FRIEND AND FOE #Sobekan Kelima

Movie_FriendOrFoe#2

JUDUL : FRIEND AND FOE #Sobekan Kelima

DALANG : ZULAIPATNAM

RATING :  PG | Parental Guidance Suggested & R | Restricted

GENDRE : ANGST | AU | FRIENDSHIP

LEGHT : SERIES | #1 | #2 | #3 | #4 | #Sobekan Kelima

CAST :

KIM JONG IN | Kai From EXO K

LEE CHAE RIN | CL From 2NE1

RYU HWA YOUNG | Hwa Young Ex T-ARA

DO KYUNG SOO | D.O From EXO K

INSPIRASI :

NO DOUBT – DON’T SPEAK | LAGU

WARNING : CRACK PAIRING.

NB: Kuharap kalian gag bosen sama ff yang gag tamat-tamat ini.

 

SUMMARY :

[Hadirnya lebih dari siapapun disisiku, kau melakukan kesalahan KIM JONG IN.]

[Saat posisi seorang teman dipertanyaankan, benarkan teman adalah musuh atau malah musuh adalah teman. Tak ada yang bisa mengira. Menunggu waktu menjelaskan semuanya adalah pilihan.]

__Friend&Foe©Zulaipatnam__

 

Duduk diam dihalaman belakang rumah, memangku laptop seorang sambil memakan snack kentang yang tadi ku beli kala pulang dari kolam pancing bersama Kyung Soo, mataku memandang tak pasti pada pagar dibelakang rumah, ada sebuah lubang yang tertutup pot bunga bugenfil disana, lubang besar dari pagar yang menghubungkan rumah dengan taman bermain kompleks. Dulu saat kecil, kebiasaanku adalah menerobos dari halaman belakang menuju taman bermain, seharian akan memainkan semua permainan yang ada disana, entah jungkat-jungkit atau hanya duduk diayunan bersama…

“Ah, sial! Kenapa semua yang kulakukan selalu berhubungan dengan Hwa Young.” Runtukku merasa seperti otak ini telah di doktrin dengan Hwa Young dan Hwa Young.

Menutup layar laptop, meletakkan benda elektronik tadi disamping tubuh tanpa mengidahkan jika benda itu telah bersentuhan dengan rumput yang sedikit mengembun. Kurapikan sedikit kaos berlengan panjangku, menariknya sampai tepat menutupi tangan, berjalan mantap mendekati pagar kayu dan mendorong pot bunga bugenfil secara perlahan untuk melihat lubangnya.

Tanpa fikir panjang, berjongkok dihapan lubang tadi dan merangkak keluar. Seperti berada di dalam almari Narnia, saat usai melewati pagar, yang kudapati adalah sebuah pemandangan masa lalu yang tak akan pernah kulupakan. Taman bermain ini adalah tempat dimana aku dan Hwa Young kala sekolah dasar dulu selalu pergi bermain, jika beruntung kami akan bertemu sekelompok teman dari kelas dan bermain bersama-sama sampai sore. Sangat menyenangkan saat mengingat hal itu.

Kubersihkan lutut dan bagian tubuh yang kotor, merapikan rambut dan mulai mendekati pintu masuk yang tak dikunci, mendorong pintunya pelan dengan bunyi decit benda logam yang khas.

“Siapa?” tanya suara yang familiar dengan cepat, kupandangi sekitar, mencari-cari dari mana sumbernya.

“Chae Rin.” Kali ini aku dikejutkan pada sosok yang tiba-tiba berada dekat denganku, berjarak sekitar 3 meter dan tengah memegangi tali rantai ayunan. Dia menatapku dalam diam, terlihat sediki terkejut sebelum disamarkan dengan senyuman tipis untuk menyapaku.

“Apa yang kau lakukan disini?” Kudekati dia, ia nampak menggerakkan tubuhnya untuk kembali duduk di kursi ayunan.

“Sama seperti yang kau lakukan. Mungkin.” Ia menatapku penuh harap, kulempar senyum kikuk sebelum duduk dikursi ayunan yang kosong. Seperti sebuah dejavu, kami berada pada posisi yang sama seperti beberapa tahun yang lalu.

Kurasakan decit besi dari ayunan berbunyi seirama gerakannya memaju mundurkan ayunan.

“Kita seperti saat Sekolah Dasar, ya?”

“Hn.” Rasanya amat menyenangkan, duduk dikursi ayunan dan menikmati malam dengan seseorang yang teramat penting untukku. Ryu Hwa Young.

“Kau mau kan memaafkanku, Chae Rin?” Ia bertanya, menanyakan hal yang tak pernah kufikirkan akan keluar dari mulutnya. Permintaan maaf.

Tak ada yang bisa kukatakan, teramat bingung untuk menjawab apa pada pertanyaan seperti itu. Di lain sisi aku merasa Hwa Young tidak bersalah, namun disisi lain aku seolah menuntut sebuah pengakuan. Entah apa itu aku pun tak mengerti. Mungkin sebuah pengakuan mengenai pertemanannya dengan Jong In.

“Mengenai bungkus rokok itu dan ucapanku saat pertunangan Hyo Young. Kau mau kan memaafkanku?” Dia mencoba menjelaskan, membuatku teringat kejadian saat dia memasukkan bungkus rokok. Itu bukan salah Hwa Young.

“Jong In yang melakukannya. Kenapa kau harus minta maaf padaku?” Ralatku cepat kala mengingat saat itu Hwa Young coba katakan jika Jong In ada andil dalam hal itu.

Hwa Young menggeleng, hal yang tak kupercaya kala dia menerangkan semuanya, menjelaskan cerita dari awal kala ia mulai terhanyut pada si Jong In sialan.

“Semua itu salahku, Chae Rin. Jika saja aku tak mensetujuinya, kau tidak akan masuk ruang BK dan mendapat skorsing selama satu minggu. Saat itu aku sangat bodoh, percaya saja pada hasutan Jong In yang mengatakan jika kau adalah seorang Lesbian.” Keningku berkerut bukan main, merasa perutku mulas dan ingin sekali menonjok muka si kulit tan itu. Jadi menggunakan alasan bahwa aku lesbi untuk menyingkirkan Hwa Young dariku. Licik sekali dia.

“Lalu… kenapa kau begitu mudah percaya padanya?” tanyaku penasaran. Hwa Young mengedikkan bahu.

Well. Itu karena kau selalu menempeliku, Chae Rin. Aku jadi tak dapat berfikir normal saat sadar kita selalu bersama tanpa mau terpisah satu sama lain. Membuatku sedikit bergidik ngeri, saat itu kita sedang masa pubertas. Aku masih labil.” Dari nadanya, Hwa Young coba meyakinkanku meski dari tuturannya membuatku berfikir jika Hwa Young adalah gadis yang sangat bodoh.

“Itu karena kau teramat bodoh, Hwa Young.” Pastiku merasa harus mengatakan hal itu, tak perduli meski wajahnya merengut kesal dan menghentakkan kaki di tanah dengan jengkel.

“Aku mencoba menjelaskannya, Chae Rin. Dengarkan ceritaku dulu tanpa berkomentar yang menyakitkan! kumohon.” Rengeknya amat manis, aku suka Hwa Young yang seperti ini. Bukannya Hwa Young pendiam yang akan mengangguki setiap argument Jong In dan diam disudut.

“Baiklah. Silahkan!”

“Jong In tiba-tiba menanyakan mengenai pamanmu. Aku sedikit bingung, kau punya banyak paman. Lalu dia menyebut-nyebut tentang Lee Taem Baek, aku sedikit ingat jika itu adalah nama pamanmu yang tinggal di Jeju itu kan?”

Perhatianku pada pernyataan Hwa Young semakin tinggi. Jadi dia menggunakan Hwa Young hanya sebagai alat.

“Jong In mulai mendesakku untuk mencari tahu mengenai pamanmu, dan aku mulai bercerita jika pamanmu adalah pengusaha yang sukses di Jeju. Ada yang salah dengan raut muka Jong In kala itu, dia terlihat amat tak suka.”

“Ya. Aku mengerti cerita itu.”

Ommo. Kau sudah tahu semuanya?” tebak Hwa Young tak percaya. Aku mengangguk kecil.

“Saudara sepupunya yang seorang barista itu menceritakan semuanya padaku.” Mengangguk faham, Hwa Young mendesah nafas dalam.

“Jong In salah faham, Chae Rin. Maafkanlah dia.”

Sekarang aku merasa jika maksud pembicaraan panjang ini adalah karena Hwa Young menginginkanku memaafkan Jong In.

“Kau benar-benar teman yang baik.” Desisku tak percaya.

“Bukan begitu maksudku, Chae Rin.”

“Ya. Itu maksudmu! Membuatku memaafkan Jong In sementara dia sudah membuatku terpuruk hanya dengan membawamu jauh dariku. Tak tahukah kau jika mencari teman yang dapat dipercaya bagiku sangatlah sulit. Dan dia sudah membuatku kehilangan satu.” Mengerjapkan mata, Hwa Young memandangku amat tak percaya, dia bangkit dari kursi ayunan, bergerak cepat untuk berdiri dihadapanku yang menatapnya begitu jengah.

“Berhentilah berfikir negative, Chae Rin! Kau terlalu mengungkit masa lalu dan tak memandang sesuatu dengan sisi lain. Aku mengatakan semua itu agar kau tak membenci Jong In lagi, dan akan kukatakan hal baik pada Jong In agar dia berhenti membencimu. Semua ini keliru, tak seharusnya kalian bersitegang seperti ini!” Pekikan Hwa Young tepat sasaran, memekakkan telinga dan membuatku kembali pada pernyataan Kyung Soo.

Mereka sama-sama berfikir jika masalah diantara diriku dan Jong In harus segera diluruskan. Aku juga berfikir seperti itu. Hanya saja, setitih api di hatiku menyulut rasa balas dendam yang harus segera dikobarkan.

“Kau tidak berfikir untuk melakukan sesuatu terhadap Jong In, bukan?” telisik Hwa Young terdengar mendesis di telingaku, matanya menyipit mencari tahu. Kugelengkan kepala cepat.

Apa sekarang adalah saat yang tepat untuk memanfaatkan Hwa Young sebagaimana kriteria teman yang diungkapkan Jong In. “Tergantung kau masih dibutuhkan bagi kawanmu atau tidak.” Itu berarti teman ada hanya karena sebuah kebutuhan. Dan sekarang. Aku merasakan hal itu.

“Baiklah. Akan kumaafkan Jong In. Asalkan kau mau membantu agar dia memaafkanku dan berhenti berfikir jika melaluiku dapat menuntaskan dendam di hatinya. Kematian kakek Jong In tak ada hubungannya satu pun denganku.” Tegasku di akhir kalimat, Hwa Young mengangguk cepat, ia tersenyum senang, mengulurkan tangan padaku. Kami berjabat setuju, malam itu, aku dan Hwa Young kembali menjalani kehidupan yang mungkin  akan terjadi seperti saat Jong In tak ada di habitat kami.

__Friend&Foe©Zulaipatnam__

Sekitar satu minggu berlalu, entahlah. Aku tak begitu yakin. Ibu membuat sup kentang teramat banyak, menyisihkan satu mangkuk besar dan memintaku untuk mengirimnya kerumah Hwa Young sebagai balasan terimakasih karena pernah memberikan sup kentang, yang menurut Ibu rasanya diluar dugaan, begitu lezat. Membuatku sedikit menyesal karena tidak berniat mencicipinya.

Sebelum itu terjadi, kulirik sekilas melalui jendela rumah, melewati satu rumah yang membatasi rumah ku dan Hwa Young. Dapat kusaksikan motor hitam metalik Jong In terparkir diluar pagar dengan amat gagah. Tak ada si pemilik, mungkin pria sialan itu tengah masuk kedalam rumah Hwa Young.

“Cepat! Nanti keburu dingin.” Terang Ibu menyodorkan mangkuk yang menguarkan aroma khas sup kentang.

“Bisakah nanti saja. Dramanya hampir saja mulai omma.” Rengekku sedikit tidak siap untuk melajukan kaki kerumah Hwa Young disaat ada Jong In disana. Rasanya tidak nyaman.

Memasang wajah berkerut, Ibu menggeleng cepat.

“Pergilah! Tadi omma melihat temanmu juga datang, makannya sesegera mungkin omma menyuruhmu datang kesana.”

“Teman?” tanyaku bingung.

“Ya. Pemuda yang ikut hadir di pesta pertunangan Hyo Young. Bukankah kalian berteman?”

“Ya.” Jawabku tidak ikhlas. Bukan porsi yang pas untuk mengatakan jika hubunganku dan Jong In sangat diluar normal. Dia cucu dari pria yang mati bunuh diri dan mengutuk keluarga kita. Apakah harus kukatakan hal itu? Terlalu frontal kurasa. Dan tentu saja, tidak relevan dengan percakapanku bersama Ibu,

“Kalau begitu cepat pergilah! Nanti keburu dingin, Chae Rin.” Titah Ibu cepat, kuanggukkan kepala, melangkah tak percaya diri menuju rumah Hwa Young dengan membawa mangkuk besar berisi sup kentang.

__Friend&Foe©Zulaipatnam__

“Oh, Hai.” Sapa Hwa Young tak nyaman. Kuanggukkan kepala, menyodorkan mangkuk berisi sup kentangku pada Hwa Young, sementara dia masih saja menatapku seolah ingin memutilasi saat itu juga.

Omma menitipkan ini untukmu.” Terangku saat Hwa Young menghirup aroma sup kentang.

“Kelihatannya enak. Terimakasih.” Hwa Young melangkah mendekatiku, memelukku sejenak sebelum pamit masuk kedalam rumah. Tentu saja meninggalkanku bersama kecanggungan kala berdua bersama Jong In didepan pagar.

“Aku akan cepat kembali.” Teriakan Hwa Young terdengar tidak meyakinkan, ia berjalan perlahan, kurasa takut sup kentangnya tumpah.

Membalikkan tubuh. Kudapati Jong In bersandar pada motor hitam metaliknya, melipat kedua tangan di dada dan memasang tampang stoic yang sungguh tak pernah kusuka darinya, oh, bisakah sifat friendly  Kyung Soo menular padanya?

“Sudah mendengar dongeng dari Kyung Soo oppa?” Suaranya terdengar benar-benar tak bersahabat.

“Apa Kyung Soo menceritakan semuanya padamu?” Tebakku mencari tahu. Dari mana lagi dia mengetahuinya jika bukan dari mulut Kyung Soo. Pria pendek bermata belo menjijikkan itu.

“Tentu saja. Dia mata-mataku untukmu.” Tutur Jong In seolah tahu apa yang ada di kelapaku.

“Berapa banyak kau membayar mata-mata sebodoh Kyung Soo?”

Dia mengedikkan bahu. “Cukup dengan tanda persaudaraan.”

“Kasihan sekali saudaramu.”

“Dia suka kuperlakukan begitu.”

“Ya. Karena ia tahu kau idiot.”

Nampak Jong In tak suka dengan kalimatku, ia melepaskan silangan tangannya, menjauh dari motor yang ia sandari dan berjalan mendekatiku.

Ayolah, Chae Rin, jangan takut padanya!

“Kalimatmu terdengar seperti kau sangat mengenalku.” Desisnya mendekatkan wajah padaku, jarak yang amat sempit sampai dapat kurasakan hembusan nafasnya menerpa kulit wajah.

Menelan sedikit saliva sebelum membalas kalimatnya. “Bagaimana tidak. Kau sudah mengusik hidupku, mau tidak mau aku harus mencari resume tentang dirimu, Kim Jong In.”

“Dan kau mendapatkannya?”

“Ya.”

“Mengejutkan.”

“Kuharap kau mati karena itu.”

Jong In menjauhkan wajahnya. Memandangiku begitu datar sebelum seringai tipis menghiasi bibirnya.

“Mengharapkanku mati terbakar sampai menjadi debu dan kali ini mati karena terkejut. Sebenarnya mana yang sungguh-sungguh kau harapakan, Chae Rin-ah?”

“Bagaimana jika kau mati dengan cara bunuh diri. Membakar tubuhmu sendiri sampai hangus menjadi debu, bertebaran di udara dengan amat lembut dan wangi. Itu terdengar lebih baik ketimbang mati dengan cara meminum obat serangga.”

Fuck you.” Ia berteriak cepat, tangannya terangkat hendap mengirim tinjuan padaku. Memejamkan mata adalah satu-satunya reflek yang dapat kulakukan, hanya saja menunggu beberapa detik hal yang kutunggu tak kunjung datang. Pukulan Jong In.

“Apa yang hendak kau lakukan pada keponakanku, huh?”

Paman.

__Friend&Foe©Zulaipatnam__

 

46 tanggapan untuk “FRIEND AND FOE #Sobekan Kelima”

  1. ohh lee taem baek itu pamannya chaerin kirain ayahnya salah ngira aku 😛 .. waahh gmna tuh jong in ketemu sama pamannya chaerin,, apa yg bakal jong in lakuin tuh??
    next thor makin penasaran nih >.<

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s