FATE

Character : Tao©EXO©SMEntertainment©Tuhan YME©Papa-Mamanya©Fansnya. FeiHuang dan Albert©Author(singkatnyaCUMAngarang)
Author : Nobara Anya dan FeiHuang
Rate : G
Genre : Romance, and Lil bit Comedy
Lenght : Oneshot
Warn : OC, OOC(?), typo(s)

.

.

“Nasib bisa berubah kalau orang itu mau merubahnya,”

.

.

 

Aku adalah seorang gadis biasa, yatim piatu, misterius, selalu dicaci, dan pastinya aku tidak punya teman. Itu menurutku. Tapi pada dasarnya, aku adalah seorang gadis yang bisa dikatakan ‘gadis kaya yang ditinggal mati orang tua’. Kehidupanku mengenaskan. Ya, itu intinya. Kehidupanku mengenaskan. Terasa seperti sesuatu yang jika kau ditinggal sendirian bersama harta yang kau tidak tahu digunakan untuk apa harta itu. Jika ada yang mau berteman denganku, pastilah itu untuk mengincar hartaku—singkatnya memanfaatkanku.

Namaku FeiHuang. Orang biasa panggil aku Fei.

Dan suatu ketika, aku bertemu dengan seorang laki-laki yang sama anehnya denganku. Hanya saja, ia tidak sekelas denganku. Ya, maksudnya tentu karena ia—gelandangan yang terkatung-katung dijalanan setiap hari, sementara aku, gadis kaya misterius yang bertingkah bak ratu gothic. Gayaku memang gothic. Aku suka kenakan gaun panjang semata kaki dan hiasan rambut. Aku suka gaya elegan orang Inggris, dan tak ada yang memprotesku, kok. Ini kehidupanku. Jangan coba-coba kalian memprotesnya.

Aneh, dekil, kotor, namun, kuakui, ia tampan. Dengan gayanya yang berandalan itu—entah mengapa ia terlihat tampan di mataku. “Kau itu aneh, dekil, kotor, tapi—” gumamanku terpotong, ketika derap langkah kaki mulai mendekat. “Nona, waktunya makan siang,” ucap seseorang dari luar kamarku, sambil mengetuk pintu. Aku tidak menjawab, melainkan langsung berdiri dari kursiku dan berjalan menuju pintu. Kubuka pintu bercat merah marun itu, kemudian kutatap datar wajah pelayan keluarga kami yang setia ini. “Aku tahu, Albert,” ucapku padanya.

Albert, seorang butler berpengalaman yang usianya tiga kali usiaku ini, sudah mengabdi pada keluargaku sejak lahir. Senyumannya mengingatkanku pada senyuman ayah, yang lembut. Aku mempercayai Albert, walau aku tak suka saat ia mengatur semua jadwalku sehingga aku tidak punya waktu untuk diriku sendiri. “Tapi Nona biasanya terlambat makan, kan?” tanya pria itu. “Kapan terakhir kali aku bilang, jangan panggil aku Nona?” tanyaku, tanpa menghiraukan pertanyaannya. “Sekitar satu jam lalu, Nona,” jawabnya tepat. “Lalu?” sambungku, menunggu jawaban darinya.

“Saya ini pelayan anda. Sudah sepantasnya saya memanggil anda Nona, bukan?” tanya Albert. “Tapi namaku bukan Nona, Albert,” ucapku malas, sambil berjalan santai di depannya. “Nona, anda tahu pelajaran bahasa, bukan? Pelayan akan memanggil majikannya dengan sebutan Nyonya, Tuan, dan atau Nona, bukan?” Albert memang pintar berdebat. “Aku tahu. Tapi aku tidak suka panggilan itu. Terdengar seperti aku ini sudah tua saja,” ucapku pelan. “Anda masih semuda usia anda,” Albert sekali lagi menjawab dengan tenang.

“Baik, panggil aku Fei, tapi tidak dengan embel-embel Nona,” ucapku. “Jadi, karena anda sudah menolak panggilan Nona, bagaimana kalau saya panggil anda Noona?” tawarnya. “Itu sama saja, Albert,” ucapku tenang. “Nona?” tawar Albert lagi. “Masih sama saja,” ucapku. “My Lady?” tawar Albert sekali lagi. “Kenapa kau tidak secara praktis panggil aku Fei?” tanyaku jengah. “Karena anda adalah Nonaku,” ucap Albert. Bingung. “Berapa tahun kau bekerja sebagai pelayan, Albert?” tanyaku.

“57 tahun, singkatnya seumur hidupku. Karena itulah, saya juga memanggil Ayah dan Ibu anda dengan Nyonya dan Tuan,” ucap Albert. “Terserahlah. Tapi jujur, aku lebih suka kau dengan sebutan Nak FeiHuang,” ucapku bercanda. “Itu tidak sopan, bagi saya, Nona,” ucap Albert. “Baik, Nona saja,” ucapku menghela nafas. “Terimakasih, Nona,” ucap Albert, akhirnya menutup perdebatan kami. Aku duduk di kursi utama meja makan yang panjangnya hampir sepuluh meter ini. Di depanku sudah tersedia berbagai macam hidangan utama, sementara hidangan penutup akan keluar nanti setelah hidangan utama disantap.

“Albert, aku bosan,” ucapku menatap datar hidangan di depanku. “Bosan?” Albert menatapku bingung. “Ya. Tak bisakah sekali-kali kau kau pesankan aku junk food, seperti Pizza atau Hamburger?” tanyaku. “Anda tahu itu tidak baik untuk kesehatan anda, bukan?” Albert menjawab tenang. “Ya, tapi bukankah kalau sekali-kali boleh?” tanyaku menawar. “Kalau begitu besok saya akan sewakan untuk anda koki dari Italia untuk memasak pizza untuk anda,” ucap Albert. “Kau tak perlu berlebihan Albert. Lagi pula, aku maunya sekarang,” ucapku.

“Anda memang keras kepala, Nona,” ucap Albert. “Tapi anda harus pesan pizza yang mahal,” ucap Albert lagi. “Kenapa? Aku mau paket biasa saja,” ucapku, santai. “Tidak. Saya yang bertanggung jawab atas makanan anda. Jadi jangan membantah,” ucap Albert, tegas. Aku pun menghela nafas. Menyerah pada kekeras kepalaanya yang sama dengan kekeras kepalaan ayahku—yang tentunya juga menurun padaku. “Baik,” aku mendesah pasrah. Pria itu tersenyum kemudian membungkuk sopan. Setelah ia berbalik dan meninggalkanku, aku menatap hidangan pembukaku.

Sambil makan hidangan pembuka, aku menunggu Albert. Tapi pikiranku sebenarnya tak berpusat pada hidangan di depanku. Mataku menatap kosong piring. Sementara sendok di tanganku berhenti bergerak. Pemuda itu—yang belakangan ini menarik perhatianku. Saat itu, pertama kali aku kabur dari rumah—maksudku bangunan besar yang orang sebut Manor ini. Aku berlari dengan gaun selutut yang jelas, sangat mengganggu gerakku ini. Sepatu hak yang kukenakan sudah patah sedari tadi, tentu, karena aku berlari sangat kencang.

Aku pun duduk di bangku pinggir taman. Sambil meratapi sepatu hak kesayanganku, yang haknya patah menjadi dua—ah, sial. Tapi masih bisa-bisanya juga aku bertemu dengan orang aneh ini. Yang berlari tidak lihat-lihat, hingga tersandung kakinya sendiri. Pemuda ini terjatuh tepat di hadapanku, tersungkur lebih tepatnya. Pemuda ini dengan bajunya yang lusuh sepertinya berusaha lari dari sesuatu—atau seseorang. Tanpa pikir panjang, pemuda ini langsung berdiri dari ketersungkurannya dan berlari melompati bangku, dengan aku yang sedang duduk di bangku itu.

Tentu saja aku terkejut. Tidak sopan sekali!

Aku hampir berteriak, tapi karena kumpulan orang berandalan lain segera berlari ke arah pemuda itu tadi lari aku mengurungkan niatku. Oah, sepertinya pemuda tadi dikejar orang-orang ini. Aku tak lagi mempedulikannya. Sementara sepatu hakku masih patah seperti ini, aku masih belum bisa tenang. Aku memang bisa beli lagi, tapi sepatu ini istimewa, karena ayah yang membelikannya padaku. Saat itu usiaku lima tahun, dan sepatu ini kebesaran dipakai di kakiku. Sampai usiaku genap enam belas tahun, sepatu ini belum pas kugunakan.

Terpaksalah hari itu aku pulang dalam keadaan terburukku.

“Nah, Nona, ini pesanan anda,” ucap Albert, membawakan aku pizza yang sudah dihidangkan rapi di atas piring lebar. “Nah, begini membuatku berselera,” aku tersenyum tipis—senyum pertamaku siang ini.

.

.

“Hai, Fei!” sapa seseorang, yang datang dengan seikat bunga lily. Aku menoleh ke arahnya yang tersenyum miring. “Kenapa kau terlambat?” tanyaku. “Aneh, ya, kalau aku terlambat karena beli bunga ini?” tanya Tao, nama pemuda itu. “Ya, mengingat kau biasanya tidak pernah beli bunga. Untuk apa bunga itu?” tanyaku lagi. “Uh, sebenarnya tadinya aku mau berikan bunga ini ke tetanggaku, tapi karena tetanggaku tidak ada di rumah, bagaimana kalau bunga ini untukmu saja?” tanya Tao, menawarkan.

“Aku tidak terlalu suka Lily,” ucapku jujur. “Tapi aku terlanjur beli. Terima saja,” ucap Tao. “Lagipula, tadinya aku juga tidak mau belikan bunga ini untukmu,” Tao menyodorkan bunga ini padaku. “Kenapa kau tidak jujur saja dan bilang langsung kalau memang bunga ini untukku? Jadinya aku bisa bilang padamu bunga apa yang kusuka,” ucapku to the point. Tao nyengir. “Soalnya aku tahu kau tidak suka diberikan bunga, kan?” Tao duduk di sebelahku. “Kalau kau tahu, kenapa kau beli bunga?” tanyaku.

“Karena ingin,” jawab Tao singkat. “Dasar aneh,” aku bergumam cepat. “Kau lebih aneh. Perempuan tidak suka dibelikan bunga oleh laki-laki,” ucapnya ganti mengejek. “Memangnya kenapa?” tanyaku sinis. “Karena kau itu, bagaimanapun juga adalah seorang gadis,” ucap Tao, seakan mengingatkanku pada kodratku. “Aku tahu,” ucapku ketus. “Nah, bagaimana kalau kita beli eskrim?” tanya Tao. “Aku tidak suka manis,” ucapku jujur.

“Lalu apa yang kau suka? Bunga tidak suka, eskrim tidak suka. Kau ini wanita atau bukan, sih?” tanya Tao frustasi. “Kenapa kau bersikeras membelikan apa yang mungkin wanita suka padaku?” tanyaku langsung. “Karena ini kencan pertama kita, kan?” jawab Tao, sekaligus membuat pipiku merona. “Naa, kau sekarang lebih mirip perempuan. Pertahankan rona di wajahmu itu,” ucap Tao, menggodaku. Aku diam, sambil berusaha menghilangkan rona di pipiku ini. Setelah selesai dengan ekspresiku, aku kembali angkat suara. “Aku suka memanjat pohon dan bersantai di atasnya,” ucapku, membuatnya melongo.

“Heh, penampilanmu itu seperti Lady, rapi, sopan, dan terlihat benar-benar kaya. Tapi kenapa kau suka memanjat pohon? Apalagi kau itu perempuan, tahu!” sekali lagi Tao mengingatkanku pada kodratku sebagai wanita. “Memangnya kenapa?” sekali lagi aku mengeluarkan frosa kata sederhana itu. “Karena kau adalah teman kencanku. Tidak lucu kalau kau—dengan gaun panjang semata kakimu itu memanjat pohon,” ucap Tao menjelaskan. “Bagiku unik saja,” ucapku singkat.

“Baik, tapi ayo kita cari dahan yang kuat untuk kita berdua,” ucap Tao. “Kau mau memanjat juga?” tanyaku heran. “Sekali lagi kubilang, kau itu teman kencanku. Teman kencan harus duduk berduaan,” ucap Tao, menjelaskan. “Aku tidak peduli,” ucapku singkat. “Ya, ya. Memangnya apa yang kau pedulikan?” tanya Tao lebih pada dirinya sendiri. “Aku mempedulikanmu,” ucapku, membuat suasana menjadi agak kaku di sisi Tao.

Sepertinya pria itu tertegun menatapku yang hanya berjalan santai beberapa meter di depannya. “Kau memang tidak bisa ditebak, ya, Fei?” Tao menyusul langkahku dengan cepat. “Dan aku juga tidak mengira bisa berkencan dengan berandalan aneh sepertimu,” aku berucap jujur, sekali lagi. Tao tertawa kecil mendengar ucapanku yang cenderung sarkastik. “Gadis yang kasar, dalam frosa kata, tapi anehnya kau tetap sopan, dalam nada bicara,” ucap Tao. “Kau tahu banyak tentang kesopanan. Kau yakin kau memang berandalan?” tanyaku.

“Yakin. Aku hanya sering baca novel tentang bangsawan,” ucap Tao, pelan. “Seperti Romeo dan Julia?” tanyaku memberi contoh. “Salah satunya,” jawab Tao. “Wah, ternyata kau cukup pintar memilih novel berkelas,” ucapku. “Kau selalu bicara tentang kelas. Apa itu tidak membuatmu bosan?” tanya Tao. “Aku bosan. Dengan konsep kelas itu sendiri. Aku tidak peduli, makanya aku mau berkencan denganmu,” jawabku jujur, lagi. Tao mengangguk-angguk. “Kau juga begitu, bukan?” tanyaku.

“Yaa, makanya aku berani mengencanimu,” Tao menyeletuk, membuat aku mengeluarkan tawa kecil.

Benar. Hanya orang ini saja yang bisa membuatku tertawa.

.

Aku membantu menarik tangan Tao, sementara tangan kiriku berpegangan pada dahan pohon. Pohon Maple ini memang berdahan cukup kuat. Dan setelah berhasil naik, kami berdua duduk tenang di atas dahan. “Lucu, mengingat kau adalah seorang Nona,” ucap Tao, geleng-geleng kepala. Aku tersenyum tipis. “Aku memang Nona, tapi aku tidak kaku,” aku mengakuinya. “Kau kaku, dalam hal berbusana,” ucap Tao. “Memangnya kenapa?” entah sudah berapa kali aku mengucapkan frosa kata itu, dan anehnya Tao juga bisa menjawabnya.

“Karena tidak lucu kita berkencan di kota dimana aku mengenakan baju seperti ini—kaos oblong dan jaket kulit hitam, sementara kau mengenakan gaun formal semata kaki,” ucap Tao. “Aku suka, kok,” ucapku singkat. Hening, sementara kami merasakan semilir angin musim panas. “Harusnya kita ke pantai saja kalau begini,” ucap Tao. “Aku tidak suka pantai,” ucapku pelan. “Jangan bilang kau juga akan tetap kenakan gaun walau aku mengajakmu ke pantai,” ucap Tao, menatapku dalam.

“Ya, tapi gaun santai,” ucapku membuatnya menepuk dahi. “Kau tidak bosan kenakan gaun?” tanya Tao, jengah. “Tidak,” jawabku singkat. Hening lagi, namun lebih kaku. “Mau bermain?” tawar Tao, memecah keheningan. “Apa?” tanyaku. “Ubi,” Tao bergumam pelan. Aku yang masih bingung dengan permainan ini diam saja karena tidak mengerti. “Ubi, teruskan,” ucap Tao. “Bisu,” ucapku akhirnya mengerti. “Surat,” Tao menimpali. “Ratu,” aku membalas. “Tunggu,” ucap Tao.

“Guci,”

“Cicak,”

“Cakar,”

“Karet,”

“Retak,”

“Takut,”

“Kutu,”

“Tuli,”

“Linglung,”

“Lunglai,”

Aku terdiam. Lai? Lai apa?

Karena keterdiamanku mencari jawaban, Tao menyeringai. “Kau kalah, Fei,” ucap Tao. “Lalu?” aku berucap tenang. “Kau tidak merasa kesal?” tanya Tao. “Itu hanya permainan, kan? Kenapa harus kesal?” tanyaku bingung. “Setidaknya ekspresikan perasaanmu sedikit, Fei,” ucap Tao. “Baik, seperti apa?” tanyaku meminta contoh. “Kalau kau menang, seharusnya kau bersorak senang. Kalau kau kalah, setidaknya hela nafasmu,” ucap Tao memberi contoh.

“Oh,” aku bergumam singkat. Setelahnya kembali hening.

“Makan,” ucapku memulai lagi.

“Kantong,”

“Tongkat,”

“Kata,”

“Taring,”

“Ringan,”

“Ngantuk,”

“Tukang,”

“Kanguru,”

“Rubah,”

“Bahan,”

“Hantu,”

Dan seterusnya.

.

.

Ya, aku kalah lagi. Seakan-akan frosa kataku tidak bisa mengalahkan frosa katanya.

“Panda,” Tao meneruskannya.

“Tao,” ucapku pelan. “Hah? Kenapa?” tanya Tao bingung. “Panda itu kau, Tao,” ucapku menjelaskan. “Aku?” tanya Tao. Dan permainan kami terhenti karena aku terpaksa menjelaskan kemiripannya dengan salah satu hewan terkenal di China itu. “Jadi, karena itulah kau mirip panda,” ucapku pada akhirnya. “Karena kantung mata, dan sifatku?” tanya Tao. Aku mengangguk. “Dan karena ada film Kungfu Panda itu, dan karena kau juga bisa Kungfu—aliran wushu,” ucapku menjelaskan.

“Ah,” Tao mengangguk mengerti. Sejenak berputar di kepalaku memori saat dulu ia berdiri di hadapanku dan melindungiku dari para berandalan. Bagiku dia keren, saat itu.

“Baik,” Tao mengangguk. “Ikan. Kita teruskan,” ucapku, mulai ketagihan permainan ini. Tao tertawa kecil. Kemudian permainan kami berlanjut sampai sore, diselingi percakapan kecil dan candaan biasa.

.

.

“Tao, kau tahu?” tanyaku. “Apa?” Tao merespon pelan. “Nasib itu menyedihkan,” ucapku. Tao menatapku yang bersandar di bahunya. “Kenapa?” tanya Tao. “Sangat menyedihkan mengingat kehidupanku, dan kehidupanmu,” ucapku. Ya, aku sudah cukup percaya padanya sehingga menceritakan kisah hidupku. Tao tertawa kecil. “Aku tak pernah mempermasalahkannya,” ucap Tao. “Menurutku lebih pantas begini,” ucap Tao pelan.

“Nasib bisa berubah kalau orang itu mau merubahnya,” ucapnya lagi.

Aku tertegun, dan terdiam.

“Kenapa begitu?” tanyaku. “Karena kenyataannya sekarang, nasib yang mempertemukan kita, bukan?” tanya Tao. Aku tertawa kecil. “Kau berpikir sejauh itu?” tanyaku. “Tentu,” pemuda ini mengangguk. “Karena aku ini juga yatim piatu sepertimu, makanya hubungan kita tidak akan dilarang siapapun, bukan?” tanya Tao bercanda. Aku tertawa. “Hubungan? Seperti apa maksudmu?” tanyaku, duduk tegak—tak lagi menyandari bahunya. “Kau tahu novel Siti Nurbaya dari Indonesia?” tanya Tao.

Aku mengangguk pelan. “Di sana, tokoh utama dijodohkan oleh orang tuanya yang kaya raya,” ucap Tao. Aku mengangguk, mengerti maksudnya. “Siapa bilang aku tidak punya jodoh,” ucapku, membuat reaksinya keluar. “Jadi, kau sudah dijodohkan sejak lahir?” tanya Tao kaget. “Tidak,” jawabku singkat, membuatnya menghela nafas lega. “Memangnya kenapa?” frosa kata itu lagi kukeluarkan. “Aku tidak bisa berpikir kau menikah dengan orang lain,” ucap Tao.

Aku menyeringai. “Memangnya kau ingin aku menikah dengan siapa?” tanyaku pelan, dan to the point. “Denganku,” jawabnya singkat, dan enteng. Aku agak membelalak, dan pipiku merona tipis. “Tidak mau,” ucapku singkat, dan tenang. “Kau tahu?” Tao bertanya padaku. “Apa?” responku. “Kita ini sudah dijodohkan sejak lahir,” ucap Tao.

“Maksudmu?” tanyaku masih loading.

.

.

“KENAPA KAU TIDAK BILANG DARI AWAL?!” teriakanku membuat capslock Author jebol. Sekarang Albert yang berdiri di depanku dengan surat wasiat di tangannya hanya bisa menutup telinga dengan satu tangan. Sementara Tao hanya nyengir lebar. “Aku hanya ingin berkenalan denganmu tanpa menunjukkan jati diriku,” ucap Tao. Amarahku menguap entah kemana. “Aku ingin tahu bagaimana sifat dan sikap calon isteriku, itu saja,” ucap Tao, membela dirinya. Aku menghela nafas pelan.

“Jadi, karena kau sudah tahu, bagaimana kalau kita segera menikah saja?” tanya Tao. Dan serempak, mataku membelalak lebar.

.

.

.

.

Aku menikah. Memang dengan pria yang aku sukai, tapi aku ini masih ingin dipanggil Nona, bukan Nyonya!

.

.

.

.

2 tahun kemudian, aku dan Tao memiliki sepasang anak kembar. Mereka, Huang ZiTian dan Huang TianZi, tumbuh dengan pesatnya. Meski masih berusia tujuh bulan, mereka sangat lincah dan sehat. Harapanku agar mereka tumbuh seperti Tao. Dua anak panda dalam gendonganku ini menguap lebar, mengundang senyumanku dan Tao—yang sedang duduk di sebelahku. “Nah, kini kau harus mengajari mereka dengan nasib juga,” ucap Tao pelan.

“Maksudmu?” tanyaku. “Kau selalu seperti ini, ya? Loading lama,” ucap Tao menghina. “Aku hanya mencari arti dari kata-katamu yang agak sulit dicerna itu,” ucapku ganti meledek. Tao sempat tersenyum kecil, sebelum ia kembali berkata. “Nasib yang mempertemukan kita,” cetusnya, membuat aku merona.

Kutarik kembali kata-kataku saat itu. Dia memang tampan.

Tapi dia tidak dekil, kotor dan aneh seperti dulu pertama kami bertemu. Dia bukan berandalan yang pertama kukesankan padanya. Dia adalah pria tampan idola setiap wanita—termasuk aku.

.

.

.

.

FIN

.

.

.

.

Mau request sekuel, ato udah cukup?
Jangan lupa komennya, yah. Untuk membantu perkembangan dua Author ini. Terimakasih banyak.

12 tanggapan untuk “FATE”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s