Bi adalah hujan *gubrakk* ahahahaha maklum ga mahir bahasa koleaa wkwk ahhh, ribuan kali daku mengatakan ‘aku big fan of ur fanfict collection’ hahaha akhirnya, bisa baca lagi hehe author jjang!! ^^9

  3. Kenapa karakter bi disini mirip aku yah?.-. /abaikan/
    Sweet banget sih~
    Dugaanku bener klo yeol suka sama bi, dari awal pas dia bilang suka sama hujan
    Suka banget sama ffnya~ keren thor, feelnya juga dapet banget^^

  4. ahh manis sangat 😀
    aku awalnya ga ngerti,,tp pas athor bilang bi itu hujan,,kyaa brarti chanyeol??hahaha
    haduh romantis,,

  5. So sweettt…. Banget>.<! Chanyeolnya udah lama toh suka ama Bi. Bi artinya hujan yah…
    Oh iya, kita samaan loh Bi, kita sama2 nggak suka hari senin #plak keep writing yah thor!!!

  6. So sweet.. Chanyeol lucu banget siii >w<
    Nice ff thor.. I like it♥
    Buat ff lain terus ya thor, keep writing 🙂
    Fighting!!

  7. sweet banget ;; argh chanyeol udah suka dari saat upacara sekolah. itu sweet banget untuk ukuran anak sma hhhhh
    nice bgt! ditunggu karya karya selanjutnya ^^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s