EXO Private School The Series (2)

exo private school

The 4 boys in the second year (Basketball Vs. Food)

Lay, EXO, jurusan IPA kelas 2-A, basketball team leader

Kyungsoo, EXO, jurusan IPA kelas 2-B, cooking eks-class leader

Chen, EXO, jurusan IPS kelas 2-A, vocal eks-class leader

Tao, EXO, jurusan IPS kelas 2-B, Taekwondo eks-class leader

Sera, jurusan IPA kelas 2-C, ekstrakulikuler Jurnalistik (OC)

EXO private school the series-The 2nd year 2

Author: Crazyfinder / @yaniesbee / @wuyaniyifan

Length: oneshoot (seri 2)

Genre: comedy-romance, school-life, friendship

Note: Terima kasiiih untuk kalian yang menyukai EXO private school the series part 1. Lagi-lagi author gak menyangka banyak yang menyukai part satu itu. Terima kasih juga sudah menunggu part ke-2 dengan sabar.

Selamat membaca~ ^^

Oya, sebaiknya author pertegas supaya kalian gak bingung dan supaya author gak sibuk menjelaskan berkali-kali ya, kalian boleh memanggil saya ‘author’ atau sebutan lain; Eonni , Saeng, Chingu atau apapun. I am 94liner 🙂 see yaa~

`~*~`

               Ada satu mesin penjual minuman otomatis yang masih berfungsi di salah satu sudut lorong gedung lama EXO private school yang kini sudah tidak terpakai lagi. Tidak ada yang mengetahui perihal mesin minuman ini kecuali dua orang siswa kelas sebelas yang sering bergantian membeli minuman di sana pada jam istirahat siang. Lucunya, mereka selalu datang pada menit berbeda dan berjalan dari koridor yang berbeda pula, sehingga mereka saling tidak tahu bahwa mereka berdua mengetahui rahasia aneh ini. Dan mereka puas atas keadaan itu dan sama-sama berpikir “Wah, hanya aku satu-satunya siswa yang tahu keberadaan mesin ini! I am so lucky!”

Kenapa? Karena mereka tidak harus membayar ketika membeli minuman di sana. Mesin itu sudah usang namun minuman kaleng di sana, yang terdiri dari pepsi, cola, sprite dan sunny 10 masih jauh dari tanggal kadaluarsa. Mereka tinggal menendang sudut kanan tempat mesin itu bekerja dan kemudian satu kaleng minuman akan bergulir keluar. Sebenarnya mereka bisa saja membeli minuman di kafetaria sekolah, hanya saja sensasi dan kepuasan yang mereka dapatkan ketika mendapatkan minuman itu sungguh menyenangkan dan mereka menyuKainya.

Mereka menikmati rahasia itu dan masih menganggap mereka satu-satunya siswa yang tahu hingga siang ini, ketika mereka kebetulan sama-sama keluar kelas pada waktu bersamaan dan bertemu dengan canggung di depan mesin karena mereka lagi-lagi datang dari arah yang berbeda.

“Lay-ssi!”

“Sera-ssi!”

Dan mereka saling menunjuk dengan tatapan tak percaya.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Lay bertanya dengan mata dipicingkan, ia merapikan letak bola basket yang tadinya hampir bergulir jatuh akibat rasa kaget dan mengapit bola itu di antara pinggang dan lengannya. Suaranya bergema di lorong yang sepi itu.

“Rahasia. Kau?” Sera ikut-ikutan memicingkan mata. Mereka meneruskan perang tatapan itu dan tidak ada yang menyerah hingga akhirnya Lay harus mengerjap karena matanya kelilipan.

“Eugh, sial.” Pria itu mengusap matanya dan akhirnya mengangkat kepala lagi. “Aku juga rahasia.”

Lalu mata mereka bersamaan menatap mesin penjual minuman itu lagi, dan sedetik kemudian mereka menertawai kebodohan ini.

“Hahaha, jadi kau juga tahu tentang mesin ini? Sejak kapan?”

Sera menutup mulutnya menahan tawa yang tak juga berhenti. “Sejak kenaikan kelas sebelas, ketika gedung baru sudah selesai. Aku ingin mengunjungi lantai ini dan iseng-iseng menendang mesin itu. Ternyata ia masih bekerja.”

“Wah! Aku juga! Dan aku tak menyangka kepala sekolah belum membuang atau memindahkan mesin ini sampai sekarang.”

I know right? Tapi siapa yang peduli, sekolah kita cukup kaya.” Sambut Sera mengangkat bahu dan mereka berdua tertawa lagi.

“Oh ya, kita belum berkenalan dengan resmi. Hai, aku Lay, anak IPA kelas A. Kamu?” Lay menyodorkan tangannya yang bebas dan menunggu Sera menyambut selagi gadis itu terlihat ragu.

“Hai, aku Yoon Sera, IPA kelas C.”

Bangapta.

`~*~`

                 Sebenarnya Sera sudah mengenal Lay, jauh sebelum pria itu memperkenalkan dirinya tadi. Mereka pernah satu kelas ketika kelas sepuluh, akan tetapi ketika kenaikan kelas sebelas, Sera memiliki nilai yang standar dan ia akhirnya dipindahkan ke kelas C. Ia tidak terlalu sedih akan hal itu karena ia menyadari kemampuan belajarnya dan ia nyaman-nyaman saja, namun ia justru sedih ketika ia harus berpisah dengan pria dengan lesung pipi yang menawan itu.

Lay terkenal humble, lucu dan polos. Semua gadis glamour yang mengejarnya pasti akan berakhir menyerah dan memilih mengejar sahabat-sahabat pria itu, entah itu Kyungsoo; ketua ekstrakurikuler memasak, Tao; ketua ekskul Taekwondo atau Chen; ketua ekskul vokal.

Pria dengan tatapan yang jernih itu terkadang sangat serius namun juga tak jarang melucu. Sera selalu menikmati setiap detik pria itu berbicara dan tak jarang memilih menatap punggung pria itu dari tempat duduknya yang berada di belakang kelas selama jam pelajaran berlangsung. Teman-teman gadis itu sering mengatakan bahwa mungkin nilainya jelek karena pengaruh Lay, namun Sera akan menggeleng tegas dan menyatakan bahwa justru karena Lay-lah ia berusaha agar jangan sampai nilai-nilainya ada yang berada di bawah 65.

“Jadi, bagaimana kelas sebelas?” Sera membuka pertanyaan ketika akhirnya mereka berdua duduk di lantai di samping mesin penjual minuman otomatis tadi dan membuka kaleng minuman masing-masing. Lay memegang sekaleng cola dan Sera memilih sunny 10.

“Tidak ada yang istimewa.” Sahut Lay. Ia menyandarkan tubuhnya ke dinding dan mulai meneguk minuman bersoda itu. “Kamu?” tanyanya balik.

“Tidak ada yang istimewa juga.” Karena tidak ada kau di sana. Sambung Sera dalam hati. Ia menoleh dan menikmati siluet samping wajah tampan Lay.

Lay tertawa kecil seolah mendengar isi hati Sera, membuat wajah gadis itu menghangat.

Setelah itu mereka berdua hanya berdiam dalam hening tanpa ada kecanggungan melingkupi. Meneguk minuman masing-masing dan sesekali tersenyum jika beradu pandang, sampai bel untuk jam pelajaran berikutnya dimulai dan mereka beranjak, merasa yakin akan bertemu lagi di tempat itu esoknya tanpa harus mengucapkan janji apapun.

`~*~`

            Lay berjalan menuju kelasnya sambil menahan senyum. Ia memantul-mantulkan bola basket yang sejak tadi ia pegang di sepanjang koridor lantai dua tanpa memerhatikan tatapan teman-teman seangkatannya dan sesekali bersiul-siul kecil. Sepuluh langkah sebelum mencapai kelas, bolanya tertangkap oleh seseorang dan suara pantulannya menghilang. Lay mengangkat kepala dan mencibir.

“Kyungso-yaaa~ kemarikan bolaku!”

Kyungsoo, yang merangkap sebagai ketua angkatan kelas sebelas, hanya menatap datar dengan mata bulatnya dan bergeleng. “Kau ini. Jelas-jelas bola itu di larang di area kelas, kau malah ber-dribble ria di sini. Kau pikir ini lapangan? Bagaimana kalau ini mengenai guru?”

Kyungsoo terus berceramah hingga Lay harus berpura-pura menutup kedua telinganya dengan gaya imut, membuat Kyungsoo berhenti bicara dan menjitak kepalanya. Mereka melanjutkan perjalanan beriringan menuju kelas masing-masing ketika mendadak Kyungsoo berhenti dan matanya terpaku ke ujung koridor di mana beberapa gadis tengah tertawa-tawa heboh.

Lay menoleh bingung ke arah Kyungsoo dan mengikuti arah pandang sahabatnya itu. Sebagian besar gadis di sana tak ada yang begitu Lay kenal, sepertinya mereka ada yang dari kelasnya dan dari kelas-kelas lain. Namun ia tahu pasti bahwa pusat dari kerumunan itu adalah Sera yang tengah bercerita dengan wajah ceria dan tawa manisnya.

`~*~`

               Bermain basket adalah hobi Lay sejak dulu, selain mandi. Awalnya ia menggunakan olahraga ini sebagai tempatnya menjaga bentuk tubuhnya karena kebanyakan orang sering mengatai ia terlalu kurus, lalu kemudian ia menggunakan olahraga ini sebagai pengisi waktu luang, kemudian basket lama-kelamaan menjadi hobinya. Pria berwajah tirus dan berkulit agak pucat itu juga tak jarang bermain basket sendirian di lapangan luas di sekolah ketika ia merasa risau.

“Lay! Kau tidak mau pulang?” Chen melambai dari sudut lapangan basket dan berteriak sambil menenteng tas ranselnya. Lay berhenti berlari memantulkan bola dan menyeka keringat yang telah membasahi wajahnya, lalu menggeleng. Ia melihat ketiga temannya yang saling menatap dan mulai berjalan menjauh. Tatapan Lay berhenti pada punggung Kyungsoo dan ia menghela nafas lagi.

“Hei! Kau kenapa sih? Sehabis bel pulang berbunyi langsung berlari ke lapangan ini?”

Lay terperanjant dan kaget menemukan Tao sudah berdiri di belakangnya dengan wajah khawatir. Pria tinggi itu sudah meletakkan ranselnya di bangku tribun.

“Tidak ada. Kenapa kau belum pulang?” Lay menggiring bola mendekati ring dan hendak menembak masuk, namun ditangkis oleh tubuh tinggi Tao dan temannya itu terus berlari ke arah lain sambil mendribble bola dengan ahli. Lay menumpukan kedua tangannya di pinggang dengan nafas terengah dan tersenyum, mulai mengejar Tao untuk merebut bola lagi.

“Aku hanya heran, kau belum pernah pulang hingga sore begini.” Balas Tao sambil berusaha mencetak tiga angka dari lingkaran luar garis, namun Lay dengan lihai memblokingnya dan berputar menggiring bola keluar jangkauan Tao dan menembak angka, dan masuk. Lay menunjukkan cengiran puas dan kembali berebut bola tanpa merespon ucapan Tao barusan.

“Woy! Kalian pikir apa yang sedang kalian lakukan di sini jam begini, hah?!”

Lay dan Tao terdiam dan menoleh takut-takut ke ujung lapangan basket, dan benar saja, itu suara Kris wu. Senior mereka sekaligus mantan ketua ekskul basket yang kini merupakan jabatan yang Lay pegang.

Anyeonghasseyo sunbaenim.” Lay dan Tao segera menyapa sopan dan membungkukkan tubuh dalam-dalam, takut dimarahi oleh senior berkharisma itu.

“Sudahlah biarkan saja mereka Kris, kau pulang saja melanjutkan rencana wisuda kita.” Dari arah belakang Kris muncul Kai dan merangkul bahu pria tinggi itu. Lay dan Tao terkaget lagi dan kembali membungkuk.

“Halaah, tidak usah sok sopan begitu.” Chanyeol kali ini muncul dengan cengiran lebarnya yang mencapai telinga dan merangkul Kris di sisi lain. Tak lama kemudian Luhan juga ikut mendekat dengan sibuk menenteng beberapa tas plastik, membalas sapaan dua hubae-nya.

“Kau kan tahu sekali Lay, kalau jam segini seharusnya ring lapangan sudah harus ditutup.” Kris mengomel dengan suara beratnya. Ia bersedekap tampak jengkel.

” Maaf Kris sunbae, tadi… pokoknya…” Lay terbata menjelaskan alasannya. Luhan dan Kai tampak merasa kasihan namun tak dapat menghalangi Kris, ini adalah urusan para tim basket, bukan mereka.

“Hey, bagaimana kalau kita main juga? Bukankah akhir-akhir ini kita penat oleh urusan wisuda dan ujian akhir? Ayo!” Chanyeol mendadak mengusulkan ide gila yang ternyata disetujui oleh Luhan dan Kai yang segera melempar bawaan mereka ke tribun dan berlari riang kembali ke lapangan. Kris melongo dengan wajah tak percaya, begitu juga Lay dan Tao yang sejak tadi hanya berdiri kaku.

“Ayolaaaah.” Chanyeol menarik paksa tas ransel Kris dan melemparnya ke lapangan. Akhirnya ketua angkatan kelas dua belas itu menghela nafas menyerah dan mulai menggerak-gerakkan tubuhnya melakukan pemanasan.

Tatapan matanya jatuh pada Lay dan Tao yang masih melongo. “Kalian sedang apa? Ayo main.”

`~*~`

          Tiga puluh menit sudah berlalu dan kini sudah memasuki quarter ketiga ketika mereka dikejutkan oleh nada marah seseorang.

“Kris wu! Kai! Luhan! Chanyeol! Apa yang sedang kalian lakukan disana? Hah?!”

Kris yang bersiap memasukkan bola ke ring segera terjatuh karena kaget, lalu Lay melihat Nata, senior mereka yang terkenal galak sudah masuk ke lapangan sambil menghentak-hentakkan kaki.

`~*~`

Akhirnya lapangan basket kembali sepi setelah Nata menyeret keempat senior mereka untuk melanjutkan rapat wisuda angkatan mereka. Lay dan Tao duduk di bangku penonton di tribun dan mengistirahatkan tubuh mereka yang kelelahan. Langit sudah mulai menggelap namun Lay belum ada keinginan untuk pulang ke rumah.

“Eh, sejak kapan ya Nata sunbaenim jadi akrab begitu dengan Kris hyung?” celetuk Lay ketika ia teringat keanehan tadi saat Nata membantu Kris berdiri dan mengibas-ngibas debu yang menempel di baju Seragam pria itu. Seingatnya, Nata terkenal sebagai satu-satunya gadis yang tidak memuja Kris di seluruh sekolah ini.

Tao menoleh dan ikut mengernyit. “Entahlah. Mungkin ia baru menyadari betapa tampannya senior kita itu.” Lalu mereka berdua terbahak lepas.

“Oya, kenapa kau bermain basket sepulang sekolah? Bukan seperti kau saja.” Tao kembali melanjutkan penyelidikannya. “Biasanya kau akan bermain ketika sedang ada masalah, ya kan?”

Lay menyandarkan punggungnya ke bangku tribun dan berpikir sesaat sebelum memilih untuk buka bicara.

“Kau ingat tidak, kalau aku punya dua rahasia besar sejak bersekolah di sini?”

Tao menegakkan tubuh tertarik dan mengangguk. Ketika mereka berempat, ia, Chen, Kyungsoo dan Lay bermain truth or dare di rumah Chen di saat seharusnya mereka mengerjakan tugas laporan masing-masing, Lay memilih dare untuk pertanyaan yang berbunyi sebutkan dua rahasia besarmu di SMA EXO private school.

“Jadi, salah satu rahasiaku itu adalah tentang urusan cinta.”

Tao mulai bersiul-siul menggoda dan berhenti ketika Lay memberikan tatapan tajam.

“Ada satu gadis yang sejak kelas sepuluh sudah aku perhatikan, bahkan ketika upacara penerimaan siswa baru.”

“HAH? Seorang Lay memiliki cinta bertepuk sebelah tangan?!” Tao tak bisa menutupi keterkejutannya dan berakhir dengan jitakan sadis oleh Lay di kepalanya.

“Bukan. Aku bahkan belum menyatakan perasaanku padanya.” Lalu Lay menggeleng tak mengerti kenapa ia harus menjelaskan itu pada Tao, lalu memilih untuk melanjutkan ceritanya, “dia memiliki aura yang lembut, dan semua orang seolah langsung bisa akrab dengannya pada pandangan pertama. Dia sangat ceria dan walaupun ia tak begitu cemerlang dalam hal pelajaran, ia tak pernah menyerah. Ia memiliki banyak teman dan ia memiliki wajah tersenyum yang menarik. Bahkan ketika ia hanya diam membaca buku pun, aku bisa merasakan bahwa ia sedang tersenyum dan itu sangat cantik.”

Tao terhanyut dalam cerita itu, karena pada dasarnya ia adalah pria yang melankolis. Setidaknya Lay tidak berbicara seperti gadis-gadis SMA yang tengah curhat.

“Lalu hari ini, aku baru tahu kami saling berbagi rahasia yang sama. Itu adalah rahasia besarku yang kedua yang bahkan tak ingin aku ceritakan pada kalian bertiga.” Lay segera menghindari tinjuan Tao yang mengarah ke bahunya dan tergelak.

“Dan duduk berdua bersamanya seolah tak butuh kata-kata. Kami hanya berdiam dan semuanya terasa benar.”

“Tunggu-, tunggu.” Tao mengangkat kedua tangannya. “Kau terdengar sedang jatuh cinta tapi kenapa wajahmu terlihat seperti seseorang yang tengah patah hati sih?”

“Karena, ketika aku mulai yakin bahwa aku menyukai gadis itu, salah satu temanku, teman baikku, juga menyukainya.”

Tao tampak berpikir, lalu menggeleng. “Tidak, tidak kok, tenang. Aku tidak sedang menyukai siapa-siapa.” Tao berujar meyakinkan.

“Bukan kau, bodoh.” Respon Lay dengan wajah datar. Tao kembali berpikir.

“Sepertinya di antara kita berempat hanya kau yang sedang jatuh cinta deh.” Sahut Tao berteori. Lay berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menjauhi Tao yang masih sibuk mengusap-usap dagunya dan berpikir.

“Hey! Hey! Tunggu!”

`~*~`

           Ruang ekskul memasak yang berada di lantai dua selalu beraroma manis tergantung apa menu yang akan dipelajari tiap minggu. Kyungsoo akan selalu berdiri di meja paling depan dengan apron biru tua yang menutupi pinggangnya. Ia tetap terlihat maskulin dan tentu saja tampan dengan penampilan seperti itu dan banyak gadis dari ekskul lain akan berdiri heboh di jendela luar dan menikmati tiap detik kegiatan pria berbibir seksi itu. Tak jarang mereka ber-haaaa dan ber-uuu ria setiap Kyungsoo mencicipi bumbu-bumbu menggunakan jarinya. Awalnya Kyungsoo merasa tak nyaman oleh pemandangan itu, ditambah dengan jendela ruangan itu yang amat luas, namun pada akhirnya ia sudah membiasakan diri dan menganggap semua gadis-gadis itu tidak ada.

“Yap! Pelajaran memasak hari ini sudah selesai dan jangan lupa tugas kalian minggu depan ya, menuliskan resep masakan hari ini sesuai dengan gaya interpretasi kalian masing-masing dan kirim ke emailku. Deadline-nya hari minggu. Kelas bubar.”

Suara-suara kecewa terdengar di penjuru ruangan, hingga luar ruangan juga. Namun Kyungsoo tampak tak perduli dan mulai membuka apron dan meletakkan alat peralatan memasaknya ke tempat pencucian piring. Tak lama ia mendengar beberapa jeritan tertahan di depan pintu dan ia menemukan Lay yang tengah membungkuk-bungkukkan tubuhnya membalas sapaan dan teriakan para gadis-gadis yang tengah mengagumi ketampanannya. Kyungsoo tertawa kecil dan kembali pada kegiatannya.

“Hey Kyungsoo!”

Pria itu mengangkat wajah dari sink dan mengangguk membalas sapaan sahabatnya sejak kelas sepuluh itu.

“Aku tak percaya kau justru membalas sapaan mereka dengan sopan seperti itu. Apa punggungmu tidak capek?” sahut Kyungsoo tanpa meninggalkan tatapannya dari loyang yang masih ia cuci.

“Tidak. Lagipula tak ada ruginya menjadi sopan begitu.” Katanya sambil duduk di atas salah satu meja memasak yang terbuat dari keramik yang mengkilat dan bersih.

Kyungsoo mengangkat alis dan bergeleng. “Oya, tumben kau ke ruanganku pada jam seperti ini. Ada apa? Kau tidak mau bermain di lapanganmu?”

“Tidak bisa. Kris hyung dan beberapa temannya meminjam lapangan sampai nanti malam untuk bermain, sepertinya mereka benar-benar stress menyambut ujian akhir.”

“Oh.”

“Oya, Kyungsoo-ya, aku mau menanyakan sesuatu.”

“Hm? Apa?”

Mendadak pintu ruangan yang tadi Lay tutup terbuka dan tampak wajah Sera masuk dengan cerah. Di tangannya ia memegang sepucuk surat berwarna merah muda. Gadis itu tampak terkejut menemukan Lay di sana, namun Kyungsoo lebih dulu maju dan menyambut Sera dengan senyum kecil.

Oh, wasseo?”

“Eum. Ini, ada surat lagi untukmu dari adik kelasku itu.”

Gomawo.”

Lay memerhatikan bagaimana wajah Kyungsoo yang biasanya datar di hadapan para gadis yang mendekatinya kini tampak tersenyum kecil. Mungkin bagi orang lain senyum itu adalah senyum yang standar, namun bagi Lay yang mengenal bagaimana kakunya Kyungsoo, senyum itu terlihat seperti senyum yang amat lebar.

Ne. Maaf ya mengganggumu setiap jam ekskul seperti ini.”

Kyungsoo menggeleng ringan dan kembali menunjukkan senyum lembut. Lay menatap Sera kali ini, yang masih menunjukkan wajah cerahnya.

Setiap jam ekskul? Berarti setiap sore ia selalu berada di ruangan ini?

“Ya sudah, aku kembali ke kelasku dulu ya.”

Sera hendak berbalik namun kemudian berbalik menghadap Lay. “Aku… pamit dulu.”

Lay yang terkejut hanya bisa merespon dengan anggukan kecil, dan ketika ia hendak balas tersenyum, Sera sudah berjalan ke arah pintu.

“Kau mengenalnya?” tanya Kyungsoo. Lay hanya menoleh kosong. “Oya, kau mau bertanya apa tadi?” lanjut Kyungsoo.

Namun Lay hanya mengangkat sebelah tangannya pamit dan berlari keluar.

`~*~`

“Sera-ssi!”

Sera yang berjalan perlahan menuju kelasnya sambil melongokkan kepala ke arah lapangan basket di lantai bawah, kebiasaannya untuk mencari sosok Lay di sana walau tahu bahwa Lay tadi ternyata berada di tempat Kyungsoo, menoleh kaget. Ia menemukan Lay yang berlari dengan langkah cepat sambil lagi-lagi menenteng sebuah bola basket di sebelah tangannya.

“Ya?” gadis itu bertanya gugup.

“Kita… akan bertemu lagi kan istirahat siang besok di tempat itu?”

Sera mengerjap sebentar. “Tentu… saja.”

Lay tampak menghembuskan nafas lega. Lalu berjalan berlawanan arah dari gadis itu untuk kembali menemui Kyungsoo, dengan tak lupa berbalik sedikit untuk menemukan Sera yang masih menatapnya dari belakang. Lay melempar senyum manis dan berlari cepat menjauh, mendadak merasa malu sendiri.

`~*~`

Kyungsoo yang hendak mengajak Chen makan siang bersama Tao menemukan pria heboh itu tengah bercanda dan tertawa-tawa bersama hampir seluruh teman sekelasnya dengan wajah lucu. Ia terkenal dengan kebiasaannya berceletuk gila dan semuanya selalu menyenangkan bagi pria itu. Mungkin itu sebabnya ia temasuk sebagai mood maker di angkatan mereka dan Baekhyun di angkatan kelas sepuluh dan Chanyeol sunbaenim untuk angkatan kelas dua belas.

“Chen!” Kyungsoo melambai dari depan pintu kelas pria itu dan sekejap kemudian semua gadis yang tadinya mengelilingi Chen berteriak heboh. “KYUNGSOO!”

Chen bersungut-sungut oleh karena itu. “Dasar kakek-kakek perebut spotlight orang.”

Kyungsoo hanya tertawa mendengar cibiran Chen dan mendorong pria itu untuk berjalan lebih cepat. Selagi melangkah Chen menangkap sepucuk surat yang dipegang-pegang oleh Kyungsoo sejak tadi. “Heh, itu masih surat dari gadis itu? Adik kelas itu?”

Kyungsoo mengangkat surat itu ke wajahnya dan mengangguk. “Iya.”

“Kenapa kau masih mau menerima surat-surat ini sih? Kau benar-benar menyukai adik kelas itu ya?”

“Tidak mungkin lah, aku saja belum pernah melihat wajah penulis surat ini.” Elak Kyungsoo sambil tertawa kecil.

“Lalu?” Chen bertanya bingung.

“Aku menyukai sang kurir pengantar surat ini.”

Chen terdiam sebentar untuk mencerna, baru kemudian membuka mulutnya. “Haaaaaaaah?”

“Iya, entah kenapa aku menyukai orang yang mengantarkan surat ini.”

“Tunggu, kalau tidak salah ia pernah menyebut namanya kan ya? Siapa itu? Gadis dari kelas IPA C itu kan?”

Kyungsoo tersenyum mengangguk. “Sera, Yoon Sera.”

`~*~`

         Sera berperawakan sedang dengan wajah berbentuk oval. Matanya tidak terlalu besar namun memiliki bentuk yang menarik, seperti kacang almond yang runcing. Namun dibalik itu, ia memiliki senyum yang sangat tak terlupakan. Banyak yang menyukai gadis itu walau ia tak terlalu pintar. Bukan berarti ia bodoh, bukan. Alisnya tebal dan tetap rapi walau ia tak pernah merapikannya atau mencabutnya. Hidungnya mancung dan kulitnya putih seperti kebanyakan gadis korea lainnya. Bibirnya selalu terlihat melengkung ke atas dan terlihat penuh walau ia tak pernah memolesnya dengan lipbalm ataupun liptin yang tengah populer.

Ia memilih masuk ke EXO private school karena ia suka dengan variasi kegiatan ekstrakulikuler yang dimiliki sekolahnya itu. Ia menyukai dunia penulisan dan jurnalistik dan ia terpukau oleh kenyataan bahwa semua kegiatan ekstrakulikuler sekolah swasta itu memiliki pembina yang profesional. Ia bisa membayangkan jika beberapa tahun ke depan ia akan segera meraih mimpinya, menjadi jurnalis sebuah majalah atau mungkin freelancer yang memiliki waktu luang yang banyak.

Ia sudah memikirkan masa depannya, namun entah kenapa ia tidak membayangkan ia akan menyukai seseorang. Dan itu terjadi begitu saja ketika ia melihat seorang murid baru yang memasuki gedung utama sekolah pada hari penerimaan siswa baru. Padahal murid itu mengenakan seragam yang sama dengan semua murid lain, namun pakaian yang ia kenakan terlihat lebih memukau di mata Sera dan saat itu ia sadar bahwa ia sedang jatuh cinta.

“Hai!”

Sera yang melamun sambil terduduk di dekat mesin penjual minuman otomatis itu segera tersadar dan menemukan Lay, pria yang berada dalam khayalannya tadi, melambai dan berjalan cepat untuk menghampirinya. Sera tanpa sadar tersenyum lebar dan debaran di dadanya terasa lebih nyata.

“Sudah lama?” tanya Lay dengan suaranya yang lembut. Sera menggeleng dan menepuk-nepuk lantai di sampingnya untuk mengajak Lay duduk di sana. Lay menurut dan menjatuhkan diri di samping gadis itu. Ini sudah minggu ke empat mereka selalu seperti ini, dan mereka belum juga merasa bosan oleh hal itu.

“Oh, kau membawa bekal?” Lay terkaget ketika Sera menyodorkan kotak berisi nasi gulung dan berbagai lauk-pauk.

“Iya, sepertinya kau jarang makan akhir-akhir ini. Kau tampak lebih kurus.”

Cengiran tanpa dosa muncul di wajah pria itu dan ia mengambil satu nasi yang dibungkus dalam rumput laut kering dan mulai mengunyah.

`~*~`

         Sudah beberapa minggu Lay tak pernah bergabung untuk makan siang bersama Tao, Chen dan Kyungsoo lagi di ruang ekskul memasak yang tentu saja tak terpakai pada jam-jam sekolah. Tak ada yang tahu kemana pria itu pergi, tidak juga Tao yang lebih sering pulang bersama dikarenakan rumah mereka yang berdekatan.

“Dengar deh, aku punya ide bagus.” Chen siang itu membuka pembicaraan dengan antusias. Kyungsoo dan Tao yang masih mengunyah makan siang mereka hanya mendongak tanpa suara.

“Jadi, siapapun yang besok keluar lebih dulu dari kelas pada jam istirahat harus segera membuntuti kemana Lay pergi ketika keluar dari kelasnya. Bagaimana? Aku sudah penasaran kemana anak itu pergi.” Usul Chen bersemangat. Kyungsoo dan Tao bertatapan, lalu mengangguk setuju karena mereka juga penasaran setengah mati akan frekuensi kepergian Lay yang bertambah.

`~*~`

Lay merasa Kyungsoo berubah.

Kyungsoo yang memang dingin itu menjadi lebih dingin dari biasanya dan itu sedikit menakutkan.

“Tao, kau tahu kenapa dua hari ini Kyungsoo jarang sekali bicara?” tanya Lay ketika mereka bertiga bertemu namun Kyungsoo hanya menatap mereka sekilas dan berjalan terus menuju kelasnya tanpa senyum.

“Entahlah, aku juga tidak paham. Sejak dua hari yang lalu ia terlihat murung, jarang bicara dan juga tidak tersenyum seperti tadi.” Desah Tao bingung. Ia tampak berpikir namun tak ada clue sama sekali baginya.

`~*~`

           Ternyata siang itu, dua hari yang lalu, kelas Kyungsoo yang keluar lebih dulu dikarenakan guru mata pelajaran biologi tidak bisa datang. Kyungsoo berdiri di samping kelas Lay dan menunggu temannya itu keluar sambil bermain dengan rubik-nya. Lalu ketika Lay keluar, ia bisa melihat bahwa temannya itu tampak terburu dan berlari menuruni tangga gedung sekolah mereka dan berlari menuju gedung lama yang berada di belakang kafetaria. Kyungsoo mengikutinya dengan penasaran dan berhenti beberapa langkah ketika menyaksikan Lay menghampiri Sera di depan sebuah mesin penjual minuman otomatis. Mereka terlihat akrab dan bahkan Sera memberikan Lay bekal makan siangnya.

Kyungsoo tahu bahwa ia sedikit kekanakan dengan merasa kesal seperti ini, namun ia tidak tahu harus bagaimana mengungkapkan rasa kesalnya. Apakah Lay yang merebutnya? Apa Lay tahu bahwa Kyungsoo menyukai gadis itu? Dan semua prasangka itu membuat Kyungsoo sulit untuk berbicara banyak.

“Wo wo woo. Tunggu Kyungsoo. Kau mau kemana?” Chen menahan Kyungsoo yang melangkah keluar kelas tanpa menoleh.

“Ke kafetaria.”

“Hah?”

“Ya, makan siang. Kau tidak mau ikut?”

Chen tampak bingung. “Sejak kapan kau mau ke tempat yang ramai seperti itu?”

“Sejak hari ini?” Kyungsoo bertanya balik dan melanjutkan langkahnya.

“Kyungsoo-ya. Ayolah, aku tahu kau pasti sedang ada masalah. Ada apa?”

Kyungsoo mengerjap sebentar dan kemudian tergelak menyadari bahwa ia bersikap terlalu melankolis akhir-akhir ini, padahal dia bukan gadis remaja labil. Lalu ia memilih untuk membicarakannya dengan Chen, lagipula temannya yang satu itu sudah mengetahui rahasianya.

“Aku menemukan kemana Lay selalu pergi pada jam istirahat.”

“Benarkah? Kemana? Apa dia bertemu pengedar narkoba? Ckck, pantas saja ia jadi berubah akhir-akhir ini.” Chen mengangguk-anggung setelah seenaknya menyimpulkan sendiri ucapan Kyungsoo.

“Bukan, pabo!” Kyungsoo melayangkan pukulan ke belakang kepala Chen dan membuat temannya itu mengelus kepala kesakitan.

“Dia ke gedung lama sekolah dan bertemu dengan Sera.”

“Sera? Yoon Sera yang pernah kau ceritakan padaku itu?” mata Chen membelalak. “Ya tuhan! Kemana saja aku selama ini? Ternyata sedang ada drama cinta segitiga yang berlangsung di sekitarku.” Chen mulai meratap dengan dramatis yang membuatnya kembali dihadiahi pukulan dari Kyungsoo.

“Lalu? Kau tidak mau menyelesaikan urusan ini seperti laki-laki?” tanya Chen setelah mereka berjalan cukup lama dalam diam. Kyungsoo berdecak tak paham.

“Maksudku, kau bisa melabrak Lay dan bertanya kenapa kau mencuri kekasihku! Begitu.”

“Kau benar-benar gila. Belum tentu juga Lay yang merebutnya dariku. Aku dan Sera juga tidak memiliki hubungan yang seperti itu.”

“Nah, kenapa kau tak bicarakan saja dengan Lay, daripada berdiam seperti ini, membuat Tao dan aku menjadi serba salah.”

Kyungsoo menatap Chen dan berpikir bahwa ucapan pria yang biasanya selalu bercanda itu ada benarnya.

`~*~`

         Langit sudah berubah senja dan sekolah sudah mulai sepi. Suara pantulan bola di lapangan basket menjadi lebih keras dan bergema dan di sana kembali berdiri Lay sendirian memantul-mantulkan bolanya dan sesekali melempar bola ke dalam ring. Ia mulai merasa bahwa Kyungsoo mengetahui tentang Sera dan dirinya walau ia tak tahu bagaimana caranya. Walaupun ia memberi tahu Tao tentang rahasia itu, ia tak pernah memberi tahu nama gadis itu padanya. Jadi bagaimana Kyungsoo bisa tahu?

“Kau masih di sini?”

Lay menoleh cepat ke arah pintu masuk lapangan dan menemukan Kyungsoo berjalan masuk ke lapangan dengan langkah santai. Yang mana itu terlihat aneh karena Kyungsoo tak pernah menginjak lapangan basket dan lapangan olahraga lainnya. Lay menatap bingung dan hanya menunggu Kyungsoo mendekat sebelum merespon.

“Sedang apa kau di sini?”

“Tidak ada, hanya ingin bicara.”

Kyungsoo merebut bola dari tangan Lay dengan cepat dan menembakkannya ke dalam ring, dan ternyata bola masuk dengan luar biasa. Lay melongo. Kemudian Kyungsoo kembali mengambil bola dan mulai mendrible dengan santai.

“Aku melihatmu dan Sera kemarin di gedung lama sekolah.”

Lay yang tadi hanya berdiri mulai bergerak. Ia agak terkejut akan dua hal, yang pertama dengan kenyataan bahwa Kyungsoo bisa bermain bola, dan kedua karena apa yang temannya itu ucapkan.

“Bagaimana bisa? Kau mengikutiku?” Lay berhasil merebut bola dari tangan Kyungsoo dan berlari cepat menuju arah ring, bersiap menembak namun ditahan dengan cepat oleh Kyungsoo dan bola kembali berada dalam kekuasaan Kyungsoo.

“Ya, aku mengikutimu. Karena awalnya kami penasaran. Mian.”

Lalu Kyungsoo melesat cepat melewati pertahanan Lay dan melakukan slam ke arah ring dan bola lagi-lagi masuk. Lay mengerjap dan mulai fokus dalam permainan. Ia berlari cepat ke bawah ring dan merebut bola dan menggiringnya ke arah luar garis untuk mencoba menembak dari jarak jauh, namun Kyungsoo lebih cepat dan berhasil mengejar Lay dan membloking gerakan pria itu.

“Tidak perlu minta maaf. Tapi seharusnya aku sudah memberitahu kalian tentang itu sejak dulu.” Lalu dengan sedikit trik dan meloncat keluar jangkauan Kyungsoo, Lay berhasil meloloskan diri. Kyungsoo mengusap keringat yang mulai menghalangi pandangannya dan berlari mengejar Lay.

“Aku juga seharusnya sudah memberitahumu, bahwa aku menyukai Sera.”

Bola yang berada di tangan Lay tergelincir dan Kyungsoo mengambil kesempatan itu untuk kembali mencetak angka. “Aku juga menyukai Sera.”

Suara pantulan bola yang seolah bergema sepi terdengar memenuhi lapangan dan Kyungsoo menatap Lay.

`~*~`

            Sementara itu di dalam supermarket di dekat sekolah, Chen dan Tao tengah duduk sambil menikmati ice cream mereka masing-masing, tidak mengetahui adanya perang di lapangan basket sekolah. Mereka berdua sehabis menyelesaikan piket harian kelas dan kini beristirahat sebelum pulang ke rumah masing-masing.

“Hey Tao, aku ingin memberitahumu satu rahasia.”

Tao menoleh tanpa melepas es krim yang masih di mulutnya. “Apa?”

“Kyungsoo, sedang menyukai seseorang.”

“Benarkah? Kau juga tahu tidak? kalau Lay juga sedang menyukai seseorang?”

Mereka berdua membelalakkan mata bersemangat. “Kau tahu siapa yang Lay sukai?” tanya Chen penasaran.

“Entahlah, tapi setahuku ia sudah menyukai gadis itu sejak kelas sepuluh, bahkan sejak hari penerimaan murid baru.”

“Hooo? Benarkah? Wah… menyedihkan sekali kita berdua ya?” Mendadak Chen menjadi melankolis.

“Kenapa?” Tao bertanya tak paham.

“Karena kita belum juga jatuh cinta.”

“Iya juga ya.” Mereka lalu bersedih-sedih ria seperti orang bodoh.

“AH! Tunggu, aku baru ingat. Lay pernah bilang kalau ia tahu bahwa salah satu dari kita juga ada yang menyukai gadis yang ia sukai itu.”

“He? Benarkan? Kalau begitu…”

“Oh TUHAAAN.” Mereka serentak berseru dramatis.

`~*~`

       Lay dan Kyungsoo terbaring telentang di tengah lapangan basket sambil terengah-engah kelelahan sehabis bermain lebih dari satu jam. Tak ada yang berbicara sampai akhirnya jam sudah menunjukkan pukul enam sore, langit sudah benar-benar pekat sekarang.

“Jadi, kau bisa bermain basket ternyata?”

“Tentu saja. Aku ini ahli dalam segala bidang asal kau tahu.”

Lay mendorong bahu Kyungsoo dan tergelak dengan nafasnya yang masih terputus-putus. “Tapi aku tidak bisa memasak.” Respon Lay.

“Aku tahu.”

Lagi-lagi mereka tertawa.

“Sepertinya kita harus bersaing secara sehat mulai sekarang.”

“Setuju.”

Mereka berdiri dan berjabat tangan erat dan kembali tertawa.

`~*~`

         Sore itu, ketika jam ekstrakulikuler memasak sudah berakhir, Kyungsoo buru-buru menyelesaikan kegiatannya beres-beres dan duduk di kursinya dengan tidak tenang. Ia berkali-kali melihat pintu masuk ruangan seperti menunggu kadatangan seseorang. Mungkin ia salah ketika mengatakan pada Lay bahwa ia ahli dalam melakukan segala hal, ia sepertinya memang memiliki kelemahan. Yaitu super nervous ketika harus menghadapi gadis yang benar-benar ia sukai.

Pintu akhirnya terbuka dan seperti biasa Sera masuk dan menyerahkan sepucuk surat dari adik kelas yang dekat dengannya pada Kyungsoo. Seperti biasa juga mereka hanya berbicara seperlunya, namun ketika gadis itu hendak berjalan keluar, Kyungsoo menahan tangannya, membuat Sera terkejut.

“Eh?”

“Oh maaf.” Kyungsoo buru-buru melepas genggamannya. “Aku ingin mengatakan sesuatu padamu.”

“Baiklah.” Sera menunggu dengan senyum ramah. Gadis itu menduga bahwa akhirnya Kyungsoo mau membalas semua surat-surat dari adik kelasnya itu yang sangat mengagumi pria tampan di hadapannya ini.

“Sejujurnya, aku tidak mengenal pengirim surat ini dan aku tidak ada niat untuk membalas perasaannya.”

Mata Sera membelalak kaget.

“Aku tetap menerima surat ini karena sejak kau masuk ke ruangan ini dan menyerahkan amplop surat ini padaku, aku menyukaimu.”

Lagi-lagi Sera hanya bisa terdiam dengan mata almondnya yang terbuka lebar. Ia tak berani membuka suara.

“Maaf jika aku harus mengecewakan orang yang menulis surat ini, tapi aku bahkan tak mengenal penulisnya dan aku tidak suka dengan caranya yang hanya memberi surat tanpa berani menunjukkan wajah.”

Sera menghela nafas. Lalu meraih surat yang berada di tangan Kyungsoo dengan lembut.

“Kamu seharusnya mengatakan hal itu sejak dulu, sehingga orang yang menulis surat ini tidak harus menghabiskan waktunya menulis.”

Kyungsoo merasa perasaan bersalah mulai melingkupinya. Tapi ia tahu apa yang ia lakukan. Setidaknya ia menerima niat baik si penulis dan ia tak ingin merusak harapannya.

“Maaf.”

Sera tersenyum lagi. “Tidak apa.”

“Jangan katakan padanya perihal surat itu. Katakan saja aku sudah sulit ditemui karena jadwal kegiatan ekskul dan kelasku yang sibuk. Katakan padanya untuk tidak usah menulis lagi, dan juga aku berterima kasih untuk semua surat itu.”

“Baiklah.” Sera tersenyum lagi dan hendak keluar ruangan. Namun berhenti. Ia menoleh sesaat sebelum ia mencapai pintu keluar. “dan Kyungsoo, aku sudah menyukai orang lain sejak kelas sepuluh. Maafkan aku.”

Kyungsoo tersenyum kecil, merasa bahwa ia tahu siapa orang yang Sera maksud. “Ya, tidak apa.”

`~*~`

Lay tengah melakukan pemanasan ketika ia mendengar seseorang berlari tergesa mendekati lapangan dari arah koridor. Ia berpikir bahwa itu mungkin teman-teman satu ekskul-nya yang belum datang, namun ternyata bukan.

“LAY!! AKU MENYUKAIMU! Sangat menyukaimu! Sejak dulu dan aku senang kita berbagi rahasia yang sama! Lay! Aku menyukaimu!”

Seluruh kegiatan di lapangan basket, lorong, kelas dan koridor terhenti. Lay yang masih memijat lengannya membeku dan menoleh ke arah luar lapangan yang dibatasi oleh pagar kawat dan menemukan Sera di sana yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

Serentak kemudian suara-suara menggoda bergema. Hanya saja Sera tampak tak perduli dan tetap menatap Lay lurus-lurus.

Lay yang tidak tahu harus merespon dengan apa segera berlari keluar lapangan dan menarik tangan Sera untuk keluar dari gedung itu menuju tempat rahasia mereka.

`~*~`

Kedua orang itu hanya berdiam selama beberapa menit setelah sampai di depan mesin penjual minuman otomatis itu sambil mengatur nafas masing-masing sehabis berlari tadi. Baru kemudian mereka bertatapan.

“Kenapa tiba-tiba?” tanya Lay.

Sera berusaha mengatur debarannya dan menyusun kata-kata di kepala sebelum menjawab. “tadi, ada seseorang yang mengajarkan padaku bahwa perasaan yang dipendam tanpa adanya keberanian untuk menyatakan akan menjadi sia-sia saja. Dan aku berpikir jika aku tidak menggunakan kesempatanku sebaik-baiknya, aku akan terlambat. Tapi… jika kau tidak menyukaiku, tidak apa. I am cool.” Tambah Sera cepat-cepat ketika ia hanya melihat Lay terdiam di tempatnya.

“Tidak, tidak. Bukan begitu.” Lay mengusap wajahnya merasa malu. Ia berjongkok dan menangkup wajahnya sendiri. Sera menjadi khawatir dan ikut berjongkok di depan pria itu.

“Kau tidak apa-apa? Apa ini terlalu mengejutkan untukmu? Atau, kau membenciku?” Sera menjadi ketakutan dan itu membuat Lay menjadi jauh lebih merasa bersalah.

“Tidak, tidak.” Pria itu menggenggam tangan Sera erat-erat dan menatap lurus ke matanya yang indah.

“Aku menyukaimu, sangat. Dan sekarang aku merasa bersalah.”

Sera mengerjap. “Kenapa kau merasa bersalah?”

“Karena aku membiarkanmu menyatakan perasaanmu lebih dulu. Maafkan aku.” Lalu ia berdiri, menarik Sera dalam pelukannya dan kembali menyatakan perasaannya. “Aku menyukaimu, bahkan sejak aku melihatmu pada upacara penerimaan murid baru dulu itu.”

Sera terpana. Ia hendak membalas ucapan Lay namun terpotong oleh tamu tak diundang yang mengganggu suasana romantis itu.

“Wah, tempat ini lumayan juga kalau dijadikan markas rahasia kita.”

Tao merespon serius. “Benar juga.”

Lay memasang wajah datar. “Apa yang kalian lakukan di sini?”

“Oh, jangan perdulikan kami. Lanjutkan saja kegiatan kalian. Kami hanya melihat-lihat saja kok.”

Lay mengejar mereka dan menjewer mereka satu persatu dengan gemas, mengundang tawa Sera yang kini merasa amat lega.

“Dimana Kyungsoo?” tanya Lay tiba-tiba ketika akhirnya mereka berempat duduk melingkar di depan mesin minuman itu. Sera agak terkejut mendengar nama Kyungsoo disebut.

“Dia sedang belum ada mood bergabung dengan kita setelah ditolak oleh Sera barusan.” Jawab Chen dengan sangat santai seolah itu bukan masalah serius. Lay mengangguk paham dan Sera hanya tersenyum merasa bersalah.

“Tapi tidak usah diperdulikan, ia akan melupakannya beberapa hari lagi. He is a big guy.” Sahut Tao menenangkan.

“Dan kalian tahu? Sebelum itu ia akan menggunakan seluruh kekuasaannya sebagai ketua angkatan kelas sebelas untuk membuang mesin minuman usang ini.”

Lay dan Sera saling berpandangan dan mengangkat bahu cuek.

_The End_

 

Ps: ah! Akhirnya seri dua selesai 🙂 berarti tinggal menyelesaikan seri terakhir dan taraaa~ masih ingatkan? Empat member yang tersisa itu;

The 4 boys in the first year ()

Sehun, EXO, jurusan IPA kelas 1-A, flower boy nuna’s favorit nominee

Baekhyun, EXO, jurusan IPA kelas 1-B, trouble maker favorit nominee

Xiumin, EXO, jurusan IPS kelas 1-A, baby face-cool manner nominee

Suho, EXO, jurusan IPS kelas 1-B, perfect husband material nominee

(…)

Dan jika author sempat, mungkin akan melanjutkan dengan kisah mereka masing-masing.

Oya, guys, author sedang ikut lomba menulis cerpen nih, tapi bukan FF sih ^^ kalau kalian tertarik, silahkan baca di link ini.

~Ciaooo~

Sincerely,

crazyfinder

125 tanggapan untuk “EXO Private School The Series (2)”

  1. Hai semuanyaa! Maaf lama tidak muncul. Just short notice: mini seri yg ketiga ga bisa author post disini, karena author bukan author tetap di blog ini lagi. Maaf ya semuanyaa~

  2. jadi….jadi kyungsoo masih free kan?? masih single kan?? yeaaaaay!!!! /jingkrak jingkrak/
    yuhuuuu….akhirnya disini biasku di exo sama bidang sama aku kecuali kyungsoo. ah namja satu itu memang terlalu pintar jika masuk di bidang IPS /malah nulis ff di komentar -_-/
    aku liat series ketiganya suho ama umin yang dibidang IPS, waaaa thor kayaknya ada benang merah tersembunyi (?) diantara kitaaa /mimpinya ketinggian neng, awas jatoh sakit/
    suho ama umin juga biasku di exo soalnya hoho /biasnya banyak amat/
    thor, kapan lanjut nihhh??? ditunggu banget yaaa…. keep writing….

  3. O iya aku tungguin next chap nya!! Aku do’ain moga inspirasi berlimpah 😄
    Sehun oppaa i’m waitt you beibehh 😍
    Fighting auhor-nimmm.. saranghae😁

  4. Aaa keren banget seri yang inii 😍
    Suka banget part nya dio sama lay battle basket, berasa liat drama 😁
    Good job banget thor!! Suka banget pokonya.. and thx udah buat aku senyum gajelas, melting ditempat, dan fangirl seketika 😂

  5. whoa……daebak thor!
    yaaaa…kyung soo sabar ya…cintamu bertepuk sebelah tangan
    tapi,ada aku yang selalu setia menunggumu ^^ (di tendang EXO -L)hehehe
    lanjutin thor!fighting….!

  6. yaaa ampuunn kyungsoo awesome bgt. unexpected deh! ternyata…. dia bisa segala hal. tp yg beruntung tetap cuma Lay seorang. jgn sedih yaaa kyungso. ayo cepat move on 😀

    next ditungguuuuuuuuu~
    gk sabar pgn baca si Baeki >_<

  7. yaaa ampuunn kyungsoo awesome bgt. unexpected deh! ternyata…. dia bisa segala hal. tp yg beruntung tetap cuma Lay seorang. jgn sedih yaaa kyungso. ayo cepat move on 😀

    next ditungguuuuuuuuu >._<

  8. yampun senyum-senyum sendiri ngbayangin kelakuan Chenchen :3
    Tao yang polosnya subhanallah .-.
    Lay yang uh so sweetlah mikirin persahabatannya.. dan D.O haaaaaahhh…. semoga si penulis surat mau nampakin dirilah biar nghibur D.O..
    good job authornim 🙂

  9. Aku baru baca yg series ini karena ada Lay nya. & ternyata ff ini seru. I like this Eon, semangat!!!

  10. Kereeeennn!!! Teruskan thoooorrr… gak sabar bgt nunggu yg part 3 nyaaaa. Mau liat my baby sehun :** hahahahaha keep writing!!! fighting!!!!!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s