Black Rings (Chapter 2)

Black

 

  • Tittle/judul fanfic: Black Rings (Chapter 2)
  • Author: angelinblack
  • Length: multichapter
  • Genre: Romance, Marriage Life
  • Rating: PG
  • Main cast & Additional Cast: Ju Mihwa {OC}, Kim Joonmyun {Suho EXO-K}, Kris Wu {EXO-M}, Tiffany Hwang
  • Disclaimer: Pernah di publish di blog author sendiri angelinblack.wordpress.com (silahkan berkunjung)
  • Author’s note: Halo readers, disini Tiffany-nya belum keluar. Tinggalkan komen ya untuk kelanjutannya.. Love you readers.. hehehe

 

*two*

                “Bukankah hubungan kita sangat aneh?”Mihwa menghela nafas berat. Sadar yang baru dikatakannya, ia membekap kedua mulutnya sendiri. Hening, Joonmyun tidak merespon kata-katanya, ia bahkan tidak berani menatap pria itu. Bagaimana ini? Bagaimana?

“Maafkan aku…”lama berselang, Joonmyun melangkahkan kakinya menghampiri Mihwa. “Kau lelah. Tidurlah…”dibelainya kepala Mihwa sembari menyunggingkan senyumnya. Ia menggandeng wanita itu dan membawanya menaikki tangga.

Sedikit memberanikan diri, Mihwa melirik Joonmyun pelan. Pria itu memang menyunggingkan senyumannya, tapi tatapannya terasa aneh. Sesuatu seperti sedang mengganggu pikirannya. Apa mungkin ucapannya tadi membuat pria itu kesal? Aiishh! Bodoh!!

“Oppa, aku…”Mihwa menghentikan langkahnya di depan kamarnya. Bingung, ia tak tahu harus berkata apa. “Terimakasih sudah mengantarku,”ragu, ia tersenyum pelan. “Aku akan tidur, sekarang oppa tidurlah…”ia berbalik memunggungi Joonmyun dan memutar kenop pintunya. Sedih, hatinya terasa begitu ngilu. Dilangkahkan kakinya ke dalam kamar pelan, sedikit menghela nafas, ia menoleh ke arah pintu pelan. Joonmyun masih disana, berdiri tertunduk, alisnya berkerut entah memikirkan apa.

“Oppa…”Mihwa memanggil pria itu, membuatnya tersadar dari apapun yang sedang mengganggu pikirannya itu. Ia bukan tipe orang yang mudah menyembunyikan perasaannya, jadi sekuat tenaga ia mencoba menyunggingkan senyumnya, menyembunyikan perasaannya yang begitu gelisah. “Terimakasih, sudah menungguku pulang…”

Joonmyun tersenyum pelan. Ia melepas kacamata bacanya dan berjalan masuk ke Mihwa. Mihwa terdiam, ia tak mampu berkata apapun saat pria itu berjalan lurus melewatinya dan duduk di pinggir kasurnya, menyalakan lampu tidur kecil kesayangannya mebuat seisi kamar di terangi sinar merah redup dan merefleksikan bentuk bintang ke penjuru kamar. Joonmyun menghela nafas dan kembali memasang senyumannya.

“Kamarmu..”ia menoleh menatap Mihwa, “Cantik sekali…”

“A..”Mihwa menganggukkan kepalanya bingung. Jujur saja, ini kali pertamanya Joonmyun mengunjungi kamarnya, maksudnya, benar-benar masuk ke dalam kamarnya. Biasanya ia hanya akan mengetuk kamarnya dan menunggungya diluar jika ada perlu. Baginya, ini sangat mengejutkan.

“Aku lelah…”Joonmyun meletakkan kacamata dan majalah yang dibawanya sedari tadi di dekat lampu tidur dan merebahkan dirinya di atas kasur pelan.

“O.. Oppa..”Mihwa meremas tangannya sendiri, jantungnya berdegup kencang hingga tenggorokannya tercekat. Joonmyun? Apa pria itu akan menghabiskan malamnya di kamarnya? Benarkah?

“Biarkan aku tidur disini, oke?”Joonmyun memejamkan matanya perlahan. “Kau juga tidurlah…”

***

                Mihwa membuka kedua matanya pelan. Ia berkedip begitu cahaya matahari yang masuk melalui pintu kaca berandanya menghajar langsung matanya. Sembari sedikit menguap, di kuceknya kedua matanya pelan. Karena Joonmyun semalam, ia sama sekali tidak bisa tidur. Ya, ia terlalu gugup untuk memejamkan kedua matanya itu, hingga tiba-tiba kedua matanya itu terlelap dengan sendirinya.

“Oppa!”menyadari sesuatu, ia menoleh ke sampingnya. Kosong, Joonmyun sudah tidak ada disana. Pria itu pergi meninggalkan space besar di sebelahnya. Jadi ia terbangun lebih dulu? Ya, ini cukup menjelaskan bagaimana lampu tidurnya sudah mati dan tirai yang menutupi pintu kaca berandanya terbuka saat ia bangun. Tersenyum pelan, ia berguling, menelungkupkan badannya di atas kasurnya tempat Joonmyun tidur semalam. Bahkan bekas harum parfum pria itu masih membekas disana. Sepertinya, ia akan mengurungkan niat untuk mengganti sprei tempat tidurnya selama seminggu ini.

“Uwaaa!!”Mihwa memeluk bantal yang digunakan Joonmyun semalam dan membenamkan wajahnya disana, mencoba menghirup sebanyak mungkin wangi parfum yang membekas disana. Bahagia? Ya, tentu saja ia merasa sangat bahagia. Mungkin ini berlebihan, tapi hatinya memang begitu bahagia saat ini.

“Mihwa…”pintu kamarnya terbuka. Termangu di tempat, Joonmyun hanya tersenyum mendapati istrinya sedang duduk di atas tempat tidur sembari memeluk bantal dengan ekspresi lucu.

“A… Oppa..”salah tingkah, Mihwa menyingkirkan bantal yang di peluknya ke belakang dengan wajah memerah. “Ada apa?”

“Sarapan…”

“A!! Sarapan!!”Mihwa berteriak panik dan melompat turun dari tempat tidurnya. Bodoh! Ia baru ingat bahwa ia harus membuat sarapan. “Jam berapa? Jam berapa?!”panik, ia meraih jam wekernya. “Ya Tuhan, jam 7!! Oppa harus segera berangkat kerja, bukan?! Tunggu sebentar, aku akan memasak dengan cepat!!”ia memakai sandal rumahnya dan berlari keluar dari kamarnya. Tapi kemudian, Joonmyun menarik tangannya sambil terkekeh pelan.

“Aku sudah membuat sarapan…”ujar Joonmyun kemudian. “Aku kemari untuk membangunkanmu dan mengajakmu sarapan bersama…”

“A…”Mihwa menganggukkan kepalanya dan tersenyum malu. Sedikit merutuk, ia meratapi kebodohannya sendiri.

“Kau mandilah dan bersiap, setelah itu turun sarapan. Aku akan mengantarmu ke kampus sebelum berangkat kerja…”

“Ya…”Mihwa mengangguk pelan dan berbalik masuk ke dalam kamarnya. Teringat sesuatu, ia kembali menoleh menatap Joonmyun, “Oppa…”. Ia tersenyum pelan. “Terimakasih…”

***

                “Pagi Oppa!”Iseul menyapa Joonmyun ramah. “Masih mengantar istrimu sekolah??”sahutnya kemudian yang membuatnya mendapat cubitan kecil di lengannya dari Mihwa.

Joonmyun tertawa pelan. “Aku harus memastikannya sampai di tanganmu dengan selamat. Baiklah, aku pergi dulu. Kalian belajarlah dengan baik!”ia melambaikan tangannya dan menjalankan mobilnya pergi.

“Bahkan orang tuaku tidak pernah mengingatkanku untuk belajar dengan baik..”Iseul menggerutu pelan dan kembali mendapat cubitan kecil dari Mihwa. “Aiisshh! Kenapa kau memutuskan menikah dengannya, sih?!”ia menoleh menatap Mihwa dan memelototi temannya itu galak.

“Kenapa? Kau tidak menyukai suamiku?!”sewot Mihwa kemudian. Ia melipat kedua tangannya dan memanyunkan kedua bibirnya.

“Bukan begitu, menurutku, kau menyia-nyiakan masa mudamu dengan menikah cepat!”

Mihwa mengangkat kedua bahunya, “Tidak ada yang sia-sia menikahinya…”

“Lihat! Kau seperti kembali ke masa kanak-kanak lagi! Kuliah dan di antar-jemput seperti ini?! Kenapa kau tidak minta di belikan mobil olehnya, sih?! Suamimu itu kan sangat-sangat kaya!”

“Aku menikahinya bukan karena harta!”protes Mihwa kemudian.

“Terus?! Karena apa?! Karena cinta?! Sekarang, memangnya kau sudah dapat cinta itu?!”

“A…”

“Lihatlah, kau sendiri juga tidak yakin, bukan?”

***

                Mihwa menggigit kit-katnya dan menyodorkan setumpuk kertas pada Yifan. “Aku mencarinya sepanjang siang tadi. Kurasa kau akan menyukai apartment ini…”

“Terimakasih…”Yifan memasukkan tumpukan kertas yang diserahkan Mihwa dan memasukkannya ke dalam tasnya.

Mihwa menggaruk kepalanya pelan. Meski ia mencoba untuk bersikap biasa pada Yifan, tetap saja rasa canggung di antara mereka tidak bisa begitu saja di hilangkan. Terlalu banyak yang mereka belum saling ceritakan. Tapi yang terpenting sekarang ini, pria itu harus tau kalau ia sudah menikah. Ya, sisanya just let it flow.

“Itu…”ragu, ia mencoba menatap Yifan di hadapannya. Sedikit merutuk dalam hati bahwa Iseul tidak bersama mereka sekarang ini, jika iya, mungkin akan lebih mudah baginya. Ya, lebih mudah karena ia bisa meminta Iseul untuk menceritakannya pada Yifan, bukan dirinya sendiri seperti sekarang ini.

“Ng?”Yifan mengangkat kedua alisnya dan menopang dagunya pelan.

“A…”Mihwa membuka mulutnya bingung, “Tidak”ia memalingkan wajahnya dan merutuk pelan. Ya Tuhan, bagaimana ia bisa langsung bungkam begitu saja begitu menatap wajah pria itu?! Ya, pria itu memang masih tampan seperti dulu. Tidak, jauh lebih tampan sekarang ini! Bahkan, ia masih bisa terbius setiap kali melihatnya. “God! Damn!”

“Mihwa, kau…”

“Apa kau belum punya pacar?”Mihwa memotong ucapan Kris. Menarik nafas, memaksa otak kanan dan kirinya untuk berfikir lurus. Ya, mungkin ia tidak bisa langsung mengatakannya begitu saja pada Yifan bahwa ia sudah mempunyai suami. Mungkin, ia perlu berbasa-basi terlebih dahulu. Apapun, yang penting suasana canggung ini bisa mencair lebih dulu.

“Belum..”Yifan menggelengkan kepalanya pelan. “Kau?”

“A…”Mihwa memutar kedua manik matanya dan menggelengkan kepalanya, “Tidak”. Ya, dia memang tidak mempunyai pacar sekarang ini, justru yang di punyanya adalah seorang suami!

“Emm…”Yifan menganggukkan kepalanya lagi.

Mihwa tersenyum pelan dan menghembuskan nafasnya pelan. Ia menurunkan tangan kirinya ke bawah meja, menutupi cincin yang melingkar di jari manisnya tersebut. Sebelah tangannya yang lain mulai bergerak menuju bungkus kit-katnya di atas meja, meraihnya, berharap masih ada potongan kecil yang tersisa di dalam sana.

“Ini…”Yifan menyodorkan sebungkus kit-kat padanya. “Jadi kau masih menyukainya?”

“Eung…”Mihwa menganggukkan kepalanya pelan. Ditatapnya Yifan kemudian, pria itu tersenyum samar. Senyum yang begitu samar yang bahkan kau tidak akan menyangka bahwa itu adalah senyuman.

“Aku…”Mihwa menghela nafas panjang. Tidak, ia tidak bisa menyembunyikannya lebih lama lagi. Semuanya begitu kompleks begitu ia menatapnya. Begitu kompleks hingga ia bahkan tidak tau apa yang sedang dipikirkannya, apa yang sedang dirasakannya, yang ia tau hanyalah ia begitu resah. “Aku ingin kau bertemu dengan seseorang…”

“Siapa?”Yifan menyipitkan matanya.

Mihwa tersenyum pelan dan mengambil secarik kertas. Ia menulis alamat rumahnya disana dan menyodorkan kertas itu pada Yifan. “Datanglah ke rumahku besok malam…”

Yifan mengambil kertas itu dan memasukkannya ke dalam saku blazernya tanpa membaca dulu. “Ngomong-ngomong tentang info apartement yang kau berikan tadi, terimakasih… Tapi, aku sudah mendapatkan rumah kemarin…”

“Dimana?”

“Akan ku ajak kau main nanti setelah aku selesai merapihkannya…”

***

                Joonmyun merapihkan map di desknya dan menghela nafas panjang. Ia melirik arlojinya sembari memijat pelipisnya pelan. Jam 10 malam. Ya ia sudah menambah waktu kerjanya sendiri selama 3 jam dan masih ada 5 laporan keuangan yang harus dibacanya lagi. Lelah. Ya, sebenarnya ia sangat lelah menjalani rutinitas yang sama setiap harinya sebagai manajer keuangan. Grafik, laporan, dan planning bisa saja membuat otaknya meledak kapan saja.

Memutuskan untuk istirahat sejenak. Ia meraih cangkir kopinya dan berjalan menuju jendela besar di kanan ruang kerjanya. Sedikit menyibak tirainya ia memerhatikan jalanan malam kota Seoul dengan tatapan kosong. Perlahan di rogohnya sakunya dan di keluarkannya ponselnya. 5 panggilan tak terjawab. Ia mengangkat kedua alisnya dan mendapat nomor asing tertera di layar ponselnya. Memutuskan untuk tidak peduli, ia beralih pada notifikasi lainnya. 3 pesan masuk. Dari istrinya…

From : Mihwa

Oppa, kau lembur? Apa kau akan makan malam di rumah?

Ia beralih pada pesan kedua.

From : Mihwa

Mau ku antar makanan ke kantormu atau mau ku pesankan sesuatu? Jam berapa oppa akan pulang?

Ia menggeser kembali layar ponselnya.

From : Mihwa

Kau sibuk sekali? Masih banyak pekerjaan? Jangan lupa makan malam. Jangan paksakan kalau sudah lelah. Jangan minum terlalu banyak kopi, itu tidak baik. Kekeke… Apa pesanku menganggumu? Maafkan aku kalau begitu.

Joonmyun menghela nafas panjang. Mihwa, wanita ini, bahkan hanya mengiriminya pesan karena takut mengganggu waktunya bekerja. Ia tidak tau mengapa ia memutuskan untuk menikahinya, tapi baginya ia tidak menemukan apapun yang harus di sesali dari wanita itu. Lalu bagaimana sebaliknya? Menyesalkah wanita itu menikahinya?

“Joonmyun, kau masih di dalam?”seseorang mengetuk pintu ruang kerjanya pelan.

“Ya…”Joonmyun menyahut lemas.

“Kau lembur?”seorang wanita dengan setelan merah berjalan masuk ke dalam ruangannya. “Aku baru saja akan pulang saat kulihat ruanganmu masih menyala…”

“Laporan akhir bulan…”Joonmyun mengerling ke arah tumpukan map di desknya. “Noona sudah akan pulang?”

“Ya…”wanita itu menganggukkan kepalanya. “Pekerjaan menjadi sekertaris direktur bisa kubawa pulang. Kurasa, kau juga bisa membawa laporan-laporanmu itu ke rumah..”

“Tidak…”Joonmyun menggelengkan kepalanya. “Aku tidak mau membawa pekerjaan ke rumah..”

“A…”wanita itu mengangguk pelan. “Hanya untuk istri di rumah…”

“Noona. Bisa tolong belikan sesuatu di mini market sebelum pulang?”

“Tentu saja…”

“Lalu, bisa mampir ke rumahku dulu dan memberikannya pada Mihwa?”

“Eung?”wanita itu menaikkan kedua alis. Ia tersenyum kemudian, “Baiklah…”

***

                Mihwa menguap untuk kesekian kalinya. Ia membolak-balikkan lembar majalahnya dengan lemas. Joonmyun belum pulang, bahkan pria itu tidak membalas pesannya. Ya, mungkin saja sangking sibuknya tidak ada waktu baginya untuk sekedar mengecek ponselnya. Rasanya, ia ingin sekali menelfon ponselnya dan menanyakan apa yang sedang dilakukannya, kemudian merayunya agar pulang lebih cepat seperti yang sering di lakukan ibunya pada ayahnya di rumah. Tapi, lagi-lagi, ia mengurungkan niatnya itu. Ia tidak yakin bisa melakukan itu pada Joonmyun, entah mengapa.

Bel rumah berbunyi. Sedikit tersentak, ia berlari ke depan untuk membukakkan pintu. Joonmyunkah? Sedikit banyak ia berharap ia akan menemukan sosok suami berdiri di depan pintu, tersenyum padanya dan membelai rambutnya dengan cara yang sama seperti yang dilakukannya setiap hari. Dan juga, ia berharap pria itu akan menginap di kamarnya lagi seperti kemarin malam. Ya, hari ini ia sedikit menata kamarnya untuk itu.

“Anyeong..”. Mihwa membeku begitu membuka pintu rumahnya. Bukan suami yang berdiri tersenyum padanya, melainkan seorang wanita dengan tumbuh tinggi semampai dan wajah yang sedikit banyak mirip dengan suaminya. Ya, Kim Yuri, ini adalah pertama kalinya kakak iparnya itu datang mengunjunginya setelah menikah.

“Onni, Joonmyun oppa…”

“Ya, aku tau, di masih lembur di kantor…”Yuri melangkah masuk ke dalam rumah dan melepas sepatu haknya. “Ia memintaku untuk memberikan ini padamu…”di sodorkannya kantong belanja berwana bening pada Mihwa.

“A.. Terimakasih..”Mihwa meraih kantong tersebut dan tersenyum. Kit-Kat. Jadi suaminya itu ingat dengan snack kesukaannya itu?

“Aku ingin beristirahat sebentar disini sebelum ke rumah. Apa kau punya makanan? Aku lapar…”sahut Yuri kemudian yang membuat Aeru mengangguk dan buru-buru mempersilahkan wanita itu masuk ke dalam rumahnya.

Aeru menaruh kantong plastiknya di atas meja bar dan buru-buru menghangatkan makan malam yang di buatnya untuk Joonmyun. Ya rencananya ia akan memaksa pria itu untuk memakannya sepulangnya ke rumah nanti.

“Hei…”Yuri menepuk Mihwa pelan. “Kau senang tidak menikah dengan Joonmyun?”

“A?!”

“Dia pria yang pemikir dan terlalu banyak bekerja, bukan? Kau tidak kesal dengannya?”

“Tidak…”Mihwa menggelengkan kepalanya. “Aku bahagia…”

“Benarkah?”Yuri menaikkan kedua alisnya. “Kau tahu, aku bersyukur ia bersamamu. Kau cantik, baik, pintar, pandai memasak. Terlebih, kau benar-benar mencintai adikku, bukan?”

Mihwa terkekeh pelan. Ya, menghadapi kakak iparnya yang begitu cerewet, kadang ia tidak tahu harus berkata apa.

“Tidak seperti Tiffany…”oceh Yuri kemudian.

“Tiffany?”Mihwa mengerutkan alisnya pelan. Ya, ia belum pernah mendengar nama itu disebut-sebut sebelumnya. Entah mengapa, perasaannya langsung berubah tak enak mendengar nama itu disebut.

“Kau tidak tahu? Joonmyun belum bercerita?”

“Belum…”Mihwa menggelengkan kepalanya.

“Dia mantan tunangan Joonmyun”Yuri menggigit apel yang baru di ambilnya dari kulkas pelan, “Entah dimana sekarang…”tambahnya kemudian.

***

                Joonmyun menyalakan alarm mobilnya dan menghela nafas berat. Ia melirik arlojinya yang kini mengarahkan jarum pendeknya tepat di angka 2. Merenggangkan sedikit lehernya, ia berjalan menuju pintu depan rumahnya dan membukanya. Lampu ruang tamu sudah di matikan, jadi Mihwa sudah tidurkah? Yah, lagipula wanita itu tidak akan kuat menunggu hingga pagi seperti ini. Memakai sandal rumahnya, ia berjalan menuju ruang tengah. Cahaya redup samar memancar dari meja kopi di antara Tv flat dan sofa panjang yang membelakanginya.

“Mihwa?”ia mengerutkan alisnya dan berjalan menghampiri sofa yang terletak tak jauh darinya. Sedikit tersenyum, benar saja, ia menemukan Mihwa tertidur di atas sofa dengan majalah menutupi wajahnya dan bungkus kit-kat kosong masih digenggam tangannya. Sedikit mengerling ke arah meja kopi, sebuah lampu belajar kecil berdiri disana menjelaskan penerangan samar ruangan ini. Juga, satu set makanan yang di tata rapih  dengan secarik kertas berada disana. Joonmyun meraih kertas tersebut dan menemukan tulisan tangan rapih milik Mihwa.

‘Oppa, sudah pulang? Makanlah dulu sebelum tidur. Jangan di cuci piringnya, biar aku saja nanti. Omong-omong terimakasih kit-katnya. Aku suka sekali. Maaf kalau aku ketiduran~ Bangunkan saja kalau oppa ingin kutemani makan~ (^v^)’

“Kau baik sekali…”Joonmyun tersenyum pelan. Ia melipat kertas di tangannya dan memasukkannya ke saku jasnya. Meraih makanan yang di siapkan untuknya, ia memutuskan untuk menghangatkannya dulu, mandi, dan baru memakannya. Yah meskipun ia sudah mampir ke restoran cepat saji sebelum pulang tadi, tidak ada salahnya menghabiskan makanan yang sudah susah payah dibuat untuknya, bukan?

Ia berjalan menuju kamarnya, melempar kemejanya ke atas tempat tidurnya, dan melonggarkan dasinya dengan asal. Dinyalakannya air panas di kamar mandinya sebelum kembali lagi ke kamarnya, menyalakan desktop di atas meja marmernya. Notifikasi skype-nya berbunyi, membuatnya buru-buru mengeceknya. Ternyata hanya pesan masuk dari kakaknya, sepertinya wanita itu belum tidur, mengingat ID-nya masih terlihat online. Meraih mousenya, ia me-scroll down contactnya hingga ke posisi paling bawah. Menghela nafas panjang ia menatap satu kontak offline disana. Ya, kontak itu sudah terpasang offline sejak lama. Mungkin, sejak 3 tahun lalu. Ia sengaja tidak menghapusnya. Entah pemiliknya masih menggunakannya atau tidak, ia hanya berharap suatu saat ia membuka skype-nya profile itu akan berubah online dengan sendirinya.

Bunyi dering terdengar, mengembalikan fokusnya yang sempat menghilang begitu saja. Kim Yuri, kakaknya menghubunginya. Ia mengklik tombol hijau paling kiri dan duduk di depan desktop menunggu video kakaknya muncul sepenuhnya di layarnya itu.

“Kau baru pulang?”wajah Yuri terlihat. Ia memakai baju tidurnya dan menggulung rambutnya dengan roll ke atas.

“Ya…”Joonmyun menganggukkan kepalanya. “Kenapa Noona belum tidur?”

“Jangan basa basi denganku!”bentak Yuri kemudian. “Kau ini kenapa, sih?!”

“Apa maksud Noona?”Joonmyun mengerutkan alisnya bingung.

“Kupikir kau mencintai istrimu…”

“Aku menyayanginya…”

“Itu berbeda!”Yuri menggebrak mejanya. “Kau pikir aku tidak tau kalian bahkan memiliki kamar yang terpisah?! Ada apa denganmu?!”

“Aku…”

“Kalau kau tidak mencintainya, kenapa kau menikahinya?! Kau pikir keren memperlakukannya seperti ini?! Kau pikir ini lelucon?! Pernikahan hanya terjadi sekali seumur hidup!!”

“Aku tidak ada niat untuk menceraikannya…”

“Jadi, kau akan menghabiskan hidupmu seperti ini?!”Yuri menggelengkan kepalanya. “Kau adikku, tapi tak habis pikir denganmu…”

“Aku butuh waktu…”enggan menatap kakaknya itu, ia berpaling menatap deretan keyboard di atas mejanya.

“Jangan katakan padaku kau masih memikirkan Ti…”

“Jangan sebut namanya!”Joonmyun merasakan otot rahangnya menegang. Nafasnya memburu. Ia menarik mousenya dan melemparnya ke lantai hingga pecah. “BRENGSEK!!”

“Joonmyun, kau tidak apa-apa?”wajah Yuri berubah khawatir.

“BRENGSEK!!”Joonmyun meninggikan suaranya.

“Joon…”Yuri mencoba memanggil nama adiknya itu lagi, tapi sedetik kemudian layar desktopnya berubah hitam, sambungannya terputus. Ia men-dial lagi adiknya itu kembali, tapi nihil. ID adiknya itu sudah berubah offline. “Ya Tuhan…”gemetar, ia menangkup kedua tangannya. “Joonmyun…”

***

                Iseul menggembungkan pipinya dan menghela nafas untuk kesekian kalinya. Ia melirik Yifan kesal. 1 jam sudah ia menemani pria itu berbelanja furniture dan ini benar-benar membosankan baginya. Melirik pesan di kakao talk-nya untuk kesekian kalinya, ia akhir berjalan menghampiri pria itu dan menepuk bahunya pelan.

“Kau tau, kurasa, daripada membeli satu-persatu, lebih baik kau membeli semuanya 1 set. Aku yakin harganya juga akan jauh lebih murah.”bisiknya kemudian.

Yifan menggelengkan kepalanya, “Aku sudah punya konsep sendiri untuk rumahku!”

Iseul memutar kedua manik matanya kesal, “Kenapa kau tidak mengajak Mihwa untuk menemanimu, sih?! Kenapa aku?!”protesnya kemudian.

“Aku sudah ada janji dengannya nanti malam. Ia mengundangku ke rumahnya…”tidak mempedulikan Iseul, ia kembali bercakap dengan pegawai tokonya.

Iseul membulatkan kedua matanya dan mulutnya mendengar ucapan Yifan. Jadi, Mihwa akan mengenalkan Yifan pada Joonmyun?! Entah mengapa, meskipun ia juga yang memaksa Mihwa untuk cepat memberitahu Yifan bahwa temannya itu sudah menikah, perasaannya sedikit tak enak mendengar ucapan Yifan tadi. Ya, ia merasakan firasat buruk untuk itu. Tapi, ia tidak mau memikirkannya. Ya, kejadian buruk terjadi karena kau terlalu memikirkannya, bukan? Ya, setidaknya, jika memang sesuatu yang buruk terjadi, Mihwa pasti bercerita padanya.

“Aku sudah mendapatkan pekerjaan untuk sementara…”Yifan kembali berbalik menatap Iseul. “Cafe di dekat kampusmu, aku manajernya..”

Iseul mengerutkan alisnya heran. “Manajer? Bagaimana bisa?”

Yifan mengangkat kedua bahunya dan mengikuti pelayan yang sedari tadi bersamanya menuju kasir. Ia menyerahkan kartu kreditnya dan kembali menoleh pada Iseul saat ia menyadari wanita masih menatapnya heran. “Apa?”

“Kau.”Iseul menyipitkan matanya. “Membeli rumah dan mendapatkan perkerjaan sebagai manajer begitu saja?”

“Manajer kafe..”tegasnya kemudian.

“Hey,”Iseul menyenggol bahu pria itu pelan. “Sebenarnya apa yang kau lakukan di China?”

***

                Mihwa mengerang pelan dan merenggangkan tangannya. Sedikit menguap, ia mengucek sebelah matanya dan berguling pelan. Tersenyum, ia mendapati wajah Joonmyun yang tengah tertidur pulas di hadapannya. Ia menyentuh sebelah pipi pria itu pelan, mengedipkan matanya. 1 kali… 2 kali… Tunggu dulu! Bagaimana ia dan Joonmyun?!

Bangun, ia menoleh ke sekitarnya kaget. Ia berada di atas karpet di bawah sofa tempatnya menunggu Joonmyun pulang semalam. Jas pria itu menyelimuti kedua bahunya, sedangkan kakinya berbagi selimut kecil dengannya. Ia menoleh ke arah Tv, sedikit melirik ke arah jam dinding besar tepat di atasnya, ia memekik pelan.

“Oppa…”digoyangkannya bahu Joonmyun pelan. Ia baru menyadari pria itu masih memakai setelan kerjanya kemarin, jadi pria itu langsung tidur begitu sampai di rumah?

“Eung?”Joonmyun mengerutkan alisnya dan membuka matanya pelan. “Ada apa?”bau alkohol tercium saat pria membuka mulutnya.

“Kau tidak ke kantor hari ini? Ini, sudah jam 12 siang…”sahut mihwa kemudian.

“Aku sedang tidak ingin…”Joonmyun menggeram pelan dan kembali menutup matanya.

“Oppa, kau mabuk?”khawatir, ini pertama kalinya ia melihat suaminya seperti ini.

“Tidurlah…”Joonmyun kembali menarik Mihwa ke atas karpet. Di tariknya wanita itu ke dalam pelukannya dan di sandarkannya dagunya di atas bahu Mihwa. “Aku ingin tidur hari ini… Diamlah…”

“Eum..”Mihwa mengangguk samar. Perlahan, di raihnya tangan pria itu yang melingkar erat di sekitar pinggangnya. Jantungnya berdegup kencang. Ini memang aneh, tapi entah mengapa membuatnya begitu bahagia. Memang bodoh, tapi ia sedikit berharap bahwa Joonmyun akan pulang dengan mabuk seperti ini setiap harinya. Ya, karena hanya dengan itu pria itu akan menyentuhnya dan ia menyukainya.

***

                Yifan menatap balik pria tampan yang menatapnya dari cermin. Malam ini ia mematut dirinya dengan blazer berwarna baby blue rapih, kaos putih ketat yang melekat sempurna di badannya, dan jeans dongker kesayangannya. Tersenyum kecil, ia memasang jam tangan hitam kecil hadiah dari wanita yang akan di datanginya dulu, Ju Mihwa. Menyemprotkan sedikit parfum lagi ke pergelangan tangannya, ia berjalan ke pinggir tempat tidurnya, memakai converse yang baru di belinya tadi di Dongdaemun.

Berjalan menuju meja makan di dapurnya, ia mengambil sebotol wine dan secarik kertas kecil yang telah di siapkannya. Ia yakin sekali Mihwa pernah berkata bahwa ia sudah berhenti minum, tapi segelas wine tidak akan membuat wanita itu mabuk, bukan? Diliriknya kertas kecil di tangannya. Ia membaca alamat yang tertera disana. Sedikit mengerutkan alisnya, ia kemudian mengembangkan senyumnya. Bukan senyum samar yang biasa di tunjukkannya pada orang-orang, tapi benar-benar senyuman yang mampu membuat bibirnya membentuk bulan sabit dengan sempurna. Ya, baru disadarinya. Rumah Mihwa, hanya terpisah 2 kompleks dari rumah itu. Sungguh kebetulan yang sangat menyenangkan, rumah mereka ternyata begitu dekat.

***

                “Apa aku terlihat tampan?”Joonmyun berjalan keluar dari kamarnya dan menghampiri Mihwa di dapur. “Atau haruskah aku memakai pakaian yang lebih formal?”

Mihwa mengambil baconnya dari microwave dan berbalik menatap Joonmyun. Pria itu, seperti biasanya tampak rapih. Kaos putih dengan cardigan abu-abu tua dan celana cokelat mocca. Dan parfumnya, hal yang paling disukainya adalah pria itu selalu wangi apapun yang di kerjakannya. “Kau terlihat oke..”

“Hanya oke?”Joonmyun beralih ke meja makan, membantu istrinya itu menata meja.

“Eung, tampan!”Mihwa mencoba mengatakannya secepat mungkin dan buru-buru kembali ke dapur mencoba menyembunyikan pipinya yang memerah malu.

“Hahahaha…”Joonmyun terkekeh pelan. “Terimakasih…”

Mihwa melepas celemeknya dan menyimpannya kembali. Ia menghampiri Joonmyun yang masih sibuk dengan meja makan mereka, saat tiba-tiba bel rumah mereka berbunyi. Ia terdiam, menatap jemarinya yang gemetar begitu saja. Mungkinkah Yifan sudah datang? Ya Tuhan, kenapa jantungnya bergemuruh tiba-tiba? Kenapa sekarang ia merasa sedikit ragu atas keputusannya sendiri untuk mengenalkannya pada Joonmyun?

“Kau tidak pergi membukakan pintu?”tanya Joonmyun membuyarkan lamunannya.

“A….”Mihwa tersentak kaget dan mengangguk pelan. Buru-buru, ia berlari membukakkan pintu. Sedikit menghela nafas panjang, ia mencoba menahan debarannya yang semakin menjadi begitu ia memutar kenop pintunya.

“Hi…”Yifan melambaikan sebelah tangannya.

“Hi…”Mihwa mencoba memasang senyumnya senormal mungkin. “Kau, tidak tersesat mencari rumahku?”

“Rumahku hanya 2 blok dari sini. Aku juga baru tau kita bertetangga…”Yifan menatap Mihwa pelan. Tak tau harus berbicara apa, ia akhirnya bertanya, “Kau tidak mempersilahkanku masuk?”

“Ah ya!”Mihwa mengangguk pelan dan mempersilahkan pria itu masuk. Ia sedikit merutuki dirinya yang bahkan tidak bisa menutupi perasaannya yang membuatnya justru menjadi salah tingkah.

Yifan berjalan masuk melewati Mihwa dan berdiri menunggu wanita itu menutup pintu rumahnya. Ia mengangkat sebelah alisnya, wanita itu bertingkah aneh. Ya, memang mereka selalu bertingkah aneh satu sama lain sejak bertemu, tapi kali ini ada yang terasa berbeda. Mihwa, terlihat sekali ia sedang resah sekarang ini.

“Ada apa denganmu?”Yifan berjalan menghampirinya, memutuskan untuk bertanya terlebih dahulu.

“Yifan, aku…”Mihwa memainkan cincin di jari manisnya di belakang punggungnya.

“Temanmu sudah datang??”Joonmyun muncul dari belakang Yifan tiba-tiba, membuat Mihwa tersentak kaget. Buru-buru ia berjalan melewati Yifan, berdiri di sebelah Joonmyun.

“Ya. Ini Yifan, Wu Yifan. Temanku…”Mihwa memperkenalkan Yifan pada Joonmyun. Ia menghindari tatapan Yifan. Ia tau, ia bisa mati perlahan hanya dengan menatap pria itu.

“Kau orang China?”Joonmyun menatap Yifan ramah. “Aku Kim Joonmyun.. Senang bertemu denganmu..”ia tersenyum dan menyodorkan tangannya pada pria di hadapannya itu.

“Wu Yifan…”Yifan menjabat tangan Joonmyun singkat. Merasakan sesuatu, ia menatap tangan Joonmyun pelan. Mengerutkan alisnya curiga, pria itu memakai cincin emas putih di jari manisnya. Dengan cepat ia menoleh pada Mihwa yang masih mengalihkan pandangannya darinya. Matanya menyusuri tangan perempuan itu, menuju ke jari manisnya. Benar saja, wanita itu memakai cincin yang sama!

“Kau ini…”Yifan beralih menatap Joonmyun dengan mata disipitkan.

“Aku, suami Mihwa.”

 

15 tanggapan untuk “Black Rings (Chapter 2)”

  1. Ini ff pernah aqu baca deh, kalu ga salah d’fb exo fanfiction tpi yg part 1 ehh part 2 d’sini. Next thor suho oppa knpa tuh marah2 sma onnie nya?

  2. Kyaaaa akhirnya kluar jga chpter 2.x z dah nunggu thor ,, keren bnget ff.x aplgi sma suho yah ,, jdi pngen nikah ama suho hahaha

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s