Everything Has Changed (Chapter 2)

Everything Has Changed

Everything Has Changed

[ Chapter 2 | Romance, School life | General ]
with Kim Jongin,
Oh Sehun,
and OC Jung Yunhee as the main cast

by

Eunike

[ I own the story and art ]

“Jiwa ini rapuh, ringkih dan siap hancur untuk yang kedua kalinya.”

***

Series :
Prolog + Chapter 1 || Chapter 2

***

CHAPTER 2

Sepasang bola mata coklat itu menatap letih, sorotnya yang biasa bercahaya kini nampak meredup.

Yunhee terdiam. Bibirnya bergetar samar mencoba menahan tangis. Tangannya yang terkepal kini kian melemah, bersamaan dengan harapannya yang beranjak semu.

Kekosongan yang mengisi relung hatinya serasa menghimpit dadanya dengan telak, membuat setiap tarikan napas yang diambilnya tak lebih dari rasa sesak yang pilu.

“Y-Yunhee, sayang….”

Suara serak Ibunya terdengar lagi disertai ketukan di pintu.

Yunhee bungkam, tidak berniat menyahut maupun menyimak perkataan Ibu selanjutnya.

Tempat yang dulu disebut rumah olehnya, yang sempat menjadi tempat bernaung yang nyaman sekarang malah hancur. Kenangan-kenagan masa lalu yang sempat terajut indah di sini kini menghilang, tergantikan dengan kejadian kelam yang mengiris hatinya.

Hampa tak berdaya.

Ia hanya mampu diam membisu.

***

Satu, dua, tiga.

Jongin mengerang frustasi tatkala nomor yang dihubunginya selama berkali-kali tidak kunjung menjawab.

Nama Jung Yunhee yang berderet memenuhi call log-nya seakan kurang cukup membuat gadis bersurai coklat itu sadar betapa khawatirnya Jongin. Maka dengan lekas lelaki itu meraih jaket hitam miliknya, berjalan cepat keluar kamar tanpa berhenti menghubungi nomor Yunhee.

Eomma, aku keluar dulu!”

Nyonya Kim mengernyit heran. “Ini sudah malam, Jongin. Kau mau kemana?”

“Yunhee, Eomma!”

“Yunhee? Ada apa dengannya?”

Belum sempat Jongin menjawab, punggung lelaki itu sudah menghilang di balik pintu. Beruntunglah ia sebab tempat kediaman Yunhee selama beberapa tahun terakhir ini terletak tepat di samping rumahnya.

“Permisi Nyonya—”

“Ah, Kim Jongin! Beruntung kau datang…”

Jongin tersenyum kecil, samar-samar dahinya berkerut melihat wajah Ibu Yunhee yang terlihat sayu. “Ada apa Nyonya Jung?”

Tapi yang ditanya hanya tersenyum simpul lalu menepuk pundak lelaki di hadapannya. “Masuklah, Yunhee ada di dalam.”

Keadaan rumah Yunhee yang terlihat—agak—berantakan membuat Jongin lagi-lagi mengernyit heran. Iris hazelnya menangkap pecahan kaca yang bertebaran, sepertinya telah terjadi pertengkaran hebat di sini.

“Yunhee….”

“Sudah dari siang ia mengurung diri di kamar, Jong-ah. Lebih baik kau periksa keadaannya.”

Mata Jongin beralih ke pintu coklat kayu di samping tubuhnya. Untuk beberapa saat ia hanya terdiam menatap emblem pintu yang bertuliskan ‘Yunhee’s private room!! ^_^” sebelum akhirnya memutuskan untuk mengangkat kepalan tangannya dan mengetuk beberapa kali.

“Yunhee-ya? Ini aku, Jongin.”

Ibu Yunhee menyunggingkan senyum ramah yang walau terlihat lemah sebelum berbalik meninggalkan Jongin berdua dengan Yunhee yang mengunci diri.

“Yunhee-ya, kau kenapa? Aku di sini, tolong buka pintunya….”

Tapi masih belum ada jawaban.

“Jung Yunhee, kumohon bu—”

Napasnya tercekat. Sepertinya lidahnya tergigit begitu ia menangkap sesosok Jung Yunhee yang… ekhm, sedikit berantakan. Rambut coklat kemerahannya terlihat sangat berantakan, ditambah mata coklatnya yang sembab menatapnya dengan tatapan tersayat.

“J-Jongin….” Yunhee berujar serak. Sesaat, sebelum akhirnya melingkarkan tangan ke tubuh semampai Jongin, memeluk lelaki itu dengan erat sambil meluapkan tangisnya yang sedari tadi tertahan.

“Yunhee-ya, ada apa sebenarnya?” tanya Jongin lembut, perlahan tangannya terangkat dan mengusap lembut puncak kepala Yunhee. Punggung gadis itu yang bergetar menahan tangis membuat Jongin bungkam, sebab baru kali ini melihat Yunhee begitu rapuh tak berdaya.

Dan saat itu juga ia menyalahkan dirinya yang tidak mampu membisikkan kata-kata penyemangat untuk Yunhee.

***

Pukul 11 malam.

Sinar rembulan yang menyorot ayu melesak masuk melalui celah-celah jendelanya. Tirai sutra yang menggelayut di atas teralis nampak tidak tertutup, dibiarkannya terbuka lebar menampilkan ratusan bintang yang diam-diam ikut mengintip.

Sedangkan Jongin masih bergeming di samping ranjang Yunhee. Manik matanya tidak lepas memperhatikan gadis bersurai coklat kemerahan itu dengan intens.

Gadis itu menghabiskan waktu sekitar kurang lebih satu jam hanya untuk menangis di pelukan Jongin, membuat kaus lelaki itu basah oleh air matanya. Namun hinga detik ini Jongin masih tidak mengerti, apa yang sebenarnya terjadi?

Jongin menghela napas panjang.

Jari-jarinya bergerak merapihkan anak-anak rambut Yunhee yang berantakan, menyelipkannya ke belakang telinga lalu tersenyum kecil.

“Aku pulang dulu, ya…” bisiknya pelan.

Tapi baru saja Jongin bangkit berdiri, lengan Yunhee bergerak cepat menahan pergelangan Jongin, menarik lelaki itu untuk kembali duduk.

“J-Jangan pergi…,” gumamnya nyaris tidak terdengar, tapi Jongin berhasil membaca gerak bibirnya.

“Kau mengigau, Yun-ah?”

Tidak ada jawaban.

Jongin kembali tersenyum penuh arti dan mengusap rambut Yunhee. “Tidurlah yang nyenyak, Yun,” katanya. “Jangan lupa mimpikan aku, ne?”

Ia kembali bangkit berdiri, melepas genggaman Yunhee di tangannya dengan lembut. Kali ini tidak ada yang menahannya, maka Jongin menghela napas lega.

***

Sepuluh jam sudah berlalu sejak kejadian Yunhee-menangis-tersedu-di-pelukan-Jongin.

Gadis itu kini nampak.. baik-baik saja.

Matanya kembali bersinar cerah, bibir tipisnya pun tersenyum manis begitu kakinya menjejak masuk ke sekolah.

“Kau benar baik-baik saja, Yun?” Jongin mengangkat alisnya melihat tingkah Yunhee yang sedikit mengkhawatirkan. Dia tidak sedang berakting kan tadi malam? Atau Jongin benar-benar akan marah jika ternyata ia sedang dikerjai.

Manik mata Yunhee melirik Jongin sekilas dan kembali tersenyum. “Aku baik-baik saja Jong. Kau sendiri?”

Apa-apaan sih gadis ini. Jongin menggeram kesal.

“Berhenti memalsukan senyummu, Yun!”

Keadaan seketika hening. Sepertinya suara Jongin terlalu kencang hingga para siswa yang sudah hadir di kelas langsung diam terbungkam lantaran terkejut.

Sedang Jongin menatap Yunhee geram, gadis itu hanya mengerjap beberapa kali lalu menarik kedua sudut bibirnya sedikit. “Aku…” Tapi semua kata-katanya menggantung di langit-langit, membuatnya terdiam dalam kebisuan. Lidahnya kelu.

“Aku….”

“Bisakah kalian berhenti membuat kegaduhan?”

Tiba-tiba saja lelaki bertubuh semampai yang sedari tadi fokus dengan earphone-nya kini menoleh dan menatap tajam keduanya. Tangannya menggenggam earphone yang tadi menggantung di telinganya seraya bangkit berdiri dengan gaya malas-malasan.

“Aku benci pasangan yang gemar mencari banyak perhatian,” katanya tajam, mendelik Jongin sekilas sebelum melenggang keluar kelas dengan tangan terkepal di dalam saku. “Norak,” gumamnya pelan.

Dan keadaan menjadi semakin canggung.

Tidak ada satu pun yang berani membuka mulut, termasuk Jongin yang kini menatap tempat di mana punggung Sehun menghilang di balik pintu dengan kesal. Diraihnya tas yang sempat diletakkan di bangku, lantas ia berjalan keluar kelas.

“Jongin! Kau mau kemana?”

Seruan Yunhee sama sekali tidak diindahkannya. Dengan cepat lelaki itu melangkah menyusuri koridor, kedua tungkai kakinya berbelok menuju tangga ke arah rooftop.

“Jongin! Tunggu, pelajaran sudah mau dimulai, Jong!”

Persetan dengan pelajaran, pikirnya.

“Y-Ya! Kim Jongin tung—”

BLAM!

Lelaki itu menutup pintu rooftop dengan sentakan kencang, menciptakan bunyi bedebam yang tidak pelan.

Menelan ludah, lelaki itu menghela napas panjang dan menyenderkan punggungnya ke pintu. Ia memejamkan matanya erat-erat dengan peluh yang membasahi pelipisnya seraya menunduk dalam.

“Sialan.”

***

“Y-Ya! Kim Jongin tung—”

BRUKK!

Yunhee—lagi-lagi—terjatuh. Ia mengerang pelan dan mencoba bangkit lagi,  namun tepat ketika ia merasakan rasa ngilu menjalar dari pergelangan kakinya, tubuhnya kembali ambruk.

A-Akhh!”

Bukan rasa ngilu dari kakinya yang terpenting.

Sebab kini rasa sesak kembali menyerang dadanya. Rasa sesak yang berbeda, lehernya terasa tercekik dan setiap napas yang diambilnya amat ngilu.

Kepalan tangannya terangkat ke depan dada, mencoba meredakan rasa sakit yang justru semakin menjadi-jadi.

“S-Sak—it,… J-Jongin.”

Yunhee terengah-engah seperti orang gila. Matanya mengerjap berkali-kali mencoba mengusir air mata yang mulai menggenang di sana tanpa ijin.

Tubuhnya gemetar, ia benar-benar tak kuasa menahan sakit, tepat ketika seseorang datang ke arahnya dengan panik.

“Y-Yunhee-ssi, kau tidak apa-apa?”

Bodoh. Apanya yang tidak apa-apa?

Dengan susah payah Yunhee mencoba melawan rasa sakitnya dan mengatakan ke orang itu beberapa patah kata, tapi bibirnya terlalu kaku. Penyakit ini benar-benar membuatnya tersiksa.

“Yunhee-ssi, perlu kuantar ke ruang kesehatan atau—”

“O-Obat….”

“Apa?”

“T-Tasku….”

Alis orang itu berjinjit tinggi, namun sedetik kemudian ia langsung melesat cepat menuju kelas seperti orang gila. Diambilnya tas Yunhee dengan serampangan dan segera kembali ke tempat di mana Yunhee berada dengan wajah semakin pucat.

Dengan cepat lelaki itu membuka isi tas Yunhee, menuangkan semua isinya. Dan begitu ia menemukan sebuah tabung kecil.

“Ini?”

Yunhee hanya mampu melirik sekilas dan mengangguk lemah sebab napasnya masih terengah.

Orang itu pun mengambil beberapa kapsul dan memberikannya kepada Yunhee, tak lupa mengambil botol mineral gadis itu dan membantu gadis itu meneguk dengan perlahan-lahan.

“Sudah membaik?” tanyanya setelah lama mereka terdiam dan melarut dalam keheningan.

Walau Yunhee masih sedikit terengah, tapi sekarang ia sudah mampu untuk mengangguk perlahan dan tersenyum kecil di atas bibir pucatnya. Rasa sesak yang semula menghantam dada kirinya perlahan berangsur membaik, walau tubuhnya masih lemah.

Orang itu menghela napas panjang. “Mau kuantar ke ruang kesehatan?”

***

Membolos pelajaran memang bukan hal yang baik, tapi cukup menjadi pilihan terbaik para siswa jika sedang dalam keadaan genting. (Yah, walau Jongin membolos bukan dalam keadaan yang genting, setidaknya Yunhee tidak demikian.)

Suara dentingan gelas mengisi kesunyian selama beberapa saat sebelum akhirnya suara berat khas lelaki menyapa gendang telinga Yunhee yang berbaring di atas ranjang ruang kesehatan.

“Mau pakai gula?” tanya Sehun dengan dingin.

Yunhee menggeleng. “Tidak, terimakasih.”

Tidak lama kemudian Sehun datang dengan segelas teh hangat yang baru dibikinnya. “Aku tidak menanggung segala efek samping setelah kau meminum teh ini.”

Gadis itu terkekeh pelan. “Seperti?”

“Minum saja dan jangan banyak bicara,” sahut Sehun ketus.

Yunhee menghela napas berat lalu menerima gelas yang disodorkan Sehun. Ia menempelkan bibirnya dengan ragu, tapi setelah mencium aromanya yang hangat, Yunhee lantas mengambil tegukan pertama.

Lumayan membuat dadanya terasa lebih baik.

“Dimana cowokmu itu, eh? Aku bosan bila harus menemanimu di sini.”

Tercekat, Yunhee membulatkan matanya lalu meletakkan gelas ke buffet di samping ranjang.

Cowokku?”

“Kim Jongin.”

Tiba-tiba saja pipinya berubah menjadi semerah tomat.

Tidak, ini tidak benar Yunhee!

Gadis itu berdeham lalu menyenderkan kepalanya ke tumpukan bantal di belakang. Bibirnya terbuka hendak membalas, tapi tiba-tiba saja kalimatnya buyar. Benaknya kembali memutar kejadian tadi pagi, ketika pertama kalinya Jongin membentak Yunhee.

“Dia.. bukan siapa-siapaku,” bisik Yunhee nyaris tidak terdengar, tapi Sehun dapat mendengarnya dengan jelas, bahkan bagaimana gadis itu berujar dengan nada terluka.

Lagi-lagi, entah untuk yang keberapa kalinya keadaan kembali menjadi canggung.

“Kalau begitu aku pergi.”

“Eh?”

“Aku harus ke kelas.”

Entah kenapa Yunhee merasa kecewa, sebagian dari dirinya ingin Sehun untuk tetap tinggal sebab kini ia butuh seseorang yang menemaninya, tapi di sisi lain ia tidak bisa memaksa orang itu untuk tidak pergi seperti ia mencoba menahan Jongin.

“Baiklah….”

Oke, Sehun tidak terlalu bodoh untuk tidak menyadari air muka Yunhee yang tiba-tiba saja berubah.

Gadis itu kesepian. Ia tahu.

Mendengus kasar, Sehun terpaksa kembali mendudukkan dirinya di kursi di samping ranjang. Matanya mendelik tajam ke arah Yunhee yang malah menatapnya dengan heran.

“Cepat tidur.”

“Eh?”

“Aku akan pergi setelah kau tidur.”

Mau tak mau Yunhee tidak sanggup menahan senyum sumringah yang terlukis di wajahnya. “Terimakasih.. untuk yang ketiga kalinya.”

“Cih.” Sehun memutar bola mata dengan jenuh. “Cepat tidur.”

***

Di lain sisi, Jongin tengah mengadah menatap langit dengan mata terpicing. Angin yang berhembus membelai wajahnya perlahan membawa lelaki itu ke masa-masa kecilnya, ketika pertama kali ia bertemu dengan Yunhee.

Ah, dulu gadis itu terlihat sangat manis dengan rambut coklatnya yang sebahu dan bola mata beningnya yang bulat.

“Hai! Namaku Jung Yunhee!” ujar Si Kecil Yunhee seraya memamerkan giginya yang berderet rapih.

“Hai Yunhee! Aku Jongin! Mulai sekarang kita bertetangga!”

Sial, bahkan memori ketika ia masih berumur enam tahun masih terekam baik di benaknya tanpa kekurangan satu hal apa pun. Ia masih ingat bagaimana gadis kecil itu berlari mengejarnya dengan anak rambutnya yang menari tertiup angin. Ia masih ingat bagaimana bibir mungil itu tertarik membentuk seulas senyum manis yang membuatnya jatuh hati dalam pandangan pertama.

Dan ia masih ingat sebuah hari di awal musim panas ketika keduanya saling menautkan jari kelingking dan berjanji untuk tidak merusak rajutan kisah persahabatan mereka sampai kapan pun.

Tapi jika disuruh memilih… lebih baik tidak ada hari itu, hari dimana janji itu terikat dan membuatnya untuk terus menerus menyembunyikan perasaan yang entah sejak kapan terus berkembang menjadi rasa cinta.

Seorang Kim Jongin yang mencintai sahabatnya sendiri.

Terdengar menyedihkan memang, tapi itulah yang terjadi.

Ia telah melangkah terlalu jauh.

Jongin tertawa pahit lalu menaruh dagunya ke atas kedua tangannya yang terlipat di atas pagar pembatas. Membiarkan angin bertiup dengan kencangnya seraya berharap kenagan-kenagannya semua dapat meluruh.

“Kim Jongin,” panggil seseorang menyentakkan lamunannya.

Jongin berbalik dan dengan segera pandangannya bersirobok dengan tatapan tajam dari seorang Oh Sehun, si siswa baru.

“Oh Sehun-ssi?”

***

Jantungnya berdegup kencang, dengan cepat ia mengayunkan kedua kakinya menuju ruang kesehatan. Tangannya yang gemetar mencoba memutar kenop pintu tapi….

Tidak ada seorang pun di sana.

Jongin mengusap mukanya dengan panik, diliriknya lelaki jangkung Oh Sehun yang balas menatapnya dengan datar.

“K-Kemana Yunhee?”

“Aku hanya meninggalkannya sebentar, dan tiba-tiba ia menghilang.”

Shit!

Jongin mengepalkan telapak tangannya dengan geram. “Tidak seharusnya kau meninggalkan dia!” teriak Jongin kalap.

Sedangkan Sehun hanya mendengus kesal lalu melipat tangan di depan dada dengan dagu terangkat. “Bagaimana denganmu?” tanyanya sarkastis. “Kemana kau ketika dia membutuhkan pertolongan?”

“A-Aku hanya….”

.

.

— TBC —

.

[A/N] : Yo! Okay ^_^ The second chapter is out! Yang ini masih terlalu pendek kah? ._. Hehe maaf kalo masih pendek (_ _”) Next chapter akan kuusahakan lebih panjang 🙂 (Oh ya, dan maaf juga untuk segala kekurangan dalam fic ini :”D Like what I said before, aku tahu kok betapa absurd-nya ini.) Dan untuk amplop yang dikasih Ibunya Yunhee… ada yang bisa nebak? Hehe, emang belum dikasih tau apa isi amplop itu, tapi di sini udah dikasih beberapa clue kok 😀 Siapa yang bisa tebak?

Yang jelas, masih banyak rahasia yang belum diungkap.. (ya kira-kira begitu haha lol.) Dan untuk silent readers… aku mohon banget komentar dan saran dari kalian, ayo tunjukkin eksistensimu~ heheuw XD Komen gak harus lewat sini kok, kalo kalian kesusahan komen lewat wordpress bisa hubungi aku di twitter @eun_ryi. Oh ya, ada yang punya LINE? Mari berteman~ ID-ku euntheana. Sangat terbuka bagi kalian yang mau sokab :3 eheuw~

Untuk para readers yang udah komen di chapter sebelumnya, TERIMAKASIH BANYAK YA^^ Komen kalian sangat berarti loh 🙂 See you next chapter!

 

243 tanggapan untuk “Everything Has Changed (Chapter 2)”

  1. mmmm yunhee sakit jantung ? Dan jongin gatau selama jadi sahabatnya itu? Apa yunhee menyembunyikannya?.. Itu suratnya kehancuran keluarga. Bisa jadi itu surat cerai eomma appanya yunhee yaa. Next baca 🙂

  2. itu yunhee kenapa siiihhh? surat apa yg kemarin dia liat? apa mungkin itu surat dokter yang menyatakan yunhee sakit? terus sakitnya sakit apa? sakit jantungkah?

    jongin lagi, jahat amat, cuma buat merenung pake ninggalin yunhee segala.

    tp untungnya sehun peka jg ternyata, ngeliat yunhee yang tiba2 berubah murung wkt sehun mau balik ke kelas. engga kaya dia yang udah aku kasih kode keras, tapi tetep gak peka. /CUrhAT LAGI CERITANYA/ /abaikan/

    cuss dulu ke chapter 3 🙂

    1. WHIH KAK DESSY TAU AJA DIA SAKIT JANTUNG XD Tapi itu bukan surat soal penyakitnya ehehehe

      Jongin di sini kubuat jadi cowo alay-manja-yang gak peka-dan-temperamen tapi loveable gitu /ketawa/. CIE KAK DES ANAK PRAMUKA MAINANNYA KODE YA XD

  3. Apakah isi amplop itu ttng sakitnya yunhee??? Waktu kecil mereka lucu banget pake janji” segala wkwk sekarang malah saling suka. Tapi apakah sehun suka jga sama yunhee dan sebaliknyaa. Masih bingung ijin baca chap berikutnya yaa….. tulisanmu bagus, yang semangat yaa ngenulisnya”

  4. Enak emg teh gak pake gula?? Wkwkwk

    Tdi itu yunhee minta obat k sehun? Jangan2 surat yg d kasi ibu yunhee tdi ada hubungannya sama sesak napasnya yunhee??

  5. yunhee kok aneh gt? Kdang nangis tiba” tpi slnjut’a biasa” aja kyak gak terjdi apa”.
    Isi amplop’a apa yah bkin pnasaran aja?

  6. Mungkin isi amplopnya tu sejenis surat kesehatan mengenai yunheenya :/
    Tolong donk dibenerin lagi kata-kata bakunya. Kayak tadi tiba2 nyangkut kata “cowok” padahal lebih bagus kalau pake “lelaki”

  7. jadi ternyata Yunhee punya penyakit asma ya..???eh asma atau bukan sih…hehheheheh
    kalau sama2 suka kenapa harus ngelakuin janji???
    kai dari dulu auka sama Yunhee apa Yunhee juga suka sama Kai…
    itu terus Sehun juga apa Sehun suka sama yunhee.???
    banyak yang ap pertanyakan disini heheheh…
    masih bingung..
    ak ijin baca kelanjutannya ya…
    oh ya ff nya bagus…
    yang semangat nulis nya ya…

  8. yunhee sakit apa? ah, jongin jangan emosi gitu dong beb, jadi sehun kan yang nolongin yunhee /lah trus kenapa emang?/ /gapapa sih/ xD
    maunya sih yunhee sama jongin, tapi aku ragu._.
    yasehunlah, next dulu~

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s