Waiting

waiting

Author : Jung Seomi

Title : Waiting

Main Cast : Kim Jongin – Kim Rey

Length :1034 words

Genre : Sad, Hurt, romance

 

.

Ya, kau memang berdiri di sampingku, kita sering bersama, membagi canda dan tawa. Dalam sebuah ikatan yang di sebut persahabatan. Ya, persahabatan. Sahabat.

Tapi seiring jarum jam terus berputar dan semua rasa sayang kepada sahabat itu semakin berubah. Berubah menjadi sebuah rasa yang berbeda. Dan aku mengakuinya, aku mulai merasakan sesuatu yang berbeda di dekatmu. Jantungku terus memompa darahku dengan cepatnya. Dan bukan aku tidak tahu apa rasa itu, aku tahu, aku menyukaimu.

Bintang di langit adalah yang mampu memahami perasaanku yang kini terkacau. Pantulan sinar dari bulan memberi sedikit cahaya pada langit malam yang begitu gelap. Aku mendesahkan nafasku dan kemudian aku menatap bayangan bulan pada air sungai. Kubayangkan dirimu berada di sampingku, aku melihatmu di dalam air sungai itu sedang berdiri di belakangku, namun ketika aku menghadap belakang, tidak ada siapapun.

Aku membawa tubuhku menjauh dari sungai tersebut. Hingga aku sampai di gedung yang merupakan rumah keduaku, Sekolah. Aku menarik nafas panjang hingga memutuskan memasuki gerbang itu. Kau disana, menatapku dengan senyummu, dan secara otomatis, aku membalas senyuman itu. Aku berlari ke arahmu.

Dan hal itu terasa lagi, debaran di dadaku. Degupan kencang yang tak bisa ku tahan, hanya sekedar melihatmu apalagi berjalan berdampingan denganmu. Semuanya kurasakan. Jutaan perasaan itu menguar begitu saja.

***

Semua orang tahu, seluruhnya, seluruh isi sekolah tahu jika aku menyukaimu. Tapi kau selalu diam, seolah tidak pernah mengetahuinya. Aku tidak pernah tahu, sungguh kau tidak tahu, atau sekedar pura-pura tidak tahu? Oh entahlah, aku juga tidak yakin.

Memahamimu itu sulit ya? Apa kau menungguku? Apa kau menungguku mengatakannya langsung padamu?

Aku menatapmu yang kini berada di sampingku. Entah mengapa, dirimu bagai bintang yang rasanya sangat sulit untuk kuraih, kau terlalu tinggi dan terlalu indah. Kau berada di sini, tepat di sampingku. Kau menatap lurus kedepan, sedangkan aku tertuju padamu. Entah mengapa, rasanya dirimu begitu jauh,

Jika dirimu langit, maka aku bumi. Kau berada begitu jauh di atas sana, dan aku sama sekali tidak memiliki tangga untuk naik keatas, sedangkan dirimu, kau juga tidak berniat turun atau sekedar melirik ku. Padahal disini ada  aku selalu menunggumu.

***

Ketika kedua mata ini bertemu denganmu. Kurasakan gemuruh di dadaku. Ada perasaan yang meluap di dalam sana. Namun aku berusaha menahannya dengan sekuat tenagaku. Aku akan disini, membiarkan semua terjadi

Aku bertanya kepadamu “Aku menyukai seseorang. Tapi dia sama sekali tidak peduli padaku, bahkan dia kelihatannya tidak mau tahu akan hal itu”. Aku menatap lurus objek yang berada di hadapanku. Aku membiarkan angin menghembus membelai rambutku. Kau masih diam, tidak berucap

Hingga aku bisa mendengarkan suaramu mulai menjawab pertanyaanku. Kau menasehatiku untuk menyatakan perasaanku padanya, orang itu. Kau mengatakannya penuh semangat. Kau memotivasiku untuk terus berjuang mengejarnya

Andai kau tahu, orang itu adalah dirimu, Kim Jong In.

Dan karena itu, aku menjadi semakin takut untuk mengatakannya langsung kepadamu.

***

Kita akan segera terpisah, aku tahu itu. Dirimu adalah adik tingkatmu, meski usiamu lebih tua dariku. Setelah aku menyelesaikan sekolahku disini, aku akan meninggalkan kota lain untuk meneruskan pendidikanku.

Aku tahu, waktu ku benar-benar menipis. Tapi aku masih benar-benar takut, aku takut kau tidak memiliki perasaan yang sama denganku.

***

Dia tersenyum padaku, seorang namja lain yang selalu berada disisiku. Entah bagaimana, aku rasa, dia menyukaiku. Namun, semua tahu, aku menyukaimu bukan dia. Dia yang selalu ada untukku. Namun aku tidak bisa membalasnya.

Aku tahu benar perasaan cinta yang tidak terbalas. Aku tahu itu menyakitinya. Namun aku juga tidak bisa melakukannya

Berada di dua pilihan

Mencintai

atau

Dicintai

Mungkin mudah mengatakan, Dicintai. Terdengar lebih nyaman dan bahagia, di banding mencintai namun tidak terbalas. Namun sesungguhnya, keduanya sama saja. Aku tidak akan bahagia untuk sekedar dicintai, sedangkan hatiku berada di pihak lain. Sungguh sulit bukan?

***

Aku memejamkan mataku, mencoba menenangkan pikiranku. Angin yang berhembus mulai menembus kain yang melapisi tubuhku, menyebabkan perasaan dingin yang menggetarkan tubuhku. Akhir-akhir ini memang sering seperti ini. Aku benar-benar merasa sulit dan bingung. Di tambah lagi, hari ini hari terakhir aku berada disini, pada 13 Januari 2014, setelahnya, aku akan meninggalkan tempat ini, jauh. Dan kita akan berpisah.

Aku menghela nafasku berat. Semuanya memang sangat rumit dan menyakitkan juga perih.

***

Aku menatap koper yang kini telah tersiap rapi di ujung kamarku. Aku menatap benda itu penuh kesedihan. Kurasa, aku memang tidak akan pernah mengetahui perasaanmu padaku. Aku juga tidak punya harapan lagi. Aku menatap selembaran kertas undangan menuju pesta ulang tahunmu. Dan aku rasa, aku tidak punya waktu untuk mendatangi pesta itu, maafkan aku, aku pergi di hari ylang tahunmu,

Aku menggeret tas berwarna merah itu keluar dari pintu kamarku, disana, ayah dan ibuku sudah menunggu. Ibu membentangkan tangannya dan aku menghambur kepelukannya, begitupun ayah. Setelah semua itu, aku membawa tasku keluar rumah.

***

Aku menatap seluruh isi bandara ini. Aku rasa, aku akan merindukan tempat ini. Aku mendesah sebelum kembali melangkah masuk lebih dalam. Aku menatap tiket pesawat yang kini tengah aku genggam. Aku meyakinkan diriku dan masuk kedalam sana.

Aku berhenti lagi, aku tersenyum tipis. “Selamat tinggal kotaku, selamat tinggal eomma appa, dan selamat tinggal Kai” ucapku pelan, sangat.

Aku kemudian kembali melanjutkan jalanku. Namun belum jauh, aku dapat mendengar suara seseorang memanggil namaku. Aku membeku, suara itu?!

“Kim Rey!!!!” teriakan keras itu membuatku membalikkan badanku. Aku melihatmu dengan wajah penuh peluh, sebuah baju yang terkesan baju pesta dan nafasmu naik turun. Aku berusaha meyakinkan diriku kau nyata. Kau mendekat kearahku. Dengan nafasmu yang masih saling memburu. Sedangkan aku masih terpaku tidak percaya.

Kau merengkuhku kedalam pelukanmu. Aku bisa mencium aroma tubuhmu untuk pertama kalinya. Aku belum membalasmu. Aku masih terlalu terkejut dengan semua ini.

“Kenapa kau pergi?”

“Melanjutkan sekolahku”

“Kenapa kau tidak datang dulu ke pestaku?”

“Pesawat”

“Apa kau tidak menyukai ku eoh?” tanyamu. Kau melonggarkan pelukanmu. Aku masih berusaha mencerna maksud ucapanmu.

“Maaf membuatmu menunggu selama ini, aku menyukaimu Rey-ah, sangat…” ucapmu. Aku membulatkan mataku tidak percaya. “Kau?”

“A-a-aku… aku juga meny-”

Ketika kalimat itu belum selesai, kau sudah menyatukan kedua bibir kita. Aku akhirnya bisa merasakan sebuah akhir yang bahagia atas penantian lamaku

“Selamat ulang tahun Kai, maaf aku tak memiliki hadiah apapun”

“Kehadiranmu adalah hadiah terindah bagiku”

END

Okey, its for My Beloved Eonni~ I hope you like it 😉

Okey,

Read Comment Like !

11 tanggapan untuk “Waiting”

  1. wah wah… hrus lebih d perjalas gmana jongin suka sama kim rey… he
    makany sekuel yh thor 😀
    bagus kta kta nya nyntuh bgt., smpe k hti ,,

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s