FRIEND & FOE #Sobekan Sembilan

Movie_FriendOrFoe#2

__Friend&Foe@Zulaipatnam__

 

Tipe : Fanfiction Leght : Chaptered #1 | #2 #3 | #4 | #5 | #6| #7| #8

Cast : Kim Jong In | Lee Chae Rin | Do Kyung Soo

Rated : G | R Gendre : Friendship | Action (dwikit) | AU | Family | Drama

Summary: [Saat posisi seorang teman dipertanyaankan, benarkan teman adalah musuh atau malah musuh adalah teman. Tak ada yang bisa mengira. Menunggu waktu menjelaskan semuanya adalah pilihan.]

 

©NgalagaIngZulaipatnam

 

Pojokan curhat. Saya nyadar jika sekarang masuk trimester ke tiga Sobekan Friend & Foe. Dan setelah saya cek lagi FFnya lama kelamaan entah mengapa –menurut saya- sedikit meninggalkan unsure pertemanan antara Chaerin dan Hwa Young, well itu dikarenakan saya mau focus sama konflik Chae dan Kai (yang sebenarnya diawali oleh konflik gag penting dan begitu klise).  Tentang perubahan karakter Kyung Soo disini, saya harap bagi fansnya si pendek bermata belo untuk tetap tenang. Soalnya dari awal bikin FF ini saya emang berniat bikin dia jadi antagonis berkedok protagonis /halah ribet/ . Saya juga minta maaf untuk Sobekan kemarin yang katanya cuma satu babak dan pendek sangat itu. Eh, ada yang nanya apakah akan ada Romance-nya? Saya masih gag janji, emang ada yang mau Pair CL ama Kai? /Teriak ke EXO Fans ama Black Jack/ kalau aku sich mau-mau aja. Heheheh. Kayaknya makin lama saya jadi semakin banyak bicara -keseringan bikin cuap-cuap. Kalau begitu. Selamat menikmati sobekan-sobekan menjelang khatam ini.

 

__Friend&Foe©Zulaipatnam__

 

 “Menenggelamkan Pamanmu mungkin.”

__Friend&Foe©Zulaipatnam__

Tak ada tanda-tanda mobil Kyung Soo, Jong In masih menempelkan ponsel ditelinganya, celingukan kesana kemari memindai setiap wajah untuk disamakan dengan Kyung Soo dan Paman. Oh, aku bukan seorang anggota SPY yang mahir seperti James Bond.

“Ada respon dari ponsel Kyung Soo?” Rasa cemas benar-benar menggerayai tubuhku, terlebih setelah Jong In bilang Kyung Soo bisa saja menenggelamkan paman. Perutku mulas memikirkan setiap kemungkinan yang bisa terjadi.

Menuju kebawah jembatan Banpo, Jong In masih sibuk menghubungi ponsel kakaknya dengan mengekor langkahku. Baru kali ini kudapati wajah Jong In begitu cemas, ia nampak gusar disetiap saat. Sebuah pertanyaan yang tak kunjung ia jawab tiba-tiba kembali terbesit dalam otakku.

“Jong In..!!” Ia menoleh, masih ponselnya menempel ditelinga menunggu respon, melangkah mendekatiku. Jong In seolah bertanya –Apa?- melalui cara pandang dan kerut dikeningnya.

“Apa yang kalian ributkan sampai Kyung Soo menculik pamanku?” Ada roman tak nyaman nyata diwajahnya. “Ada apa sebenarnya? Kukira dengan kalian tahu jika Pamanku telah melunasi hutanganya maka kalian akan memaafkanku dan Paman. Tapi tahu situasi saat ini, kurasa semuanya tidak hanya karena hutang itu.”

Perlahan dijauhkan ponsel dari telinganya, Jong In memutar arah untuk benar-benar menghadap padaku. Ia menunduk, yah, tubuhnya jauh lebih tinggi dariku. Mata kami bersibobok untuk sekian detik.

“Ada hal lain yang tidak kuketahui dari semua ini? Seperti kau yang tiba-tiba membenciku dikelas 3 padahal kita sudah bersama sejak kelas 1. Atau kebetulan saat Kyung Soo bertemu denganku di café dan dia adalah kakak sepupumu. Semua itu ada kaitannya dengan kekesalan kalian pada Pamanku, begitu?” Rasa penasaran meluap begitu saja, Jong In yang ada dihadapanku saat ini. Ia seolah pria lain, bukan Jong In yang selama ini selalu bahagia saat mem-bully-ku. Ia berbeda, entah dari mana tapi kusimpulkan seperti itu.

Dia melengos, memandang jauh pada air di sungai Hanggang bersama tarikan nafas terlalu dalam, dadanya naik untuk beberapa detik dan kembali bersama deru nafas hangatnya. Jong In seolah meluapkan sebuah beban dalam dada, dan entah itu untuk apa aku masih mencari jawaban.

“Pamanku orang baik, Jong In. Dia bahkan selalu menyempatkan diri untuk menyambangi pemakaman kakekmu.” Membeberkan sebuah fakta baru, kuharap Jong In terpancing untuk menjawab semua pertanyaanku.

“Aku tahu itu.” Oh, bukan itu jawaban yang kuinginkan.

“Kau tahu jika Pamanku pergi kesana?” Tudingku merasa bodoh, Jong In mengangguk. Sialan bocah tan ini. “Lalu kau tetap membenciku? Untuk apa? Aku tak tahu apa-apa dengan semua ini, Jong In. Kau salah objek.”

Dia menggeleng, menegaskan jika yang ku ucapkan adalah salah. “Kyung Soo tahu sejak dulu, ia tahu jika Pamanmu mentrasfer uang setiap bulan kerekening Ayahnya. Dia tahu jika setiap tahun Pamanmu rajin menyambangi kuburan Kakek, Kyung Soo juga tahu jika kau adalah keponakan dari Lee Taem Baek. Ia memberitahuku saat kelas 3, dan aku langsung tak suka padamu.” Tercengang. Itulah yang kualami saat itu, jadi selama ini Kyung Soo yang menyupir Jong In agar membenciku?

“Tapi Kyung Soo terlihat tak seperti itu, kau jangan mengarang cerita Jong In! Aku tahu kau itu licik, sangat malahan. Aku tak akan percaya dengan omong kosong ini.” Cecarku mencari alibi, kebohongan Jong In harus diakhiri. Dia bicara tidak sesuai dengan fakta yang ada dilapangan, jelas-jelas Kyung Soo itu orang baik. Oh, ingatkan aku siapa yang sudah memberitahuku tentang alasan dibalik tindak buruk Jong In padaku! Itu Kyung Soo. Kyung Soo yang mengatakannya. Atau jangan-jangan…

“Dia mencoba mendekatimu, itu taktiknya.” Ungkap Jong In begitu yakin. “Mendekatimu untuk menghancurkan Lee Taem Baek.”

“Omong kosong. Bukannya kau yang selama ini melakukan hal itu, berniat menghancurkanku dan Paman, kau yang berniat seperti itu Jong In, bukan Kyung Soo.” Masih membela apa yang kupercaya. Jong In mengurut kening. Aku masih mendongak menantang wajahnya, Jong In pasti berdusta. Dia seorang pendusta.

“Aku tahu itu. Aku minta maaf, sungguh aku termakan hasutan. Kyung Soo bertingkah seolah aku yang memiliki hasrat paling menggebu, dia selalu menenangkanku, Chae Rin. Menasehatiku jika apa yang kulakukan adalah salah.”

“Aha. Sudah kuduga, kau memang ingin aku dan Paman hancur bukan? Buktinya meski Kyung Soo berusaha membujukmu, kau tetap ngotot juga kan? Sialan kau Jong In.” Mendorong tubuhnya dari hadapanku dengan keras, Jong In terhuyung sedikit, tangannya meraih tanganku. Dan tindakan bodoh itu terjadi, dia berhasil meraihnya, menarikku ikut serta dalam huyungan tubuhnya.

“Jong In..!!” Geramku meneriaki pria tan ini. Tak ada respon darinya, mataku terpaksa memandangi dada pria ini, ia yang masih mengenakan jaket motor dengan dalaman kemeja putih. Sial, aku dapat menghirup parfumnya.

“Kenapa kau mendorongku?” Mengembalikan kesadaran, aku tak percaya harus mengatakan ini. Parfum Jong In aromanya enak. Aish, Chae Rin apa yang kau fikirkan?

“Tentu saja karena aku kesal denganmu, bodoh!” Pekikku menjauhkan diri, Jong In masih memegangi siku tangan, ia seolah membimbingku agar berdiri dengan tegap. Kugerakkan tanganku tanpa minta dilepas.

“Tujuan kita kesini bukan untuk bertengkar Chae Rin. Aku sudah minta maaf, kenapa kau tak mengerti itu?” Baik, memang tujuan pergi ke sungai Hanggang adalah mencari Paman yang –katanya- diculik oleh Kyung Soo. Well, jangan salahkan aku jika kami bertengkar. Hawa yang dibawa oleh Jong In selalu menyulutku untuk mengeluarkan kata-kata kasar dan beradu argument dengannya. Itu tidak lucu dan aku tidak menyukainya.

Sebuah ide terbesit dikepalaku. “Ponsel Kyung Soo GPRSnya aktif?” Jong In menimang pertanyaan sejenak. Ia mengaktifkan aplikasi ponsel.

“Ya. Dan dia berada di….

“Dimana?”

__Friend&Foe©Zulaipatnam__

Sesaat setelah kami tiba, langit kala itu sudah hampir sore, orangenya melukis begitu indah. Jong In berjalan di depanku, tak berjarak jauh memang, sekitar setengah meter kurasa. Ia sesekali melirik kebelakang, memastikan aku tetap mengekorinya. Jong In berhenti mendadak, tubuh kami sedikit bertubrukan kemudian terdengar geraman suaraku. Ia mendesis pertanda untuk diam, kuawasi kemana Jong In menoleh. Diatas bukit sana, yah, aku ingat diatas bukit sana.

“Bukannya itu kuburan kakekmu?” Bisikku dari balik pundaknya, Jong In mengangguk faham. “Kita kesana saja sebelum pria pendek itu bertindak aneh-aneh?” Mendorong tubuh Jong In sedikit agar ia berkenan menuruti tawaranku, Jong In malah mengerem tubuhnya, menggeleng keras sebelum memutar arah. Kami berhadapan. Lagi. Dalam radius sedekat ini. Sial.

“Bertindak gegabah malah bisa lebih bahaya. Lagi pula aku sudah menghubungi paman.” Ujarnya was-was. Aku malah was-was jika kau berada terlalu dekat seperti ini, bodoh.

“Kalau begitu lakukan hal lain. Panggil Kyung Soo dan bilang minta maaf, bukannya kau bertengkar dengannya sehingga semua ini terjadi?” Tuduhku merasa tepat sasaran, Jong In melotot.  “Kau tidak mau meminta maaf pada Kyung Soo? oh ayolah! Jangan kekanakan! Kau bahkan mengemis maaf dariku, Jong In!”

“Itu berbeda!” Tekannya seolah tersakiti. Ah, berbeda dia bilang?

“Egois sekali dirimu.” Jong In semakin melotot, sungguh aku suka sekali mengintimidasi pria ini. Huh, rasakan bagaimana sakitnya jika diintimidasi. Jong In menggelengkan kepalanya.

“Tidak.. tidak!, itu bukan ide terbaik untuk saat ini. Aku yakin Kyung Soo tak akan memaafkanku semudah itu. Dan dia pun tidak mungkin melepaskan Pamanmu secara suka rela. Dia bukan tipe pemaaf seperti yang kau tahu, Chae Rin. Kyung Soo yang ini berbeda.”

“Oh, Tunggu! Kau ingin bilang dia punya kepribadian ganda?” Tuduhku tanpa tedeng aling-aling. Kemana semua arah pembicaraan ini? Dari Kyung Soo yang seorang barista menjadi penculik amatir dengan mobil mewah. Dan sekarang Jong In mencoba menghubungkannya dengan seorang pria berkepribadian ganda yang tengah menawan seorang pria paruh baya di pekuburan? Heck, kenapa ekspektasiku begitu jauh seperti ini?

Jong In semakin melotot. Oke, hari ini berapa kali ia melototiku? 3 kali?

“Tentu tidak seperti itu! Yang kumaksud adalah. Seperti inilah sifat Kyung Soo, jika selama ini kau mengenalnya dengan –pria baik hati dan penuh kelembutan. Oh, sungguh kau sudah terbohongi.”

Well, sekarang malah aku merasa jika kau yang tengah coba membohongiku.” Kembali aku menuduh Jong In. Dia memang cocok untuk dijadikan tersangka.

Diusap wajahnya frustasi, mengacak rambut hitam legam miliknya sebelum kembali melempar pandang dariku. “Hentikan semua omong kosong ini, Chae Rin! Kau memang tak akan pernah mengerti apa maksudku, sebaiknya kita tetap mengawasi mereka dan menarik Pamanmu saat Kyung Soo lengah.”

“Itu idemu?” Kejarku begitu tercengang. Mengapa acara kejar-kejaran pencurian ini jadi begitu sederhana? Apa tidak ada kegiatan action darinya yang akan memukau mataku? Tidak ada? Hanya diam dibalik pohon dan semak serta menunggu si Kyung Soo lengah.

“Ya.” Ia mengangguk pasrah.

Kali ini aku yang melotot tak percaya. “Bagaimana bisa idemu begitu rendahan, Jong In? kau kan anggota Taekwondo, serang saja Kyung Soo sementara aku mengalihkan perhatian.” Hei, sejak kapan otakku encer seperti ini?

“Itu ide gila!” Pekiknya tepat dihadapanku.

“Kenapa? Itu lebih gentle ketimbang menunggu mereka lengah. Ideku lebih keren dari idemu.”

“Ya lebih keren. Dan lebih berbahaya.”

“Berbahaya?”

“Kau bisa melukai dirimu dengan menjadi pengalih perhatian.”

“Oh. Itu manis sekali.” Cibirku dan entah mengapa Jong In menyembunyikan wajahnya. Jijik sekali.

“Terimakasih pujiannya.” Sahutnya cepat dan pendek, ia masih tak menatapku. Apa yang coba Jong In sembunyikan?

“Kurasa kau akan melindungiku. Jangan biarkan Kyung Soo menyakitiku kalau begitu, cepatlah datang dan selamatkan aku beserta Paman!” Ucapku seperti pemain protagonis dalam film superhero. Terlalu menggantungkan diri pada sang hero.

Menggigit bibir bawahnya, Jong In nampak menimang dalam diam. Kuselami titik wajahnya, ia seorang pemuda tan yang tak terduga. Kikikan kecil menggerayai hati, masih tak dapat kufahami, aku sangat ingin Jong In mati, terbakar hangus menjadi debu untuk bertaburan di udara. Hanya saja kala ini, aku seolah menarik semua keinginan itu, meski sesuatu dalam hati mendesak untuk mendoktrin jika Jong In adalah musuh terbesarku. Dia pasti berdusta dari setiap kalimatnya. Tak ada yang dapat kupercaya kecuali keinginanku sendiri.

CEKLEK

Suara lirih itu menarik perhatianku. Jong In menoleh kebelakang tubuhnya. Oh damn’t. Sebuah senapan tepat teracung dari tangan tegap Kyung Soo, mengarah lurus pada tubuh Paman.

“Dari mana ia dapatkan benda itu?”

“Entahlah.”

“Akan kualihkan perhatian Kyung Soo dan kau selamatkan pamanku!” Titahku tanpa fikir panjang, berlari menaiki bukit mendekati mereka, baru beberapa langkah sebuah tangan menarik lenganku. Memaksaku untuk mundur dan mendekat pada tubuh hangatnya.

Mata kami bersibobok.

“Biarkan aku!” Ok, otakku memang sedikit lambat, Apa maksunya?. “Aku yang akan mengalihkan perhatian dan kau selamatkan Pamanmu!” Ia mengubah rencana, tanpa fikir panjang aku mengangguk. Jika Jong In yang jadi pengalih perhatian. Kurasa Kyung Soo tak akan melepas timah dari senapan ditangannya.

“Hati-hati.” Bisikku padanya, ia mengangguk, berjalan menaiki bukit sementara aku mencari jalan memutar. Akses yang lebih muda untuk bersembunyi dan menarik Paman menjauh saat Kyung Soo terpancing oleh Jong In.

__Friend&Foe©Zulaipatnam__

“Kalau itu lebih baik. Lakukan!” Titah Paman dalam nada tegas, tak ada ketakutan pada gurat wajahnya. Pria itu benar-benar terlihat siap. “Hutangku memang tak terbayarkan, kakekmu tidak bisa kutebus dengan apa-apa yang kumiliki. Jika dengan cara ini aku bisa menebusnya, maka lakukan!” Kyung Soo bergetar, tangannya mencengkram pematik senapan dalam ragu, ia bisa kapan saja menarik pematik itu tanpa ia sadari.

Saat ini aku masih bersembunyi, Jong In entah kemana, dia tak kunjung muncul untuk mengalihkan perhatian Kyung Soo.

“Ya. A-kan k-kulakukkan.” Bergetar gugub, Kyung Soo memang bukan pria yang seperti Jong In. Bagaimana pun dia tetap pria lembut yang baik hati. Dia hanya tertekan, kurasa seperti itu.

Tak ada apa pun yang terjadi, Paman menarik nafas dalam-dalam, bersiap menghadapi hal terburuk yang terjadi. Sementara jemari Kyung Soo, ia tak memperlihatkan tanda-tanda akan mematik senjata. Kyung Soo dipenuhi keraguan. Sedikit bernafas legah mengetahui hal tersebut. Hanya saja kelegaan itu tak bertahan lama.

Dimana Jong In? dia lama sekali, tak tahukah jika Pamanku dalam keadaan genting.

“Kyung Soo..!!”

DOOR..!!

Semua itu tak ada hitungan detik. Aku menjerit tak percaya, berlari menubruk tubuh Paman yang oleng tanpa kekuatan, berusaha menggapainya sebelum limbruk ketanah. Kyung Soo mendelik begitu shock. Senapannya jatuh, ia bisu dan beku.

“Taem Baek..!!” Panggilan tak percaya itu menyeruak ke telingaku, Seorang pria asing yang memiliki mata belo. Kutarik tubuh Paman sambil sesengukan. Bagaimana ini? Darah segar mengalir dari lengan kanannya, kubaringkan tubuh Paman dipahaku, menempatkannya agar nyaman dan aman.

“Kau gila, Kyung Soo…” Jong In menghantamkan bogem mentah kewajah saudara sepupunya itu.

“Siapa pun, cepat telepon ambulance!” Pekikku gugup, aku tak mau Pamanku mati konyol. Koyakan di lengannya menganga mengerikan, pelurunya pasti menancap begitu dalam, mengoyak daging dan tulangnya.

Pria asing itu menarik ponsel dari saku celana kain miliknya. Menekan beberapa nomor sebelum Paman menggerang kesakitan.

“Paman..!! Jong In, Pamanku…!!”

__Friend&Foe©Zulaipatnam__

Sepertinya parti ini lumayan panjang. Jadi jangan protes!

39 tanggapan untuk “FRIEND & FOE #Sobekan Sembilan”

  1. whoooaaa akhirnyaaaa rilis juga nih lanjutan ff perang antar keluarga. haha kali ini aku gak akan protes soalnya lumayan panjang meskipun bener bener cuma satu babak.
    Kai ngomongnya muter muter siy jadi Chaerinnya gak ngerti tuh..
    tapi tujuan dan karakter kyungso disini memang masih belum gitu jelas sih. bikin yang baca berspekulasi sendiri ada apa sama si cebol belo.
    dan bersibobok?? hahaha aku gak percaya kalo line kamu dibawah aku. kata kata yang kamu pake lawas bener abisan.
    tapi gak papa itung itung melestarikan bahasa yang hampir aja punah.
    well.. aku tetep setiaa tunggu lanjutan ff mu dan tetep setia nunggu kamu di ff aku hahaha
    semangaaaat

    1. line aku emang jauuuuuh banget ama dikao tante. hahahahah,
      berasa saya jadi orang langkah aja te dilestarikan. tunggu aja yaaah keterangan lebih lanjut mengenai kyung soooo

  2. Waaaaaaaaaa, kereeeeeenn!!><
    Makasih kak chap yg ini udah dibuat lebih panjang, haha 🙂 (y)
    Btw, kyungsoo sadis amat 😦 jahat huaaaㅠㅠ Trnyata justru kai yg baik.-.
    Ah ituuuu,, Kai suka sam CL ya?? Ihiiw :3 boleh juga kalo ada little bit romance'-' tapi jngn banyak2, ga asik(?), wkwk~
    Next chapter ditunggu kak! Secepatnya, hehe :p Fighting!^^)9

    Oya, dri INTRO aku bru tau kalo authornim namja._. Awalnya kukira yeoja^^)v maap ya thor kalo sebelumnya pernah bilang eonni, wkwk~ /kabur~

    1. Eh eh eh/.\
      Aigooo, miane eonni~ *bow*bow*bow*
      Barusan aku baca lagi intronya.. Sekalian komen2nya juga.. Astaghfirullah,, bru tau trnyata author-nya yeojaaaa/.\ bneran kukira namja._. Pertama, karena fotonya itu ke-namja-an(?) bnget~ Kedua, author nulis namanya pake ‘bin’.. Yg aku tau, kalo cewe pake ‘binti’…
      Okeh, maaf atas kesalahan saya eonㅠㅠ dan maaf atas ke-bawel-an saya jugaaㅠㅠ *bow*bow*bow* lagi. Dan maaf kalo trlalu lebay._.v

      Sekali lagi maaafㅠㅠ *bow90drjt

      Sekalian kenalan ah(?)’-‘ Nan sofi, yeoja, 00L 🙂 Salam kenal ya eon^^

  3. Akhirnya, Friend&Foe ini publish! wkwkwk heboh dewe~
    Masih setia nunggu comebacknya ffmu saeng, berharap akhir yg bahagia pd cerita ini #permohonan #lebay hehe.
    Aslinya br akan komen bsk stlh membacanya sblm midnight td~tp apadaya insomnia menyerang sehingga mata yg udh dipejamkan selama satu jam tak dpt memasuki alam mimpi huuh.
    Ah, iya, sbnrnya diriku agak gak rela abang Kyungsoo diberikan anta tp ber-cover pronta(eh bnr ga nih tulisannya?). Tp kembali lg, ini hanya ff, setiap castnya dpt dinistakan sesuka hati mjd karakter” yg diinginkan penulis itu sendiri (y)
    Msh bingung sama KAI (enggak tau knp)
    Eh tp kalau mau dibuat little bit romance antara KAI-CL gmn yaa, setauku dia hrsnya jd nunanya KAI haha tp terserah kamu aja deh.
    Wah mau habis?
    Sebenarnya aku ga begitu nangkap konfliknya, *kadang lola* #maklum yaaa 😉 tp suka ‘aja’ sama ff ini dr awal nge-klik n akhirnya mengikuti~
    Two thumbs up deh buat kamu!! (y) (y)

    Sippo!Keep writing n fighting!!^^ Ditunggu kelanjutannya yaa..
    Nb: Reply komen di INTRO, itu kamu di gunung?Gak kelihatan saeng~kan kamu edit. Oiya, n hati” nanti ada reader yeoja yg bisa ngefans lho kalau lht foto kamu yg pertama itu. Namja bermasker eomona~~ #peace #kabur ;))

    1. say asedang digunung /LERENG GUNUNG ARJUNO DAN BERSEMAYAM di air terjun GUMANDAR.
      cl emang lebih toa dari kAI, tapi kalau dilihat tampangnya, ehm……… kayaknya sepantaran aja deeeh. hahahahahah…. btw, komentar dirimu panjang kaleeek

  4. keren keren huaaa team baek-nya ketembak haduuuh gmna tuh x( haduh haduh knpa Kyungsoo jahat..
    aku setuju thor klo ada romance-nya hihihihi 😀
    next thor~

  5. ‘Bagaimanapun kyungsoo hanyalah pria yg lembut dan baik hati, dia hanya tertekan’
    aku suka kalimat itu (?)
    lanjutin ya~
    semoga kyungsoo nya ganti lagi peran jadi protagonis lagi ^^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s