Disperser (chapter 1)

  • Title                       : Disperser (chapter 1)
  • Scriptwriter        : Liana D. S.
  • Fandom               : EXO
  • Main Casts          : Huang Zi Tao (EXO Tao), Wu Fan (EXO Kris)
  • Support Casts    : Zhou Mi, Song Qian (f(x) Victoria), Liu Yi Yun (f(x) Amber)
  • Duration              : Two-shots (9K+ words total), in ‘Homo Homini Lupus’ series
  • Genre                   : Brothership, Action
  • Rating                   : PG-15
  • Disclaimer          : Semua karakter dari SM Entertainment bukan milik saya, tetapi milik Tuhan dan diri mereka sendiri. Plot sepenuhnya milik saya dan saya tidak menarik kepentingan komersial apapun dari penulisan FF ini.
  • Summary             : Zi Tao, 15 tahun, anak bungsu yang sangat disayangi dan menyayangi keluarganya, termasuk pada Wu Fan, kakak sulungnya. Akan tetapi, akhir-akhir ini, kepribadiannya yang lain muncul ke permukaan dan melukai Wu Fan tanpa bisa ia kendalikan! Ada apa sebenarnya? “Tak bisakah aku terus menjadi Tao kecil yang disayangi semuanya?”

***

Part 1

Dalam pertarungan penentuan posisi dalam hierarki, pihak yang kalah tidak selalu menjadi serigala dengan kasta terendah alias omega. Terdapat kemungkinan yang lebih baik dari itu, yaitu alfa disperser. Alfa disperser adalah serigala yang akan membentuk klan baru kelak setelah ia melepaskan diri dari klan lamanya (disperse). Otomatis, serigala ini akan menjadi pemimpin di klan barunya. Untuk menjadi serigala jenis ini tidak mudah karena ia harus memulai membangun klan dari nol, sedangkan alfa biasa sudah memiliki teritori mapan dan hierarki yang teratur dari klan lamanya.

***

Biarpun turnamen wushu sudah berakhir minggu lalu dengan dia sebagai juaranya, bagi Zi Tao, tidak ada kata berhenti dalam latihan. Ada beberapa anak di sekolah yang mengatakan bahwa Zi Tao sudah punya pacar, yaitu tongkat wushunya, sehingga tidak ada satu gadis pun yang mampu merebut hatinya. Ini rumor yang salah; Zi Tao masih menyukai gadis-gadis molek yang akhir-akhir ini bertambah banyak di sekolah. Ia hampir sama seperti teman-temannya kalau masalah selera. Yang membedakan dari siswa lainnya adalah statusnya sebagai atlet muda pekerja keras.

Zi Tao baru saja mengakhiri rangkaian gerakan wushu dengan ‘cantik’ ketika pelatihnya masuk ke gymnasium sekolah tempat latihan. “Kau mau latihan sampai kapan?”

“Ah, pelatih….” Zi Tao terengah-engah, “Maaf….”

“Tak perlu minta maaf. Kau anggota baru yang bersemangat dan berbakat; untuk apa disalahkan?” si pelatih tersenyum santai, “Jarang sekali ada anak sepertimu yang mampu menorehkan prestasi di tahun pertamamu masuk klub.”

“T-tidak seperti itu… Teman-teman hanya perlu berlatih lebih keras….” ucap Zi Tao, agak malu. Memang Zi Tao siswa yang outstanding: berada di kelas akselerasi membuatnya satu tahun lebih awal masuk SMA dari teman sebayanya. Kemampuan wushu yang ia miliki sejak umur enam tahun membuatnya makin hebat. Akan tetapi, walaupun memiliki banyak kelebihan, Zi Tao anak yang cukup pemalu. Kalau ia bersama kakak-kakaknya, maka ia akan lebih memilih bersembunyi di belakang mereka jika ada orang yang mengajak berbicara.

“Kau harus mengakui kelebihanmu, tetapi yah… untuk saat ini, mari kita sudahi saja latihanmu. Sudah hampir senja.”

Zi Tao melihat jam yang ada di gymnasium dan melebarkan matanya. Gawat!! Sudah jam segini! Mama bisa marah kalau aku pulang kemalaman!, batinnya, lalu segera membereskan properti latihannya dan menyambar tasnya. “Pelatih, terima kasih untuk hari ini. Aku pulang dulu!”

Wush! Zi Tao melesat keluar gymnasium diiringi dengan tatapan aneh pelatihnya.

Untuk apa dia berterima kasih padaku? Aku bahkan tak melatihnya.

Zi Tao berlari secepat yang ia bisa ke rumah, tak peduli jarak jauh yang harus ditempuhnya: sekitar 10 km. Wajahnya berseri setiap kali ia pulang. Jiwa Zi Tao masih jiwa anak-anak yang belum bisa terpisah jauh dari rumah. Ia mudah rindu kehangatan suasana rumahnya: lengking suara ibunya saat ‘panggilan makan’, kakak perempuannya yang selalu merebut makanannya, sang ayah yang ribut mendamaikan, dan kakak lelakinya yang tenang.

Namun, ada sesuatu yang harus berubah seiring waktu—dan itu di luar kekuasaan Zi Tao.

Zi Tao membuka pintu rumahnya dan langsung disambut dengan confetti serta pita warna-warni yang berhamburan ke mukanya. Refleks, Zi Tao menutup mata.

“Selamat ulang tahun yang ke-15!”

Zi Tao bisa mengenali suara itu sebagai suara Song Qian, ibunya. Perlahan, ia membuka mata dan menyingkirkan potongan-potongan kertas itu dari pandangannya. Di depannya, sudah ada ayah, ibu, dan dua kakaknya. Kakak perempuannya, Yi Yun, nyengir lebar sambil memegang ‘pistol confetti’ yang isinya sudah berhamburan. Wajah Zi Tao rasanya panas. “Kalian ingat ulang tahunku?” katanya dengan perasaan membuncah. Zhou Mi, ayahnya, menariknya ke ruang makan. “Tentu saja kami ingat, panda cilik. Ayo, segera kita mulai pesta kecil untuk yang baru berumur 15!”

“Yay! Ayo! Aku sudah tak sabar makan kuenya!” Yi Yun menarik Song Qian, “Mama sudah buat kue ulang tahun yang penuh dengan krim!”

“Benarkah?” Mata Zi Tao berbinar. Ia yang hobi makan selalu senang kalau mendengar tentang makanan enak. Benar saja. Setelah masuk ruang makan, Song Qian mengeluarkan cake ulang tahun ukuran sedang dengan sebatang lilin di atasnya. “Wu Fan, tolong nyalakan lilinnya.” pinta Song Qian. Wu Fan, kakak laki-laki Zi Tao, mengambil pemantik dan menyalakan lilin dengan hati-hati. “Nah, sudah menyala,” Wu Fan tersenyum tipis, seperti biasa, “Buat permohonan.”

Patuh, Zi Tao menutup matanya dan membuat harapan dalam hati.

Semoga aku bisa jadi lebih kuat dan pintar dari Wu Fan-ge tahun depan.

Zi Tao membuka matanya dan fuh! Api kecil di lilin padam. Semua orang bertepuk tangan. “Apa permohonanmu?” tanya Yi Yun. Zi Tao menggeleng-geleng cepat. “Itu rahasia. Nanti harapannya tidak akan terwujud.”

“Terwujudnya suatu harapan tetap bergantung padamu sendiri, Tao.” Zhou Mi mengusap cepat rambut putranya. Zi Tao mengangguk mantap, dalam hati berterima kasih memiliki ayah yang selalu menyemangatinya. “Tapi tetap aku tidak akan memberitahu Yi Yun-jie!” kata Zi Tao, mengetahui harapan Yi Yun yang mulai tumbuh lagi untuk mengetahui birthday wishnya. Yi Yun menghembuskan napas panjang. “Ah, ya sudahlah. Ayo kita potong kuenya! Tao, nih, cepat bagi, aku ingin segera makan!” kata si gadis tomboy sambil menyerahkan pisau pada adiknya.

“Iya, iya. Memangnya cuma Jiejie yang ingin makan?” kata Zi Tao, lalu memotong kuenya menjadi beberapa bagian. Song Qian meletakkan potongan kue pertama di piring pipih kecil dan menyerahkannya pada si bungsu. “Kamu mau menyerahkannya pada siapa, Sayang?” tanyanya. Zi Tao terjajar mundur sedikit mendapatkan blink-blink attack dari ibunya yang begitu menginginkan suapan pertama. “Eh… ngg…. Ini untuk Mama, kok….”

“Asyik!! Aa…” Song Qian membuka mulutnya lebar-lebar dengan bahagia, siap menerima suapan. Zi Tao menyuapi ibunya, kikuk karena biasanya, ia yang bermanja-manja dan minta disuapi. Alhasil, krim icing kue menempel sedikit di bibir Song Qian. “Hm, enak! Berikutnya, biar Mama yang suapi, ya! Ayo buka mulut!” Song Qian menempelkan ujung sendok yang sudah ada kuenya ke mulut Zi Tao. Dengan senang hati, Zi Tao membuka mulutnya, tak mempedulikan bibirnya yang belepotan krim. Zi Tao mengunyah perlahan, membuat ibunya gemas. Song Qian mencium pipi putranya itu, membuat krim yang semula ada di bibirnya berpindah ke pipi Zi Tao. “Tumbuhlah jadi pejantan yang hebat, ya.” doa Song Qian. Kemudian, ia meletakkan potongan kue berikutnya. “Nah, kalau yang ini untuk siapa?”

Zi Tao menatap satu persatu anggota keluarganya yang lain. Zhou Mi masih tersenyum, tetapi kelihatannya tidak begitu mengharapkan potongan itu. Yi Yun hampir sama dengan Song Qian, blink-blink attack dengan intensitas lebih rendah. Wu Fan menatap datar Zi Tao, tak tertarik dengan potongan berikutnya; baginya, menghabiskan waktu dengan keluarganya saja sudah cukup. Zi Tao menoleh pada ibunya dengan bingung. “Mama, kalau aku memberikan potongan selanjutnya pada seseorang, nanti yang lainnya akan menganggap aku tidak menyayangi mereka.” katanya polos.

“Itu bukan patokan, kok. Kamu ‘kan menyayangi kami semua sama rata. Pilih saja satu orang.” ucap Song Qian, meyakinkan Zi Tao bahwa ia tak akan mengecewakan siapapun. Zi Tao sekali lagi menatap anggota keluarganya. Tangannya yang memegang piring kue terulur ke arah seseorang.

Gege, ini buatmu.”

Wu Fan mengangkat wajahnya. “O-oh,” ia kelihatan terkejut, lalu berdiri setelah menerima potongannya, “Terima kasih.”

Zi Tao tersenyum lebar, tetapi Song Qian protes keras karena ‘reaksi dingin ala pria’ ini. “Eeeh? Mana pelukannya?”

Zhou Mi menyikut pelan istrinya. “Anak laki-laki tidak berpelukan di depan umum, Qian.”

“Akan lebih mengerikan kalau mereka berpelukan mesra di belakang kita, tahu,” Song Qian mengerucutkan bibirnya pada Zhou Mi, lalu kembali pada dua putranya, “Zi Tao, peluk Wu Fan-ge supaya kalian selalu saling menyayangi!”

Setinggi dan sedewasa apapun penampilannya, Zi Tao tetaplah panda kecil di keluarganya. Ia tidak malu melakukan hal yang kekanakan karena ia memang anak bungsu. Ia sudah siap memeluk kakak lelakinya, tetapi Wu Fan sudah maju duluan. Ia memeluk adiknya dengan sebelah tangan. “Selamat ulang tahun,” katanya saat menepuk punggung adiknya, “Cepat besar, ya.”

“Aku sudah besar, Ge!” Zi Tao  cemberut, tetapi tertawa kemudian, “…tapi kalau dibanding denganmu, tentu saja masih kecil. Terima kasih, Ge.”

Zi Tao memeluk Wu Fan dengan cara yang sama, lalu menepuk punggung lebar kakaknya. Saat itulah, Zi Tao merasakan sesuatu yang tak terkontrol dari bawah sadarnya. Kuku-kuku tangannya meruncing dan matanya memerah. Tak sengaja, Zi Tao merobek pakaian Wu Fan di bagian punggung dan melukai sedikit punggung kakaknya itu.

Aku ingin mengalahkannya.

Wu Fan memicing, tetapi hanya sebentar karena Zi Tao terlihat kaget setelah melukainya. “Ah, Gege, aku… hmp!” Sebelum Zi Tao mengatakan sesuatu, Wu Fan sudah menjejalkan kue yang semula untuknya. “Nih, buatmu saja.”

Dengan pipi gembung seperti hamster, Zi Tao mengunyah kuenya perlahan. Ia kembali ceria ketika mulutnya dipenuhi rasa manis. Satu demi satu, semua orang di ruang makan menikmati kue ulang tahun itu, bahkan Yi Yun dan Zi Tao berperang dengan krim kue. Untuk sehari ini, Zhou Mi dan Song Qian ikut tertawa menyaksikan kejahilan anak-anak mereka. Toh bagi mereka berdua, Yi Yun dan Zi Tao masih pantas bermain-main. Hanya Wu Fan anak mereka yang terlihat cukup matang dan mampu membimbing adik-adiknya. Pemuda paling tinggi dalam keluarganya itu hanya tertawa kecil melihat kedua adiknya saling mencoreti wajah dengan krim kue.

Wu Fan mengabaikan darah yang mulai membasahi punggungnya.

Untunglah, baju hitam ini membuat darahnya tidak kelihatan.

Setelah pesta selesai, masing-masing anggota keluarga kembali ke kesibukan masing-masing. Wu Fan dan Zi Tao pun kembali ke kamar mereka. Zi Tao, yang baru saja membersihkan wajahnya dari campuran mentega-telur, keluar dari kamar mandi dengan muka tertekuk. “Gege…”

“Hm?” Wu Fan menyiapkan beberapa buku untuk ia pelajari, tidak menoleh pada Zi Tao. Anak yang lebih muda kini memandang kakaknya dengan cemas. “Gege, tadi aku mencakarmu? Apa kau tidak apa-apa?”

Ucapan Zi Tao yang ragu-ragu ini membuat Wu Fan yakin bahwa Zi Tao tidak sengaja mencakarnya. “Yah, mari kita lihat.” Wu Fan membuka kemeja hitam yang ia kenakan, lalu melihat punggungnya di cermin. Ada goresan yang mengucurkan darah di sana, tetapi luka itu tidak begitu dalam. Darah yang keluar dari luka itu juga tidak begitu banyak, jadi Wu Fan mengenakan kembali pakaiannya dengan santai. “Tak apa-apa. Cuma luka kecil.” ucapnya, lalu duduk dan mulai membaca bukunya. Karena tidak menangkap adanya pergerakan dari Zi Tao, Wu Fan menoleh ke depan kamar mandi dan melihat adiknya sedang menunduk. “Oi, apa yang kau lakukan? Kalau mau buang air, jangan ditahan. Cepat masuk lagi.”

“Aku tidak mau buang air!” Zi Tao protes keras, mukanya merah.

“Terus kau kenapa? Menunduk di depan kamar mandi dengan ekspresi serius begitu, kesimpulannya cuma satu.”

“Bukan begitu! Aku…. ngg… aku….” Sekali lagi, Zi Tao menunduk. Wu Fan menghembuskan napas keras. “Jangan seperti anak perempuan. Kau mau bilang apa?”

Setelah cukup lama mengumpulkan keberanian, Zi Tao akhirnya bicara. “Gege, maaf… Aku sungguh tak sengaja tadi… Tiba-tiba saja, cakarku keluar saat menepuk punggungmu…”

“Ya, tak apa. Sudah, cepat ambil bukumu dan belajar.”

Tak seperti biasa, kata-kata ‘dingin’ dari Wu Fan ini tidak melegakan Zi Tao. Zi Tao mengambil bukunya, tetapi tidak bisa berkonsentrasi maksimal. Ia masih memikirkan insiden kecil tadi, di mana ada suatu dorongan tak terkendali untuk melukai Wu Fan. Itu mengerikan—untuk apa dia melukai kakaknya yang selama ini begitu ia sayang?

Ah, mungkinkah itu perwujudan dari perasaan tersembunyi Zi Tao untuk Wu Fan selama ini: rasa iri?

Tidak, aku tidak pernah iri pada Wu Fan-ge. Tidak sekalipun! Apa yang kupikirkan, sih?, batin Zi Tao, lalu membalik-balik halaman bukunya dengan kasar.

“Sudah 15 tahun, ya.”

Zi Tao mengalihkan pandang dari bukunya ke Wu Fan. “Kenapa?”

“Sudah 15 tahun kau jadi adikku, tetapi kau tetap saja seperti itu: kikuk, ceroboh, dan mudah gugup—“

“Tapi aku suka seperti ini,” sahut Zi Tao, “Aku suka jadi anak dan adik paling kecil karena kalian semua akan menyayangiku.”

Sebenarnya, Zi Tao mengatakan ini untuk menutupi rasa sakit yang, dalam keadaan biasa, tidak akan muncul.

Benarkah… aku tidak berubah sama sekali di pandangan Wu Fan-ge? Walaupun aku sudah 15 tahun? Walaupun aku sudah beberapa kali menjuarai turnamen wushu? Walaupun aku hampir menyamai tingginya?

“Kau tidak akan selalu jadi adik paling kecil, Tao. Kita semua akan berubah dan aku yakin, saat itu sudah dekat.”

Zi Tao diam. Ia berpura-pura tidak mendengarkan kata-kata Wu Fan. Di satu sisi, dirinya menolak berubah. Kenapa harus berubah kalau saat ini sangat menyenangkan? Akan tetapi, di sisi lain, ketika Wu Fan bilang ia tetap seperti dulu, ada kecewa yang menyeruak entah dari mana.

Apa semua anak berusia 15 tahun selalu mengalami kebimbangan seperti ini, ya?

***

“Baiklah. Kita berpisah di sini.” kata Yi Yun pada Zi Tao setelah mereka berdua, juga Wu Fan, sampai di depan sekolah Zi Tao. Sekolah dua anak tertua berbeda dengan sekolah si anak bungsu, tetapi mereka bertiga selalu berangkat sekolah bersama.

“Iya, Jie. Apa nanti sore kita akan main basket lagi?” tanya Zi Tao.

“Tidak. Nanti sore, kami akan menjemputmu dan kita akan ke lapangan sepak bola. Kemarin ‘kan Fan-ge sudah unjuk kebolehan, sekarang giliran Lu Han-ge.” Yi Yun memberikan penekanan pada nama terakhir yang ia sebut sambil melirik jahil pada Wu Fan. Lu Han adalah teman Wu Fan yang satu tingkat. Dua orang itu terkenal di sekolah sebagai idola para siswi sekaligus ‘rival abadi’.

Wu Fan tersenyum miring. “Kau pikir aku akan kalah dengannya? Aku sudah mengalahkannya di lapangan basket kemarin dan hari ini, dia akan kalah lagi!”

“Tapi Lu Han-ge itu kapten tim sepak bola, ‘kan? Apa kapten tim basket bisa sehebat dia dalam sepak bola?” goda Yi Yun. Kapten tim basket yang ia maksud adalah Wu Fan. Mendengar ‘ejekan’ adiknya yang samar ini, Wu Fan langsung melingkarkan lengannya yang besar di leher adik perempuannya itu, membuat Yi Yun tercekik. “Uhuk, Ge-Gege!!! Aku mati!! Hei, lepaskan!!!” Yi Yun meronta.

“Nah, Panda, kami ke sekolah dulu. Belajar yang benar, ya.” pesan Wu Fan pada Zi Tao, mengabaikan teriakan adiknya yang satu lagi. Zi Tao meringis takut sambil melambaikan tangan pada Wu Fan dan Yi Yun yang berjalan menjauhi tempat itu. Untung, aku tak pernah cari masalah dengan Gege…, batinnya, merinding melihat Yi Yun yang masih ‘dicekik’ sampai jauh. Akan tetapi, pemandangan konyol itu memberikan kehangatan bagi Zi Tao. Walaupun jarang menunjukkan keakraban dengan cara yang manis, Zi Tao tetap senang memiliki Wu Fan dan Yi Yun sebagai kakak-kakaknya.

Kau tidak akan selalu jadi adik paling kecil.

Deg.

Zi Tao membetulkan posisi tas punggungnya dan berjalan masuk gedung sekolah. Ia berusaha bersikap santai untuk menenangkan debar jantungnya. Kata-kata Wu Fan pada hari ulang tahun terputar kembali. Hanya karena kata-kata itu saja, masa depan yang dingin mulai membayangi Zi Tao.

Perubahan. Perpisahan.  Pecahnya klan.

Itu tidak akan terjadi, ‘kan? Selama kami masih saling menyayangi, itu tidak akan terjadi, Zi Tao meyakinkan dirinya.

“Hei, kau adik Wu Fan dari Sekolah Utara, rupanya.”

Baru saja Zi Tao meletakkan sepatunya di loker, ia sudah dikelilingi oleh sekelompok anak yang mencurigakan. Zi Tao tak kenal siapa mereka, tetapi orang-orang ini pasti punya niat buruk padanya atau Wu Fan. Zi Tao memasang facade datarnya. “Kalian siapa?”

“Tak perlu tahu siapa kami. Yang jelas, kami pernah dikalahkan oleh Wu Fan dan kami sudah merencanakan pembalasan.” kata salah seorang siswa di kelompok itu yang memegang tongkat bisbol.

“Jangan bersikap sok di hadapan kami,” seorang siswa, yang kelihatannya adalah ketua dari kelompok itu, maju dan mencengkeram kerah baju Zi Tao, “Apa kau pikir kami takut melakukan sesuatu padamu hanya karena kau anggota klub wushu?”

Zi Tao diam. Jangan memukul kalau belum perlu, itu adalah konsep bertarungnya.

“Kami akan menggunakanmu sebagai alat untuk memancing Wu Fan ke sini, jadi jangan melawan karena kau hanya sendiri.” Si ketua terkekeh. Zi Tao menghela napas. Mereka tidak akan memberikan luka yang dalam. Lagipula, di tempat seperti ini, mereka akan dihentikan oleh guru, jadi aku tidak usah membuang energi.

Duak!

Zi Tao terbatuk ketika si ketua kelompok menendang perutnya. Orang-orang di sekitar situ tak berani mendekat. Mereka hanya bisa berbisik ketakutan: jika Zi Tao yang ahli bela diri saja sampai tersungkur di depan loker, bagaimana yang lain?

“Heh, ternyata cukup mudah menjatuhkanmu. Bersiaplah untuk yang selanjutnya!”

Tendangan berikutnya dilayangkan, tetapi Zi Tao cepat menghindar. Belum selesai, seseorang menyerang Zi Tao dengan tongkat bisbol. Beruntung, Zi Tao menepis tongkat itu tepat waktu. “Hentikan ini! Wu Fan-ge akan tetap mengalahkan kalian, walaupun kalian menggunakanku sebagai umpan!” Zi Tao terus menghindar. Para penyerang tertawa seperti orang gila. “Kami tidak takut dengan ancaman itu!”

Swish! Pipi Zi Tao tergores sedikit, efek dari tendangan salah satu penyerangnya yang berkaki panjang. Aku tidak bisa terus menghindar seperti ini, tetapi kalau aku menyerang, para guru bisa salah tangkap! Apa yang harus kulakukan?

Duk! Bruak!

Satu persatu penyerang Zi Tao terlempar ke loker atau ke dinding, padahal Zi Tao tidak melakukan apapun.

“Kalian tidak kapok juga berkelahi.”

Zi Tao melebarkan matanya ketika Wu Fan muncul dan menjatuhkan beberapa anggota kelompok yang menyakiti adiknya. Bisik-bisik dalam kerumunan semakin riuh.

Gege, kau tidak usah ke sini! Aku tidak apa-apa!” teriak Zi Tao. Wu Fan menjatuhkan satu lawan lagi, lalu berjalan cepat menuju Zi Tao. Segera direngkuhnya tangan Zi Tao. “Cepat pergi.”

Aku tidak butuh kau lindungi.

Jrak!

Secara otomatis, Wu Fan menarik tangannya yang baru saja dicakar Zi Tao. Darah mengucur lebih banyak dari luka sebelumnya. Orang-orang yang melihat itu ternganga, bingung. Zi Tao sendiri bingung dan gugup ketika sadar bahwa ia baru saja melukai Wu Fan. “Gege….”

“Cepat pergi!”

Bentakan Wu Fan membuat Zi Tao tidak ragu lagi untuk lari. Ketakutan menambah cepat larinya.

Kenapa aku seperti ini lagi? Apa yang terjadi denganku?

***

Sesuai janjinya dengan Wu Fan dan Yi Yun, Zi Tao menunggu ‘jemputan’ dengan sabar di halaman sekolah sore ini. Pemuda tinggi berkantung mata tebal itu memikirkan apa yang terjadi pagi tadi. Wu Fan jelas merasakan bahaya di sekitar Zi Tao dan bukan hal yang aneh kalau Wu Fan melindunginya. Yang aneh adalah Zi Tao menolak untuk dilindungi, bahkan sampai melukai Wu Fan lagi karena penolakan itu. Zi Tao menunduk dalam, sedih. Dia yang perasa tak bisa sepenuhnya melupakan luka yang ia tanamkan pada Wu Fan.

Apakah ada kebencian dalam hatiku untuk Gege? Apa serangan-seranganku yang tak terkendali itu adalah wujud kebencianku yang tertimbun? Aku tak pernah membenci Gege, kok. Aku sangat menyayanginya, seperti aku menyayangi Yi Yun-jie, tetapi kenapa aku tidak pernah menyerang Yi Yun-jie? Kenapa hanya Wu Fan-ge yang kuserang?

“Tao!!!” Terdengar Yi Yun memanggil dari gerbang sekolah. Zi Tao segera bangkit. Tak hanya Yi Yun yang datang menjemputnya, tetapi juga Wu Fan, Lu Han—teman Wu Fan yang satu tingkat, dan Yi Xing adik Lu Han. Mereka berlima berjalan bersama ke lapangan sepak bola sambil membicarakan banyak hal, walaupun Zi Tao lebih banyak diam daripada hari-hari lain. Pandangannya terfokus pada Wu Fan.

Wu Fan masih terlihat besar di pandangan Zi Tao.

Sejak kecil, Zi Tao tidak berani berjalan di depan kakak-kakaknya, apalagi di depan Wu Fan. Kakak lelakinya terlihat begitu tidak tergoyahkan dari belakang, apalagi dari depan. Seiring waktu, Wu Fan juga bertambah tinggi. Punggungnya bertambah lebar dan Zi Tao merasa dirinya semakin inferior hanya karena fisik Wu Fan itu. Ia tak mengerti bagaimana Yi Yun tidak merasa lebih rendah dari Wu Fan—percakapan antara keduanya mengalir lancar, sedangkan Zi Tao selalu saja menunduk kalau bicara dengan Wu Fan.

Oke, sekarang Zi Tao sudah kelas 1 SMA dengan tinggi 178 cm, sedangkan Wu Fan kelas 3 SMA dengan tinggi 180 cm. Beda tinggi mereka tidak begitu jauh, tetapi Zi Tao tetap merasa kecil. Bagaimana tidak? Wu Fan masih sangat outstanding dengan masuk kelas unggulan, mencetak prestasi akademis yang memuaskan, dan menjadi kapten tim basket sekolah. Apa yang Zi Tao bisa lakukan? Memang sih, Zi Tao sudah belajar wushu sejak kecil, tetapi dia baru bisa mencetak prestasi yang ‘wah’ saat kelas 1 SMA ini. Kepribadian Wu Fan yang berwibawa pun tampak—dominansinya kadang muncul di situasi genting. Padahal, dominansi hanya dimiliki serigala alfa, bukan? Wu Fan saat itu masih berstatus sebagai anak alfa, belum menjadi beta—calon tunggal pewaris klan, pemenang pertarungan penentuan posisi dalam hierarki—tetapi kepemimpinannya sudah terlihat.

Apakah aku marah pada Gege karena aku tak sehebat dia? Akan tetapi, bukankah Gege juga memujiku kalau aku berprestasi—tak ada alasan untuk marah, ‘kan? Selain itu, saat ini, posisiku dan Gege dalam klan masih sama-sama anak pasangan alfa. Belum ada di antara kami yang jadi beta.

Lalu kenapa aku bisa marah tak terkendali pada Gege?

Apakah karena aku tidak pernah merasa setara, biarpun posisi kami sama?

Satu lengan panjang yang berat tiba-tiba tersampir di bahu Zi Tao, mengagetkannya.

“Jangan melamun, Panda.” Wu Fan tersenyum pada adik bungsunya. Mata Zi Tao membulat dengan lucunya. Pemuda bermata panda itu tertawa canggung. “Maaf….”

“Jangan sering-sering minta maaf seperti saat kau masih kecil. Kau tidak melakukan kesalahan apa-apa.”

Wu Fan menarik Zi Tao mendekat, memeluknya dengan sebelah tangan. Sejak ulang tahun Zi Tao yang ke-15, bocah itu jadi semakin jauh darinya. Biarpun Wu Fan tidak pernah menunjukkannya, sejujurnya, ia merasa sangat terganggu. Sama seperti Zi Tao, Wu Fan tidak begitu mengharapkan perubahan dalam hubungan persaudaraannya. Bedanya, Wu Fan mengerti ada sesuatu yang mulai berubah. Kepribadiannya yang dewasa membantunya untuk mentoleransi hal itu.

Aku juga harus membuat Tao mengerti.

“Oi, curang! Ada tiga saudara laki-laki di sini; aku tidak diajak, lagi.” protes Yi Yun sambil melompat kecil untuk mengaitkan lengannya di leher Zi Tao. Empat orang lainnya tertawa. “Yi Yun ‘kan perempuan.” kata Yi Xing sambil terkikik.

“Diam. Kita abaikan saja fakta itu sementara.” timpal Yi Yun, yang lagi-lagi menimbulkan tawa. Zi Tao menarik pelan tangan Yi Yun supaya tangan itu bisa terkait juga di bahunya. Yi Yun, yang lebih pendek dari Zi Tao, memang kesulitan menyampirkan lengannya, jadi Zi Tao membantunya. “Jiejie, tinggikan badanmu sedikit, dong.” ejek Zi Tao. Yi Yun langsung menyentil dahi si panda. Zi Tao memekik kesakitan. “Jiejie!”

“Kalau aku tidak tinggi, aku tidak mungkin menyentilmu, Taozi!”

Sekali lagi, tawa ‘geng’ itu terbit.

‘Sekarang’ sungguh berarti buatmu ‘kan? Sayang, kita berdua akan segera meninggalkan masa ini. Jangan seperti ini lagi, Tao. Jangan lagi jadi adik kecilku yang lemah.

Itu yang diucapkan Wu Fan dalam hati saat melihat dua adiknya bergurau.

***

Hari ini hari libur. Zi Tao bangun lebih awal, bersemangat menyambut hari. Tiap hari libur, Zi Tao biasa latihan wushu ketika semua anggota keluarganya  belum bangun. Ia turun dari ranjang susunnya perlahan; Wu Fan dan Zi Tao yang tidur sekamar memiliki ranjang susun, Zi Tao tidur di atas, sedangkan Wu Fan di bawah. Zi Tao melongok sedikit ke ranjang kakaknya. Wu Fan masih tertidur. Zi Tao lega karena ia tak membangunkan Wu Fan selama turun, tetapi ada perasaan aneh menyelusup ketika ia memandang Wu Fan. Kuku-kukunya runcing lagi dan iris matanya memerah.

Tidak! Tidak boleh menyerang Wu Fan-ge lagi!, Zi Tao memejamkan matanya, menuruni tangga ranjang susun dengan cepat. Ia baru membuka mata setelah memunggungi Wu Fan. Kemudian, ia lari keluar kamar, melesat menuju halaman rumahnya yang berbatasan langsung dengan hutan cemara.

Angin pagi meniup helaian rambut hitam Zi Tao. Pemuda itu menghela napas, lalu mulai berlatih.

Kau tidak akan selalu jadi adik paling kecil. Kita semua akan berubah.

“Tidak akan ada yang berubah,” gumam Zi Tao, “Tidak boleh ada yang berubah.”

Kaki panjang Zi Tao membelah angin. Tongkatnya terayun dalam harmoni dengan setiap gerakannya.

Selamat ulang tahun. Cepat besar, ya.

Belajar yang benar.

Jangan sering-sering minta maaf seperti saat kau masih kecil.

“Sial,” Zi Tao menggeram pelan, tetapi lama-lama berubah menjadi teriakan frustrasi, “Sial, sial! Kenapa dia selalu memperlakukanku seperti anak-anak?”

Drak!!

Zi Tao terkejut saat tanah padat di bawah kakinya menjadi cekung dan retak karena hentakan kaki yang terlampau kuat. Pandangan matanya yang semula merah berubah seperti semula. “Lagi?” Zi Tao terduduk di tanah, “Sebenarnya, aku ini kenapa? Kenapa sepertinya ada diriku yang lain yang mendesak keluar? Kenapa segala sesuatu tentang Wu Fan-ge selalu memicunya?”

Tanpa terasa, cairan bening yang hangat telah mengaliri pipi Zi Tao. Pemuda itu menyembunyikan wajahnya yang basah di balik lutut. Ia tak tahu apa yang terjadi pada dirinya, siapa si alter ego sialan yang ingin membunuh Wu Fan itu, bagaimana cara mengakhiri semua ini, dan harus minta tolong pada siapa. Kalau ia memberitahu orang lain tentang ‘sisi lainnya yang mengerikan’, ia akan dicap sebagai psikopat yang ingin membunuh kakaknya sendiri.

Zi Tao belum tahu bahwa itu perasaan yang normal. Pemilik sepasang mata yang mengawasinya dari balik jendela kamar mengetahui perasaan apa itu.

“Mi, dia menangis.” ucap Song Qian. Betina itu sedari tadi mengamati anak bungsunya. Zhou Mi berdiri di sisi lain ruangan. “Benar. Ini saatnya dia, juga Wu Fan dan Yi Yun, mengerti sesuatu. Ah, tetapi kurasa, Wu Fan sudah paham apa yang sedang terjadi dan akan terjadi dengan adiknya—“

Zhou Mi menelungkupkan foto keluarganya yang berbingkai kayu di atas meja. “—juga dirinya.”

“Kau terdengar mengerikan,” Song Qian tertawa canggung, “Haruskah kita memberitahu Tao tentang ini sekarang? Dia kehilangan dirinya dan begitu ketakutan.”

“Nanti, Qian. Biar aku saja yang melakukannya.”

***

FIFTH STORY OF HOMO HOMINI LUPUS SERIES: TO BE CONTINUED

Satu komentar pada “Disperser (chapter 1)”

  1. Serius, keren >.<
    aku awalnya nggak ngeh, ternyata mereka ini semacem serigala / werewolf. ya?
    atau makhluk lain?
    author, ff nya keren! keep writing ^^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s