Everything Has Changed (Chapter 11)

Everything Has Changed ver 3

Everything Has Changed

[ Chapter 10 | Romance, School life | General ]
with Kim Jongin,
Oh Sehun,
and OC Jung Yunhee as the main cast

by

Eunike

[ I own the story and art ]

Kegelapan di mataku. Aku tidak tahu lagi ke mana kakiku melangkah. Yang kutahu kini ada kau di sini. Yang kutahu kini kita berdua di lorong yang gelap ini.

Series : Prolog + Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 |  Chapter 5 |  Chapter 6 | Chapter 7 | Chapter 8 | Chapter 9 | Chapter 10 | Chapter 11

***

CHAPTER 11

Tangannya yang bebas terangkat menggapai udara. Ini bukan mimpi, begitu pikirnya pada kali pertama. Tapi tepat pada detik kedua setelah tangannya turun dan menyentuh kursi tempatnya terduduk, Yunhee terdiam dalam geming dan barulah ia tersadar. Ini bukan tempat seharusnya ia berada. Seharusnya ia terbangun di atas ranjang, menatap plafon rumahnya yang putih polos di samping jendela yang tirainya tersibak lebar.

Lalu apa yang dilakukannya di dalam mobil seperti ini? Duduk di bagian belakang, menatap dua orang yang duduk di barisan depan seraya meremas ujung gaunnya.

“Sudah kubilang tidak seharusnya kau menolak tawaran itu!” seru seorang wanita yang duduk di kursi penumpang kepada pria berjaket biru yang ujungnya digelung sebatas siku.

Yunhee tidak mengenal siapa wanita itu, pun mengingat wajahnya. Begitu pula dengan pria bermata sipit di sampingnya.

“Kau tidak berhak mengatur suamimu!” balas pria itu dengan suara lebih tinggi dari si wanita yang rupa-rupanya merupakan sang istri.

Satu tarikan napas diambilnya diam-diam. Yunhee mencoba menyela tapi suaranya tidak mau keluar. Bibirnya kelu dan kerongkongannya seperti dicekik.

“Aku sebagai istri juga memiliki hak untuk memberikan pendapat, Hyungwan!”

“Semua sudah terjadi, apa yang bisa kaulakukan? Tutup mulutmu dan urus Yunhee. Hanya itu tugasmu, Hyema!”

“Jung Hyungwan!”

Yunhee memejamkan kedua matanya erat-erat, mengusir suara-suara yang mengusik indra pendengarannya. Ketidakmengertian dan ketidakberdayaan ketika lontaran-lontaran makian semakin menjadi-jadi kian menekan Yunhee. Rasa pusing dan frustasi menguasai kepalanya telak-telak. Ia tidak mampu berpikir sampai—

“Yunhee!”

“Jung Yunhee!”

—namanya kembali disebut,

oleh suara yang begitu familiar, yang begitu dikenalnya; Oh Sehun.

Yunhee perlahan melepas pejaman matanya lamat-lamat dan menatap sekelilingnya. Sinar rembulan menelisik lembut dari balik tirai sutranya yang melambai-lambai tertiup angin malam yang menyelinap dari celah jendela. Sepi. Senyap. Hening. Tidak ada suara apa-apa yang ditangkapnya selama beberapa detik ke depan. Hanya deru napasnya yang tidak beraturan serta detak jam dinding di ujung ruangan yang terdengar.

Ternyata mimpi.

Ia menghela napas panjang lantas menyibak selimutnya. Hawa panas menyeruak menyentuh tubuhnya yang berpeluh—tunggu. Ini bukan hawa yang ditimbulkan di malam musim panas, pun dari penghangat ruangan. Pasti ada sesuatu yang tidak beres di sini.

“Jung Yunhee!”

“Jung Yunhee buka pintunya!”

Alisnya mengernyit heran. Gedoran berentet di pintu apartemennya entah kenapa terdengar sangat tidak sabaran.

Baru saja ia bangkit dari rebahnya dan hendak menurunkan tungkai kaki ketika sebuah suara kembali hadir ke benaknya; entah nyata atau tidak. Yunhee terdiam, mengatup bibirnya rapat-rapat.

“Sudah kubilang anak itu sumber segala masalah!”

“Jung Hyungwan, bagaimanapun dia anakmu!”

“Dia tidak akan lahir jika kau menurutiku untuk mengaborsinya, sialan!”

“Hyungwan!”

Bibir Yunhee bergetar samar. “Aborsi….?”

Kepala Yunhee kembali terasa pening. Potongan-potongan kejadian kembali menerjang benaknya tanpa ampun, berputar layaknya menonton sebuah film. Seperti kilas balik, tapi ia tidak yakin ini merupakan kejadian yang benar-benar pernah dialaminya. Semuanya tampak semu namun begitu nyata. Begitu dekat di matanya.

“Jung Yunhee bukan anak—”

Sebuah truk pengangkut barang tiba-tiba melaju kencang dari arah berlawanan. Sinar lampunya menyorot menyilaukan, membuyarkan pandangan disertai jeritan kencang yang begitu memilukan. Yunhee bergetar, meringkuk dan menutup kedua telinganya spontan. Jeritan kembali terdengar yang belakangan ia sadari dirinyalah yang barusan menjerit.

Semuanya terjadi begitu saja.

Hancur dalam sekejap. Tanpa isak tangis tanpa salam perpisahan. Semuanya berakhir di sana; di detik itu juga. Darah yang mengucur dan keheningan di atas gegapnya malam itu menjadi penutup yang begitu pahit.

Yunhee merasakan sekujur tubuhnya bergetar hebat dan bibirnya kelu disertai keringat yang kembali membanjiri. Tangannya dingin dan ia tidak sanggup bergerak. Rasa-rasanya seperti dipaku permanen ke tempat di mana ia berpijak saat ini. Suara gaduh di luar dan gedoran pintu yang sempat didengarnya beberapa saat lalu beranjak samar, sampai akhirnya ia tidak bisa mendengar apa-apa lagi, selain sebuah suara yang terus menerus meneriaki namanya tanpa henti.

“Yunhee!”

“Jung Yunhee!”

“Oh Sehun dobrak saja pintunya!”

“Sedang kucoba Noonaakh! Sialan, Yunhee bangun kau keparat! Hei!”

“Hais benar-benar gadis ini, kau mau mati terbakar di dalam sana, hah?! Bangun sialan!”

BRAK!!

***

Sehun sama sekali tidak habis pikir bagaimana bisa gadis itu tidak terbangun ketika hawa panas itu datang bersama dengan asap tebalnya yang begitu menyesakkan. Suara sirine mobil kebakaran dan teriakan para tetangga yang menggaduh di luar pun sama sekali tidak mengusik gadis itu. Dia masih hidup atau mati, hei? Jelas-jelas beberapa jam tadi sebelum kebakaran di apartemen sebelah terjadi ia mendengar pintu ini terbuka dan langkah kaki yang pastinya milik seorang Jung Yunhee melangkah masuk ke dalam.

Segitu cepatnya kah dia tertidur?

Sehun tidak mau ambil pusing lagi. Yang jelas ia harus mencari cara bagaimana ia bisa membuka pintu kayu sialan ini dan menarik gadis itu keluar sebelum namanya ada di daftar korban jiwa. Sungguh tidak lucu.

“Oh Sehun dobrak saja pintunya!”

Nah. Ini juga ide yang sudah datang ke pikirannya sejak tadi.

“Sedang kucoba Noonaakh! Sialan, Yunhee bangun kau keparat! Hei!”

“Hais benar-benar gadis ini, kau mau mati terbakar di dalam sana, hah?! Bangun sialan!”

BRAK!!

Sehun menghela napas lega dan segera melangkahkan kaki ke dalam. Asap sudah mengumpul lebih banyak dari dugaannya. Ia sedikit terbatuk beberapa kali sebelum akhirnya menutup hidung dengan ujung piyamanya.

“Yunhee?”

Alisnya mengernyit heran tak habis pikir begitu didapatinya Yunhee malah terduduk di atas ranjangnya tanpa bergerak sedikit pun. Kedua mata gadis itu membelalak panik tapi tidak ada gerakan yang diambilnya.

“Yunhee kau tidak apa-apa?” Sehun menyentuh pundak gadis itu pelan, tapi Yunhee malah membelalak kaget dan menoleh menatap Sehun dengan mata membulat.

“K-Kau mengagetkanku.”

“Mengangetkanmu?” Sehun mengulang dengan sebelah alis terangkat. Sungguh tidak masuk akal tapi—yasudahlah terserah. Percuma berdebat di keadaan seperti ini. “Terserah kau saja, sekarang ayo ikut aku.”

“Ke mana?”

“Kau gila?” Lengan Sehun turun ke bawah dan menarik pergelangan tangan gadis itu. “Tentu saja keluar. Cepat.”

Yunhee bangun dari duduknya. Ekspresinya datar. Sesekali ia terbatuk dan mengibas-ngibaskan tangannya ketika asap menganggu indra pernapasannya.

“Sedikit lagi sampai. Jangan sampai salah pijak,” ujar Sehun begitu mereka menuruni tangga.

Yunhee hanya mengangguk sekilas dan mengikuti langkah lelaki itu. Sedikit demi sedikit ia mengerti apa yang tengah terjadi saat ini. Kebakaran yang entah dari mana asalnya, setidaknya itu yang ia ketahui. Sebab saat ini otaknya masih dipenuhi rentetan kilasan yang barusan menyerang.

Di luar ia langsung disambut oleh Nenek Cha dan Injung yang ternyata sudah menunggu-nunggu sejak lima menit lalu. Yunhee hanya tersenyum tipis dan mengangguk beberapa kali. Ia menunduk sopan ketika irisnya bertemu dengan suami Nenek Cha dan suami Injung yang berdiri tidak jauh dari mereka.

Mereka hanya berbincang beberapa saat karena malam ini Yunhee sedang tidak ingin banyak bicara.

Api melalap semakin buas, mungkin karena musim panas. Petugas pemadam kebakaran terlihat sibuk dan kepayahan, tapi para warga juga tidak bisa berbuat apa-apa, atau lebih tepatnya bingung harus berbuat apa. Semuanya terlihat panik dan cemas, tapi hanya mampu menatap dan menghela napas pasrah ketika api sedikit demi sedikit menyambar ke apartemen mereka dari apartemen sebelah. Dan kamar Yunhee yang paling pertama kena. Injung terlihat frustasi dengan Bamju digendongannya dan menangis di dada suaminya. Sedangkan Nenek Cha menatap suaminya tanpa tahu harus berkata apa dan segera pergi ke rumah anak laki-lakinya.

Sehun mendesah panjang dan mengenggam tangan gadis itu ketika Yunhee merasakan lututnya lemas. Semua barang-barangnya di sana. Semua benda berharganya di sana. Dan tidak ada satupun yang mampu diselamatkan kecuali piyama yang saat ini dikenakannya. Ponsel pun ikut tertinggal.

Lantas berbagai pertanyaan kembali hadir, seperti; di mana ia harus tinggal malam ini? Disusul pertanyaan-pertanyaan lain layaknya; di mana ia harus tinggal malam berikutnya? Bagaimana nasib barang-barang di sana? Bagaimana ia harus bersekolah? Bagaimana dengan ibu?

Dan tidak ada satu di antaranya yang terjawab. Hanya desisan angin dan kobaran api.

***

“Ini.”

Sehun menyodorkan sekaleng minuman yang baru dibelinya di mini market. Beruntunglah ia, lelaki itu sadar lebih cepat dibanding Yunhee dan sempat membawa dompet serta ponselnya. Tidak lebih.

Yunhee menerima sodanya dan tersenyum tipis. “Terimakasih.”

“Kau mau ke mana setelah ini?”

“Entahlah,” gadis itu menghela napas panjang dan menatap lampu jalan di atasnya. Sudah cukup lama mereka terduduk di sini; di halte bis; meratapi nasib yang nyatanya sedang kurang beruntung. Kendaraan yang berlalu lalang di depan serta pejalan kaki yang sesekali lewat sama sekali tidak mengobati rasa frustasi keduanya. Tentu saja. Sebab tidak ada kaitannya sama sekali.

“Kau sudah memikirkan tempat untuk tinggal malam ini? Jongin, mungkin. Atau Hanna.”

“Jongin?” Yunhee terdiam sejenak. Tangannya membuka segel kaleng di tangannya dan mengambil beberapa teguk banyak-banyak. “Aku tidak mau mengganggu waktunya, ia pasti sedang sibuk latihan untuk audisinya.”

“Audisi?” Sehun menoleh dengan sebelah alis terangkat.

“Hm. Audisi. Ia mendaftarkan diri untuk ikut audisi yang diadakan Star Entertainment,” jawab Yunhee sambil menoleh menatap Sehun dan mengerutkan dahi. “Bagaimana denganmu? Kau kan jago dance.”

Sehun terdiam selama beberapa saat lalu menghela napas. Ia mengedikkan bahunya dan berdeham pelan. “Jadi kau mau tinggal di mana?”

“Di tempat Hanna sepertinya.”

“Sepertinya?”

“Ah. Dia juga harus berlatih untuk lomba biolanya bulan depan dan—”

“Dengar, Yun.” Sehun menyela. “Mereka tidak akan keberatan, kenapa sih kau selalu memikirkan yang tidak-tidak? Mereka pasti akan menerima dengan senang hati, apalagi melihat keadaanmu yang seperti ini, masa mereka tega membiarkanmu tidur di pinggir jalan?”

“Tapi aku yang tidak enak, Hun.”

“Kau benar-benar harus berhenti memikirkan yang tidak-tidak, oh demi Tuhan.” Sehun menggerutu beberapa kata lalu kembali meneguk sodanya.

“Kau sendiri akan tinggal di mana?”

Sehun tidak segera menjawab, tapi akhirnya ia membuka mulut dan menjawab dengan suara pelan. “Mungkin di rumah orangtuaku.”

“Ah ya, kau punya keluarga di dekatmu. Betapa beruntungnya.”

“Ya! Apa beruntungnya memiliki keluarga seperti—aish.” Hampir saja ia kelepasan lagi. Sialan.

Keduanya kembali terdiam. Tidak ada yang bicara. Hanya ada suara deru mobil yang bergantian lewat menyusuri jalan raya. Malam yang menggegap dipenuhi bintang di langit kelam. Yunhee mengadah ke atas sambil sesekali meminum sodanya.

“Aku tidur di sauna saja,” katanya tiba-tiba setelah lama mengatup bibir.

“Apa?”

“Aku tidur di sauna saja, aku pinjam uangmu beberapa won untuk—”

“Kau serius ingin menginap di sana?”

“Kenapa tidak?”

Sehun terdiam menatap Yunhee dengan ekspresi datar lalu menghela napas singkat. Ia membuang kaleng sodanya yang sudah kosong ke tempat sampah di samping kursi sambil menimbang-nimbang. “Kalau begitu aku juga.”

“Eh?!”

Sehun hanya mendengus kesal. Pekikan ringkas Yunhee terlalu berlebihan, katanya.

“Memang kenapa?”

Yunhee masih terlihat tidak yakin.

“Jangan berpikiran yang tidak-tidak.”

“Aku tidak sedang memikirkan yang tidak-tidak, hanya saja…” Sehun menatapnya dengan tatapan menuntut, menunggu gadis itu untuk melanjutkan perkataannya. “…hanya saja, kau ‘kan sudah memiliki rumah yang jauh lebih nyaman untuk ditinggal lantas kenapa kau—”

“Nyaman?” Sehun menaikkan sebelah alisnya lalu memutar mata jenuh. “Rumah tidak akan terasa nyaman tanpa kedamaian, kau tahu.”

Tentu Yunhee tahu. Ia tahu dengan jelas, malah. Sebab ia pun dulu pernah merasakannya, ketika rumah rasa-rasanya sama saja seperti neraka. Makian dan omelan dari kedua belah pihak baik ayah maupun ibu sahut menyahut, bertalu-talu seperti gendang sampai ia berani bersumpah bahwa saat itu telinganya tidak berhenti berdenging pilu.

“Kalau begitu ayo.”

“Ke mana?”

“Ke sauna, kau mau terus duduk di sini dengan piyama seperti itu?”

Yunhee tersentak dan menunduk menatap tubuhnya yang berbalut piyama. Sial, pasti orang-orang yang lewat menatapnya dengan pandangan aneh. Tapi tunggu—bukankah Sehun juga?

“Cepat, kau lamban sekali sih.”

Gadis itu cepat-cepat bangun dari duduknya dan berjalan menyusul Sehun yang sudah berada di depan. Pipinya memerah membayangkan pikiran-pikiran yang hadir di benak orang begitu melihat sepasang gadis dan lelaki yang berjalan-jalan di pinggir Seoul mengenakan piyama di lewat tengah malam begini. Maka cepat-cepat ia mengusir jauh-jauh pikiran tersebut dan menatap lurus ke jalanan di depannya.

“Bagaimana dengan besok?” tanya Yunhee seraya meneruskan langkah kakinya.

“Apanya yang bagaimana?”

“Bagaimana kita ke sekolah kalau seragam kita habis dilalap api?” Kali ini suara Yunhee terdengar melemah dan pasrah, serta sedikit frustasi.

Sehun mengedikkan bahunya dan mengacak rambut. “Aku juga tidak tahu. Sudahlah, hari ini ya hari ini. Besok ya besok. Pikirkan saja apa yang akan terjadi nanti, bukan yang akan terjadi setelah nanti. Mengerti?”

Yunhee mendesah panjang. Sejemang angin berhembus, membawa udara dingin kendati malam sudah larut. Lengannya memeluk tubuhnya erat-erat mencoba menahan angin yang menyelinap masuk ke balik piyamanya yang tipis. Sehun menyampirkan sweater hitam tipis yang dipakainya ke bahu Yunhee dan membuang pandang begitu gadis itu menoleh.

“Kau kedinginan.”

“Aku tahu.” Yunhee tersenyum tipis lalu merapatkan sweater-nya. “Terimakasih.”

“Bukan masalah besar.”

***

Malam ini suana cukup ramai, atau mungkin hanya perasaan Sehun saja. Ia merebahkan tubuhnya dan menatap langit-langit di atasnya dengan pandangan datar. Banyak yang sudah terjadi hari ini, yang tidak Sehun mengerti mengapa bisa terjadi kepadanya—dan kepada gadis di sampingnya. Mau sampai kapan mereka terus tidur di sauna? Tidak ada yang bisa menjawab.

Sehun melirik sekilas Yunhee yang sudah tertidur pulas di sana; memejamkan matanya dengan damai dengan tubuh menyamping ke arahnya. Wajahnya sedikit terhalangi beberapa helai surai coklatnya yang menyampir nakal, membuat Sehun gemas ingin merapikan anak rambutnya.

“Dia sudah pulas dan aku sama sekali tidak bisa tertidur,” bisik Sehun sambil memutar badannya ke samping menatap Yunhee.

Tempat baru memang selalu membuatnya tidak nyaman, dan itulah yang terjadi saat ini. Sehun tidak bisa tertidur barang sejenak, bahkan matanya tidak bisa terpejam sedetik pun sampai saat ini. Ia hanya menghela napas dan menatap orang-orang di sekitarnya dalam diam. Sesekali mencuri pandang ke arah pria tua di ujung ruangan yang tidur mendengkur dengan keras. Ingin sekali ia melepas alas kakinya ke wajah pria itu dan menyuruhnya keluar dari sauna. Tapi rasanya tidak mungkin, bisa-bisa ia yang diusir dari sini. Jadi akhirnya ia memilih membelakangi pria itu dan menelusuri setiap lekuk wajah Yunhee, memperhatikan bagaimana cara gadis itu bernapas dan menikmati waktu istirahatnya dengan tenang.

Sehun tersenyum sedikit. Kalau diingat-ingat ternyata sudah banyak hal yang ia lewati bersama gadis ini. Mulai dari serangan gadis itu di sekolah sampai terjebak di sauna. Takdir apa yang sedang bermain-main? Sehun tidak tahu dan tidak mau tahu. Yang perlu ia ketahui hanya; ia nyaman dengan keadaan seperti ini. Ia terlena dan tidak mau terlepas dengan kesenangan barunya. Setidaknya sekarang ia bisa tersenyum lepas dan tidak harus memikirkan Jiae. Ada Yunhee sekarang. Ada gadis lain yang sudah mencuri perhatiannya. Ia tidak perlu khawatir lagi.

Semuanya akan baik-baik saja.

Semuanya akan baik-baik saja selama Yunhee terus berada di sisinya,

…benar begitu?

***

Yunhee terhentak. Kontan ia terduduk dengan mata membelalak. Napasnya menderu dan keringat kembali mengucur.

Tidak. Mimpi buruk itu lagi.

Ia menghela napas panjang dan mengusap keningnya yang basah berpeluh. Seperti semalam, mimpi aneh itu kembali datang. Memang bukan kali pertama ia mendapati hal seperti itu, terjebak di dalam mobil dengan konversasi ambigu dari sepasang suami istri, dan berakhir dalam kecelakaan lalu lintas.

Dulu, mimpi serupa pun acapkali hadir di malam-malam ia tertidur. Tapi sedikit demi sedikit hal ini memudar seiring berjalannya waktu. Sayang, akhir-akhir ini mimpi itu kembali datang. Dan Yunhee tidak mengerti kenapa. Kata temannya dulu yang sudah pindah dari Seoul, hal seperti ini bisa saja terjadi karena sebuah trauma. Tapi trauma apa? Yunhee tidak mengerti.

“Kau sudah bangun?” Sehun berjalan melintasi tengah ruangan dengan ponsel di tangan dan menghampirinya.

“Kau habis dari mana?”

“Dari sana.” Ibu jari Sehun bergerak menunjuk suatu tempat di belakangnya tapi Yunhee tidak mengerti apa yang dimaksud. Tapi yah, siapa peduli.

“Oh.” Yunhee menghela napas panjang lalu memandang sekeliling. “Sudah pagi?”

“Hm, tentu. Ayo, kita harus pergi cepat.”

“Ke mana?”

“Ke rumahku.”

Yunhee yang sedang berdiri merenggangkan tubuhnya langsung terdiam. “Ke rumahmu?”

“Hm. Kebetulan ibuku sedang pergi bersama sel—ekhm—sedang keluar untuk mengurus beberapa hal, jadi ini kesempatan untuk kita.”

Yunhee mengerutkan dahi dengan tidak mengerti. “Kesempatan kita untuk apa?”

“Diam saja dan ikuti aku. Kebetulan rumahku tidak jauh dari sini.”

Mereka berjalan keluar. Matahari sudah menyinar agak terang rupa-rupanya. Sudah banyak kendaraan yang berlalu lalang pun para pejalan kaki. Semuanya menatap mereka dengan pandangan aneh tapi siapa peduli? Yunhee hanya berdeham beberapa kali dan berjalan mengimbangi Sehun.

“Omong-omong, bukankah kau punya mobil?” tanya Yunhee tiba-tiba.

“Eh? Mobil?”

“Kau pernah hendak mengantarku pulang dari apartemenmu dengan mobil, kan?”

Sehun terdiam mengingat-ingat. “Benarkah?”

“Hm. Saat itu kau belum tahu kalau aku tinggal di depan apartemenmu.”

“Ah,” Sehun ber-ah singkat lalu mengangguk beberapa kali saat ia akhirnya mengingat. “Itu bukan mobilku, tapi punya Hyung-ku.”

Hyung-mu?” Kedua alis Yunhee terangkat tinggi ke atas. “Kupikir kau anak tunggal.”

“Bukan, bukan. Hm, Hyung maksudku temanku, Luhan Hyung,” jelas Sehun cepat ketika Yunhee salah paham terhadap hubungannya dengan Luhan. “Kami sudah sangat akrab jadi aku menganggapnya sebagai kakakku.”

“Ahh, begitu.”

“Ah ya, mungkin aku bisa tinggal di tempatnya selama beberapa saat.” Kali ini Sehun lebih terlihat bicara kepada dirinya sendiri mendengar frekuensi suaranya yang rendah. “Kau bisa ikut denganku kalau kau mau.”

“Eh? Ikut ke mana?”

“Kita bisa tinggal di rumah Luhan untuk sementara waktu. Tidak apa-apa, dia pria yang baik. Tunangannya juga ramah, jadi jangan khawatir.”

“Bagaimana bisa, aku tidak mengenalnya.”

“Sudah kubilang jangan khawatir, dia pria baik. Baik sekali, malah. Dia pasti akan menerimaku dengan senang hati, pun kau, Yun. Rumahnya besar jadi tidak usah cemas kau tidak mendapat kamar. Dia memiliki banyak kamar tamu.”

“Sudah kubilang tidak mungkin, Hun. Aku—”

“Omong-omong kau sudah menelpon ibumu?”

“Eh?” Yunhee menoleh sedikit begitu telinganya menangkap kata ‘ibu’ pada dialog Sehun beberapa saat lalu. “Ibu?”

“Hm. Kau tidak memberitahu ibumu tentang keadaan ini?”

“Ah ya, benar juga….”

“Kau bisa pinjam ponselku, kalau kau mau.”

“Baiklah.”

Sehun membiarkan gadis itu berjalan lebih dulu ketika Yunhee menghubungi ibunya, bermaksud memberi privasi karena sepertinya Yunhee merasa tidak nyaman ketika ia berdiri di samping. Mereka terus berjalan lurus sambil sesekali berhenti ketika Yunhee harus menegaskan satu atau dua hal kepada ibunya.

“Sungguh ibu, kenapa kau terus mengulangi pertanyaan yang sama. Aku baik-baik saja, percayala….” Yunhee menghela napas panjang lalu mengusap wajahnya. “Baik, baik, aku mengerti…. Ya, ya, ya. Baiklah… Sampai jumpa… Ya. Hati-hati.”

Yunhee memutus sambungan dan mendesah. Sehun kembali berjalan di samping gadis itu dan bertanya sekilas sekedar basa-basi. “Bagaimana?”

“Ya tidak bagaimana-bagaimana. Ehm, ngomong-ngomong, aku pinjam sekali lagi ya? Untuk menelepon Jongin.”

Sehun sedikit sensitif jika Yunhee membawa nama lelaki itu ke perbincangan mereka. Tapi yasudahlah, toh dia juga tidak memiliki hak untuk marah. Lagi pula sepertinya gadis itu sedang membutuhkan bantuannya jadi… lupakan.

“Silahkan,” ujar Sehun singkat. Ia tidak mau mendengar sepatah kata pun yang meluncur dari mulut Yunhee ketika mereka berbicara lewat sambungan telepon. Beberapa kali ia melihat Yunhee tersenyum, dan tersenyum lagi, dan terus tersenyum. Oh Tuhan, berhentilah tersenyum seperti itu sebelum bibirmu robek, batin Sehun sedikit jengkel.

“Nah, kita sudah sampai,” kata Sehun cepat ketika akhirnya mereka sampai di depan pagar hitam tinggi yang berdiri kokoh di hadapannya. Yunhee cepat-cepat mengucapkan kata sampai jumpa dan memutus sambungan.

“Ini rumahmu? Oh Sehun?” Yunhee terhenyak menatap bangunan besar yang berdiri di balik pagar hitam kokoh tersebut. Begitu mewah dan—siapapun yakin hanya orang kalangan atas yang memiliki rumah seperti ini. Benar-benar.

“Kau tidak pernah memberitahuku kalau kau anak orang kalangan atas, Hun.”

“Sama sekali tidak penting,” sergah Sehun. “Aku justru benci kenyataan tersebut.”

“Eh? Kenapa?”

Sehun tidak menyahut sebab kini ia bicara di interkom dengan seseorang. Tidak lama pagar terbuka dan mereka menapak masuk. Yunhee melangkah ganjil, ia merasa sedikit, ehm, tidak pantas, untuk berada di sini. Keadaannya yang lusuh semakin memperburuk perasaannya.

“Tidak usah seperti itu, kau terlihat bodoh.”

“Aku tahu.” Yunhee mencibir kesal.

Sehun langsung mendorong pintu ganda di hadapannya begitu mereka sampai di teras. Tanpa basa-basi Sehun masuk ke dalam. Keadaan rumah sepi, hanya terdapat beberapa pelayan yang berdiri menyambutnya. Buru-buru ia menunduk sopan dan menarik Yunhee ke lantai atas; ke tempat di mana dulu ia sebut-sebut sebagai kamarnya.

“Kau dulu benar-benar tinggal di sini?” tanya Yunhee sambil melangkahkan kakinya memijaki tangga marmer dengan sedikit hati-hati. Ia menelan ludah dengan tidak percaya, menatap bagaimana rumah ini dibangun dengan begitu sempurna, dengan tiang-tiang kokoh yang berdiri tegak dan lantai keramik yang disapu mengkilap. “Sama sekali tidak habis pikir kenapa kau memilih untuk pergi dan tinggal di apartemen sederhana tempat kita tinggal kemarin.”

“Sudah kubilang, tanpa kedamaian maka semuanya sama sekali tidak berarti.”

“Ya, ya.. aku mengerti tapi tetap saja, Hun.”

“Nah, di sini.” Sehun kembali menarik pergelangan gadis itu masuk ke sebuah ruangan. Ranjang yang sama masih diletakkan di sana; meja belajar tempatnya menaruh buku pelajaran juga masih di sana; pun radio kecil yang biasa digunakannya dulu untuk menari. Tidak ada yang berubah di sini, bahkan setelah ditinggalnya selama beberapa bulan. Mungkin hanya debu yang mulai menumpuk di sana sini.

Sehun merajut langkah menuju lemari pakaiannya dan membuka daun pintunya lebar-lebar. Untung, beberpa helai seragam sekolahnya masih di sana.

“Itu seragam sekolahmu dulu?”

“Hm. Sebelum aku pindah sekolah.”

“Lalu? Kau mau memakainya?”

“Tidak ada pilihan lain, kan?”

Yunhee menatap Sehun dengan pandangan tidak percaya lalu menggeleng-geleng. “Kau benar-benar, Hun.”

“Lagipula tidak berbeda jauh, kan? Hanya nama sekolahnya saja yang beda, yang lain sama.”

“Terserahlah.”

Sehun mengambil kemejanya dan celana panjang yang digantung rapi. Mengibaskannya beberapa kali untuk mengusir debu dan tersenyum kecil. Toh tidak ada pilihan lain, pikirnya.

“Nah sekarang untukmu….” Sehun menggulirkan pandangannya ke ujung lemari dan mengambil beberapa helai baju di sana. Sebab tidak mungkin Yunhee menggunakan seragam sekolah laki-laki, jadi ia memberikan seragam baju olahraga yang notabene untuk semua murid, baik perempuan maupun laki-laki. “Ini.”

“Apa?”

“Pakai ini.”

“Aku?!”

“Tentu, memang siapa lagi?”

“Tapi—”

“Jangan banyak protes, sudah ayo kita keluar. Aku benci berlama-lama di sini.”

“Sehun kau gila.”

“Tidak segila kau yang berniat ke sekolah dengan baju sauna seperti itu,” tuding Sehun sambil menunjuk kaus dan celana oranye yang membalut tubuh Yunhee.

“Aku tidak berniat untuk—”

“Cepat sebelum orangtuaku pulang, ayo ayo ayo.”

“Sehun-ah aku tidak mau!” rengek Yunhee begitu Sehun menariknya keluar dan menutup pintu dengan satu sentakan cepat.

“Kubilang jangan banyak protes, kau tidak dalam posisi yang memiliki banyak pilihan, Yun.”

“Tapi Sehun, aku—”

“Ada orang di atas?”

Keduanya terdiam. Membisu dalam geming. Sehun mengatup bibirnya rapat-rapat dan mencengkram pergelengan Yunhee di tangannya erat-erat.

Ini… tidak mungkin.

“Sehun? Kau di atas?”

Langkah sepatu hak tinggi meniti tangga terasa menggaung di telinganya. Wanita itu terus mengulang pertanyaan serupa, membuat Sehun semakin terdesak. Yunhee yang berdiri di sampingnya hanya mampu menatap dan terdiam, tidak tahu harus berbuat apa.

“Sehun kau ada di—” Wanita itu terkejut—sedikit—mendapati anak laki-lakinya yang berdiri di lantai atas berdua dengan seorang gadis. Sebelah alisnya terangkat ke atas dengan heran. “Ada apa, Sehun?”

Laki-laki semampai itu langsung membuang pandang begitu ibunya menatap lurus ke mata. Ia mendesah singkat dan menarik Yunhee pergi melewati ibunya tanpa berkata apa-apa. Gadis itu lagi-lagi hanya mampu terdiam, menunduk menatap ke bawah tanpa berani membalas tatapan Ibu Sehun.

“Sehun!”

“Aku pergi.”

“Oh Sehun!”

Ibunya mengikuti di belakang hendak meraih lengan Sehun tapi segera ditepis dengan satu sentakan kasar. “Aku harus pergi sebelum terlambat.”

“Sehun kau benar-benar—”

“Ada apa, sayang?”

Sehun berhenti melangkah begitu suara itu terdengar dari depan. Langkah kaki dari sepasang Berluti yang disemir hitam mengkilap berjalan menghampiri keduanya, menangkap basah Sehun dan Yunhee yang hendak keluar tergesa-gesa.

“Oh, kau.” Pria itu bereaksi dengan datar. “Ada apa lagi, bocah? Bukankah sudah tidak ada yang kau kejar di sini? Ayahmu sudah mati dan—”

“Tutup mulutmu keparat.”

Yunhee merasakan kini tangannya yang menggenggam erat tangan Sehun.

“Oh astaga, kau sudah berani memerintahku ternyata. Mentang-mentang punya kekasih baru, cih,” pria itu mencibir meremehkan ketika Sehun mengangkat wajahnya dan menatap pria itu tajam.

“Kau benar-benar bedebah. Minggir.”

“Tidak mau. Memang kau siapa?”

Sehun mendecih dan terkekeh sarkastis. “Aku? Kau bertanya aku siapa?” Sebelah matanya memicing lantas menjawab dengan tajam. “Aku anak dari adik tersayangmu, karena itu berikan aku jalan, Paman,” jawab Sehun dengan penekanan yang jelas pada kata Paman yang disebutnya ogah-ogahan.

Pria itu tertawa lantang seperti orang kesetanan lalu menepuk pundah Sehun. “Paman?” tanya pria itu dan kembali tertawa. Yunhee nyaris mengira pria itu idiot kalau-kalau pria itu tidak berhenti secara tiba-tiba lalu berdeham pelan dan menetralkan ekspresinya.

“Minggir,” ucap Sehun ketus sekali lagi.

“Maumu apa, anak muda? Kau tidak mau menghancurkan vas bunga lagi? Atau berteriak ke ibumu lagi seperti malam itu?”

Sehun mendengus kesal dan menarik ujung bibirnya sedikit ke atas. Benar-benar menjengkelkan memang berurusan dengan pria rumit seperti ini. Cukup menguras energi dan waktu secara cuma-cuma, tapi urusan tidak akan selesai jika tidak dihadapai langsung.

“Kau hanya akan—”

Oppa!”

Perhatian kini terpusat ke arah ibu Sehun. Wanita itu tersenyum tipis di balik kerut samar wajahnya lalu berujat pelan, “Biarkan mereka lewat, Oppa.”

“Emma.” Pria itu tampak tidak terima ketika adik perempuannya lebih memilih untuk membela sang anak. Tapi mau tak mau, ia akhirnya menyingkir dan membiarkan dua remaja itu lewat dengan sedikit tidak rela.

Akhirnya Ibu Sehun menghela napas dan menangkup kedua tangannya. “Biarkan saja mereka.”

“Kenapa sih? Aku baru mau bersenang-senang dengan anakmu, Emma.”

“Berhentilah, Oppa. Sehun sudah lelah. Biarkan dia mencari kesenangannya sendiri.”

“Kau terlalu baik padanya, dia sudah membentakmu.”

“Aku berhak menerimanya. Aku memang orangtua yang payah.”

“Oh ayolah Emma, ada apa denganmu? Jung Hwan Hyung yang mengajarkanmu? Cih.”

“Kenapa kau membawa-bawa Jung Hwang di keadaan seperti ini, ada-ada saja.” Wanita itu terkekeh pelan lalu menghampiri kakaknya dan tersenyum. “Sekarang hanya ada kau dan aku, ayo sarapan. Aku sudah lapar.”

“Kau tidak mau menunggu tunanganmu dulu?”

Emma melirik dan mencubit perut pria itu. “Jung Hwan belum resmi menjadi tunanganku, tahu.”

Kakaknya kembali terbahak. “Aku tahu, aku tahu. Kalau begitu, calon tunanganmu. Haha.”

“Hm, aku lebih suka yang terakhir.”

“Oh ayolah, Emma. Keduanya sama saja.”

“Tentu saja tidak, Oppa. Dan ah ya—omong-omong, soal Sehun—”

“Lupakan dulu anakmu, kau terlalu sering menyebut namanya akhir-akhir ini.”

“Aku hanya khawatir, takut-takut Sehun bersikap nekat dan yah… kau tahu.”

“Anakmu memang merepotkan, Emma. Tapi percayalah, dia masih bocah. Paling-paling hanya akan mengamuk seperti malam itu dan semuanya selesai.”

“Tidak. Aku takut terjadi sesuatu yang… lebih dari itu.” Emma berujar dari dapur.

Kakaknya sudah mendudukkan diri di kursi ruang makan dan memainkan ponselnya. Ia hanya membalas sekedarnya dan kembali asik. “Tidak akan terjadi apa-apa, tenang saja. Pesta pertunanganmu akan lancar dan hidupmu akan tenang, lupakan Sehun sebentar. Nanti dia juga akan terima dengan ayah barunya.”

“Yah… kuharap begitu.”

***

Matahari sudah bersinar lebih terik ketika mereka melangkahkan kaki keluar. Mereka sudah berganti pakaian di toilet umum dan kini keadaan menjadi canggung. Yunhee sesekali mencuri pandang ke arah Sehun, tapi laki-laki itu tidak mau banyak bicara. Keduanya merajut langkah menuju sekolah dalam diam.

“Keluargaku hancur, bukan?” celetuk Sehun tiba-tiba ketika mereka duduk berdua di bis di kursi paling depan. Sehun terkekeh pelan dan menoleh menatap Yunhee yang kehabisan kata-kata. “Tidak usah menyembunyikannya, aku sudah tahu.”

Yunhee menurunkan sebelah tangannya lalu menghela napas panjang. “Aku juga. Keluargaku juga hancur, kita seri.”

“Aku lebih hancur.”

“Kita sama-sama kehilangan sesosok ayah, Sehun. Kita seri,” ujar Yunhee lagi dengan tegas.

“Tapi ibumu tidak punya selingkuhan kan?”

“A-Apa?”

“Ibuku berselingkuh.”

Yunhee mengerutkan dahi tidak mengerti. “Bukankah yang tadi itu pamanmu? Kakak laki-laki ibumu?”

Sehun mengangguk mengiyakan. “Benar. Selingkuhannya ada di tempat lain, entahlah. Ia menyuruh pamanku untuk menjaga ibuku sementara ia mengurus beberapa urusan—begitu katanya.”

“Ah…, begitu.” Yunhee tersenyum tidak enak. Tangannya kembali menggulung ujung lengan kaus kemeja yang kepanjangan sebatas pergelangan lalu kembali menatap keluar jendela. “Dulu aku tinggal bersama nenek dan kakak perempuanku di Busan. Kedua orangtuaku menitipkanku ke sana dengan alasan yang tidak jelas. Aku baru bertemu dengan orangtuaku pada usiaku yang kelima, dan di saat itu aku bersumpah bahwa ikut mati bersama kakak perempuanku tentu merupakan pilihan yang jauh lebih baik.”

Sehun mengalihkan perhatiannya.

“Jangan menatapku seperti itu, aku juga menyesal pernah memikirkan hal seburuk itu. Untung saja aku tidak memutuskan untuk ikut mati, kalau tidak kita tidak akan pernah bertemu, benar begitu?” Yunhee tersenyum menenangkan lalu menepuk pundak Sehun yang lebih tinggi dari pundaknya. “Kita senasib, kita sama-sama broken home, kalau mau jujur.”

Sehun agak terhibur. Ia menarik kedua bibirnya ke atas, sedikit.

“Kau bisa cerita kepadaku tentang masalahmu kalau kau sudah tidak tahan memendamnya sendiri. Aku bersedia menjadi pundakmu, kau bisa menangis sepuasnya di sini,” kata Yunhee sambil menunjuk pundaknya dan terkekeh. Agak sumbang, tapi cukup menghibur.

“Terimakasih,” lantun Sehun pelan.

Yunhee kembali melepas senyumnya dan menatap Sehun lurus-lurus. “Aku bisa terus menjadi pundakmu ketika kau tidak sanggup menanggung semuanya sendiri, Hun.”

“Aku tahu, terimakasih banyak, Yun.”

***

“Yunhee kau tidak apa-apa?!”

Jongin langsung menyemprot Yunhee dengan berbagai pertanyaan begitu Yunhee memijakkan kakinya ke dalam kelas. Hanna yang tengah berbincang dengan Yerim dan Hyejung pun langsung mengalihkan perhatian dan menghampiri Yunhee yang terlihat berbeda dengan seragam olahraga.

“Ada apa denganmu, Yun?”

Yunhee terkekeh pelan seraya meletakkan tasnya ke atas bangku. “Tidak apa-apa, hanya sedang tidak beruntung,” jawabnya sekenanya.

Jongin yang sudah tahu duduk permasalahan Yunhee langsung kembali ke tempatnya, mengambil beberapa barang dari dalam tas dan kembali dengan satu tas kertas berwarna coklat di tangannya.

“Ini. Kau pasti belum sempat sarapan,” ujarnya sambil menyodorkan benda tersebut ke meja Yunhee.

“Ah, astaga. Terimakasih banyak, Jong! Bagaimana kau tahu?”

“Tidak masalah dan ah, ngomong-ngomong semalam kau tidur di mana?”

“Di sauna.”

“Di sauna? Sendiri?” Jongin menaikkan kedua alisnya tanda terkejut. Ia langsung menarik bangku di seberang dan duduk di samping Yunhee. “Ceritakan padaku sedetil-detilnya, Yun.”

Hanna yang berdiri di samping Yunhee berbisik pelan, “Memang ada apa, Yun? Aku tidak mengerti sama sekali….”

“Akan kuceritakan nanti, sekarang aku ingin makan.”

“Ah, baiklah, baiklah. Habiskan dulu makanmu kalau begitu.”

Yunhee tersenyum berterimakasih lalu membuka kotak bekal yang dibawakan Jongin. Sebelah tangannya mengambil sendok dan garpu dari dalam tas kertas ketika tiba-tiba saja ia berhenti dan pikirannya tertuju kepada Sehun. Tidak mungkin ia menghabiskannya sendiri, jelas-jelas lelaki itu juga belum makan pagi.

Jongin mengernyit. “Ada apa?”

“Ah, tidak apa-apa. Eungg….”

“Kau merasa tidak nyaman ditatapi begini ketika makan?”

“Ah, bukan begitu. Aku hanya—ehm. Yah, aku….” Yunhee memejamkan matanya sejenak mencoba memikirkan kata-kata yang tepat tapi tidak ketemu. Akhirnya ia hanya menghela napas dan menatap Jongin dengan tatapan memelas. “Dengar, aku sangat menghargai makanan ini tapi….”

“Tapi?” Jongin bertanya dengan sebelah alis terangkat, menunggu kelanjutan kata-kata Yunhee.

“Ada orang lain yang juga butuh sarapan, ehm. Sebentar.” Yunhee bangkit berdiri, menerobos kerumunan Hanna dan teman-temannya lalu menghampiri meja paling belakang.

“Ada apa?” Sehun menoleh.

“Kau belum sarapan, kan?” tanya Yunhee hati-hati.

“Memang kapan kau melihatku sarapan?” Sehun membenarkan posisi duduk lalu menatap Yunhee sepenuhnya.

“Ah, tidak. Hmmm itu, aku ada makanan, kau mau?”

“Kau hanya punya satu porsi, kan?”

“Eh?”

“Habiskan saja, Jongin pasti ingin kau yang menghabiskannya, bukan aku.”

“Tapi Sehun kau juga—”

“Sudahlah, makan saja. Aku tidak apa-apa.”

“Sehun-ah.” Yunhee kekeuh dengan keputusannya untuk berbagi sarapan. Ia menatap Sehun sungguh-sungguh, yang malah ditatap balik dengan pandangan aneh dari seorang Oh Sehun.

“Kembalilah. Ada banyak pasang mata yang menatap ke sini, aku tidak suka menjadi pusat perhatian.”

Yunhee memutar bola mata lalu mencibir. “Dasar. Kau kira kau siapa bisa-bisanya menjadi pusat perhatian, hah?” Ia mendengus kesal lalu kembali ke mejanya dengan gusar.

“Kenapa?” Jongin bertanya langsung tanpa basa-basi.

“Tidak apa-apa.”

Sejenak lelaki itu hanya diam dan menatap Yunhee tanpa berkata apa-apa. Tapi perlahan-lahan Jongin sadar, pasti ada sesuatu yang terjadi. Sebelah tangannya terangkat ke meja lalu menahan tangan Yunhee yang hendak mengambil suapan terakhir. Iris coklatnya tersirobok dengan iris senada milik gadis itu dalam-dalam, lantas ia berujar pelan, “Dia yang bersamamu di sauna semalam, kan?”

Tepat sasaran.

Jongin tidak butuh jawaban. Ia hanya tersenyum tipis melihat gelagat Yunhee yang berubah menjadi salah tingkah. Gadis itu berdeham beberapa kali lalu menggaruk tengkuknya yang Jongin yakin sama sekali tidak gatal. Semuanya sudah terpancar jelas dari tatapan mata Yunhee, menjawab pertanyaannya tanpa basa-basi.

“Aku tahu, Yun. Aku tahu.”

***

Sebelum berpisah di gerbang, Jongin menahan tangan Yunhee dan kembali bertanya dengan khawatir. Hanna masih setia menunggunya di samping tangga koridor jadi ia cepat-cepat meluncurkan pertanyaan tanpa menghabiskan waktu lebih banyak lagi.

“Nanti malam kau tinggal di mana?”

Yunhee terdiam sebentar. Ia kembali teringat dengan tawaran Sehun tadi pagi untuk menginap di rumah temannya yang bernama Luhan. Tapi entahlah, Yunhee juga belum begitu yakin dengan keputusannya untuk mengikut laki-laki itu. Manalagi ia tidak punya baju lagi, ia harus berbelanja. Tapi pakai uang siapa? Seharusnya ibu pulang di saat seperti ini, tapi sepertinya ibu sama sekali tidak berniat untuk mengecek keadaannya. Wanita itu hanya terdengar cemas di ponsel, entah benar-benar cemas atau hanya bentuk empati, Yunhee mulai meragukan hal ini.

“Kau tahu rumah kami akan selalu terbuka untukmu, Yun. Terbuka lebar sekali.”

“Aku tahu. Terimakasih banyak, Jong. Nanti kuetelpon,” sahut Yunhee sambil merekahkan senyumnya dan menepuk lengan atas Jongin sebelum berbalik dan berjalan menuju halte.

Memilih tempat paling belakang, Yunhee tidak punya pilihan lain. Bis memang selalu penuh di jam-jam seperti ini. Ia menghempaskan tubuhnya ke samping wanita bertubuh gempal dengan kuku-kukunya yang dicat apik dan rambutnya yang digelung rapi. Yunhee tersenyum sopan begitu wanita itu meliriknya, tapi hanya dibalas dengan desisan tajam. Maka ia memutuskan untuk tidak menoleh lagi maupun berdeham pelan, sebelum emosinya meningkat.

Tak lama bis yang mengantarnya sampai di halte dekat kafe tempat ia biasa bekerja. Yunhee bangkit berdiri lantas merajut langkah turun dari kendaraan umum tersebut. Sejemang ia melirik kiri dan kanan sebelum menyebrang jalan dan masuk ke kafe yang berdiri kokoh di depan sana.

“Selamat pagi, Yun.” Sapaan hangat dari rekan kerjanya langsung menyambut, menarik kedua sudut bibir Yunhee ke atas membentuk seulas senyum manis.

“Selamat pagi!”

“Ada kantung mata di bawah matamu, hahaha.”

Yunhee kontan menyentuh kantung matanya yang menggelap dan tersenyum malu. Mungkin kejadian semalam yang menjadi penyebabnya, ia tidak mau ambil pusing. “Kurang tidur, hehe.”

“Ada-ada saja, cepat bantu aku, Yun. Pelanggan sedang ramai.”

“Hm, baik.” Yunhee cepat-cepat melesat menuju ruang ganti, mengenakan celemeknya sambil mengecek penampilannya sekilas. Ia mengambil karet rambut dari atas meja kecil di samping pintu dan mengikat surai coklatnya tinggi-tinggi. Tubuhnya menjadi lebih kurus. Pipinya juga menjadi lebih tirus. Kesehatannya sepertinya sedang menurun akhir-akhir ini.

Dan ah—omong-omong, obatnya tertinggal di apartemen. Sialan. Untung saja hanya tinggal satu tablet. Ia harus mengambil obat lagi besok, semoga Sehun mau mengantarnya.

“Yunhee??”

“Ah ya, maaf. Aku segera ke sana!”

***

Sehun duduk di hadapan Yunhee dengan tatapan memelas. Ia tidak bisa berkata apa-apa, lelaki itu terlalu pandai merayu, pikir Yunhee. Menghela napas panjang lalu meneguk teh hangatnya, Yunhee hanya memandang Sehun lalu kembali menghela napas.

“Memangnya kenapa harus kembali ke sana?”

“Ponselku tertinggal. Ah, aku tahu aku memang ceroboh. Jangan menceramahiku lagi.”

Yunhee mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di atas meja. Sesekali ia menatap keluar jendela, mengamati langit kelam yang setia menaungi. “Baiklah,” katanya akhirnya. “Aku akan menemanimu.”

Sehun tersenyum puas. “Begitulah dari tadi, jadi aku tidak harus menghabiskan waktu lebih banyak.”

“Berisik, sudah ayo cepat.” Yunhee lebih dulu bangun dari duduknya sambil melepas ikatan rambut. Ia mengurai lagi surai coklatnya, merapikan sedikit anak rambutnya yang berantakan dengan jemari lalu berjalan keluar.

Sehun yang berjalan di belakang langsung menghampiri dan menarik pergelangan gadis itu. “Ayo cepat, kita akan menginap di rumah Luhan untuk sementara waktu kan? Kau bisa meminjam kausku kalau kau mau.”

Lagi-lagi Yunhee dihadapkan oleh pertanyaan-pertanyaan aneh. Sejak kapan mereka berjalan bergandengan tangan seperti ini? Tidak, Yunhee tidak ingat. Tapi ia sama sekali tidak berniat melepas genggaman lelaki itu, entah untuk apa. Ada sebuah perasaan nyaman yang menyelinap di relung hatinya begitu tangan lebar Sehun menyentuhnya, memberinya perasaan aman dan tenang. Sampai-samai Yunhee tidak mau kehilangan barang sedetikpun.

“Kita akan naik bis, ayo.”

“Berhenti berkata ayo sana dan ayo sini, aku akan terus melangkah tanpa kau bilang seperti itu, Sehun.”

***

“Kau bilang kau bersedia menjadi pundakku.” Sehun tiba-tiba saja membuka pembicaraan sambil berjalan menuju rumahnya yang tinggal beberapa meter lagi.

“Hm. Kenapa?”

Sehun terdiam sejenak sambil menimbang-nimbang. “Kalau begitu aku bersedia menjadi punggungmu.”

“Apa?” Yunhee menoleh tidak mengerti. Dahinya mengernyit heran. “Apa hubungannya?”

“Kau bersedia menjadi pundakku jika aku merasa bebanku terlalu berat. Maka aku bersedia menjadi punggungmu jika kau—hm—mungkin jika kau butuh tempat menangis atau apalah, kau bebas menggunakan aku sebagai punggungmu sesuka hati. Kau mengerti maksudku, kan?” Sehun melirik Yunhee yang masih mengerutkan dahinya dari ekor mata lalu mendesah pelan. “Kita impas sekarang. Benar?”

“Hm, terserahmu.”

“Kenapa terserahku? Inikan keputusan bersama, kau bersedia tidak jika aku menjadi punggungmu?”

“Aku tidak masalah,” jawab Yunhee cepat, atau bahkan terlalu cepat. “Asal kau ada di sini aku akan baik-baik saja.”

Sehun berhenti melangkah. Kini ia menatap Yunhee sepenuhnya. “Di sini? Di mana yang kau maksud dengan di sini?”

“Di sini. Di sampingku. Di sisiku. Menemani langkahku,” jawab Yunhee dengan suara nyaris tidak terdengar. “Kau mengerti maksudku, kan?” Giliran Yunhee yang mengikuti kata-kata Sehun beberapa saat lalu.

“Ya, ya, ya. Aku mengerti tapi—kenapa? Kenapa kau akan baik-baik saja jika—”

“Itu tidak penting, kau tidak akan mengerti. Sekarang lanjutkan langkahmu dan selesaikan urusan ini secepatnya.”

“Baiklah, baiklah. Kita sudah sampai.”

Keduanya kembali di hadapkan dengan pagar hitam kokoh yang membatasi wilayah luar dengan wilayah dalam, di mana bangunan yang dulu Sehun sebut ‘rumah’ itu berdiri. Sehun menghela napas berat lalu menekan bel. Yunhee hanya menunduk menatap pantofel hitamnya dalam diam, mendengarkan Sehun yang berbicara beberapa patah kata di interkom lalu melangkah masuk ketika gerbang dibukakan.

Kali ini Sehun mengetuk pintu beberapa kali sebelum masuk. Yah, ia memang tidak mengerti kenapa harus membawa Yunhee ke sini, padahal ia hanya akan singgah sebentar—sangat sebentar—untuk mengambil ponselnya yang tertinggal di kamar. Ia tahu Yunhee tidak nyaman dengan situasi ini tapi, kembali ke permsalahan awal, ia bahkan tidak mengerti kenapa.

“Sepertinya aku harus menyapa ibumu dengan sopan.”

“Terserah,” jawab Sehun singkat sebelum menarik gadis itu masuk.

“Sehun?” Emma datang dan tersenyum tipis kearah Yunhee begitu matanya menangkap sesosok lain di sana selain anak laki-lakinya. “Hai, namaku Emma, ibu dari Sehun.”

“Ah, selamat malam, saya teman Sehun, Jung Yunhee.”

“Senang bertemu denganmu.”

“Senang bertemu denganmu juga,” sahut Emma ramah lalu kembali menatap Sehun. “Ada apa, Sehun-ah?”

“Ada barang yang ingin kuambil di atas.”

“Baiklah.”

Sehun melirik Yunhee sekilas, mencoba mengirim isyarat yang pada akhirnya hanya ditatap Yunhee dengan tatapan kosong; gadis itu tidak mengerti. Akhirnya Sehun menarik tangan gadis itu entah untuk keberapakalinya dalam sehari lalu mengajaknya ke atas.

“Aku tidak mungkin meninggalkanmu sendiri di sana.”

Yunhee terkekeh pelan. “Kenapa? Dia tidak akan memakanku, kan.”

“Yah, entahlah. Tidak nyaman saja meninggalkan temanku dengan orang seperti dia.”

“Ibumu ramah, Hun.”

“Bukan ibuku, ada orang lain di bawah.”

“Eh?” Yunhee menoleh, menatap Sehun yang sedang mencari-cari ponselnya. “Ah, pamanmu.”

“Hm. Takut-takut ia mengatakan hal yang tidak-tidak padamu dan—ah ini dia.” Sehun tersenyum senang mendapati ponselnya yang ternyata ada di dalam lemari pakaian. Ia menghela napas lega, hendak menutup daun pintunya ketika sekelabat matanya melihat deretan pakaian di sana.

“Kupikir seharusnya kau membawa beberapa, Hun.”

Sehun mengerti. Ia mengambil beberapa pakaian di sana yang kira-kira masih layak pakai dan memasukkannya ke tas kertas di ujung lemari. “Kau butuh pakaian?”

“Eh?”

“Coba ini,” papar Sehun sambil melemparkan salah satu pakaiannya ke arah Yunhee. Langsung saja gadis itu mengambilnya dan mencobanya di depan dada.

“Aku bukan badut,” ujar Yunhee pahit melihat tubuhnya yang tenggeam di balik pakaian Sehun. “Jangan tertawa!” serunya ketika Sehun sudah terlihat hendak meledakkan tawanya yang Yunhee jamin akan terus terbawa hingga esok hari. Sialan.

“A-Aku—”

“Jangan tertawa atau aku akan menunggu di bawah.”

Sehun langsung diam mendengar ancaman Yunhee. Ia menutup bibirnya rapat-rapat dan mengangguk mengerti. “Baiklah, baik. Dasar sialan. Awas kalau kau berani bergerak keluar dari sini tanpaku.”

Sehun kembali membuka lemari lainnya, mencari kaus yang kira-kira tidak terlalu gomblong untuk dipakai Yunhee. “Coba yang ini.”

Yunhee mengambil kaus v-neck lengan panjang dari tangan Sehun dan mencobanya di depan dada. Masih kebesaran, tentu. Tapi setidaknya jauh lebih mending dari yang tadi.

“Kau bisa pakai ‘kan?”

“Sepertinya.”

“Baiklah, kau ambil yang itu. Besok kita beli pakaian untukmu.”

Dan tiba-tiba pertanyaan lain melintas di benak Yunhee. Ini hanya perasaannya saja atau mereka benar-benar bertingkah seperti sepasang kekasih? Ia tidak mengerti. Dan seperitnya ia tidak butuh jawaban. Ia langsung melemparkan kaus tersebut ke arah Sehun agar dikemas ke dalam tas kertasnya.

“Sudah selesai, ayo.”

Sehun membuka pintu lebih dulu dan mempersilahkan gadis itu keluar duluan. Ia menutup pintu di belakangnya sambil mengoceh mengenai Luhan yang seperti ini dan Luhan yang seperti itu. Mereka menuruni tangga masih dengan Sehun yang mengoceh, dan Yunhee hanya tersenyum sambil sesekali terkekeh mendengar gaya cerita Seun yang menurutnya sangat berlebihan.

“Kau sudah mau pulang, Hun?” Emma muncul dari belakang.

Sehun menoleh dan berujar dingin, “Hm.”

“Kami memasak makan malam, kau tidak mau mampir sebentar?”

“Tidak, terimakasih. Kami sudah makan malam,” jawab Sehun cepat sebelum kembali melanjutkan langkah.

“Sehun-ah, kalau begitu ambil beberapa dan bawa pulang ke tempatmu.”

Sehun berhenti melangkah lalu berbalik menatap ibunya dengan ekspresi datar. “Tidak, Eomma. Terimakasih banyak. Kami bukan pengemis.”

“Sehun-ah.” Emma menatap Sehun sungguh-sungguh. “Kumohon, ambil beberapa, ya? Yunhee-ssi, tunggu sebentar. Biar kuambilkan.”

Sehun merasa emosinya sudah naik nyaris ke ubun-ubun, untung saja Yunhee yang berdiri di sampingnya berisik pelan, “Tidak akan lama, turuti saja kemauan ibumu, Hun.” Dan entah kenapa akhirnya Sehun bisa meredam sedikit emosinya sebelum memuncak.

Benar saja, tak lama setelah itu Emma kembai dengan rantang makan di tangannya. “Ini. Bisa bertahan hingga besok pagi asal kau panaskan,” ujarnya bicara kepada Yunhee sambil tersenyum lalu berganti menatap Sehun. “Banyak-banyak istirahat, kau sedikit lebih kurus dari yang terakhir kali.”

“Jangan sok tahu.”

“Sehun,” desis Yunhee menegur melihat Sehun yang menurutnya sudah kelewat batas. Setidaknya lelaki itu berkata ‘ya’ walau hatinya jengkel, bagaimanapun juga dia ibunya yang sudah melahirkannya ke dunia. Yunhee beralih menatap Emma dan membungkuk sopan. “Terimakasih.”

“Sama-sama. Hati-hati di jalan—”

Baru saja Sehun membalikkan badannya sebelum Emma menyelesaikan kalimat, ketika deru mesin mobil di depan menyita perhatiannya, disusul ketukan di pintu beberapa kali.

“Ah, cepat sekali dia.” Emma langsung berjalan melewati Sehun, membukakan pintu dan terlihat berkata beberapa kata yang membuat pria di balik pintu itu tersenyum lebar. Langkah kaki dari tangga terdengar, dan Sehun bisa pastikan secara akurat itu pasti pamannya. Dan yang di depan sana, selingkuhannya.

Kenapa ia tiba di saat yang tepat seperti ini? Kurang ajar.

“Ayo.” Sehun menarik Yunhee cepat-cepat, menyelinap begitu saja ketika dua orang itu tengah berbincang di depan dan tertawa-tawa. Sehun mendecih dan menahan dongkol melihat ibunya yang bisa begitu dekat dengan pria tersebut sedangkan kepada ayahnya saja tersenyum tidak bisa. Ia melirik pria itu sekilas dan menyumpah serapahinya habis-habisan.

“Kita—”

“Tunggu, itu anakmu?” Pria itu berkata lantang seraya menatap Sehun. “Oh Sehun!”

Sehun bergeming. Membisu. Tidak menjawab dan terus melanjutkan langkah tanpa menoleh sedikitpun.

“Ya! Oh Sehun! Kenapa dia diam saja?” Pria itu berlari menghampiri Sehun, menarik tangannya dan menahan lelaki semampai itu untuk tidak melangkah menjauh. “Kau dengar aku? Ada beberapa hal yang harus dibahas mengenai—”

“Lepas!” Sehun segera menepis tangan pria itu dari lengannya. “Jangan sentuh aku.”

“Hei, Oh Sehun kau—” Entah baru sadar atau apa, pria itu terdiam begitu melihat Yunhee di sampingnya dan tersenyum penuh arti. “Kau sudah dapat kekasih, hm?”

Sehun mendelik dan mendesis tajam, “Bukan urusanmu.”

“Hei, ini urusanku juga. Sudah kubilang, ada urusan yang harus kita bahas mengenai pertunanganku dan ibumu yang—”

Sehun kini beralih menatap pria itu lurus-lurus dengan mata membelalak kaget. “Pertunangan?” ulangnya lamat-lamat. “Kau akan bertunangan dengan ibu?!”

“Sst, jangan memberi reaksi seperti itu, nak. Kau terlihat terlalu berlebihan.”

“Berengsek, aku tidak akan sudi menjadi anak tirimu sekalipun!”

“Kenyataannya tidak akan berubah sedikitpun bahkan jika kau tidak sudi.”

“Dengar ya aku tidak akan pernah menerima fakta bahwa—”

“A-Ayah…?”

Entah datang dari mana, entah keberanian dari mana. Suara pelan itu berhasil keluar dari bibirnya, memotong konversasi Sehun dengan pria tersebut dengan takut-takut. Seluruh tubuhnya bergetar, tangannya berkeringat dingin. Masih tidak percaya bahwa detik-detik di mana ia menyadari bahwa pria itu nyata merupakan ayahnya bukanlah ilusi belaka.

Yunhee menggigit bibir bawahnya dengan gemetar. “Ayah?”

Pria yang semula terpaku pada Sehun sedikit-sedikit menoleh menatap Yunhee dan agaknya ia pun baru menyadari situasi yang sebenarnya. Anak perempuannya berdiri di sana; di samping anak lelaki yang disebut-sebutnya sebagai calon anak.

“Y-Yunhee-ya?”

“Ayah kau gila.” Yunhee nyaris menjerit histeris ketika pria itu menyahut dan menyebut namanya. Pria itu benar-benar ayahnya dan ia yakin dunianya sudah jungkir balik.

“AYAH KAU GILA!”

Yunhee langsung terjatuh menutup kedua telinganya dengan frustasi. Tubuhnya jatuh merosot ke bawah, terduduk di atas tanah sebab kakinya tidak mampu lagi menumpu dan menopang tubuhnya dengan baik.

“KAU GILA! KAU BENAR-BENAR GILA! AKU TIDAK HABIS PIKIR DENGANMU. AKU—AKH!”

“Yunhee!”

Sehun yang sedari tadi tergeming tidak mengerti akhirnya tersadar. Ini pasti mimpi. Ini pasti mimpi buruk. Tidak mungkin ada kenyataan sepahit ini. Tidak mungkin takdir setega ini dengannya. Tidak mungkin… tidak mungkin… Ia pasti jatuh tertidur di suatu tempat dan—

“BUNUH AKU AYAH! BUNUH AKU!”

.

.

— TBC —

.

.

[A/N] : Euhmm, seperti biasa, sebelumnya maaf kalo ini kurang memuaskan anda-anda sekalian haha XD Ini udah 29 halaman, ya.. gak tau lagi deh wkwk. Membingungkan ya? Complicated banget ya? Ada yang bisa nebak artinya mimpi Yunhee? Hayoo~ hahaha >w< Keep RCL guys, thankyou and love you all! ❤

***

| <—BONUS—> |

Biodata umur (biar pada gak bingung):

Jung Yunhee: 16 tahun.

Oh Sehun: 17 tahun.

Kim Jongin: 17 tahun.

Hanna: 17 tahun.

Ahn Jiae: 17 tahun.

ket: Yunhee kecepetan masuk sekolah makanya paling muda hahaha. (Ngasal) (Tapi iyain aja) (Abis itu ditendang)

| <——————> |

.

Ngomong-ngomong sekalian mau ngucapin,

MARHABAN YA RAMADHAN

Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankannya 🙂 Semangat yow semangat! Jangan loyo, inget bias XD

245 tanggapan untuk “Everything Has Changed (Chapter 11)”

  1. yaampun sekarang apa lagii rumahnya kebakaran? Kemana ibunya yunhee. Jongin bersedia tuuh yunhee. Klo trus sembunyi nanti keduluan hanna lho. Hanna sepertinya suka jongin. Huhuhu. Ibunya sehun kok tega siiih dan apa itu selingkuhannya Jung Hwan udah wanti2 sama marganya yunhee dan ternyata benar. Yaampun yunhee kasiaan. Kalo bpknya yuhee sama ibunya sehun menikah mereka bisa jadi saudara tiri dong huhuhu. Tak mau membayangkaan

  2. Takdir macam apa ini ?!! Disaat Sehun-Yunhee mulai menjalin kedekatan, walaupun belum ada pengakuan (?) :v ternyata takdir mempermainkan mereka (?) *bhakss.ngawurrr
    KEEP SETERONG Sehun-Yunhee!!

  3. andwaeㅠㅠㅠㅠㅠ jangan sampe Yunhee-Sehun berakhir jadi saudara tiri ㅠㅠㅠㅠ mereka itu udah saling sayang seperti pasangan kekasih tapi kalo ending nya mereka saudaraan? oh pls itu gak lucu ㅜ.ㅜ

  4. astaga ak baru nyadar dari semua fakta2 yang berhubungan dengan mimpinya Yunhee..
    jujur ak gak percaya gila ayah Yunhee jahat banget…
    kasian Yunhee sama Sehun kenap kenapa mereka aduh…
    kalau mereka jadi saudara tiri gimana astaga…
    udah ya ak pengen baca lelanjutannya ak gak bisa komen gara masih terkejut..
    gara2 fakta yang buat ak galau..

  5. nanti apalagi konfliknya yaa?? kai ama sehun jadi training star entertaiment gaa?? haaa asaan kasian deh ama si kai.. ayo thor yg semangat ya buat chapter 12 nyaaaa… 🙂

  6. Yunheeeee kasihan banget!! T,T itu appanyakan?? Soalnya namanya sama, sma yg diingatannya.. Kasihannya.. Appanya kok tega banget sih??!! Ergghh!! Minta di toyor kepalanya -___-

  7. Gk nyangka bnget ternyata calon ayah tirinya sehun itu ayah kandungnya yunhee.. semakin rumit sekaligus menarik hehe

  8. Ternyata benar selingkuhan ibunya Sehun ayahnya Yunhee.
    Bagimana dong jadinya hubungan Sehun-Yunhee, apa akan saling membenci atau saling mengerti keadaan masing masing dan tetap berlanjut? Sebenarnya itu sebuah solusi kalau mereka tetap berlanjut dan menjadi sepasang kekasih kan. Mungkin saja kedua orang tua itu akan mundur mengalah pada anaknya..

  9. Sumpah author ff kamu bagus banget ga boong huhuhuhuhu…
    Ampe nangis aku bacanya pas diakhir cerita. Ya ampun kenapa harus begitu sih kejadiannya??
    Plis aku ga tega sm yunhee authorr huhuhu kenapa nasib dia begitu amat :”'(
    Tp btw aku suka bgt chap ini karna hunhee momennya makin buanyakkk wkwkwk

  10. Aaa >_< daebakk thor, mkin kren, b'arti klo bpknya yunhee jdi nikah sm ibunya sehun, mreka sodara tiri donk?! Aaa gamau, mending yunhee sm sehun aj yg nikah *eh
    D tunggu nextnya thor 😀

  11. hai hai.. aku mau komen huhuhu…

    aduh kisah kehidupan yunhee smkin seru.. ih ternyata bpknya yunhee jahat bgt sangat sekali… tpi dengan keberadaan sehun hidupnya juga sedikit terselamatkan walaupun dengan ngenesnya hrs nemuin bpknya disaat ibunya sakit trs ninggalin trs tau klo bpknya mau nikah sma emaknya sehun.. saudara tiri dong? ga blh mencintai dong huhuhu aku cedih.. tpi entahlah terserah dirimu saja mau dibuat keak gmna…

    oke ditunggu lanjutannya.. 😉

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s