The Lost Piece

tumblr_msq17a9Rg91qeei4to1_500

The Lost Piece

by Miharu-chan

.

EXO’s Baekhyun & OC

Family, Fluff || G || Ficlet

.

disclaimer: The plot is mine.

note: Sudah pernah dipost di blog pribadiku: http://beautyclearsky.wordpress.com

summary:

“Ia mendapatkan lagi kepingan dirinya yang telah hilang untuk beberapa waktu.”

.

.

“Kau menyebalkan!”

“Tenanglah sedikit. Ini sudah ke-sembilan kalinya kau mengatakan hal yang sama sejak tadi pagi—kalau aku tidak salah menghitung.”

“Aku tidak peduli!”

“Kau gila.”

Tentu saja. Ini terjadi saat pagi hari. Lalu aku—dengan piyama lusuh yang masih melekat ditubuh dan air liur yang masih menempel di sudut bibir—menemukan sosok pria ini di ruang makan rumahnya yang tengah asyik mengoleskan selai ke lembaran roti. Perlu diingat, dia sudah menghilang selama setahun lebih di dataran Eropa yang beribu-ribu mil jauhnya dari Mokpo, kota kecil kami.

Dan kemunculan Byun Baekhyun secara tiba-tiba—tanpa memberi kabar sebelumnya—merupakan suatu hal yang gila. Jadi tak apa jika dia mengatai diriku gila karena aku memang sedang gila.

Aku masih sedikit tidak percaya bahwa pria disampingku ini—yang sedang mensejajarkan diri denganku ketika berjalan di atas trotoar—adalah seorang Byun Baekhyun. Sungguh.

Tidak terlalu banyak perubahan yang signifikan darinya. Dia masih cerewet seperti biasa dan suka menggoda. Yah, mungkin yang berubah hanya model rambut dan tinggi badannya. Oh, jangan lupakan badannya yang tampak makin berisi.

Aku menghembuskan nafas. “Oke. Jadi, bagaimana dengan London? Apa kau bertemu dengan gadis beruntung di luar sana?”

“Untuk gadis beruntung, sepertinya tidak. Gadis bule bukan tipeku.” Baekhyun menyeringai lebar, sementara aku mendengus pelan. “London menyenangkan. Sangat. Aku merasa seperti bermimpi ketika melihat jejak kakiku sendiri di atas Trafalgar Square. Astaga, bahkan itu terlihat lebih besar dari yang kita bayangkan!”

“Ugh, sekarang kau terlihat lebih menyebalkan.” Aku mendesah keras yang terlalu dibuat-buat. “Ternyata sungguh menyenangkan bisa menjadi murid pertukar pelajar sepertimu.”

“Kalau kau mau, kau bisa bertunangan dengan penduduk asli London. Siapa tahu kau bisa berkesempatan tinggal disana?”

“Lucu sekali, Tuan Byun.”

“Begitukah? Ah, ya. Lagipula, siapa juga yang mau bersama wanita berpenampilan gembel sepertimu?” Baekhyun terkekeh pelan, membuatku berpaling dan menatap penampilanku sekarang—baju kebesaran, celana katun, dan sepatu converse putih yang bagian ujungnya sudah agak kumal. Jangan lupakan tataan rambutku yang diikat seadanya.

“Sialan kau.”

Baekhyun tertawa. Kemudian tangannya meraih puncak kepalaku dan mengelusnya. Dia sering melakukannya. Biasanya, setelah itu aku akan menggertak dan membalasnya dengan meniup-niup telinganya yang bisa membuat pria itu berjengit geli—beralasan bahwa tataan rambutku menjadi rusak dibuatnya.

Tapi tidak untuk kali ini. Aku membiarkan tangannya menelusuri puncak kepalaku, membagikan perasaan nyaman yang sudah lama tidak kudapatkan.

Kapan terakhir kali Byun Baekhyun melakukan hal ini kepadaku?

“Kau juga aneh hari ini.”

Aku bisa merasakan tangannya tidak lagi menelusuri puncak kepalaku—oh, itu tidak terlalu penting. Sekarang, aku tengah menatap pria ini, menunggu kelanjutan perkataannya.

“Kau mengatakan aku menyebalkan tanpa alasan dan kau juga tidak memprotes saat aku mengelus kepalamu,” ucap Baekhyun ikut menatapku. Terdapat kerlingan jahil yang menyebalkan di sudut matanya. “Apa semua ini karena kau sangaaat merindukanku?”

Tentu saja. Bagaimana aku tidak merindukannya? Dia telah menjadi bagian hidupku sejak kecil. Bayangkan saja, saat masih di dalam kandungan pun kami telah mengenal akan hal yang dinamakan berbagi; berbagi makanan, berbagi ruang. Kami hidup bersama selama tujuh belas tahun dan selama itulah kami terus bersama. Kami seperti kepingan puzzle yang saling menyatu.

Di taman kanak-kanak, kami saling berbagi cokelat almond dan es krim vanila.

Di tahun pertama sekolah dasar, kami saling berbagi bacaan dongeng yang diberikan oleh nenek setiap kami bertandang ke rumahnya.

Di tahun kelima sekolah dasar, kami saling berbagi pekerjaan rumah bersama—walaupun ada sedikit rasa terpaksa dari Baekhyun, terkadang.

Di tahun kedua menengah pertama, kami saling berbagi cerita tentang cowok atau cewek beruntung yang dapat membuat kami tersenyum sepanjang hari.

Di tahun kedua menengah atas, kami saling berbagi telepon sebulan sekali dan bertukar mention di twitter. Dia selalu menuntutku untuk menjawab pertanyaan apa aku merindukannya atau tidak, namun aku terlalu gengsi untuk mengungkapkannya.

Seperti sekarang ini.

“Karena kau diam saja, berarti aku anggap jawabannya ‘iya’.”

Perkataan Baekhyun barusan menyadarkanku dari alam lamunan. Aku pun mengerucutkan bibirku kesal. “Apa? Hei, aku hanya sedang berpikir untuk mencari jawaban yang tepat!”

“Dasar banyak omong! Sudahlah, aku tahu kau sangat merindukanku.” Dia melingkarkan sebelah tangannya di leherku—hampir membuatku tercekik. Oke, lagi-lagi aku membiarkannya. Ugh baiklah, dia menang.

“Lihat kan?” Baekhyun menyeringai jahil di depan wajahku.

“Kau menyebalkan, sungguh!”

“Oke, itu yang ke-sepuluh. Berhentilah berkata seperti itu, Bodoh!” Baekhyun melayangkan sebuah jentikan pelan di dahiku, membuatku kembali merengut kesal. Tapi dia tidak mempedulikannya.

“Aku rindu Mokpo, jadi ajak aku berkeliling sebentar. Ah ya… traktiran es krim vanila di kedai paman Jongdae boleh juga, sepertinya. Eits tenang dulu, anggap saja ini perayaan selamat datang untukku. Oke?”

Kerlingan jahil yang menyebalkan itu kembali menghiasi sudut matanya. Baiklah, untuk yang satu ini aku tak dapat menolak karena dia mengancamku untuk menahan oleh-oleh dari London milikku dan menyebarkan ke teman-teman bahwa aku sedang menyukai seseorang di kelas sebelah.

Menyebalkan, memang. Tapi tak apa.

Karena pagi itu—dengan matahari yang masih bersembunyi di balik awan dan sisa embun pagi yang masih menempel di dedaunan—aku mendapatkan sebuah kebahagian kecil dari Tuhan, yaitu kembalinya kepingan diriku yang telah hilang beberapa waktu.

Kepingan yang hilang itu adalah Byun Baekhyun. Saudara kembarku.

Dan sekarang dia telah kembali.

.

.

—the lost piece ends here.
[26 Desember 2013]

cr picture; owner.

Miharu-chan’s footprint: AAAKK AKU BIKIN APAAN COBA. ITU MALAH BIKIN BYUNBAEK PUNYA SAUDARA KEMBAR MAKSUDNYA APA;__; /matiincapslock/. Ini diketik saat hampir tengah malam, kebut-kebutan, dan mata udah tinggal lima watt. Salahkan ide ini tiba-tiba dateng pas aku udah mau matiin laptop 😦 Ini ngabsurd dan gajelas banget ;AA.

Kritik, komentar, dan saran sangat dianjurkan~

P.S: kalau kalian berminat membaca tulisanku yang lain, silahkan mampir ke blogku (yang alamatnya sudah tercantum di atas). Aku menerimanya dengan tangan terbuka /?. Jangan sungkan-sungkan. Tenanglah, aku enggak ngigit kok :3 /langsungkabur/.

P.S.S: Maafkan aku yang terlalu banyak omong huahaha. Salam damai. Ppyong!

16 tanggapan untuk “The Lost Piece”

  1. Jiaaaa pengen baca yg famili2 so sweet, ktemu iniiiii…. Yaampuuunn sweett sekalii..
    Haduh liat capslock nya jd ngeriii author gigit O.O *lho?* haha
    Keren!!

  2. beneran gak kepikiran kalo baekhyun sodara kembarnya, aku kira mereka sahabat dari kecil. tapi keren kok thor! keep writing ya! 🙂

  3. yaa thor,, kirain sahabat biasa dan akhirnya bakal jadian.. tpi aku salah,, ternyata mereka saudara kembar *ngekk =D
    Jauh dari pikirnku.. ckckck

  4. ya ampun sodara kembar? serius? ya ampun kirain pacaran, ya ampun, ini ff yang ya ampun banget!! keren thor!!!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s