Distance of Our Love (Chapter 9)

Title: Distance of Our Love  (Chapter 9)

Authors : scyeunmi

Main Cast :

– Kim Nae Ra (OC)

– Byun Baekhyun

– Zhang Yi Xing a.k.a Lay

Other Cast :

– Kim Jong In a.k.a Kai

– Park Chanyeol

Length :

Rating : General

Genre :Romance,Sad,Angst,Drama, Friendship.

¤~(ㅋㅋㅋ)~¤

«Nae Ra’s pov»

Semenjak Baekhyun pergi dari hidupku, suasana hariku semakin rumit. Ditambah Yixing harus dirawat di rumah sakit, kini sakitnya semakin parah dari yang biasanya. Dokter tidak bisa mengobati lagi sakitnya itu. Seakan semua hanya pasrah dengan keadaan dan menunggu sebuah keajaiban yang tidak pasti datangnya itu. Semua hanya berdoa untuk itu.

“Yixing-ah!” panggilku kepada namjachingu-ku yang sedari tadi hanya duduk di kursi taman rumah sakit menatap dunia ini dengan pandangan yang kosong, wajahnya pucat seakan tidak ada gairah dan cahaya hidup di dalamnya.

“Chagiya!!” panggilku sekali lagi. Ia tiba-tiba terbatuk dan terus terbatuk hingga hidung dan mulutnya mengeluarkan cairan merah kental dengan banyaknya.

“Chagiyaa!!” teriakku. Yixing hanya terjatuh di pangkuanku dan sesak napas tidak keruan dengan cairan darah yang masih keluar deras dari hidungnya dan mulutnya.

Seketika perawat itu langsung membawa Yixing ke ruangan kamar inap nya dan memeriksa keadaan Yixing kembali.

Mulut Yixing tertahan gertakan gigi itu seakan ia menahan sakit yang teramat sangat, matanya mengeluarkan air mata dan sesak napas yang semakin tidak keruan. Siapa yang tega melihat namjachingunya menahan sakit seperti ini? Sungguh aku hanya bisa menangis dan hanya menangis melihat ini semua. Aku tidak kuat dengan ini semua!! Aku tidak kuat Tuhan, aku tidak kuat!!!

“Yixing-ah, berdoa kepada tuhan!” Lirihku pelan ke telinga Yixing dengan mengecup tangannya yang kugenggam dan mengelus rambut namja yang sangat kusayang ini.

Ia pun tertidur setelah perawat memberikannya obat tidur. Aku tidak kuasa melihat Yixing merintih kesakitan dengan hebatnya. Wajah malaikat itu seakan mengobati kesedihanku, namun wajah itu juga yang membuat kecemasanku semakin bertambah.

“Saudari Nae Ra! Anda dipanggil oleh dokter!” Ujar suster yang merawat Yixing memanggilku, aku mengikuti langkah kemana suster itu pergi hingga kudapati ruangan dokter yang merawat Yixing tersebut.

“Anda, keluarga dari saudara Zhang Yi Xing?” Tanya dokter yeoja itu yang diketahui bernama Jo San Hee.

“Ne, uisa… Saya, hmm… Yixingeui Yeojachingu!” Jawabku ragu, sejenak dokter Jo menatapku iba seakan ia berat untuk memberitahukan hal yang semula ingin ia bicarakan padaku.

“Apakah kamu tahu apa sakit yang diderita Yixing?” Tanya dokter itu tanpa ragu-ragu sekarang.

Aku menggeleng, “Belum dok, ia terlalu merahasiakannya padaku!” Balasku lemas.

“Mianhae, saya harus memberitahukan ini pada anda!” Ucap dokter Jo.

“Saudara Zhang Yi Xing mengidap Penyumbatan Aliran Darah yang bersarang di kepalanya!” Sambung dokter Jo, aku tersentak dan bulir-bulir air mata ini refleks jatuh dengan bebasnya di pipiku.

Kenapa banyak sekali cobaan kepadaku Tuhan?‘ Rintihku dalam hati.

“Sekarang sakit itu sudah mencapai stadium 3, dan perkembangan ini sangat cepat sekali! Bahkan terlalu cepat dari perkiraan awal!” Jelas Dokter Jo yang semakin membuat hatiku terpukul, aku menangis deras.

“Kenapa dok? Kenapaaa???” Teriakku menangis dan menundukkan kepalaku di meja dokter tersebut.

Dokter itu hanya menatapku iba.

“Mianhae, tapi saya harus memberitahukan ini pada anda!” Kata Dokter Jo dengan mengeluarkan hasil pertinggal rontgen scanning Yixing. Aku mengontrol emosiku hingga aku bisa lagi mendengarkan penjelasan dari dokter Jo.

“Aliran itu tersumbat di kepala bagian tengah, dan itu sudah parah. Kami sudah berusaha semampu kami, tapi hasilnya nihil, tapi kami selalu mencoba semoga keajaiban datang menghampiri Yixing..,” sesal dokter Jo, aku tertunduk.

“Ne Gamsahamnida dok! Dokter sudah melakukan yang terbaik untuk Yixing, saya harap Yixing bisa sembuh dok!” Balasku.

“Iya, kami akan berusaha untuk menyembuhkan saudara Yixing!” Ucap dokter Jo. Hingga akhirnya aku pamit keluar ruangan dokter itu. Dan duduk termenung di taman rumah sakit dan terdapat air mancur yang indah di tengahnya.

Kutatap anak-anak yang sedang bermain di taman itu dengan riangnya walaupun menggunakan kursi roda diantara mereka, aku tersenyum simpul. Melihat mereka berbahagia ditengah keterpurukan yang melanda mereka.

“Nae Ra!” Panggil seseorang yang mengagetkanku, aku menoleh ke arah belakang. Ternyata Chanyeol.

“Eh! Ternyata kau, mengagetkanku saja!” Kataku tersenyum dengan menepuk bangku taman yang tersisa banyak untuk menawarkan Chanyeol duduk di sebelahku.

Ia menurut dan duduk di sebelahku, “Bagaimana dengan keadaan Lay?” Tanyanya.

“Ya, begitulah. Sudah tidak ada harapan! Dokter bilang perkembangan penyakit itu sangat cepat, dokter sudah melakukan hal semampunya tapi hasilnya nihil!” Jelasku lemas dan menundukkan kepalaku.

“Sabar ya Nae Ra.., berdoa saja kepada Tuhan. Berdoa agar Yixing segera sembuh Ne?” Nasihat Chanyeol, aku tersenyum simpul. Aku beruntung masih memiliki Chanyeol, sahabat yang paling mengerti dengan keadaanku. Walaupun aku satu-satunya yeoja diantara mereka.

¤~(ㅋㅋㅋ)~¤

«Chanyeol’s pov»

“Sabar ya Nae Ra.., berdoa saja kepada Tuhan. Berdoa agar Yixing segera sembuh Ne?” Nasihatku. Nae Ra tersenyum tulus ke arahku. Deg! Kenapa hatiku berdebar-debar melihat senyumannya?

“Chan!” Panggilnya terhadapku, aku menoleh melihat rambut coklat panjangnya diterpa angin dengan lembut yang membuatnya semakin cantik, sungguh Baekhyun tidak salah pilih dengan hal ini. Tetapi…, apa aku mengaguminya juga?

“Kenapa Chan, kenapa hal ini harus terjadi denganku?” Tanyanya lirih aku terdiam aku hanya bisa mengelus punggungnya pelan untuk menenangkannya.

Memang sangat berat kondisi yang sekarang Nae Ra jalani, sanggupkah ia? Mungkin jika aku yang menjalaninya aku tidak tahu kemana diriku selanjutnya! Ditinggal sahabat bahkan dia menganggap Baekhyun sebagai Oppanya menanggap Baekhyun sebagai namjakecil nya. Dan sekarang ia harus ditinggal Baekhyun dengan cara tragis seperti ini, ditambah namjachingu-nya Lay! Ia sedang sakit keras dan peluang sembuh sangat kecil, Tuhan! Aku tidak tega melihat yeoja menangis di keterpurukan yang dalam ini Tuhan!

“Nae Ra, uljima! Masih ada aku, aku bisa menjadi tempat sandaranmu! Aku tahu, aku mengerti berat kondisimu saat ini!” Balasku dengan merangkulnya, ia mendaratkan kepalanya di dadaku, kuelus rambut coklat lurusnya pula saat itu.

Tuhan, aku mohon! Lepaskanlah Nae Ra dari cobaan berat ini‘ doaku dalam hati seraya kudongakkan kepalaku ke atas melihat langit biru yang akan ikut bersedih dengan keadaan Nae Ra.

¤~(ㅋㅋㅋ)~¤

«Nae Ra’s pov»

Hanya aku sendiri yang menemani Yixing di rumah sakit karena Yixing hanya tinggal sendiri, otomatis aku yang selalu setiap hari menginap dan merawatnya di rumah sakit ketika pulang sekolah, tapi hari ini aku sama sekali tidak niat untuk masuk sekolah.

Aku terduduk menatap langit subuh yang masih dihiasi dengan jutaan bintang dan bulan yang bersinar cerah walaupun jam sudah menunjukkan pukul 04.30 pagi.

Tok.. Tok.. Tok…

Aku menoleh, Yixing sedang menepuk-nepuk meja di sebelahnya, mencoba untuk memanggilku.

Kuhampiri Yixing di tempatnya, “Ne, ada apa chagi?” Tanyaku.

Entah dengan keajaiban dari mana, ia membuka mulutnya seperti ia ingin berbicara! Ya Tuhan semoga kondisi Yixing membaik!

“Nae… Ra, aakuu…iiing…iiinn..ja..lan…. Ja..lan… Kee…luu..ar,” rintih Yixing pelan sekali, tapi aku masih bisa mendengarnya.

“Ne!” Jawabku dengan membantu mendudukkan posisi Yixing dan membantunya duduk di kursi roda yang disediakan.

Aku mendorong kursi roda yang dinaiki Yixing mengitari lorong-lorong rumah sakit, tampak semua sudah mulai beraktivitas, sampai ia menunjuk ke sebuah taman yang terletak di seberang jalan belakang rumah sakit yang sangat indah dihiasi oleh bunga-bunga dan lampu-lampu yang berwarna-warni dan pohon yang tinggi dan rimbun menambah suasana asri di taman itu, namun sepertinya taman itu bukan taman milik rumah sakit, Yap! Itu taman kota yang kebetulan dekat dengan rumah sakit ini.

Aku membawa Yixing kesana hingga ia tersenyum simpul. Aku bahagia melihat Yixing bisa tersenyum tulus seperti ini, bahkan ia sempat bermain denganku walaupun dengan keadaan yang masih lemas.

“Nae… Ra…ya!” Panggilnya pelan, bibirnya yang pucat itu tersenyum membuat aku semakin ingin memilikinya.

Kuhampiri namjachingu-ku ini, ia menunjuk sebuah kayu kecil yang tajam itu, aku mengambilnya.

Yixing menunjuk ke arah sebuah pohon, kudorong kursi rodanya menuju pohon yang paling indah di taman itu, perlahan jari jemarinya mengukir sebuah tulisan di batang pohon itu dengan lemasnya.

‘Saranghae Uri Hamkke Yixing ♡ Nae Ra’ dan membuat sign love untuk melingkari tulisan itu, aku terhenyak, sebegitukah Yixing mencintaiku?

Ia tersenyum setelah mengukir tulisan itu di pohon, begitu juga aku. Aku duduk di kursi taman yang dekat dengan pohon itu sambil mengalungkan tanganku di pundak Yixing.

“Gomawo chagi!” Ujarku, ia tersenyum simpul dan membelai pipiku pelan dengan kedua telapak tangannya, kupejamkan mataku dan tersenyum setelah itu.

¤~(ㅋㅋㅋ)~¤

«Chanyeol’s pov»

Kuparkirkan mobilku di parkiran sekolah dan berjalan menuju kelas, yap! Hari ini aku tidak terlambat!

Kumasuki kelasku yang berada di ujung, aku tidak mendapati seseorangpun disana hanya tas mereka yang menempati kursi-kursi yang berserakan di kelas itu.

Tanpa berfikir panjang aku duduk di bangku-ku dan mengutak-ngatik gadgetku.

“Baek! Apa kau tenang di sana?” Gumamku pelan ketika aku melihat selca-ku bersama Baekhyun. Sungguh banyak sekali selca-ku dengan Baekhyun yang tersimpan di gadgetku.

Kembali kusimpan gadgetku ke saku almamaterku, bel masuk sudah berbunyi tampak semua anak memasuki kelas, aku tidak mendapati Nae Ra masuk sekolah hari ini. Kemana anak itu ya?

¤~(ㅋㅋㅋ)~¤

«Chanyeol’s pov»

Hingga pulang Nae Ra tidak kunjung hadir di sekolah, hingga kuputuskan untuk ke apartemennya, siapa tau ia ada di sana.

“Eh! Nak Chanyeol ada di sini?” Tanya Shim Ahjumma sambil mengelap-ngelap perabot, aku hanya tersenyum. “Nae Ra eodisseo Ahjumma?” Balasku. “Nan mollaseumnida Nak! Tadi ia hanya mengambil banyak sekali botol soju dari lemari makanan!” Jawab Shim Ahjumma. “Eh tapi setelah itu saya tidak melihat nona muda Nae Ra lagi!” Sambung Shim Ahjumma, aku hanya mengangguk dan membungkukkan diriku kemudian berjalan menuju dalam apartemen.

Kutelusuri apartemen Nae Ra, hingga mendapati sebuah yeoja sedang berada di kamar Baekhyun! Dengan? Banyak botol soju yang terdapat di situ.

Nae Ra meneguk soju itu langsung dari botolnya, ia menangis. Mungkin Nae Ra depresi dengan hal ini.

“NAE RA-Ya!!!” Teriakku, ia tidak menoleh. Masih dengan meneguk soju-nya langsung dari botolnya dengan kasar dan kondisi yang menangis kemudian membanting botol soju itu dengan kuatnya.

“Berapa banyak yang kau minum?” Tanyaku setelah mendapati sangat banyak sekali botol soju yang berserakan di bawah serta gelas kecilnya itu.

Nae Ra tidak menjawab, ia sesekali memegangi kepalanya yang sakit.

“Kenapa ini harus terjadi padaku! Baek!! Kau lihat aku sekarang, cepatlah datang aku punya soju untukmu mari kita minum bersama! Oh yayaya! Yixing-ah! Ayolah kita pergi jalan-jalan chagi, kita akan ke club dan menikmati soju yang segar malam ini kan, ayolah dengan sedikit musik, kita begadang semalaman—” Rintihnya yang sangat ngelantur itu, sudah pasti ia mabuk.

“Nae Ra-ya! Hei hei!” Ujarku dengan menepuk pipinya agak keras.

“Baek! Kau datang juga, ini sebotol soju untukmu!” Ucap Nae Ra yang semakin tidak nyambung sekalipun dengan menyodorkan botol soju itu ke depannya, ke arahku tepatnya namun sesaat dia meneguk lagi soju langsung dari botol yang disodorkannya dan cepat ia membantingkan botol itu karena sojunya sudah habis.

“Neo!! Yixing-ah!!! Ayo pergi ke club! Menikmati banyak soju membuatku sudah tidak sabar!” Sambung Nae Ra dengan tanpa sadar menarik kerah seragamku hingga keningku dengan kening Nae Ra sudah bersentuhan.

“Nae Ra ini aku Chanyeol!” Balasku, ia tersenyum dengan kondisi mabuk.

“Oh Chan! Apa kau mau?” Tanyanya menolak diriku hingga aku hampir terjatuh Nae Ra juga menuangkan soju di gelas kecil dan menyodorkannya padaku.

“Nae Ra!!! Hei sadarlah!” Balasku dengan mendekap sahabat yeojaku ini. Tapi ia seketika pingsan di dekapanku mungkin ia terlalu banyak meminum soju ini.

Aku mengangkat Nae Ra menuju tempat tidur di kamar Baekhyun, kubersihkan mulut Nae Ra dan sekitarnya dengan handuk yang diberi air hangat karena bekas dari noda minuman soju itu dan menyelimutinya, matanya sembab, kantung mata yang menghitam, serta air mata yang sesekali keluar dari ujung matanya itu.

“Nae Ra-ya! Berhentilah membuat hal bodoh seperti ini! Aku tahu meminum soju adalah cara singkat untuk meluapkan semuanya! Tapi aku tidak mau kau kenapa-kenapa Nae Ra!” Gumamku dengan menatapi Nae Ra dan menggenggam tangannya hingga tanpa sadar aku tertidur dengan posisi duduk di kursi sebelah tempat tidur Nae Ra dengan tangan yang masih menggenggam tangan Nae Ra.

GLEK!

Aku terbangun oleh suara orang membuka pintu, Nae Ra sedari tadi belum sadar. Ternyata Kai yang membuka pintunya.

“Sedang apa Chan? Kok kau tertidur menjaga Nae Ra, Nae Ra kenapa?” Tanya Kai bertubi-tubi dengan melihat semua botol-botol soju yang berserakan di lantai.

“Nae Ra mabuk! Aku tidak sadar menemukannya di kamar Baekhyun, dengan meneguk soju sebanyak itu!” Jawabku dengan menunjuk 5 botol soju dengan ukuran besar itu yang kosong dan berserak di lantai.

“Aigo!!” Ujar Kai dengan mengetukkan tangannya ke frame pintu tersebut dan menutupi mukanya.

“Aku kasihan dengan Nae Ra, Kai!” Sambungku. Kai menatap Nae Ra tepatnya yeojadongsaeng yang sayang padanya dengan iba.

Terlihat Kai terduduk di tempat tidur di tempat yang masih tersisa. Ia mengelus rambut yeojadongsaeng-nya dan sesekali mengecup keningnya. “Berhentilah membuat aku dan teman-temanmu khawatir, aku tidak mau kau terbebani masalah Nae Ra! Eomma dan Appa kerja di luar negeri untuk kita, jangan membuat mereka khawatir!” Nasihat Kai sendiri dengan mengelus rambut yeojadongsaengnya tersebut.

¤~(ㅋㅋㅋ)~¤

«Nae Ra’s pov»

Aku terbatuk, dan perlahan sadar. “Hmm… Aku dimana?” Tanyaku.

“Kau ada di kamar Baekhyun, kau mabuk Nae Ra! Lihatlah kau meminum banyak sekali soju!” Jelas Kai Oppa dengan menunjuk botol-botol soju yang berserakan.

Aku menutup mukaku dan memeras rambutku sesekali.

“Sudahlah Nae Ra! Jangan terpuruk seperti itu! Berdoa kepada Tuhan untuk kesembuhan Yixing dan berdoa selalu untuk Baekhyun. Bukannya menyakiti dirimu sendiri dengan cara seperti ini,” jelas Chanyeol yang ternyata ada di sini.

Aku tidak menjawab, hingga Kai Oppa menyambung percakapan ini.

“Benar yang dikatakan Chanyeol, jika ia tidak langsung datang dan menghentikanmu dan menjagamu dari kau kehilangan kesadaranmu gara-gara mabuk! Mungkin kau menghabiskan lebih banyak soju, ini saja kau sudah menghabiskan 5 botol soju berukuran besar sekalipun!” Sambung Kai Oppa. Aku melihat ke arah botol-botol soju yang berserakan. Ada 5 botol soju yang sudah kosong berserakan, dan beberapa botol lagi yang masih banyak. God! Berapa banyak aku mengeluarkan soju dari lemari penyimpanan makanan di dapur?

Aku bangun ke posisi duduk bersandar di tempat tidur Baekhyun.

“Mianhae Oppa! Oh Ya Chan! Nado Mianhae kau sudah repot menjagaku, aku sudah gegabah begini, Tuhan maafkan aku dengan semua hal ini!” Sesalku. Mereka tersenyum.

“Sudahlah, hanya saja Nae Ra tidak boleh mengulanginya kembali!” Pesan Kai Oppa, aku menangguk dan tersenyum. Mereka berdua beranjak dari kamar Baekhyun, sampai-sampai aku melihat sebuah kotak vintage coklat bertuliskan ‘Distance of Our Love’ .

Apakah kotak itu punya Baekhyun? Ada apa dengan kotak itu? Aku penasaran dengan isinya. Apa isi dari kotak itu??

-TBC-

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s