(Back To December;Kai Version) Stranger

stranger-poster

 

Title : (Back To December;Kai Version) Stranger

Author : Heena Park [@arumnarundana]

Lenght : Oneshoot

Genre : Romance,Hurt

Ratting : PG-15

Blog : HeenaLicious World

Poster : aralydeer@HSG

 

Cast :

-EXO Kim Jong In

-[OC/You] Shin Heera

 

Other Cast:

-You can find by your self

 

Recommended Song :

-The Story Only I Didn’t Know (IU)

-Back To December (Taylor Swift)

-Lovesick Fool (The Cab)

 

 

*****

 

Jongin tidak pernah bertindak gegabah, ia selalu memikirkan setiap inci hal berat yang akan dilakukannya—Ia juga bukanlah pria yang bisa dengan cepat memutuskan untuk membawa seseorang yang tak dikenal untuk masuk ke dalam lingkup keluarganya, hanya saja untuk kali ini otaknya bekerja dengan lebih melantur dan demi apapun ia benar-benar tidak mengerti kenapa harus melakukan hal tak di sangka tersebut.

Suatu malam melelahkan dan sedikit menyebalkan harus menghampiri kehidupannya yang hampir dikatakan sempurna dengan segala yang ia capai itu ternyata harus berubah 180 derajat hanya karena seorang wanita yang bisa dibilang, bukan siapa-siapa

“Sudah sampai mana?”

Suara seorang wanita paruh baya terdengar nyaring dari balik ponsel hitam yang kini sedang bertengger di telinga Jongin, ia mengapit ponsel tersebut dengan telinga dan pundaknya, sementara kedua lengannya sibuk menutup tas-nya yang tadi terbuka karena mengambil jaket

“Sudah keluar dari subway, aku akan mencari bus” Kali ini tangannya sudah memegang ponselnya

Wanita di balik ponsel itu mendesah berat “Ah..sudah malam begini memang masih  ada bus? Kau naik taksi saja” Saran wanita tersebut

Jongin mendecakkan lidahnya “Ya, itu pilihan terakhir eomma, sudah dulu aku ingin mencari bus, sampai jumpa di rumah”

Jongin menutup flap ponselnya dan mencari jalan keluar dari stasiun. Begitu keluar ia langsung menuju ke halte bus yang tidak terlalu jauh dari stasiun tempatnya keluar tadi. Ya, Jongin baru saja kembali dari Incheon untuk kepentingan mengikuti lomba dance. Seharusnya ia pulang esok hari bersama dengan rombongan, namun karena sang ibu yang sudah menyuruhnya untuk segera kembali tanpa alasan itu-pun membuat Jongin menyerah dan memilih untuk pulang ke Seoul terlebih dahulu

Samar-samar matanya menangkap sebuah bus dari arah selatan, ia segera menaikkan resleting jaket dan menunggu bus itu sampai di hadapan matanya. Untung saja masih ada bus malam ini, Jongin benar-benar tidak ingin naik taksi seperti yang ibunya sarankan, bagaimanapun menaiki taksi adalah sebuah pemborosan baginya. Ya, walaupun sebenarnya sebagai seorang pria ia adalah salah satu yang sangat boros.

Ia duduk di pojok kanan bus paling belakang, terlihat beberapa penumpang sedang terlelap dalam tidurnya kecuali seorang wanita yang berada pada bangku ke-3 dari supir bus, ia sepertinya sedang merenung dan terlihat…tidak baik?

Baru 15 menit berjalan dan bus tiba-tiba berhenti dengan mendadak sehingga membuat Jongin hampir saja terpental dari tempatnya, untung saja dengan sigap ia menahan tubuhnya. Dan bukan hanya itu, bahkan hampir semua penumpang yang tertidur mulai membuka matanya karena kaget

Ah…ternyata hal mengagetkan tadi terjadi karena gadis yang berada pada bangku nomor 3 dari supir itu meminta untuk turun, gadis itu membuat semua penumpang hampir saja menatap kursi di depannya.

Wanita misterius tadi berjalan menyusuri trotoar dengan cara berjalan yang sedikit goyah sedangkan Jongin hanya bisa menatapnya dari balik bus, namun tiba-tiba mata Jongin terbelalak, ia berlari ke arah supir bus dan menyuruhnya untuk segera berhenti dan sekarang gilirannya yang membuat seluruh penumpang bus kaget, namun sekarang bukan saatnya untuk memikirkan hal tersebut, yang lebih harus di pikirkan sekarang adalah, gadis tadi pingsan di pinggir jalan dan itu berbahaya.

 

*****

 

Sudah terduga hal ini pasti akan terjadi, mengingat betapa nekatnya Jongin membawa gadis itu ke rumahnya dalam keadaan pingsan dan begitu keluar dari taksi. Ya, baiklah ia akhirnya menyerah dan memilih untuk naik taksi karena tak mungkin ia menggendong gadis yang sedang pingsan menaiki bus, sangat tidak mungkin.

Beberapa tetangganya melihat kejadian itu, mereka memicingkan mata curiga karena Jongin yang datang bersama dengan seorang wanita di gendongannya, seakan-akan ia telah menculik wanita itu dan sedang menyanderanya—Namun tentu saja Jongin tadi tidak memperdulikan pandangan-pandangan tersebut, yang ada di otaknya hanyalah gadis ini harus segera di tolong.

“Jadi apa penjelasanmu tentang gadis itu?” Kim Ina menatap Jongin lekat-lekat, tangannya menyilang tanda butuh penjelasan yang se-jelas-jelasnya

“Aku melihatnya pingsan ketika ia turun dari bus yang sama denganku, dan aku tak tak mungkin meninggalkan gadis itu terlantar di jalan”

“Dan kemudian kau membawanya kemari dengan komentar para tetangga yang mungkin berfikir bahwa kau sudah mengapa-apakan gadis itu Kim Jong In?”

Jongin bangun dari duduknya “Eomma! Sudah ku bilang aku tidak melakukan apapun padanya” Ujar-nya dengan nada tinggi

Kim Ina menghempaskan tubuhnya pada sandaran sofa “Baiklah, terserahmu, eomma tidak bertanggung jawab akan apa yang akan terjadi” Ia berdiri dan memunggungi Jongin “Benar-benar anak yang susah di atur” Lanjutnya lalu melangkahkan kakinya untuk masuk ke kamar

Ia bisa melihat rasa kecewa Kim Ina yang memang termpampang jelas di wajah wanita paruh baya tersebut, namun bagaimanapun Jongin adalah seorang pria yang tak mungkin bisa meninggalkan seorang wanita pingsan di pinggir jalan, bukankah itu terdengar sangat tidak manusiawi?

“Sudahlah, mungkin eomeonim hanya sedang kaget karena kau datang dengan wanita dalam keadaan seperti itu” Yixing yang semula hanya diam saja melihat Jongin dan ibu mertua-nya sedang beradu mulut itu-pun kini mulai mengeluarkan suaranya sambil menepuk pundak Jongin

“Ya, ku harap begitu hyeong

Suasana menjadi hening, keduanya sibuk dalam pikiran masing-masing, entah apa yang ada dalam pikiran Yixing, namun siapapun pasti bisa menebak apa yang ada dalam pikiran Jongin. Pria itu pasti sedang memikirkan bagaimana caranya ia bisa menjelaskan bahwa gadis itu memang benar-benar ia temukan dan tidak ada sedikitpun unsur kekerasan antara mereka berdua

“Jongin dia sudah sadar!”

Seorang wanita tiba-tiba saja menepuk pundaknya sambil sedikit berteriak, ternyata Hyena—Saudara perempuan Jongin—Ia memberitahu bahwa gadis misterius itu sudah terbangun dari pingsannya, dan sekarang? Apalagi yang harus ia lakukan?

“Benarkah?” Bibir Jongin bergetar

Hyena mengangguk kecil, ia menggerakkan kepalanya ke arah kamar tamu sebagai tanda bahwa Jongin harus segera menemui gadis tersebut

“Baiklah..”

Jongin menyerah, ia segera menuju ke kamar tamu dan bertanggung jawab akan gadis itu, ia yang membawa gadis itu kemari jadi ia juga yang harus menemukan jawaban dari setiap pertanyaan yang sedari tadi menggerayangi otaknya

Namun tiba-tiba Hyena menarik tangan Jongin, memintanya untuk berhenti sebentar dan mendengarkan perkataan kakak perempuannya tersebut

“Aku pikir, mungkin ia sedikit frustasi, maksudku begitu tersadar ia sama sekali tidak kaget berada di tempat ini, kau bisa mengerti maksudku kan?” Ucap Hyena memperingatkan

Jongin mengangguk, ia bisa mencerna setiap kata yang keluar dari mulut kakak-nya tersebut. Ia kembali berbalik dan tetap pada pilihannya untuk menemui gadis itu di dalam kamar tamu.

Begitu masuk, matanya segera menangkap tubuh gadis yang sedang duduk di tengah ranjang berukuran king size.Matanya menatap selimut yang menutupi sebagian kakinya dengan kosong, apakah ia benar-benar sedang depresi atau sebagainya?

Jongin memberanikan diri untuk duduk di samping gadis tadi, ia meraih segelas air putih dan menyodorkannya pada gadis tadi

“Hai…mau segelas air putih?” Tawarnya

Gadis itu menengok sebentar dan menatap Jongin, mulutnya sedikit terbuka namun dengan cepat menutup lagi, ia bergeser sedikit seperti menjauhi Jongin. Ini bukan hal aneh, Jongin adalah orang asing bagi gadis itu dan sebaliknya

“Tidak perlu takut, aku bukan orang jahat” Jongin menaruh segelas air tersebut  ke meja kecil di samping ranjang “Aku menemukanmu pingsan di jalan dan membawamu kemari, aku tidak akan menyakitimu, sungguh” Lanjutnya

Jongin semakin mendekat pada gadis itu, namun kali ini sang gadis tidak beralih dan tetap pada tempatnya, ini sepertinya hal yang baik dan Jongin mulai memanfaatkan kesempatan tersebut

“Jadi..siapa namamu?”

Nama…..

Gadis tadi mengangkat kepalanya perlahan, sepelan mungkin ia bergerak hingga kedua matanya yang lelah menemukan mata seorang pria yang duduk di sampingnya—Mata yang tenang dan penuh akan tanda tanya, tidak tahu ia baik atau buruk, tidak tahu dia berbohong atau tidak. Tapi intinya sekarang ia percaya pada omongan pria itu barusan.

Mulutnya membuka kecil, mencoba mengumpulkan sisa-sisa tenaga untuk setidaknya bicara dan menyebut namanya sebagai tanda terima kasih untuk pria yang telah menyelamatkannya dan dengan ini ia putuskan bahwa pria dihadapannya sekarang adalah pria baik tanpa pengecualian.

“Namaku….” Ia berhenti sebentar dan menarik nafas panjang “Shin Heera”

 

*****

 

“Apa? Kau serius?!” Teriakkan Tao menggema begitu dalam di telinga Jongin, pria yang berusia setahun lebih tua dari Jongin tersebut merasa tak percaya akan apa yang baru saja ia dengar

Bagaimana mungkin seorang Kim Jong In bisa berbuat seperti itu? Ia bisa menolong seorang gadis yang tidak di kenal, sesuatu yang sangat sulit dipercaya, mengingat betapa Jongin menganggap segala hal yang ada di dunia ini hanyalah sebuah drama bodoh dengan segala kecengengannya, tentu saja hal tersebut berlaku untuk orang yang selalu patah semangat dan hanya bisa menangis

Sedangkan untuk orang yang hebat, menurut Jongin, kehidupan adalah kerja keras dimana kita harus fokus mendapatkan sesuatu tanpa perduli kepada orang yang belum kau kenal sebelumnya, atau sebut saja orang asing, garis bawah seperti hal kemarin. Orang yang baru ia temui itu, adalah orang asing

“Lupakan soal orang asing, jika kau menjadi aku dan melihat kejadian itu bukankah kau juga akan melakukan hal yang sama?” Jongin balik bertanya, ia masih duduk menyandar pada dinding dan memasang sepatu

“Tentu aku melakukan itu, tapi kau? Aku bahkan ingat ketika kita akan pergi ke Gangnam dan melihat seorang pria tertabrak motor, aku menolongnya dan kau hanya diam saja, bukankah kecelakaan adalah hal yang lebih parah?”

Jongin bangkit, ia tidak menyangka bahwa Tao akan menanyakan hal tersebut. Dan lucu sekali, ternyata pria itu berhasil membuat Jongin menutup mulutnya, ia sama sekali tidak memiliki jawaban atas pertanyaan Tao tadi

“Ah!” Tao berseru “Kau merindukan peran wanita dalam hidupmu bukan, Kim Jong In?”

Jongin berkacak pinggang dan tertawa hambar. Wanita? Merindukan sosok wanita? Ia baru saja mendengar hal bodoh lagi untuk hari ini, seumur hidup ia benar-benar belum pernah berpikir tentang wanita selain ibu dan kakaknya, ia bahkan tidak pernah membayangkan tentang pernikahan atau sebagainya, ia percaya bahwa ibu-nya lah yang nantinya akan memilihkan jodoh untuknya seperti yang ia lakukan pada kakaknya—Kim Hyena—Jadi, ia tidak perlu susah-susah mendekati gadis hanya untuk mencari pasangan hidup

“Dan biar ku tebak, kau ingin seperti nuna-mu bukan? Hidup di jodohkan dan menikah dengan orang asing, yuhu…orang asing Kim Jong In” Seru Tao lagi, ia menekan tombol play pada tape compo dan alunan musik bergenre RnB langsung terdengar di telinga keduanya

Tao kemudian mengambil tongkat wushu-nya dan menggerakkannya “Jangan hidup seperti tongkat yang hanya akan bergerak jika ada seseorang yang memegang penuh atas kendalinya” Ia berhenti dan membuka jendela kaca, dua ekor burung sedang ber-tengger di atas tiang listrik terlihat sedang memainkan sayapnya “Hiduplah seperti burung yang bebas kemana-pun dan jangan sampai tertangkap oleh manusia, Kim Jong In”

Jongin terdiam mendengar perkataan Tao barusan,ia tidak menyangka teman-nya bisa berkata seperti itu

“Aku hanya tidak ingin mendengar suatu hari nanti Kim Jong In gagal menikah karena sang calon istri kabur dari rumah, ia tidak tahan menghadapi pria aneh sepertimu” Seketika tawa Tao yang renyah pecah menggema di seisi ruangan

Jongin ikut tertawa dan memukul kecil pundak Tao—Hei, sebenarnya Jongin merasa sedikit takut jika hal yang dikatakan oleh Tao barusan akan benar-benar terjadi

 

*****

 

Jongin pulang lebih cepat karena ia tidak ingin mendengar kabar bahwa gadis yang kemarin ia temukan di usir oleh sang ibu, melihat betapa kecewanya ibu-nya kemarin, Jongin jadi khawatir. Begitu sampai di rumah ia langsung menengok ke dalam kamar tamu dan menelan rasa kecewa karena ternyata Shin Heera tidak ada

Pikiran bahwa sang ibu benar-benar mengusir gadis itu-pun kembali menerpa, namun kali ini lebih parah. Ia berjalan ke arah dapur dan mendapati ibu dan kakaknya sedang duduk berdua di meja makan sambil minum teh hangat

Eomma,nuna dimana gadis kemarin?” Tanya Jongin tanpa basa-basi

Kim Ina menaruh cangkir teh yang semula ia genggam, matanya menatap pada taman belakang rumah dan segera Jongin mengerti, ia mengikuti pandangan ibu-nya dan menemukan Shin Heera sedang duduk di ayunan putih sendirian dan sekali lagi gadis itu menatap kosong tanpa tujuan

“Ia tidak bicara, tidak makan, tidak minum, ia seperti tidak menganggap kami” Celoteh Kim Ina “Dia seperti orang yang sedang depresi atau mungkin dia?”

“Tidak eomma” Jongin menghentikan perkataan ibu-nya dengan cepat, ia percaya bahwa Heera hanyalah wanita biasa tanpa catatan kriminalitas di kantor polisi

“Kita tidak bisa menilai orang hanya dengan melihat fisiknya saja, kita tidak tahu apakah dia gadis baik-baik atau tidak. Bagaimanapun tak akan ada orang tua yang membiarkan anak gadisnya keluyuran malam-malam dan pingsan, bahkan seharusnya jika ia tahu anak gadisnya tak pulang-pulang sang orang tua pasti akan mencari!”

“Bagaimana jika dia tidak punya orang tua?” Jongin balik bertanya, ia menatap kedua mata ibu-nya yang dibalas desahan berat dari mulut wanita paruh baya itu

“Tidak semua orang memiliki orang tua yang lengkap, bahkan aku saja sudah kehilangan appa, dan bukan tidak mungkin bahwa ia tidak memiliki keduanya”

“Ah sudahlah, percuma berbicara dengan orang keras kepala sepertimu, membuat eomma pusing saja, dan mungkin eomma bisa cepat mati jika terus seperti ini” Kim Ina beranjak meninggalkan Jongin

Ia tahu betul bahwa ibu-nya sangat khawatir dan takut jika orang yang berada di tengah-tengah mereka adalah orang jahat, namun Jongin tidak beranggapan seperti itu, ia yang selalu tak percaya dengan orang asing kini bisa dengan mudahnya perduli dan bahkan menolongnya, ini sesuatu yang pastinya berbeda

Jongin mengambil nasi beserta lauk pauknya kemudian menghampiri gadis di ayunan taman miliknya. Ia duduk di depan gadis tersebut dan kembali memasang senyum seolah pertengkaran dengan ibu-nya barusan tidak pernah terjadi

“Kau belum makan bukan?” Ia belum pernah bertanya selembut ini pada siapapun selama hidupnya

Heera mengangguk, hanya itu saja tanpa mengeluarkan sepatah kata-pun. Ia bukan gadis gagu, seperti yang telah diketahui bahwa kemarin gadis itu baru saja berbicara dan mengutarakan siapa namanya pada Jongin, namun sepertinya gadis ini memang pendiam atau…

Jongin menyendok sesuap nasi untuk Heera dan mengarahkannya pada mulut gadis itu, ia tidak menolak, mulutnya membuka dan menerima satu suapan dari tangan Jongin yang masuk ke dalam mulutnya dengan mulus.

Semua terus berjalan lancar hingga akhirnya mata keduanya saling bertemu ketika Jongin hendak memberikan suapan terakhir pada mulut Heera, tiba-tiba saja gadis itu memegang tangan Jongin dan mendorong sendok tersebut menjauh dari mulutnya

Jongin yang merasa Heera sudah kenyang akhirnya menurunkan sendoknya dan hendak mengambil segelas air untuk gadis itu, namun keinginan itu terhenti ketika dua buah kata keluar dari mulut gadis di depannya

“Aku menyukaimu”

Jongin berhenti, kepalanya kembali menatap Heera dan gadis itu ternyata masih menatapnya dalam-dalam, tidak kosong seperti sebelumnya

“Aku menyukaimu…”

Jongin akhirnya tersenyum, ia mengangguk dan mengelus pelan rambut Heera yang sempat terkena angin sehingga sedikit berantakan, ia berniat untuk mengajak Heera ke dokter, karena bagaimanapun sifat gadis ini sedikit tidak wajar, apa benar perkataan Hyena waktu itu?

 

*****

 

“Kau yakin?” Yixing menaruh koran pagi-nya ke meja dan menatap Jongin serius, adik ipar-nya baru saja mengatakan bahwa ia akan membawa Heera ke dokter “Bukankah sebaiknya kau langsung membawanya ke psikiater saja?”

Apa?

Psikiater?

Jongin menatap Yixing tak mengerti, atas dasar apa pria itu berkata bahwa ia harus membawa Heera ke psikiater, apa dia menganggap Heera sudah gila?

“Ini bukan soal dia gila atau tidak” Bagus Yixing sepertinya telah membaca pikiran Jongin “Seperti yang kita tahu bahwa sejak pertama kali kau membawanya ke sini ia sama sekali tidak berbicara pada kami, tentu saja selain kau”

“Dan hanya karena itu kau menyimpulkan bahwa ia mengalami gangguan jiwa?” Kai menjawab dengan nada sedikit emosi, ia tidak tahu mengapa akhir-akhir ini keadaan emosionalnya seperti kembali ke masa labil ketika awal memasuki Sekolah Menengah Atas

“Aku tidak berkata seperti itu, lagipula aku hanya menyarankan saja” Yixing menyahut dengan sedikit sewot, ia seakan telah di kecam oleh Jongin barusan

“Baiklah, maafkan aku” Jongin cepat-cepat meminta maaf. Ia kemudian berdiri dan meraih mantel coklat yang terletak begitu saja di sandaran kursi, dan setelah itu mengetuk kamar Heera.

Seorang gadis membuka pintu kamar tersebut yang tidak lain dan tidak bukan adalah Hyena, ia dengan senang hati meminjamkan pakaiannya kepada Heera dan sepertinya tidak terjadi percakapan antara Heera dan Hyena selama di kamar tadi

“Ku harap semua baik-baik saja” Hyena menepuk lengan Jongin dan berjalan mendahuluinya, ia menatap saudara perempuannya sebentar dan kembali menatap Heera yang masih berdiri di depan kaca sambil menyisir rambutnya

Jongin menghampiri gadis itu dan menyentuh pundaknya, entah kenapa ia selalu ingin menyentuh bagian tubuh gadis itu, tidak ini bukan mesum atau sebagainya, ia hanya merasa harus melindungi Heera dari gangguan apapun—Sungguh, melindungi orang asing

Ia tidak membuang banyak waktu, kali ini Jongin memilih untuk menggunakan mobil daripada kendaraan umum ataupun taksi, ia tidak ingin menunggu dan membiarkan waktu hilang dengan sia-sia. Sepanjang perjalanan otaknya berputar, ada rasa bingung yang kalut dalam pikirannya, memilih untuk membawa gadis ini ke dokter atau ke psikiater

Jika dilihat-lihat secara fisik ia memang tidak terlihat seperti seorang gadis yang penyakitan atau semacamnya, namun jika dilihat secara kejiwaan mungkin benar kata Yixing dan Hyena, gadis di sampignnya tersebut seperti mengalami depresi akan suatu hal yang tidak diketahui oleh Jongin

Jadi sepertinya membawanya ke psikiater adalah pilihan yang terbaik

 

*****

 

Jongin menyetir dengan sedikit lamban, dalam otaknya masih menggema perkataan psikiater yang menangani Heera barusan, ia tidak tahu bagaimana cara psikiater itu mendapatkan suara dan curahan hati dari gadis yang kini sedang duduk di sampingnya sambil menatap kosong jalanan

Sekarang ia tahu seperti apa gadis itu, sekarang ia mengerti kenapa seperti ini, namun sekarang ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya

Sebuah kenyataan yang sangat amat perih harus dilalui oleh seorang gadis malang disampingnya, hidup dengan segala keterbatasan dan harus kehilangan semua yang ia punya, ia seperti disiksa di dunia, ia bagaikan seekor burung yang dipermainkan dalam sangkar dan akan selalu dipermainkan sampai seseorang berhati baik mau membebaskannya

Shin Heera—20 tahun—Anak tunggal dari Shin Jae Wo dan Shin Min Ah—Kedua orang tua-nya meninggal karena kecelakaan pesawat 3 tahun yang lalu dan meninggalkan hutang berlimpah karena perusahaan ayahnya yang bangkrut—Hidup sebatang kara karena saudara sepupunya tinggal di luar negeri—Bekerja di sebuah toko roti kecil yang terletak tidak jauh dari Sungai Han hingga 2 tahun lalu dibawa paksa oleh seorang rentenir bernama Choi Dong Hwa yang berusia sekitar 38 tahun tempat ayah-nya berhutang—Tinggal di rumah Choi Dong Hwa selama 2 tahun dan diperkosa sebanyak lebih dari 5 kali dalam Seminggu—Dipaksa melakukan anal dan gerakkan berbahaya lainnya—Punggung pernah di setrika karena menolak ajakkan Choi Dong Hwa untuk berhubungan badan—Mencoba kabur 10 kali namun selalu tertangkap, dan setiap tertangkap maka ia akan dicambuk sebanyak 25 kali di seluruh tubuh—Pernah hamil 3 kali dan selalu digugurkan paksa oleh Choi Dong Hwa

Jongin menghentikan mobilnya, memandang Heera yang masih memasang wajah polos dan baiknya, hatinya tiba-tiba saja terasa sakit. Ia tidak tahu mengapa, namun mendengar apa yang telah terjadi pada gadis ini, rasanya ingin sekali membunuh Choi Dong Hwa dan mengirimnya ke neraka.

“Shin Heera” Jongin mengeluarkan suara parau-nya

Heera menengok dan untuk pertama kalinya ia tersenyum, mungkin sekarang perasaan gadis itu lebih baik daripada sebelumnya karena ia telah berhasil mengeluarkan segala unek-uneknya yang  telah lama terpendam

“Bagaimana kalau kita ke Rumah Sakit dahulu? Aku khawatir”

“Kumohon,jangan” Heera meraih lengan Jongin, tidak ada yang tahu apakah wanita itu melakukannya dalam keadaan yang benar-benar sadar atau diluar kemampuannya dalam mengatur emosional, bagaimanapun ini semua memang benar adanya bahwa Heera mengalami depresi yang cukup berat

Jongin meletakkan tangan kanannya di atas tangan Heera dan mengangguk, setidaknya untuk saat ini dia tidak ingin menambahi beban gadis di sampingnya, dan entah ada setan apa yang merasuki jiwanya, hari ini dia telah memutuskan untuk membiarkan Heera tetap di sampingnya dan merawat gadis itu sampai ia kembali seperti semula, kembali dalam kebahagiaannya

Lagu berjudul Lovesick Fool milik The Cab terdengar nyaring di telinga Jongin dan Heera, ah benar ternyata ponsel Jongin berbunyi. Ia segera meraih ponsel tersebut dan menemukan nama ibu-nya pada layar

“Yoboseyo” Jongin mengkerutkan keningnya, ia menatap Heera lagi dan kembali mendengarkan perkataan ibu-nya “kami akan segera pulang” Lanjutnya kemudian melajukan mobilnya segera kembali ke rumah

Sepertinya ada tamu, sedan silver telah ter-parkir di depan rumah. Ia yakin mobil ini bukan milik Yixing—Suami Hyena—Ini pasti milik orang lain. Jongin meraih tangan Heera dan menyuruh Heera untuk tetap berjalan di belakangnya, ia hanya sedikit takut jika ibu-nya merencanakan sesuatu yang diluar kepala

Begitu masuk ke rumah matanya langsung menatap heran dua orang yang sepertinya adalah pasangan suami-istri sedang duduk di kursi sambil berbincang dengan ibunya, apakah ini akan berakhir perjodohan?

“Ah itu dia” Kim Ina menunjuk Jongin dan Heera yang baru saja datang

Jongin melangkah lebih dekat kepada ibunya dan disambut senyuman lebar oleh kedua orang yang kini sedang duduk di sofa tersebut

“Mereka adalah keluarga Heera dan mereka akan membawa Heera kembali” Ujar Kim Ina senang

Jongin mengkerutkan keningnya “Benarkah? Ini bukan akal-akalan eomma saja kan?” Tanya-nya menginterogasi

Kim Ina memicingkan matanya “Ya, kau pikir eomma-mu ini selicik itu?” Ia berhenti sebentar “Kau boleh tanya pada mereka sendiri kalau tidak percaya”

Jongin mendesah napas berat “Baiklah-baiklah” Tangannya terasa dicengkeram oleh Heera semakin dalam, ia bisa merasakan cakaran kuku Heera yang tajam di lengannya. Sepertinya ada yang aneh di sini

“Siapa nama kalian?” Tanya Jongin

Pria yang semula duduk itu berdiri dan menyodorkan lengan “Perkenalkan, aku Shin Dae Han dan ini istriku Shin Rae Ah, aku sangat mengerti jika kau merasa curiga pada kami, namun mau bagaimana lagi kami adalah keluarga Heera dan berniat untuk mengajaknya kembali dalam satu keluarga. Aku sangat berterima kasih karena kau mau menampungnya di sini, kami sangat berterima kasih” Ujar pria yang mengaku bernama Shin Dae Han tadi

“Sudahlah Jongin, relakan Heera pergi bersama keluarganya, lagipula memang seperti itu seharusnya” Ujar Kim Ina

Jongin berpikir sebentar, ia akhirnya menyerah dan menatap Heera sebentar.Gadis itu terlihat murung kembali, Jongin mengerti apa yang ia rasakan tapi memang mereka harus berpisah untuk saat ini. Jongin melepaskan tautan tangan mereka dan membiarkan Heera untuk kembali pada keluarganya

Ada rasa sedih yang mendalam ketika ia harus melihat mobil tersebut dengan perlahan menjauh dan meninggalkannya, namun matanya masih menangkap Heera yang menempel pada kaca mobil, mulutnya bergetar seolah mengatakan sesuatu dan ya! Jongin tahu apa yang dikatakan oleh Heera, ia tahu kata apa yang dikeluarkan dari dalam mulut yang mungil dan dingin milik Heera

“Jongin…saranghaeyo”

Ia memang tidak mendengarnya, tapi matanya menangkap kalimat itu, ia tidak membutuhkan telinga untuk mendengar, tapi mata, kali ini mata yang membuatnya mendengar, dan hatinya sakit

“Setiap pertemuan pasti akan menghasilkan perpisahan” Gumam Kim Hyena yang sekarang sudah menepuk-nepuk pundak Jongin “lalu bagaimana hasil pemeriksaan-nya tadi?” Lanjutnya penasaran

Jongin berbalik, ia mendapati tatapan ingin tahu dari seluruh anggota keluarganya, dikeluarkannya sebuah kertas dari balik saku mantelnya dan ia berikan pada Kim Hyena

“Umurnya masih 20 tahun, kedua orang tua-nya sudah meninggal, berkali-kali diperkosa dan di siksa oleh seorang rentenir bernama Choi Dong Hwa..”

“Tunggu!” Hyena tiba-tiba menghentikan perkataan Jongin

“Kenapa?”

Ia segera berlari ke dalam rumah dan kembali sambil membawa kunci mobil “Jika kedua orang tua Heera sudah meninggal tiga tahun yang lalu, maka otomatis kita di tipu oleh dua orang tadi” Ujar Hyena sambil memberikan kunci tersebut pada Jongin “Kejar dia!”

Mata Jongin terbelalak, ia sudah menduga bahwa ada hal yang tidak wajar di sini, ternyata benar, kedua orang tadi adalah penipu dan kemungkinan besar adalah suruhan dari Choi Dong Hwa

“Bajingan itu! Awas kau!”

Dengan perasaan marah yang amat bergejolak, Jongin masuk ke dalam mobilnya. Namun tiba-tiba Yixing duduk di sampingnya dan mengenakan sabuk “Aku tidak akan membiarkanmu menghadapi orang itu sendiri, kita selamatkan Heera bersama-sama” Ujar Yixing

Jongin mengangguk, ia buru-buru menyalakan mesin sebelum mereka kehilangan jejak dan sebelum Heera berakhir dalam berita koran dengan judul ‘Seorang Gadis Meninggal Mengenaskan Karena Disiksa oleh Seorang Rentenir’ Jongin tidak akan membiarkan hal itu terjadi

Mereka mengitari daerah-daerah yang mungkin saja akan dilalui oleh rombongan Heera barusan, namun nihil—Tidak ada sedikitpun tanda bahwa mereka ada di sana

Tiba-tiba saja Yixing berseru, ia menyuruh Jongin untuk masuk ke sebuah gang kecil yang tidak bisa di masuki oleh mobil, ia baru saja melihat bayangan Heera dan seseorang di sana

Mereka dengan segera berlari ke arah sana, mencari tahu dimana Heera berada sebelum semuanya terlambat. Dan ketika tiba di sebuah rumah kecil, suara teriakkan seorang perempuan yang sedang kesakitan dan suara cambuk bersatu, ia yakin betul bahwa itu adalah suara Heera

Tanpa pikir panjang Jongin segera berlari ke dalam dan memcahkan kaca jendela dengan batu yang tak sengaja ia dapatkan, sedangkan Yixing masih sibuk menghubungi istrinya agar kesana sambil membawa polisi

Melihat perlakuan Jongin, seorang pria yang berada di dalam sana marah. Ya, sekarang Jongin bisa melihat seperti apa bentuk dari si bajingan Choi Dong Hwa itu, tangan kanannya memegang cambuk, sementara Heera sudah terjatuh di lantai karena menahan kesakitan.

Jongin bisa melihat darah segar yang mengalir dari lengan Heera, ia bisa melihat raut wajah kesakitan Heera yang begitu mendalam dan ia akan segera membalas perbuatan Choi Dong Hwa

Jongin yang tak bisa lagi menahan amarahnya segera berlari ke arah Choi Dong Hwa, dua orang bodyguard berusaha untuk menahannya namun sayang rasa marah yang berada dalam hati Jongin lebih besar sehingga kedua bodyguard tersebut hanya bisa gigit jari merasakan pukulan dari lengan Jongin

Ia meringkuk Choi Dong Hwa dan memukul, menendang, bahkan melemparkan tubuh pria itu pada sebuah bangku di pojok ruangan sampai bangku tersebut hancur berkeping-keping. Tubuh Choi Dong Hwa mengeluarkan banyak darah dan ia tidak perduli, bahkan saat ini ia sangat ini membunuh Choi Dong Hwa

Ia berjalan ke arah Choi Dong Hwa dan menginjak perut pria itu dengan kaki kanannya

“Bajingan kau Choi Dong Hwa, aku akan mengirimu ke neraka saat ini juga”

Jongin hampir saja melayangkan sebuah pukulan yang keras di muka Choi Dong Hwa, namun sudah di tahan terlebih dahulu oleh Yixing. Ia menarik Jongin menjauh dan menyuruhnya untuk segera membawa Heera ke Rumah Sakit meningat polisi yang kini telah datang bersama dengan Hyena dan Kim Ina

“Pergilah, bawa dia ke Rumah Sakit!” Perintah Yixing

Jongin masih enggan, ia ingin membunuh Choi Dong Hwa, namun tiba-tiba saja pikiran akan keadaan Heera terselip dalam pikirannya. Ia segera menghampiri Heera yang terkulai lemas di lantai dan membawanya masuk ke mobil kemudian secepat mungkin membawanya ke Rumah Sakit

 

*****

 

Dia masih terdiam—Tangannya menengadah dan mulutnya berdoa, ini adalah hal langka. Pertama kali dalam hidupnya, ia mendoakan orang yang baru saja dikenalnya. Ia memang tidak berharap banyak, hanya cukup berharap bahwa orang yang sedang berada di dalam ruang ICU itu baik-baik saja dan semua akan kembali seperti semula

Bahkan ia sampai lupa pada lengannya yang terluka, tubuhnya terasa lumpuh. Balutan kemeja hitam yang menempel pada tubuhnya seolah-olah tidak terasa karena tubuhnya yang mulai mengeluarkan keringat dingin—Dan untuk pertama kalinya, ia merasa tidak ingin kehilangan

Begitu pintu ruang ICU terbuka, Jongin lantas bangkit dan menghampiri dokter yang sedang melepas masker-nya “Apa terjadi sesuatu yang buruk?”

“Untung saja anda cepat membawanya kemari, jika tidak maka ia akan mengalami gegar otak, memang ada beberapa luka kecil di tubuhnya dan bekas luka cambukkan” Aku Dokter “Oh ya, ada bekas luka bakar juga di bagian punggungnya, tapi sudah mulai membaik dan ia butuh istirahat, mungkin ia akan mengalami trauma karena kejadian ini”

Jongin mengangguk-anggukkan kepalanya “Lalu apa yang bisa saya lakukan?”

“Jangan membuatnya takut, ia membutuhkan perlindungan, kalau begitu saya permisi dulu”

Begitu sang dokter menghilang, Jongin segera masuk ke ruang ICU dan melihat suster sedang mengatur infus, namun sepertinya sang suster segera menyadari kehadiran Jongin. Ia segera berbenah dan pergi meninggalkan mereka berdua.

“Hai”

Jongin duduk di kursi yang berada di samping ranjang Heera, matanya menatap saluran infus yang mengalir ke tangan Heera

“Ternyata melihatmu tergeletak seperti ini memang lebih buruk daripada saat kau tidak berbicara sama sekali, Shin Heera” Ia membelai rambut Heera “Cepatlah bangun, oh ya, aku akan pergi untuk membayar biaya administrasi terlebih dahulu”

Ia baru saja akan berbalik, namun seseorang menarik tangannya, ia telah sadar

“Heera?”

Jongin mengembangkan senyumnya yang paling manis, ia memegang tangan Heera yang sedang mencengkeram lengannya. Sedangkan di sisi lain, Heera masih menatap Jongin parau. Pandangan kedua mata mereka bertemu, mengatakan betapa pentingnya satu-sama lain untuk selalu bersama, ini memang aneh namun Jongin dan Heera merasakannya. Ini diluar kemampuan mereka dalam mengendalikan diri

Jongin masih terpaku, ia terus memandang manik mata Heera sedalam mungkin dan tiba-tiba saja teralih pada bibir merah muda perempuan di depannya itu—Ia merasa tidak akan mendapatkan waktu yang tepat, ia harus memulainya sebelum semuanya terlambat

Jongin menunduk, membiarkan wajahnya tepat berada beberapa centi dari wajah Heera, masih saling berpandangan satu sama lain dan perlahan menutup kedua mata-nya. Sepelan mungkin dan sehalus mungkin semua terjadi, berharap apa yang dilakukan oleh Jongin tidak menyakiti Heera

Jongin masih mendorong kepalanya, dan samar-sama bibir mereka mulai menyatu, dan disitulah Jongin tersadar betapa rapuhnya wanita ini. Bibirnya dingin, jantungnya berdetak kencang, namun tubuhnya masih berusaha untuk tetap tenang

Ia ingin mencoba selangkah lebih dalam lagi, membiarkan lidahnya untuk menjilat bibir wanita itu dengan lembut, merasakan setiap sensasi dingin yang terasa begitu dalam dari Heera. Hanya itu saja dan Jongin melepaskan ciumannya

Dengan berakhirnya ciuman tersebut, ada satu hal yang baru saja Jongin sadari dalam hidupnya—Bahwa tidak perduli berapa lama kau mengenal seseorang, jika hati sudah bicara maka bersiaplah untuk merasakan apa itu cinta

Tiba-tiba saja Heera terduduk dan memberontak, ia mulai tertawa dan melepaskan infuss yang ada di tangannya. Kakinya yang semula berada di atas ranjang kini sudah menggantung dan bersiap untuk turun. Jongin tak mengerti apa yang terjadi, ia masih diam dan mengamati kelakuan Heera, hingga gadis itu turun dan terjatuh dari ranjangnya, ia belum cukup kuat untuk berdiri, namun ia sama sekali tidak merasa kesakitan, ia masih terus tertawa

Ini aneh, pasti ada yang tidak beres—Jongin segera memanggil tim medis dan membiarkan sang dokter memberikan obat penenang, ada sesuatu yang terjadi pada Heera dan ini pasti bukanlah hal spele

“Tuan Kim, kita harus membawanya ke Rumah Sakit Jiwa” Gumam sang dokter begitu selesai memberikan obat penenang pada Heera

Rumah Sakit Jiwa….

Itu berarti ciuman tadi…

Hanya sia-sia….

 

*****

 

14 Januari 2014

 

Sudah sebulan sejak Heera berada di Rumah Sakit Jiwa—Dan sepertinya Jongin mulai merasa rindu pada gadis itu, semenjak hari itu ia belum melihat keadaan Heera sama sekali, bukannya apa, tapi ia merasa tidak sanggup untuk menerima kenyataan yang mungkin saja lebih menyakitkan dari apa yang ia bayangkan

Masih pukul 3 sore dan ia berniat untuk menjenguk Heera sebelum hadir dalam pesta ulang tahunnya yang ke-21 dalam usia Korea

“Pasien dengan nama Shin Heera, akan saya tunjukkan dimana tempatnya” Ujar suster dalam Rumah Sakit Jiwa tersebut, ia berjalan mendahului Jongin dan sepertinya mengarah ke halaman Rumah Sakit

“Itu dia” Suster tersebut menunjuk seorang gadis yang sedang duduk di bangku taman, ia menggunakan baju bewarna biru muda dan tampak dingin

Jongin bergegas berjalan ke arah Heera, perlahan duduk di samping gadis itu dan mengamatinya dengan seksama—Tidak ada yang berbeda, ia masih cantik seperti biasanya

“Hai Shin Heera…”

Sebuah kalimat yang biasa diucapkan oleh Jongin, selalu seperti itu

“Sudah lama tidak bertemu bukan?” Ia melanjutkan perkataannya dengan nada yang sedikit tegas, namun Heera tidak merespon, gadis itu masih sibuk dengan pikirannya dan juga memainkan jari-jari tangannya

Perlahan Jongin memberanikan diri untuk membelai rambut Heera dengan lembut dan disaat itulah Heera menengok, ia menatap Jongin namun tetap dalam pandangan dinginnya, ia tidak bergeming

“Maaf jika aku terlalu lancang” Ia menarik kembali tangannya dan duduk menghadap ke depan “Pertemuan kita membuatku menyadari sesuatu, mungkin bukan hal penting bagimu, tapi ini adalah salah satu hal yang hebat dalam hidupku”

Masih tidak ada respon

“Dan sekarang, aku bahkan tidak tahu bagaimana bisa aku berada di sini, duduk bersamamu lagi dan bisa memandang wajahmu seperti dahulu, rasanya kita kembali seperti orang asing” Ia berhenti sebentar dan menarik napas panjang “Aku..merindukanmu, Shin Heera..”

Heera mendengarnya

Gadis itu kembali menengok, pandangannya seolah tak percaya akan apa yang baru saja ia dengar, ia tidak tahu pasti namun tiba-tiba kedua lengan Jongin sudah menariknya dalam pelukkan yang dalam dan seketika semua berubah menjadi indah

Sebuah pelukkan hangat yang membuat jiwanya seperti segar kembali, ia memang tidak menyadari apakah yang selama ini telah ia lewati, namun jauh di dalam hatinya yang terdalam, Heera merasa nyaman

“Aku merindukanmu Shin Heera, merindukanmu, kembalilah padaku”

Ia bisa mendengar suara Jongin yang terisak dalam pundaknya, ia bahkan bisa merasakan setiap tetesan air mata Jongin yang jatuh, ia bisa merasakan betapa eratnya pelukkan pria itu.

“Aku.. mencintaimu”

Kalimat itu…

Kalimat itu terselip dalam isakkan Jongin yang semakin menjadi-jadi, ia seperti sedang menumpahkan segala keluh kesahnya saat ini, mencoba jujur pada diri sendiri dan membiarkan dirinya hanyut dalam peluapan rasa rindunya pada Shin Heera

Ia tidak perduli lagi pada kata orang, yang ia tahu sekarang adalah ia telah jatuh cinta pada Shin Heera tanpa perduli bahwa gadis ini mengalami gangguan jiwa dan kemungkinan untuk kembali seperti semula hanya kecil, ia tidak perduli lagi seberapa lama harus menunggu dan apapun yang terjadi inilah kenyataannya. Sebuah perasaan suci yang muncul begitu saja dalam hatinya, seberapa kuat ia mencoba untuk mengelak namun tetap saja ada

Tiba-tiba saja Jongin merasa Heera mendorongnya, gadis itu menangis dengan keras seperti anak kecil yang marah pada ibu-nya, ia kembali pada sifat kekanakkannya, berdiri sambil terus menghentakkan kaki dan marah ke sana – ke sini tak jelas sambil menjambak rambutnya untuk menyakiti diri

Jongin mencoba menghentikan kelakuan Heera tersebut, namun ia tidak berhasil, Heera malah melemparnya dengan batu yang membuat kepalanya sedikit berdarah. Tiba-tiba saja suster datang dan menarik Heera masuk ke dalam Rumah Sakit, membawanya ke dalam kamar dan mem-borgol kedua tangan juga kaki-nya karena terus saja memberontak

Sedangkan Jongin? Ia hanya bisa melihat dibalik kaca pintu, melihat Heera yang menderita karena suntikkan yang masuk ke tubuhnya agar ia tenang, ia tidak pernah berpikir bahwa Heera akan merespon seperti itu

Sekarang bagaimana lagi, jika memang ia harus menunggu, maka ia akan menunggu. Walaupun tidak tahu kapan Heera akan sembuh dan tidak tahu apakah hal itu akan terjadi, Jongin akan berusaha menunggu untuk memeluk cinta dari orang asing yang berhasil merebut hatinya

 

THE END

 

16 tanggapan untuk “(Back To December;Kai Version) Stranger”

  1. kejam amat kehidupan Heera, udah hamil 3x disuruh digugurin pula sama itu orang –” disiksa, orang tua nya meninggal dan ninggalin utang, err menyeramkan.
    dan akhirnya dia jadi gila -_- aku sempet mikir yang orang 2 itu dateng, kan orang tua Heera udah meninggal, kok ada lagi? pasti itu ditipu. Eh ternyata bener dan akhirnya Heera di siksa lagi .
    Sempet mikir si Heera bakalan di bunuh sama itu orang, ternyata di siksa dan menjadi gila -_-
    Kasian juga Jongin, ciumannya sia-sia, dan pas di RSJ di timpuk pake batu’-‘ kwkw..

    daebakkkk lah pokoknya<3

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s