The Exo Planet and Goddess History (Chapter 1)

cover

 

  • Tittle/judul fanfic: The Exo Planet and Goddess History (Chapter 1)
  • Author: angelinblack
  • Length: multichapter
  • Genre: Fantasy, Romance
  • Rating: PG
  • Main cast & Additional Cast: Aeru (OC), EXO’s members
  • Disclaimer: Pernah di publish di blog author sendiri angelinblack.wordpress.com (silahkan berkunjung)
  • Author’s note: Halo readers, udah pada baca A Desperated Bride? Nah ini lanjutannya. Semoga readers semua senang. Emang nggak nyambung-nyambung bgt sama cerita sebelumnya, karena ini emng bener-bener “lanjutannya”. Hihi

*one*

Laki-laki itu berlari kecil menyusuri pantai di bawah rintikan hujan. Ia membawa sebuah layangan di tangannya dan mengeluh pelan. “Seharusnya, tidak pernah ada hujan turun di daratan ini…”

Hujan semakin deras. Ia memutuskan untuk berlari dan meletakkan layangan di atas kepalanya untuk menghindari hujan. Petir mulai menyambar, ia bergumam lagi, “Akan kuhajar ia sesampainya di rumah nanti!”. Di lompatinya beberapa karang kecil di hadapannya, sampai akhirnya ia menemukan karang sebesar pohon apel di bagian barat pantai. Ia menengadah, menatap ke atas karang besar tersebut, mencari seseorang. Sayangnya, tidak ada seorangpun di atas sana.

“Aneh sekali…”alisnya berkerut kecil. Petir menyambar lagi, ia menghela nafas dan memutuskan untuk berlari melewati karang itu kembali ke ke tempat tujuannya semula, Rumah. Cuaca tidak baik, sangat tidak baik. Hujan tidak turun deras, tapi lautan seolah-olah terhantam badai yang besar. Langit gelap dengan petir menyambar-nyambar, ombak yang bergulung tinggi menghantam deretan karang di tepian pantai. Pasti ada yang salah, firasatnya memberikan sinyal buruk ke dalam hatinya. Tidak, ia tidak bisa memastikannya sendiri, ia harus segera pulang ke rumah dan berbicara dengan yang lainnya. Ya, harus!

Ombak setinggi 2 meter menghantam karang di sampingnya. Laki-laki itu memejamkan matanya kesal, percikan air dari ombak tersebut menghantamnya dan membuatnya basah kuyup, juga merusak layangannya. Kesal, di lemparnya layang tersebut saat ombak besar kembali menghantam. Ia terdiam, ombak itu tidak datang sendiri. Sesuatu ikut terseret bersamaan dengan ombak tersebut dan menghantam karang. Penasaran, ia berjalan memutari karang, dan benar saja! Sesuatu, bukan, seseorang tergeletak di tepi karang. Seorang perempuan berambut hitam panjang, mengenakan gaun putih yang sudah robek disana-sini. Darah mengucur dari pelipis perempuan itu.

Panik, laki-laki itu berlari menghampirinya dan membalikkan tubuh perempuan tersebut. Sebuah kalung emas dengan batu merah besar bersinar menyolok matanya. Sedikit terjatuh mundur, di tekannya kepalanya yang mulai terasa pening. Bukan, ini bukan karena karena cahaya dari kalung tersebut yang membuatnya pening. Perempuan itu, keadaan ini, tempat ini, menghantarkannya pada dejavu samar yang bahkan tidak bisa di temukannya dalam memorinya. Perempuan itu, ia harus membawanya pulang, temannya bisa menyembuhkannya.

“Baiklah…”ia bergumam pelan. Sebelah matanya masih tertutup menahan pening di kepalanya. Ia berdiri dan mengulurkan tangannya ke arah perempuan tersebut. Sedikit menggerakkan jemarinya, tubuh perempuan itu mulai terangkat melayang. Siapapun perempuan ini, ia bukan manusia biasa. Ya, tidak pernah ada manusia yang menginjakkan kaki di daratan ini sebelumnya. Perempuan ini adalah yang pertama.

***

                Hangat. Aeru mengerutkan alisnya pelan. Hangat, ia merasakan sinar yang sangat hangat menyentuh tubuhnya. Sayup-sayup terdengar suara kicauan burung yang sangat merdu. Angin semilir membelai bagian kanan wajahnya dengan lembut. Disinikah? Sudahkah? Sudahkah ia berada di syurga? Jadi, beginikah rasanya mati? Tidak seburuk yang dipikirkannya, rasanya justru tentram dan damai.

“Bagaimana? Ia sudah tidak apa-apa?”samar terdengar suara berat seseorang tak jauh darinya.

Seseorang di sebelahnya menghela nafas panjang. “Butuh beberapa kali pengobatan lagi, aku tidak yakin dengan luka dalamnya…”. Hening, Aeru merasakan cahaya hangat yang sedari tadi menyinarinya menghilang. Suara langkah yang menghilang, ia kembali mengerutkan alisnya, memaksa kedua kelopak matanya terangkat.

Silau. Di gerakkannya tangannya menutupi kedua matanya. Perlahan, dipaksanya tulang punggungnya untuk berdiri tegak menahan tubuhnya. Ia mengerjapkan kedua matanya lagi, sebelum akhirnya kedua matanya itu benar-benar terbuka.

Tidak, ia salah. Ia tidak berada di syurga, ia belum mati. Ia menemukan dirinya berada di atas ranjang kayu putih besar, mengenakan gaun cream panjang, di sebuah kamar kecil yang rapih. Angin bertiup lagi. Ia menoleh ke kanannya dan mendapati sebuah jendela besar terbuka. Ragu, disingkirkannya selimut tebal yang menutupi separuh tubuhnya dan berjalan menuju jendela.

Hamparan lautan dan pantai yang indah terpampang jelas di hadapannya. Ia memejamkan matanya dan menarik nafas dalam-dalam, udaranya terasa sangat segar untuk daerah pesisir seperti ini. Tunggu dulu!! Pantai?!! Teringat sesuatu ia menatap lengannya dan menyibak sedikit gaunnya dan menatap kedua kakinya. Tidak ada luka! Tunggu dulu! Bagaimana bisa tidak ada luka di tubuhnya sama sekali?! Seingatnya, terakhir kali ia berdiri di atas karang curam dan melompat bunuh diri. Bagaimana, bagaimana ia bisa terlihat baik-baik saja sekarang ini?! Juga, pakaiannya! Dimana gaun pengantin yang seharusnya ia pakai?!

Jadi, dimana ia berada sekarang ini?! Ia menoleh keluar jendela, sebuah pohon palem menjulang tinggi di sebelahnya. Dilihatnya ke semenanjung pantai dengan seksama. Ia yakin, ini sama sekali bukan pantai selatan Australia, tempatnya seharusnya berada. Ah ya! Bagaimana jika orang tuanya tidak menemukannya berada di rumah pagi ini? Tidak! Ia harus segera menemukan telfon dan mengabari orang tuanya bahwa ia baik-baik saja dan akan segera pulang. Aiissh, apa yang dipikirkannya semalam, hingga memutuskan untuk terjun dari atas karang?! Bodoh sekali!

Ia berlari kecil keluar kamar dan menemukan koridor kosong dengan banyak lukisan terpasang di dindingnya. Ia berjalan sambil menatap lukisan itu satu-persatu, semuanya bergambar unicorn. Selera yang aneh menurutnya, tapi semua lukisan itu terlihat nyata, seolah-olah pelukisnya melukis langsung unicorn itu. Padahal, tidak ada makhluk yang bernama unicorn sama sekali di dunia ini, kecuali ini dunia yang berbeda.

Sedikit terkekeh, ia menemukan sebuah ruangan besar di ujung koridor tersebut. Ruangan ini seluruhnya di tutupi kubah kaca besar yang dapat membuatnya melihat pemandangan dan langit di luar secara langsung. Beberapa teleskop dengan berbagai ukuran di letakkan sembarang, disudut ruangan terdapat lemari buku besar yang di sebelahnya terdapat gulungan-gulungan kertas seperti lembar-lembar perkamen kuno yang sudah lusuh. Beralih ke sebelah kirinya, ia menemukan tangga menuju lantai bawah dan satu set sofa dengan meja kopi yang besar berbentuk lingkaran di tengahnya. Tidak ada tellfon disana, mungkin di lantai bawah ada. Jadi, ia kembali melangkahkan kakinya menuju tangga dan sedikit melirik meja kopi besar saat melewatinya. Ada pola unik di atas meja tersebut yang seperti melambangkan kordinat dan titik kecil yang sering di lihatnya di navigator kapal milik temannya.

Perlahan, ia berjalan menuruni tangga. Matanya menyusuri ruangan di bawahnya yang terlihat seperti dapur modern yang minimalis dan ruang makan yang rapih. Tidak ada orang disana dan ia juga tidak menemukan telfon disana. Di kanan dan kirinya terdapat koridor yang entah menuju kemana, tapi di belakangnya sebuah pintu kaca geser sepanjang tembok terbuka lebar, membawa angin laut segar masuk ke dalam. Mungkin, sebaiknya ia menunggu si pemilik rumah muncul dan menanyakan apakah ia bisa meminjam telfon atau tidak. Berkeliaran seperti ini di rumah orang lain sendirian rasanya sangat tidak sopan untuk dilakukan.

Kembali, ditatapnya hamparan pantai dan lautan di hadapannya lagi. Sebuah petir menyambar dengan cepat menuju ke hamparan karang di sisi kanannya. Tergoda, untuk mencari tau, ia berlari kecil menuruni tangga di tepi pintu kaca yang membawanya turun langsung dari lantai 2 menuju dataran di bawahnya. Rerumputan kecil tumbuh di bawah kakinya, ia baru sadar kalau kakinya sama sekali tidak beralas, tapi petir itu menyambar lagi, membuatnya berlari ke arah petir itu berlabuh. Terang saja petir itu membuatnya begitu penasaran, langit sangat cerah dan biru hari ini, bagaimana bisa ada petir menyambar lebih dari sekali dan jatuh di tempat yang sama?

Ia tiba di deretan karang, tempat petir itu menyambar. Kakinya sedikit lecet, tapi rerumputan kecil di bawahnya membuatnya tidak terluka terlalu parah. Petir itu menyambar lagi, kali ini tepat ke balik karang besar di hadapannya. Tanpa pikirkan panjang ia berlari memutari karang tersebut tepat saat petir itu menyambar lagi dan seorang laki-laki berdiri tepat di bawahnya.

“AWASSS!!!!”teriaknya memperingati laki-laki itu. Laki-laki itu menoleh, dan ajaibnya, petir berhenti menyambar. Itu bukan hal penting untuk di pikirkan sekarang ini! Yang penting, ia harus menyelamatkan laki-laki itu sebelum petir kembali menyambar.

“Jangan berdiri disana, cepat berlindung ke dalam rumah!!”ia berlari menghampiri laki-laki itu dan menariknya pergi, menjauh dari deretan karang tersebut menuju pantai yang lebih terbuka di dekat rumah.

“Aisshh! Kau ini, kau tau petir itu berbahaya atau tidak, sih!!”Aeru menghentikan langkahnya, menarik nafas panjang, dan mengomeli laki-laki yang masih di gandengnya itu.

“A…”laki-laki itu terdiam menatap Aeru, kemudian tersenyum. “Tidak ada yang bebahaya…”sahutnya.

“Hah?”Aeru mengerutkan alisnya bingung. Di tatapnya laki-laki itu dari atas kebawah. Selain bulu rubah hitam yang menempel di sebelah kiri bahunya, tidak ada yang aneh dari pakaiannya. Ya, setidaknya ia tau laki-laki itu bukan semacan suku pedalaman yang menghuni tempat ini.

“Kau mau melihatnya lagi??”laki-laki itu mengalihkan pandangannya menuju langit biru dan mengangkat tangannya tinggi. Tak lama kemudian, sebuah petir menyambar lagi, tepat ke arah tangan laki-laki itu, tapi laki-laki itu tidak tersambar sama sekali. Ia, seolah-olah, mengendalikannya.

“Tidak apa-apa, bukan?”laki-laki itu kembali menatap Aeru dan tersenyum.

“A… Aku…”Aeru menggelengkan kepalanya pelan. Menyadari tangannya memeluk erat sebelah lengan lelaki itu, ia buru-buru melepasnya dan terbatuk pelan. “Maafkan aku…”

“Tidak apa-apa… Mungkin aku membuatmu kaget…”laki-laki itu, masih tersenyum, menunjukkan tangannya yang tersambar petir tadi pada Aeru. Sebuah cincin kalajengking besar terpasang di jari manisnya, yang membuat Aeru mengerutkan kedua alisnya lagi. “Aku mengendalikan petir…”

“Hah?”Aeru melongo kaget. “Jangan bercanda…”ia terkekeh pelan. Ia tau laki-laki itu tidak sedang bercanda padanya, mengingat ia membuat petir menyambarnya tadi. Tapi, hal takhayul macam ini, bukanlah hal bisa kau percaya sekali mendengarnya, bukan?

Laki-laki itu terkekeh pelan. “Kau perempuan yang di temukan Luhan kemarin, bukan? Aku Chen..”ia menyodorkan tangannya pada Aeru. “Tenang saja, kau tidak akan tersambar…”tambahnya melihat ekspresi ragu Aeru untuk menjabat tangannya.

“Hehehe…”Aeru tersenyum ramah dan menjabat tangannya. “Aeru, panggil saja begitu…”. Seekor kupu-kupu tiba-tiba muncul, Aeru menatapnya, dan kupu-kupu itu hinggap di kepalanya. Kupu-kupu itu mengibaskan sayapnya, menaburkan serbuk emas aneh di kepalanya dan tiba-tiba sebuah mahkota terbuat dari bunga matahari muncul di kepalanya.

“Ini juga, kekuatanmu?”Aeru menatap Chen sambil menunjuk mahkota di kepalanya.

Laki-laki itu terdiam, sepertinya ia juga kaget, tapi kemudian ia kembali tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Tidak, itu bukan aku. Sepertinya Mother of Planet menyukaimu…”

“Siapa?”Aeru mengerutkan alisnya lagi.

“Mother of Planet, dewi yang menyertai planet ini..”

“Ah? Hahaha…”Aeru tertawa garing. Ya, ia sama sekali tidak mengerti sama sekali apa dikatakan pria itu padanya. Ini mimpi, pasti ia sedang bermimpi! Ia meraih pipinya dan mencubitnya keras-keras. “Aaaa!!”teriak menahan sakit. Di pegangnya sebelah pipinya yang membengkak dan memerah, jadi ini bukan mimpi. Tapi, bagaimana? Bagaimana menjelaskan petir tadi dan mahkota yang tiba-tiba muncul di kepalanya ini?! Bagaimana?!

“Sayang sekali kalau kau menyakiti dirimu seperti itu, ini bukan mimpi…”Chen meraih tangan Aeru yang memegangi pipinya yang memerah dan menariknya. Ditatapnya pipinya yang membengkak itu dan tersenyum. “Tenang, Yi Xing pasti bisa menyembuhkanmu…”

“Yi Xing?”Aeru mengerutkan alisnya pelan. Siapa lagi Yi Xing itu? Apa dia semacan dokter atau tabib disini?!

“Ya… Itu dia…”Chen menunjuk ke arah belakang Aeru dengan dagu.

Aeru menoleh dan menemukan seseorang dengan jas putih berjalan ke arah mereka. Laki-laki itu membawa botol kristal kecil di tangannya. Ia menoleh dan berhenti saat bertemu mata dengan Aeru. Wajahnya terlihat kaget.

“Kau…”ia menunjuk ke arah Aeru pelan. Belum sempat ia menghabiskan kalimatnya, laki-laki lain berambut pirang kotor muncul di belakang dan menepuk bahunya, membuat menoleh ke belakang kaget.

“Ayo…”Chen tersenyum dan mengajak Aeru berjalan mendekati kedua lelaki itu. “Ketua…”ia membungkukkan badannya pada laki-laki berambut pirang dan melambaikan tangannya sedikit pada pria berjas putih. “Hai, Yi Xing…”sapanya.

“Kau…”Yi Xing beralih menatap Aeru. “Bagaimana kau bisa berada di sini? Maksudku, kau baik-baik saja??”

“Aku?”Aeru menunjuk ke arahnya sendiri dengan bingung. “Apa aku terlihat sakit? Aku baik-baik saja…”

“Lalu, pipimu?”

“Ah, ini… Ini salahku…”Aeru terkekeh pelan sembari mengelus sebelah pipinya yang bengkak.

“Ini Yi Xing. Dia yang mengobati semua lukamu kemarin, kurasa pipimu juga harus di obati…”Chen memperkenalkan Yi Xing, kemudian ia beralih ke laki-laki yang di panggilnya ‘Ketua’ tadi, “Ini, ketua kami Kris…”

“Oh…”Aeru mengangguk pelan. “Aku Aeru…”sahutnya ramah.

“Kurasa sebaiknya kita masuk ke dalam dan membiarkan Yi Xing memeriksamu.”Kris menatap Aeru dengan tatapan datar. Chen, membawa Aeru masuk ke dalam di ikuti Yi Xing di belakang. Kris menghela nafas panjang dan menatap perempuan itu dari atas ke bawah. Alisnya berkerut pelan. “Perempuan ini….”

Chen mempersilahkan Aeru duduk. Yi Xing berdiri di sebelahnya, menyentuhkan tangannya pada pipi Aeru dan membelainya pelan. Sekali lagi, Aeru merasakan sinar yang hangat mengenai tubuhnya lagi. Dan saat Yi Xing melepas tangannya dari pipinya, bengkak itu menghilang. Tidak ada bekas apapun, persis kembali ke bentuk normalnya. Jadi lelaki ini benar-benar seorang tabib?

“Bagaimana kau…”Aeru menatap pantulan dirinya dari cermin yang di berikan Chen dan menatap Yi Xing dengan wajah kaget. Lagi-lagi, satu keanehan terjadi lagi padanya. Jadi, laki-laki ini yang menyembuhkan lukanya akibat terjun dari tebing semalam? Bagaimana bisa tidak ada bekasnya sama sekali?! Ini membingungkan!

“Kekuatannya adalah healing..”jelas Kris yang baru masuk ke dalam rumah. Ia menatap Yi Xing dengan tatapan tajam dan memberi perintah dengan isyarat mata.

“Baiklah…”Yi Xing mengangguk. “Biarkan aku memeriksamu…”ujarnya pada Aeru sebelum akhirnya menempelkan kedua telapak tangannya pada punggung perempuan itu. Menyadari sesuatu, matanya membulat kaget. Di lepasnya kedua tangannya dari punggung Aeru dan di alihkannya pandangannya pada Kris. Lagi-lagi mereka seolah-olah berkomunikasi melalui pandangan mata.

“Ah!!”Aeru menepuk dahinya pelan. Ia teringat sesuatu. Dibalikkan badannya menghadap Kris yang memantulkan siluet sempurna ke lantai ruangan. “Apa aku bisa meminjam telfon? Aku harus menelfon ibuku…”

“Telfon?”Chen mengerutkan alisnya menahan tawa.

“Disini tidak ada telfon”Kris menjawab singkat.

“Kalau begitu, kau ada ponsel?”tanya Aeru lagi.

“Kami tidak punya ponsel”sahut Yi Xing kemudian.

“Ah, kalau begitu. Bagaimana aku bisa kembali ke Adelaide segera??”Aeru tidak menyerah. Jika tempat ini begitu terpencil sehingga tidak memungkinkan untuk di capai oleh jaringan wireless, pasti ada jalan darat yang bisa di tempuh untuk kembali ke rumah. Tapi menggelikan sekali, bagaimana mereka tidak punya telfon ataupun kabel, tapi ada pemanggang, kompor, dan alat pemanas disini?!

“Apa kau masih tidak mengerti?”Kris menghela nafas panjang. “Kau berada di planet kami sekarang ini.”

“Planet?! Apa maksudmu?!”Aeru mengerutkan dahinya bingung. Planet kami? Apa maksudnya ini bukan Bumi, begitu?! Lalu bagaimana ia bisa sampai disini kalau ini bukan Bumi?!

“Tempatmu berada saat ini bernama Sky Ground, daratan bagian utara Exo”Kris menarik kursi ke sebelah Aeru dan duduk.

“Exo Planet. Ini Planet kami…”tambah Yi Xing.

“Tapi bagaimana aku…”Aeru menggelengkan kepalanya tak percaya.

“Itu juga yang kami pertanyakan, bagaimana manusia sepertimu bisa masuk kesini. Semua benda asing pasti akan terbakar saat melewati atmosfer planet kami, tapi kau tidak.”Kris menghela nafas panjang.

“Tapi, terakhir kali aku… Aku tidak terbang…”

“Kau bukan manusia biasa…”tambah Kris lagi.

“Hah? Apa maksudmu?! Jadi aku makhluk seperti… Eung, kalian begitu?”

“Kalungmu…”kali ini Yi Xing mengangkat suara. “Kalungmu berasal dari planet kami…”

“Kalung?!”Aeru mengerutkan alisnya dan memegang lehernya. Ia baru menyadari sesuatu menempel di lehernya. “Ini bukan kalungku…”

“Bukan kau yang memilih, kalung itu yang memilih pemiliknya…”

“A… Aku… Jadi, kalung apa ini?!”

                “Kami juga tidak tau…”Yi Xing menggelengkan kepalanya. “Kami tidak mempelajarinya. Tidak ada gulungan yang tersisa mengenai kalung itu, kami tidak tau…”

***

Leah mengaduk bubur di hadapannya dengan lemas. Diletakkannya bubur itu di atas nampan dan di bawanya menuju lantai 2, dimana kamar kakaknya berada. Sudah 3 hari kakaknya itu menolak makan, ia harap hari ini setidaknya 1 suap bubur saja masuk ke dalam mulut kakaknya itu. Ia memang bersalah atas semua yang terjadi pada Aeru. Andai saja ia tidak melakukannya. Bukan!, ia memang tau ia tidak boleh melakukannya, tapi nalurinya menghasutnya untuk melakukannya. Ya, berkencan dengan tunangan kakaknya yang menyebabkannya tewas terserempet kereta api. Tapi bagaimana lagi, dengan kondisi kakaknya yang mengalami pembengkakan di otak, tidak mungkin hidupnya akan berlangsung lama. Lalu bagaimana dengannya yang sudah mencintai tunangan kakaknya itu sejak pertama bertemu?

“Aiisshhh…”ia menghela nafas panjang dan berjalan menyusuri koridor menuju kamar kakaknya. 1 langkah, 2 langkah… Ia menyadari sesuatu yang ganjil. Pintu kamar kakaknya terbuka lebar! Astaga! Ia lupa menguncinya semalam! Bagaimana, bagaimana kalau Aeru kabur?! Bagaimana kalau kakaknya itu bunuh diri diam-diam?! Apa yang bisa di katakannya pada ibunya nanti?!

Leah melempar nampan di tangannya dan segera berlari menuju kamar Aeru. Benar saja dugaannya! Perempuan itu tidak ada di kamarnya! Panik, ia berlari menuruni tangga menuju kamar lain yang berada di barat dapur. Pintu kamar itu juga tebuka lebar. Sedikit melongok, ia menyadari sesuatu telah hilang. Gaun pengantin kakaknya! Ya, gaun pengantin kakaknya itu menghilang! Bagaimana ini?! Pasti perempuan itu kabur memakai gaun pengantinnya semalam. Dengan emosi dan jiwa yang selabil itu, ia tidak bisa menjamin bahwa kakaknya itu tidak melakukan aksi nekat yang berbahaya. Ini salahnya! Ini salahnya!

“Aissshhh!!! Kemana ia pergi?!”. Kesal, ia berlari mengambil mantelnya dan meninggalkan pesan untuk seseorang dari telfon rumahnya. Di raihnya kunci mobilnya yang menggantung di dekat pintu dan berlari menuju mobil mini-nya yang diletakkannya di luar sepanjang malam.

Di starternya mobilnya itu dengan tergesa-gesa. Ia mengutuk pelan cuaca yang sama sekali tak bersahabat dengannya. Petir, badai, kemungkinan apa lagi yang lebih buruk. Ia menekan tombol wipher mobilnya. 1 kali, 2 kali… Baiklah, inilah yang lebih buruk, wiphernya tak berfungsi. Kesal, di jalankannya mobilnya dengan kecepatan tinggi sembari berfikir, tempat apa yang mungkin akan menjadi tujuan kakaknya untuk pergi. Ah, Helena!! Ya, Helena!! Helena adalah sahabat karib kakaknya, ia pasti kesana! Tapi rumah Helena jauh di daerah perbukitan. Yah terserah! Ia harus menemukan kakaknya secepat mungkin.

10 menit berlalu, badai semakin kencang. Leah menyipitkan matanya mencoba memperjelas pandangannya ke jalanan. Oh, baiklah! Kaca mobilnya berembun! Di ambilnya kanebo di dashboardnya dan langsung mengelap kaca dihadapannya dengan sebelah tangannya. Begitu kaca mulai menampakan jalanan di hadapannya, sesuatu membuatnya terkejut, mobilnya melaju kencang ke arah tebing. Panik, ia menekan pedal remnya hingga hampir patah. Badai melicinkan laju mobilnya.

                “Tidak! Tidak!!!”matanya tebelalak ketakutan. “TIDAAKKKK!!!!”

***

“Apa yang kau lihat?”Kris berjalan menghampiri Yixing yang sibuk berkutat dengan teleskopnya. Ditatapnya keluar tembok kaca ke arah langit jauh ke arah selatan. Sesuatu sedang terjadi disana, ia tau, instingnya tak pernah salah.

“Terjadi pergolakan…”Yixing menjauhkan diri dari teleskopnya dan beralih menghadap Kris. “Aku tak yakin benar, tapi arah angin berubah menuju ke selatan. Semuanya…”

Kris mengangguk pelan. “Jadi,”kali ini ia menatap Chen, “Kau sudah tau bagaimana langit menjadi tak terkendali semalam?”

“Tidak”Chen menggeleng pelan. “Tidak ada sumber kekuatan apapun di planet ini yang dapat mengendalikan halilintar kecuali aku… Satu-satunya teori yang memungkinkan adalah pergolakan dari keseimbangan roh planet, tapi aku tidak bisa menebak apa penyebabnya…”

“Lalu, perempuan bernama Aeru itu. Sesuatu yang aneh terjadi padanya, bukan?”Kris menatap Yixing lagi.

“Ya…”Yixing menatap lantai kayu di bawahnya dan mengangguk pelan. “Dia menyembuhkan dirinya sendiri. Terakhir kuperiksa, aku bahkan tidak yakin ia bisa membuka matanya, dan saat kuperiksa tadi… Semua luka dalamnya menghilang, aku bahkan belum mengobati luka dalamnya itu sama sekali…”

“Tidak hanya itu…”tambah Chen, “Roh tumbuhan dan hewan menaunginya… Setiap ia melangkah, setiap itu juga rerumputan tumbuh di bawah kakinya. Bahkan, ia di hadiahi sebuah mahkota…”

                “Sudah kuduga, perempuan itu bukan manusia biasa…”Kris menghela nafas dan menahan dagunya, berfikir. Matanya menatap lurus ke arah matahari kedua yang terbenam. Tidak hanya kedua hal aneh yang dirasakan Chen dan Yixing yang membuatnya bingung. Ia juga menemukan kejanggalan lain, saat tadi ia menatap perempuan itu berjalan di hadapannya. Ia memiliki roh venus di dalam tubuhnya.

***

Aeru duduk menatap matahari terbenam di hadapannya, matanya menerawang kosong. Jari-jemarinya memainkan butiran pasir di bawahnya. Dari awal, tempat ini memang sudah terasa begitu aneh baginya. Semua perkataan laki-laki itu, ia yakin mereka sedang tidak bersekongkol untuk membohonginya. Ini nyata, semua takhayul ini nyata! Lalu, bagaimana ia bisa berada disini?

“Kau disini??”seseorang berjalan mendekatinya dan duduk disebelahnya. “Bagaimana keadaanmu?”

“Ah?”Aeru menoleh kaget. “Kau Luhan??”

“Eung, bukan…”laki-laki itu tertawa pelan. “Aku Xiumin. Luhan, kurasa ia akan pulang sebentar lagi. Tao mengajaknya berburu rusa. Jika mereka tidak pulang, kami akan kehabisan stok daging di rumah…”

“Begitu, jadi kalian berburu? Apa tidak ada mini market di dekat sini?”ia tau ini pertanyaan yang sangat bodoh untuk di tanyakan, tapi ia benar-benar penasaran.

“Mini market?”Xiumin mengerutkan kedua alisnya. “Tidak ada barang seperti itu disini. Kau pasti tidak mengerti, kami hanya tinggal ber-6 di daratan ini.”

“6? Kau, Kris, Yixing, Chen, Luhan, dan satu orang lagi yang bernama Tao?”Aeru mencoba mengingatnya satu-persatu.

“Ya…”Xiumin tersenyum dan mengangguk. “Jadi, kau mau ku ceritakan tentang planet ini?”

“Boleh, tentu saja..”Aeru menganggukkan kepalanya.

“Planet kami, Exo di sebut juga Yin dan Yan guardian planet. Kami para penjaga keseimbangan sistem tata surya. Tak banyak yang bisa kami pelajari, banyak gulungan yang sudah hilang. Pada dasarnya planet kami terdiri dari 2 daratan. Di bagian utara ini di sebut sebagai sky ground, dan di selatan disebut sebagai earth ground.”

“Jadi, ada yang menghuni earth ground juga? Biar ku tebak, mereka juga berjumlah 6?!”

“Ya, mereka memang ada 6. Kau pandai sekali!”

“Jadi mereka sering datang berkunjung??”

“Tidak…”Xiumin menggeleng pelan. “Hubungan kami tidak seperti itu…”

“Kalian musuh?”

Xiumin mengangguk pelan. “Bisa di bilang seperti itu…”

“Lalu orang tua kalian??”

“Orang tua??”Xiumin terkekeh pelan. “Kami bahkan tidak tau darimana kami berasal, bagaimana kami terbentuk. Jika kau bertanya tentang orang tua, mungkin mother of planet lah orang tua kami. Kami sudah tinggal disini selama ratusan tahun, tidak semua hal bisa kami pelajari dengan baik…”

“Ratusan?!”Aeru membulatkan matanya kaget. “Memangnya berapa umurmu, sekarang??”

“Entahlah…”Xiumin memiringkan kepalanya. “Mungkin 167 atau 168… Kau?”

“Aku?! Aku 20 tahun…”

“Hah, kau masih bayi!”Xiumin terkekeh pelan. Aeru menatapnya intens, bagaimana laki-laki semuda dia bisa mengatakan umurnya lebih 3 kali lebih tua dari umur ibunya?! Bahkan jika laki-laki itu mengatakan umurnya masih 19 tahun, ia mungkin akan langsung mempercayainya.

“Pergolakan angin…”Xiumin menengadah ke atas dan bergumam pelan.

“Ah?”Aeru menoleh menatapnya, meminta penjelasan.

“Angin sedang berhembus ke arah selatan, semuanya. Sepertinya akan terjadi badai di earth ground. Ini bukan hal yang biasa terjadi,”jelasnya. Ia menarik nafas dalam-dalam dan beranjak berdiri, diulurkannya tangannya pada Aeru “Kau mau masuk ke dalam?”

“Tidak…”Aeru menggeleng pelan. “Aku ingin berada disini sebentar lagi…”

“Baiklah,”Xiumin menarik tangannya dan mengangguk pelan. “Oh ya, aku punya sesuatu untukmu!”ia merogoh kantong celana peraknya dan mengeluarkan bunga kristal putih berbentuk salju.

“Apa ini?”Aeru mengambil bunga tersebut dari xiumin dan meletakkannya di atas pangkuannya. Bunga itu berbentuk seperti kristal padat, tapi saat kau menyentuhnya, ia bahkan hampir selembut bunga Krisan.­

“Bunga es putih, mekar pagi ini. Kau bisa merawatnya. Cukup memberikan sedikit air setiap harinya, kau tidak butuh tanah untuk menanamnya. Bunga itu akan melayang mengikutimu…”jelas Xiumin.

Aeru mengangkat kedua alisnya. Ditatapnya kembali bunga yang ada di pangkuannya itu. Benar saja! Bunga itu melayang dari atas pangkuannya dan mulai terbang berputar mengelilinginya. Ia tersenyum. “Terimakasih…”ujarnya pada Xiumin tanpa melepas pandangannya dari bunga itu.

                “Syukurlah kau menyukainya…”

***

Leah membuka matanya perlahan. Hutan, ia menemukan dirinya terbaring di antara pepohonan pinus tinggi menjulang. Perlahan, ia mencoba berdiri. Aneh sekali, ia pingsan, tapi tubuhnya sama sekali tidak terluka. Ya, hanya beberapa lecet di lengan dan kakinya, tapi itu bukan masalah. Masalahnya saat ini adalah, ia tidak tau dimana ia berada sekarang ini. Hutan hijau dengan tumbuhan-tumbuhan tinggi menjulang seperti ini bukanlah sesuatu yang bisa kau lihat di Adelaide. Ia menyadari dirinya telah berpindah tempat, tapi dimana dia?

Angin berhembus kecang dari belakangnya. Ia menarik nafas dalam-dalam dan memejamkan matanya, mencoba fokus memaksa instingnya bekerja mencari arah. Angin ini, haruskah ia mengikuti ke arah mana angin ini berhembus? Baiklah!

Ia membuka matanya kembali dan mulai berjalan. 1 langkah, 2 langkah… Ia mendengar suara semak-semak berguncang. Mencoba menaklukan rasa takutnya, ia melangkahkan kakinya kembali. Tapi, suara itu terdengar lagi.

“Si… Siapa disana??”ujarnya pelan. Suaranya menggaung di antara batang pepohonan.

Hening, tidak ada jawaban, ia kembali melangkahkan kakinya. Kali ini ia mendengar suara langkah seseorang mendekat. Takut, di ambilnya batu besar di sebelahnya sebagai alat untuk membela diri jika sesuatu yang tidak di inginkan muncul di hadapannya.

“Hey?!”kali ini ia sedikit berteriak. Lagi-lagi, yang menjawabnya hanyalah pantulan suaranya sendiri. Ia menghela nafas, menunduk pelan, dan kembali menatap ke depan saat tiba-tiba seorang laki-lakinya muncul di hadapannya.

Ya, muncul!! Muncul dalam arti, sedetik sebelumnya tidak ada siapapun di situ dan kemudian pada detik berikutnya laki-laki ini ada disana tiba-tiba.

“Siapa kau?!!”Leah mengangkat batu di tangannya tinggi-tinggi, siap untuk melempar pria tadi jika ia memang berbahaya. Tapi, melawan seseorang yang bisa tiba-tiba muncul dan menghilang hanya dengan sebuah batu? Ia tau benar itu tindakan yang sangat sia-sia.

“Harusnya aku yang bertanya seperti itu. Siapa kau? Bagaimana kau bisa berada disini?”laki-laki itu menatapnya dingin. Ia menjentikkan jarinya pelan, membuat sosoknya menghilang dan muncul lagi sedetik kemudian di sampingnya, dan menghilang lagi.

“A… Aku sendiri tidak tau…”Leah menjatuhkan tangannya perlahan dan berputar mencari sosok lelaki itu.

“Aneh sekali, ini daratan kami…”laki-laki itu muncul di belakang dan saat ia berputar, laki-laki itu menghilang lagi.

“Aku benar-benar tidak tau, terakhir kali yang ku ingat aku menyetir mobilku dan jatuh dari tebing!!”ia sedikit menaikkan nada bicaranya. Laki-laki ini membuatnya pusing dengan menghilang dan muncul dan menghilang lagi di sekitarnya. Ia tidak tau harus fokus ke arah mana.

“Mobil?”kali ini laki-laki itu kembali muncul di hadapannya. “Kau bukan dari planet ini rupanya?”ia menatap Leah dari atas ke bawah dan berjalan mendekat.

“Berhentilah untuk muncul-menghilang-muncul lagi di sekitarku, kau membuatku pusing! Yang ingin kutanyakan adalah, bisakah kau menolongku?! Aku tidak ingin menghabiskan malam di hutan seperti ini!”

“Kai…”, laki-laki itu menghela nafas, “Itu namaku. Tunggulah, akan kutanyakan pada yang lainnya dulu.”ia menjentikkan jarinya dan menghilang lagi.

“Hei! Hei! Kau tidak akan meninggalkanku disini, bukan?!”tanya Leah kemudian. Tidak ada balasan, laki-laki itu sudah benar-benar pergi. Jadi, ia menyuruh untuk menunggu disini, hah?! Baiklah, mengingat ini adalah tempat yang sangat asing baginya, rasanya menunggu laki-laki itu muncul kembali adalah hal yang paling bijaksana untuk dilakukan sekarang ini.

Lama berselang, laki-laki itu kembali muncul di hadapannya. Ia membawa mantel bulu tebal di tangannya dan berjalan menghampirinya.

“Pakai ini!!”di lemparkan mantel itu ke hadapan Leah.

“Isshhh!!”Leah mendengus pelan. Di ambilnya mantel tebal itu dan di pakainya sambil mengumpat pelan. Laki-laki bernama Kai ini benar-benar sangat menyebalkan dan tidak sopan!

“Ketua kami ingin bertemu denganmu…”ujar Kai pelan. “Pegang lenganku erat-erat,”disodorkannya lengan kirinya pada Leah.

Leah mencibir pelan dan mengikuti instruksinya. Di pegangnya lengan kiri laki-laki itu erat-erat. Perlahan, laki-laki itu menjentikkan jarinya. Leah memejamkan matanya, ia merasakan sensasi dingin yang sangat aneh mejalari tubuhnya. Dirinya seolah ditarik di bagian perutnya ke dalam pipa sempit yang sesak. Ia sempat merasa tubuhnya berputar dan terpelintir, merenggang dan kembali lagi dalam kecepatan yang cepat, sampai akhirnya ia merasakan dirinya terlempar ke atas rerumputan hangat dengan posisi berlutut.

“Kita sudah sampai.”suara Kai terdengar lagi.

Leah membuka matanya dan menatap pria itu galak. “Kau sengaja melemparku, ya?!”

“Sudah kuperingatkan, pegang lenganku dengan erat bukan..”ia melirik sinis dan berjalan melewati Leah ke arah depannya.

Leah mendengus pelan. Masih dengan posisi berlutut, ia menarik nafas dalam-dalam mencoba menenangkan perutnya yang masih bergejolak akibat teleportasi tadi. Jika ada istilah mabok teleportasi, mungkin itulah kata-kata yang tepat untuk menggambarkan apa yang sedang dirasakannya saat ini.

Sebuah tangan terjulur di hadapannya. Leah menyambut tanpa berfikir panjang dan beranjak berdiri.

“Jadi, siapa kau?”orang itu bertanya padanya. Ia menoleh, seorang laki-laki berkemeja putih rapih dengan sweater abu-abu tua tergantung di kedua sisi pundaknya, tersenyum padanya.

“Namaku Leah. Terimakasih sudah mengijinkanku kemari. Kau pasti ketuanya?”Leah tersenyum ramah.

“Ya, namaku Suho..”laki-laki itu tersenyum lebar.

“Ketua, sesuatu mendekat!!”seorang laki-laki di belakang Suho berlari menghampirinya. Wajahnya sedikit terlihat panik.

“Kau bisa mendeteksinya?”Suho beralih menatap pria itu.

Pria itu memiringkan kepalanya sedikit dan berlutut menyentuh tanah dengan sebelah tangannya. “Entah…”ia bergumam, “Sesuatu yang besar, tepat menuju kesini…”

Leah mengernyitkan dahinya, menatap kedua laki-laki itu bingung. Ia memang sedikit merasakan getaran di bawah kakinya, tapi sepertinya itu hanya efek dari teleportasi tadi. Tiba-tiba kepalanya berdenyut keras. Kaget, ia memegang kepalanya dengan kedua tangannya dan sedikit berjalan terhuyung.

“Kau tidak apa-apa?”menyadari sesuatu  terjadi pada Leah, laki-laki itu beralih menatapnya. Sorot matanya menajam, ia seolah-olah sudah mencurigai sesuatu dari awal. Ya, insting seorang ketua memang selalu tajam.

“Argghhh!!!”Leah berlutut pelan, kepalanya semakin sakit. Di pejamkannya matanya perlahan. Sebuah mata muncul dalam otaknya. Bukan mata biasa, mata itu berwarna kuning terang dan mengeluarkan darah. Tapi siapa?! Siapa?!

“Me… Du… Sa…”seseorang berbisik di telinga. Suara yang menakutkan, dingin, dan berdesis. Ia membuka matanya, tak seorangpun berada di dekatnya untuk mampu berbisik di telinganya. Siapa?! Jadi, suara siapa itu?!

“Me… Du… Sa…”suara itu terdengar lagi, kali ini semakin keras. Kepalanya semakin berdenyut, sebuah klise berputar pelan dalam otaknya. Seseorang bergaun putih yang memunggunginya, cahaya terang yang menyilaukan, darah, dan kemudian mata itu lagi.

“KETUA LIHAT!!!”laki-laki lain di belakang Suho berteriak. Wajahnya terlihat kaget dan ketakutan, ia menunjuk ke arah depan Suho, tepatnya di belakang Leah.

Leah melihat wajah Suho menengadah kaget. Ia mengambil langkah mundur pelan di ikuti yang lainnya. “Jangan lakukan apapun!”titahnya.

Leah mengerutkan alisnya bingung. Susah payah ia menoleh membalikkan tubuhnya ingin melihat apa yang orang-orang itu lihat, tapi… “AAAAAAA!!!!”ia menjerit kecang.               Seekor kobra raksasa sepanjang 10, tidak, 12 meter berdiri di hadapannya. Ia menyeret dirinya mundur, tapi ular itu justru mendekatinya, mengelilinginya, dan membentuk lingkaran dengan tubuhnya di sekitarnya.

“Ketua…”

“Jangan lakukan apapun!!”suara Suho terdengar lagi, kali ini lebih tegas.

Leah mengerutkan alis. Rasa sakit di kepalanya mulai menghilang. “Pergi… Pergi…”gumamnya sendiri. Tapi, ular itu justru mendekatkan kepalanya padanya. Ya Tuhan, ular itu bahkan bisa menelannya dalam sekali lahap!

“Pe… Pergi!!”kali ini Leah meninggikan suaranya.

Ular itu semakin mendekatinya, bahkan nafasnya mampu menyingkap ujung rambutnya. Leah menahan nafasnya. Ular itu menjulurkan lidahnya dan menjilat bahu kanannya. Sesuatu terasa membakar kulitnya. Sedikit meringis, diliriknya bahu bekas ular itu meletakkan lidahnya. Sebuah tatto merah menyala bergambar ular terpampang disana, bagaimana tatto itu bisa tiba-tiba muncul. Ular itu berdesis pelan, tapi entah mengapa desisan itu berubah menjadi sebuah kalimat di telinganya.

“Bangunlah, Medusa…”. Lagi, Leah merasakan nyeri yang amat sangat di kepalanya. Ia memekik pelan memegangi kepalanya dengan kedua tangannya. Matanya terpejam menahan sakit, sebuah klise bermain lagi dalam otaknya. Ia terjatuh ke tanah dan menggeliat kesakitan. Wanita bergaun putih itu muncul lagi. Ia berjalan menjauhinya, sinar bulan seolah mengikuti perempuan itu. Kemudian, perempuan itu berbalik, dan yang dilihatnya adalah wajah kakaknya yan begitu cantik menatapnya dengan penuh amarah. Telinganya mulai membising, suara-suara jeritan mulai terdengar, kepalanya makin terasa sakit. Nafasnya memburu, ia membuka matanya, pandangannya mulai kabur. Samar-samar di lihatnya ular itu menjauhinya, kembali masuk ke dalam rimbunan pepohonan hutan yang sangat tinggi. Angin berhembus kencang, sangat kencang, bahkan mungkin ia bisa terbawa olehnya. Rasa sakit di kepalanya berangsur mereda, tapi di saat yang bersamaan ia merasa tubuhnya semakin lelah. Pandangannya semakin kabur, kabur… Hingga akhirnya, ia tidak bisa melihat apapun lagi… Gelap…

 

2 tanggapan untuk “The Exo Planet and Goddess History (Chapter 1)”

  1. thor ne ceritanya dilanjut ya
    soalnya aku duluan baca chap 2 nya
    ceria menarik bgt
    lanjutin yg cepat ya chapternya yg 3

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s