Horor’s Date [Chapter 1]

Untitled-1

 

Tittle : Horor’s Date ║ Author : Acchan ║ Main Cast : Wu Yifan (Kris), Kwon Yuri ║ Genre : Romance, horror, mistery ║ Length : Series ║Rating : PG-15
AN: Annyeongaku datang lagiii dengan series terbaru. Apa ada yang nunggu series ini? #gak ada
Ini lanjutan dari “ Who is baby chan – Special Kiss – Grrr – Return My Phone – Thank you for the memories”
Ff ini pernah aku publish di wp pribadi akuu : http://yuchanna.wordpress.com/
Hope you like it. Readers yang baik akan selalu meninggalkan jejak mereka^^
Sebuah mobil audy hitam metallic terpakir sudah dari sejam yang lalu di ujung jalan yang tak jauh dari Yonsei Univercity. Kris, dengan kacamata hitamnya dan topi di kepalanya masih setia menunggu dengan earphone yang melekat di kedua telinganya. Pintu terbuka, seorang gadis dengan dandanan casual langsung duduk di samping Kris.
“Kau benar benar menjemputku?” Gadis itu meletakkan tas selempang di samping tempat duduknya.
“Tentu saja! aku tak pernah berbohong dengan ucapanku” Kris membalas santai ucapan gadis itu. ia melepaskan earphone di telinganya.
“Arosso, aku mempercayaimu tuan Wu”
“Kita mau kemana?” Tanya Kris mengalihkan pembicaraan.
“Ya! Bukankah kau yang mengajakku untuk pergi” Kris menepuk jidatnya. Ia memang yang mengajak Yuri, gadis disebelahnya kini untuk pergi bersamanya. Tapi ia lupa untuk menyusun acara kemana mereka harus pergi. Yuri mengenal betul namja chinise disampingnya, ia bisa menebak dari raut wajah Kris, namja itu tak tahu harus pergi kemana.
“Hmm… gimana kalau kau menemaniku memotret ke suatu tempat?” Kris berbalik menatap yeojachingunya itu.
“Tugas kuliahmu?” Yuri mengangguk pelan.
“Ah, ayolah yull kita bahkan baru bertemu, haruskah kau kembali berkutat dengan tugas kuliahmu?” Kris melengos menjatuhkan tubuhnya ke sandaran jok mobil.
“Kalau kau tidak mau, yasudah. Aku pergi sendiri”Kris buru buru menahan Yuri ketika gadis itu hendak membuka pintu mobil.
“baikalah, baiklah. Kau ingin pergi kemana?” Kris akhirnya mengalah.
“Gwangju, Gyeonggi-do “Seketika mata Kris melebar setelah Yuri mengatakan tempat yang ingin ia kunjungi.
“Mwoya? Apa kau gila?!”
~”~”~”~”~
Mobil hitam metallic itu berhenti disebuah bangunan tua yang merupakan bekas dari sebuah rumah sakit jiwa. Sunyi sepi. Itulah gambaran keadaan disana. Kris masih terdiam dibalik kemudinya. ia melirik Yuri sekilas. Gadis itu sibuk mengutak atik kamera yang akan digunakan untuk tugas kuliahnya. Yap, Yuri adalah mahasiswi jurusan fotografi yang kini sedang berada dalam semester penghabisan. Bertumpuk tumpuk tugas, ujian, skripsi sudah menjadi makanan sehari hari baginya. Dan tentu saja, itu semua membuat dia dan Kris jarang sekali memiliki waktu untuk bersama.
Kris tidak habis pikir dengan dosen yang memberikan tugas untuk memotret di tempat seperti ini. bekas rumah sakit jiwa Gongjiam. Siapa yang tak mengenal tempat itu. rumah sakit jiwa yang sudah ditutup sejak 15 tahun silam tanpa alasan yang jelas. konon katanya memiliki kisah aneh dan menyeramkan.
Pepohonan liar di halaman, kaca jendela yang lusuh, dinding bangunan yang retak serta suasana yang sunyi sepi mendukung suasana menyeramkan ditempat ini. Yuri baru saja selesai membersihkan lensa kameranya. Ia mengalungkan kameranya di leher seperti seorang fotografer handal.
“K-kau y-yakin akan memotret disini?” Kris kembali mengulang pertanyaan yang sedari tadi teru ditanyakannya pada Yuri selama perjalanan. Yuri mengangguk mantap. Raut wajahnya terlihat biasa, berbeda dengan Kris yang terlihat sedikit gelisah.
“Jangan bilang kau takut Kris” Yuri tersenyum meledek namja di sampingnya gelisah.
“T-tidak… J-jangan samakan aku seperti Tao” elak Kris masih dengan ucapan yang terbata bata.
Yuri tertawa pelan. Ia sangat mengenal namja di sampingnya kini. Ia tahu kini namja chinise itu sedang gelisah ketakutan karna mengajaknya dating ke tempat seperti ini. Yuri membuka pintu mobil dan keluar. Angin kencang langsung menyambutnya saat itu.
“Kau mau keluar atau menunggu disini?” Yuri menyembulkan kepalanya ke dalam mobil melihat Kris yang terdiam tak kunjung keluar dari mobilnya. Kris segera membuka sabuk pengamannya. Perlahan ia membuka pintu mobil. ‘Wussszzzzzzzzzzz’ sama seperti Yuri, angin kencang yang terasa dingin menyambutnya. Dan entah mengapa tiba tiba saja Kris merasa sesuatu yang aneh pada dirinnya. Bulu kuduknya serasa merinding setelah hembusan angin itu.
“Ya! Jangan tinggalkan aku!” Kris berlalri mengejar Yuri yang mulai melangkah memasuki halaman bangunan tua itu.
“Tenang aku tak akan meninggalkanmu tuan penakut”
“Ya!” Kris membentak Yuri tak terima dengan ucapan yeoja itu.
Yuri terkekeh pelan melihat ekspresi Kris. Wajah namja itu kini terlihat berbeda 180 drajat dari biasanya. Sejenak suasan hening. Yuri mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Mencari objek foto yang tepat. Ia mulai membidik satu persatu objek yang menurutnya bagus.
“Tugas kuliahmu ini individu?” Kris bersuara kembali memecahkan suasana hening yang sempat terjadi.
Yuri hanya menjawab dengan anggukan. Ia masih focus memotret semua objek disitu yang menurutnya bagus. Kris menghembuskan napas kasar. Percuma mengajak Yuri mengobrol disaat yeoja itu sibuk dengan dunianya. Fotografi. Tapi Kris juga tak ingin terdiam terus. Apalagi di tempat seperti ini. Tidak. Ia harus berbicara terus berusaha mengontrol rasa gelisahnya.
“Apa tidak ada pilihan tugas lain selain memotret di tempat seperti ini?”
“Ada sih, hanya saja aku tak tertarik” Yuri mulai merespon ucapan Kris.
“Wae?”
“Kau ingin aku memotret pria toples dengan abs absnya?”
“Kau mau cari mati?” Kris memandang Yuri sengit.
“Aku mencari nilai Kris, bukan mencari mati” Yuri tersenyum licik melihat reaksi Kris yang mulai sesungutan. Ia sangat menyukai menggoda namja itu. Menurutnya itu sangat lucu.
“Terserah kau saja lah” Kris akhirnya mengalah.
Yuri kembali melangkahkan kakinya memasuki lebih dalam bangunan tua itu. Melihat sekeliling sekali kali membidik dengan kameranya. Kris mengikuti di belakangnya. Namja itu juga melihat sekeliling bangunan tua itu. Lagi lagi Kris perasaan tidak enak menghampirinya.
“Kau tidak akan memotret sampai ke dalam kan?” Kris bertanya memastikan.
“Hmm kenapa memangnya? Jangan bilang kau mulai takut Kris”
“Aish, kau tak tahu cerita dibalik bangunan ini?”
“Tentu saja aku tahu? Lalu masalahnya?”
“Lupakan” Kris lagi lagi mengalah. Percuma saja berdebat dengan Yuri hanya membuang buang waktu. Yeoja itu tetap tidak mau kalah. Apa lagi yeoja itu terus mengatainya penakut. Tentu saja Kris tidak terima. Dan terpaksa ia tetap harus bersikap cool seperti biasanya, meski perasaan takut selalu menghampirinya.
‘Kriettt’ Suara pintu yang berdecit saat Yuri membukanya. Dugaan Kris benar. Yeoja itu akan memotret smapi ke bagian dalam bangunan tua itu.
Mereka berdua berjalan melewati lorong panjang seperti biasanya yang terdapat di rumah sakit. Sepi sunyi dan kotor itulah dapat di gambarkandari tempat itu. Tembok yang retak dan beberapa kayu yang berserakan belum lagi debu debu kotor benar benar membuat suasana menyeremakan.
“Yull, Kajja kita pulang. Bukankah kau sudah banyak mendapatkan foto” Kris terlihat mulai tak tahan lagi berada di tempat itu.
“Ah ini belum begitu banyak yang bagus Kris”
“Kau mau sebanyak apa eoh? Bukannya daritadi kau selalu menjeprat jepret ini itu” Kris mulai kesal.
“Baiklah satu tempat lagi dan kita akan pergi” kali ini Yuri mengalah. Ia melanjutkan jalannya berbelok kea rah kanan di ujung koridor.
“Ke tempat mana lagi? Sudah sampai disini saja” Kris mensejajarkan langkah mereka. Kini mereka berdua berada di lorong yang banyak terdapat pintu pintu kamar. Sepertinya ini adalah ruang inap pasien.
Yuri mengintip melalu kaca jendala yang sudah berlubang di slah satu kamar disitu. Ia meneliti setiap bagian di dalam ruangan itu. Sedangkan Kris masih setia menunggunya dengan gerutuan gerutuan yang keluar dari mulut amja itu. Yuri sepertinya tertarik untuk melihat lebih detail lagi, kini beralih hendak membuka pintu kamar itu. Namun sayang, ia tidak bisa membuka pintui itu. pintu itu tertutup rapat.
“Kris, bisakah kau mebuka ini?” Yuri beralih menatap Kris memohon agar namja itu membantunya.
“Pintu itu sudah lama tertutup, pantassaja kalaut tak bisa dibuka” sungut Kris. Namja itu enggan membuka pintu tua itu.
“Ayolah Kris, aku janji setelah ini kita pulang.” Yuri masih memohon. Kris menghembuskan napasnya kasar. Ia beranjak mendekati Yuri. Memegang gagang pintu itu dan membukanya sekuat tenaga. ‘Brakkkk’ Pintu terbuka.
Ruangan kosong dengan begitu banyak barang yang berserakan. ‘Jeprettt’ Yuri mulai membidik semua yang ada di situ. Buku buku penuh debu yang berserakan, mantel lusuh dokter yang masih tergantung di ruangan itu, serta catatan dan coretan coretan di dinding yang terlihat masih baru ditulis kemarin. Sungguh terlihat aneh bukan?
‘Brakkkkkk’
Pintu tiba tiba saja tertutup. Yuri berbalik dan baru disadarinya ia hanya seorang diri di ruangan itu. Yeoja itu beranjak membuka pintu namun nihil pintu tak bisa dibuka.
“Kriss! Kriss!! Krissss! Buka pinntunya Kriss!!” Yuri berteriak menggedor gedor pintu. Semangat memotret yang tadinya membucak perlahan surut digantikan Perasaan takut mulai menggerogotinya saat ini.
“Kriss!! Kau di luar? Krisss! Kumohon buka pintunya” Yuri mulai kalang kabut ssat Kris tidak meresponnya.
“Kriss!! Bak pintunya Krissss”
Yuri terduduk lesu. Perlahan butiran air mata jatuh dipipinya. Ia takut. Ia sungguh sangat ketakutan saat ini. Apalagi tiba tiba saat ia menoleh kesamping, ‘PERGILAH’. Tulisan dengan warna merah darah tertera di tembok itu. Yuri semakin terisak. Harusnya ia mendengarkan perkataan Kris untuk pergi dari tempat ini.
‘Kriettt’ pintu perlahan terbuka. Yuri segera beranjak berdiri dan keluar dari ruangan itu. Ia langsung memeluk Kris yang berada di balik pintu, masih dengan isakan tangisnya.
“Ya… kau kenapa?” Kris kaget melihat Yuri yang tiba tiba memeluknya. Ditambah lagi yeoja itu memelukanya sambil menagis seperti ini.
“Hikss… hikss aku takut Kris… hiks” yuri menjawab dengan suara yang masih sesenggukan.
“Aku disini, kau tak perlu takut” Kris berusaha menenangkan yeojanya meski ia sendiri sudah sedari tadi merasa ketakutan. Yuri mendongakkan wajahnya menatap Kris.
“Kau yang menutup pintunya?” Tanya yuri.
“Tidak, bukankah kau sendiri yang menutup pintu. Kau bilang kau tidak ingin di ganggu”
“Mwo? Pintunya tertutup sendiri. Sedari tadi aku berteriak memanggilmu”
“Aku tak mendengar teriakan apapun” seketika mereka berdua terdiam. Ini sungguh sangat aneh. Apa lagi hal yang dialami Yuri. Yeoja itu kini berubah 180 drajat berbeda dari awal memasuki tempat ini.
“Sudahlah, ayo kita pergi” Kris merangkul Yuri. Menuntunnya pergi meninggalkan tempat itu. Dan tanpa mereka sadari bayangan putih memnadang kepergian mereka dari balik ruangan tempat Yuri terkunci tadi.
~”~”~”~”~
Yuri menghempaskan tubuhnya di salah satu kursi di kedai makanan yang baru saja mereka masuki. Begitu pula Kris, ia duduk dihadapan yuri dengan penyamaran lengkapnya. Seorang pelayang mendatangi mereka.
“Annyeong oppa, kalian mau memesan apa?” Kris melirik pelayan itu dari balik kacamata hitamnya. Ia kembali bersikap bisa setelah tahu siapa pelayan itu. Namjo. Gadis yang sudah beberapa hari ini dikenalnya sering datang membersihkan dorm mereka.
“Kau tidak sekolah?” Kris berbasa basi sambil membalik buku menu yang diberikan gadis itu.
“Ini hari sabtu oppa, sekolah libur. Jadi aku membantu ahjumma Kim disini”
“Ah begitu. Ini” Kris mengembalikan buku menu sekaligus pesananan mereka.
“Arrasso harap menunggu” Namjo membungkuk lalu pergi meninggalkan meja Kris.
“Kau mengenalnya?” Yuri yang sedari tadi diam mulai membuka suara.
“Dia orang yang ditugaskan Chorong untuk membersihkan dorm” Yuri mengannguk angguk mengerti. raut wajahnya kembali seperti semula saat ia datang. Lesu.
“Kau kenapa? Masih terpikir kejadian tadi” Kris menyadari sesuatu yang aneh pada yeojachingunya sejak tadi”
“Entahlah, aku juga bingung. Perasaanku masih tidak enak Kris”
“Sudah tak usah dipikirkan”
Kris dengan gaya coolnya menenangkan Yuri yang Nampak gelisah. Ia mulai menegdarkan pandangannya kesekeliling kedai. Tak banyak orang yang datang ke kedai ini. Namun tetap saja ia harus berhati hati agar tidak ketahuan fans atau paparazzi. Pandangan matanya tiba tiba tertuju pada meja pojok di kedai itu. Kris merasa aneh pada 2 orang yang berada disana. Gerak gerik mereka begitu mencurigakan. Dan Kris sepertinya tak asing dengan mereka.
“Kriss… Kriss!!” Yuri membentak Kris karena namja itu tak kunjung meresponnya.
“Nee?” Kris mengalihkan pandangannya kembali ke Yuri.
“Makanannya sudah datang” Yuri menunjuk pesanan mereka di atas meja.
“Ah ye..” Kris mengambil sumpit dan mulai memakanpesanannya.

Disisi lain…
2 orang yang duduk di meja pojok kedai itu sibuk menyembunyikan wajah mereka. Sang namja sibuk menutupi wajahnya dengan buku menu, sedangkan sang gadis menyembunyikan wajahnya dibalik rambut panjangnya yang tergerai.
“Aigoooo… kenapa Kris bisa ada disini? Jangan sampai kita ketahuan Channa-yah”

[END]
See you next series^^

9 tanggapan untuk “Horor’s Date [Chapter 1]”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s