Eternally Love_Sequel Love Contract

Judul : Enternally Love_Sequel Love Contract

Author : Seu Liie Strife

Main Cast : Kris Wu (EXO-M)

Song Lian(OC)

Supporting Cast :  Zhang Yixing/Lay (EXO-M)

Byun Baekhyun (EXO-K)

Michelle Wu (OC)

Arlyna Lee (OC)

Genre : Romance, Marriage life

Facebook : Hikari Keyheart Kurosaki

Twitter : SeuLieOctaviani

Instagram : @seu_liie

Pin : 24D7E4E6

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Aduh! Perutku…!” Lian mengerang pelan saat perutnya mendadak sakit sekali. Ia berusaha meraih ponselnya yang terletak di atas nakas. Pukul 01:58 dini hari.

“Tiān nǎ (astaga)! Perutku sakit sekali….” Lian hanya memegangi perutnya dan menurunkan keduanya ke lantai. Wanita hamil itu berniat ke dapur untuk meminum air hangat, kebiasaannya saat ia merasa sakit pada perutnya.

“Kau kenapa, anakku? Apa kau ingin menghirup udara dunia sekarang?” Ia mengusap perutnya yang kini sudah menginjak bulan kelahiran anaknya.

“Mau kemana?” Lian menoleh saat suara berat itu terdengar oleh indera pendengarannya. Perlahan Kris mendudukkan tubuhnya dan mengusap tengkuknya yang mungkin terasa sakit karena lelah.

“A.. aku…Akkhh..”

“Apa yang sakit? Kita ke rumah sakit saja ya..” Ujar Kris yang kemudian merangkul istrinya sedangkan Lian, ia tidak bersuara sama sekali karena menahan sakit. Yang ia lakukan hanya mencengkeram tangan suaminya hingga memerah.

“Basah?” Batin Kris yang merasakan kasur yang ia duduki sedikit lembap. Ia kemudian menyibakkan selimutnya.

“Sakiittt…” Erang Lian. Kris kemudian segera membuka pintu kamarnya dan menyambar kunci mobilnya, menyalakan mesin mobilnya. Ia kemudian kembali ke kamarnya dan menggendong Lian masuk ke dalam mobilnya yang segera ia lajukan menuju rumah sakit.

“Aaaa!!! Appoooo!!!!” Teriak Lian di dalam mobil.

“Krisss!!!”

“Hhm?”

“Sakiiiitttt!!!!” Lian menarik lengan baju Kris.

“Lakukan apa pun yang kau mau.” Ujar Kris singkat. Sebisa mungkin ia menyetir mobilnya dengan tenang meskipun sebenarnya ia juga panic melihat Lian yang terus kesakitan.

Di rumah sakit, lebih tepatnya di ruang bersalin, Kris saat itu menemani Lian yang akan melahirkan. Terlalu bingungnya Kris, ia sampai tidak sempat mengabari kedua orang tuanya mau pun orang tua Lian tentang Lian yang akan melahirkan. Dari total 10 pembukaan, Lian saat ini masih 3 pembukaan. Namun tim dokter yang menangani persalinan Lian sudah berada di ruang bersalin tersebut.

“Sakiitt..” Air matanya tidak dapat ditahannya lagi menahan sakitnya. Sementara Kris hanya menggenggam tangan Lian dengan kedua tangannya.

Wajah Lian saat ini sudah berkeringat dan memerah. Kedua tangannya juga terlihat memerah karena menggenggam tangan Kris.

“Aaaakkkhh!!!” Erang Lian yang semakin menggenggam tangan Kris yang hanya menggigit bibir bawahnya seolah merasakan apa yang Lian rasakan.

Kepala bayi yang menghadap sisi bawah pun mulai terlihat. Karena dorongan dari Lian, kepala bayi itu mulai terlihat sempurna. Tubuh bayi itu pun dengan sendirinya memutar hingga menghadap salah satu sisi kaki Lian.

“Egghhh!!” Tangis bayi itu pun pecah dan menggema dalam ruangan itu. Lian benar-benar kelelahan karena proses bersalinnya. Genggaman tangannya melonggar hingga terjatuh dari genggaman tangan Kris yang saat itu hanya bisa menatap bayi itu dengan terharu.

“Lian… Bangunlah…”

“Hhhm..” Sahut Lian lemah.

“Bayi kalian perempuan, tuan… nyonya..” Perawat itu meletakkan bayi perempuan itu di dada Lian untuk menyusu ASI pertama dari sang ibu.

“Kenapa aku merasa anak ini adalah anakku?” Batin Kris saat melihat Lian yang sedang menyusui bayi perempuan itu.

“Siapa namanya?” Tanya Kris.

“Aku mau anak ini memiliki nama yang mirip denganku..”

“Jadi?”

“Lien? Itu artinya bunga teratai… Bunga teratai indah, kan…” Ujar Lian kemudian.

“Ne…  Tapi, kupikir nama Ai juga bagus untuknya. Ai Lien… Wu Ai Lien…” Ucap Kris. Karena tidak mau banyak berdebat, Lian hanya diam saja. Tenaganya belum sepenuhnya pulih saat pasca melahirkan ini.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Lian melahirkan?!” Seorang wanita paruh baya berkebangsaan Korea terdengar terkejut saat mengetahui anaknya melahirkan dari telepon menantunya, Kris.

“Ne, Ma.. Perempuan..” Ujar Kris.

“Segera kirimkan Mama alamat rumah sakit itu juga ruang rawat Lian.”

“Okay, Ma… Aku juga mau telepon Mommy dulu…” Ujar Kris kemudian.

Setelah mengirim pesan yang berisikan alamat rumah sakit untuk mertuanya, Kris segera menelpon ayah ibunya. Karena nomor ibunya tidak aktif, ia kemudian menelpon ayahnya.

“Ada apa, Kris?” Sapa ayahnya.

“Dad, maaf aku mengganggu tidurmu…” Ujar Kris.

“Ada apa? Tidak biasanya kau menelpon Dad pagi buta seperti ini…”

“Lian.. Lian baru saja melahirkan.” Rasa kantuk dari pria berusia setengah abad itu seketika hilang.

“Lian sudah melahirkan? Shénme shíhou (kapan)?” Tanyanya.

“Tadi, sekitar jam setengah tiga pagi…”

“Kalau begitu, nanti Mom and Dad ke rumah sakit. Kau kirimkan saja alamatnya.”

Tanpa sepengetahuan Lian, Kris menyelidiki anak yang baru saja dilahirkan Lian. Dari ponsel istrinya, ia mendapatkan nomor ponsel Christian. Ia segera menghubungi pria berkebangsaan Philiphina tersebut.

“Hello?” Sapa Christian.

“Sorry, if I disturb you… Can we meet?” Tanya Kris yang langsung pada topiknya.

“But, who are you?”

“Lian’s husband.. Kris…”

“Oh, sure. When?”

“It’s up to you…” Ucap Kris.

“But.. for today until two weeks I really busy, Kris… How about we meet at the end of this month?” Tawar Christian.

“Allright..” Jawab Kris kemudian.

“Kenapa aku merasa sesak?” Batin Kris. “Oh, mungkin aku terlalu lelah..” Pikir Kris kemudian. Kris kemudian kembali ke ruang rawat istrinya dan di sana ia melihat Lian yang tengah tertidur. Di samping ranjangnya terdapat box bayi anaknya yang tertutup kelambu. Yang ia lakukan saat ini hanya memperhatikan Lian yang tengah tertidur sambil menggenggam tangan kiri istrinya. Sesekali ia mengusap wajah istrinya dan menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajahnya.

“Apa mungkin aku jadi benar-benar jatuh cinta padamu?” Batin Kris dengan sebelah tangan yang menopang dagunya.

Kris yang masih mengantuk, perlahan ia meletakkan kepalanya di atas tangannya yang terlipat di atas ranjang Lian. Tidak peduli ia tertidur dengan posisi bungkuk. Rasa kantuknya sudah mengalahkan semua pikirannya.

Ckrek! Pintu ruang rawat Lian pun terbuka. Sepasang suami istri paruh baya masuk ke dalam ruang rawat itu, mendapati seorang pria yang tengah tertidur dalam posisi yang sangat tidak nyaman untuk tidur di samping ranjang istrinya yang juga tertidur.

“Kris…” Pria paruh baya pemilik Emperor Group itu menepuk pelan bahu anaknya. Pemilik rambut cokelat tua itu pun terbangun. Dengan mata menyipit ia berusaha menormalkan retina matanya dan menyesuaikannya dengan sinar yang masuk.

“Oh, Mom.. Dad..” Ucapnya pelan yang kemudian menoleh pada istrinya, memastikannya masih tertidur.

“Mom bawa makanan untuk kalian..” Ujar wanita berkebangsaan Canada tersebut yang meletakkan plastic yang berisikan tempat makan dengan hasil masakan ibunya.

“Thanks, Mom… Seharusnya tidak perlu repot seperti ini..” Ujar Kris.

“Méiguānxì (tidak apa), Kris..”

“Ini cucu Mom…”

“Yes, Mom…” Jawab Kris.

“Sorry Mom… Lian said that baby isn’t mine… Tapi, sebenarnya aku merasakannya kalau itu adalah anakku. Darah dagingku..” Batin Kris.

Ketika indera pendengarannya mendengar percakapan, seorang ibu muda perlahan membuka matanya dan objek pertama yang ditangkap oleh retina matanya adalah Kris yang sedang duduk di samping ranjang tempat ia tidur.

“Kau sudah bangun…” Ujar Kris yang mengusap kening istrinya.

“Duìbùqǐ (maaf), apa kami membangunkanmu?”

“Mom? Dad?” Lian merasa malu karena dia tidur saat kedua mertuanya menjenguknya.

“Anak kalian lucu sekali..Akhirnya, Mom memiliki cucu pertama..” Ujar ibunya Kris sambil menimang anak mereka.

“Matanya seperti Kris ya Mom..”

“Really?” Tanya Kris yang membantu Lian untuk duduk.

“Mom, Michelle mana?” Tanya Lian.

“Michelle tadi bilang mau ke rumah Arlyna dulu baru ke sini..” Ujarnya.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Akhirnya aku bisa pulang juga setelah empat hari di rumah sakit.. Ah, senangnya menghirup udara rumah lagi.” Batinku sambil menggendong puteri kecilku. Begitu Kris membukakan pintu kamarnya, aku disuguhi dengan adanya box bayi yang berwarna pink yang ditutpi sebuah kelambu dalam kamar. Tak hanya itu, sebuah lemari kecil bergambar pororo sudah berdiri di pojok ruangan.

“Kau menyiapkan ini?” Tanyaku.

“Ne..” Jawab Kris singkat yang kemudian meletakkan tas yang berisi baju-bajuku di atas tempat tidur. Aku kemudian membaringkan Ai di dalam boxnya dengan hati-hati.

“Apa dia sudah tidur?” Suara Kris yang berada di sebelahku cukup mengagetkanku.

“Sepertinya sudah..”

“Kalau begitu, kau istirahat dulu..”

“Ne…” Ujarku yang kemudian duduk bersandar pada headboard ranjang. Kedua kakiku sengaja aku luruskan dengan tertutup selimut hingga pinggangku. Aku mengambil pad-ku dan tanganku menyentuh layar itu dan mengetik sesuatu. Aku berusaha mencari informasi yang berhubungan dengan ibu muda. Sementara Kris, kulihat ia keluar kamar. Entah apa yang ia lakukan. Sesekali aku menoleh pada box bayi itu. Ai tertidur dengan pulas. Menjadi seorang ibu rupanya seperti ini. Aku kemudian beranjak menuju tempat dimana Ai tertidur. Aku berlutut di depan box itu dan meraih tangan mungilnya. Secara reflex, ia menggenggam telunjukku yang kuulurkan padanya.

“Cepat tumbuh dan jadi gadis periang ya, Ai…” Doaku. Seolah mendengar ucapanku, tubuhnya menggeliat. Ai belum sempurnanya melihat dunia. Kedua matanya masih sangat sensitive dengan cahaya. Aku mencium tangan mungilnya dan menciumi wajahnya. Ya Tuhan… Ai adalah harta paling berharga milikku.

“Lian…” Aku menoleh saat Kris masuk dan menghampiriku. “Mama bilang aku harus memberikan ini untukmu.” Ia memberikan sebuah gelas minuman.

“Apa ini?”

“I don’t know. Tapi katanya ini untuk ASI?” Ujarnya yang juga tidak yakin.

Aku berdiri dan kemudian mengambil gelas itu. Aku menghirup aroma dari minuman itu. Aaa.. tidak enak sepertinya!

“Wǒ bùxiǎng (aku tidak mau).”

“Wèi (kenapa)?”

“Tidak enak..” Ujarku.

“Kata siapa?”

“Kau cium saja.. Baunya tidak enak.” Aku menyodorkan gelas itu pada Kris. Dia mengalihkan wajahnya dari gelas itu.

“Benar kan kataku?”

“Tapi Mama bilang ini untuk ASI-mu…”

“Ini bau, Kris.. Aku tidak mau..”

“Tutup hidungmu.” Ujar Kris.

“Nanti aku minum.”

“Lian.. Please..” Well, akhirnya aku meminum itu dengan hidung tertutup.

“Ugh!” Aku mual meminum ini.

“Pahiittt!!”

“Harus kau habiskan..” Aku kembali meminumnya.

“Hoek, aku tidak kuat menghabiskan ini!” Aku benar-benar ingin muntah. Kris hanya memperhatikanku yang terlihat enggan meminum.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Dengan terburu-buru, Lian memberikan gelas yang masih terisi setengah gelas itu pada Kris dan ia langsung berlari ke kamar mandi.

“Hoeeekk!! Hoeeekkk!!” Lian mengeluarkan semua yang telah ia minum. Bahkan makanan sebelumnya pun ikut keluar.

“Hoeeekk!!” Kris kemudian masuk ke dalam kamar mandi itu dan memijat pelan tengkuk istrinya yang muntah di wastafel kamar mandinya. Lian kemudian membasuh mulutnya dengan air dari keran.

“Apa sebegitu tidak enaknya rasa minuman itu?” Batin Kris.

“Aku tidak mau minum itu…” Lirih Lian kemudian.

“Walau bagaimana pun caranya, dia harus minum minuman itu… Bagaimana Ai nanti? Tapi, bagaimana caranya?” Tanpa sadar, Kris terdiam cukup lama menopang dagunya dengan sebelah tangannya. Sesekali ia mengusap bibirnya yang tidak gatal itu.

“Wèi (kenapa)?” Tanya Lian.

“Bùshì (tidak)…” Jawab Kris singkat yang kemudian keluar kamar mandi, menyambar ponselnya dan keluar kamar.

“Telepon Mama?” Kris kemudian menyentuh layar ponselnya untuk membuka kunci ponselnya. “Ah, bùshì (tidak)… Nanti aku disangka tidak tahu apa-apa tentang Lian… Ya, walau pun itu memang benar.” Ia mengurungkan niatnya menelpon mertuanya itu.

“Hm, got it!” Ia kemudian menekan beberapa digit angka untuk menelpon seseorang.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Aku keluar kamarku sambil menimang Ai yang tadi sempat terbangun karena kutinggal. Padahal aku baru sebentar ke kamar mandi, Ai sudah menangis.

“Lalu, apa yang harus kulakukan?” Aku mendengar suara Kris pada seseorang. Entah dengan siapa ia bicara.

“Memangnya kau suka itu? Sejak kapan?” Aku jadi ingin tahu apa yang ia bicarakan dan pada siapa dia bicara.

“Baiklah kalau menurutmu begitu, akan kulakukan….” Lakukan? Lakukan apa?

“Iya, aku akan menjemputmu.”

“Menjemput? Apa dia menjemput Min Ah? Tapi, bukannya mereka…”  Banyak sekali pertanyaan yang berputar-putar dalam benakku.

“Ah! Dia sudah selesai telepon!” Aku buru-buru berbalik badan menggendong Ai yang belum tidur sepenuhnya walau pun sudah tidak menangis.

“Lian… Lian..”

“Di belakang, Kris…” Sahutku.

Aku mendengar suara langkahnya yang kian mendekat. “Kenapa di sini?” Tanyanya.

“Tadi Ai nangis…”

“Oh… Sebaiknya kau masuk.. Ai masih belum kuat untuk lama-lama di luar. Nanti kau juga sakit..”

“Ne..” Jawabku singkat yang masuk ke dalam rumah.

“Aku keluar sebentar, tidak apa-apa kan?” Ujarnya.

“Ne… bukannya memang seperti itu?” Balasku.

“Lian, please… aku sudah tidak mau bahas itu.”

“Duìbùqǐ (maaf)..”

“Aku pergi dulu. Kau istirahat yang cukup..” Pesannya. Aku hanya mengangguk. Ia kemudian mengambil kunci mobilnya yang digantung dekat lemari dapur dan mengambil dompetnya dari dalam kamar.

“Aku pergi..” Dia berpamitan dan…mencium keningku? Ya Tuhan…

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Aaaa!! Gege lama sekaliiii!!!” Teriak seorang gadis yang saat itu sedang menunggu kakaknya di rumah.

“Ada apa, Chell?” Tanya ibunya.

“Kris gege lama sekaliiiiii!!!” Ucapnya kesal.

“Kris?” Tanyanya lagi. Michelle mengangguk cepat.

“Kalian mau kemana? Kau meminta kakakmu untuk mengantarmu? Tiān nǎ (astaga), Michelle! Kakakmu sekarang sudah memiliki anak dan istri, tapi kenapa kau masih manja padanya?”

“Mommyy~~~ Aku bukan minta diantar!” Protes Michelle.

“So?”

“Kris gege yang minta temani aku. Harusnya ia membayarku untuk ini.. Huh!” Cibirnya kesal.

“Diantar? Kemana?” Selidik ibunya.

“Oops! Sepertinya aku nyaris kelepasan bicara. Kris gege kan minta hal ini dirahasiakan.” Michelle menutup mulutnya sendiri.

“Membeli sesuatu…” Jawab Michelle singkat.

“Membeli apa? Dimana?” Tanya ibunya berturut-turut.

“Micheellee~~ Hurry up! I don’t have much time for this!” Kris yang baru saja datang langsung berteriak memasuki rumahnya.

“Oh, Mom? Sorry, Mom..” Pria itu langsung memeluk ibunya dan mencium pipinya.

“Kau lagi-lagi mencontohkan hal buruk pada adikmu itu!” Ibunya memberikan pukulan ringan pada lengan putera sulungnya itu.

“It hurts, Mom..” Erangnya mengusap lengannya sendiri.

“Are you kidding me, huh? Pukulan seperti itu tidak mungkin sakit padamu.” Kris hanya tertawa.

“Bagaimana Lian dan Ai?” Tanya wanita yang melahirkan pria dihadapannya dua puluh enam tahun silam.

“Baik-baik saja. Saat aku pergi tadi, Lian sedang menggendong Ai untuk menidurkannya.”

“Lalu kau meninggalkannya sekarang?” Tanya ibunya tajam.

“Bùshì (tidak), aku hanya meninggalkannya sebentar..”

“Sorry, Mom..” Michelle menginterupsi pembicaraan ibu dan anak itu, berusaha mengalungkan lengannya di bahu pria yang tingginya jauh melebihinya. “Berhubung Lian jiejie di rumah sendirian, jadi kami langsung berangkat…” Ujar Michelle kemudian.

“Bye, Mom…” Pamit mereka bersamaan.

Mereka pun memasuki hypermarket untuk membeli sesuatu. Lebih tepatnya buah kesukaan Lian dan juga semua hal yang disukai Lian. Ini semua dilakukan Kris agar Lian mau meminum minuman itu.

“Memang apa buah kesukaannya?” Tanya Kris.

“Gege memang benar-benar suami yang bodoh!” Ejek Michelle.

“Ya! Aku menyuruhmu menjawab pertanyaanku, bukan mengatai kakakmu ini!” Ujar Kris kesal.

“Tapi, memang itu kenyataannya! Bagaimana bisa kau menikah dengan seorang wanita, hidup bersamanya, bahkan sudah memiliki anak, tapi gege sampai sekarang tidak tahu apa yang disukai Lian jiejie… Ckck, suami yang bodoh!” Ejek Michelle lagi.

“Sekali lagi kau mengatakan hal itu, gege meninggalkanmu di sini sendirian.” Ancam Kris.

“Oh yeah? Bagaimana kalau aku bilang aku tidak mau memberitahu semua tentang Lian jiejie?” Balas Michelle.

“Haaahh~~ Okay, fine… Tell me…” Ujar Kris.

“Hihihi… I’m the winner!” Batin Michelle.

“Lian jiejie itu sama sepertiku. Suka strawberry.”

“Zhēn de (benarkah)?” Tanya Kris. Michelle hanya mengangguk.

Gadis itu dengan cermat meneliti tiap buah strawberry yang terdapat di dalam kotak. “Dan strawberry yang baik itu seperti ini..” Ia menunjukkan kotak yang berisi strawberry di dalamnya.

“Bagaimana dengan ini?” Tanya Kris yang juga menunjukkan kotak strawberry lainnya.

“Itu tidak segar, gege… Dan… Ouuh~~ Itu pasti asam! Lihat saja warnanya masih pucat seperti itu…” Ujar Michelle.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Sementara kedua kakak-beradik dari keluarga Wu sedang berbelanja, lain halnya yang terjadi di salah satu universitas ternama di Seoul. Seorang gadis tengah duduk bersandar pada bangku taman sambil membaca catatan kuliahnya yang ada di tangannya. Ia sedang berusaha memahami tiap kalimat tersebut. Bosan dengan belajarnya, ia kemudian mengeluarkan beberapa lembar kertas yang ia satukan dengan clip kertas. Kumpulan partiture untuk permainan pianonya. Dalam kegiatan clubnya di kampus, gadis yang mengambil jurusan ekonomi di kampusnya tersebut senang bermain piano. Seorang Arlyna Lee adalah pianis muda yang telah meraih beberapa penghargaan dan medali dari beberapa kompetisi music yang pernah ia ikuti semenjak ia masih SMP. Karena menyukai hal baru, Arlyna mencoba bermain piano sambil bernyanyi. Dua aktifitas yang sulit dikerjakan bersamaan baginya. Karena tempat itu cukup sepi, ia mulai mengeluarkan suaranya untuk bernyanyi. Sebuah lagu pun dilantunkan olehnya.

“Neol nabakke mollasseodeon igijogin naega yeah…ne maeumdo mollajwodeon musimhan naega… Ireohke deo dallajyeodaneunge najocha midgiji an…awww!! Appooo~~!!” Nyanyiannya berhenti ketika ia merasakan sakit di bahu kanannya. Sebuah kaleng minuman kosong.

“Errrr!!! Siapa sih ini?!!” Geramnya. Arlyna pun menoleh ke belakang.

“Cih!! Si eyeliner itu!!” Arlyna pun melempar balik kaleng minuman kosong tersebut dan mengenai dahi pria tersebut.

“Yaakk!!! Appoo!! Siapa itu?!!” Baekhyun menggerutu. “Eh, chakkaman! Ini kan kaleng yang aku tendang tadi..” Pikir Baekhyun.

“Heh! Kalau ada sampah, seharusnya kau buang ke tempat sampah! Bukan kau tendaang!!” Teriak Arlyna.

“Sigh~! Salah kau sendiri kenapa kau duduk di situ!” Ucap Baekhyun tanpa merasa salah sedikit pun.

“Heh! Kau pikir ini tempat nenek moyangm, hah?” Jawab Arlyna sengit.

“Hey, agasshi.. Kalau kau tidak duduk di sana, tidak mungkin kaleng ini mengenaimu. So, that’s your fault!” Jawab Baekhyun enteng.

“Oh, dan kau harus bertanggung jawab atas dahiku yang seperti ini! Karena kau sengaja melempar kaleng itu padaku. Lain halnya denganku yang kebetulan mengenaimu.”

“Huh! Oh yeah? Kalau begitu, kaleng itu juga kebetulan mengenai dahimu, eyeliner!” Ujar Arlyna yang mengambil tasnya dan pergi dari hadapan Baekhyun.

“Ck! Menyebalkan sekali! Kenapa harus ada orang seperti dia?!! Aaarrghh!!” Umpat Arlyna kesal saat meninggalkan pria itu.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Aku mendengar suara mesin mobil dari mobil milik Kris. Aku menyibakkan tirai jendela sedikit dan memang benar, mobil Kris lah yang sedang terparkir di garasi. Aku sedikit kesulitan saat membuka pintu rumahku karena aku juga sedang menggendong Ai.

“Ohh, kau…” Dia terlihat sedikit terkejut ketika aku membuka pintu. Aku melihat kedua tangannya yang berada di sisi tubuhnya terlihat banyak menenteng plastic belanjaan. Apa dia habis belanja?

“Kau.. belanja?” Tanyaku padanya.

“Hanya membeli keperluan sedikit.” Ucapnya yang kemudian menuju dapur. Ia meletakkan beberapa plastic di meja dapur. Namun terdapat paper bag di tangannya yang kemudian ia bawa masuk ke dalam kamar.

“Liann…”

“Hhm?” Aku menghampirinya.

“Ini… untukmu.” Ujarnya.

“Untukku?” Tanyaku memastikan. Dia hanya menjawab dengan gumaman.

“Sini, biar Ai kugendong..” Ujarnya lagi. Aku memberikan Ai ke dalam gendongannya dengan hati-hati. Memegangi kepala belakangnya setelah Kris sudah memegang tulang punggung belakang bayi mungilku yang masih rapuh.

“Kau coba baju itu..” Ucap Kris lagi.

“Kalau begitu, kau keluar..” Ujarku pelan.

“Why? Aku suamimu kan?”

Ucapan itu membuat wajahku memanas. “Kriss~~”

Ia kemudian tersenyum menanggapiku. “Baiklah…aku keluar…”

Aku mencoba baju yang baru saja dibelikan Kris. Dua buah dress yang bisa dipakai sehari-hari. Sangat tidak buruk dengan selera fashion-nya.

“Ternyata dia orang yang stylish dalam urusan pakaian. Hhm, bagaimana dia bisa membelikan baju yang tepat sesuai ukuranku? Aneh!” Pikirku sambil mematut diriku pada sebuah cermin.

Aku kemudian keluar dari kamar dan menunjukkannya pada Kris. “Kris, seperti ini?” Tanyaku.

“Yup! Perfect!” Ucapnya.

Setelah mengganti bajuku kembali, aku mengambil alih Ai untuk kugendong lagi. Oh, sekarang waktunya menyusui Ai! Aku mengambil tempat di kamar untuk menyusui Ai. Aku duduk bersandar pada tempat tidurku dengan meluruskan kakiku. Ai yang berada dalam gendonganku pun mulai menyusu. Tak lama aku mendengar seperti suara blender? Apa yang dilakukan Kris?

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Pintu kamar yang terbuat dari kayu itu pun terbuka. Seorang pria membawa nampan yang berisikan dua gelas dengan berwarna berbeda. Satu gelas yang berwarna pink yang berisikan juice strawberry, dan satu lagi adalah gelas yang berwarna agak kehitaman yang berisikan ramuan tradisional untuk ibu menyusui. Pria itu meletakkan nampan itu di atas nakas.

“Apa dia sedang minum?” Tanya Kris yang kemudian naik ke atas ranjangnya dan duduk di samping istrinya.

“Uhm..” Jawab Lian sambil mengusap pipi anaknya. Kris hanya memperhatikan bayi itu, sesekali mencium keningnya.

“Jangann…” Lian menepis tangan Kris yang menyentuh hidung Ai.

“Wèi (kenapa)?” Tanyanya.

“Tanganmu besar, tahu!” Ujar Lian yang menoleh pada Kris.

Entah apa yang membuat mereka betah untuk saling menatap. Kris pun perlahan merengkuh wajah istrinya dan mendekatkan wajahnya padanya. Sementara Lian, seolah terkunci dengan tatapan pria di hadapannya, ia tidak bergerak sama sekali dan menggigit bibir bawahnya. Kedua insan itu saling memejamkan kedua matanya masing-masing dan terhanyut dalam ciuman mereka.

Suara ponsel Kris yang berada di nakas menginterupsi romantisme mereka. Lian yang berwajah merah langsung mengalihkan wajahnya seolah menyembunyikan wajahnya. Ia menurunkan kakinya dan berjalan menuju box bayinya, meletakkan Ai yang sudah tertidur. Sementara Kris meraih ponselnya yang berbunyi dan keluar kamarnya.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Ya Tuhan! Apa yang kulakukan tadi?!” Aku memegangi bibirku sendiri dengan wajah yang masih memanas. Aku hanya menatap lurus lantai yang kuinjak. Tiba-tiba Ai menangis hingga aku kembali memeriksanya. Rupanya ia pipis. Aku mengambil celana Ai dan juga alas selimut untuk tidurnya. Kenapa aku tidak menggunakan popok? Aku sedang meminimalisir penggunaan popok karena popok dapat membuat kulit Ai iritasi. Aku juga mengambil bedak bayi yang terletak di meja riasku. Tak lupa aku juga mengambil kapas dan air hangat untuk membersihkan Ai.

“Mau kemana?” Tanya Kris saat aku berpapasan ketika membuka pintu kamar.

“Ai pipis, jadi aku mau ambil air hangat.” Ucapku membawa wadah kecil untuk mengambil air hangat.

“Biar aku yang ambil.” Ujar Kris yang mengambil wadah yang ada di tanganku. Sedangkan aku kembali ke kamar menghampiri Ai.

“Ai sayang… sudah dong nangisnya..aigoo.. wajahmu sudah merah tuh..” Aku menghapus air mata Ai dan berusaha mendiamkan anakku sambil menunggu Kris mengambil air hangat.

“Ini..” Kris memberikan air hangat itu padaku. Seolah mengerti apa yang akan kulakukan berikutnya, Kris mengambil kapas untuk membersihkan Ai dan memberikannya padaku. Perlahan, Ai pun mulai tenang. Hanya sesegukkannya lah yang terdengar. Aku memberikan bedak bayi pada Ai dan memakaikannya celana. Aku menggendongnya sebentar untuk menenangkannya sebelum membaringkannya di dalam boxnya.

“Dia sudah tidur…” Ujar Kris yang menatap Ai. Aku pun membaringkan Ai dan tak lupa aku meletakkan bantal guling milik Ai di sisi kiri dan kanannya.

“Ne…” Jawabku. Suasana di kamar ini kurasa sangat canggung. Oh Tuhan!

“Kau belum minum itu..” Kris mengalihkan pandangannya pada dua gelas minuman yang terdapat di atas nakas.

“Aku tidak suka..”

“Kau bisa meminum strawberry setelah kau minum itu..”

Aku melangkah memutari ranjang kami, dan berdiri di dekat nakas tersebut. Aku mengambil gelas yang berwarna merah muda itu dan menciumnya.

“Ah! Ini benar strawberry!” Gumamku seraya meminum juice strawberry.

“Tidak boleh!” Dia mengambil gelas itu dari tanganku.

“Aku mau ituuu~”

“Kau tidak boleh minum ini sebelum kau meminum itu.” Ia melirik minuman yang sangat aneh itu! Argh! Mamaaa kenapa tega sekali menyiksaku untuk meminum minuman ituuuuuu~~~

“Wǒ bùxiǎng (aku tidak mau)!” Tolakku.

Well, kau tidak bisa minum ini…” Ia kemudian berbalik dan berjalan keluar kamar.

“Chakkaman! Aku minum ini..” Cegahku. Daripada aku kehilangan juice strawberry-ku, lebih baik aku minum ini dulu.. Hiks! Menyedihkan!

“Okay..” Jawabnya singkat. Aku mulai mengangkat gelas obat itu. Ugh! Aku mual lagi. Argh! Kenapa juga dia harus berdiri di hadapanku? Ia seolah memastikanku meminum obat ini… Sigh~!

“Hurry..” Ujarnya.

Aku pun meminum itu. Seteguk, dua teguk bahkan saat aku nyaris menghabiskannya, aku ingin memuntahkan semua apa yang sudah kuminum.

“Jangan kau rasakan. Bayangkan yang kau minum strawberry ini…” Ucapnya menunjuk gelas strawberry yang dipegangnya. Bagaimana aku bisa membayangkan itu, sedangkan rasanya sangat pahit!

“Huwwaaa!! Manaaa?? Manaaaa??” Aku meminta juice strawberry-ku setelah aku menghabiskan obat itu.

“Aaahh~~ Strawberry-ku…” Aku membatin saat aku meminumnya.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Gege…. Kapan pulang?” Michelle menelpon Yixing yang sekarang berada di Jakarta.

“Sekitar tiga bulan lagi?” Ujar Yixing.

“Huuhh~~”

“Oh, apa kau sedang online? Cepat nyalakan skype-mu! Aku menunggumu..” Ujar Yixing yang kemudian memutus sambungan telepon.

“Apa dia bilang? Skype? Kyaaaa!!” Michelle langsung berlari ke kamarnya.

“Michelle, jangan lari-lariii…” Ibunya berteriak saat melihat Michelle berlarian menaiki tangga untuk ke kamarnya.

Brak! Suara pintu yang berdebam pun terdengar. Ibunya yang berada di lantai bawah hanya menggelengkan kepalanya.

“Kyaaaa~~!! Lama sekaliiii~~~!!!” Michelle mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja menunggu laptopnya menyala. Setelah menyala, ia kemudian membuka aplikasi skype. Tak beberapa lama ia menunggu, benar saja. Nama Yixing pun terlihat sedang menghubunginya.

“Gegeee~~” Michelle langsung berteriak saat melihat Yixing yang terlihat pada layar laptopnya.

“Hai..” Yixing melambaikan tangannya.

“Wǒ xiǎngniàn nǐ (aku rindu padamu)…” Ujar Michelle mengerucutkan bibirnya.

“Wǒ yě (aku juga)…Kau sudah mau tidur ya?” Tanya Yixing.

Michelle menggelengkan kepalanya. “Belum, kalau aku sudah mau tidur, kenapa tadi aku menelpon?”

“Ah! Aku lupa..” Yixing tertawa dan memperlihatkan lesung pipinya yang terdapat di pipi kanannya. Mungkin hal itu lah yang membuat Michelle tertarik pada pria yang ada di hadapannya.

“Kupikir kau sudah mau tidur, karena di sana pasti sudah jam sepuluh malam kan?”

Michelle mengangguk. “Memang di sana jam berapa, gege?”

“Di sini?” Yixing mengalihkan pandangannya pada salah satu sisi dan menyipitkan matanya. “Jam delapan malam..” Ujar Yixing kemudian yang kembali menatap camera pada layar laptopnya.

“Oh..” Michelle hanya membulatkan mulutnya.

“Apa saja yang kau lakukan di sana?”

“Tidak banyak..” Jawab Michelle. “Aku hanya diam di rumah, memperhatikan ponselku, menunggu gege yang menelpon. Tapi ternyata, tidak telepon juga…” Michelle menunjukkan wajah murungnya pada Yixing.

“Duìbùqǐ (maaf), pekerjaanku di Indonesia banyak sekali…”

“I know…” Ujar Michelle kemudian sambil memainkan ujung rambutnya. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. “Oh iya!” Pekiknya yang membuat Yixing yang sebelumnya mengamati berkas yang masih dipelajarinya langsung kembali mengalihkan perhatiannya pada camera yang terdapat di laptopnya.

“Wèishéme (kenapa)?” Tanya Yixing.

“Lian jiejie sudah melahirkan!” Seru Michelle.

“Oh ya?” Yixing terlihat antusias. “Bagaimana bayinya?” Tanyanya lagi.

“Kyaaaa~~ Gege tahu? Bayinya perempuan! Namanya…. Kalau tidak salah Ai Lien.. Kyaaa~~ Ai lucu sekali, ge!” Ujar Michelle. Ia kemudian meraih ponselnya yang terletak di samping laptopnya. Tangannya terus menyentuh layar ponselnya. “Ini, lihat ge! Ini waktu aku menjenguk jiejie ke sana dengan Arlyn..” Michelle menunjukkan fotonya dari ponselnya yang diperlihatkan di depan camera laptopnya. Di foto itu terlihat Michelle dan Arlyna yang sedang duduk di sisi kiri dan kanan ranjang rumah sakit, sementara Lian yang berada di ranjang ersebut sambil menggendong Ai anaknya.

“Ai lucu ya!” Seru Yixing. Michelle mengangguk.

“Aku gemas lihat Ai! Kyaaa~~ Bayi itu lucu yaaaa…”

“Kelak kau juga akan memiliki bayi, Chell… Yixing junior atau Michelle junior pasti akan lahir darimu.” Ujar Yixing tersenyum. Untuk sesaat, Michelle terlihat merona.

“Tapi… aku takut..” Lirih Michelle.

“Takut apa?”

“Aku takut seperti Qian jiejie… Lian jiejie bilang katanya, Qian jiejie sempat mengalami baby blues..”

“Baby blues?” Tanya Yixing. Michelle hanya mengangguk. “Semacam depresi pasca melahirkan?” Tanya Yixing lagi.

“Iya, katanya Qian jiejie itu waktu baby blues itu… Kyaaaa~~~ Aku tidak mau seperti jiejie!” Ujar Michelle mengacak-acak rambutnya.

“Kau hanya terlalu mengkhawatirkan itu, Chell..” Ujar Yixing kemudian.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Waktu yang berjalan tanpa henti, serta kesibukan Kris yang semakin menjadi karena pekerjaan beberapa proyeknya membuat Lian yang berada di rumah mengurus Ai sedikit kerepotan. Ibunya bahkan ibu mertuanya bergantian datang membantu Lian mengasuh Ai. Tak hanya itu, Michelle yang terkadang datang bersama Arlyna juga ikut bermain bersama Ai. Begitulah yang terjadi seperti saat ini. Michelle datang bersama Arlyna ke rumah Lian.

“Ommo! Kalian datang tanpa memberitahuku dulu!” Ucap Lian kaget.

“Tidak apa kan?” Ujar Michelle kemudian. “Ai mana?” Tanyanya lagi.

“Di kamar..” Terlihat Arlyna yang berjalan masuk mengikuti Michelle.

“Arlyn, kau tidak kuliah?” Tanya Lian.

Gadis itu menggelengkan kepalanya. “Anni, aku sedang libur eon..” Jawabnya. Ia kemudian memberikan sebuah paper bag pada Lian. “Ini… untuk Ai, eon..” Ujarnya lagi.

“Waah.. apa ini? Kau sampai repot-repot seperti ini..”

“Gwaenchana… Aku suka anak kecil, jadi waktu aku lihat ada yang cocok untuk Ai, aku langsung membelinya…” Ucap Arlyna. “Aku main sama Ai ya, eon…” Lian pun mengangguk.

Sementara itu di lain tempat, Kris terlihat baru saja keluar ruang rapat. Ia mengeluarkan ponselnya dari sakunya dan terlihat menelpon seseorang.

“Hello?” Terdengar olehnya suara dari tempat lain.

“Yes, what about our plan?” Tanya Kris.

“I remember that. I will wait you at Junggu Café..” Ujarnya.

Satu jam setelahnya, Kris benar-benar menemui orang yang sudah membuat janji semenjak beberapa minggu yang lalu. Christian. Ya, Kris saat itu menemui Christian untuk membicarakan masalah Lian. Lebih tepatnya Ai yang diakui Lian itu adalah anak dari Christian.

Saat Kris datang di café tersebut, rupanya Christian sudah menunggunya beberapa menit yang lalu. “Hi.. How’s day, huh?” Tanyanya yang menjabat tangan Kris.

“Nice enough..” Jawab Kris.

“Order first?” Tanya Christian. Kris hanya mengisyaratkan dengan membuka tangannya meminta Christian untuk memesan duluan. Sebenarnya Kris malas untuk menemui Christian mengingat Lian sangat dekat dengannya. Namun, demi kejelasan ayah dari Ai, ia menyingkirkan rasa egoisnya.

“Mocha latte..” Ujar Christian pada pelayan.

“Black coffee.” Ucap Kris. Setelah pelayan itu mencatat pesanan, Kris terlihat bingung bagaimana memulai pembicaraan.

Beruntung, pria di hadapannya adalah pria yang usianya jauh diatasnya dapat mengerti situasi, ia memulai pembicaraan. “So, apa yang membawamu untuk menemuiku?”

Well, sebenarnya aku tidak suka basa-basi. Aku ingin bertanya padamu, apa Ai anakmu?”

“Ai? Who is that?” Tanyanya.

“Kau tidak ingat atau kau pura-pura tidak ingat?” Tanya Kris sarkatis.

Seorang pelayan pun datang menghidangkan mocha latte dan black coffee pesanan pria tersebut. Untuk sementara mereka bungkam karena ada seseorang yang mengantarkan pesanan mereka. “Thanks, miss..” Ujar Christian.

“Aku sungguh tidak tahu siapa Ai…”

“Apa kau tidak tahu Lian hamil? Aku yakin kau pasti tahu tentang hal ini.” Ucap Kris kemudian.

“Lian hamil, aku tahu. Saat itu aku Lian menelponku sambil menangis. Awalnya aku tidak mendengar jelas suara Lian karena ia terus menangis. Yang kudengar hanyalah hamil, tidak mau, mati.” Terang Christian.

“Lalu?”

“Aku berusaha menelponnya balik, tapi ponselnya tidak aktif. Saat itu aku juga sedang berada di Perancis, aku tidak bisa langsung ke rumahnya, bukan? Dan… beberapa bulan kemudian, ia mengirimku e-mail, memberitahukan kalau dia hamil. Dia tidak menceritakan siapa ayahnya. Apa kau sendiri tidak menyentuhnya, huh? Kau mencintainya kan?” Christian melontarkan pertanyaan yang tidak diperhitungkan Kris.

“Tidak.” Jawab Kris singkat yang kemudian menyesap minuman yang dipesannya.

“Kau yakin? Atau di saat kau tidak sadar? Mabuk misalnya…” Kris meletakkan cangkirnya dan memandang keluar jendela café tersebut. Dia sedikit berpikir tentang pertanyaan Christian.

“I don’t know..” Jawab Kris akhirnya. “Tapi Lian mengaku kalau itu anakmu.” Lanjut Kris.

Christian hanya menyunggingkan senyumnya. “Bagaimana mungkin aku melakukannya dengan Lian? Aku berada di Perancis saat itu. Dan terakhir kami bertemu adalah sehari setelah pernikahan kalian. Awalnya aku menolak karena aku tidak ingin mengganggu kalian yang baru saja menikah. Tapi dia terus mendesakku ingin bertemu.”

“Orang ini terlihat jujur..” Batin Kris memperhatikan Christian bicara.

“Kalau kau tidak yakin, aku mau melakukan test DNA.” Tawar Christian.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Malam harinya, Kris baru saja tiba di rumah sekitar pukul sembilan malam. Terlihat Ai yang saat itu berada dalam gendongan Lian yang sedang bermain bersama puteri kecilnya. Kedua mata bayi itu menatap Kris yang saat itu baru pulang dan masih mengenakan kemeja kantornya. Sebuah jas ditenteng dengan tangan kanannya yang juga memegang tas kerjanya. Keinginan Kris untuk mencium kening bayi itu tidak bisa ditahannya. Namun, Lian mengalihkan gendongannya pada arah yang berlawanan. “Mandi dulu, sana!” Ucapnya.

“Ayolah, aku hanya mau menciumnya…”

“Kau itu baru dari luar.. kalau ada penyakit bagaimana? Kau mau Ai sakit?” Lian memang terbilang cerewet kalau sudah menyangkut urusan Ai.

“Haahh… baiklah…” Ujar Kris kemudian yang kemudian masuk ke dalam kamarnya.

Sementara Kris mandi, Lian juga baru saja mengganti celana anaknya karena pipis anaknya. Suara shower yang baru saja dimatikan, juga suara pintu kamar mandi yang terdapat di dalam kamar mereka terdengar oleh Lian. Seorang pria yang menggunakan t-shirt putih dengan celana selutut juga rambutnya yang masih basah dengan handuk yang melingkar di lehernya terlihat oleh Lian. Sesekali pria itu mengeringkan rambutnya sembarang dengan handuk yang berada di lehernya. Meskipun rambutnya yang masih sedikit basah itu terlihat acak-acakan, tapi menurut Lian, pria itu masih tergolong dalam kategori pria tampan.

“Apa aku sekarang sudah boleh mencium Ai?” Lian mengangguk sambil menyimpan perlengkapan anaknyanya. Kris kemudian berlutut di dekat box bayinya yang terbuka, mengusapkan jemari panjangnya pada wajah Ai dan mencium kening anaknya. Ia membelai wajah anaknya dengan rasa rindunya berpisah karena seharian bekerja. Bayi yang sudah tertidur itu sedikit terusik oleh ayahnya hingga menggeliat pelan. Seolah tidak mau mengganggu tidur nyenyak anaknya, Kris kembali menutup tepi box bayi tersebut dan menutupnya dengan kelambu agar anaknya tidak terkena gigitan nyamuk.

“Kau sudah makan?” Tanya Lian.

“Tidak usah.. Ini sudah malam..” Ujar Kris. Tanpa disuruh, Lian keluar kamar mereka. “Kau mau kemana?” Tanya Kris.

“Masak..”

“Masak? Malam-malam seperti ini? Untuk siapa?” Tanya Kris.

“Untukmu.” Ujarnya yang kemudian menutup pintu kamarnya perlahan.

Saat Lian memasak, Kris yang duduk di ruang makan sambil memainkan ponselnya dengan bosan, dapat melihat Lian sesekali dari ruang makan. Ia memperhatikan Lian yang memainkan peralatan dapurnya dari belakang.

“Apa kau sendiri tidak menyentuhnya, huh? Kau mencintainya kan?” Pertanyaan yang berasal dari Christian mengganggu pikiran Kris.

“Ck, apa yang kupikirkan?” Pikirnya kesal.

Merasa bosan menunggu di ruang makan, Kris meletakkan ponselnya di atas meja makan. Ia kemudian melangkah ke dapur menghampiri Lian. Seolah tidak dapat mengontrol tubuhnya, Kris memeluk Lian dari belakang yang saat itu sedang memasak. Ia melingkarkan tangannya pada perut wanita itu dan menenggelamkan wajahnya pada leher Lian.

“K..Kris?” Jelas saat itu Lian kaget karena Kris berani memeluknya tiba-tiba seperti ini terlebih lagi saat ia sedang memasak. Sontak wajahnya memerah karena tindakan Kris ini.

“Biarkan seperti ini..” Gumam Kris yang mengangkat wajahnya sesaat dan kembali membiarkan wajahnya berada di antara leher dan bahu Lian. Lian pun hanya menurut.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Sungguh aku kaget saat aku merasakan ada sepasang tangan yang melingkar di perutku. Terlebih lagi saat wajahnya yang berada di leherku. Oh Tuhan!

“Masakanku bisa hangus, Kris..” Ucapku.

“Aku tidak lapar…” Gumamnya. Dagunya yang ia letakkan di leherku membuatku geli saat ia menggerakkan rahangnya untuk bicara.

“Kris…”

Ia akhirnya melepaskan pelukannya, dan aku langsung buru-buru menghidangkan makanan untuknya. Tapi ia kembali menahanku dengan memegangi lenganku. “Bisakah kau untuk jujur padaku? Soal Ai…”

“Kau sebaiknya makan..” Ujarku mengalihkan pembicaraan.

“Lian, please…” Ia menatapku dalam seolah mengunci semua pergerakkanku.

“Ini sudah malam, kalau kau sudah selesai makan, segeralah tidur.” Aku kembali berdalih.

“Lian…”

Tiba-tiba suara Ai yang menangis terdengar dari kamar. Ai, kau menyelamatkan ibumu, nak!

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“GAWWWAAATTT!!!! Aku harus mengejar songsaenim itu!!” Seorang gadis berlari menuruni tiap anak tangga dengan beberapa makalah yang berada di tangannya.

DRAP! DRAP! DRAP! Suara langkahnya terdengar sangat kontras dengan suara tangga yang sangat sepi.

BRUK!

“Huwwaaa!!!” Arlyna sempat berpegangan pada pegangan tangga tersebut.

Sedangkan orang yang berada di hadapannya nyaris terjatuh ke depan. Pria itu menoleh ke belakang. “Yaaa!!! Kau lagi?!!! GAAAHH!!” Teriaknya.

“Yaakk!! Kenapa kau lagi?!! Kau ini selalu menghalangi jalanku!” Pekik Arlyna.

“Hey! Apa kau tidak punya mata, eoh?!!”

“Ah! Sudahlah! Aku tidak punya banyak waktu berdebat denganmu!” Ujar Arlyna mengibaskan tangannya dan kembali mengejar dosennya. Belum sempat ia mengejar dosen untuk memberikan tugasnya, tangan pria itu menahan Arlyna.

“Cepat minta maaf!”

“Mian!” Ucapnya.

“Kau niat minta maaf tidak sih?!! Tidak sopan sekali kau!” Ujar Baekhyun.

“Mwo?! Aku harus sopan padamu? Memang kau siapa, huh? Kau tidak lebih dari sekedar pengajar di club music! Lagi pula aku sudah minta maaf kan?!”

“Hey kau sopan sedikit!”

“Huh! Aku tidak punya banyak waktu meladenimu!” Arlyna mendorong pria itu dan tanpa ia sadari ia mendorongnya terlalu kuat hingga Baekhyun terjatuh dari tangga.

“O…Ommona!” Gadis itu menutup mulutnya dengan sebelah tangannya.

“Aaahh! Appo!!” Ringis Baekhyun yang menahan sakit pada pergelangan kakinya. Beruntung ia masih sempat memegang besi pada pegangan tangga tersebut hingga kepalanya tidak membentur lantai atau dinding yang ada. Namun, kakinya harus terkilir karena ia terjatuh dalam posisi kaki tertekuk.

“G..gwaenchana?” Tanya Arlyna hati-hati. Niatnya untuk mengejar dosen itu sudah menghilang begitu saja. Bahkan dia tidak lagi mempedulikan nilainya yang akan turun karena tidak ada tugas.

“Gwaenchana katamu?!! Yaa!! Kakiku terkilir!!”

“E.. eoddi appo?” Tanya Arlyna yang duduk di anak tangga tersebut samping Baekhyun. “Apa ini yang sakit?” Tanya Arlyna.

“Jangan sentuh!!” Baekhyun menepis tangan Arlyna saat akan menyentuh pergelangan kakinya. Baekhyun kemudian mengeluarkan ponselnya dan tampak menelpon seseorang. “Ahjussi, bisa ke blok tiga lantai dua? Aku tidak bisa berdiri, ahjussi…” Baekhyun menelpon supirnya yang masih menunggunya di pelataran parkir gedung universitas tersebut.

“Kau tidak bisa berdiri? Sini kubantu…” Ujar Arlyna yang membantu Baekhyun berdiri.

“Lepas!!” Baekhyun menarik tangannya kasar.

“Mianhae…” Lirih Arlyna.

“Aigoo! Tuan muda, ada apa?” Seorang pria yang lebih tua darinya datang dan langsung membantu Baekhyun berdiri.

“Neo…!!! Kau harus bertanggung jawab atas ini semua!! Kau harus ikut ke rumah sakit!!” Ujar Baekhyun.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Di kantornya, Kris yang selalu teringat ucapan Christian tidak bisa mengerjakan pekerjaannya dengan baik. Bahkan di meeting sekali pun beberapa kali dia terdiam memutar-mutarkan penanya dengan ketiga jarinya saat salah satu karyawannya presentasi tentang proyek baru perusahaannya.

“Bagaimana Kris sajang-nim?” Ujar karyawannya saat selesai mempresentasikan. Kris yang saat itu sedikit kaget karena interupsi anak buahnya, langsung membenarkan posisi duduknya.

Well, saya akan mempertimbangkan itu semua.” Jawab Kris. Terdiam memikirkan ucapan Christian tentang Lian, bukan berarti dia tidak mendengarkan dengan seksama tentang presentasi yang dibawakan oleh anak buahnya. Ia mendengarkan semuanya bahkan mengerti apa yang telah dijelaskan meskipun pikirannya terbagi.

“Meeting sampai di sini dulu. Oh, Ryou-ssi, tolong kau urus laporan terakhir.” Ujar Kris pada orang kepercayaannya yang berasal dari negeri sakura tersebut.

“Apa benar, Ai itu anakku? Apa benar aku melakukannya dengan Lian?” Pikirnya saat di ruangannya. Beberapa kali ia memijat pelipisnya sementara ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kerjanya yang nyaman.

“Aku harus memastikannya sendiri pada Lian dan melakukan test DNA tersebut.” Batin Kris yang kemudian menyambar jasnya, membuka pintu ruang kerjanya dan memakai jasnya sambil berjalan menuju basement, pelataran parkir mobil yang berada di gedung kantornya. Ia kemudian mengemudikan mobilnya menuju rumahnya padahal saat itu masih senja.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Ai sayang, kau harus jadi anak pintar ya.. Cepatlah tumbuh besar dan jadi puteri Mama yang cantik dan pintar…” Aku mengajak bicara Ai yang saat itu hanya menatapku. Sesekali ia tertawa menatapku.

“Aigoo, anak Mama ketawa yaa…” Aku menyentuh hidungnya, mendekatkan hidungku padanya.  “Nih ketawa yaa… cantik sekali sih Ai…” Aku menggesek-gesekkan hidungku padanya.

Berkali-kali aku menciuminya yang harum bedak bayi. Hhmm wangi ini memang tidak pernah membuatku bosan! Ai terlihat mengulurkan tangannya padaku seperti hendak minta digendong olehku.

“Ai mau gendong sama Mama?” Tanyaku. Aku sadar kalau Ai masih belum bisa bicara, tapi untuk rangsangan otaknya, aku terus mengajaknya bicara. Itu sepengetahuanku loh ya dari internet.

“Sini.. Mama gendong.. Habis itu Ai bobo yaa…” Aku menyentuhkan pipiku padanya. Ai menyentuhkan tangan mungilnya pada wajahku dan ia kembali tertawa. Murah senyum sekali anakku.

Aku menggendongnya beberapa saat dan benar saja ia tertidur dalam gendonganku. Aku kembali membaringkannya di dalam box bayi. Aku mencium keningnya, kedua pipinya, hidungnya, dan tak lupa aku mengecup bibir mungil Ai, anakku.

“Tiān nǎ (astaga)! Pegal sekali punggungku ini!” Gumamku sambil memegangi punggungku yang terasa pegal ini.

Cklek!

“Hng? Suara pintu?” Batinku. Tidak mungkin kan itu maling?

“Lian..??” Aku mendengar namaku dipanggil. Kris? Pulang jam dua siang seperti ini? Ada apa?

Cklek! Aku menoleh saat pintu kamar terbuka. Seorang pria berpostur tinggi dan memiliki rambut yang kecokelatan terlihat olehku saat ia membuka handle pintu kamar.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Lian, bisa kita bicara?” Kris menghampiri seorang ibu muda yang masih berdiri di samping box bayi milik Ai.

“Ne?” Tanyanya.

“Tidak di sini…” Kris menatap Ai yang tengah tertidur pulas.

“Wǒ míngbáile (aku mengerti)..” Jawab Lian singkat yang kemudian mengikuti Kris keluar dari kamar mereka.

“Tolong jawab jujur, Lian… Ai… apa dia anakku?” Tanya Kris yang langsung pada intinya.

Lian hanya memaksakan senyumnya. “Huh, kenapa kau berpikir demikian? Dia anakku dengan Christian..” Jawab Lian.

“Nǐ sāhuǎng (kau berbohong)!” Ujar Kris yang kali itu menatap kedua mata Lian lekat.

“Bohong? Untuk apa aku bohong, Kris? Itu… memang anak aku dan Christian..” Jawab Lian yang mengalihkan pandangannya pada titik lain.

Pada dasarnya, Kris tahu saat ini Lian sedang berbohong padanya. Kris terus mendesak wanita yang berada di hadapannya itu. “Baik, kalau kau beranggapan seperti itu.. Aku mau memastikannya sendiri. Aku mau Ai melakukan test DNA. Aku dan Christian juga akan turut serta.” Ujar Kris setenang mungkin, walaupun dalam batinnya ia sendiri terasa sakit saat Lian yang memungkiri bahwa Ai itu anaknya. Anak mereka berdua.

“Untuk apa? Untuk apa harus ada test DNA? Itu memang benar anakku dan Christian!” Dengan intonasi bicara yang meninggi, Lian tetap berdiri pada pendiriannya.

“Kenapa?!! Kenapa kau berbohong, Lian?!!” Rahang pria itu terlihat mengeras, kedua tangannya mengepal di samping tubuhnya.

“APA?!! AKU TIDAK BOHONG! KAU BUKAN AYAH DARI AI! APA SEBENARNYA MAU-MU, HAH?!” Bentak Lian.

“AKU HANYA INGIN AI MENGETAHUI AYAHNYA! AYAH KANDUNGNYA! APA AKU SALAH KALAU AKU INGIN MEMASTIKAN AYAH DARI AI, HAH?!!” Semua rasa marah yang ditahan oleh pria itu tidak sanggup lagi ditopangnya. Semuanya keluar begitu saja.

“AKU TIDAK INGIN AI MENGENALMU SEBAGAI AYAH! KARENA AKHIRNYA KITA JUGA AKAN BERCERAI KAN?!!!”  Bentak Lian lagi.

“APA KAU TIDAK MEMIKIRKAN AI, HAH?!! APA KAU TIDAK MEMIKIRKAN PSIKOLOGIS AI DISAAT DIA TUMBUH MENJADI SEORANG ANAK, HAH?!! PIKIRKAN ITU, LIAN!!! PIKIRKAN!!!”

Lian yang baru saat itu melihat Kris terlihat emosi, menunduk. Bahkan air matanya keluar begitu saja saat dirinya yang baru saat itu mendapatkan bentakan. Bahunya bergetar menahan isakkannya. Saat ia menunduk, ia melihat posisi kaki Kris yang saat itu sedikit bergeser mundur. Ia mencoba memberanikan dirinya untuk mendongakkan kepalanya menatap pria itu. Ternyata ia melihat pria dihadapannya itu sedang memegangi dadanya dengan sebelah tangannya. Nafasnya sedikit tersengal dan terlihat kesakitan.

“Kris, gwaenchana?” Tanya Lian yang berusaha memapah Kris. Namun, Kris menepiskan tangan Lian dan berjalan keluar rumahnya dan mengendarai mobilnya, entah kemana.

“Ada apa dengan tubuhku? Ada apa dengan jantungku, Ya Tuhan…” Batin Kris yang mengendarai mobil. Sesekali ia memegangi dadanya yang terasa sakit.

Sementara itu di rumah, Ai terlihat menangis keras. Lian yang menggendong Ai kebingungan karena baru kali itu Ai menangis begitu keras. Wajahnya kian memerah karena terus menangis. “Ai sayang… Wae?? Sudah, sayang… jangan menangis… maafkan Mama dan Papa ya… Maaf membuatmu kaget sampai bangun…” Lian memeluk dan menciumi Ai berkali-kali. Disaat Ai yang tidak kunjung diam, rasa khawatirnya pada Kris pun semakin menjadi. Berkali-kali ia menghubungi ponsel Kris, tapi selalu tidak aktif.

“Kris, kau kemana?” Lirih Lian sambil menggendong Ai berusaha menenangkan puterinya.

Melihat Ai yang tak kunjung diam menangis, Lian yang kebingungan pun mulai mengeluarkan air matanya. Terlebih lagi Kris yang tidak bisa dihubunginya membuat hatinya semakin kalut.  Kris pergi meninggalkannya di saat sakit. Bayangan Kris yang saat terakhir memegangi dadanya dan terlihat kesakitan selalu menghantui Lian yang merasa bersalah pada pria tersebut.

“Apa sebenarnya yang diderita Kris? Tuhan, benarkah aku mulai mencintainya?” Batin Lian.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Baekhyun-ssi, kalau berdasarkan hasil foto X-Ray, kaki anda mengalami subluksasi..”

“Subluksasi?” Tanya Baekhyun yang bersamaan dengan Arlyna karena ia menemani Baekhyun masuk ke dalam ruang dokter tersebut.

“Ne… Subluksasi adalah bergesernya cedera ankle yang disebabkan bergesernya sendi ankle…” Jelas dokter.

“Apa itu parah, uisa-nim?” Tanya Baekhyun.

“Ini tidak begitu parah. Hanya saja, ini butuh istirahat dan jangan banyak menumpu beban pada kaki kanan anda untuk mempercepat proses penyembuhan anda. Dan juga harus minum obat ini secara teratur…” Ujar dokter lagi yang menuliskan resep dokter dan memberikannya pada Baekhyun.

“Berapa lama kira-kira?” Tanya Baekhyun lagi menerima selembar kertas yang berisikan resep obat.

“Mungkin sekitar 3 sampai 6 minggu…”

“Oh, ne… gamsahamnida, uisa-nim…” Ujar Baekhyun yang kini menggunakan tongkat dan dibantu berjalan oleh Arlyna.

“Kau lihat sekarang?!!” Umpat Baekhyun kesal saat berjalan menuju apotek yang berada di rumah sakit itu dipapah oleh Arlyna.

“Mianhae…” Lirih Arlyna menunduk. “Ge..Geundae, aku akan bertanggung jawab sampai kau sembuh!” Lanjutnya kemudian.

“Dan itu berarti kau tidak bisa kuliah 3 sampai 6 minggu. Bagaimana, eoh?”

“Begitu kah? Uhm…” Arlyna terlihat berpikir.

“Itu sudah menjadi tanggung jawabmu kan merawat sampai sekitar dua bulan kurang!”

“Tapi kuliahku….”

“Makanya kau jangan sembarangan bicara, pabbo!” Baekhyun memberi jitakkan kecil pada kepala gadis itu.

“Appo…” Gumam Arlyna pelan.

“Kau memang harus bertanggung jawab! Kau harus membantuku selama aku mengajar di club music! Kau harus ke rumahku, sebelum aku mengajar di club dan kau harus menjadi kaki-ku!”  Ujar Baekhyun panjang lebar.

“Baiklah…. Tapi…” Arlyna terlihat berpikir mengalihkan pandangannya pada arah lain. “Eh, hey! Itu bukannya Kris oppa?” Tunjuk Arlyna.

“Eoddi?” Tanya Baekhyun. Arlyna langsung mengarahkan telunjuknya pada sebuah arah. Terlihat Kris dengan sebuah amplop berwarna putih di tangannya yang baru saja keluar dari ruang dokter bersama seorang dokter. Ia menjabat tangan dokter itu dan membungkukkan tubuhnya pada dokter paruh baya tersebut.

“Kris oppa sakit?” Tanya Arlyna pada Baekhyun.

“Setahuku, dia sehat-sehat saja… Atau mungkin Ai yang sakit?” Lanjut Baekhyun.

“Pabbo! Kalau Ai, kemana Lian eonni dan Ai, eoh?” Tanya Arlyna balik.

“Iya juga sih… Lalu..??”

“Sebaiknya kita lihat papan namanya saja..” Ujar Arlyna.

Arlyna yang membantu Baekhyun berjalan dengan tongkatnya pun kini sama-sama berdiri di depan pintu ruang dokter tempat dimana Kris baru saja keluar.

“Kardiologi?” Ucap Baekhyun dan Arlyna bersamaan saat melihat nama poliklinik tersebut.

“Poliklinik, jantung kan?” Tanya Baekhyun memastikannya pada Arlyna. Gadis itu pun mengangguk.

“Kris oppa? Jantung?” Arlyna melontarkan pertanyaan pada Baekhyun yang saat itu hanya mengangkat bahunya.

“Chakkaman! Dia pasti ke apotek!” Ujar Baekhyun.

Dan benar saja. Saat itu Arlyna dan Baekhyun, sengaja berjalan melewati Kris di depannya dan berpura-pura kaget. “Hyung??” Tanya Baekhyun. Kris yang saat itu sedang duduk bersandar dengan tangan yang bersedekap langsung duduk dengan tegap melihat Baekhyun dan Arlyna yang berada di rumah sakit yang sama.

“N.. ne?” Ujar Kris gugup.

“Hyung ke sini…. Ai sakit kah?” Tanya Baekhyun.

“Anni..”

“Atau Lian eonni sakit?” Desak Arlyna.

“Anni…” Jawab Kris lagi.

“Lalu?”

“Hm, itu…”

“Tuan Kris Wu?” Seorang apoteker memanggil nama pria berdarah China-Canada tersebut. Sementara Baekhyun dan Arlyna hanya menunggunya.

“IniCarvedilol, untuk membantu mengendalikan irama jantung yang tidak teratur. Ini Angioten, untuk merelaksasi pembuluh darah di jantung dan membantu aliran darah lebih mudah. Dan ini Digoxin, untuk meningkatkan kekuatan kontraksi otot jantung. Dan ini, antibiotiknya… Untuk aturan minumnya, sudah tertulis di sini..” Apoteker itu menjelaskan beberapa obat yang harus diminum Kris secara rutin. Baekhyun dan Arlyna yang mendengarnya di belakangnya saling bertanya saat mendengar penjelasan itu.

“Kris hyung…??” Baekhyun terlihat menuntut penjelasan dari Kris.

Pria yang bermarga Wu itu menghela nafasnya panjang. “Baiklah, akan kujelaskan…” Ujarnya kemudian.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Uhuk! Uhuk!” Baekhyun tersedak saat Kris mengatakan padanya kalau ia mengidap penyakit jantung. Arlyna spontan memberikan segelas air pada Baekhyun yang tersedak. Ya, mereka bertiga kini sedang makan malam di sebuah cafetaria dari rumah sakit tersebut.

“Myocarditis?!” Tanya Baekhyun lagi memastikan pada Kris. Kris yang saat itu meminum air mineralnya, kemudian meletakkan gelasnya dan menganggukkan kepalanya menanggapi Baekhyun.

“Oppa, Myocarditis itu apa?” Tanya Arlyna.

“Radang. Lebih tepatnya myocardium-ku yang mengalami peradangan.” Jawab Kris. Tak sedikit pun ia cemas dengan penyakit yang ia idap.

“Myocardium?” Tanya Arlyna lagi.

“Ne, lapisan tengah dinding jantung. Itu yang menyebabkan dadaku sering sakit dan juga irama jantungku yang tidak beraturan.”

“Chakkaman! Lian noona tahu hal ini?” Tanya Baekhyun. Kris pun kembali teringat dengan Lian yang terakhir ia meninggalkannya begitu saja. Kris merasakan detak jantungnya yang semakin cepat. Ia berusaha mengatur nafasnya agar irama jantungnya kembali normal. Pria itu juga perlahan meminum air mineral yang ada di hadapannya perlahan.

Setelah menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan, ia pun kembali mengutarakan kalimatnya. “Jangan beritahu dia hal ini. Termasuk orang lain. Hanya kalian berdua saja yang tahu.” Ujar Kris kemudian.

“Geundae… Lian noona kan istrimu, hyung..” Ujar Baekhyun.

“Aku tidak mau merepotkannya. Hey, bahkan itu akan membuatku tidak keren bukan, di depannya?” Canda Kris.

“Hyung, di saat-saat seperti ini kau masih bisa bercanda?”

“Hey, Baekki-ya… Manfaatkanlah hidup selagi bisa.”

“Hyung, jangan berkata seperti itu!”

“Apa aku salah bicara?” Tanya Kris yang tidak mengerti.

“Lalu bagaimana dengan Michelle eonni? Dia adik oppa kan? Masa tidak memberitahunya?” Tanya Arlyna.

“Kalau Michelle diberitahu, aku tidak menjamin hal ini tidak akan tembus ke Mommy… Jadi, kumohon… rahasiakan hal ini juga dari Michelle ya, Lyn..” Ucap Kris.

“Geundae…” Arlyna terlihat ragu.

“Please…” Ujar Kris lagi.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Aku mendengar deru suara mobil di depan. Aku membuka tirai sedikit untuk memastikan siapa yang datang. Mobil Kris!

“Ya Tuhan, terima kasih karena Kris pulang dalam keadaan baik-baik saja.” Batinku yang langsung membukakan pintu untuknya. Aku harus langsung minta maaf padanya.

Piik! Piik! Suara alarm lock mobil miliknya pun terdengar. Ia melangkah menuju teras dan menghampiriku.

“Kris, aku min…” Ucapanku tertahan karena tiba-tiba saja dia memelukku yang masih berada di ambang pintu rumah kami. Memelukku, mendekapku erat seolah menyembunyikanku di balik tubuhnya. Ia juga mengusap kepalaku dengan lembut. Aku bahkan mendengar detak jantungnya saat ini. Yang kutakutkan adalah, ia juga bisa merasakan detak jantungku. Aku kini ikut melingkarkan kedua lenganku di pinggangnya.

“Duìbùqǐ (maafkan aku)… Aku telah membentakmu, tadi…” Ujarnya kemudian yang melonggarkan pelukannya padaku.

“Ne… aku juga minta maaf padamu, Kris…” Ucapku tertunduk. Aku tidak mendapatkan jawaban apa-apa darinya. Apa dia benar-benar marah padaku?

Tak lama, ia kemudian merengkuh wajahku perlahan, menatap kedua mataku yang…. Itu cukup membuatku salah tingkah. Ia mendekatkan wajahnya padaku. Semakin dekat, semakin dekat, dan semakin dekat. Entah apa yang membuatku perlahan menutup kedua kelopak mataku. Aku merasakan ada sesuatu yang lembut yang terasa pada permukaan kulit di dahiku. Aku membuka kelopak mataku dan ternyata ia mencium keningku.

“Kurasa aku mulai jatuh cinta padanya…” Pikirku.

“Kris, kau sudah makan?” Tanyaku setelah ia mencium keningku.

“Belum..” Ujarnya.

“Kau mandilah dulu. Aku akan masak sebentar.”

“Ne…” Jawabnya kemudian.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Kalau seperti ini… Bagaimana aku bisa menjauh darinya? Bahkan dia sekarang mau memasak untukku.. Ah! Bùshì (tidak)! Kalau Lian terus bersamaku, dia pasti akan menderita karena dia harus mengurusiku yang berpenyakitan. Aku ingin dia bahagia. Kurasa Lian akan mudah mendapatkan pria yang lebih baik dariku. Tapi… Tuhan, aku sudah menyadari perasaanku. Aku mencintainya…” Kris berperang dengan pikiran dan hatinya sendiri. Logikanya menyatakan kalau ia harus berpisah dari Lian karena Lian pasti akan repot mengurusnya karena Ai juga lebih membutuhkan perhatian dari wanita itu. Namun, perasaannya menolak apa yang diperintahkan logikanya. Walaupun ia pria, dia masih memiliki nurani. Memiliki perasaan cinta untuk wanita itu.  Pria itu kemudian melanjutkan aktifitasnya untuk membersihkan dirinya sebelum menyantap makan malam yang dibuatkan Lian.

Di sela waktu memasaknya, lebih tepatnya saat wanita itu sedang menunggu makanan matang, ia kembali ke kamarnya untuk mengambil baju dalam lemari untuk Kris pakai malam ini. Tidak lupa juga ia memastikan Ai yang masih tertidur dengan pulasnya di dalam box bayinya.

“Ah, masih tidur…” Gumam Lian saat melihat Ai. Ia kemudian berjalan memutari box bayinya, melewati ranjangnya. Tapi langkahnya kemudian terhenti. “KYAA!! Hmmpfftt!!!!” Wanita dengan satu anak yang sempat berteriak itu langsung dibekap oleh pria yang berada di hadapannya. Lian berteriak karena saat ia mau keluar kamar mendapati seorang pria yang bertelanjang dada yang baru saja keluar kamar mandi. Belum sempat Lian berteriak terlalu lama, Kris langsung membekap Lian agar tidak membangunkan Ai.

“Ka… Kau… Kenapa tidak pakai baju?!!” Lian memalingkan wajahnya dan menutupinya dengan sebelah tangannya.

“Apa kau pikir ada orang yang mandi dengan masih memakai baju? Kupikir di kamar tidak ada siapa-siapa, jadi aku langsung keluar kamar mandi saja untuk mengambil baju.” Ujar Kris.

“I..Itu.. ba..bajunya.. di sana…” Tunjuk Lian pada ranjangnya tanpa mengalihkan pandangannya. Ia tetap tidak mau melihat Kris.

“Kau menyiapkannya?”

“Hhm..” Jawab Lian singkat. “Cepat pakai baju!” Sambung Lian lagi.

“Ck, kau ini aneh… Aku hanya tidak memakai atasan saja, kenapa kau sampai berteriak seperti itu. Lagi pula, aku ini suamimu, Lian..”

“Sejak kapan ia menganggap dirinya sebagai suami?” Batin Lian. Ia kemudian teringat dengan masakannya. Ia langsung keluar kamar dan berlari menuju dapur. Beruntung makanan itu tidak hangus dan bisa dimakan. Lian pun menatap peralatan makan di atas meja dan menyajikan makan malam tersebut.

“Aku tidak akan mengatakan padanya kalau aku ini sebenarnya sudah makan..” Batin Kris yang berjalan menuju ruang makan.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Sajang-nim… ini laporan terakhir untuk bulan ini di Jakarta.” Ujar salah satu pegawai yang berada di bawah pimpinan Yixing. Hingga malam pukul sepuluh Waktu Indonesia Barat pun, Yixing masih berada di gedung perkantoran yang berada di daerah Sudirman Jakarta.

“Ne, gamsahamnida…” Ujar Yixing. Ya, saat berangkat dari Seoul, Yixing berangkat dengan lima rekan lainnya untuk mengurusi pekerjaannya yang berada di Jakarta, Indonesia.

“Jangan terlalu lelah… Kalau gege sakit bagaimana?” Ucapan itu selalu teringat dalam benak pria dengan lesung pipi itu. Ucapan dari kekasihnya yang berada di Seoul.

“Haah… aku jadi rindu dengannya…” Keluh Yixing yang menyandarkan tubuhnya pada sandaran bangku kerjanya. Kedua tangannya terlipat di belakang kepalanya dengan pandangan yang menerawang menatap langit-langit ruang kerjanya. “Atau aku menghubungi lewat skype? Ah, Bùshì (tidak)! Pasti di sana sudah tengah malam. Lagi pula aku harus mengerjakan ini semua agar aku tidak menyia-nyiakan waktu.” Ia memijat pangkal hidungnya untuk menghilangkan rasa lelah yang menghampirinya.

Berkali-kali ia mencoba focus untuk mengerjakan pekerjaan kantornya, ia tetap tidak bisa berkonsentrasi. Akhirnya ia mencoba keluar ruang kerjanya dan menghirup udara yang berada di luar ruangannya. Ia menuju ruang pantry kantornya yang hanya beberapa ruangan yang dalam keadaan menyala.

“Mr Yixing, apa anda mau dibuatkan kopi?” Salah satu rekannya-Jason-yang berasal dari Indonesia menyapanya dalam bahasa Indonesia.

“Ah, tidak terima kasih… Saya hanya mau minum air mineral saja..” Ujar Yixing yang mengambil sebuah cangkir dalam lemari penyimpanan gelas dan berjalan menuju sebuah kulkas dalam pantry tersebut untuk mengambil segelas air yang akan diteguknya.

Pria itu kemudian menyandarkan tubuhnya pada counter yang terdapat dalam pantry tersebut. Perlahan ia meminum air yang berada di gelas dalam genggamannya, sementara rekannya masih membuat kopi untuk menemaninya lembur.

“Saya mau bertanya bolehkah?” Ujar Yixing.

“Silahkan, Mr..” Ujarnya sopan.

“Berapa lama kau kerja di perusahaan ini?”

“Belum lama, Mr… Sekitar tiga bulan yang lalu.”

“Oh.. Apa kau suka? Maksudnya… kau suka bekerja di sini?”

“Ya, karena sebenarnya perusahaan ini juga termasuk salah satu motivator saya dalam hidup ini. Karena saya masih harus bertanggung jawab atas dua adik saya yang masih sekolah juga orang tua saya yang sudah berumur.”

“Wah, hebat juga kau ya! Itu berarti kau jadi tulang punggung keluarga. Betapa bangganya orang tuamu yang memiliki anak sepertimu, Jason..” Yixing selalu menghargai orang yang bekerja dengannya.

“Tidak juga, Mr… saya belum bisa apa-apa… masih banyak target saya yang belum tercapai untuk keluarga saya..” Ujarnya merendah.

Yixing hanya tersenyum. “Apa kau tinggal di Jakarta?”

“Saya menyewa sebuah rumah kecil di Jakarta. Tapi semua keluarga saya berada di kota lain.” Jelasnya.

“Oh ya? Dimana?” Tanya Yixing antusias. Rasa ingin tahunya tentang Indonesia memang besar. Menurutnya, tidak ada salahnya jika ia mengetahui beberapa kota lain di Indonesia selama ia berada di negara ini.

“Keluarga saya semua berada di Tasikmalaya.”

“Eoh? Himalaya?” Tanya Yixing bingung.

Pria itu hanya tersenyum, menahan tawanya. “Tasikmalaya, Mr.. Bukan Himalaya..”

“Apa itu bukan di Jakarta?” Tanya Yixing lagi.

Jason menggelengkan kepalanya. “Itu di Jawa Barat, Mr Yixing…”

“Jawa Barat? Apa itu jauh dari Jakarta?” Tanya Yixing lagi.

“Cukup jauh, Mr… mungkin akan memakan waktu sekitar lima jam.”

“Zhēn de ma (benarkah)?!” Yixing terlihat sangat terkejut. “Perjalanan udara? Lima jam?”

Jason terlihat mengernyit. “Tidak, tidak… Dengan mobil. Tidak dengan pesawat.”

“Oh… I see…” Ujar Yixing kemudian. “Apa kau tidak keberatan menemani saya untuk melihat Tasik itu sekitar bulan depan? Yaa… kau tahu kan, Jakarta sedikit membuatku jenuh beberapa bulan di sini..”

“Sure.. Suatu kehormatan bagi saya untuk bisa mengenalkan Tasik pada anda… Tapi, di sana sangat panas. Apa Mr tidak apa-apa?”

“Méiguānxì (tidak apa-apa)… Oh, bagaimana kalau Jumat ini?“

“Yes, Sir!” Ujar Jason.

“Baiklah, silahkan lanjutkan pekerjaanmu, Jason!” Ujar Yixing menepuk bahu pria itu dan kemudian keluar dari pantry.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Pagi hari yang cerah memaksa seorang gadis bersiap dengan malas. Saat ini dia ada latihan music di clubnya. Sebagai pianis, memang jiwa seninya tidak luntur. Tapi hal yang membuatnya malas untuk ke club itu adanya Baekhyun, pria yang menjadi korban saat ia tergesa-gesa mengejar dosen ekonominya.

“Cepat turun, aku sudah di depan…” Gumam Arlyna saat membaca pesan text dari Baekhyun. “Ishh~~ Apa-apaan dia?! Makin seenaknya saja dia!” Umpat Arlyna yang langsung menyambar tasnya.

Sebagai mahasiswa ekonomi hari ini memang dia tidak ada kuliah. Tapi ia harus ke kampus untuk kegiatan club musiknya bersama Baekhyun yang mengajar piano di sana. Dan karena kemahiran gadis itu juga, Arlyna ikut membantu mengajar piano juga. Arlyna kini tinggal terpisah dari orang tuanya yang berada di distrik Apgujeong. Gadis itu rela meninggalkan segala kemewahannya demi hidup mandiri. Ia bahkan menolak semua uang yang diberikan orang tuanya secara cuma-cuma. Ia lebih memilih untuk bekerja, memulai pekerjaan dari nol, tidak keberatan jika ia harus bekerja sebagai pramusaji di sebuah café.

“Kau ini lama sekali sih!” Protes Baekhyun.

“Diamlah, yang penting aku ada kan?” Balas Arlyna yang masuk ke dalam mobil Baekhyun dan duduk di samping Baekhyun di kursi belakang mobil sedan tersebut.

“Apa nanti sore kau ke café lagi?” Tanya Baekhyun.

“Ne..” Jawab Arlyna singkat sambil membuka halaman demi halaman buku kuliahnya. Terbilang sangat kutu buku, gadis ini selalu membawa bukunya dan membaca pelajarannya di sela waktu senggangnya.

“Economi financial…” Baekhyun membatin membaca buku yang dibaca oleh Arlyna. Tanpa gadis itu sadari, Baekhyun terus memperhatikannya.

“Kenapa seolah dia berada di dalam dunianya sendiri? Kenapa seolah dia membuat dinding yang menghalangi orang lain mengganggunya?” Baekhyun memperhatikannya sambil memperhatikan Arlyna dari atas hingga bawah.

“Apa yang kau lihat, eoh?!!” Arlyna menoleh pada pria itu dan membuatnya terkejut.

“Hah?! Mwo??” Ujar Baekhyun yang kaget.

“Kyaaa!! Dasar kau mesumm!!” Arlyna memukuli Baekhyun dengan buku tebal di tangannya. Tidak peduli kalau ada supir Baekhyun yang sedang menyetir.

“Yaak!! Kau!! Aww! Yaa! Hey! Hentikan!” Baekhyun terus mengelak dari gadis itu. “Hey! Aku hanya bingung, kenapa buku yang terlihat sangat memuakkan itu sangat menarik untukmu?” Baekhyun melanjutkan ucapannya dan membuat Arlyna menghentikan memukuli Baekhyun.

“Buku ini?” Arlyna memandangi bukunya sejenak. “Aaaa!! Buku ini adalah duniaku! Saat kau membaca ini, seolah buku ini menjadi candu, kau tahu! Kau akan ketagihan membaca ini.”

“Mwo? Apa dia gila? Buku setebal itu dan serumit itu dibilang candu? Mungkin otaknya tidak waras karena terlalu sering membaca buku financial itu.” Pikir Baekhyun.

“Wanita yang aneh…” Gumam Baekhyun pelan.

“Apa kau bilang?!”

“Hah? Annio… gelas yang aneh…” Tunjuk Baekhyun pada luar jendela saat ia melihat orang yang berjualan mug dan gelas.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Tak terasa kini Ai sudah berusia enam bulan. Ai semakin sering tertawa padaku dan ia lebih sering menendang-nendangkan kakinya dengan riang. Ia juga sekarang sudah mulai bisa membalikkan tubuhnya. Tapi karena dia masih belum bisa merangkak, dia selalu menangis saat ia telungkup. Aku baru menyadari kalau usia pernikahanku dengan Kris sudah hampir dua tahun. Dan itu berarti semakin dekat hari perceraianku. Tapi, kenapa ia tidak mengurusnya juga? Kutolehkan pandanganku pada jam dinding yang terus mengeluarkan suara detik waktu. Ternyata sudah pukul lima sore.

“Waah… sudah waktunya mandi yaaa… Ai mau mandi nihh..” Aku kembali mengajaknya bicara dan menggendongnya. Aku mengisi bak mandi Ai yang bergambar Minnie Mouse dengan air hangat sambil menggendong Ai. Tak lupa, aku mengambil sabun mandi Ai dan juga shampoonya. Ai terus bergerak dalam gendonganku. Ini selalu ia lakukan saat ia mau mandi. Sepertinya dia senang dengan air. Dia pasti senang main airnya saja. Aku perlahan membasuh tubuh Ai yang sudah tanpa pakaian itu dengan air hangat. Aku perlahan mulai menyabuni tubuhnya. Ia terus memandangiku sambil tertawa. Kakinya terus bergerak di dalam bak mandinya.

“Wah, Ai lagi mandi ya?” Aku menoleh saat aku mendengar suara berat itu dari belakangku. Ai pun mengalihkan pandangannya pada Kris yang berdiri di belakangku. Ia kembali menggerakkan kakinya saat aku menyabuni kakinya. Entah karena ia geli atau karena senang Kris datang.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Kris kemudian menggulung lengan kemeja kantornya dan berkata. “Papa ikutan dong…” Kris kemudian berjongkok di samping Lian. Pria itu ikut menyirami Ai perlahan dengan air pada kaki anaknya. Ai kembali menggerakkan kakinya hingga air yang terdapat di bak mandi miliknya terciprat mengenai Kris.

Tiān nǎ (astaga)! Apa Papa disuruh mandi juga kah?” Kris menatap Ai seolah ia kaget karena ulah anaknya. Selesai membasuh tubuh Ai, Lian mengangkat tubuh Ai dari dalam bak mandi miliknya.

“Biar kugendong..” Ujar Kris yang membuka tangannya untuk menerima Ai di gendongannya sementara Lian mengambil handuk milik Ai yang tergantung.

“Kris, tangannya..” Lian sangat berhati-hati saat menghanduki Ai yang berada dalam gendongan Kris. Tapi tiba-tiba Kris merasa tangannya basah dan seperti ada yang mengalir di tangannya dan mengenai perutnya karena Ai menyandar padanya.

“Wèishéme (kenapa)?” Tanya Lian yang mendapati Kris yang terdiam tiba-tiba.

“Ai…dia sepertinya pipis…” Ujar Kris yang mengangkat Ai sedikit. “Assh~ Tiān nǎ (astaga), Ai… Kenapa Papa dipipisin?” Kris mendesah kesal. Sementara Lian hanya tertawa melihat tingkah Ai.

“Itu berarti Papa bau ya, Ai… Papa harus mandi yaa…” Lian kemudian mengambil Ai dari gendongan Kris dan kembali membawanya ke kamar mandi untuk dibersihkan lagi.

“Kris, bisa tolong alasi tempat tidur dengan handuk Ai yang lain?” Ujar Lian dari kamar mandi.

“Zài nǎlǐ (dimana)? Handuknya dimana?” Tanya Kris yang mencuci tangannya di wastafel kamar mandinya..

“Lemari, Kris..” Kris pun kemudian mengambil handuk yang berwarna pink itu dan mengalasi ranjangnya dengan handuk Ai. Tempat Ai akan berbaring. Lian pun kemudian datang sambil menggendong Ai dan membaringkan Ai di atas handuk yang sudah mengalasinya. Ia kembali mengeringkan tubuh Ai dengan handuk itu.

“Kau tidak mandi?” Tanya Lian pada Kris yang saat itu duduk di samping ranjang dan bermain dengan jemari Ai yang mungil.

“Nanti..” Jawab Kris yang tersenyum pada Ai. Lian pun memberikan bedak pada tubuh Ai untuk menjaganya agar tetap wangi.

“Hhhm.. Ai sudah wangi ya nih..” Kris menghirup aroma strawberry yang berasal dari bedak yang dipakai Ai. Lian juga memakaikan pakaian untuk Ai.

“Nah, rapi deh….” Ujar Lian yang menirukan suara anak kecil seolah Ai lah yang bicara. Lian kemudian duduk, memangku Ai, memainkan tangan mungil itu. Melihat Ai yang sudah rapi, Kris baru lah mandi. Saat Kris mandi, Lian yang sambil menggendong Ai, kini berdiri di depan lemari.

“Menurutmu, baju Papa yang mana?” Tanya Lian pada Ai. Ai hanya bergerak-gerak dalam gendongan Lian. Kakinya terus menendang-nendang.

“Yang ini?” Tanya Lian pada Ai sambil memegang t-shirt berwarna hitam milik Kris. Ai hanya bergerak pelan dalam gendongan Lian.

“Atau yang ini?” Tanya Lian lagi sambil menunjukkan t-shirt berwarna abu-abu milik Kris pada Ai. Ai bergerak dengan semangatnya bahkan kakinya juga ikut menendang dan tanpa sengaja mengenai perut Lian.

“Baiklah, abu-abu…” Ujar Lian kemudian.

“Kris~ Pakaianmu di atas tempat tidur ya..” Lian bicara tepat di depan pintu kamar mandi.

Cklek! Pintu itu terbuka dari dalam. Pria yang masih terlihat sangat basah itu menyembulkan kepalanya dan menyembunyikan tubuhnya di balik pintu kamar mandinya.

“OMMO!” Lian yang kaget langsung berbalik badan.

“Kau bilang apa?” Tanya Kris.

“Pa…pakaianmu di atas tempat tidur…” Jawab Lian gugup.

“Oh.. ne… anything else?” Tanyanya lagi.

“Bùshì (tidak), makanan juga sudah siap.” Ujar Lian yang kemudian melangkah pergi..

“Allright..” Jawab Kris yang kemudian kembali menutup pintu kamar mandi dan melanjutkan membersihkan tubuhnya.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“See, Ai.. Papa beli mainan baru untuk Ai…” Setelah makan malam, Kris masuk kekamar dengan sebuah plastic putih yang terbilang besar. Ia kemudian ikut menelungkup di atas tempat tidur kami seperti Ai, berhadapan dengannya. Sedangkan aku, hanya memperhatikan mereka berdua dengan bantal yang kujadikan tumpuan siku-ku. Ai menggerakkan tubuhnya dengan semangat dan memukul tempat tidur dengan tangan mungilnya. Sesekali, ia memasukkan tangannya ke dalam mulutnya.

“Hey, tidak boleh seperti itu…” Kris menarik pelan tangan Ai yang hampir masuk ke dalam mulutnya. Ia kemudian bangun dari posisinya dan mengambil plastic yang ia bawa. Ia mengeluarkan beberapa boneka dari dalam plastic itu dan juga rattle untuk Ai.

“Kris, bukankah untuk memasang rattle harus di box bayi?” Tanyaku.

“Tidak juga… Aku belikan yang bisa dipakai dimana saja..” Ia kemudian terlihat merangkai beberapa rattle dan menyilangkannya hingga kurasa seperti tudung saji. Kkkkk..

“Ya! Menu hari ini adalah, Ai!” Seru Kris kemudian.

“Ai is our main course tonight?” Tanyaku.

“Yup!” Dan tak beberapa lama, Ai pun menangis. Entah karena rattle yang mengganggunya atau Ai yang mengerti pembicaraan kami. Hahaha…

“Kyaaa!! Kau tanggung jawab!” Seruku.

“Hah? Kok aku?” Tanyanya menunjuk diri sendiri.

“Kau bilang seperti itu, makanya Ai nangis.”

“Kau juga ikut menimpali..”

“Awalnya kan kau yang bilang Ai itu seperti makanan.”

“Huwwweeeee~~~ Huuwwweee~~~~” Ai semakin keras menangis. Akhirnya aku yang duduk bersila di atas ranjang kami pun menggendong Ai dan memangkunya. Tapi ia tidak kunjung diam.

“Ai, kalau nangis terus, mainannya, Papa ambil lagi, boleh?” Ia kembali telungkup dan memainkan kaki Ai yang menggantung. Sesekali ia mencium kaki mungil itu. Tak hanya itu, ia juga menciumi perut Ai. Karena mungkin Ai merasa geli, Ai menendang-nendangkan kakinya.

“Akh! Papa ditendang?” Kkkk… Rasanya aku ingin terbahak-bahak melihat ekspresi Kris yang benar-benar sangat menjiwai kalau ia benar merasa sakit saat Ai menendangnya. Terlebih lagi saat Kris yang memegangi bahunya yang terkena tendangan Ai. Ai pun tertawa karena Kris. Dia berhenti menangis.

“Anak Papa pintar!” Kris mengusap kepala Ai dan mencium keningnya.

“Kau lihat? Ai sangat patuh padaku. Ai benar anakku, kan?” Pertanyaan itu kembali ia lontarkan padaku.

“Bisakah kau tidak bertanya hal itu? Kau tidak lihat ada Ai di sini?” Sergahku. Dia pun diam dan memilih bermain bersama Ai.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Di ranjang tersebut kini terdapat sepasang suami istri yang kini terbaring dengan seorang bayi mungil di tengah mereka. Seorang bayi yang bernama Wu Ai Lien tertidur lelap diantara kedua orangtuanya. Dengan selimut bayi yang berwarna merah, bayi itu sudah menjelajahi alam mimpinya meninggalkan kedua orang tuanya yang masih terjaga. Lian masih terlihat betah untuk mendekap puterinya. Sedangkan Kris terlihat membaca buku dengan lampu nakasnya yang masih menyala di sampingnya.

“Kris…”

“Hm?” Gumam Kris tanpa mengalihkan pandangannya pada buku bacaannya.

“Kenapa kau belum mengurusnya?” Tanya Lian.

“Mengurus apa?”

“Perceraian kita…” Ujar Lian mengelus pipi anaknya.

“Aku sibuk..” Dalih Kris.

“Apa kau mau aku yang mengurusnya?” Tanya Lian. Kris tidak menjawab apa pun. Dia menutup bukunya pada halaman tertentu, mematikan lampu nakasnya, dan membaringkan tubuhnya di samping Ai dan memunggungi anak dan istrinya.

“Baiklah, nanti aku akan mengurusnya untuk perceraian kita…” Ujar Lian lagi.

“Kenapa kau tidak mengerti, Lian?” Batin Kris yang mengacuhkan Lian.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Trak! Seorang gadis meletakkan secangkir capuchino di atas meja café tempat ia bekerja. “Mau sampai kapan kau menungguku, Byun Baekhyun yang terhormat?!! Argh!!!”

“Sampai kau selesai. Bukankah aku sudah mengatakannya?” Tanya Baekhyun.

“Pulanglah..”

“Kau mengusir pelanggan café ini?” Baekhyun kemudian berdiri, mengambil tongkat yang membantunya berjalan dari sofa tempat ia duduk di café tersebut.

“Oh, baguslah kau akhirnya pulang juga.” Ujar Arlyna.

“Siapa yang bilang aku mau pulang?”

“Loh, bukannya kau mau pulang?” Tanya Arlyna tidak mengerti.

“Aku mau bertemu manager-mu, menyuruhnya dia memecatmu karena kau mengusir pelanggan café nya.”

“Mworago?!! Andwaeee~~~” Arlyna menarik lengan Baekhyun.

“Cepat minta maaf!” Baekhyun berdiri dengan angkuhnya dengan kedua tangan yang terlipat di depannya. Seolah ia melupakan sejenak kakinya yang masih dalam tahap penyembuhan. Ya, ini sudah genap sebulan Arlyna bersamanya karena rasa tanggung jawabnya. Sebenarnya, Baekhyun saat ini sudah mampu berjalan tanpa menggunakan tongkat atau pun kursi roda. Namun, karena ia ingin lebih lama lagi bersama gadis itu, ia sengaja menyembunyikannya.

“Ppali~!” Ujar Baekhyun lagi yang membuat Arlyna menunduk.

“Mian..”

“Kau niat minta maaf tidak sih?”

“Mianhae… Mianhamnida Baekhyun-ssi~~” Ujar Arlyna membungkukkan badannya.

“Kalau bukan karena aku bekerja di sini, sudah kuhajar pria ini!” Umpat Arlyna dalam batinnya kesal.

“Kalau kau menyesal, bagaimana permintaan maafmu itu diganti dengan ini saja?” Baekhyun merengkuh wajah gadis itu dan mengusap bibir gadis itu dengan ibu jarinya.

“Kyaaa!! Mesuummm!!” Arlyna menginjak kaki kiri Baekhyun dan berlari meninggalkan pria yang tengah meringis kesakitan itu.

“Akh!! Sigh~! Kenapa dia hobi sekali menyakiti kakiku?!!” Baekhyun terduduk dan memegangi kakinya.

Walaupun merasa kesakitan karena ulah Arlyna, dia masih menunggu gadis itu bekerja. Hingga akhirnya tepat pukul delapan malam, gadis itu selesai dengan pekerjaannya.

“Sigh~ Menyebalkan! Dia benar-benar masih menungguku…” Dengus Arlyna kesal. Saat gadis berambut panjang ikal itu menghampirinya, tapi ternyata pria yang sedari tadi menunggunya terlihat sedang menelpon seseorang.

“Mworago?!” Pekiknya. Tanpa mengetahui isi pembicaraan itu, Arlyna kini sudah berdiri di samping pria itu.

“Oh!” Pria itu sedikit memundurkan langkahnya saat mendapati Arlyna yang sudah berdiri di dekatnya.

“Kenapa dia datangnya seperti makhluk astral, eoh?” Pikir Baekhyun.

“Baiklah, kalau begitu aku ke sana…” Putus Baekhyun yang kemudian mematikan ponselnya.

“Kajja…” Ujar Baekhyun yang langsung berdiri. Ia lupa dengan keberadaan tongkatnya yang membantunya berjalan.

Arlyna yang terkejut secara spontan mengatakan sesuatu. “Kau sudah bisa berjalan tanpa tongkat?” Baekhyun pun membeku mendengar ucapan Arlyna.

“Celaka! Aku bisa ketahuan.” Batin Baekhyun.

“Aaa… Aww!! Aigoo… ternyata masih sakit… Akh!” Rintih Baekhyun yang bertopang pada meja dengan sebelah tangannya.  Melihat itu, gadis yang berdiri tak jauh darinya mengernyitkan dahinya bingung.

“Tadi dia terlihat biasa-biasa saja. Kenapa sekarang tiba-tiba sakit?” Pikir Arlyna.

“Hey, kau! Kenapa kau diam saja, eoh?! Ambilkan tongkat itu!” Ucapan Baekhyun membuyarkan pikiran gadis itu.

“Kau bohong ya?” Ujar Arlyna pada Baekhyun sambil memberikan tongkat jalannya.

“Apa maksudmu, eoh? Sigh~~ Appo…” Erang Baekhyun.

“Jeongmal?” Arlyna menendang pelan pergelangan kaki Baekhyun yang sempat mengalami cedera.

“Appoo~!!! Yaa!! Yeoja gila! Apa yang kau lakukan?!!” Acting Baekhyun saat ini benar-benar meyakinkan Arlyna yang terlihat polos.

Saat dalam perjalanan, Arlyna terlihat bingung karena jalan yang ia lewati bukanlah jalan menuju apartmentnya.

“Yaaa!! Kau mau menculikku ya?!” Arlyna lagi-lagi memukuli Baekhyun, tapi kali ini dengan tangan kosong.

“Ck! Bisakah kau hentikan kebiasaan burukmu itu?”

“Kau jahat! Kemana kau membawaku pergi, eoh?!!! Yaakk!! Hentikan mobilnyaa!!! Ahjussi, hentikan mobilnyaa!!” Arlyna bicara pada supir yang menyetirkan mobil Baekhyun.

Baekhyun yang merasa terganggu karena Arlyna pun memasang earphone-nya untuk mendengarkan music. “Yaakk!! Mesum! Cepat berhenti! Atau aku…”

“Loncat?” Tanya Baekhyun melepas sebelah earphonenya. “Loncat saja kalau berani..” Lanjut Baekhyun yang tersenyum meremehkan.

“Argh!!!!” Arlyna akhirnya tidak tahan dengan emosinya. Dan akhirnya ia mengacak-acak rambut Baekhyun dengan kesal.

“Yaakk!! Yeoja gilaa!!!”

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Apa yang terjadi pada kalian? Kenapa baju kalian kusut sekali?”

“Sudahlah, Chell… tadi kau menyuruhku ke sini ada apa sih?” Baekhyun mengembalikan topic pembicaraan.

“Ah! Jangan-jangan kalian……” Kedua mata Michelle memicing menatap keduanya bergantian.

“Yak! Eonni! Jangan sembarangan! Aku tidak mau dengannya!! Ish~! Seperti tidak ada pria lain saja!” Teriak Arlyna.

“Loh? Memang aku bilang apa? Ohh… atau kau yang berpikiran mesum yaaaa…” Ledek Michelle pada Arlyna.

“Issh~ Aku pulang saja!”

Michelle menahan tangan Arlyna. “Kau begitu saja merajuk… Huuh!”

“Biarkan saja, Chell.. Kalau dia mau pulang, biarkan saja… Cih!” Umpat Baekhyun.

“Yak!! Kau ini!!” Michelle menginjak kaki Baekhyun yang baru saja sembuh dari cedera.

“Aaaa!!! Appooo!!!” Teriak Baekhyun.

“Appo? Bukannya sudah lama kau sem… Hmppfftt!!” Ucapan Michelle tertahan karena Baekhyun yang membekap mulutnya.

“Ck, sudah kubilang jangan kau katakan itu…Arra?” Bisik Baekhyun pada gadis itu. Michelle pun mengangguk.

“Ck, kalian ini… sudahlah!” Arlyna membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi.

“Haahh~~ Sepertinya besok pagi aku akan melihat berita penculikkan… atau perampokkan? Haahh… semakin marak saja kasus seperti itu…” Baekhyun berceloteh untuk mencegah pulangnya Arlyna. Gadis itu menghentikan langkahnya. Dalam pikirannya, ia bergidik ngeri karena ucapan Baekhyun.

“Ayolah, Lyn… Kenapa tidak masuk dulu? Kau memang tidak lelah, hm?” Tanya Michelle.

“Kajja!” Michelle langsung menarik masuk Arlyna tanpa persetujuan gadis itu sendiri.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Hhm… pekerjaanku di Indonesia sudah selesai sih.. tapi tidak ada salahnya kan keluar kota sebentar sebelum pulang ke Seoul?” Pikir seorang pria saat memasukkan beberapa bajunya ke dalam koper.

“Kalau tempatnya bagus, kenapa tidak untuk destinasi bulan madu nanti?” Pikirnya lagi yang kemudian menutup koper miliknya.

“Ah! Apa yang kupikirkan tadi?? Bulan madu? Tiān nǎ (astaga), Yixing! Kau berpikiran… Ck..” Ia kemudian membaringkan tubuhnya di atas kasurnya yang nyaman dan menutup tubuhnya hingga ke kepalanya dengan selimut miliknya. Ia memang sengaja ingin tidur lebih awal karena besok, ia akan ke Tasik.

Berkali-kali dia mencoba untuk tidur namun selalu tidak berhasil meskipun kedua matanya sudah terpejam. Pria itu berbaring dengan gelisah. Terkadang menghadap ke kiri, menghadap ke kanan, bahkan telungkup.

“AAAA!!!! Tidak bisa dibiarkan ini!” Ia menendang selimutnya kasar dan mengambil laptopnya untuk dinyalakan.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Kris, ini obat apa?” Aku menghampiri Kris yang sedang bermain bersama Ai di ruang tengah.

Ia mendongakkan kepalanya dan menatapku bingung. “Shénme (apa)?” Tanyanya.

“Ini…” Aku menunjukkan beberapa lembar bungkus obat padanya.

Srat! Ia menyambar obat itu dari tanganku. “Dari mana kau temukan ini?!” Dia terlihat marah saat aku menemukan obat itu.

“Ta… tadi… aku menemukannya.. di…laci lemari.. pakaian yang belum.. tertutup rapat… Ka.. karena mengganjal, aku… mencoba melihat laci tersebut… ta.. tapi..aku.. menemukan itu…” Aku sekarang tidak berani menatapnya dan hanya bisa memainkan jariku. Bicara pun terbata-bata.

“Jangan pernah kau sentuh lagi obat ini!!!” Ia kemudian meninggalkanku dan Ai begitu saja. Kenapa dia berteriak padaku?

“Huuwweeeee~~~~” Tiān nǎ (astaga)! Ai jadi menangis!

“Cup.. cup.. cup… sudah ya, Ai… Bùyào kū (jangan menangis)…” Aku menghapus air matanya dan menepuk pelan punggungnya saat menggendongnya. Sebenarnya ada apa dengan Kris? Obat apa itu? Apa itu narkotika? Kurasa bukan… Kris memang pernah minum, tapi bukan berarti dia mengkonsumsi obat terlarang kan?

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Gaaahh!! Michelle!! Kau memanggilku ke sini hanya untuk mengatakan Yixing hyung yang belum pulang juga dan tidak menghubungimu berbulan-bulan??” Baekhyun terlihat kesal dan melempar bantal sofa pada wajah Michelle.

“Yaakk!! Oppa!” Michelle melempar balik bantal itu pada Baekhyun. “Kau tahu, itu sudah sangat lama, oppa! SANGAT!” Ujar Michelle yang memberikan penekanan pada kata-kata terakhir.

“Chakkaman, aku ambil laptopku dulu, dan kau lihat sendiri kapan terakhir mengirimiku e-mail…” Michelle pun ke kamarnya yang terletak di lantai dua dan meninggalkan Baekhyun dan Arlyna.

Pria itu sempat melirik pada Arlyna yang sibuk membaca bukunya. “Hey, apa dia Einstein wanita? Senang sekali dia belajar..” Batin Baekhyun.

“Hey, kau tidak lelah belajar terus?”

“Anni.. “ Jawab Arlyna tanpa mengalihkan pandangannya dari buku. Dengan sengaja Baekhyun mengambil buku itu dari tangan gadis itu.

“Kembalikaan!”

“Aku risih melihatmu yang terus menunduk membaca buku, tahu!”

“Apa aku menyuruhmu untuk melihatku terus, eoh? Ah! Untuk apa kau melihatku terus? Dasar mesum! Asal kau tahu ya, kau sama sekali bukan tipe-ku!”

“Hey, siapa yang tertarik denganmu, eoh? Jangan terlalu percaya diri!” Baekhyun menutup wajah gadis itu dengan sebuah bantal sofa.

Karena belum sempat mengelak, bantal itu mengenai salah satu matanya dan membuatnya kemasukan debu. “Awhh… aigoo, mataku…” Arlyna dengan gerakan reflex, ia mengucek pelan matanya.

“Jangan seperti itu, nanti matamu memerah..” Baekhyun menarik tangan Arlyna.

“Pabbo! Ini gatal, tahu!” Arlyna kembali mengucek matanya dengan sebelah tangannya yang tidak ditarik Baekhyun.

“Ck, kau ini…” Baekhyun memegangi kedua tangan gadis itu. “Buka matamu…”

“Gatal…” Lirih Arlyna yang perlahan air mata keluar dari pelupuk matanya karena debu itu.

“Makanya buka..” Perlahan gadis itu membuka matanya. Dan Baekhyun meniup pelan mata gadis itu.

“Oh.. my.. God! Beraninya mereka berciuman di rumahku!!” Michelle yang menuruni tangga melihat Baekhyun yang memunggunginya. Memang kalau dilihat dari titik dimana sekarang Michelle berdiri, Baekhyun terlihat sedang mencium Arlyna.

“Sepertinya rumahku nyaman untuk berciuman… apalagi suasananya mendukung..” Sindir Michelle. Sontak, sepasang temannya itu duduk saling menjauh.

“Gwaenchana, lanjutkan saja..”

“Itu.. kau salah melihat!” Ujar Baekhyun.

“Berciuman juga tidak apa kok..” Michelle mengibaskan tangannya.

“Ne, eonni salah! Mana mungkin aku ciuman dengan pria sinting ini! Mataku kemasukan debu, eonnn…” Sambung Arlyna.

“Geundae…. Wajahmu.. kenapa merah?” Michelle mengalihkan wajahnya yang ditopang dengan sebelah tangannya pada Arlyna.

“Jinja? Anniii…”

Dengan tiba-tiba, warna hijau pada layar laptop Michelle menyala. Nama Yixing kembali terlihat.

“KYAAA!!!! YIXING!!!” Teriak Michelle.

“Yixing hyung?” Tanya Baekhyun.

“Hi…” Sapa Yixing saat melihat Michelle.

“Haaaaiiiiii!!!” Teriak Baekhyun dan Arlyna juga di sisi kanan dan kiri Michelle.

Kedua kelopak mata pria itu melebar dan terkejut karena ada Arlyna dan Baekhyun yang berada di rumah Michelle. “Loh? Kalian di rumah Michelle?”

“Nee… Michelle yang menyuruh ke rumah dia bilang kau… Hmppfftt!!!” Sekarang Michelle yang membekap mulut Baekhyun.

“Aku kenapa?” Tanya Yixing.

“Eonni bilang kalau oppa itu tidak… hmpfftt!!!” Michelle melepas tangannya dari Baekhyun dan membekap Arlyna.

“Dia bilang kau itu tidak pernah menghubunginya dan terlalu lama di Indonesia!” Baekhyun mengungkap rahasia gadis yang menjadi tunangannya itu.

“Haaaahhh~~~” Michelle terlihat lesu dan meletakkan dagunya di atas meja. Dia malu karena rasa rindunya ketahuan oleh Yixing.

“Kau rindu padaku?” Tanya Yixing pada Michelle.

“Yaakk!! Ini semua karena kalian!!!” Teriak Michelle melempar bantal pada mereka berdua.

“Sebaiknya kita pergi dari sini!” Baekhyun membawa Arlyna keluar dari rumah itu sebelum Michelle mengamuk lebih parah.

“Huuhh!!”

“Sudah… sudah… Kau tidak tidur?” Tanya Yixing.

“Gege kemana saja sih? Menyebalkan! Nǐ wàngle wǒ (kau melupakanku)…” Michelle mengerucutkan bibirnya.

“Tenang saja.. aku akan pulang dalam beberapa hari ini…” Ujar Yixing.

“Zhēn de ma (benarkah)?” Tanya Michelle.

“Ne…  Haahh.. baiklah… ini sudah waktunya aku tidur…”

“Aaaa!! Wait! Kenapa cepat sekali?”

“Aku besok mau keluar kota… Jadi harus tidur lebih awal… dan kauu… cepat sana tidur! Tidak baik kau tidur malam terus! Wan an, tiánxīn (sayang)..”

Saat perjalanan pulang, lebih tepatnya di dalam mobil Baekhyun, Arlyna baru menyadari kalau tadi Baekhyun bisa berjalan cepat.

“Kau sudah sembuh!” Pekik Arlyna tiba-tiba dalam sunyinya mobil itu.

“Oh! Aigoo!!” Baekhyun mengusap dadanya karena kaget mendengar Arlyna. “Kau ini apa-apaan sih?!” Omel Baekhyun.

“Kau bohong kan! Mengakulah!”

“Ck, kau ini…” Baekhyun lebih memilih diam.

Setibanya di apartment, Arlyna langsung keluar mobil Baekhyun tanpa mengucapkan apa-apa pada pria tersebut.

“Hey, chakkaman!” Pria itu menahan tangan gadis itu saat akan melangkah masuk ke dalam apartmentnya.

“Apa lagi, eoh? Tugasku sudah selesai kan? Kau sudah sembuh, berarti aku bebas darimu!” Ucap Arlyna yang melepaskan tangan Baekhyun.

“Anni, kau belum selesai!” Baekhyun langsung memeluk gadis itu dan membuat tas yang dipegangnya, juga beberapa bukunya terjatuh dari genggamannya.

“Kau… Kau tidak boleh pergi begitu saja!” Baekhyun terlihat sangat posesif memeluk gadis di hadapannya. Arlyna saat ini hanya membatu mendapatkan perlakuan tiba-tiba ini dari Baekhyun.

“Ka.. Kau…” Arlyna terlihat sulit mengeluarkan ucapannya.

Belum sempat pikiran Arlyna jernih untuk berpikir, Baekhyun sudah melakukan hal lain padanya. Pria itu melonggarkan pelukannya, mengangkat dagu gadis itu dan mencium bibirnya.

“Jalja..” Ujarnya yang kemudian meninggalkan seribu pertanyaan dalam benak Arlyna. Butuh waktu beberapa detik untuk tersadar apa yang sudah terjadi dan membereskan barang-barangnya yang berantakan di lantai.

“Agasshi.. perlu dibantu?” Tanya seorang petugas keamanan saat melihat Arlyna terdiam dengan barang yang tercecer di lantai.

“Anni, gamsahamnida, ahjussi…” Jawabnya.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Pagi hari di sebuah ibukota Jakarta, Yixing saat itu sedang memasukkan kopernya ke dalam bagasi mobilnya yang dibantu oleh Jason yang menginap di rumah dinas Yixing di Jakarta.

“All done?” Tanya Yixing.

“Done!” Jawab Jason yang mengacungkan ibu jarinya.

Mereka pun berangkat sekitar pukul enam pagi menuju Tasikmalaya, kota yang dimaksud temannya tersebut. Sambil menyetir, Jason juga banyak menceritakan tentang kota tersebut dan juga sedikit cerita keluarganya.

Memakan waktu sekitar enam jam karena kemacetan saat melintasi jalan tol, akhirnya mereka tiba di Tasikmalaya. Saat itu Yixing menginap di rumah Jason yang memiliki empat kamar. Dua adik prianya yang memakai seragam putih-abu terlihat baru pulang dari sekolahnya. Yixing dengan sopan langsung membungkuk pada mereka. Terlebih lagi saat kedua orang tua Jason keluar dari rumahnya, Yixing membungkuk berkali-kali.

“Kak, itu siapa?” Tanya adiknya menunjuk Yixing.

“Oh, ini…”

“Aku temannya, Jason..” Yixing kembali membungkuk. Jason yang berdiri di belakang Yixing hanya mengisyaratkan pada kedua adiknya untuk melakukan hal yang sama dengan Yixing.

“Ayo, silahkan istirahat dulu kalian berdua…” Ujar satu-satunya wanita yang ada di rumah tersebut.

Yixing pun membereskan pakaiannya dalam lemari Jason yang berbagi kamar dengannya. Saat mereka berdua sedang membereskan barang-barang mereka, kamar itu dibuka oleh ibu Jason. “Ayo makan siang dulu..”

“Terima kasih…” Yixing membungkukkan tubuhnya.

“Mari, Mr…”

“Oh, bisakah kau panggil aku Yixing saja? Atau… gege?” Ujar Yixing.

“Baiklah…”

Di atas meja makan, tersaji banyak makanan dengan aroma makanan yang sangat menggugah selera. Sepiring nasi dengan ayam goreng, dan juga tempe goreng lengkap dengan beberapa sayuran.

“Kenapa nasinya berwarna seperti ini?” Batin Yixing yang mengambil piring tersebut. Makan di lantai dengan alas tikar mungkin sebuah hal yang baru bagi Yixing. Dan mereka bahkan sama sekali tidak memakai sendok-garpu.

“Apa ini cara makan tradisional?” Pikir Yixing.

“Pasti gege tidak mengerti ya?” Yixing hanya tersenyum dan mengusap tengkuknya. Sesekali, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Ini nasi tutug oncom…”

“Nasi apa? Oncom? Apa itu?” Tanya Yixing.

“Oncom adalah hasil fermentasi yang dilakukan oleh beberapa jenis kapang. Pengolahannya mirip seperti tempe. Gege tahu kan?”

“Kalau tempe, aku tahu… Tapi… Aku baru tahu kalau ada makanan yang bernama oncom.” Jawab Yixing polos.

“Itu makanan khas daerah sini, ge…” Jelas Jason lagi. Yixing pun memakan apa yang tersaji di hadapannya.  Termasuk sate maranggi. Sate, memang makanan favorite Yixing ketika tiba di Indonesia. Namun, yang ia tahu sate terbuat dari daging ayam, bukan dari daging sapi seperti ini.

“Jadi, sate itu macam-macam ya… ” Ujar Yixing menyantap makanan tersebut.

Selesai makan, ibu Jason keluar dengan sepiring camilan.

“Makanan apa lagi ini?” Pikir Yixing saat melihat makanan yang berbentuk bulat dengan beberapa cabe rawit di atas piring tersebut.

“Tahu bulat..” Ujar wanita itu.

“Tahu? Ini tahu? “ Tanya Yixing. Ia pun mengangguk.

“Bukankah tahu itu berbentuk persegi dan berwarna putih atau kuning?” Tanya Yixing.

“Itu tahu biasa. Tapi tahu ini memiliki rasa lain. Rasa ikan..” Ujarnya.

“Ohh..” Yixing mengangguk mengerti dan mulai memakannya.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Hari ini aku mendatangi kantor pria yang berstatus sebagai suamiku. Untuk sementara, aku menitipkan Ai pada Mama. Untuk soal ASI, tidak perlu khawatir karena aku sudah menyiapkannya dan kusimpan di kulkas. Aku membawa sebuah surat yang berisikan surat permohonan cerai. Ya, aku memang mengurusnya. Karena kupikir, Kris yang mengeluhkan sibuk, ia tidak sempat mengurus perceraian tersebut. Jadi, kenapa tidak aku membantunya untuk hal ini?

“Wu sajang-nim sedang ada rapat…” Ujar sekertarisnya.

“Baiklah, akan kutunggu.” Jawabku.

“Silahkan menunggu di ruang Wu sajang-nim saja, nyonya..” Aku hanya tersenyum padanya dan berjalan memasuki ruangannya. Aku melihat-lihat ruangannya.

“Ya, rapi juga…” Batinku yang perlahan berjalan ke meja kerjanya. Hey, dia meletakkan fotoku dan Ai yang tengah tertidur? Aku tidak tahu kapan foto ini diambil!

“Oh, mungkin ini agar meyakinkan Daddy kalau hubungan kami baik-baik saja…” Pikirku.

Di atas meja kerjanya, kulihat ada beberapa lembar kertas. Aku membacanya tanpa menyentuhnya sedikit pun karena memang tergeletak begitu saja di atas meja. Mungkin saat ia mau membacanya, sudah dipanggil untuk rapat.

“Tapi, tunggu! Kenapa nama rumah sakit?” Aku menyingkirkan beberapa kertas yang menutupi lembaran kertas tersebut.

“Hasil lab?” Batinku.

Cklek! Aku langsung menegakkan badanku saat mendengar pintu terbuka. “Oh, kau ke sini?” Tanya Kris yang kemudian berjalan kearahku. Lebih tepatnya ke mejanya, dan menyusun beberapa lembar kertas tersebut.

“Oh Tuhan… untung saja tidak ketahuan…” Batinku sambil menghela nafas lega.

“Kris…”

“Hhm?”

“Hnng…” Hey! Apa yang terjadi padaku? Aku hanya tinggal memberikan surat ini, dan selesai kan?

“Kau sudah makan siang?” Tanyanya kemudian.

“Hng… belum…” Jawabku.

“Děngdài (tunggu).. Aku bereskan ini dulu, baru kita makan siang..” Ujar Kris kemudian. Ada apa dengan lidahku, Tuhan… Bùshì (tidak)! Aku harus menyampaikan ini!

“Kris… aku… aku hanya mau memberikan ini…” Tanganku bergetar saat memberikan surat itu.

“Hm? Apa ini?” Tanyanya yang kemudian membuka map dari surat tersebut.

“Surat permohonan cerai… kau hanya tinggal menandatanganinya…” Ucapku.

Prak!! Map itu dibuangnya begitu saja.

“SUDAH KUKATAKAN PADAMU! JANGAN PERNAH BAHAS INI!!! APA KAU TIDAK MENGERTI, HAH?!!!” Kenapa dia marah sekali?

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Aku melakukan ini karena aku mau kembali pada Christian. Biar bagaimana pun, Ai itu anaknya…”

“KENAPA KAU MASIH TERUS BERBOHONG, LIAN?!!! KENAPA?!!!” Rahangnya terlihat mengeras saat membentak Lian.

“Itu anaknya… bukan anakmu!” Balasku dengan intonasi meninggi.

“ITU ANAKKU, LIAN!! DARAH DAGINGKU!!! KAU… KENAPA TIDAK MENGERTI JUGA?!!!! KAU…” Kris memegangi dadanya dengan sebelah tangannya, sedangkan sebelah tangan lainnya bertopang pada meja.

“Kris! Kau…kau kenapa?” Lian menghampiri pria itu.

“JANGAN SENTUH!!” Pria itu menepis tangan istrinya dan beralih pada balik mejanya, menarik laci mejanya. Nafasnya tersengal, dan detak jantungnya tidak beraturan.

“Kris…”

“KELUAR!!!”

“Ta.. Tapi…”

“KELUARR!!!!”

Lian pun keluar dengan wajah cemas melihat Kris yang masih memegangi dadanya. “Ada apa denganmu?” Batinnya.

Bruk!! Lian menoleh ketika mendengar suara itu dan ia mendapati pria itu tergeletak di lantai.

“Kris! Yaa!! Bangun, Kris!!” Lian mengguncang-guncangkan tubuh pria tersebut. Merasa tidak ada jawaban, wanita itu keluar ruangan dan berteriak minta tolong.

Kris pun segera dilarikan ke rumah sakit di dampingi oleh Lian yang terus menangis di ambulance, memegangi tangan pria itu.

“Bangunlah… Kau membuatku khawatir… Kris, kumohon….” Isaknya.

Begitu tiba di rumah sakit, Kris ditangani oleh tim medis. Di sela tangisannya, ia menelpon Michelle. “Chell…. Hiks… Hiks…”

“Wèishéme (kenapa), jiejie?”

“Kris… hiks…hiks..”

“Gege? Wèi?” Tanyanya lagi.

“Kris… hiks.. Kris di rumah sakit… hiks…”

“Zhēn de ma (benarkah)? Jiejie, kau jangan bercanda.. ini bukan ulang tahunku… ulang tahunku sudah lewat, jie…”

“Bùshì (tidak)! Aku tidak bercanda… hiks.. hiks…”

“Gege kenapa?!! Jiejie dimana?!! Rumah sakit mana??” Michelle pun mulai khawatir.

“Bisakah kau langsung ke sini? Hiks…Nanti aku akan mengirim alamatnya.”

“Cepat, jie!” Michelle menutup sambungan.

“Lian..!!” Pemilik nama itu menoleh ketika ayah mertuanya datang, berlari. Ia mendapatkan kabar dari karyawannya.

“Daddy…Hiks…” Lian memeluk pria paruh baya itu berusaha mencari sandaran untuk menopang rasa sedihnya.

“Méiguānxì (tidak apa), Kris pasti ditangani dengan baik…”

“Apa kalian keluarganya?” Seorang dokter keluar dari ruangan tersebut.

“Apa yang terjadi dengan anak saya?” Tanya Xianji Wu, ayah dari Kris.

“Kris-ssi, masih dalam keadaan kritis… ini karena dia tidak teratur mengkonsumsi obatnya dan karena itulah detak jantungnya sangat tidak normal. Selain itu…. Ada masalah lain yang memicu detak jantungnya lebih cepat.”

“Kritis?! Jantung??” Xianji Wu terlihat tidak mengerti. Begitu pula dengan Lian.

“Mianhamnida, apa kalian tidak tahu kalau Kris-ssi menderita myocarditis?” Ujar dokter itu.

“Myocarditis?!”

“Ya, masih tergolong ringan, namun bila ada masalah yang menjadi pemicunya, ini akan sangat fatal. Bahkan bisa lebih buruk dari ini…” Lian kembali terisak menutup wajahnya yang memerah dengan kedua tangannya, terduduk lemas.

“Untuk sementara ini, ia hanya boleh dikunjungi satu orang saja… kondisinya masih belum stabil… Permisi…” Ujar dokter tersebut.

“Ini salahku, Dad…” Isak Lian.

“Apa yang sebenarnya terjadi?”

“Aku… Aku memberikannya… surat cerai…”

“Kenapa? Bukankah kalian baik-baik saja?”

Lian menggelengkan kepalanya. “Pernikahan kami, pernikahan kontrak… Aku dan Kris menandatangani perjanjian untuk bercerai dalam waktu dua tahun…”

“Aku… Aku tidak tahu ini akan…” Lian kembali terisak.

“Tenanglah… Dad pikir, Kris adalah anak yang tangguh dan bisa melewati masa kritisnya…”

“Jiejie..!!” Seorang gadis datang dengan wanita paruh baya di belakangnya. Lian tidak sanggup berbuat banyak sekarang ini.

“Ini semua salahku. Seharusnya aku tahu obat apa itu. Obat yang pernah Kris sembunyikan dariku. Juga hasil lab rumah sakit itu. Harusnya aku menyadarinya dari awal kalau Kris… Kris bermasalah dengan jantungnya. Kalau terjadi apa-apa dengan Kris, aku benar-benar tidak bisa memaafkan diriku sendiri.” Batinnya saat adik iparnya datang dan memeluknya.

“Chell, Duìbùqǐ (maaf)…” Isak Lian. “Duìbùqǐ (maaf)….. Duìbùqǐ (maaf)…” Ujar Lian berkali-kali pada adik iparnya.

“Dad, sebenarnya ada apa?” Tanya ibu mertuanya pada ayah mertuanya.

“Kita bicara, Mom…” Xianji mengajak istrinya bicara berdua.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Sebenarnya kenapa, Jie?” Tanya Michelle.

“Ini salahku, Chell…  Salahku karena aku tidak menyadari penyakitnya Kris…”

“Gege? Gege sakit apa?”

“Myocarditis…Radang lapisan tengah jantung… Detak jantungnya tidak teratur…Itu yang menyebabkan dia kritis saat ini…” Isaknya.

“Gege… Gege sakit itu?” Michelle menutup mulutnya dengan kedua tangannya. “Sejak kapan?”

Lian menggelengkan kepalanya. “Aku juga tidak tahu… Dia menutupinya dariku… Dan fatalnya…. Aku…. Menunjukkan surat cerai padanya…”

“What?! Kenapa kau mau cerai dari gege, Jie? Kalian tidak ada apa-apa kan?”

Dalam kondisi menangis, Lian menjelaskan semuanya pada Michelle termasuk kontrak itu. “Bukankah dulu aku mengatakan padamu kalau aku membuat kontrak menikah dengan Kris?”

“Aku lupa… Tapi… Kenapa kalian cerai sedangkan Ai adalah buah cinta kalian?”

“Kris melakukannya dengan tidak sadar. Sampai sekarang, Kris tahu itu adalah anak Christian….”

“Christian? Temanmu di New York?” Lian mengangguk.

Tak lama berselang, Arlyna dan Baekhyun pun datang ke rumah sakit. Mereka berdua tahu dari telepon Michelle pada Arlyna.

“Eonni…Kris oppa…” Arlyna menghampiri mereka dan bertanya pada Lian.

“Jiejie, lebih baik jiejie masuk ke ruangan gege. Biar Lyn dan Baekki oppa denganku..” Ujar Michelle.

“Ne…” Lian pun masuk ke dalam ruang rawat Kris.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Aku memasuki ruangan dengan aroma obat-obatan yang sangat kental. Aku melangkahkan kakiku menuju ranjang rumah sakit dimana Kris terbaring. Masker oksigen yang terpasang di wajahnya, dan beberapa selang rumah sakit untuk memantau denyut jantungnya terpasang di dadanya. Selang infuse juga terpasang di punggung tangan kanannya. Dadaku sakit melihat ini, Tuhan…. Apa yang bisa kulakukan sekarang? Aku hanya bisa menangis. Aku benar-benar tidak berguna untuknya. Tuhan, kumohon….berilah kesehatan lagi untuknya… Jujur, aku tidak mau melihatnya seperti ini…

Aku mendekat padanya. Aku meraih tangannya yang terpasang jarum infuse. “Kau harus melewati masa kritismu, Kris…” Isakku dengan air mata yang menetes. Kedua matanya yang terpejam ini sangat membuatku takut. “Kau harus membuka matamu…” Aku semakin terisak saat melontarkan kalimat itu.

“Kau tahu, bunyi alat kardiografi itu lebih menakutkan dibandingkan melihatmu membentakku. Kau harus membuka matamu, Kris… Ada banyak hal yang belum kau ketahui…” Entah pada siapa aku bicara. Entah dia mendengarku atau tidak. Aku hanya mau meluapkan semua rasa bersalahku padanya.

Aku duduk di kursi yang memang disediakan untuk penunggu pasien. Mendekap tangannya, dan memperhatikan wajahnya. Sesekali aku menghapus air mataku yang menetes di tangannya.

“Kris, duìbùqǐ (maaf)…. duìbùqǐ (maaf)…..” Aku bahkan menamparkan tangannya yang terkulai pada pipiku, seolah dia menamparku.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Jadi kalian berdua sudah tahu tentang ini?” Michelle terkejut saat mendengar pengakuan Arlyna dan Baekhyun.

“Kris hyung yang meminta kami merahasiakan ini semua..” Sesal Baekhyun.

“Apa sudah lama kejadian ini?”

“Baru beberapa bulan yang lalu…waktu aku terjatuh dan ke rumah sakit dengan Lyn..”

“Aku adiknya, kenapa oppa tidak memberitahuku?” Michelle meninggikan suaranya.

“Mianhae… Itu permintaan Kris hyung…”

“Oppa, kau….” Ucapannya terhenti saat ponselnya bergetar dalam tasnya. Ternyata pesan text dari ayahnya yang pulang lebih dulu karena ibunya yang tidak enak badan.

Pintu itu pun terbuka dari dalam. Lian keluar dengan mata yang sembab dan terdapat bekas aliran air mata yang mengering di kedua pipinya.

“Noona…”

“Hhm?” Wanita itu menghapus sisa air matanya.

“Eonni yang kuat…” Ujar Arlyna.

Lian tersenyum. “Ne, gomawo Lyn…”

“Noona…. Sebenarnya…”

“Oppa..” Michelle menggelengkan kepalanya, melarang Baekhyun menceritakan hal yang sudah diketahuinya sebelumnya.

“Wae?” Tanya Lian.

“Anni, eopseo…” Jawab Baekhyun.

“Chell, aku boleh minta tolong?” Tanya Lian.

“Tentu boleh…”

“Jaga Kris dulu ya…Aku mau pulang ambil baju Kris dan aku…” Ujar Lian.

“Ne..”

“Noona, aku antar?”

“Anni, gomawo, Baekki… Temani di sini saja…” Ujar Lian memaksakan senyumnya.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Aku menelpon Mama ketika sudah sampai rumah. Aku masih harus menitipkan Ai di rumah Mama. Saat aku memberitahukan Mama tentang kondisi Kris, Mama juga sama terkejutnya denganku.

Aku membuka lemari baju kami. Mengambil beberapa pasang baju Kris, juga bajuku. Aku memasukkannya ke dalam tas milik Kris yang berukuran besar. Tanpa sengaja ada sebuah plastic kecil terjatuh dari tumpukkan baju Kris. Resep obat untuk penyakit myocarditis. Kenapa dia tidak memberitahuku tentang ini? Aku juga menemukan beberapa lembar obat yang masih terbungkus rapi. Sesuai aturan dokter, seharusnya obat ini semua harus sudah habis. Tapi baru beberapa butir yang ia minum. Benar kata dokter, dia tidak teratur meminum obatnya.

“Kenapa kau bisa sesantai ini, Kris. Padahal jantung itu kehidupanmu…” Isakku.

Aku membuka laci dalam lemari tersebut. Berharap aku menemukan hal lain tentang penyakit yang diidapnya. Tapi ternyata aku justru menemukan buku agenda.

“Ternyata dia menceritakan perkembangan Ai selama ini. Dibalik sifat acuhnya, dia ternyata memperhatikan pertumbuhan Ai.”

 

Tuhan, aku lebih baik memendam ini… Demi senyumannya, demi omelannya… Apa aku mencintainya? Apa keputusanku ini tepat?

Kris 150919

 

Aku menghapus air mataku yang mengalir begitu saja saat aku membaca tulisan tangannya. Ia baru beberapa bulan menulis ini.

 

Aku rasanya tidak kuat menahan ini semua. Aku terlalu mencintainya.  Aku begitu tertohok saat mendengar kata cerai itu dari bibirnya. Bagaimana Ai? Bagaimana dengan perasaanku? Tapi… disisi lain, aku tidak mau ia kerepotan mengurusku…

Kris 160120

 

Seumur hidup, aku baru mengalami hal ini. Aku menangis karena satu pria! Dan dia adalah satu-satunya pria yang benar-benar bisa memainkan perasaanku.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Kemana Baekhyun dan Arlyn?” Tanya Lian saat tiba di rumah sakit.

“Baru saja pulang…”

“Kau menginap di rumah sakit?” Tanya Lian lagi.

Michelle menggeleng. “Aku tidak bawa baju, Jie… Aku pulang saja ya… Jiejie kan sudah datang…”

“Diantar sama ahjussi ya?” Lian berniat menelpon supir pribadi Kris.

“Tidak usah, Jie…Aku pulang sendiri saja…”

“Kau tidak apa?” Michelle mengangguk.

“Hati-hati di jalan…”

Melihat Michelle pergi, Lian pun masuk ke ruang rawat Kris. Tidak ada yang ia lakukan. Hanya berdiam diri, menunggu kesadaran pria itu kembali sambil menggenggam tangannya.

“Kalau kau mau mengatakan apa yang semua kau tulis itu, cepat bangunlah.. tiang listrik!” Aku memanggilnya dengan panggilan yang kuberikan padanya.

Karena hari mulai malam, perlahan, rasa kantuk wanita satu anak itu tidak dapat tertahankan. Dengan posisi duduk dan kepala yang terkulai di samping tempat tidur Kris, ia tertidur dengan bertumpu pada tangannya sebagai bantalan.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Pagi hari saat aku terbangun, ternyata Kris juga masih belum membuka matanya. Aku menyibakkan tirai jendela rumah sakit agar sinar matahari masuk.

“Kenapa kau masih tidur? Cepat bangun…” Ucapku layaknya orang gila karena bicara sendiri.

Aku meninggalkannya sebentar untuk mandi. Begitu aku kembali dan duduk di samping ranjangnya, aku melihat jemarinya yang panjang bergerak. Kris sadar?? Ya, Tuhan! Kris sadar?!! Aku segera menekan tombol pemanggil perawat. Dua orang perawat dan seorang dokter pun datang. Kulihat Kris juga mulai menggerakkan kelopak matanya dan perlahan terbuka.

“Mianhamnida… tolong nyonya tunggu di luar.”

“Ne…” Jawabku.

Aku segera menelpon Michelle. Tapi ponselnya tidak dijawab. Menelpon Mommy, begitu juga. Bagaimana dengan Daddy? Aku harus menelponnya!

“Ya, Lian?” Sapanya.

“Dad..!!”

“Lian, bisakah kau menelpon beberapa menit lagi? Dad sedang menyetir…”

“Oh, ne… Duìbùqǐ (maaf)…” Haahh… Baiklah, kalau begitu beberapa menit lagi nanti aku akan mengabari mereka.

“Nyonya Wu?”

“Ne??” Aku langsung menoleh.

“Kris-ssi kondisinya sudah stabil. Tapi jangan singgung dulu masalah-masalahnya. Karena itu akan mempengaruhi kerja jantungnya. Dan dia harus istirahat total dua bulan ini…”

“Dua bulan?”

“Ya, obatnya juga harus rutin…”

“Ne, gamsahamnida uisa-nim… gamsahamnida….” Ucapku membungkuk berkali-kali.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Kau….habis menangis?” Tanya Kris pada Lian. Wanita itu menggelengkan kepalanya.

“Lalu itu kenapa? Mata memerah dan bengkak.” Kris menunjuk pada kedua mata Lian.

“Perasaanmu saja..Atau mungkin itu halusinasimu.” Jawab Lian.

“Berapa lama aku tidak sadar?”

“Sehari semalam..”

“Tidak mungkin aku berhalusinasi. Ck, kau ini…” Lian memilih diam mengetik pesan text untuk Michelle memberitahunya kalau Kris sudah tersadar.

“Lian..” Kris mengambil ponsel milik istrinya.

“Shénme (apa)?”

“Kau tidak mau jujur? Kau kena…” Ucapan Kris terputus karena saat itu Lian justru mencium pria yang tengah terbaring itu dan menimbulkan banyak pertanyaan.

“Oh Tuhan! Jantungku…!!” Kris memegangi dadanya saat Lian menyudahi ciumannya.

“Wèishéme (kenapa)? Nǐ fāshēngle shénme shì (apa yang terjadi padamu)?” Tanya Lian khawatir.

“Wǒ méiyǒu shé me (aku tidak apa)…” Jawab Kris kemudian yang langsung mendapatkan pukulan dari Lian yang mengerucutkan bibirnya.

Finally, kau yang mengakuinya terlebih dulu!” Tawa Kris.

“Apa kau yakin dengan ucapanmu, eoh? Lalu apa yang kau tulis pada tanggal 19 September tahun lalu itu apa, eoh?” Sindir Lian.

“Wha…What?!! Ka.. kau…”

“Mau mengelak apa lagi, hah? Dasar tiang listrik!”

“Kuanggap itu pujian.” Jawab Kris enteng. Lian hanya menggembungkan pipinya, kesal.

Kris meraih tangan istrinya, menautkannya dengan jemari miliknya. “Aku tidak mau bercerai. Aku tidak mau anakku jatuh ke tangan pria yang bukan ayahnya. Kau mengerti?” Lian hanya membisu.

“Hey, aku tidak sedang bicara pada sebuah patung kan?”

Lian yang masih menunduk mulai bicara. “Soal Ai…dia…”

“Dia anakku kan? Ya, memang kita memulai semuanya dari suatu kesalahan. Tapi, mencintaimu itu bukanlah suatu kesalahan, kan?” Lian hanya tersenyum tipis.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Menurutmu tempat apa yang bagus di sini?” Tanya Yixing pada Jason.

Pria itu terlihat berpikir. “Curug Dengdeng?”

“Itu tempat apa?” Tanya Yixing lagi.

“Air.. terjun? Hhhmm tapi disana juga terdapat sawah. Kau tahu, ge? Itu sangat keren!” Ujarnya antusias.

“Bagaimana kalau kita ke sana? Ajak adik-adikmu juga!”

“Now?” Tanya Jason.

“Why not?” Ujar Yixing kemudian.

“But wait… Kita harus bawa baju ganti, ge!”

“For what?”

“Rugi sekali kalau kita ke sana tidak main air. Ahaha..”

“That’s great idea..!”

Pada akhirnya keempat pria itu jalan menuju tempat yang dimaksud Jason. Curug Dengdeng. Yixing yang membawa tas di punggungnya yang berisikan baju ganti sudah memasukkan tasnya ke dalam bagasi mobil. Begitu juga dengan adik-adiknya Jason, dan Jason sendiri. Mereka berempat menempuh perjalanan selama tiga jam menuju Curug Dengdeng.

“Jason, air terjunnya mana?”

“Masih jauh di dalam, ge..”

“lalu, kita ke sana dengan apa? Jalannya saja seperti ini. Tanah merah, dan… ini pasti akan sering membuat ban mobilku selip.” Ujar Yixing.

“Tenang saja, ge… I have the solution…” Jason kemudian mendatangi rumah salah satu penduduk tempat dimana terdapat penyewaan motor trail. Ya, tentu saja mereka membutuhkan motor tersebut untuk melewati jalanan yang becek. Mereka menyewa empat motor trail untuk memasuki kawasan Curug Dengdeng.

“Here… Pakai ini, ge..” Jason memberikan masing-masing sepasang pelindung untuk siku dan lutut pada Yixing. Yixing pun mulai menaiki motor trailnya yang berwarna merah.

Dengan dipandu oleh salah satu penduduk lokal, mereka berempat mengikuti pemandu tersebut. Jalanan itu membuat Yixing kesulitan mengendarai motornya dan sempat terjatuh dari motornya. Beruntung, Yixing lebih dahulu menapakkan kakinya pada tanah yang basah tersebut dan membiarkan motor itu terjatuh di sisinya.

“Gege!!”

“I’m okay!” Ujar Yixing mengacungkan ibu jarinya.

Setelah menempuh perjalanan selama satu jam menuju kawasan Curug Dengdeng yang melelahkan dan juga sangat kotor karena mereka harus berkali-kali terjatuh dari motor mereka akibat jalanan licin, mereka pun tiba. Suasana lokasi memang mengasyikan, apalagi suasana alam di sekeliling sangat mendukung dengan hijaunya hutan pinus dan hamparan sawah-sawah, udara yang bersih dan sejuk di dekat air terjun tersebut. Curug Dengdeng sendiri memiliki 3 tingkatan curug. Yang pertama tingginya 13 m, yang kedua 11 m dan yang ketiga 9 m. Dari tingkat pertama dapat terlihat aliran Sungai Cikembang dan pemandangan alam yang sangat indah, dimana hamparan sawah dan pohon kelapa yang tersebar dibagian bawah dapat terlihat jelas.  Selanjutnya di tingkat dua, akan terlihat indahnya curug tingkat pertama.

“Wow! It’s wonderful!” Batin Yixing yang kemudian mengambil gambar dengan kamera yang dibawanya.

Puas bermain-main di air terjun tersebut, Yixing dan yang lainnya kembali ke mobil mereka dan harus menempuh perjalanan sekitar 30 menit untuk mencapai rumah penduduk dengan motor trailnya.  Bahkan baju basah yang dipakainya pun kering dengan sendirinya pada saat mengendarai motor sewaannya. Pemandu yang merupakan penduduk local tersebut mempersilahkan keempat pria tersebut untuk membersihkan tubuhnya yang kotor akibat perjalanan yang cukup melelahkan tersebut. Setelah itu, mereka pun kembali ke rumah, melanjutkan perjalanannya dengan mobil Yixing yang dikendarai oleh Jason.

“What do you think?” Tanya Jason pada Yixing.

“Aku tidak pernah melihat pemandangan sebagus itu! Sawah yang menghampar dengan air terjun di belakangnya. Hey, lihat! Ini sangat keren kan?” Yixing berkomentar sambil melihat beberapa hasil fotonya.

“Aku akan mengajak istriku nanti ke sini!”

“Who? Istri? Gege sudah menikah?” Tanya Jason.

“Belum… Baru akan menikah…”

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Ráole wǒ ba (yang benar saja)! Yixing gege ke tempat ini?!! Cantik sekali pemandangannya.. Woaaahhh~~~” Seorang gadis melihat sebuah foto dari ponselnya. Foto yang diunggah ke dunia maya melalui sebuah akun jejaring sosial instagram.

“What’s wrong with you, Chell?” Tanya ibunya.

Michelle menggelengkan kepalanya. “Mom, look at this… How the beautiful scenery, right!” Ujar Michelle menunjukkan layar ponselnya pada wanita asal Canada tersebut.

“Itu pemandangan dimana? Kelihatannya tenang sekali…”

“Kata Yixing gege itu di Indonesia… Aku penasaran sekali, Indonesia itu seperti apa.” Ujar Michelle.

“Yixing? Tapi, setahu Mom… di Jakarta tidak ada yang seperti itu. Bukankah katamu Yixing itu ke Jakarta?”

“Yes, Mom.. Kurasa ini juga bukan di Jakarta. Yixing gege sempat bilang kalau dia mau keluar kota. Dan aku tidak tahu dia kemana..” Michelle menggidikkan bahunya.

“I see… Oh, kau tidak ke rumah sakit menengok Kris?”

“Ah! Aku lupa… Kalau begitu, aku akan ke sana sekarang.”

“Mom titip ini untuk Kris..” Ujarnya meletakkan sebuah paper bag berisi bekal makanan.

“Got it!” Jawab Michelle yang kemudian menuju kamarnya mengganti pakaiannya.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Mau apa lagi kau ke sini?”

“Oh, c’mon… kau masih marah padaku, Lyn?”

“Anni..” Jawab gadis itu sekenanya.

“Lalu kenapa kau mengabaikan teleponku dan tidak membalas pesan, eoh?”

“Hal itu tidak lebih penting dari tugas kuliahku yang menumpuk.” Jawab Arlyna dingin pada pria-Baekhyun-yang terus mengikutinya beberapa hari ini.

“Lyn..” Pria bermata kecil itu memegangi lengan wanita yang memakai kacamata tersebut untuk mencegahnya pergi.

“Kau bisa melepaskannya kan?” Ia menatap lengannya yang masih dipegangi oleh Baekhyun. “Aku ada kegiatan lain.” Lanjut Arlyna.

“Aku tidak peduli.” Jawab Baekhyun.

“Haahh! Apa yang kau mau, eoh?” Tanya Arlyna menyerah.

“Aku hanya bertanya, apa kau masih marah denganku?”

“Aku tadi sudah menjawabnya. Aku tidak marah.” Jawab gadis dengan tumpukan buku di lengan kirinya dan kembali berjalan.

Baekhyun pun terus mengikutinya. “Tapi kenapa kau seperti ini?”

“Apa maksudmu?” Tanya Arlyna balik.

“Kau seperti… mengacuhkanku..”

“Aku sibuk, jadi berhentilah bertindak konyol!” Jawab Arlyna dingin.

“Konyol? Apa seorang pria yang bertingkah seperti ini disebut konyol? Apa pria yang mengikutimu ini untuk melindungimu ini disebut konyol?”

“Sangat konyol! Sudahlah!” Arlyna kemudian menyeberangi jalanan melewati zebra cross yang terdapat di depan kampusnya menuju sebuah café yang terdapat di seberang jalan. Karena ingin menghindari Baekhyun, gadis itu menyeberang tanpa melihat lampu pejalan kaki yang saat itu masih berwarna merah. Memang jalanan itu terlihat senggang. Namun tiba-tiba…

TIN! TIN!! BRAK!!

“Aww.. apppooo~~” Gadis itu memegangi sikunya yang berdarah. Tak lama banyak orang berkerumun mendekatinya. Tidak, lebih tepatnya di belakang gadis itu. Gadis itu pun menoleh dan mendapati seorang pria yang tergeletak di atas aspal.

“Andwae…” Lirih gadis itu yang segera menghampiri pria tersebut. Pria yang tidak lain adalah pria yang baru saja berdebat dengannya. Pria yang baru saja mengikutinya kemana pun ia melangkah.

“Yaa!! Irreonna!! Baekhyun irreonnaa!!!” Arlyna mengguncang-guncangkan tubuh pria itu.

“Irreonna, pabbo!! Irreonnaaa!!!!!!” Arlyna menepuk-nepuk pipi pria itu berharap pria itu tersadar.

“Apa pria ini meninggal?” Terdengar bisikkan dari beberapa orang yang melihatnya.

“Irreona Byun Baekhyun!! Irreonnaaa!!!!” Gadis itu mulai menangis sambil mengguncang-guncangkan tubuh pria itu.

“Irreonnaaa!!! Baekhyun-ssi irreonaaa!!! Apa ucapanmu itu hanya bualan saja, eoh?! Kau bilang mau melindungiku, tapi kenapa kau seperti ini?!! Irreonna… hiks.. hiks..” Gadis itu memeluk tubuh Baekhyun yang masih tergeletak di aspal. “Aku bahkan belum memberitahukanmu sesuatu… hiks..” Isak Arlyna.

“Kau bisa mendengarnya tidak?” Gadis itu tertegun ketika mendengar suara itu. “Bangunlah, kau pikir kepalamu itu tidak berat, eoh?” Arlyna mengangkat kepalanya dan melihat Baekhyun yang perlahan duduk.

“Ka…Kau…” Arlyna tercengang ketika melihat pria yang ditangisinya ternyata hanya mengalami luka ringan sama dengannya.

“Apa aku harus berakting seperti tadi dulu baru kau mau menanggapiku, eoh?” Gadis itu buru-buru menghapus air matanya. Ia merasa malu karena menangisi Baekhyun.

Karena mereka berdua, lalu lintas sempat tersendat karena banyaknya orang yang berkerumun melihat. Beberapa orang terlihat memapah Baekhyun yang mengalami luka ringan di kepala, kaki, dan tangannya. Beruntung, ada salah satu pegawai café dekat tempat kejadian yang memberikan mereka pertolongan pertama.

“Apa yang mau kau katakan?” Tanya Baekhyun to do point pada Arlyna selesai mereka berdua diobati.

“Eopseo..” Jawab Arlyna memalingkan wajahnya.

“Baiklah kalau begitu… aku harus kembali ke kantor..” Ujar Baekhyun kemudian berbalik badan.

“Jangan!” Ucapan itu menghentikan langkah pria bermarga Byun tersebut. Tanpa diduga pria itu sebelumnya, kini ia menyadari kalau ada sepasang tangan yang melingkar di pinggangnya. Pria itu kini tersenyum menyadari tangan siapa yang melingkar.

“Wae?” Tanya Baekhyun yang memegangi tangan itu yang saling bertautan di perutnya.

“A.. ak.. aku…” Baekhyun kemudian melepaskan tautan kedua tangan gadis itu.

“Andwae!!” Ujar Arlyna.

“Wae? Kau ini aneh sekali…”

“Jangan lihat kesini!”

“Let me guess… Apa bajumu terbuka sampai-sampai aku tidak boleh melihat, eoh?”

“Hyaaa!!! Dasar kau mesum!!” Arlyna secara reflex memukul punggung Baekhyun yang membuat tangannya terlepas dari tubuh Baekhyun. Dan hal ini dimanfaatkan pria tersebut untuk membalik badannya berhadapan dengan gadis bermarga Lee yang kini menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

“Yaa! Waee??” Baekhyun berusaha melepas kedua tangan Arlyna yang menutup wajahnya.

“Andwaeeee~~~~” Terlambat! Baekhyun kini sudah memegangi kedua tangan gadis itu di sisinya. Yang dilakukan Arlyna saat ini adalah menunduk, menyembunyikan wajahnya.

“Look at me…” Ujar Baekhyun.

“Shireo~” Gumam Arlyna.

Tidak hilang akal, Baekhyun menundukkan wajahnya melihat wajah gadis di hadapannya. Berkali-kali Arlyna memalingkan wajahnya, namun Baekhyun tetap mengikutinya.

“Aku tahu sekarang… Kenapa wajahmu? Merah sekali seperti tomat!” Ujar Baekhyun. Sementara gadis itu hanya menggembungkan pipinya.

Well, apa yang mau kau katakan?” Tanya Baekhyun lagi.

“Aku…Hng… Aku…” Belum sempat gadis itu melanjutkan ucapannya, Baekhyun mencium bibir gadis itu, tidak peduli banyak orang yang berlalulalang di sekitar mereka. Dan ini pastinya semakin membuat wajah gadis itu semakin memerah.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Aku rindu Ai..” Aku menopang wajahku dengan sebelah tanganku saat aku menemani Kris di rumah sakit. Ya, untuk beberapa hari ini dia harus dirawat. Ini sudah hari ketiga Kris di rawat. Meskipun aku bergantian dengan Michelle karena aku harus pulang memberikan ASI bagi Ai, tapi aku belum lama berpisah dari Ai, aku sudah rindu padanya lagi… Huuh!

“Telepon saja.. video call..” Ujar Kris yang membolak-balik halaman buku dengan malas.

“Ah! Kau benar! Kenapa tidak terpikir olehku?!”

“Kau saja yang terlalu bodoh…” Kris memukul pelan kepalaku dengan buku yang dipegangnya. Aku hanya mengerucutkan bibirku sambil menekan beberapa digit angka untuk menelpon Mama karena Ai sekarang bersama Mama.

“Jangan seperti itu… Aku bisa saja langsung menidurimu sekarang!”

“What?! Kau.. Hyaaa!!! Ternyata kau lebih mesum dari yang kupikirkan!!”

“Apa itu salah?” Sungguh menyebalkan tiang listrik ini!! Sigh~

“Sudahlah! Aku lebih memikirkan anakku yang masih berusia tujuh bulan itu.” Batinku.

“Tidak diangkat…” Ujarku menatap layar ponselku heran.

“Coba lagi…” Sambung Kris.

“Aku sudah tiga kali menghubunginya. Tapi tidak diangkat oleh Mama…”

“Saldo pulsamu cukup?”

“Ck, tentu saja… Aku baru saja membelinya kemarin.” Cibirku.

“Biar aku yang telepon…” Kris pun kemudian mengambil ponselnya dan terlihat menghubungi nomor yang sebelumnya sudah disimpan dalam ponselnya.

Cklek! Aku dan Kris sama-sama menoleh pada pintu ruang rawat.

“Nah… Itu Mama dan Papa…” Aku menghela nafas setelah melihat Ai yang digendong oleh Mama masuk ke dalam ruang rawat Kris. Ternyata Papa juga ikut.

“Sengaja kami tidak menjawab panggilan kalian…” Papa pun angkat bicara.

“Ma… Ma… Ma…” Ai yang berada dalam gendongan Mama pun meronta dengan tangan yang berusaha meraih tanganku yang berada di hadapan Mama.

Aku pun menggendong Ai. “Ma, kenapa berdiri terus? Duduk saja…” Ujarku menunjuk sofa yang berada di ruang rawat tersebut.

Aku perhatikan, Ai selalu melihat pada Kris yang berada di belakangku. Dan ternyata Kris terus melambaikan tangannya pada Ai. Tak lama, Ai yang kugendong pun tertawa. Bahkan tubuhnya terlihat seolah akan melompat.

“Ai mau sama Papa?” Tanyaku yang menatap anak yang kugendong. Dia hanya meronta dari gendonganku sambil berteriak yang tidak jelas. Aku pun harus memberikan Ai pada Kris untuk dipangku olehnya. Namun Ai tidak mau dipangku oleh Kris. Ia hanya mau berdiri di pangkuan Kris. Ai terus menjejakkan kakinya, bertumpu pada Kris untuk melompat-lompat.

“Tiān nǎ (astaga)! Kau terus melompat-lompat apa kau mau tinggi seperti Papa, hm?” Kris memegangi kedua lengan Ai. Sedangkan Ai hanya tertawa riang. Mungkin karena lelah, Ai menjatuhkan tubuhnya pada Kris hingga Kris sempat kaget dan nyaris saja Ai merosot dari pangkuannya. Sesekali ia memukul-mukul Kris dengan tangan mungilnya.

“Apa kau sudah lebih baik, Kris?” Tanya Papa.

“Kurasa begitu, Pa… Hanya saja aku harus rutin meminum obat-obatan itu…” Ujar Kris sambil menyingkirkan tangan Ai yang menggapai selang infusnya.

“Lekaslah sembuh. Masih banyak hal yang harus kau selesaikan di kantor.”

“Pa.. Aku… minta maaf atas proyek yang tertunda karena aku di rumah sakit.” Aku hanya mendengarkan pembicaraan mereka tanpa aku mengerti sedikit pun tentang perusahaan.

“It’s okay.. Semua sudah ditangani dengan baik. Kau hanya perlu focus dengan kesehatanmu, Kris…”

“Ne, Pa..”

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Setelah hari sebelumnya mereka Yixing diajak ke Curug Dengdeng, kini pria bermarga Zhang itu kembali diajak berwisata menuju sebuah pantai yang terdapat di Tasikmalaya, Pantai Karang Tawulan. Objek wisata yang berlokasi di Kalapagenep, kecamatan. Cikalong, kabupaten Tasikmalaya ini berjarak sekitar 90 kilometer dari pusat Kota Tasikmalaya. Selama menjelajahi beberapa objek wisata di Tasikmalaya, Yixing selalu ditemani oleh Jason dan dua adiknya. Suasana alami dan sepi seakan seperti bukan umumnya kawasan wisata, menyambut mereka begitu sampai di kawasan Pantai Karang Tawulan. Sejauh mata memandang terlihat sejumlah karang menjulang diterpa gelombang laut selatan, suara gelegar pun terdengar cukup menyeramkan.

Pantai Karang Tawulan cenderung landai. Sejumlah lokasi cukup aman dipergunakan untuk berenang. Mereka berempat sengaja datang pada petang hari untuk mengagumi karunia ciptaan Tuhan yang sangat indah dan sulit diungkapkan. Mereka menyaksikan sekawanan burung camar berarak pulang menuju sarangnya di Nusa Manuk, pulau kecil agak ke tengah laut. Di antara kepakan sayap dan suara riuh burung-burung menuju Nusa Manuk. Tidak hanya menikmati suara burung, mereka juga menyaksikan matahari tenggelam di balik punggung Nusa Manuk. Seperti umumnya kawasan objek wisata pantai, di Pantai Karang Tawulan, makanan khas ikan-ikan laut menjadi menu utama.

Mendekati malam, suara ombak semakin bergemuruh, pecah sebelum tiba di pantai. Di antara buih-buih putih, kawanan burung laut berebut ikan-ikan kecil yang terlempar. Mereka berempat pun mulai mencari makanan untuk mengisi perut mereka. Berdasarkan informasi, mereka mengunjungi sebuah restaurant yang menyajikan makanan yang lezat, yaitu nasi yang disuguhkan untuk menemani ikan dibakar atau pun digoreng, ditabur sambal hijau berbahan dasar tomat muda dan cabai hijau. Nasi tersebut adalah beras huma merah. Sementara itu, air minum yang dihidangkan berupa teh tubruk diberi gula batu. Semua menu tersebut adalah menu makanan yang baru bagi Yixing untuk disantap.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Apa lagi sih yang kau kerjakan?” Suara itu menginterupsi Lian saat ia sedang mondar-mandir memastikan barang-barang yang  ia bawa pulang.

“Baju-bajumu dan… Oh! Handuk!” Wanita itu segera beranjak membuka lemari nakas rumah sakit.

Kris terlihat memijat pelipisnya. Pria yang duduk di samping ranjang rumah sakit itu hanya bisa memperhatikan istrinya yang duduk bersila sambil mengatur pakaian ke dalam tas.

“Lian… Lian… Ternyata kau sangat teliti sekali..” Batin Kris.

“Apa yang kau lihat?” Lian memergoki Kris yang sedang memperhatikannya.

“Siapa yang melihatmu?” Bantah Kris.

“Itu tadi!” Tuding Lian.

“Aku hanya memperhatikan tas itu.”

“Bohong~” Lian menggembungkan pipinya saat berdiri di depan suaminya.

Grep! Kris meraih pinggang wanita itu hingga wanita itu lebih mendekat dengannya. “Hyaaaaa~~~” Teriak Lian dalam batinnya.

“A… apa yang mau kau lakukan, hah?!” Gertak Lian.

“Apa yang mau kulakukan? Menurutmu?” Kris menaikkan sebelah alisnya, merengkuh wajah istrinya. Perlahan ia mendekatkan wajahnya pada wanita yang kini menyandang marga Wu pada namanya.

“Ommoo….” Tubuh wanita itu serasa membeku.

Tok! Tok! Tok! Seorang perawat pun masuk ke dalam ruang rawat tersebut. “Chogiyo… Ooh! Mianhamnida…” Lian langsung mendorong tubuh Kris menjauh darinya.

“Ne?” Tanya Lian pada perawat tersebut.

“Ini administrasi atas nama Tuan Wu…” Lian menerima kertas yang menjadi bukti pembayaran itu.

“Ah, gamsahamnida…” Ujar Lian. Perawat itu pun melangkah keluar.

“Kenapa harus ada pengganggu?” Ujar Kris.

“Hng? Kau bilang apa?” Tanya Lian.

“Bùshì (tidak)…” Jawab Kris singkat.

“Issh~ Dasar tiang listrik!” Ucap Lian kesal.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Lyn…”

“Hhm?” Gadis itu hanya menyahuti ucapan pria yang menemaninya makan siang dengan cuek.

“Bagaimana kalau kita seperti Michelle dan Yixing hyung?”

“Maksudmu?” Tanya Arlyna mengunyah makanannya.

“Hubungan kita..” Baekhyun terlihat memasukkan spaghetti ke dalam mulutnya.

“Kau ada tugas kerja yang harus ke Indonesia? Apa kau ditugaskan appa-mu untuk ke Indonesia mengurus perusahaan?” Tanya Arlyna balik.

“Ck, kenapa sampai sekarang kau masih tidak mau memanggilku dengan sebutan ‘oppa’ atau ‘chagia’ atau.. apa lah panggilan sayangmu untukku..”

“Ish, itu menjijikan!” Potong Arlyna.

“Hah.. kau ini… Hey, bagaimana hubungan kita?” Tanya Baekhyun lagi.

“Apanya yang bagaimana? Kalau kau ke Indonesia, ya…. Ya sudah..” Ujar Arlyna pelan.

“Ck, bukan ke Indonesia, Lyn sayang~”

“Ish! Berhenti memanggilku seperti itu!” Tukas Arlyna. “Lalu apa kalau bukan karena tugas perusahaan?” Lanjut Arlyna yang kembali memasukkan steak-nya ke dalam mulutnya.

“Maksudku… Tunangan?”

“Uhuk.. uhuk… uhuk…” Arlyna yang sedang mengunyah makanan, tersedak karena ucapan pria itu.

“Gwaenchana?” Baekhyun menyodorkan gelas minuman gadis itu padanya.

“Haaahhh~~~ Reaksimu berlebihan…” Ujar Baekhyun menghela nafasnya.

“Neo micheoseo, eoh?” Ujar Arlyna kesal.

“Kau bilang kekasihmu gila? Aigoo~” Baekhyun yang kesal hanya menopang dagunya dengan sebelah tangannya.

“Ne, kau gila! Bagaimana kau bisa mengucapkan kalimat itu dengan mudah, hah?” Arlyna mengerucutkan bibirnya.

“Mwo? Aku serius, Lyn..”

“Tapi kau tidak terlihat serius! Bahkan kau tidak membawa apa pun. Kau benar-benar tidak romantis!”

“Romantis itu ditunjukkan dengan sikap, Lyn… bukan dengan benda… Lagi pula… nanti aku akan memberikan sesuatu yang diluar dugaanmu.” Ujar Baekhyun yang menggenggam tangan gadis itu. Gadis itu hanya bisa membisu dengan wajah yang merona.

“Bagaimana menurutmu?” Tanya Baekhyun lagi.

“Hng… Seharusnya kau bicarakan ini pada keluargaku…”

“Itu urusan mudah, asal kau menyetujuinya.” Gadis itu mengangguk malu di hadapan pria tersebut.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Terima kasih untuk beberapa hari ini..” Ujar Yixing pada Jason rekan kerjanya pada saat di bandara untuk kembali ke Seoul.

“Sama-sama, gege… Semoga beberapa hari kau di Indonesia ini menjadi pengalaman yang berharga untukmu.”

“Itu sangat berharga dan berkesan! Indonesia adalah negara yang tidak ada duanya!” Seru Yixing mengacungkan ibu jarinya.

Pengumuman untuk pesawat tujuan Seoul dari Jakarta sudah terdengar. Yixing pun membungkuk untuk mengungkapkan rasa terima kasihnya pada temannya tersebut sebelum masuk ke ruang boarding.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Kau mau kemana?”

Aku menoleh saat mendengar suara itu menginterupsi kegiatan yang kulakukan. “Masak..”Jawabku.

“Oh..” Kris melanjutkan membaca bukunya.

“Bisakah kau tidak terus membaca buku? Kau bisa urus Ai dulu kan?” Ucapku kesal.

“Hey, aku baru saja sembuh dari sakit. Aku harus banyak istirahat.”

“Tidak ada salahnya kan kalau hanya sekedar memangku atau bermain di tempat tidur dengan Ai? Aku tidak menyuruhmu kesana kemari untuk main dengan Ai. Kau bisa melakukannya sambil duduk seperti kau membaca buku itu!”

“Tsk! Kenapa kau cerewet sekali?” Ia menutup bukunya dengan kasar dan kemudian menghampiri Ai yang asyik bermain di atas karpet di samping tempat tidur. Ia kemudian menggendong Ai. “Kau lihat, aku sudah dengan Ai.” Aku hanya keluar kamar itu tanpa bicara.

Di dapur, aku mulai berkutat dengan semua peralatan memasak. Aku membuka kulkas untuk melihat bahan makanan untuk kumasak malam ini.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Apa yang kau lakukan, pabboooooooo??!!!!” Arlyna kini mendatangi Baekhyun yang berada di kantornya. Gadis itu bahkan langsung menerobos sekertaris pria itu yang berusaha menahannya masuk karena saat itu Baekhyun sedang kedatangan client-nya untuk membicarakan kasus yang sedang ditanganinya di ruangannya.

“Jeosongmianhamnida, Tuan Byun..” Sekertarisnya membungkuk dalam karena dia tidak bisa menahan Arlyna. Pria itu hanya mengibaskan tangannya dan mempersilahkan sekertarisnya keluar.

“Mianhamnida, Tuan Park… Saya minta waktu beberapa menit untuk ini..” Ujar Baekhyun. Client-nya pun hanya mengangguk dan tersenyum. Baekhyun pun segera menarik Arlyna itu keluar dari ruangannya.

“Yak! Yak! Kau mau bawa aku kemana?! Yak!!” Gadis itu terus memukul lengan pria yang menggunakan kemeja biru tersebut.

“Yak!! Apa yang kau lakukan?!!!” Arlyna mendorong Baekhyun.

“Seharusnya aku yang berkata seperti itu!” Ujar Baekhyun yang mengurung tubuh gadis itu diantara tubuhnya dengan dinding kantornya yang sudah pasti membuat gadis itu berdebar. “Kau tidak tahu aku sedang ada client di dalam, dan kau seenaknya saja masuk begitu saja tanpa permisi!”

“Aku… aku hanya…”

Baekhyun kemudian menyilangkan satu jarinya di depan bibir gadis itu. “Kalau kau mau menjelaskan, nanti saja karena aku sedang ada client.” Potongnya cepat.

“Geundae…”

“Temui aku nanti setelah client-ku pulang.” Ujar Baekhyun yang kemudian meninggalkan Arlyna.

“Cih! Apa-apaan dia?! Sudah seenaknya saja mengirimiku berbagai macam benda dan sekarang… ARGH!!” Arlyna terlihat kesal.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Ne? Ada apa, Lian?” Aku mendengar suara itu saat aku menghubungi pria yang kini sudah mengakui perasaannya padaku.

“Kau hari ini pulang cepat?” Tanyaku sambil menggendong Ai.

“Hhmm… Sepertinya tidak bisa…” Ujarnya kemudian.

“Kenapa?” Tanyaku dengan sedikit kecewa.

“Hari ini benar-benar banyak pekerjaan, Lian. Pekerjaanku selama aku tidak masuk, terus menumpuk dan aku… aku harus mengawasi proyek baru di Canada.”

“Jadi kau mau ke Canada?” Tanyaku lagi.

“Bùshì (tidak)… Bukan begitu… pegawaiku yang akan mengirim laporannya padaku..”

“Apa tidak bisa dilakukan di rumah?”

“Bisa saja sih… Tapi semua berkas yang bersangkutan dengan proyek itu ada di kantor. Tidak mungkin aku membawa pulang semuanya kan?”

“Hah.. Ya sudahlah kalau begitu…”

“Memangnya kenapa, Lian?”

“Hee? Maksudmu?” Tanyaku.

“Aku tahu kau memikirkan sesuatu.. Katakanlah..”

“Keperluan untuk Ai sudah hampir habis…”

“Begitukah? Nanti aku akan membelinya sepulang kantor.”

“Mana ada yang bukaaa!” Ujarku kesal.

“Mini market 24 jam?” Tanyanya.

“Kris, kalau kau beli di sana pasti mahal-mahal.. Sigh~ Kau ini…”

“So what? Kalau ada kenapa tidak beli saja di tempat yang ada kan?” Ujarnya kemudian.

“Argh! Kau ini!” Aku langsung memutuskan sambungan telepon.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Tuut… Tuut… Tuut… Sambungan itu pun terputus setelah wanita itu mengomel padanya. Sedangkan pria tersebut hanya menatap layar ponselnya dengan heran. “Ada apa dengannya? Apa aku salah bicara?” Tanya Kris pada dirinya.

Tok! Tok! Tok! Suara pintu ruangannya pun menginterupsinya. “Masuk..” Ujar Kris.

“Sajang-nim… ini berkas yang anda minta..” Seorang pegawainya memberikan beberapa map yang berisi lembaran laporan perusahaannya.

“Ne, gamsahamnida…” Ujar Kris. Pria itu tidak langsung membaca berkas-berkas tersebut, namun ia masih terlihat sibuk dengan ponselnya dan terlihat menyentuh beberapa huruf.

 

To: My Lian

From: You

Kebiasaanmu sangat buruk, Lian… Aku belum selesai bicara, kau sudah menutup teleponmu. Aku akan pulang sebentar lagi untukmu. Kita akan belanja nanti.

 

Kris kemudian melanjutkan pekerjaannya setelah mengirim pesan text tersebut. Sedangkan di rumahnya, Lian tidak membalas pesan itu. Melainkan ia kemudian memandikan anaknya Ai untuk bersiap pergi ketika Kris nanti pulang. “Ai sayang, ayo kita mandi.. Sebentar lagi Papa pulang..” Ujarnya kemudian menggendong Ai.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Lyn…”

“Sigh~! Baguslah kau keluar juga akhirnya!” Gadis itu duduk di sofa yang terdapat di ruang tunggu sambil melipat kedua tangannya di dada.

“Kau ini kenapa sih? Datang tiba-tiba, mengganggu meeting ku dengan client, dan sekarang marah-marah.” Ujar Baekhyun.

“Kau tahu kenapa aku marah-marah, hah?! Kau! Yaaaaaaa!!!! Aku kesal padamuuuuuu!!!” Arlyna berteriak pada Baekhyun tidak peduli dia ada di kantor pria itu sekarang.

“Assh jinjaa… Kau ini kenapa sih??” Baekhyun kemudian menarik Arlyna keluar dari kantornya dan berjalan menuju parkiran mobilnya.

“Yaaa!!! Lepaskan aku!! Hey!! Yaaa!!” Sepanjang jalan menuju mobil, Arlyna terus berteriak pada Baekhyun.

“Masuk..” Ujar Baekhyun yang membuka pintu mobilnya untuk Arlyna.

“Shireo!”

“Ck, kau ini!” Baekhyun langsung mendorong gadis itu masuk ke dalam mobilnya. Pria itu langsung mengemudikan mobilnya keluar dari gedung perkantorannya.

“Berhentiiii!!!! Aku mau turun!!!” Teriak Arlyna.

“Sebenarnya apa yang mau kau bicarakan, eoh?” Ujar Baekhyun tanpa mempedulikan Arlyna yang tengah berteriak.

“Kau masih bertanya, eoh?!! Dasar kau ini!!”

“Jelas aku bertanya. Aku tidak mengerti apa yang kau maksud.” Balas Baekhyun.

“Aku tidak suka kau mengirim banyak barang-barang mewah! Aku tidak suka kau bicara dengan manager tempatku bekerja untuk meng-anak emas-kan aku! Aku tidak suka kau memberikanku banyak gaun, perhiasan, bunga, atau apa lah itu!!!”

Pria yang sebelumnya mengemudikan mobil dengan tenang, tiba-tiba langsung menginjak pedal remnya dalam hingga mobil itu berhenti tiba-tiba. “Mwo? Jadi hanya karena itu?”

“Hanya kau bilang?!”

“Ya… Wajar kan kalau aku tidak ingin kau kelelahan. Aku hanya ingin kau hidup dengan nyaman.”

“Kau tahu?! Hidupku sudah sangat nyaman sebelum kau ada! Dan sekarang kau… Kau malah merusak kenyamananku!!! Sigh~!”

Pria itu terkejut saat gadis di sebelahnya mengucapkan kalimat itu. “Apa maksudmu, Lyn? Kau lebih nyaman saat aku tidak ada?” Tanyanya berturut-turut.

Gadis itu hanya membisu dan menyadari ucapannya berlebihan karena dia kesal. Melihat Arlyna yang tidak menjawabnya, Baekhyun kembali mengemudikan mobilnya dan kali ini menuju apartment gadis bermarga Lee tersebut.

“Turunlah…” Ujar Baekhyun yang memalingkan wajahnya dari Arlyna saat mobilnya berhenti tepat di depan apartment Arlyna.

“Kau… tidak turun?” Tanya Arlyna pelan.

“Anni, gamsahamnida…” Ucapnya formal. Tidak pernah Baekhyun menggunakan kosakata formal pada kekasihnya. Sedangkan Arlyna, ia merasa sakit ketika kata itu yang keluar dari pria di sampingnya. Ia kemudian membuka pintu mobilnya untuk keluar dari mobil tersebut.

Pintu mobil itu kembali tertutup setelah gadis itu turun. Sebelum pergi, Baekhyun menurunkan kaca jendela mobilnya. “Arlyna-ssi, mianhamnida…” Ujarnya yang kemudian kembali menutup jendela mobilnya dan melajukan mobilnya.

Gadis itu berjalan gontai memasuki apartmentnya. Airmatanya tidak bisa ditahannya lagi meskipun ia berusaha menahannya. “Kenapa aku mengatakan itu.. Pabbo ya! Neo pabbo..hiks..hiks..”

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Haahh… Semoga saja Arlyn ada di apartment… Aku bosan di rumah..” Batin seorang gadis yang kini memasuki apartment Arlyna.

Ting! Tong! Michelle menekan tombol apartment Arlyna. “Lynn~~ It’s me! Michellee~~!!” Ujar Michelle melalui intercom yang terhubung ke dalam apartment Arlyna. Tak lama, seorang gadis dengan mata sembab dan mata memerah membuka pintu apartment tersebut.

“Mworago?! Ka.. Kau kenapa??” Michelle kaget melihat gadis yang membuka pintunya itu sedang menangis. Tanpa bicara, Arlyna menarik Michelle masuk ke apartmentnya.

“Kau kenapa, Lyn?” Tanya Michelle setelah ia duduk di sofa.

“Aku… hiks… aku…”

“Masalah dengan Baekki oppa?” Tanya Michelle. Arlyna hanya mengangguk menangis.

“Mwoya?! Waeee??”

“Sepertinya.. hiks..sepertinya.. aku membuatnya kecewa dengan ucapanku… hiks..hiks..” Isak Arlyna.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Aku mendengar suara mobil yang baru saja terparkir di garasi rumahku. Sambil menggendong Ai, aku membuka pintu untuknya. Ya, siapa lagi kalau bukan Kris. Tapi tunggu! Oh Tuhan.. Kenapa dia membawa tumpukkan berkas itu? Apa itu pekerjaannya?

“Apa itu semua pekerjaanmu?” Tanyaku yang menghampirinya bersama Ai dalam gendonganku.

“Oh, kau… Hi Ai..” Ia mengusap kepala Ai yang terlihat melonjak-lonjak dalam gendonganku.

“Kenapa kau membawanya pulang?” Tanyaku pelan.

“Kau yang memintaku pulang cepat kan? Aku tidak bisa membiarkan pekerjaan menumpuk..” Aku hanya membisu. Apa pekerjaannya lebih penting dari keluarganya, eoh?

“Sudahlah.. lebih baik kau dan Ai ganti baju..” Ujarnya yang kemudian menggamit pinggangku mendorongku masuk ke rumah dengan tangan sebelahnya yang penuh dengan beberapa pekerjaannya dan tas kantornya.

“Apa kau tidak ganti baju? Jorok sekali!” Ujarku.

“Nanti setelah aku menyusun ini.”

Aku pun segera mengganti bajuku dan juga baju Ai. Saat aku mengganti baju Ai, Kris pun masuk ke kamar. Ia mengambil handuknya dan mandi. Tidak biasanya, ia keluar kamar mandi dengan cepat.

“Kau tidak menyiapkan bajuku?” Oh Tuhan! Aku lupa!

“Chakkaman!” Ucapku kemudian.

“Tidak usah.. Kau urus saja Ai…” Ujarnya kemudian. Hey, apa dia marah?

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Mwoya?!!!! Kau mengatakan itu pada Baekki oppa?!!!” Michelle membenarkan posisi duduknya saat Arlyna menceritakan dirinya bersama Baekhyun sebelumnya.

“Itu pertama kalinya aku melihat wajahnya seperti itu, eonniii… Huhuhuhu eottohkeee~~~” Gadis itu kembali terisak.

Michelle hanya memeluk dan menepuk punggung gadis itu untuk menenangkannya. “Haah.. Kurasa si mata eyeliner itu tidak akan meninggalkanmu…”

“Eonni kata siapa? Dia bicara sangat formal padaku. Dia juga meminta maaf padaku dengan bahasa formal..” Lirih Arlyna.

“Mungkin dia hanya…. kaget? Molllaaa yooo…” Ujar Michelle. Ia masih melihat wajah Arlyna yang masih mengeluarkan air matanya. “Aishh~~ Uljimma… Aku yakin dia tidak sungguh-sungguh meninggalkanmu… Oppa sangat mencintaimu, kau tahu? Bayangkan saja aku harus mendengar ocehan-ocehannya tentangmu setiap waktu.”

“Geundae…. Bagaimana aku bisa menghubunginya? Aku bahkan sangat malu untuk bicara padanya lagi..” Lirih Arlyna.

“Kau bisa menghubunginya nanti.. Dia hanya perlu waktu…”

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Di salah satu pusat perbelanjaan, seorang wanita tengah memilih bahan-bahan masakan. Di sampingnya, berdiri seorang pria dengan tubuh tinggi dan berambut cokelat gelap yang tengah menggendong anak. Sebelah tangannya, ia gunakan untuk mendorong trolley belanjaan untuk istrinya.

“Kris, menurutmu lebih segar yang mana? Ini atau ini?” Tanya Lian pada suaminya.

Pria itu kemudian mencermati seikat sayur yang ada di kedua tangan istrinya. “Sama saja kurasa…” Ucapnya yang kembali mengajak bicara anaknya.

“Sama ya? Baiklah yang ini saja.” Ujar Lian yang meletakkan sayuran itu dalam trolley.

“Ayo, ke tempat daging…” Ujar Lian pada Kris.

“Lian, sepertinya kau tadi menelponku untuk mencari keperluan Ai, tapi kenapa beli sayur-sayuran, daging-dagingan seperti ini?”

“Supaya tidak bolak-balik, Kris. Sekalian saja aku belanja untuk bulanan, kan?”

“Kau ini….”

“Kau tidak keberatan kaann? Kkkk..”

“Sesukamu sajalah..” Jawab Kris asal.

“Kau tidak suka ya… Kau keberatan menemaniku ya…” Lirih Lian.

Kris pun menghentikan langkahnya dan menghampiri Lian. “Bukan begitu… Aku.. aku sama sekali tidak keberatan menemanimu. Lagipula, kita juga bisa menghabiskan waktu bertiga kan?” Ujar Kris.

“Zhēn de ma (benarkah)?”

“Kau tidak percaya denganku?” Tanya Kris balik. Lian pun menggelengkan kepalanya cepat.

“Ya sudah, sana belanja…” Lian hanya tersenyum dan menarik bahu Kris agar posisinya rendah. Ia kemudian mencium pipi pria itu dan berbalik badan melangkah mengambil keperluan masaknya.

“Tiān nǎ (astaga)! Di tempat umum seperti ini?” Batin Kris.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Seoul! Akhirnya aku kembali ke sini!” Seorang pria menghirup udara sekitar dalam dan perlahan menghembuskannya. Setelah menempuh perjalanan seharian dengan burung besi tersebut, ia kini kembali menginjakkan kakinya di negeri ginseng itu.

“Hyung!”

“Ah! Baekki-ya!” Yixing melepas rasa rindu pada pria yang dianggapnya sebagai adik itu dengan memeluknya.

“Kau menggemukkan diri kah di Indonesia? Hhahaha..” Kelakar Baekhyun menepuk bahu Yixing.

“Jeongmal? Aku gemukkan kah?” Tanya Yixing melihat pada dirinya sendiri. Baekhyun mengangguk.

“Sedikit.” Ujar Baekhyun.

“Oh, mungkin karena makanan di Indonesia itu enak-enak..” Ujar Yixing.

“Jinja? Apa kau membawanya?”

“Kau harus ke sana, Baekki-ya! Kau akan menyesal kalau tidak ke negara itu!”

“Aku mungkin akan kesana saat liburan..” Ujar Baekhyun lagi.

“Hey, kemana yeoja-mu itu?” Tanya Yixing.

“Yeoja?” Tanya Baekhyun balik.

“Bukannya kau sudah berpacaran dengan siapa itu… temannya Michelle… hhmm… Arlyna!” Ujar Yixing.

“Sigh~ Sudahlah, aku tidak mau membahasnya lagi, hyung…” Baekhyun mengibaskan tangannya.

“Wae?” Tanya Yixing.

“Oh, hyung..kau kembali ke kondominium-mu kan? Kajja.. aku bantu..” Ujar Baekhyun mengalihkan pembicaraan.

“Ada apa dengannya? Bukannya dia sayang sekali dengan Arlyna?” Batin Yixing.

“Baekki, selama aku pergi Michelle tidak apa-apa kan?” Tanya Yixing saat dalam perjalanan menuju kondominiumnya.

“Ada apa? Tidak ada yang terjadi. Aigoo, hyung.. aku kan bukan bodyguardnya Michelle…” Ucap Baekhyun sambil menyetir mobil.

“Oh, bagaimana dengan Kris gege?”

“Kris gege? Apa kau tahu, Kris gege sempat masuk rumah sakit.”

“Mwoya?!!” Yixing yang sedari tadi terus menatap layar tab-nya, mengalihkan pandangannya pada Baekhyun.

“Kris gege mengidap penyakit myocarditis. Dan saat itu dia… Dia sempat tidak sadarkan diri..”

“Mwo?! Kenapa tidak ada satu pun dari kalian yang memberitahuku?!” Ujar Yixing.

“Kami tidak mau mengganggumu selama di Indonesia hyung… Kau tahu kan itu negara orang, kami tidak mau terjadi apa-apa kau di sana…” Ujar Baekhyun.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Daging dan ikan letakkan saja di dapur ya, Kris.. Kalau sayur-sayuran… Hhmm apa kau bisa menyusunnya? Kalau tidak bisa nanti aku saja.. Aku mau menyusui Ai dulu..” Ujarku.

“Aku tidak mengerti Lian, tapi kalau belanjaan lain aku mengerti menyusunnya..” Jawabnya.

“Ne..” Aku pun ke kamar dan menyusui Ai. Aku mendengar suara langkah Kris yang kesana kemari memasukkan belanjaan-belanjaan seperti sarden dan makanan lainnya. Tak lama ia masuk kamar dan membawa plastik yang berisikan popok bayi.

“Ini…. Ditaruh dimana?”

“Lemari Ai..” Ujarku tersenyum. Setelah meletakkan popok itu, ia menghampiriku dan duduk di depanku yang sedang bersandar pada kepala tempat tidur. “Wae?” Tanyaku.

“Nothing… Hanya saja aku ingin berada di sini bersama istri dan anakku. Apa itu salah?”

Aku hanya tersenyum dan berkata “Kau tidak salah..” Jawabku.

“Apa kau berencana memiliki anak lagi?” Tanya Kris tiba-tiba yang membuatku mengalihkan pandanganku dari Ai padanya.

Aku hanya menggigit bibir bawahku, tidak sanggup menjawab. Ya, itu adalah kebiasaanku. Perlahan dia merangkak naik ke tempat tidur dan duduk di sampingku untuk merangkulku yang sedang menyusui Ai ke dalam pelukannya.

“Kenapa kau diam saja?” Tanyanya sambil mengelus kepalaku. “Kau mau memiliki anak lagi?” Tuhan, kenapa pertanyaannya sangat mengintimidasiku?

“Lian… Aku sedang bicara padamu, sweety…” Sweety?!! Ya Tuhan! Dia memanggilku sweety?!! Apa ada yang salah dengan makanan yang dia makan?

“Hey..” Dia mengalihkan wajahku padanya. Mama..!! Selamatkan aku!!

“A..aku…” Ya Tuhan! Aku tidak sanggup menatapnya.

“Aww!!” Aku memekik saat merasakan sakit di tubuhku. Lebih tepatnya dadaku.

“Wèi (kenapa)?”

“Ai galak ternyata.. Masa aku digigit?” Ujarku.

“Really? Aku periksa?” Tanya Kris. Sontak saja wajahku memerah.

“Bùshìììì (tidak)!!!” Ujarku yang langsung membalikkan tubuhku.

Beruntung saat itu telepon rumah berbunyi. Kris pun keluar kamar menjawab telepon itu. Kulihat Ai juga sudah tertidur. Aku segera membaringkannya di tengah ranjang dengan bantal guling di sisi kiri dan kanannya. Tak lupa aku menyelimutinya agar hangat. Aku kemudian menggulung rambutku agar tidak mengganggu aktifitasku yang harus membereskan daging-daging dan ikan belanjaan tadi.

“Yes, Mom.. Nanti kami akan datang…” Aku mendengar ucapan Kris. Mommy? Ada apa ya?

“Yup, understood.. Bye, Mom…”

“Mommy?” Tanyaku pada Kris setelah ia meletakkan telepon rumah.

Ia pun mengangguk. “Mengundang kita…”

“Ada apa?” Tanyaku.

“Ulang tahun pernikahan mereka yang ke dua puluh lima tahun, besok…”

“Daebak!” Apa aku bisa mencapai usia pernikahan itu?

“Kau kenapa?” Tanya Kris yang membuyarkan lamunanku.

“Uhm? Wǒ méiyǒu shé me (aku tidak apa).” Jawabku.

“Kau tidak bisa berbohong, Lian..” Kris merengkuh wajahku.

“Benar, aku tidak apa kok…” Jawabku yang melepaskan tangannya dan beranjak ke dapur.

“Wait!” Tanganku kemudian ditarik dan detik berikutnya aku seolah berhenti bernapas karena tiba-tiba Kris mencium bibirku.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Malam itu Arlyna sudah membaringkan tubuhnya di atas ranjang kesayangannya di apartmentnya. Ia bersiap untuk menjelajahi alam mimpinya, beristirahat untuk aktifitas keesokan harinya yang sibuk. Namun saat ia akan memejamkan kedua matanya, ponselnya pun berbunyi. Dengan malas ia menggapai ponselnya yang berada di nakas.

“Eoh? Eomma?” Gumamnya saat melihat layar ponselnya.

“Yeobseo?” Sapa Arlyna.

“Lyn, kau sudah mau tidur ya?”

“Ne, eomma… Ini sudah malam.. Kenapa eomma tidak menelponku besok saja?”

“Mianhae, chagi… Eomma harus menelponmu dengan segera. Karena eomma…”

“Sibuk.” Potong Arlyna cepat. “Lalu ada apa menelponku?” Tanya Alryna lagi.

“Begini… Kau mau kan menggantikan eomma menghadiri pesta ulang tahun pernikahan teman eomma?”

“Nugu?”

“Itu… Keluarga Wu..”

“Oh.. Orang tuanya Michelle eonni?”

“Ne… Kau bisa kan?” Tanya ibunya lagi.

“Okay…”

“Sampaikan padanya, eomma tidak bisa datang karena eomma harus ke Thailand untuk pembukaan salon dan spa eomma…”

“Ya, baiklah…” Jawab Arlyna malas.

“Gomawo chagia… Jaljayo….”

“Ne, jalja eomma…” Jawab Arlyna yang kemudian meletakkan ponselnya di atas nakas.

“Haaahh~~~~ Eomma selalu saja begitu. Sigh~” Dengusnya.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Lian sudah sibuk bersiap-siap. Setelah ia memasak, ia kembali ke kamarnya membangunkan suaminya. “Yaa! Bangun tuan pemalas!” Lian menyibak selimut yang dipakai Kris. Tanpa menjawab, Kris kembali menarik selimutnya.

“Wake up!” Ucap Lian lagi.

“Quite, biarkan aku tidur lima menit lagi.” Gumam Kris.

“Sigh~ Apa kau lupa hari ini kita harus ke rumah Mom and Dad?” Lian kembali membuka selimut Kris.

“Mereka juga tidak keberatan kalau kita datang terlambat.” Racau Kris malas.

“Banguuunnn!!!” Lian menggulung selimut yang dipakai Kris.

“Arrghh!!!” Kris yang kesal pun duduk dengan rambut yang masih berantakan dan mata yang masih setengah terbuka. Dan tak lama tangis bayi pun terdengar. Ai yang berada dalam box bayinya menangis karena mendengar Kris.

“Sigh! Kau lihat sekarang? Sana mandi!” Lian melempar handuk pada wajah Kris dan mengambil Ai untuk digendongnya.

“Ssstt… uljimma, Ai… Ai kaget ya… Papa nakal ya.. Ai jadi kaget nih..” Lian mengusap-usap punggung Ai. Ai pun perlahan berhenti menangis. Sedangkan Kris pun dengan malas berjalan untuk mandi. Setelah Kris mandi, Lian pun masuk ke kamar mandi untuk memandikan Ai.

“Mau memandikan Ai?” Tanya Kris.

“Uhm, ne..”

“Sini aku gendong Ai dulu.” Ujar Kris kemudian. Lian pun memberikan Ai pada Kris sementara ia menyiapkan keperluan Ai mandi. Mereka berdua pun memandikan anak mereka bersama.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Ish! Kemana sih gege? Kenapa belum datang juga?” Michelle mencoba menghubungi Kris berkali-kali.

“Ya, Chell?” Terdengar suara wanita yang menjawab ponsel kakaknya.

“Jiejie? Sudah dimana?”

“Di jalan. Sebentar lagi juga sampai…”

“Oh, baiklah… Apa Ai ikut?”

“Tentu saja…”

“Aah! Baiklah… cepat ya, Jie.. Aku mau main dengan Ai..” Pekik Michelle.

“Ne..”

Setengah jam kemudian, Kris dan Lian pun tiba. Michelle langsung menyambutnya dan menggendong Ai. Karena Michelle sering bersama Ai, Ai menurut saja saat digendong Michelle.

“Aku ke Mom dulu ya..” Ujar Lian pada Kris.

“Hng? Aku juga mau ke Mom..” Sahut Kris.

“Tapi, Michelle?”

“Biar saja.. dia masih bersama Ai..” Kris mendorong pinggang Lian.

“Kris? Lian? Kalian sudah datang?”

“Ne, Mom..” Jawab mereka bersamaan. Kris kemudian memberikan se-bucket bunga untuk ibunya. “Happy anniv with Dad, Mom..” Kris mencium kening ibunya.

“Thanks, Kris..”

“Where’s Dad?” Tanya Kris.

“Di belakang. Entah apa yang dilakukannya..”

“Well, aku ke belakang dulu..” Ujar Kris. Lian pun membantu ibu mertuanya menyiapkan pesta kecil. Hanya beberapa orang saja yang diundang.

“Mom, Mama dan Papa tidak bisa datang karena harus ke Osaka…” Ujar Lian menyesal.

“Tidak apa. Mom mengerti..” Jawabnya tersenyum. Lian pun menghias kue tart yang ada di hadapannya. “Lian… Kau tidak ada rencana untuk anak kedua nanti?”

Lian hanya tersenyum. “Aku belum berpikiran kearah sana, Mom..”

Tak terasa hari sudah senja. Sebuah mobil terparkir di depan rumah keluarga Wu tersebut. Michelle yang sedang menggendong Ai pun keluar. “Gege…”

“Oh, Kris ge sudah datang?”

“Dari tadi pagi… Tapi Kris ge belum tahu kalau gege sudah kembali ke Seoul.”

Yixing pun tersenyum. “Ne, nanti aku menemuinya..”

Malam pun menjelang. Terlihat beberapa mobil mewah yang terparkir di garasi rumah yang memuat empat mobil tersebut. Kris pun yang semula memarkirkan mobilnya di belakang mobil ayahnya, harus memindah parkir mobilnya masuk ke garasi dalam sebelah mobil ayahnya. Arlyna yang kali itu menggunakan fasilitas orang tuanya dengan diantar mobil mewah datang pada undangan tersebut.

“Ahjumma, mianhae… eomma tidak bisa datang…” Ujar Arlyna.

“Ne, ahjumma tahu… eomma mu sudah mengatakannya padaku..” Jawab wanita paruh baya berkebangsaan Canada tersebut.

“Lyn, bantuin dong…” Ujar Michelle yang membawa beberapa makanan bersama Lian. Di lain tempat Kris yang tengah menggendong Ai bermain bersama Yixing. Para tamu pun saling berbincang.

Kris dan Yixing pun membawa keluar Ai yang terus menangis karena banyak orang. Ya, Ai memang tidak suka keramaian karena asing baginya. Mereka berdua pun saling bertukar cerita sementara para wanita yang mereka cintai sama-sama sibuk di dalam. Saat mereka berbincang, sebuah mobil kembali berhenti di depan rumah.

“Pasti tamunya Dad lagi…” Batin Kris saat menggendong Ai.

“Ge, itu Baekhyun kan?” Tanya Yixing.

“Sepertinya begitu..” Ujar Kris.

“Hyung!” Seru Baekhyun memanggil Yixing dan Kris.

“A-Yo!” Ujar Kris yang kemudian mengangkat tangan Ai. Baekhyun pun mendekati Ai dan hendak menciumnya.

“Huweeeee~~~~” Ai menangis saat Baekhyun mendekatinya.

“Kau menakutinya!” Ujar Kris.

“Mwo? Aku tidak melakukan apa-apa!” Ujar Baekhyun. Sementara Yixing hanya tertawa.

“Ah! Baekhyun-ssi!” Pria berkebangsaan China bermarga Wu keluar menuju teras rumahnya.

“Nî hâo ma (bagaimana kabarmu), tuan Wu?” Ujar Baekhyun yang menjabat tangan pria yang berstatus ayahnya Kris.

“Kau mengenal Dad?” Tanya Kris.

“Baekhyun ini yang sudah membantu Dad dalam persidangan kasus sengketa itu, Kris.. Kau tidak lupa kan dia pengacara?”

“Kau membantu Dad?” Kris mengamati Baekhyun sarkatis.

“Hyung, kau tidak percaya padaku eoh?”

“Ahahha~~” Kelakar Kris.

“Ayo, masuk…” Ujar sang pemilik rumah.

“Kris… Ai harus minum..” Lian kemudian keluar.

“Kita ke kamarku saja..” Ujar Kris. Mereka berdua pun membawa Ai ke kamar Kris yang terletak di lantai dua rumah tersebut.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Saat pesta itu berlangsung, aku dan Kris lebih banyak sibuk dengan Ai karena terus menerus menangis.

“Ai, stop crying baby…” Ujar Kris yang mulai terlihat frustasi. Berbagai cara ia lakukan untuk menghentikan tangis Ai. Tapi tetap saja tidak ada pengaruhnya untuk Ai.

“Eonni, kenapa Baekhyun oppa ada di sini?” Aku mendengar Arlyna yang bertanya pada Michelle. Hey, kenapa mereka terkesan bertengkar? Dari tadi aku tidak melihat Baekhyun yang menghampiri Arlyna atau pun sebaliknya. Kenapa mereka?

“Oh, aku lupa memberitahumu.. Baekhyun oppa pernah membantu Dad dalam sidang.”

“Jinja?” Tanya Arlyna tidak percaya. Ingin sekali rasanya aku bertanya pada mereka berdua. Maksudku Arlyna dan Baekhyun. Kenapa mereka saling menjauh? Apa mereka berdua putus? Ah! Rasanya tidak mungkin! Karena dari tadi aku menangkap Baekhyun yang sesekali mencuri pandang pada Arlyna.

“Kris…” Aku berbisik pada suamiku. Kris pun menoleh padaku.

“Kau lihat tidak? Arlyn sama Baekhyun kenapa? Kok jauh-jauhan?” Bisikku lagi.

“I don’t know… Tapi sepertinya mereka ada masalah..” Ujar Kris yang kemudian mencoba menggendong Ai.

“Coba kau tanya Baekhyun…”

“Kenapa tidak kau saja? Kau kan teman dekatnya.” Ujar Kris.

“Kau tidak cemburu?”

“Untuk apa aku cemburu?” Tanya Kris balik. Sigh! Menyebalkan sekali dia! Karena Ai sedang digendong Kris, aku pun kemudian menghampiri Baekhyun.

“Baekhyunnie~~”Aku menghampiri pria itu dengan melingkarkan tanganku di bahunya. Kris tidak akan cemburu karena ini kan?

“Noo…noona?? Wae?”

“Temani aku dong!”

“Kemana?”

“Mobil..” Jawabku.

Di saat yang sama, aku mengirim pesan text pada Michelle untuk membawa Arlyna keluar. Maksudku, aku mengatakan pada Michelle kalau Arlyna dipanggil oleh Baekhyun.

“Kenapa ke mobil, noon?” Tanya Baekhyun.

“Aku lupa menaruh baju Ai.. Bantu aku cari dong. Kris kan sedang menggendong Ai…”

“Okay, baiklah…” Jawab Baekhyun. Aku berhasil mengambil kunci mobil yang berada di saku celana belakang Kris. Huh! Siapa suruh menggantungkan kunci mobil begitu saja di saku celananya. Kebiasaan buruk! Aku pun menarik Baekhyun keluar.

“Lian, mau kemana?”

“Ke mobil..” Jawabku pada Kris.

“Kau tidak butuh kunci mobilnya, eoh?”

“Tidak perlu. Aku sudah dapat sendiri..” Aku menunjukkan kunci mobil pada Kris. Kris pun meraba saku celananya dan ternyata kunci mobilnya sudah hilang. Hahaha… hey, apa aku ada bakat untuk menjadi seorang pencuri?

“Kau… kapan kau mengambilnya?”

“Kebiasaanmu buruk tiang listrik!”

Di garasi pun aku membuka salah satu pintu mobil. “Coba periksa di bagasi, Baekki..” Ujarku.

“Ne..” Baekhyun pun membuka pintu bagasi. Dia terlihat mencari-cari baju Ai.

“Eonni? Baekhyun oppa mana?” Arlyna sudah datang. Yes!

“Di belakang. Coba kau tanya padanya, kenapa dia memanggilmu…”

“Ne…” Dengan segera, aku pun meninggalkan mereka berdua.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Noona, bajunya ti… Ahh!” Baekhyun terkejut saat menutup pintu bagasi karena melihat Arlyna di hadapannya.

“Apa yang kau lakukan? Katanya kau memanggilku…” Ujar Arlyna ragu.

“Memanggilmu? Aku…aku…tidak memanggilmu.” Baekhyun terlihat kikuk. “Lian noona eoddi?” Tanya Baekhyun mengalihkan pembicaraan.

“Tadi sudah masuk. Baiklah kalau memang tidak ada yang dibicarakan..” Arlyna berbalik badan dan hendak masuk ke dalam rumah.

Baekhyun menahan tangan gadis itu walaupun ia memalingkan wajahnya. “Hhm.. aku…”

“Oppa mianhae…” Ujar Arlyna menunduk. Ia berusaha menahan air matanya yang sudah mulai membuat pandangannya mengabur. Melihat hal itu, Baekhyun pun menarik gadis itu ke dalam pelukannya, mendekapnya erat. Sedangkan Arlyna yang mendapatkan perlakuan tersebut, sudah tidak sanggup lagi menahan air matanya.

“Mianhae, aku keterlaluan padamu..” Baekhyun mengusap kepala gadis itu. “Aku tidak bisa jauh darimu, Lyn…” Lanjutnya yang mencium kepala Arlyna.

Gadis itu hanya diam membisu dan hanya bisa menangis dalam dekapan Baekhyun. “Uljimma..” Ujar Baekhyun yang melonggarkan pelukannya dan menghapus air mata Arlyna.

“Apa kita berhasil, Jie?” Tanya Michelle yang mengintip dari jauh bersama Lian.

“Sepertinya begitu… Lihat saja, mereka sudah tertawa lagi..” Jawab Lian.

“Huwaaaaa~~~” Ucap Lian dan Michelle bersamaan.

“Jie, mereka berciuman kah? Aish! Lagi-lagi…!!” Ujar Michelle.

“Tidak.. tidak… kau tidak boleh melihat!” Lian berusaha menutup mata Michelle.

“Jie, aku sudah lebih dari tujuh belas tahun! Bahkan aku sudah dua puluh tahun.”

“EHEM!” Seseorang berdeham di belakang Michelle dan Lian.

“Hyaaa!!” Teriak mereka bersamaan. Dukk!!

“Aww!!” Keluh Michelle yang kepalanya membentur lemari.

“Aisshh appoo~~” Lian mengusap lututnya yang membentur daun pintu.

“Apa yang kalian lakukan di sini?” Kris menaikkan sebelah alisnya heran. Kedua tangannya masuk ke dalam saku celananya. Ai sedang digendong oleh ibunya.

“Ne, kenapa kalian mengintip di sini?” Tanya Yixing di sebelahnya.

“Hng… kita… kita hanya…” Lian dan Michelle kesulitan mencari alasan. Kris kemudian melihat kearah belakang mereka.

“Kalian mengintip Baekhyun dan Arlyna?” Tanya Kris lagi. Michelle dan Lian membisu.

“Ya Tuhan… kalian mesum ternyata..” Ujar Kris datar.

“Iya, aku tidak menyangka kalau Michelle…” Yixing menggantungkan ucapannya.

“APA MAKSUD KALIAN?!!” Michelle dan Lian mengucapkan kalimat tersebut pada pria yang berhadapan dengan mereka?

“Kau menolak memiliki anak lagi tapi ternyata kau…” Kris tersenyum seperti meremehkan istrinya.

“YAAKK!! Aku tidak sepertimu, Kris Wu!!! Dasar tiang listrik berjalaannn!!” Lian memukuli bahu Kris. Sementara Kris hanya menghindari pukulan Lian yang semakin membabi buta.

“Bagaimana kalau kita segera menikah dan memiliki anak, eoh?” Yixing kemudian menggenggam tangan Michelle tidak peduli dengan keributan yang ditimbulkan oleh Lian dan Kris.

“Kyaaaa!!!!! Yixing gege jadi mesummm!!!” Teriak Michelle yang kemudian berlari dari Yixing.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Beberapa bulan kemudian, lebih tepatnya pada tanggal 14 February dilangsungkan sebuah pernikahan. Pernikahan satu-satunya puteri dari keluarga Wu. Michelle kali ini sudah terbalut gaun pengantin yang memiliki ekor gaun yang panjang. Untuk hiasan kepalanya, ia hanya menggunakan sebuah tiara layaknya seorang puteri kerajaan.

“Huwwaaaa jiejieee… aku guguppp!!” Michelle memainkan jarinya di pangkuannya.

“Sudahlah… jangan seperti itu, nanti kau malah terlihat konyol di depan semuanya…” Ujar Lian.

“Waaaa!!! Eonni!!!” Arlyna kemudian masuk ke dalam ruang rias itu. Gadis bermarga Lee itu terlihat berkali-kali memeluk Michelle. “Huwwaaa!! Aku iri padamu, eon!”

“Kalau kau iri, kenapa tidak menikah saja dengan Baekhyun? Atau… paling tidak bertunangan?”

“Oppa tidak mau bertunangan. Dia mau langsung menikah.. tapi… entah kapan dia siap..”

“Oh, kau sudah siap sekali ya?” Ledek Lian.

“Eonni… meledekku sajaaa…” Ujar Arlyna.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Pesta pernikahan pun berlangsung. Michelle yang kali itu berjalan bersama ayahnya kini sudah mulai meraih tangan Yixing untuk mengikat hidup mereka dalam sebuah perjanjian suci dalam sebuah pernikahan. Ketika janji itu sudah terucap dari kedua mempelai, mereka pun saling memasang cincin pernikahan mereka yang merupakan symbol cinta mereka yang sudah terikat.

“Bāng bāng wǒ (tolong aku)! Apa aku harus berciuman di tempat umum seperti ini???” Batin Michelle yang saat itu tangan Yixing sudah menggamit pinggangnya.

“Kau mau di sini atau di kamar, eoh?” Bisik Yixing.

“Shénme (apa)?!!” Kedua mata Michelle pun terbelalak kaget. Dan saat itu digunakan Yixing untuk mencium gadis yang sudah sah menjadi istrinya tersebut yang kini wajahnya bersemu merah.

Saat pesta berlangsung, Michelle dan Yixing pun berjalan menemui para tamu yang datang. Banyak yang memberikan selamat pada mereka berdua yang baru saja akan memulai hidup baru mereka.

“Yaa! Michelle Zhang!” Baekhyun menepuk bahu gadis itu.

“Mworago? Kau kenapa tidak cepat menikah saja sih oppa?” Ujar Michelle terkesan ketus.

“Galak sekali kau ini!”

“Ish! Itu kan untukmu juga, oppa.. Hahaha..”

Yixing terlihat sedang berbincang dengan Kris di salah satu meja tertentu. Entah apa yang mereka bicarakan.  Sedangkan Lian yang menggendong Ai, memilih untuk bersama Michelle untuk meledek Arlyna dan Baekhyun. Tidak lupa mereka berenam beserta Ai dalam gendongan Lian berfoto bersama.

THE END

62 tanggapan untuk “Eternally Love_Sequel Love Contract”

  1. woahhh daebak bgt ^_^
    ini ff kris yg pling daebak …

    gomawo buat author yg sudah membuat ff sekeren ini 😉
    keep writing thor , d tunggu karya slanjutnya 🙂 ❤

  2. Huaaaa daebak kenapa aku baru nemu sekarang…astaga..
    Akhir lian ma kris jd keluarga bahagia…kekkekee..sqeulnya ni arlyna ma baeki yg nikah…kris pny anak 2 yixing pnya anak 1….hehhee

  3. sequelnya lagi dong masih pengen baca ff ini.ffnya daebak bener sih
    semoga secepatnya sequelnya dibpost yah.keep writing thor
    fighting!!!
    anyeong

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s