FRIEND & FOE #Sobekan Kedelapan

Movie_FriendOrFoe#2

__Friend&Foe©Zulaipatnam__

TIPE : Fanfiction

RATED :  G | R LEGHT : Chaptered #1 | #2 #3 | #4 | #5 | #6| #7

CAST : Kim Jong In | Lee Chae Rin

SUMMARY : [Saat posisi seorang teman dipertanyaankan, benarkan teman adalah musuh atau malah musuh adalah teman. Tak ada yang bisa mengira. Menunggu waktu menjelaskan semuanya adalah pilihan.]

__Friend&Foe©Zulaipatnam__

 

Menarik Jong In keluar dari rumahku adalah hal pertama yang kulakukan, ia bertanya kenapa tapi sungguh aku tak berselera menanggapi ucapan busuknya. Dasar bajingan, dengan muka sok baik masuk kedalam rumahku, sekarang malah membuat pamanku hilang. Oh, aku bukannya paranoid, tapi beberapa menit tadi Ibu dan Ayah sudah menghubungi ponselnya, panggilan sibuk dan itu membuatku sangat yakin jika Jong In dalang dibalik semua ini.

 

“Kau mau membawaku kemana?” Tanyanya masih dalam cengkramanku, kali ini aku berfikir jika Jong In sengaja diam dalam cengkramanku, mengingat dia adalah anggota Taekwondo, tak mungkin sulit untuk menepisnya, bukan?

 

“Pergi dari rumahku dan kembalikan pamanku!” Pekikku saat sampai digerbang depan, Jong In menatapku tak percaya.

“Menuduhku? Atas alasan apa kau melakukannya?” Sungguh nada yang keluar dari kalimat Jong In seperti orang yang terluka, ia tak terima kutuduh telah menyembunyikan Pamanku.

“Perkelahian beberapa hari yang lalu dan Kakekmu, kurasa itu cukup untuk menjadikanmu satu-satunya tersangka.” Menjadi paranoid dan menfitnah seseorang adalah hal yang berkesinambungan. Tapi kali ini aku yakin sedang tidak mefitnah orang yang salah, pasti Jong In yang melakukannya. Aku yakin itu.

Jong In menghela nafas berat, dia menyilangkan kedua tangan didada, menatapku begitu jengah dan bosan. Kembali ia menghela nafas sebelum memulai percakapan kembali. “Pamanmu sudah melunasi hutangnya, Kyung Soo mengatakan jika kebangkrutan perusahaan dikarenakan kesalahan staff mereka dalam membuat strategi dagang. Sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan hutang yang dipinjamkan Kakek pada Lee Taem Baek. Dan, terakhir Hwa Young membujukku mati-matian, bilang jika kau sudah memaafkanku, melupakan semua perlakuan burukmu padaku.” Ada jeda dimana Jong In kembali menarik nafas. “Karena itu semua aku mulai berfikir, hal buruk apa yang sudah kulakukan kala terhanyut dendam?”

“Itu baik untukmu, merenungkan sesuatu agar kau jadi Santo saja.” Jenggotku tak sabar mendengar pidato pemuta Tan ini, tak ada gunanya bagiku, karena yang sekarang menjadi permasalahan bukanlah deklamasi ke-insaf-an Jong In, melainkan jawaban ‘Dimana Pamanku berada?’ hal yang membuatku hampir menubruk Jong In dan melayangkan bogem padanya.

“Hey, aku mencoba jadi baik sekarang. Tidakkah kau sadari hal itu? Bahkan aku rela didandani seperti badut oleh Hwa Young. Sial!” Ia mengumpat melepas dasi kupu-kupu jeleknya sebelum meninggalkanku.

“Mau kemana kau? Jangan pergi, bodoh! Kau harus mengembalikan Pamanku!” Pekikku ikut mengekori langkah cepatnya, dia hampir membuka pintu pagar kala terdengar suara keributan diikuti deru mobil menggema dari kejauhan.

Range Rover?

“Kyung Soo…” Gumaman itu terdengar olehku, Jong In segera bergerak cepat, dia mendekati motor hitam metaliknya yang terparkir dekat trotoar. Mengekori pria tan  ini adalah satu-satunya ide yang terbesit dalam otakku.

“Mau kemana kau? Hey..! aku memanggilmu, brengsek!” Jong In menaiki motornya, oh, dia pasti hendak kabur sekarang. Segera berlari dan menghadang lajunya adalah reflek paling bodoh dalam hidupku, dia mengumpat, tanpa memakai helm Jong In mengedikkan kepala, memberikan sebuah kode yang tak dapat kupercaya.

“Mencari Pamanmu, bukan? Sebaiknya NAIK KE MOTORKU, CEPAT!” Ia berteriak geram, aku menurut saja, naik keatas boncengan Jong In adalah hal paling menakjubkan dalam hidupku. Aku sedang dibonceng oleh orang yang kuharapkan mati. Damn, mengejutkan sekali.

“Sebaiknya kau benar-benar dalam ucapanmu, aku sedang tidak dalam mood untuk meladeni guyonanmu, Jong In.” Peringatku sebelum motornya melaju, kencang sekali sampai kutaksir ia melewati 200 km/jam. Sial-sial-sial, bahkan tak ada pengaman yang melekat dalam tubuhku. Kemana otak pemuda tan ini? Tidakkah ia membawa helm untuk keselamatan?

Jong In menggeber motornya semakin kencang, tak mengerti kemana arahnya tapi semakin lama aku yakin kemana tujuan ia melaju. Sebuah mobil Range Rover berada tak jauh dari kami. Itu mobil Kyung Soo, aku masih ingat karena beberapa hari lalu sempat naik kedalamnya. Mudah mengenali mobilnya, factor jarangnya pengendara Range Rover dijalan adalah nilai positif dalam pengejaran ini. Tunggu dulu! Pengejaran? Dari mana aku menyimpulkan jika Jong In dan aku mengejar mobil Kyung Soo.

“APA YANG SEDANG KITA LAKUKAN?” Teriakku mendekat pada telinga Jong In, terdengar umpatan singkat dari mulutnya –pasti dia kaget karena aku berteriak tepat ditelinga.

“Mencari Pamanmu, apa lagi memangnya?” Dengusnya masih konsentrasi mengemudi, laju motornya sedikit menurun saat mendekati mobil Kyung Soo. Spekulasi aneh mengembara pada otakku. Mencari paman dengan cara mengejar mobil Kyung Soo… What the

“Kyung Soo yang menculik Pamanku?” Pertanyaan itu bernada rendah, tak yakin saat mengatakannya, itu sungguh tak masuk akal, Kyung Soo yang menghiburku, dia menjelaskan semua kronologinya, bahkan aku mempercayakan dia untuk menyampaikan pesan ‘Pamanku melunasi hutang’ untuk Jong In. Kyung Soo adalah jembatan yang kugunakan untuk menyelami permasalahan ini. Bagaimana bisa aku mengatakan tuduhan seperti itu, benar-benar tidak masuk akal.

“Bisa jadi. 2 malam terakhir kami bertengkar hebat.” Jong In menyalip bus dan sedikit kehilangan mobil Kyung Soo, secara spontan kedua tanganku mencengkram jas hitamnya.

“Tentang apa?”

“Kau.” Mereka bertengkar karena aku?

“Untuk apa?” Rasa penasaran benar-benar membumbuhi otakku, harus ada penjelasan lebih lanjut mengenai semua ini.

“Kyung Soo kecewa pada ayahnya.”

“Relevansinya denganku?”

“Kim Jung Dang ayah Kyung Soo.” Spekulasiku buyar, kufikir Kim Jung Dang adalah ayah Jong In. Lalu apa sekarang akar permasalahannya? Bagaimana seorang Kim Jung Dang dan aku dapat menimbulkan pertengkaran pada kedua pria ini? Aku butuh jawaban secepatnya!

“Dan itu berarti?” Pancingku begitu penasaran, Jong In harus menceritakan semuanya!

“Sial, aku kehilangan mobilnya.” Umpatnya tak memperdulikan pertanyaanku, bagai terbawa angin, kalimat tanya itu tak pernah sampai ditelinga Jong In. Yang ada hanya dia semakin gila dalam menggeber motornya.

Berbagai pemikiran muncul dalam kepalaku, yah, meski pemikiran itu tidak focus karena terhalau angin yang menerpa wajahku, ditambah lagi Jong In yang kesetanan dalam menggeber motornya. Kami belum mendapatkan mobil Kyung Soo, mungkin hal itu terjadi saat percakapan kami berlangsung. Jong In lengah dan tidak focus mengekori mobil kakak sepupunya.

Damn..” Umpatan itu dapat kudengar. “Pasti Kyung Soo berbelok dipertigaan tadi.” Yah, kami memang melewati pertigaan, tepat berada tak jauh dari halte bus.

Kutarik leher, meninggikan kepala untuk mengedarkan pandang. Tak ada ciri-ciri mobil itu sama sekali, rata-rata dipenuhi mobil pabrikan Jepang, hal yang membuatku ikut geram karena merasa gagal. Perasaan cemas menggelayut cepat.

“Kita harus berbalik!” Cetusku kala itu. “Bisa jadi Kyung Soo memang melewati pertigaan tadi, bukan ide burukkan?” Terangku akhirnya. Jong In mengangguk dalam diam, ia mencari belokan, membalik arah dan segera menggeber motornya kembali. Kali ini aku yakin diatas 200 km/jam. Kulit wajahku tertampar udara dengan keras.

“Kau benar.” Tindakan setuju dari seorang Kim Jong In adalah memutar arah, kembali melaju dalam kecepatan tak terduga, ia melewati pertigaan yang mengarah pada. Sungai Hanggang. Ada apa dengan Hanggang? Senang sekali dia pergi kesana.

Hyung bodohmu pergi ke sungai Hanggang?” Tanyaku tak percaya, sedikit mencari klrarifikasi pada Jong In mungkin berguna.

“Mungkin.”

“Untuk apa?”

“Menenggelamkan Pamanmu mungkin.”

Damn. Kucengkram jaket Jong In kuat-kuat, ia semakin menarik gas, memaksaku untuk berlindung dibelakang punggungnya. Ia pasti gila! Semua bergelanyut dalam otakku, bagaimana bisa Kyung Soo menculik paman? Itu masih tanda tanya besar yang butuh jawaban sesegera mungkin. Dan lagi, Jong In mengatakan jika Kyung Soo bisa saja menenggelamkan Pamanku di sungai Hanggang. Betapa hari ini jadi begitu buruk.

__Friend&Foe©Zulaipatnam__

Sudah saya usahakan untuk bikin yang lebih panjang lagi dari ini. Tapi entahlah, otak lagi gag bersahabat dengan jari jemari untuk nambah plot. Well, segini dulu aja yaaah. Dari pada saya gag update. Ngapunten sanget, njeh.

 

 

54 tanggapan untuk “FRIEND & FOE #Sobekan Kedelapan”

  1. Readers baru nih thor 😀
    Awalnya iseng nyari FF Jong In, dapetnya ini..
    Suka banget sama alurnya, 😀
    Ditunggu next chapternya thor ^^

  2. aaaaaaaaa thor kurang panjang 😛 ada apa nih sama Kyungsoo kok bisa ribut gitu sama Jongin dan itu garagara Chaerin :O
    kyaaaaaa pensaraaaaan next thor >.<

  3. Haha….
    Oh, jd mksd SUMMARY : [Saat posisi seorang teman dipertanyaankan, benarkan teman adalah musuh atau malah musuh adalah teman. Tak ada yang bisa mengira. Menunggu waktu
    menjelaskan semuanya adalah pilihan.] itu adalah u/ Hwayoung n Kyungsoo ya~ dan malah Jongin hanya penengah gitu disini.
    Aih, diriku semakin bingung kkkkk

    Sippo! Ditunggu kelanjutannya ya~
    Keel writing n fighting!!^^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s