FRIEND AND FOE #Sobekan Keempat

Movie_FriendOrFoe#2

JUDUL : FRIEND AND FOE

DALANG : ZULAIPATNAM

RATING :  PG | Parental Guidance Suggested & R | Restricted

GENDRE : ANGST | AU | FRIENDSHIP

LEGHT : SERIES | #1 | #2 | #3 | #Sobekan Keempat

CAST :

KIM JONG IN | Kai from EXO K

LEE CHAE RIN | CL from 2NE1

RYU HWA YOUNG | Hwa Young Ex T-ARA

DO KYUNG SOO | D.O from EXO K

INSPIRASI :

NO DOUBT – DON’T SPEAK | LAGU

WARNING : CRACK PAIRING.

 

SUMMARY :

[Hadirnya lebih dari siapapun disisiku, kau melakukan kesalahan KIM JONG IN.]

[Saat posisi seorang teman dipertanyaankan, benarkan teman adalah musuh atau malah musuh adalah teman. Tak ada yang bisa mengira. Menunggu waktu menjelaskan semuanya adalah pilihan.]

__Friend&Foe©Zulaipatnam__

“Kakek Jong In meninggal karena bunuh diri.”  Masih tak dapat kumengerti mengapa Hwa Young tiba-tiba mengatakan hal menjijikkan itu. Aku tak akan pernah tersentuh sama sekali dengan kisah lawas nan miris keluarga pria berkulit tan itu. Tak akan.

“Lantas apa hubungannya denganku?” Hwa Young menyodorkan mangkuk berisikan sup kentangnya, menekan kedadaku dan mengedikkan bahu.

“Kurasa, akan ada manfaatnya saja.” Matanya menatapku, tatapan 16 tahun yang sudah luntur, apa ini sebuah tipu muslihat seperti jaman kita SMA dulu, Hwa Young?

“Baiklah kalau begitu! Itu sup buatanku sendiri, omma memintaku mengantarkannya padamu, mungkin kau suka.” Dia berbalik, meniti anak tangga dan lepas dari halaman rumahku.

Sup kentang buatannya sendiri?

“Sejak kapan kau bisa masak?” dengusku masuk kedalam rumah. Menyimpan sup kentang Hwa Young kedalam kulkas. Tak mau aku memakan sup buatannya, mungkin saja si pendiam yang licik itu membumbuinya dengan serbuk racun.

__Friend&Foe©Zulaipatnam__

“Terlalu banyak fikiran membuatmu lupa dengan kehidupan.” Hardik seorang yang akhir ini suaranya mulai familiar di telingaku.

“Bukannya punya fikiran banyak malah semakin membuatmu ingat dengan kehidupan?” kesimpulanku adalah itu, melupakan kehidupan? Bagaimana bisa.

Dia mengedikkan bahu, menarik kursi kosong didepanku dan duduk begitu nyamannya.

“Lupakan kalau begitu! Kita punya pemikiran berbeda, aku takut nanti kita tak sejalan.” Elaknya membelokkan topic, sungguh kejujuran yang sangat blak-blakan.

“Pribadimu berbanding terbalik dengan Jong In.” mencoba menilainya, meski aku tahu pertemuan kami tak ada satu bulan. Toh, inilah usaha untuk menilai orang, jika salah, obyeknya akan bicara dan perlahan kita tahu dengan sendirinya.

“Meski aku saudara Jong In tapi kami tak lahir dari rahim yang sama. Sudah tentu kepribadian kami berbeda, dia dingin dan aku hangat. Bukan begitu?” dia mencoba membandingkan, dan kurasa itu ada benarnya. Mereka berbanding terbalik, atau malah si mata belo ini mencoba menutupi kepribadiannya karena permintaan Jong In. Pemikiran aneh itu malahan sempat terbesit.

“Yah. Seperti itulah.” Malas menanggapinya panjang-panjang.

Kyung Soo, dia mengangguk faham, seulas senyum menghiasi wajahnya. “Masih tidak suka kopi?” tanyanya spontan. Kugelengkan kepala sama spontannya.

“Entahlah, tak ada panggilan jiwa untuk menyukai minuman itu.” Terangku tak mau dia mengejar pertanyaan.

“Tapi kau sudah menikmati rasa pahit dalam racikan kopi, bukankah itu tidak adil?” sergahan yang membuatku seperti orang munafik.

Well. Kau tahu aku hanya meminum satu jenis kopi dan itu terjadi saat insomnia ku datang. Tak lebih.”

“Kau menarik, nona Chae Rin.”

“Mereka bilang begitu.”

“Aku bukan yang pertama.”

“Bukan.”

“Ow.”

“Kau kecewa?”

“Ya.”

“Kenapa?”

“Entahlah!”

Kuhentikan percakapan cepat tanpa jeda itu, rasanya aneh saja melakukan percakapan singkat disaat ada banyak topic di luar sana. Karena sebuah topic menarik baru saja melewati kepalaku.

“Kudengar kakek kalian meninggal karena bunuh diri.” Tanpa babibu, meski itu terdengar tak sopan dan banyak sekali kemungkinan jika setelah ini, Kyung Soo tak akan berbicara padaku. Aku tak peduli.

“Yup.” Terlalu singkat, bukan jawaban seperti itu yang kuinginkan.

“Sebabnya?” apa aku terdengar buru-buru? Peristiwa keluarga mereka memang tak menarik, dan aku sudah mengatakannya pada Hwa Young. Hanya saja melihat tampang Kyung Soo yang seolah tak tertarik membuatku terpancing untuk lebih.

“Bangkrut.”  Jadi ini tentang harta. Menarik dan klise. “Banyak pengusaha bangkrut yang memilih bunuh diri, apa lagi saat perekonomian terus menaik dan pasar tak menerima produk dari perusahaannya. Kejadian yang sangat wajar dan tak patut di perbincangkan dalam konteks hal tabuh. Terlalu familiar.” Diakhir kalimat Kyung Soo, aku sadar dia tak mau membahas hal ini lebih panjang.

Tapi aku ingin.

“Terlalu familiar kau bilang? Kurasa itu benar. Pamanku juga hampir melakukan hal yang sama.” Itu bukan bentuk simpati yang menggabungkan pengalaman buruk Kyung Soo dengan pengalamanku.

Mata belo Kyung Soo membulat, ada raut ketertarikan di wajahnya.

“Bukan bangkrut tentunya!” sergahku cepat. “Sama dalam konteks bunuh dirinya saja.” Ralatku akhirnya, dia mengangguk mengerti, kembali menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.

“Mengejutkan. Kita hampir memiliki pengalaman yang sama.”

“Aku bersyukur karena hanya hampir, bukan terjadi riil.”

“Ya. Kau benar. Mau pesan kopi?”

“Tidak terimakasih.”

“Tapi kau sudah ada di café ku?”

Saat itu terjadi, aku seolah bangun dari tidur. Tak sadar saja tadi tiba-tiba memilih pergi ke café saudara sepupu di Jong In dan malah tak memesan satu menu apapun. Kurasa daya tarik Kyung Soo penyebabnya.

__Friend&Foe©Zulaipatnam__

Kakek Jong In dan Kyung Soo meninggal karena bunuh diri. Berita pagi hari yang mengejutkan, sebenarnya tidak menarik untuk diperbincangkan, kalian tahu? Pokok permasalahan dalam hidupku bukan mengenai kematian kakek Jong In. Melainkan pertemananku dengan Hwa Young yang diputus sepihak oleh Kim Jong In sialan itu.

Hanya saja untuk saat ini, membicarakan kematian kakek Jong In terdengar menarik, oke, meski tadi pagi kukatakan itu tidak menarik, bahkan menjijikkan. Tapi setelah tahu jika pamanku nyaris melakukan hal bodoh seperti kakek mereka. Ada perasaan lain dalam diri, berusaha mencari tahu untuk mematahkan kesombongan Jong In didepanku mungkin, kurasa itu ide yang bagus.

Aku sudah muak melihat Jong In setiap pagi menjemput Hwa Young, hey…! Dulu kami berangkat kesekolah bersama, semenjak kedatangan Kim Jong In. rutinitasku bersama Hwa Young terpotong secara berkala, sampai akhirnya benar-benar dia mensabotase keeksistensian Hwa Young disisiku.

Merasa muak? Dia pernah bilang merasa muak acap kali melihatku tersenyum. Bukankah itu menyedihkan sekali? Jong In pemuda yang lumayan popular di sekolah, buktinya, dengan mudah dia bisa mengambil Hwa Young dariku. Lantas hal mendasar apa yang membuatnya merasa muak padaku? Kami bertemu di bangku SMA, tak lebih dan tak kurang. Dan pertemuan itu langsung diwarnai dengan dia yang merasa muak.

Seperti saat menyaksikan Hwa Young memasukkan buntalan rokok kedalam tas dan bilang Jong In ada andil didalamnya, setiap pagi melihatnya menjemput antar Hwa Young, memarkir motor hitam metaliknya di halaman keluarga Ryu dan duduk tenang di ruang tamu. Jong In seperti mengambil secuil keeksistensianku, dia merampasnya dariku. Entah apa lagi setelah ini? Hwa Young sudah cukup membuatku merasa sendirian.

Menikmati rasa pahit kopi?

Aku meyakinkan semuanya, menikmati perlakuan Jong In yang mengusik hidupku.

Kakeknya meninggal karena bunuh diri. Memikirkan hal menjijikkan itu sebuah ide terlintas di otakku. Bisakah kubuat Jong In mati dengan bunuh diri?

__Friend&Foe©Zulaipatnam__

“Tidak pergi ke kampus?” tanya Ibu memandangiku dari ambang pintu, saat itu terjadi aku tengah bersiap dengan spatu cats hitamku, selesai menguncir cepol satu, dan bersiap dengan jaket jeans abu-abu diatas ranjang.

Menggeleng sebagai jawaban, tak ada jadwal hari ini, Jum’at bukan hari produktif di kampus tempatku belajar. Ibu mengangguk faham, beliau menapakkan kakinya masuk kedalam kamar, duduk disampingku sampai ranjang bergoyang pelan.

“Sup kentang buatan Hwa Young lumayan enak.” Tak mengerti kemana arah pembicaraan.

“Hn.” Sebagai jawaban yang mungkin akan terdengar puas bagi pendengaran Ibu.

“Sudah lama omma ingin menanyakan hal ini padamu.”

“Menanyakan apa?” menenggakan tubuh, aku sudah selesai dengan spatu catsku. Ibu memandang begitu dalam, tak ada yang kumengerti mengapa beliau melakukannya, sebelum ini pembicaraan kami terasa tak seintim ini.

“Kau dan Hwa Young bertengkar?” mataku terkesiap.

“Bagaimana bisa omma berfikiran seperti itu?” elakku bersama kekehan aneh yang secara reflek ikut mengiringi kalimat barusan.

“Biasanya kalian akan menginap dirumah masing-masing, mendengarkan lagu dari pria berambut gimbal sambil berkaraokean keras-keras, bergosip sampai malam dan tertidur di lantai. Biasanya kalian melakukan hal seperti itu, tapi sudah lama omma tidak melihatnya. Kalian bertengkar?” penuturan cukup panjang itu sudah cukup menohokku, sebenarnya siapa Hwa Young bagi keluargaku itu tidak penting, hanya saja Hwa Young sudah masuk dalam daftar orang terdekat dalam hidupku. Otomatis ke-absenan Hwa Young dalam setiap kegiatan akan menimbulkan pertanyaan.

“Rutinitas kami berubah, omma. Hwa Young dan aku tak satu sekolah lagi, kami berbeda Universitas. Tentu saja rutinitas juga berubah, omma tahukan pekerjaan mahasiswa sekarang? Terlalu sibuk dengan tugas yang menumpuk.” Elakku lagi, berharap improfisasi kecil yang kugunakan tak terlihat seperti mengada-ada.

Ibu menarik nafas dalam, aku tahu beliau tak akan mempercayai semua penjelasanku.

“Kalau begitu, cari lagi alasan yang bisa menjelaskan mengapa kau beradu argumen dengan Hwa Young dan kawannya beberapa hari lalu!” Binggo. Itulah Ibu, terlalu memperhatikan sekitar dan tak pernah puas dalam satu penjelasan.

Kutarik nafasku dalam.

__Friend&Foe©Zulaipatnam__

Seperti yang kukatakan, hari Jum’at tak ada kegiatan kampus.

Kulajukan langkahku menuju café yang entah mengapa sering sekali kudatangi. Kali ini, aku datang ketempat ini bersama tujuan. Jong Dae, pria itu selalu akas membukakan pintu untukku, menebar senyum ramahnya, menuntun ke kursi kosong dan menyodorkan buku menu yang selalu kutolak dengan alasan akan memesan nanti jika aku ingin.

“Kurasa tujuanmu datang ke café kami bukan karena menu yang kami sediakan, nona Chae Rin.” Terang Jong Dae mengumbar pendapatnya. Jong Dae benar, berapa persen kedatanganku ke cafenya bukanlah untuk memesan menu, melainkan pada tujuan abstrak yang entah kapan itu mulai terwujud menjadi structural. Mencari tahu mengenai Jong In.

“Bagaimana bisa kau beranggapan seperti itu? Setiap aku pergi kesini selalu ada gelas teh di mejaku. “ ralatku akhirnya, Jong Dae meniup poni ratanya. Wajahnya terlihat sedikit kesal.

“Kau tidak membaca menu yang terpampang jelas di buku menu atau papan disana!” tunjuknya pada papan kayu besar di atas kepala bartender yang sibuk bekerja. “Tak ada teh dalam daftar menu yang kami miliki, nona Chae Rin!” imbuhnya penuh penekanan. Aku terkekeh tak percaya.

“Ternyata kau bisa marah juga, ya?” gelakku menahan gejolak aneh kala mendapati Jong Dae menampakkan tampang kesal padaku.

“Chae Rin..!! aku bersungguh-sungguh.” Dengusnya merangkul nampan hitam yang selalu ditentengnya.

“Baiklah! Boleh aku pesan sekarang juga?” tawarku mencairkan suasana, Jong Dae menarik kertas kecil dari saku celananya, menekan tombol pen untuk mengeluarkan ujungnya, bersiap menulis pesanan yang akan keluar dari mulutku tentunya. “Teh madu.” Ia mengumpat kesal dan berjalan menjauhiku.

“Sudah kuduga. Gadis itu pergi ke café hanya karena kau Kyung Soo.” Dibantingnya nampan tadi tepat di depan bartender faforitku.

Kyung Soo yang tak tahu menahu segera mengedarkan pandangnya, tidak butuh waktu lama sampai kami bertemu pandang. Mengangkat tangan untuk memberinya sapaan dan dia tersenyum manis padaku. Do Kyung Soo, aku heran bagaimana dia bisa bersikap baik dan begitu terbuka pada meski nyata kukatakan ingin adik sepupunya untuk terbakar jadi debu kala itu.

“Pesanan anda, Teh madu yang tak pernah ada di buku menu kami.” Sebuah nampan bergeser di tengah mejaku bersama cangkir putih polos berisikan cairan berwarna coklat muda, aroma madu menguar dari dalamnya.

Mendongakkan kepala untuk melihat siapa pelayan baik hati itu. “Tak mungkin Jong Dae bersedia mengantar pesananku.” Terangku membaca kondisi. Yah, si Jong Dae sudah sibuk menanggapi pesanan masuk akal seperti dalam buku menu mereka. Dia bolak-balik meja untuk melakukan hal itu, pekerjaannya.

“Dia marah besar. Lain kali langsung ke mejaku saja, tak perlu menggunakan jasa pria bebek itu, otte!” tegasnya memberikan solusi yang menyenangkan. Aku mengangguk. “Minumlah pesananmu, kubuatkan dengan sepenuh hati.” Imbuhnya membuatku terkesan.

Menyesap sedikit untuk membaca rasa dari racikan sepenuh hatinya, hatiku rasanya kecewa.

“Tak ada perbedaan berarti dari teh madu yang sering kuminum meski kau membuatnya dengan sepenuh hati.” Komentarku akhirnya, nampak Kyung Soo mengerutkan dahinya.

“Yah. Itulah dirimu, menyamakan semuanya dengan pengalaman lama. Berusahlah mencari spesialnya, meski sedikit saja tapi berusahalah! Aku susah payah membuatkan pesanan anehmu itu, Chae Rin.” Nadanya seolah meminta, memelas, dan menentang.

“Yang kupesan hanya segelas teh, kau membuatkannya dan menyodorkan pada mejaku. Jika kau menolak pesananku, aku tidak akan melakukannya lagi, sungguh.” Desisku membela diri, entah mengapa aku menanggapi kalimatnya dengan perasaan tak nyaman. Seolah Kyung Soo terganggu pada apa yang kulakukan.

Dia mengusap wajahnya, selesia melakukan hal itu kepalanya tertunduk padaku. “Bukan begitu maksudku.” Desahnya bernada bersalah. Kyung Soo selalu melakukannya, dia mengalah pada pendapat yang tak sejalan. Pengikut yang baik namun tak membuat yang diikuti senang.

Berakhirlah semua hal konyol tadi dengan Kyung Soo menuruti permintaanku. Dia melepas seragamnya, pergi denganku ke suatu tempat yang aku pun tak yakin akan mengajaknya kesana.

“Ini mungkin terdengar aneh, kau akan berfikir jika aku terlalu ingin ikut campur dan sangat kepo. Tapi sungguh hal tersebut mengusikku akhir-akhir ini.” Terangku memulai, Kyung Soo baru saja melempar kailnya. Kami berada di kolam pancing di tepi kota.

“Katakan saja! Jika ada hubungannya dengan Jong In aku tak keberatan.” Dia mengucapkannya teramat santai, amat tenang seolah hubunganku dan Jong In teramat baik.

Kutelan salivaku dalam-dalam. “Aku ingin mendengar cerita kematian kakekmu lebih detail.” Kataku cepat, menahan nafas adalah hal yang bisa kulakukan untuk saat itu. Tak apa jika Kyung Soo melempar alat pancingnya, pergi meninggalkanku dengan perasaan marah. Aku mencoba.

Benar dugaanku, Kyung Soo meletakkan pancingnya, ia menekuk lutut mendekat pada dada, merangkulnya teramat erat bersama tatapan menerawang jauh pada titih imajiner di dalam kolam ikan.

“Ada pria asing yang lebih muda dari kakek, datang kerumah dan minta bantuan dana untuk perusahaannya yang hampir pailit, kakek membantunya, memberikan uang lebih dari cukup agar perusahaan pria itu kembali berdiri. Semuanya terjadi saat Jong In menginjak SMP dan aku baru saja masuk SMA.” Tutur Kyung Soo diluar perkiraanku, dia bahkan memulai kisah tanpa aba-aba.

“Beberapa tahun berselang, pria itu tak kembali kerumah. Oh yah, aku mengetahui semua cerita ini karena aku tinggal bersama kakek. Terakhir yang kudengar dia sudah menjadi pengusaha sukses, kakek tidak membencinya, meski sampai saat itu uang yang dipinjamkan kakek tak kunjung ia bayar.” Semuanya karena uang. Tak jauh dari perkiraan semula.

“Sampai hari itu datang, perusahaan kakek dinyatakan pailit, semua karena produk yang kakek jual tak laku dipasaran, berkat rumor penggunaan bahan baku berbahaya. Kakek membuka usaha di bidang obat-obatan pengusir serangga. Tak ada bank yang bersedia memberikan dana pinjaman, semua itu karena kekayaan yang dimiliki kakek tak mencukupi untuk melakukan pinjaman ke bank.” Kyung Soo kembali menerawang, aku suka dongeng, tapi jika si pendongeng mengalami tekanan emosi? Kyung Soo nampak menelan masa lalunya kala itu.

“Lantas, hubungan dengan pria yang meminjam uang tadi?” tanyaku mencari kerelevanan dari cerita awal Kyung Soo.

“Kau tahukan. Pinjaman yang diberikan kakek pada pria itu tak banyak, disaat seperti itu kakek pergi padanya, memohon untuk dikembalikan uangnya. Hanya saja dengan acuh pria itu menolak, meminta maaf dan bilang lain kali saja. Hati kakek hancur, perusahaannya tak mengenal lain kali. Pailit yang diderita perusahaan kakek butuh suntikan dana dengan cepat.”

“Kalian menyalahkan pria itu untuk kematian kakekmu?” tegasku menanggapi cerita panjangnya, Kyung Soo diam tak berkata. Ia terlalu asik menerawang titik imajiner.

“Tidak! Aku hanya berfikir pria itu jahat, tidak tahu balas budi, dan berhati batu. Mengenai kepailitan perusahaan sepenuhnya salah system yang diterapkan staf perusahaan kakek.” Kyung Soo memang pria yang bijaksana, entah mengapa sifat itu tak tertular pada Jong In.

“Lalu 4 hari setelah kejadian itu, kami temukan kakek tewas di dalam kamar mandi, tengkurap dibawah shower yang masih mengucurkan air hangat. Semula kami meyakininya sebagai serangan jantung, tapi setelah kutemukan obat pengusir serangga terselip di dalam saku handuk mandinya. Kakek telah bunuh diri. Mati dengan produk yang ia banga-banggakan sampai berjuang sekeras mungkin. Aku mengutuk mengapa bisa kakek meminum obat sialan itu, menjijikkan. Jika saja saat itu aku bisa membantu kakek menuntaskan masalahnya. Semuanya tak akan pernah seperti ini.” Sesal Kyung Soo yang kala itu menjadi pihak apatis.

Pria itu menunduk dalam, menyembunyikan kepalanya diantara dada dan lutut. Sebuah getaran kecil mengiringi desakan tangis.

Mianhae karena sudah membuatmu menceritakan hal itu. Bukan maksudku untuk membuatmu- Kyung Soo..!! Apa yang kau- lepaskan!” Rontaku kala dengan cepat dia menarikku dalam pelukannya, kepalanya bersandar tepat di pundak kananku, basah segera kurasakan disana.

“Jong In amat marah pada pria itu, dia tak dapat berfikir rasional, sampai detik ini rasa bencinya terus berkembang pada pria itu. Lee Taem Baek.” Bisikan Kyung Soo terasa menusuk ulu hatiku, meski bernada sesak yang terdengar tak jelas.

Kucengkram erat kemejanya, memberikan bekas kusut disana. Masih dia menahanku dalam pelukannya. “Jong In menaruh dendam pada pria itu.”

Ditepian kolam pancing ini. Aku sadar mengapa Jong In teramat membenciku.

__Friend&Foe©Zulaipatnam__

 

 

40 tanggapan untuk “FRIEND AND FOE #Sobekan Keempat”

  1. baca dari awal sampe sobekan ke empat, ceritanya makin menarik!
    tapi makin kesini apa perasaan benci jongin ke chae rin berubah jadi cinta? hmm makin penasaran. ditunggu kelanjutannya!

  2. Yuhuu Spadaa >_<
    ngebut baca ini dari sobekan satu sampe yg keempat 😮 tapi maap tor baru bisa comen yg sobekan ini hehe 🙂 soalnya ngebut tor *ngananya-_-*
    wuahh makin paham ini cerita alurnya bejimane, soalnya ada bahasa bahasa yg ane kurang paham tor hehe:)
    KEEP WRITING THOR 🙂 DAN JANGAN KELAMAAN Oceehh (y)

  3. This is so heavy…. dan sastra banget!! But, I love this story so much~
    Can’t wair for next story! =)

    Keep writing and fighting!! ^^

  4. Jadi gara-gara kakek nya meninggal bunuh diri jong in benci sama chaerin,, gara-gara dendam k ayahnya chaerin …
    makin penasaran sama lanjutannya,, next chap thor >.<

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s