Break Mind

BreakmInd

Baekhyun, OC | Fluff, lil bit Romance, Ficlet | by Cca Tury

Sequel of Yearning

———————————

“Hei, kau tak pulang kerumah? Ini akhir pekan.” Yeongmin membereskan berkas-berkas dimeja kerjanya ketika keluar dari ruang kerja dan melewati. Aku terhenti menatapnya, lalu menggeleng.

“Banyak data yang harus ku check lagi, aku tak mau turun jabatan karena kerjaku tak becus…” Aku tersenyum. Dia beranjak dari meja kerjanya dan mulai berjalan. Aku mengekor disampingnya.

“Eish! Kau ini tak kasihan dengan ibu yang sendirian dirumah kah? Dasar anak durhaka!” Lelaki itu mengejekku. Dia masuk kedalam lift. Aku mengejarnya.

Ya! Aku bukan durhaka, lagipula ibu maklum kok. Ibu juga tak akan kesepian, dia hidup bersebelahan bersama sahabatnya dari kecil…” Ucapku, karena benar ibu juga tak terlalu berlarut sedih ketika ayah meninggalkan kami beberapa tahun silam lalu. Ibu masih memiliki sahabatnya yang masih setiap hidup bersebelahan dengan rumah kami. Alasanku untuk tinggal diapartemen juga bukan karena aku ingin menjadi anak durhaka. Aku hanya tak ingin membuang-buang uang berlebihan dengan naik bus lalu kereta untuk sampai ke tempat kerjaku dari rumah.

“Ohya, ngomong-ngomong tentang sahabat, kudengar anak sahabat ibumu itu pulang kerumah sejak kemarin malam. Apa kau tahu?” Ucapan Yeongmin membuatku melirik tajam kearahnya dengan raut muka seolah bertanya, ‘sahabat?’.

Sedetik kemudian aku tersenyum tipis, tak mempedulikan Yeongmin yang berkerut keheranan, “Oh, sahabatmu itu?” Lirihku kemudian.

Ya! Dia juga sahabatmu…”

Jeez, bahkan dia hanya mengucapkan terimakasih padamu saat di boardcast radio…” Sungutku mengingat kembali beberapa waktu lalu orang itu menyebut nama Yeongmin diacara solonya di salah satu saluran radio.

“Kau cemburu?” Yeongmin tergelak.

Anhi godeun!” Elakku, meski sebenarnya aku tak munafik. Aku sangat menginginkan orang itu menyebut namaku. Aku benar cemburu dengan hal yang satu ini. Dia dan Yeongmin terlalu dekat.

“Kau masih berhubungan baik dengannya kan?” Tanya Yeongmin kemudian.

“Entahlah…” Aku menggendik bahu. Aku sendiri apa ini bisa dikatakan masih berhubungan baik jika dia tak pernah berkomunikasi denganku setelah dia mengatakan dia merindukanku dan memberikan syal musim dingin pada awal musim semi.

“Jangan bercanda! Aku tahu sekali bagaimana kau dan Baekhyun tidak dapat dipisahkan dulu!” Seru Yeongmin dengan semangat. Dan entah bagaimana kami kini sudah berada dibasement. “Eh, ayo kuantar pulang…” Lanjutnya kemudian tanpa menunggu responku atas seruannya tadi. Yeongmin selalu membawa mobilnya ketika bekerja.

“Apartemenku tepat disebelah sini. Untuk apa kau mengantar…” Ujarku. Dia mengangguk-angguk.

“Yakin tak mau diantar?” Tanya lagi, aku mengangguk menjawab. “Ya sudah. Aku pulang. Ohya, kau tak mau ikut minum soju malam ini? Kami akan minum soju bersama!”

Aku menghela nafasku, “Kau tak tahu aku tak minum soju, Min.”

“Tapi ada Baekhyun.”

“Lalu?”

“Kau tak mau ikut?” Tanyanya. Aku mengangguk yakin menjawabnya. “Tapi di Yoon Sae Hi ikut loh…” Ucapnya sukses membuatku kaku sejenak. Yoon Sae Hi adalah teman kami saat SMA dulu, dia sejak dulu adalah fans berat Baekhyun. Bahkan terus saja menyatakan cinta walau Baekhyun selalu dan selalu menolaknya. Dan baru-baru ini Yeongmin mengatakan Yoon Sae Hi sukses dengan operasi plastiknya, dia sudah jauh berbeda dengan Yoon Sae Hi yang aneh saat SMA dulu. Yeongmin juga bilang jika dia belum menjadi milik Han Ahreum, mungkin dia akan memacari Yoon Sae Hi.

Aku akhirnya menggeleng, mantap dengan jawaban pertama, lagipula aku tak minum soju dan aku juga sedang tidak mau bertemu tuan idol itu.

***

Aku merenggangkan otot leher dan lenganku. Kulirik jam di nakas ranjang, sudah 10 PM ternyata. Empat jam berkutat didepan notebook membuat mataku nyeri dan pegal diseluruh tubuh. Aku menguap dan melepas kacamata bacaku. Sedikit tersenyum ketika melihat bingkai foto di atas meja kerjaku, potretku bersama dirinya ketika zaman SMA, sedikit mesra memang untuk ukuran hanya teman dekat dengan pose seperti itu. Mengingatnya, itulah mengapa lelaki ini tak pernah sukses dalam hal percintaan saat SMA dulu. Semua gadisnya terlalu labil dan cemburu karena pada akhirnya dia terjatuh bermanjaan denganku, bukan gadis-gadis itu.

Setelah selesai bernostalgia singkat, aku menutup notebookku dan berjalan menuju dapur.

Kerongkonganku butuh sesuatu yang menyegarkan untuk diminum. Aku memilih susu strawberry kesukaanku ketika membuka lemari pendingin dan tersenyum sejenak ketika melirik kotak susu. Sebenarnya ini tadinya bukanlah rasa kesukaanku, aku lebih menyukai coklat dibanding strawberry, namun entah kenapa akhir-akhir ini strawberry menjadi favoriteku. Ah, mungkin aku terlalu merindukan tuan idol menggila strawberry itu.

.

Ting tong ting tong… Ting tong ting tong…

.

Bel apartemenku ditekan terburu-buru dari luar ketika aku sedang mencerup susu strawberryku. Siapa yang malam-malam begini datang?

Dengan terpaksa aku melangkah kaki menuju intercom apartemen mengecek siapa yang datang, “Nuguseyo?” Tanyaku melirik layar intercom,

“Shin Ji Shin ssi? Kami petugas gerbang apartemen…” Ucap orang dilayar intercom membuatku bertanya-tanya, ada masalah apa sampai-sampai satpam menganggunya malam-malam seperti ini.

Ne, ada apa ya?” Tanyaku heran.

“Suami anda mabuk. Aku mengantarkannya…” Ucapan satpam itu membuatku membulat mata.

Su–suami? Siapa?

Tiba-tiba saja muncul lelaki lain dari balik punggung pak satpam itu, dia memakai topi terbalik dan menyengir ala orang gila. “Hai Shin…” Dia melambaikan tangan mempertunjukkan rentetan gigi putihnya. Dia mabuk.

“B–Baekhyun!”

Sontak aku yang kaget langsung berlari membuka pintu apartemen. Begitu terbuka Baekhyun langsung menyambarku masuk dalam pelukanku.

“B–Baek?!”

“Benar dia suami anda?” Satpam apartemen kami mengalihkan kekagetanku.

“Eh?!”

“Baiklah. Kalau begitu aku permisi dulu…” Satpam itu menundukkan badannya dan mulai berlalu.

Ahjuss—“

“Shin? Aku merindukanmu…” Kata-kataku tak berlanjut karena wajah jenaka Baekhyun sudah tepat didepan mukaku. Ouh! Bau alkohol mengoar dari mulutnya. Aku menghela nafas, dengan terpaksa menariknya masuk kedalam apartemen dan menutup pintu. Aku menariknya menuju sofa ruang tengah.

“Aish! Pasti kau minum terlalu berlebihan!” Aku menghempasnya diatas sofa.

Anhi! Se gae! Aku hanya minum 3 botol…” Ucapnya penuh cengiran dengan wajah bodoh mabuknya itu. Aku meniup poni. Dia bahkan bisa menjawab saat mabuk begini. Dan yang mengejutkan lagi, dia memilih datang keapartemenku saat mabuk. Ouh! Byun Baekhyun membuat masalah. Bagaimana jika ada orang melihatnya, lalu menyebarkan berita yang tidak-tidak tentangnya. Apa dia ingin merusak image idolnya?

Aku menghela nafas berat, berjongkok membuka sepatunya, kemudian kembali berdiri bersusah payah melepas jaketnya. Kuletakkan sepatu itu di rak-rak didekat pintu masuk, menggeletakkan sembarangan jaketnya diatas sofa. Aku menariknya kembali masuk kedalam kamar.

“Ouh Baek! Kau berat!” Runtukku menghempaskannya diatas ranjang. Aku menyelipkan anak rambut dibalik telingaku. Lalu, berjalan menghidupkan pemanas ruangan dengan suhu sedang, mematikan lampu besar, dan menghidupkan lampu duduk diatas nakas. Kembali duduk diatas ranjang dan membuka kancing kemeja putih Byun Baekhyun yang nampak kepanasan itu.

“Tidurlah Baek, aku akan tidur di—” kalimatku kembali terputus. Baekhyun yang mabuk itu menarikku hingga jatuh diatas ranjang, menghempas dan membalik tubuhku seenaknya. Dia memeluk erat tubuhku setelahnya.

Ya! Apa yang kau—“

“Kau wangi, Shin…” Dia terkekeh masih dengan ala orang mabuk, tidak membuka matanya yang tertutup.

“Baek! Lepaskan ini!”

“Aku mengantuk, Shin…” Lirih Baekhyun.

“Maka dari itu lepaskan aku dan tidur—” terputus lagi kalimatku. Aku sudah bisa mendengar dengkuran Baekhyun tepat ditelingaku sekarang. Aku menghela nafas, tak bisa berbuat apa-apa, Baekhyun mengunciku.

Sedetik kemudian aku terkekeh tak bersuara. Inilah Byun Baekhyun dengan segala kelakuan seenaknya-saja miliknya, sembarangan menyentuh dan memeluk. Inilah juga alasan lain kenapa dia tak pernah bertahan lama dengan gadis-gadisnya saat masa-masa sekolah dulu. Baekhyun terlalu lebih banyak berskinship denganku ketimbang gadis-gadis labil itu. Baekhyun membuat mereka cemburu dengan kedekatan kami.

Aku sudah tak berdaya kini, yang kulakukan sekarang ikut menutup mata mengimbangi dengkuran Baekhyun, lagipula aku sudah terlalu lelah. Aku juga butuh tidur.

***

Aku menggeliat resah merasakan sesak benda keras menimpa tubuhku, terpaksa sekali aku mengedipkan mata berusaha menetralisir keadaan,

“Hei, Shin! Bangun…” Perlahan dapat kutangkap close-up wajah Baekhyun tepat diatasku. Dia tersenyum dengan rentetan gigi putihnya.

“Eung…Baek…” Lirihku berusaha mengumpulkan nyawaku yang masih berkeliaran. “Kau berat, Baek! Menyingkirlah…” Desakku menyadari dia menindihku. Namun dia tak bergeming sama sekali.

“Hei, apa yang kita lakukan semalam? Apa aku menidurimu?” Tanyanya berbinar-binar membuatku sukses membelalak mata dan mendorong keras tubuhnya terjungkal diranjang. Aku mengangkat tubuhku.

BYUNTAE!” Pekikku. Dia terkekeh.

Ya! Aku hanya penasaran. Kita tidur berpelukan dan aku tak memakai baju. Bukankah mungkin saja semalam kita melakukan hal yang aneh-aneh?” Ucapnya terus saja terpingkal-pingkal.

“Wah, efek mabuk membuat otakmu timpang sebelah ya…” Ejekku dan beranjak dari ranjang. Dia memunguti kemeja putihnya yang entah kapan tak ada lagi ditubuhnya itu, seingatku semalam aku hanya melepas kancingnya. Dia berjalan mengekori keluar dari kamar menuju dapur.

“Darimana kau tahu alamat apartemenku?” Tanyaku menuangkan air mineral digelas dan meneguk, menuangkan kembali pada gelas itu dan memberikannya pada Baekhyun.

“Dari ibu…” Ucapnya meneguk air mineral itu. “Wah, kau jahat sekali, pindah keapartemen tanpa memberitahuku…” Dia meletakkan sembarangan gelas itu diatas meja makan.

“Ibu yang mana?” Tanyaku, mengingat dia memanggil panggilan yang sama untuk ibunya dan ibuku. Aku mengeluarkan lasagna buatanku kemarin dan memasukkannya ke microwave untuk dipanaskan.

“Dari ibumu. Ohya, apa itu?” Tanyanya menengok isi microwave yang sedang kuotak-atik itu.

Lasagna, Baek. Untuk sarapan kita.” Jawabku.

“Wah, kau masih saja suka makanan ala-ala orang barat begitu ternyata…”

“Kenapa? Kau tak suka? Aku akan membuatkan ramyeon untukmu jika kau tak suka lasagna…” Ucapku santai dan tersenyum mengejek kearahnya.

Ya! Aku kan tak bilang aku tak suka!” Serunya. Aku terkekeh. “Apa kau membuat sendiri?” Tanya Baekhyun. Aku mengangguk mengiyakan.

“Baguslah. Aku juga tak mau jika istriku nanti tak bisa memasak…” Ucapnya santai. Aku mengerut dahi.

“Aku tak mau jadi istri Byun Baekhyun” sanggahku.

“Kau harus!”

“Baek!”

Dia terkekeh, “lalu kenapa kau tak ikut semalam?” Tanyanya mengalihkan pembicaraan.

“Kau kan tahu aku tak minum-minuman keras…” Jawabku sambil mulai menyiapkan piring dan juga jus buah diatas meja makan. Dia masih bersandar pada counter pantry.

“Tapi setidaknya kau menemaniku.” Dia melipat tangannya didada.

“Ada Yoon Sae Hi yang menemani, kan?” Ujarku santai. Aku menuangkan jus buah kedalam gelas kami tadi, meletakkannya diantara piring-piring. Aku malas mengambil gelas lagi dari lemari peralatan. Kurasa satu gelas saja cukup, kurasa Baekhyun dan aku tak ada penyakit mematikan, jadi tak perlu ragu untuk saling berbagi gelas.

“Wah, kau bahkan terlihat cemburu dengan Yoon Sae Hi” ejek Baekhyun.

Aku mendelik lebar, “Anhi godeun!” Teriakku. Dia terkekeh lagi.

“Tak apa juga sih jika kau cemburu. Itu wajar, kau kan cinta aku dan aku cinta kau…”

“Berhenti mengatakan omong kosong, Baek…” Aku menatap dia yang masih bersandar itu dengan tajam. Dia terus saja terkekeh. “Aku serius, Baek!” Sungguh, aku kesal dengan tawa ejekannya itu.

“Aku juga serius, Shin.” Ucapnya mengangguk-angguk. “Aku mencintaimu sangat…” Dia mengatakannya dengan sangat-sangat santai sekali. Bagaimana aku tak kesal dibuatnya.

“Berhenti beromong kosong—“

“Apa aku tak boleh mencintaimu?”

“Mana mungkin? Kau dan aku berbeda. Kau idol, dambaan semua orang dan aku hanya pegawai bank yang harus mati-matian bekerja untuk kenaikan jabatan!” Sontak aku berkata dengan nada tinggi mencurahkan semua isi hatiku. Munafik sekali jika aku tak mencintai Byun Baekhyun. Dia sudah membuatku berdegup tak karuan sejak lama, bahkan dia memberiku penyakit rindu tidak berkesudahan. Dan kini dia mengatakan hal seperti ini dengan sangat santai, disaat perbedaan kami sangat mencolok.

“Berhentilah mengatakan omong kosong, Baek!” Bentakku lagi dan berbalik untuk menjauh, tapi dia malah menarikku masuk kepelukannya, tanganku menyentuh dada bidang yang terekspos karena kemejanya tak dikancingkan sama sekali.

YA! Lepas, Baek!” Bentakku, mencoba meronta dipelukannya.

“Aku serius, Shin! Aku mencintaimu!” Kini wajahnya menatapku tajam tanpa ada tawa sedikitpun. Benar sekali terpancar keseriusan mendalam dimatanya.

“Baek, kita tak mungkin—“

Terputus. Baekhyun dengan seenaknya saja menarik tengkuk belakang leherku. Dia menempel bibirnya pada bibirku. Menyesap dengan cepat bibir lembutku. Menghisap dan menekan sekuat tenaga seolah mengatakan ‘aku benar-benar dengan semua perkataanku’.

Menyerah. Aku tak bisa apa-apa lagi. Aku terpaksa menutup mata untuk ikut meresapi kelakuan seenaknya-saja itu, mencoba mempercayai kata-katanya beberapa saat yang lalu.

.

Tit…Tit…Tit…

.

Suara microwave berbunyi, lasagnaku minta diangkat dari dalam sana. Baekhyun melepas ciumannya. Aku terengah ketika Baekhyun memberi jarak diantara wajah kami. Wajahku memerah sempurna, pun mataku berkaca-kaca. Bukan. Bukan karena aku sedih, bukan karena aku marah, bukan juga karena aku kesal, ini karena ciuman Baekhyun yang terlalu membawaku lupa diri.

Baekhyun meraih wajahku dengan kedua tangannya, membuatku yang menunduk mendongak menatapnya, dia tersenyum dengan rentetan giginya. “Aku ingin lasagnaku. Aku lapar…” Ucapnya lembut dan santai, seolah kami tak melakukan apa-apa beberapa detik yang lalu.

“E–eoh…” Lirihku.

***

Fin.

Iklan

39 pemikiran pada “Break Mind

  1. huwaaa….uri baekhyuni…
    suka thorrr….
    emang baeky suka seenaknya,,hahaha (sok tahu banget)
    suka ceritanya, one shot tapi soooo fluthering,,,hehehe..
    gomawoyo 🙂

  2. Aaaa, yaampuunnn.. Bikin ‘ergh..’ Bangett.. Haha saking gaada kata2.. Baekhyun nya santai dan errr agresif jugaa hahahaha sweet lah but not really soft hehe aku ampe baca dari yearning dulu… Penasaran yg kyk gini2 hihi.. Bikin lagii bikin lagii thor *plakk*

  3. waaah authornim cerita shin sama baekhyun harus ada kelanjutannya, baek ngegantung perasaan shin nggak sih authornim??? buat mereka bersatu ya authornim 🙂

  4. sequel lagiiii, soswit bangeeet, masih gantung pula,sequel thor pokonyaaa titiiik, ditunggu yaaa seqeulnya sama karya author selanjutnyaa, castnya baekhyun terus ajaa dia biasku;p

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s