Werewolf [Chapter 6]

Title : Werewolf [Chapter 6]

Author : gabechan (@treshaa27)

Genre : Fantasy, Tragedy, Thriller, and maybe Romance?

Length : Chapter (still don’t know)

Rate : T

Main Cast : Park Chanyeol, Lee Hyejin, Wu Yi Fan, and some new casts!

FF ini terinspirasi dari lagu VIXX “Hyde” dan EXO “Wolf”

Aku bener-bener minta maaf karena chap ini kelamaan keluarnyaa (/0\) soalnya ada UTS dan TO mendatang yang mengharuskan author untuk menjauhi laptop dan ff sementara waktu. Dan aku udah berusaha sebisa mungkin biar chap ini dapet feelnya dan semoga memuaskan yaah! Makasih buat komen kalian, sgt membantu loh! Makasih buat admin yang udah ngepost FF ini~ silahkan komen dan beri like kalau readers suka FF ini. Bagi siders, tidak apa-apa. Aku juga berterimakasih sama kalian karena udah mau baca FFku.

Happy reading~~ J

 

 

NO PLAGIARISM, THIS IS PURE MINE!

_____

Pandangan Hyejin yang sedikit kabur, membuatnya kesulitan untuk melihat apa yang sedang terjadi. Tangan Chanyeol tidak kunjung mengangkat tubuhnya. Tetapi, ia bisa melihat kedua kaki Chanyeol berhenti tepat di depan wajahnya.

 

“Chanyeol-ssi, kau hanya akan mempercepat kematianmu dari gadis itu.”

 

Suara orang lain yang didengar Hyejin.

Hyejin hanya bisa mengambil kesimpulan bahwa ada seseorang yang sekarang sedang berdiri tak jauh dari Chanyeol. Dan yang membuat Hyejin semakin takut, lelaki itu sekarang sudah menarik perhatian Chanyeol sepenuhnya dan mulai berdebat dengannya. Tentu saja dari beberapa teriakan dan bentakan Chanyeol pada lelaki itu, Hyejin tahu bahwa kemarahan Chanyeol semakin bertambah.

Posisinya yang terbaring ke kiri di atas lantai yang dingin ini, membuat Hyejin sedikit kesulitan untuk melihat lebih jelas apa yang sebenarnya sedang dilakukan oleh kedua orang itu. Entah kenapa penglihatannya sama sekali tidak bisa diandalkan. Mungkin karena benturan keras tadi? Hyejin meringis. Ia yakin ada beberapa tulangnya yang patah akibat benturan itu. Ditambah dengan luka di bahu kirinya yang terasa perih.

“DIAM KAU!”

Teriakan itu menggema di ruangan ini. Seluruh tubuh Hyejin bisa merasakan aura yang tak menyenangkan di sekelilingnya. Ia tidak tahu dimana Chanyeol dan lelaki itu berdiri, tapi dari sudut matanya, Hyejin bisa melihat sekilas punggung lelaki yang menyulut kemarahan Chanyeol. Posisi mereka berbalik, dengan Chanyeol yang sudah terpojok ke dinding belakangnya.

“Kau membuang-buang sisa tenagamu saja dengan membentakku seperti ini. Lebih baik aku saja, ya, yang membunuhnya?”

 

Dia ingin membunuhku juga?

 

Lalu, terdengar suara geraman. Mulailah terdengar benturan dan cakaran beberapa kali. Hyejin yang hanya bisa mengandalkan indra pendengarannya itu sedikit merapat pada dinding di belakangnya sambil berusaha menngabaikan rasa sakit dan nyeri pada sekujur tubuhnya. Hyejin benar-benar ketakutan. Ia merasa sendirian karena tidak tahu apa yang sedang terjadi. Ia takut jika salah satu dari mereka ada yang benar-benar akan membunuhnya.

Sekilas, terlihat Chanyeol yang sedang berusaha keras untuk menghindari gerakan tangan lelaki di hadapannya yang sekarang sedang memegang sesuatu yang mengkilap, tipis dan tajam. Sebuah pedang.

Sejak kapan lelaki itu mengeluarkan benda itu?

Hyejin terus memperhatikan setiap kali pedang itu berayun. Takut jika pedang itu pada akhirnya berhasil mengelabui Chanyeol dan akhirnya melukai tubuhnya. Tidak, Hyejin tidak ingin hal itu terjadi.

 

SRATT

 

“AKKHH..”

 

Lelaki itu mendengus, “Bagaimana? Sudah cukup pemanasannya?”

Chanyeol berusaha mengatur napasnya yang terengah-engah sekaligus menahan rasa perih pada kaki kanannya yang tersayat. “Kau… kau melanggar… peraturan… Ti, tidak boleh..”

“Ya, ya, aku tahu. Tidak boleh menggunakan kekuatan tersembunyi kita di depan manusia murni. Cih! Masa bodoh dengan peraturan itu! Kau sendiri sudah menggunakannya secara tidak sadar!”

Suara tawa serak Chanyeol membuat Hyejin bergidik ngeri. Chanyeol yang menyadari hal itu menatapnya sambil tetap menyeringai, “Memang. Tapi, aku belum benar-benar menggunakannya padanya.”

Lelaki itu tampak kesal dengan perkataan Chanyeol dan langsung menyerangnya tanpa ampun. Seiring dengan cakaran, tinjuan dan beberapa kali sabetan pedang yang berhasil membuat Chanyeol mengerang, seringaian puas di wajah lelaki itu semakin terkembang. Chanyeol yang sudah terlalu lelah pun semakin terpojok dengan tubuh penuh luka.

Sorot mata lelaki berambut pirang itu seolah bisa membunuh siapapun yang menatapnya balik. Ia terus melangkah mendekati Chanyeol tanpa rasa belas kasih sedikitpun.

“Masih belum cukup?” Ia menjambak rambut Chanyeol, lalu menamparnya. “Kasihan sekali kau.”

Deru napas yang tidak teratur, tubuh penuh luka, serta sisa tenaga yang tidak banyak membuat Chanyeol hanya bisa terduduk lemas. Ia sudah tidak bisa melakukan perlawanan apapun lagi. Jika lelaki di hadapannya ini masih berbaik hati, kemungkinan besar ia tidak akan terbunuh. Tetapi sepertinya hal itu takkan terjadi kali ini. Sudah berapa kali ia selamat dari kematiannya sendiri? Kali ini mungkin ia tidak akan selamat.

“Dimana kalungnya?” tanya lelaki itu sambil menjambak rambut Chanyeol. Chanyeol diam saja. Melihat itu, lelaki dengan sorot mata tajam itu menggoreskan kuku panjang telunjuknya pada lengan Chanyeol, membuat lelaki itu langsung mengerang kesakitan.

“Katakan! Dimana kalung itu?!” Chanyeol menyeringai. Menampakkan sudut bibirnya yang berdarah. Ia tetap tidak mengatakan apapun dan malah tersenyum mengejek.

Karena sudah tidak sabar lagi dengan sikap Chanyeol, lelaki itu mengangkat tubuh Chanyeol dan melemparkan tubuh lemah itu ke seberang ruangan. Tubuh lemah Chanyeol langsung menghantam dinding di belakangnya dengan sangat keras, membuat dinding itu runtuh bersamaan dengan jatuhnya tubuh itu ke lantai.

Lelaki berambut agak pirang itu menepukkan kedua telapak tangannya untuk membersihkan debu sambil tersenyum puas melihat hasil dari tindakannya itu. Tugas ini begitu mudah untuk dilakukannya jika lawannya itu sudah benar-benar kehabisan tenaga. Ia kira, Chanyeol akan menggunakan the secret powers miliknya ketika ia sudah melukai diri lelaki malang itu bertubi-tubi. Dugaannya melenceng jauh melihat dari tubuh Chanyeol yang sekarang sudah tertimbun runtuhan dinding. Tidak ada tanda-tanda pergerakan bahwa lelaki malang itu masih hidup.

Hanya tinggal satu urusan lagi yang perlu diselesaikannya. Ia menatap Hyejin dengan tatapan membunuh, lalu dengan angkuh ia pun mulai melangkah ke arah gadis itu.

“Nah, sekarang,” lelaki itu menarik tubuh Hyejin dengan kasar, sampai membuat gadis itu terduduk, “giliran kau, manusia rendah.”

Air mata yang tidak bisa dibendung lagi, akhirnya mengaliri pipi Hyejin. Ketakutan ini sudah tidak bisa ditoleransi lagi olehnya. Ia ingin lari dari tempat ini. Ia ingin melihat matahari yang menyinari bumi. Hyejin ingin tetap hidup, ia tidak bisa menyembunyikan keinginannya itu.

Lelaki itu menggerakkan ibu jarinya untuk menghapus air mata gadis itu dengan wajah iba yang terlihat palsu. Hyejin merasa terkejut dengan apa yang tengah lelaki itu lakukan padanya dan berusaha untuk menghindar. Sayangnya, ia hanya bisa memalingkan wajahnya, membuat usapan lembut pada pipi Hyejin langsung berhenti.

“Ini pilihanmu. Kau yang memilih untuk diperlakukan kasar. Baiklah, akan kulakukan. Kau juga ingin bernasib sama seperti makhluk lemah itu? Mudah saja.”

Hyejin memandang kosong runtuhan dinding yang tak jauh darinya. Tidak mungkin Chanyeol masih hidup di bawah runtuhan itu. Tapi, apakah Hyejin boleh berharap? Karena setengah dari dirinya tidak bisa menyangkal bahwa ia menginginkan lelaki itu hidup. Tidak ada yang melarangnya untuk tetap berharap, kan?

Ia tidak mau melihat tubuh dingin dibalik reruntuhan itu. Hyejin tidak mau Park Chanyeol, lelaki   atau lebih tepatnya manusia serigala   yang berencana membunuhnya, mati.

 

“Kita lihat saja siapa yang paling lama bertahan.”

 

Saat lelaki pirang itu menyapukan tangannya di depan wajah Hyejin, rasanya tubuhnya menjadi ringan. Dunia di sekelilingnya berputar dan kian menggelap. Hyejin tidak sadarkan diri tanpa tahu apa yang akan dilakukan lelaki itu selanjutnya.

_____

 

“Ugghh..”

Chanyeol langsung tahu bahwa ia sudah berada di tempat lain. Bisa terasa aura mengancam dan tidak menyenangkan di sekelilingnya, seakan ingin memerangkap dirinya. Suhu yang tidak bisa terbilang hangat itupun langsung masuk ke dalam tiap pori-pori kulitnya, membuat tubuhnya sedikit bergetar karena menahan udara dingin yang menusuk.

Dengan perlahan Chanyeol mengerjapkan mata, berusaha untuk membiasakan matanya dengan cahaya yang cukup terang. Lelaki itupun tidak tahu apa yang membuat sekujur tubuhnya terasa lemah, tidak sekuat biasanya. Ketika ingin menggerakkan kedua tangannya, ia tak bisa menahan rasa sakit yang langsung menjalari kedua pergelangan tangannya.

“Sial!” Chanyeol menyumpah saat ia menyadari kedua pergelangan tangannya sudah dibelenggu oleh rantai besi yang kuat, bahkan melampaui tenaganya untuk melepaskan belenggu itu.

Kepala yang rasanya berdenyut berlebihan membuatnya harus menutup matanya sejenak untuk mengurangi denyutan yang bisa membuat kepalanya pecah. Lalu, ketika membuka matanya kembali, ia dikejutkan oleh pemandangan mengerikan dari tubuhnya. Pakaiannya sudah robek di banyak bagian dan bahkan sudah tidak bisa dibilang sebagai pakaian lagi. Bercak darah pun tidak ketinggalan menghias tiap bagian yang robek itu.

Ketika melihat ke bawah, Chanyeol baru menyadari luka sayatan pada kaki kanannya. Luka itu masih belum kering, darah juga masih mengalir walaupun tidak terlalu deras. Tetap saja rasa perih tidak bisa Chanyeol tahan. Rasa dingin pun mulai menjalari telapak kakinya yang tidak mengenakan alas apapun. Kakinya terlalu lemah jika harus menahan berat tubuhnya lebih lama lagi. Dan sialnya, ia tidak bisa pergi kemanapun jika ia sekarang berada pada posisi dimana kedua tangannya terikat membentuk V, persis seperti disalib.

Ia berkali-kali berusaha untuk memutuskan rantai belenggunya dengan menariknya sekuat tenaga. Sayangnya, usahanya itu hanya membuang sisa tenaganya saja. Kedua pergelangan tangannya pun terluka dan mulai meneteskan darah. Cairan merah itu lagi, batinnya. Chanyeol sudah bosan melihat cairan merah itu begitu banyaknya keluar dari bagian tubuhnya. Mengingat bahwa ia juga sudah hampir mati ketika seorang lelaki pirang menyerangnya tanpa ampun, membuatnya berakhir di bawah reruntuhan dinding.

Disinilah ia, hanya bisa menunggu si penyiksa keluar dari tempat persembunyiannya dan harus mempersiapkan diri untuk menerima siksaan lagi.

Chanyeol kembali mengerang saat tahu bahwa perutnya pun hampir penuh dengan luka sayat maupun cakar. Ia menundukkan kepalanya, berharap hal itu bisa meminimalisir rasa sakit yang menggerogoti bagian perutnya.

“Tidak ada gunanya kau mencoba meredakan rasa sakit itu. Nantinya kau juga akan merasakan yang lebih sakit lagi.”

Tatapan mata Chanyeol langsung mengarah pada sepasang cahaya biru terang tak jauh darinya. Cahaya itu semakin jelas terlihat dan berasal dari seseorang yang Chanyeol kenal. Bahkan Chanyeol ingin segera meninju wajahnya sekarang juga.

Chanyeol benci melihat seringaian penuh kemenangan itu menghias wajah lelaki yang sedang melangkah santai mendekatinya. Ia berdiri tepat di depan Chanyeol dengan angkuh, “Kau memang sudah tidak mau mendengarkanku, ya?”

“Cih! Aku tidak akan mendengarkanmu lagi, bodoh!” Teriakan itu memecah kesunyian dalam ruangan ini. Kedua tangan Chanyeol sudah gemas untuk memelintir leher Kris.

Kengerian langsung terpancar dari mata Chanyeol saat melihat sebuah cambuk muncul secara ajaib di tangan kanan Kris. “Bodoh, hm? Kau bilang aku bodoh?”

 

PLAKK

 

“Teriakan itu lagi sekarang!”

 

PLAAK! PLAKK!

 

“ARGGHH.. Haahh.. haahh..”

 

“Ada apa? Cambukanku kurang keras? Kau ingin merasakan siksaan lainnya, hm?”

Chanyeol tidak bisa menjawab. Ia berusaha keras menahan rasa perih dan sakit di bagian perutnya. Bekas cambukan itu langsung berbaur menambahkan luka-luka baru di perutnya. Darah pun mulai menetes lagi dari bekas luka itu. Chanyeol terengah-engah, ia bahkan bisa ambruk kapan saja jika pergelangan tangannya tidak dibelenggu. Erangan-erangan pilu sudah tak bisa Chanyeol tahan dari mulutnya.

 

Ini sudah kelewatan, pikirnya.

 

“Berhari-hari aku mengawasimu dan gadis itu. Tapi ternyata kau malah terperangkap di sana dan bahkan kau sudah mulai menyukai gadis itu. Ah, siapa namanya? Lee Hyejin, benar kan?”

Chanyeol mendengus, “Tutup mulutmu.”

 

PLAAKK!

 

“AARGHH! Hen..ti..kan.. damn it!”

 

Kris bahkan tidak menggubris rintihan itu. Tanpa ampun, ia tetap menghujani perut Chanyeol dengan cambuk miliknya. Karena tak puas menyiksa lelaki itu dengan cambuknya, Kris menggunakan kuku-kukunya untuk menghasilkan banyak luka cakaran di punggung Chanyeol. Darah mengalir keluar dari bekas cakaran itu, membuat sang pemilik punggung itu ingin cepat mati saja daripada harus menikmati siksaan ini.

 

SREET! SRETT! SREETTT!

 

“Kris hyung, enough! You really can kill him!”

 

Shut up, Sehun. Aku tidak memintamu bicara.”

Sehun, lelaki berambut pirang yang sudah menyiksa Chanyeol sebelum ia membawanya ke ruangan besar ini, mengepalkan tangan. Memang, perlakuannya terhadap Chanyeol pun tidak bisa dibilang tidak keji. Tetapi, ia sudah merasa cukup melihat betapa kejinya perlakuan Kris terhadap Chanyeol. Perlakuannya itu sudah kelewatan.

Ia tidak mau hanya tinggal diam.

Kris tidak tahu jika Sehun akan bertindak sejauh ini. Lelaki itu langsung menerjangnya sampai membuatnya terhempas ke dinding. Sehun bahkan tidak segan untuk meninju lelaki itu dan memberikannya beberapa sayatan di perutnya dengan pedang miliknya.

“Bukan seperti itu caranya jika kau ingin segera melihat gadis itu mati! Setidaknya perlakukan ia seperti manusia!” bentak Sehun sambil menarik kasar kaus hitam yang dipakai Kris.

Kris yang sudah bangkit dari serangan yang Sehun berikan, mendengus kesal. “Cih! Dia bukan manusia lagi! Begitu lembutkah hatimu sampai tidak bisa membedakan mana yang manusia, mana yang bukan?”

Sehun semakin marah. Kedua matanya yang sudah beriris merah itu berkilat tajam. Kekuatan besar yang dimilikinya minta digunakan saat itu juga. Tubuh lelaki pirang itu sedikit bergetar, berusaha menahan emosinya yang sudah meledak-ledak.

“Oh, aku tahu. Kau ingin menggunakan kekuatan itu? Silahkan, gunakan saja. Aku tidak tanggung kalau kau ikut mati.” Kris menyeringai.

Kris meregangkan tubuhnya, lalu melangkah dengan santai ke arah Sehun berdiri. Luka-luka pada tubuhnya sudah hilang tanpa bekas. Sehun mundur selangkah ketika Kris berdiri di hadapannya sambil menyeringai. Jika tidak waspada, ia akan berakhir dengan luka parah di seluruh tubuhnya.

“Kau sama saja seperti makhluk malang itu, Oh Sehun. Kau memang tidak pantas dilahirkan sebagai seorang manusia serigala. Kenapa tidak sejak dulu saja kau bergabung dengan manusia-manusia malang itu?”

Cemoohan itu sudah lebih dari cukup untuk membobol kemarahan Sehun yang sejak tadi terbendung. Lelaki berparas dingin itu langsung menerjang Kris kembali, membuat sang pemilik tubuh tidak bisa memberikan perlawanan. Lelaki itu menghujani Kris dengan tinjuan, pukulan, serta gigitan dari taringnya yang tajam.

Chanyeol yang melihat hal itu berusaha keras melepaskan diri. Ia tidak mau Hyejin melihat keseluruhan kejadian ini. Ia tidak mau jika gadis itu nantinya akan dibayangi oleh kejadian yang menimpanya.

Setelah beberapa kali menarik rantai itu sekuat tenaga, Chanyeol menyerah. Tenaganya sudah hampir habis dan ia masih harus menghadapi kedua makhluk sepertinya, yang sebentar lagi akan kembali menyiksanya sampai ia mau membunuh gadis itu. Ia beruntung jika salah satu dari kedua makhluk itu mati. Dengan begitu, Chanyeol hanya akan melawan satu manusia serigala saja.

 

SRAATT!

 

“Nikmati tidur panjangmu, Kris.” Sehun tersenyum puas setelah membuat Kris tak sadarkan diri. Ia mengelap darah yang ada pada pedangnya sambil masih tersenyum puas.

Sehun meninggalkan tubuh lemas Kris yang tergeletak begitu saja di atas lantai. Ia, lalu, beralih pada Chanyeol yang berdiri lemas dengan tubuh bersimbah peluh yang bercampur dengan darah. Kedua mata beriris merah itu sudah setengah tertutup karena tidak kuat lagi menahan rasa sakit pada tubuhnya.

“Jadi, kau mau bernasib sama seperti laki-laki brengsek itu? Aku yakin tidak.” Tidak ada penekanan pada perkataan lelaki itu. Namun, Chanyeol tidak akan lengah dengan nada bicaranya.

Ia menatap Chanyeol dan Hyejin bergantian, “Kita hanya punya waktu 15 menit sampai ia selesai menyembuhkan diri. Kupikir kau tidak akan menyia-nyiakan waktu ini, benar, kan?”

Sehun merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kalung. Chanyeol   pemilik kalung berliontin kepala serigala itu   langsung menggeram. Ia memelototi Sehun dan langsung berteriak, “Where did you get it?!”

Well, from your pocket. Your secret pocket, actually.

Chanyeol semakin tidak sabar untuk menghabisi Sehun. Ia menggeram dan mengeluarkan taringnya. Chanyeol tahu, jika Sehun sudah bisa melacak keberadaan kantong rahasia miliknya, ia pasti bisa melacak bau dengan mudah. Hal itu membuat dirinya dan Hyejin tidak bisa melarikan diri tanpa sepengetahuannya. Terlebih lagi, ia harus merebut kembali kalung itu dari tangan Sehun. Yang terburuk akan menimpanya jika Sehun bisa menyerap kekuatan yang tersimpan dalam kalung itu.

“Oh, itu tidak akan terjadi. Aku hanya bisa membaca pikiran seseorang ketika orang itu menatapku, kalau kau ingin tahu.” Ujarnya.

 

Mind reader? Ia membaca pikiranku saat ia menyerangku saat itu.

 

Chanyeol melirik Hyejin yang tak sadarkan diri tak jauh darinya. Kedua tangan gadis itu juga dibelenggu dengan rantai besi. Luka di bahu kirinya pun belum mengering, membuat keinginan lelaki itu pergi dari tempat ini semakin besar. Ia takkan membiarkan gadis itu sekarat, atau lebih buruk lagi, mati perlahan.

“Ini kalung yang sangat berharga, Chanyeol-ssi. Semua manusia serigala pasti menjaganya baik-baik. Kalau kalung ini hancur, hilang, atau tersentuh manusia murni, kau tahu apa akibatnya.” Sehun memandangi kalung yang dipegangnya sambil tersenyum sinis.

“Kau tidak perlu memberitahuku dua kali.”

“Kalau begitu, kau tidak akan kesulitan membunuh gadis itu.” Ucap lelaki pirang itu enteng.

Chanyeol mendengus dan menatap tajam Sehun, “Ya, jika aku adalah kau. Memang mudah, kan, membunuh manusia?”

Sehun mulanya tidak mengerti apa yang diucapkan lelaki itu. Tapi, setelah menyadari bahwa Chanyeol membiarkan matanya menatap langsung kedua mata miliknya, Sehun tidak tahan untuk tidak mencekik leher lelaki itu.

“Dengar, bodoh. Aku tidak pernah melukai manusia-manusia rendah itu! Kau mengira aku yang membunuh ibunya? Cih!” teriaknya, “ Aku tidak sudi memakan jantung manusia-manusia rendah itu, apalagi meminum darahnya!”

Sehun meninju wajah Chanyeol dengan keras, membuat lelaki itu tidak sempat menghirup oksigen sebanyak mungkin setelah Sehun mencekiknya.Sehun sebenarnya sedikit bersimpati dengan situasi Chanyeol saat ini. Ia juga pernah mengalami situasi yang hampir sama dengan lelaki jangkung itu. Namun, tiba-tiba saja Kris datang dan melakukan semuanya, bahkan menghapus sebagian ingatannya akan kejadian itu. Tapi itu lain cerita, Sehun tidak akan mengungkitnya saat ini.

Lelaki pirang itu memutuskan untuk tidak membaca pikiran lelaki di hadapannya. Ia hanya akan melihat berbagai rencana melarikan diri  yang tidak akan berhasil  dan keinginan lelaki itu untuk menghabisinya. Kali ini ia bahkan setuju dengan pandangan lelaki itu tentang Kris. Sehun bersedia menjadi teman Kris, bukan pesuruhnya. Ia melakukan apa yang diminta Kris semata-mata karena lelaki itu adalah temannya. Nyatanya, ia hanya dimanfaatkan saja.

Dan lagi-lagi, lelaki di hadapannya ini juga mengalami hal yang sama. Kris pasti akan memperlakukannya sama seperti ia memperlakukan Chanyeol jika ia bertindak seenaknya. Masa bodoh dengan itu. Ia bukan budak Kris. Begitu pula Chanyeol. Karena itu, ia akan berada di pihak Chanyeol dan membantunya menyingkirkan lelaki itu.

“Kris membunuh ibunya.”

“Apa?”

“Kau terlalu mempercayai kata-katanya, Chanyeol-ssi.” Sehun melirik Kris yang masih tak sadarkan diri, jauh di sisi kirinya. “Kris bahkan sudah memberikan peringatan padamu.”

Sekarang Chanyeol ingat. Malam itu, Kris hampir menghabisinya karena ia tidak mau mendengarkan arahan lelaki itu. Ia kira Kris hanya mengancamnya agar ia mau melakukan apa yang dikatakannya. Dan sekarang, setelah tahu bahwa lelaki itu berotak busuk, Chanyeol menyesal sudah menerima tawaran lelaki itu ketika ia menemukannya.

Ubun-ubun Chanyeol terasa sangat pusing karena ia berusaha keras untuk membendung kemarahannya. Kali ini ia harus mengendalikan amarahnya. Tidak ada gunanya ia meluapkan kemarahannya selagi seluruh kekuatannya berada di tangan lelaki pirang ini. Ia akan membunuh Kris setelah mendapatkan visi dari mimpi-mimpinya, berharap hal itu akan membantu. Sekarang, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Semuanya bergantung pada lelaki pirang ini.

“Sekarang pilih saja,” katanya, “kau mau aku yang mencabut jantungnya atau kau akan melakukannya dengan tanganmu sendiri?”

 

Chanyeol tidak tahu harus menjawab apa.

 

 

 

[To be Continued]

13 tanggapan untuk “Werewolf [Chapter 6]”

  1. Wah wah wah keren bingit ini ff bikin deg”an, jahatt banget si kris nyiksa chanyeol yang kece badai sampe segitunya kan kashian chanyeol, sehun juga ngapin nyiksa” chan kan dia hyungmu hun, ak kira tadi pas chanyeol liat ke perutnya kirain si chanyeol laper ternyata liat luka hehehe

    maap ya thor bru komen di chap ini soalnya kemarin ngbut bacanya, ok thor sering” bikin ff chanyeol ya jaebal……

    Faighting

  2. MWO????? Jdi…. pencabutan jantung itu akan tetap berlangsung??? ANDWE……
    Di part ini mengerikan smua kejadiannya…. q sampe geli bcanya

  3. OMO AUTHOR KECE BINGIT/?
    APALAGI CHANYEOL /MWAH
    BAGUS THOOR, MASITDA/?. LANJUTIN THOR KEBURU NAPSU/?
    POKONYA KEEPWRITING OK /MWAHMWAHMWAH

  4. akhrinya di post juga >.< makin tegang nih,, apa chanyeol bener2 bakal bunuh hyejin?? kris kejam banget sih x(
    next chap thor ^^

  5. akhirnya wirewolf chapter 6 nya di post juga. sekian lama menunggu thor ouo
    gilaaa, makin dag dig dug ser ceritanya>< ini si hyejin kasian, ya ampunnㅠㅠ jadi chanyeol bener2 bakal ngebunuh hyejin thor, apa ngga?
    next chapternya aku tunggu, tapi jan lama2 ya 😀 keep writing^^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s