The Killer #1 – (Our Lives)

The Killer

Title : The Killer

Genre : AU, Angst, Fantasy, Lil bit Mystery, Romance

Rating : T/Teenager

Lenght : Chaptered

Poster & Story © Carlisle Han

Disclaimer : The Killer, adalah fanfiction pertama yang saya tulis setelah hiatus selama 2 tahun. Bersumber dari imajinasi saya sendiri dan terinspirasi dari film ‘The Twilight Saga’. Cast EXO milik agensi dan orang tua mereka. OC adalah karangan hasil imajinasi saya yang di perankan oleh beberapa ulzzang girl dari Korea. So, don’t be plagiator! Terimakasih ^^

Note : Semua cast dan watak tokoh sudah saya jelaskan di teaser. Happy reading ^^

Backsong :

∙ SPICA – Painkiller

∙ Within Temptation – Forsaken

∙ Within Temptation – Say My Name

∙ Within Temptation – Our Farewell

∙ Taylor Swift – Forever and Always

Previous : Teaser

The Killer [Our Lives]

 

Chicago, 1942

Electrocardiography di ruang operasi itu menunjukkan grafik detak jantung seorang pria yang semakin lama semakin melemah. Seorang dokter berusaha memompa jantung pria itu secara manual agar orang yang tergolek lemas dengan oksigen yang membantu pernafasannya di ranjang operasi ini masih bisa bertahan hidup.

Namun, memang Tuhan sudah berkehendak lain. Pria yang ditafsir masih berusia 25 tahun itu pun menghembuskan nafas terakhirnya. Pria itu mengalami pendarahan hebat sebelum akhirnya meninggal dunia akibat kecelakaan mobil yang ia alami.

Dokter itu pun membawa pria itu menuju ruang jenazah. Ada beberapa mayat yang memang kebanyakan mati di usia muda. Mayat pria ini juga. Kemarin seorang pria berusia sama juga meninggal akibat kecelakan mobil. Tubuh pria itu masih dalam keadaan utuh walaupun kecelakaan itu harus merenggut nyawanya.

“sudah ada pesananku?” suara seseorang menggema saat pintu ruang jenazah itu terbuka dan di tutup kembali. Ruangan ini memang sangat tertutup dan sedikit pengap. Namun dokter ini sangat menyukai tempat tersebut.

Dokter yang berusia sekitar 37 tahun dengan name tag Jonathan Oh itu pun menoleh dan mendapati rekannya berjalan masuk mendekat ke arahnya.

“dia baru meninggal beberapa menit yang lalu.” dokter Oh menunjuk sebuah mayat menggunakan sudut matanya.

“dan kau?” pria yang memakai stelan jas mahal itu pun mendekati mayat yang di maksud oleh dokter Oh padanya. Ia sedikit memperhatikan mayat pria yang menurut dokter Oh meninggal beberapa menit yang lalu. “ini sempurna.” komentarnya. Ia pun tersenyum dan menepuk pundak dokter Oh pelan. “kau memang rekanku.” lelaki itu pun tertawa hambar yang di sambut dengan senyuman tipis oleh dokter Oh.

“dan ini milikku.” dokter Oh menunjukkan sebuah mayat lain yang dimaksudnya meninggal kemarin. Seorang pria yang berusia sama sekitar 25 tahun.

“kenapa milikmu lebih tampan?” protes lelaki yang memakai stelan jas tadi.

“ku rasa, mereka berdua sama-sama tampan.” dokter Oh mendekat ke mayat yang di klaim sebagai ‘miliknya’ itu dan menghirup bau tubuhnya. “cepat selesaikan, atau orang-orang akan tahu apa yang sudah kita perbuat pada mereka, Johnson Kim.” seru dokter Oh. Ia sudah mendekat ke arah leher pria tersebut.

“tunggu―” sela Johnson menghentikan aktifitas dokter Oh. Dengan geram dokter Oh kembali mendongak menatap rekannya itu dengan tatapan marah.

“apa lagi?” ketusnya. Ia sangat tidak suka ‘pekerjaannya’ diganggu.

“apa mereka tak punya keluarga?” tanya Johnson yang menyadari sesuatu. Jika kedua mayat ini mempunyai keluarga, mereka pasti akan mencari keberadaan mereka bukan?

“bodoh.” umpat dokter Oh. “setelah ini, kita akan membawa mereka pulang ke Seoul. Tidak akan ada yang tahu jika mayat ini kita bawa. Cukup menggantinya dengan mayat yang baru dan keluarga mereka tak akan mengira jika mayat di dalamnya bukan anggota keluarga mereka.” serunya. Terkadang memang dokter Oh memiliki ide-ide yang diluar dugaannya sendiri. Menggantinya dengan mayat baru bukan sebuah ide yang buruk. Yang terpenting saat ini adalah, mereka mempunyai seorang ‘keturunan’.

“terkadang kau jenius. Haha..” Johnson kembali tertawa hambar yang tak di gubris oleh dokter Oh. Ia kemudian melanjutkan kembali ‘pekerjaannya’ yang tertunda.

Seoul, 2012

Pria itu memasuki lobby gedung mewah bertingkat bersama dengan sang ayah di sampingnya. Ia sedikit merapikan setelan jas yang ia kenakan saat ini. Sang ayah sedang berbincang dengan kolega bisnisnya dan dirinya sendiri hanya diam mendengarkan pembicaraan mereka.

Johnson Kim, yang merubah kembali namanya menjadi nama aslinya Kim Jongwoon, mengajak putranya ke sebuah perusahaan yang ia bangun sendiri dari nol. Sekarang perusahaan itu sudah berkembang pesat di bidang designer. Ini kali pertama, Jongwoon membawa putranya ke kantor dan menimbulkan riuh di kantornya untuk beberapa saat.

Semua pasang mata menatap putra Kim Jongwoon dari atas hingga ke bawah dan kembali ke atas lagi. Dia sangat sempurna. Apalagi dengan setelan jas mahal yang ia kenakan. Semakin menambah kesan maskulin dalam dirinya.

Kim Kai. Putra tunggal seorang pengusaha sukses, Kim Jongwoon. Pria itu mempunyai wajah dan bentuk tubuh yang sempurna dengan tingginya 183 cm. Sorot matanya sangat tajam, wajahnya seputih susu walaupun masih terlihat sedikit kecoklatan. Ia sangat tampan dan begitu sempurna di mata siapa saja yang melihatnya.

Seseorang yang sedikit berlari itu tak sengaja menyenggol lengannya dan terhuyung jatuh ke lantai. Kertas-kertas yang sedang ia bawa pun berserakan semua di lantai. Ia segera berdiri dan membungkuk berkali-kali.

“joesonghamnida.” ucapnya di sela-sela membungkuk meminta maaf. Kai hanya meliriknya sekilas dan kembali berjalan menyusul sang ayah yang sudah berada di depan pintu lift.

Gadis ceroboh ini pun kembali merapikan kertas-kertasnya yang berserakan dan secepat mungkin sampai di ruang rapat. Hari ini ada rapat penting mengenai launching gaun terbaru keluaran Kim Corp. yang ia ciptakan bersama beberapa rekannya.

**

“ku dengar akan ada peragaan busana di tempatmu bekerja.” seru Chanyeol yang membawa nampan berisi bokkumbab, semangkuk jajangmyeon, dan dua gelas orange juice untuk pelanggan setianya, Hyemin dan Jaerin. Setelah meletakkan pesanan keduanya di meja, Chanyeol ikut duduk di samping Hyemin.

Hyemin terlihat membuang nafasnya kasar. “semuanya hampir gagal.” ucap Hyemin lesu dan mulai menyendok bokkumbab yang ia tahu pasti ini buatan Chanyeol sendiri, bukan buatan koki yang di pekerjakan di restorannya ini.

“ini semua karena kecerobohanmu.” seloroh Jaerin yang sedang menikmati jajangmyeonnya.

“aku hanya terlambat dua menit lima belas detik, dan ini juga karenamu. Suruh siapa kau mengajakku menonton Breaking Dawn semalam suntuk.” Hyemin membela diri. Tidur tengah malam karena menonton film bersama Jaerin, bangun kesiangan, dan datang terlambat. Itu yang di alami Hyemin hari ini. Bahkan ia tak pernah terlambat sebelumnya di rapat penting seperti ini.

“tapi aku tak bangun kesiangan seperti yang kau lakukan. Dan kau tahu kolega-kolega itu tak mau menunggu. Mereka bisa saja membatalkan sponsor mereka pada peragaan busana kali ini. Dan itu bisa berimbas buruk pada perusahaan dan karir kita.” cecar Jaerin. Hyemin mengaku salah. Tapi, tidak logis saja. Ia hanya terlambat dua menit dan semua memarahinya, termasuk Jaerin? Mimpi apa ia semalam.

Melihat Hyemin hanya terdiam, Chanyeol menyela dan membuat suasana agar lebih tenang. “sudah sudah, yang penting kan peragaan busana itu tidak jadi gagal. Kalian seharusnya bekerja lebih keras untuk itu, bukan malah bertengkar seperti ini.”

“maaf..” lirih Hyemin. Ia menyadari kesalahannya. Ini memang salahnya. Jadi tidak perlu menyalahkan siapapun.

“ya sudah. Selamat menkmati makan siang kalian. Aku akan kembali ke atas untuk menyusun laporan keuangan untuk bulan ini. Sampai jumpa, adikku.” Chanyeol mengacak rambut Hyemin pelan dan Hyemin membalasnya dengan senyuman tipis.

“dia lebih cocok menjadi kekasihmu.” komentar Jaerin yang membuat Hyemin membelalakkan matanya.

“kau ini bicara apa. Dia sudah ku anggap kakakku sendiri.” Hyemin kembali menyendok dan mengunyah bokkumbab buatan Chanyeol. Chanyeol sangat baik pada Hyemin. Keluarga Chanyeol pun menganggap Hyemin seperti anaknya sendiri. Karena ketlatenan Hyemin dan kerja kerasnya yang membuat orang tua Chanyeol ingin memiliki anak seperti Hyemin.

Itu hanya pertengkaran kecil yang biasanya terjadi pada mereka. Jadi jangan terkejut jika mereka sudah mengobrol seperti biasa sekarang.

“hey, kau lihat kan tadi presdir Kim memperkenalkan putranya sebagai CEO yang baru. Dia begitu tampan.” puji Jaerin yang tiba-tiba mengganti topik pembicaraan.

“biasa saja.” Hyemin terlihat kurang tertarik dengan topik pembicaraan Jaerin. Lelaki, tampan, kaya. Selama ini Hyemin enggan mengenal tentang lelaki. Padahal umurnya sudah menginjak 24 tahun. Ia hanya ingin bekerja keras untuk membahagiakan ayahnya. Ya paling tidak, ia bisa menabung untuk membantu biaya hidupnya dan ayahnya kelak.

“hey, ayolah Hyemin. Jangan hanya bekerja, bekerja, dan bekerja. Kau juga harus mengenal lelaki untuk menjadi pendamping hidupmu juga.”

“jodohku sudah ada di tangan Tuhan.”

“jodohmu juga tidak akan datang sendiri jika kau tak mencarinya.”

Benar juga. Yang di katakan Jaerin adalah benar. Hyemin terlalu menutup diri tentang masalah pribadinya dan juga lelaki. Ia bahkan belum pernah pacaran. Menurutnya, masalah percintaan hanya akan mengganggu pekerjaannya. Mungkin lelaki yang ia kenal selama ini hanya Park Chanyeol, dan ayahnya saja. Betapa malangnya dia.

Hyemin mengelap sudut bibirnya setelah meneguk orange juice nya. Ia menatap Jaerin yang juga sudah menyelesaikan makan siangnya. “aku akan membayarnya dulu.” seru Hyemin kemudian menuju kasir untuk membayar makan siangnya dan juga Jaerin hari ini.

Mobil Gran Lusso berwarna silver itu tiba-tiba menepi ketika Hyemin masih duduk setia di halte menunggu bus yang setiap hari mengantarnya pulang dan pergi ke kantor. Ia menatap bingung dan di detik berikutnya menyipitkan mata saat kaca mobil itu perlahan di turunkan. Terlihat seorang pria tampan yang sedang tersenyum ke arah Hyemin di kursi kemudi.

“hai..” sapanya ramah. Hyemin semakin mengerutkan keningnya, antara mengingat-ingat siapa pria ini dan bingung. “kau lupa denganku?” serunya ketika pria itu baru saja menutup pintu mobilnya dan menghampiri Hyemin.

“Luhan-ssi?” tebak Hyemin. Dan benar saja, pria yang memakai kemeja berwarna cream ini adalah Luhan. Teman semasa sekolah menengah atasnya dulu.

“haha, jangan terlalu formal.” Luhan duduk di samping Hyemin. “baru pulang kerja?” tanya Luhan setelahnya. Lebih tepatnya hanya sebuah basa-basi.

Hyemin mengangguk. “iya―” ia menatap Luhan sekilas. “kau bekerja dimana sekarang?” dari penampilannya, Luhan pasti sudah sukses sekarang.

“di AMC.” Luhan tersenyum simpul setelah mengucapkannya.

“wah, kau seorang dokter?” kagum Hyemin. Luhan hanya tersenyum dan mengangguk pelan. Pria itu tak henti-hentinya tersenyum di depan Hyemin. Senyuman yang tak pernah memudar sama sekali selama hampir 8 tahun.

“dan aku ingin mempunyai istri seorang designer.” canda Luhan. Tapi sepertinya ucapan itu bukan sebuah candaan. Semua orang juga tahu, bahwa Xi Luhan sangat menginginkan Park Hyemin. Kening Hyemin kembali berkerut. Apa maksudnya? “haha, sudah jangan di pikirkan. Ayo ku antar pulang.” tawar Luhan, namun cepat-cepat Hyemin menolaknya.

“tidak usah, nanti merepotkan.” Hyemin benar-benar tak tahu apa maksud pria ini padanya. Dan se-polos itukah dia sampai tak menyadari apa yang di ucapkan Luhan beberapa detik yang lalu itu sungguhan? Luhan ingin selalu dekat dengan gadis ini.

“aku tak merasa di repotkan, tenang saja.” Luhan tersenyum pahit dan harus menelan kekecewaan ketika bus yang ditunggu Hyemin telah datang. Berarti secara tidak langsung, bus itu lah yang menolak tawaran Luhan pada Hyemin.

“aku naik bus saja. Sudah ya, sampai jumpa.” Hyemin membungkukkan badannya dan berlari-lari kecil menuju pintu bus yang hampir tertutup. Luhan memaksakan senyumnya saat melihat Hyemin sudah menghilang dari hadapannya.

“sial.” umpatnya. Ia kemudian membuka pintu mobilnya dengan kasar dan menutupnya dengan kasar pula. Akan sampai kapan ia mengejar-ngejar Hyemin dan tak di anggap oleh gadis itu? Apa Hyemin benar-benar tak mengerti perasaannya selama ini? Sedangkal itukah hatinya?

Kai menghirup aroma black coffee yang di suguhkan Sehun beberapa menit lalu. Ia lalu menyesapnya sedikit dan meletakkannya kembali di meja.

“tidak buruk.” Kai menatap Sehun yang masih sibuk dengan beberapa berkas di mejanya. Laporan kesehatan beberapa pasiennya.

“aku tak menyangka kau menyukai black coffee. Menurutku wine lebih megundang selera dari pada kopi.” ucap Sehun tanpa melepaskan pandangannya dari map dan berkas di meja kerjanya.

“memang. Tapi kopi juga nikmat. Baunya harum, seperti bau darah. Aku heran denganmu, kenapa kau bisa tahan dengan profesimu yang seperti ini?”

“apa maksudmu?” Sehun meletakkan bolpoinnya dan memijat keningnya sebentar.

“kau sangat dekat dengan darah dan manusia, tapi kenapa kau bisa tahan? Kalau aku jadi kau, mungkin aku akan menyesap habis darah semua pasienku.” mendengar itu Sehun tertawa lepas. Sepertinya kedatangan Kai kemari cukup membantunya menghilangkan sedikit stress dengan map dan laporan-laporan ini.

“kau masih belum bisa meminum darah binatang ya?” tanya Sehun setelah berhasil menghentikan tawanya. Ia kembali pada laporan yang harus ia selesaikan hari ini juga.

“belum, tapi aku pernah mencicipinya, hanya sekali. Dan rasanya sangat aneh.” jawab Kai sedikit bergidik mengingat ia pernah meminum darah seekor rusa di hutan waktu itu. “dan kau, apa kau tak pernah meminum darah manusia sama sekali?”

Sehun kembali meletakkan berkasnya dan menatap Kai. “ayah tak pernah mengijinkanku. Tapi, aku selalu menyelinap ke ruang jenazah dan mengambil sebuah mayat untuk ku habiskan darahnya. Setelahnya ku bakar dan ayah tak pernah tahu hal itu.” jelas Sehun. Ia memang di latih untuk meminum darah hewan sejak beberapa puluh tahun lalu oleh sang ayah. Awalnya memang sangat sulit. Mengingat ia juga harus bergelut dengan darah selama menjadi dokter di Asan. Tapi, lama kelamaan Sehun menikmati pekerjaannya dan mulai terbiasa meminum darah hewan untuk penambah energinya.

“kau hanya meminum darah mayat yang di formalin? Malangnya nasibmu.” cibir Kai lalu menertawakan sahabat juga saudaranya ini. Sehun hanya berdecak dan sesekali mengumpat karena tawa Kai semakin membahana di ruang kerjanya.

Sehun kembali pada berkasnya saat Kai menerima telefon dari seseorang. Mungkin kolega bisnisnya. Perbincangan mereka cukup serius kelihatannya.

“model Jung Harin?” Kai sedikit menyipitkan matanya, walau itu tak diketahui oleh lawan bicaranya di seberang sana.

“ah, nde arraseo. Terserah tuan Lee saja mau memakai siapa sebagai modelnya.” Kai kembali terdiam dan mendengarkan perkataan seseorang di seberang sana. Orang ini yang sangat berpengaruh dalam peragaan busana di perusahaannya yang akan dilaksanakan minggu depan.

“baiklah, saya tunggu di kantor besok. Annyeong..” Kai memutuskan sambungan telefonnya dan kembali duduk di hadapan Sehun.

“rekan bisnis?” tanya Sehun. Kai hanya mengangguk pelan. Ia kemudian menyesap kembali black coffee-nya sebelum dingin.

“aku mengundangmu ke acara peragaan busana di kantorku minggu depan. Dan ingat, kau harus datang. Tidak ada seorang pun yang ku undang secara langsung seperti ini, kecuali kau, dokter Oh Sehun. Terhormat sekali kau di undang langsung oleh CEO Kim Corp.” cerocos Kai yang melihat Sehun masih sibuk dengan berkasnya itu. Sehun hanya menggeleng pelan mendengar perkataan Kai. Dia dikenal tak banyak bicara. Tapi kenapa saat di depannya, Kai berubah menjadi ahjuma cerewet?

“banyak pasien yang membutuhkanku, bodoh. Asan bukan rumah sakit kecil. Kau pikir dokter disini seenaknya menghadiri sesuatu tanpa ijin dari profesor terlebih dahulu? Bagaimana jika tiba-tiba ada operasi besar dan itu membutuhkanku? Kau mau bertanggung jawab?” cecar Sehun menjelaskan bagaimana rumitnya pekerjaannya selama ini. Menjadi dokter tak semudah yang ia bayangkan sebelumnya. Dan satu lagi, kenapa ia juga sama cerewetnya seperti Kai sekarang?

“kau banyak alasan, dokter Oh. Sudahlah, yang jelas aku sudah mengundangmu.”

Sehun lagi-lagi menggelengkan kepalanya. Ia baru makan apa? Kenapa mereka bisa bersitegang seperti itu? Padahal sebelumnya mereka tak pernah beradu mulut seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar.

“kau tak lapar, dokter Oh?” Kai kembali membuka percakapan setelah mereka berdiam diri satu sama lain cukup lama. Inilah hebatnya Kai, ia yang menciptakan perseteruan kecil itu, namun ia juga selalu bisa mencairkan suasana.

Kai menatap Sehun yang setia dengan berkas-berkasnya itu, sambil sesekali mengusap lehernya karena tenggorokannya mulai kering. Sudah seminggu ia tak minum darah. Ia haus.

“kenapa memangnya?” Sehun memicingkan matanya menatap Kai aneh. Tak biasanya ia menanyakan hal itu pada Sehun.

“jangan menatapku seperti itu. Aku hanya ingin mengajakmu mencari makan hari ini. Aku kasihan denganmu yang harus meminum darah hewan terus menerus―” Kai berhenti sejenak dan memperhatikan Sehun lebih seksama. “dokter muda yang tampan sepertimu pasti digandrungi banyak wanita ketika kau masuk klub malam.”

Kali ini Sehun harus membelalakkan matanya mendengar perkataan Kai. Apa yang di katakan pria berkulit tan ini padanya? Klub malam? Memikirkannya saja Sehun tak pernah. Ia memang sangat menyukai wine. Ayahnya yang sering mengajaknya minum bersama. Ayahnya seorang pecinta wine melebihi Sehun. Namun bukan di klub mereka akan minum. Hanya di rumahnya saja, dan itu berakhir pada sang ibu yang akan marah-marah tidak jelas jika mereka berdua sudah mabuk.

“tak mau ikut? Yasudah.” Kai dengan entengnya melenggang ke arah pintu keluar ruang kerja Sehun. Sedangkan Sehun terus saja berpikir mengenai tawaran Kai. Tak ada salahnya kan ia ikut dengan Kai sekali-sekali? Toh itu juga untuk kepuasan dirinya sendiri. Masalah ia akan kecanduan dengan darah manusia, itu akan dipikirkannya nanti.

“ya, Kim Kai―” seru Sehun sebelum Kai menutup kembali pintu ruang kerja Sehun. Oke, persetan dengan laporan-laporan ini. “tunggu aku.” mendengar itu Kai hanya tersenyum miring, sedangkan Sehun mengambil jaketnya dan setelahnya berlari ke arah pintu menyusul Kai.

– TBC –

 

Entahlah, kenapa chapter 1 nya jadi aneh begini. Sebenernya aku bingung ngambil setting cerita kayak gimana. Dan, jadilah aku ambil mereka itu keluarga vampire. Mungkin udah banyak bahkan banyak banget yang ngambil setting cerita seperti ini. Ya meskipun gitu, semoga kalian suka ya sama FF nya ^^

Oya, makasih readers atas responnya di teaser kemarin yang cukup membuatku senyum senyum sendiri 😀

Dan makasih lagi yang bersedia meninggalkan komennya di fanfic ini ^^ *kisshug ❤

292 tanggapan untuk “The Killer #1 – (Our Lives)”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s