{One} His Story: 아라 세상, 백현 (AhRa’s World, Baekhyun)

his-story

Author : renacho
Title: His Story: 아라 세상, 백현 (AhRa’s World, Baekhyun)
Genre: Romance, Comedy (a little bit ._.), Friendship
Cast: Kim Ahra (OC), Baekhyun, Chanyeol (EXO-Main Cast), D.O, Kai, Sehun, Suho (EXO-Support Cast)
Length: Chapter (1/6)
Note: this fanfiction is originally made by me-renacho- so there are no plagiat BUT, i actually posted this ff before in my personal blog. hope you like it all 🙂

“I Don’t care if it’s your first or your last, i just care about how i love you endlessly”
-Byun Baekhyun

Langit kelabu mulai menampakkan dirinya. Walaupun waktu belum menunjukan senja akan segera berlangsung, namun pekatnya langit membuat keraguan dalam diri Baekhyun kian bertambah.

Ia terus memandangi langit dan berharap hujan tidak datang saat itu.

Permintaannya saat itu adalah semoga Tuhan memiliki rencana terbaik untuknya. Entah hujan atau tidak, ia hanya berharap itu tidak akan menyulitkannya.

Namun, belum sempat namja itu berfikir lebih lanjut, derasnya hujan telah membasahi tanah tempat nya berpijak saat itu.

Baekhyun merapatkan jaketnya. Ia menaikkan masker nya hanya untuk berjaga-jaga, juga mengencangkan letak topi hitamnya.

Ketika keramaian kini mulai memenuhi halte bus tempat Baekhyun menunggu, yang menjadi satu-satunya tempat berteduh di sekitar daerah itu, Baekhyun dapat mengenali hentakan kaki yang terburu-buru dan cipratan air yang lamat-lamat mengarah padanya.

Sontak namja itu mendongak.

Dan disanalah sosok itu berdiri. Berusaha menutupi kepalanya dengan kedua tangannya, sementara air hujan terus membasahi rambut sepunggung nya itu, yang mulai basah akibat guyuran hujan.

Ia mengerjapkan kedua matanya berulang kali. Entah tidak yakin dengan orang yang ia datangi, atau memang efek hujan yang membuat penglihatannya mengabur.

Namun senyum tipis dari wajah pucat itu membuat Baekhyun segera menjulurkan tangannya.

“Kau datang…”

Desisan Baekhyun mungkin tidak terdengar. Ramai nya orang-orang, deras nya hujan, dan wajahnya yang tertutup masker hitam meredamkan suara nya.

Tapi gadis itu dapat dengan jelas mendengarnya, dan sebuah seringaian tipis kini tergambar dalam wajah itu,

“Ish.Tentu saja aku datang. Memangnya hujan bisa menghalangiku untuk bertemu denganmu? Tidak ‘kan?”

******

Gadis itu mencoba menjauhkan dirinya dari kedua tangan Chanyeol yang tertutup handuk putih kecil. Ia terus mendorong tubuh Chanyeol agar menjauh dari dirinya,

“Ya!! Park Chanyeol!! Enyah kau!!”

Chanyeol menurunkan kedua tangannya, “Neo!! Kim AhRA!! Aku kan hanya ingin membantumu. Rambut mu basah kuyup speerti itu! aku hanya ingin membantu mengeringkannya….”

“Eyy.. kojitmal~ aku tau dari tatapanmu bahwa kau akan mengacak-acak rambutku kan? Lagipula, aku tidak apa-apa.. jeongmal. Nan gwaencha..”

Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, AhRa dapat merasakan sesuatu membentur kepalanya, dan perlahan-lahan mengusak rambutnya. Membuat tetes-tetes air perlahan jatuh dari ujung rambutnya.

AhRa ingin mendongakkan kepalanya dan melihat siapa pelaku perbuatan tersebut. Dan memaki tindakannya jika perlu. Namun AhRa segera mengenali usapan pada kepalanya.

Tangan yang mengusak rambutnya itu. Adalah tangan yang AhRa kenal. Bahkan setiap usapan di kepalanya. Ia kenal.

Ia menghela nafasnya berat.

Aneh.

Rasanya ada yang aneh. Membiarkan seorang namja menyentuh rambutnya seperti itu. Walaupun dengan handuk sekalipun. Rasanya tetap aneh.

AhRa terdiam. Membiarkan sosok itu mengeringkan rambutnya. Membiarkan keheningan yang melanda nya saat itu membuatnya berfikir sejenak.

“Jja! Kkeut!”

AhRa membalikkan badannya, dan mendapati wajah Baekhyun yang tengah tersenyum jahil. Kepalanya kini terasa lebih ringan, dan rambut nya memang tidak sebasah sebelumnya. Tangan Baekhyun tengah memegang handuk putih yang tidak jauh berbeda dengan handuk yang dipegang Chanyeol sebelum nya.

Chanyeol?

AhRa baru menyadari bahwa namja itu tidak lagi berada di hadapannya. Kini ia hanya berdua dengan Baekhyun di ruang tengah dorm EXO-K. Dan Chanyeol pergi setelah Baekhyun menghampirinya.

“Waeyo?”

Lamunan AhRa segera terhenti begitu mendengar suara khas Baekhyun. Gadis itu segera tersenyum. Tidak ingin mengecewakan Baekhyun dengan raut wajahnya.

“Aniyo~ hanya saja…. Aishh, kalian ini memang miskin atau bagaimana sih? Memangnya tidak memiliki hair dryer? Yang benar saja…”

Baekhyun memutar bola matanya. “Yahh.. itu… kau… benar….kenapa kau baru bilang sekarang? Aku jadi harus mengeringkan rambut mu itu…haisshh”

Baekhyun beranjak dari sofa tempat ia sedari tadi duduk. Ia bangkit dan berlalu ke arah dapur. Meninggalkan AhRa dengan pertanyaan yang mengisi benaknya.

Mungkin tepatnya bukan pertanyaan. Hanya sebuah pemikiran yang ia harap tidak benar-benar terjadi. Lagi.

******

“Woaah~ Kyungsoo Eomma memang daebak!!”

AhRa menatap satu persatu hidangan yang tersaji di meja makan. Bergantian dengan menatap wajah D.O dengan kekaguman yang berlebihan dan sedikit dibuat-buat.

“Anjayo, AhRa-ssi~ kau bisa makan sepuasnya, anggap saja rumah sendiri..”

AhRa mengganti arah tatapannya, dan tersenyum kearah Suho. Ia menggelengkan kepalanya,

“Aniyo~ dorm ini bukan rumahku… aku kan tidak mungkin tinggal dengan 6 namja seperti kalian…”

“Lagipula siapa yang ingin tinggal denganmu? Noona aneh yang selalu marah-marah.. Aihhh..”

Tanpa memalingkan wajahnya, AhRa segera mengenali pemilik suara dan sarkasme tersebut. Ia mengangkat sendok yang ada di hadapannya, dan mengayunkan nya kearah kepala dengan rambut hitam tersebut,

“Kim Jong In!!! Neo.. Jinja!!”

“Ah!! Appo..appo!! Noona~!! Geumanhaaeee!!”

“Eyy.. sudah-sudah! Jong-in ah~ ppali anja!”

Kai meringis pelan dan segera duduk di salah satu kursi meja makan. Sementara AhRa yang berdiri di sampingnya masih menatapnya lekat-lekat.

AhRa mendudukkan tubuhnya di sebuah kursi di samping Kai. Ia memandang Baekhyun yang berada di seberang meja makan. Tengah mengusik Sehun dan mencoba merebut makanan di piring namja itu.

Sebuah senyum tipis terkembang di bibir gadis itu. Melihat Baekhyun seperti itu, jelas membuatnya senang.

Baekhyun yang ia kenal adalah namja periang, usil, yang tertawanya terkadang bisa membuat kepalanya pening. Baekhyun yang selalu menjadi penyemangat nya, walaupun dengan sikap childish nya itu.

AhRa lebih memilih seorang Byun Baekhyun dengan pribadi nya yang seperti itu, bukan Baekhyun yang berkarisma ketika di atas panggung.

“Eo? Chanyeollie.. eoddiya?”

AhRa menatap sekelilingnya. Mendengar pertanyaan Suho, membuat gadis itu ikut mempertanyakan keadaan Chanyeol.

“Sepertinya ia dikamar hyung…”

Kini pandangan AhRa mengarah pada D.O yang segera menjawab pertanyaan Suho.

“Aahh.. Baekhyun-ah, cepat panggil dia..”

Baekhyun mendongakkan kepalanya. Ekspresinya mendadak berubah, dan ada keraguan dalah air muka nya. Namja itu hendak membuka suara, namun AhRa segera beranjak dari kursi nya,

“Ani.. biar aku saja..”

Tanpa mendengar ocehan lainnya dari Suho dan Baekhyun, AhRa melangkahkan kakinya ke salah satu pintu kayu berwarna cokelat yang ia kenali sebagai kamar Chanyeol dan Baekhyun.

Gadis itu mengayunkan gagang pintu dalam genggamannya, dan segera mendapati sosok Chanyeol yang sedang duduk di ujung tempat tidurnya. Pandangannya lurus ke arah ponsel, dan sebuah earphone terpasang pada kedua telinganya.

AhRa mengambil beberapa langkah mendekat kearah Chanyeol. Ia tidak bermaksud membuat namja itu terganggu, namun jelas Chanyeol langsung mengenali sosok AhRa yang mendekat.

Namja itu mendongakkan kepalanya, dan seulas senyum tergambar di wajah nya.

“Eo? AhRa-ya..”

Suara khas Chanyeol segera menelusup masuk kedalam telinga AhRa. Gadis itu berhenti di hadapan Chanyeol dan balas tersenyum.

Ia tau harusnya saat itu ia hanya memanggil Chanyeol untuk makan malam dengan member EXO lainnya. Namun melihat tatapan namja dengan panggilan Happy Virus itu… sungguh di gambarkan dengan sangat berbeda.

Entah ia lelah, atau ada sesuatu yang mengganjal nya, AhRa tidak pernah tau.

Yang ia tau, Chanyeol akan selalu bersikap manis dan menyenangkan, menghibur.

Sama seperti Baekhyun.

AhRa menggelengkan kepalanya pelan. Mencoba mengusir pikiran itu sejenak.

“Kau.. sedang apa?”

Tatapan Chanyeol beralih pada ponsel nya, lalu kembali menatap AhRa, ia mengangkat layar ponsel nya dengan gerakan canggung. Mencoba memperlihatkan apa yang sedang ia lakukan.

“Aniyo… molla.. aku sendiri tidak tau…”

Chanyeol menggaruk tengkuk nya walaupun ia tau ia tidak merasakan gatal. Sementara dengan rasa penasarannya, AhRa segera meraih ponsel dari tangan Chanyeol, dan mencoba melihat dengan seksama apa yang namja itu lakukan.

Dan gadis itu bisa segera tau.

Begitu ia melihat foto seorang gadis terpampang di layar ponsel nya.

“Kau… merindukannya?”

Chanyeol terdiam. Ia tidak mengharapkan gadis itu memergokinya melakukan hal yang sudah ia janjikan untuk tidak ia lakukan lagi. Chanyeol tidak ingin AhRa lah yang mengetahui segalanya.

Dan Chanyeol hanya tidak ingin, AhRa tau kebenarannya.

“A…Ani… bukan itu… kau mungkin menekan tombol yang salah… aku tadi sedang mengobrol dengan…”

AhRa menghembuskan nafasnya. Wajahnya ia buat seakan-akan ia jengkel dengan jawaban Chanyeol. Tapi ia hanya prihatin, iba, mengetahui bahwa namja itu tidak bisa berhenti melupakan masa lalunya.

“Waee..? Chanyeollie sudah berjanji padaku kan? Chanyeol bilang tidak akan mengingat-ingat lagi tentang gadis itu… Chanyeol bilang akan melupakannya… Ish.. kojitmal…”

Chanyeol meringis pelan. Ia mengenal AhRa bukan hanya 2-3 bulan saja. Chanyeol mengenal gadis itu bahkan sebelum ia debut menjadi member EXO. Dan Chanyeol tau bahwa gadis itu akan menjadi serius jika menyebutkan namanya dalam percakapan mereka.

“Mianhada… aku… tiba-tiba saja merindukannya…”

AhRa menurunkan tangan kananya. Meletakkan nya sejajar dengan tubuhnya. Menjauhkan layar ponsel tersebut dari pandangan Chanyeol.

“Kenapa kau masih memikirkannya..? kalau  kau terus melakukan itu… kau akan semakin merindukannya ‘kan?”

Chanyeol memutar bola matanya. Ekspresinya tidak seperti sebelumnya, dan kekehan yang tiba-tiba meluncur dari mulut namja itu membuat AhRa mengerutkan dahi.

“Ya ampun… ternyata seorang Kim AhRa benar-benar mengetahui siapa diriku…”

Mendengar itu AhRa tersenyum pelan. Rasanya ia ingin memukul kepala namja itu,

“Ish… bisa-bisanya kau mengatakan it…”

“Apa kau lebih mengenalku dibandingkan dengan mengenal Baekhyun?”

Tawa kecil yang sempat menguar dari bibir AhRa mendadak terhenti. Gadis itu menatap Chanyeol lekat-lekat. Ia merasa jengah dengan pertanyaan itu.

Seperti yang ia bilang, namja itu jelas berubah ketika membicarakan Baekhyun.

Dulu ia tidak seperti itu. Semua orang pasti tau bagaimana kedekatan dua insan itu. Bagaikan saudara kembar yang tidak bisa dipisahkan.

Tapi semua itu berubah.

Sejak….

“Memberdeul sudah menunggumu.. kita harusnya ikut mereka untuk makan sekarang… ppali…”

Chanyeol terdiam. Rasanya ia ingin mencabut kata-katanya. Ia tidak ingin membuat keadaan nya semakin bertambah parah. Dan Chanyeol semakin enggan menghadapi Baekhyun.

Bagaimana mungkin ia bisa menghadapi orang yang kedekatannya sudah seperti saudara nya sendiri, namun di sisi lain bagaikan rival nya?

“Pokoknya… kau tidak perlu memikirkan gadis itu lagi, Arra?”

Perkataan AhRa kembali membuyarkan pikiran Chanyeol. Dan melihat ekspresi gadis itu yang sungguh-sungguh, Chanyeol hanya bisa menyunggingkan senyuman nya.

Ia bangkit, dan memberi aba-aba bahwa ia akan segera menyusul keluar.

Gadis itu menutup pintu kamar Chanyeol. Namun tersisa sedikit celah dimana namja itu dapat memperhatikan punggung gadis itu yang lamat-lamat menghilang dari penglihatannya.

“Yah.. aku lebih baik merindukan gadis itu… dibandingkan dengan merindukanmu ‘kan?”

******

Winter, 2010

“Hhh.. chuoyo…”

AhRa kembali merapatkan mantel nya. Matanya terus melirik jam tangan pada pergelangan tangan kanan nya, bergantian dengan jalan setapak yang membawanya ke taman tempat ia sekarang tengah menunggu.

Pada jam 10 malam. Pada musim dingin yang paling dingin dalam tahun itu. Sendirian, di sebuah taman kecil yang hanya dihuni ketika musim panas oleh anak-anak kecil.

Bukan untuk seorang yeoja yang sedang menunggu kedatangan namja, yang berjanji akan datang 2 jam yang lalu.

Angin mulai berhembus kencang. Dan AhRa bisa merasakan tubuhnya menggigil. Rasanya ia ingin segera pergi dari taman tersebut. Kembali ke apartemen nya yang hangat, atau meminum cokelat panas.

Tapi semua pemikiran itu segera ia tepis jauh-jauh. Ia yakin namja itu akan segera datang.

Ia yakin. Karena namja itu tidak akan melupakan janji nya sendiri.

AhRa meraih ponsel nya. Menggenggam nya erat, berjaga-jaga jika ada telfon atau sms yang masuk.

Namun seiring dengan berjalan nya waktu, ketika salju-salju halus mulai turun, keyakinan gadis itu kian menipis.

Konyol. Menunggu nya lebih dari 2 jam. Jika sebentar lagi ada badai salju bagaimana?

Rasanya AhRa ingin mengutuk dirinya sendiri. Mengapa ia harus menuruti permintaan namja itu? Lagipula, kenapa harus di taman? Seperti tidak ada tempat lain yang lebih bagus dari itu.

“Paboo.. pabo gateun..!”

AhRa kembali mengusap-usap telapak tangannya. Ia menundukkan kepalanya, masih terus menggumamkan kekesalan nya.

AhRa dapat merasakan sentuhan pada lengan nya, dan suara nafas yang menderu. Sontak gadis itu mendongakkan kepalanya. Siap memaki namja itu karena telah membuat nya menunggu.

Namun perkiraan nya salah. Bukan nya membuka suara untuk bicara, gadis itu justru membulatkan kedua matanya.

Tidak percaya dengan kedua matanya sendiri,

“Baekhyun-ah…”

Namja itu, Baekhyun, meraih pergelangan AhRa, dan menariknya untuk bangkit dari bangku taman yang mulai tertutup salju.

Baekhyun hanya memakai celana jeans hitam dan kemeja kotak-kotak berwarna biru navie dengan berbalut hoodie hitam. Sepertinya namja itu tidak memiliki rencana untuk keluar malam itu, dan hanya menyambar salah satu hoodie miliknya.

AhRa meringis melihat penampilan Baekhyun. Memakai pakaian yang sungguh tidak sesuai dengan keadaan yang ada.

“Tapi.. Chanyeol bilang ia akan datang…”

Baekhyun mempererat cengkramannya. Membuat AhRa tersentak.

“Chanyeol tidak bisa datang…”

“Tapi….”

“Aku bilang dia tidak bisa datang!!”

AhRa kembali tersentak. Ia segera menarik pergelangan tangan nya dari genggaman Baekhyun.

“Wae..? kenapa ia tidak bisa datang..?”

Tatapan Baekhyun melemah. Gurat wajahnya mengatakan namja itu lelah. Entah karena latihan nya yang padat. Atau memang namja itu lelah menghadapi keadaan saat itu.

“Chanyeol hanya bilang aku harus menjemputmu…”

“Bagiaman aku bisa percaya denganmu? Aku bahkan baru mengenal mu beberapa hari yang lalu…”

Baekhyun menegakkan tubuhnya. Entah bagaimana, ia bisa dengan tenang dan sabar dengan situasi tersebut.

“Hmm… karena.. aku adalah Chanyeollie Sesang..”

“Sesang..? dunia? Ck. Jadi kau itu dunia nya Chanyeol? Childish…”

Baekhyun mendecakkan lidahnya. Tiba-tiba saja rasa usil dan jahil nya itu meningkat.

“Wae..? kau iri? Iyakan? Kau juga ingin menjadi dunia nya Chanyeol, iya kan?”

AhRa segera membulatkan matanya, “Mworago?! Chanyeollie? Andwaee!!”

Baekhyun segera memamerkan deretan gigi putihnya, beserta tawa khas nya yang lamat-lamat terasa akrab di telinga AhRa.

“Hmm.. geurae.. Kau bisa menjadi dunia nya Baekhyun~ eotte?”

AhRa melirik tajam kearah Baekhyun. Memberi tatapan seoalah-olah ia tidak sudi menjadi ‘dunia’ untuk Baekhyun.

Namun sebuah senyum kecil tiba-tiba saja terlukis di bibir gadis itu,

“Oke. Baekhyun juga bisa menjadi dunia nya AhRa…”

Baekhyun tertawa senang. Rasanya ia sangat puas membuat gadis itu kini mengikuti permainan nya,

“Aahh~ jadi Kim AhRa suka hal childish juga…”

“Ya!! apa maksudmu?!!”

Namun Baekhyun sudah berlalu meninggalkan AhRa. Membuat gadis itu terus memanggil-manggil namanya dan berusaha mengejar nya.

“Ya!! Byun Baekhyun!!”

AhRa melayangkan kepalan tangan nya pada kepala Baekhyun. Sampai ia mendengar ringisan pelan dari bibir namja itu. AhRa tersenyum senang.

“Aisshh, Chanyeol bilang kau bukan binatang buas…”

AhRa siap melayangkan jitakan untuk kedua kalinya. Namun mendengar nama Chanyeol disebutkan. Gadis itu terdiam.

“Chanyeollie?”

Baekhyun mengangguk cepat. Langkah nya ia pelankan dan kini bersejajar dengan langkah kaki AhRa.

“Chanyeol bilang, yeoja dengan nama Kim AhRa itu.. ia humoris, ia tidak ragu-ragu mengungkapkan apa yang ia rasakan, ia benar-benar perhatian dan tidak suka melihat teman, atau orang yang ia sayangi sedih.. yah.. walaupun sesekali ia menyebalkan…”

AhRa terdiam. Rasanya.. ia tidak percaya kalimat itu bisa di ucapkan oleh seorang Park Chanyeol,

“Jinjayoo?”

Baekhyun masih menganggukkan kepalanya dengan yakin. Dan Baekhyun sama sekali tidak terganggu dengan penuturan Chanyeol tersebut.

“Jadi.. karena aku adalah Chanyeol sesang, kau harus mempercayaiku… arra?”

AhRa menghentikan langkahnya. Ia menoleh sejenak dan mendapati Baekhyun menerawang jauh memperhatikan butiran salju yang turun perlahan-lahan.

“Arasseo….”

Baekhyun tersenyum. Entah karena mendengar ucapan AhRa, atau karena tiba-tiba butir-butir salju tersebut menjadi mainan yang menarik untuk ia lihat.

“Ohh.. Baekhyun-ah! Kau belum menjawab pertanyaan ku..”

Baekhyun kini berhenti melakukan kegiatan nya. Ia menatap AhRa dengan wajah bingung, sama hal nya dengan gadis itu.

“Mwohae?”

“Ani.. kenapa Chanyeol tidak bisa datang?”

Baekhyun terdiam. Tatapan nya kini menguat. Ia mencoba mengalihkan tatapan nya dari kedua mata AhRa. Namun gadis itu terus memandangnya dengan tatapan penuh tanya.

“Chanyeol… itu…”

AhRa masih menunggu Baekhyun untuk melanjutkan kalimatnya. Dan dengan ragu Baekhyun kembali membuka suara,

“Alexa… tadi pagi gadis itu masuk rumah sakit.. noona nya bilang ia pingsan karena kepala nya terbentur… awalnya, dokter yakin ia baik-baik saja… sampai 2 jam yang lalu, hasil CT scan nya mengatakan bahwa ada pendarahan di otaknya. Belum sempat mereka mengoperasi…. Alexa sudah….”

Baekhyun menahan nafasnya. Jika harus jujur, ia tidak ingin menceritakan hal itu. Menceritakan kemana perginya Chanyeol, dan untuk siapa Chanyeol pergi sehingga meninggalkan AhRa. Namun begitu ia mengetahui alasan sebenarnya, ia tau, tidak akan ada amarah sedikitpun dalam diri AhRa.

Benar saja. Begitu melihat wajah gadis itu. Baekhyun tidak dapat mengatakan apa-apa.

Ia hanya bisa memandang gadis itu. Dan berharap hanya lewat tatapan nya saja, AhRa bisa merasakan bahwa ia tidak ingin melihat gadis itu sedih, menangis.

“Aku pikir kita memang belum lama saling mengenal… tapi… AhRa sesang, Baekhyun ‘kan?”

“…….”

“Jadi… aku tidak ingin melihat kau sedih seperti itu…apalagi.. kalau kau sedih untuk Chanyeol.. karena, Chanyeollie pasti bisa mengatasinya.”

AhRa tersenyum tipis. Siapa sih yang mengusulkan perjanjian ‘Ahra sesang, Baekhyun sesang’ itu? Kini hal tersebut bisa dijadikan alasan jika suatu hal terjadi. Batin AhRa pada dirinya sendiri.

“Kau yakin, Chanyeol tidak apa-apa? Alexa itu… bagaikan dunia untuk Chanyeol kan?”

Sebuah tawa kecil meluncur dari bibir AhRa. Tawa yang dipaksakan. Hanya untuk mencairkan suasana.

Dan Baekhyun balas tersenyum, “Gwaenchana… Chanyeol pasti akan menemukan ‘dunia’ yang tepat untuknya… hmmm… bisa saja Kim AhRa ‘kan? Aihh.. rasanya uri Chanyeollie telah jatuh cinta pada Kim AhRa….”

AhRa mendorong bahu Baekhyun dengan tangan nya. Mungkin Baekhyun kira kesedihan nya akan segera hilang begitu namja itu melontarkan lelucon lainnya. Tapi lelucon yang satu ini, hanya membuatnya geram.

“Mwoyaaa.. Ish! Byunbaek babo!!”

“Wae…Wae..? kenapa sekarang aku yang babo..?”

AhRa memutar bola matanya, lalu tatapan nya terhenti pada kedua mata Baekhyun.

“Karena.. AhRa sesang adalah Baekhyun… Sebuah dunia yang luas itu, dunia milik Kim AhRa, adalah Byun Baekhyun.. arra?”

Baekhyun menghentikan langkahnya. Ia tidak ingin menyembunyikan senyumnya. Atau tawanya. Atau rasa senang nya.

Tapi di atas semua itu. Ia tidak ingin merasakan semua perasaan itu, ketika Chanyeol juga merasakan hal yang sama.

Merasakan bagaimana mencintai seorang Kim AhRa.

*****

AhRa menatap piringnya dengan pandangan kosong. Tangannya memainkan garpu dengan enggan. Sementara tangan yang lain menopang dagunya.

Kai menyenggol pundak nya pelan tanpa memalingkan wajahnya dari makanan nya sendiri. Walaupun merasa jengah, AhRa tetap menoleh,

“Noona apakan Chanyeol hyung?”

Alis AhRa bertautan. Ia memandang Kai bingung.

“Noona kan harusnya memanggil Chanyeol hyung untuk makan, tapi noona justru lama sekali di dalam kamarnya.. hiiihh, lihat dia sekarang, hanya menatap piring nya seakan-akan itu musuh bebuyutannya..”

AhRa segera tersadar. Sedari tadi ia hanya sibuk dengan pikirannya sendiri. Bahkan mungkin sampai melupakan bahwa waktu terus berjalan dan memberdeul EXO hanya bisa heran melihat AhRa dan Chanyeol yang sama-sama terdiam begitu keluar dari kamar.

Dan juga Baekhyun. Yang menatap 2 orang itu dengan bingung.

“Ya!! Kkamjong! Jangan berfikir yang macam-macam!!”

Mendengar panggilan tersebut, Kai langsung bungkam. Raja protes itu kini kembali menyibukkan dirinya dengan makanan nya sendiri.

Sampai Raja protes lainnya membuka suara,

“Noona~ bukannya minggu lalu kau bilang, kalau aku berhasil memergokimu berdua saja dengan Baekhyun hyung, kau akan memberiku cokelat, iya kan? Sekarang mana bagianku?”

AhRa menggenggam erat garpu pada genggaman nya. Rasanya ia ingin melayangkan garpu tersebut pada kepala Sehun yang berada di seberang meja makan.

“Ish! Mwoyaa?!! Memangnya aku pernah bilang begitu..?! lagipula kapan aku berduaan dengan dia?!”

Tatapan AhRa kini mengarah pada Baekhyun. Sementara namja itu mengangkat kedua bahunya tanda tidak mengerti apapun.

“Eyy.. noona sekarang pintar berbohong ya… tadi, begitu noona datang, Baekhyun hyung yang mengeringkan rambutmu kan? Semua nya juga melihat itu noona~”

“Ani!! Aku tidak berdua dengan Baekhyun, disana juga ada….”

“Aku sudah selesai.”

Chanyeol.

Ya. sebelum Baekhyun datang ada Chanyeol disana.

Sebelum semuanya ia mulai dengan Baekhyun. Namja itu disana.

Menjadi namja pertama yang membuat AhRa bisa tertawa terpingkal-pingkal hanya dengan lelucon suara nya. Menjadi namja yang datang kepada nya sebelum Baekhyun. Menjadi namja yang menjajikan segalanya sebelum Baekhyun.

Menjadi yang pertama. Selalu, di keadaan apapun. Bukan hanya di hari itu.

Tapi di tahun-tahun sebelumnya, selalu ada Chanyeol.

Sebelum Baekhyun datang.

“Eo? Chanyeollie.. tapi makanan mu belum habis..”

“Aku tidak lapar hyung… dan.. sepertinya aku harus segera pergi..latihan..”

Suho terdiam mendengar jawaban dongsaeng nya. Ia tidak pernah melihat sisi ini dari Chanyeol. Chanyeol yang orang-orang kenal bukan Chanyeol yang pemurung dan pendiam seperti saat ini.

Sehun mengerutkan dahinya. Seingatnya tidak ada latiham malam itu. Dan dengan polosnya ia membuka mulutnya.

Namun Baekhyun yang berada di sampingnya menepuk lengan nya pelan. Memberi isyarat untuk diam.

Begitu juga dengan member yang lain. Hanya bisa terdiam dan tidak berusaha mencegah Chanyeol dengan sikap nya itu.

Tapi AhRa ingin bangkit. Beranjak dari kursi nya, dan berhenti melakukan semua itu.

Berhenti berpura-pura bahwa semua baik-baik saja. Berhenti mengatakan bahwa tidak ada apa-apa antara dirinya dan Baekhyun.

Karena semua sudah jelas. Bahkan sejak bertahun-tahun yang lalu.

Sejak Alexa meninggal. Dan Chanyeol jelas berusaha mencintai orang lain.

Lagi-lagi suara Kai masuk kedalam telinganya. “Geumanhae.. jangan..”

Namja itu mencengkram lengannya. Saat itu ia benar-benar serius. Bukan bercanda seperti beberapa menit yang lalu.

AhRa tidak ingin menuruti kata-kata Kai. Sampai ia mendengar Chanyeol kembali bersuara.

“Ahh.. hampir saja aku lupa..”

Ia menghentikan langkahnya yang baru beberapa meter jauhnya dari dapur. Ia merogoh sesuatu dari saku celana nya. Dan berbalik menghadap 6 orang yang tengah duduk dalam diam. Menatapnya penuh tanya.

Dan Chanyeol melangkahkan kakinya pada satu-satunya gadis yang berada di sana.

“Sepertinya ini punyamu… mungkin jatuh saat kau mengeringkan barang-barang mu..”

Tangan Chanyeol terulur. Sebuah kertas lusuh, seperti yang dapat AhRa lihat sekarang, teracungkan di udara.

Walaupun ragu, gadis itu tetap mengambilnya.

Dan ia tetap termangu, tidak dapat mengatakan apa-apa. Meski Chanyeol lambat laun menghilang dari pandangannya.

AhRa melihat kertas tersebut. Ia baru sadar itu adalah sebuah foto Polaroid yang menjadi lembab akibat hujan yang sempat mengguyurnya.

Ia membuka lipatan foto tersebut. Dan tenggorokannya tercekat.

Ia ingat foto tersebut. Apalagi dengan tanggal dan tulisan di pojok foto tersebut.

‘AhRa sesang, Baekhyun -2010’

Foto tersebut menggambarkan AhRa dan Baekhyun, yang tengah duduk di sebuah café. Keduanya sedang memakan es krim cone dalam genggaman mereka.

Foto itu mengingatkannya akan suatu momen.

Foto itu selalu ia simpan di dalam dompet nya.

Foto itu, Baekhyun bahkan tidak tau AhRa masih menyimpannya.

Tapi, Chanyeol mengetahuinya. Ia melihatnya.

Dan kini semuanya jelas. Sangat jelas.

Chanyeol pasti kini tau apa yang AhRa dan Baekhyun jalani.

-T.B.C

Halooooohh 😀 author balik lagi, tapi bukan buat update lanjutan ff yang lalu ._. /ditimpuk/
hueheeh, mianhaeeee >,< lagi banyak yang aku kerjain, jadinya malah ngasih ff ini ._.
ff end of you nya masih aku kerjain, sebagai gantinya aku kasih ini dulu ._.v

hope you like the mess yaaapppsss ‘u’)//

-renacho

20 tanggapan untuk “{One} His Story: 아라 세상, 백현 (AhRa’s World, Baekhyun)”

  1. hmmm..masih banyak misteri yang belum terpecahkan,,, (sok banget kata-kata nya,,hehehe)
    kisah persahabatan dan cinta nya oke thor..
    lanjut ya,,ditunggu lho 🙂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s