FRIEND AND FOE #Sobekan Ketujuh

Movie_FriendOrFoe#2

JUDUL : FRIEND AND FOE #Sobekan Ketujuh

DALANG : ZULAIPATNAM

RATING :  PG | Parental Guidance Suggested & R | Restricted

GENDRE : ANGST | AU | FRIENDSHIP

LEGHT : #1 | #2 #3 | #4 | #5 | #6 | #Sobekan Ketujuh

CAST :

KIM JONG IN | Kai From EXO K

LEE CHAE RIN | CL From 2NE1

RYU HWA YOUNG | Hwa Young Ex T-ARA

DO KYUNG SOO | D.O From EXO K

INSPIRASI :

NO DOUBT – DON’T SPEAK | LAGU

WARNING : CRACK PAIRING.

SUMMARY :

[Hadirnya lebih dari siapapun disisiku, kau melakukan kesalahan KIM JONG IN.]

[Saat posisi seorang teman dipertanyaankan, benarkan teman adalah musuh atau malah musuh adalah teman. Tak ada yang bisa mengira. Menunggu waktu menjelaskan semuanya adalah pilihan.]

__Friend&Foe©Zulaipatnam__

“Aku berharap ada status diantara kita, Chae Rin…” Nadanya merendah, Kyung Soo melunturkan tatapannya, ia menjadi pria bermata belo dengan tatapan menjijikkan. Baiklah, mungkin bagi sebagian gadis diluar sana hal itu adalah tatapan paling cute dari seorang pria, tapi bagiku.

“Hentikah lelucon ini, Kyung Soo! Aku sama sekali tak tertarik dengan pembicaraan mengenai status diantara kita. Kau mempermasalahkan hal yang tidak penting!!.” Tekanku bosan, kami masih berdiri didepan café tempatnya bekerja, tak bergerak kemana-mana semenjak ia mengungkit mengenai status.

“Kau anggap ini lelucon?” desisnya begitu tajam.

“Ya!” tegasku sedikit menaikkan nada suara.

“Ah, baiklah.” Dia menghela nafas, menyakukan kedua tangannya dan kembali membuang muka pada jalanan yang padat kendaraan.

Menarik nafas dalam-dalam, kucoba menenangkan fikiran. Pemikiran tolol Kyung Soo membuatku sedikit tak focus pada tujuan awal. “Jadi. Apa kita bisa pergi sekarang?” Bergerak mendekati Kyung Soo, kusentuh pundaknya kala ia sama sekali tak menanggapi keberadaanku. Damn it, apa menariknya jalanan macet ketimbang diriku?

“Kita pergi! Ada hal yang harus kubicarakan padamu, kau ingat?” terangku kembali, Kyung Soo sungguh blank. Ia hanya menatapku dalam jeda waktu lumayan lama, hanya tidak mencapati 1 menit.

__Friend&Foe©Zulaipatnam__

Kyung Soo punya mobil Range Rover, tak tahu tipenya apa tapi menurutku itu keren (bukan berarti aku matre), hanya saja rasanya ada perasaan senang saat seseorang menoleh padaku, atau lebih tepatnya mobil Kyung Soo.

“Tidak keberatan jika kunyalakan radio?” Tawaran Kyung Soo begitu menarik, kuanggukkan kepala singkat dan kembali mengawasi jalanan menuju sungai Hanggang –tempat yang direkomendasikan oleh Kyung Soo untuk bicara.

And the Georgie would make the fire light

-Log wood burning’ through the night

“Then we would cook corn meal porridge, Of which I’ll share with you~

Semua nada itu bagaikan nostalgia, sedetik setelah Kyung Soo menyalakan radio. Lagu milik Bob Marley melantun begitu indah. Aku mengingat semua rasa ini seolah bersama Hwa Young, kala kami berbaring diranjang, berteriak kencang-kencang untuk mengiringi tuan rambut gimbal penyuka rasta. Memutarnya dalam playlist ratusan kali tampa bosan. Berada disituasi kala lagu No Women No Cry melantun bagaikan bernostalgia dengan waktu.

“Wow, kau hafal lagu ini?” Terdengar Kyung Soo seolah tak percaya jika aku fasih menyanyikan penggalan lagunya. Menghentikan nyanyianku, kuanggukkan kepala menjawab pertanyaan Kyung Soo.

“Lagu ini adalah lagu terbaik sepanjang masa. Kau dapat merasakan semangat dan begitu besarnya motifasi dalam lagu ini.” Yah, Wanita janganlah menangis. Itu seolah menunjukkan jika kami-wanita begitu dihargai, tak diijinkan untuk menangis dan hal itu sangatlah manis.

“Dalam versimu kurasa. Aku hanya hafal No women no cry nya saja. Selebihnya, aku tak tahu apa yang pria gimbal itu bicarakan.” Mata Kyung Soo masih focus pada jalanan, kalimatnya sungguh melukaiku sebagai penggemar Bob Marley. Bisa-bisanya ia tak hafal lagu yang super terkenal ini.

“Pergilah ke Google, kau cukup mengetik keyword No Women No Cry, maka semua tentang lagu ini akan keluar.”

“Begitu sukanya kau pada lagu ini?” Pertanyaan Kyung Soo sungguh random, dia bertanya diluar topic pembicaraan. Seharusnya pria cebol bermata belo ini berkata hal lainnya seperti; Aku akan mencoba mencari lagu ini, kau punya mp3nya? Boleh aku minta?, atau paling tidak ‘Selera musikmu bagus’. Hal seperti itu bisa ia lontarkan untuk kalimatku, bukankah itu lebih masuk akal.

“Aku sangat menyukainya, sangat-sangat dan sangat.” Rasanya kala mengauki kesukaanku pada lagu ini, dadaku bergemuruh, ada adrenalin tersendiri yang memacu hormone untuk meluap-luap.

“Kenapa?”

“Apanya?”

“Kenapa kau sangat suka lagu ini?”

“Kenapa aku menyukainya? Lagu ini tak membiarkanku menangis, dia terus menghiburku, mengatakan padaku jika diluar sana ada begitu banyak manusia munafik yang akan menusukku, menghancurkanku.” Mataku menerawang, mengingat arti dari lagu ini, seolah memutar balikkan kehidupanku. “Hwa Young pernah memunafikkan dirinya karena hasutan si bodoh Jong In, dia menusukku dari belakang dengan amat mudah, dan semua itu karena Kim Jong In.” Bagai tersihir, kalimat itu keluar begitu saja, ada emosi yang meluap dari dada, menyalurkan kegeramanku kala mengingat hal itu, meremas ujung kaos yang kukenakan adalah satu-satunya cara.

“Jong In melakukan hal itu padamu?” Sedikit tercekat, kutolehkan kepalaku. Damn, aku sedang menghina Jong In didepan kakak sepupunya sendiri. Bodohnya kau, Chae Rin!

“Dia hanya menghasut Hwa Young untuk memasukkan bungkus rokok kedalam tasku, membuatku di-skors selama 1 minggu.”

“Kau di skors karena Jong In?” Nada Kyung Soo menaik, ada semburat marah dari matanya. Sekarang aku merasa jika mengadukan masa lalu pada Kyung Soo bukanlah hal yang baik, dia bersungut seperti ada tanduk dikepalanya.

“Lupakan! Itu masa lalu, toh sekarang Hwa Young sudah kembali padaku, dan Jong In sudah tak pernah bersikap seperti itu lagi. Semuanya hanya cerita di SMA, kau pasti pernah mengalaminya bukan?” Elakku berharap tidak terlambat, Kyung Soo tak harus marah seperti ini. Hal yang membuatku akan susah jika ingin mengatakan tujuan awalku, membicarakan uang transferan Paman pada rekening keluarga Kim.

Diluar dugaan, Kyung Soo menepikan mobilnya, mematikan mesin dan mulai menfokuskan mata belonya padaku. Ia merubah posisi agar dapat mengintimidasiku dengan sempurna.

“Selama aku SMA, sama sekali tak ada temanku yang melakukan hal seperti itu. Aku memberikanmu motifasi untuk ‘menikmati rasa pahit kopi’, tapi itu bukan berarti kau harus menerima perlakuan Jong In kepadamu!” Nadanya menaik seiring kalimatnya berakhir. Kyung Soo membelaku? Ini gila!

Sungguh aku sama sekali tak menikmati perlakuan Jong In, dia membuat siklus hidupku yang monoton menjadi bergelombang, ada sedikit hal yang sama sekali tak kuinginkan terjadi secara pasti. Mencari teman baru itu tidak mudah, Hwa Young dibawa pergi dan aku menghabiskan sisa waktu SMA seorang diri, diam dikantin atau memilih tidur diperpustakaan. Dan hal paling menyedihkan adalah, tiadanya foto wisuda kami yang bersama, hanya aku dengan baground Hwa Young.

“Aku membenci Jong In, aku berharap ia mati dan masih menginginkan hal itu terjadi.” Desisku mengelak dari tudingan Kyung Soo. menikmati pahit kopi? Aku masih mencoba melakukan hal itu, mencari mana rasa nikmatnya dan itu sangat sulit.

“Lalu kenapa kau menutupi perlakuan Jong In tadi, kau menghindari pertanyaanku dan berlagak baik-baik saja.” Tak habis fikir, apa ia tidak memiliki otak sampai bertanya seperti itu.

“Apa kau ingin aku menjelek-jelekkan Jong In didepanmu? Begitu yang kau mau?” Teriakku furstasi, sungguh hari ini Kyung Soo terlalu mengulur-ulur waktu. Atau aku yang tak kunjung mengatakan tujuanku?

Mata kami beradu, irisnya yang besar bergerak tak stabil, seolah mencari-cari dari mataku. Kupejamkan mata dalam-dalam, menggeram frustasi sebelum memalingkan wajah pada jendela.

“Pamanku sudah melunasi hutangnya, ia mentransfer uang selama beberapa tahun belakangan kerekening Kim Jung Dang. Kuharap kau dapat mengerti apa yang kukatan dan mohon sampaikan hal ini pada Jong In.” Geramku menahan lonjakan nada, menggerayai pintu disampingku, kuharap Kyung Soo tidak mengunci pintu mobil.

“Itu yang inginkau sampaikan padaku? Masalah uang itu?” Bola mataku bergerak memutar amat jengah.

“Ya. Aku sudah menyimpan kalimat ini sedari tadi saat kau terus mengatakan hal yang tak penting.”

__Friend&Foe©Zulaipatnam__

“Ku antar kau pulang!” Teriak Kyung Soo mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil, kami tak jadi pergi ke pinggiran sungai Hanggang, semua yang perlu dibicarakan sudah khatam  didalam mobil Range Rovernya.

“Pergilah!” Usirku merasa seperti jalang yang sedang ditawar, sudah beberapa meter dan dia masih mengikutiku yang mencari halte bus terdekat.

“Sudah hampir malam, tidak baik seorang gadis pulang sendirian.” Ia beralasan, menjijikkan sekali mulut pria ini. Kurasa aku salah mengenal orang, Kyung Soo terlalu menjijikkan.

Melihat jalanan didepan, ada sebuah gang kecil dan segera mungkin aku berbelok kesana. Meninggalkan Kyung Soo yang meneriaki namaku dari dalam mobil mahalnya.

Hampir pukul 7 malam saat kudorong pagar rumah, tubuhku rasanya lelah karena berjalan melewati jalan tikus untuk menghindari Kyung Soo, ia mengekori kemana aku pergi seperti James Bond saja.

“Baru pulang?” Sapaan itu datang dari Ibu, beliau asik membenahi kemeja ayah yang sobek.

“Ya. Tadi aku jalan-jalan.” Terangku melewati Ibu menuju anak tangga, berniat masuk kedalam kamar, membersihkan diri, tidur dibawah selimut, dan bermimpi indah.

“Kemana?” tak biasanya Ibu mengintrogasiku seperti ini.

Menghentikan langkah, kupandangi Ibu yang sama sekali tidak kehilangan konsentrasi pada kemeja ayah. Masih setia menusuk-nusuk kain itu dengan jarum.

“Mendekati Hanggang.” Jujurku merasa itu bukanlah hal yang buruk.

“Dan kau pulang dijam 7 malam tanpa berniat menaiki tumpangan mobil temanmu?” mataku membulat. Mobil teman? “Dia baru pulang beberapa menit yang lalu, katanya kau tak mau menumpang mobilnya dan memilih kabur melewati gang kecil. Apa itu benar?” Nada yang diberikan Ibu begitu datar, tak menunjukkan curiga, introgasi, atau pun hal semacamnya. Begitu tenang.

“Kami tidak akrab. Oleh karena itu aku tidak mau menumpang mobilnya. Aku lelah, Ibu. Sebaiknya aku pergi ke kemarku.” Kuputuskan untuk mengakhiri percakapan singkat kami, memikirkan Kyung Soo pergi kerumahku saja itu sudah begitu memuakkan. Untuk apa pria itu datang kemari? Kurasa Kyung Soo dan Jong In benar-benar membuat konspirasi.

“Akhir pekan ayahmu berulang tahun, ada pesta kebun yang akan Ibu adakan. Undang beberapa temanmu, Chae Rin!” Lengkingan suara Ibu melantun melewati tembok, kututup pintu kamar dan membaringkan tubuh pada ranjang.

Setelah pembicaraan dimobil bersama Kyung Soo, kurasakan ada sedikit harapan dia akan memberitahukan hal tersebut pada Jong In. Mungkin dengan hal itu, pria berkulit tan menjijikkan itu akan sadar jika Pamanku bukanlah orang jahat.

__Friend&Foe©Zulaipatnam__

Halaman belakang kami memang luas, cukup untuk dijadikan tempat pesta kebun seperti yang Ibu katakan. Mengundang Hwa Young serta Geum Nam bukanlah ide buruk. Beberapa menit lagi mereka akan datang, itu yang dikatakan Hwa Young saat ia menelponku barusan, dia masalah memilih kostum yang tepat, kusarankan untuk berpakaian biasa saja. Ayah tak mengharuskan tamunya berbusana formal, cukup hadir dan mengucapkan ‘selamat ulang tahun tuan Lee’ itu sudah cukup.

Membantu Ibu yang sibuk dengan daging mentah adalah hal paling utama yang kulakukan, menjadikan barbeque sebagai hidangan utama ternyata membuatku mengelap keringat. Tak ada koki panggilan dan itu membuatku berdiri didepan pemanggang arang. Membawa spatula dan penjepit daging untuk mengecek apakah sudah matang.

“Hwa Young? Kau sudah datang… kemarilah! Chae Rin sedang sibuk memanggang barbeque untuk kalian.” Terdengar suara Ibu dari pintu, ditambah derap langkah beberap kaki yang mengikuti bayangan mereka.

Hwa Young, Geum Nam dan…..

“Apa itu prianya?” Aku tertegun. Ayah menyenggol lenganku, tak dapat kumengerti dari mana kedatangan beliau, bagaimana bisa tiba-tiba ada disampingku?

“Pria apa?” Tanyaku tak mengerti.

Eommamu bertemu dengan Appa saat mengenakan spatu putih yang kau pakai di pertunangan Hyo Young.” Oke, kali ini aku sungguh tak faham kemana alur pembicaraannya. Mataku masih terfokus pada sosok yang berjalan dibelakang Hwa Young dan Geum Nam. Itu bukan Geum Nam! Aku tahu Geum Nam tidak bertubuh tinggi melebihi Hwa Young.

“Aku tidak mengerti dengan yang Appa bicarakan.” Tegasku masih terfokus pada sosok dibelakang tubuh Hwa Young. Heck, untuk apa dia datang?

“Berhentilah berbohong! Jika tidak mengerti mengapa kau masih memandanginya seperti itu?” Mataku membulat.

Appa…!!” Pekikku tak percaya. Beliau hanya tersenyum tipis sebelum berjingkat mendekati kerumunan temannya.

Hwa Young mendekat, menatapku begitu menggelikan karena ditanganku ada penjepit daging dan spatula. Dia nampak menimang komentar apa yang pas.

“Aku tak mau makan daging barbeque mu.” Oke, aku tersanjung mendengarnya.

“Sejak berteman dengan Jong In kau jadi menyebalkan.” Gerutuku membolak-balik daging, terdengar kekehan Hwa Young yang amat renyah. Ia mengibaskan rambut bobnya sebelum bergerak menyamai posisiku didepan pemanggang daging.

“Tidak semenyebalkan dirimu yang membiarkan temanku ditonjok Paman Lee.” Ia berucap seolah itu salahku, Hell. Kalian menyebalkan.

“Jong In yang memulai, dia tak bisa mengontrol. Tempramennya buruk sekali.” Cerocosku tak memperhatikan kaki yang mendekat.

“Aku minta maaf.” Suara itu. Kuangkat kepala, dia berdiri didepanku tepat, mengenakan setelan jas jelek dengan rambut ditata asal-asalan. Ada dasi kupu-kupu yang sedari tadi tak kusadari bertengger dikera kemejanya. Pasti Hwa Young yang melakukannya. “Hwa Young mengatakan kau ada pesta ulang tahun Appamu, kufikir Pamanmu juga akan datang. Jadi aku mendesaknya untuk mengajakku. Aku menyesal sudah memukul Pamanmu.”

“Hwa Young….!” Panggilku sedikit tak percaya.

“Ya.” Sahutnya terdengar santai.

“Pukul aku!”

__Friend&Foe©Zulaipatnam__

Biarkan dunia berbalik dan berhenti berputar, aku lebih suka hal itu terjadi ketimbang melihat Jong In menyantap barbeque buatanku. Kami pernah membicarakan daging busuk untuk dipanggang dipesta kebun. Dan tak kusangka Jong In akan datang kemari, dia sudah mendengar jika Paman melunasi hutangnya pada Kim Boh Young –kakek Jong In. Dan sekali lagi, melihat Jong In berada dihalaman belakang rumahku sungguh bukan hal yang ingin kulihat. Ia masih menyimpan aura misterius. Jong In yang kutahu bukan tipe pria mudah luluh, ia pasti menyimpan beberapa alasan mengapa mau datang kemari, mengingat aku tak mengundangnya.

“Dia sudah berubah. Seperti yang kau minta, Chae Rin. Aku membujuk Jong In untuk berhenti berfikir jika kau sumber permasalahan ini.” Hwa Young memulai percakapan, ia duduk diteras belakang bersamaku, memandangi tetamu yang bercengkrama akrab.

“Masih tak dapat kupercaya melihat Jong In berada dihalaman rumahku. Ini seperti mimpi, aku merasa jadi orang paling munafik didunia.” Geramku mencengkram rambut bercepol satu milikku.

“Jong In itu baik, dia hanya terhasut perasaan kecewanya pada Pamanmu.” Hwa Young selalu berada di pihak Jong In.

“Kalian bersama hanya dalam kurun waktu 2 tahun dan kau selalu membela Jong In?” Aku tak percaya pada perubahan sifat Hwa Young.

“Bukan aku selalu membela Jong In! hanya saja –ya, dia patut untuk dibela.” Oke, kali ini aku cukup geram dan meruntuki keputusanku mengundang Hwa Young.

“Oh.., itu sungguh manis sekali. Kau menyukai Jong In?” Tuduhku merasa hal itu tepat untuk dibicarakan, hey! Sebenarnya aku sudah memikirkan hal ini sedari dulu, mengingat alasan apa yang mendasari Hwa Young begitu percaya dengan Jong In kala itu.

“Sialan kau! Aku punya seseorang dan itu bukan Jong In.” Pekiknya terlalu cepat, ada rona tak biasa pada wajah Hwa Young, hal itu membuatku sedikit curiga.

“Seseorang siapa? Kita sudah lama tidak bicara, boleh aku mendengar kabar bahagia ini?” Pintaku merasa HARUS tahu seseorang itu. Terdenagr mendesak memang, tapi rasa penasaranku sudah berada diujung kepala.

“Nanti kau juga akan tahu sendiri.” Aku tak puas dengan jawaban Hwa Young, pernyataannya seolah memuaskanku hanya pada rasa penasaran.

“Terserah apa katamu.” Bangkit dari posisiku, membawa piring kotor sisa barbeque menuju tumpukan kawannya, mataku tertuju pada Jong In, dia bercengkrama bersama Geum Nam. Mereka terlihat akrab, kutaksir hal itu terjadi karena Jong In terlalu sering bermain ke rumah Hwa Young. Heck, lagi-lagi aku tak terima fakta jika mereka berdua cukup dekat.

Meletakkan piring kotor, Ibu bergerak mendekatiku, sedikit meyingsing rok panjangnya kala menarik lenganku untuk mendekat.

“Ada apa, Omma?” Tanyaku bingung. Ibu terlihat celingukan, ada hal ganjil yang beliau simpan.

“Pamanmu tidak kelihatan, tadi katanya mau kekamar mandi. Tapi sudah lama dia tidak kembali, kau sebaiknya pergi kesana dan cek keadaannya!” Detik itu pula mataku beralih pada sosok yang masih memakan barbeque hasil pangganganku.

“Aku tahu harus bertanya pada siapa.” Kulepaskan cengkrama tangan Ibu pada lenganku, berjalan cepat mendekat Jong In dan Geum Nam dideretan kursi tetamu.

Jadi ini alasanmu datang ke pesta ulang tahun Ayahku, Bastard.

__Friend&Foe©Zulaipatnam__

Orang berubah jadi baik itu pasti ada alasannya, kan? Jadi, Jong In pasti punya alasan buat datang ke pesta ultah ayahnya CL dan minta maaf.

36 tanggapan untuk “FRIEND AND FOE #Sobekan Ketujuh”

  1. ngomong2 kyungsoo knpa nih kok rada berubah?? chaerin sampe bilang menjijikan terus ke kyungsoo.. ada angin apa jga jongin berubah tiba2 minta maaf.. makin seruuu aja nih thor next chap ^^

  2. gak ngerti deh kenapa cl terus terusan bilang kyungso menjijikkan? dia kan gak melakukan sesuatu yang buruk?? haiiish kenapa lagi sih jongiiiiiiiin????
    yang ini partnya agak pendek apa perasaan doank karna keasikan baca yah? hahaha
    well ditunggu next partnya…

  3. Keren eon kereen!><
    Btw, kyknya dsini kyungsoo sm jongin lumayan jg yah ejekan yg dterima dri cl, hehe.. brkali kali diejek menjijikkan dsb, huhu 😦
    Dan eon, what the…… apaan itu endingnya?!?? T.T huaaa, jngn bilang jongin ngelakuin sesuatu yg buruk sm pamannya cl T.T makin penasaran eon! ppallii next~

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s