[Birthday Fic] Drabble Set

 

A/N : Oke, aku tau aku udah kurang ajar banget soalnya udah tiga bulan lebih nggak pernah post apa-apa di sini (kalo ada yang mau tendang aku silahkan, aku ikhlas) blame my hectic college life ! oh, happy KaiSoo day ! enjoy ! (all picture’s credit for the right owner)

two set drabble by sleepingpanda

//

HAPPY BIRTHDAY, FELLAS !

996052_620534921339860_1803035887_n

 

(1st drabble)

Sunday, January 12th

(Kyungsoo, a girl, 749w)

May I know your name, miss ?

 

One Vanilla latte, please,”

Kyungsoo menutup pelan buku menu yang sudah sejak beberapa menit lalu ia tekuni. Pilihannya lagi-lagi jatuh pada segelas vanilla latte hangat seolah ia tak ingin barang secuilpun mencicipi minuman yang lain selain vanilla latte. “Dan satu piring sandwich tuna, sepertinya.” Ia menambahkan.

Yes, sir.” Pelayan dengan apron hitam itu tersenyum, mencatat tambahan pesanan dari Kyungsoo lalu melengang pergi menuju dapur setelah memastikan tak ada yang kurang dari daftar pesanan pelanggan pertama café itu.

Pagi di bulan januari selalu terasa dingin bagi Kyungsoo. Ia tak pernah mengira kalau bulan januari akan begitu cepat datang, menyuguhinya dengan udara yang sangat ia benci karena selalu membuatnya bersin-bersin tak karuan dan hidungnya yang kadang bisa semerah tomat. Ia hanya tak tahan dingin, hanya itu. Jadi dengan pakaian tebal yang ada di lemarinya, ia memutuskan pergi membeli sarapan di kafe yang hanya terpaut beberapa blok dari rumahnya.

Aroma roti yang baru keluar dari panggangan bercampur aroma kopi menguar diiringi dengan bunyi-bunyian loyang dan kadang gelas keramik yang beradu. Kadang duduk sendirian di sudut kafe ini terasa nyaman untuk sekedar menghabiskan pagimu. Kyungsoo menyukainya, tapi pagi ini merupakan pengecualian.

Ia  mengedarkan pandangan, matanya berhenti pada kalender sobek di sudut ruangan. Ia amati sejenak angka yang tercetak di lembaran tipisnya lalu mendesah pelan. Tanggal dua belas di bulan Januari dan itu tandanya usianya sudah bertambah setahun lagi. Lelaki itu berumur dua puluh dua tahun hari ini, bukan usia yang muda lagi. Ia benci bertambah tua.

Ia tak menemukan wajah-wajah hangat orang terdekatnya pagi ini. Hanya Choco, anjing peliharaannya yang pertama kali mengucapkan ulang tahun dengan cara menjilati wajah Kyungsoo hingga lelaki itu terbangun. Mom dan Dad nya pergi untuk urusan bisnis di China dan hanya memberinya ucapan selamat ulang tahun lewat sambungan telepon. Bukan keinginan orang tuanya untuk pergi bekerja saat hari ulang tahun anaknya. Perusahaan yang menginginkannya. Jadi bilang saja Kyungsoo sedang sial hari ini.

“Pesananmu datang, tuan.” Seorang wanita menaruh segelas latte dan sepiring sandwich tuna pesanan Kyungsoo di atas mejanya. Namun sebelum Kyungsoo sempat mengucapkan terima kasih pegawai itu menaruh lagi sepiring pai apel dengan satu lilin menyala di atasnya.

Pai apel ? Ia rasa ia tak memesannya.

“Maaf, kurasa aku tak memesan in―”

Happy birthday.” Itu adalah gadis yang tak ia kenal sedang memeluk nampan dengan gugup. Rambut hitamnya ia ikat ekor kuda sedikit berantakan, apron hitam menggantung di tubuhnya dan sepatu sneakers yang talinya menjuntai mengenai lantai−tak ia ikat dengan rapi. Kyungsoo tak pernah tahu ada pegawai wanita di sini, entahlah apakah Pak Kim –si manajer kafe− baru saja menerima pegawai baru atau hanya ia saja yang tidak pernah terlalu peduli. Tapi, hei dia cantik.

“Maaf nona, aku rasa aku tidak memesan pai apel.” Alis-alis Kyungsoo berkerut melihat sepiring pai apel yang kini sudah ada di mejanya.

“Ehm, begini−“ wanita itu manggaruk tengkuknya, sedikit tidak nyaman.”Ini− ini gratis. Hadiah ulang tahun. Karena anda pelanggan setia, Jadi−jadi,”

Agak mengherankan memang, tapi Kyungsoo hanya bisa tersenyum melihat tingkah gadis itu yang entah bagaimana terlihat lucu di matanya. Ia menunjuk kursi didepannya dengan sopan, mempersilahkan pegawai wanita itu untuk duduk bersamanya. “Duduklah dulu nona lalu jelaskan padaku tentang pai apel ini, tentang lilin ini dan bagaimana kau tahu kalau hari ini hari ulang tahunku.”

Gadis itu masih sibuk menutupi rasa gugupnya. Kakinya bergerak tak karuan dengan wajah menunduk dan bibir bawahnya yang ia gigit. Segala alasan bodoh yang ia keluarkan sepertinya sudah tak bisa menutupi niat sebenarnya. “Maaf tuan, aku−aku hanya ingin tahu namamu. Can I ?”

Oh, yaampun. Kyungsoo tak pernah tahu ia punya penggemar rahasia disini. Seingatnya ia hanya pernah duduk dan menikmati secangkir kopi di setiap minggu pagi, hanya itu. Tak pernah ia mencoba memainkan gitar atau piano yang ada di sudut kafe untuk sekedar menarik perhatian para gadis. Tak pernah. Ia terkikik, tak bisa menahan tawa yang sedari tadi ia sembunyikan. Ya Tuhan, gadis ini benar-benar lucu.

“Aku Kyungsoo, Do Kyungsoo.” Senyum masih tak lepas dari bibirnya, ia mendaratkan pandangan pada pai apel yang sedari tadi menganggur dengan lilin yang hampir habis di atasnya. “Ini gratis ? Hadiah ulang tahun ?”

“Ya, kalau anda tak keberatan menerimanya. Gratis dariku.”

“Kalau begitu apakah bisa pelanggan setia kafe ini ini mendapatkan satu hadiah ulang tahun lagi ?”

Gadis itu mengangguk pelan. Kyungsoo menopang dagunya dengan tangan, berusaha mendekatkan wajahnya dengan wajah gadis yang benar-benar sudah terlihat seperti kepiting rebus itu.

May I know your name, miss ?”

Ia kira tahun ini akan menjadi ulang tahun terburuk baginya. Tapi sepertinya hadiah ulang tahun ke dua puluh dua yang Kyungsoo dapatkan pagi ini bisa jadi adalah yang terbaik.

end

s_naturerepublic_131205_kai

 

(2nd drabble)

Night Conversation

(Jongin, Jean, 760w)

Cookies, selimut hangat dan kau ? itu sudah lebih dari cukup.

Itu senin pagi ketika Jongin terbangun dari tidur lelapnya karena teriakan seorang gadis yang begitu memekakkan telinga. Dengan rambut berantakan dan gurat-gurat kecil di pipinya, lelaki itu menemukan seorang gadis tengah berkacak pinggang tepat di sebelah tempat tidurnya. Seharusnya  Jongin tahu bahwa Jean tak pernah mau mengetuk pintu terlebih dahulu jika ia ingin masuk kamar Jongin. Setidaknya ia bisa mengunci pintu kamarnya.

Oh dear, Jean. Kau menganggu tidurku, tahu !” Karibnya itu hanya meringis sembari mengacak pelan rambut Jongin yang hampir seperti sarang burung. Sudah kebiasaan Jena untuk masuk ke kediaman keluarga Kim tanpa ijin, toh bibi Kim juga tahu itu pasti Jean, sahabat yang menghabiskan waktu bersama anaknya kedari kecil.

“Bangun pemalas. Kalau seperti ini kapan kau bisa punya pacar, hah ?”

“Jangan menyinggung tentang pacar dihadapanku, Jean.” Jongin melirik Jean sambil menguap. Salahkan teman-teman bodohnya yang tiba-tiba datang dan  mengajak Jongin berpesta di rumahnya hingga larut. “Cepat katakan keperluanmu sehingga aku bisa melanjutkan tidurku.”

“Datang kerumahku malam ini, awas kalau kau sampai tidak datang.” Jean mencubit pipi Jongin sebentar sebelum ia melengang menuju pintu kamar Jongin.”Dan jangan sekali-kali kau menonton televisi seharian ini. Bye.” Lalu gadis itu menghilang dengan cepat.

Ampuni Jongin kalau ia hanya bisa mengumpat karena permintaan tidak penting sahabatnya itu.

_

Malam begitu cepat tiba. Bahkan Jongin harus terlonjak kaget karena tiba-tiba jam di kamarnya sudah menunjukan pukul delapan malam padahal  game yang sedang dimainkannya sudah sudah hampir mencapai bagian akhir. Sial. Kalau bukan karena Jean, ia tak akan repot-repot meninggalkan game yang sebentar lagi selesai itu.

Ia mengeratkan syal yang melilit lehernya. Tega benar sahabatnya itu mebiarkannya berada di luar rumah pada malam di bulan Januari. Udara dinginnya bisa saja membunuh Jongin, sungguh.

Ketukan keenam di pintu rumah Jean ketika gadis itu membuka pintu dengan senyum cerah, senang karena Jongin tidak melupakan janjinya padahal ia tahu kalau Jongin adalah salah satu makhluk paling pelupa di dunia. “Masuklah, Jonginnie.”

“Bisakah kau tidak memanggilku Jonginnie? itu menjijikan, Jean.”

Up to you, dude. Naiklah keatap selagi aku mengambil beberapa cookies dan selimut.”

Atap ? Cookies ? Selimut ? Untuk apa semua itu ? Apakah gadis ini benar-benar akan membunuh Jongin dengan meninggalkannya di atap yang terbuka sendirian ? Lalu Jean akan tertawa bahagia sambil memakan cookiesnya sembari melihat Jongin perlahan-lahan pingsan. Ini tak lucu, sungguh.

Pikiran Jongin berkelana kesana kemari memikirkan kemungkinan terburuk yang akan di lakukan Jean. Ia berdiri sendirian di atap rumah Jean, menali syalnya dengan sangat-sangat erat. Ia tahu ia punya banyak salah pada Jean dan ia sudah berpikir untuk minta maaf. Ia pikir ingusnya sudah hampir keluar saat Jean melemparinya dengan selimut tebal warna merah muda dan menyuruhnya duduk. Ew, kenapa gadis ini memberikan satu yang bewarna merah muda untuknya ? ini tidak keren.

“Katakan kali ini apa motifmu, Jean.” Jongin bersungut kesal.”Tidak cukup kau membuatmu hampir mati karena spaghetti yang kau masak tempo hari ?”

“Sudah kubilang Jongin, spaghetti tempo hari merupakan setidaksengajaan.” Jean menggigit cookies pertamanya, membuat remahan-remahan kue berjatuhan di lantai atap. “Aku tak tahu kalau kemampuan memasakku seburuk itu.”

“Kalau begitu apa maksudmu mengajakku kesini sedangkan ingusku bahkan sudah hampir beku, nona.”

“Tunggulah sebentar tuan pengeluh.” Jean sibuk mengecek pergelangan tangannya sedari tadi. Terlihat cemas akan sesuatu.”Sekarang ! lihatlah kelangit !” Telunjuk gadis itu bergerak semangat, menunjuk hamparan langit gelap di depan mereka.

Jongin menyipitkan mata saat ia melihat satu bintang jatuh, lalu dua, tiga, sepuluh dan jumlahnya bertambah seiring matanya yang semakin melebar.

Hujan bintang. Itu motif Jean. Sahabatnya bahkan tak pernah memberitahu Jongin tentang ini.

Happy birthday, Jonginnie.” Jongin kira Jean lupa tentang ulang tahunnya. Jean terlihat sibuk harian ini, bahkan ia tidak mengucapkan selamat ulang tahun ketika ia memasuki kamar Jongin dengan paksa tadi pagi.

Pikiran buruknya seketika memudar, ekspresinya yang sedari tadi terlihat kesal berubah lembut. Ia hanya salah perkiraan, Jean tidak disini untuk melihat Jongin mati, ia disini untuk melihat sahabatnya yang tumbuh lebih dewasa (dengan cookies dan selimut warna merah muda).

“Cantik bukan ?” Manik gadis itu masih melihat ribuan bintang yang jatuh dengan takjub, entah jatuh kemana, gadis itu sudah tak sempat memikirkannya. Ia hanya tak sadar jika Jongin tidak bisa sepenuhnya fokus terhadap bintang jatuh.

“Tidak.”

“Oh, Jongin, bisakah kau sedikit menghargai usahaku? Kau sungguh merusak suasana. Aku sudah berusaha meyakinkan ibumu agar kau tak melihat televisi seharian ini. Walau tidak mungkin juga sih kau mau melihat acara siaran berita tentang bintang jatuh malam in−.” Kalimat gadis itu tersendat, maniknya menemukan manik kehitaman milik Jongin.

“Tidak Jean−”

“Kau lebih cantik.”

Dalam rentang waktu beberapa detik kemudian bisa dipastikan wajah gadis berambut hitam itu akan menjadi semerah tomat. Tunggu saja.

end

 

29 tanggapan untuk “[Birthday Fic] Drabble Set”

  1. Woah no doubt dehh drabble yg meluncur dr muu..
    Huhu ringan dan sweeeettt..
    Haduh brasa kudet bgt baru baca :((
    But I like it, and I like youuu :))

  2. eonni mianhae aku baru baca ini seriusan aku baru nemuT_____T how can you kilk me with this KaiSoo? what did you doT____T melting sama Kyungsoo please. I’ll leave Jongin for Kyungsoo I swear kkk~ omg eonnj jeongmal…. ah speechless sama fanficnya. As usual you made my favorite. Thank you so muchhhhhh<3

  3. so sweet and happy birthday to kyungsoo and jongin !!!! dan buat authornya good job aku suka ceritanya di tunggu ff lainnya 🙂

  4. Ceritanya bener2 so sweet, aku suka bgt, ceritanya Kyungsoo maupun Jongin daebak, bagus bgt eonn, ditunggu karya lainnya~

    1. kalo aku yang jadi jean udah pingsan duluan akunya liat mata dia hahaha (oke gombal) makasih udah baca dan revieew 😀

  5. awww, sweet banget sumpah <33
    itu cewek yang sama Kyungsoo bagai secret admirer ya? stalker-nya Kyungsoo? yang jelas suka banget sama first drabble!
    kalo drabble kedua… kak, belajar dimana sih? sekali baca aku langsung addicted sama penataan katanya, alur jelas, terus manis bangeeeet~ ajarin dong kaaak, hihi.
    terus menulis kak! semangat buat kuliahnya;;)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s