Everything Has Changed (Chapter 5)

Everything Has Changed

Everything Has Changed

[ Chapter 5 | Romance, School life | General ]
with Kim Jongin,
Oh Sehun,
and OC Jung Yunhee as the main cast

by

Eunike

[ I own the story and art ]

“Tahukah kamuu, bahwa hingga saat ini hanya ada namamu yang tersemat anggun di relung hatiku?”

Series : Prolog + Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5

***

“Jongin, sungguh, kau tidak perlu menginap di sini. Aku baik-baik saja.” Yunhee memaksakan seulas senyum kendati tubuhnya masih terasa tidak baik-baik saja. Wajahnya pucat, dan tubuhnya lemas.

“Jangan bercanda, wajahmu pucat sekali seperti mayat. Seharusnya kau tahu betapa paniknya aku tadi ketika kau tiba-tiba pingsan.”

Saat itu Jongin masih memakai seragam sekolah tentu saja, selain karena ia tidak membawa baju ganti, ia juga tidak sempat pulang ke rumah dan mengambil pakaian baru.

Yunhee menghela napas pasrah. Ia sadar bahwa ia tidak punya banyak energi tersisa untuk berdebat dengan orang keras kepala macam Jongin. Maka ia hanya mendesah dan mengikuti kemauan lelaki itu.

“Terserah kau saja, tapi sebaiknya kau memberi kabar kepada Eomma-mu.”

“Tentu saja.”

Tangan Jongin meraih segelas air mineral dari atas buffet di samping ranjang Yunhee dan menyodorkannya kepada gadis itu. “Kau yakin tidak mempunyai masalah serius?”

Mengangguk tegas, Yunhee menerima gelas tersebut dan mengambil tegukan pertama. “Aku hanya terlalu letih, semalam aku tidak sempat tidur,” jawabnya mencoba meyakinkan Jongin.

“Sudah berapa kali kau pingsan seperti tadi, Yun?”

Gadis itu menggedikkan bahu. “Baru kali ini.”

Menghela napas panjang, Jongin mengusap wajahnya dan mencoba untuk memercayai gadis itu. “Kalau lain kali ini terjadi lagi, berjanjilah padaku untuk segera periksa ke dokter.”

“Tentu saja, Jong. Kau ini berlebihan sekali, sungguh.” Yunhee terkekeh pelan dan meletakkan gelasnya kembali. “Omong-omong…, kau tahu aku tidak lagi memiliki kamar tamu tempat di mana kau biasanya menginap, aku—”

“Aku tidur di sofa saja, tidak apa-apa.”

Yunhee membelalakkan matanya lantas menggeleng tidak setuju. “Jangan, tidur di sofa ‘kan tidak nyaman, nanti tubuhmu pegal-pegal dan—”

“Yun-ah, berhenti mengkhawatirkan keadaanku. Tubuhmu jauh lebih memprihatinkan.”

Gadis itu mendengus pelan. “Memprihatinkan bagaimana? Aku tidak seburuk itu, Jong. Aku hanya kelelahan, kau mengerti?”

Seakan tidak mendengar ujaran Yunhee barusan, Jongin malah bangkit berdiri dan melengos menuju dapur. “Seharusnya aku membuat makan malam untuk kita, mengingat hari sudah gelap dan perutku sudah meraung-raung.”

Yunhee bangun dari rebahnya lalu mengikuti Jongin dari belakang. “Kau bisa memasak?” Nadanya terdengar ragu.

Jongin hanya melirik Yunhee sekilas lalu terdiam. “Aku tidak yakin, tapi setidaknya kita tidak mati kelaparan.”

Terkekeh pelan, Yunhee berjalan mendahului Jongin lalu membuka kulkas. Pandangannya menyapu seluruh makanan yang ada di sana, tapi tidak satu pun layak untuk disantap sebagai makan malam. Ia berlalu menuju meja dapur seraya berharap-harap cemas, tapi harapannya pupus tatkala irisnya hanya menangkap beberapa tangkup roti di atas sana.

Ia menghela napas panjang lalu menyenderkan punggungnya di pintu kulkas.

“Kau… tidak punya makanan?” Jongin menaikkan sebelah alisnya.

“Kau tahu sendiri aku baru saja pindah.”

Lelaki itu nampak berpikir keras sebelum akhirnya berdecak dan mencetuskan keputusannya. “Biar aku yang beli makan di luar.”

“Beli makan di luar? Ehm, apa?”

Ramyeon, mungkin? Kau suka ‘kan?”

Perlahan kedua sudut bibir Yunhee tertarik manis ke atas. “Tentu!”

“Tunggu aku, ya.” Jongin segera meraih beberapa lembar won dari tasnya dan berjalan ke luar.

“Hati-hati di jalan!”

***

Jongin baru saja hendak menaiki tangga menuju apartemen Yunhee seraya membawa dua porsi Ramyeon di tangannya, ketika tiba-tiba saja gemeletap langkah kaki dari belakang menyentakkannya.

Ia melirik sekilas, lantas mendengus kesal.

Ternyata dia.

Oh Sehun.

Lelaki semampai itu hanya menoleh menatap Jongin sekilas dengan tatapan datar, lalu berjalan mendahuluinya sambil melesakkan tangan ke dalam saku. Bibirnya berucap beberapa patah kata, tapi Jongin tak sempat menangkapnya dengan jelas.

“Selamat malam, Tuan Muda Oh,” sapa Jongin dengan nada yang—sedikit—mengejek.

Sehun menghentikkan langkahnya, lalu memutar tubuh menghadap Jongin. Ia melemparkan tatapan tajam ke sepasang iris coklat tersebut selama beberapa detik sebelum akhirnya berujar, “Ada hal penting yang ingin kaubahas?”

Dan ekspresinya masih sedingin es.

Jongin hanya menggedikkan bahu lalu berbelok menuju apartemen Yunhee. “Aku hanya berusaha bersikap sopan kepada tetangga sahabatku. Itu saja,” sahutnya seraya menekankan kata ‘tetangga’ dengan tegas.

Sehun memutar bola mata dengan jenuh lalu membuka kunci apartemennya. “Dumbass,” desisnya sesaat sebelum akhirnya punggung lelaki itu menghilang di telan daun pintu.

Jongin mendengus samar, lantas mengetuk pintu di hadapannya. “Yun-ah.”

Yunhee melongokkan kepalanya keluar lalu mengulas senyum. “Silahkan masuk, Tuan,” sahutnya dengan nada diayun.

Lelaki itu terkekeh lalu meletakkan Ramyeon yang baru saja dibelinya. “Ayo makan, aku nyaris saja pingsan di tengah jalan tadi,” ujarnya mencoba mendramatisir keadaan.

“Haha, tapi nyatanya kau sampai di sini dengan keadaan selamat.”

“Tentu saja, ini kan demi kamu.”

Lagi-lagi, Yunhee merasakan pipinya bersemu merah. Seakan-akan oksigen di sekelilingnya mendadak terhisap telak, gadis itu merasakan dadanya bergemuruh seperti orang gila.

“Sudah, jangan banyak bicara dan makan saja makananmu,” katanya dengan sedikit gugup.

Jongin tertawa sebentar sebelum akhirnya menyantap Ramyeon dengan lahap. Ia terlihat begitu lapar sampai-sampai beberapa sumpitnya nyaris tergelincir jatuh, membuat Yunhee mau tak mau tertawa lepas melihat tingkah lelaki itu. “Dasar rakus!”

***

Rembulan telah usai mengemban tugasnya, kini berganti mentari yang memancarkan sinarnya dengan lembut dan menemani para insan memulai hari.

Yunhee berjalan gontai, tungkai kakinya melangkah keluar kamar seraya menyisir surai coklatnya dengan jemari—hanya sekedar membuatnya sedikit lebih rapi.

Gadis itu berjalan menuju dapur, meraih segelas air mineral dan meneguknya hingga habis. Baru setelah itu ia memutuskan untuk menghampiri Jongin yang masih pulas tertidur di sofa.

Lelaki itu masih mengenakan seragam sekolah kemarin—tapi kini dengan versi lebih kucel dan berantakan.

Setelah merendahkan badannya hingga sejajar, Yunhee menarik selimut tipis yang merengkuh Jongin semalaman, membuatnya naik sebatas dagu lelaki itu, lalu memainkan anak rambutnya yang terlihat berantakan. Yunhee sedikit merapikan helainya yang menyampir nyaris menutupi mata.

Good morning,” bisiknya tanpa berniat membangunkan Jongin. Yunhee tersenyum tipis, lantas kembali bangkit berdiri dan berlalu menuju dapur.

Toh hari ini sekolah libur, maka biarkan lelaki itu tidur sedikit lebih lama.

***

“Kau sedang apa, Yun?”

Tiba-tiba saja suara parau Jongin mengetuk gendang telinganya.

Yunhee tersentak, lantas menoleh ke arah sumber suara dan mendapati lelaki itu tengah terduduk seraya mengusap wajahnya yang masih sembab.

“Sedang membuat sarapan,” jawabnya enteng lalu kembali melanjutkan aktifitasnya semula; memanggang roti dan mengolesinya dengan selai coklat kacang.

Jongin menyunggingkan senyumnya lalu berjalan menghampiri Yunhee. “Memangnya kau bisa?”

“Remaja mana yang tidak bisa memanggang roti?” Yunhee balik bertanya dengan segaris lengkung manis di atas bibirnya.

“Kau yakin, rotimu itu layak konsumsi?”

“Ya!” Yunhee membelalakkan matanya dan memukul pelan lengan Jongin seraya mencibir. “Jangan merusak mood-ku, Jong!” Suaranya melengking lantaran gusar.

Tapi yang didamprat hanya terkekeh puas. Jongin melenggang menuju kulkas, mencoba mencari sesuatu yang setidaknya bisa mengganjal perut.

“Kau bahkan tidak punya susu?”

Out of stock,” jawab gadis itu singkat.

Maka mau tak mau Jongin mendudukkan diri di kursi meja makan, menunggu sarapan yang tengah dibuat gadis itu selesai disajikan. Tangannya terangkat ke atas meja dan menopang dagu di sana tanpa melepas pandangannya dari wajah Yunhee.

“Berapa tangkup roti yang kaubuat?” tanyanya mencoba berbasa-basi.

“Hmm, hanya dua. Memang kenapa?”

Jongin mendesah lalu kembali mengusap wajahnya. “Itu namanya hanya mengotori gigi saja. Mana mungkin perutku kenyang hanya dengan setangkup roti?”

Mata gadis itu mendelik tajam. “Kalau kau tidak mau ya tidak usah.”

Jongin yang semula memejamkan matanya langsung terlonjak, takut jatahnya benar-benar diambil gadis itu. “Ya! Ya! Ya! Aku hanya bercanda, jangan marah begitu dong. Bagaimanapun juga ‘kan kau sudah menyiapkannya untukku, jadi tidak boleh ditarik lagi.”

Yunhee mencibir lagi sambil meletakkan dua tangkup roti ke atas meja.

“Ngomong-ngomong soal kelompok laporan Summer Vacation….”

“Kita sekelompok saja, bagaimana?” tawar Yunhee langsung tanpa menungu Jongin menyelesaikan kalimatnya.

Jongin merekahkan senyumnya lalu mengambil jatah sarapannya. “Baiklah kalau begitu! Pembagiannya dikumpulkan hari ini ‘kan?”

“Hm. Kau saja yang beri tahu ke Hanna,” jawab Yunhee setelah kunyahan pertamanya habis.

“Baiklah, untung nomornya masih kusimpan di ponsel.”

Tak lama kemudian Jongin menghubungi Hanna. Tidak lama, sebab setelahnya keheningan mengambil alih suasana.

Jongin sibuk mengutak-atik ponselnya sedangkan Yunhee diam-diam hanyut dengan monolog-monolognya sendiri.

“Apa Sehun ikut summer vacation juga?”

Oh terkutuklah kau, Jung Yunhee. Pertanyaan tolol macam apa yang kaulontarkan? Menjijikan.

“A-Apa?” Mata Jongin seakan-akan membulat tak percaya begitu telinganya menangkap pertanyaan Yunhee.

“Tidak apa-apa, lupakan saja.”

“Tidak, tidak, Yun. Ulangi pertanyaanmu.”

Yunhee mendesah panjang lalu mengacak rambutnya. “Kubilang tidak apa-apa, anggap saja aku tidak pernah—”

“Mencoba kabur?”

Pandangan Yunhee tertuju pada piring roti di hadapannya tanpa berani membalas tatapan Jongin. “Aku hanya… ingin tahu apa laki-laki dingin macam dia juga ikut summer vacation.”

Jongin mendengus kesal lalu memasukkan ponselnya ke saku celana. “Persetan dengan dia.”

“Aku ‘kan hanya penasaran, Jong. Kenapa? Kau cemburu?”

Baru saja lelaki itu hendak mengambil tegukan pertama air mineralnya ketika perkataan Yunhee menusuk telinganya.

Apa katanya? Cemburu?

Dan ia tidak sanggup lagi untuk tidak menyemburkan kembali air yang nyaris diteguknya.

“Ya! Kim Jongin!”

“Apa maksudmu dengan cemburu?!” Wajah Jongin memerah, termasuk kedua telinganya.

Yunhee terkikik pelan sebelum akhirnya tertawa terbahak-bahak melihat tampang Jongin yang terlihat seperti perampok yang tertangkap basah tengah merampok rumah keluarga polisi.

“Ya! Jung Yunhee berhenti tertawa!”

“Mukamu… mukamu… hahaha !@$&#^%!&#$@&# Perutku sakit sekali Jong, hahaha!”

“Berhenti tertawa kau sialan!”

Dengan gusar Jongin meletakkan gelasnya dengan sedikit kasar lalu berlalu menuju kamar mandi, meninggalkan Yunhee yang masih terbahak nyaris terjungkal dari kursinya.

“Kau lucu sekali, Jong! Sungguh!”

Dan…. siapa yang tahu di dalam kamar mandi sana Jongin tengah mati-matian menahan diri untuk tidak berteriak meluapkan emosi? Ya, dia malu. Malu sekali sampai rasanya mau mati saja. Dasar Kim Jongin bodoh.

***

“Kakimu sudah tidak apa-apa?” tanya Jongin begitu Yunhee melangkahkan kaki keluar apartemen dan mengunci pintunya.

“Lebih baik khawatirkan wajah tak terkontrolmu itu, Jong,” sahut gadis itu menahan tawa.

“Ya!” Bibir Jongin mencibir kesal sebelum akhirnya menahan pundak gadis itu ketika Yunhee hendak melangkah menuruni tangga.

Terkekeh pelan, Yunhee menoleh menatap Jongin. “Aku sudah tidak apa-apa, percayalah.”

“Aku hanya takut tiba-tiba kakimu sakit lagi dan kau jatuh terguling, untuk kedua kalinya.”

“Tidak akan kok.”

Jongin mendengus pelan. “Kenapa kau begitu yakin?”

Mengerling sekilas, Yunhee mengembangkan senyum manisnya. “Kan ada kau. Selagi ada Jongin di sampingku maka aku akan baik-baik saja, bukan begitu?”

Dan, lagi-lagi, Jongin merasakan wajahnya kembali memerah. Oh, ayolah. Apa-apaan ini? Kenapa Yunhee tiba-tiba saja jadi pandai merayu? Haruskah ia menyalahkan Sehun? Sial. Kenapa juga tiba-tiba pikirannya menikung pada Sehun. Bodoh.

“Sudah ayo, kau belum mandi sejak kemarin sore ‘kan? Ugh.”

Jongin melirik tajam lalu kembali mencibir. “Ini gara-gara kau, tahu?”

“Memangnya aku yang memaksamu untuk menginap di sini?” Gadis itu menggedikkan bahu acuh tak acuh lalu meniti tangga ke bawah; meninggalkan Jongin yang mencak-mencak di sana.

“Ayolah Jong, aku memperlambat segalanya.”

“Semua butuh waktu, tahu?”

Hah, kalimat ini. Yunhee mendelik tajam lantas mendengus. “Jangan meng-copy ucapanku, Jong. Dasar tidak kreatif.”

Jongin mengangkat kedua bahunya lalu melangkah menyusul Yunhee yang hanya berjarak dua anak tangga menuju lantai dasar.

“Ya! Tunggu aku!” seru Jongin.

“Siapa suruh kau lambat, bwekk.”

“Aku tidak lambat, kau saja yang berjalan terlalu cepat!”

“Aku hanya berusaha menghemat waktu, tahu?”

“Untuk apa? Hari ini ‘kan libur jadi—”

“Anak muda kau berisik sekali.”

….Nenek Cha?

Yunhee sesegera saja mengecek arlojinya dan… yak, ini masih pukul delapan pagi, dan ia keluar apartemen berdua dengan laki-laki? Sial, semoga saja Nenek Cha tidak berpikiran yang tidak-tidak sehingga ia—

“Kalian habis tidur bersama?”

Mampuslah kita untuk yang kedua kalinya. Oh shit.

Yunhee mencoba menjawab pertanyaan tidak masuk akal dari Nenek Cha tatkala Jongin malah melongo dengan bodohnya. Wajahnya merah dan Yunhee sama sekali tidak peduli.

“Tidak Nenek Cha! Ini… kejadiannya tidak seperti itu, kami hanya—”

“Hei, Injung-ah! Apa semalam kau tidur berdua dengan suamimu?” Nenek Cha tiba-tiba saja menoleh ke samping, ke dalam apartemen Injung yang ternyata pintunya terbuka dengan lebar.

Tak lama Injung muncul bersama dengan Bamju yang ada digendongannya. “Apa?”

“Apa semalam kau tidur dengan suamimu?”

Injung mengerutkan kening, “Apa maksud pertanyaanmu, Nek?”

“Ah tidak, hanya saja…,” Nenek Cha terdiam sejenak lalu menoleh ke arah Yunhee dan Jongin lantas berbisik dengan suara keras. “Kedua anak ini baru saja tidur berdua, kalau kau mau tahu.”

Oke, siapa pun tolong bunuh kami sekarang juga! jerit Yunhee dalam batinnya yang serasa nyaris meledak.

Dengan gelagapan Yunhee mencoba menghindari kesalahpahaman ini tapi Injung dan Nenek Cha malah asyik cekikikan dan saling bertukar kalimat yang sama sekali tidak dimengerti olehnya.

“Kami sama sekali tidak melakukan apa-apa, sungguh! Kami bersahabat dan dia hanya berniat untuk menjagaku karena…”

Injung berhenti bercekikik lalu menoleh ke arah Yunhee dengan pandangan menggodanya. “Karena apa, Yun? Ayolah, tidak ada yang perlu disembunyikan, kau kan sudah 15 tahun jadi sudah pantas untuk melakukan hubungan—”

“Ya! Kami sama sekali tidak melakukan apa-apa!” tukas Yunhee dengan wajah yang mulai memerah menahan malu.

“Kami hanya sebatas sahabat, tidak lebih!” lanjutnya dengan tegas.

Dan sepersekian detik kemudian Yunhee baru saja menyadari bahwa apa yang dikatakannya sangatlah fatal. Amat fatal, sampai akhirnya Jongin melengos keluar meninggalkan apartemen tanpa bicara lebih lanjut, mengabaikan Yunhee yang berteriak menyerukan namanya.

Apa ia… harus kehilangan sosok itu lagi?

Tidak, tentu saja tidak. Kesalahan yang sama tidak boleh terulang lebih dari sekali.

Ya! Kim Jongin tunggu!”

Yunhee berlari cepat mengejar lelaki itu yang beranjak menjauh, mengacuhkan tatapan heran dari orang-orang di sekelilingnya.

“Kim Jongin, tunggu! Kau bilang… kau bilang kau tidak mau egois lagi…?” tanyanya di sela-sela napasnya yang tak beraturan.

Dan bersyukurlah ia, Jongin lantas berbalik dan menatap Yunhee dengan ekspresi datar.

“Jongin kau kenapa lagi?” tanya Yunhee setelah berhasil menyamai langkahnya dengan Jongin.

Mendengus kesal, Jongin membuang pandangannya dari wajah Yunhee. “Tidak aku hanya—”

“Aku tidak bermaksud, sungguh…. Maksudku, perkataanku yang terakhir itu—”

“Lupakan.”

Yunhee mendongak mencoba menebak ekspresi Jongin.

“Lupakan saja.”

“Eh?”

Lelaki itu menghela napas panjang lalu mengacak rambutnya yang sudah berantakan. “Ini bukan salahmu.”

“Lalu kenapa kau marah…?” Nadanya terdengar ragu, takut-takut Jongin kembali pergi meninggalkannya.

Tapi nyatanya lelaki itu masih di sana, bergeming dengan bibir terkatup rapat.

“Aku hanya membenci fakta yang hadir di antara kita.”

Yunhee tidak mengerti, ia menuntut penjelasan, tapi Jongin enggan meneruskan kalimatnya.

“Sudah, ayo. Jangan buang-buang waktu lagi, tubuhku sudah lengket.”

Dan selama beberapa waktu ke depan, keheningan lagi-lagi mengambil alih suasana. Terus, langkah demi langkah yang mereka rajut terasa begitu sepi tanpa kata-kata yang meluncur dari mulut masing-masing.

Sampai akhirnya mereka sampai di rumah Jongin—masih dalam kesenyapan yang menggerogoti.

***

Waktu berputar begitu cepat, dan dua minggu terlewati begitu saja.

“Sudah semuanya?”

Hingga kini Yunhee menatap koper biru tuanya—yang sempat digunakan ketika pindahan—lalu mengerutkan kening. Otaknya sibuk berputar mencari sesuatu yang tertinggal, ketika tiba-tiba saja Jongin yang tengah berdiri bersandar di kusen pintu bercetus singkat.

“Ponsel.”

“Ah ya! Benar!” Segera saja gadis itu meraih ponselnya yang diletakkan di atas buffet lalu mengulas senyum. “Sudah siap!”

Jongin mengangguk sekilas lalu berjalan keluar. “Coba cek sekali lagi,” sarannya begitu Yunhee hendak mengunci pintu apartemen.

“Sudah, semuanya sudah siap. Bagaimana denganmu?”

“Aku sudah menyiapkan semuanya sejak dua hari yang lalu, Nona,” sahut Jongin dengan nada mengejek lalu menuntun Yunhee menuruni tangga, mengawasi kali-kali saja gadis itu tersandung lagi dan terjungkal sehingga seluruh isi kopernya termuntahkan keluar.

Ah, jangan sampai itu terjadi.

Memalukan sekali.

“Nenek Cha! Injung Eonni!” panggil Yunhee sesampainya ia di lantai dasar.

Tak butuh waktu lama untuk mereka keluar, memberikan ucapan selamat jalan kepada tetangganya yang hendak pamit pergi bervakansi bersama teman seangkatannya.

“Hati-hati di jalan, Yun!” kata Injung seraya tersenyum lebar, ia menyenderkan punggungnya di pintu apartemen seraya melipat tangan di depan dada. “Jangan hanya asik berkencan, pemandangan di sana sangat indah, sayang jika dilewatkan.”

Dan seketika wajah Yunhee memerah, begitu pula Jongin yang mendadak menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.

“Dia bukan kekasihku, Eonni. Sudah kubilang, dia sahabat—”

“Bukan dia maksudku, Yun. Tapi lelaki yang tinggal di seberang apartemenmu itu.”

“Eh?” Yunhee tertegun, perasaan aneh tiba-tiba saja menjalari tubuhnya begitu ia sadar siapa yang dimaksud Injung. “Oh Sehun?”

Bagaimana Injung tahu kalau—

“Ya, tentu saja. Ia sudah berangkat lebih pagi tadi, dan pamit untuk menitipkan kunci apartemen.”

“Ah, begitu….” Yunhee mengulas senyum kecil, sedangkan Jongin hanya terdiam lalu menarik kedua bibirnya menarik senyum simpul.

“Kalau begitu kami berangkat,” putus Jongin akhirnya, lantas menarik Yunhee keluar apartemen.

“Ibumu yang akan mengantar ke sekolah?” tanya Yunhee begitu retinanya menangkap sebuah mobil sport yang terparkir di depan gedung apartemen; menatap seorang wanita paruh baya yang setia menggelayuti kesan ramah di balik kerutan wajahnya.

“Tentu saja, mana mungkin kita ke sekolah naik bus ‘kan? Apalagi barang bawaan kita kan banyak.”

Yunhee tersenyum manis dan membungkuk hormat. “Selamat pagi, Nyonya Kim.”

Ibu Jongin tersenyum ramah lalu mempersilahkan keduanya masuk.

“Kau sudah pamit dengan Ibumu, Yun?”

“Tentu saja.”

“Baguslah kalau begitu, tidak ada barang yang tertinggal?”

“Kurasa tidak.”

Mengulas senyum lagi, Ibu Jongin menancap gas, membiarkan mobilnya melaju lancar menyusuri jalan kota yang dipadati kendaraan beroda empat.

Selagi Yunhee melemparkan fokus pandanganya keluar jendela, Jongin membiarkan gadis itu menjadi satu-satunya objek yang ditangkap retinanya; membiarkan iris coklatnya menatap setiap lekuk wajah gadis itu yang diam-diam selalu dikaguminya.

Tidak, ia sudah jatuh terlalu jauh, dan ia tak lagi sanggup mengangkat diri untuk bangkit dan meninggalkan perasaan yang diam-diam menggelayut di hatinya.

Ya, ia sudah jatuh cinta terlampau dalam.

Salahkan takdir yang membuat ini semua di luar rencana, sehingga Jongin hanya mampu termenung dan menyerukan isi hatinya dalam kebisuan semu.

***

“Hah, ini melelahkan, sungguh.”

Yunhee merenggangkan tubuhnya yang serasa terlampau pegal, duduk di dalam bis selama berjam-jam memang cukup menguras tenaga. Dan kini sudah nyaris empat jam ia terperangkap di dalam bus keparat ini. Menatap keluar jendela bahkan tidak meringankan rasa jenuh yang mendera kepalanya.

“Sudah hampir sampai, Yunhee-ya,” ujar Hanna yang duduk di depannya. Gadis itu menoleh ke belakang, menumpukan tubuhnya dengan lutut yang bertopang dengan kursi.

“Hah, syukurlah.”

Diam-diam gadis itu melirik Jongin yang duduk di samping Yunhee, memperhatikan lelaki itu yang sedari tadi asik mengutak-atik ponselnya.

“Ya! Kim Jongin, berhenti bermain ponsel! Kau terlihat seperti orang idiot,” sergah Yunhee jengah seraya menyenderkan kepalanya ke jendela.

Baru saja Yunhee hendak melanjutkan keluhannya ketika tiba-tiba tanpa disengaja, iris coklatnya menangkap sesosok lelaki bertubuh semampai di seberang sana. Dia yang tengah tertidur dengan topi menutupi wajah, membuat Yunhee menyadari bahwa lelaki itu cukup menarik bagi para gadis.

Lelaki itu.

Oh Sehun.

“Apa yang kaulihat?” tanya Jongin seraya menggunakan earphone-nya.

Yunhee cepat-cepat menoleh ke arah lain dan berlagak seolah-lah tidak terjadi apa-apa. “Tidak, hanya sedang melamun.”

“Melamun?” Jongin menaikkan sebelah alisnya.

“Oh ya Hanna, bagaimana dengan pembagian kamarnya?” Yunhee beralih menatap Hanna yang masih menoleh ke belakang.

Gadis bersurai emas sebahu itu tersenyum manis lalu berujar, “Sudah kuurus. Kita akan sekamar loh!” jawabnya antusias.

“Benarkah? Hwaa, dengan siapa lagi? Hanya berdua?” Yunhee mengembangkan senyumnya, tanda bahwa ia juga antusias, sama seperti Hanna.

“Kita berdua, lalu ada Yerim, dan Songhye,” jawabnya lalu melirik menatap Yerim yang duduk di sampingnya.

Yunhee bertepuk tangan tanpa sebab; sepertinya untuk menyalurkan rasa antusiasnya lalu beralih menatap Yerim yang kini ikut menoleh ke belakang.

“Kita akan sekamar, hore!” seru Yunhee senang.

Sedang Yerim hanya menarik seulas senyum simpul, gadis itu lebih memilih untuk kembali menoleh ke depan dengan alasan bahwa ia pemabuk darat. Takut muntah, katanya.

“Omong-omong, aku membawa UNO loh,” lanjut Hanna dengan suara rendah.

Nyaris saja Yunhee menjerit senang, ia kembali bertepuk tangan tanpa sebab. “Hwaa, apa kamar kita berdekatan dengan kamar laki-laki?”

“Hm, kamar laki-laki berada di dua sedangkan kita berada di lantai satu.”

“Haaa, benarkah? Ini pasti seru!”

Baru saja Hanna membuka mulut hendak menyahut ketika Mrs. Hwang mengambil pengeras suara dan mengatakan bahwa sekarang mereka sudah sampai di Byeonsan Beach.

Oh, surga!

Yunhee kembali menahan jeritnya dan menoleh lagi ke arah Hanna. Well, setidaknya kini ia mendapat teman perempuan, bukan?

Jongin melepas earphone-nya lantas mengembangkan senyum. “Kita sudah sampai!” ulangnya.

Gadis itu kembali menjerit sebelum bangkit berdiri; merenggangkan badannya yang nyaris remuk dan mengantri untuk turun dari bis. Dan sekilas, hanya sekilas, pandangannya kembali tertumbuk pada sesosok lelaki yang sekarang sedang merapikan kemejanya yang lecek; memasang kembali topinya menutupi surai hitam kelamnya dan ikut berbaris mengantri giliran.

Tersenyum kecil, Yunhee membiarkan pandangannya bersirobok dengan Sehun sejenak sebelum akhirnya turun dari bis dan merentangkan tangannya lebar-lebar.

“Welcome to Byeonsan Beach!” serunya lantang, dan Jongin hanya mampu meliriknya dengan pandangan yang tak terdeskripsikan.

“Ssst, jangan membuat malu, tolong,” bisiknya sangat pelan ke telinga Yunhee, membuat rona merah menghiasi pipi gadis itu.

“Ya! Apa maksudmu, sialan!” seru Yunhee kesal, sedangkan Jongin tertawa lepas.

“Anak-anak bereskan dulu baju dan kopermu baru bermain! Jangan tinggalkan tanggung jawab kalian atau kopermu akan Saya lempar ke tengah laut!” seru Mrs. Hwang yang kewalahan tatkala para murid langsung berlari ke arah laut tanpa mempedulikan barang bawaan mereka di bagasi bis.

Yah, persetan dengan itu semua.

Sebab sekarang saatnya bergembiraaa! Selamat datang di surga para murid!!

***

“Ya! Kim Jongin, aku tidak mau!” seru Yunhee seraya menggeleng-geleng begitu Jongin menarik lengannya menuju laut.

Jongin yang kini sudah melepas kausnya malah tertawa dan menarik gadis itu lebih kuat. “Tidak apa-apa! Ada aku, kau tidak akan hanyut kok.”

“Haish, bukan masalah hanyut, aku hanya tidak mau main basah-basahan!” sergah Yunhee lalu mencoba melepas cengkraman Jongin yang terlampau kuat.

“Memang kenapa? Bukannya ini tujuan kita ke sini?” Jongin tertawa, lagi.

“Jongin, kubilang aku—”

“Hoi! Jung Yunhee! Mau bergabung bersama kita?” panggil Hanna tiba-tiba. Lantas Yunhee menoleh dan mendapati Hanna tengah bermain voli di lapangan pantai.

Tersenyum lebar, Yunhee melirik Jongin lalu menjulurkan lidahnya. “Bermain voli jauh lebih menarik,” ujarnya lalu berlari menghampiri Hanna, sedangkan Jongin terkekeh.

“Ya Kim Jongin, kau tidak mau ikut berenang?” Baekhyun menghampiri lelaki itu lalu menepuk punggungnya dengan akrab.

“Tentu saja, ayo!” Jongin berlari menuju laut dan membiarkan riak-riak air menyapa kakinya sedikit demi sedikit, terus hingga menyentuh ujung-ujung celananya.

“Kim Jongin!!”

Seruan Chanyeol membuat Jongin menoleh ke belakang, dan.. sial! Tiba-tiba saja lelaki jangkung itu malah mendorong punggung Jongin keras-keras, membuat Jongin mau tak mau tersungkur jatuh dan membasahi setengah badannya.

“Ya! Sialan kau Park Chanyeol!” seru Jongin lalu menciprtakan air laut ke wajah lelaki itu, walau tetesnya tidak sanggup mencapai wajahnya karena postur tubuh yang terlalu tinggi.

Chanyeol tertawa puas, Baekhyun nyaris terjungkal kebelakang saking semangatnya terbahak menertawai Jongin. Dan Yunhee, yang sedari tadi memperhatikan sahabat lelakinya itu ikut tertawa, begitu juga Hanna yang bahkan sampai lupa mengoper bola dan membuat timnya kalah satu poin.

“Rasakan itu Kim Jongin!” teriak Yunhee seraya menangkis bola dengan tangkas, tak peduli apa teriakannya akan sampai ke telinga orang itu atau tidak.

“Ya! Yunhee, tangkap!”

Yunhee kembali menangkis bola, tangannya bergerak lincah tanpa beban, berayun tinggi dan melambungkan bola dengan gesit.

Sampai akhirnya permainan dimenangkan oleh tim Yunhee, dan semuanya bersorak—lagi-lagi—tanpa sebab yang jelas.

***

“Lelah?” tanya Jongin begitu ia melihat Yunhee hanya duduk-duduk di pinggir pantai, mengamati teman-temannya yang tengah bermain air di tengah sana.

Tersenyum kecil, Yunhee menggeleng. “Tidak, ini ‘kan baru hari pertama.”

Jongin terkekeh lalu mengusap sekilas puncak kelapa Yunhee. “Benar, masih banyak yang harus kita lakukan.”

“Termasuk mengumpulkan data untuk laporan,” tambah Yunhee, membuat Jongin mengeluh malas.

Tak lama keduanya terdiam, memperhatikan para murid lain yang asik dengan kegiatan masing-masing; ada yang sedang berenang, berlomba-lomba mencari kerang; bahkan ada yang tengah berjemur di bawah terik matahari.

“Hah, sudah jam satu ya, tidak terasa…,” gumam Jongin sayup-sayup.

Melirik sedikit, Yunhee hanya menghela napas lalu merentangkan tubuhnya. Diam-diam ia kembali mengarahkan retinanya kepada lelaki yang sedari tadi diperhatikannya; Oh Sehun—lagi.

Lelaki itu mendudukkan diri di kursi kayu seraya bertopang dagu dengan ekspresi datarnya, memperhatikan riak ombak tanpa minat sama sekali.

“Ada apa?” tanya Jongin membuat Yunhee sedikit gugup, takut-takut Jongin menangkap basah dirinya yang tengah memperhatikan Sehun.

“Tidak apa-apa, hehe.”

Yunhee melengoskan tatapannya ke Hanna yang tengah melambaikan tangan padanya; mengajaknya untuk ikut bergabung, tapi Yunhee menolak dengan satu gelengan halus dan beralasan bahwa ia sedang dalam periodnya. Maksudnya, kau tahu ‘kan? Yah, para gadis pasti tahu.

Jongin kembali mengusap rambut Yunhee sejenak sebelum bangkit berdiri dan melakukan peregangan sebentar. “Aku mau menyusul Baekhyun dulu, ya?”

Yunhee mengangguk tegas lalu kembali memusatkan perhatian ke arah laut. Sore masih lama, dan ia tidak tahu harus melakukan apa. Diam-diam ia ingin menghampiri Sehun dan mengajak lelaki itu berbincang, memastikan bahwa lelaki itu tidak bisu dan tidak lupa bagaimana caranya untuk berinteraksi.

Tapi ketika jarak yang terbentang hanya tinggal 10 meter, tiba-tiba saja ponsel lelaki itu berdering nyaring, sesegera saja Sehun mendekatkannya ke telinga dan berbicara beberapa patah kata.

Lama lelaki itu terdiam, masih dengan sambungan telepon yang terhubung. Membuat Yunhee menghela napas kecewa dan beranjak kembali ke tempatnya, takut mengganggu privasi lelaki itu dengan si lawan bicara.

Satu langkah, dua langkah, tiga langkah. Tepat pada langkah keenam yang diambilnya, sebuah seruan memanggil namanya membuat Yunhee berbalik.

Matanya bersirobok dengan Sehun; lelaki yang ternyata memanggilnya.

“Ya?” tanya Yunhee antara tak percaya dan takut salah dengar. “Kau memanggilku?”

“Tentu saja, memangnya ada Yunhee yang lain?” sahut Sehun dengan sedikit ketus, membuat Yunhee mendengus kesal.

“Ada apa?”

Sehun kembali mendudukkan dirinya lalu bertopang dagu, menatap garis cakrawala yang melintang luas di ujung sana. “Aku bosan.”

Oh well—jadi sekarang ceritanya ia harus membunuh rasa bosan lelaki itu?

“Siapa suruh tidak ikut bermain?” Yunhee melipat kedua lengannya di depan dada dan menumpukannya di atas meja. Untung saja ada payung yang menaungi keduanya sehingga mereka terhindari dari terik matahari.

“Tidak menarik, dan pastinya jauh lebih membosankan.”

Mendengus lagi, Yunhee melirik lelaki itu. “Lalu apa yang kau mau?”

“Temani aku ke resort.”

“Eh? Untuk apa?”

“Kudengar di sana ada practice room.”

Sebelah alis Yunhee berjinjit ke atas. “Lalu?”

“Temani aku ke sana, sebelum aku mati kebosanan.”

Dan Yunhee sama sekali tidak mengerti. Pertama, ia tidak mengerti mengapa Sehun tiba-tiba saja mengajaknya. Dan kedua, ia tidak mengerti mengapa Sehun ingin pergi ke practice room. Dia ingin senam? Atau berjoget ria? Atau—

“Sudah ayo cepat, kau lama sekali.”

Ya! Oh Sehun!” jerit Yunhee ketika tiba-tiba saja Sehun menarik pergelangan tangannya, menuntun gadis itu menuju resort yang berada tidak terlalu jauh dari posisi mereka sekarang.

“Kita akan pergi ke sana?”

“Tentu saja, bodoh.”

Ya! Aku tidak bodoh, sialan.”

Sehun mendengus pelan. “Jangan banyak bicara, kau ini cerewet se—”

“Jung Yunhee, kau mau kemana?”

Yunhee tersentak ke belakang begitu suara familiar itu memanggilnya. Matilah ia.

“Oh Sehun?” Jongin menaikkan sebelah alisnya.

“Oh, Kim Jongin.” Tersenyum datar, Sehun sama sekali tidak berniat cengkramannya di lengan Yunhee. “Ada apa?”

“Kau… masih bertanya ‘ada apa’ ketika kau menarik paksa Yunhee seperti itu?” Diam-diam Jongin berusaha keras menahan emosinya yang nayris memuncak, mengacuhkan Baekhyun yang berdiri bergeming di sampingnya.

“Lalu? Masalahnya untukmu?”

Yunhee menelan ludah dengan tegang. “Jongin-ah, dia hanya—”

“Persetan!” Tangannya terkepal kuat, menunjukkan betapa marahnya ia sekarang. “Dan kau membela dia?” Suaranya bergetar, membuat Yunhee gugup setengah mati.

“Kenapa kau menerima ajakan dia ketika kau sama sekali tidak menerima ajakanku?”

Pertanyaan sederhana, tapi entah mengapa sanggup membuat Yunhee mematung dengan gemuruh di dadanya. Gadis itu meremas ujung gaun tipisnya dengan bibir terkatup rapat; kebisuan yang menerjangnya membuatnya semakin tersiksa di tengah atmosfir tidak bersahabat ini.

“Lalu selama ini apa artinya kata ‘sahabat’ yang selalu kau sematkan di antara kita?”

“Maaf, Jong… aku hanya—”

“Persetan!” Jongin mendengus gusar lalu berlalu meninggalkan keduanya, mengabaikan Baekhyun yang kewalahan mengejarnya.

“Tunggu! Kim Jongin! Aku hanya—”

.

.

— TBC —

Bonus : Byeonsan Beach pic.

#Kebayang gak sih pantai ini rame abis gegara Yunhee Jongin Sehun dkk?

Byeonsan Beach [2]

Daemyung Resort

#Iya ini keren. Tau kok.

3269985

.

.

[A/N] : Kali ini singkat aja, your comment is my oxygen. Keep RCL and laffyu to the moon and back! Thankseuuu! Dan mohon maaf kalau banyak kesalahan, terutama dalam penggambaran suasana dan tempat :”)

PS : Fighting buat yang mau UN ^_^)99 God bless yaa 🙂

Iklan

268 respons untuk ‘Everything Has Changed (Chapter 5)

  1. Keselll sama jonginnnnnnnn
    Kenapa gak blg aja kalo dia suka atw bahkan cinta sama yunhee!!!! Ngeselin sumpah
    Yunhee jga, blg aja kalau suka #haduh anak jaman sekarang
    -lah gw anak jaman kapan-

    Intinya gw sebel ama jong in titik tanda seru 3 kali

  2. Krennn bngettt thorr resortt nyahhh^^ author pintar nyari rec tmpat ff…daevak chap ini thorr..tpi knp si jong ama yun konflik mulu sih? Sbentar2 baikan sbentar2 marahan lagi..ckck..tak patut-,-
    Keep writee yaa thorrr><

  3. Bertengkar lagi -_-
    Sebenernya yg egois dan kekanakan itu siapa sih? Kenapa disini lebih terlihat kalo jongin yg lebih egois
    Enak bgt deh liburannya di tempat keren kyk gitu, korea sih soalnya

  4. next yah kak , smgt ngelanjutin yah , jongin cpt marah yah , huh. sehun org nya g dingin” amat kok ma yun hee , udh nuadar suka x?

  5. yakkkk Kai seharusnya kamu ngerti dong kalau perempuan itu selalu punya tamu begitu juga dengan Yunhee .
    oh astaga masa kamu cemburu sih Kai …
    terus si Yunhee itu sebenarnya suka sama siapa Kai atau Sehun..???
    sabar ya bang Kai, Yunhee gak bermaksud kaya gitu sama kamu cuma kamu nya aja yang kurang memahami keadaan wkkwwkk…
    aduhhh ak komen terus baca sendiri kok gaje ya…???
    ya udah dari pada gak komen lebih baik gaje tapi komen wkkwkwkw….
    ijin baca kelanjutannya dulu ya…

  6. Ow ada yang cemburu tapi ga berani ngaku, dan ada yang bingung dengan perasaannya.
    Sehun apa maunya dia, apa dia juga menyukai Yunhee? Kira – kira apa yang akan terjadi disana, apa ada yang menyatakan cinta pada Yunhee..?? Penasaran!

  7. Oh well, Nike aku datang lagi!!

    Oke, akhirnya mereka liburan yah 😀 /aduh, jadi inget masa-masa study tour, sayangnya aku enggak bisa enjoy padahal seru -_-/

    Ah ya, sebelumnya itu, Yunhee kenapa coba? Aku mencoba untuk nggak berpikiran aneh, tapi kok ada perasaan Yunhee kenapa-kenapa, dan mungkin di chap selanjutnya tahu-tahu nanti Yunhee dalam keadaan nggak baik (maksudnya, dia nggak sakit kan?) well, huhu sikapnya Jongin jadi ngingetin aku sama sikap temenku /sama cowok, sayangnya dia udah pindah keluar kota TT_TT) Jongin baiknya minta ampun 🙂

    OH NIKE KAMU MEMBUAT JANTUNGKU BERDETAK NGGAK NORMAL! Ada apa sama Injung dan Nenek Cha, eoh? Itu, yah, percakapan mereka lawak banget XD aku nggak tahu kenapa ini antara nyindir atau cuma buat lelucon.

    “Ayolah, tidak ada yang perlu disembunyikan, kau kan sudah 15 tahun jadi sudah pantas untuk melakukan hubungan—”

    Hell, otakku mulai error Nikee /untuk inget yah besok masih puasa XD/ etapi tapi tapi, aku bener-bener ngerasa sikap Nenek Cha sama Injung beda banget kalau ke Jongin―yah, dibandingkan sama Sehun lho ya. Nih ya jujur aku lama-lama kasihan sama dia, lho. Nike, Jongin cemburu tingkat dewa yah sama Sehun?

    Nike, sudah segini saja dulu yaa. Otakku lagi error mendadak nih (nggak tahu kenapa -_-) maaf kalau comment-ku enggak mutu. NIKE ALWAYS SEMANGAT YAH! KEEP WRITING AND LAFFYA ❤

    PS: hati-hati sama typo ❤ ❤ ❤

    1. Hallow (again) Kiaaa 😀 (ceritanya kali ini Nike-nya lebih kalem) (mau nyisipin capslock di awal komentar tapi gak jadi EHEHEHE)

      Iyaa aku juga jadi inget masa-masa study tour pas nulis ini :”) Manalagi pas study tour itu… aih banyak banget kenangan tak terlupakan ❤ (kecuali kalo amnesia atau kanker otak ya itu lain permasalahan). Dan… ADUH AKU JUGA GAK BISA ENJOY KI BTW. WALAU BANYAK KENANGAN TAPI………. ya yuknow. Girls' problem. On period. :") /sobsobs/

      AHAHAHA Iya Yunhee emang.. dia agak gak stabil. Penyebabnya bisa kamu baca di chapter selanjutnya (aku lupa tepatnya chapter berapa ngahahaha) /promcol. promosi colongan/. Aihaih kamu punya temen cowok sebaik Jongin? :" Envy. Temenku mayoritas cewek…. UoU aku orangnya agak susah bergaul sama cowok, baru akhir-akhir ini aja rada terbuka gituuu. Biasanya mah interaksi sama cowok cuman yang semacam "pakabar?" "oh elu masih napas." "nanya jam dong. jam gue rusak." HAHAHAHA. Ya kaku gitu lah. Terus kelu gitu kadang. (bukan berarti suka ya hoho, cuman canggung aja).

      Haduhduh itu aku gak ada niatan nulis konversasi itu sebenernya (lagi-lagi scene tak terduga). Semuanya ngalir gitu aja dan tiba-tiba jadi kayak gitu :" soal orang mau mikir ke mana aku gak tanggung jawab ya HAHAHA.

      Yang kamu maksud soal sikap Nenek Cha sama Injung ke Jongin itu.. maksudnya kayak semacam gak akrab gitu atau…? Sebenernya aku gak ada niatan mau bikin sikap kayak gitu btw .-. tapi karena aku agak bingung sama percakapan mereka (yang notabene emang kurang deket kan secara jongin cuman tamu) jadi awkward gitu ya .-. Dan ngomong-ngomong, KIA KAMU PEKA BANGET YA. Aku aja gak terlalu menotice hahahaha. Terus soal sikap Jongin yang terkesan agak labil itu, aku cuman pengen bikin karakter dia kayak anak-anak remaja jaman sekarang yang labil bangettt (kalo kamu mau tau sih. tbh sikap dia ini terinspirasi dari someone-nya temenku :3 ngahahaha) makanya emosinya suka meledak-ledak, tapi bisa sweet banget kalo dalam kondisi yang bagus. Nah. Sayangnya mungkin aku rada gagal. Yah. Entahlah.

      Dan please sekali lagi, komenmu ini mutu sekali Kia gak kayak komenanku yang isinya jiwa fangirl semua isinyaa :"D KEEP WRITING TOO EYAPSS TAZKIAAA

      SOAL TYPO MOHON… abaikan saja. Silahkan salahkan keyboard dan jemari :")

    2. Ohiya aku jadi ikut-ikutan lupa wkwkkwwk. Soal pw minta di twitter aja kalo misal kamu butuh(?) dm sajah dm :3 okeokesip phaaay tazkiaaa :*

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s