Disperser(chapter 2)

  • Title                       : Disperser(chapter 2)
  • Scriptwriter        : Liana D. S.
  • Fandom               : EXO
  • Main Casts          : Huang Zi Tao (EXO Tao), Wu Fan (EXO Kris)
  • Support Casts    : Zhou Mi, Song Qian (f(x) Victoria), Liu Yi Yun (f(x) Amber)
  • Duration              : Two-shots (9K+ words total), in ‘Homo Homini Lupus’ series
  • Genre                   : Brothership, Action
  • Rating                   : PG-15
  • Disclaimer          : Semua karakter dari SM Entertainment bukan milik saya, tetapi milik Tuhan dan diri mereka sendiri. Plot sepenuhnya milik saya dan saya tidak menarik kepentingan komersial apapun dari penulisan FF ini.
  • Summary             : Zi Tao, 15 tahun, anak bungsu yang sangat disayangi dan menyayangi keluarganya, termasuk pada Wu Fan, kakak sulungnya. Akan tetapi, akhir-akhir ini, kepribadiannya yang lain muncul ke permukaan dan melukai Wu Fan tanpa bisa ia kendalikan! Ada apa sebenarnya? “Tak bisakah aku terus menjadi Tao kecil yang disayangi semuanya?”

***

Part 2

Seusai melakukan serangkaian aktivitas pagi, Zhou Mi mengumpulkan seluruh keluarganya di ruang tengah yang luas.

“Ada hal penting yang ingin kusampaikan mengenai kalian bertiga. Ini berkaitan dengan hierarki klan dan posisi kalian di dalamnya.” mulai Zhou Mi. Tiga anaknya memberi reaksi yang berbeda. Zi Tao paling gugup, Yi Yun hanya sedikit gugup, dan Wu Fan paling tenang.

“Dalam klan ini, harus ada seseorang yang menggantikan posisiku sebagai alfa kelak jika aku sudah tidak mampu lagi. Tak masalah jika aku hanya punya satu keturunan, tetapi aku punya tiga keturunan, jadi satu-satunya jalan untuk menentukan pewaris klan adalah dengan pertarungan penentuan.”

Debaran aneh dalam dada Zi Tao kembali lagi. Anak matanya bergerak ke samping, ke arah Wu Fan yang masih menatap lurus ke depan.

“Pertanyaan!” Yi  Yun mengangkat tangan kanannya. Zhou Mi menatap anak perempuan satu-satunya itu, isyarat yang membolehkannya bertanya.

“Kami bertiga, sedangkan pertarungan penentuan akan mudah dilakukan kalau hanya berdua, ‘kan? Itu berarti, akan ada satu orang di antara kami yang tidak bertarung. Oh, atau ada sistem bertarung lain yang membuat kami bertiga bisa bertarung semuanya?”

“Itu tergantung. Kalian kubebaskan memilih, mau bertarung atau tidak. Jika kalian bertiga ingin bertarung, maka akan ada teknis pertarungan yang berbeda. Jika hanya dua di antara kalian yang ingin bertarung, maka jalan yang diambil sudah jelas.”

“B-bagaimana kalau hanya satu orang di antara kami yang ingin bertarung? Atau tak ada sama sekali?” Zi Tao mengajukan pertanyaannya, sedikit terbata. Zhou Mi menggeleng. “Itu mustahil. Setiap keturunan alfa akan memiliki insting yang mendorong mereka dalam pertarungan penentuan jika memiliki saudara. Tak mungkin satu orang saja yang terpicu karena setiap insting satu keturunan serigala terpicu, maka insting lawannya juga akan terpicu. Setidaknya, akan ada dua orang yang bertarung.”

Zhou Mi bisa melihat perubahan ekspresi Zi Tao.

“Aku tahu ada beberapa di antara kalian yang mulai merasakan kebencian atau penolakan terhadap saudara kalian yang lain. Jangan takut. Itu adalah insting kalian menuju pertarungan penentuan yang makin dekat. Kalian yang merasakan ‘keanehan’ itu bisa mulai mempersiapkan diri untuk pertarungan.” lanjut Zhou Mi.

“Di sini, Baba memberi kalian kebebasan memilih, ingin bertarung atau tidak, tetapi ada baiknya kalian tidak melawan insting kalian. Hal ini penting karena, selain berkaitan dengan hierarki klan, insting bertarung yang tak tersampaikan bisa membahayakan manusia biasa yang ada di sekitar kalian,” tambah Song Qian, “Sekarang, putuskan. Dimulai darimu, Wu Fan.”

Gege, apa dia akan memilih untuk bertarung? Jika benar bahwa selama ini, yang kukira ‘kepribadian lain’ itu adalah instingku, maka kemungkinan besar, insting Gege-lah yang akan terpicu sebagai lawanku. Insting Yi Yun-jie juga mungkin, sih, tetapi kurasa lebih kecil kemungkinannya. Apa mungkin betina melawan jantan? Berbagai pikiran ini terus berputar di kepala Zi Tao yang menunggu keputusan Wu Fan.

“Bertarung.”

Deg! Waktu terasa berhenti berjalan. Bahwa Zi Tao akan melawan Wu Fan, itu hampir menjadi sebuah kepastian.

Tidak. Masih ada kemungkinan Yi Yun-jie yang akan maju untuk melawan Fan-ge. Aku…

…aku tidak bisa melawan Fan-ge. Tak akan bisa.

“Baiklah,” Zhou Mi berpaling pada anak tengahnya, “Yi Yun, bagaimana denganmu?”

Pass. Aku tidak akan bertarung.” Yi Yun mengibaskan tangannya ke udara dengan santai. Song Qian menaikkan alisnya. “Lalu, apakah kau memilih untuk menjadi omega secara langsung di klan ini?”

“Tidak, Mama. Aku akan jadi betina alfa di klan lain setelah menemukan jantan.”

Song Qian tersenyum lebar. “Semangat bagus. Yi Yun dan Wu Fan sudah merencanakan posisi mereka di klan. Nah, sekarang….” si betina alfa melembutkan senyumnya untuk si bungsu, “… Zi Tao, apa pilihanmu? Memang hanya kau yang tersisa untuk melawan Wu Fan, tetapi otonomi tetap ada di tanganmu.”

Zi Tao menunduk dalam. “Uh… mm…”

“Zi Tao, angkat wajahmu.” perintah Zhou Mi. Ia tak ingin anak bungsunya bersikap penuh keraguan. Tiap anaknya harus melangkah dengan pasti. Dipaksa oleh dominansi alfa tuanya, Zi Tao mengangkat wajah. Diberanikannya diri untuk menentang mata ayahnya. “Aku pilih….”

Entah kenapa, lidah Zi Tao enggan diajak bekerja sama. Padahal, Zi Tao ingin mengatakan aku pilih tidak bertarung, tetapi lidahnya tidak mau menurut. Ada jeda panjang sampai akhirnya, suatu kata yang terlarang bagi Zi Tao terucap.

“Aku pilih bertarung.”

***

Sebenarnya, bukan hanya Zi Tao yang merasakan insting pembunuhnya semakin aktif. Wu Fan juga; ini sebabnya Wu Fan memutuskan untuk bertarung. Sayangnya, Zi Tao tidak sesiap dia dan membuat Wu Fan merasa bersalah. Harus Wu Fan akui bahwa ia tidak mudah berkomunikasi dengan adiknya sebagai teman. Komunikasi yang ia lakukan dengan Zi Tao selama ini adalah komunikasi kakak-adik.

Semua itu berujung hari ini.

Wu Fan menggeram kesal. Zi Tao tidak ada di klub wushu, juga di sekolah. Ke mana anak itu pergi? Dasar menyusahkan! Kenapa pula ‘keberadaannya’ sampai tidak terdeteksi?, keluh Wu Fan dalam hati. Dipencetnya beberapa tuts di ponselnya, lalu menelepon adiknya yang satu lagi. “Yi Yun, sudah kau temukan Zi Tao?”

“Belum. Dia tak ada di lapangan basket dan lapangan sepak bola tempat kita biasa bermain. Aku sedang mencari di sekitar sekolah kita, tetapi sepertinya dia juga tak ada di sini.”

Baba dan Mama sudah meneleponmu?”

“Ya. Mereka sudah memastikan Zi Tao tidak ada di sekitar teritori. Mereka sedang mencari di sekitar kota, tetapi belum menemukannya juga. Lolongan Baba pun tidak berjawab.”

Wu Fan berdecak. Zi Tao memang berniat menghilang dan tak ingin ditemukan. “Baiklah kalau begitu. Kabari aku kalau ada perkembangan.” kata Wu Fan, lalu memutus telepon. Wu Fan sungguh tak mengerti apa yang ada di pikiran adik kecilnya itu. Kenapa harus menghilang? Apa Zi Tao ingin lari dari pertarungan penentuan? Padahal, Zi Tao bukanlah petarung yang buruk. Dia tak mungkin takut kalah.

Ataukah… Zi Tao takut mengalahkan?

“Kenapa dia jadi begitu pengecut?” gumam Wu Fan sambil terus berlari. Di tengah pencariannya, bayangan-bayangan masa kecil Wu Fan dengan adik-adiknya terlintas satu persatu.

“Kalian berdua harus terus memegang tanganku. Kalau tidak, kalian akan tersesat!”

“Taotao tidak mau tersesat! Taotao akan pegangan pada Fan-ge terus!”

Gege, tanganku panas kalau terus-menerus pegang tanganmu!”

“Tidak ada protes, Yi Yun.”

Wu Fan ingat kalimat perintah yang ia lontarkan saat ia dan adik-adiknya pergi ke taman bermain untuk pertama kali. Tangan kecil Zi Tao yang gemetar tak pernah mau melepaskan Wu Fan, sedangkan Yi Yun langsung protes saat perintah itu akan dijalankan. Zi Tao selalu patuh padanya. Apakah itu ciri omega yang muncul dini, Wu Fan tak tahu. Semoga saja bukan. Wu Fan yakin, di keluarganya tak ada yang pantas menjadi omega.

“Apa yang kukatakan soal main sendirian di luar? Kenapa kalian tidak mau menurut? Yi Yun, apa ini idemu?”

“Tidak! Tao yang mengajakku keluar! Lagipula, dia cuma luka sedikit karena terjatuh. Tidak sakit, ‘kan, Tao?”

“T-tidak… Gege, memang aku yang minta keluar, jangan marahi Jiejie, ya….”

“Tetap saja! Yi Yun, sebagai kakak kau harus bisa menasihati Tao tentang bahaya main di luar tanpaku!”

Wu Fan menggendong Zi Tao dengan hati-hati supaya lutut Zi Tao yang luka tidak tergesek pakaian.

“Tapi kami bosan main di dalam kelas! Kami ingin main di kotak pasir!”

“Kau masih belum bisa menjaga Zi Tao. Lihat, apa kau mau dia menangis kesakitan seperti ini setiap kali kalian main tanpa ijinku?”

“Su-sudah…. Gege dan Jiejie jangan bertengkar…. Tao takut…. Maafkan Tao karena tidak hati-hati…. Maaf….”

‘Maaf’ sangat sering diucapkan Zi Tao pada Yi Yun dan Wu Fan sejak hari itu. Wu Fan melambatkan larinya. Bukan sepenuhnya salah Zi Tao kalau ia jadi penakut. Wu Fan memang overprotektif selama mereka kecil. Ia hanya tak suka melihat adik-adiknya menangis, entah karena terluka atau dijahili, tetapi sikapnya ini malah membuat Zi Tao semakin ciut. Salahkah insting pelindung Wu Fan ini? Tidak, ‘kan?

Kapan Wu Fan mulai mengurangi sikap protektifnya, terutama pada Zi Tao?

Ah.

“Tao! Apa yang kau lakukan, sih? Kenapa kau sampai menceburkan dirimu ke dalam kolam?”

“Uhuk, uhuk! Ge-uhuk-ge….. hosh, uhuk!!!”

Napas Zi Tao terasa sesak. Kolam renang terlalu dalam untuknya, tetapi ia memaksa  untuk mengambil krayon yang ada di dasar. Akibatnya, banyak air masuk ke saluran napasnya. Teman-temannya sudah ditolong terlebih dahulu karena mereka tidak tercebur terlalu dalam, sehingga keadaan mereka tidak separah Zi Tao. Wu Fan dan Yi Yun jelas panik setengah mati ketika melihat keadaan adik mereka yang demikian.Keduanya sama-sama ingin memarahi Zi Tao karena tindakan cerobohnya ini, tetapi mereka tak pernah melakukannya.

Setelah Zi Tao bisa berbicara dengan benar, Wu Fan dan Yi Yun mendengarkan alasan Zi Tao dengan seksama.

“Anak-anak melemparkan krayon yang kupinjam dari Gege ke dalam kolam. Aku kesal, makanya aku ceburkan mereka balik, lalu aku berusaha untuk mengambil krayonnya sendiri. Gege dan Jiejie ‘kan sedang belajar dalam kelas, jadi aku tak bisa memanggil kalian. Aku sendirian. Lalu kupikir, kalau aku jadi Gege, aku pasti bisa melakukan apa saja. Gege ‘kan selalu bisa memberikan apa yang kumau biarpun sendirian. Jadi, dengan berpura-pura jadi Gege, aku masuk dalam kolam.”

Mata dan hidung Zi Tao merah saat itu, tetapi tidak seperti hari-hari biasa, itu bukan karena menangis. Itu bukti perjuangan Zi Tao untuk menyelamatkan krayon yang ia anggap begitu berharga, hingga mata dan hidungnya ‘dilukai’ oleh air kolam.

Sosok Zi Tao yang seperti itu sangat dirindukan Wu Fan. Zi Tao yang kuat dan mau berjuang untuk sesuatu yang begitu diinginkannya adalah sosok yang begitu mengagumkan. Sayang, sosok itu menghilang. Zi Tao yang sekarang adalah sosok yang haus kasih sayang dan manja.

Itu ‘kan di rumah.

Bagaimana dengan di klub wushu?

Itulah, Wu Fan tak pernah tahu tentang Zi Tao jika Zi Tao tak ada di dekatnya atau berada di luar lingkungan keluarga.

Selama ini, Zi Tao memandangku sebagai sesuatu yang besar dan selalu melindunginya. Mungkinkah ia tak bisa mengeluarkan keberaniannya jika aku ada di dekatnya? Jika demikian, maka mustahil dia bisa mengeluarkan kemampuan maksimalnya di pertarungan penentuan. Padahal, itu cara yang harus kami tempuh untuk menjadi pejantan yang matang.

Kasihan adikku.

Terjebak dalam masa kanak-kanaknya karenaku.

Wu Fan seolah dituntun menuju Zi Tao oleh alam. Kini, pemuda tinggi tampan itu berada di padang rumput yang jauh dari pusat kota. Pemandangan langit malam sangat indah jika dilihat dari sini, tetapi tujuan Wu Fan ke tempat itu bukan untuk menikmati pemandangan.

“Tao.” Tanpa sadar, Wu Fan memanggil adik jangkungnya yang berdiri memunggunginya. Zi Tao menoleh, matanya sembab.

Gege…. aku tidak mau bertarung denganmu.”

Wu Fan berjalan mendekati Zi Tao. “Kenapa?”

“Karena aku tidak mau melukai Gege.”

Sudah kuduga.

“Aku—“

“Aku menyayangi kalian semua dan tidak bisa melihat kalian terluka.”

“Kau pikir aku bisa semudah itu kau lukai?” Wu Fan tersenyum miring, “Perkiraanku, pertarungan itu tak akan berlangsung lebih lama dari dua jam. Itu waktu yang singkat dan kau memikirkannya begitu dalam sampai meninggalkan rumah? Jangan konyol.”

“Pokoknya aku tidak mau bertarung! Aku tidak ingin ada yang berubah! Aku ingin terus menjadi adikmu, Ge! Aku tidak mau menjadi omegamu atau berpisah darimu sebagai alfa di klan lain!”

“Kau harus melakukannya karena kau sudah bilang mau bertarung,” Wu Fan menjaga ketenangannya, “Kau harus konsekuen pada keputusan yang kau ambil sendiri, Zi Tao.”

“Tidak mau! Aku akan lari kalau itu bisa menghindarkanku dari bertarung!”

Wu Fan menggertakkan giginya. Anak manja ini! Apakah dia tidak memiliki harga diri sedikitpun? Apakah Zi Tao tak punya kekuatan? Mau jadi pejantan macam apa dia?

Kata-kata tak ada gunanya lagi sekarang. Wu Fan merenggut kerah baju adiknya dan memukul wajah Zi Tao kuat-kuat.

“Bangkitlah, Tao. Aku tahu ada jiwamu yang lain di dalam sana.”

Kata-kata Wu Fan yang hampa membuat Zi Tao sakit hati, apalagi ditambah nyeri dari pukulan sebelumnya. “Gege….”

Iris mata Wu Fan memerah. “Aku sudah bukan lagi tempatmu memohon, Zi Tao.”

Zi Tao tak percaya dengan apa yang ia dengar. Benarkah Wu Fan, yang selama bertahun-tahun menjaga dirinya, yang memberikan segala apa yang dia inginkan, berubah menjadi seperti ini?

Wu Fan menghempaskan Zi Tao ke tanah dengan keras. “Ingat dulu, ketika kau mengambil krayonku yang dijatuhkan ke dalam kolam?”

Zi Tao ingat, tetapi masih belum bisa melihat kaitan benda itu dengan perubahan sikap Wu Fan ini. Melihat lawannya masih tak berkutik, Wu Fan mencakar tubuh Zi Tao, meninggalkan luka memanjang yang cukup dalam. “Saat itu, kau sendirian, bukan? Bagaimana rasanya?”

Sakit. Zi Tao tak suka mengingat saat itu karena terasa menyesakkan (tentu saja, dia tenggelam dalam air), pedih, dan mengerikan. Zi Tao menyeret tubuhnya di atas tanah, menjauhi kakaknya yang berubah seperti monster. “Aku tidak mau ingat… Aku tidak mau ingat…”

“Harus. Kau sedang berada di situasi seperti itu sekarang. Perlu kau tahu bahwa situasi seperti itu akan terus mengincarmu setelah kau dewasa. Semuanya tergantung dirimu sendiri.”

Biarpun sikunya sakit, Zi Tao terus menyeret tubuhnya. Air matanya mengalir deras. Ia menolak untuk membenarkan kata-kata Wu Fan. Ia tidak pernah benar-benar sendirian lagi sejak hari itu. Akan selalu ada Wu Fan yang melindunginya, bukan? Pasti.

Wu Fan menarik pakaian Zi Tao dari belakang, lalu melempar Zi Tao lagi ke tanah dan menginjak dadanya. “Aku sangat menyayangimu, tetapi dengan jiwamu yang sekarang, dunia akan membunuhmu dengan kejam. Sebelum itu terjadi, biar aku yang menyelesaikanmu.”

Zi Tao terbatuk. “Ge… Gege… Kenapa kau jadi seperti ini? Kau akan… selalu melindungiku, ‘kan?”

“Ya, aku sedang melindungimu. Aku melindungimu dari dunia kejam yang akan membunuhmu karena kau tak bisa melindungi dirimu sendiri.”

Wu Fan hampir saja meremukkan tulang rusuk Zi Tao jika Zi Tao tidak menghindar. Zi Tao memandang Wu Fan dengan rasa takut yang sangat. Kakaknya telah berubah…

…tetapi entah bagaimana, Zi Tao berhasil menangkap sisi melankolis yang tidak berubah dari sang kakak.

“Maafkan aku.”

Kuku-kuku Wu Fan yang runcing terarah ke bagian tengah tubuh Zi Tao, tepat di jantung. Sekali lagi, Zi Tao menghindar. Kenapa Wu Fan minta maaf? Kenapa mata Wu Fan yang (biasanya) tajam itu menyiratkan sesuatu yang kontras dengan perbuatannya?

“Kau… harusnya bisa menjadi pejantan yang sesungguhnya jika aku tidak ada.”

Lengan kiri Zi Tao mengucurkan darah segar setelah dilukai Wu Fan. Anehnya, luka itu tak terasa sakit. “Apa maksud Fan-ge?”

“Jiwamu yang sesungguhnya adalah jiwamu yang muncul saat kau melukaiku tanpa sengaja.”

Zi Tao berhenti dan tendangan Wu Fan langsung membuatnya terpental jauh.

‘Aku’ yang menyerang Gege adalah aku yang sesungguhnya?

“Tidak! Aku yang sesungguhnya adalah aku yang menyayangimu dan tidak pernah ingin mengalahkanmu!”

“Begitu? Lalu dirimu yang mana yang mengikuti klub wushu? Dirimu yang mana yang bisa membuatmu lulus sekolah lebih cepat dari teman sebayamu? Dirimu yang mana yang muncul jika kau berada jauh dariku?”

Wu Fan meremas rambut Zi Tao dan membenturkan kepala adiknya itu ke satu-satunya pohon di sana. Zi Tao meringis kesakitan, pelipisnya berdarah. Akan tetapi, Wu Fan bahkan tidak memberikan kesempatan pada Zi Tao untuk kesakitan. Tangan Wu Fan yang bebas kini membelalakkan salah satu mata Zi Tao. “Tatap mataku. Cari dirimu dalam mataku. Bercerminlah.”

Tubuh Zi Tao menggigil. Pasti ada yang mengambil alih tubuh kakaknya! Zi Tao mencoba lepas, tetapi kedua tangan Wu Fan telah menahannya di posisi yang sulit. Zi Tao salah bergerak sedikit saja, matanya akan tercongkel keluar. Jika tidak begitu, ada kemungkinan kepalanya yang berlubang. Kuku manusia serigala yang sedang dalam insting membunuh lebih tajam dari pisau dan itu berbahaya.

Mau tak mau, Zi Tao mencari dirinya melalui Wu Fan. Ia menelusuri iris merah itu hingga menemukan bayangan dirinya.

***

Punggung Wu Fan lebar, hangat, dan memberikan perlindungan pada Zi Tao serta Yi Yun. Wu Fan juga tampan, pandai, baik hati, dan dikagumi banyak orang. Senyum Wu Fan sangat menenangkan, walaupun jarang ditunjukkan. Saat mereka berdua berada dalam kegelapan pun, asalkan Zi Tao bisa mendengar suara Wu Fan, ia merasa aman.

Diam-diam, Zi Tao kecil membayangkan dirinya berada di posisi Wu Fan, sang malaikat pelindung yang sempurna.

Namun, Zi Tao terlalu mensakralkan Wu Fan hingga ia bahkan tidak bisa membayangkan berada di posisinya.

Tahun-tahun berjalan lagi. Wu Fan kecil ternyata memiliki bakat olahraga, yaitu basket. Piala-piala mulai memenuhi bagian atas rak buku di kamar. Zi Tao hanya bisa mengerjap heran. Betapa berkilaunya piala-piala itu.

Seandainya saja Zi Tao punya piala sendiri.

Maka saat masuk SD, Zi Tao memilih untuk belajar wushu. Alasannya, ia ingin dapat piala seperti milik Wu Fan, tetapi sebenarnya bukan hanya itu dasarnya.

Orang yang bisa bertarung akan bisa menjadi seperti Wu Fan sepenuhnya, itu alasan kedua yang tak pernah—dan tak berani—ia ungkapkan. Tak pantas, tak pantas anak cengeng dan manja sepertinya berubah seperti Wu Fan.

Semakin mereka bertumbuh, rintangan yang mereka hadapi semakin banyak dan sulit. Hal ini termasuk anak-anak nakal yang membentuk kelompok—bisa juga disebut geng. Mereka masih SD, tetapi sudah nature anak laki-laki untuk mencari masalah (atau setidaknya terlibat dalam masalah itu, walaupun tak memulainya). Zi Tao dan Wu Fan pun terseret. Akibatnya, Wu Fan harus mengerahkan ekstra perhatian pada adik bungsunya ini—Yi  Yun sudah aman di lingkaran anak perempuan yang tenang.

Sayang, Wu Fan tak bisa selalu ada untuk Zi Tao.

Anak-anak nakal merebut krayon Wu Fan yang dipinjam Zi Tao untuk pelajaran menggambar hari itu. Zi Tao marah. Wu Fan sudah berpesan untuk menjaga krayon itu baik-baik, maka dia akan menjaga krayon itu baik-baik. Krayon dilempar ke dalam kolam—dan tubuh-tubuh kecil tercebur pula ke dalam kolam karena kemarahan Zi Tao. Tak lama setelah semua anak masuk ke kolam renang untuk siswa kelas 6 itu (yang dalamnya sekitar 2 m), Zi Tao menceburkan dirinya sendiri. Air itu sangat dalam bagi siswa kelas 1 SD yang tak pernah masuk kolam renang sepertinya. Zi Tao takut, tetapi Wu Fan tidak ada, jadi ia memaksa dirinya untuk tidak takut. Ia meraih krayon di dasar kolam—dan semuanya menjadi buruk. Ia tidak bisa bernapas, mendengar, atau melihat. Air kolam membuat pedih mata dan hidungnya, tetapi Zi Tao memaksa untuk naik ke permukaan. Menendang. Tidak bisa naik. Menendang lagi. Tidak bisa lagi. Walaupun demikian, Zi Tao masih memegang erat krayon-krayon yang berhasil ia selamatkan.

Hingga satu tangan yang kuat menyelamatkannya. Gurunya.

Zi Tao sudah di permukaan, di sisi kolam renang, terkapar dan batuk-batuk tak karuan. Wu Fan dan Yi Yun menghampirinya dengan raut khawatir. Zi Tao merasa dadanya ditekan-tekan, lalu sedikit demi sedikit air keluar dari hidung dan mulutnya.

“Apa yang kau lakukan, Tao?”

Zi Tao berusaha bicara pada Wu Fan, tetapi tak bisa. Ia hanya bisa membuka telapak tangannya. Batang-batang krayon bergulir ke sisi Wu Fan.

Astaga, Tao.

“Aku harus berani atau krayon Gege hancur! Jadi, aku pura-pura jadi Gege supaya berani masuk ke kolam!”

Penjelasan Zi Tao membuka mata Wu Fan. Ada sosok mungil yang harus ia lindungi, itu benar, tetapi di balik tubuh mungil Zi Tao, tersimpan jiwa pejuang juga. Jiwa itu sekuat miliknya dan milik Yi Yun. Jiwa itu tertutupi sikap manja Zi Tao—dan itu karena ada Wu Fan.

Hal berikutnya yang Zi Tao ingat adalah Yi Yun memeluknya, mengatakan, “Taozi, kau keren sekali!!” dengan bersemangat. Zi Tao terpaku. Senyumnya perlahan terkembang. Benarkah dia keren? Apakah ini berarti ia sudah sehebat Wu Fan?

Setelah Yi Yun melepaskan pelukannya, giliran Wu Fan yang mendekatinya. Tangan Wu Fan yang besar menepuk bahu Zi Tao. Anak lelaki yang lebih tua tersenyum kemudian.

“Itu baru adikku, Zi Tao yang hebat dan berani.”

Zi Tao kecil tidak bisa menamai kepakan sayap kupu-kupu dalam dadanya. Berbagai perasaan rasanya campur aduk. Kepala kecilnya tidak mampu menampung perasaan-perasaan itu, sehingga tangisnya pecah.

Gege… terima kasih….”

Itu adalah pertama dan terakhir kalinya Zi Tao menunjukkan jati dirinya yang menginginkan pengakuan dari Wu Fan. Dia yang pemberani dan mati-matian berjuang demi sesuatu yang penting. Sangat disayangkan, sekali lagi, kesempurnaan Wu Fan menyilaukan Zi Tao. Semakin dewasa, semakin banyak pula prestasi Wu Fan, plus dengan mulai munculnya dominansi Wu Fan, sifat Zi Tao yang ini terkubur lagi. Dalam hatinya, Zi Tao masih tidak ingin kalah dari Wu Fan.  Jiwa petarungnya tertidur dengan tenang di sudut gelap hatinya, menunggu untuk dibangunkan. Sembari menunggu, jiwa yang tertidur itu ‘bermimpi’. Dalam mimpinya, jiwa itu membuat Zi Tao bersemangat berlatih wushu dan belajar hingga bisa lulus kelas akselerasi SMP.

Jiwa itu masih menunggu untuk bertarung demi sesuatu yang sangat penting lainnya.

Sesuatu yang penting itu adalah posisi alfa di klan.

Maka, jiwa itu kini bangun.

***

“Aku tidak selalu ada untukmu, Zi Tao. Maka itu, kau harus mulai belajar untuk melindungi dirimu sendiri.”

Hening.

Hingga iris darah Zi Tao muncul.

“Aku tahu, Gege. Terima kasih sudah membangunkanku.”

Jrak!  Zi Tao mendorong Wu Fan, membuat kulit kepala dan kelopak matanya tergores ujung kuku Wu Fan. Indera perasa nyerinya mati untuk sementara, jadi itu tak masalah buatnya. Kaki panjangnya menjatuhkan Wu Fan, lalu Zi Tao menindih Wu Fan yang tersungkur dan mengunci tangan Wu Fan di belakang. Kuku-kuku Zi Tao menajam dan terarah ke leher Wu Fan, tetapi sebelum ujung kuku jari tengahnya menyentuh tengkuk Wu Fan, ia berhenti menyerang. Ia berdiri, lalu mengulurkan tangannya pada Wu Fan dengan senyum lembut penuh terima kasih.

“Maaf sudah membuatmu seperti ini, Ge. Aku janji, aku akan menunjukkan padamu yang terbaik nanti.”

Wu Fan menerima uluran tangan Zi Tao dan berdiri. Keduanya saling menatap sebagai manusia serigala yang setara tingkatnya. “Bagus, Tao. Apapun hasil pertarungan kita, aku yakin tak akan mengecewakan kita berdua.”

Zi Tao mengangguk. “Karena Gege, aku jadi tak takut lagi. Terima ka…”

“Jangan bodoh,” sahut Wu Fan, “Seberapapun kuatnya aku mempengaruhimu, jika kau sendiri tidak mau bergerak, maka kau akan tetap jadi pengecut. ‘Bangunnya’ jiwamu, juga terkuburnya, itu karena dirimu sendiri.”

Zi Tao tercenung. Malam ini tidak ada bulan purnama, tetapi tanpa cahaya bulan pun, segalanya menjadi jelas. Cukup mengejutkan bagi Zi Tao saat ia mengetahui dirinya juga berperan dalam penguburan jiwa itu, bukan hanya karena kesempurnaan Wu Fan. Telah jelas pula, alasannya mengubur jiwa petarung itu adalah karena ia takut kehilangan kasih sayang dari keluarganya. Menjadi pejantan dewasa artinya tak boleh lagi tergantung pada orang lain, ‘kan?

“Aku mengerti kenapa ada cerita Peter Pan—dewasa itu sulit,” kata Zi Tao, masih tersenyum, walaupun sedikit sedih, “Tak bisakah aku terus menjadi Tao kecil yang disayangi semuanya?”

Wu Fan meraih tangan Zi Tao, bertepatan dengan suara lolongan yang familiar. “Dengarkan Baba memanggilmu. Mana mungkin ia bisa melepaskan anak bungsunya ini, walaupun kau sudah akan jadi pejantan dewasa?”

Pernyataan Wu Fan itu menjawab pertanyaan Zi Tao. Jadi, Zi Tao melolong, menjawab panggilan Zhou Mi yang sudah mengkhawatirkannya setengah mati.

“Ayo, Zi Tao. Kita pulang.”

***

Beberapa hari setelah itu, pertarungan penentuan berlangsung. Zi Tao menunjukkan kemampuannya yang terbaik. Wu Fan pun sama. Hasil pertarungan benar-benar tak mengecewakan keduanya, biarpun Zi Tao pingsan lebih dulu setelah menerima serangan-serangan Wu Fan. Zi Tao memang kalah, tetapi ia tidak kecewa. Toh pertarungannya dengan Wu Fan seimbang. Ia hanya sedikit, sedikit saja, lebih rendah dari manusia serigala beta baru yang bermata tajam itu. Di antara kesadarannya yang terombang-ambing, Zi Tao mendengar lolongan Wu Fan yang penuh kebanggaan—dan ia merasa bangga pula karena tidak membuang kesempatan bertarung dengan beta kuat itu.

Seseorang yang pertama kali dilihat Zi Tao saat terbangun adalah Zhou Mi. “Tao, selamat pagi. Sudah merasa baikan?” tanya Zhou Mi.

Zi Tao hanya mengangguk, lalu mengerang pelan sambil mencengkeram pakaiannya di dada. “Pasti efek serangan Wu Fan yang sebelumnya.” gumam Zhou Mi, raut cemasnya tampak. Zi Tao menggeleng, lalu tersenyum. “Tak apa, Baba. Sekarang sudah baik.” ucapnya parau.

“Kau yakin?”

“Mm,” Zi Tao terbatuk, kerongkongannya terasa kering, “A-air…”

Zhou Mi segera menuangkan air minum ke dalam gelas di meja samping ranjang, lalu membantu putra bungsunya minum. Zi Tao berdehem beberapa kali dan mendapatkan suaranya kembali. “Gege mana? Jiejie dan Mama juga?”

Jiejie dan Mama sedang memasak untukmu,” Zhou Mi tersenyum lembut, “Gegemu sedang istirahat di kamar lain.”

“Tidak. Aku di sini.”

Pintu kamar Zi Tao terbuka. Sosok tinggi besar Wu Fan muncul dari baliknya. Tubuh dan wajahnya terbalut perban atau tertutup plester di beberapa bagian, tak jauh beda dengan Zi Tao. Jika reseptor nyeri mereka bekerja normal, maka keduanya akan merasakan sakit yang sama, tetapi sekarang, mereka berdua bertukar senyum. “Hei, Kecil, apa kabarmu?” sapa Wu Fan sambil duduk di samping ranjang Zi Tao.

“Baik, Besar,” Zi Tao tertawa ringan, “Kau?”

“Baik juga. Lukaku cepat menutup, kok. Justru aku khawatir padamu karena luka yang aku berikan padamu cukup dalam.”

“Lebih dalam luka yang ada di tubuhmu,” Zi Tao mengungkapkan kekhawatirannya sekaligus memuji diri sendiri karena berhasil memberi Wu Fan luka-luka yang sama berat dalam pertarungan itu, “Sumpah, aku tak akan melakukannya lagi padamu, kecuali kalau kau melukai anggota klanku kelak.”

“Oh, apa itu deklarasi alfa disperser baru?”

“Tentu saja,” Zi Tao berpaling pada Zhou Mi, “Aku boleh jadi disperser ‘kan, Baba?”

“Dalam klanku, semua orang bebas memilih,” Zhou Mi mengistirahatkan punggungnya ke sandaran kursi, “Yah, tetapi apa kamu yakin? Bukankah segalanya akan berubah? Kita tidak akan bisa masuk teritori yang lain sembarangan, seperti Yi Yun masuk kamar kalian dan kalian memasuki kamarnya. Pun cara kita memandang satu sama lain tidak akan sama lagi.”

Kabut membayangi Zi Tao sementara. Zhou Mi dan Wu Fan menunggu reaksi anggota termuda klan mereka itu. Beruntung, Zi Tao memberikan reaksi yang melegakan.

“Tidak apa-apa. Di film-film sering dikatakan, biar terpisah jarak dan status, perasaan akan terus terikat. Oh, di buku novel Gege juga ada, ‘kan? Darah lebih kental daripada air, begitu, ‘kan?” Zi Tao tersenyum lebar. Wu Fan mengusap-usap rambut adiknya. “Blood is thicker than water[1],” Wu Fan mengucapkan dengan fasih kutipan dari novel bahasa Inggrisnya itu, “Bagus, Pencuri Buku.”

“Ah, Taotao sudah bangun! Lho, Fan-ge, kau sadar, toh?”

“Eh, kenapa tidak ada yang memberitahuku kalau mau bangun? Sleeping Princes harusnya kucium dulu sebelum bangun tidur!”

Zhou Mi tertawa ketika kedua anak lelakinya memasang ekspresi ‘ewh’ sambil berkata, “Tidak perlu ciuman untuk membangunkan kami, Mama! Kami bisa bangun sendiri!”

Sempurna sudah tugas Zhou Mi sebagai alfa. Ia senang anak-anaknya bisa tumbuh menjadi pejantan (dan juga betina, khusus Yi Yun) yang benar-benar dewasa dan memahami apa artinya memiliki ikatan darah dengan seseorang. Penerus-penerusnya memiliki kualitas yang baik. Ia tidak sombong atas hal itu karena anak-anaknya menjadi seperti sekarang bukan hanya karenanya seorang. Bimbingan Song Qian juga tidak boleh dikesampingkan. Plus, arus waktu dengan pengalaman yang mengalir deras di dalamnya ikut berperan dalam pendewasaan.

Sepasang lengan yang langsing dan cantik terkalung di leher Zhou Mi.

“Mengharukan ya melihat anak-anak kita dewasa, Mi. Rasanya, baru kemarin aku mengambil rapor anak-anak di SD, sekarang mereka akan jadi pemimpin di klan masing-masing.” bisik Song Qian pada jantannya. Zhou Mi membelai pipi betinanya lembut. “Kau memang perasa. Jangan terlalu dipikirkan. Tidak ada sesuatu pun yang lolos dari perubahan dan seretan arus waktu, ‘kan?”

Song Qian mengangguk. “Bagaimana kita menyikapinya, itulah yang lebih penting.”

“Nah, itu kau mengerti.” Zhou Mi mencium pipi Song Qian, lalu kembali meneruskan kegiatannya semula: menikmati hasil kerjanya bersama pasangannya, kebersamaan anak-anaknya. Kalau ada lukisan tentang tiga bersaudara yang bahagia, maka Wu Fan, Yi Yun, dan Zi Tao adalah perwujudan dari lukisan itu.

***

Pagi ini cerah. Banyak orang menunggu bus dengan santai di depan halte. Tiba-tiba, orang-orang ini dikejutkan oleh angin yang berhembus sangat kuat.

Tidak, itu bukan angin yang berhembus begitu saja. Itu Wu Fan, Yi Yun, dan Zi Tao yang sedang berlari gila-gilaan menuju sekolah karena terlambat bangun pagi. Alarm hidup tiga anak itu, Song Qian, rupanya kesiangan dan lupa kalau anak-anak itu hanya bisa dibangunkan oleh suaranya. Alhasil, angin ribut di halte itu ujungnya.

“Sial! Tao, kenapa jam wekernya kau tindih bantal?” marah Wu Fan.

“Bu-bukan salahku! Bantalnya yang jatuh ke jam weker!” Zi Tao membela diri.

“Mana mungkin bantal jatuh sendiri? Pasti kau jatuhkan!”

“Jatuh sendiri, Ge!”

“Sudah cukup! Aku yang menjatuhkan bantal ke wekerku sendiri saja tidak ribut!” teriak Yi Yun.

Kalau kau frustrasi, frustrasi saja sendiri! Itu ‘kan salahmu, kami tidak turut campur!, keluh Wu Fan dan Zi Tao dalam hati.

Tiga orang itu sudah setengah jalan menuju sekolah. Zi Tao mulai kelelahan. Bagaimana bisa kedua kakaknya masih bisa berlari cepat? Itu sangat mengherankannya. Kedua kakaknya memang punya tenaga yang lebih bagus darinya.

Di saat seperti ini, Zi Tao yang dulu pasti akan memegang bagian belakang pakaian salah satu kakaknya—seringnya pakaian Wu Fan—dan berteriak, “Tunggu aku!”

Zi Tao yang sekarang berbeda. Biarpun jantungnya seperti mau pecah, ia lebih memilih mempercepat larinya menuju Wu Fan dan Yi Yun. Toh aku sudah lebih kuat sekarang, pasti bisa menyusul, itu pikirannya. Kaki panjangnya mulai terantuk-antuk, kehilangan keseimbangan.

Sedikit lagi.

“Taozi, dasar lambat!”

“Ayo, Tao!”

Greb! Wu Fan dan Yi Yun berhenti berlari, menggenggam tangan Zi Tao, dan menarik si bungsu untuk lari bersama.

Dulu, Zi Tao kecil akan memohon pada kakak-kakaknya untuk mengasihaninya. Kakak-kakaknya akan berhenti, menunggu si bayi panda untuk menyamai kecepatan mereka, lalu berlari lagi.

Sekarang, Wu Fan dan Yi Yun akan menarik teman mereka untuk berlari bersama. Anak jangkung berkulit tan itu cukup kuat untuk menyamai kecepatan mereka; ia hanya butuh sedikit bantuan.

Wu Fan tersenyum tipis pada adik bungsunya.

Bukan begitu, Zi Tao?

***

FIFTH STORY OF HOMO HOMINI LUPUS SERIES: END

Baba, boleh aku bicara sebentar?”

“Ya, masuklah, Tao.”

“Aku mimpi aneh semalam.”

“Apa? Pertarunganmu dengan Fan-ge terulang kembali dan menakutkanmu?”

“Hm, antara lain ada scene seperti itu, sih.”

“Eh? Scene? Hahaha, jangan bicara seolah-olah mimpimu itu film.”

“Mimpi itu terlalu nyata untuk jadi film, Baba. Jadi begini, benar bahwa mimpi itu dimulai dengan pertarunganku dengan Fan-ge, tetapi akhirnya aneh.”

“Aneh bagaimana?”

“Saat itu hujan, jadi ada genangan air yang terbentuk di bawah kaki kami berdua. Aku sempat melihat pantulan wajahku di genangan air itu dan ternyata, yang muncul malah wajah Baba.”

“Oh?”

“Iya, benar. Wajah Baba muncul di genangan air itu, bukan wajahku. Ketika pandanganku bergeser ke genangan air di bawah kaki Fan-ge, yang muncul juga bukan wajahnya.”

“Wajah siapa?”

“Aku tidak tahu. Wajah yang jadi bayangan Fan-ge itu sama sekali tidak mirip dengannya, malah mirip dengan wajah sahabatnya di sekolah. Namanya Lu Han-ge dan Yi Xing-ge. Orang itu punya kontur wajah seperti Lu Han-ge dan memiliki binar mata seperti Yi Xing-ge.”

“Maaf, Tao, Baba tak kenal teman-temanmu. Bisa deskripsikan wajah orang itu saja?”

“Bayangan Fan-ge itu memiliki garis wajah yang tajam dan dia tampan seperti Lu Han-ge yang tadi kubilang. Walaupun wajahnya dewasa, binar matanya masih binar mata anak-anak seperti punya Yi Xing-ge.”

Apa?

Tidak mungkin.

Zi Tao tak pernah melihatnya.

“Lalu, bagaimana akhirnya?”

“Mm, aku tidak begitu ingat… agak kabur. Akhir pertarungan itu tidak seperti akhir pertarunganku yang sebenarnya karena aku dilempar Gege dari puncak gedung tempat kami bertarung.”

“Hah?!”

“Ke-kenapa Baba kaget?”

“T-tidak. Maaf. Teruskan ceritamu.”

“Ya, terus aku jatuh, tetapi baru sesaat aku jatuh, aku bisa melihat Fan-ge tersenyum padaku. Dia kelihatan senang sekali. Yah, begitulah mimpinya berakhir, kemudian aku bangun.”

Seseorang dengan kontur wajah tegas dan binar mata kekanakan.

Hanya satu orang yang seperti itu.

Jika Zi Tao menjadi aku dalam mimpi itu, maka Wu Fan pasti menjadi…

…Han-gege.

###

Author’s note: Gimana additional end-nya? #gulung-gulung. Additional endnya kok keren banget sih rasanya? #narsistingkatdewa. Aku udah kepikiran bikin ini untuk mengarahkan ceritanya ke sepasang kakak-adik yang mengawali cerita ini.

Oh, dan gimana keseluruhan ceritanya? Kebanyakan narasi, ya? Aku pingin coba agak mengharu-biru di sini, habis Tao ‘kan orangnya cengeng gitu di aslinya, tetapi aku yakin dia juga punya kepribadian yang kuat kayak Tao yang di cerita ini. Buktinya, dia sanggup ninggalin Qingdao buat jadi artis di Korea ^^ (tenang Tao-chan, Mama Vic bakal jagain kamu kok *satu kampung sih*)

Story ini bikin aku harus ke kamar mandi bolak-balik karena feelnya dapet banget *menurutku sih*dan bikin aku jadi pengen pipis bolak-balik juga *koplak banget nih author*. Apalagi bagian Tao tenggelem itu, aduh….

Stop basa-basinya, thor! Nanti readernya jadi gak bisa review -.-

Hiyaa, gomen, gomen. Silahkan tinggalkan jejak yang membangun untuk karya saya di series ini, ya 🙂 Seperti biasa, cari cerita lain di series ini di http://archiveofourown.org/users/Liana_DS/works

 

 

 

 


[1] peribahasa, artinya ikatan keluarga lebih dekat dari ikatan-ikatan yang lain.

3 tanggapan untuk “Disperser(chapter 2)”

  1. Whooaaa keren!
    di sini brothershipnya KrisTao kelihatan bgt 😀

    itu mimpinya Tao maksudnya masa lalunya Zhoumi gitu?
    dan ‘Han-gege’ itu Hangeng bukan?
    iya kan? Kan? Kan? /maksa/ditabok/
    hehe ^^

    keep writing ya~ terutama ff brothership 😉
    hwaiting! ^^v

  2. han ge tu maksudnya siapa thor kan ceritanya di mimpi itu si tao jadi zhou mi nah terus si kris jadi siapa kurang jelaa soalnya namya disingkat

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s