Everything Has Changed (Chapter 10)

Everything Has Changed ver 3

Everything Has Changed

[ Chapter 10 | Romance, School life | General ]
with Kim Jongin,
Oh Sehun,
and OC Jung Yunhee as the main cast

by

Eunike

[ I own the story and art ]

Perlahan semuanya terungkap, menjelaskan apa yang selama ini tersembunyi di balik sinar rembulan.

Series : Prolog + Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 |  Chapter 5 |  Chapter 6 | Chapter 7 | Chapter 8 | Chapter 9 | Chapter 10

***

CHAPTER 10

“Lama tak jumpa, Sehun-ssi.”

Orang itu tersenyum, menatap Sehun seolah tidak ada yang salah dengan kehadirannya di sini. Mau tak mau, Sehun ikut membungkukkan tubuhnya lalu menyahut dengan acuh tak acuh, “Hm. Lama tak jumpa.”

“Apa kabarmu sekarang?”

“Jauh lebih baik.”

Orang itu melepas tawa renyahnya lalu melesakkan sebelah tangan ke dalam saku celana. “Jauh lebih baik? Jauh lebih baik dibanding dua tahun lalu?” Kali ini orang itu menatap Sehun dengan sebelah alis terangkat.

Sehun terkekeh pelan. “Ternyata ada yang belum berubah di sini,” katanya menanggapi. “Kau masih banyak omong seperti dua tahun lalu.”

Satu tangannya terangkat menepuk pundak Sehun lalu tertawa lagi. “Kau memang peka. Ngomong-ngomong, itu gadismu?” Orang itu beralih menatap Yunhee yang masih terdiam di samping Sehun dengan canggung.

Yunhee tersenyum kecil lalu membungkuk sopan. “Annyeong haseyo. Jung Yunhee imnida.”

“Dia temanku,” jawab Sehun cepat lalu beralih menatap Yunhee dan menarik gadis itu sedikit menjauh dari orang tadi.

“Yun, kau bisa pulang bersama Jongin?” tanya Sehun cepat tanpa basa-basi. Ekor matanya melirik orang itu sebentar lalu kembali menatap gadis di hadapannya dengan sungguh-sungguh.

Yunhee terdiam sebentar, menimbang-nimbang dengan dahi berkerut samar. Diarahkannya kedua bola mata coklat itu keluar jendela, menatap langit kelam yang melarut bersama malam gelap. Ia menghela napas sejemang lalu mengangguk. “Baiklah.”

“Terimakasih.” Sehun tersenyum kecil lalu menepuk lengan Yunhee sekilas dan hendak berbalik badan ketika Yunhee tiba-tiba menyela lagi.

“Ponselku mati, Hun. Boleh aku pinjam ponselmu sebentar? Untuk menghubungi Jongin.”

Sehun langsung merogoh sakunya dan menyodorkan ponsel pada Yunhee tanpa bicara apa-apa lagi. Lelaki itu langsung melanjutkan langkah menuju orang yang baru saja ditemuinya sejak dua tahun tak berjumpa.

Yunhee mendengus pelan. Ini bukan salah lelaki itu, ia tahu. Lagipula, dari awal lelaki itu sama sekali tidak memiliki urusan di sini, dia yang menyeret Sehun untuk menemaninya ke rumah sakit. Benar begitu? Jadi tidak seharusnya dia marah ketika Sehun tidak mengantarnya pulang.

Tapi… kenapa Yunhee merasa sedikit.. kecewa?

Gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya ketika monolog-monolog bodoh mulai datang ke benaknya. Dengan lekas diketiknya nomor ponsel Jongin dan menghubungi lelaki itu.

Jemarinya mengetuk-ngetuk dagu dengan cemas. Sudah berkali-kali ia menghubungi tapi tidak kunjung berhasil.

“Maaf. Nomor yang anda tuju sedang sibuk.”

Yunhee merutuki dirinya dengan kesal dan menoleh menatap Sehun. Ia tidak mau menganggu waktu lelaki itu. Maka mau tak mau ia harus pulang ke rumah sendiri. Tidak masalah, toh dia sudah menginjak masa remaja, bukan begitu?

Yunhee merajut langkah cepat menuju Sehun lalu menyerahkan kembali ponselnya. “Terimakasih.”

“Jongin akan menjemputmu?”

Terdiam sebentar dengan ragu. Tapi pada akhirnya ia hanya tersenyum kecil dan berkata dengan suara pelan, “Ya, begitulah.”

“Baiklah kalau begitu. Hati-hati di jalan.”

“Hm. Sampai jumpa.”

***

Kedua orang itu sepakat untuk membahas segala sesuatunya di kafe persimpangan jalan di samping rumah sakit. Sehun terlihat sedikit acuh tak acuh ketika orang itu memesankan minuman favoritnya.

“Jadi, apa kabarmu?”

Sehun menyesap caramel macchiato-nya dan menyahut seadanya. “Baik.”

“Kau terlihat lebih tampan.”

“Aku tahu.”

Orang itu tergelak dari balik capuccino-nya lalu menatap Sehun sungguh-sungguh. “Aku tidak sedang bercanda. Kau terlihat lebih dewasa sekarang,” katanya sambil mengaduk minumannya. “Kau masih suka menari seperti dulu?”

Sehun kini mengangkat wajahnya dan menatap orang itu dengan sebelah alis terangkat. “Jangan berbasa-basi, waktuku terlalu berharga hanya untuk membicarakan hal yang tidak penting.”

“Hahaha, baiklah. Kau masih tidak sabaran seperti dulu.”

“Dan berhenti membanding-bandingkan aku yang dulu dan aku yang sekarang. Kau tidak tahu apa-apa.”

“Oke, oke. Langsung saja kalau begitu.” Orang itu membenarkan posisi duduknya. Ia mencondongkan sedikit tubuhnya ke depan dan berujar dengan suara rendah, tapi tegas dan serius. “Aku memberimu tawaran untuk kembali ke agensi kami.”

***

Yunhee mengambil tempat tepat di samping jendela. Suasana bis saat itu sangat senyap, hanya terdapat beberapa penumpang. Kedua iris coklatnya mengambil fokus keluar jendela untuk menatap kendaraan yang masih setia meramaikan jalan raya sambil sesekali memejamkan mata mencoba mengusir kantuk.

Arlojinya sudah menunjukkan tepat pukul 10 malam lewat beberapa menit.

Ia menghela napas panjang lalu memeluk tubuhnya demi mengusir hawa dingin yang mulai menyergapnya sedikit demi sedikit. Diam-diam menebak-nebak siapa pria yang menabrak Sehun tadi. Terlihat begitu akrab, seolah sudah lama mengenal satu sama lain, walau Sehun tetap terlihat dingin seperti biasa.

Yunhee tersenyum kecil seraya menatap pantulan dirinya dari balik pendar cahaya malam. Menatap kosong pada dirinya yang hanya mampu tersenyum layaknya orang bodoh, membanggakan segala sesuatu yang terjadi pada dirinya.

Yunhee menghela napas panjang lalu memejamkan kedua matanya sejenak. Pelipisnya mulai berdenyut lagi tatkala beban yang selama ini dipikul kembali meraja pikirannya.

Kenangan masa lalu yang masih tersimpan manis di sudut relung hatinya kembali hadir. Menghangatkan kesendiriannya di malam dingin. Tersenyum kecil, kali ini Yunhee membiarkan lembaran-lembaran usangnya kembali terputar layaknya sebuah memoar.

“Yunhee-ya! Tangkap ini!”

Surainya berwarna coklat seperti tanah dengan senyumnya yang secerah matahari. Gadis itu melemparkan buah apel merah di tangannya ke gadis di hadapannya yang empat tahun lebih muda.

Yunhee menghela napas panjang lalu tertawa pelan. “Eonni.. apa kabarmu sekarang?” bisiknya lirih dengan kepala tertunduk.

“Yunhee-ya, lihat permainanku!” seru gadis itu lagi dengan riang. Senyumnya mengembang bangga begitu nada demi nada melantun indah dari piano di hadapannya. Jemarinya lincah menekan tuts, menyusun melodi lembut dengan begitu apik.

Yunhee yang saat itu masih berumur lima tahun menepuk tangan memberi apresiasi dan ikut duduk di samping kakak perempuannya. Kedua bola mata coklatnya menatap perempuan di sampingnya dengan bangga. “Eonni bisa memainkan lagu untukku?”

“Tentu saja! Aku akan memainkannya untukmu dengan senang hati,” jawab gadis itu lalu menyodorkan beberapa lembar partitur kepada adiknya. “Kau bisa pilih mau yang mana.”

Yunhee tersenyum lagi, kini lebih lebar. Bahkan sampai kakak perempuannya takut bibir adik semata wayangnya itu bisa robek akibat terlalu lebar menarik kedua sudut bibirnya.

“Aku mau yang ini!”

“Baiklah kalau begitu. Pemirsa, kali ini saya, Jung Anhee akan membawakan sebuah lagu spesial untuk adiknya tercinta, Jung Yunhee!”

Keduanya tertawa renyah. Detik berikutnya nada-nada manis mulai melantun indah mengisi setiap sudut ruangan tersebut dengan anggun. Membuat siapa pun yang mendengarnya mendesah dan memejamkan mata dan menikmati setiap detiknya.

“Eonni….” Yunhee tersenyum pahit begitu kejadian di hari berikutnya lah yang terputar. Tanpa sadar ia meremas ujung roknya dengan tangan gemetar. Kristal bening mulai mengancam turun meluruh di kedua pipinya, sebisa mungkin ia menahan dengan seteguh hati—walau berakhir sia-sia.

Ia masih ingat dengan jelas, hari itu; hari pertama di musim semi. Matahari bersinar terik, kupu-kupu dan serangga lainnya menari-nari di sepanjang jalan. Ia dan kakak perempuannya—Anhee—memutuskan untuk menghabiskan siang hari di taman. Tertawa lepas, berlari-lari dengan riang, tanpa beban sama sekali, tanpa mengetahui hal apa yang sudah menanti di depan.

“Eonni, ini.” Sebuah flower crown yang terlihat sedikit berantakan disodorkannya ke hadapan kakak perempuannya. Yunhee tersenyum manis lalu memakaikan hasil kerja tangannya itu ke atas kepala kakaknya dengan hati-hati.

“Eonni cantik!”

Kakak perempuannya terkekeh pelan lalu menyelipkan bunga ke telinga adiknya. “Kau juga.”

Yunhee tertawa lalu duduk bersender di pohon oak di belakangnya. Kepalanya mengadah ke atas menatap teriknya sinar mentari. “Aku haus.”

“Haus?”

“Hm.”

“Kau mau es krim?”

Yunhee menoleh dan menatap kakaknya dengan antusias. “Kakak punya?”

“Hm. Aku masih ada sisa uang hasil menabung selama seminggu. Kau mau?”

“Tentu!”

“Nah, kau tunggu di sini ya. Jangan ke mana-mana.”

Yunhee mengangguk patuh dan menatap punggung kakaknya yang menjauh. Ekor matanya terus mengikuti tubuh kakaknya sampai ke ujung jalan

Sampai akhirnya apa yang ditunggu-tunggu tidak kembali.

Dan tidak pernah kembali.

“Eonni!!”

“Yunhee, tenang!”

“Tidak!! Di mana Eonni?!”

Wanita paruh baya yang selama ini merawat dua anak gadis itu sedari kecil hanya mampu memeluk Yunhee erat, menahan air matanya yang ikut melinang di pelupuk mata. “Tenang, sayang. Tenang. Kakakmu akan baik-baik saja. Percayalah.”

“Nenek, jawab Yunhee. Jawab Yunhee sekarang, ke mana Eonni pergi?!”

Nenek hanya tersenyum kecil lalu kembali memeluk, menghapus air mata gadis itu dengan kedua tangannya yang keriput dimakan usia. “Tenangkan dirimu, sayang. Eonni hanya tertidur.”

“Tertidur?”

“Ya. Hanya tertidur.”

“Nenek yakin Eonni hanya tertidur?”

“Hm. Percayalah dengan Nenek.”

Yunhee yang saat itu tengah dikuasai kepanikan dan kebingungan, hanya mampu mengangguk dan mempercayai setiap kata yang diucapkan Neneknya.

Tanpa mengetahui apa yang benar-benar terjadi.

Tanpa mengetahui bahwa kini tak akan ada lagi melodi indah yang dilantunkan untuknya.

Tanpa mengetahui kini tak akan ada lagi yang bersedia menemaninya menghabiskan siang hari di taman.

Sampai pada akhirnya Yunhee sadar.

Kakaknya memang tertidur….

….untuk selamanya.

.

Hari-harinya menjadi suram. Tidak ada warna yang menghiasi hidupnya. Hampa dan kosong. Tak ada senyum tak ada tawa renyah. Semuanya menjadi datar sejak hari itu; di mana kakaknya pergi dalam kecelakaan maut di persimpangan jalan.

Tidak ada yang menuntut Yunhee untuk menyalahkan dirinya, tapi tekanan batin yang menghimpit gadis kecil itu mendorongnya untuk menyalahkan diri akan kematian kakaknya.

Piano tak lagi bersuara.

Bunga tak lagi berwarna.

Yunhee menolak bicara selama beberapa hari. Mengurung diri di kamar bersama dengan lembaran-lembaran partitur peninggalan kakaknya. Sampai akhirnya kedua orangtuanya datang untuk yang pertama kalinya ke sini; menjemputnya untuk pergi ke Seoul.

Yunhee lagi-lagi hanya bisa tersenyum. Sekarang Neneknya sudah pergi menyusul kakak. Lantas apa yang harus ia lakukan?

***

Sehun menatap pria di hadapannya dengan sebelah mata memicing. Perlahan diletakannya secangkir caramel macchiato keduanya di hari ini lalu berujar dengan curiga, “Apa?”

“Aku memberimu tawaran untuk kembali bersama kami. Star Entertainment.”

Ia mendengus kesal lalu menoleh keluar jendela. “Jangan bercanda.”

“Aku tidak sedang bercanda, Hun. Aku sedang bicara sungguh-sungguh. Aku memberimu tawaran untuk kembali, secara cuma-cuma.”

Sehun hanya kembali mendengus lalu meneguk kembali caramel macchiato-nya.

“Dengar, banyak sekali orang di luar sana yang bersusah payah untuk lolos audisi dan menjadi trainee kami. Sedang kau? Aku memberimu kesempatan untuk bergabung bersama kami, menjadi trainee kami, tanpa harus mengikuti audisi. Kau tidak mau?” lanjut pria itu seraya membenarkan letak kacamatanya yang sedikit mleorot. Alis hitamnya bertaut sebentar sebelum ia berlanjut bicara.

“Aku tahu ini pasti sulit untukmu. Ini pasti… tentang gadis itu kan?”

Tangan Sehun terkepal erat di samping tubuhnya. Matanya mendelik tajam ke arah pria itu dengan gusar. “Aku memiliki alasanku sendiri, kau tahu.”

“Ya aku tahu,” sahut pria itu. “Tapi Sehun, pikirkanlah baik-baik. Kau sudah besar, sudah bisa memilih yang mana yang tepat. Percuma untuk berlarut-larut dengan masa lalu, apa yang sudah terjadi biarlah terjadi.”

“Jangan sok bijak,” tukas Sehun kesal. “Kalau saja kau tidak asal menuduh dan mengambil keputusan seenaknya, maka kejadian ini tidak akan terjadi, aku dan Jiae tetap akan menjadi trainee Star Entertainment, atau malah mungkin sudah siap debut.”

“Sehun….”

“Sebenarnya kau tahu itu bukan Jiae ‘kan? Kau tahu itu bukan Jiae yang melakukannya ‘kan?” Nadanya meninggi seiring dengan kepalan di tangannya yang semakin erat. “Skandal itu tidak pernah ada, tidak untuk Jiae! Dia tidak melakukan apa-apa dengan artis pria sialan itu!”

“Sehun, tenangkan dirimu.”

“Ini semua bukan ulah Jiae,” ulang Sehun lagi. “Tapi salah artis perempuanmu yang kau banggakan itu. Sekali lagi, Ahn Jiae tidak pernah melakukan hal seperti yang disebut media keparat itu! Skandal? Menjual tubuh demi uang? Persetan! Gadis macam apa yang melakukan hal itu diumur 15?”

Sehun memejamkan matanya erat-erat dan melampiaskan emosinya ke atas meja, menggebrak papan kayu tersebut dengan kepalan tangannya dan mengusap wajah. Air mata nyaris turun dari pelupuknya kalau saja ia tidak terus mati-matian menahan emosi yang bergejolak di dadanya.

Demi Tuhan, Sehun tidak habis pikir bagaimana pria itu bisa seenaknya menuduh gadis trainee tak bersalah atas kesalahan yang diperbuat artis wanita papan atasnya.

“Ya. Aku tahu. Aku salah.” Pria itu tersenyum tipis. Matanya menatap cangkirnya dengan pandangan menerawang.

“Sekarang apa? Kau ingin aku kembali?” tanya Sehun dengan mata memicing.

“Aku tahu kau muak denganku. Tapi dengar, kami membutuhkanmu. Seharusnya kau bersyukur aku memberimu kesempatan kedua dengan cuma-cuma. Aku membukakan pintu kesuksesan untukmu dengan senang hati, sedangkan orang lain harus repot-repot bersusah payah untuk membuka pintunya sendiri, dan tidak jarang ada yang gagal.” Ia menarik napas sejenak sebelum melanjutkan. “Tapi kau, bisa meraih kesuksesan dengan mudah. Kami bersedia membantumu. Banyak orang yang ingin berada di posisi saat ini, tidakkah kau bisa bersyukur sedikit saja dengan menerima tawaran ini?”

Sehun terdiam sejemang. Kepalanya mengangguk singkat lalu menatap pria di hadapannya dengan sungguh-sungguh. “Ya. Terimakasih atas tawaranmu,” ujarnya dengan lebih tenang. “Tapi seperti yang kaubilang tadi, aku sudah besar, sudah bisa memilih yang mana yang tepat. Karena itu biarkan aku memutuskannya sendiri, dan jangan paksa aku dengan menyuruhku untuk mensyukuri tawaranmu.”

Selesai berujar seperti itu, Sehun lekas bangkit dari duduknya dan berjalan keluar kafe. Meninggalkan pria itu dengan emosi yang perlahan-lahan mulai meredam. Lantas ia meraih ponselnya dan mendekatkannya ke telinga.

“Luhan Hyung, ini aku.”

***

Yunhee berjalan gontai meniti anak tangga. Pandangannya sedikit mengabur, kepalanya serasa berputar-putar. Ia sudah menghabiskan banyak waktu sepanjang jalan hanya untuk berjalan ke dalam apartemen. Dan kini rasanya kakinya lemas hanya untuk mengangkatnya ke lantai atas.

Ia sedikit terengah dengan peluh yang mulai membasahi pelipisnya. Akhirnya memutuskan untuk mendudukkan diri sejenak di anak tangga terbawah dan menyender di tembok. Berharap-harap cemas Injung dan Nenek Cha tidak keluar dari kamarnya, perlahan-lahan ia merogoh tasnya dan mencari tabung kecil tempat obatnya tersimpan.

Yunhee sedikit meringis menahan sakit. Napasnya menjadi pendek-pendek dan rasa pilu mulai menerjang dada kirinya. Terlalu sesak untuk mengambil napas. Yunhee memejamkan matanya sambil terus mencoba membuka tutup tabungnya dengan kepayahan.

“A-Akhh!”

Ia harus kuat. Ia harus tegar. Itu yang diajarkan kakaknya.

Maka ia mencoba sekuat tenaga untuk mengumpulkan energi. Menarik napas dan menghembuskannya dengan putus-putus. Yunhee merasa pening sekali, semuanya serasa berputar.

Retinanya tidak lagi menemukan titik fokus, dan semuanya menjadi gelap.

“Yunhee!!”

***

Saat itu Injung tengah menggendong Bamju yang tertidur di pangkuannya. Dengan hati-hati di letakannya anak itu ke dalam box bayi. Tersenyum sebentar sambil mengusap kepala anaknya, Injung berbalik menuju ruang tengah dan menghempaskan tubuhnya ke atas sofa.

Baru saja Injung hendak menyalakan televisi ketika gendang telinganya menangkap suara gaduh di luar. Sesuatu seperti merintih atau… telinganya yang salah? Tidak. Injung selalu yakin dengan apa yang dilihat maupun yang didengarnya.

Tidak salah lagi. Ada seseorang di luar sana.

Dengan hati-hati Injung melangkah keluar, menatap sekelilingnya dengan waswas ketika matanya malah menangkap tetangganya yang tinggal di lantai atas tengah terduduk di tangga.

Injung mengerutkan kening dan menghampiri Yunhee dengan kening berkerut samar. “Yunhee apa yang sedang kau—Ya! Jung Yunhee! Kau kenapa?!”

Matanya membelalak kaget begitu didapatinya Yunhee tergolek lemas di sana dengan tangan menggenggam botol tabung obat. Dengan cepat ia menarik pundak gadis itu dan mengangkatnya.

“Nenek Cha! Nenek Cha!” Injung berseru kencang. Untung saja Nenek Cha langsung keluar dengan piyama yang melekat di tubuhnya. Seperitnya Nenek Cha belum tertidur, terbukti dari tangannya yang tengah menggenggam spatula.

“Nenek Cha, bantu aku!”

“Ada apa dengan Yunhee?”

“Aku pun tidak tahu, cepat bantu aku!”

“Sabar, anak muda aku harus mengembalikan spatulaku ke—”

Injung langsung mengambil spatula tersebut dari tangan Nenek Cha dan melesakkannya ke saku kemeja piyamanya, tidak peduli dengan minyak goreng yang belepotan ke mana-mana.

“Nah, cepat bantu aku!”

“Dia kenapa, Injung?”

“Aku tidak tahu!!”

“Dia pingsan atau ketiduran?”

“Aku tidak tahu, sudah cepat bantu aku!”

Nenek Cha mengangguk dan ikut memapah Yunhee ke dalam apartemen wanita karir itu dengan hati-hati, merebahkannya di sofa ruang tengah.

“Sejak kapan dia ada di sana?”

“Sudah kubilang aku tidak tahu, Nenek Cha!”

“Oh astaga, memang apa yang sebenarnya terjadi?”

“Aku tidak tahu Nenek Cha!” seru Injung panik setengah histeris karena Nenek Cha terus menanyakan apa yang tidak diketahuinya. Ia mengetuk dagunya tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Langsung saja ia kembali keluar, mengambil tas gadis itu dan mencari ponselnya. Baru saja ia hendak menghubungi nomor orangtuanya ketika ternyata ponselnya mati. Sial.

“Apa yang harus kita lakukan, Nek?”

“Aku pun tidak tahu. Aku tidak tahu apa yang menyebabkannya seperti ini.”

“Haish, matilah kita.”

“Kita tidak akan mati hanya karena tidak tahu apa yang menyebabkannya seperti itu, Injung.”

Injung mendengus. Ia mengacak rambutnya frustasi. Cemas dan panik yang dirasakannya membuat pelipisnya berdenyut. Tepat disaat itu, pintu gedung apartemen terbuka. Cepat-cepat Injung keluar dan mendapati Sehun yang hendak berjalan ke lantai atas.

“Sehun! Sesuatu terjadi pada Yunhee.”

***

Ini memang bukan pertama kali Sehun melihat gadis itu jatuh pingsan, tapi rasa panik, khawatir, cemas, dan takut tetap saja menyergapnya tanpa aba-aba. Seketika jantungnya terasa berhenti berdetak dan tangannya menjadi dingin. Dengan cepat ia berlari menghampiri Yunhee yang terbalik lemas di atas sofa.

Sebisa mungkin ia berusaha menenangkan diri. Mengambil dan menghela napas panjang, Sehun meraih tabung gadis itu dengan tangan gemetar dan membukanya dengan sedikit gugup. Ia menunduk tepat di samping Yunhee dan mengguncangkan bahu gadis itu dengan lembut.

“Yunhee? Yun? Kau bisa dengar aku?” Sehun berbisik pelan, dan untungnya Yunhee merespon walau hanya dengan dehaman pelan.

Cepat-cepat Sehun merangkul pundak Yunhee dan mendudukkan gadis itu.

“I-Injung Noona, bisa aku minta air untuk Yunhee?”

Lantas Injung mengambil segelas air mineral dan memberikannya kepada lelaki itu.

Nenek Cha dan Injung hanya bisa terdiam dalam kebisuan, menatap setiap gerak gerik Sehun yang begitu telaten merawat Yunhee. Mulai dari menarik gadis itu bangun dari rebahnya, memberikan obatnya dan membantu gadis itu untuk meneguknya dengan hati-hati.

Seakan-akan lelaki semampai itu sudah mengenal Yunhee dengan baik sejak lama.

Sehun menghela napas lega begitu Yunhee sudah mampu menatapnya lurus-lurus dan tersenyum tipis. “Aku merepotkan lagi, ya?” bisiknya serak.

“Sshhh, tidak usah bicara dulu,” sahut Sehun seraya merapikan anak rambut Yunhee yang berantakan ke mana-mana. Ia tersenyum menenangkan gadis itu, mencoba mengatakan bahwa semuanya sudah baik-baik saja sekarang.

Injung dan Nenek Cha ikut menghela napas lega.

“Kau sudah baikan, Yun?” tanya Injung cemas.

“Hm. Aku tidak apa-apa, terimakasih Eonni, Nenek Cha,” sahut Yunhee dengan senyum lemahnya.

Nenek Cha hanya membalas senyum gadis itu sekilas ketika tiba-tiba ia teringat sesuatu. Wanita paruh baya itu langsung menatap Injung dengan horror dan berseru dengan panik, “Tidak! Hotteok-ku!”

“A-Apa?”

“Aku meninggalkan Hotteok-ku di sana! Ah tidak!” Nenek Cha menghampiri Injung dan mengambil kembali spatulnya dari saku piyama wanita karir itu dengan panik.

Injung hanya menatap Nenek Cha dengan pandangan tidak mengerti, sampai akhirnya bau gosong menguar ke seluruh apartemen dan suara seruan Nenek Cha sampai di gendang telinganya.

Ia hanya menggeleng-geleng memaklumi. Nenek-nenek memang seperti itu. Yang penting sekarang Yunhee sudah baik-baik saja, walau wajahnya masih terlihat pucat.

Injung tersenyum ke arah Yunhee dan menawarkan gadis itu teh hangat. Segera saja ia pergi ke dapur dan membuatkan dua cangkir teh untuk Sehun dan Yunhee.

“Terimakasih,” bisik Yunhee kepada lelaki semampai di sampingnya, yang kini kembali berekspresi datar walau peluh masih sedikit membasahi pelipisnya.

“Kau benar-benar merepotkan, Yun.”

“Aku tahu. Maaf.” Yunhee kembali tersenyum lemah dan menunduk dalam. Kedua tangannya meremas ujung rok dengan erat, mengutuk dirinya yang tidak bisa menjaga diri.

“Tidak ada yang perlu dimaafkan.” Sehun menyahut. “Yang penting sekarang kau baik-baik saja.”

Yunhee menoleh menatap Sehun lamat-lamat dan kembali tersenyum. Kali ini dengan cara yang berbeda, yang bahkan Sehun tidak mengerti kenapa senyum gadis itu mampu menggetarkan hatinya.

“Terimakasih banyak, Hun-ah.”

***

Yunhee hanya tersenyum dan mengangguk begitu suara Jongin diujung sana menjelaskan semuanya.

“Maaf, Yun. Sungguh, aku tidak tahu jika kau meneleponku. Aku mencoba menghubungi nomormu beberapa kali tapi gagal.”

“Tidak apa-apa, Jong. Bukan masalah besar.”

“Aku menyesal, maaf.”

“Sudah kubilang tidak apa-apa. Lagipula… Hanna lebih membutuhkanmu,” sahut Yunhee seraya kembali melepas senyum ganjilnya. Ia menunduk menatap ujung sepatu pantofelnya dengan bibir terkatup rapat. Baru saja ia hendak berangkat ke sekolah ketika telepon dari Jongin menahannya, dan sekarang ia terjebak di sini; dalam konversasinya dengan Jongin yang terlalu berlarut-larut mengenai masalah kemarin malam.

Tapi untung saja sampai saat ini Jongin belum tahu mengenai penyakitnya, atau lelaki itu akan lebih memperlambat sesi maaf-memaafkan ini.

“Kau mau memaafkanku kan, Yun?”

Yunhee terkekeh pelan dan mengangguk walau Jongin tidak bisa melihatnya. “Tentu saja, kau terlalu memikirkan masalah kecil ini, Jong.”

“Yah, maaf. Aku hanya tidak bisa meninggalkan gadis itu sendirian di ruang latihannya. Aku

“Ini kesepuluh kalinya kau mengucapkan kata maaf padaku hari ini, dan aku sudah bosan, Jong-ah. Berhenti menjadi burung beo.”

“Ah ya. Benarkah?”

“Hm. Sekarang kau di mana?” tanya Yunhee tanpa mengharapkan jawaban, karena sebenarnya dia sudah tahu jawabannya.

“Aku sedang menjemput Hanna, kau juga mau kujemput? Kebetulan aku—”

“Ah, tidak usah Jong. Aku berangkat naik bis saja, tidak apa-apa.”

“Benar tidak apa-apa? Kau yakin? Dengar, aku tidak keberatan untuk menjemputmu di apartemen, percayalah.”

“Tidak apa-apa. Aku sudah dewasa, Jong.”

“Baiklah kalau begitu, hati-hati di jalan.”

“Hm. Hati-hati di jalan juga.”

Yunhee lebih dulu memutus sambungan teleponnya dan menghela napas panjang. Ia merengut pelan sebelum akhirnya bangkit berdiri dan berjalan menuju pintu.

“Kenapa dia hanya menawariku sekali,” bisik Yunhee sambil memutar kenop. “Seharusnya dia menawariku lagi sampai aku mau, seperti waktu itu.”

Kali ini Yunhee terkekeh pelan dan menggeleng tidak percaya. “Aku memang bodoh.” Ia tersenyum meremehkan dirinya lalu menutup pintu dengan sedikit kasar. “Dasar Yunhee bodoh,” ulangnya lagi.

“Akhirnya kau sadar juga.”

Yunhee mendelik ke arah sumber suara dan mencibir. “Aku sudah sadar sejak dulu.”

“Lantas kenapa kau baru mengakuinya, hem?”

“Penting untukmu untuk mengetahuinya?” Sebelah alis Yunhee terangkat seraya menatap Sehun dengan tatapan tajam.

Lelaki semampai itu terdiam sebentar, menatap Yunhee dengan heran lalu meletakkan punggung tangannya di atas kening gadis itu. “Apa yang salah denganmu?”

“A-Apa?”

“Semalam kau bersikap begitu manis, tersenyum dan berterimakasih padaku. Dan sekarang kau malah bersikap ketus.”

Yunhee menatap Sehun dengan mata memicing. “Justru aku yang heran. Semalam kau terlihat cemas dan perhatian sekali padaku, tapi sekarang kau malah bersikap acuh tak acuh.”

Seketika Sehun merasakan telinganya memerah. “Aku tidak cemas.”

“Aku tidak sebodoh yang kaukira.”

“Tapi barusan kau mengatakan bahwa dirimu bodoh, Yun.”

“I-Itu—” Yunhee kemakan ucapannya sendiri. Skak mat. Ia menelan ludah dengan gugup, tidak tahu harus menjawab apa. Untung saja Injung yang hendak berangkat kerja muncul dari balik pintu apartemennya dan tersenyum manis menyapa keduanya.

“Selamat pagi, Yun. Apa kabar?”

“Jauh lebih baik,” jawab gadis itu seraya memamerkan sederet giginya dengan riang.

“Cih.” Sehun berdecih lalu memutar bola mata.

Ya!” Yunhee memukul lengan Sehun lalu mendelik menatap lelaki itu dengan gusar. “Apa yang salah denganmu, sih?”

Injung hanya terkekeh pelan. Sekarang ia tahu. Ada sesuatu di balik mata coklat bening itu, pun di balik iris kelam milik Oh Sehun. Keduanya sama-sama menyimpan sesuatu yang disembunyikan rapat-rapat.

Tapi apa?

Injung tetap belum bisa memecahkan teka-teki ini. Yang jelas kini ia tahu bahwa Yunhee sebenarnya tak pernah tersenyum dan menatap orang dengan cara yang sama. Ada kilatan berbeda ketika ia menatap lelaki bermarga Oh itu, walau Injung belum bisa mengartikannya.

“Kalian mau terus bertengkar seperti itu?” Injung menyela dan berdecak. “Sebentar lagi jam pelajaran akan dimulai loh.”

Sehun dan Yunhee sama-sama mengecek arloji masing-masing dan membelalak kaget. Cepat-cepat mereka berpamitan kepada Injung dan Nenek Cha yang kebetulan tengah menyirami tanaman di luar gedung, lantas berangkat ke sekolah dengan panik.

Yah, semoga saja dewi fortuna sedang berpihak kepada salah satu di antara mereka, atau keduanya akan benar-benar sial jika bel berbunyi sebelum mereka hadir di depan gerbang sekolah.

***

Hujan semakin deras begitu Jongin sampai di kafe tempat Yunhee bekerja. Lelaki itu menyunggingkan senyumnya begitu Yunhee menyadari kedatangannya. Segera saja Yunhee berjalan menghampiri lelaki itu dan ikut tersenyum senang. “Kau berkunjung lagi?”

Jongin terkekeh lalu mengusap surai gadis itu dan berbisik, “Kali ini tidak hanya berkunjung. Ada sesuatu yang ingin kuberitahukan padamu.”

Yunhee memicingkan matanya dengan curiga. “Sesuatu yang penting?”

“Hm. Tentu saja.”

Gadis itu melirik keadaan kafe terlebih dahulu sekilas. Ketika dirasanya keadaan sedang cukup sepi, barulah ia mengajak Jongin duduk di ujung ruangan dekat jendela. “Kau mau pesan apa?”

“Capuccino.”

“Baiklah, tunggu sebentar.”

Yunhee berbalik menuju counter, berdiri di sana selama beberapa saat sebelum akhirnya berbalik menghampiri Jongin dengan duca cangkir di tangannya. Capuccino dan caramel macchiato.

“Kau jadi suka caramel macchiato akhir-akhir ini, Yun,” komentar Jongin begitu Yunhee menyesap minumannya.

“Baru dua kali, haha.”

Jongin menghela napas panjang lalu mengangguk tidak jelas. Ia menatap Yunhee sungguh-sungguh lalu mencondongkan tubuhnya ke depan, mendekatkan wajahnya ke depan gadis itu dengan mata menatap iris coklatnya dengan sungguh-sungguh.

“Ada apa, Jong?”

“Berjanji padaku untuk tidak berteriak.”

“Apa?”

Jongin mengambil napas panjang lalu berbisik pelan, “Aku mendaftarkan diri untuk mengikuti audisi di Star Entertainment.”

Seketika kedua bola mata Yunhee membelalak kaget. Bibirnya menganga seperti orang bodoh begitu Jongin mengatakannya dengan lamat-lamat diakhiri dengan cengiran khas lelaki itu.

“Kau serius?”

“Kau kira aku suka bermain-main dengan hal seperti ini?”

Yunhee mengembangkan senyumnya lebar-lebar dan menepuk pundak Jongin. Ia tertawa entah untuk apa, ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan lelaki itu sudah lebih dari cukup bagi Yunhee. Ia menggeleng tidak percaya dan berdecak kagum. “Kau bahkan tidak pernah memberi tahu padaku soal ini.”

“That’s what we called surprise,” sahut Jongin lalu tertawa lepas melihat ekspresi Yunhee yang masih setengah terkejut.

Detik berikutnya gadis itu ikut tertawa. “Ngomong-ngomong kau mendaftarkan diri untuk menjadi apa? Penyanyi?”

“Bukan.”

“Penari?”

“Bukan.”

“Lalu?”

Rapper,” jawab Jongin bangga lalu kembali tertawa melihat ekspresi Yunhee yang entah mengapa menurutnya begitu lucu dan menggemaskan.

“Kau benar-benar, Jong. Kau bahkan tidak pernah memberitahuku, kurang ajar!”

“Hahaha, ini yang kurencanakan bersama Hanna,” sahut Jongin lagi tanpa berhenti tertawa.

Yunhee terdiam sebentar lalu tersenyum kecil. “Begitu?”

“Hm. Sayangnya hari ini dia tidak bisa datang karena ada jadwal latihan,” jawab Jongin lalu mendesah iri. “Ckk, dasar orang sok sibuk. Mentang-mentang ingin mengikuti lomba violin nasional, haha.”

Yunhee lagi-lagi hanya tersenyum kecil. Ia beralih menatap isi cangkir caramel macchiato-nya yang baru diminum seperempat lalu menatap Jongin tanpa menghilangkan lengkung manis di atas bibirnya. “Jadi, kapan audisinya dilaksanakan?”

“Bulan depan. Doakan aku ya?”

Yunhee mengangguk. “Tentu saja, itu sudah pasti.”

“Wah, terimakasih banyak, Yun!” Jongin berujar gemas lalu mengacak surai coklat gadis itu sedangkan Yunhee hanya terkekeh pelan.

“Sama-sama, bukankah ini gunanya teman?” Ia tersenyum lalu meneguk kembali caramel macchiato-nya, mencoba menyembunyikan ekspresi wajahnya yang terasa ganjil.

“Ah ya, begitukah? Haha. Kau benar juga, Yun.”

Ini gunanya teman?

Benar. Tentu saja. Bukankah kita teman? Ya. Teman. Tidak kurang dan tidak lebih. Benar begitu?

Yunhee mneghembuskan napas singkat lalu bangkit dari duduknya seraya berkata, “Aku harus kembali bekerja. Take care, Jong. Kau masih ingin menjemput Hanna dari tempat latihannya kan?”

Jongin mengadah menatap Yunhee yang sudah berdiri lalu beralih menatap arlojinya. “Ah ya benar juga. Tadi dia memintaku untuk membelikan makan malam. Kalau begitu aku duluan ya, Yun!”

Yunhee mengangguk sekilas lalu kembali tersenyum. Untung saja kali ini ia dapat meyakinkan bahwa senyumnya tidak seganjil tadi. “Hm. Sampai jumpa! Hati-hati di jalan.”

Ia menatap punggung itu sampai menghilang di balik pintu. Melambaikan tangannya ke arah Jongin sebelum ia benar-benar meninggalkan kafe.

“Ini gunanya teman?” ulang Yunhee pelan sambil berbalik berjalan menuju counter. Sebelah tangannya memegang secangkir caramel macchiato-nya dan meletakkanya ke atas meja counter.

“Dia pergi lagi, Yun?”

Gadis itu mengalihkan perhatiannya kepada rekan kerjanya lalu bertanya dengan suara rendah, “Orang yang sudah menjadi sahabat, tidak mungkin bisa menjadi lebih dari sekedar sahabat kan?”

“Eh? Apa maksudmu, Yunhee?”

“Maksudku…, jika seseorang memiliki sahabat, maka orang itu akan terus menjadi sahabatnya sampai benang penghubung keduanya terputus, benar begitu?”

“Tentu saja, memang ada apa?”

“Tidak apa-apa.” Yunhee tersenyum lalu kembali meneguk minumannya sambil menerawang ke luar. “Kalau begitu, kira-kira apa yang bisa memutuskan benang penghubung di antara keduanya?”

Rekan kerjanya terdiam sejenak sebelum menjawab dengan suara rendah yang terdengar ragu. “Hmm, cinta? Jika salah satu di antara mereka jatuh cinta, maka benang itu akan putus. Cinta sepihak kepada sahabatnya sendiri pasti berakhir pahit, ia akan kehilangan sahabatnya juga orang yang dicintainya.”

Yunhee terdiam lagi, lalu tertawa. Ia mengiyakan jawaban tersebut lalu tersenyum penuh arti. “Aku juga berpikir seperti itu.”

“Memang ada apa?”

“Tidak ada apa-apa, hanya ingin tahu pendapat orang lain saja. Hehe.”

***

Sehun melangkah menyusuri jalan dengan mata setengah terpejam. Sol sepatunya menapaki trotoar jalan yang basah akibat hujan deras.

Hatinya bimbang, benar-benar di ambang batas keraguan. Ia ingin bergabung kembali dengan Star Entertainment dan meraih cita-citanya sebagai dancer terkenal, tapi di sisi lain kejadian dua tahun lalu ketika gadisnya dikhianati oleh kepala agensinya sendiri dengan skandal bullshit membuatnya muak. Yah, ini juga menjadi salah satu alasannya keluar dari agensi tersebut.

Bayangkan, gadis yang dicintainya sejak pertama kali menginjak sekolah menengah pertama sampai mengikuti masa-masa trainee bersama, semuanya hancur ketika berita itu menyebar ke seantero Seoul.

Bullshit. Hell.

Sehun merasa emosinya kembali meledak mengingat pagi hari itu ketika ia membaca header berita. Sialan. Jiae tidak seburuk itu. Jiae tidak serendah itu.

“Mereka menjanjikanku bayaran yang setimpal, kenapa harus menolak?”

Begitulah katanya. Jadi semuanya karena uang? Sehun tidak pernah mengerti jalan pikir gadis itu. Bahkan sampai saat ini.

“Sehun, kau tidak tahu apa-apa. Kau tidak tahu bagaimana rasanya hidup di bawah hutang piutang yang ditinggalkan orangtuamu.”

“Sudah kubilang, aku hanya ingin hidup bahagia. Aku bisa hidup lebih bebas di Jepang sana, jadi apa salahnya, Hun?”

“Aku muak denganmu. Kau tidak pernah mau mengerti keadaanku bahkan disaat seperti ini. Bisakah kau menghilang saja dari hidupku?”

Sehun mengepalkan kedua tangannya erat-erat dan memejamkan mata. “Shit,” umpatnya kesal lalu menendang sebuah kaleng bekas yang kebetulan berada di dekatnya.

Lantas ia meraih ponsel dari sakunya, menghubungi nomor seseorang dan berkata dengan cepat. “Aku menerima tawaranmu.”

Karena ternyata, semuak-muaknya ia dengan agensi itu, nyatanya Jaei lebih memuakkan. Ya. Gadis itu.

Sialan. Keparat.

***

Ada saatnya ia membenci perguliran waktu. Yunhee merebahkan tubuhnya di atas ranjang seraya memejamkan mata. Langit-langit kamar menjadi pusat perhatiannya tak lama sebelum akhirnya ia beralih menatap keluar jendela.

Membiarkan iris coklatnya terpaku selama beberapa saat kearah langit kelam, Yunhee menarik kedua sudut bibirnya ke atas membentuk seulas senyum singkat. Rupa-rupanya rembulan masih sedia menyinari gelapnya malam, pun ratusan bintang di sana yang tak jemu menggantung menemaninya setiap malam.

Gadis itu menghela napas panjang lantas memejamkan matanya. Ia merindukan saat-saat di mana Anhee masih sedia berada di sisinya. Menghabiskan malam musim panas bersama dengan kunang-kunang sang penjaga waktu, menghabiskan musim dingin di depan perapian hangat, menghabiskan musim semi bersama kupu-kupu di padang rumput, serta menghabiskan musim gugur bersama dengan ratusan daun yang meluruh tertiup angin.

Waktu berputar dengan begitu cepat.

Yunhee menghela napas panjang. Lelah memikul beban, gadis itu memejamkan matanya rapat-rapat, mengajak dirinya pergi ke dunia artifisial di mana ia kembali memperoleh apa yang diinginkannya. Ketika segala sesuatu kembali ke keadaan ‘baik’ yang sebenarnya.

Jarum jam berotasi dengan cepat, entah sudah berapa lama Yunhee tertidur di atas ranjangnya ketika tiba-tiba hawa panas menyergap dengan tiba-tiba. Napasnya menjadi sesak dan pandangannya menjadi buram.

Bukan, bukan buram karena pening atau apa. Tapi sesuatu seperti—asap atau…

…kebakaran?

“Yunhee! Jung Yunhee!”

Suara pintu digedor dari luar diiringi suara bising dari luar apartemen. Yunhee tidak bisa berpikir jernih. Semuanya nampak kabur tatkala suara gaduh dan barang jatuh terdengar begitu jelas di telinganya. Hawa panas semakin menyengat, Yunhee serasa dipaku di tempat kuat-kuat. Tidak memikili tenaga untuk bergerak.

Ya! Jung Yunhee cepat bangun!”

“Yunhee!!”

.

.

— TBC —

(A/N-nya mungkin emang agak panjang, tapi pehlise, aku nulis A/N buat dibaca, bukan buat di-skip.)

.

.

[A/N] : Oke ini chapter terpanjang dari chapter-chapter lainnya. 21 halaman! Woah. Gak terasa udah sampe chapter kesepuluh ya  XD Oke di sini mungkin udah banyak yang terungkap ya? 🙂 Tapi masih ada satu lagi yang belum. Bakal diungkap di chapter selanjutnya kok hehe 😀 Btw, ada yang tebakannya bener? Hoho.

Kali ini aku gak mau berpanjang-panjang ria. Oke. Jadi ceritaya di chapter sebelumnya (Chapter 9) aku bikin sedikit (sedikit? masa sih) kesalahan >.< Yang di bagian Yunhee-Kai-Hanna ngomongin masalah ujian itu, anggep aja scene itu gak ada HAHA. Karena aku kurang yakin mereka ujian sesudah summer vacation. (pehlise aku udah searching sana-sini tapi masih belum nemu jawaban yang afdol.) Kalo ada yang lebih tau, bantu aku meralat ya? Soalnya udah buntu banget ini gak nemu pencerahan soal bagian itu TToTT

Sekian dan terimakasih. Yang mau hubungi aku bisa kontak twitter @eun_ryi atau LINE euntheana okesip. Termakasyihhh laffya ❤

*PS): Maaf kalo nanti aku agak telat nge-reply komen kalian lantaran aku ada acara selama beberapa hari ke depan. Pasti akan dibales kok, cuman ya agak telat gitu deh haha. Thankseu ya! Ditunggu kritik dan sarannya 🙂

(ngomong-ngomong jangan paksa aku buat nentuin ending-nya sesuai shipper-an kalian yaa TToTT Karena aku udah nentuin endingnya, jadi please jangan nyuruh aku rombak storyline.)

Iklan

225 respons untuk ‘Everything Has Changed (Chapter 10)

  1. jadi dulu sehun itu mantan trainee dan sekarang kenpa dia terima tawaran. Kai semakin dekat hanna. Apa kai masih tetap mau menampik? Jelas yunhee punya perasaan lebih sama kai. Mengapa status sahabatnya jadi penghalang. Apa mereka masih mempertahankannya? Sementara ada datangnya cinta so complicated. Sehun perhatian sama yunhee. Lindungi yunhee terus ya eheheh

  2. hah kebakaran astaga apa Yunhee selamat…
    itu Kai sudah mulai membagi perhatiannya ke Hanna sembat kesel sih..
    aduh bingng mau komen apa…
    tapi ak mau cepat2 baca kelanjutqnnya jadi aegini aj ya ak komen nya maaf kalau pendek hehehehe

  3. wehhh. tebakanku salah. kirain yang tabrakan sama Sehun itu Jiae. ternyata bukan -,-
    Jong udah gak perhatian lagi sama Yunhee ? kenapa ? apa Jong udah ada rasa sama Hanna ?
    itu apartemennya Yunhee kebakaran ?

  4. Ugh! Pas tdi Sehun belain Jiae, kirain Jiae nya baik.. Udh turut kasihan.. Eh ternyata dy yg memuakkan >.< Brarti nanti Sehun am Kai jdi trainee sma" dong?? Kai udh gk suka ama Yunhee ya?? Dy udh berpindah ke Hanna?? Kok bsa?? Klo mupon gpp sih bang kai, tpi gak ush bwt Yunhee ngely juga keleus.. -___- gak ush ngusap" lah, indirect kiss lah.. Kan Yunhee nya jdi berharap.. Meskipun dy jga ad rasa ke Sehun #soktau #digampareonni #akurapopo jdi gerem ndiri liatnya… Ff nya daebak! Keep Writting eon! 😀 XD

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s