I’ll Stay By Your Side

Judul : I’ll Stay By Your Side

Author : Seu Liie Strife

Main Cast : Kim Suho (℠ƩΧ◊ K)
Choi Eun Hi (OC)

Supporting Cast : Jung Xena (OC)
Lee Alyne (OC)

Zhang Yixing/ Lay  (℠ƩΧ◊ M)

Genre : Sad, Romance

Facebook : Hikari Keyheart Kurosaki

Twitter : SeuLieOctaviani

Instagram: @seu_liie

Pin: 24D7E4E6

 

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Sudah beberapa hari ini gadis kecil itu sering terdiam memeluk bonekanya.” Batin seorang pria yang mengenakan kemeja biru saat mengunjungi sebuah panti asuhan tempat tinggal gadis kecil itu.

“Kim sajang-nim… Hari ini ada konsultasi..” Ujar seorang perawat mengingatkannya.

“Ne, gamsahamnida nona Jung. Maaf sudah merepotkanmu untuk mengingatkanku.” Ujar pria bermarga Kim.

Kim Suho, seorang psikolog yang paling berkarisma diantara psikolog lain yang satu lembaga dengan tempatnya bekerja. Seorang psikolog yang khusus menangani kasus – kasus kejiwaan korban perceraian, tindak asusila. Gadis kecil yang diperhatikannya bernama Lee Alyne. Ia adalah gadis berumur 4 tahun yang sudah tidak mempunyai orang tua. Orang tuanya ditemukan tewas dalam kurun waktu yang nyaris bersamaan semenjak perceraian orang tuanya. Kematian kedua orang tua gadis itu ternyata menimbulkan efek yang sangat parah yang tidak bisa diterima akal pikiran seorang anak yang berumur 4 tahun. Seorang anak kecil yang masih belum mengerti apa – apa. Suho selalu menganggap anak itu adalah anaknya. Ia akan melakukan apa pun demi kebahagiaan Alyne. Bahkan ia kini sedang mengurus surat permohonan untuk hak asuh Alyne yang akan diambil olehnya.

“Sebentar lagi, Alyne… Kau akan memiliki appa…” Pria itu tersenyum meninggalkan gadis kecil itu. Ia meminta tolong pada perawat di panti asuhan itu untuk menjaga Alyne selama ia sedang melayani klien.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Choi uisa! Ada pasien gawat!”

“Mwo?!” Aku tersedak ketika perawat yang terus menemaniku berkeliling memeriksa pasien memasuki ruanganku.

“Di kamar 804, uisa-nim..” Aku segera berlari menyambar stetoskop ku yang kugenggam erat. Aku kini berdiri di depan lift. Tapi, lift itu tak kunjung terbuka. Oh! Bagaimana aku harus menunggu lift?!! Aku kemudian memutuskan untuk menggunakan tangga darurat. Tidak masalah bagiku walau pun aku harus berlarian 3 lantai untuk mencapai lantai 8. Aku berlari dan diikuti oleh perawatku.

Begitu aku tiba di lantai 8, aku langsung berlari menuju kamar 804. Kuperiksa anak itu dengan dibantu oleh dua perawat. Beginilah kehidupanku. Di usiaku yang sudah menginjak 25 tahun, aku kini sudah menjadi dokter spesialis anak. Tidak mudah menjadi spesialis anak. Menjadi spesialis anak jauh lebih sulit karena harus menghadapi sifat anak kecil yang notabennya takut dari dokter. Mayoritas di pikiran mereka, takut dengan dokter karena takut disuntik. Padahal, dokter tidak selalu menyuntik kok! Di ruang periksaku, kini aku menghiasnya dengan piranti – piranti anak -anak. Aku banyak meletakkan boneka, gambar – gambar kartun, dan tak jarang aku memberikan hadiah bagi pasienku yang berani, tidak takut dengan dokter. Di ruang periksaku selalu tersedia permen lollipop atau pun cokelat untuk pasienku.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Alyne, kau harus makan, sayang…” Suho masih dengan sabar duduk di samping gadis kecil itu untuk membujuknya makan. Gadis itu hanya menggeleng sambil memeluk boneka kelincinya. Entah boneka itu dari mana asalnya. Saat Suho ingin mengganti boneka usang itu dengan yang baru, Alyne menahannya mati-matian.

Suho meletakkan piring makanan yang ia bawanya untuk menyuapi Alyne. “Nanti kau sakit, Alyne…” Suho merangkul gadis yang memakai rok terusan pink. Sesekali ia mengusap kepalanya.

“Eomma…. Eomma eoddiga… Huhuhuhu…” Alyne menangis. Suho merenggangkan pelukannya dan membingkai wajah gadis kecil itu.

“Uljimma… Kalau kau menangis, nanti kau jelek loh..” Jemarinya ia pergunakan untuk menghapus air mata Alyne.

“Aku.. Bolehkah aku menyusul appa dan eomma?” Ucap Alyne.

“Alyne-ya, kau tidak boleh bicara seperti itu… Sekarang kau juga memiliki appa..” Suho menyampirkan rambut gadis itu ke belakang telinganya.

“Sekarang kita makan ya…” Ujar Suho kemudian yang menyuapi Alyne.

PRAANG!! Sendok yang sudah berada di depan bibir gadis itu ditepisnya hingga mengenai piring yang dipegang Suho sampai makanan yang berada di dalam piring itu tumpah berserakan.

“KKAA!!! AKU TIDAK MAU DEKAT – DEKAT!!” Alyne langsung berlari menjauhi Suho.

“Alyne!!” Suho memanggil anak itu sambil mengejarnya. Beberapa perawat yang berada di sana segera menangkap gadis kecil yang berlari itu.

“Aku mau pergii.. Huhuhu.. Lepaskan…hiks..hiks…” Alyne menangis. Perawat yang menangkapnya kemudian menyeretnya ke ruangan gadis itu di rumah sakit.

“Yaa!! Lepaskan dia!! Tidak dengan kekerasan!!” Suho berteriak pada perawat itu.

Gadis kecil itu terus meronta meminta dilepaskan. Suho kemudian menggendongnya meskipun Alyne masih memberontak. Di kamarnya, Suho terus mendekap Alyne sambil mengusap kepalanya berusaha membuatnya tenang. Gadis kecil itu mulai mereda tangisannya hingga akhirnya ia tertidur. Aliran air matanya sangat terlihat jelas mengalir dari pelupuk matanya.

“Haahh~~ Alyne.. Jebal, jangan seperti ini..” Suho berdiri di samping ranjang, mengusap kepala gadis kecil itu.

“Kim sajang-nim… Ini surat permohonan anda sudah selesai dan sudah disetujui…”

“Jeongmal?” Suho menoleh dan tidak bisa menyembunyikan ekspresi gembiranya.

“Ne, anda sudah bisa membawa Alyne untuk pulang.”

“Baiklah…”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Haah~~~ Menyebalkan! Hari ini aku harus mendapat giliran lagi jaga malam… Apa karena aku dokter baru di rumah sakit ini?!” Aku mengumpat kesal sembari menyeduh kopi untuk minumanku.

Setelah aku membuat kopi, aku kembali ke ruanganku dan membuka I-pad ku. Di sini lah aku melepas rasa rinduku dengan mendiang kedua orang tuaku. Aku memperhatikan, sesekali mengusap, layar I-pad ku.

“Eomma… Appa… Nan jeongmal bogoshipo…” Lirihku menyeka air mata yang mengalir.

Kedua orang tuaku meninggal tepat di hari kelulusan kuliahku untuk mendapatkan spesialis anak. Mobil mereka tabrakan dengan sebuah truck. Betapa kecewanya aku karena hari wisudaku tanpa kehadiran sosok ayah dan ibu.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Alyne-ya… Sabar ya sayang.. Kita sebentar lagi sampai di rumah sakit…” Suho terus memegangi kening Alyne, anak angkatnya yang panas. Gadis kecil itu sakit setelah dua hari ia tidak mau makan. Khawatir dengan kesehatan Alyne, Suho segera melarikannya ke rumah sakit dari apartmentnya dengan mobil sedan miliknya.

“Eomma… Appa… Alyne ikut…” Lirih Alyne.

“Anni, Alyne.. Jangan mau kau ikut, sayang..” Suho memegangi tangan Alyne sambil menyetir mobilnya menuju rumah sakit.

Tiba di lobby rumah sakit, Suho memberikan kunci mobilnya pada jasa parkir valley, dan dia langsung menggendong Alyne menuju UGD.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Seorang pria yang tengah menggendong anak kecil, masuk tergesa – gesa. Perawat yang bertugas jaga malam segera menolongnya. Perawat yang lainnya, memanggil dokter jaga malam.

“Choi uisa, ada pasien..”

“Ne..” Eun Hi segera menghapus air matanya dan mengambil stetoskopnya.

Terlihat salah satu perawat sedang mengukur suhu tubuh anak itu. “Berapa suhu tubuhnya?” Tanya Eun Hi.

“Empat puluh derajat..”

“Sudah kau check apa ada ruam – ruam merah di tubuhnya?”

“Belum, uisa-nim..”

“Gwaenchana.. Biar aku saja yang periksa.” Ujar Eun Hi. Gadis berambut sepinggang itu, segera memeriksa tubuh gadis kecil itu. Setelah 3 menit menunggu, ternyata timbul ruam merah di tangan gadis itu. Eun Hi melihat data pasiennya.

“Lee Alyne.. Aigo.. Kasihan sekali anak ini..”

“Eomma… Appa..” Alyne membuka matanya yang terlihat kosong.

“Alyne-ya… Uisa mau periksa kau boleh kan?”

“Uisa-nim…”

Eun Hi tersenyum dan mulai memeriksa Alyne. “Yang ini sakit tidak?” Tanya Eun Hi yang memeriksa perut sebelah kanan Alyne.

“Appoo…”

“Kau malas makan ya?” Tanya Eun Hi lagi. Alyne hanya membisu. “Tidak boleh telat makan. Nanti sakit perut lagi seperti ini loh…” Lanjut Eun Hi tersenyum.

Eun Hi kemudian menyibakkan tirai penutup dan mencari keberadaan pengantar gadis kecil yang baru saja diperiksanya.

“Uisa-nim… Bagaimana anak saya?” Seorang pria menghampirinya.

“Oh.. Lee Alyne… Dia harus dirawat.. Dia terkena demam berdarah dan juga lambungnya ada sedikit infeksi.. Apa dia belakangan ini terlambat makan?” Tanya Eun Hi.

“Haah.. Dia memang sedang tidak mau makan.. Sudah beberapa hari ini dia hanya mau minum saja..”

“Lapisan dinding lambungnya ada sedikit luka. Dia mengeluh sakit di perutnya..” Ujar Eun Hi.

Pria itu mengangguk. “Baiklah dokter… Choi.. Lakukan yang terbaik untuk anakku..” Ujarnya setelah melihat name tag yang terdapat di mantel putih Eun Hi.

“Itu sudah kewajiban saya..” Jawab Eun Hi.

Setelah itu, Suho mengurus pembayaran untuk ruang rawat Alyne di rumah sakit itu. Selesai proses pembayaran usai, Alyne segera masuk ke ruang VIP rawat anak.

“Hah! Baguslah setelah hari ini besok aku kembali ke jadwal semula! Haishh~~” Eun Hi bernapas lega.

Sementara itu di ruang rawat, Suho menunggu Alyne yang masih tertidur karena efek obat.

“Alyne, kau sebenarnya sudah sembuh.. Tapi kenapa kau terus menerus mengatakan ingin menyusul orang tuamu ke alam kekal itu, Alyne?” Suho mengusap kepala Alyne.

“Appa…” Alyne membuka matanya dan kemudian menoleh pada Suho.

“Mwo? Tadi panggil apa?” Suho terkejut karena biasanya Alyne tidak mau memanggilnya dengan sebutan ‘appa’.

“Appa….” Suho hanya tersenyum. “Tadi.. Aku bermimpi..” Ujar Alyne.

“Mimpi? Mimpi apa?”

“Appa dan eomma memarahiku..” Lirihnya.

“Wae?” Tanya Suho.

“Karena aku mau menyusul mereka…”

“Lalu, kau masih mau menyusul?” Tanya Suho.

Gadis itu menggelengkan kepalanya. “Aku mau disini sama appa…”

“Ne, cepat sembuh, aegi-ya…” Suho mencium kening Alyne.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Alyne-ya, appa pulang dulu ya.. Nanti appa ke sini lagi bawa baju – bajumu.

“Appa tidak lama kan?”

“Anni, hanya mau ambil bajumu setelah itu appa kembali lagi.”

“Appa tidak ke rumah sakit?”

“Anni, appa akan dipanggil jika ada kasus darurat. Jadi appa akan menemanimu di sini.”

“Alyne-ssi, diperiksa dulu ya…” Seorang perawat masuk. Dan kemudian di belakangnya terlihat seorang gadis dengan mantel putihnya. Ia tersenyum menghormati Suho yang dinilainya sebagai ayah dari Alyne.

“Annyeong, Alyne-ya.. Bagaimana perutmu, sudah lebih enak?” Tanya Eun Hi.

“Ne, Choi uisa…”

“Uhm… Bagaimana kalau kau memanggilku, Eun Hi eonni saja?” Tawar Eun Hi sambil memeriksa Alyne.

“Ne, eonni…”

“Alyne, appa pergi dulu ya..” Suho menginterupsi.

“Ne appa…”

“Itu Suho appa…appa ku..” Ucap Alyne.

“Appa mu? Wah.. Kau ditemani appa ya di sini?”

“Ne, eonni.. Sudah tiga hari ini aku tinggal sama Suho appa..”

“Pasti mereka bercerai.. Dasar! Pria dimana – mana sama! Kalau begini kan, yang kasihan anaknya!” Pikir Eun Hi.

“Eonni..??” Panggil Alyne.

“Euhm?” Tanya Eun Hi.

“Hari ini aku mau menghabiskan makanku!” Ucap Alyne.

“Bagus itu! Kau memang harus menghabiskan makanmu. Kau tahu, kemarin appa mu bilang, kau tidak mau makan.. Kenapa?”

“Euhm….itu…” Alyne terlihat mau menangis.

“Ini laporannya, Choi uisa..”

“Ne, gamsahamnida..” Ujar Eun Hi. Perawat itu pun pergi setelah menyerahkan laporan perkembangan kesehatan Alyne.

“Itu… Karena…aku ingat sama appa dan eomma aku, eonni…”

“Appa dan eomma? Apa maksudnya Alyne?” Batin Eun Hi.

“Ya sudah, jangan sedih lagi ya… Anak cantik tidak boleh bersedih.. Harus tetap..tersenyum…” Eun Hi menarik dua sudut bibirnya membuat lengkungan tersenyum yang semakin membuat parasnya semakin cantik. Ia terlihat tidak mau mencampuri urusan orang lain.

“Aku periksa pasien lain dulu boleh?” Tanya Eun Hi.

“Tapi nanti bisakah eonni kembali lagi kesini? Aku tidak mau sendirian… Temani aku sampai appa kembali..”

Eun Hi tersenyum. “Baiklah, nanti setelah eonni memeriksa yang lain, eonni kesini lagi deh…”

“Yakseo?” Alyne mengulurkan kelingking mungilnya.

“Ne, yakseo…” Balas Eun Hi.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Apa yang kurasakan ini tidak wajar…” Batin Suho yang sedari tadi pikirannya selalu terlintas bayangan gadis itu. Gadis yang baru saja memeriksa anak angkatnya, Alyne.

“Haah… Lebih baik aku membelikan kue untuk Alyne..” Suho kemudian melajukan mobilnya menuju salah satu toko kue setelah dari apartmentnya untuk mengambil baju Alyne.

Di waktu yang sama, Eun Hi kembali ke kamar Alyne. Dilihatnya, anak itu sedang menonton tv yang memang tersedia di ruang rawat. Tidak ada yang ia lakukan. Hanya menatap layar kaca itu yang menampilkan acara Disney.

“Lyne, ayo kita makan…”

“Eonni.. Lama sekali..” Ucap Alyne mengerucutkan bibirnya.

“Mianhae, pasien eonni banyak… Kajja, buka mulutmu..” Eun Hi duduk di pinggir ranjang sambil memegang piring dan menyodorkan sendok yang sudah berisikan makanannya.

“Eonni, kenapa appa lama yaa??”

“Hhmm… Mungkin appa mu harus mengurus hal yang lain? Aaa~~” Eun Hi kembali menyuapi Alyne.

“Eonni, eonni sudah punya kekasih belum?”

“Memangnya kau tahu apa itu arti kekasih? Kkkk..” Eun Hi hanya terkekeh mendengarnya.

“Kekasih…orang yang dikasihi?”

“Sudah..”

“Nugu, eonni?”

“Kau.. Aku mengasihimu nih..kkk…” Jawab Eun Hi lagi.

“Eonni, aku boleh tanya lagi tidak?”

“Uhm? Apa?”

“Cerai itu apa? Dulu… Appa dan eomma cerai… Aku kemudian dibawa seseorang ke panti asuhan, terus tak lama aku mendengar appa dan eomma meninggal… Apa cerai itu membuat seseorang bisa meninggal?”

“Hhmm… Alyne, kau belum saatnya mengetahui hal itu. Tapi kelak, kau akan mengerti jika kau sudah dewasa. Yang perlu kau lakukan saat ini, patuh pada appa mu, dan jadilah anak pintar yang bisa dibanggakan.” Jawab Eun Hi menyentuh hidung anak itu.

“Ne, eonni… Eonni, Suho appa itu baik loh.. Appa sering menemaniku..”

“Jinja? Bagus dong…kau jadi tidak kesepian..”

“Ne, appa juga sering membelikanku es krim… Eonni suka es krim tidak?”

“Suka kok.. Kita sama ya..”

Cklek! Suara pintu terbuka dan tak lama terdengar suara langkah memasuki ruangan itu.

“Waah.. Anak appa sedang makan ya?” Suho mengusap kepala Alyne dan mencium puncak kepalanya. Eun Hi kembali menyuapi suapan terakhir pada anak itu.

“Sudah selesai appa..” Jawab Alyne dengan mulut penuh makanan.

“Telan dulu, sayang.. Baru kau bicara..” Suho membereskan tas yang berisikan pakaiannya dan pakaian Alyne.

“Appa, appa bawa kue strawberry yaaa??”

“Iya untukmu..” Jawab Suho.

“Lyne, kan sudah ada appa mu. Eonni ke ruangan eonni dulu ya..”

“Andwae… Eonni di sini saja..” Alyne memegangi tangan Eun Hi.

“Lyne, uisa kan masih ada pekerjaan lain.. Kau jangan seperti itu…” Suho ikut membujuk anaknya.

“Shireo…”

“Kau kan juga harus tidur… Appa bacakan dongeng ne?”

“Buku dongeng?”

“Ne..” Suho mengeluarkan buku dongeng kesukaan Alyne.

Alyne mengambil buku itu dan diberikannya pada Eun Hi. “Eonni yang bacakan yaa…”

“Mwo? Aku?”

“Alyne…”

“Shireo.. Shireo… Shireoooo… Aku cuma mau dibacakan dongeng sama eonniii…”

“Haaahh~~~” Suho hanya menghela napasnya.

“Baiklah, tapi kau harus janji, langsung tidur…” Ujar Eun Hi kemudian. Alyne mengangguk.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Setelah Alyne tidur, Eun Hi yang baru setengah membacakan buku dongengnya, menutup bukunya dan diletakkan di atas nakas di samping ranjang Alyne.

“Gamsahamnida…” Ujar Suho.

“Hng?” Eun Hi terlihat bingung.

“Jam kerjamu jadi terganggu karena Alyne.”

“Gwaenchana, kalau aku jadi Alyne, mungkin aku akan melakukan hal yang sama… Karena aku mengerti bagaimana rasanya kehilangan appa dan eomma…” Ujar Eun Hi.

“Ah, mianhae, aku jadi menceritakan sesuatu hal yang tidak penting.” Ujar Eun Hi lagi.

“Alyne meceritakannya padamu soal orang tuanya?”

“Euhm.. Dia bahkan bertanya apa arti cerai.. Dia bertanya kenapa cerai bisa membuat kedua orang tuanya meninggal..”

“Yah.. Dari beberapa bulan yang lalu memang dia sering bertanya hal itu. Mungkin karena aku tidak menjawab pertanyaannya, dia bertanya padamu Choi uisa..”

“Tidak usah se-formal itu memanggilku.. Dengan namaku saja juga boleh..”

“Ne… Begitu pula denganmu… Cukup memanggilku Suho..” Jawab Suho tersenyum. Eun Hi hanya membalas tersenyum.

“Baiklah, aku harus kembali dulu…” Ujar Eun Hi.

“Ne, maaf merepotkanmu…”

Namun, saat Eun Hi ingin bangun, tangan Alyna mencekal mantel putihnya.

“Haish anak ini…” Suho berusaha melepaskan tangan anaknya dari mantel putih Eun Hi.

“Kenapa anak ini? Dia seperti tidak mau aku pergi..” Batin Eun Hi. Suho pun mengantar Eun Hi keluar.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Hari ini adalah genap hari kedelapan Alyne dirawat. Kalau hari ini perkembangannya baik, aku akan mengizinkannya pulang dan aku akan memberikannya hadiah yang sudah kusiapkan..” Batinku. Siang ini pun aku kembali ke ruang rawat Alyne untuk memeriksa karena jam ini memang jamnya untuk pemeriksaan pasien sebelum jam makan siang. Dengan ditemani seorang perawat, aku ke ruangan Alyne.

Aku membuka pintu yang bertuliskan angka 907 itu. Terlihat jelas dipandanganku seorang pria yang sedang mengajak bercanda anak berusia empat tahun tersebut. Suara gelak tawa dari anak itu jelas terdengar dipendengaranku.

“Eonniii~~~” Bersamaan dengan itu, sudut mataku menangkap kalau ayah yang kuduga ayah angkat Alyne menoleh dan melihat ke arahku.

“Annyeong…” Sapaku yang kemudian hanya tersenyum pada Suho.

Aku pun mulai memeriksa Alyne dan menempelkan stetoskopku untuk memastikannya dia sudah sehat.

“Masih sakit?” Aku sedikit menekan perut Alyne di bagian tertentu.

“Anni..”

“Bagus, berarti lambungmu sudah tidak apa – apa, Lyne… Berapa suhunya?” Ujarku pada Alyne yang kemudian beralih pada perawatku.

“Tiga puluh tujuh derajat, uisa-nim…”

“Wah, sudah normal..” Seruku. “Kau sudah bisa pulang, nih!” Lanjutku.

“Jeongmal?!” Tanyanya riang.

“Ne, tentu saja. Tapi, kau harus rutin minum obat yang nanti aku berikan ya… Dan ingat, jangan terlambat makan lagi. Nanti appa mu repot loh.”

“Baiklah.. Uhm.. Aku boleh ke sini lagi kan, eonn? Aku masih mau main dengan eonnii..”

“Lyne, kau ini apa – apaan? Uisa kan sibuk..” Suho terlihat melarang gadis kecil ini.

Aku tersenyum dan membelai kepala Alyne. “Boleh kok.. Tapi, izin sama Suho appa ya…” Ucapku yang kemudian tersenyum pada pria yang diakuinya sebagai ayahnya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Ah! Rasanya senyumannya membiusku.. Hey, apa senyumanmu mengandung heroine?” Batin Suho.

“Appaaa~~ Appa mau kan mengantarku ke sini lagi untuk main dengan eonni??” Alyne menggelayuti tangan Suho manja.

“Hng? Appa…”

“Appa mau kan?” Alyne menunjukkan ekspresinya yang menggemaskan hingga mau tak mau, Suho menurutinya.

“Ne, asal appa tidak sibuk..” Ujar Suho kemudian.

“Yeeeyyy~~”

“Nah, sekarang kau harus banyak istirahat, Lyne.. Supaya nanti sore, kau bisa pulang.. Arraseo?” Eun Hi kemudian melepas selang infuse dari tangan Alyne.

“Arraseo, eonnii…”

“Nanti ada yang mau eonni berikan untukmu… Selamat istirahat, Alyne..” Ucap Eun Hi tersenyum.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Eun Hi…” Tiba – tiba ada yang memanggilku setelah aku selesai meriksa Alyne.

Aku membalikkan tubuhku, menoleh. “Ne?” Ternyata yang memanggilku adalah Suho yang baru saja keluar dari ruang rawat anaknya.

“Apa jam makan siangmu kosong?”

“Uhm.. Kurasa begitu..”

“Baiklah, bagaimana kalau nanti aku meminta jam makan siangmu untuk makan bersama di kantin setelah Alyne tidur..”

Aku tersenyum. “Ne…” Jawabku singkat.

Setelah aku menanggalkan mantel putihku dan juga peralatan kedokteranku, aku segera menuju kantin rumah sakit untuk menepati janjiku pada Suho. Dan ternyata, dia sudah ada lebih dulu di sana. Terbukti karena ia mengangkat tangannya agar aku melihatnya. Aku pun menghampirinya. “Mianhae, apa kau menunggu lama?” Tanyaku yang mengambil duduk di hadapannya.

“Anni, aku juga baru datang.” Jawabnya.

Kami pun memesan makan. Dan di sela – sela makan kami, sering terselip perbincangan. Dari pembicaraan itu lah aku baru mengetahui kalau Suho adalah seorang psikolog. Pantas saja dia terlihat sangat sabar menghadapi Alyne. Dia juga sangat pandai bergaul. Aku juga baru mengetahui tentang kondisi Alyne yang sesungguhnya. Itu cukup membuatku terdiam karena merasa keadaanku dan Alyne hampir sama.

“Neo gwaenchana?” Tanyanya yang membuyarkan lamunanku.

“Hm? Gwaenchana.. ” Jawabku.

“Kau tampak sedih sekali…” Komentarnya. Ya, memang… Aku kembali teringat appa dan eomma. Karena itu aku kembali sedih mengingat ini.

“Ah, mianhae… Aku tidak bermaksud membuatmu sedih…” Ujar Suho.

“Anni…” Ujarku. “Haaaahh~~~ Aku merasa… Aku dan Alyne memiliki persamaan..”

“Persamaan?” Tanyanya. “Kalau kau belum siap menceritakannya, tidak apa – apa..” Lanjutnya lagi.

“Kedua orang tuaku meninggal.. Hari itu, hari wisudaku dimana aku akan mendapatkan gelar spesialis anak.” Ucapku.

“Saat itu, aku benar – benar menanti kedatangan mereka. Namun, hingga acara wisuda selesai, kedua orang tuaku tak kunjung datang. Sampai akhirnya pihak kepolisian menelponku mengabarkan kalau mereka meninggal saat kecelakaan. Pada saat itu aku tidak bisa menerima kenyataan. Tapi, beberapa hari kemudian aku mencoba untuk berdamai dengan kenyataan. Aku berusaha menerima kenyataan kalau kedua orang tuaku sudah meninggal dan hidup dengan damai di alam yang kekal itu.” Aku baru menyadari kalau aku meluapkan semua kesedihanku selama ini pada Suho.

“Ah, mianhae… Tidak seharusnya aku menceritakan ini padamu..” Aku menyeka air mata yang sudah berada di pelupuk mataku.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Tiba – tiba saja Suho menangkupkan tangannya di atas tangan Eun Hi. “Menangis saja kalau itu membuatmu lega.” Entah kenapa air mata gadis itu seketika menetes saat Suho mengucapkan kalimat itu. Eun Hi dengan refleks menundukkan kepalanya. Suho yang mengerti gadis itu menangis, memberikan sapu tangannya yang memang selalu ada di dalam saku celananya. Tanpa ragu, Eun Hi mengambil sapu tangan yang pria itu sodorkan. Cukup lama ia membiarkan Eun Hi menangis. Ia bahkan tidak peduli dengan tatapan orang yang memandangnya sebagai pria yang membuat gadis menangis. Yang ia lakukan hanya menangkupkan tangannya pada tangan Eun Hi.

“Mianhae…” Ucap Eun Hi.

“Gwaenchana… Bagaimana? Sudah lebih baik?” Tanya Suho.

Eun Hi hanya tersenyum. “Ne, jauh lebih baik.”

“Kau harus lebih sering jujur pada dirimu sendiri.”

“Maksudmu?” Tanya Eun Hi.

“Yaaa.. Jujur pada diri sendiri. Karena yang kulihat, kau sering menyimpan masalahmu sendiri, tidak mau terbuka. Coba kau menulis diary. Setidaknya dari diary itu kau bisa mencurahkan segala yang kau pendam.” Tutur Suho.

“Ne, gomawo..” Jawab Eun Hi.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Appa…appaaa….” Alyna memangil-manggil Suho yang sedang membaca buku di sebelahnya.

“Hhm?” Suho hanya berdeham tanpa mengalihkan tatapannya dari buku yang dibacanya.

“Iiihhh appaaaaa~~~” Alyna menarik lengan pria itu.

“Mworago?” Suho akhirnya mengalihkan tatapannya dan menutup bukunya namun menandakannya dengan jemarinya yang terselip di halaman buku itu.

“Bolehkah Eun Hi eonni tinggal di sini?”

“Hhm… Kenapa kau ingin Eun Hi tinggal di sini?” Tanya Suho mengusap kepala anaknya.

“Karena aku mau main sama eonni terus. Aku ingin eonni yang mendongeng setiap aku mau tidur.” Tutur Alyna.

“Memangnya, kenapa kalau appa yang membacakan cerita dongengnya?” Tanya Suho lagi.

“Sama appa sudah biasa… Aku mau sama eonni.” Suho hanya tersenyum menanggapinya sambil memeluk anaknya.

“Appa, bisa tidak eonni menjadi eomma aku?” Tanya Alyna menengadahkan kepalanya.

“Mworago?!!”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Eonniii~~~” Lagi. Aku kali ini lebih sering mendengar suara itu. Dan pasti di belakangnya ada seseorang yang selalu mengantarnya. Suho. Anak itu berlari padaku dan memelukku. Aku bahkan belum membuka mantel putihku.

“Mianhae, merepotkanmu lagi.” Ujar Suho menggaruk leher belakangnya yang sebenarnya tidak gatal.

“Gwaenchana…” Jawabku tersenyum.

Ini sudah beberapa bulan Alyna sering ke rumah sakit diantar Suho. Bukan karena sakit. Tapi karena dia yang selalu beralasan ingin bermain denganku. Saat aku tidak ada jadwal di rumah sakit pun aku mengunjunginya di rumah. Mau tidak mau, aku harus mengakrabkan diri juga dengan Suho kan?

“Eonni sama appa hari ini kita main yaaa…” Ia menggelayuti tanganku dan Suho bersamaan.

“Okay, sekarang terserahmu, Lyne..” Ujar Suho.

“Lotte World ya, appaaaaa…”

“Ya sayang…” Ujar Suho lagi.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Setibanya mereka bertiga di Lotte World, Alyna langsung berlari menuju wahana yang ia inginkan. Sedangkan Eun Hi dan Suho hanya mengawasinya dari belakang.

“Kau tidak ingin bermain?” Tanya Suho yang menghampiri Eun Hi yang melambaikan tangannya pada Alyne.

Eun Hi menggeleng. “Aku sedang tidak ingin bermain.” Jawabnya.

“Mianhae, karena memaksamu ke sini padahal kau sedang tidak ingin ke sini.” Ucap Suho.

“Ah, bukan begitu maksudku.. Aku hanya ingin melihat Lyne tertawa saat bermain.” Jawab Eun Hi.

“Dia tertawa seperti itu karena merasa seperti kembali memiliki appa dan eomma… Dia pernah cerita padaku seperti itu.”

“Kenapa kau tidak mencari eomma saja untuk Alyne?” Canda Eun Hi.

“Kau mau?” Eun Hi langsung tertegun mendengarnya. Ia bingung dengan pertanyaan Suho yang sangat terdengar ambigu.

“Eun Hi…??”

“Eonnii…” Seru Alyne yang sudah selesai bermain. Beruntung adanya Alyne bisa menjadikan alasan Eun Hi untuk sedikit mengabaikan ucapan Suho.

“Appa, lapaarr~~” Rengek Alyne.

“Kau mau makan?” Alyne mengangguk mantap.

“Tapi nanti aku mau es krim cokelat…”

“Ne, nanti appa belikan.” Ujar Suho.

Alyne pun berjalan di tengah – tengah mereka sambil menggandeng kedua tangan mereka. Namun tiba – tiba saja, dua orang menghampiri mereka. Satu orang wanita dan satu orang pria dengan kamera profesional yang menggantung di lehernya.

“Jeosonghamnida, boleh kami meminta foto kalian untuk buletin keluarga kami? Kalian nampak seperti keluarga idaman.”

Suho menoleh pada Eun Hi dan gadis itu hanya menggidikkan bahunya. Di saat yang sama, Alyne terus merengek pada Suho agar mau foto.

“Hanya sekali kan?” Tanya Suho.

“Ne, hanya sekali.”

Saat itu mereka kemudian diatur oleh arahan sang juru foto. Eun Hi duduk di bangku memangku dan memeluk Alyne, sedangkan Suho berdiri di belakang Eun Hi.

“Mianhamnida, bisakah anda memeluk istri anda?”

“Aigoo.. Sudah kubilang kita bukan keluarga…” Batin Suho. Suho sedikit canggung untuk memeluk Eun Hi. Dan Eun Hi sendiri langsung terdiam seolah badannya menjadi kaku.

“Gwaenchana?” Tanya Suho.

“Hng? Ne.. Ne..” Eun Hi tersenyum canggung.

“Tuan dan nyonya tatap anak kalian seolah kalian sedang bermain padanya..”

“Eonni aku bagaimana?” Tanya Alyne yang berada di pangkuan Eun Hi.

“Uhm… Bagaimana yaaa?” Eun Hi kemudian mengelitiki perut Alyne hingga ia tertawa lepas sedangkan Suho juga ikut tertawa karena melihat ekspresi Alyne yang menggemaskan.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Tak terasa hari sudah semakin malam. Alyne sudah lelah dan mengantuk hingga terpaksa Suho menggendongnya.

“Sini, biar aku yang bawa tasnya Alyne..” Tawarku.

“Kau tidak apa – apa?” Tanyanya. Aku mengangguk.

“Tidak pernah ia bermain sampai seperti ini. Sebelumnya ia selalu minta pulang kalau aku mengajaknya jalan.”

“Mungkin karena dia belum pernah ke sini?” Tanyaku.

“Mungkin…” Ucap Suho.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Saat Suho hendak membaringkan Alyne dikursi belakang, Eun Hi menolaknya. “Biar Alyne aku yang pangku saja. Bagaimana kalau nanti dia terjatuh?”

“Geundae…”

“Gwaenchana…” Eun Hi tersenyum.

“Kalau begitu, kau masuk dulu..” Ujar Suho yang membukakan pintu untuk Eun Hi sementara sebelah tangannya dipakai untuk menggendong Alyne.

Setelah Eun Hi sudah duduk, Suho mendudukkan Alyne yang kemudian disandarkan pada Eun Hi.

“Aww!” Eun Hi tiba – tiba mengaduh kesakitan.

“Wae?” Tanya Suho kaget.

“Alyne nya.. Chakkaman.. Tanganku terjepit.”

“Jeongmal? Mianhae..” Suho sedikit mengangkat tubuh Alyne membiarkan Eun Hi menarik tangannya.

“Sudah?” Tanya Suho. Eun Hi mengangguk. Percakapan mereka membuat Alyne sedikit terusik tidurnya. Hingga secara spontan Eun Hi mengusap – usap kepalanya.

“Kursinya perlu di rebahkan sedikit?” Tanya Suho yang juga memperhitungkan kenyamanan Eun Hi yang memangku anaknya.

“Hhm? Ya, sedikit..” Suho kemudian menurunkan sedikit sandaran kursi Eun Hi.

“Sudah cukup?” Tanya Suho.

“Ne, gomawo..” Setelah itu Suho langsung berjalan memutari mobilnya menuju pintu kemudi.

“Kau menginap di rumahku kan?”

“Ne.. Untuk apa aku membawa tas itu kalau bukan berisi baju untuk menginap?”

“Ne, arraseo…” Ujar Suho.

Sejenak suasana canggung meliputi ruang mobil itu. Sampai akhirnya ucapan Suho menginterupsi kesunyian itu. “Ucapanku yang tadi, tidak bercanda, Eun.. Aku mau kau menjadi eomma untuk Alyne.”

“Aku….”

“Tidak usah kau jawab sekarang. Aku tahu kau masih kaget.” Potong Suho.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Beberapa bulan setelah Suho melamarku. Aku masih belum memberikan jawabanku. Dan Suho sendiri juga kenapa tidak menanyakannya kembali? Alyne juga mulai jarang ke rumah sakit. Mungkin Suho yang tidak mau mengantarnya? Tapi, entah kenapa aku selalu ke taman rumah sakit ini saat jam istirahatku. Aku selalu membayangkan Alyne yang bebas bermain di sini dan Suho yang mengawasinya bermain dari sini bersamaku. Aku rindu saat – saat itu. Tak terasa air mataku menetes saat aku menundukkan kepalaku. Berkali – kali aku menghapus air mataku tapi air mataku terus mengalir. Pandanganku mulai buram karena air mata yang masih berada di pelupuk mataku. Tapi samar – samar aku melihat ujung sepatu pria di depanku. Aku mendongakkan kepalaku.

“Perlu ini?” Aku melihat pria yang sudah lama tidak kulihat tengah menyodorkan sapu tangannya padaku.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Eun Hi berdiri dan memeluk pria di hadapannya.

“Uljimma…” Ujar Suho mengusap kepala gadis itu. Gadis itu masih terisak dalam pelukannya.

“Hey, kau menangis seperti ini karena kau rindu denganku kah?” Suho menggoda gadis yang berada di hadapannya. Eun Hi tidak menjawabnya. Ia masih terisak.

Suho melonggarkan pelukannya dan menghapus air mata Eun Hi dengan ibu jarinya. Ia merengkuh wajah gadis itu dan mencium bibir gadis itu dengan lembut. Eun Hi pun membatu karena sikap pria di hadapannya. “Mianhae, aku menghilang belakangan ini.” Eun Hi hanya diam menunduk.

“Kulakukan untuk mengurus pernikahan kita.” Ujar Suho lagi.

“Geundae.. Ak..aku…”

“Aku tidak yakin kau akan menolak pernikahan kita.” Sela Suho. Sementara Eun Hi hanya diam dengan wajah yang memerah.

“Kau menangis untukku dan Alyne. Karena itu, kau pasti akan menyetujui pernikahan ini.” Sambung Suho lagi.

“Kau menganalisa sendiri tanpa memikirkan siapa yang kau analisa…” Ujar Eun Hi.

“Yang ku analisa adalah orang yang lebih mementingkan orang lain dari pada diri sendiri yang lebih sering memendam perasaannya sendiri.” Suho mencium kening Eun Hi.

“Appaaaaaa~~~” Alyne berlari pada pria bermarga Kim itu.

“Mwo?” Tanya Suho.

“Appa, bayi yang di sana lucu sekali, appa..” Alyne menunjuk salah satu arah.

“Lalu? Kau berkenalan dengannya?”

Alyne menggelengkan kepalanya. “Aku tidak mau bayi itu. Tapi aku mau punya bayi sendiri…”

“Kau masih kecil, Lyne. Bagaimana bisa?” Suho tertawa mendengarnya.

“Aku mau punya saeng.. Aku mau punya bayi.. Appa… Hiks.. Hiks…” Alyne menangis. Suho berlutut di hadapan Alyne dan memeluknya.

“Uljimma…uljimma..” Suho mengusap kepala anaknya. Dan kemudian dia membisikkan sesuatu pada Alyna.

“Jeongmal?!” Alyna memekik riang. Ekspresinya sangat ceria setelah Suho membisikkan sesuatu padanya.

“Ssst…” Suho mengisyaratkan pada Alyne untuk tutup mulut.

“Apa yang kalian bicarakan?” Tanya Eun Hi.

“Anni, eopseo… Eomma..” Ucap Alyne yang sempat menghentikan ucapannya.

“Eomma?!!” Eun Hi merasa panggilan itu terdengar aneh di telinganya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Hari ini benar – benar tidak bisa kupercaya. Aku menikah! Dalam balutan gaun pengantin berwarna gading aku menatap cermin di hadapanku. Dari bagian wajahku, entah kenapa aku menyukai mataku sendiri. Hey, apakah ini yang namanya narsis? Aku hanya menatap wajahku di cermin. Sesekali aku menatap bucket bunga yang kupegang.

“Eommaaa~~~” Tiba – tiba saja gadis berumur empat tahun itu berjalan menghampiriku dan memelukku yang tengah duduk.

“Wae, Lyne?” Tanyaku.

“Anni, ini hari ulang tahunku yang indah, eomma…”

“Ulang tahun?”

“Ne.. Ini hari ulang tahunku.”

“Aku mengerti sekarang. Aku mengerti kenapa Suho memaksaku menikah dua hari setelah kami bertemu lagi. Ternyata hari ini hari ulang tahun Alyne. Mungkin ini dilakukannya sebagai hadiah ulang tahunnya pada Alyne?”

“Mianhae, agasshi.. Anda diminta keluar karena mempelai pria sudah menunggu.” Seorang wanita paruh baya memasuki ruanganku. Dan tak lama seorang pria berusia setengah abad menghampiriku. Ya, dia adalah ayah dari Suho.

“Appa…” Panggilku.

“Ne.. Kajja, kita temui Suho.” Ajaknya. Aku mengangguk.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Wedding mars yang mengiringi langkah gadis itu dengan ayah mertuanya sebagai pendampingnya terlihat harmonis. Ditambah lagi langkahnya yang anggun sesuai dengan parasnya yang cantik. Dibalik tudung pengantinnya, semburat merah terlihat di wajahnya ketika melihat seorang pria tengah berdiri tegap di depan altar. Seorang pria yang memakai jas berwarna putih gading sama seperti gaun pengantin yang sedang dikenakan Eun Hi.

Tangan pria itu terulur padanya dan segera disambutnya. Ikrar pernikahan pun terucap oleh sepasang insan yang baru saja akan mengarungi bahtera rumah tangga yang pastinya tidak akan mulus selamanya. Mereka kini resmi menjadi sepasang suami istri. Eun Hi kini resmi mengganti marganya yang semula Choi menjadi Kim karena pernikahannya dengan Suho. Sebuah cincin pernikahan dipasangkan oleh Suho di jari manis Eun Hi yang kini menjadi istrinya. Begitu pula Eun Hi. Kini ia sedang memasangkan cincin di jari manis Suho. Sebuah ciuman singkat pun dihadiahkan Suho kepada istrinya yang kini berada di hadapannya.

“INI TIDAK BOLEH TERJADIIII!!!!!! KAU TIDAK BOLEH MEMILIKI SUHO OPPA!!!” Sontak semua para tamu undangan dan juga sepasang pengantin ini menolehkan kepala mereka pada pintu yang terbuka lebar dengan seorang gadis di tengah pintu itu.

“Xe.. Xena…??” Suho melebarkan kelopak matanya ketika melihat gadis itu.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Mianhae, kau jadi kaget…” Suho tiba – tiba memulai pembicaraan saat kami menuju salah satu hotel mewah. Ya, kami memang sengaja akan menginap di hotel untuk malam ini. Alyna sengaja kami tinggal dulu bersama Xena.

Dari cerita Suho, Jung Xena itu adalah sepupunya yang baru pulang dari Paris. Xena adalah anak tunggal. Kedua orang tuanya sering melakukan perjalanan bisnis keluar kota bahkan keluar negeri. Karena itu lah, Xena yang sering dititipkan di rumah Suho, menjadi sangat dekat dengan Suho hingga akhirnya dia masih tidak percaya jika kini Suho sudah menjadi seorang suami. Lebih tepatnya, suamiku. Hihihi.

Kami pun tiba di hotel itu. Suho terburu – buru keluar dari sisi sebelah kanan dan membukakan pintu untukku. Sementara porter sudah mengambil koper kami dari bagasi mobil.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Biar kami bawa sendiri..” Ujar Suho mengambil dua koper itu.

“Suho, aku bawa koperku saja…”

“Anni, tidak usah.. Biar aku saja.” Jawabnya.

“Shireo.. Aku juga mau bawa.” Desakku.

“Baiklah, terserah kau saja… Yeobo..” Dia kemudian menggandengku menuju lift sementara sebelah tangannya ia gunakan untuk menarik kopernya, sama sepertiku.

Mereka berdua kini sudah berada di lantai enam. Key card yang digunakan sebagai akses masuk ke kamar hotel itu sudah ditempelkan Suho. Sebuah kamar hotel dengan kelas president suite lengkap dengan sebuah ruang tengah dengan sebuah sofa putih yang berada di depan tv terpampang di hadapan kita.

“Haah~ Melelahkan..” Suho menghempaskan dirinya di sofa tengah.

“Apa kau tidak mandi dulu?” Tanya Eun Hi.

“Kau saja duluan, Eunnie..” Pendengaran gadis itu masih belum terbiasa dengan panggilan seperti itu dari suaminya.

“Euhm, ne…” Jawab Eun Hi. Gadis itu pun berjalan menuju tempat tidurnya yang berada di balik dinding yang menjadi pembatas antara ruang tengah dan ruang tidur. Ia membuka tudung pengantinnya dan ia letakkan di atas tempat tidurnya yang sudah dipenuhi kelopak mawar berwarna merah. Kemudian ia menuju ke ruang pakaian yang letaknya bersebelahan dengan ruang tidurnya. Ruang pakaian itu hanya dibatasi oleh sebuah lemari untuk ke kamar mandinya.

“Ommo… Ini kenapa susah sekali?” Eun Hi terlihat kesulitan membuka retsleting gaunnya. Padahal ia sudah melihat retsleting yang berada di punggungnya dengan bantuan cermin di hadapannya.

“Tidak mungkin aku minta bantuan Suho.” Gumam Eun Hi.

“Iiiihhh!!! Menyebalkaaann!!” Eun Hi berteriak gusar.

“Eunnie, neo gwaenchana?” Suho yang sudah berada di ruang tidurnya mendengar suara istrinya.

“Euhm, ne..” Teriak Eun Hi.

Suho pun kembali membuka jasnya dan kemejanya, hingga ia hanya meninggalkan kaus putih yang masih ia kenakan dengan celana hitam panjang.

Sementara Eun Hi tampaknya menyerah untuk membuka retsleting gaunnya. Dan ia terpaksa meminta bantuan Suho. “Suho…” Gadis itu menyembulkan kepalanya.

“Wae?” Suho menoleh.

“Sini.. Sini…” Eun Hi memanggil – manggilnya.

“Mwo? Wae, Eunnie?” Tanya Suho yang menghampiri istrinya.

“Euhm.. Itu.. Itu…” Suho menaikkan sebelah alisnya bingung.

“Hng.. Retsleting aku susah…” Eun Hi menundukkan kepalanya sambil memainkan jarinya.

“Haaah~~ Kau ini.. Kupikir kenapa.. Cepat balik badan…” Eun Hi membalikkan badannya. Suho pun menurunkan retsleting gaun pengantin istrinya.

“Sudah, sana cepat mandi…” Ujar Suho.

“Ne…”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Huweeee~~~ Aku mau sama Eun Hi eomma, Suho appaaaa…” Alyne terus menangis pada saat Xena bersamanya.

“Ish! Aku juga tidak mau kalau Suho oppa berduaan saja!” Batin Xena.

“Sudahlah, lebih baik kau diam, Lyne..” Xena mulai frustasi menghadapi anak berusia empat tahun itu.

“Shireoo~~~ Aku mau sama appa dan eomma duluu.. Huwweeee~~~” Tangis Alyne.

“Haaahh~~” Xena hanya bisa menghembuskan nafasnya.

“Aku mau sama mereka, eonniiii…” Rengek Alyne.

“Hhmm.. Sepertinya aku punya ide menarik!” Batin Xena. Xena kemudian membisikkan sesuatu pada Alyne.

“Ne, eonni! Aku mau!” Seru Alyne riang.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Kenapa tidak masuk, yeobo?” Suho melingkarkan tangannya di perut Eun Hi dari belakang saat Eun Hi lebih memilih berdiam diri di balkon hotelnya.

“Hm? Aku belum mau tidur, Suho.”

“Kau masih mau memanggil nama padaku?” Suho menatap istrinya yang sedang menatap lurus ke depan menatap kota Seoul di malam hari yang dipenuhi cahaya lampu.

“Kenapa tidak memanggil panggilan lain? Oppa misalnya?” Ujar Suho.

“Oppa?”

“Kau memanggilku? Kkk..”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Aha! See, aku menang lagi!” Suho berseru ketika Eun Hi kalah saat bermain UNO-permainan kartu anak yang dipopulerkan di negeri paman Sam.

“Ugh! Oppa… Kau tidak lihat, aku sudah tiga kali kau coret lipstick ku…” Eun Hi merajuk.

“Itu salahmu.. Siapa suruh kau tidak mau berusaha mengalahkanku. Hhaha..” Balas Suho. Ya, Suho memang sengaja membawa permainan itu untuk menghilangkan kecanggungan mereka yang sudah dapat diprediksi Suho.

“Haahh.. Iya iya, aku menerima hukuman oppa deh…” Eun Hi menepati janjinya. Dalam peraturan yang dibuat oleh mereka berdua adalah siapa yang kalah terbanyak, dia lah yang akan mendapatkan hukuman dari yang menang.

“Well… Aku sudah tahu apa hukuman yang tepat untukmu..” Ucap Suho.

“Mwo?” Tanya Eun Hi. Suho pun membereskan semua kartu yang ada di tempat tidur mereka dan meletakkannya di atas nakas samping tempat tidur mereka.

“Haahh..” Pria itu menghela napasnya. “Ini yang akan kau terima!” Suho tiba – tiba saja mengelitiki gadis itu.

“Ahahahaha… Oppa… Ahahaha.. Geli tahu! Yaa! Hentikann.. Ahahaha… Huwaaaa!!” Gadis itu memekik.

Tanpa disadari mereka, kini posisi Suho sudah berada di atas Eun Hi. Kedua tangan Suho berada di sisi kepala gadis itu seolah mengurungnya dibawah. Kedua pasang mata itu pun saling menatap dan perlahan Suho mendekatkan wajahnya pada istrinya.

“Oppa…” Eun Hi menahan Suho.

“Hhm?”

“Aku cuci muka dulu ya..” Ujar Eun Hi.

“Kau lebih sexy seperti ini yeobo.. Kkk..” Eun Hi hanya mengerucutkan bibirnya kesal. Namun, rasa kesal Eun Hi justru memancing Suho untuk mencium bibir istrinya.

“Oppaaa~~” Eun Hi melepaskan pagutan bibir suaminya.

“Cukup seperti ini saja, yeobo…” Suho menghapus coretan lipstick di wajah istrinya dengan tissue wajah.

“Wajah oppa juga…” Ucap Eun Hi.

“Aku mau istriku yang membersihkannya..” Ujar Suho dengan nada manja. Eun Hi pun membersihkan wajah Suho yang berada tepat di atasnya.

“Saranghae…” Suho kembali mencium istrinya.

“Nado, oppa…” Jawab Eun Hi yang mengalungkan lengannya pada leher Suho.

Suho kemudian mencium kening Eun Hi. Ciumannya turun ke kedua kelopak mata istrinya. “Mata ini tidak boleh berpaling dariku. Hanya boleh untuk memperhatikanku dan anak kita kelak.” Ciumannya kembali turun ke hidung Eun Hi. “Hidung ini, hanya boleh untuk menciumku.” Eun Hi hanya tersenyum mendengarkan penuturan Suho. Pria itu kemudian mencium bibir istrinya lembut. “Dan bibir ini, hanya aku yang boleh menciumnya.” Kembali Suho mencium bibir berwarna peach milik istrinya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Sementara itu di luar. Lebih tepatnya di depan kamar hotel Suho dan Eun Hi menginap, Xena dan Alyna terlihat mendengarkan situasi di dalam.

“Imo, kok sepi sih?” Tanya Alyne.

“Molla..”

PRANG!! Tanpa sengaja Alyne menendang salah satu pot yang memang menjadi hiasan.

“Ssstt!!” Xena terlihat panik.

Rupanya suara itu terdengar hingga ke dalam kamar hotel Eun Hi dan Suho.

“Oppa, suara apa itu?” Eun Hi sedikit mendorong tubuh Suho yang hanya menggunakan boxer-nya.

“Biarkan saja lah, yeobo.. Itu kan di luar..” Ujar Suho.

“Geundae.. Kalau orang jahat bagaimana?” Eun Hi duduk bersandar dan membetulkan gaun tidurnya yang sempat turun karena Suho.

“Tidak mungkin ada orang jahat di hotel ini, yeobo..” Suho kembali memeluk istrinya.

“Oppa… Ayo kita cek saja keluar…”

“Aku akan menelpon petugas keamanan, yeobo..”

“Annio, oppa… Terlalu lama.. Lebih baik oppa periksa keluar..”

“Haaahh… Baiklah..” Suho beranjak dari tempat tidurnya.

“Oppa.. Oppa tidak pakai baju?” Suho langsung mengambil bajunya dan memakainya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Iihh! Gara – gara imo nih!”

“Loh? Kok aku? Kau yang menendang!”

Sepertinya aku kenal suara ini. Seperti suara Alyne?

“Menurutmu, ini suara Alyne dan Xena bukan?” Suho berbisik padaku. Aku mengangguk.

“Coba saja buka, oppa…” Ujarku yang berada di balik tubuh Suho.

Ckrek! Dan benar! Xena dan Alyne lah yang berada di balik pintu ini.

“Kalian? Kenapa di sini?” Tanya Suho.

“A..a…aku..” Kulihat Xena terlihat gugup.

“Appaaaa~~~ Aku dan Xena imo tidur di sini yaaaaaaa….” Rajuk Alyne yang menarik – narik baju Suho.

“Mwo?!! Tapi… Appa dan eomma…”

“Boleh kok, chagi.. Kau boleh tidur di sini dengan Xena imo..” Aku berlutut di hadapan Alyne dan mengusap kepalanya.

“Yeobo… Kita…” Aku hanya menggelengkan kepalaku pelan.

“Kajja, kita masuk.. Kajja, Xen..” Aku mengajak Xena juga.

“Haaah~~ Baiklah, kalau begitu kalian tidur bertiga saja. Aku tidur di sofa..” Ujar Suho. Sebenarnya aku juga kasihan dengan Suho. Ya, tapi mau bagaimana lagi? Kita tidak bisa mengacuhkan Xena dan Alyne juga kan?

Saat kulihat Xena dan Alyne sudah tertidur, aku menghampiri Suho yang tidur di sofa. Aku menyelimutinya dengan selimutku dan aku membetulkan posisi bantalnya agar dia sedikit nyaman untuk tidur.

“Yeobo…” Saat aku meninggalkannya, tiba – tiba tangan Suho menahan tanganku.

“Oppa masih bangun?”

“Terbangun karena kau menyelimutiku.”

“Mianhae, oppa…”

“Gwaenchana…” Tangan Suho menarik tanganku dan memeluk tubuhku untuk memudahkannya menciumku.

“Oppa.. Ada Xena dan Alyne…”

“Haruskah kita menyewa kamar lain di hotel ini, yeobo?”

“Hah? Apa maksudmu?” Tanyaku.

“Kita pindah ke kamar lain.”

“Ge..geundae…opp.. Oppaa..” Tanganku ditarik olehnya. Kami menuju lobby hotel dan Suho benar – benar menyewa kamar di lantai lain untuk kami.

Setelah membayarnya dengan black card miliknya dan mendapatkan key card kamar, ia langsung menggendongku.

“Oppa, turunkan akuu…”

“Sstt.. Sudah malam, kau ini berisik, yeobo…”

Di kamar kami yang letaknya di lantai delapan, Suho baru menurunkanku.

“Nah, sekarang kita tidak ada yang mengganggu, yeobo..” Suho merangkulku.

“Lalu?” Tanyaku.

“Lalu kita akan mengabulkan permintaan Alyne tempo hari.. Kau ingat?” Aku menggeleng. Hey, aku benar-benar lupa! Apa permintaan Alyne?

“Adik untuk Alyne..” Bisik Suho yang membuatku menggidikkan bahu. Sontak wajahku memanas. Kupastikan wajahku memerah!
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“GYAAAAA!!! Oppaa??? Oppa eoddi gaaaaaa?? Oppaaa!!!” Pagi itu Xena berteriak – teriak di kamar hotelnya hingga membangunkan Alyne yang masih tertidur.

“Imo berisiikk!!!”

“Yaa!! Suho oppa mana??? Kemana Suho oppaaaa?!!!!” Teriaknya lagi.

“Kyaaa!! Appaaaa!!! Huweee appaaaa~~~” Alyne menangis ketika tidak ada Suho, ayahnya.

“Yaa!! Diam kau! Kau berisik, tahu!” Xena mencari tiap sudut kamar.

“Huwweeee appaa~~ eommaaaaa~~~”

Namun, di tempat lain Suho dan Eun Hi tampak menikmati sarapan mereka di lounge hotel.

“Oppa, Xena dan Alyne bagaimana?” Tanya Eun Hi.

“Mereka? Biar ku telepon Xena.” Nada sambung terdengar ketika Suho menelpon.

“OPPAAAA!!!” Xena berteriak dari tempatnya saat Suho menelpon hingga Suho harus menjauhkan ponselnya dari telinganya.

“Kau tidak sarapan? Oppa di lounge hotel dengan Eun Hi. Cepat kemari bersama Alyne.”

“Oppa, kau kemana saja sih?!” Seolah tidak mempedulikan ucapan Suho, Xena bertanya pada pria itu.

“Aku disini saja, Xen. Hanya saja aku dan Eun Hi menyewa kamar lain.

“Huuhh! Aku akan ke sana sekarang!”

“Jangan lupa bawa Alyne..”

Belum sempat Suho melanjutkan ucapannya, Xena memutus sambungan. “Ck, anak ini… Selalu saja…”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Kulihat Xena menatapku kesal. Entah kenapa dia? Beda sekali dengan Alyne yang minta kusuapi makan terus.

“Eunnie, coba ini…” Suho menyodorkan sendok soupnya padaku.

“Hng?” Aku melihatnya terlebih dahulu.

“Aku tidak suka soup labu, oppa…”

“Coba dulu. Ini enak. Kau pasti suka.” Aku akhirnya membuka mulutku menerima suapan dari suamiku.

TRANG!!! Aku kaget ketika mendengarnya. Sendok dan garpu milik Xena pun dibanting olehnya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Suho juga mengangkat pandangannya dan menatap Xena bingung. Sedangkan Alyne, terlihat mau menangis ketika melihat Xena marah. Ditambah lagi tiba – tiba saja Xena pergi begitu saja dari hadapan mereka bertiga.

“Eomma, imo kenapa?” Tanya Alyne takut pada Eun Hi.

“Imo lagi sakit perut mungkin?”

“Xena! Ya, Xena!”

Xena terus berjalan keluar hotel dengan kesal. Dia menuju sungai han, tempat dia biasa menyendiri. Walau pun tempatnya jauh, dia tetap ke sana menggunakan taksi.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Tidak adiiilll!!! Kenapa sih harus dia?!!! Kenapa?!!!” Xena berteriak sambil melempar sebuah batu ke sungai Han.

Tanpa disadarinya, seorang pria yang tengah duduk lebih lama darinya menatapnya heran. Tapi kemudian, pria itu tersenyum karena mengingat wajah gadis yang ada di hadapannya.

“Aku tidak mau Suho oppa menikah!! Suho oppa itu milikku! Dia kan satu – satunya kakak yang kumiliki.. Huuhh! Suho oppa menyebalkaaaaann!!” Xena kembali melempar batu ke arah sungai.

“Kenapa kau tidak mau kakakmu menikah? Apa kau tidak mau melihat kakakmu bahagia?” Tanya pria yang duduk di sebelahnya.

Xena menoleh. “MWORAGO???!!! Kau?!!”

THE END

21 tanggapan untuk “I’ll Stay By Your Side”

  1. Keren!! Suho so sweet bnget >< kirain xena mantannya suho eh ternyata sepupunya ._. Sequel dong thor, endingnya gantung (?)

  2. Ini wajib sequel… aku pikir si Xena itu mantannya Suho yang mau ngebatalin pernikahan Suho-EunHi hahah ternyata dia sepupu nya Suho.
    Baru baca fanfic kaya gini wahaha…
    Keluarga kecil mereka sweet meskipun Alyne bukan anak kandung. Haha tapi kan mereka pengen buat ‘adek’ wkkw
    Ini gantung thor sumveh, sequel wajib!
    Aku gatau mau komentar apa lagi, keep writing dan sequel jangan lupa!
    Daebak!!

  3. Wah…udahan ya???
    Kalo suho nya sih udah happy ending…hehehehe…
    Tp klo sequel nya soal sena kyanya bagus thor 🙂
    Gomawoyo ^_^

  4. Jadi pgn pny ayah kyk suho,tp jg pgn pny suami kyk suho
    Trs itu xena ketemu sapa lg
    Bkn sequel dong kak
    Keep writing

  5. Ini harus ada squelnya author… Suho sama Eun Hi makin hari makin romantis di tambah Alyne.. sebenernya Xena kenapa dia ga mau Suho menikah sama Eun Hi? Xena seperti sister complex..
    Aku bingung mau comment apa lagi.. Kkk~ Mian author

    KEEP WRITING AUTHOR 😄👍

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s