Everything Has Changed (Prolog + Chapter 1)

Everything Has Changed

Everything Has Changed

[ PROLOG + CHAPTER 1 | Romance, School life | General ]
with Kim Jongin,
Oh Sehun,
and OC Jung Yunhee as the main cast

by

 Eunike

[ I own the story and art. ]

“Selama dia bahagia, aku juga akan bahagia. Sesederhana itu.”

***

PROLOG

Angin malam berhembus kencang.

Sinar rembulan tak mampu menembus tebalnya awan pekat.

Di bawah sana, sesosok insan dengan iris gelapnya yang menyorot sayu berjalan terseok, membiarkan rasa sesak menguasai relung hatinya yang berangsur hampa—pilu sekali rasanya.

Jauh di sudut hatinya ia merindukan senyum hangat yang kerap menyambutnya, ia merindukan tawa renyah yang membuatnya terngiang, ia merindukan segala sesuatu yang menyangkut gadis itu.

Sepertinya ia sudah jatuh terlalu dalam, terlampau jauh hingga akhirnya ia nyaris tak mampu meraih kembali apa yang sebelumnya digenggamnya.

Sebab kini gadis itu berdiri sangat jauh di ujung sana, menatapnya dengan pilu dan air mata yang melinang di pelupuk matanya. Gadis itu… sakit. Gadis itu sakit karena ulahnya. Gadis itu sakit karena luka yang sudah ditorehnya dalam-dalam.

Dan sejak detik itu ia membenci dirinya sendiri.

Ia benci pada dirinya yang tidak menyadarinya sejak awal. Sial.

Satu-satunya pemikiran yang melintas di benaknya yakni; bagaimana caranya untuk membawa kembali gadis itu ke titik terdekat sehingga ia mampu menjangkaunya?

Ia harap tidak semustahil mengeringkan samudera, atau ia benar-benar akan kehilangan akal sehatnya.

***

CHAPTER 1

Hari ini hujan turun lebat sekali, membuat Yunhee menyesal tidak meneriwa tawaran Jongin untuk pulang bersama lelaki itu. Akibatnya kini ia harus duduk sendiri di halte seraya menunggu bus yang entah mengapa tidak kunjung datang.

Samar-samar, iris coklat gelapnya menangkap bayangan sesosok lelaki dari ujung jalan sana. Tubuhnya semampai dengan sebuah tas punggung yang yang diselempangkan di pundak, terlihat jelas bahwa orang itu membawa payung. Hendak berjalan ke halte, sepertinya. Dan itu berarti Yunhee tidak akan menunggu sendirian lagi.

Tapi tunggu, sepertinya sosok itu terasa familiar baginya. Tapi siapa?

Yunhee kembali menaruh fokus dan mempertajam pandangannya. Tepat ketika lelaki itu menurunkan payung di tangannya dan melangkah masuk ke halte, Yunhee tercengang.

Bukankah itu si murid baru yang terlampau dingin itu?

Ia berdeham pelan dan membenarkan posisi duduknya, mencoba mengacuhkan kehadiran Sehun tapi matanya terus memaksa untuk bergulir menatap punggung lelaki itu yang kini bersandar di dinding halte.

“Berhenti menatapku seperti itu, Jung Yunhee-ssi.” Tiba-tiba ia berujar kepada… Yunhee? Dirinya? “Aku merasa risih jika terus dipelototi.”

Satu teguk, Yunhee menelan ludahnya dengan susah payah. Ia bertaruh sekarang pipinya pasti sudah bersemu merah menahan malu.

“A-Aku tidak menatapmu! Kau saja yang terlalu percaya diri, Sehun-ssi,” sangkalnya.

Dan sial bagi Yunhee.

Lelaki ber-name tag Oh Sehun itu kini malah berbalik badan dan menatapnya lurus-lurus dari balik iris hazelnya yang menyorot tajam. “Berhenti berbohong, kau tidak bakat menjadi pemain drama dan—oh, lihat bagaimana wajahmu saat ini.”

Dan Yunhee merasa pipinya kembali bersemu, jauh lebih merah.

“Kurang ajar kau Sehun, aku tidak berbohong!”

Perkataan Yunhee malah membawa Sehun untuk beranjak lebih dekat. “Apa? Bilang sekali lagi, Yunhee-ssi.”

“A-Aku bilang aku tidak sedang berbohong.”

“Sekali lagi.”

“A-Aku bilang—”

“Sekali lagi.” Wajah Sehun berada tepat di hadapannya, sangat dekat hingga napas hangat lelaki itu bisa ia rasakan dengan jelas.

“A-Aku….”

.

.

.

“Yunhee! Bangun!!”

Matanya mengerjap-ngerjap mencoba menyesuaikan intensitas cahaya yang masuk ke pupil matanya.

“Ya! Jung Yunhee, Jongin sudah menunggumu di luar!”

Ibu menatap Yunhee dengan mata membulat penuh emosi, dengan tidak sabar ditariknya selimut yang semalaman merengkuh tubuh mungil itu dan menarik lengan Yunhee dengan sekali hentakan.

“Cepat mandi atau kau akan telat, Yunhee!”

“A-Ah iya, iya, Eomma! Berhenti menarikku ughh!”

“Ya! Jangan mengeluh dan cepat bergerak anak malas!”

“Eomma! Berhenti berteriak!!”

“CEPAT MASUK KAMAR MANDI, JUNG YUNHEE!”

Dan pagi itu diawali dengan kerusuhan kecil. Ibu yang berteriak karena panik, dan Yunhee yang terlampau santai kendati waktu sudah menunjukkan pukul delapan kurang lima belas menit.

“Yunhee-ya, cepat sedikit nanti kita terlambat,” ujar Jongin yang sedari tadi memperhatikan Yunhee. Gadis itu memang cantik, mempesona, mampu memikat hati lelaki manapun, tapi dengan sikapnya yang terlampau santai… ehm, Jongin harus berpikir dua kali untuk mengencaninya.

Hei, hei, siapa juga yang mau mengencani sahabatnya sendiri?

Well—insiden sahabat menjadi pacar memang sudah marak, tapi ia tidak mau benang persahabatannya dengan Yunhee hancur hanya karena dirinya yang terlalu egois.

Egois karena sudah jatuh cinta dengan sahabat perempuannya sendiri sejak lama.

“Sabar, Jongin.. sedikit lagi dan—nah! Ayo berangkat. Eomma, Appa, aku berangkat!”

“Cepat sedikit, oh Tuhan, kau ini keterlaluan Yunhee. Sepuluh menit lagi bel akan berbunyi!” keluh Jongin seraya menaiki sepedanya dan menunggu Yunhee meloncat naik ke kursi penumpang di belakang.

“Sabar Kim Jongin, kau ini, semua butuh waktu, tahu?”

Ia menduduki dirinya di belakang Jongin, menggenggam ujung kemeja lelaki itu sebagai pegangan sebelum akhirnya Jongin mengayuh pedal dengan cepat, mencoba mengejar waktu dan yah…, sepertinya ia tidak sia-sia sebab pada akhirnya mereka datang tepat waktu, satu menit sebelum bel berdering.

***

Waktu sudah menunjukkan pukul satu siang lewat lima puluh menit, kelas sudah sepi sebab kebanyakan murid kini sudah sampai di rumah dan bersantai ria, sedangkan Yunhee sekarang malah duduk di kursi barisan paling belakang, menatap keluar jendela dengan tangan bertopang dagu di atas kusen kayu.

Kedua bola matanya menatap intens sebuah sosok yang sejak beberapa menit terakhir menjadi titik fokusnya; Kim Jongin. Lelaki itu bermain basket dengan sangat lihai, mengoper bola dari tangan ke tangan, berlari, meloncat, dan mencetak poin dengan mudahnya.

Pantas saja banyak gadis yang tertarik dengan lelaki itu, si kapten basket.

Kenyataan ini membuat Yunhee sedikit.. cemburu. Ya, cemburu ketika sahabatnya disukai banyak gadis dan memiliki banyak penggemar.

Terdengar bodoh? Tentu.

Sebab di kamusnya tidak ada yang namanya ‘jatuh cinta dengan sahabat’. Seumur hidup ia tidak mau mengencani sahabatnya sendiri, terlebih lagi orang itu Jongin. Mengapa? Sebab orang itu ditakdirkan untuk menjadi sahabatnya, tidak lebih. Dan Yunhee setia memegang janji ini erat-erat.

“Yunhee-ya!” Jongin berteriak lantang dari lapangan bawah lalu melambaikan tangannya ke arah Yunhee dengan sesungging senyum yang paling disukainya. “Hari ini kau pulang duluan saja ya? Aku ada urusan kecil nanti.”

“Baiklah, hati-hati! Good luck.”

Menjadi gadis penurut pun sudah dilakoni Yunhee sejak lama. Tidak ada satu perintah pun dari Jongin yang ditentangnya, dan ia tidak keberatan sama sekali.

“Hati-hati di jalan Yun-ah! Mwahh~” Dengan jahil Jongin melemparkan ciuman jarak jauhnya kepada Yunhee, membuat wajah gadis itu memerah menahan malu.

“Sialan kau Jongin!” balas Yunhee dengan seulas senyum lebar.

Dengan segera ia meraih tasnya dan berjalan keluar kelas. Kakinya dengan segera menyusun langkah menyusuri koridor dan menuruni tangga dengan riang, hingga tiba-tiba saja mimpinya semalam kembali terbesit di benaknya, membuat langkahnya terhenti diiringi dengan sesosok lelaki bertubuh semampai dan bersurai hitam legam yang menghilang di tikungan koridor.

Orang itu.. Oh Sehun?

Yunhee bergeming sebentar sebelum akhirnya mendengus tidak peduli dan melanjutkan langkah.

Ia berjalan menyebrangi lapangan, memberikan lambaian tangan terakhir pada Jongin.

“Hati-hati di jalan!” seru Jongin sebelum akhirnya menatap punggung gadis itu menghilang di balik gerbang sekolah.

“Hei, yang tadi itu Sehun ‘kan? Anak baru di kelas kita?”

“Eh? Yang mana?” Jongin menaikkan sebelah alisnya.

“Yang tadi, yang berjalan di depan gadismu.”

Tiba-tiba saja ia merasa telinganya berangsur menjadi merah, panas akibat menahan gejolak perasaannya. Mencoba mengabaikan kata ‘gadismu’, Jongin hanya menggedikan bahu tidak peduli.

“Cih, bagaimana sih. Kau tahu, walau baru masuk kemarin tapi dia sudah mendapat banyak penggemar!” ujar Baekhyun kali ini sambil melempar bola basket ke arah ring. “Jangan-jangan gadismu tertarik dengan Oh Sehun itu?”

“Kau ini bicara apa, Bacon?”

“Siapa tahu gadismu diam-diam jatuh ke dalam pesona seorang Oh Sehun dan—hey! Namaku Baekhyun bukan Bacon, camkan itu!”

Jongin terkekeh pelan lalu menerima bola basket yang semula memantul di lapangan, mengopernya ke Baekhyun dan kembali mengejek lelaki bersurai coklat itu, “Omong-omong Bacon, hari ini permainanmu cukup baik.”

“Yak! Kim Jongin, kubilang berhenti memanggilku Bacon!!” Dilemparkannya kembali bola basket itu ke Jongin.

“Ehm, oh ya Bacon, kau tahu aku—”

“Jongin-ah, berhenti mengejeknya.” Tiba-tiba saja Chanyeol dengan tubuh jangkungnya datang dan menyodorkan sebotol air mineral pada Baekhyun. “Kau haus?” tanyanya pada lelaki itu.

Sementara Chanyeol dan Baekhyun bercakap-cakap, Jongin hanya mampu menahan kekehannya dari balik punggung dan berlalu menuju tas selempangnya, meraih ponsel dan mengetik beberapa kata untuk Yunhee.

To : Yunhee

Hey, bagaimana bus-nya? Kau tidak ketinggalan ‘kan? Atau masih berdiri di halte?

***

Semuanya terjadi seperti mimpi. Lelaki itu, lelaki yang semalam masuk tanpa ijin ke alam bawah sadarnya kini bersandar di dinding kaca halte dengan santai, membiarkan lagu yang melantun melalui earphone-nya menjadi teman setia selama beberapa menit terakhir.

Berkali-kali Yunhee menghembuskan napas mencoba menenangkan kegugupannya. Sudah lima belas menit berlalu dan belum ada satu bus pun yang berlalu melewati halte ini, itu berarti ia sudah menghabiskan waktunya selama lima belas menit berdua bersama Oh Sehun, di halte bus bercat merah ini.

Baru saja Yunhee hendak memutuskan untuk pulang berjalan kaki ketika tiba-tiba sebuah bus melaju ke depan halte.

Bersyukurlah Yunhee, setidaknya ia tidak harus berjalan beberapa kilometer dan membuat seluruh badannya pegal-pegal hanya untuk berjalan pulang.

Dengan sigap gadis itu bangkit berdiri, menggenggam tali tas selempangnya dan membiarkan Oh Sehun masuk terlebih dahulu.

Tapi kalau tahu jika tempat duduk hanya bersisa satu bangku, lebih baik ia menyelinap saja tadi! Sial.

Ia terpaksa berdiri dengan tangan memegang handle bus seraya memperhatikan penumpang dan menerka-nerka yang mana yang akan turun lebih dulu.

Sepuluh menit berlalu, dan Yunhee masih berdiri di sana. Bergeming mencoba menahan emosi tatkala tidak ada satu pun penumpang yang hendak turun.

Disaat yang bersamaan manik matanya menangkap seorang wanita bersurai coklat kemerahan yang duduk di samping jendela, nampaknya ingin bergegas turun di pemberhentian selanjutnya. Langsung saja ia berjalan mendekati tempat wanita itu duduk, menunggu saat-saat di mana wanita itu mengangkat pantatnya dan dengan cepat Yunhee akan—

BUKKK!

—terjatuh dan menimpa seorang lelaki bersurai hitam kelam yang duduk di samping wanita itu.

Mau taruh di mana muka ini jika detik-detik ia terjatuh ke pangkuan Sehun barusan bukanlah ilusi belaka?

Kontan para penumpang lain, termasuk si wanita, terkekeh menahan tawa, desas-desis kecil terdengar ketika Yunhee merasakan wajahnya sepanas panggangan roti.

J-Junsunghamnida!” Yunhee segera bangun dan membungkuk meminta maaf, tapi Sehun hanya menatapnya datar seakan tidak terjadi apa-apa.

“A-Aku tidak sengaja, maaf.”

Wanita bersurai coklat kemerahan itu pun bangkit, pertanda bahwa bus ini sudah sampai di pemberhentian selanjutnya. Tapi Yunhee hanya bergeming, tidak berani bergerak dan mendudukkan diri di samping Sehun, ia terlalu malu! Sial.

Kalau begini mau sampai kapan ia terus berdiri mengenggam handle sampai tubuhnya keram?

Yunhee mendengus. Dewi fortuna seperitnya benar-benar tidak berpihak padanya hari ini,… atau memang tidak pernah berpihak padanya?

***

Pukul tiga siang tepat.

Gadis itu berjalan riang menaiki anak tangga, bibirnya bersenandung ringan melantunkan lagu yang akhir-akhir ini menjadi lagu favoritnya.

Namun baru saja ia menapaki anak tangga keenam, Ibunya memanggil dari bawah dengan suara serak. Dengan alis bertaut heran Yunhee berbalik, menatap Ibunya yang balas menatapnya dengan sayu.

“Y-Yunhee….”

“Ada apa Eomma?”

Wanita paruh baya itu melangkah mendekat, menyodori sebuah amplop putih dengan tangan gemetar lalu memeluk putrinya dengan erat, mencoba menahan tangis yang siap meledak kapan saja.

E-Eomma…, ada apa?”

Dan semuanya terjawab, tepat setelah kedua manik coklat Yunhee membaca kata demi kata yang tertera di atas secarik kertas di dalam amplop tersebut.

Dunianya runtuh seketika, hancur melebur dengan semua impian yang sempat ia junjung tinggi.

.

.

TBC

.

[A/N] : Ekhm.. mic test, one.. two.. three? Yehet! Eunike’s here 🙂 Aku tahu kok betapa hancurnya prolog dan chapter pertama ini T^T Absurd to the max, I know :”) /ketawa pahit/ Karena itu aku butuh tanggapan dari kalian~ segala bentuk komen dan saran akan diterima dengan lapang dada (?) Dan untuk chapter selanjutnya akan saya post as fast as possible 🙂

KAMSAHAMNIDA!! /bow bareng SeKaiYunhee/

 

273 tanggapan untuk “Everything Has Changed (Prolog + Chapter 1)”

  1. halo kak eunike,
    aku pengen curhat aja kalau dulu aku sempet baca ff ini dan aku sukaaaaa banget sama ff ini, bahkan 2 tahun lamanya aku masih inget judulnya dan alhamdulillah ffnya ketemu.
    Dulu sih aku ga terlalu banyak komen karena ga ngerti gimana harus komen gini gitu blabla dan yahh disinilah saya,
    Jujur aja saya baca ff ini karena kangennnn banget baca ff school life dan aku cuma penge bilang ke kak author kalau aku akan terus nginget ff ini sampai kapanpun 🙂

    1. HALOOOO!

      Maaf sebelumnya aku telat banget bales komen ini BUT I WANT TO SAY A BIG THANKSSS TO YOU. Terima kasih banyak udah bersedia baca ff ini walau sampai sekarang belum dilanjutkan :’) Terharu bgt masih ada yang inget sama ff ini huhu. Terima kasih banyak ya, Novia! Hope you have a great day!! Peluk hangat dariku. xx

  2. annyeonghaseyo. /bow/ maaf juga sebelumnya aku pernah baca ff ini. Tapi entah chap brp . Aku putus baca. Aku gatau sempet ninggalin jejak atau tidak. Jadi untuk memperbaiki kesalahan karna tidk meninggalkan komentar. Aku mau baca ulang sekalian ninggalin jejak hihi. Gpp kan author? Hehe ceritanya menarik, aku suka jadi aku mau bca selanjutnya ya 🙂

  3. CKCKCKCK…Baru baca ni efef. Sumvee prolog-nya aja udah keren..Jong In suka ama sahabatnya nih..hehe
    Itu Yunhee ngimpiin Sehun wkwkwk.. Gatau mau komen apa lagi..keren deh pokoknya.

  4. halooo nike, jadi ceritanya aku lagi ngubek2 fanfic2mu di effi, ada fanfic ini, dan kalo gak baca dari awal kan gak ngerti jalan ceritanya jadi aku mampir di chapter 1 dlu 🙂

    well, aku udah menaruh banyak harapan di awal2 cerita waktu sehun tiba2 deketin wajahnya ke yunhee itu, etapi ternyata cuma mimpi. coba aja eommanya gak ngebangunin, pasti bakalan lanjut adegannya. waaaakkksss XD /udah abaikan/

    btw, hubungan jongin dn yoonhee nya sosweet banget. apalagi waktu jongin ngasih ciuman jarak jauh itu wkwkwk biar aku tebak, jongin kayanya emang suka deh sama yunhee, cuma gak mau aja lantaran menjunjung tinggi nama persahabatan /alaah apa ini/

    ngakak dibagian yunhee jatuh ke pangkuan sehun itu. kalo itu aku, udah langsung aku peluk aja sehunnya. /plakkkk/ maksudnya udah langsung kabur aja deh aku turun dari bis. wkwkwkw

    oke, sekian komenan gaje saya.
    cuss dulu ke chapter 2 🙂

    1. Jadi ceritanya… aku baru baca komen kakak dan terharu sangat T_T Kakak niat banget sampe nyari fic tahun 2014 begini dan ini fic alay banget sesungguhnya 8( Malu ih.. ;^;

      Hahaha aku kalo jadi Yunhee mungkin sekalian modus pingsan biar abis itu dipangku terus /gaaak/. Terimakasyi banyak kak sudah mau baca ❤

    2. owalahh ini diposting tahun 2014 kah??? /gak liat tanggal postingnyaa/
      habis kalo yg baru kan udah chapter berapa belas entar aku gak ngerti ceritanya, jadi aku mampir dulu di awal2 chapter 🙂
      bhaaakkk,, nike pingsan di pangkuan sehun, terus sehunnya buang nike ke luar jendela bis XD
      syama2 dear 🙂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s