Shadow [Chapter 5A]

coverr

I really want to go back to the dazzling times
The beautiful days when we were always together
like a shadow, when your smile shined on me

Chapter : [1] [2] [3] [4A] [4B]

“—SEO MINAH?!”

Pekik mereka berdua kemudian saling menjatuhkan pandangan.

 

 

jncsda

 

“Eommonim, kau kenal dia?” Kejut Joo Eun.

“Tentu saja. Untuk hal ini, kau dalam bahaya Joo Eun.”
Nyonya Byun mendramatisir keadaan.

“Bahaya?”

“Seo Minah, putri tunggal keluarga Seo, seorang anak yang dididik manja sedari kecil. Dan dia… fans berat Baekhyun semenjak Baekhyun masuk ke sekolah dasar.”

“Fans? Aku tak tau jika Baekhyun seterkenal itu.”

 

 

“Eunie, Kau mengenalnya?”

“Tentu saja. Dia teman sekelasku… juga Baekhyun.”

 

“Tidak! Tidak lagi.”

 

“Waeyo?”

 

“Karna terbiasa dididik menjadi anak manja, Seo Minah harus mendapatkan apa yang ia mau, dan kau tau Eunie apa yang ia inginkan sekarang?”

 

“B-Baekhyun?”

 

“Tepat! Maaf saja Eunie, dulu aku dan suamiku sempat hampir menjodohkan Baekhyun dan Minah ketika mereka berdua masih duduk di bangku sekolah menengah. Tapi Baekhyun menolaknya mentah mentah.”

 

“Minah cantik, dia juga multi talenta, dia mirip seorang putri, dia juga sangat baik pada Baekhyun. Jadi apa masalahnya?”

“Masalahnya… dulu Baekhyun tak pernah peduli dengan wanita. Aku saja sampai cemas dibuatnya. Tapi setelah melihat ini, aku jadi ragu—”

“ragu? tapi eommonim, Seo Minah tau soal pernikahanku dan Baekhyun.”

 

“APA?! D-dia t-tau? Eunie, kau harus hubungi Baekhyun sekarang! Firasatku mengatakan sesuatu terjadi.”

 

“Arasso.”

 

Joo Eun mengambil ponsel tipis dalam sakunya dan segera mengetuk tombol speed dial Baekhyun.

***

Sebuah logam alumunium yang mengangkut belasan orang dengan kecepatan super, baru saja menyentuh permukaan bumi dengan pendaratan sempurna. Kecepatan benda itu semakin lama semakin berkurang dan pada akhirnya menunjukkan angka nol pada speedometernya.

 

Beberapa orang sudah mulai mengambil beberapa tas tas kecil yang mereka letakkan di laci bagian atas. Suara halus dari salah satu pekerja di sana juga sudah mulai menggema, menyarankan untuk segera melepas seat belt dan berjalan dengan tertib menuju pintu keluar.

 

Negeri Sakura.

 

Begitulah mereka menyebut negara yang penuh dengan penduduk kulit putih pucat dan teh yang menenangkan.

 

Itulah yang mereka tunggu tunggu. Satu persatu penumpang benda alumunium itu keluar secara bergantian, menghirup aroma negara yang baru saja mereka pijaki. Rasanya tenang sekali merasakan penat selama sejam di atas benda itu menguap begitu saja setelah bertemu dengan langit malam kota ini.

 

Fukuoka.

 

Satu dari 6 Kota terbesar di Jepang. Kota metropolitan dengan pusat ekonomi dan kebudayaan terbesar rakyat Kyushu. Bukan Nagoya ataupun Tokyo, Baekhyun lebih menyukai tempat padat yang terkenal dengan idolgroup HKT48nya itu untuk di jadikan salah satu lokasi cabang supermarketnya.

 

Satu jam terduduk di kursi penumpang, tak masalah bagi Baekhyun jika diimbangi dengan indahnya gemerlap kota ini di malam hari. Rasanya Baekhyun enggan pulang.

Baekhyun sedikit berjinjit dari tingkat teratas anak tangga benda alumunium yang baru saja berkibar di angkasa itu. Ia seperti mencari sesuatu di bawahnya. Baekhyun tak menyadari jika beberapa penumpang lainnya tak sabar mengantri di belakang Baekhyun, ingin segera merasakan deru hembusan angin langsung kota Fukuoka. Seseorang di belakang Baekhyun langsung mendorong kecil Baekhyun sehingga Baekhyun hampir saja terjelungup kalau tangannya tidak dengan reflex menyentuh pegangan tangga.

“Ya! Sabar sedikit!” Baekhyun menggerutu.

Gadis di belakang Baekhyun terus saja mendesak Baekhyun agar beranjak dari posisi nyamannya.

“Oke-oke! Aku turun.” Baekhyun mulai melangkah.

 

Seperti baru saja ia menjatuhkan kakinya di anak tangga kedua, penumpang di belakangnya bersorak gembira karna mereka akan segera keluar dari pesawat. Jadi yang berlebihan Baekhyun atau penumpang lain?

Hap!

Hap!

Baekhyun mengakhiri langkahnya dengan sedikit lompatan kecil. Ia mengerutkan keningnya mendengar ada suara lompatan lain setelahnya. Baekhyun mencoba mengaburkan pikirannya dan mulai berjalan menuju lobby bandara. Baekhyun memakai jasnya yang sedari tadi ia sampirkan di lengan bawahnya kemudian ia menyelipkan jemarinya dalam saku jasnya.

Beberapa detik kemudian, Baekhyun menghentikan langkahnya.

Bug.

Seseorang terpelanting sedikit ke belakang kemudian meringis kecil sambil mengusap usap dahinya yang baru saja terpantul oleh punggung Baekhyun. Dia, Seo Minah.

“Kau mengikutiku?”

Baekhyun melirik ke belakang.

“Tidak! Siapa yang mengikutimu. A-aku-aku mau ke toilet! Ya ke toilet! Di mana ya toilet?”

Minah mengedarkan pandangannya mencari cari logo toilet yang mungkin saja searah.

Tapi sayang sekali, tebakannya salah. Toilet bandara itu berada di sebelah timur dan sekarang arah jalannya tepat di seberah barat. Benar benar bodoh untuk ukuran sebuah alasan.

Baekhyun tak menghiraukannya segera mengambil tempat untuk duduk di ruang tunggu. Baekhyun mengeluarkan ponselnya dan segera menghubungi Tuan Kim.

Baekhyun mematikan ponselnya yang tak kunjung mendapat jawaban orang dari ujung sana. Perhatian Baekhyun tersita saat mendengar suatu decitan dari kursi tunggu di sebelahnya.

Ia melirik sedikit.

 

“Kau benar benar mengikutiku?” Baekhyun memutar bola matanya.

 

Minah mulai menggerakkan ujung kakinya membuat guratan guratan tak jelas di atas ubin keramik Bandara Internasional Fukuoka.

“Mmm… Baekkie… Sebenarnya aku mengikutimu… mmm… Aku minta maaf. Aku tak punya tujuan. Bolehkah aku ikut bersamamu? aku masih kekasihmu kan 3 hari ini?”

Minah menghentikkan kegiatan mengguratkan tulisan tak jelas di atas lantai dengan kakinya dan mulai memandang Baekhyun dengan pandangan memohon.

60 minutes ago…

 

“YA!”

 

“—SEO MINAH?!”

 

“Annyeong!”

 

“Sedang apa kau di sini?”

 

“Berlibur.”

 

“Apa?!”

 

“memangnya tak boleh? Orang tuaku di Eropa dan aku sendirian di rumah. Jadi ada baiknya aku berlibur.”

 

“Sekolahmu? kenapa kau tak bersama orang tuamu saja?”

 

“Kau gila? Aku sudah 18 tahun dan berlibur bersama orang tua? Cih menjijikan.”

 

“Kenapa harus ke sana?”

 

“Karna aku ingin.”

 

“Bukankah tadi di sini ahjussi bertuxedo?”

 

“Kau tau keajaiban aegyo?”

 

“Oke Baiklah. Terserah.”

 

“Safe flight Baekie!”

 

“Ya.”

 

“Tuan muda!”

Panggil pria paruh baya dari jauh.

Baekhyun menoleh ke arah datangnya suara dan mendapati seseorang melambaikan tangannya.

“Jja.” Lirih Baekhyun.

 

“A-Apa? Kau berkata padaku? Kau mengizinkanku?”

 

“Sebelum aku berubah pikiran.” Ucap Baekhyun lagi.

 

 

“Oke! Oke!”

Minah langsung menautkan lengan mereka berdua dan menggeret Baekhyun untuk segera mendekati Tuan Kim berada.

Tuan Kim dari kejauhan mengerutkan dahinya menatap heran. Bukankah Nyonya Byun tak mengizinkan Joo Eun ikut? Lalu siapa gadis di sebelah Baekhyun?

Tuan Kim menahan nafas sebentar terkejut tentang bayangan seseorang yang jatuh di retina matanya. Bukan Joo Eun. Dia bukan Joo Eun. Seseorang lain.

“T-tuan M-muda d-di-dia—” Tuan Kim sedikit melotot memandangi Minah dari kepala hingga ujung kaki.

“Jangan di pikirkan. Kau kembalilah ke hotelmu bersama Tuan Kinosuke. Serahkan alamat hotel beserta nomor kamarnya padaku. Tuan Yamada ikut kan?”

“Oh.” Tuan Kim mengangguk.

“Baiklah. Aku akan bersama tuan Yamada. Jangan pikirkan gadis ini. Aku ada bersamanya.”

“Baiklah.”

“Kau boleh kembali.” Titah Baekhyun.

Tuan Kim dengan serempak membalikkan badannya dan berjaln beberapa meter di depan Baekhyun.

 

Baekhyun teringat sesuatu dan berlari mendekat ke arah Tuan Kim.

“Tuan Kim!”

“Ya?”

Dari jarak kurang lebih 4 meter, Tuan Kim berbalik.

“Jangan beritahukan keadaanku di sini pada ibu dan ayah. Cukup laporan perusahaan. Ini masalah pribadiku.”

“Akan ku kerjakan sebaik mungkin—”

Tuan Kim menghela nafas.

 

“Aku tak percaya kau melakukan ini, nak. Aku rasa ini benar benar bisa disebut pengkhianatan atau apapun. Yang jelas ini salah di mata hukum ataupun agama. Ini bukan dirimu. Pasti ada alasannya. Aku benar benar tak percaya 15 tahun lebih aku mengabdi pada keluarga Byun dan kau—”

Tuan Kim menghela nafas lagi dan kali ini lebih berat.

“Lupakan apa yang baru ku katakan. Anggap aku baru saja bisu. Sampai jumpa Tuan Muda.”

 

Baekhyun yang mengerti apa yang ada dipikirkan Tuan Kim tersenyum maklum.

“Ya.”

 

 

“Minah-ssi, Jja kita harus pergi.”

“Cha-gi-ya.”

“Oh. Arasso. Chagiya, jja kita pergi.”

“Permisi, aku penghuni kamar 461, bolehkah aku meminta sebuah kamar yang tak jauh dari kamarku?” Baekhyun berdiri tepat di depan sebuah meja konter resepsionis dan Minah berada di belakangnya masih dengan jemari yang bertaut. Minah baru saja menolak turun dari mobil karna berpikiran sesuatu buruk akan terjadi. Jadi, dengan terpaksa Baekhyun menggeret Minah paksa agar segera masuk ke gedung menjulang tinggi yang ia tempati sekarang.

Koper Baekhyun dan Minah telah dibawa oleh bell boy sebelumnya menuju kamar hotel Byun Baekhyun.

“Sebelumnya, kami minta maaf, Pak. Hotel kami hanya melayani pelanggan dengan reservasi minimal seminggu sebelum kedatangan.” Ucap resepsionis itu ramah dengan bahasa Jepang kentalnya.

“Kalian benar benar tak bisa memberikan satu kamar pun? Aku akan membayar berapapun.”

“Maaf, Pak tapi kami berusaha melayani secara profesional.”

“Baiklah. kalau begitu, bisakah kalian rekomendasikan hotel dekat sini yang tak butuh reservasi sebagai tanda profesionalitas?”

“Bahkan ini sudah jam 2 dini hari, Pak. Dan di dekat sini benar benar tak ada hotel lagi.”

“Terima kasih. kalian benar benar sangat membantu!”

 

Baekhyun menekankan setiap kata katanya pada resepsionis di hadapannya kemudian segera berbalik dan menemui Minah yang sedari tadi terpaku sendiri di lobby hotel.

“Baekie, sudah dapat kamarnya?”

Minah bertanya was was.

“Ya.” Baekhyun berbalik lagi menuju lift hotel dan meninggalkan Minah yang sibuk terbengong.

Beberapa detik kemudian Minah tersadar.

“Ya!” Minah pun berlari kecil mengekori Baekhyun.

“Kau ini daritadi berbicara apa sih? Aku tak mengerti. Kalian bicara terlalu cepat dan ada bahasa Jepang yang tak ada dalam kosakataku” celoteh Minah.

“Kau ini sekolah di sekolah bahasa tapi kau buruk dalam bahasa. Kenapa kau tak mengambil SOPA atau sekolah lain saja?”

“Satu satunya alasan adalah kau.”

Baekhyun menghela nafas.

“Terserah.”

Baekhyun menggesek kartu check in yang di berikan oleh resepsionis dan kenop pintu pun terbuka otomatis. Baekhyun meletakkan benda persegi panjang kecil dan pipih tersebut di kotak kecil yang di sediakan hotel dan lampu pun menyala secara otomatis.

“Di mana kamarku?” Ucap Minah.

 

“Di sini.”

 

“A-Apa? K-kau gila?”

 

“Tak ada kamar yang tersisa.”

 

“T-tapi k-kau kan bisa ke hotel l-lain.”

 

“Sudahlah jangan banyak bicara. Sudah hampir jam 3. Pagi ini aku ada meeting. Tidurlah.”

 

“T-tapi Baekie, aku t-tidak enak—”

 

“Aku tak lelah. Aku harus mengerjakan proposal perusahaan untuk bahan meeting besok. Aku akan berbaring di sofa. Kau tidurlah di ranjang. Kalau ada apa apa kau tinggal memanggilku.”

 

“T-tapi—”

 

“Tak ada bantahan.”

 

“Baiklah.”

 

Baekhyun membuka tas hitamnya yang diberikan Tuan Kim. Ia mengambil laptopnya. Baekhyun duduk di sofa kamar hotel dan membuka benda itu. Baekhyun membuka salah satu filenya yang langsung menunjukkan grafik grafik dan angka angka penurunan drastis dari produktivitas anak anak perusahaannya di Jepang. Ini berat. Benar benar berat. Dan waktu yang di berikan hanya 3 hari sebelum seluruh karyawan akan mulai menyuarakan pikirannya secara besar besaran.

Baekhyun menutup matanya sejenak kemudian berpikir. Tak lama ia mulai mengetukkan jari jarinya pada deretan papan tombol di depannya.

 

Minah baru saja keluar dari kamar mandi. Ia kontan mengangkat rahang bawahnya prihatin melihat Baekhyun. Ia tak boleh banyak bicara. Minah tau itu. Tapi jika dia butuh apa apa dia akan berbicara. Yep! Benar!

Minah menarik selimutnya hingga sampai di perpotongan lehernya. Minah mencoba untuk memejamkan matanya beberapa kali tapi ia hanya dapat berguling guling tak jelas.

 

“Baekie, bisa tolong matikan lampunya? Aku tak bisa tidur.” Pinta Minah.

 

“Ya.” Baekhyun bangkit berdiri, kemudian ia pun menarik kartu yang tersampir di dekat pintu kamar hotel dan keadaan di sanapun seketika gelap gulita dengan sebuah cahaya kecil dari laptop Baekhyun.

 

“Baekie”

 

“Ya?”

 

“Kau tak mandi?”

 

“Aku sibuk.”

 

“Kau tak ganti pakaian?”

 

“Tidak.”

 

“Kenapa? Baju itu sudah kotor.”

Baekhyun menghela nafas.

 

“Ya Tuhan. Tak bisakah kau diam?”

 

“M-mianhae, aku hanya merasa tak enak padamu. Sebaiknya aku pindah ke sofa saja dan kau tidur di sini.”

Minah terduduk di atas ranjang dan mulai membuka selimut yang membalutnya.

Baekhyun menutup laptopnya kasar kemudian menghampiri ranjang yang sedang ditempati Minah.

Baekhyun menaikkan satu persatu kakinya ke atas ranjang dan meluruskannya. Baekhyun membuka laptopnya lagi.

Minah mencoba bangkit dari ranjang tetapi dengan gerakan cepat, tangan Baekhyun terulur membuatnya terhenti dengan jantung yang hampir saja copot dari sistem organ dan pandangan matanya bingung.

“Tidur berdua. Itu kan yang kau mau?” Desis Baekhyun sambil melirik Minah yang menyentuh dada kiri bagian atasnya. Mungkin ia sedang menyesuaikan degup jantung yang datang berlebihan.

“B-bukan b-begitu. A-akan lebih b-baik j-jika ak-aku tid-tidur di s-sofa s-saja.”

 

“Sudahlah. Ini tak akan berbahaya. Jaljjayo.”

 

“Baekie…..”

 

Suara jarum detik pada jam tangan Baekhyun mengiringi kesunyian ruangan itu yang datang setelah percakapan terakhir mereka. Baekhyun masih tetap menjatuhkan jemarinya di atas papan tombol di kala ia menemukan sesuatu yang janggal pada bidang grafik yang terpampang di layar benda elektroniknya.

 

10 menit…

 

 

 

15 menit…

 

 

Minah berusaha memejamkan matanya namun tak berhasil. Matanya sama sekali tak terpejam ia hanya mengguling gulingkan badannya. Ia benar benar tak bisa tidur.

 

“Baekie.”

Putus Minah akhirnya bersuara.

 

“Apa lagi?”

 

“Urrmm… Menurutmu aku bagaimana?”

 

Baekhyun menghembuskan nafasnya “Licik.”

 

Minah nampak berpikir.

 

“Ah, begitu. Seperti itukah aku di matamu? Kurasa aku terlalu jahat pada kalian, ne?”

 

 

 

“Kau sadar?”

“Hm.”

“Lalu kenapa kau tak menghentikan semuanya?” Baekhyun memandang Minah yang sedang mengetuk ketuk dagunya dengan jari telunjuknya.

“Hah? Apa? Berhenti? Kau bercanda? Ini menyenangkan!”

Wajah Minah berubah berbinar setelah mengucapkannya.

 

“Ck.”

“Ah, aku jadi merasa kasian pada Joo Eun. Mungkin kau benar, aku terlalu jahat.”

Minah menampakkan wajah murungnya.

 

 

“Kau menyesal?” Baekhyun melirik Minah penuh harap. Berharap jika sebentar lagi Minah berubah pikiran dan mencabut segala perjanjian yang ia buat. Setelah itu ia bisa hidup tenang dan damai bersama Joo Eun.

Namun… harapan itu pupus seketika setelah Minah menimpali.

“Tidak. Satu satunya yang ku sesali, kenapa bukan aku yang bertemu denganmu lebih dulu.”

Baekhyun memutar bola matanya dan kembali memfokuskan perhatiannya pada benda elektronik di hadapannya.

 

 

Drrt… Drrt…

 

‘From: Tuan Kim

To : Tuan Muda Byun

Tuan Muda, meeting di majukan karna client kita ada urusan mendadak dan meeting tak bisa diundur.’

 

Baekhyun mendesah pasrah. Ia bangkit dari posisinya dan bergegas menuju kamar mandi.

“Kau mau mandi?”

“Ya.”

“Tapi ini pagi pagi buta.”

“Meeting dimajukan.”

“Sekarang?”

“Eung.”

 

Baekhyun menyentuh kenop kamar mandi sedikit ragu untuk masuk ke dalam.

 

“Mmm… Minah-yya, bisa tolong siapkan setelan pakaian formal untukku? Aku belum sempat membongkar koper tadi.”

Baekhyun menolehkan kepalanya sebentar mengawali decitan kenop pintu yang memutar.

 

“Cha-gi-ya.”

Ucap Minah dengan wajah dibuat buat.

“Mworago?” Baekhyun menatap Minah bingung.

“Cha-gi-ya.” Ulang Minah.

Tampaknya Baekhyun mulai mengerti dan memutar bola matanya. Hobi barunya saat ia berdekatan dengan Minah.

 

 

“Oh, arasso. Chagiya, maukah kau membantuku?”

“Ya-ya. Sana pergi mandi nanti kau terlambat.” Minah mengibas kibaskan jemarinya menyuruh Baekhyun segera lenyap di balik pintu kamar mandi.

 

 

***

 

 

 

“Eommonim! Tersambung!” Pekik Joo Eun histeris mendengar suara dengungan dari benda persegi panjang tipis yang ada di genggamannya.

 

 

 

***

 

 

Minah sedang sibuk membongkar koper Baekhyun dan mengeluarkan satu persatu isinya.

“Eh? Kenapa banyak sekali eyeliner disini? Memangnya kapan bocah itu memakai eyeliner?”

Minah mengeluarkan dompet besar berisi berbagai macam make up yang menimbulkan suara gaduh akibat saling bergesekan.

“BB cream, krim malam, krim pagi, sunblock, fake eye-lid? APA?! FAKE EYE-LID?”

Untuk apa Baekhyun menggunakan fake eye-lid? Jika itu untuk seorang gadis, itu adalah hal yang wajar untuk memperindah wajah. Tetapi untuk Baekhyun?

 

Apa Baekhyun tak memiliki parfum maskulin, gel rambut atau semacamnya?

 

Ini benar benar menggelikan. Siapapun yang melihatnya pasti dengan sekali tebakkan akan menjawab itu adalah dompet rias milik gadis yang akan kencan pertama.

 

 

Drrt… Drrt…

 

 

Telinga Minah seperti menangkap suara kecil di sekitarnya. Pandangannya terhenti pada nakas di sebelah tempat tidur, tempat Baekhyun meletakkan ponselnya. Ponsel Baekhyun bergeser sedikit demi sedikit dengan lampu yang mati-nyala secara berkala.

 

 

Minah mendekati ponsel itu.

 

 

‘Joo-yya calling’

 

 

Minah menimang nimang pikirannya sebentar setelah itu ia berjalan mendekati pintu.

 

Tok. Tok. Tok.

Minah mengetukkan buku buku tangannya pada pintu kayu penyekat antara kamar mandi dan kamar.

 

 

“Baekie! Ada telpon!”

 

“Siapa? Angkat saja.”

 

“Tak bisa. Ini Joo Eun. Kau mau aku mengangkatnya?”

 

“Apa?! Berikan padaku.”

 

Baekhyun membuka sedikit pintu kamar mandinya dan menjulurkan tangannya hingga nampak seperti menggapai gapai di udara.

“Yeoboseyo?”

 

“Aku baik baik saja. Aku baru sampai beberapa jam yang lalu. Kau?”

“Oh. Baguslah. Eomma?”

 

 

Ponsel Baekhyun masih menyala dan di ujung sana masih terdengar bercerita panjang lebar.

 

 

“Baekie, Dasimu kau buang di mana?”

 

Baekhyun menjauhkan ponselnya dan menutup layar depan ponselnya dengan telapak tangannya bermaksud meredamkan suara yang ada di sana.

 

“Aku lupa. Mungkin di bawah bantal.”

Baekhyun mendekat ke arah Minah.

 

“Ya! Kenapa kau tak memakai kemejamu?!”

Minah seketika menggerutu melihat Baekhyun yang hanya mengenakan kaos putih polos sebagai atasannya.

 

 

Tut.Tut.Tut.

 

Sambungan alat komunikasi yang sedari tadi menempel di telinga Baekhyun itu tiba tiba terputus searah.

“Aku meninggalkannya.” Ucap Baekhyun pada Minah.

 

 

“Yeoboseyo? Joo-yya? Kau masih di sana? Yeoboseyo? Apa ini masih bekerja? Mati?”

 

 

***

 

 

Pyar.

 

Sebuah benda persegi panjang tipis merosot begitu saja melewati genggaman seorang yang disebut Joo Eun. Naas. Sekarang benda itu tak lagi menjadi sebuah benda tetapi menjadi beberapa bagian yang tak untuh dan banyak serpihan kaca di sampingnya.

“Astaga!” Pekik wanita yang sedikit jauh lebih tuah darinya.

 

“Eommonim…” Ucapnya kaku.

 

“Ada apa?”

 

Pandangannya mengarah ke depan. Pikirannya ke mana mana. Tatapannya mengabur seolah ia benar benar akan terkapar detik itu juga. Tangannya terjatuh lemas kembali di sebelah pinggangnya.

 

“Kau tak memakai kemejamu…” gumam Joo Eun

“Eommonim—” Joo Eun tiba tiba menatap Ibu mertuanya dengan pandangan penuh arti.

“Katakan padaku itu hal yang positif atau negatif?” Sergap Joo Eun.

 

 

“Ha? Bisa kau ulangi, Eunie? Otakku kurang merespon.”

 

“Kau tak memakai kemejamu… Apakah itu hal yang positif? Atau negatif? Dia berkata seperti itu… Wanita itu…”

 

“Kau ini bicara apa Eunie? Wanita siapa?” Nyonya Byun mengerutkan keningnya.

 

“Di telpon itu… Suara wanita… berseru pada Baekhyun… Dia mencari dasi Baekhyun…”

 

“Kau bercanda? Baekhyun? Tidak mungkin.” Ibu Baekhyun mundur beberapa langkah. Ia melirik foto foto masa kecil Baekhyun dan menatapnya tak percaya.

 

“Ini bukan main main! Tak bisa dibiarkan! Byun Joo Eun, kemasi barang barangmu. Kita ke Jepang sekarang.”

Ibu Baekhyun menyentuh bahu Joo Eun kemudian melangkahkan kakinya menuju pintu ruangan itu.

 

“Eommonim.” Seru Joo Eun dengan suara parau.

Ibu mertuanya itu menolehkan kepalanya mendapati sekitar mata Joo Eun yang mulai memerah.

 

“Tidak. Jangan pergi.”

 

“Eunie…” Lirih Nyonya Byun.

 

“Bukan ini yang Baekhyun mau. Baekhyun pasti punya alasan tersendiri. Kau benar, dia tidak mungkin seperti yang kita pikirkan. Tidak mungkin”

 

“Eunie…”

 

“Kita tidak boleh berpikiran negatif. Kita tunggu 2 hari lagi saat ia pulang dan meminta penjelasannya baik baik. Jika kita pergi itu akan menambah masalahnya.”

 

“Kau benar.”

 

Ibu Baekhyun berjalan mendekat ke arah Joo Eun dan merentangkan kedua tangannya dan mendekap Joo Eun erat penuh kasih sayang.

 

“Eunie… Kau sungguh hebat. Aku bangga memilikimu disini.”

 

 

Sesuatu membasahi pakaian berlabel terkenal milik Ibu Baekhyun. Joo Eun menangis. Joo Eun berdoa dalam hati kiranya ibu Baekhyun tak menyadari keadaannya sekarang. Ia tak ingin terlihat rapuh. Terlebih di pelukan seorang Nyonya Byun benar benar nyaman. Joo Eun merindukan ini. Merindukan saat saat bersama ibunya yang sama sekali ia lupakan, tapi ia yakin bahwa dulu, ia juga pernah di perlakukan seperti ini.

 

“Eommonim.”

 

“Hm?”

 

“Ngomong-ngomong ada yang perlu kita kerjakan.”

 

“Apa?”

 

 

“Membersihkan ruangan ini…”

 

“Ah-ya. Dan sepertinya aku harus membelikanmu ponsel baru karna kelakuan anakku yang membuat ponselmu menjadi puing puing.”

 

“Jinjjaro?”

Joo Eun melepaskan tautan mereka berdua dan menatap mata ibu Baekhyun.

 

“Hm. Besok kita akan pergi belanja! Aku akan membelikan model yang terbaru untukmu Eunie dan kita lupakan semua yang baru saja terjadi. Arrachi?”

 

“Arrachi!”

 

 

-TO BE CONTINUED-

55 tanggapan untuk “Shadow [Chapter 5A]”

  1. baekhyun~ nyesel.. nyesek klok jadi jooeun sumpah

    si baek knapa terlalu terbuka banget sama minah .. malah serasa minah yg jadi istrinya baekhyun

    jadi sebel sama mreka berdua

    keep writing n fighting

  2. Aku bingung deh sama sikapnya baekhi juga minah,sebenernya itu minah jahat apa baik sih?
    Soalnya di awal minah.ngancam, baekhinya terpaksa nrima minah

    Tpi ini kog baekhi jadi terbuka sma minah ya?

    Hehe, tpi bagus bahasanya thor (y)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s