Distance of Our Love (Chapter 10)

Title: Distance of Our Love (Chapter 10)

Authors : scyeunmi (@scywlndri)

Main Cast :

– Kim Nae Ra (OC)

– Byun Baekhyun

– Zhang Yi Xing a.k.a Lay

Other Cast :

– Kim Jong In a.k.a Kai

– Park Chanyeol

Length :

Rating : General

Genre :Romance,Sad,Angst,Drama, Friendship.

¤~(ㅋㅋㅋ)~¤

-PREVIEW-

«Nae Ra’s pov»

“Sudahlah, hanya saja Nae Ra tidak boleh mengulanginya kembali!” Pesan Kai Oppa, aku menangguk dan tersenyum. Mereka berdua beranjak dari kamar Baekhyun, sampai-sampai aku melihat sebuah kotak vintage coklat bertuliskan ‘Distance of Our Love’ .

Apakah kotak itu punya Baekhyun? Ada apa dengan kotak itu? Aku penasaran dengan isinya. Apa isi dari kotak itu??

-End Of Preview-

Baru aku berjalan menuju kotak itu serasa seseorang datang dan memanggil – manggil namaku.

“Nae Ra!” Panggil seseorang. Aku melihat ke semua arah dan mendapati sosok… Baekhyun!

“Baekhyunnie!” Aku mencoba memeluknya, pelukan itu terasa asli di tubuhku pelukan yang kurindukan.

“Kau mabuk ya?” Tanya Baekhyun dengan mencubit pipiku gemas sambil melihat botol soju yang berserakan. Dan itu begitu nyata bagiku.

“Aw.. Appo! Hmm.. Ne!” Jawabku. Baekhyun menggeleng dan mengacak rambutku pelan, acakan rambut yang begitu nyata bagiku.

“Ish..ish… Kau pernah memberitahukanku kalau jangan minum soju banyak-banyak, yeh! Kau meminum lebih dariku eoh!” Goda Baekhyun aku tertunduk. Terasa sebuah obrolan yang sangat asli dan real bagiku.

“Ne, jeongmal mianhae! Aku sangat frustasi Baek!” Jawabku.

“Hmmm.. Gwaenchanhayo! Jangan diulangi lagi ya!” Pesan Baekhyun padaku. Aku mengangguk dan berdiri membelakangi Baekhyun menatap indahnya langit Seoul siang menjelang sore ini.

“Oh Ya Baek!” Sambungku dengan melihat ke belakang, tidak ada siapa-siapa. Namun Pandanganku langsung tertuju kepada kotak Vintage itu tadi.

“Baekhyun naega eodisseo?” Teriakku. Namun pandanganku tidak lepas dari kotak Vintage yang membuatku sangat penasaran sekali.

Tanpa berbasa-basi aku berjalan pelan dan berjongkok di depan kotak berwarna cokelat muda yang bertuliskan Vintage ‘Distance of Our Love’ melihat dari kata-kata di kotak itu aku terhenyak. Jarak dari cinta kita? Apa maksudnya?

Aku baru saja ingin membukanya namun aku dikejutkan oleh kedatangan Chanyeol tiba-tiba yang membuka pintu kamar Baekhyun.

Cepat-cepat aku menutup kotak

itu dan berdiri dan menepis-nepis rok pink soft selutut yang kukenakan.

Chanyeol tersenyum ke arahku, aku merasa agak canggung, ada apa ini?

“Hmm.. Nn..ee?” Ujarku canggung. Ia berjalan dan merangkulku.

“Kau bicara dengan siapa tadi?” Tanya Chanyeol. Eoh? Apa dia mendengar pembicaraanku.

“Baekhyun!” Jawabku singkat, ia terpelongo. “Ha? Baekhyun? Neo michyeosseo?” Tanya Chanyeol tidak percaya.

“Aish! Jinjja Nan Marhae!” Balasku, ia menggeleng-geleng seakan menatapku dengan aneh.

“Kau tidak percaya Chan?” Sambungku.

“Sedikit! Ah sudahlah lupakan halusinasimu terlalu berlebihan! Mau ke rumah sakit? sebaiknya kau menjenguk Yixing dan memperhatikan neo namjachingu-ya!” Ucapnya padaku.

“Aku tidak berhalusinasi! Ini nyata! Aku berani jujur jikalau aku memang berbicara dengan Baekhyun tadi!” Jelasku panjang lebar.

“Nee!!!” Jawab Chanyeol yang akhirnya percaya dengan omonganku. Aku tersenyum menampakkan deretan gigiku yang rapi. Senyuman tulus tepatnya.

Aku berjalan menuju lobby apartemen dan menaiki mobil Chanyeol menuju rumah sakit. Waktu sudah menunjukkan pukul 03.30 sore.

SKIP>//<

¤~(ㅋㅋㅋ)~¤

«Yixing’s/Lay’s pov»

Aku melihat jam dinding yang tergantung di dinding atas jendela yang terbuka itu.

Pukul 04.00 sore.

Glek!

Suara pintu terbuka itu mengagetkanku, ternyata Chanyeol dengan Nae Ra datang. Kenapa akhir-akhir ini Baekhyun jarang ikut? Kenapa bocah itu ya?

“Hei Lay!” Sapa Chanyeol padaku, aku tersenyum lemas.

“Kau tahu Chan! Yixing mmm… Maksudku Lay sudah bisa berbicara, akhir-akhir ini perkembangan dia sangat cepat!” Ujar Nae Ra senang dan duduk di sebelahku dengan menggenggam kedua tanganku, aku tersenyum. Sebegitukah Nae Ra mencintaiku?

“Aish. Jinjja?? Nan haengbokhaeyo!” Jawab Chanyeol dengan duduk di sebelah tempat tidurku, aku senang masih ada orang yang peduli denganku walaupun kondisiku sudah sakit parah begini.

UHUK! UHUK!

¤~(ㅋㅋㅋ)~¤

«Nae Ra’s pov»

UHUK! UHUK!

Yixing terbatuk dengan sangat parah, hingga ia muntah dengan penuh darah yang berceceran di baju rumah sakitnya itu.

“Yixing-ah!” Teriak Chanyeol, aku segera sigap dengan mengelap dan membersihkan darah yang berada di sekitar mulut Yixing dengan handuk yang telah kubasahi.

Yixing memegangi kepala dan merintih kesakitan. “Akhh!! Jebal! Lepaskan penyakit ini!!” Rintihnya kesakitan dengan hebatnya.

Dengan sigap Yixing kudekap. “Chagi!” Ujarku dengan mengelus rambut belakangnya.

Seketika ia jatuh pingsan di dekapanku dengan mulut yang masih penuh dengan darah, deretan gigi itu yang tadinya putih sekarang ternodai oleh darah. Chanyeol hanya melihatku iba.

“Nae Ra-ya! Uri eotteokhaji?” Tanya Chanyeol dengan mengacak rambutnya pelan.

Aku menggeleng, “coba kau panggilkan dokter, jebal kumohon!” Balasku, ia segera berlari keluar memanggil dokter.

“Chagiya, aku mohon! Sembuhlah demi aku!” Rintihku dengan meneteskan air mataku, tanpa terasa air mataku terjatuh tepat di pipi Yixing.

Dokter Jo segera memasuki kamar Yixing dan menyuruhku serta Chanyeol keluar dari kamar itu. Aku pun menurut dan keluar dengan lemas.

Chanyeol menepuk-nepuk pundakku. Aku langsung memeluknya. Tinggiku yang sepundaknya itu membuatku sangat nyaman di pelukan namja ini.

“Jinjja nan moreusine!” Lirihku sambil menangis di pelukan Chanyeol, ia membalas pelukanku dan mengelus rambutku serta menundukkan keningnya di kepalaku.

“Aku akan selalu menjadi sandaranmu! Aku teman baikmu kan?” Balas Chanyeol. Aku mengangguk. “Ne! Gomawo.”

¤~(ㅋㅋㅋ)~¤

«Yixing’s/Lay’s pov»

Setelah beberapa lama aku pingsan dengan kondisi yang menjadi rutinitasku sehari-hari.

Kubuka mataku perlahan, samar-samar Nae Ra tengah tertidur di kursi samping tempat tidurku dengan duduk dan kepala yang dijatuhkan di tempat tidurku, serta Chanyeol yang tidur di sofa di kamar rumah sakit ini.

Aku memukul-mukul tangan Nae Ra pelan. Ia terkaget dan segera terbangun. “Ya, Chagi kau sudah sadar?” Tanyanya sigap, aku menaruh jari telunjukku di antara hidung dan bibirku pertanda menyuruhnya diam. Sepertinya ia mengerti maksudku untuk tidak menganggu Chanyeol yang sedang tidur, terlihat dia sangat kelelahan sekali.

Waktu sudah menunjukkan pukul 07.30 malam.

“Chagi, apa kau sudah makan malam?” Tanya Nae Ra, aku menggeleng.

Tampak ia membuatkanku sebuah bubur, dan membantuku duduk untuk makan, perlahan ia menyuapiku dan merawatku layaknya seorang namja kecilnya. Apakah hal itu yang dirasakan Baekhyun juga?

“BAEKHYUN!!!” Teriak Chanyeol tiba-tiba dan langsung terduduk dari posisi tidurnya, sepertinya ia bermimpi Baekhyun. Napasnya pun ngos-ngosan seperti orang sesak nafas.

“Mwo?” Tanya Nae Ra. Tampak Chanyeol menyeka keringatnya dengan tissue dan membuat rambutnya sedikit basah dan berantakan. (OMO!!! Щ(ºДºщ) *author ganyante*) /merusak feels ya-_-/

“Kau bermimpi Baekhyun?” Tanya Nae Ra, Chanyeol tertunduk dan meremas rambutnya.

“Akh!!”

Aku memperhatikan kedua sejoli itu.

“Bbaek…hhyun… Wae??” Tanyaku pelan.

Mereka tidak menjawab pertanyaanku seakan semua terhenyak dalam kesunyian yang mendekam.

“Bbaek…hhyun… Wae??” Tanyaku sekali lagi, mereka berdua menunduk. Apa ada yang di sembunyikan oleh mereka?

“Jja…wab… Aa…ku!!” Rintihku pelan dan sedikit terbatuk. Namun Nae Ra semakin terdiam, dan perlahan ia? Menangis?? Begitupula Chanyeol yang semakin menutup mukanya dengan frustasi.

Aku menggoyang-goyangkan tangan Nae Ra, ia menangis semakin keras.

“EOH!!” Kucoba teriak namun suaraku masih tetap pelan.

“Baekhyun sudah pergi!” Akhirnya Chanyeol angkat bicara. Namun sesaat aku menyadari, pergi??

“Per…ggi Eodiseo??” Tanyaku bingung.

“Pergi, Baekhyun sudah pergi!” Kata Chanyeol, tanpa sadar ia menangis juga, mengapa semuanya menjadi menangis?

“Ya!! Jin…jja…nan…mollayo!” Balasku pelan.

“Baekhyun sudah pergi dari dunia ini!” Nae Ra yang akhirnya angkat bicara dengan nada yang semakin menangis. Aku tersontak, terdiam. Pergi dari dunia ini? Maksud kalian? Meninggal??

“Hahh…?” Desahku pelan. Mereka semakin terdiam.

“Mianhae, ia korban dari tabrak lari dan tewas di tempat!” Sambung Nae Ra terisak, dan tercekat. Begitupula aku! Baekhyun?

“An….dwae??!” Gertakku.

Mereka hanya diam tidak berkutik, Baekhyun!! Mengapa kau pergi lebih dulu dariku???

“Mi…an…hae…u..dah…mem…bu…at…ka..li…an…se…dih!” Ujarku terbata Nae Ra dan Chanyeol spontan memelukku.

“Jebal uri tteonajimayo!” Ucap mereka.

Aku terdiam, tidak menjawab, aku tidak yakin dengan usiaku.

“Kami tidak mau untuk kehilanganmu Chagi setelah kami kehilangan Baekhyun!” Sambung Nae Ra yang menangis di pundakku.

Aku menggeleng, “Tidak bisa!” Jawabku.

“Apa maksudmu tidak bisa? Kau tak boleh menyerah LAY kau harus berjuang melawan penyakitmu!” Gertak Chanyeol. Aku semakin terhenyak. Sebegitukah mereka menginginkan ku terus di dunia ini? Aku tidak yakin.

Tanpa kusadari bulir-bulir air mataku jatuh membasahi pipiku. Mimisan itu keluar lagi dari hidungku membuat mereka langsung panik.

“Yixing-ah! Minum obat nya dulu!” Ujar Nae Ra, aku menepis botol obat itu sehingga botol obat itu tumpah dan obat yang berserakan di lantai.

Aku menggeleng, “And…wae! Nan… shi…reo…yo!” Rintihku pelan. Mimisan itu tidak berhenti-hentinya keluar dari hidungku, kepalaku sakit seakan tercekam oleh besi, dan terbatuk yang mengeluarkan darah.

Apakah waktuku akan tiba Tuhan?‘ Pikirku dengan memegangi kepalaku yang sakitnya teramat sangat ini.

Pandanganku kabur, Nae Ra sigap mendekapku. “Chagiya!! Chagiya!!” Panggilnya. Batukku semakin menjadi dan mengeluarkan darah yang banyak sekali dan mimisan itu semakin banyak.

“Chanyeol! Panggilkan dokter!” Perintah Nae Ra, namun aku mencegat tangan Chanyeol. “Shi…reo!!!” Kataku dengan menahan rasa sakit kepalaku.

Chanyeol tidak mendengarkanku hingga ia terus berlari memanggil dokter. Namun rasanya waktuku hampir tiba. Tarikan itu semakin kuat menarikku. Sakit ini sangat menyiksaku! Aku lebih baik meninggal daripada aku harus merasakan sakit yang membuatku semakin terpuruk.

“Nnnaee…Ra…. Nan…jeong…mal…sa… Rang…hae…yo… Aa..kk..uu… Ing…in… Per…gi…” Rintihku pelan. Namun seketika Chanyeol balik ke kamar dengan tidak ada dokter.

“Lay!!!” Panggil Chanyeol padaku dan menggenggam tangan kananku.

“Jangan pergi Chagi!!! Kau tidak boleh pergi!!!” Teriak Nae Ra.

“Chan! Mana dokter?” Sambung Nae Ra.

“Tidak ada dokter, dokter dan perawat lagi sibuk memantau pasien lain!” Balas Chanyeol.

Entah dari mana keajaiban, sakit itu berhenti dan darah yang keluar dari hidung dan mulutku perlahan mulai berhenti. Tapi sepertinya tidak berhenti bahkan waktuku semakin dekat, aku merasakan magnet tarikan itu semakin menarikku dengan hebatnya.

Aku tergeletak lemas. Kulihat Nae Ra hanya menangis samar-samar.

“Ch..chan!!! Ja..ga… Nae… Ra… Ak…ku… Per…ca..ya…kan… Ia… Pa…da…mu!” Lirihku dengan berbisik pelan kepada Chanyeol.

“Tidak Lay! Nae Ra membutuhkanmu, jangan pergi!!” Balas Chanyeol.

“Tt…i…dak…”

“Ak..ku…ti…tip…Nae…Ra… Pa…da…mu, aa…k..u… Ak…kan… Per…gi!” Bisikku.

Nae Ra langsung memelukku dan mendekapku, ia menangis sesenggukan, ia terisak. “Nae Ra… Nan…jeong…mal… Sarang…hae…yo… Ja…ga…di…ri…mu… Ba..ik..ba…ik…ne, ca…ri…lah… Bin…tang…peng…gan…ti…itu… Ak..ku..ak..an..per..gi,” pesanku pada Nae Ra, iya semakin memelukku.

Mimisan itu kembali keluar dari hidungku, nafasku tercekat hingga… Tubuhku terasa ringan dan terangkat.

¤~(ㅋㅋㅋ)~¤

«Nae Ra’s pov»

“Nae Ra… Nan…jeong…mal… Sarang…hae…yo… Ja…ga…di…ri…mu… Ba..ik..ba…ik…ne, ca…ri…lah… Bin…tang…peng…gan…ti…itu… Ak..ku..ak..an..per..gi,” pesan Yixing padaku, aku semakin memeluknya. Namun mimisan itu kembali mengucur di hidungnya walaupun tidak pala banyak, nafasnya tercekat hingga ia terdiam tidak berkutik.

“CHAGI!!!” Teriakku.

“LAY!!!” Teriak Chanyeol pula.

“Ireona! Ireonayo!!” Ujarku dengan menepuk-nepuk pipinya pelan.

“Chan! Lay kenapa??” Tanyaku panik dan bingung.

“Molla!!!” Chanyeol juga panik saat itu.

Seketika dokter tiba-tiba datang, aku tidak tahu kenapa dokter itu datang, ya yang pastinya dokter yang selama ini merawat Yixing.

“Uisa!! Yixing kenapa?” Tanyaku panik dan menggoyang-goyangkan tangan Dokter Jo.

Dokter Jo segera menghampiri Yixing dan memeriksa kondisi Yixing hingga ia terdiam untuk beberapa saat.

Aku menatap Chanyeol dengan bingung. Chanyeol juga menatapku dalam.

Seketika dokter Jo menghampiriku, ia tidak berbicara padaku begitupula Chanyeol.

“Wae!?!?!” Teriakku yang sangat panik.

Dokter Jo masih tidak bisa menjawab.

¤~(ㅋㅋㅋ)~¤

«Chanyeol’s pov»

Dokter Jo hanya diam, tidak menjawab pertanyaan kami.

“Dok! Yixing kenapaa??? Jawab dok!!” Gertak Nae Ra yang menggoyah-goyahkan tubuh dokter Jo.

“Yixing sudah diambil oleh Tuhan!” Seketika jawaban itu membuatku terdiam. Nae Ra refleks berhenti menggoyah-goyahkan tubuh dokter Jo.

Perlahan-lahan air mata Nae Ra muncul dari matanya yang indah dan semakin deras. Ia menutup mulutnya seakan tidak percaya.

“Tidak mungkin!!” Ujar Nae Ra dengan menangis. Dan langsung memeluk tubuh Yixing.

“Kau tidak pergi kan Chagi? Kau dengar aku kan? Neo ddeullinayo? Ya! Ireona ppaliwa!!!” Teriak Nae Ra dengan iba.

Tanpa sadar air mataku juga terjatuh melihat semua ini. Air mataku jatuh semakin bebas.

Nae Ra memeluk tubuh Yixing dan menggoyahkannya untuk mencoba membangunkannya, namun nihil. Nae Ra terus menangis.

“TIDAK MUNGKIN CHAN!!!!! TIDAK MUNGKIN YIXING MENINGGALKANKU!!!!” Ujar Nae Ra dengan iba dan memukul-mukul bahuku pelan.

Aku segera mendekapnya, “Tidak baik begitu! Kau harus ikhlas Nae Ra!” Nasihatku, namun ia masih tetap menangis hingga suster itu menutup tubuh Yixing penuh dengan selimut putih itu.

“CHAN!!!” Rintih Nae Ra menangis, hingga ia terjatuh dan memeluk kakiku dan tertunduk.

“YIXING!!! JEBAL NAN TTEONAJIMAYO!!!!” Teriak Nae Ra dengan frustasi dan kesedihan yang mendalam pastinya.

¤~(ㅋㅋㅋ)~¤

«Nae Ra’s pov»

Seminggu setelah hari menyedihkan itu berlalu, aku berjalan-jalan hingga aku menelusuri sebuah makam yang tertera nama yang tak lain nama namjachingu yang meninggalkanku. Apakah rasanya ditinggal oleh dua orang yang kau sayangi sekaligus dan ditinggal ke dunia yang berbeda?

Hingga aku berjalan dan aku memasuki areal pemakaman dimana namjachingu-ku beristirahat untuk terakhir kalinya. Jujur aku belum bisa menerima ini semua. Aku jongkok dan mengelus nisan itu. “Saranghaeyo Chagi!! Nan ijeul so eobseoyo! Nan yaksokhaetjyo!” Ucapku dengan mengecup nisan itu dan beranjak pergi dari tempat yang membuat dukaku semakin dalam.

Kuputuskan untuk berjalan-jalan sebentar ke sebuah taman, taman yang mengingatkanku kepada sebuah moment dan sebuah kenangan spesial. Kutelusuri taman itu dan mendapati pohon oak itu. “Saranghae Uri Hamkke Yixing ♡ Nae Ra!” Gumamku pelan dan meraba ukiran yang dibuat oleh Yixing.

“Istirahat-lah yang tenang sayang, aku tahu hari itu pasti datang! Aku tahu hari dimana kebahagiaan itu tidak pernah abadi, aku tahu hari dimana aku harus kuat untuk menjalani ini semua, karena aku sangat mencintaimu Chagi! Geuraedo Saranghae!” Ujarku pelan dengan tersenyum hampa sambil menatap langit biru dan berjalan meninggalkan tempat itu, semoga… Kau bahagia di sana Chagi, aku sangat menyayangimu walaupun kita sudah terpisah oleh dunia yang berbeda, namun rasa sayangku selalu menjadi rasa cinta yang tak akan pernah pudar.

Aku membalikkan tubuhku dan berjalan menuju keramaian kota hingga perlahan-lahan tubuhku menghilang karena banyak sekali orang yang di sekitar sini.

“Nan jeongmal Saranghaeyo! Zhang Yi Xing nan ijeul su eobseo!”

-END-

 

Huaaaa akhirnya ending jugaaa!!!^^ RCL ya readersss!!! Bow!!!

6 tanggapan untuk “Distance of Our Love (Chapter 10)”

  1. Kok crita.a kyk blm selesai gtu ya !!!,
    kotak.a knp blm d’bka emang ap isi.a ???, trus spa yg jd bintang pnggti.a itu ???, trus chanyeol mimpi ap tentang baekhyun ???, kasian naera kirain sma baekhyun, smph gue nangis bca.a, tp ttp keren kok thor…

  2. terharu eon.. 😥 hiks. komen chap 9 disini aja y 😀
    itu kenapa kotaknya gajadi dibuka? 😦 padahal penasaran banget..
    tapi ttp bagus kok ^^ keep writing eon!!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s