Accident Kiss (Chapter 1)

accident-kiss11

 

Tittle : Accident Kiss (Chapter 1)

Author : WhitePingu95

Genre : Hurt/Comfort, Romance, College Life

Rating : PG

Length : Chaptered

Main Cast : Xi Luhan (EXO-M), Kim Hanni (OC), Oh Sehun (EXO-K)

Support Cast : (Find it in this story)

Disclaimer : FF ini aku sendiri yang buat. Bener2 aku sendiri yang buat. Dan murni dari ke liaran otakku. Bukan plagiat! Jadi, jangan plagiat ya. Dan juga udah aku post di wp http://authorkg.wordpress.com/. Aku juga selalu update di sana. Jadi kalo di sini masih lama, bisa liat di AKG. ^^

**************START**************

 

*Hanni’s POV*

Annyeong, aku Kim Hanni. Seseorang gadis biasa yang tak cantik pada luarnya. Kebiasaan setiap hariku adalah pergi ke kampus dan bertemu teman-temanku. Belajar dengan giat untuk meraih secercah impian. Hanya ada keluarga dan sahabat di sekelilingku, hanya mereka.

Hingga suatu hari aku mengenalnya. Seseorang yang mulanya asing bagiku, namun juga dengan cepat merasuki kehidupanku. Kedatangannya membawa sesuatu yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Sesuatu yang sering membuat pikiranku dan hatiku berbeda pendapat.

Ketika melihat senyumannya, dapat kurasakan bahagiaku menjadi berlipat-lipat ganda. Saat melihatnya menangis, mampu membawa gundukan batu besar layaknya hujan batu di daerah pegunungan yang siap menghantamku. Dia yang membuatku mengetahui satu rasa yang semua insan pasti memilikinya–Cinta.

Luhan sunbae. Satu nama yang ketika aku menyebutnya, perasaanku menjadi lebih baik. Bertemu dengannya, jantungku dapat berdebar lebih kencang dari biasanya. Menatap matanya bagaikan merasakan kehangatan pancaran sinar matahari di daerah tropis.

Namun ada satu yang kulupa. Aku hanya dapat memperhatikannya dari kejauhan. Itu semua karena aku yang hanya merasakan perasaan itu. Cinta yang sepihak, itulah perasaanku sekarang.

“Kyaaaa! Bukankah itu Xi Luhan?”

“Ah sungguh tampan jika dari dekat!”

“Luhan Oppaa, saranghae!”

“Luhaan, lamar akuu!”

Berbagai teriakan memuja yang sangat histeris dari para mahasiswi membuat kehebohan tersendiri di kampus. Luhan sunbae memang terkenal di sini. Tak hanya karena tampan, tapi juga baik hati dan pintar. Ya Tuhan, besar sekali kuasaMu hingga menciptakan seorang laki-laki yang sempurna seperti Luhan sunbae.

Terkadang aku merasa iri pada mahasiswi yang dekat dengan Luhan sunbae. Aku juga ingin dekat dengannya seperti mahasiswi-mahasiswi itu. Bisakah aku mendekatinya? Bertemu pandangpun tak pernah, bagaimana mendekatinya? Aish, apa yang kau pikirkan Hanni-ya? Sungguh bodoh!

 

“Hanni-ya!!”

Sontak kuputar posisiku ke belakang saat seseorang bersuara cempreng memanggil-manggil namaku.

“Ada apa, Youngie-ah?” timpalku lesu.

“Seharusnya aku yang bertanya, kau ini ada apa? Sedari tadi kulihat dari jauh, kau asyik dengan pikiranmu. Ayo ceritakan padaku..” ucapnya sambil memberikan sebungkus roti untukku. Aku memilih bungkam dan menerima bungkusan roti itu dengan setenang-tenangnya.

“Apa karena Luhan sunbae?”

Deg! Mengapa dia bisa tahu apa yang aku pikirkan? Apa sekarang dia sudah berganti profesi menjadi cenayang?

Wae? Aku benar bukan? Dan jangan menganggap bahwa aku berganti profesi menjadi cenayang.”

Nah! Sekarang dia bisa membaca pikiranku. Kalau bukan cenayang siapa lagi? Tak ada orang yang bisa membaca pikiran orang lain selain cenayang! Kedua mataku memicing dan melirik pada sosok yang bertubuh tinggi yang sudah duduk di sampingku itu.

“Kita sahabat dekat. Aku tahu semua, aku dapat merasakan apa yang kau rasakan. Oh ayolaahh, ceritakan kepadaku. Aku penasaran, Hanni-ya..” rengeknya.

“Kau sudah tau, Youngie-ah.. Apa lagi yang harus aku ceritakan padamu?”

 

 

“Oh? Hanni-ya! Lihatlah!”

“Lihat apa?”

“Ituu..”

Ommo! Hatiku bergetar hebat saat bola mataku memandang ke arah yang ditunjukkan oleh Sung Young. Menangkap sesosok orang yang selama ini menjadi bayang-bayang dalam pikiranku. Luhan sunbae? Benarkah dia Luhan sunbae? Lantas, mengapa dia memasuki ruang mata kuliahku? Setahuku dia mahasiswa semester 5, mengapa sekarang dia ada di mata kuliah semester 2?

Annyeonghaseyo, yeorobundeul. Aku asisten dari Kim Seonsaengnim, ada tugas untuk kalian. Jika sudah selesai, harap dikumpulkan kembali padaku ne. Lebih cepat lebih baik. Annyeong.”

Aahh, ternyata dia asisten dosen? Sungguh pria idaman, bahkan sangat. Tak sedikitpun terbesit rasa kecewa karena aku telah mencintainya, dia begitu sangat amat perfect!! Sepertinya kegilaanku menjadi bertambah karenanya.

Dan jika aku cepat menyelesaikan tugas ini, itu artinya aku dapat bertemu dengannya secara langsung. Menatap matanya yang hangat, melihat senyumnya yang mendamaikan hati. Aku harus cepat menyelesaikan ini semua! Harus! Fighting!

“Hanni-ya, tumben sekali kau seperti ini? Diberi tugas, langsung bersemangat mengerjakannya. Ada yang merasukimu ya?”

Pertanyaan dari sahabatku yang satu ini sengaja kuhiraukan. Aku harus tetap fokus agar tugas ini selesai dengan cepat. Selesai cepat, cepat pula bertemu dengan Luhan sunbae. Yeah! Fighting, Hanni-ya!!

 

***

 

“SELESAI!!” teriakku senang sembari mengangkat kedua tanganku tinggi-tinggi. Tak kusadari semua pasang mata di ruangan ini menatapku keheranan. Merasa tak nyaman akan hal itu, aku kembali duduk dan terdiam sesaat.

“Kau benar-benar menyelesaikannya?” bisik Sung Young mendekat.

“Tentu saja. Kau sudah belum? Kalau belum, kau boleh melihat semua jawabanku. Asal temani aku mengumpulkannya ke Luhan sunbae.”

Sung Young hanya menggelengkan kepalanya tak percaya, “Tenang saja, aku hampir menyelesaikannya. Tunggu 2 menit lagi ne.”

Jangankan Sung Young, aku pun sangat keheranan akan kecepatanku mengerjakan soal-soal dari Kim Seonsaengnim. Padahal biasanya aku sangat malas, bukan hanya karena soal-soal ini tapi juga karena faktor Kim Seonsaengnim. Baiklah itu bukan jadi masalah, sekarang ini aku harus mempersiapkan mental diri untuk bertemu dengan Luhan sunbae.

“Hanni-ya! Aku sudah selesai! Kajja!”

Ommo! Cepat sekali? Sudahkah 2 menit? Aigoo aigoo, tangan dan kakiku mulai gemetaran. Tangan Sung Young meraihku dalam genggamannya. Menarikku berdiri dan kemudian kami berjalan mencari di mana asisten Kim Seonsaengnim itu berada.

Luhan sunbae, aku dataanngg..

 

***

 

Sung Young dan aku sudah berkeliling ke semua ruang mata kuliah semester 5, tapi nihil. Luhan sunbae tidak ada. Mencoba mencari di kantin kampus, tetap tidak kutemukan sosoknya. Kemana dia pergi? Apa dia sudah pulang?

 

“Ah benar! Lapangan futsal! Kenapa kita tidak ke sana, Youngie-ah? Mungkin Luhan sunbae ada di sana?”

“Opini yang bagus, Hanni-ya! Kajja kita ke sana!”

Insting itu baru saja menghampiriku secara dadakan. Entah mengapa hatiku juga ingin menuju ke sana. Dan butuh beberapa menit untuk dapat menjangkau lapangan futsal kampus kami.

“Kyaa! Luhan Oppaa, fighting!!”

“Luhan, berikan satu bola masuk ke dalam gawang!”

“Kau pasti bisa Luhan!”

Samar-samar aku mendengar bermacam-macam teriakan semangat para mahasiswi dari kejauhan. Dan benar saja, Luhan sunbae sedang bertanding futsal di sana. Baiklah, aku dan Sung Young akan menunggunya sampai pertandingan ini berakhir.

“Wah, instingmu kuat sekali Hanni-ya? Bagaimana caranya kau tahu jika Luhan sunbae di sini?”

“Aku hanya mengikuti kata hati.”

Jinjja? Wah daebak, sebegitu besarnyakah rasa yang kau berikan padanya? Sampai-sampai kau tahu keberadaannya?”

Molla. Aku juga tidak yakin.”

“Jangan mengharap lebih padanya, Hanni-ya. Semakin besar rasa cinta itu, semakin besar pula rasa sakit yang akan kau terima nantinya.”

Arra..”

Kata Sung Young memang benar adanya. Tapi tak dapat kupungkiri, beberapa kali hatiku tersakiti olehnya, justru hatiku selalu mudah untuk memaafkannya. Kukira perasaan ini menjadikanku orang yang sangat bodoh.

 

prriitt prriitt priiiittt~~~

Wasit permainan telah meniupkan peluitnya dengan lantang dan panjang. Itu artinya pertandingan sudah berakhir dengan score 2:1 yang dimenangkan oleh tim Luhan sunbae. Chukkae sunbae..

 

 

“Hanni-ya! Luhan sunbae datang mendekat ke arahmu!”

Aigoo, apa ini nyata? Luhan sunbae mendekat!! Mendekat. Semakin dekat hingga aku dapat melihat keringat yang berjatuhan dari dahinya. Debaran jantungku bertambah kencang seiring dengannya, tanganku mulai dingin, kakiku lemas.

Bruk!!

Aku jatuh tersungkur ke lantai, kakiku semakin lemas hingga tak mampu lagi menopang beban tubuhku sendiri. Kenyataannya Luhan sunbae hanya melewatiku. Ia menghampiri seseorang wanita yang ada di belakangku. Seorang wanita yang berparas cantik, tinggi, seperti Miss Korea. Ia tersenyum hangat pada Luhan sunbae sembari memberikan sebotol air mineral untuk mengurangi dehidrasinya. Kulihat mereka sangat akrab. Bertukar pandang dan tawa satu sama lain.

Apakah dia pacar Luhan sunbae? Oh Tuhan, betapa sakitnya dada kananku sekarang ini. Seakan-akan hatiku ini menolak akan kenyataan yang ada di depan mataku.

“Hanni-ya, gwaenchana?” tanya Sung Young sambil membantuku berdiri. Cukup dengan anggukan satu kali aku menjawab pertanyaannya. Aku kembali menatap wanita yang bersama dengan Luhan sunbae sekarang. “Ah, itu Yoona sunbae. Dia juga mahasiswi semester 5.”

“Kau mengenalnya, Youngie-ah?”

Aniyo. Aku hanya mengetahuinya. Dia juga sering menduduki peringkat pertama di kampus.”

“Dalam hal?”

“Semuanya. Kecerdasannya, kelembutan hatinya, kecantikannya.”

Sungguh pasangan yang serasi. Dibandingkan denganku, aku hanya sebuah bungkus plastik yang suatu saat dengan gampang dibuang tanpa ada gunanya.

Sung Young menawarkanku untuk mengumpulkan tugas itu bersama-sama lagi. Tapi, keadaanku saat ini sangat tidak meyakinkan. Sung Young mengerti, akhirnya hanya ia yang mengumpulkan tugas itu pada Luhan sunbae.

 

 

 

“Tugas itu sudah aku kumpulkan, Hanni-ya. Ayo kuantar kau pulang. Aku khawatir denganmu.” ajak Sung Young. Masih ada berpuluh-puluh meter lagi sebelum kami sampai ke rumah. Aku dan Sung Young sama-sama terdiam. Hanya ada suara bising dari bus yang terdengar.

“Oh ayolah Hanni-ya. Kau tidak boleh murung seperti ini..” rajuknya memecah keheningan diantara kami. “Sudah pernah kukatakan bukan, jangan terlalu mencintai orang itu. Sekarang kau mulai merasakan sakitnya, lebih sakit bukan?”

“Hanni-ya, dengarkan aku! Jangan pernah memikirkan seseorang yang tidak memikirkanmu juga! Lihat di sekelilingmu! Ada keluarga. Dan ada aku, sahabatmu. Mulailah merubah pola pikirmu, Hanni-ya. Aku tak ingin kau berlarut-larut dalam kesedihan seperti ini.”

Aku tahu Sung Young-ah.. Aku tahu, bahkan hal ini sudah aku pikirkan..

 

***

 

“Aku pulaanng..” teriakku dari teras rumah. Namun, tak ada satu jawabanpun dari dalam. Apa mereka pergi? Eomma dan Jongin Oppa, ke mana?

“Sepertinya mereka pergi, Hanni-ya.” ujar Sung Young ragu.

Aku memegang knop pintu depan dan memutarnya, cklek! Hah? Terbuka??

“Jika mereka semua pergi, mengapa pintu depan bisa dibuka?”

Mataku dan mata Sung Young bertemu pandang. “Jangan-jangaann??”

Aku dan Sung Young sibuk mencari kayu di sekitar teras rumahku. Setelah menemukan kayu balok yang panjang dan tebal, kami masuk ke dalam dengan kaki berjinjit. Aku dapat merasakan seseorang dari dalam itu mendekat ke arahku dan Sung Young.

 

 

“Oh? Kau pulang bersama temanmu, Hanni-ya?”

Tunggu! Suara ini tak asing lagi di telingaku. Diaa.. “J-Jongin Oppa?? Kau membuatku takut!! Kukira rumah ini kemasukan pencuri.”

“Pencuri? Wae?”

“Ke mana saja kau, huh? Aku berteriak ‘Aku pulang’ dari teras rumah, tapi kau tak menjawabnya. Kukira kau dan Eomma pergi. Saat kucoba memutar knop pintu itu, eh terbuka. Pikiranku sudah ke mana-mana tadi.”

“Hehehe mianhae. Aku tadi mengurus anak-anak di belakang. Ja, ajaklah temanmu duduk. Aku akan membuatkan minuman untuk kalian.”

Jongin Oppa beranjak dari sana dan menuju arah dapur. Aku masih mengontrol napasku yang sedikit terburu-buru karena mengira bahwa Jongin Oppa adalah pencuri. Jika saja hal itu benar maka habislah di tempat.

 

Mwoya? Anak-anak?” tanya Sung Young berbisik padaku.

“Ah maksudnya anjing kami. Monggu, Janggu dan Jangah. Ada apa?”

“A~ begitu. Tidak ada apa-apa Hanni-ya. Tapi, apa dia Oppa kandungmu?”

Karena pertanyaannya barusan, mataku melotot kesal. Bagaimana tidak, dia bertanya seperti itu seolah-olah dia tak percaya bahwa aku adiknya Jongin Oppa. “Tentu saja kami saudara kandung, Youngie-ah. Wae? Kau terpesona padanya?”

“A-ani. Hanya saja, dia tampan.” ucapnya malu-malu.

Ya Tuhan, sudah berapa kali teman-temanku dari SD hingga Universitas kemari ketika melihat Jongin Oppa mereka selalu berkata ‘Dia tampan’?

5 kali? Kurasa lebih.

10 kali? Kurasa tak mungkin.

11 kali? Tidak! Tidak sedikit itu.

100 kali? Mungkin saja.

Oh ayolah, apa aku harus menjadi penengah antara Jongin Oppa dengan Sung Young? Aku paling malas dengan soal jodoh menjodohkan. Lebih malas dari mengerjakan soal Kim Seonsaengnim!

“Hanni-ya, kenalkan aku pada Oppamu ne? Jebaall..” pintanya.

Nah lihatkan? Aku tahu pembicaraan ini akan mengarah ke mana. Karena tak tega melihat Sung Young merengek seperti bayi, aku mengiyakan permintaannya. Tanpa beban. Sung Young tersenyum girang.

 

 

“Eoh? Hanni-ya, aku rasa bukuku ada yang tertinggal di kampus. Kau mau temani aku mengambilnya kan?”

MWO??”

“Ayolaahh, Hanni-ya.”

“Heish, arra arra. OPPAA, AKU PERGI DULU NE..”

“Lantas minuman ini bagaimana? Padahal sudah kubuatkan.” samar-samar kudengar gerutuannya.

 

***

 

Sebenarnya buku apa yang ditinggalkan Sung Young, sampai-sampai dia rela bolak-balik ke kampus? Diambil besok-besoknya kan juga bisa. Lagi pula tak kan ada yang mengambilnya bukan? Kecuali petugas kebersihan itu memang suka mengambil barang milik orang.

Begitu sampai di depan gerbang, kami berdua berjalan cepat menuju gedung fakultas kami.

“Youngie-ah, buku apa yang kau tinggalkan?”

“Nanti kau akan tahu sendiri, Hanni-ya.”

“Apa itu penting?”

“Bagiku, sangat-amat-penting. Sudah, kita harus cepat. Kajja!”

 

*Author’s POV*

Sung Young sibuk mencari di setiap laci yang ada. Sedangkan Hanni hanya duduk diam tak membantu.

Eotteohke.. Aku tak menemukannya.. Huuaa..” rengek Sung Young putus asa.

“Coba kau ingat-ingat lagi.” ujar Hanni ringan. Hanni mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan dari tempat duduknya.

 

 

“Astaga! Youngie-ah, kau mencari buku berwarna biru muda bukan?” dengan cepat Sung Young mengangguk berkali-kali. “Itu ada di bangku pojokan.”

Sung Young langsung berjalan mendekati bangku yang ada di pojok. Dan segera mengambil bukunya. Sepertinya Sung Young sudah mulai menjadi penderita miopi, gumam Hanni dalam hatinya.

Gomawoo, Hanni-ya. Saranghae!”

Sung Young berhambur ke pelukan Hanni dengan agresif. Kemudian mereka beranjak pergi dari sana. Tidak ada rasa takut apapun, Hanni berjalan mundur di depan Sung Young. Sebab kini koridor sangatlah sepi. Hanya satu atau dua orang saja yang berlalu lalang.

 

 

 

“HANNI-YA! AWWAASS!!”

BRUKK!!

CHUP~~~

Hanni jatuh ke dalam pelukan pria yang tidak ia kenal. Terlebih lagi, mereka berciuman! Akankah mereka akan saling mencintai nantinya? Lantas siapa pria misterius ini? Mengapa ia di takdirkan bertemu Hanni dengan cara ciuman kecelakaan ini? Nantikan chapter selanjutnya~~~

 

**************TBC**************

A/N : Sebelumnya aku ucapkan terimakasih dulu buat para admin yang mau ngepublish FF abalku ini. Dan terimakasih buat para readers yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca. Jadi, bagaimana? Menarik ngga? Dan kira-kira yang kisseu sama Hanni siapa ya? Ayoo tebak-tebak.. Kekeke~

48 tanggapan untuk “Accident Kiss (Chapter 1)”

  1. Yeah, daebak…
    Aku suka ceritanya!!
    Aku tau pasti itu Luhan.. atau Sehun.. Atau mungkin Member EXO lainnya… Hahaha.
    Next ya, keren ceritanya (y)

  2. oooooo jani hani itu sukanya sama luhan yaa , terus yg di chap 2 kan ada foto tersebar kenapa pas luhan liat kayanya ngambek ya thor ? lalaalalaalala ~ next chap jangan lama ya thor 😀 fighting and keep writing ya

  3. FF author menarik banget dan daebak deh 😉
    Mmm … kayaknya Sehun deh yang kisseu sama Hanni .
    Benar kan, thor ? ^^ hehe

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s