[FF FREELANCE] Memory in Rainy day Part 3

Memory in Rainy day

Title                 : Memory in Rainy day Part 3

Author             : Ji Hyun Rhee

Genre              : Romance, School life, Freindship.

Rating             : T, PG

Lenght             : Chapter

Cast                 : –    Park Hye In (OC)                        –   Jung So Min (OC)

–          Byun Baekhyun (EXO)   –   Find by yourself

–           EXO-K

Warning          : Typo bersebaran dimana-mana. Tolong ijin jika akan copy paste.

Disclaimer       : Cerita ini hanya fiktif belaka. Semua cast milik Tuhan, cerita murni.. seREAL-REALnya milik saya.

A/N                 : Untuk semuanya terima kasih… Reader, EXO FF Indonesia, dan semuanya…. Gomawo..

Summary         : Kau tahu… Semua kebahagiaan kita terekam oleh tetesan air hujann yang terhanyut dalam kedataran bumi……. dan, ketika hujan kembali membawa kenangan itu, akankah…. kau masih mengingatnya..? Senyum adalah jawabannya………..

Baekhyun’s POV

“MWO?!!”

Aku menatapnya bingung. Apa aku mengatakan sesuatu yang salah? Kenapa dia berteriak sangat keras? Aku hampir saja terjatuh, karena teriakkannya.

“Kenapa kau berteriak terus?!” Aku mulai kesal. Dari tadi, setiap aku mengusulkan sesuatu dia selalu berteriak.

“Bagaimana bisa aku tidak berteriak? Kau membuatku kaget. Apa yang kau pikirkan? Kau menyuruhku memainkan gitar? Apa kau gila?” tanyanya tak kalah kesal. Dia mendegus kesal.

“Kudengar kau cukup mahir bermain gitar,” jawabku enteng. “Kenapa kau tidak memanfaatkan keahlihanmu itu?”

Dia terduduk lemas, lalu menyandarkan punggungnya di kursi. “Kau tahu? Kompetisi tinggal 2 hari lagi,” ucapnya tak kalah lemas.

Aku tersenyum melihatnya. “Aku tahu itu. Kupikir tidak masalah.”

Aku melihatnya mendesah. “Baiklah. Ayo kita lakukan.” Dia menegakkan punggungnya, kemudian mengambil gitar yang ada disampingnya.

Waktu berjalan begitu cepat. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 18.00. Kami berlatih dengan sangat serius. Kami saling meminta pendapat satu sama lain. Terkadang kami juga bertengkar, karena pendapat kami yang tidak sejalan.

“Ayo keluar! Ini sudah sore,” ajakku.

Dia mengangguk mengerti.

Kami berjalan bersama menuju ke asrama. Walau waktu sudah menunjukkan hampir malam, masih banyak siswa yang berada diluar. Sekedar untuk berbincang dengan teman atau yang lainnya. Asrama yang banyak dibilang oleh orang, tidak menyenangkan. Justru sebaliknya. Disini, kita sangat belajar banyak. Kita merasa selalu dikelilingi keluarga.

“Apa ada pekerjaan rumah?” tanyaku memecah diam yang sedari tadi terjadi.

Dia nampak berfikir sejenak. “Benar! Ada tugas dari Jung songsaenim! Oetteoke?” sahutnya yang mulai panik.

“Ah, kau benar! Aku hampir lupa.”

Saat itu, kami sudah sampai didepan kamar masing-masing.

“Beristirahatlah dan jangan lupa mengerjakan tugasmu, “ ingatku sebelum kami masuk ke kamar.

Dia tersenyum dan mengangguk. “Kau juga. Jangan hanya hanya bermain terus dengan Chanyeol.”

“Ya! Aku tidak sepertimu. Aku selalu belajar,” belaku dengan wajah dibuat marah.

“Benarkah?” tanyanya meremehkan. “Kalau begitu, aku harus waspada, karena mungkin posisiku akan turun terkalahkan olehmu,” lanjutnya yang langsung masuk dan menutup pintunya dengan tergesa-gesa.

Aku tertawa melihatnya. Kubuka pintu yang ada didepanku. Begitu kumasuk, kudapati Chanyeol tengah serius dengan sebuah kertas dihadapanya.

“Sedang apa kau?” Aku meletakkan tasku diatas meja belajarku, lalu menghampirinya.

“Aku masih bingung dengan puisi yang akan aku gunakan untuk kompetisi besok.”

Aku menepuk pundaknya. Mencoba memberikan semangat. “Apa kau butuh bantuan?” tawarku.

Dia tersenyum, kemudian mengangguk.

“Kuingatkan, puisi dibuat dan disampaikan untuk mengapresiasikan perasaan kita. Perasaan yang sangat ingin kita sampaikan kepada pendengar. Agar semua orang tahu akan perasaanmu itu,” jelasku.

Dia mengerutkan dahinya. “Perkataanmu sama dengan apa yang diucapkan oleh Hye In.”

Aku tersenyum. “Semua orang juga akan mengatakan itu,” kataku. “Bagaimana kalau kau membaca puisimu dengan bermain gitar.” Aku memperaktekan ketika dia memainkan gitar.

Dia nampak berfikir tentang perkataanku. “Ide bagus,” sahutnya dengan senyum yang terukir di wajah tampannya.

Park Hye In

“Aku baik-baik saja, Mama. Jangan khawatir. Aku akan segera berangkat bersama dengan So Min. Aku tahu. Aku akan menghubungi Mama nanti. Aku tutup.”

Aku tutup flap ponselku setelah sambungan telepon terputus. Kukembalikan benda kecil itu di saku blazerku. Pandanganku beralih menuju sosok yang tengah mematut dirinya didepan cermin. Sosok wanita cantik berambut panjang tergerai dengan bando bewarna merah. Aku akui, So Min memang cantik.

“So Min, cepat,” ucapku.

Dia menatapku. Sebuah anggukan kepala menjawab ucapaku. Dia bergegas menyambar tasnya dan menghampiriku. “Tunggu aku!”

“Jangan terlalu banyak berdandan. Kalau tidak, kita akan terlambat.”

“Aku mengerti. Aku mengerti,” sahutnya cepat.

Kami keluar dari kamar kami. Saat kami keluar, taksengaja kami berpapasan dengan Suho-oppa dan D.O. Kami saling menyapa dan akhirnya memutuskan berangkat bersama menuju sekolah.

“Tak terasa kita sudah kelas 2 SMA,” kataku membuka pembicaraan.

Suho-oppa  yang berada dibelakangku berkata, “Benar. Aku tidak sadar kita sudah kelas 2.”

So Min mendesah dan berdecak kesal. Kami semua menatapnya bingung dengan perilakunya. Dia menatap kami bergantian. “Memang. Tapi, tetap saja. Kita selalu kalah dengan Hye In.” Dia kembali mendesah.

“Mwo?” Aku sedikit kaget mendengar ucapannya.

Suho-oppa  dan D.O tertawa. “Aku sudah tak ragu mengenai hal tersebut. Dia, wanita yang luar biasa.” Suho-oppa  mengacungkan satu jari telunjuknya kearahku.

“Luar biasa?” ulangku bingung. Aku menatap mereka bingung. Luar biasa? Aku merasa diriku biasa saja. Seperti wanita pada umumnya. Tak ada yang istimewa dariku.

Mereka mengangguk dan D.O menambahkan, “Benar. Kau bagaikan princess disekolah kita.”

“Mmm. Kau juga wanita idola disekolah.”

“Berhenti bicara seperti itu. Lelucon kalian sangatlah tidak lucu,” sergahku cepat. Aku sudah tahu arah pembicaraan mereka. Pasti mereka akan mulai membicarakan hal itu.

Tiba-tiba terdengar panggilan dari belakang kami. Secara otomatis, kami menengok kebelakang. Melihat orang itu. Orang itu sedang melambaikan tangannya kearah kami, lalu setengah berlari menghampiri tempat kami masih berdiri.

“Wow! Pangeran kita sudah datang,” ucap So Min, begitu laki-laki itu sampai dihadapan kami. Kami semua beralih menatap So Min heran. Aku semakin bingung dengan ini. “Cocok sekali.”

Baekhyun yang masih mengatur nafasnya, ikut bingung dengan pernyataan So Min. “Pangeran? Cocok? ”

“Aku tahu sekarang!” ucap Suho-oppa  dan D.O tiba-tiba dan bersamaan. Mereka menampakkan senyum mematikan mereka. Diikuti So Min ikut yang mulai menampakkan senyum mematikanya.

Mereka yang gila, atau aku yang memang bodoh. Kulirik Baekhyun yang bediri dihadapanku. Dia hanya mengangkat bahunya, tanda tak mengerti.

“Kami pergi dulu. Pangeran dan princess,” Mereka mulai melangkahkan kaki mereka menjauh. Masih dapat aku dengar suara tawa mereka.

Aku mendesah pelan. Mereka memang aneh. Akhirnya aku dan Baekhyun memutuskan berjalan bersama. Lagipula, kami berada pada kelas yang sama. Jadi, apa salahnya jalan bersama. Untuk beberapa saat kami hanya diam. Tak ada topik yang ingin kami sampaikan untuk sama lain.

“Apa maksud mereka tadi?” ujarnya pelan.

Aku hanya menggeleng pelan. “Aku juga tidak tahu. Pangeran? Princess? Sejak kapan mereka ikut memanggil kita ‘Pangeran, Princess’?” jawabku mengingat perkataan mereka. “Pangeran. Aku tahu dengan pasti, kenapa mereka memanggilmu ‘pangeran’. Aku bisa menjelaskannya dengan lengkap,” tambahku.

Dia memandangku sesaat, namun langsung tersenyum. “Aku penasaran dengan itu.”

Aku berdehem pelan, lalu mulai bercerita. “Siapa di sekolah ini yang tidak mengenal Byun Baekhyun? Laki-laki tampan dan manis, idola nomor satu bagi seluruh wanita disekolah ini, bahkan mungkin lebih. Putra dari CEO perusahan besar Korea. Prestasi, sudah tidak diragukan lagi. Keterampilannya adalah suaranya yang memikat siapa saja yang mendengarnya. Dia juga terampil dalam meminkan alat musik piano. Apa lagi?”

Suara tertawa terdengar setelah aku selesai berbicara. “Apa yang lucu?” tanyaku penasaran.

“Kalau begitu, aku juga bisa menceritakan alasan, kenapa mereka memanggilmu ‘princess’. Kau ingin tahu?” tawarnya kepadaku.

“Aku sudah tahu alasan mereka.”

Tapi, sepertinya Baekhyun tidak mengindahkan ucapanku. Dia tetap bercerita. “Park Hye In. Siapa yang tidak mengenalnya? Wanita cantik dan idola seluruh laki-laki disini, sejak kehadirannya di sekolah ini. Dia pindah pada waktu tengah semester pertama kelas 1 kemarin. Berasal dari negara Indonesia. Prestasi, mungkin bisa mengalahkanku. Soal suara, banya orang yang mengatakan bahwa suaramu sangat bagus. ” Dia mengalihkan pandangannya kearahku. “Bagaimana?”

Aku masih diam, mencoba mencerna segala ucapannya tadi. Akhirnya aku hanya tersenyum. “Aku berikan nilai 90 untukmu, tuan Byun Baekhyun,” kataku.

Dia mengerutkan dahinya. “90? Kenapa hanya 90? Aku butuh nilai 100. Apa aku melewatkan sesuatu?”

Ada. Kau melewatkanya bukan karena lupa, tapi karena kau tidak mengetahuinya. Dan, kau tidak akan pernah mengetahuinya. Tidak seorangpun, batinku.

Kami akhirnya sampai di kelas kami.  Dinding kelas kami berwarna putih bersih. Ruangan dengan perlengkapan cukup lengkap untuk sarana belajar. Didalamnya sudah ada beberapa siwsa, termasuk 3 manusia tadi. Aku segera menempatkan diri di bangkuku. Disebelah So Min. Tempat dudukku berada diurutan nomor dua, setelah bangku yang diduduki Sehun dan Kai. Dibelakangku ditempati oleh Baekhyun dan Chanyeol.

Byun Baekhyun.

Lagi-lagi. Beberapa tangkai bunga dan kotak coklat terbungkus rapi berada bergelantung didepan lokerku. Aku hanya dapat tersenyum mendapati hal seperti itu setiap hari. Tak terkecuali dengan pemilik loker sebelah lokerku.

“Sepertinya kita mendapatkannya lagi,” ujarku.

Wanita yang ada disampingu itu hanya mendesah, seperti biasa. “Kapan mereka akan berhenti? Setiap hari memberikanku puluhan bungan dan ratusan kotak coklat.”

Aku tersenyum mendengar ucapannya. “Mmm. Aku sampai bingung. Harus aku apakan ratusan benda seperti ini,” tambahku.

“Aku pergi dulu.” Dia menutup pintu lokernya, lalu berlalu dengan tangan membawa tumpukan buku. Sepertinya dia akan pergi ke perpustakaan. Seperti biasa. Aku lajukan kakiku mengikuti langkahnya. Aku memang juga ingin pergi ke perpustakaan untuk membaca buku seperti biasa.

Aku duduk di meja favoriteku. Meja disamping jendela kaca besar, sehingga aku dapat dengan leluasa memandang keluar, atau lebih tepatnya memandang hamparan taman sekolah dengan sebuah bangku di bawah pohon yang cukup rindang. Kupasang headset-ku sebelum memulai kegiatan membacaku.

“Apa aku boleh duduk disini?”

Aku mengalihkan pandanganku kepada suara tadi. Setelah melihat wajahnya, aku menganguk. “Duduklah,” ujarku padanya.

Hye In menempatkan dirinya. Kami saling berhadapan. Sempat kulirih, ternyata Hye In juga sama-sama membaca buku. Dia nampak fokus dengan benda tebal yang ada dihadapannya itu. Aku kembali memfokuskan pikiranku untuk kembali membaca.

Selang beberapa menit kami berkutat dengan pekerjaan masing-masing, kami akhirnya dikejutkan dengan pemandangan yang menyenangkan. Hujan. Hujan turun. Aku mengarahkan mataku untuk memandang kearah jendela besar itu. Dapat dengan jelas, aku lihat bagaimana derasnya air hujan mengenai taman itu.

“Indahnya,” gumam seseorang. Aku memandang Hye In yang tengah juga menatap kearah luar jendela disampingnya. Dia tengah tersenyum manis. Aku mengakui bahwa Hye In sangat cantik. Pantas semua laki-laki disini mengukainya. Dalam senyumnya itu, terdapat lesung pipi yang memberikan kesan manis di wajah cantiknya.

DEG

Entahlah, mengapa sedari tadi, jantungku terus berdetak dengan cepat. Tapi aku menyukainya. Rasanya nyaman. Hye In, apakah cinta akan berada diantara kita?

Aku segera menggelengkan kepalaku cepat. Apa yang tengah aku pikirkan? batinku bingung. “Kau suka hujan?” tanyaku kepadanya.

Dia mengalihkan pandangannya kearahku. Dia mengangguk. “Hujan sangatlah menyenangkan. Rasanya saat ini, aku ingin sekali bermain dibawah guyuran hujan,” ujarnya.

“Mmm, benar. Hujan sangat menyenangkan. Rasanya semua rasaku ikut mengalir dengan air hujan yang jatuh dan mulai mengalir di bumi. Tapi, apa kau tahu? Ini adalah hujan yang pertama kali.”

Dia menatapku kaget. “Benarkah?” tanyanya penasaran.

Aku menganggukan kepala. “Kita sangat beruntung bisa melihat hujan pertama.”

“Perasaanku seperti meleleh ketika merasakan ribuan air hujan mengguncang tubuhku.” Dia mendesah. “Ah, aku jadi ingin kembali ke masa-masa dimana aku kecil.”

Aku tertawa kecil mendengar perkataannya barusan. “Kau menyukainya, karena mengingatkanmu dengan negara asalmu yang beriklim tropis?”

Tatapan tajam mengarah kepadaku. “Tentu saja tidak!” bantahnya cepat.

Aku kembali tertawa geli mendengar jawabannya. “Jangan berbohong. Sudah sangat terlihat di wajahmu,” godaku. Mulai menyenangkan menggodanya. Wajahnya akan berubah menampakkan sesuatu yang membuat siapa saja yang melihatnya akan tertawa.

“Baiklah. Baiklah. Aku minta maaf,” ujarku akhirnya.

“Bagaimana besok dengan lomba kita?” tanyanya.

Aku menutup bukuku. “Kita akan melakukannya dengan baik,” jawabku.

“Kita? Kalau kau, aku sudah tahu kalau kau akan berhasil. Tapi aku, tidak yakin.” Raut wajahnya kembali menampakkan ketidakpercayaan diri. “Aku harap ada keajaiban.”

Aku tertawa mendengar ucapannya. “Keajaiban? Semua orang juga mengharapkan keajaiban.”

Kami diam sibuk memandang titikan air hujan lewat jendela.

“Tapi, aku masih penasaran dengan ucapanmu tadi. Kau bilang, ada hal yang kurang aku ucapkan?”

Senyum di wajahnya mendadak hilang bagaikan ditelan bumi. Dengan sigap, dia mengalihkan pandangannya kearah lain.

“Kenapa? Apa aku salah bicara?” tanyaku hati-hati.

Dia kembali menghadapkan wajahnya kearahku, lalu tersenyum. Senyum yang dipaksakan. Aku dapat merasakan senyum itu tidak tulus seperti biasanya.

“Tidak.” Dia melirik jam tangan putih yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. “Sudah pukul 10.00!Kita terlambat!” teriaknya.

Aku membulatkan mataku. Segera kualihkan kedua mataku agar memandang jam tangan yang terpajang disalah satu dinding perpustakaan. “Ya ampun!!! AYO!!!”

Kami akhirnya harus bersusah payah lari menuju kelas kami yang jaraknya jauh dengan tempat kami tadi. Kami berlari dengan cepat, secepat turunnya tetesan demi tetesan air hujan mengenai tanah sekolah kami. Keringat sudah bercampur dengan hawa dingin udara.

Jika kami tidak segera sampai di kelas, kami bisa mendapatkan hukuman. Lagipula, guru yang mengajar pada jam pelajaran sekarang adalah guru yang sudah di kenal paling garang di sekolah ini. Bahkan mungkin diseluruh dunia.

Akhirnya setelah beberapa menit kami berlomba lari, kami sampai ddepan pintu putih itu yang tutup. Kami sibuk mengatur nafas dan tidak lupa merapikan seragam kami yang sedikit kusut.

Aku memandang Hye In sebentar. Dia juga tengah memandangku. “Bagaimana ini?” bisikku.

“Aku juga tidak tahu. Pasti guru sudah ada didalam kelas. Kita pasti akan dihukum,” ujarnya setengah berbisik. “Tapi, tak apa-apa. Ayo kita masuk!” katanya dengan penuh keyakinan.

Melihatnya seperti itu, memerikanku sebuah energi. Sebuah energi yang dapat membuatku percaya akan perkataannya barusan. Dengan perlahan, kuketuk beberapa kali pintu didepanku. Terdengar suara lelaki mempersilahkan untuk masuk.

“Permisi, guru,” ucapku dan Hye In bersamaan begitu pintu itu kubuka.

Tatapan tajam seorang laki-laki yang tengah berdiri didekat papan tulis langsung kami dapatkan. Kami menjadi kikuk melihatnya.

“Masuklah.”

Aku dan Hye In berjalan berjalan mendekati guru Han. Kami berhenti tepat beberapa langkah didepannya. Didepan teman-teman yang tengah menatap kami dengan penasaran.

“Kenapa kalian terlambat?”

“Kami minta maaf, guru. Kami tadi berada di perpustakaan dan tidak menyadari bahwa bel telah berbunyi,” kataku.

“Kalian sudah tahu bahwa tidak ada yang boleh terlambat di kelasku, kan?”

Aku dan Hye In mengangguk.

Guru Han akirnya hanya mendesah. “Baiklah. Karena kalian adalah murid yang pandai dan berperilaku baik, kalian hanya akan aku hukum untuk mengerjakan soal ini,” kata guru Han. Sebelah tangannya teracung menunjuk kearah papan tulis.

Secara otomatis, pandanganku mengikuti arar tangannya. Sontak aku dan Hye In sedikit berlonjak kaget. Kami disuguhkan dengan papan tulis yang sudah penuh dengan ratusan tulisan. Semuanya adalah soal.

Park Hye In

Apa guru Han bercanda?

Aku dan Baekhyun harus mengerjakan soal yang sebegitu banyak ini?

Akhirnya aku dan Baekhyun hanya bisa mengikuti permintaan guru kami itu.  Kami mulai mengerjakan soal-soal tersebut di papan tulis. Dan, untungnya kami tidak dapat masalah dalam mengerjakan soal-soal tersebut. Sorot mata guru Han masih menatap kami sampai akhirnya kami selesai menyelesaikan soal-soal tersebut.

“Bagus. Kalian benar dalam mengerjakan soal-soalnya. Kalian memang murid yang pandai. Tapi, jangan ulangi lagi kejadian tadi. Mengerti?”

Kami membungkukkan badan kami, lalu  berkata, “Terima kasih, guru.”

Rasa lega menjalar didalam tubuhku. Kududukkan tubuhku di kursi dekat So Min. Ketika aku mendekatinya, dia tengah tertawa dengan manusia-manusia disekelilingnya. Siapa lagi kalau bukan Chanyeol, Kai, dan Sehun.

“Hye In…” panggil So Min.

Segera kupotong ucapannya, “Jangan bicara kepadaku.” Bukannya aku marah, tapi aku sedang tidak ingin berbicara dengan mereka. Mereka pasti akan henti-hentinya membicarakanku. Masih dapat kudengar, mereka tertawa.

4 jam kemudian.

Sekolah selesai. Aku, So Min, Baekhyun, Sehun, Kai, Chanyeol, Suho-oppa, dan D.O memutuskan pulang bersama. Pulang menuju asrama kami. Ya, asrama. Sekolah kami ini menggunakan sistem asrama. Disini terdapat 3 asrama sesuai dengan tingkat kelas masing-masing. Setiap kamar digunakan untuk 2 orang. Kami akan tinggal disini sampai kami menamatkan pendidikan SMA kami. Kami tinggal disini sudah bagaikan keluarga. Saling membantu sama lain.

“Hye In, aku ingin bertanya kepadamu. Bagaimana cerita tentangmu dan keluargamu? Selama ini, kau belum pernah menceritakannya kepada kami,” tanya Sehun yang membuat kami semua menatapnya.

Aku sedikit bingung. “Haruskah aku menceritakannya?” tanyaku lirih.

“Harus!!!” jawab mereka serempak dan keras, kecuali Baekhyun. Sampai-sampai orang-orang memperhatikan kami dengan tatapan aneh.

Aku menempelkan satu jari telunjukku kedepan bibirku. Menyuruh mereka memelankan suara mereka. “Diam! Kalian terlalu keras.” Aku mendesah. “Baiklah. Aku akan bercerita. Aku berasal dari Indonesia. Aku disini untuk melanjutkan sekolahku. Aku mengalami pertukaran pelajaran. Sangat beruntung bukan. Tetapi aku bukan orang asing di negara ini. Nenekku adalah warga negara Korea. Waktu itu, ayah menikah dengan mama yang warga negara Indonesia. Pertemuan mereka sederhana. Mereka bertemu sebagai rekan bisnis dan mulai dari situlah mereka saling menyukai satu sama lain.”

“Bagaimana bisa kau disini?” tanya Chanyeol dengan penasaran.

“Kembali keawal. Aku menjalani pertukaran pelajar. Awalnya orang tuaku tidak mensetujuinya, tapi aku meyakinkan mereka. Lagipula, di Korea ada nenek juga. Aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan seperti ini. Kesempatan yang mungkin akan tidak pernah aku temukan lagi. Disini, aku sudah bisa beradaptasi dengan teman sesama. Bahasa Koreaku cukup baik. Dirumah, aku selalu diajari berbahasa dengan bahasa Korea. Alasannya, karena aku termasuk keturunan Korea dan saudara-saudaraku juga banyak dari Korea.”

“Kenapa namamu ‘Park Hye In’? dan, bukan nama Indonesia?” serbu Baekhyun.

“Aku lahir di Korea pada waktu itu. Setelah umurku 5 tahun, aku baru pindah ke Indonesia,” jawabku.

“Lalu, bag…”

Belum sempat D.O mengatakan pertanyaannya, aku segera memotongnnya. “Sudahlah. Cukup. Tidak ada hubungannya dengan kalian,” sergahku cepat.

Nampak ekspresi kecewa tergambar jelas di wajah mereka, kecuali Baekhyun.

“Kita sudah sampai,” tambahku. “Aku masuk dulu,”ucapku sebelum memasuki kamarku. So Min, aku tinggal. Biasanya, dia masih akan bermain dengan couple KaiHun. Melakukan hal-hal gila.

Begitu masuk, segera kuhempaskan tubuhku keatas kasur. Tak aku pedulikan seragamku yang akan berubah menjadi kusut. Udara dingin membuatku ingin berada dalam dekapan selimut yang hangat. Hujan tak kunjung berhenti. Tapi, tak apa-apa. Aku menyukainya. Memorati tadi terbayang lagi. Ketika aku dan Baekhyun berada di perpustakan dan kami melihat hujan pertama.

Suara pintu terbuka, lalu pintu tertutup membuyarkan pikiranku. Langkah kaki terdengar mendekati diriku.. aku tak perlu membalikkan tubuhku untuk mengetahui siapa orang itu. Suara itu semakin dekat. Dekat. Dan, akhirnya…

“Aww!!” Aku merintih kaget. Tentu saja. Tiba-tiba So Min melompat kearahku. Tubuhnya terjatuh ke sebelahku dan sedikit menindih kakiku. Aku menatapnya tajam.

“Mianhae,” ucapnya tanpa rasa bersalah. “Apa yang kau lakukan?”

Aku kembali membenamkan wajahku ke kasur. “Memang apa yang kau lihat aku lakukan?” tanyaku balik.

“Berbaring.”

“Kalau begitu, kenapa bertanya?”

“Hye In,” panggilnya.

Aku menganggkat kembali wajahku. “Kenapa?” ucapku polos.

“Bantu aku mengerjakan tugas guru Han,” paksanya dengan menggunakan nada yang dibuat semanis mungkin.

“Tidak mau!” jawabku cepat.

Raut wajahnya berubah kesal. “Kenapa?” Dia mulai mengguncang-guncang tubuhku. “Ayolah. Ajari aku. Kumohon,” rengerknya.

“Aku tidak mau. Tidak mau. Tidak mau!” kataku. Aku mempunyai alasan kenapa aku tidak mau mengajarinya. Yaitu, dia akan selalu tertidur jika aku sedang menerangkan pelajarn kepadanya. Dan, setiap aku membangunkannya, aku akan mendapatkan satu pukulan di kepalaku.

“Kau selalu berjanji. Tidak akan pernah tertidur lagi. Tapi, kau selalu akan tertidur,” tambahku. “Bukankah kau punya teman-teman lain. Couple gila itu juga teman dekatmu, kan?” usulku.

“Baiklah. Kau memang jahat kepada temanmu sendiri. Teganya kau.” Mulai. So Min mulai berdramatis dalam berbicara. Segera kugunakan bantal untuk menutup telingaku.

Dia akhirnya pergi. Kulepaskan bantal yang tadi aku gunakan untuk menutup telingaku. Aku beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk berganti pakaian. Setelah selesai, aku menghempaskan tubuhku diatas kasur dengan laptop didepanku. Aku mulai bermain dengan benda kesayanganku itu. Mulai dari memutar beberapa lagu. Karena saat ini sedang hujan, aku memutar beberapa lagu sedih.

Alunan musik mulai menghantarkanku dalam dunia tidurku.

Byun Baekhyun

“Jadi, ekstrakulikuler apa yang akan kalian ambil?” tanyaku kepada orang-orang yang ada dihadapanku ini.

TBC

Note : Salam Kenal, semuanya!!! Mianhe…… ini adalah My First Fanfiction. So, Mianhe kalau jelek. Aku juga minta maaf dengan part-part sebelumnya yang masih berantakan, nggak jelas.. Mulai sekarang aku akan lebih membenahinya.

Gomawo….!!!!! Keep Reading and Don’t forget to Commant. Karena, komentarmu yang menentukan suasana hatiku. THANKS……

25 tanggapan untuk “[FF FREELANCE] Memory in Rainy day Part 3”

  1. Jgan lma” lah tor,aku snang bnget wktu baek mlah mrasa ada something sma hye. Hoho. Oy tor kalau bleh kasih saran,pnulisanx tlong dprbaiki,krn aku bngung mana yg baek wktu bcara. Tpi critax bgus. 😀

  2. Hai, aku reders baru. Pas baru baca ff ini mungkin sedikit bingung sama asal-usul hyein, apalagi pas dia intro sama baekhyun, kek ada yang mengganjal.
    Buat chap4nya ditunggu ya, dan lebih diperjelas lagi thorr ~~

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s