DON’T GO, BABY [Chapter 1]

DON’T GO, BABY

 

don't go baby

            Title : Don’t Go, Baby [ Chapter 1] | Author : @durrotunna |

Cast : Xi Lu Han ( EXO M ), Park Nara(OC),Byun Baekhyun (EXO K) | Other Cast : Kim Jongin (EXO K), Park Chanyeol (EXO K), Lee Na Young (OC) , Oh Sehun (EXO K) , Kris Wu (EXO M) , Jung Han Ni (OC) |

Length : Chaptered | Genre : Romance | Rating : PG-15

 

TEASER

“Tuan muda Luhan, apakah kau di sini?”

Mendengar hal tersebut Nara memandang aneh pria yang ada disampingnya. Apakah mungkin yang dicari oleh orang diluar itu adalah pria ini?

“Biarkan aku ke-“

Pria berwajah manis itu mengunci bibir Nara dengan cepat. Membungkamnya dengan ciuman. Nara terkejut bukan main. Ia tak menyangka jika pria itu akan menciumnya. Tangannya berusaha mendorong tubuh pria yang sama sekali tak ia kenal itu. Tapi pria itu malah semakin memojokannya. Ini adalah hal yang pertama bagi Nara. Dengan gampangnya ciuman pertamanya di rengut oleh pria yang tak ia kenal.

 

— Don’t Go, Baby Chapter 1—

Dengan segenap kekuatannya akhirnya Nara dapat menyingkirkan tubuh pria tersebut. Setelah dirinya benar-benar kehilangan nafas tadi.

Luhan terdorong hingga punggungnya membentur dinding. Kedua bola mata Nara berkaca-kaca.

“Apa yang kau lakukan!” ucap Luhan dengan volume yang sangat pelan. Takut jika ada yang mendengarnya di luar sana.

Nara semakin kesal kepada pria yang tak ia kenali ini. Dengan santainya berkata seperti itu setelah menciumnya tadi.

“Apakah ada orang di dalam?”

Suara barusan membuat Nara dan Luhan saling menatap. Tangan Nara hendak membuka knop pintu yang berada di sampingnya itu. Tapi Luhan malah menahannya.

“Katakan jika tidak ada orang selain dirimu di sini.” Ucap Luhan tepat disamping telinga Nara. Membuat Nara sedikit merinding karena nafas hangat Luhan yang mengenai telinganya.

“Kau pikir-“ Tangan Luhan meraih dagu Nara. Mencengkeramnya sedikit kasar. Wajahnya ia dekatkan dengan wajah Nara. Hingga keduanya bisa melihat refleksi diri masing-masing pada bola mata mereka.

“Lakukan jika kau masih ingin hidup.” Sorot mata Luhan yang begitu tajam membuat Nara tak berani melawan.

Nara keluar dari bilik kecil itu. Dilihatnya seseorang yang berpenampilan sangat rapi yang terlihat mondar-mandir sambil memegang ponsel.

“Nona, apakah kau melihat seorang pemu-“

“Maaf, dari tadi aku di sini belum ada yang masuk lagi.”

“Maafkan saya nona sudah mengganggu anda, permisi.”

Pria paruh baya itu keluar dengan cepat. Sebelumnya ia membungkukkan badan kepada Nara. Dan toilet ini kembali tersisa dua orang yang saling tak mengenal itu.

“Apakah dia sudah pergi?”     Pria yang tak lain adalah Luhan yang sedang bersembunyi itu akhirnya keluar.

            Plak..

Tamparan yang cukup keras itu dilayangkan pada wajah tampan pria itu. Dengan mata yang sudah memerah dan sebentar lagi mungkin akan menangis Nara mengusap bibirnya yang basah akibat ciuman paksaan tadi. Ia merasa bibirnya sudah kotor, ternodai.

Luhan masih memegangi pipinya yang terasa panas. Terlihat sesekali ia merintih pelan.Ia benar-benar yakin bahwa gadis yang ada di depannya ini adalah gadis super. Wonder woman mungkin. Kekuatannya tidak bisa diragukan.

“Apa yang kau lakukan!” omel Luhan kepada Nara.

Nara berbalik, langkahnya kini menuju kearah wastafel. Dengan kasar ia membersihkan bibirnya itu dengan air. Baginya ciuman pertama itu penting. Ciuman pertama yang akan menjadi penentu masa depan cintanya nanti. Selama 18 tahun ia menjaganya, tapi saat ini dengan gampangnya di rengut oleh pria yang tak ia kenal.

Luhan menatap heran gadis yang ada di depannya itu. Entah kenapa tadi dia bisa menciumnya. Apakah karena keinginan sendiri atau ..ah dia tak tahu pasti.

Hey, maafkan aku. Kau tidak perlu sampai seperti itu. Di luar sana banyak yang menginginkan ciuman dariku. Jadi kau termasuk orang yang beruntung.”

Nara menggigit bibirnya kesal. Andai saja ia pria itu adalah nasi maka dia akan memakannya langsung. Mengunyahnya berkali-kali sampai hancur lebur.

“Dasar pria murahan!”

“Apa kau bilang? Murahan?”

Luhan terlihat tak terima mendengar ucapan barusan. Baru kali ini ada orang yang mengatakan dirinya murahan. Seumur hidup inilah yang pertama kali.

“Iya, memang kenapa? Bukankah itu benar?”

“Kau..” Ucapan Luhan terhenti saat ponsel yang ada di sakunya berbunyi. Tangannya kini meraih ponsel tersebut.

“Sekarang? Tunggu aku disana.”

Nara masih menatap pria yang tak ia ketahui identitasnya itu.

“Hey gadis lusuh, lupakan kejadian tadi. Dan berdoalah supaya kita tak bertemu lagi. Sampai jumpa.”

Luhan mengedipkan salah satu matanya sebelum pergi. Membuat Nara terdiam terpaku karena terhipnotis ketampanan pria yang menciumnya barusan. Sampai ia tak menyadari jika pria tersebut kini sudah pergi meninggalkannya.

“Dompetku?”

Nara berlari keluar dari toilet. Berharap masih bisa berpapasan dengan pria tadi. Ia masih berasumsi jika pria tadi yang mengambil dompetnya. Kakinya melemas setelah melihat diluar tak ada siapapun. “Bagaimana ini..”

 

***

 

Seorang gadis dengan balutan dress sederhana sedang duduk sambil memandangi foto ada ditangannya. Wajahnya tak terlihat ceria. Seperti ada sesuatu hal yang ia sembunyikan.

Suara pintu yang terbuka membuatnya terkejut. Di singkirkannya foto tersebut dengan cepat. Memasukkannya ke dalam laci mejanya.

“Ibu, kenapa kau tidak mengetok pintu dahulu.” Ucapnya setelah mengetahui seseorang yang masuk barusan.

“Kenapa kau masih ada di sini? Ayahmu sudah menunggu di luar.”

“A-aku akan segera ke sana.”

“Lee Na Young.”

Gadis yang bernama Lee Na Young itu menghentikan langkahnya. Dirinya kembali menatap ke arah Ibunya. “Ne?”

“Jangan pernah kau menunjukkan hubunganmu dengan Baekhyun di depan umum. Terutama Kakek, kau mengerti apa akibatnya kan?”

Hati Na Young terasa sakit mendengar ucapan Ibunya. Kedua matanya sedikit memanas. Ditariknya nafas dalam-dalam. Bibirnya mencoba untuk tersenyum kecil.

“Aku mengerti. Kau tak perlu khawatir.” Na Young berjalan mendahului Ibunya tapi dengan cepat Ibunya menahan lengannya.

“Aku tak ingin kau membuat kesalahan sekecil apapun. Nasib keluarga kita ada di tanganmu.”

Setelah mengucapkan hal tersebut, wanita paruh baya yang berpenampilan glamor itu meninggalkan Na Young yang masih berdiri mematung.

Ponsel Na Young yang ada di atas ranjangnya berbunyi. Menandakan ada sebuah panggilan disana. Dirinya kini berjalan menuju tempat ponselnya itu. Mengetahui siapa yang menelpon dirinya saat ini,buru-buru ia angkat panggilan itu. Seseorang yang di tentang oleh keluarganya. Tapi dia adalah seseorang yang sangat ia cintai.

Oppa..”

 

 

***

 

Di kerumunan orang yang ada di ujung sana, terlihat pemuda yang serius berbicara dengan seseorang di telepon.

“Nayoung-ah.. kau baik-baik saja?”

“..”

“Aku akan menghubungimu nanti.”

Ia mematikan panggilannya setelah melihat ada seseorang yang kini berjalan kearahnya.

“Maaf tuan muda Baekhyun. Dia kabur lagi. Kami sudah mencari di seluruh bandara ini tapi tetap tidak ketemu. Beberapa petugas bandara juga sudah kami kerahkan. Tapi sampai saat ini masih nihil.”

Baekhyun sudah mengerti sejak mereka pergi tadi. Luhan pasti akan segera kabur setelah mengetahui pasukan dari kakeknya berada di sekitarnya.

“Kalau begitu yasudahlah. Kalian cari dia di klub-klub malam sekitar sini. Ataupun hotel-hotel yang berkaitan dengan grup kakek. Dia pasti tak akan jauh dari situ.” Pria paruh baya itu mengangguk, kemudian pergi meninggalkan Baekhyun.

Tangan Baekhyun menyentuh keningnya. Kepalanya terasa begitu sangat pusing. Mungkin malam ini ia tidak bisa kembali ke Seoul. Padahal dirinya sangat merindukan seseorang disana.

Ia merasa tenggorokannya sangat kering saat ini. Kemudian ia memutuskan untuk membeli minum sebentar sebelum meninggalkan bandara ini. Langkahnya terhenti saat mengetahui ada sebuah benda yang mengenai sepatunya. Diraihnya benda tersebut kemudian memperhatikannya dengan seksama.

“Milik siapa ini?”

—-

Nara berjalan menuju tempat duduknya tadi. Kedua matanya ia buka lebar-lebar. Sepertinya yang ia cari tidak ada.

“Apa yang harus kulakukan..” Ia berjongkok melihat ke arah bawah kursi. Siapa tahu dompetnya terjatuh. Tapi tetap saja ia tak menemukannya.

“Sepertinya hidupku benar-benar akan berakhir.”

Barusan tadi ia teringat jika terakhir membawa dompet itu saat berada di tempat ini. Tapi sekarang sudah tidak ada. Sepertinya hari ini adalah hari tersial dalam hidupnya. Dari terusir dari rumah, ditinggal kakaknya, kemudian kehilangan dompet dan yang paling sial adalah ciuman pertamanya sudah tercuri oleh pria yang tak ia kenal. Ia kini duduk dengan lesu. Tangannya bergerak membuka tasnya.

“Apakah aku harus hidup hanya dengan ini?” ucapnya sambil mengeluarkan barang-barang yang ada di tasnya. Hanya ada notebook ,pensil ,pisau buah,sisir dan ponsel. Hanya itu. Ia bahkan tak memiliki baju ganti sekarang.

Dihapusnya air mata yang membasahi pipinya. Dirinya mencoba untuk kuat. “Kau harus semangat Park Nara. Sampai saat ini kau masih bisa bernafas, jadi Tuhan masih menginginkanmu untuk hidup. Walaupun tak ada uang satu won pun kau masih sehat. Kau masih bisa mencari uang. Semangat!”

Nara bangkit dari duduknya, kemudian mengangkat kedua tangannya. Bibirnya mencoba tersenyum. Tapi kini tubuhnya melemas lagi. Dan kembali terduduk seperti tadi. Pandangan matanya begitu tak bersemangat. “Malam ini aku harus ke mana?”

Seorang pria kini berjalan mendekati Nara. Kemudian duduk di sampingnya. Pria tersebut kini membuka botol minuman yang baru saja ia beli. Kemudian meneguknya perlahan. Nara hanya bisa menelan ludahnya saat melihat pria yang ada di sebelahnya itu menikmati minumannya. Dirinya juga merasa haus saat ini. Tenaganya terasa sudah terkuras habis akibat omelan-omelan tak jelasnya tadi.

Merasa ada yang memperhatikan, pria tersebut memalingkan wajahnya menatap Nara yang dari tadi memperhatikannya itu. Bagi Nara hari ini juga hari keberuntungan, karena dari tadi ia bertemu dengan pria-pria berwajah tampan. Seperti aktor-aktor yang sering ia lihat di drama.

“Apakah ada yang salah?”

Menyadari lamunannya saat ini, Nara buru-buru mengalihkan pandangannya barusan. Kenapa ia bisa sebodoh ini. Itulah yang ada di pikirannya saat ini.

“Ah..tidak ada..tidak ada yang salah..” ucap Nara sambil tersenyum-senyum tak jelas.

Nara melihat ke sekeliling, banyak kursi yang kosong di sini. Tapi kenapa pria ini memilih untuk duduk di sampingnya? Mata Nara melirik ke arah botol minuman yang ada di tangan pria tersebut. ia benar-benar menginginkannya sekarang. Tapi tidak mungkin untuk membeli saat ini. Dapat uang dari mana, dompetnya saja sudah menghilang entah ke mana.

“Paman, bolehkah aku meminta minumanmu?”

Pria yang dipanggilnya paman itu terlihat terkejut. Dirinya masih mencoba mengingat panggilan gadis yang ada di sampingnya itu. Paman? Apakah wajahnya begitu sangat tua? Baru kali ini ada orang yang memanggilnya paman kecuali keponakannya di rumah.

Tanpa menunggu persetujuan pria ini, Nara langsung mengambil botol minuman tersebut. Kemudian meneguknya sampai habis.

Sedangkan pria yang dipanggilnya paman tadi ,yang tak lain adalah Baekhyun masih memandanginya heran.

“Terima kasih paman, maaf aku telah menghabiskannya.” Ucap Nara sambil mengembalikan botol kosong itu kepada Baekhyun tanpa dosa.

“Kau memanggilku paman?”

Nara baru sadar akan apa yang ia ucapkan tadi. Kenapa ia begitu bodoh memanggil pemuda tampan itu dengan sebutan Paman. Ia merutuki dirinya sendiri saat ini.

“M-maafkan aku.. bu-bukan seperti itu..”

“Apakah aku terlihat setua itu?” Baekhyun melepas kacamata hitamnya. Kemudian menatap Nara yang terlihat bingung itu.

Demi apapun, dia benar-benar tampan. Nara sedikit terkesima saat melihat Baekhyun yang baru saja melepas kacamatanya. Entah pikiran dari mana tadi ia bisa memanggil pria yang memberikan minumannya itu dengan panggilan Paman.

“Ti-tidak.. Saat aku melihatmu aku jadi teringat pamanku. Jadi tanpa kusadari aku malah menganggapmu sepertinya.” Bohong Nara kepada Baekhyun. Wajah pamannya tak mungkin setampan ini.

“Oh.. begitu..” Baekhyun menganggukkan kepalanya sebagai tanda mengerti akan ucapan gadis yang ada di sebelahnya itu.

“Maafkan aku, aku juga telah menghabiskan minumanmu. Maafkan aku..” Baekhyun tersenyum tipis. “Tidak apa-apa, sepertinya kau kehausan tadi.”

Keduanya kini terdiam masing-masing. Nara menggerak-gerakkan kakinya yang asal. Sambil sesekali melirik ke arah Baekhyun yang fokus pada ponselnya. Sebenarnya Nara ingin sekali berkenalan.

Terdengar suara pemberitahuan bahwa penerbangan dengan tujuan Seoul baru saja berangkat. Nara yang mendengarnya merasa sangat sedih sekali. Seharusnya ia juga bisa pergi saat ini. Tabungannya ia relakan untuk membeli tiket pesawat. Dan sekarang malah menghilang bersama dompetnya.

“Kau menunggu seseorang?” tanya Baekhyun tiba-tiba kepada Nara.

“Tidak.. aku hanya..” Nara tak tahu harus mengatakan apa. Haruskah ia mengatakan jika ia baru saja kehilangan dompet paspor dan tiketnya? Apakah pria ini akan peduli, lagi pula semua sudah menghilang sekarang.

“Hanya apa?”

“Hanya… bagaimana denganmu? Apa kau lakukan di sini?” Baekhyun mengernyitkan dahinya, ia bertanya malah gadis itu balik tanya kepadanya.

“Sebenarnya aku akan pulang ke Seoul. Tapi karena masih ada urusan di sini jadi kubatalkan.”

Seoul?” Andai saja ia bertemu pria ini dari tadi mungkin Nara bisa pulang sekarang. Bukankah berarti tiket pria ini tak terpakai?

“A-aku sebenarnya juga akan pulang ke Seoul. Tapi tiketku hilang, jadi aku tak bisa pulang sekarang.”

“Benarkah? Kenapa kau tidak membelinya lagi.”

Dalam hatinya Nara merasa sedikit kesal. Bagaimana mungkin ia bisa membelinya lagi. Uang tabungannya saja sudah habis.

“Aku memutuskan untuk pulang besok.” Ucap Nara kemudian. Entah kenapa dia malah sering berbohong saat ini.

“Siapa namamu?”

“Park Nara.”

Baekhyun sedikit terkejut mendengar Nara menyebutkan namanya. Rasanya ia juga pernah mendengar nama tersebut. Kalau tidak salah ia mendengarnya saat pembicaraan kakek dengan ayahnya dulu. Walaupun itu sudah sangat lama tapi ia sedikit mengingatnya. Tapi buru-buru ia melupakan hal tersebut. Mungkin itu hanya kebetulan.

“Baekhyun, Byun Baekhyun.”

Keduanya kini mulai bercerita satu sama lain. Baekhyun sedikit tertarik dengan gadis yang baru saja ia kenal itu. Nara berulang kali bercerita tentang pengalaman lucunya. Tak sadar keduanya kadang sama-sama tertawa. Keduanya tampak asyik satu sama lain. Hingga mereka tak menyadari jika malam pun sudah tiba.

“Setelah ini kau akan ke mana?”

“Eh..emm.. a-aku..”

“Bagaimana jika kita makan dulu?”

 

***

 

Suara dentuman musik dari Dj memenuhi ruangan yang penuh dengan orang ini. Mereka tampak menikmati irama dari musik tersebut. Beberapa di antara mereka memilih untuk menari-nari tak jelas. Ada juga yang hanya duduk diam sambil menikmati minuman yang di pesan. Tak jarang juga di antara mereka yang bercumbu mesra.

Seperti pria berkulit cokelat ini, tangannya bergerak bebas menguasai tubuh gadis yang ada di dekapannya. Sesekali mencium bibir manis sang gadis yang mengalungkan kedua tangannya di leher pria tersebut. Berulang kali gadis itu mendesah menerima perlakuan nakal dari pria yang menyewanya itu. Sudah sering sekali pria tersebut berada di klub ini. Lagi pula ia juga pemiliknya. Mungkin di luar sana tak akan mempercayai jika pria berwajah manis ini masih duduk di bangku sekolah. Dirinya baru berada di tahun kedua Sekolah Menengah Atas.

Dia adalah Kim Jongin, atau biasa disapa Kai. Orang tuanya bahkan tidak menyadari jika uang yang mereka berikan kepada putranya malah di gunakan untuk membeli tempat seperti ini.

Kini ia menghentikan aktivitasnya setelah mengetahui seseorang yang memang ia tunggu. “Hyung!” panggilnya kepada pria dengan setelan jas yang sudah tampah begitu lusuh. Rambutnya tampak begitu acak-acakan. Pipinya terlihat sedikit membengkak. Walaupun tak begitu kentara.

“Kai, Kakek mengirim pasukannya lagi.” Pria itu kini duduk di samping Kai yang masih berdiri menatapnya. Sedangkan Kai malah tersenyum kecut mendengar ucapan hyung-nya barusan. Ia kini menginstruksikan gadis yang ada di sampingnya itu untuk pergi meninggalkannya. Tanpa butuh waktu yang lama gadis itu sudah menghilang meninggalkan dua pria tampan ini.

Kai kembali duduk pada sofa panjang ini. Duduk di samping pria yang tak lain adalah Luhan. Mereka berdua memang bersahabat dekat. “Lalu kenapa kau tidak pulang saja hyung?”

Luhan menatap adik kecilnya itu dengan tatapan tak suka.”Kau mengusirku huh?” Kai terkekeh pelan, tangannya menepuk pundak Luhan yang kokoh.

“Ada apa dengan wajahmu hyung?” tanya Kai setelah menyadari ada yang berbeda dengan wajah Luhan. Terlihat sedikit membengkak di bagian pipi.

“Ah ini, gara-gara gadis lusuh tadi.”

Kai menaikkan kedua alisnya, dirinya tak mengerti siapa gadis yang di maksud oleh Luhan. Ada juga gadis yang berani berbuat kekerasan pada hyung-nya ini. Tak ingin terlalu memikirkan hal tersebut, Kai hanya menganggukkan kepalanya. Pertanda bahwa dirinya mengerti. Tangannya kini meraih gelas kecil yang ada di meja. Kemudian meminumnya dengan satu kali tegukan.

“Aku ingin minum hari ini.” ucap Luhan tiba-tiba. Dirinya memerintahkan seseorang disana untuk memberikan minuman yang ia maksud.

“Kau akan mabuk hyung” ujar Kai kepada Luhan. Ia tahu betul jika Luhan tidak akan kuat dengan alkohol. Dalam hidupnya pernah satu kali menangani Luhan yang mabuk parah. Dan itu benar-benar sangat merepotkan. Dirinya seperti hilang kendali. Dan Kai pernah mendapatkan satu bogeman mentah dari tangan hyung-nya itu. Bukan hanya itu saja, ia juga membuat keributan dalam klub. Bagi Kai, ia ingin pengalaman itu hanya sekali seumur hidupnya.

“Tidak..aku akan baik-baik saja.” Luhan meneguk minuman berkadar alkohol yang cukup tinggi itu. Kai hanya menghela nafas pelan. Tangannya meraih botol yang penuh itu. Menjauhkannya dari jangkauan hyung-nya. Tapi Luhan menariknya kembali.

Hyung..”

Saat ini hanya menunggu alkohol tersebut bereaksi dalam tubuh Luhan. Kai mengacak rambutnya yang menutupi dahinya itu.

“Kau tahu.. dia mengatakan jika aku murahan. Aku pria murahan? Ck..”

Hyung, kau benar-benar mabuk sekarang.”

“Aku tidak mabuk Kai…. Aku hanya-”Ucapan Luhan terhenti, tegukan ketiga sudah masuk dalam tubuhnya.

Ponsel Luhan yang berbunyi mengalihkan perhatian Kai saat ini. Diraihnya ponsel yang tergeletak diatas meja itu. Kedua matanya membulat saat melihat nama pemanggil yang tertera.

“Baek-hyun?”

 

***

 

Nara tak bisa menahan kebahagiaannya saat ini. Sepertinya hari ini dia menemukan seorang malaikat penyelamat hidupnya. Dirinya dan Baekhyun baru saja pergi makan malam bersama. Entah berapa banyak makanan yang ia pesan tadi. Jika membayar sendiri ia tak mungkin sanggup. Tapi, mengingat Baekhyun mengatakan akan mentraktirnya ia langsung memesan banyak sekali makanan. Perutnya benar-benar sangat lapar. Dan sekarang mungkin terlalu kenyang.

“Byun Baekhyun, sekali lagi terima kasih.” Ucap Nara kepada Baekhyun yang sibuk menyetir di sebelahnya.

Baekhyun hanya membalasnya dengan senyuman manis. Pandangannya masih terfokus ke depan. Sesekali memandang Nara yang terlihat bahagia itu. “Kau akan ke mana setelah ini?”

“A-aku..” Nara tak tahu harus mengatakan apa. Dirinya benar-benar tak memiliki tujuan sekarang.

“Apakah kau mau membantuku sebentar?”

—-

Nara berjalan mengikuti Baekhyun dengan langkah ragu. Kedua matanya menatap heran keadaan sekitar. Ini pertama kalinya ia masuk ke dalam klub. Dirinya sedikit risih saat melihat orang-orang yang menurutnya aneh ini. Ia tak tahu mengapa Baekhyun membawanya ke sini.

Hyung!”

Baekhyun segera berjalan mendekati Kai yang memanggilnya di ujung sana. Matanya menyipit saat melihat seseorang di sebelah Kai yang tak berdaya itu.

“Dia mabuk.” Ujar Kai kemudian.

Tadi Baekhyun telah menghubungi Luhan, tapi Kai yang mengangkat teleponnya. Sebenarnya Kai juga tak ingin memberi tahu keberadaan Luhan saat ini. Tapi bagaimana lagi, mudah bagi Baekhyun untuk melacak keberadaannya. Lagi pula dirinya tak ingin diadukan kepada Ayahnya di Korea sana. Mengingat kelakuannya di Cina yang amburadul seperti ini. Bahkan tadi di telepon Baekhyun sempat mengancamnya.

Nara yang sedari tadi menatap sekitar kini terkejut melihat seseorang yang duduk bersandar sofa yang ada di depannya. Sepertinya ia pernah melihatnya tapi entah di mana.

“Aku akan membawanya ke hotel, serahkan dia padaku.” Ucap Baekhyun kepada Kai.

“Aku tak ingin pulang.. apa kalian tak mengerti.. “igauan tak jelas dari mulut pria yang tak lain Luhan itu membuat Baekhyun dan Kai menatap ke arahnya.

Baekhyun kini membantu Luhan untuk berdiri. Mencoba memapahnya dengan hati-hati. Kai juga ikut membantunya.

“Lepaskan aku..aku bisa berjalan sendiri..”

“Nara, tolong bawakan jasnya.” Perintah Baekhyun kepada Nara yang dari tadi diam mematung.

“Eh…i-iya..” Nara mengikuti perintah Baekhyun, dengan cepat tangannya meraih jas yang tergeletak di sofa. Otaknya masih mengingat-ingat pria yang dipapah oleh Baekhyun itu.

“Lepaskan aku..huh?” Luhan mendorong tubuh Baekhyun dan Kai dengan kasar. Walaupun dalam keadaan mabuk seperti ini, tubuhnya masih bisa ia kendalikan sendiri. Walaupun sedikit terhuyung-huyung.

“Kau diamlah.” Ucap Baekhyun yang kini kembali mendekati Luhan.

“Menjauhlah dariku..”

Mereka hampir sampai di depan mobil. Tapi Luhan malah memberontak lagi. Sebenarnya Baekhyun juga tak ingin dekat-dekat dengan Luhan. Bau alkohol yang begitu menyeruak masuk ke dalam penciumannya. Ia sangat tak menyukai hal itu.

“Kau diam-“

Bugh..

Mungkin ini adalah kesialan bagi Baekhyun. Tonjokan yang cukup keras itu mendarat di pipi sebelah kirinya.

Hyung!” Kai terkejut melihat tindakan Luhan barusan. Tapi dalam hatinya ia bersyukur karena bukan dirinya yang mengalami hal tersebut.

“Kau.. kau tak perlu berbuat baik padaku. Kau hanya ingin menghancurkanku kan? Katakan semuanya pada kakek.. ambillah yang kau mau, tak usah mengurusiku..” ucap Luhan yang sedang mabuk.

Baekhyun menahan rasa sakit pada pipinya, sedikit perih memang. Ucapan Luhan barusan membuatnya geram. Jika dia memang bisa, dia akan menghajar pria yang benar-benar ia benci itu. Tapi ia tak suka menggunakan kekerasan untuk hal yang ia inginkan.

“Baekhyun kau tidak apa-apa?” tanya Nara yang dari tadi hanya menonton saja. Ia mendekati Baekhyun yang terlihat meringis kesakitan. Tangan Nara mengusap pipi Baekhyun, memastikan lebam di sana.

“Ini seharusnya segera di obati.” Baekhyun menggelengkan kepalanya, seolah mengatakan bahwa dirinya tidak kenapa-kenapa.

Nara berbalik menatap Luhan yang ada di belakangnya. Ia paling benci melihat orang yang mabuk. Setelah lama berpikir dari tadi, akhirnya dia mengetahui siapa pria yang baru saja memukul Baekhyun. Pria yang ia temui di Bandara sore tadi. Seseorang yang telah mencuri ciuman pertamanya. Rasa kesal, benci mendadak terkumpul dalam dirinya sekarang.

“Ini balasan untukmu pria murahan!” Nara hendak menampar Luhan yang sudah ada di depannya. Tapi dirinya malah tersandung dan mendorong tubuh Luhan hingga terjatuh. Tubuhnya pun ikut terjatuh di atas tubuh Luhan.

 

 

 TBC→

 


 

 

 

 

 

 

Ini Chapter 1 nya, kalau pada tertarik ntar aku lanjut. Hehehehe..

Jangan lupa tinggalkan komentar kalian ∇

Bye…

 

322 tanggapan untuk “DON’T GO, BABY [Chapter 1]”

  1. hi thor aqw reader baru.izin baca,ya ^^

    Awal chapter adegannya langsung luhan nyium nara.Haduch.lucu jadinya.Apalagi waktu si nara mau nampar luhan mlach numbruk luhan jadinya.

  2. Sumpah gw kira yg nelpon na young itu chanyeol loh
    Twnya luhan
    Yg nemuin dompetnya nara baekhyunkan ya?
    Dia udh buka dompetnya blom sih? Kasian nara gak punya uang
    Tpi kalo dengan cara dompet gak d balikin tpi bsa ikut kmana baekhyun pergi gw jga maulah
    Ahahahahaha

    Btw bagian trakhir yg nara malah ngedorong luhan ampk jatoh itu cliche banged Wkwkwkkw

  3. huwaaa pertama baca langsung suka >< aku suka ada luhan sama baekhyun. si Nara kasian hiks, jadi ngebayangin kalo nara itu aku *apaini
    sukses ya thor, semangat!!!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s