Happy End Life

Judul : Happy End Life

Author : Seu Liie Strife

Main Cast: Kris Wu (EXO-M)
Jung Shiera/Shiera Wu (OC)

Supporting Cast: Park Chanyeol (EXO-K)
Rie Hanaki (OC)
Kim Jongdae/Chen (EXO-M)
Song Ye Eun (OC)

Genre : Married Life, Romance

Facebook : Hikari Keyheart Kurosaki

Twitter : SeuLieOctaviani

Instagram: @seu_liie

Pin : 24D7E4E6
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
ff8
Tok! Tok! Tok!

“Hey, kau tidak sekolah? Cepat bangun!” Pagi ini aku dikejutkan oleh suara ketukan pintu kamarku.

Tok! Tok! Tok!

“Shieraaa!!”

“Neeee~~~ Aku sudah banguuunn~~~” Teriakku dari dalam.

Aku bergegas mandi dan kemudian membereskan buku – buku ku untuk sekolah.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Morning~” Sapaku pada lelaki yang sudah duduk di ruang makan.

“Morning.. Cepatlah duduk dan makan. Aku bisa terlambat nanti.”

“Aku sudah bilang kan? Aku tidak usah diantar…” Dia hanya menatapku tajam sembari mengolesi rotinya dengan selai.

Heran dengan lelaki ini? Dia suamiku. Kris Wu. Aku menikah dengannya bukan karena aku sedang mengandung di luar nikah atau karena perjodohan kedua orang tua kami. Kami memang menikah atas dasar…em…cinta.

Walau pun sudah menikah, kami tidak melakukan apa yang sudah layaknya sebagai suami istri. Lihat saja kan? Kami tidur di kamar yang terpisah. Ini karena aku masih sekolah. Dan dia harus menunggu sampai 5 bulan lagi. Hahahaha. Skinship yang kami lakukan tidak lebih dari cium tangan, cium pipi atau kening. Hanya sekali dia menciumku di bibir. Hanya saat upacara pernikahan.

“Kapan kau ujian?”

“Bulan depan, oppa…” Jawabku.

“Bulan depan? Dan kau masih bersantai tidak belajar?”

“Aku belajar kooookk…”

“Aku tidak pernah melihatmu memegang buku..kau hanya memegang komik romance..”

“Bagaimana kau mau melihat…kau selalu pulang tengah malam…” Ucapku lirih.

“Aku pulang malam juga untuk bekerja…untukmu juga…” Aku lebih memilih diam dari pada aku menanggapinya. Ini yang tidak kusuka darinya. Dia tipe pria yang workaholic. Dan dia selalu menyampingkan kesehatannya.

“Kau marah denganku?” Dia meraih tanganku. Aku masih tetap tidak menggubrisnya.

“Raa~” Isssh!! Apa dia tidak mengerti juga? Walau pun baru menikah dua bulan, seharusnya ia tahu kalau aku tidak suka jika dia seperti itu.

“Mianhae…okay, aku janji tidak akan pulang larut malam.” Dia mencium tanganku.

“Kau sudah mengatakannya lebih dari lima kali. Tapi nyatanya tidak pernah dilakukan sekali pun saja. Kau tahu, aku juga bosan di rumah sendirian, oppaaa!!!” Ujarku melepaskan tanganku darinya.

“Okay, untuk malam ini aku benar – benar akan pulang cepat. I promise…”

“Yakseo?”

“Ne…kalau aku ada meeting, aku akan meng-cancel nya. Kalau ada sesuatu yang mendadak, aku akan minta diwakilkan saja. Dan aku tidak akan membawa pekerjaan ke rumah.” Ujarnya panjang lebar meyakiniku.

“Tapi hari berikutnya kau akan pulang malam terus kan?” Untuk sesaat dia terdiam.

“Mungkin aku akan membagi pekerjaanku dengan assistantku.”

“Kau tidak berbohong kan?”

“Anii..cepat habiskan makananmu, lalu kuantar kau sekolah.”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Shiera menikah dengan pria yang terpaut usianya 4 tahun ini mungkin sebuah keanehan. Pertemuan mereka terjadi saat di Tokyo. Saat itu Shiera masih kelas dua SMA. Kedua orang tuanya berpindah tugas ke Tokyo. Mereka berdua sama – sama bertemu di toko buku. Sebenarnya saat itu Shiera sedang mencari komik favorite-nya. Komik buatan Yagami Chitose. Dia sangat menyukainya karena cerita dan gambarnya sangat menarik!

Saat itu gadis itu melihat seorang pria yang kerepotan membawa banyak buku di tangannya. Dan bodohnya, dia membawa tujuh buku itu sekaligus sampai tidak memperhatikan langkahnya hingga semua bukunya terjatuh.

BRUKK!! BRUUKK!!

“Aigoo~ Kasihan sekali laki – laki itu.” Batin Shiera yang langsung meletakkan komik di tangannya dan membantu lelaki itu.

“Anata wa daijoubu desuka(apa kau tidak apa – apa)?” Tanya Shiera yang membantu menyusun buku – buku tebal itu.

“Hai. Arigatou…” Jawab lelaki itu yang kemudian mengambil buku – buku itu.

“Issh! Tidak sopan sekali!” Gumam Shiera.

Shiera pun kembali ke tempat rak komik – komiknya. Dia sibuk memilih komik dengan sinopsis yang menarik.

“Hari ini aku beli 3 komik saja lah.” Batin gadis itu.

“Hey you…” Shiera menoleh ke kiri, kanan sisinya. Tidak ada siapa pun.

“Me?” Tunjuknya pada dirinya sendiri. Lelaki berambut pirang itu menghampirinya.

“Yes, you…here..for you..” Ujarnya memberikan paper bag yang berisikan beberapa buku.

“Novel? Ah! Bukan..ini buku self improvement?” Batin Shiera.

“Present for you(hadiah untukmu).” Ucapan lelaki itu menyadarkan lamunan Shiera.

“Present(hadiah)? For what(untuk apa)?” Lelaki itu tidak menjawab Shiera dan hanya meletakkan paper bag itu di samping gadis itu kemudian pergi dari hadapan gadis itu.

“Aneh sekali pria tadi…hiiii..!! Apa dia ahjussi – ahjussi mesum yang berkeliaran?” Shiera bergidik ngeri.

Setelah pertemuan itu, Shiera kembali ke toko buku itu untuk berterima kasih pada lelaki itu. Hari kedua, hari ketiga, hari ketujuh, mereka berdua tidak kunjung bertemu. Sampai akhirnya, mereka kembali tidak sengaja bertemu saat Shiera berada di sebuah cafe dengan teman – temannya.

“Shiera-chan, kami harus duluan..soalnya kami ada les..kau bagaimana?”

“A…aku masih mau di sini…” Jawab gadis itu tanpa menoleh.

Setelah memastikan teman – temannya pergi, Shiera mengikuti lelaki itu yang juga pergi dari cafe itu. Karena terburu – buru mengikuti, Shiera terkena pintu otomatis cafe itu.

“Awww!! Appo~!!” Gadis itu memegangi keningnya. Lelaki itu pun menoleh karena mendengar teriakkan.

“Oh, God!” Lelaki itu kembali masuk dan menghampiri Shiera.

“Oh tidak! Aku ketahuan?” Batin gadis itu.

“Are you okay?” Tanyanya.

“Lelaki ini selalu menggunakan bahasa Inggris. Apa dia orang asing?” Batin Shiera.

“Ah! You…”

“Shi…Shiera! Thanks!” Ujar gadis itu yang kemudian pergi dari hadapan lelaki itu. Tanpa disadari gadis berambut gelombang dan panjang itu, ponselnya terjatuh.

“Hyaaaaa!!! Mana ponselku???!!!” Gumam Shiera.

“Mencari ini, agasshi?” Tanya lelaki itu menunjukkan ponsel putih Shiera.

“Dia bisa berbahasa Korea? Dari mana dia tahu aku orang Korea?” Batin Shiera.

Seolah bisa membaca pikirannya, lelaki itu menjawab, “Ponselmu bertuliskan hangeul…aku Kris. Lain kali, hati – hati ya..” Ujarnya memberikan ponsel gadis itu.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Setelah itu mereka berdua pun sering bertemu secara alami yang terjadi selayaknya kita menghirup udara bebas. Hubungan mereka pun lebih dari sekedar teman. Shiera menjalin hubungan dengan Kris yang usianya terpaut 4 tahun di atasnya.

“Ra…aku tahu ini pasti akan menyusahkanmu…tapi, setelah aku lulus kuliah ini, aku akan kembali ke Seoul.” Ujar Kris menggenggam tangan gadis itu.

“La..la…lalu oppa mau kita…putus…??” Tanya Shiera lirih.

“Annii..bukan seperti itu…” Shiera tampak menunggu kalimat Kris berikutnya.

“Menikahlah denganku.”

“Mwo?!!” Gadis yang bahkan masih memakai seragam sekolahnya itu terkejut setengah mati mendengar permintaan lelaki di hadapannya.

“Ta…ta..tapi..aku…sekolah..eomma..appa…” Gadis itu terlihat susah merangkai kalimatnya.

“Aku ingin membawamu ke Seoul..karena itu, menikah denganku…” Ujar Kris.

Di satu sisi, Shiera memang senang karena kalimat yang baru saja diutarakan lelaki di hadapannya. Namun di sisi lain, ia takut kalau ternyata perasaannya hanya dipermainkan.

“Apa dia benar ingin menikah denganku? Dengan anak SMA?” Batin Shiera.

“Kapan orang tua mu di rumah? Aku akan menemui mereka.”

“O..oppa…apa oppa be..benar serius denganku..??”

“Apa aku terlihat bercanda, Ra?”

“Dengar Ra, setelah lulus kuliah ini, aku akan langsung memegang perusahaan appa di Seoul. Dan mungkin aku akan sibuk dan susah menghubungimu. Kalau kau menikah denganku kan, kau akan selalu di rumah setiap aku pulang kerja.”

“Tapi bagaimana dengan sekolahku? Aku bahkan masih kelas 2 , oppa..”

“Kau lanjutkan di Seoul…”

“Geundae…kalau aku hamil??”

“Itu bagus kan?”

“Yaaa! Aku kan masih sekolaah!”

“Hahaha arraseo…arraseo…aku bersumpah tidak akan menyentuhmu sampai kau lulus SMA.” Ujar lelaki itu mengangkat tangan kanannya.

“Apa lagi yang kau khawatirkan nyonya Wu?”

“Yaak! Aku belum bilang aku bersedia!”

“Tapi kelak kau akan menjadi istriku.”

“Oppa…apa sekolahku nanti akan menerimaku walau pun aku sudah menikah?”

Lelaki itu terlihat berpikir sebentar, “Ada satu sekolah dimana kenalan appa ku menjadi kepala sekolahnya. Kau bisa belajar di sana, Ra.. Tapi kau juga harus merahasiakan pernikahan kita dari teman – temanmu nanti.”

“Kita harus pisah kamar, oppa!”

“Mwo? Kenapa se ekstrim itu?”

“Ekstrim? Tidak menurutku..hahaha.” Jawab Shiera.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Mereka berdua pun menikah. Kedua orang tua Kris, dan kedua orang tua Shiera menghadirinya. Tidak banyak tamu yang diundang dalam pernikahan mereka. Setelah mengucapkan ikrar pernikahan, tiba – tiba saja raut wajah gadis itu terlihat tegang. Lelaki itu hanya tersenyum kecil melihat gadis yang baru saja menjadi istrinya.

“Ommoo!! Ommooo!!” Batin gadis itu ketika Kris mendekatkan wajahnya.

Shiera hanya menutup matanya saat tangan lelaki itu menarik pinggangnya dan memeluknya. Dan detik selanjutnya gadis itu merasakan bibirnya tertempel sesuatu yang lembut. Ya, itu memang ciuman pertama bagi Shiera.

“Hyaaaaa!!! Di..dia menciumkuu!!” Batin Shiera yang kini wajahnya sudah memerah.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Di sekolahnya yang baru, di Seoul, Shiera benar – benar menutup pernikahannya. Dan Kris sendiri pun memberikan kebebasan bagi istrinya untuk bergaul selayaknya anak SMA normal. Dan ini sudah terjadi hampir setahun. Lima bulan lagi Shiera akan lulus SMA. Itu berarti ia akan memulai tugasnya sebagai seorang istri.

“Raa~~ Kau tidak lihat itu…”

“Lihat apa?”

“Itu…Chanyeol…dia menatapmu terus..”

“Chanyeol?”

“Kau tidak tahu Chanyeol? Park Chanyeol..kapten tim basket pria.. Dia keren kan?”

“Hhmm…keren sih..tapi aku tidak tertarik..” Jawab Shiera.

“Serius?? Tipe pria idamanmu seperti apa memang?”

“Dia tinggi, berambut blonde, beralis tebal, hhmm…mungkin seperti angry bird?”

“Ahahaha kau bercanda, Ra?”

“Annii, siapa yang bilang aku bercanda?”

“Hey..hey..dia menghampirimu! Aku pergi dulu yaa..”

“Hey! Chakkaman! Jangan tinggalkan aku!” Ujar Shiera.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Annyeong~” Assshh!! Menyebalkan sekali! Kenapa aku ditinggal?!!

“Boleh aku duduk di sini?”

“Silahkan~” Jawabku tersenyum.

“Park Chanyeol imnida~” Ujarnya mengulurkan tangan padaku.

“Shiera Wu..” Jawabku membalas jabatan tangannya.

“Kau suka membaca buku?”

“Uhmm ya..sedikit..kau juga?” Tanyaku.

“Tidak terlalu…aku lebih suka basket.”

“Pantas kau seperti ring basket.”

“Hng? Maksudmu?”

“Ya..tinggimu seperti ring basket…hahaha..”

“Haish! Kau ini…”

“Kau…bukan orang Korea, tapi bahasamu fasih sekali.”

“Hng? Aku?” Ini pasti karena aku mengatakan kalau namaku Shiera Wu.

“Ne. Siapa lagi memang?”

“Ahaha…aku orang Korea kok..”

“Tapi margamu..”

“Ada sesuatu yang membuatku berganti marga.”

“Kau ini sepertinya sangat misterius.” Ucapnya.

“Jinja?”

“Ne…aku semakin suka dengan tipe wanita seperti ini.” Apa dia menyatakan cintanya padaku?
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Aku pulang~” Kris benar – benar menepati janjinya pada Shiera untuk pulang lebih awal.

“Neee~~” Jawab Shiera dari dapur. Gadis itu masih terlihat sibuk dengan masakannya.

“Kau buat apa sih, honey? Sampai aku pulang pun tidak disambut..”

“Honey? Tumben sekali dia memanggilku ‘honey’…” Batin Shiera.

“Jangan dilihaaatt~~!!” Gadis berambut panjang itu mendorong suaminya keluar dari dapur.

“Kau buat apa?”

“Annio! Bukan apa – apa. Hanya coba – coba saja.”

Lelaki itu menyunggingkan senyumnya, “Apa yang kau buat?”

“Kyaaa bukan apa – apaaaa~~ Oppa mandi saja..lalu makan malam ya..”

“Kau sudah masak?”

“Sudah..” Jawab Shiera.

“Lalu, itu kau buat apa?” Tanya Kris.

“Nan eopseooo~~” Shiera mendorong Kris ke kamarnya dan memberikan pakaian ganti yang sudah ia siapkan. “Cepat mandi!” Ujar Shiera lagi.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Bagaimana bisa, aku bilang kalau aku gagal buat kue? Hyaaaa!!” Aku mengacak – acak rambut sendiri menatap kue yang bentuknya tidak beraturan.

Haisshh!! Eottohkeee~~ Kalau aku buang kue ini, pasti juga ketahuan Kris oppa kan? Kalau tidak dibuang, nanti aku ditertawai! Huuhh!! Bagaimana iniii??!!!

Oh! Aku tahu! Masukin kulkas saja dulu! Nanti kan oppa tidak lihat!

“Raa~”

“Hyaaa!!!” Aku langsung menyembunyikan kue itu di belakangku.

“Apa itu?” Tanyanya.

“Bu..bukan apa – apa, oppa.” Ujarku menunjukkan deret gigiku padanya.

“Tapi sepertinya kau menyembunyikannya dariku..” Dia berusaha melihatnya. Aku harus menghalanginyaaaaa!!

“Kue? Kau buat kue?” Huueee~~ Usahaku untuk menyembunyikannya gagal!

“Oppa, kajja kita makan!” Aku mengalihkannya. Dan untung saja dia menurut.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Honey, aku mau yang tadi dong.”

“Mwo?”

“Itu yang tadi di dapur…” Ujar Kris.

“Tidak enak, oppa..lagi pula bentuknya aneh!”

“Gwaenchana..aku akan memakannya. Cepat ambil!” Ucap Kris pada istrinya, Shiera.

“Kau pasti akan muntah, oppa..”

“Ck! Kau ini..” Kris langsung ke dapur dan mengambil piring untuk kue dari lemari piring di atasnya.

“Oppa, andwaeee~~” Shiera benar – benar berusaha mencegah Kris memakan kue itu.

Terlambat. Kris sudah memasukkan kue itu ke dalam mulutnya. Untuk sesaat lelaki itu terdiam. “Ra, ini enak kok. Kenapa kau menyembunyikannya?”

“Eoh? Jeongmal?”

“Mashitta! Coba ini..” Kris menyuapi Shiera dengan potongan kecil kue itu.

“Hey, ini memang enak..” Batin Shiera.

“Tapi bentuknya aneh, oppa…”

“Tidak masalah…yang penting ini enak.” Jawab Kris sambil memakan kue itu.

“Hey, by the way..kau tidak ada tugas kah dari sekolah?”

“Oh! Ya…ada..banyak sekali, oppa..” Gadis itu mencuci piring bekas makan malam tadi dan kemudian mengambil beberapa bukunya dan tugas – tugasnya untuk dibawanya ke ruang tengah untuk dikerjakannya.

“Waah! Sebanyak itu kah tugasmu?”

“Ne oppa.. Sebenarnya yang untuk Senin, hanya ini. Tapi, aku mau mengerjakan semuanya. Supaya nanti, aku bisa lebih lama istirahatnya.”

“Aigoo~ Kau harus tidur kan? Ingat, waktu tidurmu jam 8!”

“Haish oppa… Besok kan Sabtu..so, aku boleh dong tidur larut malam?”

“Tidak boleh!”

“Huuh! Masa bodoh! Pokoknya aku mau kerjakan ini sampai selesai!”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Dan benar saja, Shiera mengerjakan semua tugasnya hingga larut malam.

“Haish! Anak itu..sudah jam sepuluh malam, masih saja mengerjakan tugas..” Kris pun menghampiri gadis yang berada di ruang tengah itu dengan buku yang bertumpuk di sebelahnya.

Tapi sepertinya gadis itu tertidur dengan posisi terduduk dan kepala yang direbahkannya di atas meja. Tangannya terlihat masih menggenggam pulpen.

“Benar kan pikiranku…ketiduran di sini..” Batin Kris yang segera menggendong istrinya ke kamarnya. Lelaki itu kemudian membaringkan istrinya di atas ranjang pink kesayangan istrinya.

“Hng~” Gadis itu merasa tidurnya terusik saat suaminya membaringkannya.

“Have a nice dream, honey..” Ujarnya setelah menyelimuti istrinya dan mengakhirinya dengan kecupan di keningnya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Huwwaaaaaa!!!!!!!! Kenapa aku di sini??!!!! Ya Tuhan…tidak terjadi apa – apa kan?!!” Aku segera membuka pintu kamarku.

“OPPAAA!!! OPPAAA!!”

“Wae? Kenapa kau teriak – teriak?” Dia muncul sambil membawa bukunya.

“Kau yang memindahkanku ke kamar?”

“Ne..kau mau masuk angin tidur di luar, eoh?”

“Oppa tidak menyentuhku kan?”

“Tentu saja aku menyentuhmu. Bahkan lebih dari sentuhan kurasa..apa ya…hhmm..pelukan? Ciuman juga sih..” Mwo?!! Dia bisa bicara dengan setenang itu? Eottohkeee!!!

“Mwoya?!!!” Seruku.

“Wae? Padahal semalam kau manja sekali denganku..sampai – sampai kau bersandar di dadaku.” Dia menghampiriku dan kini berdiri tepat di hadapanku.

“Tidak…ini tidak mungkin…oppa kalau aku…awww!!” Aku mengusap hidungku karena baru saja ia menariknya.

“Kau terlalu banyak baca komik romance! Bulan depan ujian, tapi kau sepertinya masih baca komik terus.”

“Aniii! Kau..kenapa kau melakukannya sebelum waktu perjanjian?”

“Ahahahhaha.”

“Yaak! Kenapa tertawa?!” Aku memukul lengannya.

“Ekspresi wajahmu..hahaha lucu sekali!” Lagi. Aku lengannya. Dan kali ini aku menatapnya seolah minta penjelasan darinya.

“Aku hanya menggendongmu ke kamar, Ra..dan saat kau kugendong, kau sendiri yang bersandar di dadaku.”

“Lalu apa maksudmu dengan kata ‘pelukan’ dan ‘ciuman’ itu?” Tanyaku.

“Aku menggendongmu, berarti aku juga memelukmu kan? Haish! Kau ini..”

“Lalu ‘ciuman’??”

“Aku mencium keningmu.. Why? Tidak boleh, eoh?”

“Jeongmal? Tidak lebih?” Tanyaku memastikan.

“Kau mau yang lebih?” Dia menggamit pinggangku dan mendekatkanku padanya.

“Yaakk!! Oppaa~!”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Tiba – tiba saja ponsel gadis itu berbunyi di kamarnya.

“Ponselkuuuu~~” Seru Shiera yang mendorong Kris dan menuju kamarnya.

“Yobseooo?” Sapa gadis itu.

“Ra, ini aku..”

“Nugu ya?”

“Chanyeol.”

“Mwo??!! Da..dari mana kau tahu nomor ponselku?”

“Dari temanmu..”

“Temanku? Nugu?”

“Seseorang…”

“By the way, hari Sabtu malam ini, kau ada waktu?”

“Malam ini?”

“Ne…apa kau sibuk?”

“Uhmm….aku tidak tahu…nanti kuhubungi lagi ya..” Ujar Shiera.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Haruskah aku bilang pada Kris oppa? Sebenarnya, aku sangat ingin main keluar, berkencan dengan seseorang, berfoto bersama teman – teman..tapi, aku kan sudah bersuami.

Sret! Tiba – tiba saja sebucket bunga tepat berada di hadapanku. Ku dongakkan kepalaku dan melihat ke belakang. Kris oppa? Dia bisa se-romantis ini?

“Untukmu. Mungkin sedikit layu karena harusnya kuberikan kemarin. Tapi kau ketiduran.” Ujarnya yang kemudian duduk di sampingku, di sofa ayun taman belakang rumahnya.

“Gomawo, oppa…” Ucapku yang kemudian memeluknya dari samping dan menyandarkan kepalaku di bahunya.

“Kau kenapa? Tidak biasanya menyendiri di belakang.”

“Hng…itu…”

“Wae?” Tanyanya.

“Bagaimana kalau aku juga mengetesnya? Mengetes cintanya padaku.” Batinku lagi.

“Ra..??”

“Seseorang mengajakku kencan malam ini..” Raut wajahnya pun berubah seketika.

“Kencan?”

“Ne..boleh kah?” Tanyaku. Kuharap dia tidak memberiku izin. Karena..sebenarnya aku kehilangan rasa percaya diriku menjadi istrinya.

“Gwaenchana…pergilah..mau kuantar?” Mwo?! Bisa – bisanya dia seperti itu!!

“Oh ya, Ra…kau buat fiction di net book aku? Ceritanya seru loh..pasti terinspirasi dari komik – komik romance mu ya? Aku tunggu kelanjutan ceritanya ya..” Dia mengacungkan ibu jarinya.

“Aku kan sudah tulis file itu ‘rahasia’! Tapi kenapa kau buka juga?!!”

“Kurasa kalau judulnya ‘rahasia’ tidak tepat, Ra..hhmm…apa ya..harusnya..”

“Uukkhhh!!! NEO PABBOYA!!!!” Aku menghentakkan kakiku dan melempar bunga tadi padanya sebelum aku pergi dari hadapannya.

“Pokoknya aku akan benar – benar pergi dengan Chanyeol!! Lelaki yang jauh lebih keren darimu!!” Ujarku lantang.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Jam setengah tujuh malam, Shiera benar – benar pergi dengan Chanyeol. Gadis itu membuat janji untuk bertemu di depan sebuah cafe dengan Chanyeol.

“Hey! Sudah lama menunggu?” Sapa Shiera yang baru saja datang.

“Tidak juga kok. Kajja, kita langsung ke theater saja. Aku sudah pesan tiketnya.”

“Jeongmal?”

“Ne..ini tiketnya..” Ujar yang menunjukkan dua lembar tiket theater.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Bagaimana menurutmu film tadi?” Tanya Chanyeol padaku saat kami duduk berhadapan saat berada di cafetaria cinema itu.

“Itu film yang sangat keren! Kau tahu, aku suka film ber-genre action-romance!” Seruku.

“Syukurlah kau menyukainya…” Dia kemudian meraih tanganku dan kembali melanjutkan ucapannya, “Karena aku juga menyukaimu yang menyukai film itu.” Dadaku sedikit berdebar ketika dia mengucapkan kalimat itu dengan lancar.

“Cha…Chanyeol..kau ini..kau ini bicara apa..?”

“Aku menyukaimu…aku ingin memiliki hubungan khusus denganmu. Itulah tujuanku mengajakmu kesini.” Oh Tuhan! Bagaimana iniii??? Jujur, dadaku berdegup kencang. Tapi, bagaimana dengan Kris oppa? Hey! Aku bahkan sudah menjadi istrinya.

“Shiera..??”

“Mi..mianhae…aku..aku menyukai orang lain. Dan aku juga mencintainya. Jeongmal mianhae, Chanyeol..”

Suasana pun tiba – tiba jadi canggung. Dan bahkan untuk meminum hot chocolate di hadapan kami saja, kami benar – benar canggung.

“Uhmm…Chanyeol, apa…kita bisa pulang sekarang? Orang rumahku pasti akan cerewet.” Tanyaku hati – hati.

“Ne, kajja kita pulang…” Ujarnya dengan tersenyum. Tapi, senyumannya sangat dipaksakan. Aku tahu, perasaanku kini padanya hanya untuk pelarianku saja. Seandainya aku bisa mencintai lelaki ini dengan tulus, pasti dia tidak akan berwajah seperti ini.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Saat kami menunggu bus di halte, suasana benar – benar penuh kecanggungan. Tidak ada satu pun kalimat yang terlontar dari mulut kami. Sampai akhirnya ia berkata, “Mianhae Shiera-ssi…sepertinya kau membenciku. Aku sampai mengajakmu saat ini, sepertinya kau semakin membenciku.”

“A..anni…aku tidak..”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Tiba – tiba saja sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti tepat di depan halte tempat mereka berdua menunggu bus. Seorang pria pun keluar dari mobil tersebut.

“O..oppa..?” Batin Shiera saat melihat pria yang keluar dari mobil itu adalah suaminya.

“Kajja, kita pulang yeobo..”

“Yeobo?” Batin Chanyeol saat melihat pria itu.

“Oh, kau..sepertinya pria yang bernama Chanyeol bukan?”

“Dia mengenaliku?” Batin Chanyeol lagi.

“Terima kasih karena sudah menjaga istriku hari ini.” Ujar Kris kemudian yang menggenggam tangan Shiera.

“Istri?” Tanya Chanyeol.

“Ya, kami sudah menikah..rahasiakan ini dari teman – temanmu ya. Aku akan memberikan apa pun yang kau mau. Tapi tidak dengan Shiera. Aku tidak akan melepaskannya untukmu, karena dia milikku. Alasanku untuk hidup.” Ujar Kris lagi.

Pernyataan itu sukses untuk menjatuhkan mental Chanyeol yang masih belum memiliki pemikiran dewasa seperti Kris.

“Kau mau kuantar pulang juga? Naiklah ke mobilku.” Ujar Kris.

“Anniya…gamsahamnida..aku bisa pulang sendiri.” Ujar .

“Shiera-ssi, terima kasih karena sudah menemaniku.” Ujar Chanyeol lagi. Tanpa diduga oleh lelaki yang memiliki deret gigi yang sangat putih, gadis itu memeluknya, “Mianhae~” Ucapnya yang kemudian pergi bersama suaminya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Kenapa kau menjemputku?”

“Kau tidak baca pesan dariku, eoh?” Tanyanya balik padaku dengan pandangan yang menatap ke depan, pada jalanan di hadapannya.

Aku terdiam saat dia melontarkan kalimat itu. Aku memang mengabaikan pesannya. Karena kupikir itu adalah pesan yang tidak penting.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Gadis itu menggigit bibir bawahnya untuk menahan tangisnya. Dia merasa bersalah pada lelaki di sampingnya yang tidak lain adalah suaminya. Dia berpikiran kalau suaminya tidak peduli dengannya, tidak peduli ia pergi dengan siapa atau pun kemana.

Tanpa disadari gadis itu ekor mata Kris melihat padanya. Mendapati butiran air menetes dari kelopak mata Shiera, ia menghentikan laju mobilnya di pinggir jalan.

“Uljimma..wae?” Tanyanya halus menggenggam tangan gadis itu.

“Mianhae, oppa…mianhae~” Shiera hanya menangis dengan wajah tertunduk di hadapan Kris.

“Uljimma~ Aku tidak mau melihatmu menangis.” Ibu jarinya diusapkan pada wajah gadis itu untuk memutus aliran air matanya.

“Aku salah padamu, oppa…aku selalu berpikir, aku ini istri yang tidak berguna. Setiap hari menyusahkanmu, selalu egois, tidak bisa diatur..sedangkan kau, kau selalu tenang menghadapiku….” Tangis gadis itu.

“Anni, kau bukanlah istri yang tidak berguna. Kehadiranmu di hidupku, membuat hidupku tidak dipenuhi dengan kejenuhan. Tingkahmu, selalu menjadi penghiburku di saat aku pulang kerja.” Jawab Kris.

“Hanya saja, aku merasa sepertinya kau tertekan dengan status barumu sebagai seorang istri di usiamu yang belia ini. Aku hanya ingin memberimu kebebasan. Lewat cerita yang kau buat itu, aku mengerti perasaanmu. Kau sebenarnya ingin melakukan semua aktifitas yang kau tulis di cerita itu kan? Aku mencintaimu, Ra..aku hanya tidak ingin kau hidup seolah dalam sangkar karena kau sudah menikah denganku.. Ini alasanku membiarkanmu pergi dengan lelaki itu walau pun sebenarnya aku tidak rela melepasmu pergi dengannya.” Tangisnya kini diiringi dengan isakkan. Bahu Shiera bergetar saat Kris mengucapkan kalimat – kalimat itu.

“Baby, don’t cry..” Gadis itu tetap menangis walau pun suaminya berkali – kali menghapus air matanya. Tak kunjung berhenti menangis, lelaki itu mengangkat dagu gadis itu dengan telunjuknya, merengkuh wajahnya dan mencium bibir istrinya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Berhenti menangis, atau aku lakukan hal yang lebih dari sekedar ciuman?” Ujarnya yang kemudian kembali mencium bibirku.

“Annii oppaaa~” Aku menahan wajahnya.

“Mianhae, oppaa~” Aku memeluknya erat.

“Kau tidak melakukan kesalahan, yeobo…” Dia kemudian mencium keningku.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Lima bulan kemudian, Shiera berhasil mencapai kelulusan nya. Orang tuanya pun menghadirinya. Namun, tidak untuk orang tua Kris. Mereka sedang berada di Italia untuk bisnisnya. Gadis itu berencana melanjutkan pendidikannya di dunia kedokteran. Dan berkat dorongan dari suaminya dan hasil jerih payah belajarnya, ia mendapatkan beasiswa di universitas ternama di Seoul.

“Eomma, appa, tidak ke rumah dulu? Kenapa mau langsung pulang?” Tanya Shiera pada kedua orang tuanya setelah acara kelulusan.

“Anni, kami juga masih ada kesibukkan.” Jawab ibu dari gadis itu.

“Oh, Kris..ikut appa sebentar ke parkiran.”

“Ne, appa..” Jawab Kris yang mengikuti ayah mertuanya ke pelataran parkir.

“Ini untukmu. Dan ini untuk Shiera.” Ujar pria paruh baya itu memberikan dua paper bag pada pria dengan tinggi 187 cm itu.

Lelaki bermarga Wu itu menaikkan sebelah alisnya berusaha berpikir apa maksud diberikannya minuman ini, “Apa ini, appa?”

“Itu untuk kalian. Ternyata kau bisa tahan juga ya setahun kau tidak satu ranjang dengan Shiera..” Pria paruh baya itu menepuk bahu Kris.

“Mwo? Apa ini….minuman…” Kris mencoba menebak fungsi minuman yang ada di tangannya.

“Hahaha kau benar! Kau bisa meminumnya malam ini.” Kris hanya tertawa mendengar saran ayah mertuanya, “Itu pun kalau Shiera mau. Hahaha.” Kelakar Kris menanggapi.

“Keluarga Jung hanya memiliki satu anak. Karena itu, sebenarnya kami berharap segera menimang cucu..” Ujar lelaki bermarga Jung tersebut.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Oppa, hari ini aku masak enak deh!” Seruku saat perjalanan pulang.

“Hhm? Masakanmu selalu enak kok, yeobo..”

“Oppa, mau kubuatkan apa?”

“Hhmm…apa ya? Spaghetti? Atau..lasagna..aku ingin makanan western, yeobo~”

“Kalau begitu kita ke super market ya, oppaaa~”

“Okay.” Ujarnya yang kemudian melajukan mobilnya ke arah yang kuinginkan.

Setibanya di super market, aku langsung mengambil semua kebutuhan. Eoh! Aku mau buat salads khas Indonesia! Asinan! Ahahaha.

“Kajja, kita langsung bayar.” Ujarnya sambil mendorong trolley belanjaan.

“Chakkaman, oppa! Ada yang ketinggalan.” Seruku yang langsung ke bagian sayuran meninggalkan Kris oppa di belakangku.

Saat aku sibuk memilih sayuran, tiba – tiba saja sebuah tangan melingkar di bahuku, “Hyaa!” Aku nyaris saja memukulnya.

“Kau kenapa?”

“Kaget, tahu!” Ucapku ketus.

“Ahahaha..mianhae, yeobo.” Tangan kanannya yang melingkar di bahuku, mencubit pipi kananku.

“Oppaa!”

“Why?”

“Ck! Oppa, ambil cuka saja sana~”

“Cuka? Untuk apa? Kau mau buat kimchi?”

“Annio.”

“Jadi?”

“Sudah, ambil saja. Oh! Jangan lupa, cabai juga yaa!”

“Ne~ Kau tunggu sini. Trolley ini tidak kubawa, yeobo.”

“Okay!” Jawabku mengacungkan ibu jariku.

“Timun, kubis, wortel, tauge, kacang…” Gumamku saat memilih sayuran.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Setibanya di rumah, Shiera langsung mengeluarkan bahan – bahan tadi untuk dimasaknya.

“Oppa mau bantu aku?” Tanyanya.

“As your wish, honey.”

Gadis itu pun tersenyum, “Cuci sayuran tadi dong, oppa.”

“Semua?” Gadis itu mengangguk menanggapi pertanyaan Kris. Sementara itu, ia mengeluarkan spaghettinya dan mulai memasak spaghetti.

“Yeobo, kalau sudah di cuci bagaimana?”

“Belah kubisnya menjadi 4 bagian. Lalu, oppa rajang. Bisa?”

“Bisa kok.”

“Kalau kubisnya sudah, wortel dan timunnya juga ya, oppa.”

“Bagaimana potongnya?”

“Potong kecil – kecil, oppa.”

“Sebenarnya kau mau buat apa, yeobo?”

“Ada deeh!” Jawab Shiera.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Ta daaa!! Ini spaghetti carbonara-nya oppa!” Seruku.

“Pasti ini enak!”

“Kau belum mencobanya, oppa.” Ujarku kembali ke dapur.

“Hey, apa yang kau lakukan lagi di dapur?”

“Ada yang ketinggalan. Ini..saladsnya.”

“Salads?” Dia menaikkan sebelah alisnya menatap asinan di hadapannya.

“Ini bukannya yang tadi…”

“Ne..kau tidak tahu? Ini salah satu salads dari Indonesia.”

“Salah satu salads?”

“Ne..Indonesia itu punya banyak jenis salads. Ada asinan seperti yang kubuat ini, gado – gado, karedok, pecel, lalu…”

“Okay..okay..understood.” Ujarnya lagi.

“Kau sangat menyukai Indonesia sampai – sampai kau hafal jenis makanannya.”

“Iya dong! Bahkan jenis – jenis kainnya juga! Ada kain batik yang terkenal itu, kain songket, kain…”

“Boleh aku makan?” Dia menginterupsi ucapanku.

“Oppa, kau sangat lapar kah?”

“Ne…I’m starving, honey..”

“Cha! Makanlah, oppa…” Ujarku tersenyum.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Kau tidur saja duluan…”

“Memangnya oppa mau kemana?” Tanyaku. Hyaaa!! Ini pertama kalinya kami tidur satu ranjang setelah setahun menikah! Eottohkee~ Kenapa aku gugup seperti ini?!!

“Aku tidak kemana – mana. Hanya mau mengerjakan tugas kantor sebentar.”

“Di ruang kerjamu?”

“Annio. Aku akan membawa netbook ku ke sini. Tidurlah…”

Tak beberapa lama kemudian, dia memang membawa netbooknya ke kamar. Dan dia kemudian naik ke ranjang yang kutiduri sekarang.

“Kenapa masih belum tidur juga?” Tanyanya sambil menyelimutiku dan memasukkan setengah badannya ke dalam selimut yang sama denganku.

“Belum mengantuk, oppa.”

“Hahaha, you lied. Ini sudah jam sepuluh. Mana mungkin kau belum mengantuk.” Ujarnya yang kemudian mengambil bantal dan diletakkan di headboard ranjang kami untuk bantalan punggungnya saat bersandar.

“Jeongmal? Jam sepuluh?”

“Lihat saja di jam dinding, Ra~” Aku kemudian mengalihkan pandanganku ke jam dinding itu.

“Kau khawatir?” Tanyanya yang mengagetkanku. Karena sebenarnya saat itu aku melamun sejenak.

“Khawatir?” Ulangku.

“Tenang saja, aku tidak akan menyerangmu kalau kau tidak mengizinkannya..” Ujarnya sambil menyalakan net booknya.

“Issh! Oppa apaan sih!” Aku memukul lengan kirinya.

“Tidurlah, Ra..”

“Shireo~”

“Kau minta diserang kah?” Dia melirikku.

“Kyaaaa!! Annii..annii~~” Aku langsung membelakanginya dan berusaha memejamkan mataku. Kudengar dengan indera pendengaranku, dia seperti turun dari ranjang. Dan tiba – tiba saja ruangan menjadi gelap.

“Oppa, kau mematikan lampu?”

“Ne..wae?”

“Apa kau bisa mengetik?”

“Tentu bisa..sinar dari layar netbook cukup. Dan aku bisa menyalakan lampu tidur saja.”

“Jeongmal? Kau tidak terganggu?”

“Anni..tidurlah, yeobo..”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Tiba – tiba saja aku terbangun. Kulihat di ponselku yang terdapat di atas nakas, waktu menunjukkan pukul satu pagi. Aku haus sekali.

“Eh? Ini apa?” Gumamku saat aku memegang sesuatu di sebelahku. Ommo! Aku lupa kalau Kris oppa sudah tidur bersamaku.

“Dia pasti lelah.” Aku mengusap keningnya dan mencium keningnya.

Aku turun dari ranjang dengan hati – hati untuk minum di luar. Haish! Aku benar – benar haus.

Cklek! Aku membuka pintu kamar pelan agar tidak membangunkan suamiku. Lalu aku berjalan menuju dapur. Kulihat ada dua paper bag di atas meja dapur.

“Oppa punya juice jeruk kenapa tidak bilang sih!” Gerutuku mengeluarkan satu botol minuman itu. Tapi, kok aku baru lihat minuman ini ya? Juice jeruknya dikemas dalam botol kaca? Besar juga ini minumannya.

Aku langsung membuka botol itu dan langsung menenggaknya karena aku malas mengambil gelas dari dalam lemari.

“Kok sedikit pahit ya?” Batinku berusaha merasakannya dengan indera pengecapku.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
PRAANG!! Suara pecahan itu sukses membuat mata lelaki itu terbuka sempurna.

“Shiera?!!” Dia langsung menyibakkan selimutnya ketika tidak mendapati istrinya tidak di sampingnya.

“Yeoboo?!” Seru Kris saat melihat Shiera yang berdiri dan bertopang pada meja makan.

Dengan suara mendesah, gadis itu melihat ke arah Kris, “Oppaa ahhh~”

“Kenapa dia?” Batin Kris yang masih terpaku di posisinya. Di lihatnya ke belakang gadis itu, paper bag dari ayah mertuanya sudah berpindah posisi. Dan pecahan di lantai adalah pecahan botol dari minuman yang diberikan mertuanya untuknya.

“Oh man! Jangan – jangan dia…” Batin Kris lagi.

“Oppaa~ Siniihh~” Shiera memanggilnya.

“Kembalilah tidur, yeobo~” Kris kemudian menggandeng tangan istrinya.

“Aissshh~~ Shireeoo, oppa aah~” Tanpa diduga lelaki itu justru Shiera menghentakkan tangannya, menarik kepala pria itu dan mencium bibirnya. Tidak hanya mencium, tapi Shiera justru melumat bibir suaminya yang masih sedikit tercengang.

“Astagaaa!! Seliar ini kah efeknya?” Batin Kris yang kemudian menggendong istrinya tanpa melepaskan tautan bibirnya dari gadis itu.

Dibaringkannya kembali tubuh istrinya di atas ranjang itu dan menyelimutinya.

“Oppaahh~~ Touch me more~” Shiera mengalungkan tangannya di leher suaminya dan menariknya.

“Yaa! Raa~ Kau hanya tidak sadar seperti inii~ Tidur lah, yeobo.”

“Shireo oppaaa..I want you tonight~”

“Haisshh!! Biar bagaimana pun aku ini namja normal. Siapa yang tidak tergoda jika Shiera seperti ini…” Batin Kris.

“Oppaaaa~~” Ucap Shiera manja dan kembali mencium bibir suaminya.

“I can’t stand it anymore~” Batin Kris.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“KYAAAAAAAAAAA!!!!” Teriak Shiera saat bangun tidur mendapati dirinya hanya ditutupi selimut.

“Mwo?! Mworago?!” Lelaki di sampingnya ikut terbangun.

“KYAAAAAAA!!!” Shiera kembali berteriak saat melihat lelaki itu bertelanjang dada di hadapannya.

“Apa yang kita lakukan semalam?” Tanya Shiera yang menaikkan selimutnya hingga lehernya.

“Apa yang biasa dilakukan suami-istri.” Jawab Kris datar.

“O..oppa sudah…” Shiera tidak bisa melanjutkan kalimatnya.

“Kau sendiri yang memintanya.”

“Aku?!!” Tanya Shiera yang langsung melebarkan kelopak matanya.

“Kau tidak tahu yang kemarin malam kau minum?” Tanya Kris.

Shiera pun hanya menggelengkan kepalanya, “Bukankah itu orange juice?”

“Itu obat dari appa untukku.”

“Oppa sakit???”

“Annii~~ Bukan obat itu. Tapi, obat..”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Oh tidak! Ini…aaakh! I can’t believe it! A..a..aku sudah…astaga!!

“Cepat masak sana!” Ucapan itu mengagetkanku. Aku sontak menarik selimut ranjangku dan melilitnya di tubuhku. Tidak peduli selimut itu terjuntai di belakang.

“Haish! Neo pabbo ya! Untung saja aku tidak benar – benar naked, Ra!”

“Masa bodoohh!!” Pekikku yang kemudian melempar selimut itu di depan pintu kamar mandi setelah aku sudah lebih dulu masuk. Untungnya di dalam kamar mandi ini masih tertinggal handukku yang masih menggantung.

Setelah mandi, aku langsung menuju dapur untuk memasak. Entah aku akan memasak apa hari ini. Yang pastinya, aku akan membuat soup hari ini. Sayuran adalah menu wajib di setiap makan kami.

Trek! Trek! Trek! Aku memotong – motong sayuran yang menjadi bahan utama soup. Tiba – tiba kurasakan sepasang tangan melingkari perutku dari arah belakangku.

“Apa yang sedang kau buat?” Tanyanya yang meletakkan dagunya di bahuku. Siapa lagi kalau bukan suamiku, Kris?

“Aissh~ Oppa risih aahh!” Aku menggidikkan bahuku.

“Ck! Biarkan seperti ini..” Bantahnya.

“Nanti aku semakin lama memotongnya, oppaaa..”

“Biarkan saja…manfaatkan waktu liburku dan waktu liburmu yang panjang itu.”

“Apa maksudmu, oppa?”

“Kau sudah lulus berarti kita bisa bebas melakukan apa saja.” Dia menelusupkan wajahnya di leherku.

Trek! Aku meletakkan pisau yang kugunakan untuk memotong sayuran tadi, “Oppa, sudah dong..aku mau masak.”

“Kita pesan makanan saja yeobo..bagaimana? Kau tidak perlu repot memasak hari ini.

“Lalu makan malam? Kita sudah tidak sarapan, oppa. Lalu kita harus kelaparan sampai malam, begitu?”

“Annii~ kita pesan untuk makan siang ini. Dan kita akan makan malam di luar. Bagaimana?”

“Haish! Terserah oppa deh.” Jawabku pasrah.

“Allright then!” Ujarnya. Chakkaman! Kenapa aku digendong?!!

“Hyaaaaa!! Oppaaa!! Kau…kau kenapa menggendongku?!!”

“What do you think?” Tanyanya membalasku dengan senyuman yang…errr..dia mulai tahu kelemahankuu!!

“Chakkaman! Kamar? Kyaaaa!! Oppaaa~~ Annniii~~” Teriakku meronta – ronta.

“Diamlah~ Kau membuatku terlihat seperti ahjussi mesum, tahu!”

“Kau memang mesum! Oppa mesuuumm!!” Teriakku.

“Don’t care, baby..”

Huwaaaa!!!!
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Sementara itu, Chanyeol kuliah dengan jurusan bisnis di universitas yang berbeda dengan Shiera untuk melupakannya. Saat berada di kampus barunya, Chanyeol menyempatkan diri untuk mengelilingi kampus dan berkunjung ke perpustakaannya. Di perpustakaan itu lah ia menghabiskan banyak waktu untuk membaca atau pun sekedar browsing tentang dunia bisnis.

Sampai tak terasa, jam kini menunjukkan pukul enam sore. Chanyeol pun pulang menuju apartmentnya. Ya, apartment. Ia menyewa sebuah apartment untuk menghemat waktu dan terlepas dari orang tuanya. Masih belum banyak barang – barangnya di apartment itu.

“Andwaeee~~ Lepaskan akuu!! Toloo…hmmppfftt!!” Chanyeol mendengar seperti ada teriakkan seorang wanita. Dan benar saja, ada seorang wanita yang meronta – ronta diantara dua pria di sebuah lorong kecil antara dua bangunan tinggi.

“Hmmppfffttt!!! Hmmppffttt!!!” Gadis itu menjerit tertahan.

“Hei!” Chanyeol menepuk bahu seorang pria yang bersama gadis itu.

BUAGH!! Tanpa ragu Chanyeol meninju wajah salah satu dari mereka hingga tersungkur.

“Kyaaa!!” Gadis itu berteriak ketika melihat adu pukul itu.

“Neo nugu ya?!!!”

“Kau yang siapa? Apa kalian tidak malu menyerang wanita, eoh?” Tanya Chanyeol dingin.

“Neo!!” Tring! Pria itu mengeluarkan pisau dari sakunya. Sedangkan lelaki yang ditinju Chanyeol tadi, kembali bangkit. Pria tinggi itu pun memasang kuda – kudanya dan mewaspadai tiap gerakan dua pria itu.

BUAGH!! DHUAKH!! BRAKK!! Perkelahian sengit pun tidak dihindarkan oleh ketiga pria itu. Salah satu dari mereka tersungkur.

Tangan lelaki itu terkunci ke belakang oleh Chanyeol. KREK! Tring! Dengan terpaksa, Chanyeol mematahkan tangan salah satu dari mereka dan menjatuhkan pisau yang dipegangnya.

“Masih mau melawan, eoh?” Chanyeol mengencangkan kunciannya di tangan lelaki itu.

“A..an..anni…” Setelah lelaki itu menjawab, Chanyeol mendorongnya ke dinding dan membawa gadis itu pergi.

Tanpa disadari oleh mereka berdua, pria yang tersungkur itu bangkit dan mengambil pisau untuk dihunuskan pada Chanyeol.

“Brengsek!! Mati kauu!!!” Chanyeol yang mendengar itu, langsung berbalik dan menghalau serangan itu.

Sret! Darah pun mengalir.

“Asshh…ssshh!!” Sesaat, Chanyeol memegangi tangannya yang tersayat pisau.

DHUAKH!! BRAAKK!! Lelaki itu tumbang dengan tendangan Chanyeol.

“Ah! Polisi! Itu polisi!” Batin gadis itu yang kemudian berlari ke arah polisi yang berpatroli.

“Tolong! Tolong aku!!” Seru gadis itu pada polisi.

“Ada apa, agasshi?” Gadis yang panik itu menunjuk sebuah arah yang kemudian diikuti polisi itu.

“Kalian bertiga, ikut ke kantor polisi!” Ujar polisi tersebut.

“Annii..dia menolongku. Dia tidak bersalah.” Ujar gadis itu membela Chanyeol.

“Agasshi, kau juga harus ikut. Untuk laporan kasus ini.”

“Baiklah.”

“Asshh! Kenapa dia panggil polisi sih?” Gerutu Chanyeol dalam batinnya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Dia orang Jepang? Bahasa Koreanya juga fasih…” Batin Chanyeol.

“Jeosong mianhamnida…aku merepotkanmu..Chanyeol-ssi…”

“Nan gwaenchana…tidak perlu se-formal itu juga kau memanggilku. Cukup Chanyeol saja.” Balas Chanyeol.

“Ne, kalau begitu aku pulang dulu..” Ujar Rie.

“Sudah malam sekali. Kuantar kau pulang.” Jawab Chanyeol.

“Aku jadi banyak merepotkanmu…”

“Polisi tadi, banyak menyita waktu kita..” Chanyeol berusaha mencairkan suasana.

“Ne, padahal aku masih banyak tugas sekolah..ish! Menyebalkan!”

“Kau…masih sekolah? Jadi kau lebih muda dariku?”

“Ne, aku baru kelas tiga..berarti aku memanggilmu ‘oppa’ dong!”

“Tiga? Tiga SMP?”

“Apa aku sekecil itu? Aku tiga SMA.”

“Jinja?” Gadis itu menganggukkan kepalanya.

Tanpa terasa langkah mereka mengantarkan mereka ke sebuah apartment.

“Chakkaman! Ini kan apartmentku..” Batin Chanyeol.

“Kau…tinggal di apartment?” Tanya Chanyeol. Lagi. Gadis itu menganggukkan kepalanya.

“Kau masih SMA, tapi sudah tinggal terpisah dari orang tuamu?”

“Orang tuaku di Kyoto. Mereka hanya sesekali ke Seoul.”

“Mwoya?! Kau berani?”

“Untuk apa takut?” Balas Rie.

“Kalau begitu.. Aku pulang dulu ya..” Ujar Chanyeol yang sudah tepat mengantar Rie di depan pintu apartmentnya.

“Ne, gomawo..oppa.” Sesaat, Chanyeol tertegun saat gadis itu memanggilnya ‘oppa’. Chanyeol hanya tersenyum menanggapinya.

“Chanyeol oppa! Katanya mau pulang?” Gadis itu heran saat Chanyeol hanya berjarak beberapa meter darinya yang masih berdiri di depan pintu apartmentnya.

“Aku sudah pulang kok.” Jawab Chanyeol.

“Mwo?!! O..op…pa tinggal di sebelahku?”

“Sepertinya sih begitu…baru beberapa hari yang lalu.”

“Oppa tidak tinggal di rumah orang tua oppa?”

“Annio. Ini untuk menghemat waktuku saat kuliah nantinya.”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Oppa, apa ini tidak berlebihan? Kita hanya makan malam loh! Kenapa kau mengajakku untuk makan malam di restaurant hotel mewah ini?? Dan kau juga…kapan menyiapkan dress-ku, oppa?” Tanyaku berturut – turut.

“Aku menyiapkannya jauh sebelum kau lulus SMA. Hahaha.”

“Oppa, kita pulang saja yuk. Ini terlalu mahal kurasa…”

“Sesekali tidak apa kan?” Dia kembali membawaku masuk.

“Geundae…”

“Sudahlah…kajja~”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Begitu aku memasuki hotel itu, ternyata kami tidak ke dalam restaurant hotel tersebut. Seorang petugas mengantarkan kami ke dalam lift khusus.

“Oppa, bukankah kita mau makan?” Bisikku pada Kris, suamiku. Dia hanya menoleh padaku dan tersenyum dengan mencium punggung tanganku. Chakkaman! Tangannya panas? Apa ia sakit?

Begitu pintu lift terbuka, ternyata rooftop hotel ini lah yang dipilihnya untuk kami makan malam. Makan malam romantis? Apa seorang Kris Wu bisa merencanakan ini? Dia bahkan bukan tipe suami yang romantis! Hanya sesekali romantis jika mood nya meningkat.

Bunga dan lilin mengiringi tiap langkah kami. Meja dinner pun telah disiapkan dengan sangat cantik. Di tengah meja itu terdapat lilin – lilin yang ditata rapi. Lampunya pun dibuat agak temaram menambah kesan romantis. Ia pun menarik kursi untukku duduk.

“Oppa, kau tumben sekali bisa menyiapkan ini semua…”

“Bukan aku, tapi organizernya. Aku hanya memesan untuk acara dinner kita, dan aku tidak tahu kalau ternyata dekorasinya seperti ini.” Tuh kan! Apa kubilang. Dia tidak romantis kan! Setidaknya dia mengatakan hal romantis, kan bisa! Huh!

Beberapa saat kemudian saat aku duduk, tiba – tiba dia memerintahkanku untuk menaikkan rambutku. Dan sebuah kalung emas putih dengan krystal – krystal bening terpasang di leherku.

Aku sontak berdiri dan berbalik ke belakang memeluknya erat, “Oppa gomawo yo..” Ucapku yang mengalungkan tanganku di lehernya.

Dia pun melingkarkan tangannya di pinggangku, “I’ll do anything for you.” Jawabnya tersenyum.

“Okay, kita harus makan sekarang. Nanti kau sakit.” Ujarnya kemudian.

“Chakkaman…oppa sakit ya?”

“Annio. Apa aku terlihat sakit?”

“Kau panas oppa…lehermu ini panas..” Ujarku yang kemudian menyentuh keningnya, “Kau sakit, chagi..kau demam…” Ucapku lagi setelah menyentuh keningnya.

“Anni~” Jawabnya yang kemudian melepaskan tangannya dari pinggangku dan beralih duduk di kursinya.

“Duduklah, kita harus makan..”

“Oppa sakit…”

“Gwaenchana yeobo…nanti juga sembuh..”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Saat makan malam pun ia beberapa kali bersin – bersin. Kurasa ini karena angin malam.

“Oppa….” Rajukku.

“Ne?”

“Kita pesan kamar di hotel ini saja ya..tidak mungkin pulang kalau kau sakit kan??” Ujarku.

“Aku masih bisa menyetir, yeobo..”

“Annii..anniii~~ Pokoknya, setelah ini kita pesan kamar, dan kau harus istirahat. Oppa, please menurutlah padaku oppa..” Pintaku.

“Ne yeobo..arraseo..” Ujarnya lagi.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Kehidupan Shiera sebagai seorang mahasiswa kedokteran pun sudah dimulai. Status pernikahannya kini pun banyak yang mengetahuinya dan mereka semua tidak mempermasalahkan itu.

“Shiera?” Pemilik nama itu pun menoleh.

“Neo nugu ya?” Shiera merasa bingung dengan lelaki itu.

“Jongdae! Aigoo~~ Kau lupa padaku?”

“Mwo?!! Jongdae?! Chen?!!!” Shiera langsung memeluk lelaki itu.

“Hyaaa~~ Kau kuliah di sini juga?? Kapan kau pulang dari Beijing???” Shiera melepaskan pelukannya dan membingkai wajah lelaki itu dengan kedua tangannya dan menyerangnya dengan berbagai pertanyaan.

“Hey, kau banyak bertanya sekali! Aku hanya mau menjawab kalau kau jawab satu pertanyaanku.” Ujar Jongdae.

“Mwo?”

“Kenapa kau menikah tidak memberitahuku?!!!” Lelaki itu mengacak – acak rambut Shiera dengan kesal.

“Yaaakk!! Aigoo!! Rambutkuuu!! Asshh! Kau ini! Nanti aku tidak cantik lagi!”

“Kau masih butuh kata ‘cantik’ lagi? Kau bahkan sudah menikah. Dan aku tidak diundang.” Ucap Jongdae di akhir kalimatnya.

“Mianhae…Chenniee…aku tidak bermaksud tidak mengundangmu. Tapi sejak aku pindah ke Jepang, dan kau di China, komunikasi kita terputus kan?” Sesal Shiera.

Kim Jongdae, pria yang akrab dipanggil Chen oleh Shiera ini adalah anak dari rekan kerja ayahnya Shiera. Keduanya sangat dekat karena pernah satu sekolah saat SMP di Beijing. Tapi hubungan mereka hanya sebatas sahabat saja. Kedua orang tua mereka memang pernah bersamaan pindah ke Beijing, China untuk tugas negara. Namun, setahun kemudian, keluarga Shiera pindah ke Tokyo. Dan dengan terpaksa, Shiera tidak bisa menghubungi Jongdae sama sekali. Sampai Shiera menikah, Jongdae pun sama sekali tidak mengetahuinya.

Jongdae baru bisa mengetahui keberadaan Shiera lewat ahjussinya yang juga merupakan kenalan ayah dari Kris adalah kepala sekolah SMA tempat gadis itu bersekolah.

“Kau tahu, mencari info tentangmu itu sangat suliit!!” Jongdae berkacak pinggang di depan gadis itu.

“Mianhae…” Jawab Shiera.

“Untung saja ayah mertuamu itu memasukkanmu ke sekolahnya ahjussi ku. Oh ya, by the way, kau jurusan apa di sini?”

“Kedokteran…kau?”

“Jeongmal?! Kedokteran? Haish! Kau satu jurusan denganku?!” Jongdae terkejut.

“Kau juga mengambil itu?!” Shiera pun tak kalah terkejutnya.

“Ne, tapi jam kuliahku tampaknya berbeda denganmu.”

“Kalau begitu, bagaimana kalau semester depan kita ambil jadwal yang sama?” Usul Shiera.

“Tapi suamimu?”

“Hei, dia juga pasti mengerti. Hubungan kita kan tak lebih dari sekedar teman! By the way, kau masih senang bernyanyi?” Kata wanita berambut sebahu itu.

“Menyanyi adalah hidupku. Setengah jiwaku.”

“Haish! Seorang Jongdae bisa bicara seperti itu? Ahahaha, kau banyak berubah Chen!”

“Apa aku berubah menjadi lelaki tampan?” Tanya lelaki itu dengan tersenyum simpul.

“Yak! Kau itu, kenapa kau masih pemalu, eoh? Bagaimana bisa ada wanita yang dekat denganmu?”

“Kau sudah mematahkannya, Ra. Aku memendam perasaanku dari dulu. Dan kau menikah dengan orang lain. Empat tahun lebih tua darimu lagi!”

“Mwo??!!” Shiera terkejut.

“Aku bercanda, pabbo!! Mana mungkin aku suka dengan yeoja maniak komik sepertimu!” Pernyataan itu sukses membuat lelaki itu mendapatkan pukulan ringan di lengannya dari Shiera.

“Hey, aku tidak habis pikir…bagaimana ceritanya kau bisa menikah dengan lelaki yang jauh lebih tua darimu?”

“Eottohke, Chenniee~~~ Kau itu sudah seperti wartawan! Banyak sekali pertanyaannya. Kalau urusan itu, ceritanya panjaaaaaaannnggg sekali! Aku harus masuk kelas.” Ujar Shiera.

“Kalau begitu, mana ponselmu?” Tanya Jongdae. Tanpa ragu, Shiera memberikan ponselnya pada lelaki itu. Lelaki itu nampak menyentuh layar ponsel gadis itu dan tak lama kemudian, ponsel miliknya berbunyi.

“Aku memasukkan nomorku. Lain waktu, kita bisa hang out bersama kan?”

“Bisa sih…tapi aku harus izin dulu dengan…”

“Ah! Arraseo! Ne, kau harus izin dulu dengan Kris hyung. Nanti aku dibunuhnya kalau membawamu pergi tanpa pamit.”

“Darimana kau tahu nama suamiku, Kris?”

“Ahjussiku kepala sekolahmu! Wajar kalau aku tahu kan? Hahaha!”

“Huh! Dasar! Aku masuk kelas dulu ya, Chennie~”

“Ne, bye! Sampai ketemu lagi!”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Oppa, tadi aku bertemu dengan Chennie~” Ceritaku malam ini saat kami menjelang tidur. Tapi dia masih saja memegang note booknya, mengetik pekerjaannya.

“Chennie? Nugu Chennie?”

“Jongdae, temanku SMP saat di Beijing. Dan, kau tahu, dia juga mengambil kedokteran. Sayangnya kami tidak sekelas. Semester depan kami akan mengambil jadwal bersama.”

“Oh..” Hanya itu yang ia jawab?! Sigh!

“Oppa, kau dengar aku tidak siihh??”

“Dengar..”

“Kau selalu menjawab dengan singkat! Huh!” Ujarku yang tidur memunggunginya.

“Yeobo~” Panggilnya manja.

“Apa sih?! Kerjakan saja sana tugasmu!” Ujarku kesal.

Tak lama aku mendengar derit ranjangku dan lampu kamar pun dimatikan. Ia kembali menaiki ranjang.

“Tugasku sudah selesai sayang..” Ucapnya yang memelukku dari belakang saat aku tidur memunggunginya.

“Ya sudah, tidur!” Jawabku ketus.

“Tidur? Secepat itu?” Tanyanya yang mencium bahuku.

“Ck! Apaan sih?! Sana ah!” Tapi yang ada, ia semakin mendekatkan tubuhnya pada punggungku.

“Oppa!” Protesku untuk menghentikannya.

“Yes, baby?”

“Stop it!”

“I can’t.” Jawabnya.

“Yaaahh!!!” Aku berbalik dan sedikit mendorongnya. Tapi karena terlalu dekat, hidung kami bersentuhan, dan kami beberapa senti lagi berciuman.

“Wae?” Tanyanya saat aku tiba – tiba terdiam beberapa detik.

“Kau bisa tidur yang benar kan, oppa? Sebelahmu itu masih luas!”

Dia kemudian menggamit pinggangku dan mendorong tubuhku hingga menempel padanya, “Kalau aku tidak mau bagaimana?” Tanpa izin, dia mencium bibirku.

“Oppaa!!”

“Tonight will be the hottest night for us!” Oh God! Aku tahu maksudnya! Dia..dia..mau…kyaaaaa!!!
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Piip…Piip…Piip…Piip…Piip…Piip…

Alarm yang terdapat di atas nakas samping ranjang pasangan itu berbunyi keras. Dengan malas, pria yang berada di dekat nakas tersebut berusaha menggapai alarm itu dengan tangannya meski pun dengan mata yang masih terpejam.

“Haish~ Berisik sekali alarm ini…” Gerutunya yang sesekali mengerjapkan matanya menyesuaikan dengan cahaya matahari yang masuk melalui celah – celah jendela kamarnya.

“Ige mwoya??!!!!” Lelaki itu melebarkan kelopak matanya saat melihat jam pada alarm tersebut.

“Yeobooo!! Yeoboo!! Irreonaa yeoboo!!” Lelaki itu mengguncang – guncangkan tubuh istrinya.

“Wae, oppa?? Aku masih ngantuk…” Jawab Shiera dengan suara serak.

“Yeoboooo!!! It’s already eight o’clock!!”

“Mwoyaaa??!!! Jam delapan?!!” Tanpa mempedulikan tubuhnya yang masih naked, ia melompat ke kamar mandi.

“Yeoboo, ikuutt!!” Kris menahan pintu kamar mandinya.

“Yaakk!! Oppa mandi di kamar mandi luar saja sana!!”

“We don’t have much time! Be quick!” Ujar Kris.

“Eottohkeee!! Janji kau tidak akan mengangguku mandi!”

“I promise!” Ujar Kris.

Pagi itu mereka berdua sama – sama terlambat. Shierra ada kuliah jam sembilan, sedangkan Kris ada meeting jam setengah sepuluh. Selesai mandi, sebagai istri, Shiera menyiapkan baju kantor suaminya.

“Cepat pakai bajumu, oppa…” Shiera melayani Kris sebagai mana mestinya.

“Aku bisa sendiri yeobo..lebih baik, kau siap – siap juga.”

“Ne, oppa..” Shiera kemudian keluar kamar.

“Yeobo, pakaian dulu..masa kau pakai handuk saja?” Kris menahan tangan istrinya.

“Oh, ne…aku lupa!”

Rupanya Shiera bisa lebih dulu selesai berpakaian dan langsung menuju ruang makan.

“Sayang, kita berangkat bersama saja.”

“Nanti oppa telat…” Ujar Shiera yang mondar – mandir menyiapkan sarapan. Begitu juga dengan Kris yang mengambil tas notebook nya dan mengambil sepatunya sendiri.

“Gwaenchana…aku…”

BRUUK!! Pasangan itu bertabrakan saat sibuk dengan aktifitasnya masing – masing.

“Aww!” Pekik Shiera.

“Gwaenchana yo?” Kris kemudian meletakkan sepatunya dan memegang kedua bahu istrinya.

“Uhm, ne..gwaenchana oppa..” Jawab Shiera yang kembali menjalankan persiapannya.

“Nanti kau pulang jam berapa, yeobo? Aku akan menjemputmu.” Tanya Kris sambil mondar – mandir mengambil berkas kantornya di kamar.

Terlihat Shiera mengunyah roti dengan selai strawberrynya sambil mengoleskan selai cokelat pada roti untuk suaminya.

“Aku pulang sore, oppa. Kau tidak usah menjemput juga tidak apa – apa. Nih…aaa~~” Shiera berjalan menghampiri suaminya dan menyuapinya roti.

“Tapi kau…”

“Aaa lagi oppa…” Shiera menyodorkan roti di depan mulut suaminya.

“Aku tidak apa – apa kok. Oppa kan harus kerja.” Shiera menjawab rasa khawatir Kris sambil menuju dapur dan membuat dua gelas susu untuk mereka berdua.

“Oppa…susunyaaaa…” Teriak Shiera sambil memegang dua gelas susu dan berusaha memakai sepatunya. Tak lama, Kris pun mengambil susu itu dari tangan istrinya.

“Tasmu mana?” Tanya Kris.

“Ommoo!! Masih di kamar!”

“Biar aku yang ambil. Sudah kau masukkan semua bukumu?”

“Sudah oppa..”

“Nih. Aku sudah kenyang.” Ujar Kris yang menyerahkan gelas susu yang sudah kosong padanya.

“Aah! Ada yang ketinggalan!” Ucap Kris yang kemudian berbalik dan mengangkat wajah istrinya dengan telunjuknya.

Chu~ Sebuah kecupan ringan pun didaratkan di bibir pemilik rambut hitam panjang itu.

“Oppaaa!! Sempat – sempatnya kau mencuriii!!” Gerutu gadis itu yang kemudian mencuci gelas susu mereka.

Beberapa saat kemudian, saat Kris mengantar istrinya-Shiera-wanita itu menginterupsinya, “Oppa benar tidak terlambat?”

“Annio yeobo. Sebentar lagi kita sampai. Dan aku meetingnya juga mulai setengah sepuluh.”

Tak lama kemudian, mobil pun tiba di pelataran parkir kampus Shiera. Shiera langsung mengambil tasnya, “Oppa, aku kuliah dulu ne!”

“Chakkaman!” Kris menahan tangan istrinya.

“Mwo?” Tanya Shiera. Kris kemudian menunjuk bibirnya dengan telunjuknya.

“Ck! Dasar oppa…”

Chu~ Ciuman singkat pun akhirnya diberikan untuk suami tercintanya oleh Shiera.

“Jangan nakal ya, yeobo!”

“Aku bukan anak kecil oppa!” Protes Shiera sebelum menutup pintu mobilnya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
PLAK!! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi gadis itu dari seorang pria yang datang malam itu.

“Nii-san…doushite??” Gadis itu mulai terisak.

“Kenapa kau tidak menurut?!! Kau harus pulang ke Kyoto!!!” Laki – laki itu menyeret paksa gadis itu keluar apartmentnya. Ryouha. Lelaki yang menjadi tunangan Rie.

“Iieee!!! Aku tidak mau!!!” Rie berpegangan pada daun pintu apartmentnya.

“Hey!!” Lelaki itu menjambak rambut gadis itu. “Kau pilih menurut denganku atau…semua keluargamu tewas, eoh?!” Kalimat ancaman terlontar darinya.

“Iieee!!!”

DHUAKH!! Dibenturkannya kepala gadis itu ke pintu itu oleh Ryouha hingga mengeluarkan darah.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Ige mwoya?!!” Chanyeol terkejut saat keluar lift dan mendapati Rie yang terlihat dianiaya seorang pria di depan pintu apartment.

“YAAA!!!” Teriakkan Chanyeol menghentikan kepalan tangan lelaki itu di udara saat hendak menganiaya Rie.

“Dare desuka?!”

“Dia bukan orang Korea?” Batin Chanyeol saat mendengar lelaki itu bersuara.

“Get out here.” Ujar Chanyeol dingin sambil membantu Rie berdiri dan melindunginya di belakang tubuhnya.

Dengan kasar Ryouha berusaha menarik tangan Rie. Belum sempat ia menariknya, Chanyeol menghentakkan tangan lelaki itu, “Never ever touch her!” Ujar Chanyeol tegas.

“She’s mine!!” Ujar Ryouha.

“Yours(milikmu)? Ahahaha…you hit her(kau sudah memukulnya)! You can’t say that again(kau tidak bisa memilikinya lagi)! Never meet her again(jangan menemuinya lagi)!”

“You!!!” Lelaki itu menunjuk Chanyeol sengit dan beralih menarik Rie.

“Ahh!! Aww!!” Pekik Rie kesakitan

“I said, don’t touch her!!”

BUAGH!!! Chanyeol langsung menghajar lelaki itu. Sementara gadis itu hanya bisa menjerit tertahan karena ia membekap mulutnya dengan kedua tangannya.

“Oppa..anni…” Rie menarik Chanyeol mundur berusaha menenangkannya.

“Go away!! Or I better call the security here?” Chanyeol memberikan dua pilihan pada lelaki itu untuk mengusirnya. Dengan tatapan yang tersirat penuh kebencian, lelaki itu pergi, “Kita belum selesai Rie!” Ujarnya sebelum meninggalkan apartment pada Rie.

“Oppa…gomawo…” Ujar Rie menunduk.

“Ne…kajja, kita ke rumah sakit saja.” Jawab Chanyeol.

Gadis itu menggeleng kuat, “Tidak perlu oppa..”

“Kau punya obatnya di dalam?” Tanya Chanyeol yang dijawab dengan anggukkan kepala.

“Well, lukamu harus segera diobati..” Ujar Chanyeol.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Mianhae oppa…aku selalu saja merepotkan oppa…” Ujar Rie lemah.

“Gwaenchana..” Jawab lelaki itu menyunggingkan senyuman sambil mengobati luka dan lebam di wajah, kaki dan tangan gadis itu.

“Geundae, sebenarnya siapa lelaki tadi?” Tanya Chanyeol. Gadis itu terdiam beberapa saat.

“Kalau kau tidak mau cerita, tidak masalah.” Ujar Chanyeol kemudian.

“Awwh, appo oppa…” Rintih Rie.

“Mianhae..” Ucap Chanyeol.

“Dia…dia…Ryouha…tunanganku..umurnya, kurasa sama dengan oppa..” Ucap Rie lirih.

“Kau sudah bertunangan?”

“Ne…terpaksa…”

“Karena hutang?” Tebak Chanyeol.

“Ne…usaha ayah nyaris bangkrut. Dan kini ayah dan ibuku terlilit hutang pada keluarganya. Aku bayarannya. Aku harus menikah dengan Ryouha.”

“Alasanku ke Seoul berdalih untuk mencari beasiswa untuk kuliah. Padahal aku memang sengaja menghindar dari Ryouha. Aku mengatakan pada ayah dan ibu kalau peluang mendapatkan beasiswa di Seoul akan semakin besar jika aku mengambil SMA di sini.”

“Kau berbohong pada mereka?” Tanya Chanyeol.

“Ini terpaksa oppa…aku tidak mau menikah dengan Ryouha. Dia selalu memaksaku. Jika aku tidak mau, aku akan seperti ini…”

“Istirahatlah…akan kubuatkan makanan untukmu.” Ujar Chanyeol yang menggendong Rie ke kamar gadis itu.

“080412.” Ujar Rie yang sukses membuat Chanyeol menghentikan langkahnya saat akan keluar kamar gadis itu.

“Itu password apartmentku, oppa…”

“Ne…”

Saat membuatkan makanan, Chanyeol terus berpikir untuk mendapatkan uang untuk membayar hutang keluarga Rie.

“Minta dengan appa dan eomma? Itu bisa saja…tapi, terkesan aku tidak mandiri. Mengumpulkan uang part time? Sampai kapan?? Aku tidak bisa membiarkan Rie berbahaya seperti ini.”

Selesai membuatkan makanan, lelaki itu ke kamar gadis itu kembali.

“Kajja, kau harus makan…” Ujar Chanyeol yang meniupi makanan agar dingin dan bisa disantap gadis itu.

“Aku bisa sendiri, oppa…”

“Ah, baiklah kalau begitu.”

“Oh ya, besok kau tidak usah masuk sekolah dulu. Aku akan memberitahukan sekolahmu.”

“Ne oppa…mianhae, aku selalu merepotkanmu..”

“Tidak kok. Kau tidak merepotkanku.” Jawab Chanyeol tersenyum hangat padanya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Aigooo!! Ternyata dunia kedokteran tidak semudah yang kukira!”

“Yeoboo~~” Tiba – tiba aku dikejutkan dengan rangkulan tangan di leherku dan kecupan singkat di keningku.

“Euhm? Loh, oppa kapan pulangnya? Kok aku tidak dengar?”

“Haish! Kau ini…kau menceramahiku agar tidak terlarut pekerjaan, kau sendiri juga begitu. Sampai aku pulang pun kau tidak menyadarinya.”

“Mianhae, oppa…kalau begitu, aku siapkan air hangat untukmu dan makan malammu.”

“Tidak usah. Aku membelinya.”

“Kau membeli makanan? Kau tidak mau makan masakanku ya, oppa…” Ujarku lirih.

“Eoh? Bukan begitu…kupikir kau pasti lelah kan? Jadi aku tidak mau merepotkanmu untuk memasak.”

“Itu kan kewajibanku, oppa…”

“Ya, sudahlah..aku sudah terlanjur membelinya. Apa yang kau kerjakan?” Dia melihat ke belakang. Lebih tepatnya ke pekerjaan kuliahku.

“Hanya gambar sel – sel manusia.” Ucapku.

“Kajja, kau harus mandi.” Aku mendorongnya pelan.

“Kau memandikanku?”

“Yaakk! Apa – apaan kau, oppa! Mandi sendiri lah! Aku hanya menyiapkannya saja.” Aku kemudian menyiapkan baju tidur Kris. Setelah itu aku kembali menghangatkan makanan yang baru saja dibelinya di luar.

Tiba – tiba saja, aku mendengar ponselku berbunyi. Segera aku berlari ke kamarku dan melihat layar ponselku. Nama CHENNIE tertera di layarnya yang terus menerus menyala.

“Yeoboseyooo~~”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Siapa yang menelponnya malam – malam seperti ini?” Batin lelaki yang baru saja keluar kamar mandi dengan handuk di lehernya.

“Mwo? Kau serius? Lalu, bagaimana kelanjutannya?” Shiera terlihat sangat akrab dengan penelpon itu dan membuat Kris yang sedari tadi berdiri di belakangnya sedikit memicing.

“Ehem!” Lelaki itu sengaja berdeham untuk membuat Shiera tersadar. Tapi Shiera masih sibuk menelpon.

“Kau jadi masuk ke club musik, eoh?” Shiera masih saja menelpon. Dan kali ini ia keluar kamar menghindari Kris.

“Mwo?! Dia sengaja biar aku tidak dengar?” Kris mengernyitkan dahinya.

“Mwo? Kau ingin aku ikut di club musik juga? Hey! Aku bahkan hanya bisa memainkan biola.” Ujar Shiera.

“Kupastikan itu lelaki! Tidak mungkin Shiera bermanja – manja dengan wanita. Sigh!” Kris semakin gusar.

“Yeobooooooooo!!!” Kris sengaja berteriak dari kamarnya.

“Hey, sudah dulu ya… Kupikirkan nanti untuk masuk ke club musik.” Ujar Shiera mengakhiri pembicaraannya.

“Yeoboooooo!!!”

“Ne, oppaaa~~” Sahut Shiera.

“Kajja oppa, kau harus makan.” Dengan malas Kris menuju ruang makan.

“Hee? Dia kenapa?” Batin Shiera.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Oppa…” Panggilku. Tapi dia tampak mengacuhkanku.

“Oppa..” Panggilku lagi dan kali ini aku sambil merangkul lengannya. Dia hanya mengalihkan pandangannya padaku tanpa bersuara. Jujur, ini membuatku takut padanya. Karena aku takut, aku menunda pembicaraan. Dan dia kembali makan makan malamnya.

“Oppa marah denganku?” Tanyaku hati – hati. Dia tidak bersuara.

“Oppa…” Aku menggoyang – goyangkan lengannya sedikit.

“Yaah! Berhentilah! Kau membuatku tersedak!” Aku kaget dengan ucapannya.

“Oppa waee??”

“Annii..” Jawabnya singkat.

“Oppaaa~~”

PRAAKK!!!
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Lelaki itu membanting sendok dan garpunya di atas piringnya dan berdiri dari bangkunya membuat Shiera, istrinya hanya menduduk dan kaget. Rambutnya yang panjang tergerai hingga menutupi sisi kiri dan kanan wajahnya yang tengah menunduk. Yang hanya bisa dilakukan hanyalah meremas jemarinya dengan takut.

“Dari dulu aku selalu diam dan tidak membatasi pergaulanmu! Tapi apa kau ingin seperti ini terus hah?!!! Aku suamimu!! Dan umurmu kini sudah mau menginjak usia 19 tahun! Kau sudah dewasa! Apa kau tidak menghargai suamimu, hah?!!!” Baru kali ini Shiera melihat sosok suaminya, Kris membentaknya.

“Hiks..hiks..mianhae oppa…itu…hiks..temanku, Jongdae..hiks…dia…hiks..mengajakku masuk..hiks..ke club musik..hiks..hiks…” Shiera menjelaskannya dengan terisak menangis.

Melihat istrinya menangis, Kris menarik kursi di dekatnya dan duduk memeluknya sambil berkata, “Mianhae, aku membentakmu..” Tangannya tak berhenti mengusap punggung dan membelai lembut kepala istrinya.

“Mianhae, yeobo..jeongmal mianhae..aku..aku hanya tidak ingin kau terlalu dekat dengan lelaki lain…” Ujar Kris yang kemudian mencium puncak kepala istrinya.

“Uljimma, yeobo…mianhae…” Kris menempelkan keningnya pada kening istrinya, Shiera dan menghapus air mata gadis itu yang masih mengalir.

“Hiks..ne, oppa..” Jawabnya yang masih sedikit terisak tertunduk.

“Mianhae, yeobo…” Ucapnya yang kemudian mencium bibir Shiera singkat.

“Berhenti menangis atau aku mencium bibirmu berkali – kali.”

“Oppaa…” Protes Shiera dengan manja.

“Dan kau tahu pasti akhirnya ada di mana kan? Mungkin kau akan tidak bisa masuk kelas besoknya sama seperti tempo hari.” Shiera hanya memukul ringan bahu suaminya.

“Nappeun ya..!” Ucap Shiera.

“I don’t care baby…makanya berhenti menangis, yeobo..” Istrinya hanya mengangguk kecil dan memeluk suaminya erat.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Songsaenim…aku izin keluar sebentar..” Ucap seorang gadis pada guru musiknya di club musik kampusnya.

“Ye Eun-ssi, neo gwaenchana?” Tanya temannya.

“Ne..gwaenchana yo…” Jawab gadis itu yang sedikit terlihat pucat.

“Aku merasa sedikit aneh dengan gadis itu..” Batin Jongdae.

“Jongdae-ssi, silahkan bernyanyi di part selanjutnya. Shiera-ssi, kau mainkan part ini..” Ujar guru mereka. Shiera pun melanjutkan memainkan biolanya dan teman kecilnya, Jongdae, yang akrab dipanggil Chen oleh Shiera, kembali bernyanyi dan kali ini dengan nada tinggi.

Setelah Jongdae bernyanyi, gadis itu kembali masuk ke ruang club musik. Song Ye Eun, gadis dari jurusan biologi yang sangat mahir bermain piano.

“Kenapa ia seolah – olah alergi dengan suaraku?” Batin Jongdae.

Tak terasa waktu di club musik pun berakhir. Kedua mata Jongdae menatap tiap langkah gadis itu pergi menjauh berusaha mencari tahu dari tingkahnya.

“Chennie!” Shiera mengagetkan Jongdae dengan menepuknya dari belakang.

“Aigoo! Ya! Kau ini..wae, eoh?!” Jongdae mengusap dadanya karena kaget.

“Lihat siapa?” Pandangan Shiera menuju arah yang lelaki itu lihat. “Aaah! I know it! Ada apa dengan gadis itu, eoh?” Shiera menepuk bahu lelaki itu.

“Eoh? Nan eopseo!”

“You lied!” Ujar Shiera.

“No, I’m not.”

“Kau mungkin bisa membohongi yang lain, Chennie. Tapi tidak denganku. Cepat cerita!” Jongdae pun menarik tangan Shiera ke kantin.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Kau merasakannya tidak?” Tanya Chen padaku.

“Mwo?! Apa ada hantu di belakangku?!”

“Yaa! Bukan itu…”

“So?”

“Tadi…kenapa sepertinya dia tidak menyukaiku?”

“Nugu?” Tanyaku.

“Yang tadi itu loh. Ah! Aku lupa namanya. Tapi yang jelas dia jurusan biologi.”

“Ye Eun? maksudmu?” Tanyaku tidak yakin.

“Oh..namanya Ye Eun…” Chen terlihat mengangguk setelah aku bicara.

“Wae? Ada apa dengannya? Kenapa kau terus menatapnya? Jangan – jangan…..” Aku sengaja menggantungkan kalimatku.

“Jangan – jangan apa?” Tanyanya cepat.

“Jangan – jangan kau menyukainya!” Ujarku.

“Tsk! Annii, bukan begitu… Hanya saja, aku penasaran dengannya. Atau lebih tepatnya aneh?” Ujarnya tidak yakin.

“Wae?” Tanyaku lagi.

“Aku merasa…setiap aku bernyanyi dia keluar. Setiap aku bicara dengan orang di sampingnya, dia menghindar dan memilih tempat lain. Apa suaraku begitu jelek kah?”

“Tidak kok..suaramu tidak jelek. Cenderung bagus kok. Hanya saja wajahmu saya yang tidak mendukung. Hahahaha.” Kelakarku.

“Yaakk!!! Sembarangan kau!” Dia menjitakku.

“Yaa! Aku bicara sesuai fakta dan kenyataan! Lihat saja matamu. Matamu bahkan cenderung seperti garis kurasa. Bahkan orang nyaris tidak bisa membedakan mata normal mu dengan mata orang bangun tidur.” Ocehku.

“Shieraaa!!!”

Tiba – tiba saja ponselku bergetar di dalam tasku menginterupsi pertengkaranku dengan Chen. Oh, Kris oppa.

“Yeobo, kau sudah tidak ada jam kuliah kah?” Tanyanya.

“Sudah tidak ada oppa… Wae? Oppa sudah pulang? Jemput aku dong, oppa!” Rengekku.

“Ne, yeobo. Aku sudah dalam perjalanan. Mungkin lima menit lagi sampai.”

“Mwooo??? Kok oppa tidak mengatakannya lebih dulu??”

“Hahaha sengaja! Sudah ya..sampai ketemu di kampusmu nanti.” Ucapnya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Oppaa!” Teriak Shiera. Lelaki itu pun langsung menghampiri istrinya. Sejenak Kris sempat terhenti karena ada seorang lelaki di samping gadis itu.

“Haish! Kenapa banyak ‘serangga penggangu’ yang mendekati istriku?” Batinnya. Lelaki berperawakan tinggi itu tersenyum menatap istrinya dan memaksakan senyumannya pada pria yang berdiri di samping istrinya.

“Chennie, ini suamiku, Kris oppa.. Oppa, ini Chennie. Itu looh yang waktu itu aku ceritakan sama oppa…yang buat oppa jadi mar..hhmmpphh!!” Belum sempat Shiera melanjutkan kalimatnya, Kris sudah membekap mulutnya dan mengalihkan pembicaraan, “Hmm, bagaimana kalau kita ke cafe sebentar? Coffee break?” Ajak lelaki berambut blonde itu yang juga mengajak Jongdae.

“It sounds great! Come on, Chennie!” Ajak Shiera.

“Aku?” Tunjuknya pada diri sendiri.

“Ne. Memang ada orang lain lagi yang kita ajak?” Ledek Shiera.

“Hhm…mianhae, aku sebenarnya masih ada pekerjaan lain..”

“Pekerjaan lain apa? Memata – matai Ye Eun?”

“Hash! Kau ini! Sudah sana pulang!”

“Kau yakin tidak ikut, Chen?” Tanya Kris.

“Anni, hyung. Aku masih ada urusan.”

“Kalau begitu, kami duluan…” Ujar Kris.

“Tha thaaa, Chen! Jangan kau culik ya Ye Eun itu!” Pesan Shiera dengan nada bercanda pada Jongdae.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Oppa, kita ke cafe itu yuk!” Ajak seorang gadis yang tengah menggandeng lelaki bermata bulat itu.

“Cafe mana, Rie?” Tanyanya.

“Itu…” Tunjuknya.

“Kajja…” Jawab Chanyeol yang menuruti kemauan kekasihnya. Entah bagaimana rasa cintanya perlahan muncul dengan gadis itu. Mungkin semenjak lelaki yang bernama Ryouha yang mengaku sebagai tunangannya Rie yang sering melakukan kekerasan pada gadis itu. Chanyeol jadi merasa harus melindungi gadis itu dari lelaki yang menurutnya pecundang itu.

Gadis itu berjalan di depan Chanyeol dengan tangan yang masih tertaut pada lelaki itu. Tetapi, Chanyeol langsung menghentikan langkahnya karena kedua matanya menangkap seseorang yang dikenalnya.

“Ng…chagiya, kita ke cafe lain saja ya…”

“Ta..tapi oppa..” Gadis itu berwajah sedih.

“Aku tahu cafe yang lebih bagus dari ini. Kita ke sana saja ne, chagi?” Bujuk Chanyeol.

“Shireo~ Aku suka cappuchino di sini oppa! Neoumu choahe…aku tidak mau di tempat lain!”

“Geundae…chagi…” Chanyeol terus membujuk Rie. Tapi sepertinya orang yang sedari tadi berusaha dihindarinya melihat ke arahnya.

“Damn! Mati kau, Yeol!” Batin Chanyeol.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Mwo? Itu kan Chanyeol.” Batinku saat melihat pria yang di pintu bersama seorang gadis.

“Oppa…oppa..itu Chanyeol bukan sih?” Tanyaku pada suamiku, Kris untuk memastikan. Suamiku pun langsung memutar pinggangnya dan melihat ke belakang.

“Ne, itu Chanyeol. Mau kita hampiri?” Tanyanya.

“Oppa saja…ajak mereka di meja kita saja…” Ujarku.

“Baiklah..kau tunggu sini ya sayang…” Aku mengangguk dan dia pun mengecup keningku singkat.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Chanyeol…”

“Oh damn! Kenapa juga dia menghampiriku?” Rutuk Chanyeol.

“Bagaimana kalau kau gabung dengan kami, dengan kekasihmu?” Tawar Kris.

“Hhmm, annii hyung, kami….”

“Baiklah! Kebetulan cafe ini juga sudah tidak ada tempat lagi.” Tiba – tiba Rie memotong ucapan Chanyeol.

“Kalau begitu, kajja, kita ke sebelah sana.” Ajak Kris yang kemudian berbalik badan, berjalan menuju mejanya dimana istrinya Shiera menunggu.

“Chagiya…kita ke cafe lain saja…” Chanyeol masih membujuk Rie.

“Shireo!” Rie melepaskan tangan Chanyeol dan pergi.

“Chagi, wait! Hey…” Chanyeol kembali menggenggam tangan kekasihnya.

Mereka pun duduk berempat di meja bundar itu. Rie melihat perubahan Chanyeol yang terlihat lebih banyak diam dari pada sebelumnya.

“Haish! So clumsy!” Batin Chanyeol.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Oh ya, by the way, apa dia kekasihmu?” Tanyaku. Kulihat gadis itu sedikit memerah karena pertanyaanku.

“Ne?? Ah, hmm, dia kekasihku. Rie Hanaki.”

“Ige mwoya? Anata wa nihon jin desuka (apa kau orang Jepang)?” Tanyaku.

“Hai, desu yo!” Ujarnya.

“Kau kuliah jurusan apa?”

“Aku? Aku masih kelas tiga SMA eonni..” Ucapnya. Mwo?! Tiga SMA dia bilang?

“Dia tetangga apartmentku, Ra.” Lanjut Chanyeol tanpa kumintai penjelasan.

“Oh.. Rie, kau harus berhati – hati dengannya.” Bisikku.

“Hng? Waeyo eonni?”

“Terkadang, dia suka aneh sendiri. Kau harus tahan menghadapi sifatnya. Kkkk…” Kekehku.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Setelah dari cafe itu, Chanyeol berbicara serius dengan Rie saat perjalanan pulang, “Rie, aku..sudah mendapatkan uang untuk semua hutang itu.” Ucapan lelaki itu sukses membuat gadis itu menoleh padanya.

“Mwo?! Anni oppa…itu tidak sedikit! Dari mana kau dapat uang?”

“Kau tidak perlu tahu aku dapat uang dari mana. Yang jelas, uang itu kudapat bukan dari cara yang salah.” Jawab Chanyeol.

“Geundae…oppa…”

“Aku tidak menolak bentuk penolakan, Rie…”

“Oppa…gomawo yo…” Ucapnya lirih.

“Ne, chagiya…besok kita kirim uangnya ke Kyoto, ya?”

“Ne, oppa….gomawo..”

“Berhentilah mengucapkan itu terus menerus..” Ujar Chanyeol memeluk Rie.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Tak terasa waktu berjalan dengan cepat. Semua kejadian baik senang mau pun duka sudah dijalani Shiera dan Kris. Tak terasa, kehidupannya sebagai mahasiswi, nyaris berakhir dengan kelulusannya, sekaligus sebagai seorang dokter.

“Ukh!” Shiera berlari menuju kamar mandi di dalam kamarnya dan membuka keran wastafelnya. Tentu saja aktifitas itu membuat Kris heran melihat tingkah istrinya.

“Hoeeekk….Hoeeekkk….Hoeeeekk….”

“Yeobo? Gwaenchana?” Kris menghampirinya dan memijat tengkuk istrinya pelan.

“Assh..oppa, andwae..” Ia menepis tangan suaminya.

“Hooeeekkk….Hoeeeekkk…”

Air yang mengalir dari keran itu pun diusapkan ke bibirnya untuk membersihkannya.

“Yeobo, wae??” Tanya Kris. Tapi wanita itu langsung melewatinya begitu saja.

“Yeobo…”

“Gwaenchana, oppa…cepatlah mandi. Nanti makananmu dingin.” Jawab Shiera akhirnya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Hari ini kau tidak usah bimbingan skripsimu dulu.”

“Hee?? Waeee??” Protesku saat kami sarapan.

“Aku melarangmu, Ra! Kau sakit. Kau tidak boleh kemana – mana!”

“Shireo! Pokoknya aku mau bimbingan!”

“Yeoboo…mengertilah…aku tidak mau terjadi sesuatu padamu. Istirahatlah di rumah.”

“I’m okay. Oppa bisa lihat sendiri kan?” Pokoknya, aku harus bimbingan! Aku tidak mau menundanya lagi!

“Tidak bisa! Kau harus di rumah!”

“Oppaaaa~~~” Aku menarik – narik lengannya, berharap mendapatkan izin darinya untuk keluar rumah.

“Sebentaaaaaarrr saja…aku janji deh..” Ujarku lagi dengan menatapnya memohon.

Dia pun melihat arlojinya di tangan kirinya, “Sekarang jam tujuh. Kau boleh pergi tidak lebih dari jam satu. Jam satu harus sudah di rumah!”

“Aku perginya saja jam sepuluh, oppa. Dosenku ada jam sebelas. Tidak mungkin hanya dua jam..”

“Baiklah, jam tiga. Jam tiga sudah di rumah!”

“Tapi…”

“Tidak ada tawar menawar lagi. Jam tiga, atau tidak sama sekali!” Ujarnya dengan tegas menatapku. Hiii…aku takut kalau dia sudah memasang wajah seperti itu.

“Arraseo, oppa..” Ujarku tertunduk.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Aku berangkat, sayang..” Ujarnya yang kemudian mencium keningku dan bibirku.

“Ne, oppa..hati – hati ya…”

Puukk!

Ommo! Apa yang kulakukan?! Kenapa aku menepuk bokongnya?!!!!

“Yaah~ Yeobo, kenapa kau menepuk bokongku?” Dia kembali berbalik badan dengan sebelah tangannya di belakang. Kurasa sedikit mengusap bokongnya.

“Mo..mollasoo oppa…ta..tanganku bergerak sendiri..”

“Okay! Ini alasan yang tidak masuk akal, Shiera!” Batinku.

“Kau merindukanku karena semalam tidak bercinta?” Ujarnya yang menatapku dengan…err..aku ingin pingsan rasanya!

“Yaakk!! Sudah sana berangkat!” Omelku. Bagaimana bisa pagi – pagi seperti ini dia membuka harinya dengan ‘dirty talk’?? Oh God!

“Okay, okay yeobo..aku berangkat.” Ujarnya yang kembali mencium bibirku.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Chennie~ Kau sudah dimana? Jadi menjemputku kah?” Shiera menelpon sahabatnya.

“Aku baru saja tiba di depan rumahmu, nyonya Wu…cepat keluar!” Jongdae menjawabnya dari dalam mobil yang sudah terparkir di depan rumah mewah.

“Wow! Mobil baru kah?!!” Pekik Shiera saat keluar.

“Anni, aku hanya baru memakainya. Bagaimana mungkin aku menjemputmu dengan motor? Aku bisa dibunuh suamimu kalau kau sampai masuk angin.” Jawab Jongdae.

“Kau ini berlebihan…”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Rie…aigoo! Chagia, dengarkan aku dulu!” Chanyeol tampak mengejar Rie kekasihnya saat di kampusnya.

Rie kuliah dengan jurusan biologi di universitas yang sama dengan Chanyeol. Tapi, walau pun frekuensi bertemu mereka terbilang sering, entah kenapa Rie masih juga sering cemburu jika Chanyeol aktif di kegiatan club basket di kampusnya.

“Rie..” Chanyeol menahan tangan gadis itu.

“Issh~~ Oppa! Lepaskan!”

“Tidak, sebelum kau mendengarkanku.” Ujar lelaki pemilik suara berat itu.

“Apa yang perlu kudengar, eoh?! Aku melihatnya dengan kedua mataku sendiri! Kau memeluk gadis itu! Gadis yang kau bilang manager team basketmu!”

“Inilah akibatnya jika kau melihatnya setengah-setengah…haahh…” Ujar Chanyeol.

“Apa maksudmu?”

“Aku memang memeluknya. Kau benar…” Ucapan itu sukses membuat batin Rie semakin sakit.

“Kau tidak menyadarinya, eoh? Di sana, tidak hanya ada aku. Ada anggota team yang lain. Mereka semua bergantian memeluk managerku. Dan kau tahu alasannya kenapa? Ayahnya meninggal pada saat dia menemani kami bertanding kemarin. Dia merasa sangat bersalah dengan ayahnya, dan kini dia ingin izin beberapa hari.” Saat itu juga, Rie langsung merasa bersalah dengan Chanyeol. Karena, secara tidak langsung ia menuduh Chanyeol berselingkuh di belakangnya.

“Hiks…mianhae, oppa…” Gadis itu menangis di hadapan Chanyeol.

“Gwaenchana…itu berarti kau memang mencintaiku.” Jawab Chanyeol tersenyum dan memeluk gadis itu.

“Tapi, aku jahat padamu…”

“Tidak kok.” Ujar lelaki bertubuh tinggi itu sambil mengusap kepala Rie.

“Hey, hari ini kita jalan – jalan mau tidak?” Ajak Chanyeol yang dijawab dengan anggukkan kepala Rie.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Saat aku sedang bimbingan dengan dosenku, lagi – lagi rasa mualku datang. Berkali – kali aku menahannya agar tidak muntah. Tak lama kemudian, dosenku mengambil sesuatu di ruang ketua jurusan. Dan kurasa itu cukup untuk membuat rasa mualku sedikit berkurang.

Trrtt…Trrrtt.. Kulihat ponselku bergetar karena pesan masuk.

“Chennie?” Gumamku saat melihat namanya di layar ponsel. Segera kubuka pesan itu.

“Hey, aku sudah selesai bimbingan dengan pembimbingku, tapi sekarang aku mau ke club musik dulu. Aku akan menunggumu nanti di lantai dua ya. Di selasar lantai dua dekat ruang administrasi.” Pesan itu segera kubalas dengan menulis, “Ya, wait for me. Kau tahu, aku mual sekarang.”

Tepat setelah itu, pembimbing skripsiku kembali dan aku kembali bimbingan skripsi dengannya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Okay, aku akan mencari Ye Eun sambil menunggu Shiera selesai bimbingan. Aku akan bertanya langsung dengannya.” Batin Jongdae. Lelaki itu segera mencari Ye Eun di ruang musik, karena menurut teman – temannya, pasti gadis itu akan berada di sana sepulang kuliah.

Dan tepat sekali waktu yang dipilih lelaki bermata kecil itu. Gadis itu tengah bermain piano di ruang musik.

“Lagu ini….” Batin Jongdae yang masih melihatnya dari bali pintu ruang musik.

Dentingan tuts piano terdengar sangat indah saat dimainkan oleh gadis bermarga Song itu.

“Eodiseo wanneunji, eodiro ganeunji, chinjeolhi yeogikkaji majungeul wajun neo. Gapareun oreumak, kkakkajin jeolbyeokdo, geokjeongma mueotdo duryeoul geosi eobseuni. Neoneun ppomnae uahan jatae… O! Nan myeot beonigo banhago. Sarangeun ireoke nado moreuge. Yegodo eobsi bulsie chajawa. Walcheucheoreom sappunhi anja nuneul ttel su eobseo, siseoni jayeonseure georeummada neol
ttaragajanhaaa oh no..” Jongdae bernyanyi menghampirinya. Sontak saja gadis itu menghentikan permainan pianonya karena kaget.

Ia pun berdiri, dan berjalan melewati lelaki yang baru saja masuk ke ruang musik. Dengan cepat, Jongdae menahan tangan gadis itu tanpa berhadapan dengannya, “Kenapa kau menghindariku?” Gadis itu tidak menjawabnya. Ye Eun sibuk melepaskan tangannya dari tangan Jongdae yang menahannya.

“Ye Eun…?” Kali ini Jongdae menarik gadis itu untuk berdiri di hadapannya. Tapi yang terjadi adalah, Ye Eun menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya seolah tidak mau mendengar Jongdae bersuara.

Tidak hilang akal, Jongdae mengeluarkan ponselnya dengan satu tangannya dari saku celananya dan tampak menyentuh layar ponselnya dengan cepat.

“Kau membenciku?” Tulis Jongdae di ponselnya yang kemudian ditunjukkan pada gadis yang tangannya sedang ia genggam. Gadis itu menggelengkan kepalanya.

“Lalu, kenapa kau menghindariku? Kau seperti sangat membenciku sampai kau tidak mau mendengar suaraku.” Tulis Jongdae lagi.

“Mianhae…” Akhirnya Ye Eun mengeluarkan suaranya pertama kali pada Jongdae.

“Bolehkah aku bicara denganmu? Uhm, maksudku tidak dengan tulisan seperti ini.” Tulis Jongdae. Gadis itu terdiam.

“Kalau kau tidak mau, tidak apa…kita bisa mengobrol lain waktu nanti.” Tulis Jongdae. Gadis itu pun mengangguk.

“Sampai nanti. Aku masih ada urusan…bye..” Jongdae menulis kalimat itu dan menunjukkannya pada Ye Eun sebelum ia pergi.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Jongdae!! Astaga!! Kau dari mana?!! Shiera….Shiera….” Salah satu teman sekelasnya berlari tergesa – gesa padanya.

“Shiera? Wae guraee??” Tanya Jongdae.

“Shiera pingsan!”

“Mwo?! Pingsan?! Dimana?”

“Kau ikut aku!” Ujarnya. Jongdae pun mengikuti temannya berlari ke ruang kesehatan kampusnya.

Shiera yang masih tidak sadar, langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat oleh Jongdae. Sambil menunggu, Jongdae menelpon Kris melalui ponsel Shiera.

“Ne, yeobo?” Terdengar suara berat itu menyapa.

“Ng…hyung, ini aku. Jongdae..”

“Jongdae? Kenapa ponsel Shiera denganmu?” Tanya Kris.

“Hyung, Shiera di rumah sakit sekarang. Bisakah kau pulang? Dia pingsan di kampus, hyung.” Ujar Jongdae.

“Ne..ne…aku akan segera pulang.” Ujar Kris.

“Aku akan mengirim alamatnya.” Ujar Jongdae.

Dokter pun keluar setelah memeriksa Shiera. Jongdae langsung menghampirinya, “Bagaimana dia, uisa-nim?” Tanya Jongdae cepat.

“Chukkae. Istri anda hamil.. Dia hanya terlalu lelah.”

“Hamil?! Ah, saya bukan suaminya. Suaminya sedang dalam perjalanan pulang.”

“Jinjayo?”

“Ne…”

“Nyonya Shiera hanya kelelahan. Dia harus banyak istirahat. Saya sudah memberikannya obat. Beberapa saat lagi, dia juga akan sadar. Kandungannya harus dijaga, karena masih muda.”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Aku mencium aroma obat – obatan yang sangat menusuk hidungku. Aku juga merasakan keningku yang terus diusap, dan salah satu tangan ku yang digenggam erat. Dimanakah aku? Perlahan kubuka kelopak mataku. Siluet seseorang yang buram di pandanganku, perlahan lebih jelas ketika aku membuka kelopak mataku sepenuhnya.

“Kau sudah sadar, yeobo?” Sapanya tersenyum. Ya, suamiku, Kris. Kenapa dia di sini? Bukankah tadi aku bersama Chen?

“Oppa….” Lirihku yang berusaha duduk.

“Jangan…istirahatlah.” Ujarnya yang kembali membaringkanku. Geundae…wajahnya terlalu ceria. Apa yang menyebabkan ia senang? Ia senang aku berada di rumah sakit? Kurasa tidak.

“Yeobo, gomawo…” Ucapnya. Gomawo ia bilang? Untuk apa?

“Waeyo, oppa?” Lirihku.

Ia tersenyum dan kemudian berkata, “Kau hamil, yeobo…” Ucapnya yang kemudian mengecup bibirku.

“Hamil? Aku hamil, oppa?”

“Ne..” Senyum tak lepas dari wajahnya ketika mendengar aku hamil. Aku pun begitu. Aku baru ingat sekarang! Aku sudah tiga bulan tidak datang bulan.

“Umurnya baru tiga bulan. Kau jaga aegi kita ya, yeobo…” Tangannya mengusap perutku yang masih sedikit rata.

“Ne, oppa..” Jawabku tersenyum.

“Oppa, Chennie mana?”

“Jongdae? Dia langsung pulang setelah aku datang. Dia bilang, dia ada urusan..”

“Kau tidak mengusirnya kan, oppa?”

“Bagaimana bisa aku mengusirnya, sedangkan dia yang membawa istriku yang jelek ini ke rumah sakit?”

“Oppaa~~~” Protesku saat dia mengatakan aku jelek.

“Huuh..padahal aku belum sempat mengucapkan terima kasih padanya. Ayo pulang, oppa..”

“Kata dokter, kau harus istirahat sehari-dua hari di rumah sakit. Baiklah, aku akan ambil cuti saja untuk menemani eomma..” Ujarnya menyentuh hidungku.

“Appa..” Ucapku tersenyum. Panggilan yang aneh kurasa. Tapi, mau tidak mau predikat eomma dan appa akan segera menempel pada kami.

“Oppa…” Aku berusaha duduk.

“Yeobo, kau mau apa? Nanti aku yang ambilkan..” Aku menggelengkan kepalaku padanya saat aku sudah duduk.

“Oppa, aku mau itu…” Ia kemudian melihat ke arah bawah tubuhnya.

“Ahahaha, kau mesum, yeobo!”

“Kau yang mesum! Aku hanya mau menepuk bokongmu.” Jawabku.

“Mwoya?!”

“Ayolaaahh oppaaa~~” Rajukku.

“Shireo!”

“Oppaaaaa~~~~”

“Kau aneh, Ra!”

“Ayolaah oppaa…ini kemauan aegi kitaa…” Aku mengusap perutku.

“No!” Ujarnya tegas membereskan makanan untukku. Aku menyunggingkan seringai yang kurasa menyeramkan. Tanpa izin darinya, aku justru mengusap bokong suamiku sendiri dan menepuk – nepuknya.

“Yaa~~!! Yeoboo~! Hentikan~ Yeoboo~~!!”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Rie…aku…aku akan menikah..” Ujar Chanyeol. Sontak saja Rie, gadis berdarah Jepang itu membulatkan matanya.

Acara makan malamnya dengan Chanyeol saat ini adalah makan malam terakhir dengannya sebelum lelaki itu menikah. Gadis itu menghentikan makannya dan tertunduk diam dengan rambut panjang yang membingkai sisi kiri dan kanan wajahnya.

“Aku….mianhae, sepertinya aku ada tugas kuliahku yang belum kuselesaikan. Aku harus pulang.” Ujar Rie yang kemudian bangkit dari tempat duduknya.

“Chotto matte(tunggu sebentar), Rie!” Chanyeol ikut berdiri dan menahan tangan Rie.

“Urusan kita belum selesai, Rie…” Lanjut Chanyeol.

“Urusan apa lagi, Chanyeol-ssi? Kau akan menikah kan? Fokuslah dengan pernikahanmu. Terlebih lagi, kau sudah akan lulus kuliah.” Rie berusaha melepaskan tangannya yang digenggam Chanyeol.

“Aku memang akan menikah. Geundae…..itu pun kalau…kau bersedia menjadi istriku.” Chanyeol menatap gadis itu.

“M-Mworago??” Gadis itu membulatkan matanya.

“Kau….bersedia Rie Hanaki?” Pinta Chanyeol. Gadis itu masih terdiam.

“Aku ingin kau menikah denganku, menjadi pendamping hidupku selamanya, menjadi eomma untuk anak – anakku kelak.” Lanjut Chanyeol. Gadis itu menunduk dan ada sedikit rasa tidak percaya karena Chanyeol melamarnya.

“Aku tahu ini mendadak untukmu. Tidak perlu dijawab sekarang. Pikirkanlah baik – baik.” Ujar lelaki itu tersenyum dan menyampirkan jaket hitamnya di kedua bahu Rie.

“Sudah malam, kajja kita pulang. Kau juga masih ada tugas kuliah kan?” Ajak Chanyeol. Tetapi, gadis itu tidak bergeming dari titik dia berdiri saat Chanyeol menggandengnya untuk keluar.

“Oppa….aku….aku…” Lidahnya terasa kelu untuk mengutarakan keinginannya.

“Hng?” Chanyeol masih menunggu kelanjutan kalimat yang akan dilontarkan Rie.

“Aku…aku….aku bersedia. Aku…akan menikah denganmu..” Akhirnya kalimat itu berhasil keluar dari bibir tipis gadis itu meskipun dengan terbata – bata.

“Jeongmalayo?” Chanyeol senang dan tidak percaya kalau ia diterima gadis berdarah Jepang itu.

“Ne…” Gadis itu mengangguk malu.

“Aku bukan tipe orang yang melepaskan sesuatu di tengah jalan loh. Aku akan mengikatmu erat meskipun kau meronta dariku.” Ujar Chanyeol.

“Ne oppa….” Gadis itu tersenyum dengan semburat merah di pipinya.

“Saranghae…” Ucap Chanyeol yang kemudian mencium bibir gadis itu tiba – tiba.

“Yaah~! Oppa..kau…ini tempat umum tahu!” Rie menginjak kaki Chanyeol.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Setelah dua hari, aku diizinkan pulang oleh dokter dari rumah sakit.

“Oppa….kenapa kau cuti lagi sih?” Tanyaku pada suamiku.

“Apa kau bisa pulang sendiri, eoh? Kau ini ada – ada saja!”

“Isshh!” Aku menepuk bokongnya. Entah kenapa aku sering menepuknya. Bawaan bayi mungkin?

“Yaa~~ Yeobo!”

“Hehehehe….” Aku hanya terkekeh menunjukkan dua jariku yang membentuk huruf V padanya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Tidak terasa, hanya tinggal menghitung hari saja untuk wisuda bagi Jongdae dan Shiera untuk meresmikan gelar dokternya. Sebelumnya, mereka berdua sudah diambil sumpah kedokteran oleh ketua jurusan mereka yang juga seorang dokter.

Kandungan Shiera juga sudah membesar. Dan hal ini semakin membuat Kris sebagai suaminya sangat protektif dengan istrinya.

“Oppa, di kampusku akan ada pesta topeng sebagai acara perpisahan angkatanku.” Shierra bercerita pada suaminya sesaat sebelum tidur malam itu.

“Lalu?” Tanya Kris yang kemudian masuk ke dalam selimut yang sama setelah ia berganti baju.

“Aku ikut ya? Chennie juga katanya ikut.”

“Itu semua jurusan kah?” Tanya Kris.

“Ne…boleh kan aku ikut?”

“Andwae.” Ujar Kris tegas.

“Waeee??? Ini kan hanya sekali oppa…”

“Kau hamil, yeobo. Coba kau ingat – ingat, berapa usia kandunganmu, eoh?”

“Tujuh bulan? Kurasa itu sudah kuat jika ibunya mau beraktifitas apa pun.”

“Tidak! Aku tidak mau kau kelelahan, dan membuat anak kita keluar dengan premature.”

“Aku akan menjaganya…”

“Aku bilang tidak, yeobo…sudahlah..lebih baik kau tidur, sayang..” Lelaki itu kemudian membenarkan posisi bantal yang akan digunakan istrinya tidur.

“Tapi oppa….” Belum sempat Shiera melanjutkan kalimatnya, bibirnya dibungkam oleh ciuman dari suaminya.

“Tidurlah, atau kau ingin aku tiduri, eoh?”

“Issshh!! Dasar mesum!” Sebuah pukulan kecil dilayangkan pada dada bidang suaminya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Hari pesta topeng pun tiba. Pesta itu dilaksanakan di sebuah ballroom hotel mewah yang disewa oleh pihak kampus. Dan Jongdae datang bersama teman – temannya tanpa Shiera karena Kris melarangnya pergi lantaran wanita itu sedang hamil.

“Apa yang kau lakukan di sini, Jongdae?” Temannya menyapa lelaki yang memakai tuxedo silver lengkap dengan topengnya yang berwarna senada dengan tuxedo yang ia kenakan.

“Menikmati pesta?” Ucap Jongdae meneguk segelas Tequilla nya.

“Menikmati pesta bukan seperti ini…ah! Atau kau kesepian karena tidak ada Shiera? Hahaha.” Kelakar temannya.

“Bicara apa kau? Wanita hamil itu? Ahahaha…sayang sekali dia tidak bisa datang padahal di sini….” Jongdae menghentikan kalimatnya setelah kedua retinanya menangkap seseorang yang ia kenal. Dan lelaki itu langsung menyingkir dari teman – temannya.

“Hey, apa Tequilla ini sudah membuatnya mabuk?” Ujar teman – temannya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Seorang gadis berambut panjang yang mengenakan gaun merah dengan topeng berwarna silver yang menutupi setengah wajahnya menarik perhatian seorang Kim Jongdae. Dihampirinya gadis yang tengah memegang gelas minumannya yang berdiri di balkon dari ballroom hotel itu.

“Hai…” Sapa Jongdae padanya. Gadis itu menoleh dan hanya tersenyum tipis.

“Kau datang juga? Kupikir kau tidak datang, Ye Eun.” Dilihatnya gadis itu sedikit gemetar memegang gelasnya. Melihat itu, akhirnya, Jongdae mengeluarkan ponselnya dan melakukan hal yang sama saat dulu bertemu Ye Eun pertama kalinya.

“Mianhae, kau masih takut mendengar suaraku..” Tulis Jongdae pada ponselnya. Ye Eun hanya tersenyum membacanya. Gadis itu meninggalkan Jongdae di balkon sendiri. Tapi, lelaki itu tetap mengikutinya kemana pun ia pergi.

“Mi..mianhae…tolong…jangan..i..ikuti aku dulu…” Gadis itu bicara terbata – bata. Itu kalimat panjang yang pertama kali didengar Jongdae meskipun terbata – bata.

“Luar biasa sekali gadis ini…tanpa bicara, dia bisa menarik hatiku dengan mudah.” Batin Jongdae.

“Chakkaman! Menarik hati? Aku jatuh cinta dengannya?? Astaga! Aku termakan omongan sendiri!” Batin lelaki itu lagi.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Gadis itu memilih pulang dari pesta itu. Air mata keluar dari pelupuk matanya saat ia berjalan keluar mencari taksi. Tanpa disadarinya, seorang pria yang mengendarai mobilnya, tengah memantau kemana gadis itu pergi.

“Kenapa aku seperti ini? Kenapa aku selalu takut dengannya?” Air matanya menyeruak. Tiba – tiba dua orang pria mendatangi gadis itu. Dan sepertinya mereka punya niat buruk terhadap Ye Eun.

“Hey agasshi…kau sendirian?” Ye Eun memilih untuk tidak menjawab walaupun mereka terus mengikutinya.

“Dia tidak sendirian…” Jongdae keluar dari mobilnya dan berjalan menghampiri gadis itu. Dan kedua pria itu pun langsung pergi begitu melihat Jongdae.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Kau mau pulang kan? Ayo, kuantar…” Ajak Jongdae.

“Ti..tidak…”

“Gwaenchana…ini sudah malam juga..” Lelaki itu membuka jasnya dan menyampirkannya pada bahu Ye Eun.

“Masuklah…” Ujarnya yang membuka pintu mobilnya untuk gadis itu. Dan akhirnya, Ye Eun pun diantar pulang oleh Jongdae.

Jongdae tampak terlihat bisa mencairkan suasana kaku dan canggung pada Ye Eun. Dia mengajak gadis itu berbicara sepanjang perjalanan meskipun ia tahu kalau Ye Eun masih tidak mau mendengar suaranya.

“Gamsahamnida….Jongdae-ssi…” Ujar Ye Eun yang tidak berani menatap lelaki itu.

“Ne, cheonma, Ye Eun…”

Saat hendak gadis itu akan keluar mobilnya, Jongdae menahannya dengan mengatakan, “Hhmm….Ye Eun, aku…hmm maksudku, kita bisa bertemu lagi kan setelah kita wisuda?”

“Hhmm, ne…” Jawab gadis itu.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Oppaaaa~~~~” Aku bermanja – manja dengannya pagi ini.

“Hhm?” Dia mendudukkan tubuhnya di ranjang kami dan bersandar di headboard ranjang kami dan merangkulku.

“Aku mau salak…”

“Mwo? Itu apa?” Tanyanya.

“Buah…” Jawabku.

“Aku tidak pernah mendengarnya.” Dia memutar bola matanya.

“Impor oppa. Indonesia…” Lanjutku.

“Tapi tidak ada yang jual buah itu di sini.”

“Pesan dong oppa…ya.. Mau kan?” Rajukku.

“Aigoo~ Baiklah, nanti kupesankan. Hhh yeobo, kau ini…”

“Nah! Aku harus masak sekarang. Dan kau, oppa! Cepat mandi dan bereskan rumah!” Ujarku turun dari tempat tidur.

“Mwoo???”

“Sekarang weekend kan? Waktunya beres – beres!”

“Tapi, tidak bisakah kita berjalan – jalan? Aku sedikit penat.”

“Setelah beres – beres, kita jalan – jalan oppa.” Ujarku.

“Yeobo…”

“Mwo?” Aku menoleh.

“Ppopo juseyo..”

“Shireo…” Jawabku.

“Ppalliii…atau aku tidak mau bergerak.” Dia kembali tidur dan menarik selimutnya menutupi tubuhnya.

“Oppaaaa~~” Aku mengguncang – guncangkan tubuhnya yang membelakangiku.

“I didn’t hear you.”

“Yaah~~ C’mon oppa…” Aku kembali menarik – narik lengannya. Oh! Aku tahu cara membangunkannya!
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Wanita itu menarik tangan suaminya tapi tidak sedikit pun tubuh suaminya bergerak.

“Oppa…” Rajuk Shiera pada Kris. Akhirnya wanita itu menelusupkan wajahnya ke leher samping suaminya sambil menggelitikinya.

“Ssshh yeobo…hentikan..hhh…”

“Cepat bangun, oppa..” Bisik Shiera.

“Kalau kau seperti ini, kau membangunkan macan tidur namanya…” Kris berbalik badan, menahan kedua tangan istrinya di samping, dan mencium bibirnya.

“Hhmmpphh…oppa~~ Yaaahh!!” Shiera terus berusaha mengelak.

“Kalau aegi kita ini sudah lahir ke dunia, kita harus cepat memberikan adik untuknya supaya tidak kesepian. Iya kan yeobo?”

“Isshh!! Itu emang dasar oppa yang mau! Huh! Mesum!” Shiera mendorongnya. Beruntung pegangan tangan suaminya melonggar.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Selesai membereskan semuanya, Kris suamiku benar – benar mengajakku keluar. Alasannya karena dia merasa jenuh dengan pekerjaannya.

“Oppa kita mau kemana?” Tanyaku saat memasang savety belt.

“I don’t know.”

“Mwo? You don’t know?!”

“Kau maunya kemana? Belanja?”

“Belanjaan masih banyak oppa..persediaan makanan masih cukup.”

“Kalau begitu nonton film?”

“Film apa oppa? Memangnya ada film bagus?” Tanyaku.

“Molla…mau coba ke sana?” Tanyanya.

“Atau…kau browsing dulu jadwal filmnya.” Lanjutnya sambil mengemudi. Aku pun mengeluarkan ponselku dan melihat judul film dan jam tayangnya.

“Oppa, adanya film horror semua…” Ujarku kemudian.

“Sounds great! Ayo nonton!” Serunya.

“Mwoya?! Serius? Ini horror loh oppa!”

“Wae? Kau takut?” Ish! Nadanya seperti menyindirku.

“Annio ahjussi!” Ucapku ketus.

“Kau panggil aku apa?”

“Ahjussi. Wae?? Oppa lupa kalau beda usia kita empat tahun, eoh?” Aku menunjukkan empat jariku padanya. Ya, aku kini 22 tahun, dan itu berarti dia 26 tahun.

“Sigh~” Dia hanya mendesis kesal.

“Aigoo…aegi-ya, jangan kau tiru sifat buruk appa mu ne…” Ucapku mengusap – usap perutku.

“Eottohke yeobooo~~~”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Oppa, beli popcorn caramel yaaaa…” Rajukku saat ia membeli tiket nonton.

“Ne…” Jawabnya sambil mengeluarkan uang dan membayar 2 tiket itu.

“Pegang ini. Kajja kita beli makanan untuk si jelek ini!” Ujarnya memberikan tiket itu padaku dan merangkul bahuku. Aku sedikit mencubit pinggangnya.

“Kau mau apa, sayang?”

“Caramel. Popcorn caramel.” Ujarku seperti minta makanan pada ayah sendiri. Hahaha.

“Kau minum apa?” Tanyanya lagi.

“Cappuchino?”

“Sigh! Kau ini…tidak…tidak! Kau sedang hamil! Tidak boleh minum yang sejenis kopi!” Larangnya.

“Jadi apa dooonngg???”

“Chocolate milkshake saja ya?” Ujarnya.

“Ya sudah deh…”

Kulihat dia membeli 1bucket popcorn caramel untuk kita berdua, 1 chocolate milkshake dan 1 mocchachino. Sambil menunggu pintu theater dibuka, kami memakan popcorn caramel. Aku menyandarkan kepalaku di bahunya sambil memakan popcorn itu dan memainkan ponselku. Sementara dia, hanya mendengarkan musik sambil sesekali mulutnya terbuka untuk meminta popcorn yang baru kuambil.

“Oppa curang! Ambil sendiri dong di bucketnya. Jangan minta disuapi terus.” Protesku.

Tak lama kemudian pintu theater pun dibuka. Dan kami pun masuk ke dalam dan duduk sesuai deret nomor bangku yang dipilihkan suamiku agar tepat berhadapan dengan layar. Tidak terlalu mendongak, dan tidak terlalu dekat dengan layar. Sepertinya suamiku paling pintar jika mengatur tempat duduk ini.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Film horror pun mulai diputar. Shiera masih dengan santainya memakan popcorn bersama Kris.

“Kalau takut, tidak usah lihat.” Ujar Kris terkekeh yang melihat Shiera meremas tangannya sendiri.

“Nugu ya? Aku tidak takut!” Dalih Shiera.

Dipertengahan film, alur cerita semakin menegang dan mencekam. Sesekali kejadian horror pada film itu muncul.

“Kyaaaaa!!!” Shiera berteriak menutup wajahnya dan memeluk Kris yang ada di sebelahnya.

“Apa kubilang…kalau takut, tidak usah nonton..” Kris terkekeh melihat istrinya yang tiba – tiba memeluknya.

“Iiih! Aku tidak takut!” Shiera memukul lengan suaminya.

Tapi, ucapan Shiera sangat bertolak belakang dengan tingkahnya yang selalu memeluk lengan suaminya.

“Sudah jangan lihat lagi. Nanti kau mimpi buruk, yeobo.” Kris menutupi pandangan Shiera dengan tangannya yang juga memeluknya.

“Oppa, aku penasaran…”

“Kuceritakan saja nanti..”

“Oppa…”

“Sudah diam. Kau mengganggu yang lainnya. Tutup telinga dan pejamkan matamu.” Ucap Kris yang kemudian memeluk istrinya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Huuwwaaa!!! Oppa tegaaa…!! Kau saja yang senang saat menonton ini…” Aku merajuk padanya.

“Ahahaha mianhae…tapi kau lucu sekali yeobo kalau kau ketakutan seperti tadi.”

“Oppa jahaaatt~~” Aku memukul lengannya dan berjalan mendahuluinya.

“Yaa~ Yeobo, hati – hati…aigoo…uri aegi…yaa!! Yeoboo!!” Aku menghiraukan panggilannya.

“Hari ini aku akan menurutimu deh, yeobo…” Ucapnya yang bernegosiasi denganku.

“Really?” Tanyaku meyakinkannya.

“Sure..” Jawabnya yakin.

“Kau mau apa? Mau jalan – jalan kemana?” Tanyanya kemudian.

“Belanja?”

“Tapi kau bilang di rumah masih banyak persediaan.” Ujar Kris.

“Beli baju, sepatu, tas, hhmm..apa lagi ya?”

“Astagaaa…kenapa kau mendadak jadi shoppaholic?” Protesnya.

“Mollaaa…kau sudah janji kan, oppa…” Aku merajuk manja di lengannya.

“Ne..ne..baiklah.. Terserah kau saja.”

“Great!” Seruku.

Dan jadilah hari ini aku berkeliling mall, memasuki toko satu ke toko lainnya, membeli baju, sepatu, tas, juga pakaian bayi. Karena hasil USG menunjukkan kalau bayiku perempuan, maka aku beli semua perlengkapan bayi laki – laki berwarna pink.

“Raa~~ Mau berapa banyak lagi kau belanja?”

“Oppa, baby trollernya…”

“Haish yeoboo..itu bisa kita beli nanti. Kau lihat ini tanganku..sudah banyak belanjaan. Dan lihat yang kau pegang juga. Sangat banyak kan?” Ujarnya.

“O..ommo!! Kok bisa banyak sih oppa??” Sungguh aku tidak menyadarinya! Aku tidak sadar kalau sudah banyak berbelanja.

“Mana kutahu. Astaga yeobo..kita harus pulang sekarang! Berapa won lagi aku harus keluar kalau kau terus disini.” Omelnya padaku.

“Mianhae, oppa…”

“Kajja..” Ucapnya.

“Aaa…chakkaman! Baju ini bagus oppa. Aku mauuuu~~~” Rengekku.

“Anni…anniii…kau sudah banyak berbelanja!”

“Ayolah oppa….satu bajuuu saja..”

“Terserah kau lah. Tapi ingat! Hanya satu!”

“Ne, oppaaa~~”

Selesai belanja, aku memintanya untuk ke sungai Han, “Oppa…ke sungai Han yaaa…”

“Sungai Han?”

“Uhm…mau kan?” Tanyaku dengan mendesaknya.

“Ne…as your wish, yeobo..” Dia mengusap kepalaku dengan sebelah tangannya saat ia menyetir.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Ini untukmu…” Lelaki itu memberikan sebuah kotak kado pada gadis itu yang terus duduk menunduk di sampingnya saat mereka berada di sebuah taman kota. Ya, gadis itu kini harus membiasakan dirinya untuk mendengar suara lelaki itu. Gadis itu pun mengambilnya dari tangan lelaki itu.

“Eun?”

“N…ne??” Gadis itu terkesiap mendengar panggilan Jongdae.

“Kau sakit?”

“A…anni…”

“Mianhae, aku minta bertemu malam – malam.”

“Gwaenchana…aku…boleh buka ini?”

“Tentu saja…ini punyamu.” Ucapnya tersenyum.

Ye Eun pun membuka kado itu. Sebuah kotak berbentuk hati yang berwarna emas.

“Music box…..” Gadis itu menatap nanar benda yang ia pegang. Ia pun membuka music box itu yang kemudian mengeluarkan alunan musik indah. Bukannya tersenyum, gadis itu malah menitikkan air matanya.

“Ye Eun? Neo gwaenchana? Waeyo?” Tanya Jongdae khawatir yang kemudian memberanikan diri mengusap air mata di wajah gadis itu.

“Hiks…hiks….” Gadis itu mulai terisak mendengar musik dari music box itu.

Tanpa ia sadari, gadis itu memeluk Jongdae yang berada di sampingnya sambil menangis. Tentu saja ini membuat Jongdae senang sekaligus heran.

“Uljimma…” Jongdae mengusap kepala gadis yang bersandar pada bahunya.

“Mianhae. Jeongmal mianhae…” Ye Eun kaget dan refleks menjauhkan tubuhnya dari Jongdae.

“Kau ada masalah? Kau bisa cerita padaku, Eun…”

Sejenak gadis itu terdiam. Namun detik berikutnya, bibir gadis itu mulai berucap, “Music box itu mengingatkanku pada seseorang…”

“Seseorang?” Tanya Jongdae.

“Saat aku masih SMP, tiba – tiba seseorang memberiku music box saat aku ulang tahun…tapi lelaki itu menghilang…”

“Menghilang? Maksudmu dia….meninggal?” Tanya Jongdae hati – hati.

“Anni….dia pindah dari SMP ku. Dia pindah bersama keluarganya. Padahal…saat itu aku mulai menyukainya.”

“Kau menyukainya?”

Gadis itu pun mengangguk, “Ne, aku bahkan juga suka dengan suaranya. Aku menghindarimu bukan karena aku membencimu. Tapi, suaramu begitu mirip dengannya… Aku sedang belajar melupakannya.”

“Kalau begitu, kau tidak menghargainya…”

“Maksudmu?”

“Menghargai perasaanmu, Eun…” Ujar Jongdae. Gadis itu pun terdiam saat mendengar lontaran kalimat dari lelaki di sampingnya.

“Apa dia di Beijing saat itu?”

“Dari mana kau tahu?” Tanya Ye Eun heran.

“Nama lelaki itu Chen?” Gadis itu menatap Jongdae heran.

“Dari mana dia tahu, padahal aku tidak cerita apa pun dengannya.” Pikir Ye Eun.

“Aku Chen… Kau ingat? Aku tidak menyangka kalau kau Ye Eun gadis yang selalu berkepang dua itu.”

“Ka…kau…bukankah kau Kim Jongdae? Kau bukan orang Beijing. Chen itu orang Beijing…”

“Eun, nama Chen itu dari Shiera. Kau ingat Shiera? Gadis cerewet yang sering bersamaku. Aigoo, dia dari fakultas kedokteran juga. Sama denganku.”

“Shiera?” Tanya Ye Eun.

“Ne…”

“Aku tahu gadis yang sering bersamamu…tapi aku tidak tahu namanya. Kupikir dia…..”

“Kekasihku?” Sela Jongdae. Lalu ia kembali melanjutkan kalimatnya, “Ya, memang banyak yang mengira begitu. Tapi dia hanya sahabatku.” Gadis itu kembali terdiam.

“Aku sudah lama mencarimu dan Shiera. Tapi aku lebih dulu bertemu dengan Shiera. Kau tahu, kenapa aku memberikan music box itu dulu?” Ye Eun menggelengkan kepalanya pelan.

“Karena kau sering murung sambil memakan bekalmu sendirian. Kau memilih terpisah dari teman – temanmu dan memakan bekalmu sendiri sambil memasang wajah surammu itu.”

“Ta…tapi…ulang tahunku…”

“Itu bukan hal sulit menemukannya.” Ujar Jongdae tersenyum.

Untuk beberapa saat mereka terdiam. Tidak ada pembicaraan sama sekali. Hanya angin malam yang menemani mereka. Sampai akhirnya lelaki itu kembali berujar, “Apa music box itu masih ada?” Ye Eun pun menanggapinya dengan anggukkan kepalanya.

“Apa kita bisa lebih dari sahabat?” Gadis itu langsung menoleh pada pria di sampingnya. Raut wajahnya heran dengan ucapan pria itu.

“Maksudku….aku ingin kau jadi kekasihku.” Ujar Jongdae yang sedikit kikuk.

“Aku….aku…” Gadis itu sulit mengutarakan ucapannya.

“Aku anggap itu sebuah penerimaan karena wajahmu memerah.” Ujarnya yang tertawa kecil.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Bulan ke sembilan. Sungguh aku gugup menjelang hari persalinanku. Bayangkan saja, ini sudah bulannya dan aku tinggal menunggu harinya untuk melahirkan si kecil ini. Sesekali aku mengusap perutku yang membesar ini sembari aku memakan apel di ruang tengah menunggu kepulangan appa dari anak ini.

Ya, semenjak aku lulus kuliah, Kris suamiku melarangku untuk bekerja dulu. Yaaa alasannya karena aku mengandung. Sifatnya yang over protective menyusahkanku. Huh!

Ting! Tong!

“Ah! Itu dia! Dia sudah pulang!” Batinku. Aku pun keluar membukakan pintu untuknya. Hey! Bahkan aku belum meletakkan apelku sejenak.

“Hi honey~” Ucapnya saat aku membukakan pintu. Ia pun mendaratkan ciumannya di keningku.

“Apa yang ada di belakangmu?” Tanyaku saat melihat sebelah tangannya di belakang.

“Nan eopseo.” Ujarnya.

“Bohong.” Jawabku.

“Tidak ada apa – apa. Nih tas ku.” Ucapnya memberikan tas kantornya padaku.

“Oppa tidak bohong kan?”

“Anni…” Ujarnya. Aku pun berbalik badan dan masuk untuk membereskan keperluan suamiku nanti.

“Kau buru – buru sekali, yeobo…” Ucapnya memelukku dari belakang. Ia meletakkan dagunya di bahu kananku.

“Untukmu…” Dan tiba – tiba saja se bucket bunga mawar putih, merah, dan pink berada di hadapanku. Rupanya yang sedari tadi di belakangnya adalah bunga – bunga ini. Hihihi.

“Kapan aegi kita lahir ya, yeobo? Aku tidak sabar melihatnya…” Ucapnya sambil mengusap perutku saat aku sedang menghirup aroma bunga – bunga ini di tanganku.

“Sabar, sayang…” Ucapku tersenyum kecil.

“Kalau dia sudah lahir, kita harus memberikannya saeng, yeobo…”

Aku lantas berbalik badan, “Itu sih maunya oppa!”

“Wae? Masa anak kita cuma 1 sih yeoboo??”

“Aigoo…sudah..sudah.. Ucapanmu sudah melantur, oppa. Sana mandi. Aku akan menyiapkan pakaianmu dan makan malam mu.”

“Ppopoo…” Rajuknya. Sungguh tidak cocok kalau dia merajuk seperti ini.

“Mwo?”

“Ppopo, yeoboo…” Tunjuknya pada bibirnya. Aku pun menciumnya singkat dan segera berlalu ke kamar menyiapkan pakaiannya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Selesai makan malam, karena masih jam delapan malam, kami berniat menonton film yang minggu kemarin kami beli.

“Oppa, ppali…aku mau nonton yang itu…”

“Chakkaman yeobo…aku juga sedang memasangnya.”

“Nanti aku malah ngantuk kalau kau lama, oppa..”

“Kau ini cerewet seka….”

Ting! Tong! Tiba – tiba saja suara bel rumah kami menginterupsi kalimat Kris suamiku.

“Siapa datang malam – malam seperti ini? Mengganggu saja..” Gerutunya.

“Cepat buka pintunya, oppa…” Ucapku. Dengan malas pun ia keluar untuk membuka pintu.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Oppa, apa kita tidak mengganggu mereka? Ini kan sudah malam… Kalau mereka sudah tidur bagaimana?” Seorang gadis tampak gelisah di samping lelaki pemilik mata bulat ini.

“Aku yakin Shiera belum tidur.” Ujarnya.

“Geundae….”

Cklek! Pintu pun terbuka. Seorang pria berambut blonde keluar dari dalam rumahnya.

“Chanyeol?” Ucapnya yang kemudian melihat ke arah gadis yang ada di sebelah lelaki itu juga.

“Ne hyung… Mianhae, kami mengganggu..”

“Hhmm….tidak juga sih…” Ujar Kris yang ber basa – basi.

“Kajja, masuk…” Ajak Kris.

“Oppa, siapa yang dat….Chanyeol?!!” Mata Shiera langsung terbuka lebar, kaget melihat Chanyeol dan seorang gadis datang ke rumahnya.

“Kau benar – benar datang??” Ujar Shiera lagi.

“Ne, karena aku mau memberi kalian sesuatu… Kau tahu, mencari alamat rumah kalian yang baru ini, sulit sekali!”

“Kau saja yang buta arah!” Ledek Shiera pada Chanyeol.

“Kajja, duduk…” Ajak Kris.

“Chakkaman, aku buatkan minum dulu.” Ujar Shiera.

“Aku ikut, eonni…” Tiba – tiba Rie bersuara.

“Kau duduk saja sama si mata besar itu…”

“Gwaenchana, eonni…”

“Baiklah, ayo sini..” Ajak Shiera.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Kalian kenapa malam – malam ke sini?” Tanyaku saat di dapur bersama Rie, kekasih Chanyeol saat ini.

“Oppa mau menyampaikan sesuatu.” Jawab Rie.

“Jeongmal? Pada siapa?”

“Pada eonni dan suami eonni…”

“Sepenting itu kah sampai tidak bisa menunggu besok?”

“Katanya itu penting sekali, eonn. Nanti eonni juga akan tahu kok.”

“Jinja yo? Aku penasaran sekali…ada apa sih?”

“Aku tidak mau mendahului Chanyeol oppa ah.”

“Aigoo~~ Kau ini, pelit sekali..” Ucapku sambil mengaduk 4 cangkir teh untuk kami.

“Hihihi, mianhae eonni… Oh ya, kandungan eonni sudah bulannya kan? Aku tidak sabar melihat bayimu nanti…”

“Sama, aku juga…aku gugup menjelang kelahiran aegi pertamaku ini…”

“Aigoo….bagaimana nanti aku ya??” Ucapnya yang terlihat khawatir.

“Hahaha, tidak usah se-khawatir itu, Rie-chan… Ah, Rie tolong ambilkan snack itu…” Ujarku menunjuk lemari transparan di atas Rie.

“Eonni repot sekali…”

“Hanya makanan ringan…”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Ada apa kau ke sini malam – malam, Yeol?” Tanya Kris.

“Mianhae, hyung…bukannya aku ingin mengganggu istirahat kalian, tapi aku dan Rie hanya ingin memberikan ini…” Ujar Chanyeol memberikan sesuatu.

“Undangan?” Kris menaikkan sebelah alisnya.

“Aigoo~ Mianhae minumannya terlambat..” Ujar Shiera yang datang dengan Rie yang juga membawa snack camilan.

“Haish, kau semakin besar saja, Ra!” Ledek Chanyeol.

“Yaa! Kau bilang apa? Mau nampan ini melayang ke kepalamu, eoh?”

“Hyung, kenapa dia galak sekali?” Chanyeol seperti merajuk pada Kris.

“Ahahaha, mungkin obatnya habis?” Ledek Kris juga.

“Oppaaa!!” Shiera protes dengan ucapan suaminya.

“Sini, yeobo..kau tahu Chanyeol memberikan apa untuk kita?” Kris menepuk sisi sebelahnya untuk duduk istrinya.

“Mwo?” Tanya Shiera sambil membaca undangan itu.

“Menikah?!!! Kalian akan menikah?!!!” Shiera kembali bersuara setelah membaca undangan itu.

“Kau terlihat kaget sekali…” Celetuk Chanyeol.

“Astaga, Rie…apa kau sudah pikirkan baik – baik??? Hey, aku saja bahkan tidak mau dengannya!” Ujar Shiera pada Rie seolah tidak mendengarkan ocehan Chanyeol.

“Hey, jangan menjelek-jelekkan aku, Ra!” Chanyeol protes.

Kris pun membaca undangan itu, “Pernikahan kalian sebentar lagi ya…satu bulan lagi…” Ujar Kris.

“Kuharap kalian datang…” Ujar Chanyeol.

“Absolutely, kami akan datang.” Ujar Kris menanggapi.

“Oh ya, kau kenal Jongdae kan, Ra? Kudengar ia kuliah di tempat yang sama denganmu.” Tanya Chanyeol.

“Kim Jongdae maksudmu?”

“Ne…”

“Kenal, wae? Dia teman kecilku.”

“Jeongmal?? Dia guru privat nya Rie dulu. Rie mau mengundangnya, tapi tidak tahu alamatnya. Menghubunginya pun sulit sekali…”

“Oh, dia mengganti nomornya. Karena katanya, sim card dia rusak..entahlah..”

“Aigoo! Pantas aku menghubunginya susah sekali.” Keluh Rie.

“Kau mengundangnya juga?” Tanya Shiera.

“Ne, eon…eonni tahu alamatnya tidak?”

“Tahu…sebentar ya aku ambil pulpen dan kertasnya dulu.”

“Aku saja yang ambil, yeobo.” Ujar Kris.

“Gomawo yo, nae nampyeon…” Ujar Shiera tersenyum pada suaminya.

“Cheonmaneyo, honey…” Balas Kris.

Setelah mendapatkan alamat Jongdae dan menyerahkan undangan untuk Kris dan Shiera, mereka langsung pamit pulang.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Oppaaaaaaa bisa kah kau pulang??? Aku tidak tahaaaann!!!!!” Siang ini aku menelpon suamiku yang sedang di kantor.

“Apa yang terjadi denganmu, sayang?”

“Aegi kitaaaaa!!!!!! Opppaaaa!!!!” Aku menjerit.

“Ommo!! Apa kau akan melahirkan?!”

“Menurutmu???!!!!! Cepat pulaaanggg!!!!!” Omelku.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Aaakkkhh!!!!” Aku mencengkeram tangan Kris suamiku erat. Seiring dengan itu bayi perempuan yang masih berlumuran darah itu diangkat oleh perawat rumah sakit untuk dibersihkan.

“Selamat nyonya, tuan…si cantik ini lahir dengan selamat. Tidak ada cacat sedikit pun.” Ujar dokter itu yang menangani persalinanku.

Selesai dibersihkan, bayiku langsung diberikan padaku untuk diberikan ASI pertama. Ya Tuhan, ini benar – benar moment yang membuatku bahagia. Aku memberikan ASI pada anakku, ditemani suamiku di sampingku.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Mom dan Dad sudah kuberitahu. Mereka akan pulang dari Italia hari ini juga. Mungkin besok baru sampai di bandara.” Ujar Kris saat menemaniku di ruang perawatan. Ya, pasca melahirkan, aku memang harus dirawat di sini untuk pemulihan.

“Eomma sama appa?” Tanyaku.

“Sudah juga. Mereka akan ke sini kok.” Ucapnya yang kemudian duduk di bangku yang berada di samping tempat tidurku.

Ia kemudian meraih tanganku, diciumnya punggung tanganku olehnya.

“Oppa, wae?”

“Hng? Anni…” Ucapnya tersenyum.

“Gomawo yeobo…” Ujarnya kemudian yang menyentuh pipiku dan membelainya.

“Gomawo?” Tanyaku.

“Ne…untuk menjadi pendamping hidupku dan karena kau sudah memberikan malaikat kecil di antara kita.” Ujarnya lagi.

“Cheonmaneyo, oppa…aku juga berterima kasih padamu…karena kau sudah sabar menghadapiku.”

“Haaahh…memang. Untuk menghadapimu itu perlu kesabaran yang extra!” Dia menghela napasnya.

“Oppaaaa, kau…” Ommoo!!! Belum sempat aku bicara, mulutku dibungkam oleh bibirnya.

“Kau terlalu banyak bicara, sayang…” Ujarnya yang kemudian mengecup ringan bibirku.

“Permisi…” Seorang perawat pun masuk mendorong box bayi yang belum diberi nama itu. Ah! Bayiku datang! Ini waktunya memberikan ASI.

“Wah, ada appa nya juga ternyata…” Ujar perawat itu sebelum pergi. Kris pun hanya tersenyum dan mengambil bayi itu dari boxnya. Aigoo, aku sangat suka melihatnya yang menggendong bayi seperti ini. Dia terlihat lebih….berkarisma?

“Ayo, ke eomma…” Ucapnya sambil memberikan bayi yang tengah menangis itu ke tanganku.

“Aigoo…aigoo…uljimma…” Aku mengambilnya dari gendongan Kris.

“Aww…aisshh..appo…” Rintihku.

“Wae yeobo?”

“Hng? Annii..” Jawabku. Mungkin karena cemas, akhirnya Kris duduk di tepi tempat tidurku. Ia mengawasiku yang sedang menyusui.

“Oppa kenapa di sini?”

“Memastikan kau tidak apa-apa.”

“Gwaenchana assh oppa..ommo…”

“Aigoo…uri aegi nakal ya…kamu tidak boleh gigit sayang.. Cukup appa saja yaa…” Ucapnya membelai lembut pipi bayi kami.

“Mesum!”

“By the way, nama untuk anak kita belum ada sayang…” Ujar Kris padaku.

“Uhm…menurutmu nama yang bagus siapa, oppa? Beauty? Kirei?”

“Sayang, beauty dan kirei itu artinya sama…” Ucapnya.

“Terus siapa dong??”

“Aku tahu! Annchi. Wu Annchi. Bagaimana menurutmu?”

“Annchi? Artinya apa, oppa?”

“Bidadari cantik. Bagaimana?”

“Kyaaa! Itu keren oppa!” Seruku.

“Baiklah, aku harus ke ruang bayi dulu untuk memberitahukan nama Annchi pada mereka.”

“Nanti saja oppa..kalau eomma dan appa sudah datang.”

“Baiklah…aku akan menunggu mereka sampai datang.” Ujarnya tersenyum.

“Oppa, sudah tidur dia…” Aku melirik pada anakku untuk memberitahukan suamiku.

“Ah, ne….dia menggemaskan sekali, yeobo!”

“Ne, oppa…pipinya seperti bakpao.” Lanjutku.

“Ne, aku gemas dengannya.”

Chu~ Tiba – tiba saja aku langsung mencium pipi suamiku. Entah dorongan dari mana. Hanya ingin melakukannya saja.

“Ye…yeobo???” Dia terlihat kaget.

“Hehehe….” Aku hanya menunjukkan deret gigiku saja.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Aigoo, appa lihat cucu kita.. Lucu sekali ya! Aiih menggemaskan!” Eomma tak henti – hentinya melontarkan kata – katanya saat menggendong Annchi.

Cklek! Pintu ruang rawat pun terbuka. Ah! Ternyata Kris suamiku.

“Eomma, appa, lebih baik makan dulu. Aku baru saja membeli makanan.”

“Aigoo, Kris..kenapa kau repot sekali?” Tanggap appa.

“Repot? Annii, appa..lagi pula ini sudah malam. Appa dan eomma juga belum makan kan?”

“Sebenarnya kita sudah mau pulang, Kris.” Ujar eomma.

“Mau pulang?”

“Ne…karena kau sudah kembali, kami akan pulang.”

“Ah, tapi ini bawa saja, eomma.” Ujar Kris.

“Ne, eomma…bawa saja.. Kan eomma jadinya tidak usah memasak lagi di rumah.” Sambungku.

“Ne, baiklah.. Gomawo…”

“Cheonmaneyo, eomma…” Jawab Kris.

“Aku antar eomma dan appa dulu ke bawah ya..” Ujar Kris kemudian padaku yang juga mencium keningku. Aku menjawabnya dengan anggukkan kepala sambil menggendong Annchi.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Rie, besok kau ada waktu?”

“Wae, oppa?” Tanya Rie saat Chanyeol menelponnya.

“Shiera melahirkan. Bagaimana kalau besok kita ke sana?”

“Jinja? Eonni melahirkan? Tapi kita kan belum beli kado, oppa…”

“Kita ke sana sore saja. Kita beli sesuatu dulu untuknya.”

“Baiklah, oppa..tapi kita beli apa ya?”

“Molla, kita lihat saja besok.”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Jongdae tidak bisa datang katanya.” Ucap Kris.

“Hng? Wae oppa?” Tanya Shiera setelah meminum segelas susunya.

“Dia di Austria.”

“Di Austria?” Ulang Shiera.

“Foto prewedding?”

“Mwoya?! Prewedding??? Dengan siapa???!!!” Pemilik rambut hitam panjang itu kaget begitu mendengar kalimat dari suaminya Kris.

“Entahlah, dia hanya bilang itu saja. Oh! Tapi dia akan datang ke pernikahan Chanyeol. Sehari sebelum dia ke Austria, Chanyeol dan Rie mendatangi rumahnya yang kau berikan alamatnya itu.”

“Dan kalau Chanyeol, mungkin besok dia akan datang bersama Rie.” Lanjut Kris.

“Ish! Chen itu menyebalkan! Dia mau nikah juga kenapa tidak bilang sih!” Gerutu Shiera yang kemudian meraih ponsel layar sentuhnya.

“Mau apa?”

“Mau lihat accountnya Chen.” Jawab Shiera.

“Sebentar saja. Kau harus istirahat.”

“Ne, oppa…”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Tuh kan bener!”

“A-astaga, yeobo!” Lelaki yang hendak tidur di sofa di ruang rawat istrinya itu kaget mendengar teriakan istrinya hingga mengusap dadanya.

“Eoh, mianhae…oppa…”

“Kau kenapa sih?”

“Cheennn….dia bersama….Ye Eun??!!!” Mata Shiera membulat saat melihat layar ponselnya yang menampilkan foto lelaki itu dengan seorang gadis di home page account pribadinya.

“Ye Eun? Nugu Ye Eun?”

“Oh, itu teman club musik aku, oppa.”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Issh! Menyebalkan sekali dia! Dia pernah bilang, dia tidak tertarik dengan Ye Eun. Tapi sekarang mau menikahinya! Dasar! Pokoknya, aku akan mengomentari fotonya ini!

“Yaah! Kau mau wedding? Pabbo yaa! Kenapa aku tidak diberitahu?? Kau langsung photoshoot di Austria! Kau harus bawa oleh – oleh!” Aku mengomentari foto yang baru beberapa jam lalu di posting.

“Yeobooo…tidur…” Huuwwaa!! Ternyata Kris masih bangun!

“Chakkaman, oppa..”

“Tidur..cepat taruh ponselmu.”

“Ne..” Ujarku yang masih memainkan ponsel.

“Sekarang..”

“Ne…” Okay, fine! Akhirnya aku letakkan ponselku di atas meja.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Sayang, kau juga harus makan. Buka mulutmu..aaa~” Kris mencoba menyuapi Shiera yang sedang menyusui.

“Nanti saja, oppa… Annchi lebih butuh makan.” Ujarnya.

“Kau kan aku suapi.”

“Susah.”

“Apanya yang susah? Kau hanya membuka mulutmu saja.”

“Geundae….” Kris tetap menyodorkan sendok yang berisikan makanan. Dan akhirnya, Shiera makan walau pun ia menyusui Annchi, anaknya.

Cklek! Pintu pun terbuka. Sepasang suami istri masuk ke dalam ruang rawat itu. Sang wanita berkebangsaan Canada yang berambut panjang bergelombang yang berwarna blonde itu tengah membawa parcel buah ditemani oleh suaminya yang berasal dari negeri tirai bambu menjenguk menantunya yang baru saja melahirkan.

“Mom? Dad?” Kris langsung bangkit dari duduknya dan menyambut kedua orang tuanya.

“Hi Kris.. How’s your life(bagaimana kabarmu)?” Sapa ibunya.

“It’s great, mom!” Jawab Kris.

“Dad, kenapa tidak bilang kalau sudah tiba? Aku kan bisa menjemput kalian.” Kris bicara dengan bahasa tanah kelahiran ayahnya.

“Kami tidak mau merepotkanmu. Lagi pula, tadi kami juga sudah pulang dulu.”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Hi honey, how do you do? Oh my God! She’s pretty like you.” Ucap mertuaku

“Nice day, mom. Pretty? She’s cute right?”

“Yes! She’s also cute. Oh my first grandchild…boleh mom gendong?” Tanyanya.

“Of course, mom! Mom boleh menggendongnya kok…” Jawabku. Kami memang sering mencampur banyak bahasa jika mengobrol. Terkadang mom berbicara Korea, terkadang berbahasa mandarin, terkadang kami berbicara dengan berbahasa Inggris.

“Kalian sudah memberi nama anak kalian?” Tanya dad.

“Sudah, dad. Namanya Annchi. Wu Annchi. Bidadari cantik dari keluarga Wu.” Jawab Kris yang duduk di tepi tempat tidurku.

“It’s sounds good! Annchi…really pretty name.” Ujar mom sambil menggendong Annchi.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Sementara itu, Chanyeol dan Rie tampak sibuk di toko perlengkapan bayi.

“Bayinya kan perempuan, jadi harus warna – warna cerah saja bajunya.” Ujar Rie yang sibuk memilih baju untuk bayi dari Shiera.

“Chagiya, ini bagus kan? Coba lihat ini.” Chanyeol menghampiri gadis itu dan menunjukkan babydoll berwarna biru.

“Oppa, kok biru sih? Bayinya kan perempuan.” Protes Rie.

“Wae? Biru netral kok.”

“Annii….anniii…itu warna laki – laki!”

“Tapi ini lucu, chagiya! Ada tudung kepalanya langsung.”

“Tapi itu buat laki – laki.”

“Tapi ini praktis. Mana punyamu? Punyamu pasti tidak lebih bagus dari pilihanku.”

“Oppa! Aku bisa pilihkan baju yang lebih bagus dari pilihanmu. Huh!” Gerutu Rie.

“Mana? Coba aku lihat.” Tantang Chanyeol.

“Isshh…oppa sana deh!”

“Permisi, ada yang bisa saya bantu?” Seorang pelayan toko menghampiri mereka.

“Kami mau mencari baju untuk bayi.” Jawab Chanyeol.

“Bayinya laki – laki atau perempuan?”

“Perempuan.” Ujar Rie.

“Laki – laki.” Ucap Chanyeol juga yang bersamaan dengan Rie. Sukses Rie melirik ke arahnya dan terlihat protes. Dan pelayan toko itu pun terlihat bingung dengan jawaban pasangan di hadapannya.

“Kata oppa perempuan…bagaimana sih??”

“Oh, mianhae…aku jadi membayangkan anakku nanti yang laki – laki. Ne, bayinya perempuan..” Dan tentu saja Rie menatapnya dengan tatapan tajam yang membuat Chanyeol hanya menunjukkan deret giginya yang terlihat putih bersih.

Sibuk memilih – milih, Chanyeol dan Rie harus mengalami perdebatan kecil lagi.

“Kalau botol bayi sebesar itu untuk apa?? Eonni kan pasti menyusuinya, bukan dari susu kaleng!”

“Untuk persiapan kalau dia sudah besar.”

“Tidak sebesar itu oppa! Pakai saja botol bayi yang kecil.”

“Kalau kecil, harus dua kali buat dong?” Chanyeol tidak setuju.

“Sekali saja kan cukup. Toh juga bayinya eonni juga minum ASI.” Jawab Rie.

“Gizi juga harus dibantu dari luar. Susu tambahan kan bisa saja.”

Dan mereka sepanjang waktu saat membeli perlengkapan bayi harus berdebat dulu. Tapi, akhirnya Chanyeol lebih banyak mengalah untuk Rie. Sebenarnya Chanyeol juga hanya mengetes selera Rie.

“Bagus juga dia. Ya, kalau begini kan aku tidak perlu repot jika membeli perlengkapan aegi ku nanti.” Batin Chanyeol.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Sayang sekali mom dan dad hanya sebentar di sini. Padahal aku masih rindu dengan mereka. Dan kuyakin, suamiku juga seperti itu.

“Oppa, kapan aku pulangnya?”

“Kau masih belum pulih, sayang..”

“Tapi kan sebentar lagi pernikahan Chanyeol. Masa aku belum keluar dari rumah sakit?”

“Aigoo, kau pentingkanlah kesehatan…”

Tok! Tok! Tok! Cklek!

“Oppa, nugu?” Suamiku pun langsung ke depan setelah mendengar suara pintu terbuka. Dan aku mendengar percakapan dari depan.

“Eonniii~~!!”

“Ri..Rie?!” Mwoo?? Rie?? Dia di sini? Itu berarti…

“Woaahh!!! Kau sudah menjadi eomma rupanya!” Benar kan! Happy virus itu di sini. Siapa lagi kalau bukan Park Chanyeol! Aigoo!

“Mana kado untukku?” Aku langsung menodong Chanyeol.

“Untukmu? Ahahaha you wrong! Ini untuk anakmu!” Ujar Chanyeol yang meletakkan paper bag di meja samping.

“Ommo na! Eonni, bayimu lucu sekali!” Seru Rie saat melihat bayiku di dalam box bayinya.

“Namanya siapa, eonn?”

“Annchi. Wu Annchi.”

“Kenapa namanya susah sekali, eoh?” Sambung Chanyeol padaku.

“Ada masalah dengan nama anakku, eoh?” Kris meletakkan lengannya di atas bahu Chanyeol seolah – olah dia lah yang berkuasa. Hahaha suamiku ini benar – benar sombong!

“Mwoo?? A…anni..hyung..”

“Cih! Payah kau, Yeol! Baru seperti itu saja kau takut dengan Kris oppa!” Sindirku.

“Aku tidak takut!” Dan detik itu juga, suamiku melirik ke arahnya, “Jinja yo?” Ucap Kris. Chanyeol hanya tersenyum kecil menanggapinya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Lain di Seoul, lain pula di negara lain. Lebih tepatnya di Austria. Tempat dimana Jongdae dan Ye Eun akan melaksanakan foto preweddingnya.

“Chenchen, aku takut..aku tidak mau ah!”

“Wae? Aku di sini. Mereka sudah menunggu kita.” Ujar Jongdae yang masih menggandeng tangan Ye Eun.

“Geundae….” Ye Eun nampak khawatir meskipun gaun yang digunakan untuk foto preweddingnya sudah menutupi tubuhnya.

“Yang pilih tempatnya di sini siapa? Kau yang pilih, masa tidak mau?” Jongdae terlihat membujuk Ye Eun.

“Kupikir danaunya tidak sedalam iniiiii…”

“Kau ini aneh. Apa kau tidak menyadarinya saat mereka mengingatkan kalau kita harus pakai scuba?”

“Aku terlalu senang, Chenchen…sampai – sampai hal itu tidak kuperhatikan.” Ucap Ye Eun lagi.

Ya, mereka mengadakan photoshoot di danau. Lebih tepatnya Green Lake yang terdapat di Austria. Danau ini sangat mengagumkan. Di dalam danau ini terdapat sebuah taman layaknya taman yang ada di daratan. Seolah – olah, taman yang terdapat di dalam danau ini adalah taman yang tenggelam. Bahkan taman di bawah danau ini memiliki rumput hijau, bangku taman yang terbuat dari semen layaknya taman – taman yang ada di permukaan tanah. Benar – benar sangat mengaggumkan hingga membuat Ye Eun memilih tempat ini untuk lokasi foto preweddingnya dengan Jongdae.

“Apa yang kau takuti? Tenggelam? Kau bisa berenang, Eun.”

“Anniii…bukan itu! Aku takut…kehabisan napas.” Ujar gadis itu lirih.

“Aku akan memberikan scuba ku padamu. Kalau tidak bisa juga, kau bisa mengetahui langkahku selanjutnya kan? Hahaha.”

“Yaa! Aku tidak bercanda!”

“Aku juga tidak.” Jawab Jongdae santai.

“Sudahlah, kajja…yang penting adalah, kau jangan panik.” Jongdae membawa Ye Eun.

Setelah berhasil meyakinkan Ye Eun, mereka berdua pun memasang alat scuba dan menyelam ke dalam danau itu diikuti oleh beberapa crew yang terlibat dalam photoshoot prewedding mereka.

Saat di dalam, mereka berdua yang sudah mengerti arahan fotografer langsung bersiap di posisi masing-masing. Gadis itu tengah duduk di bangku semen itu dengan Jongdae yang berada di hadapannya dengan memberikan bunga padanya. Untuk foto berikutnya, Ye Eun yang tampak berenang beriringan dengan Jongdae dan sang fotografer pun mengabadikan moment itu di hadapan mereka.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Tidak aktif, oppa…” Ucapku pada Kris suamiku.

“Masa? Dia baru posting foto nih..” Ujar Kris yang menunjukkan layar ponselnya padaku.

“Iya juga..kenapa tidak bisa ya?” Batinku.

“Ya sudah lah, besok saja lagi kau telepon.”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Tak terasa hari ini adalah hari pernikahan Chanyeol. Si happy virus itu! Hahaha. Hebat juga dia, bisa menyewa ball room hotel mewah ini dan juga dua lantai hotel untuk keluarganya dan orang – orang yang membantu pesta pernikahan ini. Apa dia mau menyaingi suamiku, eoh? Hahaha!

Hey, aku bahkan disuruhnya menginap di sini. Ya, di hotel ini. Dia memberikan satu kamar untukku dan Kris suamiku juga Annchi. Padahal Kris sudah berkali – kali menolaknya. Tapi karena ia terus mendesak, akhirnya kami menerima tawaran itu.

“Yeobo? Kau sudah bangun?” Ommo! Kenapa dia keluar kamar mandi masih pakai handuk! Astagaaa!!!

“Ne..kenapa kau tidak membangunkanku?”

“Kau terlihat nyenyak sekali tidur bersama Annchi. Aku tidak tega membangunkanmu.”

“Ini kan pernikahan Yeol, oppa. Bukan liburan. Kau ini bagaimana?? Lalu…sigh! Oppa, kau pakai baju sana!” Ucapku ketus.

“Kau ini galak sekali, pagi – pagi seperti ini..” Dia memelukku dari belakang saat aku mengganti popok Annchi. Bisa kurasakan baju belakangku basah karena menempel pada dadanya yang masih basah karena habis mandi.

“Ck! Kau membasahi bajuku, oppa!”

“Kau juga belum mandi kan? Hahaha.” Dia malah menyandarkan kepalanya di bahuku.

“Oppa~” Aku menggidikkan bahuku.

“Hhm?”

“Ck! Awas, nappeun!”

“Nappeun? Sudah tidak memberi morning kiss, mengataiku ‘nappeun’. Hhhmm..hukuman apa yang tepat untukmu ya?” What?! Dihukum?!

“Yaa!! Oppa!” Okay, aku mulai panik sekarang.

“Ah! Aku tahu!” Serunya.

“M-mwo?” Tanyaku.

“Bagaimana kalau hukumanmu itu harus memberikan adik pada Annchi?”

“Mwoya?!! Itu kau yang enak!” Aku menyikutnya pelan dan segera mengambil handuk untuk mandi.

“Yeobo, c’mon! Masa kau tidak mau sih?”

“Not now!” Tolakku.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Tok! Tok! Tok!

“Rie, ini aku…” Seorang ibu muda dengan anak dalam gendongannya mengetuk pintu sebuah kamar di hotel itu.

Klek! Ibu muda dan anaknya itu segera masuk setelah salah satu penata rias gadis itu membuka pintu dari dalam untuknya.

“Eonni!” Seru Rie.

“Waaaahh!! Yeppuddaaaa~~” Ucap Shiera.

“Kau cantik sekali, Rie.. Sungguh!” Ucap Shiera lagi.

“Jeongmal?”

“Ne! Pasti Yeol akan kaget melihatmu dan tidak menyangka. Kau cantik sekaliii~~”

“Eonni, kau berlebihan ah!”

“Anni..”

“Aku peluk eonni boleh?”

“Boleh saja. Tapi hati – hati ya, nanti Annchi bangun.”

“Huwwaaa!! Aku akan senang jika kakakku nanti sepertimu..” Ucap Rie yang memeluk Shiera.

“Aigoo, kau ini..Rie..”

“Eonni, apa dulu kau berdebar – debar seperti ini?”

“Pastinya! Apa lagi aku dan suamiku beda empat tahun. Aku merasa…rasa percaya diriku hilang seketika!” Tutur Shiera.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Dorr!” Tiba – tiba saja ada seseorang menepuk bahuku dari belakang saat aku berdiri di samping suamiku sambil menggendong Annchi. Kris pun ikut menoleh dengan gelas juice di tangannya.

“Cheeenn!!” Seruku saat melihat lelaki bermata kecil itu. Geundae…chakkaman! Ada wanita di sebelahnya. Ah, anni! Ye Eun!

“Eottohkee! Ini anakmu?? Astagaaa!! Semoga sifatnya tidak mirip denganmu!”

“Yaa! Jahat sekali, kau!” Ucapku.

“Mana oleh – olehnya?” Kris terlihat menagih pada Chen. Hahaha! Rasakan!

“Hee?? Oleh – oleh apa hyung?”

“Kau kan dari Austria. Hahaha.”

“Oh, ada! Undangan pernikahan. Hahha. Oh ya, kenalkan, ini Ye Eun, mantan pacarku nanti.” Kelakarnya yang kemudian memperkenalkan gadis di sampingnya.

“Tentu saja dia akan menjadi mantan pacarmu. Dia kan akan menjadi istrimu, pabbo!” Ledekku.

“Woaah! Tumben sekali kau pintar!”

“Yak! Chen! Kau..”

“Waah, ramai sekali di sini..”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Seorang lelaki dengan menggandeng wanita bergaun pengantin putih panjang terlihat menginterupsi percakapan.

“Kau tidak menemui tamu lain, Yeol?” Tanya Kris.

“Malas ah. Lebih baik dengan kalian saja. Ahaha.”

“Chukkae, Rie. Kau menikah mendahului songsaenim mu. Ini buruk!” Ucap Jongdae.

“Kau yang terlalu lama memilih wanita, tahu!” Sambung Shiera.

“Mwo?! Aku?? Itu karena aku lama mencarinya.” Jongdae melirik ke arah Ye Eun.

“Mwo??” Tanya Ye Eun heran karena sedari tadi ia asik menimang Annchi, anak dari Shiera dan Kris.

“Anni, Eunnie.” Jawab Jongdae tersenyum.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Oh ya, aku nanti mau memberikan kalian undangan pernikahan kami.” Ucap Chen yang kemudian menyesap cola di gelas yang ia pegang.

“Kapan kalian menikah?” Tanya suamiku.

“Dua minggu lagi, hyung. Oh ya, boleh aku pinjam istrimu hyung? Untuk menemani Ye Eun. Dan kurasa Rie juga harus menemaninya.”

“Mwo?! Aku dipinjam? Kau mau bayar berapa?” Tanyaku.

“Berapa pun yang kau mau.”

“Mwoyaa?? Oppaaaa~~~ Dia mau membelikuu…” Aku merajuk pada suamiku, Kris.

“Yaa!! Aigoo~~ Shiera, jeongmal pabbo yeojaa!” Chen terlihat kesal. Hahaha.

Happy end? Ya, begitulah kehidupan kami semua. Mungkin kami yang termasuk ke dalam orang – orang beruntung karena bisa mendapatkan cinta dari orang yang kita inginkan. This is our happy end life.

THE END

17 tanggapan untuk “Happy End Life”

  1. Suka bangeeeeet. Ceritanya panjang banget dan sama sekali ga bikin bosen. Top banget buat authornyaaa. Ceritanya DAEBAK. Suport dari aku untuk authornya bikin cerita yang lebih panjang lebih seru lebih asik lebih2 deh :D. Top 4 jempol dari akuu :* .

  2. Di awal2, ceritanya kayak komik yg d karang sama taamo. Pertemuan, alasan mereka nikah, buat cerita, kencan sama temen sekolah,

  3. Woah ~
    Daebak daebak daebak …

    Aku suka bgt ff nya ..
    Author ny hebat buat ff panjang bgt tapi gak bosenin ㅅ_ㅅ
    tor ini bakalan jadi ff terfavorite aku ㅅ_ㅅ

    author jd penulis naska drama aja 😀
    ㅋㅋㅋㅋㅋㅋㅋㅋ

  4. waw god job chingu, lama~~ bnget chingu aku bca ini ff . . tpi aku sukaaaa, kalo msalah penulisan ada yg sdikit membingungkan tpi tdak msalah krena aku sdah sring bca ff jadinya biasa saja hehehe . . bkin sequelnya kris dong chingu . . FIGHTING chingu-yaa 😉

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s