Secret Love

Judul : Secret Love

Author : Seu Liie Strife

Main Cast : Huang Zi Tao (EXO-M)
Xi Seu Chi (OC)
Wu Yifan (EXO-M)

Supporting Cast : Xi Luhan (EXO-M)
Zhu Lien (OC)
Park Gi Na (OC)

Genre : Complicated, Romance

Facebook : Hikari Keyheart Kurosaki

Twitter : SeuLieOctaviani

Instagram: @seu_liie

Pin: 24D7E4E6
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Aku melihatnya, setiap kali aku baru pulang kuliah inilah kegiatanku. Melihatnya latihan wushu di ruang club wushunya. Dimataku dia terlihat sempurna. Gerakannya terlihat lincah saat dia menghunuskan pedang wushunya.

“Ya! Kau yang di sana!” Aku terkesiap melihatnya yang menghunuskan pedangnya ke arahku dan perlahan jalan mendekatiku.

“Aku?” Tanyaku padanya.

“Kau pikir aku sedang bicara dengan pintu di sebelahmu, hah?” Dia kemudian menurunkan pedangnya dari wajahku. Aku hanya sanggup membisu.

“Pulang denganku?” Tanyanya. Aku hanya menggidikkan bahuku.

Huang Zi Tao, dia adalah pria yang dekat denganku. Dia teman dari kakakku, Xi Luhan. Tapi kedekatan kami bukan seperti sepasang kekasih. Ya walau pun aku..hhm..menaruh perasaan dengannya. Dan sayangnya, dia sama sekali tidak menyadarinya.

Ctek! Aku dikagetkan dengan suara jentikan dari jemarinya yang panjang. “Kau baik – baik saja?” Tanyanya.

“Hhm? Tentu saja. Kau pikir aku sakit, eoh? Dasar kungfu panda!” Ya, aku selalu memanggilnya dengan nama hewan besar berwarna hitam-putih itu. Karena kedua matanya sangat mirip dengan mata panda. Hahaha.

“Kau bukannya sakit?” Tanyanya lagi.

“Sakit apa?” Tanyaku balik dengan mengerutkan dahiku heran.

“Sakit jiwa? Atau… Lebih tepatnya..gila? Hahaha..” Kelakarnya yang kemudian menjulurkan lidahnya meledekku.

“Yaakk!! Kungfu panda! Beraninya kau!!” Aku berusaha menginjak kakinya.

“Tidak kena!” Ujarnya usil. Damn! Menyebalkan sekali pria ini!

“Sudahlah, sampai kapan pun kau tidak bisa mengalahkanku, agasshi.” Ujarnya yang kemudian merangkulku.

“Ck, hush hush! Jangan dekat – dekat denganku.” Aku mendorongnya.

“Kau pura – pura saja kan?” Apa yang ia katakan, terdengar ambigu di telingaku. Apa ia sudah mengetahui perasaanku? Atau dia…

“Tidak ada satu wanita pun yang menolakku.” Ucapnya lagi dengan penuh percaya diri.

“Oh ya? Dengan kata lain, kau menyatakan kalau dirimu tampan? Oh tidak! Menurutku, Luhan gege jauh lebih tampan darimu.”

“Rusa kecil itu? Dia tidak bisa menandingiku, Chi..”

“Yaakk!! Kau jauh lebih muda dari gege, dasar tidak sopan!” Cibirku.

“Well, sepertinya kau mulai kesal. Bagaimana kalau kita makan ice cream?” Ajaknya.

“Wo bu you (aku tidak mau)!” Tolakku kesal sambil berjalan meninggalkannya di ruang latihan..

“Chi! Ya, Seu Chi!” Panggilnya. Aku tetap tidak mempedulikan panggilannya yang tanpa sadar, aku sudah menyusuri koridor kampusku dan berada di lobby kampus.

“Chi..” Suara yang tak asing di telingaku pun terdengar.

“Gegeeee~~~” Aku memeluk kakakku, Luhan.

“Wae? Kau seperti habis melarikan diri dari sesuatu? Anni, seseorang…” Ujarnya yang kemudian meralatnya.

“Hng?” Aku kehilangan kata – kataku.

“Seu Chi, kenapa kau meninggalkanku? Katanya mau pulang bersama..” Astagaaa!! Kalau seperti ini, pasti Luhan ge memperbolehkanku pulang dengannya.

“Tao? Jadi…okay, wait.. Jadi kau melarikan diri darinya, Chi?” Tanya Luhan ge padaku.

“Uhmm..” Aku berdiri di balik tubuh kakakku.

“Hhhh~~ Padahal aku kesini dari kantor untuk menjemputmu, Chi.. Tapi kau pulang dengannya..”

“Kalau begitu aku pulang dengan gege saja!” Jawabku semangat.

“Tidak bisa dong. Kau kan sudah pulang dengan Tao. Kalau begitu, aku pulang dulu ya..” Pamit Luhan ge.

“Tapi..”

“Oh ya, Tao. Kau harus mengantarkan adikku dengan selamat. Kalau tidak…aku bisa melakukan hal yang diluar dugaanmu.” Ancam gege pada Tao.

“Tenang saja, ge..” Jawab Tao.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Chi, ice cream mu…”

“Hng??” Seu Chi menoleh pada Tao yang memegang cone ice cream cokelat. Tao menunjuk cone ice cream strawberry yang dipegang oleh Seu Chi yang dialiri lelehan ice cream strawberry-nya.

“Huwaaaa!! Meleleh!!” Gadis itu menjilat lelehan ice cream itu dengan cepat.

“Apa yang kau lamunkan, eoh?” Tanya Tao.

“Mei you (tidak ada).” Jawab Seu Chi singkat.

Tiba – tiba saja, pria itu mengusap ibu jarinya ke sudut bibir gadis itu. “Kau ini, masih sama saja seperti waktu SD. Tidak bisa makan ice cream dengan benar.”

“Gomawo.” Ucap Seu Chi yang langsung mengalihkan wajahnya yang bersemu merah.

“Hey, kau rindu tidak?” Tanya Tao tiba – tiba.

“Rindu apa?” Tanya gadis itu balik.

“Saat – saat kita SD di Qingdao.”

“Oohh itu..tidak..aku tidak rindu sama sekali.” Jawab Seu Chi.

“Eoh? Kenapa?” Tanya Tao lagi.

“Aku jadi ingat waktu aku terkurung di gudang sekolah itu. Itu semua kan karena ulah teman – temanmu itu!”

“Tapi, justru aku yang menolongmu kan?” Balas Tao.

“Iya sihh… Eh, tapi.. Kau rindu saat – saat itu kah?” Tanya Seu Chi dengan dahi yang berkerut.

“Bukan! Bukan itu maksudku..aku rindu lingkungannya…”

“Ah! Apa jangan – jangan kau rindu dengan Lien?”

“Lien? Ah! Kau benar juga… Aku rindu cinta pertamaku itu…” Tanpa Tao sadari, ia telah membuat hati dari gadis yang duduk di sampingnya terluka.

Seu Chi melirik jam tangan yang ia kenakan di tangan kirinya. “Tao, hari sudah tua, antarkan aku pulaaaanngg~~~”

“Waah, tidak terasa ya, apa kita sudah lama berada di sini?” Seu Chi hanya menggidikkan bahunya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Eomma… Seandainya saja kau masih hidup….” Seu Chi memeluk bingkai foto dirinya dengan seorang wanita paruh baya yang tengah memeluknya sambil mengeluarkan air matanya.

“Eomma, dulu kata eomma jatuh cinta itu menyenangkan kan? Tapi, kenapa yang kurasakan justru sebaliknya? Hatiku terasa sakit sekali, eomma… Aku ingin sebuah pelukan dari eomma…” Batin gadis yang berketurunan China-Korea tersebut.

Tok! Tok! Tok!

“Chi…gege boleh masuk?” Suara lembut itu menyapanya dari luar pintu kamarnya. Dengan segera, gadis itu menghapus air matanya.

“Ne, gege… Masuk saja…”

“Kau belum makan malam, jadi aku mengantarkannya ke sini. Jangan membuatku dan appa khawatir denganmu, Chi..” Pria itu kemudian meletakkan nampan yang berisi sepiring makan malam, air mineral, dan segelas susu cokelat hangat di atas nakas dekat tempat tidur gadis itu.

“Kau rindu eomma ya?” Pria itu menduduki tempat di tepi ranjang adiknya yang tengah duduk sambil memeluk bingkai foto. Tanpa melihatnya, Luhan tahu kalau itu adalah foto adiknya dengan mendiang eommanya.

“Jangan seperti itu, Chi.. Kau membuat eomma tidak tenang di alam sana..”

“Aku rindu pelukan eomma yang selalu menemaniku…” Keluh Seu Chi.

“Aku tahu. Aku juga rindu itu. Tapi, yang kita lakukan sekarang ini di dunia adalah berdoa untuk eomma, dan lakukan hal yang terbaik. Itu akan membuat eomma senang di sana.” Gadis itu hanya menunduk sambil memeluk bingkai foto itu. Rambutnya yang hitam panjang dibiarkannya tergerai di sampingnya.

“Cha! Kau lebih baik makan dulu. Ayolah..” Luhan mengambil piring yang berisikan masakan lezat itu. Ia menyelipkan rambut yang menutupi wajah adiknya di belakang telinganya.

“Ayo, Chi…”

“Taruh saja.. Aku tidak nafsu makan.” Ujar Seu Chi.

“Ada apa denganmu, Chi?” Luhan kembali meletakkan piring itu di tempat semula.

“Wo bu zi dao (aku tidak tahu).” Jawab Seu Chi.

“Sejak kau pulang kuliah, kau terlihat murung. Tao tidak mengatakan hal buruk kan?” Tanya Luhan. Bukannya menjelaskan, Seu Chi justru menangis karena Luhan baru saja menyebutkan nama yang tidak ingin didengarnya.

“Hey, hey, hey.. Weishenme (kenapa)?” Luhan menghadapkan tubuh adiknya padanya. Seu Chi hanya menunduk menangis di hadapan kakaknya.

“Uljimma..” Dengan sabar, Luhan menarik Seu Chi ke dalam pelukannya dan berusaha meredam tangisnya. Sesekali ia menepuk pelan punggung adiknya agar berhenti menangis. Tangannya pun tidak berhenti mengusap kepala adiknya dengan rasa sayang.

“Yah, kalau seperti ini, aku tidak mengerti Chi.. Kau harus diam dan jelaskan padaku..” Ujar Luhan.

“Gege…hiks..hiks.. Kenapa jatuh cinta itu sakit? Padahal..hiks..hiks.. Kata eomma..jatuh cinta itu menyenangkan..huhuhuhu..” Gadis itu kembali menangis dalam pelukan kakaknya.

“Zhen de ma (benarkah)? Kau jatuh cinta??” Luhan melepaskan adiknya dari pelukannya dan merengkuh wajahnya dengan kedua tangannya. Nampak jelas di pipi gadis itu aliran air matanya.

“Gege..huhuhu.. Appoo~~” Keluh Seu Chi yang menyingkirkan tangan kakaknya.

“Duibuqi (maafkan aku). Dengan siapa kau jatuh cinta, eoh?” Luhan menghapus air mata adiknya dengan ibu jarinya.

“Dengan…dengan…” Luhan hanya menunggu ucapan yang akan keluar dari bibir adiknya.

“Dengan… HZT..”

“HZT??” Tanya Luhan balik.

“Tao, gege…Huang Zi Tao…” Tangis Seu Chi kembali terdengar.

“Chakkaman! Apa kau ditolak?” Tanya Luhan.

“Gege~ Aku bahkan sudah patah hati duluan..huhuhu..”

“Hng? Wae? Aigoo, sudahlah..berhenti menangis..”

“Gege ingat Lien? Tao bilang ia merindukannya. Lien kan cinta pertamanya Tao…”

“Oohh jadi kau menangis karena ini??” Seu Chi hanya diam menanggapi ucapan kakaknya.

“Ya sudah.. Berhentilah menangis. Karena kau semakin jelek, Chi..” Canda Luhan pada adiknya.

“Gege menyebalkan..” Seu Chi mendorong kakaknya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Buka mulutmu.” Entah kapan Luhan gege mengambil makanan itu. Yang jelas kini yang dihadapanku adalah sesendok makan malamku yang disuapinya.

“Aku seperti anak kecil saja..” Aku menggembungkan pipiku menandakan aku tidak suka.

“Kalau tidak seperti ini, kau tidak akan makan kan? Aku disuruh appa untuk memastikan makan malam ini masuk ke perutmu. Cepat buka mulutmu.” Aku pun membuka mulutku, dan gege pun menyuapiku. Namun aku justru mengigit sendok itu hingga saat Luhan gege akan menariknya, tertahan karena gigitanku.

“Chiii~~ Kau ini main – main terus…” Protesnya sambil menghela napas.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Hari terus bergulir. Kini gadis itu sedang menemani pria yang sudah lama menjadi teman masa kecilnya dalam suatu pertandingan. Pertandingan wushu tentunya. Beladiri yang sudah ditekuninya sejak kecil.

“Kau tidak minum dulu?” Tanya Seu Chi pada Tao.

“Baiklah..” Jawabnya. Gadis itu pun segera mengambil botol minuman Tao.

“Aigoo~~ Kalian ini membuat iri kita saja..” Tubuh Tao didorong oleh temannya hingga tidak sengaja menabrak Seu Chi yang ada di depannya.

“Hey! Haish kalian ini! Tidak mungkin Seu Chi jadi kekasihku..”

“Kenapa tidak mungkin? Mungkin saja kok..” Batin Seu Chi.

“Aww~” Tao menutupi telinga kanannya yang berdengung.

“Gwaenchana?” Tanya Seu Chi.

“Ne…” Pria itu berusaha menutupi apa yang ia rasakan.

Pertandingan yang dilakukan selama seharian itu, berhasil dimenangkan oleh Tao dengan memperoleh medali emas.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Chukkaeeeee pandaaa~~” Seruku saat berada di halaman parkir.

“Kau ini… Berhentilah bertingkah seperti itu. Kau membuatku menjadi tontonan umum, tahu!” Ujarnya yang memakai jaketnya sebelum mengendarai ducatti hitam miliknya.

“Ta..Ta..Tao…kau..hidungmu…kau kenapa??” Aku menunjuk hidungnya yang dialiri darah. Sejak kapan ia sering mimisan?

“Eoh? Hidung?” Ia menyapukan tangannya berusaha membersihkan darah yang mengalir dari hidungnya.

“Tao.. Dongakkan kepalamu.” Ucapku dengan nada panik. Ia pun menurutiku.

“Chi, telepon Luhan gege. Beritahu dia untuk menjemputmu.” Ujarnya dengan kepala yang masih menengadah. Aku berusaha mencari handuk bersih untuk diberikan padanya untuk menghentikan pendarahan yang Tao alami.

“Ne..” Aku mengeluarkan ponsel dari dalam tasku. Tapi, sayangnya ponselku mati karena habis baterai.

“Tao, ponselku mati…”

“Ini.. Pakai punyaku.” Ia merogoh saku celananya dan menyerahkan ponselnya padaku.

Aku pun menelpon Luhan gege dengan ponselnya. Kulirik Tao masih menengadahkan kepalanya sambil sesekali ia menghapus darah dengan handuk kecil yang kuberikan padanya. Belum sempat suara Luhan gege terdengar olehku, tiba-tiba…
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
BRUUKK!! Pria dengan tinggi 185 cm itu terjatuh seketika dengan darah yang masih mengalir di hidungnya.

“Ta..Tao!!” Seru Seu Chi yang tanpa sengaja menjatuhkan ponsel milik Tao.

“Tao? Hallo?” Terdengar suara Luhan dari ponsel Tao yang masih terhubung.

“Gege..huhuhu…gege…” Seu Chi menangis sembari sebelah tangannya menopak belakang leher pria yang tidak sadarkan diri itu.

“Chi? Wae??”

“Tao..Tao…”

“Tao kenapa, Chi?”

“Tao pingsan gege… Bagaimana iniii?? Gege..huhuhuhu..” Isak Seu Chi.

“Dengar, Chi.. Kau jangan panik. Segera telepon ambulance. Aku akan kirimkan nomornya padamu. Aku akan segera menyusulmu.” Ujar Luhan.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Gege…” Seu Chi menghambur ke pelukan kakaknya saat dia datang menghampiri gadis yang tengah duduk menangis di ruang tunggu rumah sakit itu.

“Uljimma..”

“Sebenarnya Tao sakit apa, ge?? Sakit apaaa?? Huhuhu” Tangis gadis itu.

“Luhan, Tao dirawat dimana?” Wanita paruh baya yang diketahui sebagai ibu dari pria bermarga Huang itu datang menghampiri kakak-beradik keluarga Xi itu.

“Di dalam..” Ujar Luhan.

“Ta..tapi, dia belum boleh dijenguk karena masih diperiksa dokter di dalam..” Lanjut Seu Chi.

Tak lama seorang dokter pun keluar. “Di sini ada kah keluarganya?” Tanya dokter itu.

“Saya. Saya ibunya.”

“Mari ikut ke ruangan saya..” Wanita paruh baya itu pun mengikuti dokter yang menangani anaknya ke ruangannya.

“Gege…sebenarnya Tao kenapa? Huhuhu…Gege pasti tahu kan Tao kenapa?” Tangis Seu Chi sambil memukul – mukul kakaknya, Luhan.

“Tao…”

“Jawab gege…hiks..hiks.. Jawaab!”

“Tao…menderita kanker faring, di hidungnya…” Ujar Luhan pelan.

“Kanker…faring?” Seu Chi menutup mulutnya dengan kedua tangannya dengan tidak percaya.

“Chi, duibuqi…aku…”

“Cukup! Jadi hanya aku yang tidak diberitahu tentang penyakit Tao?!” Seu Chi mengarahkan tangannya di hadapan Luhan, kakaknya.

“Bukan maksudku untuk tidak memberitahumu..”

“Hentikan! Aku benci denganmu, gege! Kau kakakku, tapi kenapa kau menyembunyikan ini dariku?!” Seu Chi pergi meninggalkan Luhan.

“Chi!” Luhan berusaha mengejar adiknya yang menuju bangku taman rumah sakit itu. Bangku taman yang menghadap air mancur di tengah – tengah taman. Rerumputan hijau yang menjadi alas memberikan kesan asri di taman rumah sakit itu.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Kenapa? Kenapa mereka semua menyembunyikannya dariku? Kenapa hanya aku yang terakhir tahu? Yang bisa kulakukan di sini hanya menangis, menyalahi keadaan. Tuhan, kumohon sembuhkanlah dia…

“Chi…”

“Pergilah ge.. Aku sedang tidak ingin bicara denganmu.” Usirku pada Luhan gege.

“Tao menyembunyikan ini darimu karena… Ia tidak mau melihatmu khawatir dengannya. Dia tidak ingin kau sedih. Dia juga tidak mau melakukan kemoterapi karena akan merontokkan rambutnya. Ia tidak ingin kau tahu tentang penyakitnya, Chi..” Aku bisa merasakan kalau gege kini berdiri tepat di belakangku.

“Chi, apa kau masih mau terus seperti ini? Kau mau terus marah denganku dan Tao?”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Setelah kejadian dua hari yang lalu itu, aku pun memutuskan untuk tidak mempermasalahkannya. Yang ada dipikiranku saat ini adalah bagaimana Tao sadar dari komanya. Ya, karena bagiku Tao sangat penting. Sebegitu inginnya dia menyembunyikan penyakitnya dariku lantaran takut melihatku cemas padahal itu sangat membahayakan jiwanya.

“Tuhan, sadarkanlah ia…” Pintaku. Ini sudah hari kedua Tao koma. Kalau terus seperti ini, bagaimana ia lakukan kemmo?

“C..Chi…” Aku menoleh saat namaku dipanggil. Ya Tuhan, terima kasih Kau telah mengabulkan doaku. Akhirnya Tao sadar!

“Diamlah, jangan banyak bicara..” Aku segera menekan tombol pemanggil perawat.

Tak lama, dokter dan perawat pun berdatangan dan aku diminta keluar ruang rawat itu karena Tao akan diperiksa.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Pasca sadarnya Tao, dokter segera melakukan tindakan kemoterapi untuk Tao. Dan setiap saat pria itu akan melakukan terapinya, Seu Chi menemaninya.

“Hari ini ada jadwal kemo kah?” Tanya Seu Chi pada Tao antusias saat di kampusnya.

“Hng? Annio. Lagi pula, aku yang sakit, kenapa kau yang bersemangat untuk terapi itu?”

“Supaya kau sembuh kan?”

“Hahaha..” Pria itu hanya tertawa sambil memasukkan buku ke dalam tasnya seusai kelas berlangsung.

“Karena kau, aku harus mengenakan topi ini terus.” Ujar Tao menghela napas.

“Tidak apa kan? Asal kau sembuh..” Ujar Seu Chi.

“Aku tidak terlihat tampan lagi di depan Lien.”

“Lien?”

“Ya, Lien.. Ah! Celaka! Aku lupa memberitahumu ya?” Tanya Tao.

“Mwo?” Tanya Seu Chi walau pun dia malas.

“Waktu ada acara reuni kampus mama, aku yang disuruh menemani mama, bertemu dengan Lien dan ibunya.”

“Jinja?” Tanya Seu Chi datar.

“Ne.. Dan kau tahu, kami bertukar nomor.”

“Okay, Chi.. Matikan cintamu untuk Tao mulai detik ini..” Batin Seu Chi yang melihat wajah Tao yang terlihat gembira.

“Hey, hellooo~~ Kau kenapa?” Tao mengibas – ibaskan tangannya di hadapan gadis itu.

“Hhm? Wo meiyou sheme (aku tidak apa – apa).” Jawab Seu Chi tersenyum.

“Tao, ke kantin yuk! Aku haus, mau pesan cappuchino.” Ajak Seu Chi kemudian.

“Tidak makan sekalian? Aku traktir deh, suasana hatiku sedang bagus nih.” Tawar Tao.

“Karena Lien kah?” Tanya Seu Chi yang dijawab dengan anggukkan Tao.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Tao, jadi mengajariku bermain double sticks kan?” Aku menagih janjinya padaku.

“Kau serius mau main itu?” Tanyanya tak percaya. Aku pun mengangguk mantap.

“Lebih baik kau latihan dulu dengan kayu ya..”

“Wae? Bukannya double sticks mu dari besi?”

“Kau mau kepalamu pecah, eoh? Kalau dengan kayu, paling tidak kau hanya lebam.” Ujarnya.

“Hiiii~~ Ucapanmu seram sekali siih..” Aku memukul bahunya ringan.

“Kau pikir main itu mudah? Susah sekali, tahu!”

“Maka dari itu, ajari aku yaaaaa~~” Aku merajuk padanya.

“Haish~ Cerewet sekali kau… Kajja, kita pulang.”

Saat perjalanan pulang, aku menumpang di ducatti milik Tao seperti biasa. Tapi, tiba – tiba ponselku bergetar di saku celanaku yang terhubung dengan earphone yang tergantung di telingaku.

“Yeobseo??” Sapaku tanpa melihat nama di layar ponselku.

“Chi, kau mau dijemput tidak?” Luhan gege menelponku saat aku sudah di jalan bersama Tao yang mengendarai motornya.

“Annio, ge.. Aku mau ke rumah Tao..” Jawabku dengan suara keras karena aku harus mengalahkan suara angin yang berhembus kencang karena motor melaju kencang.

“Mau apa?” Tanya Luhan gege.

“Ada urusan.. Sudah ya ge…thaaa~~~” Ujarku tanpa memberikan Luhan gege kesempatan bicara.

“Nugu?” Tanya Tao yang tanpa menoleh.

“Luhan gege..”

“Weisheme (kenapa)?” Tanya Tao.

“Hanya bertanya aku ingin dijemput atau tidak..”

“Oh..lalu?”

“Ya aku bilang tidak dong. Aku kan mau ke rumahmu.”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Setibanya di rumah Tao, terlihat sebuah mobil sedan berwarna hitam terparkir di depan rumah Tao.

“Seingatku, appa nya Tao sedang berada di luar negeri. Dan mobil appa nya kan berwarna silver.” Batin Seu Chi.

“Hah? Gege datang?” Gumam Tao.

“Gege?” Seu Chi menoleh.

“Eh? Hhmm ne, gege.. Kajja, masuk.” Ajak Tao yang diikuti gadis berambut coklat kemerahan itu.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Ya! Dari mana saja kau?”

A..astaga! Pria ini! Hyaaa!! Aku paling takut dengan kakak sepupunya Tao yang ini!

“Gege… Kenapa tidak bilang dari kemarin kalau kau mau ke sini?”

“Aku hanya ingin menjengukmu. Kupikir kau sudah terkapar, tapi ternyata kau bisa jalan – jalan ya.. Ahaha..” Kelakarnya.

“Jahat sekali kau gege!”

“Hahaha aku bercanda..” Tiba – tiba kedua matanya yang tajam menatapku dan membuatku langsung menunduk karena takut.

Ia terlihat berbisik dengan Tao. Entah apa yang mereka bicarakan. Yang kutahu, Tao hanya tiba – tiba merangkulku kemudian.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“I need to talk..” Ujar pria berambut blonde. Wu Yifan, sepupu Tao yang memiliki darah China-Canada ini baru saja mengunjungi Tao setelah ia pulang dari Vancouver, Canada.

“Chi, kau tunggu sini ya.” Pesan Tao pada Seu Chi. Gadis itu pun mengangguk.

“Dia…Seu Chi itu? Benar itu dia?”

“Ne, ge..wae?”

“Anni, hanya saja dia sedikit berubah..” Ujar Yifan.

“Kau tidak menaksirnya kan, ge?”

“What? Tidak mungkin, Tao.. Apa aku harus jatuh cinta dengan wanita pilihan sepupuku sendiri?” Tanya Yifan.

“Kau mengira aku ini kekasihnya Chi? Anni, ge.. Kami hanya berteman. Kau tahu kan dari dulu hatiku tertambat pada Lien.”

“Lien? Kau bertemu dengannya?”

“Ne, bahkan kami bertukar nomor ponsel.”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Ck! Kenapa mereka lama sekali? Apa aku harus menyusulnya?

“Kau tahu, ge? Aku akan mengejar cinta pertamaku…”

“Cinta pertama…Lien? Beruntung sekali wanita itu..” Aku mendengar ucapan Tao yang terasa menyakitkan untukku.

“Ehem!” Aku berdeham untuk menginterupsi mereka. “Tao, mianhae aku menyela sebentar.. Tiba – tiba, kepalaku terasa pusing.. Aku pulang saja ya?” Lanjutku.

“Pusing? Istirahat di sini saja dulu.”

“Annio.. Aku ingin pulang..” Pintaku.

“Aku antar kalau begitu…” Ujarnya.

“Anni, aku bisa pakai taxi. Aku takut terjungkal jika kau mengantarku dengan motor.”

“Aa! Chakkaman!” Dia menghentikanku. “Bagaimana kalau diantar Yifan gege?” Lanjutnya. Mwo?! Apa dia gila?! Aku takut dengannya dan Tao menawarkanku untuk diantar pulang dengannya?!

“Yifan gege kan naik mobil, kau bisa pulang dengan mobil gege.. Bagaimana? Aku khawatir terjadi apa – apa denganmu kalau kau pakai taxi.” Seandainya kekhawatirannya ini sebagai kekasihnya, aku akan sangat bahagia.

“Chi.. Jebal.. Pulang dengan Yifan gege ya?” Dia meraih tanganku. Aku tak kuasa untuk menolak permintaannya.

“Baiklah..” Ucapku pasrah.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Hati – hati ya..” Pesannya padaku saat aku sudah berada di kursi penumpang mobilnya Yifan.

Tak lama mobil pun melaju dengan kecepatan sedang. Tidak ada pembicaraan sama sekali diantara aku dan Yifan. Toh aku juga malas bicara dengannya.

“Ini hanya alasanmu saja kan?” Aku sedikit terlonjak saat suara berat itu terdengar di pendengaranku.

“Kau beralasan sakit setelah mendengar nama Lien.” Lanjut Yifan yang menatap lurus ke jalan raya.

“Bukan urusanmu.” Ujarku dingin.

“Memang. Tapi kau merusak pandanganku, arraseo!” Jawabnya.

“Kalau memang begitu, kenapa juga kau mengantarku?” Tanyaku sengit.

“Karena permintaan Tao.” Jawabnya datar.

“Kalau begitu turunkan aku!”

“Tidak bisa. Karena Tao pasti akan bertanya banyak hal tentang kau yang kuantar.”

“Turunkan aku atau aku loncat?!”

“Loncat saja.” Dia menekan sebuah tombol untuk membuka kunci mobil untuk semua pintu yang berada di pintu miliknya.

“Neo…!!!” Aku gusar dengannya. Tapi kemudian ia kembali menekan tombol itu untuk menguncinya kembali.

“Cih! Kau ini aneh..” Ujarnya lagi.

“Apa maksudmu hah?!”

“Kau itu sangat aneh. Kau suka dengan Tao tapi kau tidak memberitahunya. Padahal Tao dekat denganmu kan? Belajarlah untuk jujur.”

“Kau… Darimana kau tahu, eoh?”

“Hey agasshi, dari tingkah lakumu saja sudah ketahuan.”

“M..mwo?! Apa Tao juga tahu?”

Dia menggidikkan bahunya. “Tapi, ya…mungkin saja sih Tao sudah tahu.” Lanjutnya.

“Jujurlah dengannya, atau kau kehilangan Tao karena Lien.” Sarannya. Aku hanya terdiam menatap jalanan dari jendela mobil.

“Kau tahu sifat Tao kan? Dia tidak akan marah denganmu jika kau jujur.” Ujarnya lagi.

“Aku tidak bisa.” Ujarku yang masih menatap jendela mobil.

“Kau hanya mencari – cari alasan saja..”

“Aku tidak bisa. Bukan karena takut dijauhi Tao. Tapi aku ingin dia bahagia walau pun bukan denganku.” Ujarku.

“Kau mengenal Tao dan keluarganya jauh lebih lama dari pada Lien. Dia tidak tahu apa – apa tentang Tao. Kau punya nilai lebih, kau tahu?” Sosok Yifan yang menyeramkan kenapa tiba – tiba menjadi hangat seperti ini?
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Kau pulang dengan siapa, Chi?” Tanya Luhan pada adiknya.

“Angrybird, ge.”

“Angrybird?” Luhan terlihat bingung saat adiknya berjalan melewatinya.

“Chi, makan dulu…”

“Wo bu you (aku tidak mau).” Ujar gadis itu yang masuk ke kamarnya di lantai dua.

“Nanti aku yang dimarahi appa kalau pulang…” Ujar Luhan.

“Bilang saja kalau aku sudah makan..”

“Chi… Buka pintunya.”

“Shireo!”

“Buka atau aku dobrak?” Seu Chi pun membuka pintu kamarnya.

“Ayo makan..” Luhan mengajak adiknya makan dan menggandeng tangannya.

“Aaa chakkaman.. Gege.. Aku masih kenyang..”

“Kau bohong.” Tanpa banyak bicara, Luhan menggendong adiknya menuruni tangga dan mendudukkannya di kursi yang terdapat di ruang makan.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Sudah hampir seminggu ini Seu Chi terus menghindari Tao, teman masa kecilnya sekaligus pria yang dicintainya. “Chi, hey! Kenapa kau menghindariku? Aku salah apa?” Tao menahan tangan gadis itu.

“Kau tidak ada salah apa pun.” Jawab Seu Chi yang berusaha bicara seperti biasa.

“Kalau tidak ada salah, kenapa setiap ada aku kau selalu pergi?”

“Anni, aku hanya sibuk Tao. Kau tahu kan tugas kampus sekarang semakin banyak.” Dalih gadis itu.

“Kau bohong!”

“Anni, sekarang tolong lepaskan aku. Aku masih harus mengerjakan laporanku.” Seu Chi berusaha menatap mata yang sudah dihindarinya seminggu ini.

$
“Aku antar..” Ujar Tao.

“Tidak perlu. Gomawo, Tao..” Seu Chi langsung meninggalkan pria itu.

Tak lama berselang ketika Seu Chi pergi, ponselnya berbunyi. Nomor yang tak dikenal pun tertera di layar ponselnya.

“Yeobseo?”

“Tao..”

“Ahjumma?” Tanya Tao memastikan.

“Lien… Lien..” Terdengar suara tangis.

“Lien kenapa, ahjumma?” Tao terlihat cemas.

“Lien masuk rumah sakit lagi..dia..dia kritis..” Isakkan itu semakin terdengar di indera pendengaran Tao.

“Rumah sakit mana?” Tanya Tao yang sudah diliputi perasaan kalut.

“Rumah sakit tempat dulu Lien dirawat.”

“Aku akan segera kesana.” Ujar Tao. Meski pun lelah, ia tetap ke rumah sakit itu. Nasehat dokternya untuk tidak terlalu lelah pun diabaikannya. Dia tidak mempedulikan penyakitnya sendiri.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Lien.. Dan Lien… Aku memang tidak pantas berada di samping Tao.” Batinku.

“Aissh! Kau tidak boleh seperti itu, Chi..” Aku menepuk bibirku untuk berhenti membicarakan seseorang yang sedang sakit. Ya, bahkan Tao rela menemani Lien yang kata Tao sendiri menderita penyakit ataxia.

Menurutku, Tao benar – benar mencintainya. Terbukti kalau setiap kali dia mendengar nama Lien, ia pasti akan terlihat ceria. Dia seolah lupa dengan kanker faring yang diidapnya.

“Haaahh~~” Aku hanya bisa menghela napasku. Tak terasa bus yang aku tumpangi sudah berada di halte dekat rumahku. Aku pun segera turun dan berjalan sekitar lima menit menuju rumahku sendiri.

“Mwo? Luhan ge di rumah? Bukan kah seharusnya di kantor? Dan.. Mobil ini.. Rasanya aku pernah melihatnya..” Batinku saat melihat mobil Luhan gege dan mobil hitam yang terparkir di garasi tepat di sebelah mobil Luhan gege.

Aku pun membuka pintu rumah. Pelayanku pun mengambil tasku dan sepatuku. Setelah menggantinya dengan slippers rumah, aku segera memasuki rumahku. Terdengar suara tawa Luhan gege di ruang tamu. Dan sepertinya ada pria lain.

“Ooh, Chi.. Kau sudah pulang?” Sapa Luhan gege.

“Ne, ge..”

“Rasanya aku mengenali pria ini..” Batinku saat melihat tubuh bagian belakang temannya Luhan gege.

“Oh, Chi kemari..” Aku pun menghampiri kakakku dan temannya itu. “Ini temanku.. Dan Yifan, ini adikku..” Sungguh aku terperangah saat ia berdiri dan berbalik badan padaku.

“Ka… Kau..!!” Aku menutup mulutku kemudian.”

“Kau sudah kenal Chi?” Tanya Luhan gege padaku.

“Waktu itu aku mengantarnya pulang dari rumah Tao.” Ujarnya pada Luhan gege.

“Tao?”

“Ya, dia sepupuku.” Jawab Yifan. Uughh! Kenapa sih dia bisa kenal dengan Luhan gege?!!

“Chakkaman. Chi bukannya kau bilang yang mengantarmu itu angr..” Buru – buru aku membekap mulut kakakku walau pun aku harus melompat dan berjinjit.

“Hhmmppfftt hmmppfftt..” Segera kutarik Luhan gege ke ruang tengah.

“Fuaah! Apa – apaan sih kau ini, Chi..”

“Gege kenal dia?”

“Kenal.. Dia teman kuliah gege dan sampai sekarang kita menjalin kerjasama bisnis.”

“Apa?! Kerjasama bisnis?!!”

“Sstt! Kau ini apa – apaan sih…kenapa kau berteriak?”

“Putuskan kerjasamaaaa!!!”

“Tidak bisa. Kau mau membuat perusahaan appa kacau, eoh?”

“Gege… Aku tidak suka dengannya, tidak suka, tidak suka, tidak sukaaaaaa!!!”

“Stop..stop.. Aku tidak mau dengar lagi. Sekarang lebih baik kau ganti baju.” Ujarnya meninggalkanku.

“Isshh!!” Aku hanya menghentakkan kakiku kesal.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Sementara itu di waktu yang sama, di rumah sakit pria bermarga Huang itu terlihat sangat cemas di ruang ICU. Ia menemani seorang gadis yang masih dalam keadaan koma akibat penyakit ataxianya.

“Lien..sadarlah..” Gumam Tao yang mendekap tangan gadisnya. Air matanya mengalir begitu saja tanpa permisi.

Detak jantung yang ditunjukkan alat kardiografi berubah menjadi cepat seiring bunyi yang ditimbulkan dari alat tersebut.

“Lien..” Tapi tak lama detak jantung itu kembali normal ketika Tao memanggil namanya. Kedua mata gadis itu terbuka perlahan dan beralih menatap Tao.

“Ta…o..” Lirihnya.

“Ne.. Aku di sini…”

“Aku…tidak…kuat..”

“Bicara apa kau Lien? Kau pasti bisa sehat!”

Gadis itu menggeleng lemah, “Sakit…”

“Kau akan sembuh, Lien. Percayalah…”

“Haahhh..” Gadis itu terlihat susah bernafas.

“Lien.. Tetap bersamaku, Lien..”

“Le..lah.. Ta..o..”

“Tidak! Kau tidak boleh lelah!” Ujar Tao. Dia tidak peduli air matanya mengalir dan semakin membuat terlihat mata hitamnya.

“Dui..bu..qi..” Butiran air mata jatuh dari kelopak mata gadis itu.

“Untuk apa kau minta maaf? Kau tidak salah, Lien..”

Gadis itu berusaha meraih wajah Tao dengan tangan kanannya, “Haaahh..” Tangannya terjatuh sesaat sebelum meraih wajah pria di hadapannya. Alat kardiografi pun berbunyi nyaring dan menunjukkan garis lurus berwarna hijau. Tidak ada lagi denyut jantungnya.

“Tidak! Lien! Lien bangun! Lien!” Tao menekan – nekan tombol darurat dan berusaha membangunkan gadis itu.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Tian na! Kau tidak bercanda kan?” Aku mendengar intonasi suara Yifan yang berubah saat menerima telepon di luar.

“Ne, aku akan ke sana. Kau tunggu di sana, Tao.” Tao? Terjadi sesuatu kah dengannya?

“Luhan, duibuqi (maaf) aku tidak bisa lama di sini. Tao tadi memberitahuku kalau..” Ia melirikku sekilas dan kemudian berbisik pada Luhan gege. Entah apa yang ia bicarakan.

“Tao kenapa?” Tanyaku.

“Dia tidak apa – apa.” Jawabnya.

“Kau bohong!”

“Anni..”

“Kalau begitu aku harus memastikannya sendiri!” Aku kemudian menelpon ponsel Tao. Tapi tak kunjung dijawab.

“Tao tidak menjawab. Aku mau ikut denganmu.”

“Geundae…” Yifan terlihat bingung.

“Aku mau ikut!” Ujarku.

“Chi..”

“Aku mau lihat Tao, Luhan ge..” Kulihat Luhan menatap Yifan.

“Baiklah. Kita pergi sekarang.” Ujar Yifan.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Seorang pria duduk menunduk dengan tangan yang menutupi wajahnya. Seu Chi dan Yifan langsung menghampirinya. Di depan ruangan, terlihat wanita paruh baya yang terus menangis.

“Tao tidak apa – apa. Lalu.. Siapa di dalam?” Batin Seu Chi.

“Tao..” Panggil Yifan.

Pria yang merasa namanya dipanggil, berdiri dan memeluk Yifan, “Gege..” Ia menangis.

“Weishenme (kenapa)?”

“Lien… Lien meninggal…” Yifan langsung menepuk – nepuk punggung pria yang usianya terpaut 3 tahun dibawahnya.

“Kau yang tabah..”

“Lien meninggal?” Tanpa disadarinya air matanya mengalir. Ia menyadari bahwa betapa jahatnya dia yang cemburu pada seseorang yang sedikit memiliki kesempatan hidup. Dia juga turut merasakan perasaan Tao yang kehilangan orang yang dikasihinya. Orang yang dicintainya.

Melihat Tao yang menangis, Seu Chi juga ikut menepuk punggung Tao yang masih memeluk Yifan.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Suasana pemakaman terlihat khidmat mengantarkan Zhu Lien ke peristirahatan terakhirnya. Tatapan mata Tao sangat kosong. Baru pertama kali aku melihat Tao seperti ini. Sosok sangar yang biasanya terlihat, kini terlihat sendu. Air matanya mengalir perlahan dari kedua matanya yang menatap kosong saat peti mati Lien diturunkan ke liang lahat. Yifan yang berdiri di samping Tao, hanya bisa menepuk bahunya berusaha memberikan ketegaran.

Para pelayat pun satu per satu meninggalkan makam gadis yang meninggal di usia 19 tahun. Bahkan ibu gadis itu pun juga sudah meninggalkan makam anaknya. Kini hanya ada kami bertiga. Aku, Tao, dan Yifan.

“Ayo kita pulang, Tao..” Ajakku.

“Kau pulanglah dengan Yifan gege..” Ujarnya dingin. Baru kali ini Tao bicara dingin denganku. Rasanya seperti dihujam belati dari berbagai arah.

“Hari sudah mulai gelap, Tao..” Ucapku sabar.

“AKU BILANG PULANG DENGAN YIFAN GEGE!!” Dia berteriak padaku.

“Bangun kau!!” Yifan mengangkat kerah baju Tao. Kulihat Tao hanya terangkat lemah. “APA KAU PANTAS BERTERIAK DENGAN WANITA, HAH?!!” Kini giliran Yifan yang berteriak pada Tao.

“Geumanhae..” Lirihku.

“KAU TIDAK MEMIKIRKAN PERASAANNYA, HAH??!!!” Lagi, Yifan berteriak pada Tao.

“Yifan.. Andwae..” Ujarku.

“Selama ini aku diam, Tao. Aku diam untuk melihat langkahmu selanjutnya. Tapi kau.. Argh!!”

Buagh!! Sebuah tinjuan mendarat di sudut bibir pria bermarga Huang itu hingga jatuh tersungkur.

“Yifan, sudah..” Leraiku. Karena tidak tahan melihat situasi ini, aku meninggalkan mereka berdua.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Keparat kau! Puas kau membuatnya terluka, hah?!” Yifan kemudian meninggalkan Tao sendirian dan mengejar Seu Chi.

“Chi..!! Seu Chi..!” Gadis itu semakin cepat berlari keluar meninggalkan kompleks pemakaman itu. Tapi, karena postur tingginya, Yifan dengan mudah mengejar Seu Chi dan menahan tangannya. “Kuantar pulang.”

“Tidak usah. Lebih baik kau temani, Tao..”

“Apa yang ada di pikiranmu, Chi?? Dia sudah menyakitimu tapi kau masih memikirkannya?”

“Annio.. Dia tidak menyakitiku…”

“Lalu, kenapa kau menangis? Kau menangis untuknya..”

“Aku tidak menangis..” Bantah gadis itu. Yifan hanya menatapnya. Karena merasa dirinya berbohong, gadis itu menunduk dan air matanya kembali menetes. Entah dorongan dari mana, Yifan memeluk gadis itu dan membiarkannya menangis. Tangannya sesekali mengusap kepala gadis itu.

Tanpa mereka sadari, seorang pria tinggi tengah menatap mereka berdua. Yifan yang tengah memeluk Seu Chi.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Tian na (astaga)!! Seu Chi!” Luhan terkejut saat membuka pintu rumahnya. Dia melihat Yifan yang sedang menggendong Seu Chi.

“Chi kenapa?”

“Dia tidak apa – apa. Hanya mungkin terlalu lelah.” Ujar Yifan.

“Dimana kamarnya?” Tanya Yifan kemudian.

“Di atas.. Ayo kuantar.”

Saat Luhan kembali ke lantai bawah untuk mengambilkan minum adiknya, Yifan membaringkan tubuh gadis itu di ranjang single miliknya dengan hati – hati.

“Kau terlalu bodoh untuk mencintai seseorang..” Batin pria yang duduk di tepi ranjang Seu Chi.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Semenjak meninggalnya Lien, Tao menghentikan semua pengobatannya. Bahkan dia juga jarang masuk kuliah dan lebih memilih di kamar pribadinya tanpa diganggu. Yifan yang berusaha membujuknya untuk melakukan pengobatan pun diabaikannya.

“Kurasa kau bisa membantunya..” Ujar Yifan yang menemui Seu Chi di kampusnya.

“Aku bisa apa? Kupikir dia merasakan kalau setengah nyawanya hilang bersama perginya Lien.” Jawab Seu Chi.

“Kau belum mencoba membujuknya..”

“Lagi pula, kemungkinan besar ucapanmu akan diturutinya.” Lanjut Yifan.

“Haaahh~~” Gadis itu menghela nafasnya panjang. Sementara Yifan menunggu jawaban gadis itu. “Baiklah, akan kucoba.” Lanjut Seu Chi.

“Great! Kalau begitu, kita ke rumah Tao sekarang!” Ujar Yifan.

“Aa! Wait! Aku masih ada kelas…” Potong Seu Chi.

“Well, aku akan menunggumu hari ini. Jam berapa kelasmu selesai?”

“Mungkin sekitar satu jam lagi? Dan aku mau masuk kelas sekarang.”

“Satu jam lagi? Hhmm..” Pria dengan tinggi 189 cm itu melirik jam tangannya. “Berarti jam tiga kau selesai. Okay, aku akan menunggumu di kantin kampusmu.”

“Terserah kau saja.. Bye!” Seu Chi langsung meninggalkan pria itu dan setengah berlari menuju kelasnya.

“Apa dia kekasihnya Seu Chi?” Terdengar bisikan – bisikan dari sekitar pria itu. “Mustahil, Seu Chi bisa mendapatkan lelaki tampan sepertinya!”

Yifan pun menoleh pada gadis itu dan menghampirinya. “Kenapa tidak? Berhenti membicarakan orang di belakang.” Ujar Yifan yang kemudian meninggalkan mereka.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Tok! Tok! Tok! Yifan yang berada di depanku mengetuk pintu kamar Tao yang dikunci dari dalam.

“Tao.. Buka pintunya..” Ujar Yifan.

“Kalau kau ke sini untuk membujukmu ke rumah sakit, lebih baik kau pulang, ge…” Ujarnya dari dalam.

“Kau buka dulu pintunya..” Tapi Tao tidak menyahut lagi.

“See? Dia seperti ini setiap harinya.” Ujar Yifan pelan padaku.

Aku pun mengambil alih dan mengetuk pintu kamar Tao. “Open the door.. Ini aku, Tao…” Pintu kamarnya pun terbuka.

“T.. Tian na (astaga)!! Kau.. Tao, ayo ke rumah sakit!” Yifan langsung menarik tangan Tao. Sekarang menurutku Tao sudah seperti zombie!

“Wo bu you (aku tidak mau).” Tao tetap berdiri di tempatnya.

“Ya sudah kalau kau tidak mau ke rumah sakit…tapi kau makan ya?” Ujarku. Yifan terlihat kaget saat aku mengucapkan kalimat itu. Tapi aku hanya menatapnya seolah aku punya cara sendiri untuk membujuk Tao.

“Ne..” Ujar Tao.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Gege mu bilang, kau tidak mau kemmo?” Tanya Seu Chi yang menyuapi Tao makan. Pria itu hanya diam.

“Kan itu memperburuk kesehatanmu, Tao..”

“Apa ada gunanya aku hidup?”

“Bicara apa kau! Kau mau menyusul Lien, eoh?”

“Seandainya itu bisa kulakukan…” Ujar Tao datar.

“Selama aku kenal kau, baru kali ini kau terlihat seperti orang bodoh!” Ujar Seu Chi tajam.

Tao menoleh pada gadis itu dan menatapnya kesal. “Mwo? Kau tidak terima?” Tantang Seu Chi.

“Sigh!” Pria itu mendengus kesal.

“Kalau pun kau mati, apa kau yakin akan segera bertemu Lien? Bisa saja dia di surga dan kau di neraka. Kau kan banyak dosa denganku!” Ujar Seu Chi menepuk lengan Tao.

“Yaa! Sejahat itu kah aku?” Tanya Tao.

“Mungkin? Karena itu, perbanyak lah perbuatan baikmu di dunia sebelum menyusul Lien. Kkkk..”

“Kemmoterapi lagi yaaaaa~~~” Rajuk gadis itu.

“Terserah kau!”

“Bagus, anak pintar!” Seu Chi mengusap puncak kepala Tao.

“Aku bukan anak anjing..” Protes Tao.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Bagaimana?” Tanya Yifan pada Seu Chi saat di ruang tengah.

“Hhaahh~~~” Gadis itu berpura – pura menghela napasnya dan berwajah lesu.

“Tidak mau ya?” Tanya Yifan khawatir.

“Mau kok..” Jawab Seu Chi tersenyum riang.

“Xie – xie, Chi..” Yang entah karena dorongan kegembiraannya, Yifan memeluk gadis itu.

Tanpa mereka sadari, Tao memperhatikan mereka dan mendengar percakapan mereka. “Mereka menjalin hubungan?” Batin Tao yang kemudian meninggalkan mereka.

“Yi..Yifan..sesaakk!!” Keluh Seu Chi yang berada di pelukan pria itu.

“Duibuqi..” Ucap Yifan yang sedikit salah tingkah.

“Kau… Mau pulang sekarang?” Tanya Yifan yang sedikit kikuk.

“Uhm.. Aku ambil tasku dulu di kamar Tao..” Jawaban gadis itu juga sedikit terkesan malu – malu.

“Ne.. Aku juga akan pamitan dulu dengan mama-nya Tao.” Ujar Yifan.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Tao… Aku pulang yaaa…” Ujarku.

“Kau sudah mau pulang?” Tanyanya.

“Ne… Sudah terlalu malam juga.. Tidak terasa ya sudah jam delapan malam..”

“Tidak makan di sini dulu?”

“Annii~ Aku makan di rumah saja… Nanti Luhan gege juga khawatir menungguku.”

“Tao, aku pulang dulu ya.. Aku juga harus mengantar Chi kan?” Aku menoleh dan ternyata Yifan yang menyusul ke kamar Tao.

“Selamat ya, kalian!” Ujar Tao tersenyum. Apa maksudnya? Apa dia mengetahui kalau aku disuruh Yifan membujuknya terapi dan dia marah karena ini?

“Selamat?” Ulang Yifan yang mensejajarkan berdiri di sampingku.

“Iya, selamat. Semoga kalian sampai di pelaminan ya?” Sungguh aku tercengang dengan ucapan Tao. Tidak sadarkah kau kalau aku menyukaimu?

Aku menoleh pada Yifan di sebelahku, dan dia juga tak kalah bingung dengan ucapan Tao. “Aku tidak mengerti maksudmu..” Ujar Yifan.

“Kalian berdua sekarang menjalin hubungan kan?”

“Tsk, kau ini..” Yifan menggantungkan kalimatnya.

“Aku melihatnya kok.. Maaf aku tak sengaja melihat kalian tadi..” Ujar Tao.

“Aku…”

Dengan cepat, tiba – tiba Yifan memotong ucapanku seraya merangkulku. “Xie – xie Tao… Dan kebahagiaanku lengkap dengan ditambahnya kau mau terapi lagi. Ne, yeobo?” What?! Yeobo?? Aku membulatkan kelopak mataku saat ia melontarkan kata itu.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Mianhae…”

“Hhm? Untuk?” Tanya Seu Chi saat di mobil Yifan dalam perjalanan pulangnya

“Kau pasti sudah mengerti maksudku, Chi…”

“Oh, ucapanmu pada Tao tadi? Tenang saja.. Aku mengerti kok.. Kalau kau bilang kau minta bantuanku untuk membujuk Tao terapi, pasti Tao marah kan? Karena itu kau mengatakan pada Tao seolah kita ada hubungan khusus.” Ujar Seu Chi.

“Ya, seperti itu maksudku..” Ujar Yifan kemudian.

Tak terasa mobil itu sudah terparkir di depan pagar hitam yang tinggi menjulang. Di depan pintu rumah itu berdiri seorang pria yang tengah menelpon sambil mondar – mandir cemas.

“Sepertinya Luhan mencemaskanmu..” Ujar Yifan sambil membuka savety beltnya.

“Ne.. Dia menelponku..” Seu Chi menunjukkan layar ponselnya yang tertera nama Luhan beserta foto mereka berdua pada Yifan.

“Ne gege?” Sapa Seu Chi

“Kau dimana, eoh? Ini sudah jam setengah sepuluh malam, tapi kau belum pulang juga! Dan kau kenapa mengabaikan teleponku, eoh?” Luhan terdengar marah.

“Gege, aku sudah di depan rumah kooookk~~~” Luhan kemudian melihat ke arah pagar rumahnya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Kau bersama Yifan?” Luhan gege sepertinya benar mencemaskanku.

“Duibuqi, aku yang membawanya pergi sampai selarut ini..” Ujar Yifan yang membelaku.

“Ne, gwaenchana.. Maaf merepotkanmu, Yifan..” Ucap Luhan gege.

“Anni, justru aku yang banyak merepotkan kalian, terutama adikmu ini…”

“Haha… Kau mau masuk dulu?” Tawar kakakku.

“Tidak usah.. Aku langsung pulang saja..”

“Jeongmal?”

“Ne..” Ujarnya yang kemudian berjalan menjauhi kami.

“Gege, aku ke depan dulu ya..” Ucapku yang dijawab gumamannya.

“Yifan..” Panggilku.

“Hmm?” Ia menoleh.

“Gomawo~”

“Untuk apa?”

“Karena sudah mengantarku pulang..” Aku baru menyadari kalau wajahnya bukanlah wajah oriental sepertiku. Tapi… Seperti orang Eropa kurasa..

“Sudah seharusnya kan? Aku yang memintamu, tidak mungkin aku membiarkanmu pulang sendirian..” Ujarnya yang kemudian membuka kunci mobilnya dengan kunci alarm di tangannya.

Ia pun masuk ke dalam mobilnya dan menyalakan mesinnya. “Hati – hati ya..” Ujarku saat ia menurunkan kaca jendela mobilnya.

“Kau… Sebaiknya cepat masuk dan mandi dengan air hangat.”

“Ne..”

“Aku pulang dulu..” Ujarnya terakhir sebelum menjalankan mobilnya. Aku melihat mobilnya yang perlahan berjalan menjauhi titik dimana aku berdiri saat ini. Setelah mobilnya sudah tidak tampak di pandanganku, aku segera masuk ke dalam rumah untuk mandi dan beristirahat.

Tapi ternyata, Luhan gege di dalam hendak menginterogasiku. “Kau punya hubungan dengan Yifan?” Benar kan! Apa kubilang! Dan gege adalah orang kedua yang mengira aku dan Yifan berpacaran.

“Anniii~~~ Dia hanya datang ke kampusku dan meminta tolong membujuk Tao untuk terapi lagi.. Hanya itu.. Tidak lebih!” Ujarku.

“Hhmm… Lebih juga tidak apa kok..kkk..”

“Gegeeeeee!!”

“Aku tidak suka dengannya, tidak suka, tidak suka, tidak sukaaaaaa!!!” Sial! Luhan gege mengintimidasiku dengan kalimat yang pernah kuucapkan.

“Gege kau menyebalkaaaannn!!!” Teriakku.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Sudah hampir dua bulan ini Tao terus melakukan terapi. Dan kali ini Yifan pun ikut mengantarnya.

“Kau niat mengantarku atau kau cari alasan bertemu Chi?” Sindir Tao pada Yifan saat berada dalam mobil.

“Kau tidak mau kuantar? Kalau begitu, turun di sini saja ya.. Ahaha..”

“Gege.. Aku kan hanya bercanda~”

“Apa ini? Kenapa aku…aku sedikit tidak terima kalau Chi sekarang milik Yifan gege…” Batin Tao.

“Chi..” Panggil Tao. Tapi gadis yang berada di kursi belakang itu tidak menjawab. “Chi..” Tao kembali memanggilnya. Tapi karena tidak ada jawaban juga, Tao menoleh ke belakang dan ternyata gadis itu memakai earphone-nya sambil memainkan ponselnya. “Tian na (astaga)!! Pantas sajaa~~”

“Gege ada kertas tidak terpakai? Atau pulpen?”

“Di laci dashboard ada sepertinya. Liat saja..” Ujar Yifan. Setelah menemukan benda yang dicari, Tao langsung melemparkannya pada gadis yang duduk di belakang itu.

“Aww!! Appoo~~ Yaaa!! Kung fu panda! Apa yang kau lakukan?!”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Aku melempar balik pulpen yang dilemparkan padaku oleh Tao. Apa maksudnya sih??!!

“Yaa!! Kau sudah berani denganku?!” Balasnya.

“Kau pikir aku tidak berani, eoh?!” Aku mencengkeram lehernya dari belakang. Tentu saja tidak sekencang untuk membunuh orang.

“Yaaa!! Berhentilah kalian berdua! Mengganggu konsentrasiku saja!” Yifan menginterupsi kami. Sontak kami langsung menghentikan keributan kami. Cih! Kung fu panda, kau menang hari ini!!
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Aku membeli minum dulu… Kau ingin apa Tao?” Yifan memberitahu kami saat kami sedang duduk menunggu obat untuk Tao.

“Air mineral saja..”

“Kau, Chi?” Tanya Yifan lagi.

“Teh?” Ujarku ragu.

“Baiklah…” Ujarnya kemudian.

“Chi..”

“Hhm?” Aku menoleh.

“Kenapa kau bisa menjadi milik Yifan gege?” Astaga! A..apa yang harus kujawab??!!

“Chi..??” Sepertinya Tao ingin mengetahui alasannya.

“Aku…aku… Haaahh~~ Apa untuk mencintai seseorang diperlukan alasan?” Ujarku kemudian. Mianhae Tao.. Aku membohongimu…

“Kau mencintai Yifan gege? Bukannya justru kau takut dengan gege?”

“Perasaan orang bisa berubah, Tao..” Sungguh aku merasa berdosa karena membohongi Tao. Aku takut kalau aku mengatakan yang sebenarnya, ia tidak akan mau mengikuti terapi lagi.

“Sejak kapan kau memiliki perasaan dengan gege?”

“Haaahhh~~~ Sudah lah Tao… Kau seperti wartawan saja, tahu!” Potongku.

“Kau tahu, aku merasa ada sesuatu dibalik hubungan kalian…” Ucap Tao. Apa dia curiga?

“Apa kau brother complex?” Sergahku.

“Ahahaha kau bercanda!” Ucapnya.

Tak lama, Yifan datang dengan tiga botol minuman di tangannya. Syukurlah dia datang.. Kalau tidak, Tao bisa menanyakan hal lain padaku.

“Bukain…” Pintaku pada Yifan untuk membukakan botol minuman kemasan dengan nada yang sedikit manja.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Hah? Kenapa Chi mendadak manja seperti ini?” Batin Yifan heran yang mengambil botol minuman gadis itu dan membukakan tutupnya.

“Kau mau?” Tanya Seu Chi yang mengarahkan sedotan minumannya pada Yifan.

“Anni… Kau saja…” Jawab Yifan tersenyum.

“Ingat, Chi! Ini hanya acting! Jangan sampai kau suka dengannya!” Batin Seu Chi.

“Lama sekali sih, obatmu Tao…” Ujar Seu Chi yang bersandar pada Yifan.

“A..astaga.. Apa kepalanya terbentur? Atau Tao mengatakan sesuatu padanya hingga ia berubah sikapnya?” Batin Yifan.

Yifan kemudian mengubah posisi duduknya yang membuat Seu Chi yang bersandar padanya ikut bergeser. Tak lama ia membuka salah satu tangannya dan menyandarkan gadis itu kembali seolah mengerti apa yang harus ia lakukan di depan Tao. Berpura – pura romantis. Itulah yang mereka lakukan di hadapan Tao saat ini.

“Kenapa aku? Aku… Aku tidak mau melihat mereka seperti ini… Aku jatuh cinta padanya atau aku hanya memiliki perasaan tidak rela karena dia temanku sejak kecil? Aku takut kalau Chi menjadi pelampiasanku…” Batin Tao yang menatap Seu Chi dan Yifan.

“Helloo~~ Are you okay?” Seu Chi mengibas – ibaskan tangannya di hadapan Tao.

“Eh! Ne..” Jawab Tao.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Hari, minggu, bahkan bulan sudah berlalu. Pria itu tidak bisa menahan perasaannya lagi. Semuanya terjadi seiring berjalannya waktu. Tanpa ia sadari, perlakuannya yang sebelumnya hanya untuk berpura – pura, kini menariknya untuk mencintai gadis itu. Bahkan ia sendiri tidak sadar kapan sudah jatuh cinta pada gadis bermarga Xi itu.

“Tuan Wu, jam dua siang nanti ada rapat dengan tuan komisaris..” Ujar sekertarisnya. Namun pria itu hanya duduk bersandar di kursinya yang nyaman dengan jabatan sebagai direktur perusahaan ayahnya sambil mengetuk – ngetukkan pulpennya ke meja.

“Tuan Wu…??” Panggil sekertarisnya ragu. Pria itu masih betah dengan sikapnya tadi.

“Tuan Wu..??” Sekertarisnya memanggilnya dengan nada lebih keras.

“Eh??” Pria itu kaget saat melihat sekertarisnya sudah berada di dalam ruangannya.

“Jeosonghamnida… Hari ini anda ada rapat dengan tuan komisaris jam dua siang..” Ujar sekertarisnya.

Pria itu sontak berdiri dan menarik jas yang disampirkannya di kursinya, “Batalkan rapat itu atau kau gantikan saja..” Ujarnya yang sambil menepuk bahu sekertarisnya. Namun, baru saja membuka pintu ruangannya, ia melihat sosok ayahnya yang berdiri dan sepertinya akan memasuki ruangannya.

“Mau kemana kau? Setelah makan siang ini akan ada rapat.” Ujar pria paruh baya itu.

“Dad, I have to go..” Ujar Yifan.

“No! You can’t!” Ayahnya menghalangi jalan anaknya.

“Dad, please..”

“Jangan seperti ini Yifan! Dimana tanggung jawabmu sebagai direktur?”

“Dad, tapi..”

“Tidak ada tapi – tapi an! Jam makan siang ini, kau harus menyiapkan semuanya! Dan, perlu kau ingat.. Dad akan ikut rapat itu dan akan menilai kinerjamu.”

“Oh… Dad tidak akan segan – segan untuk meminta tuan Park untuk memecatmu kalau kau tidak rapat.” Ujarnya kemudian sebelum ia pergi dari hadapan anaknya.

“Sigh~!” Yifan hanya bisa mendengus kesal.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Yifan benar – benar menepati untuk datang ke rapat itu untuk menunjukkan tanggung jawabnya pada ayahnya. Tidak bisa dipungkiri, pikirannya bercampur dengan Seu Chi. Setelah rapat, Yifan langsung menutup laptopnya dan segera keluar dari ruangan rapat.

“Letakkan ini di ruanganku.” Ujar Yifan pada sekertarisnya sambil memberikan laptopnya. Setelah itu ia pergi dengan terburu – buru.

Pria berjas itu menggunakan earphonenya yang terhubung dengan ponselnya dan segera menelpon Seu Chi.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Tiba – tiba saja sore ini saat aku akan pulang, Yifan menelponku. “Wae?” Jawabku.

“Kau dimana?” Tanyanya.

“Di kampus, dan mau pulang.”

“Tunggu aku di sana. Sepuluh menit lagi aku akan sampai.”

“Mwo?! Ta..tapi..”

“Tunggu aku di sana! Atau aku berbuat nekat.” Mwo?!! Seenaknya saja dia memerintahku!! Cih! Masa bodoh! Aku mau pulang saja. Siapa dia bisa seenaknya memerintahku? Huh!
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Yifan pun tiba di kampus gadis itu. Namun, ia tidak menemukan gadis itu di mana pun. Saat dihubungi juga ponselnya tidak aktif.

“Ah, jeosonghamnida… Apa kau kenal Xi Seu Chi?” Tanya Yifan pada mahasiswa yang berkuliah di sana.

“Seu Chi? Baru saja pulang.. Tadi dia memang sebentar bertemu dengan dosen…” Ujar teman dari Seu Chi.

“Okay, gamsahamnida..” Ujar Yifan yang langsung pergi.

“Cih! Kenapa dia seenaknya saja!” Umpat Yifan. Tiba – tiba saja, hujan pun turun dengan derasnya. Dengan setengah berlari pria itu menuju parkiran mobil kampus Seu Chi. Ia langsung mengemudikan mobilnya menyusuri jalur bus yang biasa dipakai. Dan benar, bus yang sering ditumpangi oleh Seu Chi berada di shelter ketiga dari kampusnya. Gadis itu duduk dekat jendela sambil mendengarkan lagu favorite-nya dari earphone yang dia pakai. Tanpa pikir panjang, Yifan langsung menyalip bus itu dan menghentikan mobilnya melintang menghalangi jalannya bus itu hingga membuat supir bus itu menginjak rem dalam untuk menghentikan busnya tiba – tiba.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Aww!! Aduh, ada apa sih ini?? Kenapa busnya berhenti mendadak? Kulepas salah satu earphone-ku untuk mendengar situasi yang terjadi.

“Orang gila! Kenapa dia?!”

“Astaga! Dia bisa kena pidana!”

“Apa di dalam bus ini ada kelompoknya? Atau ada teroris dalam bus ini?!”

Aigoo~~ Kenapa orang – orang sekitar tempat dudukku bicara omongan seram seperti itu? Membuatku takut saja!

“Aku minta kau turun, Seu Chi…”

MWO?!! Ya Tuhan!! Yi..Yifan?!! Dia segila ini kah?!!

“Hey, agasshi, turunlah! Turunlah kalian dari bus ini! Kalian mengganggu perjalanan kami!” Sontak semua menudingku yang menjadi penyebab ini. Dan aku pun segera turun.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Neo micheoso, eoh?!!!” Seu Chi berteriak di dalam mobil Yifan.

“Mungkin?” Jawab Yifan yang terdengar dengan nada pertanyaan oleh Seu Chi.

“Apa maksudmu, eoh?!! Kau tahu, kau nyaris ditangkap polisi karena ulahmu!!”

“Aku tidak peduli..” Jawab Yifan lagi.

“Aarrgghh!! Apa yang ada di otakmu?!”

“Haish! Berhenti bicara.. Oh Tuhan.. Kenapa aku bisa menyukai wanita sepertimu yang berisik seperti ini…”

“Mwo?!! Apa maksudmu?!” Yifan lalu menghentikan mobilnya di tepi jalan.

“Haaah~~ Aku menyukaimu… Apa yang harus kulakukan?” Seu Chi tercengang dengan penuturan yang terucap dari pria di hadapannya.

“Tsk, kalau kau mau latihan untuk menyatakan cinta pada gadis yang kau suka, lebih baik kau berlatih dengan Tao.” Ujar Seu Chi.

“Anni.. Aku tidak sedang latihan.. Aku hanya tidak mengerti apa yang harus kulakukan sekarang..” Untuk beberapa saat, Seu Chi memperhatikan raut wajah pria itu.

“Ya Tuhan, bagaimana ini bisa terjadi..” Batin Seu Chi.

“Chi..?”

“Lebih baik kita cepat pulang. Bajumu basah seperti itu, apa kau tidak takut masuk angin, eoh?” Ujar Seu Chi mengalihkan pembicaraan.

“Kau belum jawab aku.”

“Hufft~ Yifan, beri aku waktu..”

“Sampai..??”

“Entah..” Jawab Seu Chi.

“Tidak bisa begitu. Aku juga perlu tahu kan?”

“Okay, dua hari.”

“Baiklah… Lusa aku akan menanyakannya kembali padamu.” Ujar Yifan yang kembali melajukan mobilnya.

Setibanya di rumah, ternyata mobil yang dikendarai Yifan tiba bersamaan dengan mobil milik Luhan, kakak dari Seu Chi.

TIN! Mobil Luhan yang berada di belakang mobil Yifan yang berhenti di depan rumah pun membunyikan klakson mobilnya untuk meminta jalan. Dan Yifan memajukkan mobilnya untuk memberi jalan untuk Luhan. Setelah mobil Luhan masuk, Yifan kembali memundurkan mobilnya agar tepat di depan rumah keluarga Xi.

“Jangan keluar!” Ujar Yifan pada Seu Chi yang kemudian keluar membuka payung dan berjalan memutar ke arah pintu sebelah Seu Chi duduk. Ia membukakan pintunya dan memayungi gadis itu. Di saat yang sama Luhan keluar dengan payung yang sebenarnya akan digunakan untuk memayungi adiknya, Seu Chi yang keluar dari mobil Yifan.

“Kau pulang dengan Yifan lagi?” Tanya Luhan. Tapi gadis itu memasuki rumahnya tanpa payung.

“Yifan, xie-xie…”

“Ne…aku langsung pulang saja ya.”

“Ne…” Jawab Luhan.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Bagaimana bisa dia… Argh!!!

Tok! Tok! Tok!

“Masuk saja ge…” Aku sudah tahu siapa yang mengetuk pintu tanpa ia mengeluarkan suaranya. Sudah pasti Luhan gege.

“Ni bu shuijiao (kau tidak tidur)?” Tanyanya yang kemudian duduk di tepi tempat tidurku.

“Bu shi (tidak), belum…” Ujarku.

“Aku boleh tanya?”

“Apa?”

“Kau akhir – akhir ini dekat dengan Yifan. Kau punya hubungan khusus dengannya?” Aku langsung terduduk dan mengambil bantal gulingku untuk kuletakkan di pangkuanku.

“Dia menyatakan cintanya. Tapi, belum kujawab.”

“Mwo?! Bagaimana bisa?!! Kau belum menjawabnya??!!”

“Aku minta waktu dua hari untuk menjawabnya….” Jawabku lagi.

“Dan jawaban apa yang akan kau kasih??”

“Wo bu zi dao (aku tidak tahu)…” Aku menggidikkan bahuku.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Sungguh! Aku tidak mengertiiii!!!” Seu Chi bercerita pada Tao.

“Maksudmu?” Tanya Tao.

“Ah! Aku lupa! Tao kan tahunya aku pacaran dengan Yifan.” Batin Seu Chi.

“Annii~”

“Tao!” Pemilik nama itu pun menoleh.

“Aaarrrgghh!!! Tidak bisa kah sehari saja tidak muncul dihadapanku???!!!” Batin gadis itu.

“Aku hanya mau mengantar ini.. Mom menitipkan ini tadi untuk ibumu.” Ujar Yifan

“Oh, ne.. Thanks, ge..”

“Oh ya, bagaimana kemmo yang kau jalani?”

“Banyak kemajuan, ge… Walau pun… Kepalaku jadi seperti ini…”

“Model rambut baru?” Tanya Yifan yang menahan tawanya.

“Kau menyindirku? Tidak ada rambut, kau tahu ge!”

Sekilas, Yifan melirik pada Seu Chi yang berdiri di belakang Tao. Namun, gadis itu hanya mengalihkan pandangannya.

“Kalau begitu, aku pulang dulu ya…” Ujar Yifan. “Atau, kalian mau ikut?” Lanjut Yifan lagi.

“Tidak, xie-xie, gege… Aku bawa motor…”

“Kau ini, masih saja mengendarai motor sendiri..” Ujar Yifan.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Chi…??”

“Neee??” Teriak gadis itu dari dalam yang kemudian membukakan pintu kamarnya.

“Wae, ge?”

“Kau sedang apa?” Tanyanya pada gadis yang hanya memakai hotpants dan juga t-shirt yang besar hingga menutupi paha atasnya.

“Tidak sedang apa – apa. Hanya baca buku saja…” Jawab Seu Chi yang kemudian melepas kacamatanya.

“Di bawah…ada Yifan.”

“WHAT?!!” Luhan segera membekap mulut adiknya yang berteriak.

“Ssstt kau ini…. Kau bisa menyinggungnya, tahu!” Luhan berbisik pada Seu Chi. Ia kemudian perlahan melepaskan tangannya dari mulut adiknya.

“Ma.. Mau apa dia ke sini?” Tanya Seu Chi.

“Menagih janjimu mungkin? Ini bahkan sudah hampir seminggu kau menggantung kelanjutan hubungan kalian. Sebenarnya ada apa denganmu? Kau menghindarinya?”

“Ge.. Aku… Aku tidak mengerti apa yang kurasakan… Di satu sisi, aku merasa nyaman dengannya. Tapi… Aku kesal melihatnya jalan dengan seorang wanita saat jam makan siang..”

“Well, kau sudah jatuh ke tangan dia, Chi!” Ujar Luhan.

“Maksud gege?”

“Kau sudah jatuh cinta dengannya.”

“Zhen de ma (benarkah)?!!”

“Aiqing, yige ci keyi rang ni zai yige butong de shijie (cinta, satu kata yang bisa membuatmu berada di dunia yang berbeda). Kurasa kau sudah terlalu sibuk dengan kepastian perasaanmu sendiri…” Ujar Luhan.

“Cha! Sebaiknya, kau temui dia saja!” Ujar Luhan.

“Ta..tapi ge… Bajuku…”

“Tumben sekali kau memikirkan penampilan…” Ujar Luhan dengan nada selidik.

“Gege.. Aw…” Luhan menarik Seu Chi dari kamarnya dan mendorongnya ke dekat tangga.

“Turun.. Ppali…”

“Gege…”

“Ppali..” Ujar Luhan lagi.

“Ck! Ne.. Ne..” Ujar Seu Chi malas.

Dan akhirnya, ia menemui pria itu yang sudah berada di ruang tamu rumah yang terbilang mewah itu.

“Hng… Hi..” Sapa Seu Chi yang canggung.

“Kau sibuk malam ini?” Tanya Yifan tanpa membalas sapaan Seu Chi.

“Ng… Tidak… Wae?”

“Okay, kalau begitu kau siap – siap sekarang. Kita akan keluar malam ini.” Ujar Yifan lagi.

“Mwo?! Ta.. Tapi.. Ge..”

“Luhan, maksudmu?” Potong Yifan. Seu Chi hanya diam. “Aku sudah bilang padanya, untuk mengajakmu keluar. Sekarang, cepatlah siap – siap..” Sambung Yifan lagi.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Kenapa dari tadi Yifan cuek denganku? Dari saat menjemputku, sampai sekarang, dia jarang bicara. Lebih baik aku diomelinya dari pada dia diam seperti ini… Dia lebih menakutkan!

“Kajja, turun…”

“Hhm?” Aku menoleh padanya.

“Turun.. Sudah malam.. Kau harus makan kan?”

“Dia mengajakku ke sini bukan untuk makan malam di luar kan?” Pikirku.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Jadi apa jawabanmu?” Tanya Yifan di saat ia sudah menyelesaikan makan malamnya.

“Jawaban apa? Sedari tadi kau tidak bicara apa pun.” Jawab Seu Chi.

“Mungkin ucapanku seminggu yang lalu sudah menguap dari pikiranmu.”

“Uhuk! Uhuk!” Gadis itu tersedak saat Yifan kembali menyinggung pernyataan cintanya yang masih digantung oleh Seu Chi.

“Kenapa kau bertanya soal itu tiba – tiba?” Ujar Seu Chi gusar.

“Tiba – tiba? Kurasa tidak. Kau menyuruhku menunggu dua hari. Dan hari ini bahkan sudah seminggu.”

“Jadi kau marah denganku?” Balas Seu Chi.

“Bu shi (tidak). Aku hanya bertanya.”

Gadis itu hanya membisu. Ia menyapukan serbet makannya untuk membersihkan sisa makanannya di bibirnya sebelum meminum orange juicenya.

“Baiklah, kita pulang sekarang.” Ajak Yifan yang beranjak dari duduknya.

“Aneh sekali dia… Tadi menuntut jawaban. Saat aku mau menjawab, dia pergi. Ish!!” Gerutu Seu Chi kesal.

“Kau mau pulang tidak?” Ucapan Yifan membuyarkan pikiran Seu Chi yang masih duduk.

Gadis itu langsung beranjak dari duduknya. Dan entah kenapa ia tiba – tiba memeluk pria itu dari belakang saat mereka berada di depan restaurant itu.

“Kau kenapa, Chi?” Yifan ingin melepaskan tangan gadis itu dan berbalik.

“Andwaee!!” Larang Seu Chi.

“Mwo? Wae?” Tanya Yifan.

“Jangan lihat!” Ujar Seu Chi lagi. Ia mengeratkan kedua tangannya memeluk pria itu. Sudah pasti senyum kemenangan Yifan terlihat di bibirnya.

“Kau jatuh juga, akhirnya..” Batin Yifan.

“Okay… Let me guess..” Ujar pria yang kini menangkupkan tangannya di atas tangan gadis itu.

“Wajahmu mungkin sekarang sudah memerah seperti menu udang yang tadi kau makan. Dan yang kau lakukan saat ini adalah menutup matamu menahan malu karena kau memelukku lebih dulu…” Lanjut Yifan.

“Yaaa!! Jangan kau perjelas seperti itu!” Gadis itu memukul ringan punggung pria itu hingga pelukannya terlepas. Di kesempatan itu, Yifan membalikkan tubuhnya menghadap gadis itu.

“Kyaaa!! Jangan lihat! Jangan lihat!” Gadis itu berusaha menutupi mata pria itu. Namun karena postur tingginya yang lebih rendah dari pria bermarga Wu itu, membuat kedua tangannya tidak sampai di mata pria itu.

“Sampai kapan pun kau tidak bisa menutup mataku, agasshi…” Yifan dengan mudahnya menangkap kedua tangan gadis itu.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Tidakkah kau tahu perasaanku ini sesungguhnya?” Itu adalah kalimat yang kubaca dari status jejaring sosial milik Tao.

“Yifan, baca ini..” Aku menunjukkan layar ponselku padanya.

“Kau mau kita pulang ke rumah sakit atau pemakaman?”

“Yaa!! Kenapa kau bicara seperti itu??” Menyebalkan! Kupukul saja lengannya.

“Apa kau tidak melihat kalau aku sedang menyetir? Bacakan saja… Aku masih punya telinga sehat, Chi…”

“Isshh~~ Ini statusnya Tao..”

“Tao? Oh…” Ujarnya singkat.

“Hanya itu?”

“Apa lagi memang?” Tanya Yifan balik.

“Aaarggh! Lupakan! Kurasa Tao sedang jatuh cinta dengan seseorang.. Syukurlah…”

“Kau senang?”

“Tentu!” Jawabku riang.

“Karena perasaanmu terbalas?”

“Hhm? Maksudmu?” Tanyaku balik.

“Cintamu terbalas kan?”

“Jadi maksudmu, kau mau kita…”

“Putus?” Tanyanya. Tapi kemudian ia menunjukkan senyumannya yang menyeramkan. “Kupastikan kau tidak akan bisa mengucapkan kata itu, Chi.. Kau terlalu cinta denganku.” Lanjutnya.

“Yaaa!!! Kau!!” Aku terus memukulinya sementara ia hanya tertawa puas.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Jadi kau pacaran dengannya?!!” Luhan terkejut saat Seu Chi menceritakan kelanjutan hubungannya dengan Yifan sesaat setelah ia pulang diantar pria itu.

“Aku sendiri juga tidak mengerti bagaimana ini bisa terjadi.”

“Haaahh~~ Sudah kuduga kalian akan memiliki hubungan.. Lalu bagaimana dengan pernikahan?”

“Gege! Aku baru saja beberapa jam menjadi kekasihnya. Masa langsung menikah?”

“Why not?” Balas Luhan.

“Aarrghh~ Aku tidak mau memikirkan itu dulu.” Jawab Seu Chi.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Di saat yang sama, saat Yifan ke rumah Tao untuk menginap, Tao sedang berada di ruang tengah menonton tv.

“Kau belum tidur?” Tanya Yifan.

“Belum ge.. Kau dari mana?”

“Dari rumah Seu Chi..”

“Gege… Kau benar – benar pacaran dengan Seu Chi?”

Yifan ke dapur dan menuangkan air mineral ke dalam gelasnya. “Ne.. Wae?” Tanya Yifan setelah minum.

Tao beranjak dari duduknya dan berjalan menuju dapur menghampiri Yifan. “Wo ai ta (aku mencintainya).” Yifan langsung terdiam mendengar ucapan Tao.

“Too late.. Dulu kau menyia-nyiakan cintanya. Kau tahu itu kan? Dan sekarang saat dia sudah berhasil menutup lembaran lamanya, kau datang untuk membuka lembaran lama itu lagi?” Ujar Yifan.

“Bukan itu maksudku.. Aku hanya mau memberitahumu saja… Kalau Chi lebih memilihmu, aku terima itu.”

“Lebih baik kau mengatakan ini padanya. Biar dia yang memilih lagi satu diantara kita.” Jawab Yifan yang meninggalkan Tao.

“Oh, jangan tidur terlalu larut. Tidak baik untuk kesehatanmu, Tao.” Pesan Yifan.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Chi.. Kau mau kemana? Terburu – buru sekali kau…” Tiba – tiba Tao memanggilku saat di kampus.

“Hng? Aku…”

“Bisa kita bicara dulu?” Potong Tao.

“Uhm.. Aku…”

“Sebentar saja…”

“Baiklah…” Jawabku. Tao kemudian membawaku ke taman belakang kampus. Di sebuah bangku pahatan dari semen lah, kami kini duduk ditemani semilir angin dari lapangan hijau di hadapan kami.

“Tao, wae?” Tanyaku. Kemudian ia menarik napasnya dan menghembuskannya. Entah kenapa dia?

“Chi… Aku…” Aku menunggu ucapannya. Apa sih yang mau dia katakan?

“Aku…”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Tiba – tiba saja lantunan music klasik dari ponsel Seu Chi membuyarkan semuanya. Gadis yang menyukai music klasik ini langsung mengeluarkan ponselnya dari dalam tasnya.

“Ne?” Jawab Seu Chi. Sementara Tao hanya mendengus kesal karena rencananya gagal.

“Oh, ne.. Nanti kuberitahu dia..” Ujar Seu Chi.

“Mwo? Kau mau menyusul ke rumah sakit?”

“Baiklah… Kita akan ke sana…” Ujar gadis itu mematikan ponselnya.

“Nugu?” Tanya Tao.

“Yifan.. Dia mengingatkanmu jadwal terapi… Ayo ke rumah sakit..” Ajak Seu Chi.

“Ne…” Jawab Tao yang beranjak dari duduknya.

“Aaa!! Chakkaman!” Ujar Seu Chi.

“Mwo?” Tanya Tao menaikkan sebelah alisnya.

“Tadi kau mau bilang apa?”

“Ah, bukan sesuatu yang penting… Kajja…” Ajak Tao.

“Bohong! Kau tadi seperti buru – buru..”

“Anni.. Aku hanya ingin mengerjaimu saja!” Tao tertawa dan berlari meninggalkan gadis itu.

“Yaa!! Jahat! Kemari kau, kung fu panda!!” Kejar Seu Chi.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Kajja kita pulang, Chi…” Ajak Yifan setelah selesai menemani Tao terapi.

“Ne…”

Tapi kemudian, tangan Tao menahan tangan Seu Chi. “Kau pulang denganku.” Ucapnya. Yifan menoleh dan menatap Tao tajam.

“Kau lebih baik pulang saja, kau baru terapi kan? Lagi pula supirmu sudah menunggumu sedari tadi di lobby.” Ujar Yifan.

“Tidak. Chi harus pulang denganku.” Ujar Tao.

“Kenapa kau keras kepala?” Ujar Yifan.

“Karena aku menyukainya! Aku mencintainya, dan kau tahu itu, gege!!” Namun kemudian Tao menutup mulutnya. Seu Chi tak kalah kaget mendengar ucapan Tao.

“Duibuqi, aku kelepasan.” Ujar Tao yang kemudian pergi meninggalkan mereka.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Tao mencintaiku? Tidak mungkin…

“Kejarlah… Dia sudah menyatakan perasaannya padamu.” Ujar Yifan di sebelahku. Aku sedih saat Yifan mengucapkan itu. Seolah aku menjadikannya pelarianku saja.

“Chi, apa lagi yang kau tunggu?”

“Wo bu you (aku tidak mau).” Jawabku memeluk lengan Yifan.

“Weisheme (kenapa)?”

“Tidak kah kau menyadarinya?” Aku mendongakkan kepalaku dan menatap Yifan dengan perasaan yang sedikit kecewa.

“Chi…kau…”

“Cukup!” Potongku. “Aku benar – benar mencintaimu. Tapi kau menyuruhku kembali dengan Tao. Apa mau mu, Yifan?!!” Aku langsung berlari meninggalkannya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Chi..!! Chi..!!” Pria itu mengejar gadis bermarga Xi itu hingga ke lobby.

“Chi, chakkaman!” Diraihnya tangan gadis itu untuk menahan langkahnya.

“Lepaskan! Lepaskan aku!” Seu Chi meronta bahkan memukuli Yifan.

“Shireo…” Yifan masih tetap memegangi tangan gadis itu.

“Lepaskaan!!!” Dengan cepat, Yifan menarik gadis itu ke dalam pelukannya, memeluknya erat, sembari mengusap kepalanya.

“Duibuqi (maafkan aku)… Aku hanya tidak mau menghalangimu jika kau mencintainya..” Ujar Yifan mencium puncak kepala Seu Chi.

“Aku tidak mencintainya…” Ujar Seu Chi. Yifan mendorong bahu gadis itu dan melonggarkan pelukannya untuk menatapnya. “Aku….” Ucapan gadis itu terpotong saat Yifan mencium bibirnya.

“Aku tahu apa yang akan kau ucapkan…” Ujar Yifan kemudian yang membuat kedua pipi gadis itu merona.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Gege kurang ajar! Aku yang berteman denganmu sejak kecil, kenapa dia yang menikah denganmu?!!” Aku mendengarkan Tao yang mengumpat kesal di hari pernikahanku. Pernikahan? Ya, pernikahan. Aku hari ini menikah dengan Wu Yifan yang tidak lain masih saudara dari Tao. Aku cukup kaget dengan pernyataan cinta Tao beberapa bulan yang lalu. Tapi kini, cintaku sudah bertumpu pada pria bermarga Wu. Cukup susah untuk meminta izin pernikahan kita pada Tao karena dia masih memiliki rasa denganku, tapi akhirnya ia mengizinkan kami menikah setelah membuat perjanjian dengan Yifan.

Tok! Tok! Tok! Aku menoleh ke arah pintu saat mendengar ketukan pintu. Begitu juga dengan Tao dan beberapa stylist untukku. “Masuk saja..” Ucapku.

“Eonnii~~~” Seorang gadis menghambur padaku.

“Aaa~~ Yeppeudaaa!” Serunya. Sejenak ia kemudian melirik Tao di sebelahku. “Ya! Ya! Ya! Kenapa kau masih di sini? Aku sudah menelponmu berkali – kali tapi kau tidak menjawabnya!” Gadis itu kemudian menarik telinga Tao.

“Cha.. Chagi.. Appoo~~” Haah… Mereka selalu saja bertengkar. Pasangan yang aneh! Park Gi Na, seorang wanita yang berhasil membuat Tao sedikit bersemangat menjalani hidupnya setelah mendengar kabar pernikahanku. Dia juga perawat yang menangani Tao di rumah sakit.

“Aigooo~~~ Lebih baik kalian keluar sana. Pusing aku mendengar kalian, tahu!” Omelku.

“Chi? Kau sudah selesai?” Aku mengalihkan tatapanku pada pria dengan setelan jas hitam yang berada di ambang pintu. Astaga! Apa ini bukan mimpi? Kenapa… Oh tidak! Aku gila!

“Chi..? Hey!” Pria itu menjentikkan jarinya di hadapanku. Entah sejak kapan dia sudah ada di hadapanku?

“Kau terkesima melihat kakakmu sendiri?” Tanyanya.

“Luhan gege!! Kau tampan sekali!” Seruku yang memeluknya.

“Aku memang sudah tampan dari dulu, Chi..” Dia menepuk pelan kepalaku.

“Uung~ Gege..” Aku sedikit merajuk dengannya.

“Kajja, kita turun. Appa dan Yifan sudah menunggu…”

“Ne, gege…” Jawabku tersenyum.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Prosesi pernikahan yang berlangsung dengan khidmat dan meriah itu sudah dilaksanakan. Sekarang, pasangan pengantin baru itu sudah kembali ke rumah. Ke rumah Yifan lebih dulu sebelum mereka menempati rumah yang sudah disiapkan Yifan untuk mereka berdua.

“Yeobo, tidak bisakah kau diam sedetik saja?”

“Tidak bisa! Aku harus membereskan baju-bajuku, Yifan…”

“Haah~ Itu bisa kau bereskan besok.”

“Aku besok mau istirahat.”

“Kau tidak bisa istirahat untuk tiga hari ini, nyonya Wu…” Yifan menarik Seu Chi ke ranjangnya yang besar.

“Yaaa!! Andwae! Andwae!”

“Kau mau berteriak seperti apa pun juga mereka tidak akan menolongmu.” Yifan sudah memenjarakan tubuh Seu Chi di bawahnya.

“Yaaakk!!! Dasar mesum kau!!!”

“Don’t care baby.. Let’s making hot tonight~”

THE END

12 tanggapan untuk “Secret Love”

  1. Kirain bakalan sad . Tapi enggak ternyata *sujud sukur ๐Ÿ˜€
    Sweet bgt, panjang lagi . Brapa word yah ini? Tapi suka lah! Suka bgt :D.

  2. huaa kirain sad end. aku suka ceritanya, kukira Tao bakal meninggal.
    tapi buat penulisan bahasa mandarin (pinyin) nya harusnya author pake tanda nada. misalnya, bushi, harusnya jadi bรน shรฌ. biar sesuai aturan penulisan pinyin aja gitu..hehe
    maaf ya aku bawel ๐Ÿ™‚

  3. waktu baca bagian Tao kena kanker,mikir kalau bakal sad ending tapi ternyata happy ending walaupun enggakbener2 “happy ending” buat Tao,pokoknya keren ceritanyaa ^^

  4. Sebelumnya aku udh pernah baca d’blog pribadi eonni,, tapi, aku suka ceritanya…!! Gk bosen2 ngulangi ceritanya…!! Daebak deh pokoknya!!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s