The Princess & The Knights (Chapter 8)

TPTK 3

Title        : The Princess & The Knights
Author         : Kim Na Na
Length         : Series
Main Cast     : All EXO Member
Song Min Young (OC)
Other Cast     : Find it 🙂
Genre         : Historical Romance, Fantasy, School Life
Rating         : PG-15

Ch1 | Ch 2 | Ch 3 | Ch4

Ch 5 | Ch 6 | Ch 7

Ada cast baru lagi di chap ini. Hope u like it. Ok langsung aja happy reading dan jangan lupa comment untuk chap selanjutnya

TING TONG. “Ah sepertinya itu oppa.” kata Min Young sambil membuka pintu depan. Wajah seluruh anggota OSIS terkejut saat melihat namja yang dibawa masuk Min Young. “Neo..”

“Oppa ini tmenak-teman..”. Min Young terkejut karena anggota OSIS berlutut di depan kaka sepupunya. “Selamat datang Mun Mu hwang ja!” seru anggota OSIS. “Gawat sepertinya mereka mulai lagi.” batin Min Young. Kakak sepupu Min Young mundur selangkah.

“Eung teman-temanku sedang berlatih drama. Jadi mungkin mereka terbawa suasana.”. Min Young berusaha mencari alasan. Karena sepertinya kakak sepupunya tidak memiliki ingatan sama seperti dia. “Ooh. Aigoo, kalian membuatku terkejut saja.” komentar kakak sepupu Min Young

“Oppa bangunlah. Sepertinya dia juga tidak memiliki ingatan.” bisik Min Young sambil membantu Kris berdiri. Min Young penasaran siapa itu Mun Mu hwang ja, tapi mungkin dia bisa bertanya nanti.

“Oppa, aku mengantar temanku pulang dulu sebentar ya.” kata Min Young. Dia sudah bersiap untuk mendorong satu per satu anggota OSIS agar tidak muncul masalah lagi.

“Jangan begitu, tidak sopan. Aku juga ingin mengenal mereka. Mereka kan temanmu. Joneun Lee Dong Hae imnida. Aku kakak sepupu Min Young dari pihak ayah.” kata Dong Hae. Dia tersenyum kepada para anggota OSIS yang mematung.

“Kami teman Min Young..” kata Kris, tapi dipotong oleh Dong Hae. “Bagaiman kalau sambil duduk di dalam. Rasanya tidak enak kalau sambil berdiri seperti ini. Min Young, aku titip koperku ya.” kata Dong Hae. Dia lalu masuk ke ruang tamu sambil memeluk pundak Kris dan Su Ho. “Wah kamu tinggi sekali.” komentar Dong Hae sambil mengamati Kris.

Min Young tersenyum lega. Sepertinya Dong Hae akan cepat akrab dengan anggota OSIS. Min Young lalu mengangangkat koper Dong Hae untuk di bawa masuk. “Aku saja. Kamu buatkan oppamu minum dulu.” kata Se Hun. “Gomawo.” kata Min Young. Dia mengecup sekilas pipi Se Hun lalu berlari ke arah dapur. Se Hun hanya melongo sambil memegang pipinya

Dong Hae tidak sengaja melihat hal itu. Dia hanya tersenyum. Sepertinya dia tahu alasan mengapa adik sepupunyanya kembali ceria setelah kematian paman dan bibinya. Tapi dia ingin nanti Min Young memberitahunya secara langsung.

“Wah jadi kalain semua anggota OSIS? Hebat juga Min Young bisa memiliki teman anggota OSIS. Tapi di lihat dari penampilan, pasti banyak yeoja yang berteiak histeris setiap melihat kalian.” canda Dong Hae.

“Dong Hae-ssi juga tidak kalah kok, Aku tadi berpikir ‘Wah seperti model.’.” puji Baek Hyun. “Panggil saja aku hyung. Aku tidak suka terlalu formal.” kata Dong Hae. “Oppa ini minumannya.” kata Min Young. Dia meletakan segelas jus di depan Dong Hae lalu duduk disampingnya.

“Min Yong-a, ceritakan padaku bagaimana kamu bisa berkenalan dengan mereka. Tapi aku tidak kaget, karena dari dulu teman namja-mu lebih banyak daripada teman yeoja-mu.” kata Dong Hae sambil mengacak rambut Min Young.

“Oppa hajima. Aku bukan anak kecil lagi.” kata Min Young dengan pipi menggembung kesal. “Aigoo anak ini sudah bisa merujuk sekarang. Padahal dulu aku pasti dipukul jika mengerjainya.” kata Dong Hae.

Min Young memukul pundak Dong Hae. “Sampai kapan oppa menjelek-jelekanku?” kata Min Young. “Wah kekuatanmu masih sama seperti dulu.” komentar Dong Hae. Dia mengelus pundaknya yang sedikit nyeri karena tinju Min Young.

Seluruh anggota OSIS tertawa, kecuali Se Hun. Entah kenapa dia tidak suka melihat Min Young akrab dengan Dong Hae. “Dia kakak sepupunya. Wajar saja kalau mereka seperti itu.” batin Se Hun mengingatkan dirinya sendiri.

“Malhaebwa. Kamu belum menjawab pertanyaanku.” desak Dong Hae. “Saat pertama kali masuk SMA aku ada masalah dengan salah satu ketua geng di sekolahku. Lalu mereka menolongku. Sejak saat itu kami dekat.” cerita Min Young.

“Min Young-a, sepertinya kamu menghilangkan fakta bahwa kamu lah yang menendang ‘barang berharga’ Sung Jae.” komentar Chan Yeol. “Oppa jangan diingatkan.” rengek Min Young. “Wah aku kasihan dengan ketua geng itu. Dia tidak tahu kalau sedang berurusan dengan seorang monster perempuan.” kata Dong Hae.

“Salahnya sendiri berbuat seenaknya pada perempuan.” bela Min Young. “Oppa aku ke dapur dulu. Aku membuat makan siang untuk kalian semua. Tunggu sebentar ya.” kata Min Young. Dong Hae tersenyum melihat Min Young lalu kembali melihat anggota OSIS.

“Aku sangat khawatir saat mendengar bahwa paman dan bibi meninggalkan Min Young sendiri. Bagaimana perasaan Min Young? Siapa yang akan menjaga Min Young? Apa yang akan Min Young lakukan sekarang? Aku sangat mengkhawatirkannya.

Apa lagi aku mendengar dia tidak kelihatan sedih sama sekali. Aku tahu sifat Min Young. Semakin ia sedih, semakin dia akan berusaha untuk menutupinya. Aku merasa bersalah karena tidak bisa menemaninya.

Tapi syukurlah ternyata dia bertemu dengan kalian. Aku merasa Min Young lebih bahagia sekarang. Aku tidak melihat kesedihan dimatanya. Aku benar-benar berterima kasih kepada kalian.”. Lalu Dong Hae menundukkan kepala.

“A.. aniyo.. Kami tidak melakukan apa-apa. Jangan seperti itu.” kata Xiu Min. Anggota OSIS lain juga tidak nyaman melihat Dong Hae menundukkan kepala kepada mereka. Untunglah saat itu Min Young memberitahu bahwa makan siang sudah siap sehingga mereka lepas dari suasana canggung.

“Jja, ayo kita makan.” ajak Dong Hae. Se Hun melihat mata Dong Hae memerah menahan tangis. “Dia pasti benar-benar mengkhawatirkan Min Young.” batin Se Hun.

Makan siang berlangsung ramai. Dong Hae menceritakan kekonyolan-kekonyolan Min Young saat kecil, membuat para anggota OSIS tertawa. Sekali lagi Se Hun tidak bisa tertawa lepas. Dia menjadi kesal karena merasa tidak tahu apa-apa tentang Min Young.

“Ah mianhae, aku ada urusan sebentar.” kata Dong Hae. Dia keluar dari ruang makan sambil berbicara dengan seseorang yang meneleponnya.

“Oppa, siapa itu Mun Mu hwang ja?” tanya Min Young penasaran. “Dia kakak kandung Se Young. Kami baru tahu bahwa dia juga ikut berenkarnasi.” kata Kris. “Oh geuraeyo.”

“Aku tidak kaget. Sejak aku kecil, aku dekat dengan Dong Hae oppa. Karena kedua orang tuaku bekerja, aku sering dititpkan di tempat Dong Hae oppa. Padahal usia kami terpaut 10 tahun, tapi dia mau menemaniku bermain. Dia sudah seperti kakakku sendiri.

Saat aku kelas 6 SD, ayah Dong Hae oppa meninggal. Dong Hae oppa dan ibunya pindah ke Amerika. Sejak saat itu aku tidak pernah mendengar kabarnya lagi. Tapi syukurlah, sepertinya dia baik-baik saja.” jelas Min Young.

“Kau dengar kan Se Hun, mereka hanya bersaudara. Berhentilah berpikir yang tidak-tidak.” batin Se Hun mengingatkan dirinya sendiri. Tapi ada sauatu yang membuatnya tidak bisa berhenti berpikir tidak-tidak.

“Maaf membuat kalian menunggu.” kata Dong Hae setelah selesai dengan urusannya. “Tidak apa-apa.” sahut Kris. “Oh ya Min Young, apa boleh aku tinggal di sini sementara waktu? Hanya 1 tahun.” tanya Dong Hae. “Mwo?” kata Min Young tidak percaya.

“Aku ada pekerjaan di Seoul. Tapi setelah satu tahun, aku harus kembali ke Amerika. Dari pada menyewa apartemen, lebih baik aku tinggal di sini, kan?” kata Dong Hae. “Keugae…”.

Min Young bingung harus menjawab apa. Dia ingin tinggal di rumah ini lagi. Rumah ini penuh kenangan kedua orang tuanya. Tapi bagaimana dengan Se Hun? Min Young melihat ke arah Se Hun.

“Wae? Apa ada salah satu namjachingumu diantara mereka?” sela Dong Hae. “A..” “Ne, aku namjachingu Min Young.” ujar Se Hun mendadak. “Ternyata benar. Gokjongma, aku tidak akan berbuat apa-apa dengan Min Young. Kamu boleh ke sini kapan pun kamu mau.” kata Dong Hae sambil tersenyum.

Se Hun memandang Min Young. Sepertinya Min Young ingin kembali tinggal di rumah ini. Se Hun menghela napas. “Terserah Min Young saja.” kata Se Hun. “Gomawo. Lagi pula mana mungkin aku suka dengan yeoja yang tidak seperti yeoja ini.” komentar Dong Hae. Min Young menatap galak Dong Hae lalu menginjak telapak kaki Dong Hae kuat-kuat.

Seluruh anggota OSIS tertawa. Tetapi Min Young sadar, Se Hun sepertinya tidak suka dengan kakak sepupunya. Wajah Se Hun dari tadi kusut. Min Young tidak habis pikir kenapa Se Hun harus cemburu dengan kaka sepupunya.

****

“Min Young, hyung, kami pulang dulu.” pamit Lay. “Ne hati hati di jalan. Min Young antar mereka sampai gerbang. Aku mau tidur dulu. Sepertinya efek jet lag baru berjalan.” kata Dong Hae lalu kembali masuk rumah. Setelah Dong Hae masuk, Min Young baru mendekati Se Hun

“Se Hun-a jangan marah. Aku hanya menganggapnya kakak saja.” kata Min Young. “Aku tidak marah kok.” balas Se Hun. Tapi wajahnya jelas-jelas menunjukkan kekesalan. Min Young lalu bergelayut manja di lengan Se Hun.

“Oppa, jangan marah. Bbuing bbuing.” ucap Min Young, berharap aegyonya berhasil. Se Hun menatap Min Young lalu tertawa. “Arasseo. Aku tidak akan marah lagi. Tapi kamu harus tetap meneleponku. Awas kalau kamu sampai lupa.” kata Se Hun. “Ne oppa.” jawab Min Young

“Ehem, maaf menggangu. Tapi mohon pengertiannya. Kami masih di sini.” sela Chen. Min Young lupa kalau anggota OSIS masih disini. Wajahnya langsung memerah dan melepaskan tangannya dari lengan Se Hun.

“Min Young-a, nanti aku akan membereskan barangmu yang ada di apartemen Se Hun. Nanti Kai akan mengantarkannya langsung ke kamarmu. Kakak sepupumu pasti tidak akan tahu.” jelas Lay.

“Gomawo oppa.” kata Min Young. “Kalau begitu kami pergi dulu. Ppai ppai Min Young. Sampai bertemu di sekolah hari Senin.” ucap Kyung Soo. Lalu satu persatu anggota OSIS meninggalkan rumah Min Young. Se Hun berjalan paling belakang.

Min Young baru saja akan menutup pintu pagar ketika Se Hun berlari kembali. “Wae?” tanya Min Young yang terkejut dengan tingkah Se Hun. Se Hun tidak menjawab pertanyaan Min Young, tapi langsung menempelkan bibirnya ke bibir Min young.

Mata Min Young melebar. Se Hun selalu saja berbuat sesuatu yang membuatnya tidak bisa apa-apa. Setelah beberapa saat, Se Hun menarik dirinya. “Masuklah dulu. Aku tunggu.” kata Se Hun.

“Hah? Oh ne…” kata Min Young. Dia masih terkejut dengan apa yang terjadi sehingga tidak bisa menjawab dengan fokus. Min Young menutup pintu pagar lalu berjalan masuk ke rumah. Dia melambaikan tangan ke arah Se Hun. Se Hun membelasnya sambil tersenyum lalu Min Young menutup pintu.

Se Hun sempat melihat ke arah lantai dua sebelum pergi. Dong Hae sedang melihat mereka dari jendela. Se Hun tidak segera pergi ataupun menunduk kepada Dong Hae. Dia malah membalas menatap galak ke arah Dong Hae. Dong Hae hanya tersenyum lalu menutup tirai.

****

Min Young masuk ke kamarnya setelah selesai mandi. Dia terkejut saat melihat kopernya sudah diletakan di sebelah tempat tidurnya. “Kai oppa benar-benar seperti pencuri.” batinnya. Tiba-tiba handphonenya bergetar. Ternyata Se Hun meneleponnya.

“Yeobseoyeo? Wae guraeyeo?” tanya Min Young. “Memang harus ada alasan untuk meneleponmu?” sahut Se Hun dari ujung telepon. “Keugae..” kata Min Young.

“Min Young-a, bogoshipoyeo.” ucap Se Hun. “Bukannya kita baru saja bertemu?” balas Min Young datar. Tapi wajahnya memerah. Aish, namja ini selalu saja.

“Aneh ya. Padahal baru satu minggu kamu tinggal di apartemenku. Tapi aku sudah nyaman dengan sosokmu yang ada di setiap sudut apartemenku. Tadi saja aku masih bisa merasakan kehadiranmu di apartemenku.”

“Tapi aku juga pernah tinggal di rumah Kyu Hyun 2 hari. Kenapa kamu tidak ribut?” goda Min Young. “Itu beda. Sebagian dari diriku yakin kamu pasti kembali. Tapi kalau sekarang…entalah. Dari tadi aku tidak bisa tenang.” balas Se Hun.

“Gokjongma. Dong Hae oppa tidak mungkin berbuat macam-macam kepadaku. Lagipula oppa-deul juga sudah memasang pelindung di sekitar rumah. Jadi tidak ada yang perlu oppa khawatirkan.” kata Min Young berusaha menenangkan namjachingunya.

“Geurae, aku percaya padamu. Oh ya Kai hyung sudah mengirim barangmu?” tanya Se Hun. “Ah sudah kok. Dia bisa memanfaatkan kekuataanya untuk mencuri.” komentar Min Young. “Kamu tahu dulu…”

Mereka mengobrol hingga larut malam. Hingga Min Young tertidur di tengah Se Hun menelepon. Se Hun hanya tertawa pelan lalu megakhiri panggilannya. Ternyata seperti ini tidak buruk juga, batin Se Hun.

****

“Oppa aku berangkat dulu.” seru Min Young. “Ne hati-hati. Jangan pulang terlalu malam.” sahut Dong Hae dari dalam rumah. Min Young membuka pintu pagar dan terkejut melihat Se Hun yang sudah menunggunya di atas sepeda.

“Ommo, kenapa pagi sekali datangnya?” kata Min Young. “Tentu saja untuk menjemput yeojachingu-ku. Ayo naik.” kata Se Hun. Min Young tersenyum lalu segera duduk di boncengan Se Hun.

“Semalam tidur nyenyak?” tanya Se Hun. “Eung. Tapi aku masih mengantuk karena kemarin aku bermain game dengan Dong Hae oppa hingga larut malam.” jawab Min Young. “Dasar. Hari ini ada ulangan tapi kamu malah main game.” omel Se Hun.

Mereka melewati jalanan yang diapit dengan pepohonan mae yang belum berbunga. “Se Hun-a, kalau bunga mae sudah mekar, kita lihat sama-sama yuk.” ajak Min Young. “Boleh. Aku punya tempat yang bagus untuk melihat bunga.” sahut Se Hun.

“Yaksokake?” tanya Min Young. Jari kelingkingnya diulurkan ke Se Hun. “Yaksokake.” janji Se Hun. Dia mengaitkan kelingkingnya ke kelingking Min Young lalu menyatukan kedua ibu jari mereka. “Hehehe, awas kalau kamu bohong.” kata Min Young.

Mereka mengendarai sepeda hingga sampai di sekolahan. Saat sedang memarkir sepeda, tiba-tiba seseorang memeluk Min Young dari belakang. “Min Young-a pagi.” kata Kyu Hyun. “Hya jangan dekat-dekat Min Young.” kata Se Hun galak pada Kyu Hyun.

“Dari pagi sudah marah. Aku kan hanya ingin menyapa Min Young.” balas Kyu Hyun. Min Young terdiam sesaat lalu tersenyum. Sepertinya Kyu Hyun sudah tidak sedih lagi.

Kyu Hyun memutuskan untuk tetap disamping Min Young. Memang sakit melihat yeoja yang ia sukai berjalan bersama namja lain. Tapi itu lebih baik daripada harus menjauh dari Min Young. Paling tidak ia masih bisa melihat senyum Min Young.

“A matta. Min Young-a, aku tadi melihat kamu datang dari arah yang berlawanan dengan apartemen Se Hun. Memang kalian pindah?” tanya Kyu Hyun.

“Ani. Aku kembali ke rumah lamaku. Kakak sepupuku datang dan mengajakku tinggal di rumah lamaku.” jelas Min Young. “Jinjayo? Berarti kalian sudah tidak serumah lagi? Kalau begitu besok aku akan menjemputmu.” kata Kyu Hyun.

“Bukannya kau sudah menyerah dengan Min Young.” kata Se Hun mengingatkan. “Siapa yang bilang? Aku tidak akan menyerah. Mungkin saja kau akan mati muda lalu aku bisa bersama Min Young.” balas Kyu Hyun.

“Hya. Awas kau!” seru Se Hun. Kyu Hyun menjulurkan lidah lalu berlari menuju kelas. Diikuti Se Hun yang mengejar dibelakangnya dengan ganas. Min Young hanya bisa mengeleng-gelengkan kepala.

“Ternyata mereka berdua bisa akrab juga.” kata Lay dari belakang Min Young. “Jika 1900 tahun yang lalu mereka dipertemukan dengan keadaan yang berbeda, mungkin mereka bisa berteman.” lanjut Lay. Min Young melihat Se Hun yang berhasil menangkap Kyu Hyun dan memitingnya. Kalau seperti ini, mereka terlihat seperti murid SMU biasa. “Mungkin oppa benar.” kata Min Young pada Lay.

****

Bel pulang berbunyi. Seluruh murid bersorak karena penderitaan hari ini berakhir. Tidak terkecuali Min Young. “Se Hun-a, kajja kita pulang.” ajak Min Young.

“Mianhae, aku lupa memberitahumu. Hari ini aku membantu OSIS untuk persiapan festival musim semi. Kamu mau menunggu sebentar? Atau mau aku antar pulang dulu?” tanya Se Hun.

“Aku di sini saja. Mungkin ada yang bisa aku bantu.” ujar Min Young. “Aku juga ikut.” sahut Kyu Hyun. “Kamu bukan anggota OSIS. Lebih baik kamu pulang.” usir Se Hun. “Tapi kamu juga bukan anggota OSIS. Berarti kamu juga harus pulang.” balas Kyu Hyun.

Memang Se Hun belum menjadi anggota OSIS secara resmi. Se Hun sepertinya tidak bisa menemukan alasan yang pas sehingga akhirnya dia menyerah. “Baiklah, kalian boleh ikut.” kata Se Hun pada akhirnya. Kyu Hyun dan Min Young langsung ber-hi-five ria.

Mereka langsung menuju ke ruang OSIS. Di sana para anggota OSIS sudah berkumpul. “Hyung, aku membawa 2 tenaga kerja baru.” kata Se Hun. Semua anggota OSIS langsung meledak tertawa.

“Sudah kukira. Baiklah, aku ijinkan mereka membantu. Lagi pula semakin banyak yang mengerjakan, semakin cepat selesai.” kata Kris hyung.

“Min Young dan Se Hun. Kalian kerjakan pamflet dan kain yang ada di sana.” perintah Su Ho. “Aku ikut.” kata Kyu Hyun. “Kau, ikut aku mengurus stand.” kata Su Ho sambil menggeret Kyu Hyun menjauh dari Se Hun dan Min Young.

Tidak lama kemudian para anggota OSIS sudah sibuk dengan urusan masing-masing. Hanya Min Young dan Se Hun yang tersisa di ruang OSIS.

“Kamu kerjakan pamflet saja. Biar aku yang menjahit kainnya.” kata Min Young. “Geurae. Ayo kita selesaikan agar kita cepat pulang. Kamu sudah memberitahu Dong Hae hyung?” tanya Se Hun.

“Sudah. Aku baru saja mengiriminya pesan.” jawab Min Young sambil menjahit. Se Hun mengamati Min Young yang sedang menjahit. Gerakan Min Young menjahit kaku sekali. Sepertinya dia tidak biasa mengerjakan keterampilan tangan.

“Wae?” tanya Min Young karena Se Hun tiba-tiba tertawa. “Ani, hanya ingat kejadian di masa lalu.” kata Se Hun. “Min Young-a, sebenarnya kamu itu menjahit atau apa? Gerakanmu seperti orang menghunuskan pedang.” goda Se Hun.

“Oh diamlah. Aku sedang berkonsentrasi.” jawab Min Young tidak sabar. Dia memang tidak bisa menjahit, tapi dia malu kalau Se Hun mengetahuinya. “Sudahlah. Berikan saja ke aku. Kamu kerjakan pamfletnya saja.” kata Se Hun.

“Ani biar aku saja yang aww.. appo..”. Jari Min Young tidak sengaja tertsuk jarum. “Sudah kubilang aku harus berkonsentrasi. Lihat kan sekarang..”. Min Young belum menyelesaikan kalimatnya karena Se Hun memasukkan jari Min Young yang berdarah ke mulutnya. Se Hun menghisap pelan darah yang keluar di ujung jari Min You. Setelah dia merasa jari Min Young tidak lagi berdarah, Se Hun melepaskannya.

“Gomawo..” gumam Min Young. Pipinya sekarang semerah tomat. Se Hun tertawa melihat reaksi Min Young seperti itu. Kenapa ada yeoja selugu yeoja ini?, batin Se Hun. “Makanya aku saja yang menjahit. Kamu yang kerjakan pamflet. Atau kamu mau aku melakukan seperti tadi setiap kali jarimu berdarah?” goda Se Hun.

“Aniyo. Aku akan kerjakan pamflet.” kata Min Young dan langsung buru-buru mengambil tumpukan pamflet yang belum dijilid. Se Hun tersenyum. “Saranghae.” ucap Se Hun lalu mengecup pipi Min Young.

“Hei, aku dari tadi ingin masuk tapi kenapa pasangan itu…” komentar Lay. Dia tadi ingin mengambil barang di ruang OSIS tapi tidak jadi karena melihat Se Hun dan Min Young. “Yah, mungkin sebagai ganti 1900 tahun yang lalu mereka tidak bisa seperti itu.” sahut Lu Han.

****

“Ahh harii ni aku lelah sekali.” kata Kai sambil merenggangkan badan. Mereka mengakhiri pekerjaan mereka saat jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Karena Kris melihat bahwa anak buahnya semakin lelah jadi dia memutuskan untuk mengakhiri pekerjaan mereka hari itu.

“Hei ada pojamangcha (kedai makan kaki lima khas korea) baru di dekat sekolah. Kita makan dulu saja, baru pulang.” saran Chen. “Setuju!!” seru mereka serempak.

Tiba-tiba di depan mereka muncul seorang namja. “Song Min Young-ssi?” tanya namja itu. Tanpa menunggu jawaban, namja itu langsung melemparkan jarum es ke arah Min Young. Untung saja Se Hun, yang saat itu paling dekat dengan Min Young, membentuk perisai angin sehingga Min Young tidak terluka.

“Hya! Nuguya?!” bentak Se Hun. Seluruh anggota OSIS sudah berubah wujud. Kyu Hyun yang tidak bisa berubah wujud, mengeluarkan pedang dari tangannya. Pedang itu sudah tertanam di lengannya sejak 1900 tahun yang lalu dan akan keluar setiap dibutuhkan.

“Nan ireumi Park Yoo Chun. Aku Cheong Ryong, salah satu pengawal Hwan Ung. Aku hanya ingin menguji kemampuan Min Young.” jelas namja itu. Tiba-tiba dia melemparkan busur kepada Min Young. “Ini busur Chumoshin, kenapa bisa ada disini?” tanya Min Young.

“Aku yang mengambilnya. Kalahkan aku. Jika berhasil, aku akan memberimu bola segel.” ucap Yoo Chun. “Neo…” geram Se Hun dan langsung menerjang ke arah Yoo Chun.

“Kuharap kalian bisa lebih tenang.” perintah Yoo Chun. Dia menjentikan jari dan segerombolan naga mucul mengepung para anggota OSIS. “Kalian temani naga-nagaku bermain selama aku mengurus putri ini.” kata Yoo Chun.

Gerombolan naga mulai menyerang, memaksa para anggota OSIS dan Kyu Hyun berpencar agar Min Young tidak terluka. “Apa maumu?” tanya Min Young.

“Lawan aku. Kalahkan. Maka kamu mendapat bola segel. Mudah bukan? Tapi kamu tidak boleh mendapat bantuan dari siapa pun.” kata Yoo Chun. Min Young membidikkan Chumoshin ke arah Yoo Chun. “Kalau begitu aku akan mengalahkanmu.” ucap Min Young. Sedetik kemudian anak panah meluncur ke arah Yoo Chun,

Dengan mudah Yoo Chun menghindari panah itu. Min Young geram lalu kembali menembakan anak panah ke arah Yoo Chun. Tapi Yoo Chun malah mennagkisnya dengan satu tangan

Min Young berlari agar mendapat jarak yang bagus untuk kembali menembakkan anak panah. “Kamu mebidik apa?” tanya Yyoo Chun yang sudah ada di belakang Min Young. Min Young terkejut dan langsung berniat menghujamkan anak panah ke lengan Yoo Chun.

Yoo Chun berkelit ke belakang. Min Young kembali menembakkan anak panahnya, tapi sekarang malah meleset. “Kenapa panahku tidak ada yang kena? Biasanya aku selalu tepat.” batin Min Young. “Sekarang giliranku.” gumam Yoo Chun.

Sebuah tombak es meluncur ke arah Min Young. Min Yong berguling ke depan dan panah itu nyaris mengenai lengannya. Min Young bersiap membidik Yoo Chun tapi Yoo Chun sudah berdiri di depannya. “Lambat.” kata Yoo Chun dan mengibaskan tangannya.

Min Young langsung terhempas hingga menghantam pohon. Baru saja dia berniat berdiri, Yoo Chun sudah melayangkan tinjunya ke arah Min Young. Min Young menghindar ke samping dan tinju itu menghancurkan batang pohon tempat Min Young ada sedetik yang lalu.

Min Young berlari dan melepaskan anak panah ke arah Yoo Chun. Dengan satu jentikan jari, anak panah itu malah kembali menyerang Min Young. Min Young yakin panah itu akan tepat mengenainya, tapi ternyata harimau Se Hun melompat di depan Min Young

Panah itu mengenai tungkai kaki sebelah kanan Se Hun. Se Hun jatuh dengan suara berdebam keras. “SE HUN!!” seru Min Young sambil berlari mendekati harimau yang terkapar. “Se Hun ireonna! Se Hun!”. Min Young menggoncang-goncang tubuh harimau Se Hun. “Gwenchana. Aku tidak akan mati karena panah yang menancap di kakiku.” kata Se Hun. Dia mematahkan batang anak panah agar tidak menancap terlalu dalam.

“Ternyata kemampuanmu hanya seperti itu.” ucap Yoo Chun. “Aku belum mengeluarkan seluruh kemampuanku, tapi kamu sudah membawa satu orang korban? Bagaimana kalau musuhmu menyerang dengan kekuatan penuh. Berapa orang yang akan kamu korbankan? Coba lihat sekelilingmu.”

Min Young melihat ke sekelilingnya. Para anggota OSIS dan Kyu Hyun terlihat kewalahan. Sepertinya mereka tidak bisa berkonsentrasi penuh. Mereka terus melirik ke arah Min Young. Memastikan Min young tetap aman.

Bahkan seekor naga nyaris saja menyambar Lu Han karena Lu Han berniat segera menolong Se Hun. Kris harus bersalto di udara agar ekor naga tidak mengenainya. Chan Yeol harus menolong Baek Hyun karena salah satu lengan Baek Hyun terluka.

Dan Min Young merasa itu semua karena dirinya. Karena mereka tidak bisa melepas Min Young begitu saja. Mereka harus melindungi Min Young.

Min Young kesal dan langsung berbailik ke arah Yoo Chun dengan anak panah yang siap di tembakkan. “Tutup mulutmu. Aku tidak akan mengorbankan oppa-deul untuk melindungiku. Aku akan melindungi mereka.” kata Min Young. Suaranya bergetar karena menahan kemarahan.

“Dengan kekuatan yang seperti tadi? Kamu hanya akan menghambat mereka. Kamu tidak berguna apa-apa.

Kamu tahu kenapa panahmu tidak ada yang bisa mengenaiku? Karena kamu ketakutan. Aku bisa merasakan detak jantungmu yang berdegup ketakutan. Lebih baik kamu berdiam diri dan menunggu pengawalmu membereskan semuanya.” kata Yoo Chun.

“Shireo! Aku akan ikut bersama mereka. Aku pasti masih bisa berguna.” elak Min Young. “Kau mengatakan dirimu berguna? Padahal yang menentukan seberapa bergunanya dirimu adalah orang lain.” balas Yoo Chun.

Ucapan Yoo Chun benar-benar menyakiti Min Young. Dalam hatinya, Min Young sering merasa dia tidak berguna. Dia tidak bisa bertempur. Ketika dia ingin berusaha dengan caranya sendiri, dia malah menyusahkan orang lain. Dia hanya bisa dilindungi.

Dan tadi, Yoo Chun seolah-olah mengatakan semua itu benar. Dia lemah, tidak berguna dan hanya menyusahkan. Bahkan lawan pun bisa merasakan ketakutannya.

“Lebih baik kau urus pengawalmu itu. Lalu berhentilah ikut campur urusan ini.” kata Yoo Chun. Dia sudah berniat pergi ketika Min Young akhirnya menjawab.

“Ya, aku memang lemah dan tidak berguna. Aku akui selama ini aku tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya menyusahkan. Tapi aku tidak suka dengan diriku yang seperti itu. Aku ingin berubah. Karena itu aku selalu bersama dengan oppa-deul. Agar aku bisa merubah diriku.

Dan satu hal yang perlu kau ketahui. Aku tidak akan pernah mengorbankan siapa pun demi diriku. Aku tidak akan berbuat sepengecut itu.” ucap Min Young.

Dia memasakan diri untuk tersenyum, agar Yoo Chun tidak mengetahui apa yang sebenarnya dia rasakan. Dia tidak ingin Yoo Chun terus mengolok-oloknya.

Yoo Chun tersenyum mendengar jawaban Min Young. “Bagus, aku suka dengan jawabanmu. Akui kelemahanmu, terima mereka, dan sembunyikan kelemahanmu di bagian hatimu yang paling gelap. Jangan biarkan siapa pun mengetahui ketakutan dan kelemahanmu. Dengan begitu kau akan jauh menjadi lebih kuat.” jelas Yoo Chun.

Dia kembali mendekati Min Young. “Aku hanya mengujimu. Aku ingin tahu seberapa kekuatanmu yang sebenanrnya. Kekuatan tidak harus selalu kekuatan fisik. Kekuatan untuk tetap tersenyum di saat seperti apa pun, itu jauh lebih berbahaya. Karena kita tidak bisa mengetahui apa yang dipikirkan lawan kita.” ucap Yoo Chun.

Dia menjentikan jari dan seluruh naga-naga milik Yoo Chun menghilang. Anggota OSIS dan Kyu Hyun langsung berlari mendekati Min Young dan Se Hun.

“Min Young-a, gwenchanayeo?” tanya Su Ho. “Nan gwenchana. Oppa-deul?” tanya Min Young. Mereka hanya tersenyum. Keadaan mereka tidak lebih baik dari Se Hun.

“Jika kalian benar-benar menyayangi dan menghargai putri kalian, kalian harus percaya kepadanya.” ucap Yoo Chun kepada anggota OSIS dan Kyu Hyun. “Tidak selamanya orang yang tidak bisa bertarung harus dilindungi. Setiap orang memiliki cara sendiri untuk bertahan hidup. Jika kalian seperti tadi, putri kalian hanya akan merasa bersalah.” lanjutnya.

Para anggota OSIS dan Kyu Hyun terdiam. Yoo Chun benar. Mereka selama ini tidak pernah bisa mempercayai Min Young. Mereka selalu menganggap Min Young adalah putri yang harus dilindungi. “Akan kami ingat.” kata Kris.

“Sekarang akan kuberikan segel Cheong Ryeong.” kata Yoo Chun. Kris memberikan pelat segel kepada Kyu Hyun. “Aku yang akan menyegel.” kata Kyu Hyun.

“Apa kau reinkarnasi Kaisar Go Jang?” tanya Yoo Chun. “Ne.” “Meskipun sekarang jalanmu penuh air mata dan akan berakhir dengan perpisahan, kau akan mendapat kebahagian setelah ini semua berakhir.” kata Yoo Chun.

“Meusseumsoriyeyeo?” tanya Kyu Hyun yang bingung dengan ramalan Yoo Chun. “Igeot.” kata Kyu Hyun sambil melemparkansebuah botol. “Ini obat dari Seonnyeo (angel-like beings) Cukup setetes dan luka kalian akan sembuh. Mianhae, aku tidak bermaksud melukai kalian.” kata Yoo Chun.

“Hya, Micky! Aku cari dari tadi ternyata kamu disini. ” seru Jun Su yang baru saja muncul dibelakang Yoo Chun. “Annyeong, ternyata masih ada kalian.” kata Jun Su sambil melambaikan tangan ke arah Min Young dan anggota OSIS.

“Ayo pulang. Ajari aku tes besok. Kamu sudah berjanji tadi siang.” rengek Jun Su. “Ternyata mereka bisa seperti ini juga.” batin Min Young. “Arasseo. Kalau begitu aku pergi dulu.” kata Yoo Chun.

“Kamsahamnida sunbae!” seru Min Young. Yoo Chun hanya tersenyum lalu berjalan pergi bersama Jun Su. “Bagaimana sekarang? Kita tidak mungkin pulang dengan keadaan seperti ini.” kata Kyung Soo.

“Bagaimana kalau untuk malam ini kita menginap di rumah Se Hun. Di sana kita bisa menyembuhkan luka kita.” saran Lay. “Tapi bagaimana dengan Min Young. Dong Hae hyung pasti marah.” kata Xiu Min.

“Sebentar, aku izin ke oppa dulu.” kata Min Young. Dia lalu menghubungi Dong Hae. “Yeobseyeo, oppa. Eungg..” kata Min Young. Dia bingung, apa alasan yang pas agar dia diijinkan menginap di rumah Se Hun.

“Ah kebetulan kamu telepon. Aku ada urusan di luar kota 3 hari ini. Kamu tidak apa-apa di rumah sendirian kan?” sahut Dong Hae. Min Young langsung bersorak dalam hati. “Gwenchana. Aku juga sudah sering di rumah sendirian. Oppa hati-hati ya. Ne. Papi oppa.” kata Min Young mengakhiri panggilan.

“Eotte?” tanya Se Hun. “Oppa pergi ke luar kota 3 hari ini. Jadi aku bisa bebas di apartemenmu.” jawab Min Young. “Bagus. Kalau begitu kita langsung saja teleport ke apartemen Se Hun.” kata Kai. Dan dalam satu kedipan mata, mereka sampai di apartemen Se Hun.

“Akkh!” erang Se Hun. Dia terjatuh tepat di kakinya yang terluka. “Sepertinya lukamu semakin parah. Aku beri obat yang tadi di beri Yoo Chun sunbae.” kata Lay. Dia membantu Se Hun berdiri dan mendudukannya di sofa.

“Ukh, baunya tidak enak.” komentar Lu Han saat Lay membuka botol yang diberikan oleh Yoo Chun. Lay menteskan obat itu tepat di luka Se Hun. Dalam hitungan detik luka itu menutup. “Woa, ternyata legenda yang mengatakan bahwa obat-obat yang dibuat oleh Seonnyeo sangat ajaib itu benar.” ujar Kyu Hyun.

Setelah itu Lay menyembuhkan luka tiap orang dengan obat pemberian. “Aku ke kmar mandi dulu. Rasanya badanku gatal semua.” kata Min Young dan langsung berlari ke kamar mandi. Dia tidak ingin matanya ternoda jikan dia terus berada di ruangan itu.

Bayangkan saja, di ruangan itu terdapat 13 namja. Dan luka mereka tidak selalu di tempat yang tidak tertutup oleh baju. Sehingga sebaian besar membuka atasan seragam mereka. Langsung saja alarm tanda bahaya berdering di otak Min Young.

“Appo..” rintih Min Young. Dia berdiri di depan cermin. Di punggungnya terdapat memar yang cukup besar. Sepertinya memar itu karena dia menghantam batang pohon saat bertarung tadi.

Tapi dia memilih menahannya karena tidak mungkin menyuruh Lay meneteskan obat ke punggungnya. Min Young mandi dengan menahan sakit. Sesekali dia berjengit saat memarnya berdenyut.

Setelah selesai, dia baru menyadari kalau barangnya tertinggal di rumah Dong Hae. Untung saja ada kaosnya yang tertinggal di tumpukan cucian Se Hun. Sepertinya Kyung Soo lupa memasukkannya.

“Kalian sudah selesai?” seru Min Young dari dalam kamar mandi. “Ne. Kami sudah selesai.” sahut Kris. Dia menjulurkan kepalanya terlebih dahulu. Setelah benar-benar yakin semuanya memakai baju lengkap, Min Young baru berani keluar.

“Min Young-a, kamu tidak terluka?” tanya Lay. “Ani aku tidak ada luka.” kata Min Young berusaha menutupi tentang memar di punggungnya.

“Darrawa.” kata Se Hun tanpa basa-basi. “Gwenchana. Aku tidak terluka sama sekali.” elak Min Young. “Gotjimal. Aku yakin kamu oasti terluka. Tidak mungkin kamu tidak memiliki luka sama sekali setelah bertarung seperti tadi. Aku yang akan mengobati. Hyung, aku pinjam obatnya.” kata Se Hun. Dia membawa Min Young ke kamarnya sambil menenteng botol obat.

“Se Hun-a jangan berbuat macam-macam!” seru Su Ho. Se Hun tidak menjawab dan menutup pintu kamarnya. “Bagian mana yang terluka?” tanya Se Hun. “Aku tidak bohong. Aku hanya lecet sedikit. Tapi tidak ada luka yang parah.” kata Min Young.

Se Hun menghela napas. “Benar-benar keras kepala.” batin Se Hun. Dia lalu berjalan mendekati Min Young. Min Young pun mundur setiap Se Hun mendekat. “Kamu tunjukkan atau aku yang akan mencari sendiri. Kamu tahu kan maksudku.” ucap Se Hun sambil terus mendekat ke arah Min Young.

“Ani, Aku baik-baik saja. Aku..aww.” Min Young terantuk ujung tempat tidur Se Hun sehingga jatuh terlentang ke belakang. Untung saja tempat tidur Se Hun empuk sehingga memarnya tidak bertambah parah. Tapi cukup membuatnya berjengit.

Se Hun menyadari ada luka di punggung Min Young. Tapi dia ingin menghukum Min Young karena sudah keras kepala. Dia ikut naik ke atas tempat tidur. “Hajiman..” kata Min Young. “Kenapa aku malah terjebak dalam situasi seperti ini.” runtuk Min Young dalam hati

Se Hun langsung mengulurkan kedua lengannya dan memerangkap Min Young dia antara lengan dan lututnya. “Sekarang kamu tidak bisa kabur lagi.” gumam Se Hun. “Eung Se Hun, bisa sedikit minggir?” tanya Min Young.

“Ani. Karena kamu tidak mau menunjukkan berarti aku akan mencari sendiri. Lagipula dari tadi kamu memanggilku ‘Se Hun’ bukan ‘oppa’. Karena itu aku harus menghukumu.” kata Se Hun dengan evilsmirk.

Se Hun perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Min Young. Jantung Min Young berdetak sangat cepat. Sekarang hidung mereka sudah bersentuhan.

“Gawat, lebih baik aku mengaku saja.” batin Min Young. “Oppa mianhae. Sebenarnya ada memar di punggungku.” kata Min Young sambil memanglingkan wajahnya.

“Kenapa dari tadi kamu tidak langsung mengatakannya saja.” kata Se Hun. Senyum kemenangan menghiasi wajahnya. “Se Hun-a aku pinjam kamar mandi…”. Tao masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Tapi dia langsung menganga melihat posisi Min Young dan Se Hun.

“Lebih baik aku menunggu giliran kamar mandi luar.” kata Tao dan pintu kembali tertutup. Min Young langsung memukuli dada bidang Se Hun. “Wae? Salahmu sendiri kan dari tidak mengatakannya.” kata Se Hun. Tapi dia tidak bisa menyembunyikan senyum jahilnya.

Se Hun lalu membantu Min Young untuk duduk di tempat tidur. Dia menggulung bagian belakang kaos Min Young. Se Hun tidak berani berbicara karena sekarang jantungnya sudah tidak karua. Tangannya pun mengeluarkan keringat dingin. Baru kali ini dia melihat punggu seorang yeoja.

“Apa kamu mau terus menahan memar ini dan berlagak baik-baik saja?” tanya Se Hun setelah mengumpulkan segenap keberanian. “Aku bisa obati sendiri. Aku malu kalau ada yang melihat punggungku. Oppa juga cepat beri obatnya.” omel Min Young.

Se Hun tertawa lalu meneteskan obat itu di memar Min Young. Dalam hitungan detik memar Min Young menghilang. “Bagaimana? Masih sakit?” tanya Se Hun. Min Young mencoba menggerakan punggungnya. “Ani, sepertinya sudah tidak apa-apa.” jawab Min Young.

“Oppa, mianhae. Karena aku tadi oppa terluka.”gumam Min Young. Se Hun tersenyum dan memeluk bahu Min Young dari belakang. “Gwenchana, lagi pula sekarang sudah sembuh.” kata Se Hun. Dia menimang Min Young yang ada di pelukannya agar Min Young tidak khawatir lagi. Min Young tersenyum. Dia merasa beruntung memiliki namjachingu seeprti Se Hun.

“Gomawo.” kata Min Young. Se Hun tersenyum lalu mengetuk pipinya sendiri. Min Young tersenyum mengerti lalu mengecup pelan pipi Se Hun. Mereka tersenyum dan Se Hun mengeratkan pelukannya.

Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu. “Kyungie hyung membuat ramyun. Kalian mau tidak?” seru Tao dari luar. “Ne, chakaman.” sahut Se Hun. “Kajja.” kata Se Hun sambil megulurkan tangan. Min Young meraihnya dan mereka keluar dari kamar Se Hun.

“Lama sekali.” komentar ChanYeol. “Bahkan ini porsi keduaku.” timpal Baek Hyun. Se Hun hanya tersenyum dan mereka makan malam ramyun buatan Kyung Soo.

Dan tiba saat yang menegangkan. Saat tidur. Karena Se Hun hanya memiliki 2 kamar, otomatis tidak semua bisa mendapat kamar. “Kenapa Baek Yeol tidak pulang? Apartemen mereka kan hanya 2 lantai di bawah apartemen Se Hun.” tuntut Chen. “Dengan seragam yang rusak seperti ini? Shireo. Aku bisa dibunuh oleh eomma. Aku sudah ijinmenginap kok.” balas Chan Yeol.

“Aku malas pulang. Rumahku jauh. Lagi pula mobilku di sekolah.” kata Kyu Hyun. “Nado.” timpal Lay. “Begini saja, agar adil, bagaimana kalau kita tidur di ruang tamu saja? Meja Se Hun bisa disingkirkan untuk menambah tempat. Lagipula sofa Se Hun cukup untuk 3 orang. 10 orang sisanya tidur dibawah.” usul Kyung Soo.

“Ide bagus. Siapa yang mau tidur di bawah?” tanya Kai. “Aku dan Min Young tidur di bawah saja.” kata Se Hun. “Min Young tidur di kamarnya, pabbo.” balas Kyu Hyun. “Ani aku tidur di sini saja. Kelihatannya seru.” ucap Min Young. “Kalau begitu aku juga tidur di bawah.” kata Kyu Hyun. Se Hun hanya mendengus kesal

“Kita tentukan dengan gunting batu kertas.” saran Su Ho. Setelah pertarungan yang sengit akhirnya Chen, Kyung Soo, dan Lay mendapat sofa. Sisanya tidur dibawah. “Ini aku bawakan seluruh selimut yang dipunyai Se Hun.” kata Min Young menunjuk tumpukan selimut.

Setelah pengaturan selesai, akhirnya mereka bisa merebahkan diri juga. Min Young tidur di lengan Se Hun. Sedangkan Kyu Hyun tidur membelakangi Min Young. Min Young mengamati sekelilingnya lalu tertawa pelan.

“Wae?” tanya Se Hun. Dia menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Min Young. “Ani, hanya saja ini pertama kalinya aku seperti ini. Aku anak tunggal, jadi aku lebih sering tidur sendiri kalau sedang tidak di tiitpkan di rumah Dong Hae oppa.” jawab Min Young.

“Kalau begitu, aku mau menemanimu tidur.” goda Se Hun. Min Young mengerucutkan bibir dan memukul bahu Se Hun. Se Hun hanya tertawa pelan lalu membenamkan wajah Min Young ke dadanya. “Jalja.” kata Se Hun sambil mengecup puncak kepala Min Young.

“Apa mereka tidak sadar kami semua disini?” adalah seruan hati para anggota OSIS. Mereka belum tidur tapi pura-pura tidur karena melihat tingkah Seh Young couple. Begitu juga Kyu Hyun “Kebahagianku tidak pernah datang Yoo Chun sunbae.” batin Kyu Hyun sambil tersenyum pahit.

****

“Hya! Ireona! Ireona! Kita sudah terlambat.” teriak Baek Hyun sambil menendang beberapa anggota OSIS. Sepertinya mereka terlalu kelelahan sehingga mereka bangun saat jam menunjukkan pukul 8.

“Yah kalau sudah jam 8 sekalian saja tidak usah masuk.” saran Tao. Dia bangun sambil mengusap-usap matanya. “Andwe. Aku bisa dimarahi eomma.” kata Kai histeris.

Min Young terbangun karena keributan mendadak. “Pagi.” kata Se Hun sambil mengecup kening Min Young. Dia sebenarnya sudah bangun sebelum Baek Hyun bagun. Tapi dia lebih memilih mengamati wajah Min Young tertidur daripada membangunkan yang lain.

“Aku setuju dengan Kai oppa.” kata Min Young. “Lihat, Min Young saja membelaku.” kata Kai. “Wae?” tanya Se Hun dengan satu alis terangkat. “Minggu kemarin aku sudah membolos sekali. Aku tidak boleh membolos lagi. Kamu juga.” jawab Min Young.

“Tapi berangkat sekarang pun kita pasti tidak diijinkan masuk.” kata Lay. Semua terdiam. Benar juga. “Kalau begitu kita membolos bersama saja. Kalau nanti ditegur guru, kita semua harus menanggungnya.” kata Kyu Hyun.

Mereka saling pandang. Itu satu-satunya jawaban dari masalah ini. “Berarti apa yang akan kita lakukan seharian ini?” tanya Su Ho. “Terserah. Asal jangan dekat-dekat dengan area sekolah, seperti Myeong-dong.” sahut Kris.

“Eung bagaiman kalau di Lotte World. Itu kan sangat jauh dari area sekolah.” saran Min Young. “Katamu tadi kamu mau masuk?” tanya Se Hun. “Kalau bisa tidak masuk ya aku lebih senang.” jawab Min Young. “Dasar.” kata Se Hun sambil mengacak pelan rambut Min Young.

“Baiklah ke Lotte World saja.” kata Kris. Semua bersorak. Lay dan Kyung Soo memasak sarapan. Sedangkan yang lain bergantian mandi. “Se Hun-a, mianhae, Bajumu kami pinjam ya.” kata Chan Yeol. Se Hun hanya bisa pasrah.

Setelah semua beres, mereka pun berangkat ke Lotte World. Meskipun sempat menunggu sebentar karena hampir saja berpapasan dengan Chan Yeol appa di lobby apartemen.

Setelah perjalanan panjang dan merepotkan, karena banyaknya orang yang pergi, akhirnya mereka sampai di Lotte World.

“Sepertinya kita menarik perhatian.” gumam Xiu Min. Tentu saja. Berjalan di Lotte World dalam kelompok besar. Dan anggotanya memliliki wajah diatas rata-rata. Pasti setiap orang, terutama yeoja, akan menoleh.

Mereka mencoba setiap wahana. Karena hari kerja, antrian tidak terlalu panjang. Mereka berteriak, tertawa dan bergurau. Menikmati saat dimana mereka bisa menjadi manusia biasa. Tidak terbebani dengan masalah yang membahayakan nyawa.

“Ah ada labirin.” kata Min Young. “Ayo kita taruhan. Siapa yang terakhir kali keluar, harus mentraktir makan siang. Bagaimana?” tantang Baek Hyun. “Setuju. Aku masuk pertama ya.” kata Min Young lalu masuk ke dalam labirin.

Satu per satu anggota OSIS dan Kyu Hyun masuk ke labirin. Awalnya mereka merasa biasa saja. Tapi lama-lama mereka sadar, tidak ada orang lain di labirin ini selain mereka. Bahkan untuk menemukan jalan keluar susah sekali. Padahal mereka tahu labirin ini hanya labirin untuk anak kecil. Sehingga tidak luas dan tidak terlalu rumit.

“Gawat ini sepertinya jebakan.” batin Kyu Hyun. Dia berlari ke arah sebuah belokan dan hanya berakhir dengan jalan buntu. Dia melihat sekeliling, berusaha mencari jalan keluar. Tiba-tiba dia melihat sesosok bayang berkelibat.

Matanya melebar kaget ketika sosok itu melihat ke arahnya. Itu adalah pembunuh putri Se Young. “Kyu Hyun-a! Itu kamu?” seru Se Hun. Sosok itu langsung menghilang begitu mendengar suara Se Hun.

“Se Hun! Gawat! Kita harus menemukan Min Young secepatnya. Aku baru saja melihat pembunuh Putri Se Young. Dia menjebak kita di labirin ini.”

TBC

Eotte? Cast barunya LEE DONG HAE. Hope u like it. Mian aku tidak memberikan extra chapter. Mungkin nanti sore atau besok aku akan tambahkan extra chapter. Untuk yang baca sekarang, baca lagi ya untuk dapat extra chapter. Thx for reading n stay tune

132 tanggapan untuk “The Princess & The Knights (Chapter 8)”

  1. tapi kenapa aku berfikir kalo dong hae oppa yang jahat yaa unnie thor ? bener ga sih
    daebaaak semuaa namja tampan ada semuaa disini termasukicky yoo chun oppa .. waaaaah senangnyaa jd min young apalagi punya namjachingu tetampan sehun opa .. hehe
    tapi teteplah kai oppa selalu dihati dan ga pernah berubah
    *senyummenyeringai
    gmawoo unnie tjor ff nya keren !

  2. Wah…chap ini banyak adegan romance sehun yaaaa…sukaaa…..
    Kyanya bakal ada sesuatu sama dong hae ya? Perasaan sehun soalnya ga enak liat donghae…jd ikut penasaran ini…hehehe…
    Lanjut ya thor…tiap akhir chap bikin penasaran aja soalnya…
    Gomawoyo 🙂

  3. Thor..maaf y..aku dah baca dri awal baru coment di chapter ini..
    Aku g tau gimana comentnya..tapi y perlu diketahui..aku sukaaa.bgt ma ni ff!!thor lanjutin..reader g ska digantungin ma author.. 😉

  4. Annyeong 🙂 maafkan aku baru baca 😦

    trnyata donghae yg jdi kaka sepupunya minyoung. Duhh sehun dan minyoung bkin iri gitu ya wkwk…

    Kasian anggota osis yg lain gk punya couple..

    ._. Omo itu terakhirnya jebakan? Trus minyoung gimana? Slmt gk?

    Terimakasih ceritanya 😀

  5. Huahhhhh……. bnr2 tegang bgt nih…
    Hah??? ap bnr di lotte world ada labirin? Setauku di lotte iorld gk ada labirin.
    Kkkkkkk si maknae lgi mkirin seorang wanita nih…. haha..

  6. Seru thor seru.. Kok bisa Sehun cemburu sama Donghae?? :/ padahalkan Donghae udah di anggep oppa sendiri sama Minyoung?? Sehun cemburuan nih..
    Aigoo ada pembunuh Minyoung 😮

  7. Next thor…maap baru coment di chap ini…soalx aku ketinggalan banyak chapter… Ayo thor cepet post chapter 9 nya,,,pengen tau siapa yang bunuh se young

  8. aku suka deh ama authornya karena ngepost epep ini ga trlalu lama trus crtanya jg kren. dan yg pasti aku dkung SeYoung couple. sehun mkin romantis, tpi ksian jg si ama kyuhyun. ok thor next !!!

  9. Wow donghae. Wkwkwk sehun di ff ini ga suka ma donghae, coba direal, ngeupload foto bertuliskan miss you dan ngetag donghae wkwkwk. Good thor!!

  10. aigoo…. Min Young dalam bahaya ! . Masih ada beberapa typo bertebaran. diperbaiki lagi ya thor >.< jalan ceritanya UDAH MENARIK BANGET . next chapter sangat ditunggu. heuheu

  11. Pembunuhny seyoung cpa tuu??pnsrn bgt sma klnjutan ny
    Next ny jgn lma” yaahh thor
    Q ska bgt sma crta nya.daeebbaaakk
    10 jempol bwt author
    😀

    Keep writing thor.
    Di tunggu next chap ny

  12. Makin penasaran sama pembunuhnya min young di masa lalu

    Next chapter di tunggu sangat ya thor kkk
    fighting^^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s