The Princess & The Knights (Chapter 8 Extra Chapter)

TPTK 3

Title        : The Princess & The Knights
Author         : Kim Na Na
Length         : Series
Main Cast     : All EXO Member
Song Min Young (OC)
Other Cast     : Find it 🙂
Genre         : Historical Romance, Fantasy, School Life
Rating         : PG-15
Akhirnya aku pos juga extra storynya. Mian menunggu lama. Disisni ada alasan kenapa Se Hun g suka sama Dong Hae. Baca chap 8 nya juga ya.  Ok langsung aja happy reading dan jangan lupa comment untuk extra story berikutnya

Silla, tahun 360 M

“Orabeoni!!” seru Se Young sambil berlari ke arah Pangeran Mun Mu. “Se Young! Aigoo. Kenapa bajumu sampai robek begini?” tanya Pangeran Mun Mu. Dia langsung menggendong yeodeongsaengnya itu.

“Aku tadi ke hutan untuk menangkap rusa putih. Sebentar lagi ulang tahun orabenoni. Jadi aku ingin memberinya sebahagi hadiah ulang tahun orabeoni.” kata Se Young.

“Bukannya tadi dia mengatakan sedang berlatih memanah? Kenapa sekarang dia mengatakan berburu rusa putih?” batin Se Hun. Tapi begitu melihat wajah Se Young yang sedikit dibuat-buat manis, dia langsung tahu bahwa yeoja itu berbohong pada kakaknya.

“Se Young-a, kau memang adik yang baik. Tapi kamu tidak perlu sampai seperti itu.” kata Pangeran Mun Mu. “Tapi aku ingin memberi orabeoni hadiah. Tenang saja aku pasti akan menangkapnya.” kata Se Young sambil tersenyum.

Pangeran Mun Mu terharu dan memeluk erat adiknya. “Se Young-a.. Kenapa kamu bisa semanis ini? Asal ada kamu, orabeoni tidak ingin apa-apa lagi.” kata Pangeran Mun Mu. Dia mencium kedua pipi Se Young.

“Apa itu hubungan kakak adik yang wajar?” gumam Se Hun. Dia muak melihat adegan yang ada di depannya. Sebuah jitakan langsung mendarat di kepalanya. “Pangeran Mun Mu sangat menyayangi adiknya. Bahkan di umur yang menginjak 23 ini, dia masih menolak semua tawaran pernikahan. Dia lebih memilih bersama adiknya.” jelas Yi Fan.

Entah kenapa, Se Hun tidak puas dengan penjelasan Yi Fan. Dia kesal melihat kelakuan Pangeran Mun Mu. Se Hun merasa Pangeran terlalu memnjakan Se Young.

“Bagaiman kalau Se Young membuatkan orabeoni sapu tangan yang disulam sendiri oleh Se Young? Orabeoni lebih menyukainya daripada rusa putih.” bujuk Pangeran Mun Mu. Dia tidak ingin adiknya terus menerus masuk ke hutan.

Se Hun melihat kekecewaan di wajah Se Young. Sepertinya perkataan Pangeran Mun Mu tidak sesuai harapannya. “Hahaha senjata makan tuan.” batin Se Hun.

“Baiklah aku akan mebuatkannya. Aku akan menyulam bunga yang indah untuk orabeoni.’ kata Se Young. “Akan orabeoni tunggu.” balas Pangeran Mun Mu. Dan sekali lagi dia mencium kedua pipi Se Young.

Pangeran Mun Mu akhirnya melihat ke arah para pengawal adiknya. “Ah kalian pasti putra kepala suku. Tolong jaga adikku.” kata Pangeran Mun Mu. “Ne Chona.” jawab mereka serempak.

****

“Kenapa orabeoni meminta sesuatu yang susah.” gerutu Se Young dalam perjalanan menuju pavilliunnya. “Waeyo? Jangan-jangan Putri tidak bisa menyulam.” sindir Se Hun. Se Hun merasa ingin mengerjai putri sok ini. Se Young kesal. “Siapa namamu? Dari tadi perkataanmu selalu membuat kupingku gatal.” kata Se Young sambil berkacak pinggang.

“Aku Se Hun dari putra klan harimau.” jawab Se Hun. “Kuperingatkan kau jangan banyak bicara. Panhku bisa saja menancap di mulutmu sekarang.” ancam Se Young. “Kalau kau bisa memanhku. Kecepatanku seperti kecepatan angin.” balas Se Hun.

Se Young ingin sekali memanah namja di sampingnya sekrang juga. Tapi dia memiliki ursan yang lebih penting. “Aku ampuni kelancanganmu sekarang karena aku masih ada urusan. Lain kali aku pasti menghukummu.”

“Akan aku tunggu saat itu.” tantang Se Hun. Se Young hanya bisa menggeram menahan amarah. Para pengawal lain hanya geleng-geleng kepala. Untuk apa putra ketua klan harimau meladeni anak berumur 13 tahun ini.

“Hya! Ini pavilliun Putri. Kau dilarang masuk.” bentak Se Young. “Kami sudah mendapat ijin Kaisar.” jawab Se Hun. Se Young mengacak rambutnya frustasi. Dia tidak habis pikir dengan perintah ayahnya.

“Baiklah. Tapi kalian tidak boleh menyentuh barang apa pun di pavilliunku. Satu saja ada barang yang rusak atau hikang, aku akan melaporkan ke orabeoni.” ancam Se Young. “Orabeoni, orabeoni, orabeoni. Selalu saja orabeoni. Kasihan Pangeran Mun Mu harus mempunya adik manja seperti kau.” ejek Se Hun.

“Yang lain boleh masuk. Kecuali kau Se Hun. Kau tetap diluar.” bentak Se Young lalu segera memasuki pavilliunnya. Se Hun hanya mengedikan bahu dan menunggu di luar.

“Ini ruang pribadiku. Hanya aku yang boleh masuk. Kalian berjaga di depan pintu.” perintah Se Young. Para pengawal membungkuk lalu berjaga di depan pintu kamar Se Young. “Hahaha, mudah sekali dibohongi.” batin Se Young.

Se Young menarik keluar sebuah kotak dari balik penyekat ruangnya. Dia segera mengganti baju putrinya yang mewah dengan baju rakyat sederhana. Setelah memastikan keadaan aman, dia melompati jendela.

“Apa yang kau lakukan Putri?” tanya Se Hun mengagetkan Se Young. “Hya! Kenapa kau bisa di sini?” bentak Se Young. “Bukannya Putri yang menyuruhku untuk berada di luar.” balas Se Hun. Se Young meruntuki kebodohannya sendiri.

“Aku hanya ingin ke pasar sebentar. Kau di sini saja. Jangan sampai yang lain tahu.” perintah Se Young. “Untuk apa ke pasar? Bukannya barang-barang untuk Putri sudah dikirim langsung ke pavilliun Putri?” tanya Se Hun.

“Aku ingin membeli sendiri kain dan benang untuk membuat sulaman yang akan kuberikan pada orabeoni.” jawab Se Young. Se Hun tertawa. Putri ini selalu mampu mebuat kejutan.

“Tugas kami adalah melindungi Putri. Aku tidak bisa membiarkan Putri sendirian. Aku akan menemani anda ke pasar. Aku tidak akan memberitahu yang lain.” janji Se Hun. Se Young menimbang-nimbang sejenak. Diikuti 1 orang lebih baik daripada diikuti 12 orang. “Baiklah, kamu boleh ikut.” kata Se Young

Akhirnya mereka berdua kabur dari istana menggunakan jalur yang diketahui Se Young. Se Hun kagum dengan kemampuan Se Young dalam menemukan jalan-jalan rahasia di istana.

“Yee akhirnya kita keluar!” seru Se Young setelah merek keluar di salah satu gang sempit di luar istana. “Darawa. Aku tahu tempat penjual benang yang bagus.” aja Se Young. Tanpa ragu dia menggandeng tangan Se Hun.

Jantung Se Hun sempat berdebar karena Se Young. “Apa yang kaupikirkan Se Hun. Dia hanya seorang Putri kecil.” batin Se Hun.

“Soo Yoong tumben kamu di pasar.” kata seorang penjual kue beras. “Aku ingin membeli bebearpa barang. Ah bagaimana keadaan anak ajumma?” tanya Se Young. “Dia sudah sehat. Untung saja saat itu kamu membawanya ke tabib. Aku sangat berterima kasih padamu. Aku harus membalasnya” kata ajumma itu.

“Cheonmaneyeo. Aku ambil ini saja sebagai balasannya. Jangan sampai anak ajumma sakit lagi ya.” kata Se Young. Dia mengambil dua kue beras lalu pergi meninggalkan ajumma itu setelah menundukkan kepala.

“Igeot.” kata Se Young sambil menyerahkan kue beras ke Se Hun. “Aah Soo Young itu nama samaranku. Aku sering berjalan-jalan di pasar. Agar tidak ketahuan, aku memakai nama samaran.” jelas Se Young ketika melihat wajah Se Hun yang bingung.

Dan tidak hanya penjual kue beras itu saja yang kenal dengan Se Young. Hampir setiap pedangang di pasar mengenalmya. Dan menurut pengamatan Se Hun, orang-orang itu mengenal Se Young karena Se Young sering menolong mereka.

“Benar-benar putri yang menarik.” batin Se Hun sambil tersenyum. “Nah ini tempatnyanya.” kata Se Young. “Ajushii, aku ingin membeli benang dan kain.” seru Se Young. Di saat Se Young sibuk memilih, Se Hun melihat aksesoris yang dijual di pedangan sebelah.

Dia melihat sebuah pita berwarna merah dengan sulaman emas. “Sepertinya cocok dengan Se Young.” pikir Se Hun. Akhirnya dia membeli pita itu dan baru menyadari sesuatu. “Pabbo, dia kan putri. Mana mungkin dia mau memakai pita murahan ini.” runtuk Se Hun.

“Se Hun aku sudah selesai. Ayo kita pulang!” seru Se Young dari belakang. Se Hun cepat-cepat memasukkan pita itu ke balik hanboknya. “Geurae. Ayo kita pulang.” kata Se Hun.

****

Merka kembali ke istana tanpa ada satu orang pun yang tahu. Se Young langsung mulai menyulam begitu dia selalesai berganti dengan pakain kebangsawanannya.

Sepertinya ejekan Se Hun sebelumnya benar. Se Young tidak bisa menyulam sama sekali. Se Hun menahan tawa saat melihat cara Se Young menyulam. Dia tetap tidak diijinkan masuk, jadi Se Hun menjaga Se Young dari luar jendela.

“Putri ini sudah larut. Besok saja anda lanjutkan menyulam.” kata Se Hun megingatkan Se Young. “Tidak bisa. Ulang tahun orabeoni tinggal 3 hari lagi. Aku harus segera menyelesaikannya.” balas Se Young.

Se Hun menghela napasa dan memutuskan untuk membiarkan Se Young menyulam sebentar lagi. Tiba-tiba Se Hun mendengar Se Young mengaduh. “Putri anda tidak apa-apa?” tanya Se Hun. “Ani aku hanya tertusuk jarum.” jawab Se Young sambil menekan jarinya yang berdarah.

“Kemarilah.” kata Se Hun. Se Young ragu-ragu mendekat ke arah jendela. “Kemarikan jarimu.” kata Se Hun. Se Young mengulurkan jarinya yang berdarah. Se Hun memasukkan jari Se Young ke mulutnya.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Se Young bingung. Se Hun tidak menjawab. Setelah jari Se Young tidak lagi berdarah, Se Hun melepaskannya. “Aku menghentikan pendarahannya.” jawab Se Hun. Se Young hanya ber-ooh ria.

Se Hun melihat rambut Se Young terurai. Meskipun dia tampak manis jika rambutnya digerai, tapi Se Hun yakin Se Young tertusuk karena pandangannya terhalang rambut. Se Hun teringat tadi dia membeli pita di pasar.

“Igeot. Ikat rambutmu dengan ini. Kau pasti tidak bisa menyulam dengan nyaman karena pandanganmu terganggu rambut.” kata Se Hun. “Mianhae, ini hanya pita murah di pasar. Kalau kau tidak mau juga tidak apa.” tambah Se Hun cepat-cepat.

“Wah pitanya bagus. Se Hun, tolong ikatkan.” kata Se Young. “Mwo? Oh arasseo.” jawab Se Hun. Dia merasa wajahnya memerah saat menyentuh rambut panjang Se Young yang halus. “Ayolah Se Hun. Kenapa tanganmu harus gemetaran karena mengikat rambut yeoja.” batin Se Hun menguatkan dirinya sendiri.

“Sudah.” kata Se Hun. “Gomawo Se Hun.” kata Se Young. Se Young melihat ke arah luar. Di luar angin bertiup kencang. Suasannya gelap dan dingin. Dia merasa kasihan dengan Se Hun. Tapi dia tidak ingin terlihat kalah di depan Se Hun.

“Se Hun, hari ini aku capek. Aku akan melanjutkan sulaman besok pagi. Tadi siang aku melihatmu bisa berubah jadi harimau. Aku butuh bantal yang empuk karena leherku pegal. Kamu jadi bantalku.” perintah Se Young.

Se Hun tahu maksud Se Young. Se Hun hanya tertawa kecil melihat kelakuan Se Young. Se Hun berubah menjadi harimau lalu melompat masuk ke kamar Se Young.

Se Young menyandarkan kepalanya di punggung Se Hun. Se Young merasa nyaman dan dalam hitungan menit Se Young sudah tertidur. Se Hun melihat ke arah Se Young yang sudah tertidur pulas. “Apa aku menyukaimu?” gumam Se Hun.

****

Perayaan ulang tahun Pangeran Mun Mu berlangsung meriah. Pesta diadakan semalam suntuk. Musik dan tarian terus terdengar. Daur istana sibuk mempersiapkan makanan.

Untung saja Se Young sempat memberikan sulamnnya sebelum pesta dimulai. “Wua bagus sekali. Akan orabeoni jaga. Gomawo Se Young-a.” kata Pangeran Min Mu. Padahal sulaman Se Young jauh dari kata bagus. Tidak rapi dan tidak berbentuk.

“Saengil chukahamnida, orabenoni.” ucap Se Young.”Ne.” kata Pangeran. Dia lalu mengecup singkat bibir adiknya. Saat itu Se Hun ingin sekali memukul Pangeran. “Se Hun, apa kamu sudah gila? Dia kakak Putri. Kenapa kamu harus kesal sendiri seperti ini?” gumam Se Hun dalam hati

Malam semakin larut, tapi tidak ada tanda-tanda pesta akan berakhir. Se Young pun tertidur di tengah jamuan. “Wah sepertinya Putri lelah. Kalian bawa dia ke pavilliun.” perintah Kaisar pada para pengawal Putri.

“Biar aku saja.” kata Se Hun lalu menggendong Se Young. Seisi balairung istana terdiam. “Jangan-jangan..” batin mereka. Tapi mereka tidak berani terburu-buru mengambil kesimpulan.

Se Hun menggendong Se Young menuju pavilliunnya. Setelah sampai di ruang tidur Se Young, Se Hun membaringkannya di atas kasur yang empuk. Se Hun baru saja berniat pergi ketika tangan Se Young menahan pergelangan tangannya.

“Ada yang mau aku berikan.” kata Se Young. Dia lalu bangun dan mengambil sebuah ikat kepala dari kotak jahutnya. “Jangan salah sangka. Aku punya bahan sisa, jadi aku membuatkan untukmu. Itu sebagai balasan pita yang kamu beri.” kata Se Young.

Se Hun merasa sulaman di ikat kepalanya jauh lebih baik daipada sulaman di sapu tangan Pangeran Mun Mu. Paling tidak dia masih bisa membaca namanya yang di sulam. “Kamsahmanida, Putri.” kata Se Hun.

****

“Wae?” tanya Min Young karena Se Hun tiba-tiba tertawa. “Ani, hanya ingat kejadian di masa lalu.” kata Se Hun. “Min Young-a, sebenarnya kamu itu menjahit atau apa? Gerakanmu seperti orang menghunuskan pedang.” goda Se Hun.

Se Hun akhirnya menyadari bahwa dulu dia cemburu dengan Pangeran Mun Mu. Dan sekarang ia kembali kesal karena Pangeran Mun Mu ikut bereinkarnasi. Dan Pangeran masih sama menyayangi Min Young sama seperti dulu.

Tapi sekarang Se Hun tidak lagi merasa takut seperti dulu. Karena sekarang dia sudah memiliki Min Young. “Min Young tetaplah disampingku selamanya.”

Kkeut

Eotte? wkwkw hope u like it. Minta saran dong enaknya extra story d chap selanjutnya ttg apa. Ok thx for reading n stay tune

87 tanggapan untuk “The Princess & The Knights (Chapter 8 Extra Chapter)”

  1. Ini ya kakak donghae berani2 nya mencium adik sendiri…ckckckck…
    Ciumnya ke aq aja lah (nah lho…) hahahaha…
    Co cweet banget donghae ini,,,kakah idaman..hehehe…
    Extra story nya refreshing banget… 🙂
    Gomawoyo…

  2. Huah….. jdi isi extra chapnya itu tntg flashbacknya mreka.
    So swwet bgt dah……….. q ska. Sehun jdi cemburuan nih. Q jga mau kl bantalannya tu sehun jdi harimau. Pasti hangat hmmmm..

  3. aaa … aku iri sama se young 😀 , thor usahain lg ya setiap chapter ada extra story nya , jd readers jg tau apa yg trjdi di masa lalu mreka

  4. Keyweeeennnnn;;;; tentang asal mula kenapa putri seyoung bisa kebunuh dan kenapa pembunuh itu benci banget sm seyoung nya:(

  5. Hwaa ><
    Ffnya benar-benar seru (y)
    Hahaha.. Ngakak 😀
    Sehun-Min Young bermesraan nggak kenal tempat euy -_- kasian yg lain yg masih jomblo -_- kkkk~.. *lirik Kris cs
    Aku hanya ingin koreksi, kalau di ff ini masih ada beberapa typo yg bertebaran mulai dari chapter 1-chapter 8, tapi selebihnya udah bagus kok Author.
    Oh ne, mianhae baru koment lagi di chapter ini, soalnya aku bacanya ngebut.
    Ditunggu next chapter!! FIGHTING AUTHOR!!

  6. Authorr annyeong^^. Keren deh ceritanya. ceritanya bener-bener DAEBAKK cetar kaya petirnya chen^^. Lanjutnya author keep FIGHTING^^

  7. Sehun ma cemburuan *cemburu menguras bak mandi* #plakapaini #salahfokus 😀
    Saya suka klw disetiap part ada extra storynya ^_^
    Part 9 ditunggu thor..Hwaiting!!

  8. wah.. Jangan jangan pangeran Mun Mu suka Se Young .-.
    Dia sempat cium se young gitu..
    Se young polos banget..baik pula ^^ disukai rakyatnya..

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s