Photograph

14383701757_97981fd5d0_o

Cast: Jongin and You

Length: Oneshot

Recommended Song: Ed Sheeran-Photograph (listen in loop)

Warning: put attention on the year above each part

***

2015

“Kukira aku harus pergi sekarang,” Jongin melirik jam tangannya kemudian tersenyum padaku, mungkin sambil berharap aku akan berhenti menangis dan tersenyum bersamanya. Tapi tidak, dia salah kalau menganggap senyum adalah hal termudah untuk kulakukan saat ini.

“Jaga dirimu,” aku berkata pelan. Jongin menaruh tangannya di puncak kepalaku, mengusapnya pelan tanpa berkata apa-apa.

“Kalau…” aku menghela nafas. “kalau sudah sampai kabari aku.” Aku menggigit bibir. Lepaskan ia sekarang atau kau tidak akan pernah melepaskannya, batinku pahit. Aku menepuk dadanya main-main. “Jaga dirimu,” ulangku. Aku melangkah mundur, seiring tangis yang kuharap semakin memudar. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Aku menangis lagi. Mempermalukan Jongin di tengah-tengah terminal keberangkatan bandara.

“Mungkin sebaiknya aku pulang. Aku–“

“Hei,” Jongin justru mendekat, melingkarkan tangannya ke sekeliing punggungku. I can’t help but cry. Ia mengusap rambutku perlahan, seakan mencoba berbicara lewat sentuhannya. “May I sing you a song?” tanyanya.

Aku mengangkat kepala,menatap kedua mata gelapnya yang entah mengapa tetap terlihat hangat seperti kue jahe di hari natal. “Hm?”

So you can keep me, inside the pocket of your ripped jeans. Holding me closer till our eyes meet, you wont ever be alone. Wait for me to come home.” Jongin tidak pernah bisa bernyanyi dengan baik. Nasal voice, jelasnya suatu hari. Tipe suara yang muncul ketika seseorang terserah flu. Tetapi suara itu yang selalu memarahiku ketika aku jatuh sakit, atau menertawaiku saat pancake yang kubuat hangus.

F*ck you,” aku memeluknya erat. Ia tertawa, derai tawa seperti capuccino hangat. “Good girl doesnt say bad word,ucapnya.

“Maafkan aku,” gumamku. Jongin belum melepaskan pelukannya. Tapi aku yang melepaskan diri. “Kau sudah terlambat,” kataku pendek. “Kau bisa ketinggalan pesawat.” Ia terlihat kecewa, aku tahu. Tetapi berlama-lama dekat dengannya bisa membuatku gila.

“Baiklah….aku…uh….pergi sekarang,” Jongin memakai snapback hitamnya. Aku mengangguk mantap, meyakinkannya bahwa aku tidak apa-apa.

Adios!” Jongin mundur perlahan, melambaikan passport dan tiket pesawatnya. Aku tidak berkata apa-apa. Hanya membalas lambaiannya dan terpaku menatap sosoknya yang semakin jauh dan membaur bersama keramaian terminal keberangkatan.

Jongin membalikkan badannya dan mulai berjalan cepat, koper hitamnya mengekor di belakangnya. Punggung tegap itu menghilang di balik pintu kaca.

Aku membuka ponselku. Benar saja, Jongin sudah menghapus nomor ponselnya dari ponselku, begitu juga dengan akun Line dan Kakaotalknya . Nyaris limbung, aku membuka galeri ponselku. Kosong. Folder berjudul “J” itu kosong setelah sebelumnya ada 341 foto di dalamnya. Aku mengerti sekarang. Jongin berkata ia ingin pergi, dan lihatlah, dia pergi. Dia tidak ingin dicari. 

Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Aku merogoh saku celanaku dan menemukan selembar foto Jongin di dalamnya. Hanya Jongin seorang diri, dengan senyum dan tatanan rambut sederhana. Aku ingat ia menyuruhku menyimpan fotonya di saku celanaku jeansku sesaat sebelum kami tiba di bandara.

Sepenggal lirik lagu yang Jongin nyanyikan tadi terasa menyesakkan.

***

2011

Aku sedang menempelkan post it di halaman-halaman di buku yang kupinjam dari perpustakaansaat Jongin menepuk bahuku. Biasanya ia langsung tertawa karena telah berhasil mengagetkanku. Tetapi hari ini dia hanya tersenyum kecil dan menggeleng lemah. Aku tahu Jongin, aku tahu apa artinya.

“Duduklah,” kataku sambil menggeser tasku.

Jongin duduk disampingku. Tanpa berbicara, ia langsung membenamkan kepalanya di antara kedua tangannya yang ditumpukan di atas meja.

Aku menutup bukuku dan menyentuh lengannya. “Kau mau menceritakannya padaku?”

Jongin mengangkat kepalanya. Wajahnya terlihat kusut. Aku tahu dia belum tidur dua hari ini. Aku tidak percaya Jongin yang kukenal menjadi sangat berantakan. Seseorang –tidak, dua orang telah mengacak-acak hidupnya, bahkan menginjaknya dengan telak.

“Jongin,” kupanggil namanya lagi.

“Mereka tidak mau menerimaku,” jelas laki-laki itu. Singkat dan telak, membuatku semakin membenci ‘mereka’ yang dimaksud Jongin. Aku tahu aku tidak berhak menaruh benci pada ‘mereka’, tetapi melihat sahabatku yang terlampau menderita karena ‘mereka’, aku merasa punya hak untuk membenci. Karena ‘mereka’ sudah merebut Jongin kecil yang terakhir kali kuingat tidak pernah mencoba untuk bunuh diri.

Ya, ‘mereka’ sudah mengubah Jongin menjadi monster penyiksa diri sendiri. Aku menyaksikan Jongin nyaris menabrakkan diri.

“Bahkan setelah kutunjukkan hasil tes DNAnya, orangtua kandungku tidak mau menerimaku,” Jongin melanjutkan tanpa diminta.

“Kenapa…?”

“Karena anak mereka yang tidak lahir dari rahim Ibu kandungku lebih pintar, kukira.”

Aku mencoba segala cara untuk menghentikan Jongin bersikap apatis. Tetapi Jongin sudah terlanjur kecewa dengan dirinya sendiri.

“Anak mereka sekarang, yang entah mereka dapatkan darimana, sudah lulus MBA dari Columbia dan menjadi pewaris perusahaan pria itu, pria yang seharusnya menjadi ayahku. Itu yang kutahu. Lalu aku? Aku cuma pemuda bodoh yang dibesarkan di pemukiman kumuh yang tiba-tiba mengemis pengakuan dari dua orang yang bahkan melihatku pun mereka jijik.”

“Hentikan, Jongin. Jangan pernah mengatakan itu di hadapanku,” aku berdesis menahan marah.

“Seharusnya aku tidak perlu tahu siapa orangtua kandungku, bukan begitu?”

“Jongin…”

“Dan seharusnya Tuhan tidak mengambil nyawa orangtua yang telah membesarkanku, kau tahu itu juga, kan?”

“Hentikan…”

“Kalaupun orangtua asuhku tewas, bukankah seharusnya aku ikut dengan mereka? Bukankah lebih baik seorang Kim Jongin juga masuk koran dengan berita tewas mengenaskan dalam sebuah ledakan pabrik?”

“Hentikan Jongin, kumohon,” aku meremas kedua tangannya. Pandangan laki-laki itu kosong, tetapi bibirnya melengkungkan senyum. Senyum termengerikan yang tak pernah ingin kulihat.

Jongin dan aku sudah bersahabat sejak kecil. Rumah kami bersebelahan, di sebuah pemukiman padat di luar ibukota. Jongin tidak pernah melewatkan satu harinya tanpa menyunggingkan senyumnya kepadaku. Kami bermain, membuat ayunan dari ban bekas, menjual kue kering di bus, hingga bermalam di perpustakaan kota tanpa ketahuan demi mengejar pelajaran. Berhasil, kami masuk ke universitas yang sama dengan beasiswa. Jongin sangat bahagia dengan segala keterbatasan hidup yang ia miliki. Sampai suatu ketika kedua orangtua yang hidup bersamanya meninggal dalam ledakan pabrik. Jongin amat terpukul dan nyaris kehilangan akal sehatnya. Tetapi kemudian ia bangkit dari kubangannya karena ia tahu hidupnya akan sia-sia kalau ia terus-menerus menyimpan duka.

Jongin hampir membaik ketika ia menemukan sebuah map berisi surat-surat yang membuatnya kembali jatuh ke dalam lubang gelap. 

Jongin bukan anak kandung orangtua yang selama ini mengasuhnya. Belakangan Jongin tahu dari surat-surat tersebut bahwa orangtua kandungnya tinggal di ibukota. Sepasang suami istri pemilik perusahaan multinasional. Jongin kembali mengharapkan secercah kebahagiaan dari orangtua kandungnya. Ia pergi menemui mereka, berbekal pakaian dan uang, serta segenggam penuh rasa rindu.

Jongin tidak diterima di rumah orangtua kandungnya. Seorang pria bahkan memakinya, mengatakan bahwa ia tidak pernah punya anak seperti Jongin. Tetapi Jongin bersikeras untuk membuktikan bahwa ia adalah anak mereka. Jongin menantang untuk melakukan tes DNA. Hasilnya memang positif bahwa Jongin memang anak kandung mereka. Tetapi bahkan wanita yang membawanya selama 9 bulan di dalam rahimnya tidak mau mengakuinya. Jongin didepak begitu saja.

Jongin tidak pernah tahu mengapa kedua orangtua kandungnya membuangnya. Ia bahkan tidak cacat fisik dan mental, kalau memang itu alasannya.

Semenjak itu Jongin berubah drastis. Dia tidak pergi kuliah, tidak juga peduli dengan nilai-nilanya. Ia menghabiskan hari-harinya dengan mengunjungi rumah orangtua kandungnya, berharap mereka berubah pikiran. Tetapi hati kedua orang itu telah beku, membuat Jongin menyerah sebelum akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Untunglah, Tuhan masih ingin melihat Jongin tersenyum seperti dulu lagi.

Kuminta Jongin tidur di rumahku. Aku tidak akan membiarkannya tidur sendirian di rumahnya setelah apa yang terjadi dengannya. Dia menurut meskipun dia bersikeras untuk membayar ‘jasa’ku dalam bentuk apapun. Aku jelas menolak mentah-mentah pada awalnya. Tetapi suatu hari, saat aku menolak ia memberikan gaji pertamanya pada ibuku sebagai penjaga toko musik, ia menamparku keras-keras. Ia marah kemudian menangis. Tetapi tertawa dan mengatakan ia hanya bercanda. Aku mengerti keadaannya dan aku tidak marah. Kubiarkan Jongin melakukan keinginannya.

Di akhir tahun 2011, aku baru sadar aku mencintai Jongin.

***

2012

Keadaan Jongin berangsur-angsur membaik. Kami berdua lulus kuliah dan Jongin menjadi guru les privat sebelum menemukan pekerjaan yang diidam-idamkannya.

Jongin membeli kamera dengan uang hasil ia bekerja sebagai guru les privat. Hanya kamera digital murah, tetapi Jongin seperti menggantungkan hidupnya pada kamera itu. Ia mengajakku ke pusat keramaian dan mengambil foto apapun yang menarik perhatiannya. Sangat menyenangkan melihat Jongin kembali ke sosoknya yang dulu. Tetapi sekaligus menyebalkan karena ia suka sekali memotretku.

Tidak apa-apa, toh aku mencintainya.

Suatu hari, aku berniat menunggu Jongin pulang dari rumah tempatnya mengajar. Hari telah gelap ketika aku sampai di halte bus. Tetapi Jongin mengatakan ia akan tiba disana sebentar lagi. 15 menit aku menunggu, sosok Jongin tertangkap pandanganku. Tetapi ia tidak sedang berjalan ke arahku. Dia berhenti di tikungan, berbicara dengan seseorang, dan tanpa kusangka, Jongin melakukan hal paling mengerikan yang tak pernah bisa kuterima dengan akal sehatku.

Dia menusuk perut seseorang itu dengan sebuah gunting kemudian meninggalkannya begitu saja. Lampu jalan tidak berhasil menyamarkan penglihatanku dari bagaimana kulihat gunting itu berlumuran darah. Ironisnya, lampu jalan tepat menyoroti sang korban dengan perut terkoyak.

Jongin melihatku dan tersenyum. Ia memasukkan gunting tersebut ke dalam tasnya dan berlari kecil menghampiriku. “Maafkan aku karena membuatmu menunggu lama,” katanya.

Hal selanjutnya yang kuingat segalanya terasa gelap dan Jongin meneriakkan namaku.

Jongin menderita psychological disorder. Hal itu diketahui setelah Ibuku membawanya ke psikiater untuk mengonsultasikan kondisi kejiwaannya. Aku yang memaksanya karena aku tak tahan menyembunyikan apa yang telah kuketahui tentang Jongin. Benar, laki-laki itu memiliki kecenderungan memiliki dua sisi kepribadian.

Jongin terlalu lama diliputi rasa marah dan kecewa, yang mengakibatkan munculnya sosok baru dalam dirinya, yaitu seorang Jongin lagi yang merupakan akumulasi dari segala kemarahannya. Kasus Jongin termasuk jarang, mengingat masalah yang dihadapi Jongin begitu berat tetapi tidak ada perlakuan khusus untuk menyembuhkannya, sehingga segala hal negatif bertumpuk tanpa dikeluarkan. Keadaannya yang membaik sebenarnya hanya intermezzo sebelum kondisi kejiwaannya memburuk ke tahap yang lebih gawat.

Itulah mengapa Jongin bisa dengan mudah berubah mood dalam hitungan detik. Ingat ketika ia menamparku?

Saat psikiater menanyainya, Jongin mengaku ia bahkan tidak sadar sudah menjadi pembunuh. Anehnya, dia tidak pernah meninggalkan jejak.

Delapan bulan sudah Jongin menjalani terapi pemulihan di bawah pengawasan rumah sakit jiwa. Aku sering mengunjunginya dan ia akan menyambutku dengan gembira. Ia tetap bermain dengan kamera digitalnya dan mengatakan ia baik-baik saja. Syukurlah.

Tepat menginjak bulan kesembilan, terapinya membuahkan hasil. Bukan hasil yang positif sebenarnya. Karena akhirnya ia tahu mengapa orangtua kandungnya membuangnya.

Kim Jongin ingat dengan jelas bagaimana ia pernah mendorong temannya ke tengah rel kereta api sambil tertawa-tawa dan berteriak, “seberangi rel kereta api kalau berani!” lalu orang-orang menghampirinya, lalu tetangganya mengatakan ia telah membunuh temannya, lalu orangtuanya menangis di hadapannya, lalu ayahnya memukulinya habis-habisan tepat di kepala dengan tongkat golf sampai Jongin tidak ingat apa-apa lagi.

***

2014

Jongin dinyatakan sembuh dari psychological disorder yang dideritanya. Setelah ia berhasil mengingat semuanya, Jongin melampiaskan kemarahan dan kecewaannya di tempat ia diterapi sampai akhirnya ia benar-benar terlepas dari trauma masa lalunya.

Tidak ada dari kami yang membahas lagi masalah yang pernah membuat Jongin melakukan beberapa percobaan bunuh diri. Kami menganggap hal itu tidak pernah terjadi.

Jongin mendapat pekerjaan idamannya, menjadi seorang peneliti di lembaga riset terkemuka. Di usianya yang tergolong muda, ia menorehkan banyak prestasi yang membuatku benar-benar bangga sudah menjadi saksi bagaimana ia berusaha menyelamatkan hidupnya sendiri.

Aku tetap mencintainya dan itu tidak akan pernah berubah. Aku tidak tahu bagaimana Jongin menganggapku. Tetapi melihatnya bahagia rasa-rasanya sudah cukup bagiku. Entahlah, aku tidak ingin memikirkan sesuatu secara rumit.

Suatu hari Jongin menunjukkan foto-foto yang diambil dengan kamera digitalnya kepadaku. Jumlahnya ribuan dan semua dicetak, dipajang memenuhi di dinding apartemennya.

“Kau kira hanya kau yang bekerja sebagai script writer?” Jongin mengusap salah satu foto dengan ibu jarinya. “Aku juga suka membuat cerita, sama denganmu. Tetapi caraku melalui foto.” Ya, aku bekerja sebagai script writer di sebuah rumah produksi.

“Ini,” Jongin mengulurkan selembar foto padaku. “Lain kali berposelah yang cantik,” katanya dengan nada mengejek yang kentara.

Aku menerima foto itu dan benar saja, lain kali aku harus berpose yang cantik. Aku tertawa dan memukul lengannya. “Menyebalkan.”

Tapi Jongin memelukku dan menempelkan dahinya di dahiku. “Jadi aku menyebalkan, ya?” and he kissed me without saying anything.

***

2015

“Mungkin ke California atau Pennsylvania?” Jongin memainkan jemariku diantara jemarinya.

“Kau benar-benar harus pergi?” tanyaku. Jongin telah mengutarakan keinginannya untuk keluar negeri untuk sementara waktu. Dia ingin pergi jauh. Melepas penat, katanya. Aku menanggapinya sebagai hal yang wajar tanpa berminat untuk mengungkit masa lalunya. Mungkin dia memang penat. Lagipula di Amerika lembaga riset mana saja bisa menerimanya karena ia memang seorang jenius.

Aku merapikan rambut cokelatnya dan menarik nafas. “Aku bisa menyusulmu kalau aku ada waktu.”

“Tidak,” sahutnya cepat. Aku mengerutkan kening. Kenapa, tanyaku. Ia menggeleng pelan. “Aku tidak ingin disusul. Aku tidak ingin seseorang mencariku.”

“Begitu?”

Hey, of course I’ll be back home,” Jongin tersenyum, mengubah bentuk kedua matanya menjadi bulan sabit. “May I sing you a song?”

As if you can sing,” aku mencemoohnya.

Dia sepertinya tidak peduli karena ia mendekatkan wajahnya ke wajahku, menatapku dalam dan mulai bernyanyi dengan suara nasalnya. “We keep this love in a photograph, we make these memories for ourselves. where our eyes are never closing our hearts were never broken and times forever frozen still…”

***

2016

Jongin mengakhiri hidupnya di apartemennya di Pennsylvania.

Luhan, seorang pria Cina yang tinggal satu apartemen dengannya, mengabariku lewat telepon. Jongin tewas overdosis di kamarnya, dengan botol-botol alkohol dan surat berserakan di kasurnya.

Aku bahkan tidak sempat menangis karena terlalu sulit untuk percaya.

Luhan mengirim surat yang Jongin tulis untukku lewat pos. Aku buru-buru membacanya, masih tidak tahu harus menangis atau bagaimana.

Perlu berbotol-botol alkohol untuk memunculkan keberanianku untuk menulis surat untukmu. Untungnya, aku masih sadar.

Kau tahu kita tidak pernah membicarakan masa laluku, bukankah begitu? Kau salah kalau kau menganggapku telah sembuh. Aku masih punya trauma dengan diriku sendiri. Aku membunuh banyak orang, bagaimana mungkin aku melupakannya?

Maafkan aku karena telah membohongiku. Maafkan aku. Maafkan aku.

Aku memutuskan untuk menghindarimu karena berada di dekatmu membuatku mencintaimu. Tetapi aku tidak bisa mencintaimu setelah aku sendiri tidak berhasil mencintai diriku sendiri.

Itulah mengapa aku tidak ingin kau mencariku. Bukankah lebih baik kita hidup sendiri-sendiri? Anggap saja dulu kita pernah menjadi teman dan sekarang sudah tidak lagi. Teman, yeah, teman. Karena teman datang dan pergi. Itulah mengapa kau harus menganggapku sebagai teman, tidak lebih. Karena pada akhirnya aku pergi.

May I sing you a song?

Oh you can fit me inside the necklace you got when you were 16, next to your heartbeat
where I should be. Keep it deep within your soul. 

Jaga dirimu. Anggap saja masa laluku adalah skenario yang kau tulis. You can keep me inside the pocket of your ripped jeans and I’ll keep you inside my heart.

Jongin.

Usai membaca suratnya, dengan kesetanan aku membuka laci lemariku, mengacak-acak isinya sampai aku menemukan apa yang kucari. Kalung.

Kalung berbandul ukiran kayu sederhana itu masih utuh. Aku dan Jongin membelinya di festival sekolah. Aku tidak percaya aku masih menyimpannya dan Jongin masih mengingatnya.

Aku masih belum mengerti mengapa Jongin akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya setelah kukira ia sudah benar-benar kembali seperti semula. Aku mendapati diriku tidak melakukan apapun setelah membaca surat terakhirnya. Semua terasa gamang, terlalu sureal untuk bisa kucerna.

Jongin. Aku mencintainya. Bahkan setelah berita tentangmu ada di koran, seperti yang kau inginkan dulu, aku masih mencintaimu dan menganggapmu masih hidup.

Aku menangis hampir dua minggu dan aku tidak menyesal untuk itu.

FIN

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

61 tanggapan untuk “Photograph”

  1. Gosh! Ini nyesek bangettt😭😭😭 but cukup prihatin juga sih sama kehidupan jongin,ortu kandungnya malah ninggalin dia juga bukan berusaha buat nyembuhin jongin. Gatau kalo endingnya bakal gini banget ㅠㅠㅠ tapi aku suka kata2nya thor~~~♥ keep writing ^^

  2. daebakk…
    ceritanya amazing,,,ga kepikiran bisa kaya gitu jongin nya…
    jadi ngebayangin dia dengan wajah frustasi dan bahagia sekaligus (jadi mikirin mv nya dia,,,ekekek)
    ceritanya beda dari yang lain dan alur narasi nya bikin ngerti pembaca thor,,,
    fighting ya…
    gomawoyo…

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s